12. Yusuf (Yusuf) – يوسف

Surat Yusuf dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Yusuf ( يوسف ) merupakan surah ke 12 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 111 ayat yang seluruhnya diturunkan di Makkah. Dengan demikian, Surah Yusuf tergolong Surat Makkiyah.

Menurut semua sumber yang otoritatif, surah ini diwahyukan secara keseluruhan di Makkah, nyaris segera setelah selesainya pewahyuan surah sebelumnya (Surah Hud). Anggapan beberapa mufasir awal bahwa tiga ayat pertama diwahyukan di Madinah, menurut Al-Suyuthi, “sama sekali tidak berdasar dan tidak dapat dipertimbangkan secara serius”.

Kisah Nabi Yusuf a.s., sebagaimana yang dipaparkan dalam Al-Qur’an pada umumnya, bersesuaian—kendatipun tidak secara keseluruhan—dengan versi Bibel (Kitab Kejadian 37 dan 39-46). Namun, dalam pengertian yang lebih dalam, yang membedakan uraian Al-Qur’an mengenai kisah ini adalah kandungan ruhaninya: berlawanan dengan Bibel yang mempresentasikan kehidupan Yusuf sebagai sebuah uraian romantis mengenai bagaimana dia menjadi korban kedengkian saudaranya pada masa muda yang tanpa dosa itu, mengenai perubahan-perubahan drastis nasibnya di kemudian hari, dan terakhir, mengenai keunggulan duniawinya dibandingkan dengan saudara-saudaranya, Al-Qur’an memanfaatkan kisah-kisah tersebut terutama sebagai sebuah ilustrasi tentang bagaimana Allah membimbing manusia dalam urusan-urusannya dengan cara-cara yang tak terduga—menggemakan kembali pernyataan bahwa “boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia baik bagi kalian, dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu, padahal ia buruk bagi kalian: dan Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui” (Surah Al-Baqarah [2]: 216).

Keseluruhan surah ini dapat digambarkan sebagai serangkaian variasi dari tema ini: “keputusan [tentang apa yang akan terjadi] hanya ada pada Allah”, yang secara eksplisit memang hanya disebutkan dalam ayat 67, tetapi sebenarnya berjalan seperti sebuah leitmotif {tema yang terus-menerus diulang—peny} yang tak-tertulis disepanjang kisah tentang Nabi Yusuf a.s.

Daftar Isi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Yusuf Ayat 1

الر ۚ تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ

alif lām rā, tilka āyātul-kitābil mubīn

1. Alif. Lam. Ra.1

INI ADALAH PESAN-PESAN dari sebuah wahyu yang jelas dalam dirinya sendiri dan secara jelas menunjukkan kebenaran:2


1 Lihat artikel Al-Muqatta’at (Huruf-Huruf Terpisah) dalam Al-Qur’an.

2 Adjektiva partisipial {na’t fa’iliyyah} mubin dapat menunjukkan sifat dari kata benda yang diterangkannya (“jelas”, “nyata”, “terang”, dan sebagainya) maupun fungsinya (“membuat jelas” atau “menyatakan”, yakni kebenaran), yang masing-masing maknanya ditentukan oleh konteksnya. Menurut kesepakatan para mufasir, kedua makna ini tercakup dalam contoh di atas; karena itu, diperlukan frasa gabungan untuk menerjemahkan istilah tersebut secara tepat.


Surah Yusuf Ayat 2

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

innā anzalnāhu qur`ānan ‘arabiyyal la’allakum ta’qilụn

2. perhatikanlah, Kami telah menurunkannya sebagai sebuah wacana dalam bahasa Arab agar kalian dapat memahaminya dengan akal kalian.3


3 Menurut Al-Zamakhsyari, inilah makna la’allakum ta’qilun dalam konteks di atas. Meskipun pada awalnya dialamatkan kepada bangsa Arab yang hidup pada masa Nabi, dua ayat ini pada dasarnya berlaku untuk seluruh manusia yang memahami bahasa Arab, dari mana pun asal-usul mereka. Kedua ayat ini dimaksudkan untuk mengingatkan setiap orang yang mendengar atau membaca Al-Quran bahwa seruannya terutama ditujukan kepada akal manusia, dan bahwa “perasaan” semata tidak dapat menjadi dasar keimanan yang memadai. (Lihat juga Surah Ar-Ra’d [13]: 37 dan Surah Ibrahim [14]: 4, serta catatan-catatannya.)


Surah Yusuf Ayat 3

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَٰذَا الْقُرْآنَ وَإِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ

naḥnu naquṣṣu ‘alaika aḥsanal-qaṣaṣi bimā auḥainā ilaika hāżal-qur`āna wa ing kunta ming qablihī laminal-gāfilīn

3. Dalam tindakan Kami mewahyukan4 Al-Quran ini kepadamu, [wahai Nabi,] Kami menjelaskannya kepadamu dengan cara yang sebaik mungkin,5 mengingat bahwa sebelum ini engkau benar-benar termasuk di antara orang-orang yang tidak mengetahui [apakah wahyu itu].6


4 Atau: “Dengan telah Kami wahyukannya”.

5 Lit., “dengan penjelasan yang terbaik (ahsan al-iqtishash). Penerjemahan ini sangat dekat dengan penafsiran yang dikemukakan Al-Zamakhsyari: “Kami menyatakan Al-Quran ini kepadamu dengan cara terbaik yang dapat dinyatakan”. Menurut Al-Razi, bisa diasumsikan dengan aman bahwa kata sifat “sebaik mungkin” mengacu bukan pada isi dari apa “yang dinyatakan”—yakni, kisah tertentu yang dipaparkan dalam surah ini—alih-alih pada cara Al-Quran (atau surah yang bersangkutan ini) dinyatakan: dan, dalam hal ini, dia sependapat dengan Al-Zamakhsyari. Hendaknya diingat bahwa verba qashsha (yang nomina infinitifnya adalah qashash dan iqtishash) pada dasarnya berarti “dia telah mengikuti selangkah demi selangkah” atau “sedikit demi sedikit”, dan juga “dia telah menceritakan [sebuah berita atau kisah] seolah-olah dia mengikuti jejak-jejaknya”: karena itu, “dia menguraikan[-nya] secara bertahap” atau “dia menjelaskan[-nya]” (bdk. Lane VII, h. 2526, yang mengutip Al-Qamus dan Taj Al-‘Arus dengan rujukan spesifik pada ayat di atas). Jika, di sisi lain, nomina infinitif qashash dianggap bersinonim, dalam konteks ini, dengan qishshah (“kisah” atau “narasi” [cerita]), kalimat di atas bisa diterjemahkan menjadi “Kami menceritakan kepadamu kisah yang terbaik”, yakni kisah tentang Yusuf. Namun, menurut saya, penerjemahan “Kami menjelaskannya [yakni Al-Quran] dengan cara sebaik mungkin” ini lebih tepat karena ia sepenuhnya bersesuaian dengan dua ayat pembuka surah ini, yang menyatakan bahwa Al-Quran sebenarnya jelas dengan sendirinya.

6 Dalam tafsirnya mengenai hal ini, Al-Razi mengarahkan perhatian pembaca pada Surah Asy-Syura [42]: 52—”engkau tidak mengetahui apakah wahyu itu, dan tidak pula mengetahui apa [implikasi dari] iman itu”: sebuah pasase yang sama maksudnya dengan kata-kata penutup ayat di atas; karena itu, saya menambahkan frasa “apakah wahyu itu” di dalam kurung siku.


aku melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan: aku melihat semuanya bersujud kepadaku!”


7 Partikel idz biasanya merupakan acuan waktu dan, dalam kebanyakan kasus, dapat diterjemahkan menjadi “ketika”. Namun, adakalanya ia digunakan sebagai partikel penegas yang dimaksudkan untuk mengarahkan perhatian pembaca (atau pendengar) kepada munculnya sesuatu secara tiba-tiba (Al-Mughni, Al-Qamus, Taj Al-‘Arus) atau—sebagaimana sering dijumpai di dalam Al-Quran—kepada peralihan wacana: dan dalam hal ini, ia lebih tepat diterjemahkan menjadi “lihatlah” {lo} atau “nah, adapun” {now}.


Surah Yusuf Ayat 5

قَالَ يَا بُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَىٰ إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ

qāla yā bunayya lā taqṣuṣ ru`yāka ‘alā ikhwatika fa yakīdụ laka kaidā, innasy-syaiṭāna lil-insāni ‘aduwwum mubīn

5. [Ya’qub] menjawab, “Wahai, Putraku tercinta!8 Jangan ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu agar mereka tidak memikirkan suatu rencana jahat terhadapmu [karena dengki]; sungguh, setan adalah musuh nyata manusia!9


8 Lihat Surah Hud [11], catatan no. 65.

9 Sebagaimana dalam catatan Bibel tentang kisah Yusuf, Al-Quran menunjukkan bahwa Ya’qub tidak salah memahami arti mimpi yang dialami anaknya itu tentang kejayaannya pada masa depan, dengan sebelas bintang yang melambangkan saudara-saudaranya, serta matahari dan bulan sebagai perlambang bagi orangtuanya. Namun, sementara Bibel menyatakan bahwa sang ayah “menegur” anaknya (Kejadian 37: 10) karena jelas-jelas beranggapan bahwa mimpi tersebut merupakan akibat angan-angan kosong belaka, Al-Quran menjelaskan bahwa Ya’qub (yang juga seorang nabi) langsung menyadari kualitas profetik dan implikasi-implikasi yang lebih dalam dari mimpi itu.


Surah Yusuf Ayat 6

وَكَذَٰلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَعَلَىٰ آلِ يَعْقُوبَ كَمَا أَتَمَّهَا عَلَىٰ أَبَوَيْكَ مِنْ قَبْلُ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

wa każālika yajtabīka rabbuka wa yu’allimuka min ta`wīlil-aḥādīṡi wa yutimmu ni’matahụ ‘alaika wa ‘alā āli ya’qụba kamā atammahā ‘alā abawaika ming qablu ibrāhīma wa is-ḥāq, inna rabbaka ‘alīmun ḥakīm

6. Sebab, [sebagaimana telah kau lihat dalam mimpimu,] bahkan Pemeliharamu akan memilihmu, dan akan mengajarkan kepadamu sejumlah pemahaman tentang makna yang lebih dalam dari kejadian-kejadian,10 dan akan melimpahkan sepenuhnya nikmat-nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub—sebagaimana sebelumnya Dia telah melimpahkan nikmat-nikmat itu sepenuhnya kepada bapak-bapak leluhurmu, Ibrahim dan Ishaq. Sungguh, Pemeliharamu Maha Mengetahui, Mahabijaksana!”


10 Lit., “perkataan-perkataan” atau “kabar-kabar” (ahadits). Kebanyakan mufasir beranggapan bahwa hal ini secara khusus mengacu pada kemampuan Nabi Yusuf a.s. pada masa yang akan datang untuk menafsirkan mimpi; tetapi Al-Razi menjelaskan bahwa, dalam konteks ini, istitah hadits (jamaknya, ahadits) bisa bersinonim dengan hadits (“sesuatu yang baru saja muncul”, yakni “suatu peristiwa” atau “suatu kejadian”). Menurut hemat saya, ini lebih meyakinkan daripada sekadar acuan terhadap penafsiran mimpi, lebih-lebih karena istilah ta’wil sering digunakan di dalam Al-Quran (misalnya, dalam Surah Al-‘Imran [3]: 7, Surah Yunus [10]: 39, atau Surah Al-Kahfi [18]: 78) dalam pengertian “makna pamungkas {final meaning}”, “makna yang lebih dalam {inner meaning}”, atau “makna sesungguhnya {real meaning}” dari suatu kejadian, pernyataan, atau sesuatu yang berbeda dari tampilan permukaan-lahir, prima-facie-nya. Digunakannya partikel min (“dari”) di depan kata ta’wil mengindikasikan bahwa pengetahuan mutlak tentang apa yang diimplikasikan oleh sesuatu atau peristiwa hanya ada pada Allah (bdk. Surah Al-‘Imran [3]: 7—”hanya Allah-lah yang mengetahui makna pamungkasnya”), dan bahwa bahkan manusia-manusia pilihan Allah pun, yakni para nabi—sekalipun pandangan mereka lebih luas daripada manusia biasa—hanya diberikan sebagian pengetahuan mengenai misteri-misteri penciptaan yang dilakukan oleh Allah.


Surah Yusuf Ayat 7

لَقَدْ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخْوَتِهِ آيَاتٌ لِلسَّائِلِينَ

laqad kāna fī yụsufa wa ikhwatihī āyātul lis-sā`ilīn

7. Sesungguhnya, dalam [kisah tentang] Yusuf dan saudara saudaranya terdapat pesan-pesan bagi semua orang yang mencari [kebenaran].11


11 Lit., “orang-orang yang bertanya”.


Surah Yusuf Ayat 8

إِذْ قَالُوا لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَىٰ أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

iż qālụ layụsufu wa akhụhu aḥabbu ilā abīnā minnā wa naḥnu ‘uṣbah, inna abānā lafī ḍalālim mubīn

8. SYAHDAN, [saudara-saudara Yusuf] berkata [demikian terhadap satu sama lain,] “Sungguh, Yusuf dan saudaranya [Bunyamin] lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita, meskipun kita sangat banyak.12 Perhatikanlah, ayah kita pastilah menderita penyimpangan!”13


12 Lit., “suatu kelompok” atau “kumpulan”. Bunyamin adalah saudara kandung Yusuf—keduanya adalah anak Ya’qub dari istrinya, Rahel—sedangkan sepuluh saudaranya yang lain hanyalah saudara tirinya.

13 Lit., “dalam kesalahan yang paling nyata”.


Surah Yusuf Ayat 9

اقْتُلُوا يُوسُفَ أَوِ اطْرَحُوهُ أَرْضًا يَخْلُ لَكُمْ وَجْهُ أَبِيكُمْ وَتَكُونُوا مِنْ بَعْدِهِ قَوْمًا صَالِحِينَ

uqtulụ yụsufa awiṭraḥụhu arḍay yakhlu lakum waj-hu abīkum wa takụnụ mim ba’dihī qauman ṣāliḥīn

9. [Berkata salah seorang di antara mereka,] “Bunuhlah Yusuf, kalau tidak, buanglah dia ke suatu negeri [yang jauh] supaya perhatian ayah kalian tertuju kepada kalian saja: dan sesudah hal ini dilakukan, kalian akan menjadi [bebas untuk bertobat dan hidup sekali lagi sebagai] orang-orang yang saleh!”14


14 Frasa yang saya sisipkan dalam dua tanda kurung—yang mencerminkan sikap ironis-bawah sadar saudara-saudara Yusuf—didasarkan pada kesepakatan mayoritas mufasir klasik.


Surah Yusuf Ayat 10

قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ لَا تَقْتُلُوا يُوسُفَ وَأَلْقُوهُ فِي غَيَابَتِ الْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ

qāla qā`ilum min-hum lā taqtulụ yụsufa wa alqụhu fī gayābatil-jubbi yaltaqiṭ-hu ba’ḍus-sayyārati ing kuntum fā’ilīn

10. Yang lainnya di antara mereka berkata, “Jangan bunuh Yusuf, alih-alih—jika kalian harus melakukan sesuatu—masukkan dia ke dasar sumur yang gelap ini [sehingga] suatu kafilah dapat memungutnya!”15


15 Dengan kata lain, “mereka akan membawanya ke suatu tempat yang jauh” (bdk. ayat sebelumnya). Istilah jubb—yang saya terjemahkan menjadi “sumur”—biasanya digunakan untuk menunjuk pada sumur di gurun yang menembus tanah atau batu dan tidak diberi tembok batu di sekelilingnya: artinya, sumur ini dangkal airnya sehingga tidak akan menenggelamkan Yusuf, tetapi ia cukup dalam sehingga Yusuf akan tersembunyi dari pandangan.


Surah Yusuf Ayat 11

قَالُوا يَا أَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَنَّا عَلَىٰ يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ

qālụ yā abānā mā laka lā ta`mannā ‘alā yụsufa wa innā lahụ lanāṣiḥụn

11. [Tentang hal ini mereka sepakat; dan kemudian] mereka berkata [demikian kepada ayah mereka], “Wahai, Ayah kami! Mengapa engkau tidak memercayakan Yusuf kepada kami, padahal kami benar-benar orang-orang yang menginginkan kebaikan baginya?


Surah Yusuf Ayat 12

أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

arsil-hu ma’anā gaday yarta’ wa yal’ab wa innā lahụ laḥāfiẓụn

12. Biarkanlah dia pergi bersama kami besok agar dia dapat bersenang-senang dan bermain: dan, sungguh, kami akan menjaganya dengan baik!”


Surah Yusuf Ayat 13

قَالَ إِنِّي لَيَحْزُنُنِي أَنْ تَذْهَبُوا بِهِ وَأَخَافُ أَنْ يَأْكُلَهُ الذِّئْبُ وَأَنْتُمْ عَنْهُ غَافِلُونَ

qāla innī layaḥzununī an taż-habụ bihī wa akhāfu ay ya`kulahuż-żi`bu wa antum ‘an-hu gāfilụn

13. [Ya’qub] menjawab, “Perhatikanlah, aku henar-benar sedih [memikirkan] bahwa kalian akan membawanya pergi bersama kalian karena aku khawatir kalau-kalau serigala memakannya pada saat kalian tidak memperhatikannya!”


Surah Yusuf Ayat 14

قَالُوا لَئِنْ أَكَلَهُ الذِّئْبُ وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّا إِذًا لَخَاسِرُونَ

qālụ la`in akalahuż-żi`bu wa naḥnu ‘uṣbatun innā iżal lakhāsirụn

14. Berkata mereka, “Sungguh, jika serigala memakannya meskipun jumlah kami sangat banyak—maka, perhatikanlah, kami sendirilah yang mestinya binasa!”


Surah Yusuf Ayat 15

فَلَمَّا ذَهَبُوا بِهِ وَأَجْمَعُوا أَنْ يَجْعَلُوهُ فِي غَيَابَتِ الْجُبِّ ۚ وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِ لَتُنَبِّئَنَّهُمْ بِأَمْرِهِمْ هَٰذَا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

fa lammā żahabụ bihī wa ajma’ū ay yaj’alụhu fī gayābatil-jubb, wa auḥainā ilaihi latunabbi`annahum bi`amrihim hāżā wa hum lā yasy’urụn

15. Maka, tatkala mereka berangkat bersamanya, mereka memutuskan untuk melemparkannya ke dasar sumur yang gelap. Dan, Kami mewahyukan [hal ini] kepadanya: “Engkau akan mengingatkan mereka tentang perbuatan mereka ini pada suatu saat ketika mereka tidak akan menyadari [siapa engkau]!”16


16 Lihat ayat 89-90 surah ini.


Surah Yusuf Ayat 16

وَجَاءُوا أَبَاهُمْ عِشَاءً يَبْكُونَ

wa jā`ū abāhum ‘isyā`ay yabkụn

16. Dan, kala senja, mereka datang kepada ayah mereka sambil menangis


Surah Yusuf Ayat 17

قَالُوا يَا أَبَانَا إِنَّا ذَهَبْنَا نَسْتَبِقُ وَتَرَكْنَا يُوسُفَ عِنْدَ مَتَاعِنَا فَأَكَلَهُ الذِّئْبُ ۖ وَمَا أَنْتَ بِمُؤْمِنٍ لَنَا وَلَوْ كُنَّا صَادِقِينَ

qālụ yā abānā innā żahabnā nastabiqu wa taraknā yụsufa ‘inda matā’inā fa akalahuż-żi`b, wa mā anta bimu`minil lanā walau kunnā ṣādiqīn

17. [dan] berkata, “Wahai, Ayah kami! Perhatikanlah, kami pergi untuk berlomba-lomba dan meninggalkan Yusuf dengan barang-barang kami; dan kemudian serigala memakannya! Namun, [kami mengetahui bahwa] engkau tidak akan memercayai kami meskipun kami berkata benar”—


Surah Yusuf Ayat 18

وَجَاءُوا عَلَىٰ قَمِيصِهِ بِدَمٍ كَذِبٍ ۚ قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا ۖ فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ

wa jā`ụ ‘alā qamīṣihī bidaming każib, qāla bal sawwalat lakum anfusukum amrā, fa ṣabrun jamīl, wallāhul-musta’ānu ‘alā mā taṣifụn

18. dan mereka memperlihatkan baju gamis Yusuf (yang berlumuran) darah palsu.

[Namun, Ya’qub] berseru, “Tidak, tetapi pikiran kalian [sendiri]-lah yang membuat kejadian [yang sangat buruk ini] tampak sebagai sesuatu yang ringan bagi kalian!17 Namun, [adapun bagiku,] kesabaran dalam menghadapi kesusahan adalah yang terbaik [dalam pandangan Allah]; dan [hanya] kepada Allah-lah aku berdoa agar memberikan kepadaku kekuatan untuk menanggung kemalangan yang telah kalian gambarkan kepadaku.”18


17 Tampaknya, Ya’qub tidak memercayai cerita tentang serigala itu. Akan tetapi, karena mengetahui kedengkian anak-anaknya terhadap Yusuf, dia langsung menyadari bahwa mereka sendirilah yang mencelakai Yusuf. Meskipun demikian—sebagaimana tampak jelas dari ungkapan Ya’qub yang penuh harap dalam ayat 83 surah ini—dia tidak begitu yakin bahwa Yusuf benar-benar mati.

18 Lit., “kepada Allah-lah aku berpaling meminta tolong terhadap apa yang kalian gambarkan”.


Surah Yusuf Ayat 19

وَجَاءَتْ سَيَّارَةٌ فَأَرْسَلُوا وَارِدَهُمْ فَأَدْلَىٰ دَلْوَهُ ۖ قَالَ يَا بُشْرَىٰ هَٰذَا غُلَامٌ ۚ وَأَسَرُّوهُ بِضَاعَةً ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَعْمَلُونَ

wa jā`at sayyāratun fa arsalụ wāridahum fa adlā dalwah, qāla yā busyrā hāżā gulām, wa asarrụhu biḍā’ah, wallāhu ‘alīmum bimā ya’malụn

19. DAN, DATANGLAH suatu kafilah;19 dan mereka menyuruh pengambil air mereka dan dia menurunkan timbanya ke dalam sumur—[dan ketika dia melihat Yusuf,] dia berseru, “Aduhai, temuan yang mujur,20 anak ini!”

Dan, mereka menyembunyikan Yusuf dengan maksud untuk menjualnya: tetapi Allah memiliki pengetahuan yang sempurna mengenai segala yang mereka kerjakan.


19 Menurut Bibel (Kejadian 37: 25), mereka adalah “orang Ismael”—yakni orang-orang Arab—yang “datang dari Gilead dengan untanya yang membawa damar, balsam, dan damar ladan, dalam perjalanannya mengangkut barang-barang itu ke Mesir”. (Gilead adalah nama yang dipakai Bibel untuk menyebut bagian timur Yordania.)

20 Lit., “Aduhai, kabar baik!”.


Surah Yusuf Ayat 20

وَشَرَوْهُ بِثَمَنٍ بَخْسٍ دَرَاهِمَ مَعْدُودَةٍ وَكَانُوا فِيهِ مِنَ الزَّاهِدِينَ

wa syarauhu biṡamanim bakhsin darāhima ma’dụdah, wa kānụ fīhi minaz-zāhidīn

20. Dan, mereka menjualnya dengan harga yang sangat murah—hanya beberapa keping uang perak: demikian rendahnya mereka menghargai Yusuf.*


* {“demikian rendahnya mereka menghargai Yusuf” adalah terjemahan Asad untuk frasa kanu fihi min al-zahidin. Zahid (bentuk tunggal dari zahidin) berakar kata zahada, zahida, atau zahuda yang memiliki beberapa arti, antara lain, menarik diri (withdraw), menolak menggunakan sesuatu (refuse to have anything to do with), atau—yang lebih populer—meninggalkan kesenangan hidup duniawi (to renounce pleasure in worldly things), dengan kata lain sikap asketik atau tidak menghargai sesuatu. Karena itu, dalam bahasa Indonesia, frasa tersebut diterjemahkan menjadi “mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf”. Dari segi bahasa, kedua bentuk terjemahan tersebut dapat diterima.—AM}


Surah Yusuf Ayat 21

وَقَالَ الَّذِي اشْتَرَاهُ مِنْ مِصْرَ لِامْرَأَتِهِ أَكْرِمِي مَثْوَاهُ عَسَىٰ أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا ۚ وَكَذَٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ وَلِنُعَلِّمَهُ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ ۚ وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰ أَمْرِهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

wa qālallażisytarāhu mim miṣra limra`atihī akrimī maṡwāhu ‘asā ay yanfa’anā au nattakhiżahụ waladā, wa każālika makkannā liyụsufa fil-arḍi wa linu’allimahụ min ta`wīlil-aḥādīṡ, wallāhu gālibun ‘alā amrihī wa lākinna akṡaran-nāsi lā ya’lamụn

21. Dan, orang dari Mesir yang membelinya21 berkata kepada istrinya, “Berikanlah kepadanya tempat tinggal yang terhormat [bersama kita]; mungkin saja dia berguna bagi kita atau kita bisa mengangkatnya sebagai seorang anak.”

Dan demikianlah, Kami berikan kepada Yusuf tempat yang kukuh di muka bumi; dan [Kami melakukan ini] agar Kami mengajarkan kepadanya sebagian pemahaman tentang makna yang lebih dalam dari kejadian-kejadian.22 Karena, Allah selalu berjaya dalam apa pun yang menjadi tujuan-Nya:* tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.


21 Al-Quran tidak menyebutkan nama atau kedudukannya. Akan tetapi, julukan al-‘aziz (“seorang yang besar” [atau “berkuasa”]) dalam ayat 30 selanjutnya menunjukkan bahwa dia mempunyai posisi yang tinggi atau seorang bangsawan.

22 Lihat catatan no. 10.

* {“Karena, Allah selalu berjaya dalam apa pun yang menjadi tujuan-Nya” adalah terjemahan Asad untuk frasa wa Allah ghalibun ‘ala amrihi, yang secara harfiah berarti “dan Allah, berkuasa terhadap urusan-Nya (amrihi)”.—AM}


Surah Yusuf Ayat 22

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

wa lammā balaga asyuddahū ātaināhu ḥukmaw wa ‘ilmā, wa każālika najzil-muḥsinīn

22. Dan, ketika dia mencapai kedewasaan, Kami anugerahkan kepadanya kemampuan untuk menilai [antara kebenaran dan kesalahan], serta pengetahuan [bawaan]: sebab, demikianlah Kami membalas orang-orang yang berbuat baik.


Surah Yusuf Ayat 23

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ ۚ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ ۖ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

wa rāwadat-hullatī huwa fī baitihā ‘an nafsihī wa gallaqatil-abwāba wa qālat haita lak, qāla ma’āżallāhi innahụ rabbī aḥsana maṡwāy, innahụ lā yufliḥuẓ-ẓālimụn

23. Dan, [terjadilah demikian;] perempuan yang Yusuf tinggal di rumahnya [memendam hasrat kepadanya dan] berupaya membuat Yusuf menyerahkan diri kepadanya; dan perempuan itu mengunci pintu-pintu dan berkata, “Datanglah kau kepadaku!”

[Akan tetapi, Yusuf] menjawab, “Semoga Allah melindungiku! Perhatikanlah, tuanku telah memperlakukanku dengan baik [di rumah ini]! Sungguh, tiada akhir yang baik bagi mereka yang melakukan kezaliman [seperti itu]!”


Surah Yusuf Ayat 24

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ ۖ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَىٰ بُرْهَانَ رَبِّهِ ۚ كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ ۚ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

wa laqad hammat bihī wa hamma bihā, lau lā ar ra`ā bur-hāna rabbih, każālika linaṣrifa ‘an-hus-sū`a wal-faḥsyā`, innahụ min ‘ibādinal-mukhlaṣīn

24. Dan, sesungguhnya, perempuan itu menghasrati Yusuf dan Yusuf pun menghasrati perempuan itu; [dan Yusuf pasti telah tunduk] andai kata dia tidak melihat suatu bukti kebenaran Pemeliharanya [dalam godaan ini]:23 demikianlah [Kami menetapkan agar hal itu terjadi] agar Kami memalingkan darinya segala keburukan dan semua perbuatan keji—sebab, perhatikanlah, dia benar-benar salah seorang di antara hamba-hamba Kami.24


23 Frasa yang disisipkan “dan Yusuf pasti telah tunduk”, menurut Al-Zamakhsyari, tersirat dalam kalimat di atas. Dalam tafsirnya mengenai ayat ini, dia lebih lanjut menjelaskan bahwa signifikansi moral dari “kebajikan” terletak dalam kemenangan batin seseorang dalam mengalahkan nafsu yang tercela, dan bukan pada ketiadaan nafsu semacam itu. Bdk. sabda Nabi yang masyhur, yang dicatat berdasarkan riwayat Abu Hurairah oleh Al-Bukhari dan Muslim: “Allah, Yang Mahatinggi, berfirman, ‘Jika hamba-Ku berniat melakukan suatu perbuatan baik [semata], Aku akan mencatat [niat] itu sebagai satu perbuatan baik; dan jika dia melakukannya, Aku akan menghitungnya sepuluh kali lipat. Dan, jika dia berniat melakukan suatu perbuatan jahat, tetapi tidak jadi melakukannya, Aku akan mencatatnya sebagai perbuatan baik karena dia menahan diri darinya semata-mata demi Aku …'”—yakni, sebagai hasil pertimbangan moral (yang dalam hal ini, digambarkan sebagai “suatu bukti kebenaran Allah”).

24 Lit., “dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang ikhlas”.


Surah Yusuf Ayat 25

وَاسْتَبَقَا الْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ مِنْ دُبُرٍ وَأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَى الْبَابِ ۚ قَالَتْ مَا جَزَاءُ مَنْ أَرَادَ بِأَهْلِكَ سُوءًا إِلَّا أَنْ يُسْجَنَ أَوْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

wastabaqal-bāba wa qaddat qamīṣahụ min duburiw wa alfayā sayyidahā ladal-bāb, qālat mā jazā`u man arāda bi`ahlika sū`an illā ay yusjana au ‘ażābun alīm

25. Dan, mereka berdua bergegas-gegas menuju pintu; dan perempuan itu [memegang dan] mengoyak baju Yusuf dari belakang—dan [lihatlah!] mereka mendapati suami perempuan itu di muka pintu!

Berkata perempuan itu, “Hukuman apakah yang seharusnya dijatuhkan kepada seseorang yang bermaksud jahat terhadap [kesucian] istrimu—[hukuman apa lagi] selain hukuman penjara atau siksaan yang [bahkan lebih] pedih?”


Surah Yusuf Ayat 26

قَالَ هِيَ رَاوَدَتْنِي عَنْ نَفْسِي ۚ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ أَهْلِهَا إِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ الْكَاذِبِينَ

qāla hiya rāwadatnī ‘an nafsī wa syahida syāhidum min ahlihā, ing kāna qamīṣuhụ qudda ming qubulin fa ṣadaqat wa huwa minal-kāżibīn

26. [Yusuf] berseru, “Dialah yang berupaya membuatku menyerahkan diri kepadanya!”

Dan, salah seorang yang hadir, seorang anggota keluarga perempuan itu sendiri, mengusulkan begini:25 “Jika baju gamisnya koyak dari depan, perempuan itu berkata benar dan Yusuf adalah seorang pembohong;


25 Lit., “seorang yang hadir (syahid) dari keluarganya memberi kesaksian”—yakni, mengusulkan agar pernyataan-pernyataan itu diuji. Di sini, sekali lagi, uraian kisah Al-Quran berbeda dengan kisah yang dituturkan Bibel karena menurut Bibel (Kejadian 39: 19-20), sang suami segera memercayai tuduhan palsu itu dan menjebloskan Yusuf ke dalam penjara; peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam ayat 26-34 surah ini tidak tercantum dalam uraian Bibel.


Surah Yusuf Ayat 27

وَإِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ فَكَذَبَتْ وَهُوَ مِنَ الصَّادِقِينَ

wa ing kāna qamīṣuhụ qudda min duburin fa każabat wa huwa minaṣ-ṣādiqīn

27. tetapi jika baju gamisnya koyak dari belakang, perempuan itu berbohong dan Yusuf berkata benar.”


Surah Yusuf Ayat 28

فَلَمَّا رَأَىٰ قَمِيصَهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ قَالَ إِنَّهُ مِنْ كَيْدِكُنَّ ۖ إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ

fa lammā ra`ā qamīṣahụ qudda min duburing qāla innahụ ming kaidikunn, inna kaidakunna ‘aẓīm

28. Dan, ketika [suaminya] melihat baju gamis Yusuf koyak dari belakang, dia berkata, “Perhatikanlah, ini adalah [suatu contoh] dari tipu daya kalian, wahai kaum perempuan! Sungguh, amat mengerikan tipu daya kalian!


Surah Yusuf Ayat 29

يُوسُفُ أَعْرِضْ عَنْ هَٰذَا ۚ وَاسْتَغْفِرِي لِذَنْبِكِ ۖ إِنَّكِ كُنْتِ مِنَ الْخَاطِئِينَ

yụsufu a’riḍ ‘an hāżā wastagfirī liżambiki innaki kunti minal-khāṭi`īn

29. [Namun,] Yusuf, biarkan ini berlalu!26 Dan engkau, [wahai lstriku,] mohon ampunlah atas dosamu—sebab, sungguh, engkau telah berada dalam kesalahan yang sangat besar!”


26 Lit., “berpaling dari”. Menurut hampir semua mufasir, maknanya adalah “jangan menceritakan hal ini kepada siapa pun”—yakni, sang suami siap memaafkan dan melupakannya.


Surah Yusuf Ayat 30

وَقَالَ نِسْوَةٌ فِي الْمَدِينَةِ امْرَأَتُ الْعَزِيزِ تُرَاوِدُ فَتَاهَا عَنْ نَفْسِهِ ۖ قَدْ شَغَفَهَا حُبًّا ۖ إِنَّا لَنَرَاهَا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

wa qāla niswatun fil-madīnatimra`atul-‘azīzi turāwidu fatāhā ‘an nafsih, qad syagafahā ḥubbā, innā lanarāhā fī ḍalālim mubīn

30. SYAHDAN, perempuan-perempuan di kota berkata [demikian kepada satu sama lain], “lstri bangsawan ini mencoba merayu budak laki-lakinya agar menyerahkan diri kepadanya! Cinta perempuan itu kepadanya telah menghunjam hatinya; sungguh, kami memandang bahwa perempuan itu pastilah menderita suatu penyimpangan!”27


27 Lit., “kami memandangnya benar-benar dalam kesalahan yang nyata”.


Surah Yusuf Ayat 31

فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِنَّ وَأَعْتَدَتْ لَهُنَّ مُتَّكَأً وَآتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ سِكِّينًا وَقَالَتِ اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ ۖ فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَٰذَا بَشَرًا إِنْ هَٰذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ

fa lammā sami’at bimakrihinna arsalat ilaihinna wa a’tadat lahunna muttaka`aw wa ātat kulla wāḥidatim min-hunna sikkīnaw wa qālatikhruj ‘alaihinn, fa lammā ra`ainahū akbarnahụ wa qaṭṭa’na aidiyahunna wa qulna ḥāsya lillāhi mā hāżā basyarā, in hāżā illā malakung karīm

31. Lalu, ketika perempuan itu mendengar cercaan mereka, dia mengundang mereka dan mempersiapkan bagi mereka suatu jamuan makan yang mewah,28 dan memberikan kepada mereka masing-masing sebuah pisau dan berkata [kepada Yusuf], “Keluarlah dan tunjukkanlah dirimu kepada mereka!”

Dan, ketika perempuan-perempuan itu melihatnya, mereka sangat terpesona pada ketampanannya,29 dan [begitu bingungnya mereka sehingga] mereka menyayat tangan mereka [dengan pisau mereka], sambil berseru, “Allah, selamatkanlah kami! Ini bukanlah manusia biasa! Ini tiada lain kecuali malaikat yang mulia!”


28 Ungkapan muttaka’—lit. “tempat seseorang bersandar [ketika sedang makan]”, yakni sebuah “dipan berbantal”—tampaknya di sini digunakan secara figuratif untuk menunjukkan suatu  “jamuan makan mewah [atau ‘spektakuler’]”.

29 Lit., “mereka menganggapnya [yakni, ketampanannya] hebat”.


Surah Yusuf Ayat 32

قَالَتْ فَذَٰلِكُنَّ الَّذِي لُمْتُنَّنِي فِيهِ ۖ وَلَقَدْ رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ فَاسْتَعْصَمَ ۖ وَلَئِنْ لَمْ يَفْعَلْ مَا آمُرُهُ لَيُسْجَنَنَّ وَلَيَكُونًا مِنَ الصَّاغِرِينَ

qālat fa żālikunnallażī lumtunnanī fīh, wa laqad rāwattuhụ ‘an nafsihī fasta’ṣam, wa la`il lam yaf’al mā āmuruhụ layusjananna wa layakụnam minaṣ-ṣāgirīn

32. Berkata perempuan itu, “Maka, inilah dia orangnya yang membuat kalian mencelaku! Dan, sesungguhnya, aku telah berupaya membuatnya menyerahkan diri kepadaku, tetapi dia tetap menolak. Namun, jika kini dia tidak melakukan apa yang kuperintahkan kepadanya, pasti dia akan dipenjarakan, dan pasti dia akan mendapati dirinya di antara orang-orang yang hina!”30


30 Lit., “menjadi salah seorang di antara orang-orang yang dipermalukan”.


Surah Yusuf Ayat 33

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ ۖ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ

qāla rabbis-sijnu aḥabbu ilayya mimmā yad’ụnanī ilaīh, wa illā taṣrif ‘annī kaidahunna aṣbu ilaihinna wa akum minal-jāhilīn

33. Berkata Yusuf, “Wahai, Pemeliharaku! Penjara lebih aku sukai daripada [memenuhi] ajakan perempuan-perempuan ini kepadaku: sebab, jika Engkau tidak mengalihkan tipu daya mereka dariku, aku akan menyerah terhadap daya pikat mereka31 dan menjadi salah seorang di antara orang-orang yang tidak mengetahui [kebenaran dan kesalahan].”


31 Lit., “cenderung terhadap mereka”; namun, hendaknya diingat bahwa verba saba meliputi konsep-konsep kecenderungan, kerinduan, dan hasrat berahi (bdk. Lane IV, h. 1649); karena itu, saya menerjemahkannya seperti di atas.


Surah Yusuf Ayat 34

فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

fastajāba lahụ rabbuhụ fa ṣarafa ‘an-hu kaidahunn, innahụ huwas-samī’ul ‘alīm

34. Dan, Pemeliharanya memperkenankan doanya, dan membebaskannya dari ancaman tipu daya mereka:32 sungguh, Dia sajalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.


32 Lit., “memalingkan tipu daya mereka darinya”.


Surah Yusuf Ayat 35

ثُمَّ بَدَا لَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا رَأَوُا الْآيَاتِ لَيَسْجُنُنَّهُ حَتَّىٰ حِينٍ

ṡumma badā lahum mim ba’di mā ra`awul-āyāti layasjununnahụ ḥattā ḥīn

35. Sebab, kini terlintas dalam pikiran bangsawan itu dan orang-orang yang tinggal di rumahnya33—[bahkan] setelah mereka melihat semua tanda-tanda [ketidakberdosaan Yusuf]—bahwa mereka dapat pula memenjarakannya selama suatu waktu.34


33 Lit., “terlintas dalam pikiran mereka”.

34 Dengan demikian, menurut Al-Quran, Yusuf dipenjarakan bukan karena tuannya menganggap dia bersalah, melainkan karena, dalam kelemahannya, dia ingin memenuhi tuntutan istrinya, “dengan benar-benar patuh kepadanya, dan berperilaku layaknya seekor unta-tunggangan yang tali kekangnya dipegang oleh istrinya” (Al-Zamakhsyari).


Surah Yusuf Ayat 36

وَدَخَلَ مَعَهُ السِّجْنَ فَتَيَانِ ۖ قَالَ أَحَدُهُمَا إِنِّي أَرَانِي أَعْصِرُ خَمْرًا ۖ وَقَالَ الْآخَرُ إِنِّي أَرَانِي أَحْمِلُ فَوْقَ رَأْسِي خُبْزًا تَأْكُلُ الطَّيْرُ مِنْهُ ۖ نَبِّئْنَا بِتَأْوِيلِهِ ۖ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

wa dakhala ma’ahus-sijna fatayān, qāla aḥaduhumā innī arānī a’ṣiru khamrā, wa qālal-ākharu innī arānī aḥmilu fauqa ra`sī khubzan ta`kuluṭ-ṭairu min-h, nabbi`nā bita`wīlih, innā narāka minal-muḥsinīn

36. SYAHDAN, dua orang pemuda ternyata masuk penjara pada waktu yang bersamaan dengan Yusuf.35

Salah seorang di antara mereka berkata, “Perhatikanlah, aku melihat diriku sendiri [dalam suatu mimpi] sedang memeras anggur.”

Dan, yang lainnya berkata, “Perhatikanlah, aku melihat diriku sendiri [dalam suatu mimpi] sedang membawa roti di atas kepalaku dan burung-burung memakannya.”

[Dan, keduanya memohon kepada Yusuf,] “Beritahukanlah kepada kami makna sebenarnya dari hal ini! Sungguh, kami melihat bahwa engkau adalah salah seorang di antara orang-orang yang mengetahui dengan baik [bagaimana menafsirkan mimpi].”36


35 Lit., “masuk penjara dengannya”; menurut catatan Bibel (yang dalam hal ini tidak bertentangan dengan Al-Quran), mereka adalah pembawa piala (cangkir) dan tukang roti raja. Keduanya dipenjara karena pelanggaran yang tidak diungkapkan dengan jelas.

36 Ini adalah makna yang dikemukakan Al-Baghawi, Al-Zamakhsyari, dan Al-Baidhawi untuk ungkapan al-muhsinin dalam konteks di atas, yang memilih penggunaan figuratif verba ahsana dalam pengertian “dia telah mengetahui [sesuatu]” atau “dia telah mengetahui[-nya] dengan baik”. Jadi, dengan cara eliptisnya, di sini Al-Quran mengindikasikan bahwa sebelum masuk penjara, Yusuf telah dikenal memiliki hikmah dan kemampuan untuk menafsirkan mimpi.


Surah Yusuf Ayat 37

قَالَ لَا يَأْتِيكُمَا طَعَامٌ تُرْزَقَانِهِ إِلَّا نَبَّأْتُكُمَا بِتَأْوِيلِهِ قَبْلَ أَنْ يَأْتِيَكُمَا ۚ ذَٰلِكُمَا مِمَّا عَلَّمَنِي رَبِّي ۚ إِنِّي تَرَكْتُ مِلَّةَ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ

qāla lā ya`tīkumā ṭa’āmun turzaqānihī illā nabba`tukumā bita`wīlihī qabla ay ya`tiyakumā, żālikumā mimmā ‘allamanī rabbī, innī taraktu millata qaumil lā yu`minụna billāhi wa hum bil-ākhirati hum kāfirụn

37. [Yusuf] menjawab, “Sebelum datang kepada kalian berdua makanan yang [setiap hari] kalian makan, aku akan telah memberitahukan kepada kalian arti sebenarnya dari mimpi-mimpi kalian,37 [agar kalian dapat mengetahui apa yang akan terjadi] sebelum kejadian itu datang kepada kalian:* sebab, inilah [sebagian] dari pengetahuan yang telah Pemeliharaku ajarkan kepadaku.

“Perhatikanlah, aku telah meninggalkan jalan-jalan orang yang tidak beriman pada Allah,38 dan yang berkukuh mengingkari kebenaran kehidupan akhirat;


37 Lit., “arti sebenarnya dari itu”.

* {“Sebelum datang kepada kalian berdua … [dst. sampai dengan] … sebelum kejadian itu datang kepada kalian” adalah terjemahan yang diberikan Asad untuk frasa panjang yang dimulai dari la ya’tikuma tha’amun turzaqanihi … sampai dengan qabla an ya’tiyakuma. Terjemahan Asad berbeda dengan terjemahan yang diberikan oleh versi Depag RI yang berbunyi, “Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepadamu”.

Perbedaan tersebut disebabkan adanya perujukan kata ganti (dhamir) hi (“-nya” atau “ia”) yang dalam frasa ini disebut dua kali. Muhammad Asad merujukkannya pada mimpi, sedangkan terjemahan Depag RI merujukkannya pada makanan. Dari struktur bahasa, terjemahan Muhammad Asad lebih tepat.—AM}

38 Yusuf ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk memberi petunjuk kepada kedua rekan-tahanannya itu ke arah keimanan yang benar; dengan demikian, seraya menjanjikan bahwa dia akan menjelaskan mimpi mereka sekarang, dia meminta mereka untuk pertama-tama mendengarkan pembahasan singkat mengenai keesaan Allah.


Surah Yusuf Ayat 38

وَاتَّبَعْتُ مِلَّةَ آبَائِي إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ ۚ مَا كَانَ لَنَا أَنْ نُشْرِكَ بِاللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ عَلَيْنَا وَعَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ

wattaba’tu millata ābā`ī ibrāhīma wa is-ḥāqa wa ya’qụb, mā kāna lanā an nusyrika billāhi min syaī`, żālika min faḍlillāhi ‘alainā wa ‘alan-nāsi wa lākinna akṡaran-nāsi lā yasykurụn

38. dan aku mengikuti keyakinan bapak-bapak leluhurku, Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub. Mustahil bahwa kami akan [dibiarkan untuk] menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah: ini adalah [suatu hasil] dari karunia Allah kepada kami dan kepada seluruh umat manusia39—tetapi, kebanyakan manusia tidak bersyukur.


39 Karena Allah Mahabesar dan Mahacukup, peringatan kepada manusia agar tidak menisbahkan sifat-sifat ketuhanan kepada apa pun selain Dia bukanlah dilakukan untuk kepentingan Allah: celaan total terhadap dosa ini semata-mata dimaksudkan demi kepentingan manusia sendiri, karena hal ini akan membebaskannya dari segala takhayul, dan dengan demikian akan menaikkan martabatnya sebagai makhluk yang sadar dan berakal.


Surah Yusuf Ayat 39

يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

yā ṣāḥibayis-sijni a arbābum mutafarriqụna khairun amillāhul-wāḥidul-qahhār

39. “Wahai, rekan-rekanku sepenjara! Manakah yang lebih masuk akal:40 [beriman pada adanya banyak] tuhan, yang masing-masing berbeda satu sama lain41—atau [pada] Tuhan Yang Esa, yang memegang kuasa mutlak atas segala yang ada?


40 Lit., “lebih baik”, tampaknya dalam pengertian “lebih baik sesuai dengan tuntutan-tuntutan akal”.

41 Ungkapan mutafarriqun mengandung arti kemajemukan serta perbedaan—dalam konteks ini, perbedaan dalam hal sifat, fungsi, dan derajat.


Surah Yusuf Ayat 40

مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

mā ta’budụna min dụnihī illā asmā`an sammaitumụhā antum wa ābā`ukum mā anzalallāhu bihā min sulṭān, inil-ḥukmu illā lillāh, amara allā ta’budū illā iyyāh, żālikad-dīnul-qayyimu wa lākinna akṡaran-nāsi lā ya’lamụn

40. “Semua yang kalian sembah selain Allah tiada lain hanyalah nama-nama [hampa] yang kalian buat-buat42—kalian dan nenek moyang kalian—[dan] yang Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentangnya. Keputusan [berkenaan dengan apa yang benar dan apa yang salah] ada pada Allah saja—[dan] Dia telah memerintahkan agar kalian tidak menyembah apa pun kecuali Dia: inilah [satu-satunya] keyakinan yang sejati: tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.43


42 Lit., “nama-nama yang telah kalian namai”—yakni, “rekaan khayal kalian sendiri”.

43 Bdk. kalimat terakhir dari Surah Ar-Rum [30]: 30.


Surah Yusuf Ayat 41

يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَمَّا أَحَدُكُمَا فَيَسْقِي رَبَّهُ خَمْرًا ۖ وَأَمَّا الْآخَرُ فَيُصْلَبُ فَتَأْكُلُ الطَّيْرُ مِنْ رَأْسِهِ ۚ قُضِيَ الْأَمْرُ الَّذِي فِيهِ تَسْتَفْتِيَانِ

yā ṣāḥibayis-sijni ammā aḥadukumā fa yasqī rabbahụ khamrā, wa ammal-ākharu fa yuṣlabu fa ta`kuluṭ-ṭairu mir ra`sih, quḍiyal-amrullażī fīhi tastaftiyān

41. “[Dan sekarang,] wahai rekan-rekanku sepenjara, [aku akan mengatakan kepada kalian makna mimpi-mimpi kalian:] adapun salah seorang di antara kalian berdua, dia akan [kembali] memberi tuannya [sang Raja] anggur untuk diminum; adapun yang lainnya, dia akan disalib dan burung-burung akan memakan kepalanya. [Akan tetapi, bagaimanapun masa depan kalian,] persoalan yang kalian tanyakan kepadaku itu telah diputuskan [oleh Allah].”


Surah Yusuf Ayat 42

وَقَالَ لِلَّذِي ظَنَّ أَنَّهُ نَاجٍ مِنْهُمَا اذْكُرْنِي عِنْدَ رَبِّكَ فَأَنْسَاهُ الشَّيْطَانُ ذِكْرَ رَبِّهِ فَلَبِثَ فِي السِّجْنِ بِضْعَ سِنِينَ

wa qāla lillażī ẓanna annahụ nājim min-humażkurnī ‘inda rabbika fa ansāhusy-syaiṭānu żikra rabbihī fa labiṡa fis-sijni biḍ’a sinīn

42. Dan, [kemudian Yusuf] berkata kepada salah seorang di antara keduanya yang dianggapnya akan selamat, “Ceritakanlah mengenai aku kepada tuanmu [ketika engkau bebas]!”

Namun, setan menjadikannya lupa untuk menceritakan [Yusuf] kepada tuannya; karena itu, dia tetap berada dalam penjara beberapa tahun [lagi].


Surah Yusuf Ayat 43

وَقَالَ الْمَلِكُ إِنِّي أَرَىٰ سَبْعَ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعَ سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ ۖ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَفْتُونِي فِي رُؤْيَايَ إِنْ كُنْتُمْ لِلرُّؤْيَا تَعْبُرُونَ

wa qālal-maliku innī arā sab’a baqarātin simāniy ya`kuluhunna sab’un ‘ijāfuw wa sab’a sumbulātin khuḍriw wa ukhara yābisāt, yā ayyuhal-mala`u aftụnī fī ru`yāya ing kuntum lir-ru`yā ta’burụn

43. DAN, [suatu hari] Raja berkata,44 “Perhatikanlah, aku melihat [dalam suatu mimpi] tujuh ekor sapi yang gemuk-gemuk di lahap oleh tujuh ekor sapi yang kurus-kurus, dan tujuh bulir [gandum] yang hijau di samping [tujuh] lainnya yang kering. Wahai, para bangsawan! Terangkanlah kepadaku tentang [arti dari] mimpiku jika kalian dapat menafsirkan mimpi-mimpi!”


44 Tampaknya, raja ini adalah salah seorang dari enam penguasa Hyksos yang menguasai Mesir dari sekitar 1700 hingga 1580 SM, setelah menginvasi negeri tersebut dari timur melalui Semenanjung Sinai. Nama dinasti ini, yang tidak diragukan lagi berasal dari bahasa asing, berasal dari bahasa Mesir, hiq shasu atau heku shoswet, yang berarti “penguasa-penguasa tanah pengembara” atau—menurut sejarahwan Mesir Manetho—”raja-raja gembala”: semuanya ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang Arab yang—meskipun ada fakta bahwa sebelum invasi mereka ke Mesir, mereka telah tinggal menetap di Suriah—hingga batas tertentu masih memelihara gaya hidup nomaden mereka. Hal ini menjelaskan—sebagaimana disebutkan dalam surah ini—mengapa sang raja kemudian yakin untuk menempatkan Yusuf—orang Yahudi itu—dan keluarganya (yang kemudian akhirnya menjadi bangsa Israel) di Mesir: karena, hendaknya diingat bahwa orang-orang Yahudi pun merupakan salah satu keturunan dari sekian banyak suku nomaden yang pada beberapa abad sebelumnya telah bermigrasi dari Semenanjung Arabia ke Mesopotamia, dan kemudian ke Suriah (bdk. Surah AI-A’raf [7], catatan no. 48); dan bahwa bahasa Hyksos mestilah sangat berdekatan dengan bahasa Yahudi yang, bagaimanapun, tidak lain merupakan sebuah dialek Arab kuno.


Surah Yusuf Ayat 44

قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ ۖ وَمَا نَحْنُ بِتَأْوِيلِ الْأَحْلَامِ بِعَالِمِينَ

qālū aḍgāṡu aḥlām, wa mā naḥnu bita`wīlil-aḥlāmi bi’ālimīn

44. Mereka menjawab, “[Ini adalah salah satu dari] mimpi-mimpi yang paling rumit dan membingungkan,45 dan kami tidak memiliki pengetahuan mendalam tentang arti sebenarnya dari mimpi-mimpi itu.”


45 Lit., “rangkaian mimpi yang membingungkan (adghats)”.


Surah Yusuf Ayat 45

وَقَالَ الَّذِي نَجَا مِنْهُمَا وَادَّكَرَ بَعْدَ أُمَّةٍ أَنَا أُنَبِّئُكُمْ بِتَأْوِيلِهِ فَأَرْسِلُونِ

wa qālallażī najā min-humā waddakara ba’da ummatin ana unabbi`ukum bita`wīlihī fa arsilụn

45. Dalam pada itu, salah seorang dari kedua [orang yang dahulu dipenjara] yang selamat, dan [yang tiba-tiba] teringat [kepada Yusuf] sesudah sekian lamanya,46 berkata [begini], “Akulah yang dapat memberitahukan kepada kalian tentang arti sebenarnya dari [mimpi] ini; maka, biarkanlah aku pergi [untuk mencarinya].”47


46 Menurut hampir semua mufasir, nomina ummah di sini berarti “suatu waktu” atau “suatu periode waktu yang panjang”.

47 Pembawa-piala ini tampaknya berbicara kepada seluruh hadirin dan bukan kepada Raja saja: karenanya, digunakan bentuk jamak kum (kalian).


Surah Yusuf Ayat 46

يُوسُفُ أَيُّهَا الصِّدِّيقُ أَفْتِنَا فِي سَبْعِ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعِ سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ لَعَلِّي أَرْجِعُ إِلَى النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَعْلَمُونَ

 

yụsufu ayyuhaṣ-ṣiddīqu aftinā fī sab’i baqarātin simāniy ya`kuluhunna sab’un ‘ijāfuw wa sab’i sumbulātin khuḍriw wa ukhara yābisātil la’allī arji’u ilan-nāsi la’allahum ya’lamụn

46. [Dan, dia pergi mengunjungi Yusuf di dalam penjara dan berkata kepadanya,] “Yusuf, wahai engkau yang jujur! Terangkanlah kepada kami tentang [arti mimpi] tujuh ekor sapi yang gemuk-gemuk dilahap oleh tujuh ekor sapi yang kurus-kurus, dan tujuh bulir hijau [gandum yang terlihat] di samping [tujuh] lainnya yang kering—sehingga aku dapat kembali [dengan penjelasan engkau] kepada orang-orang [istana dan] agar mereka mengetahui [orang seperti apakah engkau ini]!”


Surah Yusuf Ayat 47

قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدْتُمْ فَذَرُوهُ فِي سُنْبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تَأْكُلُونَ

qāla tazra’ụna sab’a sinīna da`abā, fa mā ḥaṣattum fa żarụhu fī sumbulihī illā qalīlam mimmā ta`kulụn

47. [Yusuf] menjawab, “Kalian harus menanam selama tujuh tahun sebagaimana biasanya; tetapi biarkanlah semua [biji] yang kalian panen tetap berada di bulirnya, kecuali hanya sedikit untuk kalian makan:


Surah Yusuf Ayat 48

ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ سَبْعٌ شِدَادٌ يَأْكُلْنَ مَا قَدَّمْتُمْ لَهُنَّ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تُحْصِنُونَ

ṡumma ya`tī mim ba’di żālika sab’un syidāduy ya`kulna mā qaddamtum lahunna illā qalīlam mimmā tuḥṣinụn

48. sebab, setelah [periode tujuh tahun yang baik] itu, akan datang tujuh [tahun] yang sulit yang akan menghabiskan semua yang kalian simpan untuk masa itu, kecuali hanya sedikit dari yang kalian simpan sebagai persediaan.


Surah Yusuf Ayat 49

ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَامٌ فِيهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيهِ يَعْصِرُونَ

ṡumma ya`tī mim ba’di żālika ‘āmun fīhi yugāṡun-nāsu wa fīhi ya’ṣirụn

49. Dan, setelah itu, akan datang satu tahun yang padanya orang-orang akan terlepas dari segala kesukaran,48 dan yang padanya mereka akan memeras [minyak dan anggur sebagaimana sebelumnya].”


48 Atau: “akan diberi hujan”—bergantung pada apakah verba yughats dikaitkan dengan nomina infinitif ghaits (“hujan”) atau ghauts (“lepas dari kesulitan”). Meskipun hasil panen Mesir bergantung sepenuhnya pada banjir tahunan Sungai Nil, ketinggian air sungai tersebut pada gilirannya bergantung pada jumlah curah hujan pada saat puncaknya.


Surah Yusuf Ayat 50

وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُ الرَّسُولُ قَالَ ارْجِعْ إِلَىٰ رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ مَا بَالُ النِّسْوَةِ اللَّاتِي قَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ ۚ إِنَّ رَبِّي بِكَيْدِهِنَّ عَلِيمٌ

wa qālal-maliku`tụnī bih, fa lammā jā`ahur-rasụlu qālarji’ ilā rabbika fas`al-hu mā bālun-niswatillātī qaṭṭa’na aidiyahunn, inna rabbī bikaidihinna ‘alīm

50. Dan, [begitu penafsiran Yusuf disampaikan kepadanya,] Raja berkata, “Bawalah dia ke hadapanku!”

Akan tetapi, ketika utusan [Raja] datang kepadanya, [Yusuf] berkata, “Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya [dahulu untuk menyelidiki kebenaran] tentang perempuan-perempuan yang telah melukai tangan mereka-sebab, perhatikanlah, [hingga kini,] hanya Pemeliharaku [sajalah yang] mengetahui sepenuhnya tipu daya mereka!”


Surah Yusuf Ayat 51

قَالَ مَا خَطْبُكُنَّ إِذْ رَاوَدْتُنَّ يُوسُفَ عَنْ نَفْسِهِ ۚ قُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا عَلِمْنَا عَلَيْهِ مِنْ سُوءٍ ۚ قَالَتِ امْرَأَتُ الْعَزِيزِ الْآنَ حَصْحَصَ الْحَقُّ أَنَا رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ

qāla mā khaṭbukunna iż rāwattunna yụsufa ‘an nafsih, qulna ḥāsya lillāhi mā ‘alimnā ‘alaihi min sū`, qālatimra`atul-‘azīzil-āna ḥaṣ-ḥaṣal-ḥaqqu ana rāwattuhụ ‘an nafsihī wa innahụ laminaṣ-ṣādiqīn

51. [Kemudian, Raja mengundang para perempuan itu; dan ketika mereka datang,] dia bertanya, “Apakah yang ingin kalian capai ketika kalian berupaya membuat Yusuf menyerahkan diri kepada kalian?”49

Para perempuan itu menjawab, “Allah, selamatkanlah kami! Kami tidak melihat sedikit pun [niat] yang buruk padanya!”

[Dan,] istri dari bekas tuan50 Yusuf berseru, “Kini kebenaran telah jelas! Akulah yang mencoba membuatnya menyerahkan diri kepadaku—sementara dia, perhatikanlah, sungguh-sungguh berkata benar!”


49 Jelaslah bahwa Raja ingin mengetahui apakah mereka sebelumnya telah didorong oleh Yusuf atau apakah Yusuf benar-benar tidak bersalah. Nomina khathb berarti “sesuatu yang diminati seseorang” atau “yang dihasrati” atau “yang dicoba diperoleh”; jadi, ungkapan ma khathbukunna (lit., “apakah yang [sebenarnya] kalian inginkan”) lebih tepat diterjemahkan seperti di atas.

50 Lit., “istri orang yang mulia itu (al-‘aziz)”.


Surah Yusuf Ayat 52

ذَٰلِكَ لِيَعْلَمَ أَنِّي لَمْ أَخُنْهُ بِالْغَيْبِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي كَيْدَ الْخَائِنِينَ

żālika liya’lama annī lam akhun-hu bil-gaibi wa annallāha lā yahdī kaidal-khā`inīn

52. [Ketika Yusuf mengetahui apa yang telah terjadi, dia berkata,51 “Aku memohonkan] ini agar [bekas tuanku] dapat mengetahui bahwa aku tidak mengkhianati dia di belakangnya,52 dan bahwa Allah tidak memberkati dengan petunjuk-Nya rencana-rencana licik dari orang-orang yang mengkhianati amanat mereka.


51 Sejumlah mufasir (misalnya, Ibn Katsir dan, di antara mufasir modern, Rasyid Ridha dalam Al-Manar XII, hh. 323 dan seterusnya) memandang ayat ini dan ayat berikutnya sebagai kelanjutan dari pengakuan perempuan tersebut; tetapi mayoritas mufasir klasik, termasuk Al-Thabari, Al-Baghawi, dan Al-Zamakhsyari menisbahkan ucapan berikutnya ini secara tegas—dan, menurut saya, paling meyakinkan—kepada Yusuf: demikianlah alasan saya memasukkan kalimat sisipan di awal ayat.

52 Lit., “ketika [dia] tidak ada” atau “secara diam-diam” (bi al-ghaib).


Surah Yusuf Ayat 53

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

wa mā ubarri`u nafsī, innan-nafsa la`ammāratum bis-sū`i illā mā raḥima rabbī, inna rabbī gafụrur raḥīm

53. Dan, sungguhpun begitu, aku tidak berusaha membebaskan diriku dari kesalahan: sebab, sungguh, lubuk diri manusia memang mendorong[nya) pada keburukan,53 dan yang dikecualikan hanyalah orang-orang yang kepada mereka Pemeliharaku melimpahkan rahmat-Nya.54 Perhatikanlah, Pemeliharaku Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat!”


53 Lit., “benar-benar biasa memerintahkan [untuk melakukan] keburukan”—yakni, penuh dengan dorongan-dorongan yang sering bertentangan dengan apa yang dipandang oleh akal sebagai kebaikan moral. Ini jelas merupakan acuan pada pernyataan dalam ayat 24—”perempuan itu menghasrati Yusuf, dan Yusuf pun menghasrati perempuan itu; [dan Yusuf pasti telah tunduk] andaikata dia tidak melihat suatu bukti kebenaran Pemeliharanya [dalam godaan ini]”—serta acuan pada doa Yusuf dalam ayat 33, “jika Engkau tidak mengalihkan tipu daya mereka dariku, aku akan menyerah terhadap daya pikat mereka”. (Lihat juga catatan no. 23 sebelum ini.) Penegasan Yusuf tentang kelemahan yang melekat dalam watak manusia ini adalah suatu ungkapan kerendahhatian yang mulia dari seseorang yang telah berhasil mengatasi kelemahan itu sendiri: sebab, seperti terlihat dalam lanjutan ayatnya, dia menyatakan bahwa kemenangan moralnya itu bukanlah karena kehebatan dirinya sendiri, melainkan semata-mata karena belas kasih dan rahmat Allah.

54 Lit., ”kecuaili orang-orang yang …” dst. Menurut kebanyakan mufasir, kata ganti ma (lit., “yang”) di sini sama artinya dengan man (“dia yang” atau “siapa pun yang”).


Surah Yusuf Ayat 54

وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي ۖ فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ

wa qālal-maliku`tụnī bihī astakhliṣ-hu linafsī, fa lammā kallamahụ qāla innakal-yauma ladainā makīnun amīn

54. Dan, sang Raja berkata, “Bawalah dia kepadaku agar aku dapat memilihnya menjadi orang yang dekat denganku.”

Dan, ketika Raja telah berbicara dengannya, [dia] berkata, “Perhatikanlah, [mulai] hari ini engkau menjadi seorang yang berkedudukan tinggi bersama kami, yang mendapatkan wewenang dengan segenap amanat!”


Surah Yusuf Ayat 55

قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ

qālaj’alnī ‘alā khazā`inil-arḍ, innī ḥafīẓun ‘alīm

55. [Yusuf] menjawab, “Tempatkanlah gudang-gudang persediaan negeri ini di bawah tanggung jawabku; perhatikanlah, aku akan menjadi seorang penjaga yang baik dan berpengetahuan.55


55 Dengan membuat permohonan ini, Yusuf ingin memastikan dibangunnya lumbung-lumbung gandum yang efisien sebagai persediaan untuk beberapa tahun kedepan karena me·ngetahui bahwa tahun-tahun makmur itu akan disusul oleh tujuh tahun kekurangan. Jelaslah dari rangkaian ayat selanjutnya bahwa permohonannya itu dikabulkan dan bahwa dia mampu memenuhi kewajiban yang telah dia tentukan sendiri itu.


Surah Yusuf Ayat 56

وَكَذَٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ يَتَبَوَّأُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَاءُ ۚ نُصِيبُ بِرَحْمَتِنَا مَنْ نَشَاءُ ۖ وَلَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

wa każālika makkannā liyụsufa fil-arḍi yatabawwa`u min-hā ḥaiṡu yasyā`, nuṣību biraḥmatinā man nasyā`u wa lā nuḍī’u ajral-muḥsinīn

56. Dan, demikianlah Kami mengukuhkan kedudukan Yusuf di negeri [Mesir] itu: dia berkuasa penuh terhadapnya, [melakukan] apa pun yang dia kehendaki.

[Begitulah] Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa pun yang Kami kehendaki; dan Kami tidak lalai membalas orang-orang yang berbuat kebajikan.56


56 Yakni, kadang-kadang memberi balasan di dunia ini, tetapi pasti akan memberi balasan di akhirat, seperti ditunjukkan dalam lanjutan ayat tersebut.


Surah Yusuf Ayat 57

وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ لِلَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

wa la`ajrul-ākhirati khairul lillażīna āmanụ wa kānụ yattaqụn

57. Namun, dalam pandangan orang-orang yang telah meraih iman dan senantiasa sadar akan Kami, balasan dalam kehidupan akhirat merupakan kebaikan yang jauh lebih besar [daripada balasan apa pun di dunia ini].57


57 Lit., “bagi orang-orang yang telah meraih iman …” dst.


Surah Yusuf Ayat 58

وَجَاءَ إِخْوَةُ يُوسُفَ فَدَخَلُوا عَلَيْهِ فَعَرَفَهُمْ وَهُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ

wa jā`a ikhwatu yụsufa fa dakhalụ ‘alaihi fa ‘arafahum wa hum lahụ mungkirụn

58. DAN [setelah beberapa tahun,] saudara-saudara Yusuf datang [ke Mesir]58 dan hadir di hadapannya: dan dia mengenal mereka [seketika itu juga], sedangkan mereka tidak mengenalinya.


58 Yakni, untuk membeli gandum dari gudang-gudang simpanan yang telah dibangun oleh Yusuf selama tujuh tahun yang makmur: sebab, kini semua negeri yang berada di sekitar Mesir didera kelaparan, yang telah dia prediksikan sebelumnya, dan hanya Mesirlah yang memiliki surplus (kelebihan), yang distribusinya berada dalam pengawasannya pribadi (bdk. Bibel, Kitab Kejadian 41: 54-57).


Surah Yusuf Ayat 59

وَلَمَّا جَهَّزَهُمْ بِجَهَازِهِمْ قَالَ ائْتُونِي بِأَخٍ لَكُمْ مِنْ أَبِيكُمْ ۚ أَلَا تَرَوْنَ أَنِّي أُوفِي الْكَيْلَ وَأَنَا خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ

wa lammā jahhazahum bijahāzihim qāla`tụnī bi`akhil lakum min abīkum, alā tarauna annī ụfil-kaila wa ana khairul-munzilīn

59. Dan, ketika dia telah memperlengkapi mereka dengan persediaan mereka, dia berkata, “[Jika kalian datang ke sini lagi,] bawalah kepadaku saudara kalian yang seayah dengan kalian.59 Tidakkah kalian melihat bahwa aku telah memberikan [kepada kalian] takaran yang penuh dan telah menjadi tuan rumah yang terbaik?


59 Lit., “saudara kalian dari ayah kalian”—yakni, Bunyamin, saudara tiri mereka yang merupakan saudara kandung Yusuf (ibu mereka adalah Rahel, istri kesayangan Ya’qub), sedangkan sepuluh saudara lainnya memiliki ibu yang berbeda-beda. Bunyamin, anak Ya’qub yang paling bungsu, tidak menemani saudara-saudaranya dalam perjalanan pertama mereka ke Mesir, tetapi agaknya mereka menyebut-nyebut Bunyamin ketika bercakap-cakap dengan Yusuf.


Surah Yusuf Ayat 60

فَإِنْ لَمْ تَأْتُونِي بِهِ فَلَا كَيْلَ لَكُمْ عِنْدِي وَلَا تَقْرَبُونِ

fa il lam ta`tụnī bihī fa lā kaila lakum ‘indī wa lā taqrabụn

60. Namun, jika kalian tidak membawanya kepadaku, kalian tidak akan pernah lagi menerima satu takaran [biji gandum] pun dariku, tidak pula kalian akan [diizinkan] mendekatiku!”


Surah Yusuf Ayat 61

قَالُوا سَنُرَاوِدُ عَنْهُ أَبَاهُ وَإِنَّا لَفَاعِلُونَ

qālụ sanurāwidu ‘an-hu abāhu wa innā lafā’ilụn

61. Mereka menjawab, “Kami akan mencoba membujuk ayahnya untuk berpisah dengannya dan, sungguh, kami akan melakukan [sepenuh daya kami]!”


Surah Yusuf Ayat 62

وَقَالَ لِفِتْيَانِهِ اجْعَلُوا بِضَاعَتَهُمْ فِي رِحَالِهِمْ لَعَلَّهُمْ يَعْرِفُونَهَا إِذَا انْقَلَبُوا إِلَىٰ أَهْلِهِمْ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

wa qāla lifityānihij’alụ biḍā’atahum fī riḥālihim la’allahum ya’rifụnahā iżangqalabū ilā ahlihim la’allahum yarji’ụn

62. Dan, [Yusuf] berkata kepada pembantu-pembantunya, “Masukkanlah barang-barang dagangan mereka60 ke dalam karung-karung unta mereka agar mereka mendapatinya ketika mereka telah pulang kembali dan, karena itu, mereka semakin ingin untuk kembali lagi.”61


60 Yakni, barang-barang yang telah mereka tukarkan dengan gandum (Ibn Katsir): sebuah penjelasan yang sangat masuk akal karena fakta bahwa tukar-menukar (barter) adalah bentuk perdagangan paling lazim pada masa-masa kuno itu.

61 Lit., “sehingga mereka dapat melihatnya ketika mereka kembali pulang kepada keluarga mereka, [dan] semoga mereka kembali lagi”.


Surah Yusuf Ayat 63

فَلَمَّا رَجَعُوا إِلَىٰ أَبِيهِمْ قَالُوا يَا أَبَانَا مُنِعَ مِنَّا الْكَيْلُ فَأَرْسِلْ مَعَنَا أَخَانَا نَكْتَلْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

fa lammā raja’ū ilā abīhim qālụ yā abānā muni’a minnal-kailu fa arsil ma’anā akhānā naktal wa innā lahụ laḥāfiẓụn

63. Maka, tatkala mereka telah kembali kepada ayah mereka, [saudara-saudara Yusuf] berkata, “Wahai, Ayah kami! Seluruh biji gandum62 [akan] ditahan dari kami [pada masa yang akan datang, kecuali kalau kami membawa Bunyamin bersama kami]: oleh karena itu, utuslah saudara kami bersama kami supaya kita memperoleh takaran [biji gandum] kita; dan, sungguh, kami akan menjaganya dengan baik!”


62 Lit., “takaran [biji gandum]”, yang di sini digunakan secara metonimia untuk secara tidak langsung mengacu pada kata-kata Yusuf (ayat 60).


Surah Yusuf Ayat 64

قَالَ هَلْ آمَنُكُمْ عَلَيْهِ إِلَّا كَمَا أَمِنْتُكُمْ عَلَىٰ أَخِيهِ مِنْ قَبْلُ ۖ فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

qāla hal āmanukum ‘alaihi illā kamā amintukum ‘alā akhīhi ming qabl, fallāhu khairun ḥāfiẓaw wa huwa ar-ḥamur-rāḥimīn

64. [Ya’qub] menjawab, “Haruskah aku memercayakan dia kepada kalian sama63 seperti aku memercayakan saudaranya [Yusuf] dahulu kepada kalian? [Sekali-kali tidak,] akan tetapi penjagaan Allah lebih baik {daripada penjagaan kalian] karena Dia-lah yang paling Penyayang di antara para penyayang!”


63 Lit., “kecuali”.


Surah Yusuf Ayat 65

وَلَمَّا فَتَحُوا مَتَاعَهُمْ وَجَدُوا بِضَاعَتَهُمْ رُدَّتْ إِلَيْهِمْ ۖ قَالُوا يَا أَبَانَا مَا نَبْغِي ۖ هَٰذِهِ بِضَاعَتُنَا رُدَّتْ إِلَيْنَا ۖ وَنَمِيرُ أَهْلَنَا وَنَحْفَظُ أَخَانَا وَنَزْدَادُ كَيْلَ بَعِيرٍ ۖ ذَٰلِكَ كَيْلٌ يَسِيرٌ

wa lammā fataḥụ matā’ahum wajadụ biḍā’atahum ruddat ilaihim, qālụ yā abānā mā nabgī, hāżihī biḍā’atunā ruddat ilainā wa namīru ahlanā wa naḥfaẓu akhānā wa nazdādu kaila ba’īr, żālika kailuy yasīr

65. Kemudian, ketika mereka membuka karung-karung mereka, mereka mendapati bahwa barang-barang dagangan mereka telah dikembalikan kepada mereka; [dan] mereka berkata, “Wahai, Ayah kami! Apa lagi yang dapat kita inginkan? Inilah barang-barang dagangan kita: telah dikembalikan kepada kita! [Jika engkau mengutus Bunyamin bersama kami,] kami akan dapat [lagi] membawa makanan untuk keluarga kita, dan akan menjaga saudara kami [dengan baik], dan menerima tambahan takaran biji gandum seberat beban seekor unta.64 Itu [yang telah kami bawa pertama kali] adalah takaran yang sedikit.”


64 Tampaknya, Yusuf membatasi jatah pembelian gandum bagi pembeli-pembeli asing, yakni setiap orang mendapatkan jatah sebanyak yang dapat ditanggung oleh seekor unta.


Surah Yusuf Ayat 66

قَالَ لَنْ أُرْسِلَهُ مَعَكُمْ حَتَّىٰ تُؤْتُونِ مَوْثِقًا مِنَ اللَّهِ لَتَأْتُنَّنِي بِهِ إِلَّا أَنْ يُحَاطَ بِكُمْ ۖ فَلَمَّا آتَوْهُ مَوْثِقَهُمْ قَالَ اللَّهُ عَلَىٰ مَا نَقُولُ وَكِيلٌ

qāla lan ursilahụ ma’akum ḥattā tu`tụni mauṡiqam minallāhi lata`tunnanī bihī illā ay yuḥāṭa bikum, fa lammā ātauhu mauṡiqahum qālallāhu ‘alā mā naqụlu wakīl

66. Berkata [Ya’qub], “Aku tidak akan mengutusnya bersama kalian sebelum kalian memberikan kepadaku sumpah setia, di hadapan Allah, bahwa kalian sungguh akan membawanya kembali kepadaku, kecuali kalau kalian diliputi [oleh kematian]!”*

Dan, ketika mereka telah memberikan sumpah setia mereka kepadanya, [Ya’qub] berkata, “Allah adalah saksi terhadap segala yang kita ucapkan!”


* {“Kecuali kalau kalian diliputi [kematian] adalah terjemahan Asad untuk frasa ilia an yuhatha bikum. Dalam bahasa Indonesia, frasa ini diterjemahkan menjadi “kecuali jika kamu dikepung musuh”. Verba yuhatha berarti “meliputi”, atau “dikepung”. Asad memilih yang pertama sehingga menambahkan sisipan [kematian], sedangkan terjemahan Indonesia memilih yang kedua dengan menambahkan sisipan [musuh]. Melihat konteks pembicaraan ayatnya, terjemahan Asad agaknya lebih tepat.—AM}


Surah Yusuf Ayat 67

وَقَالَ يَا بَنِيَّ لَا تَدْخُلُوا مِنْ بَابٍ وَاحِدٍ وَادْخُلُوا مِنْ أَبْوَابٍ مُتَفَرِّقَةٍ ۖ وَمَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ۖ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ

wa qāla yā baniyya lā tadkhulụ mim bābiw wāḥidiw wadkhulụ min abwābim mutafarriqah, wa mā ugnī ‘angkum minallāhi min syaī`, inil-ḥukmu illā lillāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ‘alaihi falyatawakkalil-mutawakkilụn

67. Dan, dia menambahkan, “Wahai, Anak-Anakku! Janganlah memasuki [kota sekaligus] dari satu pintu gerbang, tetapi masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda.65 Namun [meskipun begitu,] aku sedikit pun tiada bermanfaat bagi kalian terhadap [apa pun yang mungkin dikehendaki oleh] Allah:* keputusan [tentang apa yang akan terjadi] hanya ada pada Allah. Kepada-Nya-lah aku bersandar penuh percaya (bertawakal): sebab, semua orang yang percaya [akan keberadaan-Nya] haruslah bersandar penuh percaya (bertawakal) kepada-Nya saja.”


65 Mungkin agar tidak menarik perhatian yang tidak perlu di negeri orang dan barangkali juga supaya tidak jatuh ke dalam berbagai intrik. Dalam kaitan ini, lihat catatan no. 68 di bawah.

* {“Namun [meskipun begitu,] aku sedikit pun tiada bermanfaat bagi kalian terhadap [apa pun yang mungkin dikehendaki oleh] Allah” adalah terjemahan Asad untuk frasa ma ughni ‘ankum min Allah min syai’, yang dalam terjemah Al-Quran Depag RI diterjemahkan menjadi, “Namun demikian, aku tidak dapat melepaskan kamu barang sedikit pun dari (takdir) Allah”. Secara literal, verba ughni memang lebih tepat diartikan dengan “tiada bermanfaat” atau “tiada dapat memberikan manfaat”.—AM}


Surah Yusuf Ayat 68

وَلَمَّا دَخَلُوا مِنْ حَيْثُ أَمَرَهُمْ أَبُوهُمْ مَا كَانَ يُغْنِي عَنْهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا حَاجَةً فِي نَفْسِ يَعْقُوبَ قَضَاهَا ۚ وَإِنَّهُ لَذُو عِلْمٍ لِمَا عَلَّمْنَاهُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

wa lammā dakhalụ min ḥaiṡu amarahum abụhum, mā kāna yugnī ‘an-hum minallāhi min syai`in illā ḥājatan fī nafsi ya’qụba qaḍāhā, wa innahụ lażụ ‘ilmil limā ‘allamnāhu wa lākinna akṡaran-nāsi lā ya’lamụn

68. Akan tetapi, meskipun66 mereka memasuki [kota Yusuf] menurut yang diperintahkan ayah mereka, terbukti bahwa hal ini sedikit pun tiada bermanfaat bagi mereka terhadap [rencana] Allah.67 [Permintaan Ya’qub] hanyalah untuk memenuhi hasrat hati Ya’qub [untuk melindungi mereka]:68 sebab, perhatikanlah, berkat apa yang telah Kami ajarkan kepadanya, dia benar-benar dianugerahi pengetahuan [bahwa kehendak Allah pastilah berlaku senantiasa69]; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.


66 Lit., “ketika”.

67 Sebagaimana ditunjukkan dalam lanjutan ayat ini, mereka dan ayah mereka mengalami berbagai kesukaran sebelum pengembaraan mereka berakhir dengan hasil yang menyenangkan.

68 Lit., “ia [yakni permintaan Ya’qub agar mereka memasuki kota melalui pintu-pintu gerbang yang berbeda] tidak lain hanyalah suatu hasrat dalam hati (nafs) Ya’qub, yang [akhirnya] dia penuhi”. Dengan kata lain, ketika dia memberi nasihat ini kepada anak-anaknya, dia hanya mengikuti dorongan naluriah, suatu dorongan yang secara manusiawi dapat dipahami, dan tidak begitu berharap agar tindakan eksternal apa pun dapat menolong mereka: sebab, sebagaimana ditunjukkannya sendiri ketika berpisah, “keputusan tentang apa yang akan terjadi hanya ada pada Allah”. Penekanan atas kebergantungan mutlak manusia kepada Allah ini—sebuah ajaran fundamental dalam Islam—menjelaskan mengapa nasihat Ya’qub (yang isinya sendiri tidak relevan dengan kisah ini) disebutkan dalam kisah Al-Quran di atas.

69 Klausa sisipan ini didasarkan pada pendapat Al-Zamakhsyari ketika menafsirkan frasa “yang dianugerahi pengetahuan” yang merujuk pada Ya’qub.


Surah Yusuf Ayat 69

وَلَمَّا دَخَلُوا عَلَىٰ يُوسُفَ آوَىٰ إِلَيْهِ أَخَاهُ ۖ قَالَ إِنِّي أَنَا أَخُوكَ فَلَا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

wa lammā dakhalụ ‘alā yụsufa āwā ilaihi akhāhu qāla innī ana akhụka fa lā tabta`is bimā kānụ ya’malụn

69. DAN, KETIKA [anak-anak Ya’qub] hadir di hadapan Yusuf, dia menarik saudaranya [Bunyamin] ke arahnya seraya berkata [diam-diam kepadanya], “Perhatikanlah, aku adalah saudaramu! Maka, janganlah engkau berdukacita terhadap perbuatan mereka pada masa lalu!”70


70 Dengan demikian, bertentangan dengan catatan Bibel, di sini Yusuf dinyatakan telah memberitahukan identitasnya kepada Bunyamin jauh sebelum dia memberitahukannya kepada kesepuluh saudara tirinya. Kata-kata “perbuatan mereka pada masa lalu” jelas-jelas mengacu pada tindak khianat mereka terhadap dirinya yang sekarang rupanya diungkapkan Yusuf kepada Bunyamin.


Surah Yusuf Ayat 70

فَلَمَّا جَهَّزَهُمْ بِجَهَازِهِمْ جَعَلَ السِّقَايَةَ فِي رَحْلِ أَخِيهِ ثُمَّ أَذَّنَ مُؤَذِّنٌ أَيَّتُهَا الْعِيرُ إِنَّكُمْ لَسَارِقُونَ

fa lammā jahhazahum bijahāzihim ja’alas-siqāyata fī raḥli akhīhi ṡumma ażżana mu`ażżinun ayyatuhal-‘īru innakum lasāriqụn

70. Dan [kemudian,] ketika dia telah memperlengkapi mereka dengan persediaan mereka, dia memasukkan piala—minum [Raja] ke dalam karung—unta saudaranya. Dan, [tatkala mereka meninggalkan kota itu,] seorang bentara71 berteriak, “Wahai, kalian orang-orang kafilah! Sungguh, kalian adalah pencuri!”72


71 Lit., “seorang penyeru” (muadzdzin)—sebuah nomina yang diderivasi dari bentuk verba adzdzana (“dia telah menyiarkan” atau “dia telah mengumumkan” atau “dia telah menyatakan kepada publik”).

72 Ketika menafsirkan ayat ini, Al-Razi berkata, “Al-Quran sama sekali tidak pernah menyatakan bahwa tuduhan ini mereka buat atas perintah Yusuf; bukti tidak langsung sebaliknya menunjukkan bahwa (al-aqrab ila zhahir al-hal) mereka melakukan hal ini atas kemauan mereka sendiri: sebab, ketika mereka telah merasa kehilangan piala-piala minum itu, [pelayan-pelayan Yusuf ini ingat bahwa] tidak seorang pun yang telah mendekati piala-minum tersebut [kecuali anak anak Ya’qub] sehingga terpikirlah oleh mereka bahwa anak-anak Ya’qub itulah yang mengambilnya.” Pandangan-pandangan serupa juga dikemukakan oleh Al-Thabari dan Al-Zamakhsyari dalam tafsir mereka atas kata-kata terakhir dari ayat 76. Penjelasan yang sangat masuk akal ini berbeda tajam dengan catatan Bibel mengenai kejadian ini (Kejadian 44). Menurut Bibel, tuduhan palsu tersebut adalah bagian dari “muslihat” yang tidak dapat dibenarkan, yang direncanakan oleh Yusuf. Jika kita menolak bagian versi Bibel ini—yang memang harus kita tolak—jauh lebih logis untuk berasumsi bahwa Yusuf, yang telah mendapatkan wewenang penuh dari Raja terhadap segala yang berada dalam kekuasaan sang Raja (lihat ayat 56), telah memasukkan piala kerajaan itu sebagai sebuah hadiah ke dalam tas saudara kesayangannya; dan bahwa dia melakukannya secara rahasia, tanpa memberitahukan kepada para pelayannya, karena dia tidak mau seorang pun, terutama kesepuluh saudara tirinya, mengetahui kecintaannya kepada Bunyamin. Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai kejadian ini dan relevansi etisnya dalam konteks kisah Yusuf, lihat catatan no. 77.


Surah Yusuf Ayat 71

قَالُوا وَأَقْبَلُوا عَلَيْهِمْ مَاذَا تَفْقِدُونَ

qālụ wa aqbalụ ‘alaihim māżā tafqidụn

71. Seraya berbalik ke arah bentara dan teman-temannya,73 saudara-saudara [Yusuf] itu bertanya, “Apakah yang hilang dari kalian?”


73 Lit., “Mereka berkata seraya menghadap ke arah mereka”.


Surah Yusuf Ayat 72

قَالُوا نَفْقِدُ صُوَاعَ الْمَلِكِ وَلِمَنْ جَاءَ بِهِ حِمْلُ بَعِيرٍ وَأَنَا بِهِ زَعِيمٌ

qālụ nafqidu ṣuwā’al-maliki wa liman jā`a bihī ḥimlu ba’īriw wa ana bihī za’īm

72. Mereka menjawab, “Kami kehilangan piala minum Raja; dan dia yang menyerahkannya akan memperoleh [biji gandum] seberat beban-unta [sebagai hadiahnya]!”

Dan [sang bentara menambahkan], “Aku menjamin [janji] ini!”


Surah Yusuf Ayat 73

قَالُوا تَاللَّهِ لَقَدْ عَلِمْتُمْ مَا جِئْنَا لِنُفْسِدَ فِي الْأَرْضِ وَمَا كُنَّا سَارِقِينَ

qālụ tallāhi laqad ‘alimtum mā ji`nā linufsida fil-arḍi wa mā kunnā sāriqīn

73. Berkata [saudara-saudara itu], “Demi Allah! Kalian sungguh mengetahui bahwa kami datang bukan untuk melakukan kerusakan di negeri ini, dan bahwa kami tidak mencuri!”


Surah Yusuf Ayat 74

قَالُوا فَمَا جَزَاؤُهُ إِنْ كُنْتُمْ كَاذِبِينَ

qālụ fa mā jazā`uhū ing kuntum kāżibīn

74. [Orang-orang Mesir itu] berkata, “Akan tetapi, apakah balasan atas [perbuatan] ini jika kalian [terbukti] berdusta?”


Surah Yusuf Ayat 75

قَالُوا جَزَاؤُهُ مَنْ وُجِدَ فِي رَحْلِهِ فَهُوَ جَزَاؤُهُ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ

qālụ jazā`uhụ maw wujida fī raḥlihī fa huwa jazā`uh, każālika najziẓ-ẓālimīn

75. [Saudara-saudara itu] menjawab, “Balasannya? Orang yang dalam karungnya [piala itu] ditemukan—dia akan [di-perbudak sebagai] balasan atasnya! Demikianlah kami [sendiri yang] membalas orang-orang yang berbuat kezaliman [semacam itu].”74


74 Kebanyakan mufasir (mungkin dengan bersandar pada Bibel, Keluaran 22: 3) berasumsi bahwa ini adalah hukuman yang lazim untuk pencurian bagi orang-orang Yahudi kuno. Namun, Al-Razi menyatakan bahwa kalimat terakhir ini bukan merupakan bagian dari jawaban saudara-saudaranya, melainkan suatu penegasan yang dinyatakan oleh pejabat Mesir yang berarti, “[Kenyataannya,] demikianlah kami (orang-orang Mesir] membalas orang-orang yang berbuat kesalahan [semacam itu]”.


Surah Yusuf Ayat 76

فَبَدَأَ بِأَوْعِيَتِهِمْ قَبْلَ وِعَاءِ أَخِيهِ ثُمَّ اسْتَخْرَجَهَا مِنْ وِعَاءِ أَخِيهِ ۚ كَذَٰلِكَ كِدْنَا لِيُوسُفَ ۖ مَا كَانَ لِيَأْخُذَ أَخَاهُ فِي دِينِ الْمَلِكِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ ۗ وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ

fa bada`a bi`au’iyatihim qabla wi’ā`i akhīhi ṡummastakhrajahā miw wi’ā`i akhīh, każālika kidnā liyụsuf, mā kāna liya`khuża akhāhu fī dīnil-maliki illā ay yasyā`allāh, narfa’u darajātim man nasyā`, wa fauqa kulli żī ‘ilmin ‘alīm

76. Kemudian, [mereka dibawa ke hadapan Yusuf untuk diperiksa; dan] dia mulai dengan karung saudara-saudara tirinya75 sebelum karung saudaranya sendiri [Bunyamin]: dan akhirnya, dia mengeluarkan piala-minum itu76 dari karung saudaranya.

Demikianlah, Kami mengatur untuk Yusuf [agar hasrat hatinya tercapai]: menurut undang-undang Raja, [kalau tidak demikian] dia tidak dapat menahan saudaranya, seandainya Allah tidak menghendaki demikian. Kami tinggikan derajat-derajat [pengetahuan] bagi siapa pun yang Kami kehendaki—akan tetapi, di atas setiap orang yang dianugerahi pengetahuan itu, ada lagi Yang Maha Mengetahui.77


75 Lit., “dengan karung-karung mereka“.

76 Lit., “dia mengeluarkannya”.

77 Kini, makna kisah ini menjadi jelas: ia merupakan suatu ilustrasi lebih lanjut tentang doktrin dasar bahwa “keputusan [tentang apa yang akan terjadi] hanya ada pada Allah” (ayat 67). Yusuf menginginkan agar Bunyamin tetap bersamanya, tetapi menurut undang-undang Mesir, dia tidak dapat melakukannya tanpa persetujuan dari saudara-saudara tirinya, yang merupakan wali-wali sah saudara mereka yang belum dewasa; dan mereka yang terikat dengan sumpah setia kepada ayah mereka pasti tidak akan setuju meninggalkan Bunyamin di Mesir. Satu-satunya pilihan lain yang terbuka bagi Yusuf adalah menyingkapkan identitasnya kepada mereka; tetapi karena belum siap melangkah sejauh itu, dia terpaksa mengizinkan Bunyamin pergi bersama saudara-saudaranya. Hadiah Yusuf yang ditemukan secara tidak sengaja, yang sama sekali tidak diduga oleh Yusuf (lihat ayat 72), mengubah segalanya: sebab, kini Bunyamin terlihat bersalah karena kasus pencurian dan, menurut undang-undang Mesir, Yusuf berhak menyatakan Bunyamin sebagai budaknya dan, dengan demikian, menahannya di rumahnya. Kata-kata “Demikianlah, Kami mengatur untuk Yusuf [agar hasrat hatinya tercapai]”, yang mengacu pada insiden piala-minum tersebut, mengindikasikan bahwa hasil akhirnya tidaklah direncanakan dan bahkan tidak pula
diramalkan oleh Yusuf.


Surah Yusuf Ayat 77

قَالُوا إِنْ يَسْرِقْ فَقَدْ سَرَقَ أَخٌ لَهُ مِنْ قَبْلُ ۚ فَأَسَرَّهَا يُوسُفُ فِي نَفْسِهِ وَلَمْ يُبْدِهَا لَهُمْ ۚ قَالَ أَنْتُمْ شَرٌّ مَكَانًا ۖ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَصِفُونَ

qālū iy yasriq fa qad saraqa akhul lahụ ming qabl, fa asarrahā yụsufu fī nafsihī wa lam yubdihā lahum, qāla antum syarrum makānā, wallāhu a’lamu bimā taṣifụn

77. [Begitu piala dikeluarkan dari karung Bunyamin, saudara-saudaranya] berseru, “Jika dia mencuri—sungguh, saudaranya juga pernah mencuri sebelumnya!”78

Kemudian, Yusuf berkata kepada dirinya sendiri, tanpa mengungkapkan pikirannya kepada mereka,79 “Kalian jauh lebih buruk dalam hal ini dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian katakan itu.”80


78 Ini jelas mengacu pada saudara kandung Bunyamin, yakni Yusuf. Karena tidak ada indikasi bahwa Yusuf sebelumnya pernah dituduh mencuri, masuk akal untuk berasumsi bahwa saudara-saudaranya, yang tidak menyadari bahwa mereka justru sedang berdiri di hadapan Yusuf, semata-mata ingin memburuk-burukkan Bunyamin saja demi berlepas diri secara lebih efektif dari Bunyamin, yang sekarang tampaknya menjadi terpidana dalam kasus pencurian.

79 Lit., “Yusuf menyembunyikannya dalam dirinya sendiri dan tidak menyatakannya kepada mereka; dia berkata …” dan seterusnya. Menurut hampir semua mufasir, kata ganti ha “nya” mengacu pada “perkataan” Yusuf berikutnya atau, agaknya, pada pemikiran Yusuf, yang diindikasikan oleh kata kerja “dia berkata” (yakni dalam diri sendiri); inilah alasan terjemahan bebas saya untuk frasa ini.

80 Lit., “apa yang kalian sifatkan”, yakni pada Yusuf dan Bunyamin—secara tersirat, “karena kalian sendiri telah mencuri Yusuf dari ayahnya”.


Surah Yusuf Ayat 78

قَالُوا يَا أَيُّهَا الْعَزِيزُ إِنَّ لَهُ أَبًا شَيْخًا كَبِيرًا فَخُذْ أَحَدَنَا مَكَانَهُ ۖ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

qālụ yā ayyuhal-‘azīzu inna lahū aban syaikhang kabīran fa khuż aḥadanā makānah, innā narāka minal-muḥsinīn

78. Mereka berkata, “Wahai, engkau yang mulia! Perhatikanlah, dia mempunyai seorang ayah, seorang yang sangat tua: oleh karena itu, tahanlah salah seorang di antara kami sebagai gantinya. Sungguh, kami melihat bahwa engkau adalah seorang yang berbuat kebajikan!”


Surah Yusuf Ayat 79

قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ أَنْ نَأْخُذَ إِلَّا مَنْ وَجَدْنَا مَتَاعَنَا عِنْدَهُ إِنَّا إِذًا لَظَالِمُونَ

qāla ma’āżallāhi an na`khuża illā maw wajadnā matā’anā ‘indahū innā iżal laẓālimụn

79. Dia menjawab, “Semoga Allah melindungi kita dari [dosa] menahan siapa pun, kecuali orang yang padanya kami temukan barang-barang kami—sebab kalau begitu, perhatikanlah, kami benar-benar akan menjadi orang-orang yang zalim!”


Surah Yusuf Ayat 80

فَلَمَّا اسْتَيْأَسُوا مِنْهُ خَلَصُوا نَجِيًّا ۖ قَالَ كَبِيرُهُمْ أَلَمْ تَعْلَمُوا أَنَّ أَبَاكُمْ قَدْ أَخَذَ عَلَيْكُمْ مَوْثِقًا مِنَ اللَّهِ وَمِنْ قَبْلُ مَا فَرَّطْتُمْ فِي يُوسُفَ ۖ فَلَنْ أَبْرَحَ الْأَرْضَ حَتَّىٰ يَأْذَنَ لِي أَبِي أَوْ يَحْكُمَ اللَّهُ لِي ۖ وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ

fa lammastai`asụ min-hu khalaṣụ najiyyā, qāla kabīruhum a lam ta’lamū anna abākum qad akhaża ‘alaikum mauṡiqam minallāhi wa ming qablu mā farrattum fī yụsufa fa lan abraḥal-arḍa ḥattā ya`żana lī abī au yaḥkumallāhu lī, wa huwa khairul-ḥākimīn

80. Maka, ketika mereka kehilangan segala harapan untuk [mengubah pendirian-]nya, mereka undur diri untuk berunding [di antara mereka sendiri].

Yang tertua di antara mereka berkata, “Tidakkah kalian ingat81 bahwa ayah kalian telah mengikat kalian dengan suatu sumpah setia di hadapan Allah—dan betapa kalian, sebelumnya, telah lalai berkenaan dengan Yusuf? Karena itu, aku tidak akan pergi dari negeri ini hingga ayahku memberikan izin kepadaku atau Allah memberikan keputusan terhadapku:82 sebab, Dia-Iah hakim yang sebaik-baiknya.


81 Lit., “mengetahui”—tetapi karena di sini ungkapan ini lebih menunjukkan kenangan ketimbang pengetahuan dalam pengertian yang sebenarnya dari kata ini, ungkapan tersebut dapat diterjemahkan secara tepat seperti di atas.

82 Yakni, “memungkinkanku untuk mendapatkan kembali saudaraku, Bunyamin”.


Surah Yusuf Ayat 81

ارْجِعُوا إِلَىٰ أَبِيكُمْ فَقُولُوا يَا أَبَانَا إِنَّ ابْنَكَ سَرَقَ وَمَا شَهِدْنَا إِلَّا بِمَا عَلِمْنَا وَمَا كُنَّا لِلْغَيْبِ حَافِظِينَ

irji’ū ilā abīkum fa qụlụ yā abānā innabnaka saraq, wa mā syahidnā illā bimā ‘alimnā wa mā kunnā lil-gaibi ḥāfiẓīn

81. [Dan, adapun kalian,] kembalilah kepada ayah kalian dan katakanlah, “Wahai, Ayah kami! Perhatikanlah, anakmu telah mencuri—akan tetapi, kami tidak [dapat] memberi kesaksian lebih daripada apa yang kami ketahui;83 dan [meskipun kami telah bersumpah kepadamu], kami tidak dapat berjaga-jaga dari sesuatu yang [tersembunyi pada masa yang akan datang dan, karenanya,] di luar jangkauan pengetahuan kami.84


83 Yakni, penemuan piala Raja dalam karung Bunyamin (Al-Baghawi, Al-Zamakhsyari).

84 Lit., “Kami bukanlah penjaga terhadap apa yang ada di luar jangkauan pengetahuan [kami]”: yakni, “pada saat kami bersumpah kepadamu berkenaan dengan Bunyamin, kami tidak mengetahui bahwa dia akan mencuri” (Al-Zamakhsyari).


Surah Yusuf Ayat 82

وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ الَّتِي كُنَّا فِيهَا وَالْعِيرَ الَّتِي أَقْبَلْنَا فِيهَا ۖ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ

was`alil-qaryatallatī kunnā fīhā wal-‘īrallatī aqbalnā fīhā, wa innā laṣādiqụn

82. Dan, tanyakan saja di kota tempat kami berada [pada waktu itu], dan rombongan kafilah yang kami bepergian bersamanya, dan [engkau akan mendapati bahwa] kami sungguh berkata benar!”


Surah Yusuf Ayat 83

قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا ۖ فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

qāla bal sawwalat lakum anfusukum amrā, fa ṣabrun jamīl, ‘asallāhu ay ya`tiyanī bihim jamī’ā, innahụ huwal-‘alīmul-ḥakīm

83. [DAN, KETIKA mereka kembali kepada ayah mereka dan menuturkan kepadanya apa yang telah terjadi,] dia berseru, “Tidak, tetapi pikiran kalian [sendiri]-lah yang membuat kejadian [yang sangat buruk ini) tampak sebagai sesuatu yang ringan bagi kalian! Namun, [adapun bagiku,] kesabaran dalam menghadapi kesusahan adalah yang terbaik; semoga Allah membawa mereka semua [kembali] kepadaku:85 sungguh, Dia sajalah Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana!”


85 Yakni, Bunyamin, anak tertuanya (yang tetap tinggal di Mesir), serta Yusuf, yang dugaan tentang kematiannya tidak pernah benar-benar dipercayai oleh Ya’qub {bdk. catatan no. 17).


Surah Yusuf Ayat 84

وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ

wa tawallā ‘an-hum wa qāla yā asafā ‘alā yụsufa wabyaḍḍat ‘aināhu minal-ḥuzni fa huwa kaẓīm

84. Akan tetapi, dia berpaling dari mereka dan berkata, “Duhai, betapa aku berduka karena Yusuf!”—dan matanya menjadi rabun86 karena tenggelam dalam duka.


86 Lit., “putih”: yakni, rabun karena air mata yang memenuhinya (Al-Razi). Meskipun sekarang Ya’qub kehilangan tiga putranya, dukacitanya atas Yusuf merupakan yang paling parah karena dialah satu-satunya dari ketiga putranya yang hilang itu yang tidak diketahui oleh Ya’qub apakah dia sudah mati atau masih hidup.


Surah Yusuf Ayat 85

قَالُوا تَاللَّهِ تَفْتَأُ تَذْكُرُ يُوسُفَ حَتَّىٰ تَكُونَ حَرَضًا أَوْ تَكُونَ مِنَ الْهَالِكِينَ

qālụ tallāhi tafta`u tażkuru yụsufa ḥattā takụna ḥaraḍan au takụna minal-hālikīn

85. Berkata [anak-anaknya], “Demi Allah! Engkau tidak pernah berhenti mengingat Yusuf hingga tubuh dan jiwamu rusak atau engkau meninggal!”


Surah Yusuf Ayat 86

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

qāla innamā asykụ baṡṡī wa ḥuznī ilallāhi wa a’lamu minallāhi mā lā ta’lamụn

86. Dia menjawab, “Hanya kepada Allah-lah kuadukan kesedihan dan dukacitaku yang mendalam: sebab aku mengetahui, dari Allah, sesuatu yang tidak kalian ketahui.87


87 Yakni, bahwa “keputusan [tentang apa yang akan terjadi] hanya ada pada Allah”, dan bahwa “semua orang yang percaya [akan keberadaan-Nya] haruslah bersandar penuh percaya (bertawakal) kepada-Nya saja” (ayat 67): dua gagasan yang mendasari keseluruhan surah ini, dan yang kini coba diingatkan oleh Ya’qub kepada anak-anaknya. Di samping itu, kenangannya terhadap mimpi profetik Yusuf (ayat 4) dan keyakinannya sendiri pada saat itu bahwa anak kesayangannya itu akan dipilih oleh Allah untuk mendapatkan rahmat khusus-Nya (ayat 6), memberi Ya’qub suatu harapan baru bahwa Yusuf masih hidup (Al-Razi dan Ibn Katsir): dan ini menjelaskan bimbingan-bimbingan yang dia berikan kepada anak-anaknya dalam kalimat berikutnya.


Surah Yusuf Ayat 87

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

yā baniyyaż-habụ fa taḥassasụ miy yụsufa wa akhīhi wa lā tai`asụ mir rauḥillāh, innahụ lā yai`asu mir rauḥillāhi illal-qaumul-kāfirụn

87. [Karena itu,] wahai Anak-Anakku, pergilah dan cobalah mencari berita tentang Yusuf dan saudaranya; dan janganlah berputus asa dari belas kasih Allah nan menghidupkan:88 sungguh, tiada seorang pun yang akan pernah berputus asa dari belas kasih Allah nan menghidupkan, kecuali orang-orang yang mengingkari kebenaran.”


88 Menurut kebanyakan mufasir, khususnya Ibn ‘Abbas (sebagaimana dikutip Al-Thabari dan yang lainnya), istilah rauh di sini bersinonim dengan rahmah (“belas kasih” atau “rahmat”). Karena secara linguistik istilah tersebut terkait dengan nomina ruh (“napas kehidupan” atau “ruh”), dan juga mempunyai pengertian metonimia “istirahat” (rahah) dari dukacita dan kesedihan (Taj Al-‘Arus), tampaknya penerjemahan yang paling tepat adalah “rahmat yang menghidupkan” {life-giving mercy}.


Surah Yusuf Ayat 88

فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَيْهِ قَالُوا يَا أَيُّهَا الْعَزِيزُ مَسَّنَا وَأَهْلَنَا الضُّرُّ وَجِئْنَا بِبِضَاعَةٍ مُزْجَاةٍ فَأَوْفِ لَنَا الْكَيْلَ وَتَصَدَّقْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّ اللَّهَ يَجْزِي الْمُتَصَدِّقِينَ

fa lammā dakhalụ ‘alaihi qālụ yā ayyuhal-‘azīzu massanā wa ahlanaḍ-ḍurru wa ji`nā bibiḍā’atim muzjātin fa aufi lanal-kaila wa taṣaddaq ‘alainā, innallāha yajzil-mutaṣaddiqīn

88. [DAN, ANAK-ANAK Ya’qub kembali pergi ke Mesir dan kepada Yusuf;] dan ketika mereka hadir di hadapannya, mereka berkata, “Wahai, engkau yang mulia! Kesengsaraan telah menimpa kami dan keluarga kami, maka kami datang membawa barang-barang dagangan yang sedikit saja;89 tetapi berikanlah kepada kami takaran [gandum] yang penuh, dan bermurah-hatilah kepada kami: perhatikanlah, Allah membalas orang-orang yang memberi sedekah!”


89 Yakni, barang-barang yang mereka maksudkan agar ditukarkan dengan gandum (lihat catatan no. 60).


Surah Yusuf Ayat 89

قَالَ هَلْ عَلِمْتُمْ مَا فَعَلْتُمْ بِيُوسُفَ وَأَخِيهِ إِذْ أَنْتُمْ جَاهِلُونَ

qāla hal ‘alimtum mā fa’altum biyụsufa wa akhīhi iż antum jāhilụn

89. Jawabnya, “Apakah kalian ingat90 apa yang telah kalian lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kalian masih tidak mengetahui [kebenaran dan kesalahan]?”91


90 Lit., “mengetahui” (lihat catatan no. 81).

91 Dengan merangkaikan namanya dengan nama Bunyamin, dia mungkin merujuk pada kedengkian dan kebencian saudara-saudaranya pada masa silam terhadap kedua putra Rahel (bdk. ayat 8 surah ini dan catatan no. 12 yang terkait) atau disebutkannya Bunyamin ini mungkin karena kesiapan mereka dalam menerima “bukti” kesalahan Bunyamin (ayat 77).


Surah Yusuf Ayat 90

قَالُوا أَإِنَّكَ لَأَنْتَ يُوسُفُ ۖ قَالَ أَنَا يُوسُفُ وَهَٰذَا أَخِي ۖ قَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا ۖ إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

qālū a innaka la`anta yụsuf, qāla ana yụsufu wa hāżā akhī qad mannallāhu ‘alainā, innahụ may yattaqi wa yaṣbir fa innallāha lā yuḍī’u ajral-muḥsinīn

90. Mereka berseru, “Mengapa—apakah engkau ini benar-benar Yusuf?”

Dia menjawab, “Aku adalah Yusuf dan ini saudaraku. Allah benar-benar telah mengasihi kami. Sungguh, jika seseorang92 sadar akan Dia dan bersabar dalam menghadapi kesusahan—perhatikanlah, Allah tidak lalai memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebajikan!”


92 Lit., “siapa pun yang …” dan seterusnya.


Surah Yusuf Ayat 91

قَالُوا تَاللَّهِ لَقَدْ آثَرَكَ اللَّهُ عَلَيْنَا وَإِنْ كُنَّا لَخَاطِئِينَ

qālụ tallāhi laqad āṡarakallāhu ‘alainā wa ing kunnā lakhāṭi`īn

91. [Saudara-saudaranya] berkata, “Demi Allah! Allah sungguh telah meninggikan engkau jauh di atas kami dan kami benar-benar hanyalah para pendosa!”


Surah Yusuf Ayat 92

قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ۖ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

qāla lā taṡrība ‘alaikumul-yaụm, yagfirullāhu lakum wa huwa ar-ḥamur-rāḥimīn

92. Berkata dia, “Tiada cercaan yang akan terucap pada hari ini terhadap kalian. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kalian: sebab, Dia-lah yang paling Penyayang di antara para penyayang!


Surah Yusuf Ayat 93

اذْهَبُوا بِقَمِيصِي هَٰذَا فَأَلْقُوهُ عَلَىٰ وَجْهِ أَبِي يَأْتِ بَصِيرًا وَأْتُونِي بِأَهْلِكُمْ أَجْمَعِينَ

iż-habụ biqamīṣī hāżā fa alqụhu ‘alā waj-hi abī ya`ti baṣīrā, wa`tụnī bi`ahlikum ajma’īn

93. [Dan sekarang,] pergi dan bawalah baju gamis milikku ini dan letakkanlah ia ke wajah ayahku, niscaya penglihatannya akan pulih kembali.93 Dan kemudian, datanglah [kembali] kepadaku bersama seluruh keluarga kalian.”


93 Lit., “dia akan melihat [kembali]”—yakni, “dia akan berhenti menangisi aku, dan keburaman penglihatannya yang disebabkan karena derita dan tangis yang terus-menerus akan hilang setelah mengetahui bahwa aku masih hidup”: demikianlah yang dapat disimpulkan dari penjelasan Al-Razi mengenai kalimat di atas. Menurutnya, tidak ada alasan yang memaksa kita untuk berasumsi bahwa Ya’qub benar-benar menjadi buta karena dukacita.

Frasa “letakkanlah ia ke wajah ayahku” bisa juga diterjemahkan menjadi” letakkan ia di hadapan ayahku” karena istilah wajh (lit., “wajah”) dalam bahasa Arab klasik sering digunakan untuk menunjukkan, secara metonimia, kepribadian atau keberadaan seseorang secara keseluruhan.


Surah Yusuf Ayat 94

وَلَمَّا فَصَلَتِ الْعِيرُ قَالَ أَبُوهُمْ إِنِّي لَأَجِدُ رِيحَ يُوسُفَ ۖ لَوْلَا أَنْ تُفَنِّدُونِ

wa lammā faṣalatil-‘īru qāla abụhum innī la`ajidu rīḥa yụsufa lau lā an tufannidụn

94. DAN SEGERA setelah kafilah [yang membawa serta anak-anak Ya’qub] itu berada di tengah perjalanan,94 ayah mereka berkata [kepada orang-orang di sekitarnya], “Perhatikanlah, seandainya kalian tidak akan menganggapku pikun, [aku akan mengatakan bahwa] aku benar-benar merasakan aroma Yusuf [di udara]!”


94 Lit., “telah berangkat”, yakni dari Mesir.


Surah Yusuf Ayat 95

قَالُوا تَاللَّهِ إِنَّكَ لَفِي ضَلَالِكَ الْقَدِيمِ

qālụ tallāhi innaka lafī ḍalālikal-qadīm

95. Mereka menjawab, “Demi Allah! Engkau benar-benar masih tenggelam dalam penyimpangan lamamu!”


Surah Yusuf Ayat 96

فَلَمَّا أَنْ جَاءَ الْبَشِيرُ أَلْقَاهُ عَلَىٰ وَجْهِهِ فَارْتَدَّ بَصِيرًا ۖ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

fa lammā an jā`al-basyīru alqāhu ‘alā waj-hihī fartadda baṣīrā, qāla a lam aqul lakum innī a’lamu minallāhi mā lā ta’lamụn

96. Akan tetapi, ketika pembawa berita gembira itu datang [dengan baju gamis Yusuf], dia meletakkannya ke wajahnya; dan dia dapat melihat kembali, [dan] berseru, “Bukankah aku telah mengatakan kepada kalian, ‘Sungguh, aku mengetahui, dari Allah, sesuatu yang tidak kalian ketahui’?”95


95 Lihat ayat 86.


Surah Yusuf Ayat 97

قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ

qālụ yā abānastagfir lanā żunụbanā innā kunnā khāṭi`īn

97. [Anak-anaknya] menjawab, “Wahai, Ayah kami! Mohonkanlah kepada Allah agar mengampuni kami (karena) dosa-dosa kami karena, sungguh, kami adalah para pendosa.”


Surah Yusuf Ayat 98

قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي ۖ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

qāla saufa astagfiru lakum rabbī, innahụ huwal-gafụrur-raḥīm

98. Dia berkata, “Aku akan memohon kepada Pemeliharaku agar mengampuni kalian: Dia sajalah Yang Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat yang sejati!”


Surah Yusuf Ayat 99

فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَىٰ يُوسُفَ آوَىٰ إِلَيْهِ أَبَوَيْهِ وَقَالَ ادْخُلُوا مِصْرَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ

fa lammā dakhalụ ‘alā yụsufa āwā ilaihi abawaihi wa qāladkhulụ miṣra in syā`allāhu āminīn

99. DAN, KETIKA mereka [semua tiba di Mesir dan] hadir di hadapan Yusuf, dia menarik kedua orangtuanya ke arahnya,96 sambil berkata, “Masuklah ke Mesir! Jika Allah menghendaki, kalian akan aman [dari segala kejahatan]!”


96 Menurut catatan Bibel—yang tidak bertentangan dengan Al-Quran—ibunda Yusuf, Rahel, telah meninggal ketika melahirkan Bunyamin. Karena itu, kita bisa berasumsi bahwa “ibu” yang tersirat dalam istilah “kedua orangtua” adalah istri Ya’qub lainnya, yang telah membesarkan Yusuf dan Bunyamin; asumsi ini sesuai dengan kebiasaan Arab kuno yang mempergunakan kata “ibu” untuk mengacu pada ibu angkat.


Surah Yusuf Ayat 100

وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا ۖ وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا ۖ وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُمْ مِنَ الْبَدْوِ مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي ۚ إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

wa rafa’a abawaihi ‘alal-‘arsyi wa kharrụ lahụ sujjadā, wa qāla yā abati hāżā ta`wīlu ru`yāya ming qablu qad ja’alahā rabbī ḥaqqā, wa qad aḥsana bī iż akhrajanī minas-sijni wa jā`a bikum minal-badwi mim ba’di an nazagasy-syaiṭānu bainī wa baina ikhwatī, inna rabbī laṭīful limā yasyā`, innahụ huwal-‘alīmul-ḥakīm

100. Dan, dia mengangkat kedua orangtuanya ke tempat kehormatan tertinggi;97 dan mereka [semua] merebahkan diri di hadapan-Nya sambil bersujud memuja.98

Kemudian [Yusuf] berkata, “Wahai, Ayahku! Inilah arti sebenarnya dari mimpiku dahulu, yang Pemeliharaku telah menjadikannya suatu kenyataan.99 Dan, Dia benar-benar telah berbuat baik kepadaku ketika Dia membebaskanku dari penjara, dan [ketika] Dia membawa kalian [semua kepadaku] dari gurun, setelah setan menyemaikan perselisihan antara aku dan saudara-saudaraku. Sungguh, Pemeliharaku Maha Tak Terduga dalam [cara-Nya menciptakan] apa pun yang Dia kehendaki:100 sungguh, Dia sajalah Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana!


97 Lit., “ke atas singgasana (al-‘arsy)”, dalam pengertian metaforis kata ini.

98 Menurut ‘Abd Allah ibn ‘Abbas (sebagaimana dikutip Al-Razi), kata ganti personal pada “di hadapan-Nya” (lahu) mengacu pada Allah, sebab mustahil dibayangkan bahwa Yusuf membiarkan kedua orangtuanya bersujud di hadapannya sendiri.

99 Terwujudnya mimpi masa kecil Yusuf adalah dalam hal martabat tinggi yang diperolehnya dan fakta bahwa kedua orangtua beserta saudara-saudaranya telah datang dari Kanaan ke Mesir demi dirinya: sebab, “tidak ada seorang berakal pun yang dapat berharap bahwa perwujudan suatu mimpi harusnya merupakan suatu replika/kejadian yang persis sama dengan mimpi itu sendiri” (Al-Razi, merujuk pada sujud-simbolis sebelas bintang, matahari, dan bulan yang disebutkan dalam ayat 4 surat, ini).

100 Mengenai penerjemahan saya atas kata lathlf sebagai “Maha Tak Terduga”, lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 89. Dalam contoh ini, istilah tersebut memberikan suatu penekanan lebih lanjut, demikianlah kira-kira, terhadap tema bahwa “keputusan [tentang apa yang akan terjadi] hanya ada pada Allah” (ayat 67).


Surah Yusuf Ayat 101

رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ ۚ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

rabbi qad ātaitanī minal-mulki wa ‘allamtanī min ta`wīlil-aḥādīṡ, fāṭiras-samāwāti wal-arḍ, anta waliyyī fid-dun-yā wal-ākhirah, tawaffanī muslimaw wa al-ḥiqnī biṣ-ṣāliḥīn

101. “Wahai, Pemeliharaku! Engkau benar-benar telah menganugerahkan kepadaku suatu kekuasaan,101 dan telah mengajarkan kepadaku sejumlah pengetahuan tentang makna yang lebih dalam dari kejadian-kejadian.102 Pencipta lelangit dan bumi! Engkau dekat denganku di dunia ini dan dalam kehidupan akhirat: perkenankanlah aku mati sebagai seorang yang berserah diri kepada-Mu dan gabungkanlah aku bersama orang-orang saleh!”


101 Lit., “kerajaan”, yang mengindikasikan bahwa kekuasaan dan kerajaan yang mutlak hanyalah milik Allah.

102 Lihat catatan no. 10 pada ayat 6 surah ini.


Surah Yusuf Ayat 102

ذَٰلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ ۖ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ أَجْمَعُوا أَمْرَهُمْ وَهُمْ يَمْكُرُونَ

żālika min ambā`il-gaibi nụḥīhi ilaīk, wa mā kunta ladaihim iż ajma’ū amrahum wa hum yamkurụn

102. BERITA tentang sesuatu yang berada di luar jangkauan pemahamanmu ini Kami wahyukan kepadamu [kini], [wahai Nabi:] sebab, engkau tidak berada bersama saudara-saudara Yusuf103 ketika mereka merencanakan apa yang akan mereka lakukan dan menyusun siasat jahat mereka [terhadapnya].


103 Lit., “bersama mereka”.


Surah Yusuf Ayat 103

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

wa mā akṡarun-nāsi walau ḥaraṣta bimu`minīn

103. Namun—betapapun engkau sangat menginginkannya—kebanyakan manusia tidak akan beriman [pada wahyu ini],


Surah Yusuf Ayat 104

وَمَا تَسْأَلُهُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ ۚ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ

wa mā tas`aluhum ‘alaihi min ajr, in huwa illā żikrul lil-‘ālamīn

104. meskipun engkau tidak meminta balasan apa pun dari mereka untuk itu: ia hanyalah pengingat [dari Allah] bagi seluruh umat manusia.


Surah Yusuf Ayat 105

وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ

wa ka`ayyim min āyatin fis-samāwāti wal-arḍi yamurrụna ‘alaihā wa hum ‘an-hā mu’riḍụn

105. Namun, [kemudian]—betapa banyaknya pertanda yang ada di lelangit dan di atas bumi yang mereka lalui [tanpa merenungkannya], dan yang mereka berpaling darinya!


Surah Yusuf Ayat 106

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

wa mā yu`minu akṡaruhum billāhi illā wa hum musyrikụn

106. Dan, kebanyakan dari mereka bahkan tidak beriman pada Allah tanpa [juga] menisbahkan kuasa-kuasa Ilahi kepada wujud-wujud lain selain-Nya.


Surah Yusuf Ayat 107

أَفَأَمِنُوا أَنْ تَأْتِيَهُمْ غَاشِيَةٌ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ أَوْ تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

a fa aminū an ta`tiyahum gāsyiyatum min ‘ażābillāhi au ta`tiyahumus-sā’atu bagtataw wa hum lā yasy’urụn

107. Maka, apakah mereka merasa aman dari ketakutan yang amat besar akan hukuman Allah yang mungkin akan menimpa mereka, atau bahwa Saat Terakhir akan datang kepada mereka secara tiba-tiba, tanpa mereka sadar [akan kedatangannya]?


Surah Yusuf Ayat 108

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

qul hāżihī sabīlī ad’ū ilallāh, ‘alā baṣīratin ana wa manittaba’anī, wa sub-ḥānallāhi wa mā ana minal-musyrikīn

108. Katakanlah [wahai Nabi]: “Inilah jalanku: berdasarkan pengetahuan sadar yang dapat dijangkau oleh akal, aku menyeru [kalian semua] kepada Allah104—aku dan orang-orang yang mengikutiku.”

Dan [katakanlah:] “Maha Tak Terhingga Allah dalam kemuliaan-Nya; dan aku bukanlah salah seorang di antara orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain-Nya!”


104 Mustahil untuk menerjemahkan ungkapan ‘ala bashirah secara lebih ringkas. Nomina bashirah diderivasikan dari verba bashura atau bashira (“dia menjadi melihat “atau” dia telah melihat”). Kata ini, seperti juga bentuk verbanya, mempunyai pengertian abstrak “melihat dengan pikiran seseorang”: dengan demikian, ia berarti “kemampuan pemahaman yang berdasarkan pengetahuan sadar” serta, secara figuratif, “bukti yang dapat dijangkau oleh akaI” atau “dapat diverifikasi oleh akaI”. Dengan demikian, “seruan kepada Allah” yang diucapkan oleh Nabi digambarkan di sini sebagai hasil dari pengetahuan sadar yang dapat diterima dan dapat diverifikasi oleh akal manusia: sebuah pernyataan yang dengan sempurna menggambarkan pendekatan Al-Quran terhadap semua persoalan iman, etika, dan moralitas, dan digemakan berkali-kali dalam ungkapan-ungkapan seperti “agar kalian menggunakan akal kalian” (la’allakum ta’qilun), atau “maka, tidakkah kalian menggunakan akal kalian?” (afala ta’qilun), atau “agar mereka dapat memahami [kebenaran]” (la’allahum yafqahun), atau “agar kalian dapat berpikir” (la’allakum tatafakkarun); dan, akhirnya, dalam pernyataan yang sering kali diulang, bahwa pesan Al-Quran itu sendiri ditujukan secara khusus “bagi orang-orang yang berpikir” (li qaumin yatafakkarun).


Surah Yusuf Ayat 109

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ ۗ أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۗ وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

wa mā arsalnā ming qablika illā rijālan nụḥī ilaihim min ahlil-qurā, a fa lam yasīrụ fil-arḍi fa yanẓurụ kaifa kāna ‘āqibatullażīna ming qablihim, wa ladārul-ākhirati khairul lillażīnattaqau, a fa lā ta’qilụn

109. Dan, [bahkan] sebelum masamu, Kami tidak pernah mengutus [sebagai rasul-rasul Kami] melainkan manusia [biasa] yang Kami ilhamkan, [dan yang selalu Kami pilih] dari kalangan orang-orang di antara masyarakat-masyarakat [itu sendiri, yang kepadanya wahyu itu hendak disampaikan].105

Maka, tidak pernahkah mereka [yang menolak kitab Ilahi ini] melakukan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan apa yang pada akhirnya terjadi terhadap orang-orang [yang mengingkari kebenaran] itu, yang hidup sebelum mereka?—dan [tidakkah mereka mengetahui bahwa] bagi orang-orang yang sadar akan Allah, kehidupan di akhirat benar-benar lebih baik [daripada dunia ini]? Maka, tidakkah mereka menggunakan akal mereka?


105 Inilah jawaban terhadap keberatan yang sering dikemukakan oleh orang-orang yang tidak beriman, yakni bahwa manusia biasa yang sama seperti mereka tidak mungkin diberi amanat untuk menyampaikan pesan Allah kepada manusia.


Surah Yusuf Ayat 110

حَتَّىٰ إِذَا اسْتَيْأَسَ الرُّسُلُ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوا جَاءَهُمْ نَصْرُنَا فَنُجِّيَ مَنْ نَشَاءُ ۖ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُنَا عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ

ḥattā iżastai`asar-rusulu wa ẓannū annahum qad kużibụ jā`ahum naṣrunā fa nujjiya man nasyā`, wa lā yuraddu ba`sunā ‘anil-qaumil-mujrimīn

110. [Semua rasul terdahulu terpaksa mengalami penganiayaan untuk waktu yang lama;] tetapi akhirnya106—ketika para rasul itu telah kehilangan segala harapan dan melihat diri mereka sendiri dijuluki sebagai para pendusta107—pertolongan Kami datang kepada mereka: kemudian setiap orang yang Kami kehendaki [untuk diselamatkan] (akhirnya) diselamatkan [dan para pengingkar kebenaran dihancurkan]: sebab, hukuman Kami tidak pernah dapat dihindarkan dari orang-orang yang tersesat dalam dosa.


106 Lit., “hingga” (hatta). Ini berhubungan dengan acuan terhadap nabi-nabi terdahulu pada kalimat pertama ayat sebelumnya: implikasinya (menurut Al-Zamakhsyari) adalah bahwa mereka dahulu telah amat lama menderita sebelum mereka ditolong oleh Allah.

107 Lit., “berpikir bahwa mereka telah didustakan”—yakni, didustakan oleh umat mereka sendiri, yang memandang bahwa harapan para nabi akan pertolongan Allah hanyalah angan-angan kosong, ataupun didustakan oleh kenyataan pahit yang tampaknya berlawanan dengan harapan para nabi tersebut, yakni bahwa pertolongan Allah segera datang (Al-Zamakhsyari). Ketika menafsirkan ayat ini, ‘Abd Allah ibn ‘Abbas biasa mengutip Surah Al-Baqarah [2]: 214—”dan begitu terguncangnya mereka sehingga rasul dan orang-orang beriman yang bersamanya berseru, ‘Bilakah pertolongan Allah akan datang?'” (ibid.).


Surah Yusuf Ayat 111

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

laqad kāna fī qaṣaṣihim ‘ibratul li`ulil-albāb, mā kāna ḥadīṡay yuftarā wa lākin taṣdīqallażī baina yadaihi wa tafṣīla kulli syai`iw wa hudaw wa raḥmatal liqaumiy yu`minụn

111. Sesungguhnya, pada kisah orang-orang ini108 terdapat suatu pelajaran bagi orang-orang yang dianugerahi pengetahuan yang mendalam.

[Adapun wahyu ini,109] mustahil ia merupakan wacana yang dibuat-buat [oleh manusia]: sungguh tidak,110 ia adalah [sebuah kitab Ilahi] yang mempertegas kebenaran apa pun yang masih ada [dari wahyu-wahyu terdahulu], yang menjelaskan segala sesuatu sejelas-jelasnya,111 dan [menawarkan] petunjuk dan rahmat kepada orang-orang yang akan beriman.


108 Lit., “dalam kisah-kisah mereka”—yakni, kisah-kisah para nabi.

109 Yakni, Al-Quran secara keseluruhan (Al-Baghawi dan Al-Zamakhsyari). Wacana berikutnya berhubungan dengan ayat 102-105.

110 Lit., “tetapi”—yang di sini menunjukkan kemustahilan bahwa Al-Quran dibuat oleh Nabi Muhammad Saw.

111 Yakni, segala sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk kebahagiaan ruhaninya. Lihat juga Surah Yunus [10]: 37 dan catatan no. 60 yang terkait.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top