Zakat – Iuran Yang Menyucikan

Zakat - Iuran Yang Menyucikan

1. Makna, Hukum, dan Keistimewaan Zakat

Pengertian Zakat

Zakat (bahasa Arab: زكاة, translit. zakāh‎) dari segi etimologi berarti suci, baik, berkah, tumbuh, dan berkembang. Zakat dari segi terminologi berarti bagian tertentu dari harta yang dimiliki seorang muslim yang wajib diberikan kepada golongan kaum muslim yang berhak menerimanya apabila telah mencapai syarat dan waktu yang telah ditentukan.

Pemberi zakat disebut muzakki dan penerima zakat disebut mustahiq. Ada 8 (delapan) golongan kaum muslim yang berhak menerima zakat yang disebut dengan istilah asnaf.

Syariat Allah Tentang Harta dan Zakat

  • Allah mensyariatkan hamba-hamba-Nya dengan berbagai macam ibadah. Di antaranya, ada yang berkaitan dengan badan seperti shalat, dan ada yang berkaitan dengan harta yang dicintai jiwa seperti zakat, sedekah, infaq, dan wakaf. Ada juga yang berkaitan dengan badan dan harta sekaligus, seperti haji dan berjihad. Ada juga yang berkaitan dengan menahan jiwa dari apa-apa yang disukai dan diminati, seperti puasa. Allah membuat ibadah menjadi beragam untuk manusia agar diketahui siapa yang memprioritaskan ketaatan kepada Allah dari hawa nafsunya, dan agar setiap orang mampu mengerjakan hal yang mudah serta sesuai dengan kondisinya.
  • Harta tidak akan bermanfaat bagi pemiliknya, kecuali bila memenuhi tiga syarat: Harta yang halal, tidak melalaikan pemiliknya dari taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan menunaikan hak-hak Allah pada harta tersebut.

Sejarah Kewajiban Zakat

Zakat diwajibkan saat di Mekah. Adapun penentuan nishab dan penjelasan tentang harta benda yang wajib dizakati serta penjelasan tentang alokasinya, ditentukan saat di Madinah pada tahun kedua hijriah.

Hukum Zakat

Zakat hukumnya wajib dan merupakan rukun Islam terpenting setelah dua kalimat syahadat dan shalat,

Firman Allah Swt. (yang dijadikan sebagai dalil zakat),

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

[Karena itu, wahai Nabi,] terimalah [sebagian] dari harta mereka yang dipersembahkan karena Allah, semoga engkau membersihkan mereka dengan itu dan menyebabkan mereka tumbuh dalam kesucian, dan berdoalah untuk mereka: sungguh, doamu akan menjadi [sumber] ketenteraman bagi mereka—sebab, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Surah At-Taubah [9]: 103)

Hikmah dan Tujuan disyariatkannya Zakat

  1. Zakat tidaklah bertujuan hanya sekadar mengumpulkan harta dan mendermakannya kepada orang fakir serta pihak yang membutuhkannya. Akan tetapi, tujuan utamanya adalah memposisikan manusia agar merasa lebih tinggi dari hartanya, yakni menjadi tuan bagi hartanya, bukan menjadi budak hartanya. Jadi, zakat datang untuk menyucikan serta membersihkan orang yang memberikan dan menerimanya.
  2. Walaupun zakat secara kasat mata membuat jumlah harta berkurang, akan tetapi efek yang dihasilkan berupa keberkahan hartanya semakin bertambah. Pemberi zakat bertambah keimanannya dan juga akhlak mulianya, dengan cara berderma. Mendermakan hal yang paling dicintai jiwanya demi sesuatu yang lebih dicintai darinya, yaitu keridhaan Allah Swt. dan kemenangan dengan surga yang telah disediakan-Nya.
  3. Pengaturan harta dalam Islam dibangun atas prinsip kesadaran dan pengakuan bahwa Allah sajalah pemilik asal harta. Hanya Allah yang memiliki hak dalam mengatur urusan harta, mewajibkan hak-hak harta dan membatasi, menentukan, menjelaskan alokasinya, juga cara mendapatkannya dan cara mendermakannya.
  4. Zakat dapat menghapus kesalahan, juga sebagai sebab masuk surga dan selamat dari neraka.
  5. Allah mensyariatkan zakat dan menganjurkan agar menunaikannya karena zakat mengandung pensucian jiwa dari kehinaan sifat kikir (bakhil). Zakat juga sebagai jembatan kokoh yang mengikat antara si kaya dan si miskin. Zakat juga dapat menjernihkan jiwa, membuat hati jadi baik, melapangkan dada dan menciptakan rasa aman, cinta, dan persaudaraan.
  6. Zakat dapat menambah kebaikan orang yang menunaikannya, menjaga harta dari perusaknya dan dapat mengembangkan serta meningkatkan kwantitas harta. Juga sebagai penutup kebutuhan si fakir dan miskin serta dapat menghalangi tindakan kriminal terhadap harta, seperti pencurian, perampasan, dan perampokan.

Kadar Zakat

Allah menjadikan kadar zakat sesuai dengan jerih payah saat mendapatkan harta yang dikeluarkan zakatnya.

  • Allah mewajibkan pada harta rikaz, yakni harta yang ditemukan tanpa sengaja, tanpa bersusah payah dan terpendam, maka zakatnya adalah 20%.
  • Allah mewajibkan pada harta yang diperoleh melalui usaha pada satu segi saja, yakni harta yang disirami tanpa biaya, maka zakatnya 10%.
  • Allah mewajibkan pada harta yang diperoleh melalui usaha pada dua segi (menyemai benih dan menyirami), yakni yang disirami dengan biaya maka zakatnya 5%.
  • Allah mewajibkan pada harta yang diperoleh melalui usaha lebih banyak dari yang lainnya dan perubahan terjadi sepanjang tahun seperti uang kertas (yang dugunakan sekarang ini) dan barang dagangan, maka zakatnya 2,5%.

Keistimewaan Menunaikan Zakat

Firman Allah Swt. (yang dijadikan sebagai dalil zakat),

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sungguh, orang-orang yang telah meraih iman, berbuat kebajikan, teguh mendirikan shalat, dan memberikan derma (zakah) mereka akan mendapat pahala di sisi Pemeliharanya, mereka tidak perlu takut, dan tidak pula akan bersedih hati. (Surah Al-Baqarah [2]: 277).

Harta Wajib Zakat

  1. Zakat diwajibkan pada harta orang dewasa dan anak kecil, lelaki dan perempuan, orang yang cacat dan gila, apabila hartanya tetap, telah mencapai nishab dan haul (sampai satu tahun dimiliki), dan harta itu milik seorang muslim yang merdeka.
  2. Hasil bumi, binatang ternak, dan laba perniagaan wajib dizakati bila telah mencapai nishab dan tidak disyaratkan telah haul. Adapun harta temuan (rikaz) wajib dizakati, baik nominalnya banyak atau sedikit, tanpa disyaratkan adanya nishab dan haul.
  3. Perhitungan satu tahun (haul) hewan ternak dan laba perniagaan dihitung dari satu tahun modalnya jika telah mencapai nishab.
  4. Orang yang mempunyai piutang pada orang yang kaya, maka zakatnya dikeluarkan bila harta telah berada di tangan si peminjam tersebut, dan lebih baik bila dizakati sebelum diterimanya. Jika piutang pada orang yang kesulitan ekonomi atau orang yang menunda-nunda pembayaran, maka hartanya dizakati jika telah dipegang oleh si peminjam tersebut selama satu tahun.
  5. Orang kafir tidak wajib membayar zakat, begitu juga seluruh ibadah lainnya. Namun ia tetap akan dihisab pada Hari Kiamat, sedangkan di dunia tidak diwajibkan kepadanya dan zakat tidak diterima darinya hingga dia memeluk agama Islam.

Zakat Harta Wakaf

Harta wakaf yang dipergunakan untuk kebaikan dan kepentingan umum seperti masjid, sekolah, pemondokan dan yang sejenisnya tidak dikenakan zakat. Setiap yang diperuntukkan untuk umum seperti waqaf, tidak dikenakan zakat.

Jenis Harta Yang Wajib Dizakati:

  1. Harta berharga, yakni emas, perak dan uang
  2. Hewan ternak, yaitu unta, sapi, dan kambing
  3. Hasil bumi seperti biji-bijian, buah-buahan dan barang tambang
  4. Barang niaga, yakni semua yang disiapkan untuk perniagaan.

Zakat secara mutlak diwajibkan, walaupun orang yang wajib zakat mempunyai utang yang dapat mengurangi nishabnya, kecuali utang yang jatuh tempo sebelum wajib zakat. Sehingga ia wajib membayar utangnya, kemudian dari sisanya dia mengeluarkan zakat hartanya. Dengan cara itu ia dapat terbebas dari tanggungan.

Zakat diwajibkan berupa jenis harta itu sendiri, biji-bijian diambil dari zakat biji-bijian, kambing dari kambing, uang dari uang dan begitulah seterusnya. Dan tidak boleh diganti dengan harga yang senilainya, kecuali ada keperluan dan kemaslahatan.

Tidak boleh hukumnya menggugurkan utang pada orang yang tidak mampu membayarnya dengan niat zakat darinya.

Harta yang disiapkan untuk dimiliki dan dipergunakan, seperti rumah, baju, perabotan rumah tangga, hewan kendaraan dan mobil serta yang sejenisnya tidak terkena wajib zakat.

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw. bersabda,

لَيْسَ عَلَى الْمُسْلِمِ فِي فَرَسِهِ وَغُلاَمِهِ صَدَقَةٌ

Tidak ada kewajiban zakat atas orang Islam pada budak sahaya dan kuda tunggangannya.”1

Apabila seseorang mempunyai uang yang telah mencapai nishab dan haul (dimiliki satu tahun), maka wajib dizakati, baik uang tersebut disiapkan untuk nafkah, nikah, membeli tanah atau membayar utang, maupun untuk yang lainnya.

Bila orang yang wajib zakat meninggal dunia sebelum menunaikan zakatnya, maka ahli warisnya harus mengeluarkan zakatnya dari harta peninggalannya sebelum dilakukan pembagian wasiat dan harta waris.

Bila nishab zakat berkurang pada beberapa waktu dalam satu tahun, atau menjualnya tanpa ada maksud lari dari kewajiban zakat, maka terputuslah hitungan satu tahun (haul). Jika diganti dengan yang sejenisnya maka meneruskan hitungan haulnya.

Jika seorang muslim meninggal dunia dalam keadaan wajib membayar zakat dan wajib membayar utang, sedangkan dia hanya meninggalkan harta yang tidak cukup untuk keduanya, maka hartanya dibagi untuk kedua kewajiban tersebut dengan perhitungan prosentase.

2. Zakat Emas dan Perak

a. Emas bila telah mencapai 20 dinar atau lebih, maka 2,5 persennya wajib dikeluarkan sebagai zakat.

b. Satu dinar ditimbang dengan emas sama dengan ukuran satu mitsqal. Satu mitsqal ditimbang dengan timbangan sekarang sama dengan 4,25 gram.

c. 20 dinar sama dengan timbangan 85 gram emas, karena 20 x 4,25 = 85 gram emas.

d. Perak bila telah mencapai 200 dirham atau lebih (seberat lima awaq) wajib dikeluarkan 2,5 persennya.

e. 200 dirham sama dengan 595 gram, yaitu setara dengan 56 Riyal perak Saudi. Dan satu Riyal perak Saudi sekarang sama dengan 7 Riyal Saudi kertas. Maka hasilnya 56 x 7 = 392 dan ini minimal nishab mata uang kertas Saudi, maka zakatnya (9,8) setara dengan 2,5%.

f. Tiga kondisi pembuatan emas dan perak:

  1. Jika maksud pembuatan emas untuk perniagaan, maka zakatnya berupa zakat perniagaan yakni 2,5%. Karena barang tersebut telah menjadi barang niaga, maka diukur dengan mata uang negeri tersebut, kemudian menzakatinya.
  2. Jika maksud dari pembuatan emas untuk hiasan, seperti peralatan makan berupa pisau, sendok, kendi dan yang sejenisnya maka hal itu diharamkan. Namun tetap wajib zakat bila mencapai nishab dan haul, dan zakatnya sebanyak 2,5%.
  3. Jika maksud pembuatan emas untuk dipergunakan dalam hal-hal yang boleh atau dipinjamkan, maka zakatnya 2,5% bila mencapai nishab dan haul.

g. Uang kertas zaman sekarang, seperti rupiah, riyal, dolar, dan lain-lain, hukumnya sama dengan hukum emas dan perak. Ditaksir dengan harga dasar, bila telah mencapai nishab salah satu dari emas atau perak tersebut, maka wajib dizakati. Kadar zakatnya 2,5% dan telah berlalu satu tahun (haul).

h. Cara Mengeluarkan Zakat Uang

Uang ditaksir dengan nishab emas atau perak, bila minimal nishab emas 85 gram dan harga satu gram emas senilai 40 riyal Saudi, maka kita kalikan nishab emas dengan harga satu gram emas (85 x 40= 3400 riyal) inilah minimal nishab uang. Maka zakat yang harus dikeluarkan 85 riyal Saudi, dan itu sama dengan 2,5%.

i. Untuk mengeluarkan kadar zakat uang, harta dibagi 40 maka akan keluar 2,5 %. Demikianlah yang wajib dalam masalah zakat emas dan perak, serta apa yang hukumnya diikutkan dengannya. Contohnya, kalau seseorang memiliki 80.000 riyal, maka (80.000/40 = 2.000 riyal) jadi itulah kadar zakat uang sebesar 2,5 %.

j. Hukum Zakat Perhiasan Yang Dipakai

Dibolehkan bagi para perempuan terhadap hal yang sudah menjadi kebiasaan mereka memakai emas maupun perak tanpa ada pemborosan. Dan mereka wajib membayar zakat bila telah mencapai nishab serta berlalu satu tahun (haul). Barangsiapa yang tidak tahu hukum tersebut, maka wajib membayarnya ketika mengetahuinya. Adapun tahun-tahun yang berlalu sebelum mengetahuinya, maka tidak ada zakatnya, karena hukum-hukum syariat hanya wajib dengan adanya pengetahuan/ ilmu.

k. Berlian dan batu-batuan yang berharga serta sejenisnya, bila hanya dipakai maka tidak ada zakatnya. Adapun bila diperdagangkan maka ditaksir harganya dengan nishab salah satu dari emas atau perak, jika telah mencapai nishab dan berlalu satu tahun (haul) maka zakatnya 2,5%.

l. Emas tidak digabungkan dengan perak dalam menggenapkan nishab, tapi harga barang perniagaan digabungkan ke salah satu dari keduanya.

3. Zakat Binatang Ternak

a. Binatang ternak seperti unta, sapi, kambing, dan sejenisnya.

b. Zakat binatang ternak ada dua macam:

  1. Wajib zakat pada unta, sapi, dan kambing bila itu hewan piaraan dan digembala selama satu tahun di lapangan terbuka atau tanah kosong. Bila telah mencapai nishab dan berlalu satu tahun (haul) wajib dizakati, baik hewan perahan, pengembangbiakan atau ternak. Masing-masing jenis dikeluarkan zakatnya sesuai dengan jenisnya. Pengambilan harta zakat dari harta yang kwalitasnya sedang-sedang, bukan harus yang terbaik dan tidak pula yang terjelek.
  2. Bila unta, sapi atau kambing dan hewan ternak lainnya, serta bangsa burung yang diberi pakan dari kebun pemiliknya, atau dibelikan, atau pakannya dikumpulkan untuknya, maka hewan bentuk seperti ini jika diperdagangkan dan telah berlalu satu tahun (haul) harganya ditaksir setelah mencapai nishab dan dikeluarkan zakatnya sebanyak 2,5%. Jika tidak untuk perdagangan, seperti untuk perahan atau mengembangbiakkan serta peliharaan biasa, maka tidak ada zakatnya.

3) Minimal nishab kambing 40 ekor, minimal nishab sapi 30 ekor dan minimal nishab unta 5 ekor.

Nishab Kambing

Jumlah KambingZakat yang Wajib Dibayar
40 – 120Satu ekor kambing
121 – 200Dua ekor kambing
201 – 399Tiga ekor kambing

Kemudian setiap 100 ekor kambing, zakatnya 1 ekor kambing, 399 ekor kambing zakatnya 3 ekor kambing, dan 400-499 ekor kambing zakatnya 4 ekor kambing, dan begitulah seterusnya.

Nishab Sapi

Jumlah SapiZakat yang Wajib Dibayar
30 – 39Tabi’ atau tabi’ah, yakni sapi berumur 1 tahun
40 – 59Musinnah, yakni sapi berumur 2 tahun
60 – 69Dua ekor sapi berumur 1 tahun

Kemudian pada setiap 30 ekor sapi, zakatnya satu ekor sapi jantan atau betina yang berumur 1 tahun (tabi’ atau tabi’ah). Pada 40 ekor sapi, maka zakatnya 1 ekor sapi berumur 2 tahun (musinnah). Pada 50 ekor sapi, zakatnya 1 ekor sapi berumur 2 tahun (musinnah). Pada 70 ekor sapi, zakatnya 2 ekor sapi yang satu berumur satu tahun dan lainnya berumur 2 tahun (tabi’ dan musinnah). Pada 100 ekor sapi, zakatnya 2 ekor sapi berumur 1 tahun dan 1 ekor sapi berumur 2 tahun. Pada 120 ekor sapi, zakatnya 3 ekor sapi berumur 2 tahun.

Nishab Unta

Jumlah UntaZakat yang Wajib Dibayar
5 – 91 ekor kambing
10 – 14 2 ekor kambing
15 – 19 3 ekor kambing
20 – 24 4 ekor kambing
25 – 35 Bintu makhadh, unta berumur 1 tahun
36 – 45 Bintu labun, unta berumur 2 tahun
46 – 60 Hiqqah, unta berumur 3 tahun
61 – 75 Jadza’ah, unta berumur 4 tahun
76 – 90 Dua ekor anak unta berumur 2 tahun
91 – 120 Dua ekor unta berumur 3 tahun

a) Bila lebih dari 120 ekor, maka wajib zakat pada setiap 40 ekor unta 1 ekor bintu labun. Setiap 50 ekor unta, 1 ekor hiqqah. Dan pada 150 ekor, 3 ekor hiqqah. Pada 160 ekor unta, empat bintu labun. Pada 180 ekor unta, zakatnya 2 ekor hiqqah dan 2 bintu labun. Pada 200 ekor unta, 5 ekor bintu labun atau 4 ekor hiqqah.

b) Bila diwajibkan membayar zakat dengan bintu labun namun tidak punya, maka dibolehkan mengeluarkan bintu makhadh dan membayar selisih harganya (2 kambing atau 20 dirham), atau dengan membayar 2 hiqqah dengan mengambil selisihnya. Selisih hanya khusus pada unta saja.

c) Diambil dari zakat kambing seekor jadza’, yakni kambing berumur 6 bulan atau tsaniyah, yakni kambing berumur 1 tahun.

d) Tidak diambil zakat kecuall betina, dan tidak sah jantannya kecuali pada zakat sapi. Ibnu labun atau hiqq atau jadza’ posisinya sama dengan bintu makhadh dari unta atau kalau nishab seluruhnya jantan.

e) Tidak boleh menggabungkan hewan yang terpencar dan juga tidak boleh memencarkan hewan yang berkumpui karena khawatir kena wajib zakat hewan ternak. Barangsiapa yang memiliki 40 ekor kambing maka ia tidak boleh memencarkannya, sebagian di suatu tempat dan sebagian lagi di tempat yang lain, sehingga ketika datang petugas zakat, ia tidak akan mendapatkan nishabnya. Begitu juga kalau seseorang memiliki 40 kambing, pihak kedua juga memiliki 40 kambing, lalu pihak ketiga juga memiliki 40 kambing, kemudian menggabungkan kambing (milik tiga orang tadi) hingga tidak diambil zakatnya, kecuali satu kambing saja. Kalau kambing itu dipencar, maka mereka akan berzakat tiga kambing. Ini semua termasuk tipu muslihat yang diharamkan.

f) Petugas zakat tidak boleh mengambil harta yang terbaik. Tidak boleh mengambil binatang yang sedang mengandung, jantan, yang memelihara anaknya dan tidak juga mengambil hewan yang gemuk dan siap untuk dimakan. Dia mengambil hewan dengan kualitas pertengahan, dan hal ini berlaku pada jenis zakat yang lain.

4. Zakat Hasil Bumi

a. Hasil bumi berupa biji-bijian, buah-buahan, barang tambang dan barang temuan serta lainnya.

b. Wajib zakat pada semua jenis biji-bijian dan pada tiap buah yang ditakar dan disimpan seperti kurma dan kismis. Disyaratkan menjadi hak miliknya ketika datang kewajiban zakat, dan mencapai nishabnya (5 Awsuq) yakni 300 sha’ Nabi, atau kira-kira setara dengan 612 kg dari gandum.

c. Sha’ Nabi dalam timbangan kira-kira setara dengan 2,4 kg gandum. Bejana yang cukup memuat hal itu setara dengan 1 sha’ Nabi, Yakni setara 4 mud ukuran sedang.

d. Buah-buahan yang telah mencapai 1 tahun (haul), bila dalam satu jenis, maka digabungkan saat menyempurnakan nishab seperti berbagai jenis kurma.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a., ia berkata, “Rasulullah Saw. bersabda,

لَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسِ أَوَاقٍ صَدَقَةٌ، وَلَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسِ ذَوْدٍ صَدَقَةٌ، وَلَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسِ أَوْسُقٍ صَدَقَةٌ

Tidak ada zakat pada hasil panen yang kurang dari 5 uqiah*, tidak ada zakat yang kurang dari 5 dzaud**, dan tidak ada zakat bagi yang kurang dari 5 awsuq***.”2


* Satu Uqiyah: empat puluh dirham perak.
** Satu Dzaud: 3-10 ekor unta.
*** Satu Wasaq: sekitar enam puluh sha’ kurma atau yang sejenisnya.

e. Kadar wajib dalam zakat biji-bijian dan buah-buahan

  1. 10% bagi hasil panen yang diairi tanpa biaya, seperti yang diairi dengan air hujan atau mata air serta lainnya.
  2. 5% bagi hasil panen yang diairi dengan biaya, seperti dengan air sumur yang dikeluarkan dengan alat (mesin) atau lainnya.

Dari Ibnu Umar r.a. dari Nabi Saw., beliau bersabda,

فِيمَا سَقَتِ السَّمَاءُ وَالْعُيُونُ أَوْ كَانَ عَثَرِيًّا الْعُشْرُ، وَمَا سُقِيَ بِالنَّضْحِ نِصْفُ الْعُشْرِ

“Pada (tanaman) yang disirami oleh air hujan dari langit dan mata air atau pohon kurma yang menyerap airnya dari tanah maka zakatnya sepersepuluh, dan apa yang disirami dengan tenaga (unta), maka zakatnya seperlima.”3

f. Waktu wajibnya zakat biji-bijian dan buah-buahan, bila telah tua biji-bijian tersebut dan telah masak buah-buahannya, yakni dengan menjadi merah atau kuning. Bila dijual oleh pemiliknya, maka zakatnya diwajibkan atas penjual bukan atas pembelinya.

g. Bila biji-bijian dan buah-buahan rusak tanpa keteledoran dan kelalaian pemiliknya, maka gugurlah kewajiban zakat.

h. Tidak ada kewajiban zakat pada sayuran dan buah-buahan (seperti jambu, rambutan dan lain-lain), kecuali bila barang tersebut disiapkan untuk perdagangan, maka dari harganya dikeluarkan 2,5% bila telah berlalu satu tahun (haul) dan mencapai nishab.

i. Zakat Madu

Bila madu diambil dari ratu (lebah)nya, atau dari tanah yang tak bertuan berupa pepohonan (misalnya di hutan) atau pegunungan maka zakatnya sepersepuluh dan nishabnya 160 liter Iraq, yaitu setara 62 kilogram. Jika madu diperdagangkan, maka masuk dalarn zakat perdagangan yakni 2,5%.

j. Wajib zakat 10 % atau 5 % atas penyewa tanah atau kebun—selain pemiliknya—untuk semua yang dihasilkan dari tanah tersebut. Dari sernua barang yang ditakar maupun yang disimpan dari biji-bijian dan buah-buahan atau lainnya. Wajib bagi seseorang yang menyewakan untuk membayar zakat harga (sewa) berupa uang bila telah mencapai nishab dan berlalu satu tahun (haul) dari sejak akad sewa-menyewa.

k. Setiap yang dihasilkan dari laut seperti berlian, mutiara, ikan dan yang sejenisnya tidak ada zakatnya. Jika untuk perdagangan, maka zakatnya 2,5% bila telah mencapai nishab dan berlalu satu tahun (haul).

l. Setiap yang dihasilkan dari bumi selain tetumbuhan, berupa barang tambang dan yang sejenisnya, zakatnya bila telah mencapai nishab salah satu dari emas dan perak adalah 2,5% dari harganya. Atau 2,5% dari barang itu sendiri bila itu berharga seperti emas dan perak.

m. Zakat Rikaz (Barang temuan)

Rikaz yaitu harta yang didapatkan terpendam, secara kebetulan, atau tanpa usaha. Kewajiban zakatnya seperlima, baik sedikit maupun banyak. Tidak disyaratkan adanya nishab dan haul. Zakatnya dialokasikan sesuai dengan pengalokasian harta Fa’i (hasil rampasan perang tanpa bertempur). Sisanya 4/5 bagi yang menemukannya.

5. Zakat Barang Perniagaan

a. Barang perniagaan adalah barang yang dipersiapkan untuk jual-beli demi mendapatkan laba, baik berupa tanah, hewan, makanan, minuman dan alat-alat serta lainnya.

b. Barang perniagaan bila untuk perdagangan dan telah mencapai nishab serta berlalu satu tahun (haul) maka wajib dikeluarkan zakat. Ketika telah satu tahun ditaksir dengan yang paling berharga dari harta wajib zakat baik emas maupun perak. Dikeluarkan 2,5 % dari keseluruhan harga atau dari barang dagangan itu sendiri.

c. Rumah, tanah, mobil dan alat-alat bila diperuntukkan sebagai tempat tinggal atau dipergunakan bukan sebagai perniagaan, maka tidak ada zakatnya. Bila disiapkan untuk penyewaan, maka zakatnya wajib atas upah sewa sejak akad sampai berlalu satu tahun (haul) dan mencapai nishab sebelum dibelanjakan. Sedangkan bila diperuntukkan sebagai barang dagangan maka wajib zakat pada harganya bila telah mencapai nishab dan berlalu satu tahun (haul).

d. Alat-alat pertanian, pabrik, perdagangan dan yang semisalnya tidak ada zakat pada harganya, karena (hakikatnya) barang tersebut bukan didagangkan namun untuk digunakan.

e. Mengeluarkan Zakat Saham dalam Perusahaan.

  1. Perusahaan Pertanian
    Jika investasinya berupa biji-bijian dan buah-buahan serta yang sejenisnya dari barang yang ditakar dan ditimbun, maka zakatnya seperti zakat kedua barang tersebut dengan syarat-syaratnya. Dan jika investasinya pada binatang ternak, maka wajib zakat seperti pada binatang ternak dengan syarat-syaratnya. Jika (saham) tersebut pada harta berputar (operasional bisnis atau usaha) maka padanya wajib zakat uang, yakni 2,5% dengan syarat-syaratnya.
  2. Perusahaan Industri
    Seperti perusahaan farmasi, listrik, semen, besi dan yang semisalnya. Maka wajib zakat 2,5% pada keuntungan murninya bila telah mencapai nishab dan berlalu satu tahun, dianalogikan dengan tanah yang disewakan.
  3. Perusahaan perniagaan
    Seperti ekspor-impor, jual-beli, bagi hasil dan pengalihan harta serta yang sejenisnya, itu semua boleh dilakukan menurut syar’i. Dalam hal ini wajib zakat perdagangan 2,5% pada modal utamanya dan keuntungan murninya, bila telah mencapai nishab dan berlalu satu tahun.

f. Zakat Saham ada dua kondisi:

  1. Jika pemiliknya bermaksud untuk kontinyu dalam memiliki (saham) dan mengambil keuntungannya pertahun, maka wajib membayar zakat seperti yang lalu.
  2. Jika pemiliknya bertujuan untuk memperdagangkan saha. Beli saham ini dan menjual saham itu guna mendapatkan keuntungan, maka wajib zakat pada semua saham yang dimiliki dan zakatnya berupa zakat barang perdagangan 2,5%. Hal yang dihitung adalah harganya ketika wajib zakat seperti promes (surat pengakuan utang).

g. Zakat Harta Haram

Harta haram ada dua macam:

  1. Jika asal harta itu haram, seperti arak, babi dan yang sejenisnya, ini tidak boleh dimiliki dan bukan termasuk harta yang wajib dizakati. Namun, wajib menghancurkannya dan berlepas diri darinya.
  2. Jika harta haram karena sifatnya bukan aslinya. Yakni barang yang diambil dengan cara tidak benar dan tidak dengan akad, seperti barang perampokan, pencurian atau diambil dengan akad yang rusak, seperti riba dan judi. Jenis ini memiliki dua keadaan:

Pertama: Jika pemiliknya diketahui, maka dia harus mengembalikan kepada mereka, dan mereka yang mengeluarkan zakatnya setelah memegang satu tahun.

Kedua: Jika pemiliknya tidak diketahui, maka disedekahkan atas niat untuknya, jika pemiliknya diketahui dan mengikhlaskannya maka selesailah urusannya. Jika tidak mengikhlaskannya, maka dia harus menanggungnya. Jika tetap dibiarkan di tangan, maka dia berdosa dan dia wajib zakat.

6. Zakat Fitrah

a. Hikmah Disyariatkannya Zakat Fitrah

Allah Swt. mewajibkan zakat fitrah sebagai pensucian diri bagi orang-orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kotor. Serta sebagai makanan bagi para fakir-miskin agar kehidupan mereka tercukupi dan tidak meminta-minta di hari raya, dan ikut serta bersama orang yang berbahagia di hari raya.

Dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata, “Rasulullah Saw. mewajibkan zakat fitrah sebagai pensucian diri bagi orang-orang yang berpuasa dari (perbuatan) sia-sia dan kotor, serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin.

زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ فَمَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ ‏.‏

Barangsiapa menunaikan sebelum shalat, maka zakatnya diterima, dan barangsiapa menunaikan setelah shalat, maka itu sedekah biasa.”4

b. Hukum Zakat Fitrah

Zakat fitrah wajib bagi setiap muslim, lelaki, perempuan, merdeka, dan hamba, anak kecil dan orang dewasa yang memiliki satu sha’ makanan sisa dari makanan pokoknya, atau makanan pokok orang yang menjadi tanggungannya dari kaum muslimin. Dan disunnahkan mengeluarkan zakat fitrah untuk janin.

c. Zakat fitrah wajib ditunaikan mulai matahari terbenam di hari terakhir bulan Ramadhan. Bila seorang ayah mengeluarkan zakat untuk keluarganya dan yang lainnya dengan izin serta ridha mereka, maka itu boleh saja dan dia mendapatkan pahala.

d. Waktu Mengeluarkan Zakat Fitrah

  1. Waktu mengeluarkan zakat fitrah dimulai sejak terbenamnya matahari pada malam Idul Fitri sampai menjelang shalat Id. Waktu terbaik adalah pada hari raya sebelum shalat Id. Dan dibolehkan menunaikannya satu atau dua hari sebelum id (hari raya).
  2. Barangsiapa yang mengeluarkan zakat setelah shalat Id, maka itu menjadi sedekah biasa, dia tetap berdosa, kecuali bila dia berhalangan. Jika dia mengakhirkannya lewat hari raya tanpa alasan, maka dia berdosa. Jika berhalangan, dia wajib mengqadhanya dan tidak berdosa.

e. Kadar Zakat Fitrah

Zakat fitrah dikeluarkan dari setiap makanan pokok penduduk suatu daerah, seperti gandum, kurma, anggur kering, susu kering, beras dan jagung serta lainnya. Lebih baik zakat dengan yang paling bermanfaat bagi orang fakir.

Kadar ukuran wajib tiap individu seberat satu sha’, setara dengan timbangan 2,4 kg. Diberikan kepada orang fakir negeri tersebut, dan tidak boleh mengeluarkan nominal uang sebagai ganti makanan. Orang fakir dan miskin lebih dikhususkan dengan zakat fitrah daripada yang lain.

Dari Ibnu Umar r.a., Rasulullah Saw. bersabda,

زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى، وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ

diwajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma, satu sha’ gandum atas hamba dan orang merdeka, lelaki dan perempuan, kecil dan besar dari kaum muslimin. Beliau memerintahkan zakat fitrah ditunaikan sebelum manusia keluar untuk shalat id.”5

7. Mengeluarkan Zakat

a. Adab Mengeluarkan Zakat:

  1. Mengeluarkan zakat pada waktu diwajibkan.
  2. Mengeluarkannya dengan jiwa yang tulus.
  3. Bersedekah dengan harta yang terbaik, bagus, paling dicintai dan paling dekat kepada kehalalan.
  4. Ridha saat bersedekah.
  5. Menganggap kecil pemberiannya agar selamat dari sifat ujub (kagum pada diri sendiri).
  6. Menyembunyikannya agar selamat dari sifat riya’.
  7. Dibolehkan sesekali menampakkannya untuk menghidupkan semangat menjalankan kewajiban dan untuk memberi semangat kepada orang-orang kaya agar mengikutinya.
  8. Tidak mengungkit-ungkit dan menyakiti hati penerima zakat.

b. Lebih baik memberikan zakat kepada orang yang paling bertakwa, paling dekat hubungan kerabatnya, dan paling membutuhkan. Dan hendaknya mencari orang yang dapat mensucikan dirinya dengan sedekah tersebut, yakni dari kalangan kerabat, orang-orang yang bertakwa, para penuntut ilmu, orang-orang fakir yang menjaga harga diri, keluarga besar yang terdesak kebutuhan dan selain mereka. Mengeluarkan apa yang dimilikinya sebagai zakat atau sedekah dan yang lainnya sebelum datangnya rintangan.

Firman Allah Swt.,

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

Dan, belanjakanlah untuk orang lain sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebagai rezeki, sebelum tiba saat ketika kematian mendatangi salah seorang di antara kalian, dan kemudian dia berkata, “Wahai, Pemeliharaku! Sekiranya Engkau berkenan memberi penangguhan sebentar saja, supaya aku dapat bersedekah dan termasuk ke dalam golongan orang yang saleh!” (Surah Al-Munafiqun [63]: 10).

c. Wajib segera mengeluarkan zakat bila telah jatuh tempo wajib zakat (haul), kecuali karena dalam kondisi darurat.

d. Boleh hukumnya menyegerakan zakat sebelum datang kewajibannya setelah didapati sebab-sebab yang mewajibkannya. Boleh hukumnya menyegerakan zakat hewan ternak, uang dan barang dagangan, bila telah memiliki nishab.

e. Boleh hukumnya mengeluarkan zakat sebelum satu tahun atau dua tahun dan memberikannya kepada orang- orang fakir dalam bentuk gaji bulanan, bila maslahat memang menuntut demikian.

f. Orang yang memiliki harta yang fluktuatif dalam suatu tempo tertentu seperti gaji, uang sewa gedung dan warisan. Maka zakat hartanya dikeluarkan setelah genap satu tahun. Jika hendak berbaik hati dan memprioritaskan orang-orang fakir serta yang lainnya, jadikanlah pemberian zakatnya pada bulan tertentu, seperti bulan Ramadhan, Karena pada saat itu pahalanya lebih besar.

g. Barangsiapa yang enggan memberikan zakat karena menentang kewajibannya sedangkan dia sendiri mengetahui hukumnya, maka perbuatannya tersebut suatu kekufuran. Dia harus ditangkap dan dibunuh bila tidak bertobat, sebab dia telah murtad. Bila tidak mau membayarnya karena bakhil, maka tidaklah kafir, namun tetap diberi sangsi sebagai pelajaran dan separuh hartanya diambil.

h. Boleh hukumnya memberikan zakat satu orang kepada sekelompok orang dan juga boleh sebaliknya. Lebih baik membagikan sendiri zakat secara rahasia atau terang-terangan sesuai kemaslahatannya. Pada asalnya, zakat diberikan dengan cara sembunyi-sembunyi, kecuali kalau ada maslahat dibaliknya.

i. Boleh hukumnya bagi hakim, bila adil dan dapat dipercaya terhadap kemaslahatan kaum muslimin untuk mengambil zakat dari orang-orang kaya dan menyalurkannya sesuai alokasi yang syar’i. Wajib baginya mengutus para petugas yang mengambil zakat harta yang nampak, seperti hewan ternak, hasil tanaman, buah-buahan dan sejenisnya. Karena di antara manusia ada yang tidak tahu akan kewajiban zakat, dan di antara mereka, ada yang malas-malasan atau lupa. Bila pemerintah mengambil zakat dari orang-orang kaya, wajib bagi mereka membayarnya sehingga terlepaslah beban kewajiban zakat dan bagi mereka pahala membayar zakat. Adapun beban dosa bagi orang yang mengubah zakat.

k. Zakat bila telah jatuh tempo kewajibannya merupakan amanah yang berada di tangan orang yang wajib zakat. Jika barang tersebut rusak karena kesengajaan atau keteledoran (kelalaian) dirinya, maka dia wajib menanggungnya.

l. Lebih baik mengeluarkan zakat harta dibagikan kepada orang-orang fakir di daerahnya. Boleh memindahkan ke daerah lain bila demi kemaslahatan, atau kekerabatan, karena kebutuhan yang mendesak. Da lebih baik baginya membayarkannya sendiri, walaupun boleh mewakilkan kepada orang lain.

m. Harta yang di luar jangkauannya tidak ada zakatnya hingga dia mampau memegangnya. Barangsiapa memiliki harta yang tidak mampu dikuasai karena sebab yang tidak berasal darinya, seperti bagian tanah atau waris, maka tidak ada zakatnya.

n. Zakat harta berkaitan dengan harta, maka dikeluarkan di daerahnya. Sedangkan zakat fitrah berkaitan dengan badan, maka dikeluarkan di mana pun dia berada.

o. Hukuman orang yang tidak mau membayar zakat

Bagi orang yang memiliki harta yang mencapai nishab wajib mengeluarkan zakat. Allah Swt. mengancam dengan siksaan yang sangat pedih bagi orang yang enggan mengeluarkan zakat.

1) Firman Allah Swt.,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۗ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

Wahai, kalian yang telah meraih iman! Sungguh, banyak dari para rabi dan pendeta yang melahap harta orang dengan cara yang salah dan memalingkan [orang] dari jalan Allah. Akan tetapi, bagi orang-orang yang menimbun emas dan perak dan tidak membelanjakannya di jalan Allah—berilah mereka kabar tentang derita yang pedih [di kehidupan mendatang]:

يَوْمَ يُحْمَىٰ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ ۖ هَٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ

pada Hari kerika [harta yang ditimbun] itu akan dipanaskan di dalam api neraka, dan dahi, lambung, serta punggung mereka akan dicap dengannya, [kepada orang-orang yang berdosa itu akan dikatakan:] “Inilah harta yang kalian telah timbun untuk diri kalian sendiri! Maka, rasakanlah [keburukan dari] harta yang kalian timbun itu!” (Surah At-Taubah [9]: 34-35).

2) Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw. bersabda,

مَنْ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً، فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ، لَهُ زَبِيبَتَانِ، يُطَوَّقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، ثُمَّ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ ـ يَعْنِي شِدْقَيْهِ ـ ثُمَّ يَقُولُ أَنَا مَالُكَ، أَنَا كَنْزُكَ ‏”‏ ثُمَّ تَلاَ ‏{‏لاَ يَحْسِبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ‏}‏ الآيَةَ‏.‏

“Barangsiapa yang Allah berikan harta, akan tetapi tidak menunaikan zakatnya, hartanya akan diperumpamakan baginya di Hari Kiamat seperti ular besar yang mempunyai dua titik hitam di atas kedua matanya. Ular tersebut melilitnya pada Hari Kiamat. Kemudian ular itu menggigit dua tulang rahangnya seraya berkata, ‘Aku adalah hartamu! Aku harta timbunanmu.’” Kemudian beliau membaca firman Allah Swt., “Dan, janganlah mereka menduga …” (Surah Alu ‘Imran [3]: 180)6

3) Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw. bersabda, “Tidaklah seorang pun pemilik harta simpanan yang tidak ditunaikan zakatnya, melainkan akan dipanaskan di api neraka jahanam. Kemudian dijadikan lembaran-lembaran kemudian disetrika dengannya rusuk dan keningnya, hingga Allah menghukumi di antara para hamba di hari yang lamanya sama dengan 5000 tahun.”7

4) Dari Abu Dzar r.a., Rasulullah Saw. bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, atau demi Zat yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia—atau seperti beliau bersumpah—. Tidaklah seorang pun memiliki unta atau sapi atau kambing yang tidak menunaikan haknya, melainkan didatangkan pada Hari Kiamat lebih besar dan lebih gemuk dari (hewan di dunia). Mereka akan menginjaknya dan menanduk dengan tanduknya. Tiap kali selesai melewatinya maka dia akan mengulangi dari awal.”8

8. Golongan Penerima Zakat

a. Ahlu Zakat

Ahlu zakat atau biasa juga disebut asnaf adalah orang-orang yang berhak menerima zakat. Ada delapan golongan penerima zakat sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Swt.,

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Persembahan yang diberikan karena Allah [dimaksudkan) hanya untuk orang-orang fakir dan miskin, dan orang-orang yang bertanggung jawab atasnya, dan orang-orang yang hatinya masih perlu dibujuk, dan untuk membebaskan manusia dari perbudakan, dan [untuk] orang-orang yang sangat terbebani utang, dan [untuk setiap perjuangan] di jalan Allah, serta [untuk] para musafir: [ini adalah] suatu ketentuan dari Allah—dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana. (Surah At-Taubah [9]: 60).

b. Allah Swt. dengan hikmah-Nya menentukan orang-orang yang berhak menerima zakat dan menentukan kadar hak mereka, seperti yang terjadi pada pembagian harta pusaka dan ahli warisnya.

8 Golongan Penerima Zakat (Asnaf)

  1. Fakir, yakni orang yang tidak memiliki sesuatu pun untuk makan, dan tidak mampu secara fisik dan mental untuk berusaha mendapatkannya.
  2. Miskin, yakni orang yang tidak berkecukupan. Orang yang sehat secara jasmani dan ruhani dan telah berusaha untuk mendapatkan kebutuhan pokok hidup, namun yang diperolehnya belum mencukupi.
  3. Amil, yakni orang-orang yang mengumpulkan zakat, menjaganya dan kemudian menyalurkannya kepada golongan yang berhak menerimanya.
  4. Mualaf, yakni orang yang sebelumnya kafir kemudian memeluk agama Islam. Orang kafir atau tokoh kaumnya yang diharapkan keislamannya atau untuk menahan kejahatannya, atau diharapkan dengan pemberian ini imannya bertambah kuat. Mereka diberi zakat dengan kadar yang dapat mewujudkan tujuan tersebut.
  5. Riqab, yakni budak-budak (hamba sahaya) yang dalam proses memerdekakan diri, atau membeli diri mereka dari majikannya. Mereka dimerdekakan dan dibantu dengan harta zakat.
  6. Gharimin, yaitu orang yang terlilit utang. Terdapat dua golongan:
    Pertama: Berutang untuk kebaikan pihak yang berselisih sehingga diberi sesuai dengan kadar utangnya.
    Kedua: Berutang untuk pribadi, yakni menanggung banyak utang tapi tidak mampu membayarnya.
  7. Fisabilillah, yakni orang-orang yang berjuang (jihad) di jalan Allah dalam pengertian terluas. Seperti berperang, berdakwah, berusaha menerapkan hukum Islam, menolak fitnah-fitnah yang ditimbulkan oleh musuh-musuh Islam, membendung arus pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan Islam, dsb.
  8. Ibnu Sabil, yakni musafir yang kehabisan bekal dl tengah perjalanannya. Dia diberi zakat yang kira-kira bisa menutupi kebutuhannya, meskipun dia orang kaya.

c. Tidak boleh seseorang mengalokasikan zakat selain kepada delapan golongan tersebut. Dimulai dengan orang yang paling membutuhkan.

d. Boleh hukumnya menyalurkan zakat kepada satu golongan saja dari penerima zakat, juga menyalurkan zakat kepada satu orang saja dari ahli zakat pada batas-batas kebutuhannya meskipun banyak. Tapi disunnahkan membagi kepada masing-masing golongan yang delapan.

e. Seseorang yang memiliki gaji bulanannya 2000 riyal, namun ia butuh 3000 riyal setiap bulan untuk menutupi kebutuhannya dan nafkah keluarganya, maka ia termasuk yang berhak menerima zakat sesuai kadar kebutuhannya.

f. Bila memberikan zakat kepada orang yang disangka berhak menerima setelah berusaha sungguh-sungguh dan mencari, lalu ternyata orang tersebut bukan yang berhak menerima zakat, maka zakatnya tetap sah.

g. Harta yang telah wajib zakat harus segera disalurkan kepada yang berhak, tidak boleh menundanya dengan tujuan untuk mengembangkannya dan memperdagangkannya demi kepentingan pribadi atau kelompok dan sebagainya. Tapi jika harta tersebut bukan zakat, maka tidak ada halangan untuk memperdagangkannya dan menyalurkannya dalam bidang-bidang kebaikan (sosial).

h. Boleh hukumnya menyalurkan zakat kepada orang yang hendak mengerjakan haji, namun biayanya masih kurang. Boleh juga seseorang menyalurkan zakat untuk membebaskan tawanan muslim, untuk orang yang ingin menikah demi menjaga kehormatannya, namun dia fakir. Boleh juga seseorang melunasi utang orang yang meninggal dunia dengan harta zakat.

i. Dibolehkan bagi si pemberi utang kepada orang fakir untuk memberikan sebagian zakat kepadanya bila tanpa ada kesepakatan antar keduanya bahwa uang dari zakat tersebut untuk melunasi utangnya. Dan tidak boleh menggugurkan utang dan menganggap itu sebagai zakatnya.

j. Sedekah untuk orang miskin mendapat pahala sedekah, sedangkan sedekah kepada saudara sendiri mendapat pahala sedekah dan sialaturahim.

k. Bila orang yang mampu mencari penghasilan, namun dia memfokuskan seluruh waktunya untuk mencari ilmu, maka dia berhak diberi zakat, karena mencari ilmu termasuk jenis jihad di jalan Allah (fisabilillah) dan manfaatnya untuk orang lain juga.

l. Sunnah memberikan zakat kepada kerabat yang berada di luar tanggung jawab menafkahinya, seperti saudara lelaki, saudara perempuan, paman dan bibi, baik dari pihak bapak maupun dari pihak ibu, juga yang semisalnya.

m. Boleh hukumnya seseorang menyalurkan zakat kepada kedua orang-tua ke atas (kakek dan seterusnya) dan juga boleh menyalurkan zakat kepada anak ke bawah (cucu dan seterusnya), jika mereka orang-orang fakir, sedangkan dia mampu memberi nafkah kepada mereka, selama yang diberi zakat bukan yang menjadi kewajiban baginya. Begitu juga kalau mereka menanggung utang atau diat, dia boleh melunasi beban tanggungan mereka saat mereka lebih berhak melunasinya.

n. Suami boleh memberikan zakat kepada istrinya jika istrinya menanggung utang atau kafarat. Sedangkan istri boleh memberikan zakatnya kepada suaminya jika dia termasuk dari orang yang berhak menerima zakat.

o. Tidak boleh memberikan zakat kepada Bani Hasyim (keturunan Nabi) dan budak-budak mereka, sebagai bentuk penghormatan kepada mereka, karena harta zakat merupakan sisa pembersihan harta manusia.

p. Tidak boleh memberikan zakat kepada orang kafir, kecuali kalau dia mualaf. Juga tidak boleh kepada budak, kecuali bila dia sedang dalam proses memerdekakan dirinya.

q. Tidak boleh memberikan zakat kepada orang kaya, kecuali bila dia termasuk amil zakat, mualaf, orang yang berjihad di jalan Allah, atau ibnu sabil.

r. Orang kaya adalah orang yang mendapatkan kecukupan hidup, dan orang-orang yang di bawah tanggungannya sepanjang tahun. Baik dari harta yang ada, hasil perdagangan atau hasil produksi dan semisalnya.

s. Ucapan penerima zakat

Disunnahkan bagi orang yang diberi zakat untuk mendoakan orang yang memberinya dengan mengucapkan,

Ya Allah rahmatilah mereka.”9

Atau mengucapkan,

Ya Allah rahmatilah keluarga si fulan.”10

Atau mengucapkan,

Ya Allah berkahilah padanya dan pada untanya.”11

t. Barangsiapa yang mengeluarkan zakat, dan dia mengetahui bahwa si fulan termasuk orang yang berhak menerima zakat, namun enggan menerima zakat, maka berikanlah zakat tanpa memberitahu bahwa itu dari harta zakat. Jika tidak tahu kondisi orang tersebut atau dia tidak menerima zakat, maka di sini dia memberitahukannya bahwa itu dari harta zakat.

9. Sedekah

Hikmah Disyariatkannya Sedekah

Islam mengajak berderma dan menganjurkan amalan tersebut sebagai bentuk kasih sayang terhadap orang-orang lemah dan menyantuni orang fakir. Di sisi lain akan mendatangkan pahala yang berlipat ganda, juga berarti orang yang melakukannya memiliki akhlak para nabi yang gemar berderma dan berbuat baik.

Hukum Sedekah

Sedekah hukumnya sunnah dan dapat dilakukan pada setiap waktu. Terlebih lagi pada waktu dan keadaan berikut:

  1. Di bulan Ramadhan dan sepuluh hari (pertama) bulan Zulhijah.
  2. Lebih baik pada saat dibutuhkan, secara kontinu seperti pada musim dingin. Atau secara spontan, seperti saat terjadi kelaparan atau kemarau dan semisalnya. Sebaik-baik sedekah adalah kepada kerabat yang menyimpan benih-benih permusuhan.

Keistimewaan Sedekah

1) Firman Allah Swt.,

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Orang-orang yang menafkahkan hartanya [demi Allah] pada malam maupun siang hari, secara rahasia maupun terang-terangan, akan mendapat pahala di sisi Pemelihara mereka; mereka tidak perlu takut, dan tidak pula akan bersedih hati. (Surah Al-Baqarah [2]: 274).

2. Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda,

مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ ـ وَلاَ يَقْبَلُ اللَّهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ ـ وَإِنَّ اللَّهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِينِهِ، ثُمَّ يُرَبِّيهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ

“Barangsiapa bersedekah dengan senilai satu biji kurma dari usaha yang baik, dan Allah tidak menerima kecuali dari yang baik. Sesungguhnya Allah menerima dengan tangan kanan-Nya. Kemudian Allah mengembangkannya untuk pemiliknya sebagaimana salah seorang kalian mengembangkan anak kudanya hingga menjadi seperti gunung.”12

d. Sunnah sedekah tathawwu’ dengan sisa dari kecukupannya dan kecukupan orang yang dia tanggung. Sedekah dapat menghapus kesalahan sebagaimana air memadamkan api.

e. Orang yang paling berhak menerima sedekah adalah anak-anak orang yang bersedekah, keluarganya, kerabatnya dan tetangganya. Sebaik-baik sedekah adalah yang disedekahkan oleh seseorang kepada diri sendiri dan keluarganya. Pahala sedekah tetap didapatkannya meskipun sedekah tersebut jatuh pada tangan orang yang tidak berhak.

f. Sebaik-sebaik sedekah adalah yang di luar hajat kebutuhan. Dan sebaik-baik sedekah adalah sedekahnya orang yang hidupnya pas-pasan, yakni yang lebih dari kecukupannya dan kecukupan orang yang ditariggungnya.

g. Istri boleh bersedekah dari harta suaminya bila dia mengetahui ridha suaminya dan baginya setengah pahala sedekahnya. Dan haram bila dia mengetahui bahwa sang suami tidak ridha. Jika suaminya mengizinkannya, maka dia mendapat pahala seperti pahalanya.

h. Sedekah dalam keadaan sehat lebih baik daripada dalam keadaan sakit. Sedekah dalam keadaan susah lebih utama daripada dalam keadaan senang, bila niatnya ikhlas mencari ridha Allah Swt.

Firman Allah Swt.,

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

dan yang memberikan makanan—betapapun mereka sangat menginginkan makanan itu—kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan,

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

[seraya berkata dalam hati mereka,] “Kami memberi makanan kepada kalian karena Allah semata: kami tidak menginginkan balasan dari kalian, tidak pula terima kasih: (Surah Al-Insan [76]: 8-9).

i. Nabi Saw. tidak berhak menerima zakat wajib dan sedekah tathawwu‘, sedangkan Bani Hasyim tidak berhak menerima zakat wajib tapi berhak menerima sedekah tathawwu’.

j. Sedekah tathawwu’ boleh diberikan kepada orang kafir dalam rangka melunakkan hati mereka dan menghilangkan kelaparannya. Seorang muslim yang melakukan hal tersebut akan mendapat pahala karena pada setiap hati yang basah (makhluk) ada pahalanya.

k. Sunnah memberikan sesuatu sekecil apa pun kepada pengemis. Ini berdasarkan perkataan Ummu Bujaid r.a., “Ya Rasulullah Saw., sesungguhnya orang-orang miskin berdiri di pintuku, aku tidak mendapati di rumahku sesuatu pun untuk kuberikan kepadanya.” Rasulullah Saw. bersabda, “Jika kamu tidak mendapatkan sesuatu untuk kamu berikan kepadanya, kecuali kaki kambing yang dibakar, maka berikanlah kepadanya.”13

l. Bahaya dan hukuman meminta tanpa ada keperluan:

1) Dari Ibnu Umar r.a., ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda,

مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ

“Seorang lelaki yang selalu meminta kepada orang lain hingga pada Hari Kiamat, mukanya sudah tidak ada dagingnya lagi [hina].”14

2) Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa meminta harta kepada orang lain untuk memperbanyak harta, maka sesungguhnya dia meminta bara api. Maka berilah sedikit saja atau perbanyaklah.”15

m. Siapakah Yang Boleh Meminta?

Haram meminta kecuali kepada sang penguasa, atau karena hal yang menuntut dia minta bantuan, seperti saat memikul beban atau ditimpa musibah atau kemelaratan dan tidak mempunyai hal yang dapat mencukupi hidupnya. Selain hal di atas maka meminta-minta merupakan perilaku dosa.

Dari Samurah r.a., dari Nabi Saw. beliau bersabda, “Meminta-minta adalah kehinaan yang menghinakan wajah orang yang melakukannya. Barangsiapa yang ingin hal tersebut ada padanya, niscaya Allah akan tetapkan ada padanya. Barangsiapa yang ingin hal tersebut hilang dari wajahnya, hendaknya dia tinggalkan hal tersebut. Kecuali minta kepada sang penguasa atau dalam kondisi yang mengharuskan meminta.”16

n. Disunnahkan memperbanyak infak dalam berbagai sisi kebaikan, karena yang demikian dapat menjaga harta dan jalan memperbanyak harta.

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

“Tidak ada suatu hari pun melainkan ada dua malaikat yang turun di pagi hari dengan berdoa, ‘Ya Allah berikanlah ganti kepada orang yang berinfak.’ Malaikat yang lain berdoa, ‘Ya Allah berikanlah kerugian kepada orang yang kikir.’”17

o. Bila orang musyrik masuk Islam, dia mendapatkan pahala sedekah yang diberikan sebelum masuk Islam.

Dari Hakim bin Hizam r.a., ia berkata, “Saya bertanya, ‘wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu terhadap barang-barang yang kupergunakan untuk ibadah pada masa jahiliah berupa sedekah dan memerdekakan budak atau menyambung tali persaudaraan, apakah dapat pahala?” Nabi Saw. menjawab,

أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ مِنْ خَيْرٍ

“Kamu masuk Islam dengan tetap mendapatkan kebaikan-kebaikan yang telah [dilakukan] di masa lalu.”18

p. Adab Bersedekah

Sedekah adalah ibadah yang mempunyai adab dan syarat, di antara yang terpenting adalah:

1) Sedekah harus ikhlas karena Allah Swt., tidak terkotori dan ternodai oleh riya’ dan sum’ah (mencari prestise).

Dari Umar bin Khaththab r.a., ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Amal perbuatan pasti disertai niat, dan setiap orang mendapatkan apa yang diniatkan.”19

2) Sedekah harus dari usaha yang halal dan baik, karena Allah baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Allah Swt. berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Wahai, orang-orang yang telah meraih iman! Nafkahkanlah untuk orang lain yang baik-baik yang telah kalian peroleh dan yang Kami keluarkan dari bumi untuk kalian; dan janganlah memilih yang buruk-buruk untuk kalian nafkahkan, yang kalian sendiri tidak mau menerimanya kecuali dengan memalingkan mata karena jijik. Dan, ketahuilah bahwa Allah Mahacukup, Maha Terpuji. (Surah Al-Baqarah [2]: 267).

3) Sedekah dari harta yang baik dan yang paling dicintai. Firrnan Allah Swt,

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

[Adapun kalian, wahai orang-orang beriman,] tidak akan pernah kalian meraih kesalehan sejati, kecuali kalian menafkahkan sebagian dari apa yang kalian sendiri cintai untuk orang lain; dan apa pun yang kalian nafkahkan—sungguh, Allah Maha Mengetahuinya. (Surah Alu ‘Imran [3]: 92).

4) Tidak boleh berharap balasan dari harta yang telah disedekahkan dan menjauhi rasa bangga dan ujub. Firman Allah Swt.,

وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ

Dan janganlah memberi untuk mencari keuntungan bagi dirimu sendiri, (Surah Al-Muddatstsir [74]: 6).

5) Waspada terhadap hal yang membatalkan sedekah, seperti mengungkit-ungkit dan menyakiti orang yang diberi. Firman Allah Swt.,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Wahai, orang-orang yang telah meraih iman! Janganlah menghilangkan nilai sedekah kalian dengan menonjolkan kebajikan kalian sendiri dan menyakiti [perasaan fakir-miskin], seperti orang yang menafkahkan hartanya hanya agar dilihat dan dipuji oleh manusia, dan tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir: sebab, perumpamaan baginya adalah seperti batu licin dengan [sedikit] tanah di atasnya—kemudian hujan lebat menimpanya dan membuatnya keras dan gundul. Orang-orang seperti ini tidak akan memperoleh hasil apa pun dari semua pekerjaan [baik] mereka: sebab, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang menolak mengakui kebenaran. (Surah Al-Baqarah [2]: 264).

6) Merahasiakan dan tidak mengumumkannya, kecuali untuk kemaslahatan. Firman Allah Swt.,

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Jika kalian bersedekah secara terbuka, hal itu baik; tetapi jika kalian memberikannya kepada orang miskin secara rahasia, hal itu bahkan lebih baik bagi kalian dan akan menghapus sebagian perbuatan buruk kalian. Dan, Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan. (Surah Al-Baqarah [2]: 271).

7) Memberikan sedekah dengan tersenyum, wajah ceria dan hati bahagia.

8) Segera bersedekah di masa hidupnya, memberikan kepada yang paling membutuhkan. Kerabat yang membutuhkan lebih pantas untuk diutamakan dari yang lainnya, karena akan mendapat pahala sedekah dan pahala menyambung tali persaudaraan.

a) Firman Allah Swt.,

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

Dan, belanjakanlah untuk orang lain sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebagai rezeki, sebelum tiba saat ketika kematian mendatangi salah seorang di antara kalian, dan kemudian dia berkata, “Wahai, Pemeliharaku! Sekiranya Engkau berkenan memberi penangguhan sebentar saja, supaya aku dapat bersedekah dan termasuk ke dalam golongan orang yang saleh!” (Surah Al-Munafiqun [63]: 10).

b) Firman Allah Swt.,

وَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْ بَعْدُ وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا مَعَكُمْ فَأُولَٰئِكَ مِنْكُمْ ۚ وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Adapun orang-orang yang beriman sesudah itu, dan yang hijrah meninggalkan ranah kejahatan serta berjuang sungguh-sungguh [di jalan Allah] bersama kalian—mereka [juga] akan menjadi bagian kalian; dan mereka, yang [dengan demikian] memiliki hubungan karib, paling berhak satu sama lain [sesuai] dengan ketetapan Allah.

Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Surah Al-Anfal [8]: 75).

Catatan kaki

  1. Muttafaq Alaih, dikeluarkan oleh Al-Bukhari no. (1463), dan Muslim no. (982).
  2. Muttafaq Alaih, dikeluarkan oleh Al-Bukhari no. (1405), dan Muslim no. (979).
  3. Muttafaq Alaih, dikeluarkan oleh Al-Bukhari no. (1483), dan Muslim no. (981).
  4. Hadits Hasan, dikeluarkan oleh Abu Dawud no. (1009), Shahih Sunan Abi Dawud no. (1420), dan Ibnu Majah no. (1827), Shahih Sunan Ibni Majah no. (1480).
  5. Muttafaq Alaih, dikeluarkan oleh Al-Bukhari no. (1503), dan Muslim no. (984-986).
  6. Dikeluarkan oleh Al-Bukhari no. (1403).
  7. Dikeluarkan oleh Muslim no. (987).
  8. Muttafaq Alaih, dikeluarkan oleh Al-Bukhari no. (1460), dan Muslim no. (987).
  9. Muttafaq Alaih, dikeluarkan oleh Al-Bukhari no. (4166) dan Muslim no. (1078).
  10. Muttafaq Alaih, dikeluarkan oleh Al-Bukhari no. (1497) dan Muslim no. (1078).
  11. Hadits Shahih, dikeluarkan oleh An-Nasa’i no. (2458), Shahih Sunan An-Nasa’i no. (2306).
  12. Muttafaq Alaih, dikeluarkan oleh Al-Bukhari no. (1410), dan Muslim no. (1014).
  13. Hadits Shahih, dikeluarkan oleh Abu Dawud no. (1667), Shahih Sunan Abi Dawud no. (1466), dan At-Tirmidzi no. (665), Shahih Sunan At-Tirmidzi no. (533).
  14. Muttafaq AIaih, dikeluarkan oleh Al-Bukhari no. (1474) dan Muslim no. (1040).
  15. Dikeluarkan oleh Muslim no. (1041).
  16. Hadits Shahih, dikeluarkan oleh Ahmad no. (20529), Abu Dawud no. (1639), Shahih Sunan Abi Dawud no. (1443).
  17. Muttafaq Alaih, dikeluarkan oleh Al-Bukhari no. (1442), dan Muslim no. (1010).
  18. Muttafaq Alaih, dikeluarkan oleh Al-Bukhari no. (1436), dan Muslim no. (123).
  19. Muttafaq Alaih, dikeluarkan oleh Al-Bukhari (1), dan Muslim (1907).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top