10. Yunus (Yunus) – يونس

Surat Yunus dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Yunus ( يونس ) merupakan surah ke 10 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 109 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Yunus tergolong Surat Makkiyah.

Hampir dapat dipastikan bahwa surah ini—yang namanya diambil dari rujukan terhadap “Kaum Yunus” yang disebutkan hanya sekali dalam ayat 98—seluruhnya diwahyukan pada periode Makkah. Peristiwa pewahyuan ini diperkirakan terjadi dalam kurun setahun terakhir sebelum Nabi hijrah ke Madinah. Memang ada sebagian mufasir yang berpendapat bahwa ayat 40 dan ayat 94-95 diturunkan pada periode Madinah, tetapi pendapat tersebut tidak didukung oleh bukti yang meyakinkan. Di sisi lain, tidak diragukan bahwa, secara kronologis, surah ini harus ditempatkan diantara Surah Al-Isra’ [17] dan Surah Hud [11].

Tema utama Surah Yunus adalah wahyu—khususnya wahyu Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Saw, dan mustahilnya wahyu tersebut “dikarang” olehnya dan lalu dengan seenaknya dinisbahkan kepada Allah, sebagaimana dinyatakan oleh para pengingkar kebenaran (ayat 15-17, 37-38, dan 94). Di seputar tema ini, terjalin pula rujukan-rujukan mengenai nabi-nabi terdahulu—yang semuanya didustakan oleh kebanyakan umat mereka—serta paparan multisegi tentang ajaran-ajaran fundamental Islam, yaitu kemahaesaan, keunikan, dan kemahakuasaan Allah, kesinambungan wahyu-Nya kepada umat manusia, kepastian terjadinya kebangkitan dan pengadilan akhir Allah—yang berpuncak pada peringatan (dalam ayat 108) bahwa “siapa pun yang memilih mengikuti jalan yang benar, dia melakukannya untuk kebaikan dirinya sendiri; dan siapa pun yang memilih tersesat, kesesatannya itu hanyalah merugikan dirinya sendiri”.

Daftar Isi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Yunus Ayat 1

الر ۚ تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ

alif lām rā, tilka āyātul-kitābil-ḥakīm

1. Alif. Lam. Ra.1

INI ADALAH PESAN-PESAN kitab Ilahi, yang penuh hikmah.2


1 Lihat artikel Al-Muqatta’at (Huruf-Huruf Terpisah) dalam Al-Qur’an.

2 Istilah hakim—yang, ketika menjadi kata keterangan bagi makhluk hidup, dapat diterjemahkan menjadi “bijaksana”—di sini memiliki konotasi sarana untuk menanamkan kebijaksanaan. Beberapa mufasir klasik (misalnya, Al-Thabari) berpendapat bahwa “kitab Ilahi” (kitab) yang disebutkan di sini adalah Al-Quran secara keseluruhan, sementara mufasir lain (seperti Al-Zamakhsyari) menganggap bahwa istilah ini mengacu pada Surah Yunus ini. Mengingat rangkaian ayatnya, saya berpendapat bahwa penafsiran pertama lebih baik.


Surah Yunus Ayat 2

أَكَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا أَنْ أَوْحَيْنَا إِلَىٰ رَجُلٍ مِنْهُمْ أَنْ أَنْذِرِ النَّاسَ وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا أَنَّ لَهُمْ قَدَمَ صِدْقٍ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۗ قَالَ الْكَافِرُونَ إِنَّ هَٰذَا لَسَاحِرٌ مُبِينٌ

a kāna lin-nāsi ‘ajaban an auḥainā ilā rajulim min-hum an anżirin-nāsa wa basysyirillażīna āmanū anna lahum qadama ṣidqin ‘inda rabbihim, qālal-kāfirụna inna hāżā lasāḥirum mubīn

2. Apakah manusia menganggap aneh bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki dari tengah-tengah mereka sendiri [dengan pesan Kami ini]:3 “Peringatkanlah seluruh manusia, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang telah meraih iman bahwa dalam pandangan Pemelihara mereka, mereka mengungguli semua yang lainnya karena mereka benar-benar tuIus?”4

[Hanya] orang-orang yang mengingkari kebenaran [-lah yang] berkata, “Perhatikanlah, dia jelas-jelas seorang penutur yang memikat!”5


3 Ini berhubungan dengan akhir dari surah sebelumnya, dan khususnya dengan kalimat, “Telah datang kepada kalian [wahai manusia] seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri” (Surah At-Taubah [9]: 128, lihat juga catatan no. 2 pada Surah Qaf [50]: 2).

4 Lit., “mereka terdahulu (qadam) dalam kejujuran (shidq)”. Istilah shidq menunjukkan kesesuaian antara apa yang benar-benar dipahami atau dirasakan oleh seseorang dalam pikirannya dan apa yang dia ungkapkan lewat kata, perbuatan, atau sikap—dengan kata lain, ketulusan yang sempurna.

5 Lit., “Dia benar-benar seorang pemikat* (sahir, enchanter) yang nyata”—jadi, mengimplikasikan bahwa “laki-laki dari kalangan kalian sendiri” (yakni Nabi Muhammad Saw.) tidak benar-benar menerima wahyu dari Allah, tetapi hanya menipu pengikut-pengikutnya melalui kepiawaian berbicaranya yang memikat (yang merupakan arti sihr dalam konteks ini): sebuah tuduhan yang dilontarkan oleh kaum yang tidak beriman di segala zaman, tidak hanya terhadap Muhammad Saw., tetapi—sebagaimana dinyatakan berkali-kali oleh Al-Quran—juga terhadap kebanyakan nabi terdahulu. Dalam konteks ini, istilah “orang-orang yang mengingkari kebenaran” khususnya mengacu pada orang-orang yang secara apriori menolak gagasan wahyu Ilahi dan, karena itu, menolak gagasan kenabian.

* {Oleh Asad, kata sahir kadang-kadang diterjemahkan menjadi sorcerer (ahli sihir) seperti pada Surah Al-A’raf [7]: 109, 112; Yunus [10]: 79; TaHa [20]: 69; Asy-Syu’ara’ [26]: 34, dan sebagainya; dan, kadang-kadang diterjemahkan menjadi “spellbinder” (penutur yang memikat). Spell bisa berarti mantra sihir dan juga pesona. Adapun spellbinder berarti orang yang mampu memikat orang lain dengan tutur katanya. Bdk. catatan no. 12 pada Surah Hud [11] dan catatan no. 12 pada Surah Al-Muddassir [74].—peny.}


Surah Yunus Ayat 3

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۖ مَا مِنْ شَفِيعٍ إِلَّا مِنْ بَعْدِ إِذْنِهِ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

inna rabbakumullāhullażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa fī sittati ayyāmin ṡummastawā ‘alal-‘arsyi yudabbirul-amr, mā min syafī’in illā mim ba’di iżnih, żālikumullāhu rabbukum fa’budụh, a fa lā tażakkarụn

3. SUNGGUH, Pemelihara kalian adalah Allah yang telah menciptakan lelangit dan bumi dalam enam masa, dan bersemayam di atas singgasana kemahakuasaan-Nya,6 yang mengatur segala yang ada. Tiada seorang pun dapat memberi syafaat, kecuali kalau Dia mengizinkannya.7

Yang demikian itu adalah Allah, Pemelihara kalian: karena itu, sembahlah Dia [saja]: maka, tidakkah kalian mengingat ini?


6 Lihat Surah Al-A’raf [7], catatan no. 43. Karena kepercayaan terhadap wahyu Ilahi tentunya mensyaratkan kepercayaan pada keberadaan Allah sebagai Sumber swamandiri dari segala wujud, rujukan terhadap wahyu Al-Quran yang membuka surah ini kemudian diikuti oleh sebuah pembahasan tentang kekuasaan mencipta yang dimiliki Allah.

7 Lit., “tiada perantara apa pun, kecuali setelah izin-Nya [diberikan]”. Bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 255—”Siapakah yang dapat memberi syafaat bersama-Nya, kecuali dengan izin-Nya?” Jadi, Al-Quran menolak keyakinan populer tentang “syafaat” mutlak para wali atau nabi, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Sebagaimana ditunjukkan di tempat lain dalam Al-Quran (misalnya, dalam Surah ThaHa [20]: 109, Surah Al-Anbiya’ [21]: 28, atau Surah Saba’ [34]: 23), Allah akan memberi izin kepada nabi-nabi-Nya pada Hari Pengadilan untuk “memberikan syafaat”, secara simbolis, bagi pendosa-pendosa yang kelak telah meraih ridha (penerimaan)-Nya lantaran tobat atau kebaikan-kebaikan dasariah mereka (lihat Surah Maryam [19]: 87 dan catatan no. 74): dengan kata lain, hak “memberikan syafaat” yang diberikan kepada para nabi itu hanyalah merupakan ekspresi persetujuan Allah terhadap para nabi itu. Lebih jauh, penolakan terhadap kemungkinan pemberian syafaat secara mutlak yang dikemukakan dalam ayat di atas menekankan, secara tidak langsung, bukan saja sifat kemahatahuan Allah—yang tidak memerlukan “perantara”—melainkan juga sifat tidak berubah-ubahnya kehendak Allah: jadi, ini berhubungan dengan pernyataan sebelumnya tentang kemahakuasaan-Nya. (Lihat juga catatan no. 27.)


Surah Yunus Ayat 4

إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا ۖ وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا ۚ إِنَّهُ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ بِالْقِسْطِ ۚ وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ شَرَابٌ مِنْ حَمِيمٍ وَعَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ

ilaihi marji’ukum jamī’ā, wa’dallāhi ḥaqqā, innahụ yabda`ul-khalqa ṡumma yu’īduhụ liyajziyallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti bil-qisṭ, wallażīna kafarụ lahum syarābum min ḥamīmiw wa ‘ażābun alīmum bimā kānụ yakfurụn

4. Kepada-Nya-lah kalian semua pasti kembali: ini, dengan sebenarnya, adalah janji Allah—sebab, perhatikanlah, Dia menciptakan [manusia] dalam kejadian pertama, kemudian mengulangi (penciptaan)nya lagi8 agar Dia dapat membalas dengan adil semua orang yang meraih iman dan berbuat kebajikan; sedangkan, bagi orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran, ada seteguk keputusasaan yang membara dan derita yang pedih karena keberkukuhan mereka untuk menolak mengakui kebenaran.9


8 Yakni, Dia akan membangkitkannya melalui tindak penciptaan yang baru. Bahwa verba yu’iduhu (“Dia mengulanginya lagi”) di sini mengacu pada kebangkitan manusia secara individu, terlihat jelas dari rangkaian ayat selanjutnya. Nomina khalq utamanya berarti “penciptaan” (yakni mewujudkan sesuatu yang sebelumnya tidak ada); dan, ia juga berarti hasil atau objek penciptaan, yakni “makhluk” (atau “makhluk-makhluk”); akhirnya, ia digunakan dalam pengertian “manusia” dalam konotasi generik dari kata ini, yakni “umat manusia”.

9 Untuk terjemahan saya atas istilah “hamim” menjadi “keputusasaan yang membara”, lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 62.


Surah Yunus Ayat 5

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

huwallażī ja’alasy-syamsa ḍiyā`aw wal-qamara nụraw wa qaddarahụ manāzila lita’lamụ ‘adadas-sinīna wal-ḥisāb, mā khalaqallāhu żālika illā bil-ḥaqq, yufaṣṣilul-āyāti liqaumiy ya’lamụn

5. Dia-lah yang telah menjadikan matahari sebagai [sumber] sinar yang memancar dan bulan sebagai cahaya [yang dipantulkan],10 dan telah menetapkan baginya fase-fase sehingga kalian dapat mengetahui bagaimana menentukan tahun-tahun dan mengukur [waktu]. Tiada satu pun dari ini yang telah Allah ciptakan tanpa kebenaran [hakiki].11

Dia menjelaskan pesan-pesan ini dengan sejelas-jelasnya kepada orang-orang yang memiliki pengetahuan [bawaan]:


10 Nomina dhiya’ dan nur sering dapat dipertukarkan satu sama lain karena keduanya menunjukkan “cahaya”; namun, banyak filolog berpendapat bahwa istilah dhiya’ (atau dhau’) memiliki konotasi yang lebih intensif, dan biasa digunakan untuk menggambarkan “sinar yang berasal dari dirinya sendiri, seperti sinar matahari dan api”—yakni, sebuah sumber cahaya. Adapun nur berarti “cahaya yang memancar karena sesuatu yang lain” (Lane V, h. 1809, bersumber dari Taj Al-‘Arus): dengan kata lain, cahaya karena sumber eksternal atau—seperti halnya bulan—cahaya yang dipantulkan.

11 Lit., “Allah tidak menciptakan ini melainkan sesuai dengan kebenaran”—yakni, untuk memenuhi tujuan yang tertentu menurut hikmah perencanaan-Nya (Al-Zamakhsyari, Al-Baghawi, Al-Razi): ini mengimplikasikan bahwa segala sesuatu di alam semesta—apakah yang ada atau berpotensi ada, konkret maupun abstrak—adalah penuh makna, dan tidak ada yang “kebetulan”. Bdk. Surah Al-‘Imran [3]: 191—”Wahai, Pemelihara kami! Tidaklah Engkau ciptakan [semua] ini tanpa makna dan tujuan (bathilan)”; dan Surah Sad [38]: 27—”tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya tanpa makna dan tujuan, sebagaimana sangkaan (zhann) orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran itu”.


Surah Yunus Ayat 6

إِنَّ فِي اخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَّقُونَ

inna fikhtilāfil-laili wan-nahāri wa mā khalaqallāhu fis-samāwāti wal-arḍi la`āyātil liqaumiy yattaqụn

6. sebab, sungguh, dalam pergantian malam dan siang, dan dalam segala sesuatu yang telah Allah ciptakan di lelangit dan di bumi, sungguh terdapat pesan-pesan bagi orang-orang yang sadar akan Allah!


Surah Yunus Ayat 7

إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ

innallażīna lā yarjụna liqā`ana wa raḍụ bil-ḥayātid-dun-yā waṭma`annụ bihā wallażīna hum ‘an āyātinā gāfilụn

7. Sungguh, adapun mengenai orang-orang yang tidak percaya bahwa mereka ditakdirkan untuk bertemu dengan Kami,12 tetapi berpuas diri dengan kehidupan dunia ini dan tidak melihat di luar itu,13 dan yang lalai akan pesan-pesan Kami—


12 Lit., “yang tidak mengharapkan [yakni ‘menduga’] pertemuan dengan Kami”: menunjukkan bahwa mereka tidak beriman pada kehidupan setelah mati atau pada pengadilan akhir Allah.

13 Lit., “merasa tenteram dengannya”—yakni, memandang kehidupan di dunia ini sebagai satu-satunya kenyataan, dan menolak gagasan tentang kebangkitan dengan menganggapnya sebagai impian khayal belaka.


Surah Yunus Ayat 8

أُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

ulā`ika ma`wāhumun-nāru bimā kānụ yaksibụn

8. tempat kembali mereka adalah api sebagai balasan atas semua [kejahatan] yang biasa mereka kerjakan.


Surah Yunus Ayat 9

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُمْ بِإِيمَانِهِمْ ۖ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ

innallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti yahdīhim rabbuhum bi`īmānihim, tajrī min taḥtihimul-an-hāru fī jannātin-na’īm

9. [Namun,] sungguh, adapun orang-orang yang telah meraih iman dan berbuat kebajikan—Pemelihara mereka memberi mereka petunjuk (ke jalan) yang benar melalui keimanan mereka. [Dalam kehidupan akhirat,] sungai-sungai akan mengalir di bawah kaki-kaki mereka14 di dalam taman-taman kenikmatan;


14 Lit., “di bawah mereka”.


Surah Yunus Ayat 10

دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ ۚ وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

da’wāhum fīhā sub-ḥānakallāhumma wa taḥiyyatuhum fīhā salām, wa ākhiru da’wāhum anil-ḥamdu lillāhi rabbil ‘ālamīn

10. [dan] dalam [keadaan bahagia] itu, mereka akan berseru,15 “Maha Tak Terhingga kemuliaan-Mu, wahai Allah!”—dan akan dijawab dengan sambutan “Kedamaian!”16 Dan, seruan mereka akan ditutup dengan [kata-kata], “Segala puji bagi Allah, Pemelihara seluruh alam!”


15 Lit., “doa (da’wa) mereka di dalamnya [adalah] …” dst.

16 Lit., “sambutan mereka di dalamnya [kelak adalah], ‘Kedamaian'”. Untuk penjelasan istilah salam dan konotasi dasarnya, yakni kedamaian batin, ketenteraman, dan keamanan dari segala kejahatan, lihat Surah Al-Ma’idah [5], catatan no. 29.


Surah Yunus Ayat 11

وَلَوْ يُعَجِّلُ اللَّهُ لِلنَّاسِ الشَّرَّ اسْتِعْجَالَهُمْ بِالْخَيْرِ لَقُضِيَ إِلَيْهِمْ أَجَلُهُمْ ۖ فَنَذَرُ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

walau yu’ajjilullāhu lin-nāsisy-syarrasti’jālahum bil-khairi laquḍiya ilaihim ajaluhum, fa nażarullażīna lā yarjụna liqā`anā fī ṭugyānihim ya’mahụn

11. DAN, SEANDAINYA ALLAH menyegerakan bagi manusia keburukan [yang patut mereka terima karena dosa mereka] sebagaimana mereka [sendiri] akan menyegerakan [datangnya kepada mereka apa yang mereka anggap sebagai] kebaikan, akhir ajal mereka pastilah akan datang seketika!17 Namun, Kami biarkan mereka [untuk sementara]—semua orang yang tidak percaya bahwa mereka ditakdirkan untuk bertemu dengan Kami:18 [Kami biarkan mereka] dalam kesombongan mereka yang keterlaluan, tersandung ke sana kemari dalam keadaan buta.


17 Lit., “[akhir] ajal mereka pastilah telah ditetapkan untuk mereka”: implikasinya, pertama, manusia adalah lemah (bdk. Surah An-Nisa’ [41]: 28) dan, karena itu, cenderung berbuat dosa; kedua, bahwa Allah “telah menetapkan atas diri-Nya hukum rahmat dan belas kasih” (lihat Surah Al-An’am [6]: 12 dan catatannya) dan, karena itu, tidak menghukum para pendosa tanpa mempertimbangkan keadaan mereka dan memberi waktu untuk bertobat dan memperbaiki jalan mereka.

18 Lihat ayat 7, yang berkaitan dengan ayat ini.


Surah Yunus Ayat 12

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَسَّهُ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

wa iżā massal-insānaḍ-ḍurru da’ānā lijambihī au qā’idan au qā`imā, fa lammā kasyafnā ‘an-hu ḍurrahụ marra ka`al lam yad’unā ilā ḍurrim massah, każālika zuyyina lil-musrifīna mā kānụ ya’malụn

12. Karena [demikianlah:] tatkala kesusahan menimpa manusia, dia berseru kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri;19 tetapi, begitu Kami hilangkan darinya kesusahannya, dia melanjutkan (hidupnya) seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk menyelamatkannya dari kesusahan20 yang menimpanya! Demikianlah, bagi orang-orang yang memubazirkan dirinya sendiri, perbuatan-perbuatan mereka sendiri itu menjadi tampak baik.21


19 Tiga ungkapan metaforis ini sering digunakan dalam Al-Quran untuk menggambarkan berbagai keadaan yang dialami manusia. “Seruan kepada Allah” di bawah tekanan kesengsaraan menggambarkan reaksi naluriah banyak orang yang menganggap diri mereka sebagai “kaum agnostik” dan yang dalam pikiran sadar mereka menolak beriman kepada Allah. Lihat juga ayat 22-23, serta Surah Al-An’am [6]: 40-41.

20 Lit., “berseru kepada Kami melawan (ila) kesusahan”.

21 Ungkapan musrif—yang kerap menunjukkan “seorang yang melakukan hal-hal yang melampaui batas” atau “yang terbiasa melampaui batas” (misalnya, dalam Surah Al-Ma’idah [5]: 32 atau Surah Al-A’raf [7]: 81) atau “orang yang boros” (wasteful; sebagaimana pada Surah Al-An’am [6]: 141)—dalam konteks di atas bermakna “seorang yang memubazirkan dirinya sendiri” (one who wastes his own self; Al-Razi)—yakni, menghancurkan potensi ruhaniahnya dengan hanya mengtkuti hasrat-hasrat rendahnya dan tidak mematuhi aturan moral apa pun. (Bdk. ungkapan yang sangat mirip, alladzina khasiru anfusahum, yang terdapat di banyak tempat dan yang saya terjemahkan menjadi “orang-orang yang rnenyia-nyiakan [squander] diri mereka sendiri”.) Dalam pengertian yang digunakan di sini, istilah israf (lit., “pemborosan” atau “tidak bersikap seimbang dalam perbuatan”) hampir sama artinya dengan istilah thughyan (“kesombongan yang melampaui batas”) yang terdapat dalam ayat sebelumnya (Al-Manar XI, h. 314), dan berhubungan dengan tipe manusia yang sama. Frasa “perbuatan-perbuatan mereka sendiri itu menjadi tampak baik [bagi mereka]” menggambarkan kepuasan-diri yang buta yang dipraktikkan dalam kehidupan oleh “orang-orang yang memubazirkan dirinya sendiri”.


Surah Yunus Ayat 13

وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَمَّا ظَلَمُوا ۙ وَجَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ وَمَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ

wa laqad ahlaknal-qurụna ming qablikum lammā ẓalamụ wa jā`at-hum rusuluhum bil-bayyināti wa mā kānụ liyu`minụ, każālika najzil-qaumal-mujrimīn

13. Dan, sesungguhnya, Kami hancurkan [seluruh] generasi sebelum masa kalian ketika mereka [terus-menerus] melakukan keburukan meskipun rasul-rasul yang diutus kepada mereka membawakan mereka semua bukti kebenaran; karena mereka menolak mengimani [mereka]. Demikianlah Kami membalas orang-orang yang tenggelam dalam dosa.22


22 Bdk. Surah Al-An’am [6]: 131-132. Frasa yang saya terjemahkan menjadi “rasul-rasul yang diutus kepada mereka”, secara harfiah berbunyi “rasul-rasul mereka”. Penolakan para pendosa untuk beriman diungkapkan dalam teks ini dengan susun an kalimat wa ma kanu li yu’minu.


Surah Yunus Ayat 14

ثُمَّ جَعَلْنَاكُمْ خَلَائِفَ فِي الْأَرْضِ مِنْ بَعْدِهِمْ لِنَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ

ṡumma ja’alnākum khalā`ifa fil-arḍi mim ba’dihim linanẓura kaifa ta’malụn

14. Kemudian, Kami jadikan kalian pengganti-pengganti mereka di muka bumi agar Kami dapat memperhatikan bagaimana kalian bertindak.


Surah Yunus Ayat 15

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ ۙ قَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا ائْتِ بِقُرْآنٍ غَيْرِ هَٰذَا أَوْ بَدِّلْهُ ۚ قُلْ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أُبَدِّلَهُ مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِي ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ ۖ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

wa iżā tutlā ‘alaihim āyātunā bayyināting qālallażīna lā yarjụna liqā`ana`ti biqur`ānin gairi hāżā au baddil-h, qul mā yakụnu lī an ubaddilahụ min tilqā`i nafsī, in attabi’u illā mā yụḥā ilayy, innī akhāfu in ‘aṣaitu rabbī ‘ażāba yaumin ‘aẓīm

15. DAN [demikianlah:] manakala pesan-pesan Kami disampaikan kepada mereka dengan segala kejelasannya, orang-orang yang tidak percaya bahwa mereka ditakdirkan untuk bertemu dengan Kami [biasa] berkata, “Bawakanlah kami sebuah wacana yang lain daripada ini atau gantilah yang ini.”23

Katakanlah [wahai Nabi]: “Tidaklah mungkin aku menggantinya atas kemauanku sendiri; aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku. Perhatikanlah, aku takut kepada derita [yang akan menimpaku] pada Hari [Pengadilan] yang dahsyat itu, seandainya aku berontak melawan Pemeliharaku!”


23 Dengan kata lain, “untuk menyesuaikan pandangan kami sendiri tentang apa yang benar dan apa yang salah”. Ini secara tidak langsung mengacu pada kritik-subjektif terhadap etika dan eskatologi Al-Quran yang dikemukakan oleh banyak golongan agnostik (baik pada masa Nabi maupun masa-masa sesudahnya), dan terutama pada pandangan mereka bahwa Al-Quran “dikarang” oleh Nabi Muhammad Saw. sendiri dan, oleh karena itu, hanya mengungkapkan keyakinan-keyakinan personalnya.

Berkenaan dengan frasa “orang-orang yang tidak percaya bahwa mereka ditakdirkan untuk bertemu dengan Kami”, lihat catatan no. 12.


Surah Yunus Ayat 16

قُلْ لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا تَلَوْتُهُ عَلَيْكُمْ وَلَا أَدْرَاكُمْ بِهِ ۖ فَقَدْ لَبِثْتُ فِيكُمْ عُمُرًا مِنْ قَبْلِهِ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

qul lau syā`allāhu mā talautuhụ ‘alaikum wa lā adrākum bihī fa qad labiṡtu fīkum ‘umuram ming qablih, a fa lā ta’qilụn

16. Katakanlah: “Seandainya Allah menghendakinya [lain], aku tidak menyampaikan [kitab Ilahi] ini kepada kalian, tidak pula Dia memberitahukannya kepada kalian. Sesungguhnya, aku telah tinggal bersama kalian sepanjang hayat sebelum [wahyu] ini [datang kepadaku]: maka, tidakkah kalian menggunakan akal kalian?”24


24 Argumen ini—yang diucapkan Nabi—memiliki implikasi ganda. Sejak masa mudanya, Nabi Muhammad Saw. terkenal dengan kejujuran dan integritasnya sedemikian rupa sehingga banyak penduduk Makkah memberinya julukan Al-Amin (“Yang Tepercaya”). Di samping itu, dia tidak pernah mengarang sebaris puisi pun (dan ini berlawanan dengan kecenderungan yang meluas di kalangan orang-orang Arab pada masanya), dan dia tidak pula dikenal memiliki kefasihan bertutur. Pertanyaannya, “Maka, bagaimana bisa kalian mencocokkan pendirian kalian sebelumnya—yang didasarkan pada pengalaman sepanjang hayat—bahwa Muhammad Saw. tidak mungkin berkata dusta, dengan pendirianmu kini bahwa dia sendiri yang mengarang Al-Quran dan kini, dengan penuh kebohongan, menisbahkannya sebagai wahyu Ilahi? Dan, bagaimana mungkin dia yang—hingga umur 40 tahun—tidak pernah menunjukkan bakat-bakat puitis atau filosofis, dan bahkan dikenal buta huruf (ummi) telah menyusun sebuah karya yang demikian sempurna bahasanya, yang begitu sarat dengan wawasan psikologisnya, dan begitu menarik logika internalnya, seperti AI-Quran ini?”


Surah Yunus Ayat 17

فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْمُجْرِمُونَ

fa man aẓlamu mim maniftarā ‘alallāhi każiban au każżaba bi`āyātih, innahụ lā yufliḥul-mujrimụn

17. Dan, siapakah yang lebih zalim daripada mereka yang menisbahkan rekaan-rekaan dusta mereka itu sendiri kepada Allah atau mendustakan pesan-pesan-Nya? Sungguh, orang-orang yang tenggelam dalam dosa tidak akan pernah meraih keadaan bahagia25


25 Yakni, dalam kehidupan akhirat. Dalam konteks ini, “menisbahkan rekaan-rekaan dusta seseorang kepada Allah” tampaknya secara khusus mengacu pada tuduhan tak berdasar bahwa Muhammad Saw. sendirilah yang mengarang Al-Quran dan kemudian menisbahkannya kepada Allah; dan “mendustakan pesan-pesan-Nya” mengacu pada sikap orang-orang yang membuat tuduhan seperti itu dan, karena itu, menolak Al-Quran (Al-Razi).


Surah Yunus Ayat 18

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

wa ya’budụna min dụnillāhi mā lā yaḍurruhum wa lā yanfa’uhum wa yaqụlụna hā`ulā`i syufa’ā`unā ‘indallāh, qul a tunabbi`ụnallāha bimā lā ya’lamu fis-samāwāti wa lā fil-arḍ, sub-ḥānahụ wa ta’ālā ‘ammā yusyrikụn

18. dan, [tidak pula akan meraih keadaan bahagia] mereka [yang] menyembah, di samping Allah, benda-benda atau makhluk-makhluk yang tidak dapat merugikan maupun menguntungkan mereka, seraya berkata [kepada diri mereka sendiri], “Inilah perantara-perantara kami dengan Allah!”26

Katakanlah: “Apakah kalian [menyangka bahwa kalian dapat] memberitahukan kepada Allah tentang sesuatu yang ada di lelangit atau di bumi yang tidak Dia ketahui?27 Maha Tak Terhingga kemuliaan Dia dan Mahatinggi (Dia) melampaui segala sesuatu yang mungkin manusia persekutukan dengan-Nya!”


26 Dengan demikian, wacana ini kembali kepada masalah “pemberi syafaat” {intercessor, perantara—peny.} yang disinggung dalam ayat 3 surah ini. Secara harfiah, permulaan kalimat ini berbunyi demikian: “Dan, mereka menyembah sesuatu yang tidak merugikan maupun menguntungkan mereka”—sebuah ungkapan yang mengacu baik pada penggambaran-penggambaran konkret maupun citra-citra konseptual. Hendaknya diperhatikan bahwa “mereka” yang dirujuk secara eliptis di sini tidak identik dengan orang-orang yang dibicarakan sebelumnya sebagai “orang-orang yang tidak percaya bahwa mereka ditakdirkan untuk bertemu dengan Kami” (dengan kata lain, orang-orang yang mengingkari realitas kebangkitan dan Hari Pengadilan): sebab, orang-orang yang dibicarakan dalam ayat di atas jelas-jelas beriman—sekalipun dengan sikap yang membingungkan—pada kehidupan setelah mati dan pertanggungjawaban manusia di hadapan Allah, sebagaimana terlihat dari pernyataan bahwa mereka menyembah “perantara-perantara” imajiner “bersama Allah”.

27 Jadi, keyakinan bahwa seseorang memiliki kemampuan memberi syafaat secara mutlak bersama dengan Allah, atau bahwa seseorang dapat menjadi perantara antara manusia dengan-Nya, di sini disamakan dengan pengingkaran terhadap kemahatahuan Allah, yang mempertimbangkan secara apriori semua hal yang menyangkut keadaan si pendosa dan dosa yang dilakukannya. (Mengenai pemberian izin simbolis kepada nabi-nabi-Nya untuk “memberi syafaat” bagi pengikut-pengikut mereka pada Hari Pengadilan, lihat catatan no. 7.)


Surah Yunus Ayat 19

وَمَا كَانَ النَّاسُ إِلَّا أُمَّةً وَاحِدَةً فَاخْتَلَفُوا ۚ وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ فِيمَا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

wa mā kānan-nāsu illā ummataw wāḥidatan fakhtalafụ, walau lā kalimatun sabaqat mir rabbika laquḍiya bainahum fīmā fīhi yakhtalifụn

19. DAN [ketahuilah bahwa] dahulunya, seluruh umat manusia adalah umat yang tunggal, dan baru pada masa kemudianlah mereka mulai menganut pandangan yang berbeda-beda.28 Dan, seandainya bukan karena suatu ketetapan yang telah datang dari Pemeliharamu, seluruh perbedaan mereka pastilah telah diselesaikan [sejak awal].29


28 Lit., “dan kemudian mereka berselisih [di antara mereka sendiri]”. Untuk penjelasan mengenai istilah “umat yang tunggal” (ummah wahidah), lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 197. Dalam konteks ini, ungkapan ini menyinggung bukan hanya homogenitas umat manusia pada suatu waktu tertentu pada masa silam, melainkan juga—secara tersirat—fakta, yang berulang-ulang ditekankan dalam Al-Quran (misalnya, dalam Surah Al-A’raf [7]: 172), bahwa kemampuan untuk menyadari keberadaan, keesaan, dan kemahakuasaan Allah merupakan bawaan naluriah pada manusia, dan bahwa segala penyimpangan dari persepsi dasar ini adalah akibat dari kebingungan yang disebabkan oleh pengasingan terus-menerus manusia dari naluri-naluri bawaannya itu.

29 Lit., “pasti telah diputuskan di antara mereka mengenai semua yang mereka perselisihkan”: yakni, kalau bukan karena “keputusan Allah”—yang dalam konteks ini merupakan makna dari istilah kalimah (lit., “kata”)—yang menetapkan bahwa manusia pasti berselisih dalam hal pendekatan intelektual mereka terhadap masalah-masalah yang disinggung oleh wahyu Ilahi, “mereka tidak akan menentang satu sama lain setelah menerima semua bukti kebenaran”, tetapi akan terus-menerus menganut pandangan yang sama sejak awal hingga kini (bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 253 dan catatan no. 245). Namun, karena keseragaman seperti itu dapat menghalangi perkembangan intelektual, moral, dan sosial manusia, Allah telah menyerahkan pada akal manusia, yang dibantu dengan petunjuk kenabian, untuk menemukan jalan menuju kebenaran secara berangsur-angsur. (Lihat juga Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 198.) Pasase sisipan di atas hendaknya dibaca dalam kaitannya dengan Surah Al-Baqarah [2]: 213.


Surah Yunus Ayat 20

وَيَقُولُونَ لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ ۖ فَقُلْ إِنَّمَا الْغَيْبُ لِلَّهِ فَانْتَظِرُوا إِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُنْتَظِرِينَ

wa yaqụlụna lau lā unzila ‘alaihi āyatum mir rabbih, fa qul innamal-gaibu lillāhi fantaẓirụ, innī ma’akum minal-muntaẓirīn

20. DAN, MEREKA [yang mengingkari kebenaran] biasa berkata, “Mengapa tidak pernah diturunkan kepadanya suatu tanda yang ajaib oleh Pemeliharanya?”30

Maka, katakanlah: “Milik Allah sajalah pengetahuan mengenai hal-hal yang berada di luar jangkauan persepsi manusia.31 Maka, tunggulah, [hingga kehendak-Nya menjadi nyata:] sungguh, aku akan menunggu bersama kalian!”


30 Yakni, kepada Muhammad Saw., untuk “membuktikan” bahwa dia benar-benar seorang pembawa pesan Allah (sebuah keberatan skeptis yang melanjutkan kembali tema yang dibicarakan dalam ayat 1-2 dan ayat 15-17 ); lihat juga Surah Al-An’am [6]: 37 dan 109 serta catatan-catatannya, khususnya catatan no. 94. Kata ganti “mereka” mengacu pada dua kategori pengingkar kebenaran yang dibicarakan dalam bagian-bagian sebelumnya: yakni, kaum ateis atau agnostik, “yang tidak percaya bahwa mereka ditakdirkan untuk bertemu dengan Allah”, serta orang-orang yang, sementara beriman kepada Allah, “menisbahkan sekutu dalam ketuhanan-Nya” kepada segala bentuk perantara atau penengah khayali (lihat ayat 18).

31 Jawaban ini berhubungan tidak hanya dengan pertanyaan mengapa Allah tidak menganugerahkan kepada Muhammad Saw. sebuah “pertanda kemukjizatan” yang membuktikan kenabiannya, tetapi juga dengan “mengapa” dia dipilih untuk menjalankan misi kenabian itu. Dalam kaitan ini, lihat Surah Al-Baqarah [2]: 105 (“Allah mengkhususkan rahmat-Nya bagi siapa saja yang Dia kehendaki) dan Surah Al-‘Imran [3]: 73-74 (“Allah Maha Tak Terhingga, Maha Mengetahui dalam mengkhususkan rahmat-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki”).


Surah Yunus Ayat 21

وَإِذَا أَذَقْنَا النَّاسَ رَحْمَةً مِنْ بَعْدِ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُمْ إِذَا لَهُمْ مَكْرٌ فِي آيَاتِنَا ۚ قُلِ اللَّهُ أَسْرَعُ مَكْرًا ۚ إِنَّ رُسُلَنَا يَكْتُبُونَ مَا تَمْكُرُونَ

wa iżā ażaqnan-nāsa raḥmatam mim ba’di ḍarrā`a massat-hum iżā lahum makrun fī āyātinā, qulillāhu asra’u makrā, inna rusulana yaktubụna mā tamkurụn

21. Dan, [demikianlah:] manakala Kami membiarkan manusia [yang seperti itu]32 merasakan [sebagian dari] rahmat [Kami] sesudah kesukaran menimpa mereka—lihatlah! mereka segera beralih merekayasa dalil-dalil batil melawan pesan-pesan Kami.33

Katakanlah: “Allah lebih cepat [daripada kalian] dalam rekayasa-Nya yang tidak terduga!”

Perhatikanlah, utusan-utusan [samawi] Kami sedang mencatat semua yang mungkin kalian rekayasakan!


32 Yakni, dua kategori manusia yang diacu dalam ayat 7, 11, 12, 15, 18, dan 20.

33 Lit, “mereka segera memiliki siasat jahat (makar) melawan pesan-pesan Kami”. (Partikel idza, yang mengawali anak kalimat ini, dimaksudkan untuk menonjolkan unsur kesegeraan, dan paling tepat diterjemahkan menjadi “lihatlah! mereka segera …” dan seterusnya.) Karena pesan-pesan Allah semata-mata bersifat konseptual, “siasat jahat melawan pesan-pesan itu” jelas-jelas mengandung arti menyusun dalil-dalil sesat yang dimaksudkan untuk menimbulkan keraguan tentang asal-usul Ilahi dari pesan-pesan ini atau untuk “menyangkal” pernyataan-pernyataan yang ada di dalamnya. Wacana tentang psikologi agnostisisme dan keyakinan yang setengah-setengah di atas dilanjutkan dengan tamsil penumpang kapal yang diuraikan dalam dua ayat berikutnya.


Surah Yunus Ayat 22

هُوَ الَّذِي يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ ۙ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ هَٰذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ

huwallażī yusayyirukum fil-barri wal-baḥr, ḥattā iżā kuntum fil-fulk, wa jaraina bihim birīḥin ṭayyibatiw wa fariḥụ bihā jā`at-hā rīḥun ‘āṣifuw wa jā`ahumul-mauju ming kulli makāniw wa ẓannū annahum uḥīṭa bihim da’awullāha mukhliṣīna lahud-dīn, la`in anjaitanā min hāżihī lanakụnanna minasy-syākirīn

22. Dia-lah yang menjadikan kalian dapat bepergian di darat dan di laut. Dan, [perhatikanlah apa yang terjadi] ketika kalian pergi ke laut di dalam bahtera:34 [mereka pergi ke laut di dalam bahtera,] dan mereka berlayar di atasnya dengan tiupan angin yang menyenangkan, dan mereka bergembira karenanya—hingga datang kepada mereka angin badai, dan ombak yang melanda mereka dari segala penjuru, sehingga mereka yakin bahwa mereka terkepung [oleh kematian; dan kemudian] mereka berdoa kepada Allah, [pada saat itu] tulus dalam keyakinan mereka kepada-Nya semata, “Jika saja Engkau menyelamatkan kami dari ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur!”


34 Lit., “hingga, ketika kalian berada di dalam bahtera …” dan seterusnya. Sebagaimana ditunjukkan oleh Al-Zamakhsyari, partikel “hingga” (hatta) yang mengawali kalimat ini mengacu pada munculnya angin badai secara tiba-tiba yang diuraikan dalam lanjutan ayat ini, dan bukan pada “pergi ke laut di dalam bahtera”. Hendaknya diperhatikan bahwa, pada titik ini, wacana berubah secara tiba-tiba dari kata ganti “kalian” menjadi kata ganti orang ketiga jamak (“mereka”): sebuah susunan kalimat yang dengan jelas dimaksudkan untuk menonjolkan watak alegoris dari narasi berikutnya dan untuk menjadikannya sebagai pelajaran yang berlaku umum.


Surah Yunus Ayat 23

فَلَمَّا أَنْجَاهُمْ إِذَا هُمْ يَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۗ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا بَغْيُكُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ ۖ مَتَاعَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا مَرْجِعُكُمْ فَنُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

fa lammā anjāhum iżā hum yabgụna fil-arḍi bigairil-ḥaqq, yā ayyuhan-nāsu innamā bagyukum ‘alā anfusikum matā’al-ḥayātid-dun-yā ṡumma ilainā marji’ukum fa nunabbi`ukum bimā kuntum ta’malụn

23. Namun, begitu Allah menyelamatkan mereka dari [bahaya] ini, lihatlah! mereka berperilaku secara keterlaluan di muka bumi, dengan melanggar segala (nilai) kebenaran!35

Wahai, manusia! Semua perbuatan keterlaluan kalian pasti akan menimpa diri kalian sendiri!36 [Kalian hanya peduli pada] kesenangan hidup di dunia ini: [tetapi ingatlah bahwa] pada akhirnya kepada Kami-lah kalian pasti kembali, kemudian Kami akan menjadikan kalian benar-benar memahami semua yang kalian kerjakan [dalam kehidupan].


35 Lihat ayat 12 (yang dijelaskan secara parabolis melalui ilustrasi di atas) dan catatan-catatannya.

36 Lit., “keterlaluan (baghy) kalian hanyalah terhadap diri kalian sendiri”. Bdk. ungkapan Al-Quran yang berulang-ulang disebutkan, “mereka telah berbuat dosa terhadap diri mereka sendiri” (zhalamu anfusahum, lit., “mereka telah. menzalimi diri mereka sendiri”), yang menunjukkan bahwa setiap perbuatan buruk pasti akan merugikan pelakunya secara ruhani.


Surah Yunus Ayat 24

إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالْأَنْعَامُ حَتَّىٰ إِذَا أَخَذَتِ الْأَرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلًا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا كَأَنْ لَمْ تَغْنَ بِالْأَمْسِ ۚ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

innamā maṡalul-ḥayātid-dun-yā kamā`in anzalnāhu minas-samā`i fakhtalaṭa bihī nabātul-arḍi mimmā ya`kulun-nāsu wal-an’ām, ḥattā iżā akhażatil-arḍu zukhrufahā wazzayyanat wa ẓanna ahluhā annahum qādirụna ‘alaihā atāhā amrunā lailan au nahāran fa ja’alnāhā ḥaṣīdang ka`al lam tagna bil-ams, każālika nufaṣṣilul-āyāti liqaumiy yatafakkarụn

24. Perumpamaan kehidupan dunia ini tidak lain seperti hujan yang Kami turunkan dari langit, dan yang diserap oleh tetumbuhan bumi37 yang manusia dan binatang memakannya, hingga-tatkala bumi telah mengenakan perhiasannya yang memperdaya dan (tatkala ia) telah diperindah, dan mereka yang tinggal di atasnya menyangka bahwa mereka telah meraih kekuasaan terhadapnya38—datanglah keputusan Kami atasnya, pada malam atau siang hari, dan Kami jadikan ia menjadi [seperti] ladang yang dibabat habis, seolah-olah kemarin tidak pernah ada.39

Demikianlah Kami jelaskan pesan-pesan ini dengan sejelas-jelasnya kepada orang-orang yang berpikir!


37 Lit., “yang dengannya tetumbuhan bumi berbaur”.

38 Yakni, mereka akhirnya menyangka bahwa mereka telah meraih “kekuasaan atas alam”, tanpa batasan-batasan apa pun terhadap apa yang dapat mereka capai. Hendaknya diingat bahwa istilah zukhruf hampir selalu mengandung konotasi kepalsuan—sebuah konotasi yang dalam kasus ini terkait dengan verba berikutnya, izzayanat. Jadi, keseluruhan kalimat parabolis di atas dapat dipahami sebagai menyinggung pada “hiasan” palsu dan menipu (artifisial) yang ditimbulkan oleh upaya-upaya teknologi manusia, yang tidak berkolaborasi dengan alam, alih-alih “berkonfrontasi” melawan alam.

39 Lit., “seolah-olah kemarin ia tidak ada”: sebuah frasa yang digunakan dalam bahasa Arab klasik untuk menggambarkan sesuatu yang hilang atau binasa seluruhnya (Taj Al-‘Arus).


Surah Yunus Ayat 25

وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَىٰ دَارِ السَّلَامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

wallāhu yad’ū ilā dāris-salām, wa yahdī may yasyā`u ilā ṣirāṭim mustaqīm

25. DAN, [ketahuilah bahwa] Allah mengajak [manusia] menuju tempat tinggal yang damai, dan memberi petunjuk kepada siapa pun yang menghendaki [untuk diberi petunjuk] ke jalan yang lurus.40


40 Atau: “memberi petunjuk ke jalan yang lurus siapa pun yang Dia kehendaki”. Berkenaan dengan ungkapan salam, yang di sini dan di banyak tempat lain diterjemahkan menjadi “kedamaian” dan di tempat lainnya diterjemahkan menjadi “keselamatan”, lihat Surah Al-Ma’idah [5], catatan no. 29. Jelaslah bahwa istilah dar al-salam (“tempat tinggal yang damai”) menunjukkan tidak hanya keadaan puncak kebahagiaan di akhirat—yang disinggung dalam alegori tentang surga—tetapi juga kondisi spiritual Mukmin sejati di dunia ini: yakni, suatu keadaan batin yang tenteram atau keadaan yang damai dengan Allah, dengan lingkungan alamnya, dan dengan lubuk-batinnya sendiri.


Surah Yunus Ayat 26

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

lillażīna aḥsanul-ḥusnā wa ziyādah, wa lā yar-haqu wujụhahum qataruw wa lā żillah, ulā`ika aṣ-ḥābul-jannati hum fīhā khālidụn

26. Bagi orang-orang yang tekun dalam berbuat kebajikan, disediakan kebajikan tertinggi, dan lebih [daripada itu].41 Kegelapan dan kenistaan tidak akan menutupi wajah mereka [pada Hari Kebangkitan]: mereka itulah yang ditetapkan di surga, berkediaman di dalamnya.


41 Yakni, lebih daripada kebaikan-kebaikan mereka yang sesungguhnya (bdk. Surah Al-An’am [6]: 160—”Siapa pun yang datang [ke hadapan Allah] dengan perbuatan baik akan memperoleh sepuluh kali lipat darinya”). Lihat juga catatan no. 79 pada Surah An-Naml [27]: 89.


Surah Yunus Ayat 27

وَالَّذِينَ كَسَبُوا السَّيِّئَاتِ جَزَاءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَتَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۖ مَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ عَاصِمٍ ۖ كَأَنَّمَا أُغْشِيَتْ وُجُوهُهُمْ قِطَعًا مِنَ اللَّيْلِ مُظْلِمًا ۚ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

wallażīna kasabus-sayyi`āti jazā`u sayyi`atim bimiṡlihā wa tar-haquhum żillah, mā lahum minallāhi min ‘āṣim, ka`annamā ugsyiyat wujụhuhum qiṭa’am minal-laili muẓlimā, ulā`ika aṣ-ḥābun-nār, hum fīhā khālidụn

27. Adapun orang-orang yang telah mengerjakan perbuatan-perbuatan jahat—balasan bagi perbuatan jahat adalah yang serupa dengannya;42 dan—karena mereka tidak akan memiliki siapa pun yang membela mereka dari Allah—kenistaan akan menutupi mereka seakan-akan wajah mereka diselubungi oleh kegelapan malam:43 mereka itulah yang ditetapkan di neraka, berkediaman di dalamnya.


42 Berbeda dengan “pahala” berlipat ganda untuk perbuatan baik, balasan bagi kejahatan hanyalah setimpal dengan perbuatan itu sendiri. (Lihat juga catatan no. 46 pada kalimat terakhir Surah Fussilat [41]: 50.)

43 Lit., “oleh sepotong malam, yang gelap pekat”.


Surah Yunus Ayat 28

وَيَوْمَ نَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ نَقُولُ لِلَّذِينَ أَشْرَكُوا مَكَانَكُمْ أَنْتُمْ وَشُرَكَاؤُكُمْ ۚ فَزَيَّلْنَا بَيْنَهُمْ ۖ وَقَالَ شُرَكَاؤُهُمْ مَا كُنْتُمْ إِيَّانَا تَعْبُدُونَ

wa yauma naḥsyuruhum jamī’an ṡumma naqụlu lillażīna asyrakụ makānakum antum wa syurakā`ukum, fa zayyalnā bainahum wa qāla syurakā`uhum mā kuntum iyyānā ta’budụn

28. Karena, suatu Hari Kami akan mengumpulkan mereka semuanya bersama-sama, dan kemudian Kami akan berkata kepada orang-orang yang [dalam kehidupan mereka di dunia] menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah, “Tetaplah di tempat kalian berada, kalian dan [makhluk-makhluk serta kekuatan-kekuatan] yang biasa kalian anggap bersekutu dalam ketuhanan-Nya!”44—sebab, pada saat itu, Kami akan memisah-misahkan mereka [dengan nyata].45 Dan, makhluk-makhluk yang mereka anggap bersekutu dalam ketuhanan-Nya akan berkata [kepada orang-orang yang telah menyembah mereka] “Bukankah kami yang biasa kalian sembah;46


44 Lit., “kalian dan sekutu-sekutu [Allah] kalian itu”; bdk. Surah Al-An’am [6], catatan no. 15. Ungkapan makanakum (lit., “tempat kalian”, yakni “tetap tinggal di tempat kalian”) mengandung konotasi penghinaan dan ancaman yang tersirat.

45 Yakni, memisahkan orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada wujud-wujud selain Allah dari objek-objek pemujaan mereka dahulu (Al-Thabari, Al-Baghawi): sebuah frasa metonimia yang menunjukkan kesadaran mereka bahwa tidak pernah ada kaitan eksistensial apa pun antara mereka dan objek-objek sembahan batil itu (bdk. Surah Al-An’am [6]: 24, Yunus [10]: 30, Hud [11]: 21, An-Nahl [16]: 87, dan Al-Qasas [28]: 75—”dan semua rekaan batil mereka telah [atau ‘akan’] meninggalkan mereka”). Lihat juga dua catatan berikut.

46 Yakni, “hanyalah khayalan-khayalan dan hasrat-hasrat kalian sendirilah yang kalian sembah, seraya membungkusnya dengan jubah wujud-wujud asing”: dengan kata lain, penyembahan berhala, kekuatan alam, wali-wali, nabi-nabi, malaikat-malaikat, dan lain sebagainya di sini ditunjukkan tidak lain daripada sekadar proyeksi hasrat-hasrat bawah-sadar sang penyembah. (Bdk. juga dengan Surah Saba’ [34]: 41 dan catatan no. 52.)


Surah Yunus Ayat 29

فَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ إِنْ كُنَّا عَنْ عِبَادَتِكُمْ لَغَافِلِينَ

fa kafā billāhi syahīdam bainanā wa bainakum ing kunnā ‘an ‘ibādatikum lagāfilīn

29. dan tiada yang dapat menjadi saksi antara kami dan kalian sebagaimana Allah: kami sama sekali tidak tahu-menahu tentang penyembahan kalian [kepada kami].”47


47 Jadi, Al-Quran memberi kejelasan bahwa para wali dan nabi yang, setelah meninggal, didewa-dewakan oleh para pengikut mereka secara tak berdasar tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas tindakan penyembahan batil yang ditujukan kepada mereka (bdk. Surah Al-Ma’idah [5]: 116-117); selanjutnya, bahkan objek-objek sembahan batil yang berupa benda-benda mati itu secara simbolis akan menyangkal hubungan apa pun antara mereka dan para penyembah mereka.


Surah Yunus Ayat 30

هُنَالِكَ تَبْلُو كُلُّ نَفْسٍ مَا أَسْلَفَتْ ۚ وَرُدُّوا إِلَى اللَّهِ مَوْلَاهُمُ الْحَقِّ ۖ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ

hunālika tablụ kullu nafsim mā aslafat wa ruddū ilallāhi maulāhumul-ḥaqqi wa ḍalla ‘an-hum mā kānụ yaftarụn

30. Di sana dan pada saat itu, tiap-tiap manusia akan menyadari dengan jelas apa yang telah dia kerjakan pada masa silam; dan semuanya akan dikembalikan kepada Allah,48 Sang Maha Berdaulat mereka yang sebenarnya, dan semua rekaan batil mereka akan meninggalkan mereka.


48 Yakni, akan dikembalikan pada kesadaran akan keesaan, keunikan, dan kemahakuasaan Allah—suatu pengetahuan naluriah yang telah ditanamkan dalam watak manusia itu sendiri (lihat Surah Al-A’raf [7]: 172).


Surah Yunus Ayat 31

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

qul may yarzuqukum minas-samā`i wal-arḍi am may yamlikus-sam’a wal-abṣāra wa may yukhrijul-ḥayya minal-mayyiti wa yukhrijul-mayyita minal-ḥayyi wa may yudabbirul-amr, fa sayaqụlụnallāh, fa qul a fa lā tattaqụn

31. KATAKANLAH: “Siapakah yang memberi kalian rezeki dari langit dan bumi,49 atau siapakah yang memiliki kekuasaan penuh atas pendengaran dan penglihatan [kalian]? Dan, siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup? Dan, siapakah yang mengatur segala yang ada?”

Dan, mereka akan menjawab [dengan yakin]: “[Dia-lah] Allah.”50

Maka, katakanlah: “Tidakkah kalian menjadi sadar [sepenuhnya] akan Dia—


49 Istilah rizq (“rezeki”) di sini digunakan dalam konotasi fisik dan spiritualnya, yang menjelaskan rujukan terhadap “langit dan bumi” dan, selanjutnya, terhadap “pendengaran dan penglihatan [manusia]”.

50 Orang-orang yang dirujuk di sini adalah orang-orang yang percaya, pertama, bahwa ada wujud-wujud yang memiliki sifat-sifat Ilahi atau semi-Ilahi tertentu, jadi “berserikat” dalam sifat-sifat ketuhanan Allah; dan, kedua, bahwa dengan menyembah wujud-wujud tersebut, manusia dapat menjadi lebih dekat kepada Allah. Gagasan ini jelas-jelas mensyaratkan keimanan pada keberadaan Allah, sebagaimana ditonjolkan dalam “jawaban” orang-orang yang diajak bicara (bdk. Surah Al-A’raf [7]: 172 dan catatan no. 139); tetapi karena gagasan ini bertentangan dengan konsep keesaan dan keunikan Allah, ia menghilangkan makna sejati dan nilai ruhani dari keimanan orang-orang itu kepada Allah.


Surah Yunus Ayat 32

فَذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ ۖ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ ۖ فَأَنَّىٰ تُصْرَفُونَ

fa żālikumullāhu rabbukumul-ḥaqq, fa māżā ba’dal-ḥaqqi illaḍ-ḍalālu fa annā tuṣrafụn

32. mengingat bahwa Dia-lah Allah, Pemelihara kalian, Sang Kebenaran Tertinggi?51 Karena, setelah kebenaran [diabaikan], adakah [yang tinggal] selain kesalahan? Maka, bagaimana mungkin kalian menjadi buta terhadap kebenaran?”52


51 Lit., “Maka, inilah [atau ‘yang demikian itulah’] Allah, Pemelihara kalian, Sang Kebenaran Tertinggi”—yakni, “mengingat bahwa, berdasarkan pengakuan kalian sendiri, Dia-lah yang menciptakan dan mengatur segala sesuatu dan merupakan Realitas Tertinggi dibalik segala yang ada” (lihat Surah TaHa [20], catatan no. 99): hal ini menunjukkan suatu penyangkalan yang tegas terhadap kemungkinan bahwa wujud atau makhluk lain dapat berserikat, betapapun kecilnya, dalam ketuhanan-Nya.

52 Lit., “Maka, bagaimanakah kalian berpaling?”—yakni, dari kebenaran.


Surah Yunus Ayat 33

كَذَٰلِكَ حَقَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ عَلَى الَّذِينَ فَسَقُوا أَنَّهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

każālika ḥaqqat kalimatu rabbika ‘alallażīna fasaqū annahum lā yu`minụn

33. Demikianlah, kalam Pemeliharamu telah terbukti benar berkenaan dengan orang-orang yang berkukuh melakukan dosa-dosa: mereka tidak akan beriman.53


53 Lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 7, serta Surah Al-Anfal [8]: 55 dan catatan no. 58. Dalam konteks khusus ini, “kalam Sang Pemelihara” tampaknya sama artinya dengan “ketetapan Allah” (sunnah Allah) sehubungan dengan orang-orang yang sengaja melakukan dosa dan menolak kebenaran (Al-Manar XI, h. 359). Partikel anna dalam annahum (lit., “bahwa mereka”) dengan demikian menunjukkan makna “kalam” Ilahi yang dirujuk, dan dalam bahasa Inggris sebaiknya diungkapkan dengan titik dua.


Surah Yunus Ayat 34

قُلْ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ ۚ قُلِ اللَّهُ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ

qul hal min syurakā`ikum may yabda`ul-khalqa ṡumma yu’īduh, qulillāhu yabda`ul-khalqa ṡumma yu’īduhụ fa annā tu`fakụn

34. Katakanlah: “Apakah di antara makhluk-makhluk yang kalian anggap bersekutu dalam ketuhanan-Nya itu ada yang dapat menciptakan [kehidupan] dari awal kejadiannya, dan kemudian mengulangi (penciptaan)nya lagi?”54

Katakanlah: “Allah [sajalah] yang menciptakan [semua kehidupan] dari awal kejadiannya, kemudian mengulangi (penciptaan)nya. Maka, betapa menyimpangnya pikiran kalian!”55


54 Pertanyaan retoris ini berkaitan dengan kepercayaan batil bahwa wujud-wujud berhala yang disembah itu tidak lebih dari “perantara-perantara” antara para pengikut mereka dan Allah (lihat ayat 18): jadi, bahkan para penganut setia mereka sekalipun tidak mungkin menisbahkan kepada mereka kekuasaan untuk mencipta dan untuk membangkitkan. Lihat juga catatan no. 8 pada ayat 4 surah ini. Dalam pengertiannya yang lebih luas, pertanyaan ini (dan jawaban berikutnya) berhubungan dengan proses siklus kelahiran, kematian, dan regenerasi yang ditetapkan oleh Allah pada semua alam organik.

55 Lihat Surah Al-Ma’idah [5], catatan no. 90.


Surah Yunus Ayat 35

قُلْ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ ۚ قُلِ اللَّهُ يَهْدِي لِلْحَقِّ ۗ أَفَمَنْ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ أَحَقُّ أَنْ يُتَّبَعَ أَمَّنْ لَا يَهِدِّي إِلَّا أَنْ يُهْدَىٰ ۖ فَمَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

qul hal min syurakā`ikum may yahdī ilal-ḥaqq, qulillāhu yahdī lil-ḥaqq, a fa may yahdī ilal-ḥaqqi aḥaqqu ay yuttaba’a am mal lā yahiddī illā ay yuhdā, fa mā lakum, kaifa taḥkumụn

35. Katakanlah: “Apakah di antara makhluk-makhluk yang kalian anggap bersekutu dalam ketuhanan-Nya itu ada yang memberi petunjuk kepada kebenaran?”

Katakanlah: “Allah [sajalah] yang memberi petunjuk kepada kebenaran. Maka, siapakah yang lebih layak diikuti—Dia yang memberi petunjuk kepada kebenaran atau dia yang tidak dapat menemukan jalan yang benar kecuali kalau dia diberi petunjuk?56 Maka, ada apakah gerangan dengan kalian dan keputusan kalian?”57


56 Karena konsep “menemukan jalan yang benar” tidak bisa berlaku pada berhala-berhala tak bernyawa dan citra-citra keberhalaan, bagian di atas jelas-jelas berhubungan dengan makhluk-makhluk bernyawa—baik yang masih hidup ataupun yang sudah mati—yang secara salah dianggap “bersekutu dalam ketuhanan-Nya”: yakni, tokoh-tokoh wali, nabi-nabi, atau malaikat-malaikat yang, oleh khayalan populer, dilekati dengan sebagian atau semua sifat Allah, bahkan kadang-kadang mereka sampai dipandang sebagai perwujudan atau inkarnasi Allah di bumi. Adapun mengenai petunjuk Allah, ia ditunjukkan, utamanya, dalam kekuatan penalaran sadar serta wawasan naluriah yang telah Dia anugerahkan kepada manusia sehingga memungkinkan manusia tersebut menaati hukum Ilahi mengenai perilaku yang benar (Al-Zamakhsyari).

57 Lit., “[dan] bagaimana kalian memutuskan?”


Surah Yunus Ayat 36

وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا ۚ إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ

wa mā yattabi’u akṡaruhum illā ẓannā, innaẓ-ẓanna lā yugnī minal-ḥaqqi syai`ā, innallāha ‘alīmum bimā yaf’alụn

36. Karena, kebanyakan dari mereka tidak mengikuti apa–apa kecuali dugaan saja: [dan,] perhatikanlah, dugaan tidak pernah dapat menggantikan kebenaran.58 Sungguh, Allah Maha Mengetahui semua yang mereka kerjakan.


58 Lit., “dugaan sama sekali tidak dapat membuat [siapa pun] bebas (la yughni) dari kebenaran”, yakni, wawasan positif yang diperoleh melalui wahyu yang autentik (yang dirujuk oleh rangkaian ayat itu). Orang-orang yang dirujuk di sini (dan tampaknya juga dalam kalimat pertama ayat 53 surah ini) adalah kaum agnostik yang ragu-ragu antara kebenaran dan kebatilan.

Sebagian ahli fiqih—di antaranya yang paling menonjol adalah Ibn Hazm—menjadikan ayat ini sebagai dasar untuk menolak qiyas (“pengambilan keputusan dengan analogi”) sebagai sarana untuk memperoleh hukum-hukum keagamaan yang diduga “tersirat” dalam kalimat-kalimat Al-Quran atau ajaran-ajaran Nabi, tetapi tidak secara gamblang dinyatakan melalui istilah-istilah hukum. Dalam tafsirannya mengenai ayat ini, Al-Razi menyimpulkan pandangan di atas demikian: “Mereka mengatakan bahwa pengambilan keputusan melalui analogi (qiyas) adalah sebuah proses duga-duga dan, karena itu, sebagai suatu keharusan, tidak dapat diterima [dalam hal-hal yang menyangkut agama]—sebab, ‘dugaan tidak pernah dapat menggantikan kebenaran'”. (Lihat juga Surah Al-Ma’idah [5]: 101-102 dan catatan no. 120-123.)


Surah Yunus Ayat 37

وَمَا كَانَ هَٰذَا الْقُرْآنُ أَنْ يُفْتَرَىٰ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

wa mā kāna hāżal-qur`ānu ay yuftarā min dụnillāhi wa lākin taṣdīqallażī baina yadaihi wa tafṣīlal-kitābi lā raiba fīhi mir rabbil-‘ālamīn

37. Dan, Al-Quran ini tidaklah mungkin dibuat oleh siapa pun kecuali Allah: sungguh tidak,59 ia mempertegas kebenaran apa pun yang masih ada [dari wahyu-wahyu terdahulu] dan menjelaskan dengan sejelas-jelasnya wahyu [yang datang]—hendaknya tiada keraguan tentangnya—dari Pemelihara seluruh alam.60


59 Lit., “akan tetapi” (wa lakin)—sebuah ungkapan yang menekankan kemustahilan pernyataan apa pun yang menunjukkan makna sebaliknya.

60 Bagian di atas mempunyai makna ganda; pertama, hikmah yang melekat dalam Al-Quran menghilangkan kemungkinan bahwa Al-Quran dikarang oleh manusia; dan, kedua, pesan Al-Quran dimaksudkan untuk membenarkan, dan memberikan rumusan akhir terhadap, kebenaran-kebenaran abadi yang telah disampaikan kepada manusia melalui nabi-nabi yang datang silih berganti sepanjang masa: kebenaran-kebenaran yang selanjutnya dikaburkan karena penafsiran yang salah, penghilangan atau penyisipan yang disengaja, atau hilangnya sebagian atau bahkan seluruh teks-teks asli. Untuk penjelasan mengenai frasa ma baina yadaihi, yang dalam konteks ini saya terjemahkan menjadi “apa pun yang masih ada [dari wahyu-wahyu terdahulu]”, lihat Surah Al-‘Imran [3], catatan no. 3.


Surah Yunus Ayat 38

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

am yaqụlụnaftarāh, qul fa`tụ bisụratim miṡlihī wad’ụ manistaṭa’tum min dụnillāhi ing kuntum ṣādiqīn

38. Dan, sungguhpun begitu,61 mereka [yang berkukuh mengingkari kebenaran] menegaskan, “[Muhammad] telah membuatnya!”

Katakanlah [kepada rnereka]: “Maka, buatlah sebuah surah yang setara nilainya; dan [untuk ini,] panggillah siapa pun yang dapat membantu kalian, selain Allah, jika apa yang kalian katakan itu benar!”62


61 Menurut filolog besar Abu ‘Ubaidah Ma’mar ibn Al-Mutsanna (seperti dikutip Al-Baghawi), partikel am yang mengawali kalimat ini tidak memiliki konotasi pertanyaan, tetapi—seperti di beberapa tempat lain dalam Al-Quran—sama artinya dengan kata hubung wa (“dan”), yang dalam kasus ini dapat diterjemahkan sebagaimana di atas.

62 Bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 23 dan catatannya, no. 15.


Surah Yunus Ayat 39

بَلْ كَذَّبُوا بِمَا لَمْ يُحِيطُوا بِعِلْمِهِ وَلَمَّا يَأْتِهِمْ تَأْوِيلُهُ ۚ كَذَٰلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظَّالِمِينَ

bal każżabụ bimā lam yuḥīṭụ bi’ilmihī wa lammā ya`tihim ta`wīluh, każālika każżaballażīna ming qablihim fanẓur kaifa kāna ‘āqibatuẓ-ẓālimīn

39. Sekali-kali tidak, tetapi mereka berkukuh mendustakan segala sesuatu yang hikmahnya tidak mereka pahami, dan sebelum maknanya yang lebih dalam menjadi jelas bagi mereka.63 Bahkan, demikianlah orang-orang yang hidup sebelum masa mereka itu mendustakan kebenaran: dan perhatikanlah apa yang akhirnya terjadi pada orang-orang zalim itu!


63 Lit., “yang pengetahuan tentangnya tidak mereka kuasai, sedangkan maknanya yang lebih dalam belum sampai kepada mereka”. Kebanyakan mufasir klasik menjelaskan kalimat ini sebagaimana yang terbaca dalam terjemahan saya di atas; namun, sebagian di antara mereka (misalnya, Al-Thabari dan Al-Baghawi), menafsirkan istilah ta’wil (“makna pamungkas/hakiki” atau “makna yang lebih dalam”) dalam pengertian seperti yang digunakan dalam Surah Al-A’raf [7]: 53 (lihat terjemahan saya atas bagian tersebut dan catatan no. 41).


Surah Yunus Ayat 40

وَمِنْهُمْ مَنْ يُؤْمِنُ بِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ لَا يُؤْمِنُ بِهِ ۚ وَرَبُّكَ أَعْلَمُ بِالْمُفْسِدِينَ

wa min-hum may yu`minu bihī wa min-hum mal lā yu`minu bih, wa rabbuka a’lamu bil-mufsidīn

40. Dan, di antara mereka ada yang akan segera beriman kepada [kitab Ilahi] ini, sebagaimana ada pula di antara mereka yang tidak akan pernah beriman kepadanya;64 dan Pemeliharamu Maha Mengetahui tentang siapa saja yang menyebarkan kerusakan.


64 Verba yu’minu, yang muncul dua kali dalam ayat ini, dapat dipahami sebagai berkonotasi pada masa sekarang (present tense)—yakni, “[yang] beriman” dan “[yang] tidak beriman”—atau pada masa depan (future tense)*. Al-Thabari dan Ibn Katsir menisbahkan bentuk kala akan datang (future tense) kepada kata ini—suatu hal yang juga saya pilih dalam terjemahan di atas; beberapa mufasir lain, seperti Al-Zamakhsyari dan Al-Razi, lebih memilih bentuk kala kini (present tense), kendatipun tetap menganggap absah penafsiran lainnya. (Lihat juga Al-Manar XI, h. 380.)

* {Dalam gramatika bahasa Arab, bentuk yu’minu dikenal sebagai fi’l mudhari’, yakni verba yang mengacu baik untuk kala kini maupun kala akan datang.—peny.}


Surah Yunus Ayat 41

وَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقُلْ لِي عَمَلِي وَلَكُمْ عَمَلُكُمْ ۖ أَنْتُمْ بَرِيئُونَ مِمَّا أَعْمَلُ وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ

wa ing każżabụka fa qul lī ‘amalī wa lakum ‘amalukum, antum barī`ụna mimmā a’malu wa ana barī`um mimmā ta’malụn

41. Dan, [dengan demikian, wahai Nabi,] jika mereka mendustakanmu, katakanlah: “Bagiku perbuatan-perbuatanku [akan diperhitungkan] dan bagi kalian perbuatan-perbuatan kalian: kalian tidak bertanggung jawab atas apa yang kuperbuat dan aku pun tidak bertanggung jawab atas apa yang kalian perbuat.”


Surah Yunus Ayat 42

وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُونَ إِلَيْكَ ۚ أَفَأَنْتَ تُسْمِعُ الصُّمَّ وَلَوْ كَانُوا لَا يَعْقِلُونَ

wa min-hum may yastami’ụna ilaīk, a fa anta tusmi’uṣ-ṣumma walau kānụ lā ya’qilụn

42. Dan, di antara mereka ada yang [berpura-pura] mendengarkanmu: akan tetapi, dapatkah engkau menjadikan orang-orang yang tuli itu mendengar sekalipun mereka tidak akan menggunakan akal mereka?


Surah Yunus Ayat 43

وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْظُرُ إِلَيْكَ ۚ أَفَأَنْتَ تَهْدِي الْعُمْيَ وَلَوْ كَانُوا لَا يُبْصِرُونَ

wa min-hum may yanẓuru ilaīk, a fa anta tahdil-‘umya walau kānụ lā yubṣirụn

43. Dan, di antara mereka ada yang [berpura-pura] memandang kepadamu: akan tetapi, dapatkah engkau menunjukkan jalan yang benar kepada orang-orang buta sekalipun mereka tidak dapat melihat?


Surah Yunus Ayat 44

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَٰكِنَّ النَّاسَ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

innallāha lā yaẓlimun-nāsa syai`aw wa lākinnan-nāsa anfusahum yaẓlimụn

44. Sungguh, Allah tidak sedikit pun menzalimi manusia, tetapi manusialah yang menzalimi diri mereka sendiri.


Surah Yunus Ayat 45

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ كَأَنْ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِنَ النَّهَارِ يَتَعَارَفُونَ بَيْنَهُمْ ۚ قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِلِقَاءِ اللَّهِ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ

wa yauma yaḥsyuruhum ka`al lam yalbaṡū illā sā’atam minan-nahāri yata’ārafụna bainahum, qad khasirallażīna każżabụ biliqā`illāhi wa mā kānụ muhtadīn

45. Dan, pada Hari ketika Allah akan mengumpulkan mereka [menuju diri-Nya sendiri, akan tampak bagi mereka] seolah-olah mereka tidak pernah tinggal [di bumi] kecuali sesaat saja pada siang hari, dengan mengenal satu sama lain;65 [dan] benar-benar rugilah orang-orang yang [ketika hidup di dunia] mendustakan bahwa mereka sudah ditakdirkan untuk bertemu dengan Allah, dan [karena itu] gagal menemukan jalan yang benar.


65 Yakni, masa-masa mereka hidup di dunia ini dahulu—ketika mereka terikat satu sama lain melalui berbagai ikatan dalam hubungan antarmanusia—akan tampak dalam pandangan mereka seperti suatu waktu yang sangat pendek jika dibandingkan dengan durasi kehidupan abadi yang menanti mereka setelah kebangkitan (lihat catatan no. 19 dalam Surah An-Nazi’at [79]: 46). Ketika itu, segala hubungan masa lalu mereka hancur berantakan. Lihat juga Surah Al-An’am [6]: 94, yang menggambarkan keadaan orang-orang yang mengingkari kebenaran pada Hari Kebangkitan: “Dan, kini kalian benar-benar datang kepada Kami sendiri-sendiri, sebagaimana Kami menciptakan kalian pada kali pertama”; dan kemudian, dalam ayat yang sama: “Sungguh, seluruh ikatan antara kalian [dan kehidupan duniawi kalian] kini telah terputus …”.


Surah Yunus Ayat 46

وَإِمَّا نُرِيَنَّكَ بَعْضَ الَّذِي نَعِدُهُمْ أَوْ نَتَوَفَّيَنَّكَ فَإِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ ثُمَّ اللَّهُ شَهِيدٌ عَلَىٰ مَا يَفْعَلُونَ

wa immā nuriyannaka ba’ḍallażī na’iduhum au natawaffayannaka fa ilainā marji’uhum ṡummallāhu syahīdun ‘alā mā yaf’alụn

46. Dan, baik Kami perlihatkan kepadamu [di dunia ini] sesuatu dari apa yang Kami sediakan nanti bagi orang-orang [yang mengingkari kebenaran] itu,66 ataupun Kami jadikan engkau mati [sebelum pembalasan itu terjadi—ketahuilah bahwa, pada akhirnya], kepada Kami-lah mereka pasti kembali; dan Allah menjadi saksi terhadap semua yang mereka kerjakan.67


66 Lit., “dari apa yang Kami janjikan kepada mereka” atau “dari apa yang Kami ancamkan kepada mereka”—yakni, balasan-hukuman yang tidak dapat dihindari, terkadang bahkan ditimpakan di dunia ini, yang diakibatkan oleh tindakan mengingkari kebenaran secara sengaja.

67 Ayat di atas ditujukan, pertama-tama, kepada Nabi, dan berkenaan dengan orang-orang pada masanya yang menolak untuk mengakui kebenaran wahyu Al-Quran. Namun, dalam pengertian yang lebih luas, ayat tersebut ditujukan kepada setiap orang beriman yang mungkin tidak dapat memahami mengapa penderitaan hidup yang panjang sering menimpa orang-orang saleh, sedangkan banyak orang zalim dan pengingkar kebenaran tetap saja aman sentosa dan dibiarkan menikmati kesenangan hidup. Al-Quran  memecahkan paradoks yang mencolok ini dengan menjelaskan bahwa, jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat, kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah suatu masa yang sangat singkat, dan bahwa hanya di akhiratlah nasib manusia akan tersingkap dalam semua aspeknya yang sejati. Bdk. Surah Al-‘Imran [3]: 185—”baru pada Hari Kebangkitanlah kalian akan mendapat balasan sepenuhnya [atas apa saja yang telah kalian lakukan] … sebab, kehidupan dunia int tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya-diri”.


Surah Yunus Ayat 47

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ رَسُولٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ رَسُولُهُمْ قُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

wa likulli ummatir rasụl, fa iżā jā`a rasụluhum quḍiya bainahum bil-qisṭi wa hum lā yuẓlamụn

47. DAN, setiap umat mempunyai rasul; dan hanya setelah rasul mereka, datanglah [dan menyampaikan pesan-pesannya] keputusan diberikan terhadap mereka, dengan seadil-adilnya;68 dan tidak pernah mereka dizalimi.


68 Lit., “dan ketika rasul mereka telah datang, keputusan dibuat di antara mereka dengan seadil-adilnya”. Ayat ini menekankan (a) kesinambungan wahyu keagamaan dalam sejarah umat manusia dan fakta bahwa tidak ada masyarakat, zaman, atau peradaban (peradaban adalah salah satu makna yang dinisbahkan kepada istilah ummah) mana pun yang dibiarkan tanpa petunjuk kenabian; dan (b) doktrin bahwa Allah tidak akan menghukum “suatu masyarakat karena kezalimannya selama penduduknya masih belum menyadari [makna benar dan salah]: sebab, semuanya akan dinilai berdasarkan perbuatan-perbuatan [sadar] mereka” (Surah Al-An’am [6]: 131-132).


Surah Yunus Ayat 48

وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَٰذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

wa yaqụlụna matā hāżal-wa’du ing kuntum ṣādiqīn

48. Dan, sungguhpun begitu, mereka [yang mengingkari kebenaran] biasa bertanya, “Bilakah janji [tentang kebangkitan dan pengadilan] itu terpenuhi? [Jawablah ini, wahai kalian yang memercayainya,] jika kalian orang-orang yang benar!”


Surah Yunus Ayat 49

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي ضَرًّا وَلَا نَفْعًا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۗ لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۚ إِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

qul lā amliku linafsī ḍarraw wa lā naf’an illā mā syā`allāh, likulli ummatin ajal, iżā jā`a ajaluhum fa lā yasta`khirụna sā’ataw wa lā yastaqdimụn

49. Katakanlah [wahai Nabi]: “Aku tidak kuasa mencegah kemudaratan atau mendatangkan manfaat terhadap diriku sendiri, kecuali sebagaimana yang dikehendaki Allah.69 Bagi setiap umat, suatu batas-waktu telah ditentukan: tatkala datang akhir batas-waktu mereka, mereka tidak dapat menundanya walaupun sesaat, dan tidak pula dapat mempercepatnya.”70


69 Dengan kata lain, “dan karena aku tidak memiliki kekuatan-kekuatan gaib apa pun, aku tidak dapat meramalkan apa yang ada di luar jangkauan persepsi manusia (al-ghaib)”.

70 Lihat Surah Al-A’raf [7]: 34 dan catatan no. 25 dan 26. Dalam konteks di atas, “akhir batas-waktu” mengacu, khususnya, pada kedatangan Saat Terakhir dan Hari Pengadilan.


Surah Yunus Ayat 50

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَتَاكُمْ عَذَابُهُ بَيَاتًا أَوْ نَهَارًا مَاذَا يَسْتَعْجِلُ مِنْهُ الْمُجْرِمُونَ

qul a ra`aitum in atākum ‘ażābuhụ bayātan au nahāram māżā yasta’jilu min-hul-mujrimụn

50. Katakanlah: “Pernahkah kalian mempertimbangkan [bagaimana rasanya] andaikan azab hukuman-Nya menimpa kalian pada malam atau siang hari? Jika demikian, mengapa orang-orang yang tenggelam dalam dosa itu minta disegerakan?71


71 Lit., “[Bagian] apakah darinya yang minta disegerakan oleh orang-orang yang tenggelam dalam dosa itu (al-mujrimun)”—artinya, menurut Al-Zamakhsyari, bahwa “seluruh siksaan [Allah] adalah mengerikan dan dahsyat, dan akan membuat seseorang ingin lari darinya; … dan tidak ada kemungkinan apa pun yang dapat membuat seseorang ingin menyegerakannya”. Ini secara tidak langsung mengingatkan pada pertanyaan tidak masuk akal yang dikemukakan oleh para pengingkar kebenaran tentang kedatangan Saat Terakhir (ayat 48), serta pada permintaan sarkastis mereka agar segera disiksa oleh Allah untuk membuktikan misi kenabian Muhammad Saw. (bdk. Surah Al-An’am [6]: 57-58 dan Surah Al-Anfal [8]: 32, serta catatan-catatannya).

Ungkapan “pada malam atau siang hari” yang terdapat dalam kalimat sebelumnya menunjukkan unsur “tiba-tiba” dan “tidak disangka-sangka” dari bencana yang pasti akan menimpa orang-orang zalim pada Hari Pengadilan.


Surah Yunus Ayat 51

أَثُمَّ إِذَا مَا وَقَعَ آمَنْتُمْ بِهِ ۚ آلْآنَ وَقَدْ كُنْتُمْ بِهِ تَسْتَعْجِلُونَ

a ṡumma iżā mā waqa’a āmantum bih, āl-āna waqad kuntum bihī tasta’jilụn

51. Maka, akankah kalian [baru] memercayainya setelah ia terjadi—[pada Hari ketika kalian akan ditanya, ‘Apakah kalian memercayainya] kini,72 setelah [dengan mencemooh] meminta disegerakan kedatangannya?’


72 Yakni, “ketika sudah terlambat” (Al-Thabari, Al-Zarnakhsyari, Al-Razi; penyisipan saya di awal kalimat ini didasarkan pada pendapat mufasir-mufasir ini).


Surah Yunus Ayat 52

ثُمَّ قِيلَ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا ذُوقُوا عَذَابَ الْخُلْدِ هَلْ تُجْزَوْنَ إِلَّا بِمَا كُنْتُمْ تَكْسِبُونَ

ṡumma qīla lillażīna ẓalamụ żụqụ ‘ażābal-khuld, hal tujzauna illā bimā kuntum taksibụn

52. —kemudian, akan dikatakan kepada orang-orang yang [ketika hidup di dunia] berkukuh berbuat zalim, ‘Rasakanlah penderitaan yang kekal! Bukankah pembalasan ini tidak lain hanyalah hukuman yang adil atas apa yang biasa kalian perbuat?’”73


73 Lit., “Apakah kalian diberi balasan, kecuali atas apa yang biasa kalian usahakan?”


Surah Yunus Ayat 53

وَيَسْتَنْبِئُونَكَ أَحَقٌّ هُوَ ۖ قُلْ إِي وَرَبِّي إِنَّهُ لَحَقٌّ ۖ وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ

wa yastambi`ụnaka aḥaqqun huw, qul ī wa rabbī innahụ laḥaqq, wa mā antum bimu’jizīn

53. Dan, sebagian orang74 bertanya kepadamu, “Benarkah semua ini?”

Katakanlah: “Ya, demi Pemeliharaku! lni sungguh-sungguh benar dan kalian tidak dapat menghindar [dari perhitungan akhir]!”


74 Lit., “mereka”: yakni, orang-orang tidak beriman, yang ragu-ragu dalam agnostisisme mereka dan—sebagaimana tersebut dalam ayat 36—”tidak mengikuti apa-apa kecuali dugaan saja” (Al-Manar XI, h. 394).


Surah Yunus Ayat 54

وَلَوْ أَنَّ لِكُلِّ نَفْسٍ ظَلَمَتْ مَا فِي الْأَرْضِ لَافْتَدَتْ بِهِ ۗ وَأَسَرُّوا النَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ ۖ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ ۚ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

walau anna likulli nafsin ẓalamat mā fil-arḍi laftadat bih, wa asarrun-nadāmata lammā ra`awul-‘ażāb, wa quḍiya bainahum bil-qisṭi wa hum lā yuẓlamụn

54. Dan, semua manusia yang telah melakukan kezaliman,75 jika mereka memiliki semua yang ada di bumi, pasti akan menawarkannya sebagai tebusan [pada Hari Pengadilan];76 dan ketika mereka melihat penderitaan [yang menanti mereka], mereka tidak akan mampu mengungkapkan penyesalan mereka yang mendalam.77 Akan tetapi, keputusan akan diberikan kepada mereka dengan seadil-adilnya; dan mereka tidak akan dizalimi.


75 Dalam hal ini, dengan mendustakan Nabi dan menolak pesan Al-Quran secara sengaja.

76 Bdk. Surah Al-‘Imran [3]: 91 dan catatannya, no. 71.

77 Makna utama verba asarrahu adalah “dia menyembunyikannya” atau “dia merahasiakannya”; jadi, frasa asarru al-nadamah (yang diungkapkan dalam bentuk masa lampau [past tense, fi’l madhi], tetapi dalam konteks di atas jelas-jelas menunjukkan peristiwa masa depan) dapat diterjemahkan menjadi “mereka akan menyembunyikan penyesalan mereka yang mendalam”. Namun, mengingat banyaknya pernyataan dalam Al-Quran bahwa pada Hari Pengadilan para pendosa bukan hanya tidak akan menyembunyikan, alih-alih menonjolkan penyesalan mereka, beberapa mufasir (misalnya, Al-Baghawi, yang bersumber dari Abu ‘Ubaidah) berpendapat bahwa dalam ayat ini, verba asarra justru menunjukkan lawan dari makna utamanya tersebut dan, karena itu, menafsirkan frasa itu menjadi “mereka akan menunjukkan penyesalan mereka”. Namun, keabsahan linguistik dari penafsiran yang agak dipaksakan ini dengan tegas dibantah oleh banyak filolog, khususnya Abu Mansyur Al-Azhari (bdk. Lane IV, h. 1337); dan karena tidak ada alasan yang meyakinkan untuk mengabaikan makna asli verba asarra (yakni “penyembunyian”), frasa Al-Quran di atas harus dipahami (sebagaimana Al-Zamakhsyari memahaminya) dalam pengertian metonimia berupa “penyembunyian” tanpa sengaja, yakni ketidakmampuan para pendosa untuk dapat sepenuhnya mengungkapkan betapa dalamnya penyesalan mereka.


Surah Yunus Ayat 55

أَلَا إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ أَلَا إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

alā inna lillāhi mā fis-samāwāti wal-arḍ, alā inna wa’dallāhi ḥaqquw wa lākinna akṡarahum lā ya’lamụn

55. Oh, sungguh, kepunyaan Allah-lah segala yang ada di lelangit dan di bumi! Oh, sungguh, janji Allah selalu benar—tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya!


Surah Yunus Ayat 56

هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

huwa yuḥyī wa yumītu wa ilaihi turja’ụn

56. Dia sajalah yang menganugerahkan hidup dan menimpakan kematian; dan kepada-Nya-lah kalian semua pasti kembali.78


78 Lit., “kalian akan dikembalikan”—sebab, “segala yang ada kembali kepada-Nya [sebagai sumbernya]” (Surah Hud [11]: 123).


Surah Yunus Ayat 57

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

yā ayyuhan-nāsu qad jā`atkum mau’iẓatum mir rabbikum wa syifā`ul limā fiṣ-ṣudụri wa hudaw wa raḥmatul lil-mu`minīn

57. WAHAI, MANUSIA! Kini telah datang kepada kalian peringatan dari Pemelihara kalian, dan penyembuh bagi segala [penyakit] yang mungkin ada di dalam hati-hati manusia,79 serta petunjuk dan rahmat bagi semua orang yang beriman [kepada-Nya].


79 Yakni, penyembuh untuk segala hal yang berlawanan dengan kebenaran dan kebaikan moral.


Surah Yunus Ayat 58

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

qul bifaḍlillāhi wa biraḥmatihī fa biżālika falyafraḥụ, huwa khairum mimmā yajma’ụn

58. Katakanlah: “Dengan karunia Allah [ini] dan dengan rahmat-Nya—maka, dengan inilah hendaknya mereka bergembira: itu lebih baik daripada semua [kekayaan duniawi] yang mereka kumpulkan!”


Surah Yunus Ayat 59

قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلَالًا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ ۖ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ

qul a ra`aitum mā anzalallāhu lakum mir rizqin fa ja’altum min-hu ḥarāmaw wa halālā, qul āllāhu ażina lakum am ‘alallāhi taftarụn

59. Katakanlah: “Pernahkah kalian perhatikan semua sarana rezeki yang telah dilimpahkan Allah kepada kalian80—dan yang kemudian kalian bagi menjadi ‘hal-hal yang haram’ dan ‘hal-hal yang halal’?”81

Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan kepada kalian izin [untuk melakukan ini]—atau apakah kalian menisbahkan dugaan kalian sendiri kepada Allah?”


80 Ini berhubungan dengan pernyataan dalam ayat 57 bahwa Al-Quran menawarkan kepada manusia sebuah petunjuk yang sempurna untuk meraih kehidupan yang baik dan kepuasan ruhani di dunia ini, serta kebahagiaan dalam kehidupan akhirat. Sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 4, istilah rizq mencakup segala hal yang baik dan berguna bagi manusia, baik yang bersifat fisik (dalam pengertian biasanya, yakni “sarana penghidupan”) maupun yang termasuk dalam wilayah pikiran (seperti nalar, pengetahuan, dan lain sebagainya) atau ruhani (seperti iman, kebaikan, kesabaran, dan sebagainya). Dengan demikian, istilah tersebut hanya diterapkan pada sarana penghidupan yang positif dan bermanfaat, dan tidak pernah digunakan untuk menunjuk pada hal-hal atau fenomena yang tercela secara moral dan/atau membahayakan secara fisik atau sosial.

81 Lit., “dan lalu kalian jadikan sebagiannya haram (haram) dan [sebagiannya] halal (halal)”. Fakta bahwa Allah-lah yang “telah melimpahkan kepada kalian” (anzala ‘alaikum)—yakni, telah menetapkan bahwa manusia harus memanfaatkan—semua hal yang dapat dianggap sebagai rizq (rezeki), secara otomatis menjadikan seluruh manifestasinya dihalalkan (Al-Zamakhsyari). Sesuai dengan doktrin bahwa segala sesuatu yang tidak dengan jelas diharamkan oleh Al-Quran atau oleh ajaran-ajaran Nabi dengan sendirinya adalah halal, ayat ini mengambil posisi yang tegas berlawanan dengan segala larangan sewenang-wenang yang dibuat-buat oleh manusia atau secara keliru “disimpulkan” dari Al-Quran atau Sunnah Nabi (Al-Manar XI, hh. 409 dan seterusnya; lihat juga catatan no. 58 pada ayat 36 surah ini, serta Surah Al-Ma’idah [5]: 101-102 dan catatan-catatannya). Dalam pengertian yang lebih luas, ayat di atas berhubungan dengan orang-orang yang menolak untuk diberi petunjuk oleh wahyu dan memilih untuk “tidak mengikuti apa-apa kecuali dugaan saja” (ayat 36).


Surah Yunus Ayat 60

وَمَا ظَنُّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَشْكُرُونَ

wa mā ẓannullażīna yaftarụna ‘alallāhil-każiba yaumal-qiyāmah, innallāha lażụ faḍlin ‘alan-nāsi wa lākinna akṡarahum lā yasykurụn

60. Namun, apakah yang mereka pikirkan—mereka yang menisbahkan rekaan-rekaan dusta mereka sendiri kepada Allah—[apa yang mereka pikir akan terjadi pada mereka] pada Hari Kebangkitan?

Perhatikanlah, Allah memiliki karunia yang sungguh tak terhingga bagi manusia—tetapi kebanyakan mereka tidak bersyukur.


Surah Yunus Ayat 61

وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ ۚ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَلَا أَصْغَرَ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْبَرَ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

wa mā takụnu fī sya`niw wa mā tatlụ min-hu ming qur`āniw wa lā ta’malụna min ‘amalin illā kunnā ‘alaikum syuhụdan iż tufīḍụna fīh, wa mā ya’zubu ‘ar rabbika mim miṡqāli żarratin fil-arḍi wa lā fis-samā`i wa lā aṣgara min żālika wa lā akbara illā fī kitābim mubīn

61. DAN, DALAM keadaan bagaimanapun kau dapati dirimu sendiri, [wahai Nabi,] dan wacana apa pun dari [kitab Ilahi] ini82 yang mungkin kau baca, dan pekerjaan apa pun yang mungkin kalian [semua, wahai manusia,] lakukan—[ingatlah bahwa] Kami adalah saksi kalian83 [mulai] saat kalian mengawali pekerjaan itu: sebab, tiada yang luput dari pengetahuan Pemeliharamu, sekalipun seberat atom, [dari apa pun yang ada] di muka bumi ataupun di langit; dan tiada pula yang lebih kecil daripada itu, atau yang lebih besar, melainkan tercatat dalam ketetapan[-Nya] yang nyata.


82 Atau: “Wacana (qur’an) apa pun dari-Nya”.

83 Lit., “saksi-saksi”, yang berhubungan dengan kata jamak “Kami” yang berkonotasi agung. Rujukan khusus terhadap Nabi dan tindakannya membacakan Al-Quran (yang ditunjukkan oleh sapaan berbentuk tunggal pada bagian awal kalimat ini) dimaksudkan untuk menekankan betapa wahyu Ilahi merupakan hal paling penting dalam konteks kehidupan manusia.


Surah Yunus Ayat 62

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

alā inna auliyā`allāhi lā khaufun ‘alaihim wa lā hum yaḥzanụn

62. Oh, sungguh, orang-orang yang dekat dengan Allah84—mereka tidak perlu takut dan tidak pula akan bersedih hati:


84 Verba waliya (yang merupakan asal dari nomina wali, jamak: auliya’) utamanya menunjukkan kedekatan atau keakraban sesuatu terhadap yang lainnya: jadi, dalam Al-Quran (misalnya, dalam Surah Al-Baqarah [2]: 257 dan Al-‘Imran [3]: 68), Allah disebut sebagai “dekat dengan (wali) orang-orang yang beriman”. Meskipun istilah wali—ketika digunakan untuk Allah, serta untuk hubungan antara sesama makhluk—sering digunakan dalam Al-Quran dalam pengertian “penolong”, “kawan dekat”, “pelindung”, “penjaga”, dan sebagainya, tidak ada satu pun dari makna-makna sekunder ini yang dapat dengan tepat—yakni, tanpa melanggar penghormatan kepada Allah—menggambarkan sikap manusia kepada, atau hubungannya dengan, Dia. Karena itu, acuan kepada orang-orang beriman sebagai auliya’ Allah paling baik diterjemahkan menjadi “mereka yang dekat dengan Allah”, dalam pengertian bahwa mereka selalu sadar akan Dia. Penerjemahan ini didukung oleh hampir seluruh mufasir klasik.


Surah Yunus Ayat 63

الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

allażīna āmanụ wa kānụ yattaqụn

63. mereka yang telah meraih iman dan senantiasa sadar akan Allah.


Surah Yunus Ayat 64

لَهُمُ الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۚ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

lahumul-busyrā fil-ḥayātid-dun-yā wa fil-ākhirah, lā tabdīla likalimātillāh, żālika huwal-fauzul-‘aẓīm

64. Bagi mereka itu ada berita gembira [yakni kebahagiaan] dalam kehidupan di dunia ini85 dan dalam kehidupan akhirat; [dan karena] tiada apa pun yang pernah dapat mengubah [hasil dari] janji-janji Allah, ini, inilah kemenangan yang tertinggi!


85 Yakni, kebahagiaan yang lahir dari perasaan dekat dengan Allah dan, karena itu, perasaan kedamaian ruhani.


Surah Yunus Ayat 65

وَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ ۘ إِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا ۚ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

wa lā yaḥzungka qauluhum, innal-‘izzata lillāhi jamī’ā, huwas-samī’ul-‘alīm

65. Dan, janganlah bersedih hati karena perkataan mereka [yang mengingkari kebenaran] itu. Perhatikanlah, seluruh kekuasaan dan kemuliaan86 adalah kepunyaan Allah saja: hanya Dia Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.


86 Nomina ‘izzah mencakup konsep kekuasaan superior serta konsep kehormatan dan kemuliaan. Terjemahannya ke dalam bahasa lain bergantung pada konteksnya, dan kadang-kadang—sebagaimana dalam kasus ini—mengharuskan penggabungan dua istilah.


Surah Yunus Ayat 66

أَلَا إِنَّ لِلَّهِ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ ۗ وَمَا يَتَّبِعُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ شُرَكَاءَ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

alā inna lillāhi man fis-samāwāti wa man fil-arḍ, wa mā yattabi’ullażīna yad’ụna min dụnillāhi syurakā`, iy yattabi’ụna illaẓ-ẓanna wa in hum illā yakhruṣụn

66. OH, SUNGGUH, kepunyaan Allah-lah siapa pun yang ada di lelangit dan siapa pun yang ada di bumi: jadi, apakah gerangan yang mereka ikuti—mereka yang menyeru, di samping Allah, wujud-wujud yang mereka anggap bersekutu dalam ketuhanan-Nya?87 Mereka hanyalah mengikuti dugaan-dugaan [orang lain], dan mereka sendiri tidak melakukan apa pun kecuali menduga-duga saja—


87 Lit., “sekutu-sekutu”, yakni sekutu-sekutu Allah (lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 15). Kata ganti substantif (ism dhamir) man (“siapa pun”) yang muncul dua kali dalam bagian pertama ayat ini merujuk pada makhluk-makhluk rasional (yang berbeda dengan benda-benda tak bernyawa) yang oleh “orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah” dianggap memiliki sifat-sifat atau kekuatan-kekuatan yang, kenyataannya, hanya dimiliki Allah. Al-Quran menentang konsep keberhalaan ini dengan menjelaskan bahwa seluruh makhluk rasional, apakah manusia atau malaikat, merupakan “milik Allah” (yakni, keberadaannya—seperti segala sesuatu yang lain di alam semesta ini—bergantung sepenuhnya kepada-Nya), tidak memiliki sifat-sifat Ilahi dan, karenanya, bukan merupakan objek-objek sembahan.


Surah Yunus Ayat 67

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

huwallażī ja’ala lakumul-laila litaskunụ fīhi wan-nahāra mubṣirā, inna fī żālika la`āyātil liqaumiy yasma’ụn

67. [padahal,] Dia-lah yang telah menjadikan malam bagi kalian agar kalian dapat beristirahat padanya, dan siang, untuk menjadikan [kalian] melihat:88 perhatikanlah, dalam yang demikian ini sungguh terdapat pesan-pesan bagi orang-orang yang [mau] mendengar.


88 Lihat Surah Ibrahim [14]: 32-33 dan catatan no. 46; untuk makna khusus “siang” dan “malam” dalam konteks ini, lihat catatan no. 77 pada Surah An-Naml [27]: 86, yang termasuk wahyu yang diturunkan sedikit lebih awal dari pada surah ini.


Surah Yunus Ayat 68

قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا ۗ سُبْحَانَهُ ۖ هُوَ الْغَنِيُّ ۖ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ إِنْ عِنْدَكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ بِهَٰذَا ۚ أَتَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

qāluttakhażallāhu waladan sub-ḥānah, huwal-ganiyy, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, in ‘indakum min sulṭānim bihāżā, a taqụlụna ‘alallāhi mā lā ta’lamụn

68. [Dan, sungguhpun begitu,] mereka menyatakan, “Allah telah mengambil untuk diri-Nya sendiri seorang anak laki-laki!” Maha Tak Terhingga Kemuliaan-Nya!89 Mahacukup Dia: kepunyaan-Nya-lah segala yang ada di lelangit dan segala yang ada di bumi! Kalian tidak memiliki bukti apa pun untuk [pernyataan] ini! Apakah kalian akan menisbahkan kepada Allah sesuatu yang tidak dapat kalian ketahui?


89 Lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 96.


Surah Yunus Ayat 69

قُلْ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

qul innallażīna yaftarụna ‘alallāhil-każiba lā yufliḥụn

69. Katakanlah: “Sungguh, orang-orang yang menisbahkan rekaan-rekaan dusta mereka itu sendiri kepada Allah tidak akan pernah meraih kebahagiaan!”


Surah Yunus Ayat 70

مَتَاعٌ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ إِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ ثُمَّ نُذِيقُهُمُ الْعَذَابَ الشَّدِيدَ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ

matā’un fid-dun-yā ṡumma ilainā marji’uhum ṡumma nużīquhumul-‘ażābasy-syadīda bimā kānụ yakfurụn

70. Kesenangan [yang singkat saja] di dunia ini—dan kemudian kepada Kami-lah mereka pasti kembali: dan kemudian Kami akan biarkan mereka merasakan penderitaan yang keras sebagai akibat pengingkaran mereka yang terus-menerus terhadap kebenaran.


Surah Yunus Ayat 71

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ نُوحٍ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُمْ مَقَامِي وَتَذْكِيرِي بِآيَاتِ اللَّهِ فَعَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوا إِلَيَّ وَلَا تُنْظِرُونِ

watlu ‘alaihim naba`a nụḥ, iż qāla liqaumihī yā qaumi ing kāna kabura ‘alaikum maqāmī wa tażkīrī bi`āyātillāhi fa ‘alallāhi tawakkaltu fa ajmi’ū amrakum wa syurakā`akum ṡumma lā yakun amrukum ‘alaikum gummatan ṡummaqḍū ilayya wa lā tunẓirụn

71. DAN, SAMPAIKANLAH kepada mereka kisah Nuh—tatkala dia berkata kepada kaumnya, “Wahai, kaumku! Jika keberadaanku [di antara kalian] dan peringatanku akan pesan-pesan Allah memuakkan bagi kalian90—kepada Allah-lah aku telah bersandar penuh percaya.* Maka, putuskanlah apa yang akan kalian lakukan [terhadapku],91 dan [panggillah penolong-penolong kalian, yakni] wujud-wujud yang kalian anggap bersekutu dalam ketuhanan Allah;92 dan begitu kalian telah memilih tindakan kalian, jangan biarkan keragu-raguan menyimpangkan kalian darinya;93 kemudian, laksanakanlah terhadapku [apa pun yang mungkin telah kalian putuskan], dan jangan beri penangguhan kepadaku!


90 Dengan kata lain, “karena mereka bertentangan dengan keyakinan-keyakinan keberhalaan yang kalian warisi dari nenek moyang kalian”. Kisah Nabi Nuh a.s., yang, secara singkat disebutkan dalam ayat 71-73, dituturkan secara lebih panjang dalam Surah Hud [11]: 36-48 (lihat juga Surah Al-A’raf [7]: 59-64). Di sini, kisah tersebut berhubungan dengan ayat 47, dan dengan demikian berhubungan dengan tema utama surah ini: benarnya pewahyuan ketetapan Allah melalui nabi-nabi-Nya, dan derita dalam kehidupan akhirat yang pasti akan menimpa orang-orang yang mendustakan pesan-pesan-Nya.

* {Bertawakal; in God have I placed my trust—peny.}

91 Lit., “tindakan kalian” (yang merupakan makna istilah amr dalam konteks ini).

92 Lit., “sekutu-sekutu [Tuhan] kalian”. Untuk penjelasan terhadap istilah ini, lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 15.

93 Ini adalah terjemahan bebas dari frasa eliptis, “dan jangan biarkan tindakan kalian (amrukum) menjadi ketidakpastian bagi kalian”.


Surah Yunus Ayat 72

فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَمَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ ۖ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

fa in tawallaitum fa mā sa`altukum min ajr, in ajriya illā ‘alallāhi wa umirtu an akụna minal-muslimīn

72. Namun, jika kalian berpaling [dari pesan yang kubawa, ingatlah bahwa] aku tidak meminta upah apa pun dari kalian: upahku tiada lain hanyalah dari Allah karena aku telah disuruh untuk menjadi di antara orang-orang yang berserah diri kepada-Nya.”


Surah Yunus Ayat 73

فَكَذَّبُوهُ فَنَجَّيْنَاهُ وَمَنْ مَعَهُ فِي الْفُلْكِ وَجَعَلْنَاهُمْ خَلَائِفَ وَأَغْرَقْنَا الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۖ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُنْذَرِينَ

fa każżabụhu fa najjaināhu wa mam ma’ahụ fil-fulki wa ja’alnāhum khalā`ifa wa agraqnallażīna każżabụ bi`āyātinā, fanẓur kaifa kāna ‘āqibatul-munżarīn

73. Sungguhpun begitu, mereka mendustakannya! Maka, Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya, di dalam bahtera, dan menjadikan mereka mewarisi [bumi],94 sedangkan mereka yang mendustakan pesan-pesan Kami, Kami jadikan tenggelam:95 maka, perhatikanlah apa yang akhirnya terjadi pada orang-orang yang telah diberi peringatan itu [tetapi menyia-nyiakannya]!


94 Yakni, “menjadikan mereka hidup lebih lama [daripada yang lainnya]” (Al-Zamakhsyari). Berkenaan dengan terjemahan alegoris dari istilah khala’if (bentuk tunggal: khalif atau khalifah) yang saya pilih, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 22.

95 Lihat Surah Al-A’raf [7], catatan no. 47.


Surah Yunus Ayat 74

ثُمَّ بَعَثْنَا مِنْ بَعْدِهِ رُسُلًا إِلَىٰ قَوْمِهِمْ فَجَاءُوهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا بِمَا كَذَّبُوا بِهِ مِنْ قَبْلُ ۚ كَذَٰلِكَ نَطْبَعُ عَلَىٰ قُلُوبِ الْمُعْتَدِينَ

ṡumma ba’aṡnā mim ba’dihī rusulan ilā qaumihim fa jā`ụhum bil-bayyināti fa mā kānụ liyu`minụ bimā każżabụ bihī ming qabl, każālika naṭba’u ‘alā qulụbil-mu’tadīn

74. DAN KEMUDIAN, sesudah dia, Kami utus rasul-rasul [yang lain]—masing-masing kepada kaumnya sendiri96—dan rasul-rasul itu membawakan kepada mereka semua bukti kebenaran; tetapi mereka tidak mau beriman kepada apa pun yang pernah mereka dustakan:97 demikianlah Kami menutup hati orang-orang yang [biasa] melanggar batas-batas apa yang benar.98


96 Lit., “Kami mengutus rasul-rasul kepada kaum mereka [sendiri]”—secara tidak langsung mengingatkan pada fakta bahwa tiap-tiap rasul sebelum Muhammad Saw. diutus kepada suatu kaum atau umat tertentu, dan bahwa Nabi berbangsa Arab itu adalah nabi pertama dan terakhir yang membawa pesan universal untuk seluruh umat manusia.

97 Bdk. Surah Al-A’raf [7]: 101 dan catatannya, no. 82.

98 Lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 7.


Surah Yunus Ayat 75

ثُمَّ بَعَثْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ مُوسَىٰ وَهَارُونَ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ بِآيَاتِنَا فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُجْرِمِينَ

ṡumma ba’aṡnā mim ba’dihim mụsā wa hārụna ilā fir’auna wa mala`ihī bi`āyātinā fastakbarụ wa kānụ qaumam mujrimīn

75. Dan, setelah [nabi-nabi yang terdahulu] itu, Kami utus Musa dan Harun kepada Fir’aun dan pembesar-pembesarnya dengan (membawa) pesan-pesan Kami: tetapi mereka menyombongkan diri karena mereka adalah orang-orang yang tenggelam dalam dosa.


Surah Yunus Ayat 76

فَلَمَّا جَاءَهُمُ الْحَقُّ مِنْ عِنْدِنَا قَالُوا إِنَّ هَٰذَا لَسِحْرٌ مُبِينٌ

fa lammā jā`ahumul-ḥaqqu min ‘indinā qālū inna hāżā lasiḥrum mubīn

76. Maka, tatkala kebenaran datang kepada mereka dari Kami, mereka berkata, “Perhatikan, jelaslah bahwa ini tiada lain hanyalah sihir!”99


99 Lit., “ini benar-benar sihir yang nyata”: sebuah tuduhan yang tampaknya mengacu pada pesona yang memikat dari pesan-pesan yang disampaikan oleh Nabi Musa a.s. kepada mereka, mirip dengan keberatan-keberatan yang dikemukakan terhadap Nabi Terakhir, Muhammad Saw. (Lihat ayat 2 surah ini dan catatannya, no. 5.)


Surah Yunus Ayat 77

قَالَ مُوسَىٰ أَتَقُولُونَ لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَكُمْ ۖ أَسِحْرٌ هَٰذَا وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُونَ

qāla mụsā a taqụlụna lil-ḥaqqi lammā jā`akum, a siḥrun hāżā, wa lā yufliḥus-sāḥirụn

77. Berkata Musa, “Apakah kalian berbicara sedemikian itu tentang kebenaran setelah kebenaran itu dibawakan kepada kalian? Sihirkah ini? Akan tetapi, para penyihir tidak pernah dapat mencapai akhir yang bahagia!”100


100 Implikasinya adalah bahwa apa yang disebut dengan “ilmu sihir” itu tidak dapat menciptakan lebih dari fenomena sesaat yang hampa muatan ruhani, dan tidak pernah dapat mengungguli hukum-hukum alam yang, dalam keseluruhannya, digambarkan dalam Al-Quran sebagai “ketetapan Allah” (sunnatullah). Kisah Nabi Musa a.s. bersama para penyihir, kemudian berimannya para penyihir itu, dituturkan secara lebih terperinci dalam Surah Al-A’raf [7] dan Surah TaHa [20], yang keduanya diwahyukan sebelum surah ini.


Surah Yunus Ayat 78

قَالُوا أَجِئْتَنَا لِتَلْفِتَنَا عَمَّا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا وَتَكُونَ لَكُمَا الْكِبْرِيَاءُ فِي الْأَرْضِ وَمَا نَحْنُ لَكُمَا بِمُؤْمِنِينَ

qālū a ji`tanā litalfitanā ‘ammā wajadnā ‘alaihi ābā`anā wa takụna lakumal-kibriyā`u fil-arḍ, wa mā naḥnu lakumā bimu`minīn

78. [Para pembesar itu] menjawab, “Apakah engkau datang untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami memercayai dan melakukannya sehingga kalian berdua dapat menjadi berkuasa di negeri ini? Bagaimanapun, kami tidak memercayai kalian berdua!”101


101 Sapaan, “kalian berdua”, mengacu pada Nabi Musa a.s. dan saudara laki-lakinya, yakni Nabi Harun a.s.


Surah Yunus Ayat 79

وَقَالَ فِرْعَوْنُ ائْتُونِي بِكُلِّ سَاحِرٍ عَلِيمٍ

wa qāla fir’aunu`tụnī bikulli sāḥirin ‘alīm

79. Dan, Fir’aun memerintahkan, “Datangkanlah ke hadapanku setiap ahli sihir yang amat pandai!”


Surah Yunus Ayat 80

فَلَمَّا جَاءَ السَّحَرَةُ قَالَ لَهُمْ مُوسَىٰ أَلْقُوا مَا أَنْتُمْ مُلْقُونَ

fa lammā jā`as-saḥaratu qāla lahum mụsā alqụ mā antum mulqụn

80. Dan, tatkala para ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka, “Lemparkanlah apa pun yang mungkin [ingin] kalian lemparkan!”


Surah Yunus Ayat 81

فَلَمَّا أَلْقَوْا قَالَ مُوسَىٰ مَا جِئْتُمْ بِهِ السِّحْرُ ۖ إِنَّ اللَّهَ سَيُبْطِلُهُ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُصْلِحُ عَمَلَ الْمُفْسِدِينَ

fa lammā alqau qāla mụsā mā ji`tum bihis-siḥr, innallāha sayubṭiluh, innallāha lā yuṣliḥu ‘amalal-mufsidīn

81. Dan, ketika mereka melemparkan [tongkat-tongkat mereka dan menyihir pandangan orang-orang102], Musa berkata kepada mereka, “Apa yang kalian upayakan itu [tidak lain] adalah sihir yang sungguh akan Allah lenyapkan! Sungguh, Allah tidak menyuburkan amal-perbuatan para penyebar kerusakan—


102 Penyisipan di atas didasarkan pada Surah Al-A’raf [7]: 116; lihat juga paragraf kedua Surah TaHa [20]: 66.


Surah Yunus Ayat 82

وَيُحِقُّ اللَّهُ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ

wa yuḥiqqullāhul-ḥaqqa bikalimātihī walau karihal-mujrimụn

82. sedangkan dengan kalam-kalam-Nya. Allah membuktikan bahwa yang benar adalah benar,103 betapapun hal ini mungkin amat dibenci oleh orang-orang yang tenggelam dalam dosa!”


103 “Kalam-kalam Allah” di sini maksudnya adalah kehendak-Nya dalam mencipta, yang diwujudkan dalam hukum-hukum alam yang ditetapkan oleh-Nya, serta dalam wahyu-wahyu yang Dia berikan kepada nabi-nabi-Nya (Al-Manar XI, h. 468). Frasa yang sama juga terdapat dalarn Surah Al-Anfal [8]: 7 dan Surah Asy-Syura [42]: 24.


Surah Yunus Ayat 83

فَمَا آمَنَ لِمُوسَىٰ إِلَّا ذُرِّيَّةٌ مِنْ قَوْمِهِ عَلَىٰ خَوْفٍ مِنْ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِمْ أَنْ يَفْتِنَهُمْ ۚ وَإِنَّ فِرْعَوْنَ لَعَالٍ فِي الْأَرْضِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الْمُسْرِفِينَ

fa mā āmana limụsā illā żurriyyatum ming qaumihī ‘alā khaufim min fir’auna wa mala`ihim ay yaftinahum, wa inna fir’auna la’ālin fil-arḍ, wa innahụ laminal-musrifīn

83. Namun, tiada siapa pun dari kaumnya yang menyatakan keimanan mereka kepada Musa,104 kecuali sedikit saja, [sedangkan yang lainnya menahan diri] karena takut kalau-kalau Fir’aun dan pembesar-pembesar mereka menyiksa mereka:105 sebab, sungguh, Fir’aun itu amat kuat di muka bumi dan, sungguh, termasuk di antara orang-orang yang terbiasa melampaui batas.


104 Lit., “beriman kepada Musa”; namun, karena rangkaian ayat ini menunjukkan bahwa yang dirujuk di sini bukanlah keimanan itu sendiri, melainkan pernyataan beriman secara terbuka, saya menerjemahkan frasa di atas seperti demikian. Adapun mengenai istilah dzurriyyah (lit., “keturunan”), kita memiliki beberapa pernyataan yang otoritatif bahwa istilah itu sering menunjukkan “suatu kelompok kecil [atau sedikit] dari kaum seseorang” (Ibn ‘Abbas, seperti dikutip Al-Thabari, Al-Baghawi, Al-Razi, dan Ibn Katsir, serta Al-Dhahhak dan Qatadah, seperti dikutip Al-Thabari dan Ibn Katsir); karenanya, begitulah penerjemahan saya. Karena Al-Quran menyebutkan (misalnya, dalam Surah Al-A’raf [7]: 120-126) bahwa sejumlah orang Mesir akhirnya juga beriman pada risalah Musa dan mengumumkan keimanan mereka secara terbuka, masuk akal untuk berasumsi bahwa yang dimaksud dengan “kaumnya” bukan hanya Bani Israil, melainkan, lebih umum dari itu, yakni kaum dengan siapa Nabi Musa a.s. tinggal: yaitu, baik Bani Israil maupun orang-orang Mesir. Asumsi ini diperkuat oleh rujukan, dalam klausa berikutnya dari kalimat ini, pada “pembesar-pembesar mereka“—sebuah ungkapan yang jelas mengacu pada “pembesar-pembesar” Mesir.

105 Jika ungkapan ‘ala khauf diartikan “meskipun [mereka] takut” (yang mengacu pada orang-orang yang mengumumkan keimanan mereka secara terbuka), kalimat di atas akan berbunyi demikian: “… sedikit orang di antara kaumnya mengumumkan keimanan mereka kepada Musa meskipun mereka takut bahwa Fir’aun dan pembesar-pembesar mereka akan menyiksa mereka”—yang mengimplikasikan (sebagaimana terjemahan yang saya pilih) bahwa, karena takut, kebanyakan dari mereka tidak menyatakan keimanan mereka secara terbuka.


Surah Yunus Ayat 84

وَقَالَ مُوسَىٰ يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ

wa qāla mụsā yā qaumi ing kuntum āmantum billāhi fa ‘alaihi tawakkalū ing kuntum muslimīn

84. Dan, Musa berkata, “Wahai, kaumku! Jika kalian beriman kepada Allah, bersandarlah penuh percaya kepada-Nya—jika kalian [benar-benar] telah berserah diri kepada-Nya!”


Surah Yunus Ayat 85

فَقَالُوا عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

fa qālụ ‘alallāhi tawakkalnā, rabbanā lā taj’alnā fitnatal lil-qaumiẓ-ẓālimīn

85. Kemudian, mereka menjawab, “Kepada Allah, kami telah bersandar penuh percaya! Wahai, Pemelihara kami, janganlah Engkau jadikan kami sebagai barang-mainan106 bagi kaum yang zalim,


106 Lit., “godaan untuk (melakukan) kejahatan” (fitnah).


Surah Yunus Ayat 86

وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

wa najjinā biraḥmatika minal-qaumil-kāfirīn

86. dan selamatkanlah kami, dengan rahmat-Mu, dari orang-orang yang mengingkari kebenaran!”


Surah Yunus Ayat 87

وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ وَأَخِيهِ أَنْ تَبَوَّآ لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتًا وَاجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

wa auḥainā ilā mụsā wa akhīhi an tabawwa`ā liqaumikumā bimiṣra buyụtaw waj’alụ buyụtakum qiblataw wa aqīmuṣ-ṣalāh, wa basysyiril-mu`minīn

87. Dan, [lalu] Kami memberi ilham kepada Musa dan saudaranya: “Ambillah untuk kaummu beberapa rumah di kota dan [katakanlah kepada mereka], ‘Ubahlah rumah-rumah kalian menjadi tempat-tempat ibadah,107 dan berteguhlah mendirikan shalat!’ Dan, berikanlah berita gembira [wahai Musa, akan pertolongan Allah] kepada semua orang beriman.”


107 Lit., “arah shalat” (kiblat, qiblah)—sebuah metafora yang dimaksudkan untuk memberi pemahaman kepada Bani Israil bahwa keselamatan mereka terletak hanya pada kesadaran akan Allah (takwa) dan pengabdian yang terus-menerus kepada-Nya. Makna utama mishr—yang biasanya diterjemahkan menjadi “Mesir”—adalah “kota” atau “metropolis”.


Surah Yunus Ayat 88

وَقَالَ مُوسَىٰ رَبَّنَا إِنَّكَ آتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَأَهُ زِينَةً وَأَمْوَالًا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّوا عَنْ سَبِيلِكَ ۖ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَىٰ أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوا حَتَّىٰ يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ

wa qāla mụsā rabbanā innaka ātaita fir’auna wa mala`ahụ zīnataw wa amwālan fil-ḥayātid-dun-yā, rabbanā liyuḍillụ ‘an sabīlik, rabbanaṭmis ‘alā amwālihim wasydud ‘alā qulụbihim fa lā yu`minụ ḥattā yarawul-‘ażābal-alīm

88. Dan, Musa berdoa, “Wahai, Pemelihara kami! Sungguh, Engkau telah memberikan kecemerlangan dan kekayaan dalam kehidupan dunia ini kepada Fir’aun dan pembesar-pembesarnya—akibatnya, wahai Pemelihara kami, mereka menyesatkan [orang lain] dari jalan-Mu!108 Wahai, Pemelihara kami! Musnahkanlah kekayaan mereka, dan jadikanlah hati mereka mengeras, sehingga mereka tidak dapat meraih iman sebelum mereka melihat derita pedih [yang menanti mereka]!”


108 Menurut kebanyakan mufasir klasi, partikel li yang diletakkan di depan verba yudhillu (“mereka menyesatkan”) dalam konteks ini merupakan lam al-‘aqibah (“[huruf] lam yang menunjukkan akibat”) dan bukan, seperti dalam banyak contoh yang lain, mengungkapkan suatu maksud atau tujuan (“agar” atau “bertujuan untuk”). Penerjemahan saya terhadap li ini menjadi “akibatnya” dimaksudkan untuk menonjolkan kejengkelan Nabi Musa a.s. terhadap kezaliman Fir’aun dan pembesar-pembesarnya yang, alih-alih bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya, menggunakan kekuatan mereka untuk merusak kaum mereka sendiri.


Surah Yunus Ayat 89

قَالَ قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُمَا فَاسْتَقِيمَا وَلَا تَتَّبِعَانِّ سَبِيلَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

qāla qad ujībad da’watukumā fastaqīmā wa lā tattabi’ānni sabīlallażīna lā ya’lamụn

89. [Allah] menjawab, “Telah dikabulkan doa kalian ini!109 Maka, tetap teguhlah kalian berdua di atas jalan yang benar, dan janganlah mengikuti jalan orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan [tentang kebenaran dan kebatilan].”


109 Lit., “doa kalian berdua”, yakni Nabi Musa dan Nabi Harun, yang keduanya juga dirujuk dalam kalimat berikutnya.


Surah Yunus Ayat 90

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ

wa jāwaznā bibanī isrā`īlal-baḥra fa atba’ahum fir’aunu wa junụduhụ bagyaw wa ‘adwā, ḥattā iżā adrakahul-garaqu qāla āmantu annahụ lā ilāha illallażī āmanat bihī banū isrā`īla wa ana minal-muslimīn

90. Dan, Kami bawa Bani Israil menyeberangi laut; dan kemudian Fir’aun dan bala tentaranya mengejar mereka dengan keangkuhan dan kezaliman yang dahsyat, hingga [mereka terkepung oleh air laut. Dan,] ketika dia hampir tenggelam, [Fir’aun] berseru,110 “Aku percaya bahwa tiada tuhan kecuali Dia, yang dipercayai oleh Bani lsrail, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri kepada-Nya!”


110 Lit., “hingga, tatkala ketenggelaman menimpanya, dia berkata”. Untuk kisah lengkap tentang Nabi Musa a.s. dan Fir’aun, penindasan yang zalim oleh Fir’aun atas orang-orang Israil dan pembebasan mereka, lihat Bibel, Keluaran 1-14, dan khususnya (dengan merujuk pada ayat Al-Quran di atas), pasal 14, yang menceritakan secara terperinci peristiwa lolosnya Bani Israil secara menakjubkan dan malapetaka yang menimpa Fir’aun beserta bala tentaranya. Hendaknya selalu diingat bahwa semua rujukan Al-Quran terhadap peristiwa-peristiwa historis atau legendaris—apakah yang digambarkan di dalam Bibel atau dalam tradisi lisan Arab pra-Islam—selalu dimaksudkan untuk menguraikan suatu pelajaran tertentu menyangkut etika, dan bukan semata-mata untuk memaparkan suatu kisah itu sendiri: inilah yang menjelaskan mengapa rujukan-rujukan dan kisah-kisah tersebut bersifat fragmenter [terpotong-potong dan tidak terperinci—peny.}.


Surah Yunus Ayat 91

آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

āl-āna wa qad ‘aṣaita qablu wa kunta minal-mufsidīn

91. [Namun, Allah berfirman,] “Kini?111—ketika sebelumnya engkau selalu durhaka [kepada Kami], dan termasuk di antara orang-orang yang menyebarkan kerusakan?


111 Yakni, “Apakah kau baru bertobat kini, ketika sudah terlambat?” Bdk. Surah An-Nisa’ [4]: 18—”tobat tidak akan diterima dari orang-orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan jahat hingga mereka sekarat dan lantas (setelah itu baru) mengatakan, ‘Perhatikanlah, kini aku bertobat'”.


Surah Yunus Ayat 92

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ

fal-yauma nunajjīka bibadanika litakụna liman khalfaka āyah, wa inna kaṡīram minan-nāsi ‘an āyātinā lagāfilụn

92. [Sekali-kali tidak,] tetapi pada hari ini, Kami hanya akan menyelamatkan jasadmu112 agar engkau dapat menjadi tanda [peringatan] bagi orang-orang yang akan datang sesudahmu: sebab, perhatikanlah, amat banyaklah manusia yang melalaikan pesan-pesan Kami!”


112 Lit., “Kaki akan menyelamatkanmu dalam jasadmu”: hal ini kemungkinan mengacu pada kebiasaan orang Mesir kuno untuk membalsem jasad para raja dan bangsawan mereka sehingga mengawetkannya untuk anak cucu mereka pada masa yang akan datang. Sejumlah pakar Egiptologi berasumsi bahwa “Fir’aun jahat” yang diceritakan dalam Al-Quran dan Bibel adalah Ramses II (hidup sekitar 1324-1258 SM), sedangkan yang lain mengidentifikasinya sebagai Tut-ankh-amen, leluhurnya yang malang, atau bahkan sebagai Thotmes (atau Thutmosis) III, yang hidup pada abad ke-15 SM. Bagaimanapun, semua “identifikasi” ini bersifat spekulatif murni dan tidak memiliki nilai historis yang pasti. Dalam kaitan ini, hendaknya diingat bahwa julukan “Fir’aun” bukanlah merupakan nama orang, melainkan gelar yang disandang oleh semua raja Mesir kuno.


Surah Yunus Ayat 93

وَلَقَدْ بَوَّأْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ مُبَوَّأَ صِدْقٍ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ فَمَا اخْتَلَفُوا حَتَّىٰ جَاءَهُمُ الْعِلْمُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ يَقْضِي بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

wa laqad bawwa`nā banī isrā`īla mubawwa`a ṣidqiw wa razaqnāhum minaṭ-ṭayyibāt, famakhtalafụ ḥattā jā`ahumul-‘ilm, inna rabbaka yaqḍī bainahum yaumal-qiyāmati fīmā kānụ fīhi yakhtalifụn

93. Dan [sesudah itu], sesungguhnya, Kami berikan kepada Bani Israil kediaman yang paling baik,113 dan melimpahkan kepada mereka rezeki dari yang baik-baik dalam kehidupan ini. Dan, baru setelah pengetahuan [tentang wahyu Allah] disampaikan kepada merekalah, mereka mulai menganut pandangan yang berbeda-beda: [tetapi,] sungguh, pada Hari Kebangkitan, Pemeliharamu akan memutuskan di antara mereka tentang segala hal yang biasa mereka perselisihkan.114


113 Lit., “Kami tempatkan Bani Israil pada suatu kediaman yang luar biasa baik”—istilah yang disebutkan terakhir ini, menurut hampir seluruh mufasir, merupakan makna shidq dalam konteks ini.

114 Ketika rnenafsirkan ayat ini, Al-Razi berkata, “Kaum Musa tetap menganut satu kepercayaan agama (‘ala millah wahidah) dan satu pendapat, tanpa perselisihan apa pun, hingga mereka mulai mempelajari Taurat: setelah itu, mereka menjadi sadar akan [berbagai] masalah dan kewajiban yang ada, dan sejumlah perselisihan [mengenai penafsirannya] timbul di antara mereka. Maka, Allah menjelaskan [dalam ayat Al-Quran di atas] bahwa perselisihan semacam ini tidak dapat dihindari (la budd) dan akan senantiasa ada dalam kehidupan dunia ini.” Tafsir psikologis yang tajam dari Al-Razi ini selaras dengan pernyataan Al-Quran yang sering diulang bahwa kecenderungan perselisihan intelektual merupakan ciri khas yang permanen dari watak manusia (lihat kalimat terakhir Surah Al-Baqarah [2]: 213 dan 253, serta catatan-catatannya; juga Surah Al-Mu’minun [23]: 53 dan catatan no. 30).


Surah Yunus Ayat 94

فَإِنْ كُنْتَ فِي شَكٍّ مِمَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ فَاسْأَلِ الَّذِينَ يَقْرَءُونَ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ لَقَدْ جَاءَكَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

fa ing kunta fī syakkim mimmā anzalnā ilaika fas`alillażīna yaqra`ụnal-kitāba ming qablik, laqad jā`akal-ḥaqqu mir rabbika fa lā takụnanna minal-mumtarīn

94. MAKA, [wahai Manusia,] jika engkau ragu tentang [kebenaran dari] apa yang [kini] telah Kami turunkan kepadamu,115 tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab Ilahi [yang diwahyukan] sebelum masamu:116 [dan engkau akan dapati bahwa,] sungguh, kini kebenaran telah datang kepadamu dari Pemeliharamu. Maka, janganlah termasuk di antara orang-orang yang ragu—


115 Beberapa mufasir berasumsi bahwa ayat 94-95 ditujukan kepada Nabi Muhammad Saw.—sebuah asumsi yang sangat tidak masuk akal mengingat teguran (pada ayat 95) ini, “Janganlah termasuk di antara orang-orang yang berkukuh mendustakan pesan-pesan Allah”: sebab, jelaslah bahwa seorang nabi pilihan Allah tidak akan pernah jatuh dalam perbuatan dosa semacam itu. Karena itu, Al-Razi menafsirkan kedua ayat ini sebagai mengacu pada manusia secara umum, dan menjelaskan acuan terhadap “apa yang telah Kami turunkan kepadamu” dalam pengertian sebagaimana yang saya terjemahkan. Lebih jauh, penafsiran ini memberikan kejelasan bahwa bagian di atas sangat terkait dengan ayat 57-58, yang berbicara tentang petunjuk yang disampaikan kepada umat manusia melalui kitab Ilahi yang terakhir, yakni Al-Quran.

116 Yakni, kaum Yahudi dan Nasrani. “Membaca” di sini adalah suatu metonimia bagi keimanan, yakni pada Bibel, yang—walau kenyataannya teks itu telah mengalami perubahan dan kesalahan seiring dengan berjalannya waktu—masih memuat rujukan yang jelas tentang kedatangan Nabi Muhammad Saw. dan, dengan demikian, secara tersirat, tentang kebenaran pesan Ilahi yang diwahyukan melaluinya. Dalam pengertiannya yang lebih luas, ayat di atas menyinggung kesinambungan yang tak terputus dari pengalaman keagamaan manusia, dan menyinggung fakta, yang sering ditekankan dalam Al-Quran, bahwa setiap rasul Allah  mengajarkan kebenaran dasar yang sama dan tunggal. (Dalam kaitan ini, lihat paragraf dua Surah Al-Ma’idah [5]: 48 dan catatan no. 66-67.)


Surah Yunus Ayat 95

وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ فَتَكُونَ مِنَ الْخَاسِرِينَ

wa lā takụnanna minallażīna każżabụ bi`āyātillāhi fa takụna minal-khāsirīn

95. dan jangan pula termasuk di antara orang-orang yang berkukuh mendustakan pesan-pesan Allah agar engkau tidak mendapati dirimu sendiri di antara orang-orang yang merugi.


Surah Yunus Ayat 96

إِنَّ الَّذِينَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ كَلِمَتُ رَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ

innallażīna ḥaqqat ‘alaihim kalimatu rabbika lā yu`minụn

96. Sungguh, orang-orang yang terhadap mereka kalam [keputusan] Pemeliharamu telah terbukti kebenarannya117 tidak akan meraih iman—


117 Lihat ayat 33 dan catatan no. 53; juga catatan no. 4 pada Surah Ibrahim [14]: 4.


Surah Yunus Ayat 97

وَلَوْ جَاءَتْهُمْ كُلُّ آيَةٍ حَتَّىٰ يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ

walau jā`at-hum kullu āyatin ḥattā yarawul-‘ażābal-alīm

97. sekalipun datang kepada mereka setiap pertanda [kebenaran]—hingga mereka menyaksikan derita pedih [yang menanti mereka dalam kehidupan akhirat].118


118 Dengan kata lain, “ketika keimanan tiada berguna lagi bagi mereka”: mengingatkan pada ayat 90-91, yang berbicara tentang “berimannya” Fir’aun di ambang kematiannya. Bdk. juga Surah An-Nisa’ [4]: 17-18.


Surah Yunus Ayat 98

فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ

falau lā kānat qaryatun āmanat fa nafa’ahā īmānuhā illā qauma yụnus, lammā āmanụ kasyafnā ‘an-hum ‘ażābal-khizyi fil-ḥayātid-dun-yā wa matta’nāhum ilā ḥīn

98. Karena, duhai, celaka!119 belum pernah ada suatu umat pun yang [seluruhnya] meraih iman dan kemudian mendapatkan manfaat karena imannya, kecuali kaum Yunus.120 Ketika mereka akhirnya beriman, Kami hilangkan dari mereka derita menghinakan [yang sedianya akan menimpa mereka, bahkan] dalam kehidupan di dunia ini, dan membiarkan mereka menikmati kehidupan mereka selama masa yang telah ditentukan bagi mereka.121


119 Partikel lau la (“andaikan bukan bahwa” atau “andaikan bukan karena”) kadang-kadang sama artinya dengan hal la, dan karenanya dapat diterjemahkan menjadi “mengapa tidak” (“Mengapa tidak ada … ?”, dst.). Bagaimanapun, baik terjemahan berupa kalimat tanya maupun terjemahan harfiah di atas tidak akan menunjukkan maksud bagian ini. Maknanya baru menjadi jelas jika kita ingat bahwa lau la adalah—terlepas dari makna utamanya—salah satu dari apa yang disebut sebagai huruf al-tahdhidh (“partikel-partikel yang menunjukkan desakan”). Manakala partikel tersebut diikuti sebuah verba dalam bentuk kala yang akan datang {future tense, fi’I mudhari’—peny.}, ia mengungkapkan suatu desakan yang urgen untuk melakukan sesuatu; jika ia diikuti oleh verba dalam bentuk kala lampau {past tense, fi’I madhi—peny.}, seperti dalam kasus di atas, ia menunjukkan teguran kepada seseorang yang tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukannya. Tidak ada padanan kata idiomatik dalam bahasa Inggris modern untuk menyampaikan makna ini. Terjemahan yang terdekat untuknya, menurut saya, adalah kata seru “alack” yang sudah tidak dipakai lagi—yakni, ungkapan dukacita yang mendalam atau celaan; tetapi, penggunaan ungkapan ini (yang barangkali merupakan gabungan dari kata “ahl dan lack!”—yakni, kehilangan atau kemalangan) tidak dimungkinkan karena sudah usang. Oleh karena itu, saya terpaksa memakai kata seru yang lebih baru, yakni “alas” (duhai, celaka!), meskipun kenyataannya, kata ini tidak memiliki, intensitas kata “alack” yang kuno tersebut. Bagaimanapun, hendaknya pembaca ingat bahwa bagian yang di bahas ini, walaupun tampaknya diungkapkan dalam bentuk pengandaian atau bentuk tanya, menunjukkan pernyataan positif: yaitu—seperti ditekankan oleh beberapa mufasir klasik, dan paling eksplisit oleh Al-Thabari—pernyataan bahwa “belum pernah ada …” dan seterusnya.

120 Al-Quran menjelaskan dalam banyak tempat bahwa tidak ada nabi yang dengan segera diterima sedemikian rupa dan diikuti oleh seluruh pengikutnya, dan bahwa banyak umat yang binasa karena kebanyakan penduduknya dengan keras kepala menolak untuk mendengarkan wahyu Ilahi. Satu-satunya pengecualian dalam hal ini konon adalah orang-orang Niniwe, yang—setelah pada mulanya menolak nabi mereka, Yunus, sehingga “dia pergi dalam keadaan marah” (bdk. Surah Al-Anbiya’ [21]: 87)—akhirnya menyambut dakwahnya secara serentak, dan diselamatkan. Untuk kisah Nabi Yunus, lihat Surah Al-Anbiya’ [21]: 87-88 dan Surah As-Shaffat [37]: 139-148, serta catatan-catatannya; narasi yang lebih lengkap, yang tidak bertentangan dengan rujukan-rujukan Al-Quran, terdapat dalam Bibel (Kitab Yunus). Dalam konteks rangkaian ayat yang sedang kita bahas ini, penyebutan kaum Yunus yang merupakan satu-satunya umat (di antara sekian banyaknya umat) terdahulu yang menaati nabi mereka sebelum terlambat—dimaksudkan untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang mendengar dan membaca Al-Quran bahwa penolakan yang disengaja terhadap pesan yang terkandung di dalamnya oleh “orang-orang yang terhadap mereka kalam [keputusan] Pemeliharamu telah terbukti kebenarannya” (lihat ayat 96) pasti akan mengakibatkan bencana spiritual bagi mereka dan, karena itu, mendatangkan penderitaan yang pedih dalam kehidupan akhirat.

121 Lit., “untuk suatu waktu”, yakni jangka waktu hidup alami mereka (Al-Manar XI, h. 483).


Surah Yunus Ayat 99

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

walau syā`a rabbuka la`āmana man fil-arḍi kulluhum jamī’ā, a fa anta tukrihun-nāsa ḥattā yakụnụ mu`minīn

99. Dan [demikianlah:] seandainya Pemeliharamu menghendaki, semua orang yang hidup di muka bumi pasti telah meraih iman, seluruhnya:122 maka, apakah engkau menyangka bahwa engkau dapat memaksa manusia untuk beriman,


122 Al-Quran berulang-ulang menekankan fakta bahwa “andaikan Dia menghendaki, Dia pasti telah memberi petunjuk kepada kalian semuanya” (Surah Al-An’am [6]: 149)—implikasi nyatanya adalah bahwa Dia menghendaki sebaliknya: yakni, bahwa Dia telah memberi manusia kebebasan untuk memilih antara yang benar dan yang salah sehingga mengangkat statusnya menjadi makhluk bermoral (yang berbeda dengan binatang, yang hanya dapat mengikuti insting mereka). Dalam konteks ini, lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 143, serta—dalam kaitannya dengan alegori kejatuhan Adam dan Hawa dari surga—Surah Al-A’raf [7], catatan no. 16.


Surah Yunus Ayat 100

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تُؤْمِنَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ

wa mā kāna linafsin an tu`mina illā bi`iżnillāh, wa yaj’alur-rijsa ‘alallażīna lā ya’qilụn

100. padahal tiada seorang manusia pun dapat meraih iman kecuali dengan izin Allah,123 dan [meskipun] Dia-lah yang menimpakan keburukan yang menjijikkan [berupa kekafiran] terhadap orang-orang yang tidak hendak menggunakan akal mereka?124


123 Yakni, berkat petunjuk Allah dan dalam jangkauan apa-apa yang telah Dia tetapkan sebagai fitrah manusia, yang mencakup kemampuan untuk membedakan kebenaran dan kebatilan. Karena kebebasan manusia untuk melakukan pilihan moral itu terwujud dalam kesediaan atau keengganannya untuk menyesuaikan diri dengan fitrah sejatinya yang ditetapkan oleh Allah, dapat dikatakan bahwa kebebasan itu, pada akhirnya, bergantung pada rahmat Allah. (Bdk. Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 19, serta Surah Ibrahim [14], catatan no. 4.)

124 Bdk. Surah Al-Anfal [8]: 22 dan 55, serta catatannya, no. 58. Sebagaimana dalam ayat-ayat itu, di sini kekafiran diperlihatkan sebagai akibat dari keengganan apriori seseorang untuk menggunakan akalnya dengan tujuan untuk memahami pesan-pesan Allah, baik yang diungkapkan secara langsung melalui wahyu-wahyu yang diberikan kepada para nabi-Nya, maupun—sebagaimana yang sekali lagi ditekankan Al-Quran pada ayat berikutnya1yang terbentang di hadapan persepsi manusia dalam bentuk fenomena ciptaan-Nya yang teramati.


Surah Yunus Ayat 101

قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَمَا تُغْنِي الْآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ

qulinẓurụ māżā fis-samāwāti wal-arḍ, wa mā tugnil-āyātu wan-nużuru ‘ang qaumil lā yu`minụn

101. Katakanlah: “Perhatikan segala yang ada di lelangit dan di bumi!”

Namun, apalah faedahnya semua pesan dan semua peringatan itu bagi orang-orang yang tidak hendak beriman?


Surah Yunus Ayat 102

فَهَلْ يَنْتَظِرُونَ إِلَّا مِثْلَ أَيَّامِ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ قُلْ فَانْتَظِرُوا إِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُنْتَظِرِينَ

fa hal yantaẓirụna illā miṡla ayyāmillażīna khalau ming qablihim, qul fantaẓirū innī ma’akum minal-muntaẓirīn

102. Maka, apa lagi yang dapat diharapkan oleh orang-orang seperti itu [untuk menimpa mereka] kecuali (kejadian) seperti hari-hari [bencana yang menimpa] orang-orang [yang mengingkari kebenaran] itu yang telah berlalu sebelum mereka?

Katakanlah: “Maka, tunggulah [apa yang akan terjadi:] sungguh, aku akan menunggu bersama kalian!”


Surah Yunus Ayat 103

ثُمَّ نُنَجِّي رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا ۚ كَذَٰلِكَ حَقًّا عَلَيْنَا نُنْجِ الْمُؤْمِنِينَ

ṡumma nunajjī rusulana wallażīna āmanụ każālik, ḥaqqan ‘alainā nunjil-mu`minīn

103. [Sebab, demikianlah yang selalu terjadi: Kami tetapkan hukuman kepada semua orang yang mengingkari kebenaran dan mendustakan pesan-pesan Kami;] dan kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang telah meraih iman.125 Demikianlah yang telah Kami tetapkan atas diri Kami sendiri: Kami menyelamatkan semua orang yang beriman [kepada Kami].126


125 Penyisipan panjang saya di awal ayat ini didasarkan, terutama, pada penafsiran Al-Zamakhsyari terhadapnya. Penyisipan ini harus dilakukan mengingat bahwa kata sambung adverbial tsumma (“setelah itu” atau “kemudian”) di sini berhubungan bukan dengan bagian sebelumnya, melainkan dengan tema yang muncul berulang-ulang di dalam Al-Quran dan yang hanya disinggung secara tidak langsung dalam ayat 102: yakni, pengalaman nabi-nabi terdahulu dengan umat-umat mereka yang keras kepala, malapetaka yang menimpa orang-orang yang mendustakan pesan-pesan mereka dan, dalam setiap kasus, penyelamatan Ilahi terhadap nabi itu dan orang-orang yang mengikutinya. Rasyid Ridha secara tepat menggambarkan bagian ini sebagai “salah satu contoh terbaik dari gaya pengungkapan eliptis (ijaz) yang bisa ditemukan dalam Al-Quran” (Al-Manar XI, h. 487).

126 Al-Razi menjelaskan bahwa frasa haqqan ‘alaina (lit., “sebagai kewajiban atas Kami”) menunjukkan tidak lebih dari sekadar keniscayaan logis, yakni pasti terjadinya tindakan Allah “menetapkan atas diri-Nya sendiri” itu, dan bukan merupakan suatu “kewajiban” bagi-Nya: sebab, Dia yang memiliki kekuasaan untuk menetapkan segala sesuatu tidak memiliki “kewajiban” apa pun, dan—sebagaimana ditunjukkan oleh Al-Razi—manusia tidak pula memiliki “hak” apa pun berkenaan dengan Penciptanya.


Surah Yunus Ayat 104

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي شَكٍّ مِنْ دِينِي فَلَا أَعْبُدُ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ أَعْبُدُ اللَّهَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ ۖ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

qul yā ayyuhan-nāsu ing kuntum fī syakkim min dīnī fa lā a’budullażīna ta’budụna min dụnillāhi wa lākin a’budullāhallażī yatawaffākum wa umirtu an akụna minal-mu`minīn

104. KATAKANLAH [wahai Nabi]: “Wahai, manusia! Jika kalian dalam keraguan tentang agamaku, [ketahuilah bahwa] aku tidak menyembah makhluk-makhluk yang kalian sembah di samping Allah itu,127 tetapi [bahwa] aku menyembah Allah saja, yang akan menjadikan kalian [semua] mati:128 sebab, aku telah diperintah supaya termasuk di antara orang-orang yang beriman [kepada-Nya saja].”


127 Penggunaan kata ganti alladzina dalam frasa “yang kalian sembah” menunjukkan bahwa, di sini, kata ganti tersebut mengacu pada makhluk-makhluk berakal—seperti, wali-wali dan sebagainya—dan bukan pada representasi-representasi yang tak bernyawa.  Mengenai istilah din (yang diterjemahkan di sini menjadi “faith” [keyakinan, agama], lihat bagian pertama catatan no. 249 pada Surah Al-Baqarah [2]: 256.

128 Dengan kata lain, “dan meminta kalian bertanggung jawab pada Hari Pengadilan”. Dalam konteks ini, rujukan khusus kepada Allah sebagai “yang mematikan seluruh makhluk hidup” dimaksudkan untuk memberi pemahaman kepada “orang-orang yang mengingkari kebenaran” akan fakta bahwa setelah mereka mati, mereka akan dibawa ke hadapan-Nya untuk diadili.


Surah Yunus Ayat 105

وَأَنْ أَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

wa an aqim waj-haka lid-dīni ḥanīfā, wa lā takụnanna minal-musyrikīn

105. Karena itu, [wahai manusia,] hadapkanlah wajahmu dengan teguh kepada keyakinan [yang sejati] dengan berpaling dari segala yang batil129 dan janganlah termasuk di antara orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah.


129 Dalam penggunaan bahasa Arab klasik, dan khususnya dalam Al-Quran, kata “Wajah” sering digunakan sebagai suatu metonimia bagi wujud keseluruhan seseorang karena wajah itulah, lebih daripada bagian lainnya dalam tubuh manusia, yang mengungkapkan kepribadian seseorang (bdk. Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 91).

Untuk penjelasan tentang istilah hanif, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 110.


Surah Yunus Ayat 106

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ

wa lā tad’u min dụnillāhi mā lā yanfa’uka wa lā yaḍurruk, fa in fa’alta fa innaka iżam minaẓ-ẓālimīn

106. Maka, janganlah menyeru, di samping Allah, apa pun yang tidak dapat membawa manfaat kepadamu dan tidak pula mendatangkan mudarat bagimu: sebab, perhatikanlah, jika engkau melakukannya, engkau pasti akan termasuk di antara orang-orang yang zalim!


Surah Yunus Ayat 107

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ ۚ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

wa iy yamsaskallāhu biḍurrin fa lā kāsyifa lahū illā huw, wa iy yuridka bikhairin fa lā rādda lifaḍlih, yuṣību bihī may yasyā`u min ‘ibādih, wa huwal-gafụrur-raḥīm

107. Dan, [ketahuilah bahwa] jika Allah menyentuhkanmu dengan kemalangan, tiada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia; dan jika Dia menghendaki kebaikan bagimu, tiada yang dapat menolak karunia-Nya: Dia menjadikannya tercurah kepada siapa pun yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan, Dia sajalah Yang Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.


Surah Yunus Ayat 108

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۖ وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِوَكِيلٍ

qul yā ayyuhan-nāsu qad jā`akumul-ḥaqqu mir rabbikum, fa manihtadā fa innamā yahtadī linafsih, wa man ḍalla fa innamā yaḍillu ‘alaihā, wa mā ana ‘alaikum biwakīl

108. KATAKANLAH [wahai Nabi]: “Wahai, manusia! Kini, kebenaran dari Pemelihara kalian telah datang kepada kalian. Oleh karena itu, siapa pun yang memilih mengikuti jalan yang benar, dia melakukannya untuk kebaikan dirinya sendiri; dan siapa pun yang memilih tersesat, kesesatannya itu hanyalah merugikan dirinya sendiri. Dan, aku tidak bertanggung jawab atas tingkah laku kalian.”


Surah Yunus Ayat 109

وَاتَّبِعْ مَا يُوحَىٰ إِلَيْكَ وَاصْبِرْ حَتَّىٰ يَحْكُمَ اللَّهُ ۚ وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ

wattabi’ mā yụḥā ilaika waṣbir ḥattā yaḥkumallāh, wa huwa khairul-ḥākimīn

109. Dan, [adapun mengenai dirimu sendiri, wahai Muhammad,] ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu saja, dan bersabarlah dalam menghadapi kesusahan, hingga Allah memberi keputusan-Nya: sebab, Dia-lah hakim yang sebaik-baiknya.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top