The Message of the Quran | Catatan Penerjemahan

The Message of The Quran oleh Muhammad Asad

Seputar Alih Bahasa

Karya Muhammad Asad ini merupakan hasil dari suatu upaya menerjemahkan pesan Al-Quran secara eksplanatoris dan idiomatik ke dalam bahasa Inggris untuk konsumsi pembaca bahasa tersebut. Dengan pengecualian dua istilah—yakni Al-Quran dan surah—Asad telah berusaha menerjemahkan setiap konsep dan istilah Al-Quran ke dalam ungkapan bahasa Inggris yang sesuai. Hal ini sering mengharuskannya menggunakan beberapa kata atau bahkan satu kalimat lengkap untuk mengungkapkan makna dari satu kata dalam Al-Quran. Istilah ghaib dalam Surah Al-Baqarah [2]: 3, misalnya, diterjemahkannya menjadi “that which is beyond the reach of human perception” dan kemudian diberi penjelasan dalam bentuk catatan kaki yang diletakkan pada bagian bawah halaman. Dalam terjemahan edisi Indonesia dari karya ini, kami sedapat mungkin berusaha bersetia pada teks asal sebagaimana yang dituliskan Asad. Oleh karena itu, “that which is beyond the reach of human perception” (al-ghaib) kami terjemahkan menjadi “hal-hal yang berada di luar jangkauan persepsi manusia“, alih-alih “gaib“. Alladzina kafaru, yang diterjemahkan Asad menjadi “those who are bent on denying the truth“, kami terjemahkan menjadi “orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran“, ketimbang “orang-orang kafir“. Muttaqin, taqwa, yang oleh Asad masing-masing diterjemahkan menjadi “the God-conscious“, “God-consciousness“, kami terjemahkan menjadi “orang yang sadar akan Allah“, “kesadaran akan Allah“, alih-alih “orang yang bertakwa” dan “ketakwaan“. Frasa fatawakkal ‘ala Allah, yang oleh Asad diterjemahkan menjadi “place thy trust in God“, kami terjemahkan menjadi “bersandarlah penuh percaya kepada Allah“, alih-alih “bertawakallah kepada Allah“. Demikian seterusnya, terlepas dari fakta bahwa kata “gaib”, “kafir”, “takwa”, “tawakal”, dan lain-lain sudah terserap menjadi kosakata bahasa Indonesia sehari-hari.

Namun, prinsip bersetia pada teks asal itu tidak selalu dapat kami taati. Berbeda dengan bahasa Inggris yang kosakatanya tidak dipengaruhi oleh istilah-istilah Al-Quran—sehingga Asad memilih menerjemahkan semua konsep dan istilah Al-Quran ke dalam bahasa Inggris, kecuali istilah Al-Quran dan surah—bahasa Indonesia justru sudah menyerap banyak sekali istilah dan kata bahasa Arab (misalnya kata Allah, shalat, zakat, haji, adil, musyawarah, umat, dan seterusnya). Karena itu, dalam kasus-kasus tertentu, memaksakan paralelisme penerjemahan Indonesia dengan teks bahasa Inggris Asad secara kata per kata—karena ingin menerapkan prinsip bersetia pada teks asal—justru akan mengurangi makna yang hendak disampaikan Asad, atau menjadikan terjemahannya terasa ganjil dan bertele-tele. Misalnya, frasa masjidil haram, yang oleh Asad diterjemahkan menjadi “The Inviolable House of Worship“, kami alih bahasakan menjadi “Masjid Al-Haram” saja, ketimbang “Rumah Ibadah yang Tidak Dapat Diganggu Gugat” atau “Rumah Ibadah Suci”. Begitu pula ummatan wasathan (“community of the middle way“, Surah Al-Baqarah [2]: 143) kami terjemahkan menjadi “umat pertengahan“, bukan “komunitas jalan-tengah“. Begitu pula dengan Allah (God), shalat (prayer), dan hajj (pilgrimage), dialihbahasakan masing-masing menjadi “Allah”, “shalat”, dan “haji”, ketimbang “Tuhan”, “sembahyang”, “ziarah/napak tilas”; contoh-contoh yang belakangan ini karena mempertimbangkan fakta bahwa istilah “Allah”, “shalat”, “haji”, “umat”, dan lain-lain sudah jauh lebih akrab bagi telinga dan benak pembaca tanah air. Pengecualian terhadap prinsip “bersetia pada teks asal” ini kami lakukan sepanjang hal itu, kira-kira, tidak mengubah makna atau menyalahi tafsir dan terjemahan khas yang dikemukakan Asad sendiri, dan untuk menghindari penerjemahan yang ganjil dan bertele-tele, serta demi mempertimbangkan rasa-bahasa dan keakraban pembaca Indonesia dengan kata-kata tertentu ketimbang pilihan kata lainnya.

Jadi, jika penggunaan istilah Al-Quran yang sudah terserap ke dalam bahasa Indonesia ini dirasaakan mengurangi makna yang hendak dikemukakan Asad, kami tetap akan mempertahankan prinsip bersetia pada teks asal ini, walaupun hal itu akan membuat terjemahannya menjadi relatif lebih panjang. Sebagai contoh, inna al-dina ‘inda Allahi al-islam (Surah Alu ‘Imran [3]: 19), yang oleh Asad diterjemahkan menjadi “Behold, the only [true] religion in the sight of God is [man’s] self-surrender unto Him“, kami terjemahkan menjadi “Perhatikanlah, satu-satunya agama [yang benar] dalam pandangan Allah adalah penyerahan-diri [manusia] kepada-Nya“. Dalam hal ini, kami tetap memilih menerjemahkan “al-islam” secara eksplanatoris—paralel dengan terjemahan Asad sendiri—yakni, “penyerahan-diri [manusia] kepada-Nya“, walaupun kata “Islam” sudah diserap menjadi kata bahasa Indonesia dan sudah menjadi bagian kosakata sehari-hari. Demikian pula dengan kata Muslim, diterjemahkan menjadi “orang yang berserah diri kepada Allah”.

Selanjutnya, tata letak dalam buku edisi Indonesia ini juga mengikuti tata letak buku asalnya: terjemahan ayat-ayat Al-Quran selalu ditampilkan di sebelah kiri tulisan khat Al-Quran, sedangkan tafsir dan/atau catatan penjelasan Muhammad Asad ditampilkan dalam bentuk catatan kaki di bagian bawah halaman. Sungguhpun begitu, mengingat gaya penerjemahan Asad bersifat eksplanatoris dan idiomatik, pembaca hendaknya memperhatikan bahwa terjemahan Asad yang ditampilkan di sebelah kiri khat Al-Quran itu sering kali bukanlah terjemahan harfiah, melainkan terjemahan eksplanatoris dan idiomatik itulah. Dengan demikian, teks terjemahan yang terletak di samping khat Al-Quran itu sering sudah mengandung tafsir Asad sendiri, ketimbang merupakan terjemahan harfiah semata. Namun, setiap kali Asad menghindari penerjemahan secara harfiah, biasanya dia selalu mencantumkan makna harfiahnya pada catatan kaki, baik disertai dengan penjelasan maupun tidak. Pada Surah Al-Baqarah [2]: 14, misalnya, Asad menerjemahkan syayathinihim menjadi “their evil impulses (dorongan-dorongan jahat mereka)”—alih-alih “their satans (setan-setan mereka)—kemudian mencantumkan terjemahan harfiahnya (yakni, “setan-setan mereka”) pada catatan kaki dan memberikan ulasan terhadap pilihannya tersebut. (Namun, pada kasus lainnya yang jarang, misalnya pada catatan no. 125 Surah Al-Baqarah [2]: 155, terjemahan harfiah dicantumkan tanpa penjelasan apa pun.) Dengan metode penerjemahan yang eksplanatoris dan idiornatik seperti ini, pembacaan menjadi lebih mengalir dan lebih mudah dipahami, sehingga pembaca tidak perlu berlelah-lelah membaca tafsir yang panjang.

Asad sangat konsisten dalam memilih diksi terjemahan dan sangat peka terhadap perbedaan tenses (kala kini, kala lampau, kala akan datang: fi’l madhi, fi’l mudhari’). Contoh: alladzina amanu diterjemahkan secara berbeda dari mu’minin. Yang pertama diterjemahkan menjadi “those who have attained to faith (orang-orang yang telah meraih iman)”, sedangkan yang kedua diterjemahkan menjadi “believers (orang-orang beriman)”. Perbedaan penerjemahan ini tidak kita temui dalam terjemahan Al-Quran Depag RI (yang di dalamnya, kedua istilah itu sama-sama diterjemahkan menjadi “orang-orang yang beriman”).

Di samping itu, adakalanya istilah/frasa yang sama diterjemahkan Asad secara berbeda pada ayat-ayat yang berbeda: ini dilakukan karena Asad mempertimbangkan konteks kalimat pada tempat istilah itu muncul. Misalnya, kata ghaib: pada Surah Al-Baqarah [2]: 3, istilah ini diterjemahkannya menjadi “that which is beyond the reach of human perception“, sedangkan pada Surah Al-An’am [6]: 59 menjadi “that are beyond the reach of a created being’s perception“, sedangkan pada Surah Al-Naml [27]: 65 menjadi “hidden reality“. Demikian pula frasa hayat al-dun-ya wa zinataha: dalam Surah Hud [11]: 15, frasa ini diterjemahkan menjadi “the life of this world and its bounties“, sedangkan dalam Surah Al-Ahzab [33]: 28 menjadi “the life of this world and its charms“, dalam Surah Al-Qashash [28]: 60 menjadi “life in this world and for its embellishment“. Kata zakat—yang dalam konteks umum diterjemahkan secara generik menjadi “charity“, “almsgiving” (sehingga kami terjemahkan secara generik pula: derma, sedekah)—, ketika konteksnya merujuk pada zakat yang sudah dilembagakan sebagai syariat, diterjemahkan menjadi “purifying dues (iuran yang menyucikan)”: dalam kasus yang terakhir ini, kami menerjemahkannya menjadi “zakat” saja, mengingat istilah zakat ini sudah terasosiasi dalam benak umat Muslim sebagai salah satu komponen rukun Islam. Begitu pula dengan istilah jinn yang diterjemahkan secara berbeda-beda oleh Asad, bergantung pada konteks ayatnya (lihat Lampiran III): terjemahan Indonesianya pun mengikuti diferensiasi sebagaimana yang dilakukan Asad, jadi sedapat mungkin tetap kami pertahankan.

Di lain pihak, adakalanya pula dua istilah yang berbeda diterjemahkan oleh Asad dengan kata/frasa yang sama dalam bahasa Inggris. Misalnya, kata fathara dan ansya’a yang keduanya diterjemahkan Asad menjadi “brought into being” (bdk. Surah Hud [11]: 51 dan 61), terlepas dari fakta bahwa Al-Quran menggunakan diksi yang berbeda untuk kedua kasus tersebut, walaupun artinya sama-sama “menciptakan”. Dalam hal ini, kami lagi-lagi sedapat mungkin tetap bersetia pada teks asal: menerjemahkan dua istilah yang berbeda itu dengan satu kata yang sama dalam bahasa Indonesia, yakni “menciptakan”.

Dalam teks terjemahan, pembaca akan mendapati ayat-ayat yang permulaan kalimatnya diawali dengan kata atau kata-kata yang ditulis dengan huruf besar (kapital), misalnya “DAN, KETIKA utusan-utusan Kami datang kepada Luth …” (Surah Hud [11]: 77). Cara penulisan ini dipilih Asad untuk mengelompok-ngelompokkan ayat atau rangkaian ayat ke dalam paragraf yang menurutnya membahas tema tertentu. (Dalam terjemahan Depag RI versi lama [1971], pengelompokan ayat ini ditandai dengan penambahan judul dan subjudul yang notabene bukan bagian dari Al-Quran. Sedangkan dalam terjemahan Depag RI versi baru [2002], tidak ada pengelompokan ayat sehingga peralihan tema sulit ditelusuri.) Dengan demikian, setiap kali terjadi peralihan tema bahasan dalam Al-Quran—tentunya, menurut penafsiran Asad sendiri—dia selalu menandainya dengan kata atau kata-kata yang ditulis dengan huruf kapital tersebut. Perallhan tema ini biasanya terdapat persis di akhir ayat. Namun, kadang-kadang peralihan tema ini terjadi di tengah-tengah ayat: sehingga bagian awal ayat itu masuk dalam tema X, sedangkan bagian akhir ayat itu sudah beralih ke tema Y (lihat, misalnya, Surah Alu ‘Imran [3]: 49). Pengelompokan paragraf ini pun kami ikuti.

Keterangan Tanda-Tanda

Dalam teks terjemahan ayat, sisipan dalam tanda kurung siku “[…]” adalah sisipan dari Muhammad Asad, misalnya dalam Surah Hud [11]: 87 berikut: “Perhatikanlah, [engkau ingin membuat kami percaya bahwa] sungguh hanya engkaulah satu-satunya orang yang penyantun lagi berakal sehat!”. Sedangkan, sisipan dalam tanda kurung biasa “(…)” adalah sisipan yang terpaksa kami cantumkan dalam rangka kelancaran penerjemahan ke dalam bahasa Indonesia, misalnya dalam Surah Hud [11]: 89 berikut: “agar jangan sampai kalian ditimpa (oleh hal-hal) sebagaimana yang menimpa kaum Nuh”.

Tanda bintang ( * ) yang terkadang ditemukan dalam teks terjemahan ayat menunjukkan bahwa ada catatan penjelas/komentar yang disisipkan oleh Editor Ahli dan/atau penyunting/penerjemah edisi Indonesia pada teks tafsir di bagian bawah halaman. Catatan ini selalu berada dalam tanda kurung kurawal “{…}” dan di bagian akhirnya dibubuhi dengan inisial “—AM”, “—peny.”, atau “—penerj.”. “AM” untuk Afif Muhammad (Editor Ahli), “—peny.” untuk penyunting, dan “—penerj.” untuk penerjemah.

Dalam teks catatan kaki, sisipan dalam tanda kurung kurawal “{…}” adalah sisipan penyunting/penerjemah dalam rangka memberikan penjelasan tambahan pada tempat-tempat yang dianggap perlu, misalnya dalam Surah Hud [11], catatan no. 110: “tidak ada klaim {haqq} apa pun terhadap putri-putrimu”. Sedangkan, tanda kurung biasa “(…)” dan tanda kurung siku “[…]” dalam teks catatan kaki adalah dari Muhammad Asad sendiri.

Singkatan-Singkatan

AMArif Muhammad (Editor Ahli)
Ar.Bahasa Arab
Bdk.Bandingkan dengan
Lit.,Literal, maksudnya: “Secara harfiah”
Ing.Bahasa Inggris
Peny.Penyunting
Penerj.Penerjemah
t.th.tanpa tahun
Scroll to Top