Syirik

Syirik: Pengertian, Jenis, dan Dampaknya.

1. Definisi Syirik

Syirik adalah menyekutukan Allah Swt. dalam rububiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya, asma’ (nama-nama) dan sifat-Nya, atau salah satunya. Jika seorang hamba meyakini bahwa ada sang Pencipta atau sang Penolong selain Allah, maka ia telah musyrik. Jika ia berkeyakinan bahwa ada Tuhan selain Allah yang berhak untuk disembah, maka ia telah musyrik. Dan jika ia berkeyakinan bahwa ada yang menyerupai Allah dalam asma’ (nama) dan sifat-Nya, maka ia telah musyrik.

2. Bahaya Syirik

a. Syirik kepada Allah merupakan kezaliman yang sangat besar. Hal ini karena seseorang yang berbuat syirik berarti telah menodai hak prioritas Allah atas hamba-Nya, yaitu mentauhidkan Allah dengan tidak menyekutukan-Nya. Tauhid merupakan puncak dari segala keadilan, sedangkan syirik merupakan puncak kezaliman. Dengan berbuat syirik berarti telah merendahkan Tuhan semesta alam, ingkar dari ketaatan kepada-Nya, memalingkan hak-Nya kepada yang lain dan menggantikan tempat-Nya untuk yang lain. Karena besarnya bahaya syirik, maka setiap orang yang meninggal dunia dalam keadaan musyrik, Allah tidak akan mengampuninya. Firman Allah Swt.,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

SUNGGUH, Allah tidak mengampuni tindakan menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Dia, meskipun Dia mengampuni dosa apa pun yang lebih kecil bagi siapa pun yang Dia kehendaki: sebab, orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah benar-benar telah berbuat dosa yang amat besar. (QS. An-Nisa’ [4]: 48).

b. Syirik adalah dosa yang paling besar, maka barangsiapa yang menyembah kepada selain Allah, berarti ia telah mempersembahkan ibadah tidak pada tempatnya dan tidak kepada yang berhak, hal ini merupakan bentuk kezaliman yang sangat besar, sebagaimana firman Allah Swt.,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan, lihatlah, Luqman berkata demikian kepada anaknya untuk menasihatinya, “Wahai, Anakku sayang! Janganlah menisbahkan kuasa-kuasa ketuhanan kepada apa pun selain Allah: sebab, perhatikanlah, tindakan [keliru] dalam menisbahkan ketuhanan seperti itu benar-benar suatu kezaliman yang dahsyat!” (QS. Luqman [31]: 13).

c. Syirik akbar (besar) dapat menghapus semua amal perbuatan, serta akan mendatangkan bencana dan kerugian. Syirik akbar masuk dalam kategori dosa-dosa besar. Hal ini diperjelas oleh dalil-dalil berikut,

1) Firman Allah Swt.,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sungguhpun begitu, telah diwahyukan kepadamu [wahai manusia], juga kepada orang-orang yang hidup sebelummu, bahwa jika sekali-kali engkau menisbahkan kuasa-kuasa ilahiah kepada apa pun selain Allah, seluruh perbuatanmu pasti akan sia-sia: sebab, [dalam kehidupan akhirat,] engkau pasti akan termasuk di antara orang-orang yang merugi. (QS. Az-Zumar [39]: 65).

2) Rasulullah Saw. bersabda,

أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ‏”‏‏.‏ ثَلاَثًا‏.‏ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ‏.‏ قَالَ ‏”‏ الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ ‏”‏‏.‏ وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ ‏”‏ أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ ‏”‏‏.‏ قَالَ فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا لَيْتَهُ سَكَتَ

“Maukah kalian kuberitahu dosa yang paling besar?”—Pertanyaan ini diulang oleh beliau sampai tiga kali—Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Maka beliau bersabda, “Syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orangtua,”—kemudian beliau duduk yang sebelumnya bersandaran,—Hindarilah ucapan dusta.” Perawi berkata, “Beliau mengulang-ulanginya sampai kami berkata (dalam hati), “Semoga beliau diam.”1

3. Keburukan Syirik

Allah Swt. telah menjelaskan bahwa perbuatan syirik itu dapat mendatangkan empat akibat buruk, sebagaimana disebutkan dalam empat ayat berikut,

a. Firman Allah Swt.,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

SUNGGUH, Allah tidak mengampuni tindakan menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Dia, meskipun Dia mengampuni dosa apa pun yang lebih kecil bagi siapa pun yang Dia kehendaki: sebab, orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah benar-benar telah berbuat dosa yang amat besar. (QS. An-Nisa’ [4]: 48).

b. Firman Allah Swt.,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

SUNGGUH, Allah tidak mengampuni tindakan menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain-Nya, meskipun Dia mengampuni dosa apa pun yang lebih kecil bagi siapa pun yang Dia kehendaki: sebab, orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah, sungguh, telah jauh tersesat. (QS. An-Nisa’ [4]: 116).

c. Firman Allah Swt.,

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sungguh, mengingkari kebenaranlah mereka, yang berkata, “Perhatikanlah, Allah adalah Al-Masih, putra Maryam—padahal Al-Masih [sendiri] berkata, “Wahai, Bani Israil, sembahlah Allah [saja], Pemeliharaku dan Pemelihara kalian.” Perhatikanlah, siapa saja yang menisbahkan ketuhanan kepada wujud apa pun selain Allah, Allah mengharamkan surga baginya dan tempat tujuannya adalah neraka, dan tiada seorang pun yang akan menolong orang-orang zalim itu! (QS. Al-Ma’idah [5]: 72).

d. Firman Allah Swt.,

حُنَفَاءَ لِلَّهِ غَيْرَ مُشْرِكِينَ بِهِ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

[dengan condong] kepada Allah, [dan] berpaling dari segala yang batil tanpa menisbahkan sifat-sifat ketuhanan kepada apa pun selain Dia: sebab, siapa saja yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah adalah seperti orang yang meluncur dengan cepat dari angkasa—lalu burung menyambarnya, atau angin menerbangkannya ke tempat yang jauh. (QS. Al-Hajj [22]: 31).

4. Hukuman Bagi Pelaku Syirik

a. Firman Allah Swt.,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

Sungguh, orang-orang yang [kendati telah dihadapkan dengan seluruh bukti] berkukuh mengingkari kebenaran—[baik mereka] dari kalangan para penganut wahyu terdahulu ataupun dari kalangan orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah—akan mendapati diri mereka di dalam api neraka, tinggal di dalamnya: mereka adalah yang terburuk diantara seluruh makhluk. (QS. Al-Bayyinah [98]: 6).

b. Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata, “Rasulullah Saw. bersabda,

مَنْ مَاتَ وَهْوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ

“Barangsiapa meninggal dunia sedang ia menyembah selain Allah sebagai tandingan (sekutu), maka ia masuk neraka.”2

5. Faktor Utama Penyebab Syirik

Faktor utama penyebab perbuatan syirik adalah bergantung kepada selain Allah Swt. Barangsiapa bergantung kepada selain Allah, maka Allah akan memasrahkannya kepada apa yang ia gantungi, dan Dia akan mengazabnya sebab hal yang dilakukan tersebut, serta menghinakannya dengan benda yang dijadikan sandaran. Jadilah ia tercela dan tidak layak untuk mendapatkan pujian, terhina dan tidak ada penolong baginya.

Sebagaimana Allah Swt. berfirman,

لَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَخْذُولًا

JANGANLAH kamu mengadakan tuhan yang lain di samping Allah agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan: (QS. Al-Isra’ [17]: 22).

6. Pembagian Syirik

Syirik itu ada dua macam,

  1. Syirik Besar (Akbar).
  2. Syirik Kecil (Ashghar).

1. Syirik Besar

Syirik besar mengeluarkan pelakunya dari agama (Islam), menghapus semua amal perbuatan baiknya, serta memasukkan pelakunya kekal di neraka jika ia meninggal dunia dalam keadaan belum bertaubat dari kesyirikannya. Syirik besar adalah memalingkan ibadah atau sebagian dari ibadah itu kepada selain Allah seperti berdoa kepada selain Allah, berkorban dan bernazar kepada selain Allah seperti kepada penghuni kubur, jin, setan dan lain-lainnya. Dan juga berdoa kepada selain Allah, yaitu kepada sesuatu yang tidak mampu memenuhi permintaan itu kecuali Allah semata, seperti minta kekayaan dan kesembuhan, meminta terkabulnya hajat (keperluan), meminta turunnya hujan kepada selain Allah, dan contoh lainnya yang biasa dilakukan orang-orang tidak berpengetahuan di tempat kuburan para wali dan orang-orang saleh, atau di sisi berhala yang terbuat dari pepohonan, bebatuan dan sebagainya.

a. Bentuk-bentuk Syirik Besar

1) Syirik dalam hal takut (khauf)

Yaitu perasaan takut kepada selain Allah, baik kepada berhala, patung, thagut, mayat, atau makhluk ghaib dari bangsa jin, atau manusia yang dapat membahayakan dirinya atau tertimpa sesuatu yang tidak menyenangkan atas dirinya. Ketakutan semacam ini merupakan bagian terpenting dan sangat esensial dalam agama, barangsiapa yang memalingkannya kepada selain Allah, berarti ia telah berbuat syirik besar kepada Allah. Allah Swt. berfirman,

إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Setanlah yang memasukkan [ke dalam diri kalian] rasa takut terhadap para sekutunya: maka, janganlah takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kalian [benar-benar] orang-orang yang beriman! (QS. Alu ‘Imran [3]: 175).

2) Syirik dalam hal bertawakal

Bertawakal kepada Allah dalam setiap perkara dan keadaan merupakan bentuk ibadah yang paling tinggi, dan wajib untuk mengikhlaskan segala sesuatu hanya kepada Allah semata. Barangsiapa yang bertawakal kepada selain Allah pada hal-hal yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah, seperti bertawakal kepada orang-orang yang sudah meninggal, makhluk-makhluk ghaib dan lain sebagainya untuk menolak bencana, atau mendapatkan manfaat ataupun rezeki, maka ia telah melakukan syirik kepada Allah dengan syirik besar. Firman Allah Swt.,

 وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

[Maka,] dua orang di antara orang-orang yang takut [kepada Allah, dan] yang telah Allah beri nikmat, berkata, “Masukilah (serbulah) mereka melalui pintu gerbangnya—sebab, segera setelah kalian memasukinya, perhatikanlah, kalian akan berjaya! Dan, kepada Allah-lah hendaknya kalian bersandar penuh percaya, jika kalian [benar-benar] orang-orang yang beriman!” (QS. Al-Ma’idah [5]: 23).

3. Syirik dalam perasaan cinta (mahabbah)

Cinta kepada Allah berarti cinta yang mengharuskan adanya kesempurnaan rasa tunduk dan taat kepada-Nya. Inilah cinta yang ikhlas sepenuhnya kepada Allah, dan tidaklah dibenarkan untuk menyekutukan-Nya dalam hal cinta kepada siapa pun. Siapa saja yang mencintai sesuatu selain Allah sebagaimana cinta yang ia berikan kepada Allah, maka ia telah mengambil tandingan bagi Allah dalam cinta dan pengagungan, dan itu adalah bentuk kesyirikan. Firman Allah Swt.,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

Dan, sekalipun demikian, ada manusia yang memilih untuk percaya kepada makhluk-makhluk yang diduga dapat menandingi Allah, dengan mencintai mereka sebagaimana mencintai Allah [semata]: sementara, orang-orang yang telah meraih iman mencintai Allah melebihi segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah [2]: 165).

4) Syirik dalam ketaatan

Bentuk syirik dalam hal ketaatan meliputi taat kepada para ulama, penguasa, pemimpin, dan pemerintah dalam hal menghalalkan apa yang telah diharamkan Allah, atau mengharamkan apa yang telah dihalalkan-Nya. Siapa saja yang menaati mereka dalam hal-hal tersebut berarti telah menjadikan bagi Allah sekutu dalam penetapan hukum (tasyri’), penghalalan dan pengharaman. Hal ini merupakan syirik besar. Allah Swt. berfirman, 

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Mereka telah menjadikan para rabi dan pendeta mereka—dan juga Al-Masih, putra Maryam—sebagai tuhan-tuhan mereka di samping Allah, meskipun mereka telah diperintahkan untuk tidak menyembah siapa pun selain Allah Yang Esa, yang tiada tuhan kecuali Dia! Dia yang sungguh amat jauh, dengan kemuliaan-Nya yang tak terhingga, dari segala apa yang mungkin mereka persekutukan dengan-Nya! (QS. At-Taubah [9]: 31).

b. Macam-macam Munafik (Nifak)

1) Nifak besar

Yang dimaksud dengan nifak besar adalah nifak i’tiqad, yaitu seseorang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafirannya, dan pelakunya akan kekal di neraka yang paling dalam. Firman Allah Swt.,

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

Sungguh, orang-orang munafik itu akan berada pada dasar yang paling dalam dari api neraka, dan engkau tidak akan menemukan siapa pun yang dapat menolong mereka. (QS. An-Nisa’ [4]: 145).

2) Nifak kecll

Yaitu nifak dalam perbuatan dan semisalnya, dan pelakunya tidak keluar dari agama Islam, akan tetapi ia termasuk orang yang bermaksiat.

Dari Abdullah bin Amr r.a., Nabi Saw. bersabda,

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

“Empat perkara apabila ada dalam diri seseorang, maka ia benar-benar seorang munafik, dan apabila sebagian darinya ada dalam diri seseorang, maka dalam dirinya ada sebagian kemunafikan itu hingga ia meninggalkannya; jika dipercaya ia khianat, jika berbicara ia dusta, jika mengadakan perjanjian ia ingkar, dan jika ia berperkara ia berbuat curang.”3

2. Syirik Kecil

Syirik kecil dapat mengurangi nilai tauhid seseorang, akan tetapi pelakunya tidak dikeluarkan dari agama. Syirik kecil merupakan sarana yang akan mengantarkan kepada syirik besar, pelakunya akan mendapat siksaan, namun tidak kekal di neraka sebagaimana kekalnya orang-orang kafir. Syirik besar menghapus segala amal, sedang syirik kecil akan menghapus amal yang bersamaan dengannya, seperti orang yang melakukan amal perbuatan yang diperintahkan Allah untuk mendapatkan pujian dari manusia, seperti membaguskan shalat, bersedekah, berpuasa atau berzikir kepada Allah dengan tujuan supaya disaksikan, didengar atau dipuji manusia, inilah riya yang jika bercampur dengan amal perbuatan baik, akan menghapusnya.

a. Firman Allah Swt.,

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Katakanlah [wahai Nabi]: “Aku adalah sekadar manusia biasa seperti kalian semua. Telah diwahyukan kepadaku bahwa tuhan kalian adalah Tuhan Yang Esa. Karena itu, siapa yang menanti [dengan harap-harap cemas] untuk berjumpa dengan Pemeliharanya [pada Hari Pengadilan], hendaklah dia mengerjakan perbuatan kebajikan dan hendaklah dia tidak mempersekutukan dengan sesuatu apa pun atau dengan siapa pun dalam beribadah kepada Pemeliharanya!” (QS. Al-Kahfi [18]: 110).

b. Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw. bersabda,

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ ‏

“Allah Swt. telah berfirman, Aku tidak memerlukan sekutu-sekutu, barangsiapa yang berbuat satu amal yang di situ ia mempersekutukan-Ku dengan yang lain, maka Aku akan meninggalkannya dan juga persekutuannya.'”4

1) Bentuk-bentuk syirik kecil

Di antara bentuk syirik kecil adalah bersumpah dengan selain Allah, seperti ucapan seseorang, “Jika Allah berkehendak, dan si fulan berkehendak.” atau ucapan “Kalau bukan karena Allah dan si fulan.” atau “Ini adalah dari Allah dan si fulan.” atau “Saya tidak mempunyai apa-apa kecuali Allah dan si fulan.” Seharusnya yang diucapkan adalah, “Jika Allah berkehendak kemudian kehendak si fulan.” Demikian seterusnya.

a) Dari Ibnu Umar r.a. berkata, “Saya mendengar Rasulullah Saw. bersabda,

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ أَشْرَكَ

“Siapa saja yang bersumpah selain dengan (nama) Allah maka ia telah kafir atau telah syirik.”5

b) Dari Hudzaifah r.a. dari Rasulullah Saw. bersabda,

لاَ تَقُولُوا مَا شَاءَ اللَّهُ وَشَاءَ فُلاَنٌ وَلَكِنْ قُولُوا مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ شَاءَ فُلاَنٌ

“Janganlah kallan mengatakan, ‘Jika Allah berkehendak dan fulan berkehendak,’ akan tetapi katakanlah, ‘Jika Allah berkehendak kemudian si fulan berkehendak.'”6

2) Syirik kecil dapat menjadi syirik besar

Syirik kecil dapat berubah menjadi syirik besar tergantung pada apa yang ada dalam hati pelakunya. Oleh karenanya, hendaklah scorang muslim waspada terhadap segala bentuk syirik, baik yang kecil apalagi yang besar. Syirik adalah kezaliman yang besar, yang tidak akan mendapatkan pengampunan dari Allah. Firman Allah Swt.,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

SUNGGUH, Allah tidak mengampuni tindakan menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Dia, meskipun Dia mengampuni dosa apa pun yang lebih kecil bagi siapa pun yang Dia kehendaki: sebab, orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah benar-benar telah berbuat dosa yang amat besar. (QS. An-Nisa’ [4]: 48).

3) Perbuatan dan perkataan syirik atau media perantara kemusyrikan

Ada beberapa jenis perbuatan dan ucapan yang kedudukannya dapat berubah-ubah antara syirik besar dan syirik kecil tergantung apa yang terbersit dalam hati pelakunya dan yang terlahir darinya. Jenis syirik ini dapat menafikan ketauhidan atau mengotori kesucian tauhidnya, yang mana hal ini telah diperingatkan oleh syariat agama. Di antara hal-hal tersebut adalah,

a) Memakai gelang dan ikatan atau yang sejenisnya

Memakai gelang dan ikatan atau yang sejenisnya dengan tujuan untuk mengangkat atau menolak bala, hal ini termasuk jenis kemusyrikan.

b) Menggantungkan jimat-jimat (tamaim) pada anak-anak kecil

Menggantungkan jimat-jimat (tamaim) pada anak-anak kecil, baik itu berupa manik-manik, atau tulang hewan, atau tulisan-tulisan dengan maksud agar terhindar dari ain (penyakit yang disebabkan pancaran mata kebencian), maka itu juga perbuatan syirik.

c) At-Tathayyur

At-Tathayyur adalah merasa pesimis dengan adanya burung (jenis burung tertentu seperti burung gagak, pent), orang-orang tertentu, daerah tertentu atau semisalnya, hal ini termasuk jenis kemusyrikan karena menggantungkan diri kepada selain Allah, dengan meyakini adanya bencana yang datang dari makhluk-makhluk yang tidak mampu untuk mendatangkan kemanfaatan dan kemudharatan. Sesungguhnya semua itu hanyalah godaan dan gangguan dari setan, dan hal tersebut menafikan tawakal kepada Allah Swt.

d) Mengambil berkah dari pepohonan, bebatuan, peninggalan masa lalu, kuburan dan semisalnya

Meminta berkah, menaruh harapan dan meyakini atas benda-benda tersebut merupakan bentuk kemusyrikan, karena bergantung kepada selain Allah dalam memperoleh keberkahan.

e) Sihir

Sihir adalah sesuatu yang halus dan samar sebabnya, yang merupakan ungkapan dari jampi-jampi dan mantra-mantra, atau ucapan-ucapan yang mengandung hipnotis atau obat-obatan yang memberikan pengaruh pada hati dan badan yang menyebabkannya sakit atau terbunuh, atau tercerai-berainya suami istri. Sihir semacam ini merupakan perbuatan setan, dan sebagian besar bentuk sihir tidak akan terjadi kecuali dengan melakukan kemusyrikan kepada Allah.

Sihir adalah perbuatan syirik karena adanya ketergantungan kepada selain Allah Swt., yaitu tergantung kepada setan-setan, dan juga karena adanya pengakuan mengetahui ilmu ghaib. Firman Allah Swt.,

وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ

… karena bukan Sulaiman-lah yang mengingkari kebenaran, melainkan yang jahat-jahat itulah yang mengingkarinya dengan mengajarkan sihir kepada manusia … (QS. Al-Baqarah [2]: 102).

Terkadang sihir dianggap sebagai bentuk kemaksiatan apabila hanya menggunakan obat-obatan dan ramuan-ramuan.

f) Perdukunan

Perdukunan adalah pengakuan tentang (pengetahuan) ilmu ghaib, sepertl mengabarkan sesuatu yang akan terjadi di bumi dengan bersandarkan pada (berlta dari) setan-setan. Hal ini merupakan bentuk kemusyrikan, karena adanya taqarub (mendekatkan diri) kepada selaln Allah, dan pengakuan adanya sekutu lain, selain dari Allah yang mengetahui perkara ghaib.

Dari Abu Hurairah r.a., Nabi Saw. bersabda,

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Siapa saja yang mendatangi dukun atau paranormal kemudian ia membenarkan apa yang diucapkannya, maka ia telah kafir terhadap apa-apa yang diturunkan atas Muhammad.”7

g) Ilmu bintang (horoskop)

Ilmu bintang (horoskop) adalah meramal suatu peristiwa yang terjadi di bumi berdasarkan peta perbintangan, seperti penentuan waktu-waktu bertiup angin, turunnya hujan, terjadinya wabah penyakit dan bencana, datangnya musim panas dan dingin, perubahan harga-harga dan semisalnya, semua itu merupakan bentuk kemusyrikan, karena perbuatan itu menisbahkan adanya sekutu lain, selain Allah dalam hal tadbir (pengaturan) dan ilmu gaib.

h) Meminta turun hujan dengan ramalan bintang-bintang

Meminta turunnya hujan dengan berdasarkan ramalan bintang-bintang; yaitu anggapan turunnya hujan disebabkan terbitnya bintang dan tenggelamnya, sebagaimana kebiasaan mereka mengatakan, “Hujan turun kepada kami karena bintang ini dan itu, terjadilah penisbahan turunnya hujan dengan bintang-bintang tersebut bukan karena Allah, hal ini jelaslah merupakan bentuk kemusyrikan, karena turunnya hujan ada pada Kuasa Allah, tidak pada bintang-bintang tersebut dan juga yang lainnya.

i) Menisbahkan nikmat kepada selain Allah Swt.

Sesungguhnya setiap nikmat yang ada di dunia dan akhirat datangnya dari Allah, barangsiapa yang menisbahkannya kepada selain Allah, maka ia betul-betul telah berbuat syirik kepada-Nya. Seperti halnya orang-orang yang menisbahkan perolehan harta atau kesembuhan dari si fulan, atau menisbahkan keselamatan dalam perjalanan baik di darat, di laut, maupun di udara kepada supir, nahkoda atau pilot. Atau orang yang menisbahkan nikmat mendapatkan kebaikan, tercegah dari bencana kepada kesungguhan (peran) penguasa atau tokoh, atau organisasi tertentu dan yang semisalnya.

Oleh karena itu, wajib hukumnya untuk menisbahkan segala nikmat hanya kepada Allah semata dan bersyukur kepada-Nya, dan apa yang terjadi oleh tangan pada sebagian makhluk itu hanya merupakan sebab-sebab yang mungkin mencapai kesuksesan, mungkin pula tidak, terkadang memberikan manfaat terkadang pula tidak.

Firman Allah Swt.,

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

Karena, kebaikan apa pun yang datang kepada kalian, datangnya dari Allah; dan manakala bahaya menimpa kalian, kepada-Nya-lah kalian menghiba pertolongan (QS. An-Nahl [16]: 53).

Catatan kaki

  1. Muttafaq Alaih, dikeluarkan oleh Al-Bukhari no. (2654) lafazh ini baginya, dan Muslim no. (87).
  2. Muttafaq Alaih, dikeluarkan oleh Al-Bukhari no. (4497) lafazh ini baginya, dan Muslim no. (92).
  3. Muttafaq Alaih, dikeluarkan oleh Al-Bukhari no. (34) lafazh ini baginya, dan Musiirn no. (58).
  4. Dikeluarkan oleh Muslim no. (2985).
  5. Hadits Shahih, dikeluarkan oleh Abu Dawud No. (3251), Shahih Sunan Abi Dawud no. (2787), dikeluarkan juga oleh At-Tirmidzi no. (1535) lafazh ini baginya, Shahih Sunan At-Tirmidzi no. (1241).
  6. Hadits Shahih, dikeluarkan oleh Ahmad no. (2354), lihat. As-Silsilah Ash-Shahihah no. (137), dikeluarkan juga oleh Abu Dawud no. (4980) lafazh ini baginya, Shahih Sunan Abi Dawud no. (4166).
  7. Hadits Shahih, dikeluarkan oleh Ahmad no. (9536) lafazh ini baginya, dan dikeluarkan juga oleh Al-Hakim no. (15) lihat lrwa’ Al-Ghalil no. (2006).

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *