38. Sad (Shad) – ص

Surat Sad dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Sad ( ص ) merupakan surah ke 38 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 88 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Sad tergolong Surat Makkiyah.

Surah yang diwahyukan relatif agak awal ini—kemungkinan menjelang akhir tahun keempat atau permulaan tahun kelima dakwah Nabi—hampir seluruhnya membicarakan masalah petunjuk Ilahi dan penolakannya oleh orang-orang yang “tenggelam dalam kebanggaan [yang batil], dan [karena itu] benar-benar dalam kesalahan” (ayat 2).

Satu-satunya “nama”—atau, lebih tepatnya, kata kunci—yang digunakan untuk menunjuk surah ini semenjak masa-masa paling awal adalah huruf shad yang mengawali ayat pertamanya.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Sad Ayat 1

ص ۚ وَالْقُرْآنِ ذِي الذِّكْرِ

shād, wal-qur`āni żiż-żikr

1. Shad.1

PERHATIKANLAH2 Al-Quran ini, yang mengandung segala sesuatu yang hendaknya diingat seseorang!3


1 Lihat artikel Al-Muqatta’at (Huruf-Huruf Terpisah) dalam Al-Qur’an.

2 Untuk penjelasan mengenai penerjemahan partikel penghubung wa ini, lihat paruh pertama catatan no. 23 pada Surah Al-Muddassir [74]: 32.

3 Atau: “yang dianugerahi dengan keutamaan” (Al-Zamakhsyari), karena istilah dzikr (lit., “peringatan” atau “ingatan”) juga berarti “sesuatu yang diingat”, yakni, “masyhur”, “terkenal”, dan, secara kiasan, “keutamaan”. Mengenai penerjemahan yang saya pilih, lihat Surah Al-Anbiya’ [21]: 10, yang di dalamnya frasa fihi dzikrukum (yang merujuk, seperti pada kasus di atas , kepada Al-Quran) diterjemahkan menjadi “mengandung segala hal yang hendaknya kalian ingat”, yakni, untuk mencapai martabat dan kebahagiaan.


Surah Sad Ayat 2

بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي عِزَّةٍ وَشِقَاقٍ

balillażīna kafarụ fī ‘izzatiw wa syiqāq

2. Namun, tidak—orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran itu tenggelam dalam kebanggaan [yang batil], dan [karena itu] benar-benar dalam kesalahan.4


4 Yakni, mereka menolak mengakui fakta adanya wahyu Ilahi karena pengakuan semacam itu tentunya akan mengimplikasikan pengakuan akan tanggung jawab manusia kepada Allah—dan kebanggaan batil mereka ini, yang tampak jelas dalam kepercayaan arogan mereka bahwa manusia “serba-cukup”, tidak memungkinkan mereka mengakui hal ini. Gagasan yang sama diungkap dalam Surah An-Nahl [16]: 22 dan, secara lebih umum, dalam Al-Baqarah [2]: 206. Bdk. juga Surah Al-‘Alaq [96]: 6-7.


Surah Sad Ayat 3

كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ قَرْنٍ فَنَادَوْا وَلَاتَ حِينَ مَنَاصٍ

kam ahlaknā ming qablihim ming qarnin fa nādaw wa lāta ḥīna manāṣ

3. Berapa banyaknya generasi5 yang telah Kami hancurkan sebelum waktunya [karena dosa ini]! Dan [bagaimana] mereka berseru [kepada Kami] ketika telah jauh terlambat untuk melarikan diri!6


5 Hendaknya dicatat bahwa istilah qarn berarti bukan hanya suatu “generasi”, melainkan juga—dan sangat sering dalam Al-Quran—”orang-orang yang hidup dalam masa dan lingkungan tertentu”, yakni, suatu “peradaban” {civilization} dalam pengertian historis kata itu.

6 Lit., “ketika tidak ada waktu untuk melarikan diri”.


Surah Sad Ayat 4

وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ ۖ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَٰذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ

wa ‘ajibū an jā`ahum munżirum min-hum wa qālal-kāfirụna hāżā sāḥirung każżāb

4. Adapun [orang-orang] ini menganggap suatu hal yang aneh bahwa seorang pemberi peringatan datang kepada mereka dari tengah-tengah mereka sendiri—maka [demikianlah] para pengingkar kebenaran itu berkata, “Dia [hanyalah] seorang penutur yang memikat, seorang pendusta!7


7 Meskipun pasase ini menggambarkan, pertama-tama, sikap kaum musyrik Quraisy terhadap Nabi, ia juga menyinggung rasa enggan kebanyakan orang, pada segala zaman, untuk mengakui “seorang manusia dari tengah-tengah mereka sendiri”—yakni, manusia seperti mereka sendiri—sebagai orang yang mendapatkan wahyu dari Allah. (Lihat catatan no. 2 dalam Surah Qaf [50]: 2.) *{Lihat juga Surah Yunus [10]: 2, catatan no. 5, berikut catatan penyunting atasnya—peny.}


Surah Sad Ayat 5

أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

a ja’alal-ālihata ilāhaw wāḥidan inna hāżā lasyai`un ‘ujāb

5. Apakah dia menyatakan bahwa semua tuhan itu [hanyalah] Tuhan Yang Esa? Sungguh, ini benar-benar suatu hal yang sangat aneh!”8


8 Jika dilepaskan dari latar belakangnya yang murni historis, kritik ini memiliki signifikansi yang abadi, dan dapat diparafrasakan sebagai berikut: “Apakah dia menyatakan bahwa segala kekuatan dan sifat kreatif itu secara eksklusif hanya ada pada apa yang dia pahami sebagai ‘Tuhan Yang Esa’?”: sebuah parafrasa yang menggambarkan kecenderungan banyak orang untuk menisbahkan pengaruh yang menentukan atas kehidupan manusia—dan, karenanya, menisbahkan kedudukan semi-Ilahi—kepada berbagai fenomena atau peristiwa kebetulan (seperti kekayaan, “keberuntungan”, kedudukan sosial, dan lain-lain), bukannya mengakui bukti-bukti melimpah, yang terhampar dalam seluruh alam kasatmata, yang menunjukkan keberadaan unik Allah.


Surah Sad Ayat 6

وَانْطَلَقَ الْمَلَأُ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلَىٰ آلِهَتِكُمْ ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ يُرَادُ

wanṭalaqal-mala`u min-hum animsyụ waṣbirụ ‘alā ālihatikum inna hāżā lasyai`uy yurād

6. Dan, para pemimpin mereka melontarkan (kata-kata) [berikut], “Teruskanlah dan berpegang teguhlah pada tuhan-tuhan kalian: perhatikan, inilah satu-satunya hal yang harus dilakukan!9


9 Lit., “hal yang diinginkan” atau “hendaknya diinginkan”, yakni, tindakan yang bijak.


Surah Sad Ayat 7

مَا سَمِعْنَا بِهَٰذَا فِي الْمِلَّةِ الْآخِرَةِ إِنْ هَٰذَا إِلَّا اخْتِلَاقٌ

mā sami’nā bihāżā fil-millatil-ākhirati in hāżā illakhtilāq

7. Tidak pernah kami mendengar [pernyataan seperti] ini dalam agama mana pun belakangan ini!10 Ini tidak lain hanyalah buatan [manusia biasa]!


10 Yakni, “dalam agama mana pun yang ada pada masa kita ini”: suatu rujukan tidak langsung terhadap agama Kristen dan dogma Trinitasnya, yang bertentangan dengan konsep keesaan dan keunikan Tuhan dalam Al-Quran, serta terhadap kepercayaan apa pun yang berdasarkan keyakinan akan adanya beragam atau berbagai bentuk inkarnasi kekuatan Ilahi (misalnya, Hinduisme dengan tiga dewanya {trimurti}, yakni Brahma, Wisnu, dan Syiwa).


Surah Sad Ayat 8

أَأُنْزِلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ مِنْ بَيْنِنَا ۚ بَلْ هُمْ فِي شَكٍّ مِنْ ذِكْرِي ۖ بَلْ لَمَّا يَذُوقُوا عَذَابِ

a unzila ‘alaihiż-żikru mim baininā, bal hum fī syakkim min żikrī, bal lammā yażụqụ ‘ażāb

8. Apa? Kepada dia sajakah di antara kami peringatan [Ilahi] diturunkan?”

Tidak, tetapi peringatan-Ku Sendiri-lah yang tidak mereka percayai!11

Tidak, mereka belum merasakan derita yang benar-benar Kutimpakan!12


11 Lit., “yang mereka ragukan”: yakni, bukan pribadi Nabi yang mereka ragukan, alih-alih, kandungan pesan yang disampaikannya—
dan, terutama, penegasannya pada keesaan dan keunikan mutlak Allah, yang berlawanan dengan kebiasaan pemikiran dan tradisi sosial mereka.

12 Secara tersirat, yakni, “pada orang-orang yang menolak menerima kebenaran”.


Surah Sad Ayat 9

أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَحْمَةِ رَبِّكَ الْعَزِيزِ الْوَهَّابِ

am ‘indahum khazā`inu raḥmati rabbikal-‘azīzil wahhāb

9. Ataukah mereka [menganggap bahwa mereka] memiliki perbendaharaan rahmat Pemeliharamu—[rahmat] Yang Mahaperkasa, Maha Pemberi Anugerah?13


13 Yakni, “Apakah mereka mengira bahwa merekalah yang menentukan siapa yang harus diberikan wahyu dan siapa yang tidak?”


Surah Sad Ayat 10

أَمْ لَهُمْ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖ فَلْيَرْتَقُوا فِي الْأَسْبَابِ

am lahum mulkus-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumā, falyartaqụ fil-asbāb

10. Atau [bahwa] kekuasaan terhadap lelangit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya adalah milik mereka? Maka, biarkanlah mereka mencoba mendaki [untuk meraih kekuasaan yang menyerupai Allah] dengan segala sarana [yang mungkin]!14


14 Yakni, “Apakah mereka mengira bahwa manusia diberkahi dengan kemampuan yang sedemikian tingginya sehingga suatu hari mereka pasti dapat menguasai seluruh jagat raya dan alam semesta, dan memiliki kekuasaan seperti Tuhan?” Dalam kaitan ini, bdk. Surah Al-‘Alaq [96]: 6-8 dan catatan no. 4 yang terkait.

Tentang penerjemahan saya atas al-asbab menjadi “segala sarana [yang mungkin]”, lihat catatan no. 82 pada Surah Al-Kahfi [18]: 84.


Surah Sad Ayat 11

جُنْدٌ مَا هُنَالِكَ مَهْزُومٌ مِنَ الْأَحْزَابِ

jundum mā hunālika mahzụmum minal-aḥzāb

11. [Namun,] begitulah: tiap-tiap dan seluruh manusia, betapapun [kuatnya mereka] berkumpul,15 pasti akan menderita kekalahan [manakala mereka menolak menerima kebenaran].


15 Nomina kolektif jund, yang utamanya berarti “pasukan” atau “tentara”, juga bermakna “makhluk-makhluk”, yang dalam konteks ini jelas-jelas berarti manusia; jika digabungkan dengan partikel ma, “kelompok manusia, berapa pun jumlahnya”. Pada sisi lain, istilah hizb (jamak: ahzab) berarti “suatu golongan” atau “kelompok manusia yang berpikiran sama”, atau “orang-orang yang berserikat”, yakni, demi tujuan tertentu.


Surah Sad Ayat 12

كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَعَادٌ وَفِرْعَوْنُ ذُو الْأَوْتَادِ

każżabat qablahum qaumu nụḥiw wa ‘āduw wa fir’aunu żul-autād

12. Telah mendustakan kebenaran pada masa silam,16 kaum Nuh, [suku] ‘Ad, Fir’aun yang memiliki [banyak] tiang-tenda,17


16 Lit., “sebelum mereka”, yakni, sebelum orang-orang yang telah atau sedang menentang pesan Nabi Muhammad Saw.

17 Dalam bahasa Arab klasik, istilah bahasa Badui kuno ini digunakan secara idiomatik sebagai metonimia bagi “kekuasaan yang besar” atau “kukuhnya kekuasaan” (Al-Zamakhsyari). Jumlah tiang penyangga pada kemah kaum Arab Badui ditentukan oleh ukurannya, sedangkan ukuran ini selalu bergantung pada kedudukan dan kekuasaan pemiliknya: demikianlah, seorang pemimpin besar sering dijuluki sebagai “yang memiliki banyak tiang-tenda”.


Surah Sad Ayat 13

وَثَمُودُ وَقَوْمُ لُوطٍ وَأَصْحَابُ الْأَيْكَةِ ۚ أُولَٰئِكَ الْأَحْزَابُ

wa ṡamụdu wa qaumu lụṭiw wa aṣ-ḥābul-aikah, ulā`ikal-aḥzāb

13. dan [suku] Tsamud, kaum Luth, dan penduduk lembah-lembah berhutan [di Madyan]: mereka semua berserikat, [demikianlah kira-kira, dalam sikap mereka yang tidak beriman:]


Surah Sad Ayat 14

إِنْ كُلٌّ إِلَّا كَذَّبَ الرُّسُلَ فَحَقَّ عِقَابِ

ing kullun illā każżabar-rusula fa ḥaqqa ‘iqāb

14. tiada satu pun [yang ada di sana] kecuali mendustakan para rasul—dan kemudian turunlah hukuman-Ku.


Surah Sad Ayat 15

وَمَا يَنْظُرُ هَٰؤُلَاءِ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً مَا لَهَا مِنْ فَوَاقٍ

wa mā yanẓuru hā`ulā`i illā ṣaiḥataw wāḥidatam mā lahā min fawāq

15. Dan, mereka [yang kini mengingkari kebenaran—mereka pun] hanya perlu menunggu satu ledakan [hukuman yang menimpa mereka]: ia tidak akan ditunda sesaat pun.18


18 Yakni, “melampaui batas-waktu yang telah ditentukan Tuhan baginya”.


Surah Sad Ayat 16

وَقَالُوا رَبَّنَا عَجِّلْ لَنَا قِطَّنَا قَبْلَ يَوْمِ الْحِسَابِ

wa qālụ rabbanā ‘ajjil lanā qiṭṭanā qabla yaumil-ḥisāb

16. Namun demikian, mereka berkata [sambil mengejek], “Wahai, Pemelihara kami! Percepatlah bagi kami bagian [hukuman] kami [bahkan] sebelum Hari Perhitungan!”19


19 Bdk. Surah Al-Anfal [8]: 32. “Permintaan” bernada ejekan yang disampaikan orang-orang kafir ini disebutkan dalam sejumlah tempat lain dalam AI-Quran.


Surah Sad Ayat 17

اصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَاذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوُودَ ذَا الْأَيْدِ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ

iṣbir ‘alā mā yaqụlụna ważkur ‘abdanā dāwụda żal-aīd, innahū awwāb

17. [Akan tetapi,] bersabarlah engkau terhadap apa pun yang mungkin mereka katakan, dan ingatlah hamba Kami Daud, yang telah dianugerahi kekuatan batin [yang demikian banyak]! Sungguh, dia selalu berpaling kepada Kami:


Surah Sad Ayat 18

إِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِشْرَاقِ

innā sakhkharnal-jibāla ma’ahụ yusabbiḥna bil-‘asyiyyi wal-isyrāq

18. [dan karena itu,] perhatikanlah, Kami jadikan20 gunung-gunung itu bergabung dengannya dalam memuji kemuliaan Kami yang tak terhingga pada waktu senja dan kala mentari terbit,


20 {We caused}. Lit., “Kami memaksa” atau “mendesak”.


Surah Sad Ayat 19

وَالطَّيْرَ مَحْشُورَةً ۖ كُلٌّ لَهُ أَوَّابٌ

waṭ-ṭaira maḥsyụrah, kullul lahū awwāb

19. dan [begitu pula] burung-burung dalam kumpulannya:21 [bersama-sama] mereka semua senantiasa berpaling kepada Dia [yang telah menciptakan mereka].


21 Lihat Surah Al-Anbiya’ [21], catatan no. 73.


Surah Sad Ayat 20

وَشَدَدْنَا مُلْكَهُ وَآتَيْنَاهُ الْحِكْمَةَ وَفَصْلَ الْخِطَابِ

wa syadadnā mulkahụ wa ātaināhul-ḥikmata wa faṣlal-khiṭāb

20. Dan, Kami memperkukuh kekuasaannya, dan menganugerahinya hikmah dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.


Surah Sad Ayat 21

وَهَلْ أَتَاكَ نَبَأُ الْخَصْمِ إِذْ تَسَوَّرُوا الْمِحْرَابَ

wa hal atāka naba`ul khaṣm, iż tasawwarul-miḥrāb

21. DAN SUNGGUHPUN BEGITU, apakah telah sampai kepadamu kisah tentang orang-orang yang berperkara—[kisah tentang dua orang] yang menaiki dinding-dinding mihrab [tempat Daud berdoa]?22


22 Menurut sumber-sumber tertua yang ada pada kita, kisah yang dirujuk dalam ayat 21-26 di atas memunculkan pertanyaan mengenai apakah manusia pilihan Tuhan, yakni para nabi (yang semuanya, sebagaimana Nabi Daud a.s., dianugerahi “hikmah dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan”), mungkin atau sama sekali tidak mungkin melakukan dosa: dengan kata lain, apakah mereka pada awalnya pun memiliki kelemahan yang merupakan sifat bawaan/inheren dalam fitrah manusia itu sendiri, ataukah mereka secara apriori dianugerahi kesucian karakter yang esensial, yang membuat mereka semua “tidak mungkin berbuat dosa” (ma’shum). Dalam bentuknya sebagaimana yang diriwayatkan oleh para ahli terdahulu (termasuk—menurut Al-Thabari dan Al-Baghawi—yang diriwayatkan oleh para Sahabat seperti ‘Abd Allah ibn ‘Abbas, Anas bin Malik, serta sejumlah tabi’in terkemuka), kisah itu bertentangan dengan doktrin bahwa para nabi tidak mungkin berbuat dosa berkat fitrah mereka (ma’shum)—suatu doktrin yang dikembangkan secara arbitrer oleh para teolog Muslim seiring dengan berlalunya abad demi abad. Dan, kisah ini cenderung menunjukkan bahwa kesucian dan ketidakberdosaan para nabi itu merupakan hasil dari perjuangan dan ujian batin dan, karenanya, selalu merupakan suatu pencapaian moral, bukan sifat bawaan.

Sebagaimana yang dikisahkan secara agak terperinci oleh Al-Thabari dan para mufasir awal lainnya, Nabi Daud a.s. jatuh cinta kepada seorang wanita cantik yang secara kebetulan dilihatnya dari teras di atap rumahnya. Setelah mencari-cari keterangan, beliau diberi tahu bahwa wanita tersebut adalah istri salah seorang perwiranya yang bernama Uria. Karena terdorong oleh nafsunya, Nabi Daud a.s. memerintahkan komandan-lapangannya agar menempatkan Uria pada suatu Posisi perang yang terdepan, sehingga dia pasti akan terbunuh; dan segera setelah perintahnya dilaksanakan dan Uria mati, Nabi Daud a.s. menikahi jandanya (yang kemudian menjadi ibu Sulaiman). Kisah ini kurang lebih bersesuaian dengan Perjanjian Lama, yang menyebutkan nama wanita itu sebagai Batsyeba (2 Samuel 11), kecuali dalam satu hal, yakni tuduhan Bibel bahwa Nabi Daud berzina dengannya sebelum Uria mati (ibid. 11: 4-5)—suatu tuduhan yang selalu ditolak oleh kaum Muslim karena sangat menghujat dan merupakan fitnah: bdk. ucapan khalifah keempat, ‘Ali ibn Abi Thalib (yang dikutip oleh Al-Zamakhsyari berdasarkan sanad dari Sa’id ibn Al-Musayyab): “Jika seseorang menceritakan kisah Daud sebagaimana yang diceritakan oleh para pendongeng itu, saya akan mencambuknya seratus enam puluh kali—karena ini adalah hukuman [yang layak] bagi penghujatan kepada para nabi” (jadi, secara tidak langsung mengingatkan pada perintah Al-Quran, dalam Surah An-Nur [24]: 4, yang menetapkan delapan puluh cambukan bagi orang yang menuduh zina kepada orang-orang biasa tanpa ada bukti yang sah).

Menurut kebanyakan mufasir, dua orang “yang beperkara” yang tiba-tiba muncul di hadapan Daud adalah malaikat yang diutus untuk menunjukkan dosa Daud kepadanya. Namun, kemunculan mereka ini mungkin pula dipandang sebagai sebuah alegori terhadap kesadaran Daud sendiri bahwa dia telah berbuat dosa: yakni suara hati kecilnya sendiri yang pada akhirnya “menaiki dinding-dinding” nafsu yang membutakannya untuk sementara.


Surah Sad Ayat 22

إِذْ دَخَلُوا عَلَىٰ دَاوُودَ فَفَزِعَ مِنْهُمْ ۖ قَالُوا لَا تَخَفْ ۖ خَصْمَانِ بَغَىٰ بَعْضُنَا عَلَىٰ بَعْضٍ فَاحْكُمْ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَلَا تُشْطِطْ وَاهْدِنَا إِلَىٰ سَوَاءِ الصِّرَاطِ

iż dakhalụ ‘alā dāwụda fa fazi’a min-hum qālụ lā takhaf, khaṣmāni bagā ba’ḍunā ‘alā ba’ḍin faḥkum bainanā bil-ḥaqqi wa lā tusyṭiṭ wahdinā ilā sawā`iṣ-ṣirāṭ

22. Tatkala mereka datang menemui Daud, dan dia menjauh dari mereka karena takut, mereka berkata, “Janganlah takut! [Kami hanyalah] dua orang yang berperkara. Salah seorang di antara kami menzalimi yang lainnya: maka putuskanlah di antara kami dengan adil, dan janganlah menyimpang dari kebenaran, dan tunjukkanlah kepada kami [berdua] jalan menuju kebenaran.


Surah Sad Ayat 23

إِنَّ هَٰذَا أَخِي لَهُ تِسْعٌ وَتِسْعُونَ نَعْجَةً وَلِيَ نَعْجَةٌ وَاحِدَةٌ فَقَالَ أَكْفِلْنِيهَا وَعَزَّنِي فِي الْخِطَابِ

inna hāżā akhī, lahụ tis’uw wa tis’ụna na’jataw wa liya na’jatuw wāḥidah, fa qāla akfilnīhā wa ‘azzanī fil-khiṭāb

23. “Perhatikanlah, ini adalah saudaraku: dia mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina, sementara aku [hanya] mempunyai seekor saja—namun dia berkata, ‘Serahkanlah kambingmu itu kepadaku,’ dan dia secara meyakinkan mengalahkanku dalam perdebatan [kami] ini.”


Surah Sad Ayat 24

قَالَ لَقَدْ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعْجَتِكَ إِلَىٰ نِعَاجِهِ ۖ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْخُلَطَاءِ لَيَبْغِي بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَا هُمْ ۗ وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ

qāla laqad ẓalamaka bisu`āli na’jatika ilā ni’ājih, wa inna kaṡīram minal-khulaṭā`i layabgī ba’ḍuhum ‘alā ba’ḍin illallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti wa qalīlum mā hum, wa ẓanna dāwụdu annamā fatannāhu fastagfara rabbahụ wa kharra rāki’aw wa anāb

24. Berkata [Daud], “Tentu, dia telah berbuat zalim terhadapmu dengan menuntut agar kambingmu itu ditambahkan kepada kambingnya! Maka, perhatikanlah, banyak kerabat23 menzalimi satu sama lain—[semuanya] kecuali mereka yang beriman [kepada Allah] dan mengerjakan kebajikan: akan tetapi, betapa sedikitnya mereka itu!”

Dan, [tiba-tiba] Daud memahami bahwa Kami telah mengujinya:24 maka dia memohon kepada Pemeliharanya agar mengampuni dosanya, dan menyungkur sujud serta kembali kepada-Nya dalam tobat.


23 Istilah khulatha’ (jamak dari khalith) secara literal berarti “orang yang bercampur [yaitu, akrab atau intim] dengan orang-orang lain” atau “satu sama lain”. Dalam ayat ini, istilah tersebut jelas-jelas mengacu pada “persaudaraan” di antara dua orang misterius yang beperkara itu, dan karena itu sebaiknya diterjemahkan menjadi “kerabat”.

24 Yakni, secara tersirat, “dan bahwa dia telah gagal” (sehubungan dengan Batsyeba).


Surah Sad Ayat 25

فَغَفَرْنَا لَهُ ذَٰلِكَ ۖ وَإِنَّ لَهُ عِنْدَنَا لَزُلْفَىٰ وَحُسْنَ مَآبٍ

fa gafarnā lahụ żālik, wa inna lahụ ‘indanā lazulfā wa ḥusna ma`āb

25. Dan kemudian, Kami mengampuni [dosanya] itu: dan, sungguh, kedekatan dengan Kami telah menantinya [dalam kehidupan akhirat mendatang], dan sebaik-baik tujuan!


Surah Sad Ayat 26

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ

yā dāwụdu innā ja’alnāka khalīfatan fil-arḍi faḥkum bainan-nāsi bil-ḥaqqi wa lā tattabi’il-hawā fa yuḍillaka ‘an sabīlillāh, innallażīna yaḍillụna ‘an sabīlillāhi lahum ‘ażābun syadīdum bimā nasụ yaumal-ḥisāb

26. [Dan, Kami berfirman,] “Wahai, Daud! Perhatikanlah, Kami telah menjadikanmu seorang [nabi, dan juga] khalifah* [Kami] di muka bumi: maka, putuskanlah di antara manusia dengan adil, dan janganlah mengikuti hawa nafsu yang sia-sia, agar ia tidak menjadikanmu tersesat dari jalan Allah: sungguh, bagi mereka yang tersesat dari jalan Allah, tersedia penderitaan yang dahsyat karena telah melupakan Hari Perhitungan!”


* {khalifah, vicegerent: mandatoris, pengemban amanat yang bertindak mewakili sang pemberi mandat dan bertanggung jawab kepadanya—peny.}


Surah Sad Ayat 27

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ

wa mā khalaqnas-samā`a wal-arḍa wa mā bainahumā bāṭilā, żālika ẓannullażīna kafarụ fa wailul lillażīna kafarụ minan-nār

27. DAN, [demikianlah:] tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya tanpa makna dan tujuan, sebagaimana sangkaan orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran itu:25 namun kemudian, kutukan dari api [neraka] bagi semua orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran!26


25 Bdk. Surah Al-‘Imran [3]: 191. Pernyataan di atas muncul dalam Al-Quran dengan berbagai rumusan; lihat, khususnya, catatan no. 11 pada Surah Yunus [10]: 5. Dalam ayat ini, pernyataan tersebut berkaitan dengan disebutkannya Hari Perhitungan dalam ayat sebelumnya, sehingga secara alami mengalir dari aspek khusus kisah Nabi Daud, lalu bermuara pada suatu ajaran moral yang maknanya lebih luas.

26 Yakni, penolakan yang sengaja terhadap kepercayaan bahw

a alam semesta—dan, khususnya, kehidupan manusia—mengandung makna dan tujuan, pasti akan mengakibatkan (walau terkadang tidak terasa) penolakan atas segala perintah moral, kebutaan spiritual, dan, karena itu, derita dalam kehidupan mendatang.


Surah Sad Ayat 28

أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ

am naj’alullażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti kal-mufsidīna fil-arḍi am naj’alul-muttaqīna kal-fujjār

28. [Karena,] akankah Kami memperlakukan orang-orang yang telah meraih iman dan mengerjakan kebajikan dengan cara yang sama seperti [Kami akan memperlakukan] orang-orang yang menyebarkan kerusakan di muka bumi? Akankah Kami memperlakukan orang-orang yang sadar akan Allah dengan cara yang sama seperti orang-orang yang jahat?27


27 Secara tersirat, iman kepada kebangkitan, pengadilan, dan hidup sesudah mati dalam pasase ini (ayat 27-28 ) dinyatakan sebagai konsekuensi logis—yang nyaris merupakan premis—dari semua kepercayaan kepada Tuhan: sebab, mengingat bahwa kita melihat banyak orang saleh yang mengalami segala bentuk kesengsaraan dan kemalangan di dunia ini, sedangkan, di sisi lain, banyak orang jahat dan rusak akhlaknya justru menikmati kehidupan mereka secara damai dan makmur, kita harus menerima salah satu dari dua asumsi ini, yakni: (1) Tuhan tidak ada (karena konsep ketidakadilan tidak sesuai dengan konsep ketuhanan), atau (2) ada kehidupan akhirat, yang di dalamnya baik orang-orang saleh maupun orang-orang zalim akan memetik sepenuhnya apa yang secara moral telah mereka tebarkan selama hidupnya di dunia ini.


Surah Sad Ayat 29

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

kitābun anzalnāhu ilaika mubārakul liyaddabbarū āyātihī wa liyatażakkara ulul-albāb

29. [Semua ini telah Kami jelaskan dalam] kitab Ilahi yang penuh berkah [ini] yang telah Kami wahyukan kepadamu, [wahai Muhammad,] agar manusia dapat mempertimbangkan pesan-pesannya, dan supaya mereka yang dianugerahi pengetahuan yang mendalam dapat merenungkannya.


Surah Sad Ayat 30

وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ ۚ نِعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ

wa wahabnā lidāwụda sulaimān, ni’mal-‘abd, innahū awwāb

30. DAN, KEPADA DAUD, Kami anugerahkan Sulaiman [sebagai anak—dan dia akhirnya tumbuh menjadi] seorang hamba [Kami] yang amat baik!

Perhatikanlah, dia selalu berpaling kepada Kami28


28 Yakni, dia selalu memikirkan Allah, sebagaimana digambarkan melalui contoh dalam lanjutan ayat tersebut.


Surah Sad Ayat 31

إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ

iż ‘uriḍa ‘alaihi bil-‘asyiyyiṣ-ṣāfinātul-jiyād

31. [dan bahkan] ketika menjelang sore hari, kuda yang terpelihara dengan baik dan berkaki tangkas dibawa ke hadapannya,


Surah Sad Ayat 32

فَقَالَ إِنِّي أَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ عَنْ ذِكْرِ رَبِّي حَتَّىٰ تَوَارَتْ بِالْحِجَابِ

fa qāla innī aḥbabtu ḥubbal-khairi ‘an żikri rabbī, ḥattā tawārat bil-ḥijāb

32. dia berkata, “Sungguh, aku menjadi sedemikian menyukai kecintaan terhadap segala sesuatu yang baik karena aku mengingat Pemeliharaku!”29—[seraya mengulangi kata-kata ini tatkala kuda-kuda tersebut berlari pergi,] hingga mereka tersembunyi oleh tabir [jarak30—kemudian dia memerintahkan],


29 Lit., “karena [atau ‘dari’] (‘an) mengingat Pemeliharaku”.

30 Sisipan ini dan yang sebelumnya didasarkan atas penafsiran Al-Razi atas pasase ini.


Surah Sad Ayat 33

رُدُّوهَا عَلَيَّ ۖ فَطَفِقَ مَسْحًا بِالسُّوقِ وَالْأَعْنَاقِ

ruddụhā ‘alayy, fa ṭafiqa mas-ḥam bis-sụqi wal-a’nāq

33. “Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku!”—dan [dengan penuh kasih] dia mengelus-elus kaki dan leher mereka.31


31 Kisah tentang kecintaan Sulaiman terhadap kuda-kuda yang elok dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa segala bentuk cinta sejati yang tertuju kepada Allah pastilah tercermin dalam kesadaran, dan penghormatan, seseorang terhadap keindahan makhluk yang diciptakan-Nya.


Surah Sad Ayat 34

وَلَقَدْ فَتَنَّا سُلَيْمَانَ وَأَلْقَيْنَا عَلَىٰ كُرْسِيِّهِ جَسَدًا ثُمَّ أَنَابَ

wa laqad fatannā sulaimāna wa alqainā ‘alā kursiyyihī jasadan ṡumma anāb

34. Akan tetapi, [sebelum ini] sungguh, Kami telah menguji Sulaiman dengan menempatkan sebuah tubuh [yang tak bernyawa] di atas singgasananya;32 dan kemudian dia berpaling [kepada Kami; dan]


32 Untuk menjelaskan ayat ini, sejumlah mufasir mengemukakan kisah-kisah yang sangat tidak masuk akal, yang hampir seluruhnya bersumber dari sumber-sumber Talmud. Al-Razi membantah semua kisah itu dengan menegaskan bahwa kisah-kisah tersebut tidak perlu dipertimbangkan dengan serius. Sebaliknya, dengan masuk akal dia mengatakan bahwa “badan” (jasad) di atas singgasana Sulaiman mengacu kepada badannya sendiri, dan-secara metonimia—kepada kekuasaan kerajaannya, yang dipastikan akan tetap “mati” selama tidak diilhami oleh nilai-nilai etika yang ditetapkan Allah. (Perlu diingat bahwa dalam bahasa Arab klasik, seseorang yang menjadi lemah tak berdaya karena sakit, rasa khawatir, ketakutan, atau tidak memiliki nilai-nilai moral, sering digambarkan sebagai “tubuh tanpa nyawa”.) Dengan kata lain, ujian awal Sulaiman terletak pada kenyataan bahwa dia sekadar mewarisi kedudukan yang megah, dan menjadi tugasnyalah untuk memberikan esensi dan makna spiritual kepada kedudukan tersebut.


Surah Sad Ayat 35

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

qāla rabbigfir lī wa hab lī mulkal lā yambagī li`aḥadim mim ba’dī, innaka antal-wahhāb

35. dia berdoa, “Wahai, Pemeliharaku! Ampunilah dosa-dosaku dan berikanlah kepadaku anugerah kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun sesudahku:33 sesungguhnya, hanya Engkau-lah Yang Maha Pemberi Anugerah!”


33 Yakni, sebuah kerajaan spiritual, yang tidak dapat diwarisi oleh siapa pun dan, karena itu, tidak akan pula dilanda kecemburuan atau intrik duniawi.


Surah Sad Ayat 36

فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيحَ تَجْرِي بِأَمْرِهِ رُخَاءً حَيْثُ أَصَابَ

fa sakhkharnā lahur-rīḥa tajrī bi`amrihī rukhā`an ḥaiṡu aṣāb

36. Maka,34 Kami jadikan angin tunduk kepadanya, sehingga ia bergerak dengan lembut sesuai perintahnya ke mana pun dia menghendaki,35


34 Yakni, sebagai balasan atas kerendahan hatinya dan atas keberpalingannya dari ambisi-ambisi duniawi, yang ditunjukkan dalam doa, “Ampunilah dosa-dosaku”.

35 Bdk. Surah Al-Anbiya’ [21]: 81 dan catatan no. 75 yang terkait. Mengenai makna, secara umum, dari sejumlah riwayat yang menghiasi sosok Sulaiman, lihat catatan no. 77 pada Surah Al-Anbiya’ [21]: 82.


Surah Sad Ayat 37

وَالشَّيَاطِينَ كُلَّ بَنَّاءٍ وَغَوَّاصٍ

wasy-syayāṭīna kulla bannā`iw wa gawwāṣ

37. demikian pula kekuatan-kekuatan pemberontak [yang telah Kami jadikan agar bekerja untuknya]—segala jenis ahli bangunan dan penyelam—


Surah Sad Ayat 38

وَآخَرِينَ مُقَرَّنِينَ فِي الْأَصْفَادِ

wa ākharīna muqarranīna fil-aṣfād

38. dan lainnya yang terikat bersama-sama dalam belenggu.36


36 Yakni, ditaklukkan dan, kurang lebih, dijinakkan olehnya: lihat catatan no. 76 pada Surah Al-Anbiya’ [21]: 82, yang menjelaskan penerjemahan saya atas syayathin, dalam konteks ini, menjadi “kekuatan-kekuatan pemberontak”.


Surah Sad Ayat 39

هَٰذَا عَطَاؤُنَا فَامْنُنْ أَوْ أَمْسِكْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

hāżā ‘aṭā`unā famnun au amsik bigairi ḥisāb

39. [Dan, Kami katakan kepadanya,] “Inilah anugerah Kami bagimu, untuk diberikan dengan sukarela kepada yang lain, atau ditahan, tanpa [harus melakukan] perhitungan!”


Surah Sad Ayat 40

وَإِنَّ لَهُ عِنْدَنَا لَزُلْفَىٰ وَحُسْنَ مَآبٍ

wa inna lahụ ‘indanā lazulfā wa ḥusna ma`āb

40. Dan , sungguh, kedekatan dengan Kami menantinya [dalam kehidupan akhirat mendatang], dan sebaik-baik tujuan!


Surah Sad Ayat 41

وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ

ważkur ‘abdanā ayyụb, iż nādā rabbahū annī massaniyasy-syaiṭānu binuṣbiw wa ‘ażāb

41. DAN, INGATLAH hamba Kami, Ayyub,37 [bagaimana] ketika dia berseru kepada Pemeliharanya, “Perhatikanlah, setan telah menimpakan kepadaku keletihan dan penderitaan [yang sehebat-hebatnya]!”38


37 Lihat catatan no. 78 pada Surah Al-Anbiya’ [21]: 83.

38 Yakni, dengan keletihan-hidup sebagai akibat dari penderitaan. Segera setelah dia menyadari bahwa Allah tengah mengujinya, Ayyub memahami bahwa kesedihan dan keletihan hidupnya yang mendalam—yang digambarkan dengan mengesankan dalam Perjanjian Lama (Kitab Ayub 3)—tidak lain hanyalah disebabkan oleh apa yang digambarkan sebagai “bisikan-bisikan setan”: inilah pelajaran yang harus diambil dari uraian kisah Ayyub di atas.


Surah Sad Ayat 42

ارْكُضْ بِرِجْلِكَ ۖ هَٰذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ وَشَرَابٌ

urkuḍ birijlik, hāżā mugtasalum bāriduw wa syarāb

42. [dan kemudian dikatakan kepadanya:] “Entakkanlah [tanah] dengan kakimu: inilah air sejuk untuk membersihkan diri dan minum!”39


39 Menurut para mufasir klasik, munculnya mata air penyembuh secara ajaib ini menandakan berakhirnya penderitaan Ayyub, baik derita fisik maupun mentalnya.


Surah Sad Ayat 43

وَوَهَبْنَا لَهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنَّا وَذِكْرَىٰ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

wa wahabnā lahū ahlahụ wa miṡlahum ma’ahum raḥmatam minnā wa żikrā li`ulil-albāb

43. Dan, Kami menganugerahkan kepadanya keturunan yang baru,40 dengan menggandakan jumlahnya sebagai anugerah dari Kami, dan sebagai peringatan bagi semua yang diberi pengetahuan yang mendalam.


40 Lit., “keluarganya” (bdk. Surah Al-Anbiya’ [21]: 84 dan catatan no. 79 yang terkait).


Surah Sad Ayat 44

وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِهِ وَلَا تَحْنَثْ ۗ إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا ۚ نِعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ

wa khuż biyadika ḍigṡan faḍrib bihī wa lā taḥnaṡ, innā wajadnāhu ṣābirā, ni’mal-‘abd, innahū awwāb

44. [Dan, akhirnya Kami katakan kepadanya:] “Sekarang letakkanlah di tanganmu seikat rumput, lalu pukullah denga itu, dan engkau tidak akan melanggar sumpahmu!”41—sebab, sungguh, Kami mendapatinya penuh dengan kesabaran dalam menghadapi kesusahan: alangkah baiknya hamba [Kami] itu, yang, perhatikanlah, senantiasa berpaling kepada Kami!


41 Dalam ungkapan Bibel (Kitab Ayub 2:9), di tengah penderitaannya yang tampaknya tak tertolong lagi itu, istri Ayyub menyalahkan suaminya karena tetap tegar dalam keimanannya: “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allah-mu dan matilah!” Menurut para mufasir klasik, Ayyub bersumpah bahwa jika Allah memulihkan kesehatannya, dia akan menghukum hujatan istrinya itu dengan seratus cambukan. Akan tetapi, ketika dia nyata telah sembuh, dia sangat menyesali sumpahnya yang tergesa-gesa itu, karena dia menyadari bahwa “hujatan” istrinya itu merupakan akibat dari cinta dan rasa kasihan kepadanya; kemudian dia diberi tahu melalui wahyu bahwa dia dapat memenuhi sumpahnya secara simbolik dengan memukul istrinya satu kali dengan “seikat rumput yang berisi seratus helai atau lebih”. (Bdk. Surah Al-Maidah [5]: 89 “Allah tidak akan menghukum kalian karena sumpah-sumpah yang kalian ucapkan tanpa sadar”.)


Surah Sad Ayat 45

وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ

ważkur ‘ibādanā ibrāhīma wa is-ḥāqa wa ya’qụba ulil-aidī wal-abṣār

45. DAN, INGATLAH hamba-hamba Kami, Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub, [yang semuanya] dianugerahi kekuatan batin dan pandangan:


Surah Sad Ayat 46

إِنَّا أَخْلَصْنَاهُمْ بِخَالِصَةٍ ذِكْرَى الدَّارِ

innā akhlaṣnāhum bikhāliṣatin żikrad-dār

46. sebab, sungguh, Kami telah menyucikan mereka dengan suatu pemikiran yang sejernih-jernihnya (yaitu): mengingat kehidupan akhirat.42


42 Lit., “tempat kediaman [terakhir]”.


Surah Sad Ayat 47

وَإِنَّهُمْ عِنْدَنَا لَمِنَ الْمُصْطَفَيْنَ الْأَخْيَارِ

wa innahum ‘indanā laminal-muṣṭafainal-akhyār

47. Dan, perhatikanlah, dalam pandangan Kami, mereka sungguh termasuk di antara orang-orang pilihan, yang benar-benar baik!


Surah Sad Ayat 48

وَاذْكُرْ إِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَذَا الْكِفْلِ ۖ وَكُلٌّ مِنَ الْأَخْيَارِ

ważkur ismā’īla walyasa’a wa żal-kifl, wa kullum minal-akhyār

48. Dan, ingatlah Isma’il dan Alyasa’,43 dan setiap orang yang [seperti mereka] telah mengikrarkan diri [kepada Kami]:44 sebab, masing-masing di antara mereka itu termasuk di antara (manusia-manusia) yang sungguh baik!


43 Alyasa’; Al-Yasa’ {Elisha dalam bahasa Inggris—peny.} merupakan nama versi bahasa Arab dari Nabi Elisa dalam Bibel, yang datang sesudah Elia (lihat Surah As-Saffat [37], catatan no. 48).

44 Untuk penjelasan tentang penerjemahan kata dzu al-kifl ini, lihat Surah Al-Anbiya’ [21], catatan no. 81.


Surah Sad Ayat 49

هَٰذَا ذِكْرٌ ۚ وَإِنَّ لِلْمُتَّقِينَ لَحُسْنَ مَآبٍ

hāżā żikr, wa inna lil-muttaqīna laḥusna ma`āb

49. HENDAKLAH [semua] ini menjadi peringatan [bagi orang-orang yang beriman kepada Allah]—sebab, sungguh, sebaik-baik tujuan menanti orang-orang yang sadar akan Allah:


Surah Sad Ayat 50

جَنَّاتِ عَدْنٍ مُفَتَّحَةً لَهُمُ الْأَبْوَابُ

jannāti ‘adnim mufattaḥatal lahumul-abwāb

50. taman-taman kebahagiaan abadi,45 dengan pintu-pintu gerbang yang terbuka lebar bagi mereka,


45 Dalam kesebelas ayat Al-Quran yang menyebutkan kata ‘adn—dimana ayat ini adalah yang paling awal menyebutkannya—kata ini digunakan untuk menerangkan nomina “taman-taman” (jannat) surga. Nomina ini diderivasi dari verba ‘adana, yang utamanya berarti “dia tinggal [di suatu tempat]” (he remained [somewhere]) atau “dia menetap [pada sesuatu]” (he kept [to something]), yakni, secara terus-menerus: bdk. ungkapan ‘adantu al-balad (“saya tinggal untuk selamanya [atau ‘menetap’] di sebuah negeri”). Dalam bahasa Ibrani biblikal—yang, bagaimanapun, merupakan dialek Arab yang sangat kuno—nomina ‘eden yang sangat erat kaitannya itu juga memiliki konotasi tambahan “kesenangan”, “kenikmatan”, atau “kebahagiaan”. Demikianlah gabungan antara dua konsep ‘adn tersebut yang saya terjemahkan menjadi “kebahagiaan abadi”. Sebagaimana pada banyak tempat lain dalam Al-Quran, di sini k:ebahagiaan itu dilukiskan—agar lebih dekat pada imajinasi manusia—melalui gambaran-gambaran yang mengingatkan manusia pada kesenangan duniawi.


Surah Sad Ayat 51

مُتَّكِئِينَ فِيهَا يَدْعُونَ فِيهَا بِفَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ وَشَرَابٍ

muttaki`īna fīhā yad’ụna fīhā bifākihating kaṡīratiw wa syarāb

51. di dalamnya mereka akan berbaring, [dan] di dalamnya mereka dapat [bebas] meminta buah-buahan dan minuman yang banyak,


Surah Sad Ayat 52

وَعِنْدَهُمْ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ أَتْرَابٌ

wa ‘indahum qāṣirātuṭ-ṭarfi atrāb

52. di sisi mereka pasangan-pasangan dengan pandangan sopan yang benar-benar sepadan.46


46 Lit., “mereka yang menahan pandangannya”, yakni, bersikap santun dan mengarahkan pandangannya kepada pasangannya saja (Al-Razi). Rujukan alegoris terhadap kebahagiaan surga ini muncul dalam Al-Quran sebanyak tiga kali (selain dalam ayat di atas, yang secara kronologis merupakan yang paling awal, juga dalam Surah As-Saffat [37]: 48 serta Surah Ar-Rahman [55]: 56). Sebagai sebuah alegori, ungkapan ini jelas berlaku bagi orang-orang saleh laki-laki maupun perempuan, yang di akhirat akan dipersatukan kembali dengan orang-orang yang mereka cintai dan yang mencintai mereka di dunia ini: sebab, “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang beriman, baik laki-laki maupun perempuan, taman-taman yang dilalui aliran sungai, di dalamnya mereka akan berkediaman, serta tempat-tempat yang indah di dalam taman-taman kebahagiaan abadi” (Surah At-Taubah [9]: 72); dan “siapa pun—baik laki-laki maupun perempuan—yang mengerjakan perbuatan-perbuatan baik [apa saja yang bisa dia kerjakan], serta beriman, akan memasuki surga” (Surah An-Nisa’ [4]: 124, dan pernyataan-pernyataan yang serupa dalam Surah An-Nahl [16]: 97 dan Surah Ghafir [40]: 40). Akhirnya, kita diberi tahu dalam Surah YaSin [36]: 56 bahwa di surga ini “mereka dan pasangan-pasangannya akan berbaring di atas dipan-dipan dalam kebahagiaan”—yakni, akan menemukan kedamaian dan kepuasan batin pada dan bersama satu sama lain. (Untuk penjelasan terhadap istilah atrab, yang saya terjemahkan menjadi “benar-benar sepadan”, lihat catatan no. 15 dalam Surah Al-Waqi’ah [56]: 38.)


Surah Sad Ayat 53

هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِيَوْمِ الْحِسَابِ

hāżā mā tụ’adụna liyaumil-ḥisāb

53. Inilah yang dijanjikan kepada kalian pada Hari Perhitungan:


Surah Sad Ayat 54

إِنَّ هَٰذَا لَرِزْقُنَا مَا لَهُ مِنْ نَفَادٍ

inna hāżā larizqunā mā lahụ min nafād

54. sungguh, inilah rezeki Kami [bagi kalian], yang tiada habis-habisnya.


Surah Sad Ayat 55

هَٰذَا ۚ وَإِنَّ لِلطَّاغِينَ لَشَرَّ مَآبٍ

hāżā, wa inna liṭ-ṭāgīna lasyarra ma`āb

55. Semua ini [bagi orang-orang saleh]: namun, sungguh, seburuk-buruk tujuan menanti orang-orang yang biasa melanggar batas-batas apa yang benar:


Surah Sad Ayat 56

جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَهَا فَبِئْسَ الْمِهَادُ

jahannam, yaṣlaunahā, fa bi`sal-mihād

56. neraka yang akan mereka tanggung—betapa buruknya tempat peristirahatan itu!


Surah Sad Ayat 57

هَٰذَا فَلْيَذُوقُوهُ حَمِيمٌ وَغَسَّاقٌ

hāżā falyażụqụhu ḥamīmuw wa gassāq

57. [Maka,] inilah [bagi mereka—] jadi biarkanlah mereka merasakannya: keputusasaan yang membara dan kegelapan sedingin es


Surah Sad Ayat 58

وَآخَرُ مِنْ شَكْلِهِ أَزْوَاجٌ

wa ākharu min syaklihī azwāj

58. dan, bersamaan dengan itu, [penderitaan] lebih lanjut yang serupa sifatnya.47


47 Lit., “dari jenisnya”: yakni, sebanding intensitasnya dengan apa yang digambarkan Al-Quran sebagai hamim dan ghassaq. Mengenai terjemahan saya atas hamim menjadi “keputusasaan yang membara”, lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 62. Istilah ghassaq, di sisi lain, berasal dari verba ghasaqa, “menjadi gelap” atau “gelap gulita” (Taj Al-‘Arus); jadi, al-ghasiq berarti “kegelapan yang pekat” dan, secara kiasan, “malam” atau, alih-alih “malam yang kelam”. Menurut sejumlah ahli, bentuk ghassaq berarti “dingin yang luar biasa” [atau “yang seperti es”]. Gabungan dua makna ini memberikan kepada kita suatu konsep “kegelapan” jiwa “yang sedingin es” yang, bersama dengan “keputusasaan yang membara” (hamim), akan menjadi ciri-ciri penderitaan akhirat yang dirasakan oleh mereka yang terus-menerus melakukan dosa. Semua penafsiran lain atas istilah ghassaq tersebut bersifat spekulatif murni dan, karena itu, tidak relevan.


Surah Sad Ayat 59

هَٰذَا فَوْجٌ مُقْتَحِمٌ مَعَكُمْ ۖ لَا مَرْحَبًا بِهِمْ ۚ إِنَّهُمْ صَالُو النَّارِ

hāżā faujum muqtaḥimum ma’akum, lā mar-ḥabam bihim, innahum ṣālun-nār

59. [Dan, mereka akan berkata satu sama lain, “Apakah kalian melihat] kerumunan orang ini yang berlari-lari segera [ke dalam dosa] bersama kalian?48 Tiada sambutan selamat datang bagi mereka! Sungguh, mereka [pun] akan harus menanggung (derita) neraka!”49


48 Yakni, “orang-orang yang telah kalian goda, dan yang kemudian mengikuti kalian secara buta”: suatu acuan yang menekankan tanggung jawab ganda yang dipikul oleh para penggoda.

49 Dalam bahasa Arab, frasa “tiada sambutan selamat datang bagi mereka” atau “bagi kalian” (la marhaban bihim atau bikum) sama saja dengan kutukan. Dalam konteks ini—yang dilanjutkan dalam ayat berikutnya—frasa ini mengungkapkan tindakan saling menyangkalnya para penggoda dan yang tergoda.


Surah Sad Ayat 60

قَالُوا بَلْ أَنْتُمْ لَا مَرْحَبًا بِكُمْ ۖ أَنْتُمْ قَدَّمْتُمُوهُ لَنَا ۖ فَبِئْسَ الْقَرَارُ

qālụ bal antum lā mar-ḥabam bikum, antum qaddamtumụhu lanā, fa bi`sal-qarār

60. [Dan,] mereka [yang telah tergoda] akan berseru, “Tidak, tetapi kalianlah! Tiada sambutan selamat datang bagi kalian! Kalianlah yang telah membuat ini bagi kami: seburuk-buruknya keadaan untuk ditempati!”


Surah Sad Ayat 61

قَالُوا رَبَّنَا مَنْ قَدَّمَ لَنَا هَٰذَا فَزِدْهُ عَذَابًا ضِعْفًا فِي النَّارِ

qālụ rabbanā mang qaddama lanā hāżā fa zid-hu ‘ażāban ḍi’fan fin-nār

61. [Dan,] mereka akan berdoa, “Wahai Pemelihara kami! Siapa pun yang telah membuat ini bagi kami, lipat-gandakanlah penderitaannya di dalam neraka!”50


50 Bdk. Surah Al-A’raf [7]: 38 (dan catatan no. 28 dan 29 yang berkaitan), serta Surah Al-Ahzab [33]: 67-68.


Surah Sad Ayat 62

وَقَالُوا مَا لَنَا لَا نَرَىٰ رِجَالًا كُنَّا نَعُدُّهُمْ مِنَ الْأَشْرَارِ

wa qālụ mā lanā lā narā rijālang kunnā na’udduhum minal-asyrār

62. [Dan,] mereka akan menambahkan, “Bagaimana mungkin kami [di sini] tidak melihat orang-orang yang dahulu kami anggap sebagai orang-orang jahat,


Surah Sad Ayat 63

أَتَّخَذْنَاهُمْ سِخْرِيًّا أَمْ زَاغَتْ عَنْهُمُ الْأَبْصَارُ

attakhażnāhum sikhriyyan am zāgat ‘an-humul-abṣār

63. [dan] mereka yang dahulu menjadi sasaran ejekan kami?51 Ataukah [mereka di sini, dan] mata kami tidak melihat mereka?”


51 Yakni, para nabi dan orang-orang saleh yang—sebagaimana ditunjukkan Al-Quran di berbagai tempat—selalu dicemooh oleh orang-orang yang terpikat oleh kehidupan dunia ini dan, karenanya, menentang segala peringatan moral.


Surah Sad Ayat 64

إِنَّ ذَٰلِكَ لَحَقٌّ تَخَاصُمُ أَهْلِ النَّارِ

inna żālika laḥaqqun takhāṣumu ahlin-nār

64. Perhatikanlah, yang demikian itu sesungguhnya adalah [kebingungan dan] pertengkaran para penghuni neraka!


Surah Sad Ayat 65

قُلْ إِنَّمَا أَنَا مُنْذِرٌ ۖ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

qul innamā ana munżiruw wa mā min ilāhin illallāhul-wāḥidul-qahhār

65. KATAKANLAH [wahai Muhammad]: “Aku hanyalah seorang pemberi peringatan; dan tidak ada tuhan apa pun kecuali Allah, Yang Maha Esa, yang memiliki kekuasaan mutlak atas segala yang ada,


Surah Sad Ayat 66

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ

rabbus-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumal-‘azīzul-gaffār

66. Pemelihara lelangit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya, Yang Mahaperkasa, Maha Pengampun!”


Surah Sad Ayat 67

قُلْ هُوَ نَبَأٌ عَظِيمٌ

qul huwa naba`un ‘aẓīm

67. Katakanlah: “Ini adalah pesan-pesan yang agung:


Surah Sad Ayat 68

أَنْتُمْ عَنْهُ مُعْرِضُونَ

antum ‘an-hu mu’riḍụn

68. [bagaimana bisa] kalian berpaling darinya?”


Surah Sad Ayat 69

مَا كَانَ لِيَ مِنْ عِلْمٍ بِالْمَلَإِ الْأَعْلَىٰ إِذْ يَخْتَصِمُونَ

mā kāna liya min ‘ilmim bil-mala`il-a’lā iż yakhtaṣimụn

69. [Katakanlah, wahai Muhammad:] “Aku tiada memiliki pengetahuan tentang [apa yang terjadi diantara] pasukan di tempat yang tinggi tatkala mereka berbantahan [tentang penciptaan manusia],52


52 Mengenai keberatan-alegoris yang disampaikan para malaikat (“pasukan di tempat yang tinggi”) terhadap penciptaan manusia, lihat Surah Al-Baqarah [2]: 30 dan seterusnya, serta catatan no. 22-24 yang terkait. Alegori penciptaan manusia, perintah Allah kepada para malaikat agar “bersujud” di hadapan makhluk baru itu, dan penolakan iblis untuk bersujud disebutkan dalam Al-Quran sejumlah enam kali (Surah Al-Baqarah [2]: 30-34, Al-A’raf [7]: 11 dst., Al-Hijr [15]: 28-44, Al-Isra’ [17]: 61-65, Al-Kahfi [18]: 50, dan Sad [38]: 69-85), masing-masing dengan penekanan pada aspek yang berbeda. Dalam ayat ini (yang tak diragukan lagi merupakan yang paling awal menurut kronologi turunnya), alegori tersebut dikaitkan dengan pernyataan, dalam Surah Al-Baqarah [2]: 31, bahwa Allah “mengajarkan kepada Adam nama-nama segala sesuatu”, yakni menganugerahi manusia kemampuan untuk berpikir konseptual (lihat catatan no. 23 pada Surah Al-Baqarah [2]: 31) dan, dengan demikian, kemampuan untuk membedakan antara apa yang benar dan apa yang salah. Karena memiliki kemampuan ini, manusia tidak memiliki alasan untuk tidak menyadari keberadaan dan keesaan Allah—yakni, “pesan yang agung” yang disebutkan dalam pasase sebelumnya.


Surah Sad Ayat 70

إِنْ يُوحَىٰ إِلَيَّ إِلَّا أَنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُبِينٌ

iy yụḥā ilayya illā annamā ana nażīrum mubīn

70. andaikan tidak diwahyukan kepadaku [oleh Allah]—tidak ada tujuan lain selain agar aku dapat menyampaikan [kepada kalian] peringatan yang nyata.”53


53 Lit., “kecuali bahwa aku adalah (illa annama ana) seorang pemberi peringatan yang nyata”—yakni, peringatan terhadap kemungkinan hancurnya diri sendiri secara spiritual, yang otomatis akan terjadi begitu seseorang sengaja mengabaikan kenyataan tentang keberadaan dan keesaan Tuhan, yang merupakan inti dari semua ajaran agama yang sejati dan, karenanya, inti ajaran semua nabi yang benar.


Surah Sad Ayat 71

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ

iż qāla rabbuka lil-malā`ikati innī khāliqum basyaram min ṭīn

71. [Karena,] lihatlah,54 Pemeliharamu berfirman kepada para malaikat, “Perhatikanlah, Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah;55


54 Tentang penerjemahan idz ini, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 21.

55 Lihat catatan no. 24 pada Surah Al-Hijr [15]: 26.


Surah Sad Ayat 72

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ

fa iżā sawwaituhụ wa nafakhtu fīhi mir rụḥī faqa’ụ lahụ sājidīn

72. dan apabila Aku telah membentuknya dengan sempurna dan meniupkan ke dalamnya dari ruh-Ku, tunduklah kalian di hadapannya dengan bersujud!”56


56 Lihat Surah Al-Hijr [15]: 29 dan catatan no. 26 yang terkait.


Surah Sad Ayat 73

فَسَجَدَ الْمَلَائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ

fa sajadal-malā`ikatu kulluhum ajma’ụn

73. Kemudian para malaikat itu bersujud, semuanya bersama-sama,


Surah Sad Ayat 74

إِلَّا إِبْلِيسَ اسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

illā iblīs, istakbara wa kāna minal-kāfirīn

74. kecuali iblis: dia menyombongkan diri, dan [dengan demikian] menjadi salah satu di antara mereka yang mengingkari kebenaran.57


57 Lihat catatan no. 26 pada Surah Al-Baqarah [2]: 34 dan catatan no. 31 pada Surah Al-Hijr [15]: 41.


Surah Sad Ayat 75

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۖ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ

qāla yā iblīsu mā mana’aka an tasjuda limā khalaqtu biyadayy, astakbarta am kunta minal-‘ālīn

75. Berfirmanlah Dia, “Hai iblis! Apa yang menghalangimu dari bersujud di hadapan [makhluk] yang telah Kuciptakan dengan tangan-Ku sendiri?58 Apakah engkau terlalu angkuh [untuk bersujud di hadapan makhluk lain], ataukah engkau termasuk di antara mereka yang [hanya] menganggap dirinya sendiri sebagai yang tinggi?”59


58 Bdk. frasa metaforis “semua yang telah dilakukan oleh tangan-tangan Kami” pada Surah YaSin [36]: 71, yang dijelaskan dalam catatan no. 41 yang terkait. Dalam ayat ini, penekanannya terletak pada ketetapan Allah yang mengunggulkan akal manusia—yang, seperti segala sesuatu yang lain dalam alam semesta ini, merupakan “karya” Tuhan—di atas semua makhluk lainnya (lihat catatan no. 25 pada Surah Al-Baqarah [2]: 34).

59 “Pertanyaan” ini tentu saja hanya bersifat retoris karena Allah Maha Mengetahui. Frasa yang saya sisipkan (“untuk bersujud di hadapan makhluk lain”) mencerminkan penafsiran Al-Zamakhsyari atas pasase ini.


Surah Sad Ayat 76

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

qāla ana khairum min-hu khalaqtanī min nāriw wa khalaqtahụ min ṭīn

76. [Iblis] menjawab, “Aku lebih baik daripada dia: Engkau ciptakan aku dari api,60 sedangkan dia engkau ciptakan dari tanah.”


60 Yakni, dari sesuatu yang bukan bersifat jasmaniah dan, karena itu (dalam pandangan iblis), lebih unggul ketimbang “tanah” yang darinya manusia diciptakan. Lantaran “api” adalah simbol nafsu, “ucapan” iblis di atas, menurut saya, mengandung rujukan yang subtil terhadap konsep Al-Quran tentang “kekuatan-kekuatan setani” (syayathin) yang bergerak aktif dalam hati manusia itu sendiri: kekuatan-kekuatan yang ditimbulkan oleh hawa nafsu dan kecintaan yang tak terkendali terhadap diri sendiri, yang dilambangkan dengan penyebutan sebelumnya tentang ciri-ciri iblis, induk segala setan (syayathin), sebagai “salah satu di antara mereka yang hanya menganggap dirinya sendiri sebagai yang tinggi” (min al-‘alin).


Surah Sad Ayat 77

قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ

qāla fakhruj min-hā fa innaka rajīm

77. Dia berfirman, “Maka, keluarlah dari [status kemalaikatan] ini—sebab, perhatikanlah, mulai kini engkau terkutuk,


Surah Sad Ayat 78

وَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِي إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ

wa inna ‘alaika la’natī ilā yaumid-dīn

78. dan penolakan-Ku tetap berlaku atasmu hingga Hari Pengadilan!”


Surah Sad Ayat 79

قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

qāla rabbi fa anẓirnī ilā yaumi yub’aṡụn

79. [Iblis] berkata, “Wahai Pemeliharaku, kalau begitu, berilah aku penangguhan hingga Hari ketika semua akan dibangkitkan dari kematian!”


Surah Sad Ayat 80

قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ

qāla fa innaka minal-munẓarīn

80. Dia menjawab, “Sungguh maka [demikian itulah yang akan terjadi:] engkau akan termasuk di antara mereka yang diberi penangguhan


Surah Sad Ayat 81

إِلَىٰ يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ

ilā yaumil-waqtil-ma’lụm

81. hingga Hari yang waktunya diketahui [hanya oleh-Ku].”61


61 Pemberian “penangguhan” kepada iblis menunjukkan bahwa dia akan memiliki kemampuan untuk menggoda manusia hingga akhir zaman.


Surah Sad Ayat 82

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

qāla fa bi’izzatika la`ugwiyannahum ajma’īn

82. [Kemudian iblis] berkata, “Maka [aku bersumpah] demi keperkasaan-Mu: aku pasti akan memperdaya mereka semua ke dalam kesalahan yang besar—


Surah Sad Ayat 83

إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

illā ‘ibādaka min-humul-mukhlaṣīn

83. [semuanya] kecuali mereka yang merupakan hamba-hamba-Mu yang sejati!”


Surah Sad Ayat 84

قَالَ فَالْحَقُّ وَالْحَقَّ أَقُولُ

qāla fal-ḥaqqu wal-ḥaqqa aqụl

84. [Dan, Allah] berfirman, “Maka, inilah yang benar!62 Dan, kebenaran inilah yang aku tandaskan:


62 Bdk. Surah Al-Hijr [15]: 41: “Inilah, bersama-Ku, jalan yang lurus”, dan catatan no. 31 yang terkait.


Surah Sad Ayat 85

لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنْكَ وَمِمَّنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ أَجْمَعِينَ

la`amla`anna jahannama mingka wa mim man tabi’aka min-hum ajma’īn

85. Pasti akan Kupenuhi neraka denganmu dan dengan mereka yang akan mengikutimu, semuanya bersama-sama!”


Surah Sad Ayat 86

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ

qul mā as`alukum ‘alaihi min ajriw wa mā ana minal-mutakallifīn

86. KATAKANLAH [wahai Nabi]: “Tiada balasan apa pun yang kuminta dari kalian untuk [pesan] ini; dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mengada-ada.63


63 Ungkapan mutakallif utamanya berarti “seseorang yang membebani dirinya secara berlebihan”, baik dalam tindakan maupun dalam perasaan; karena itu, mutakallif adalah seseorang yang berpura-pura menampilkan dirinya lebih daripada diri yang sebenarnya, atau yang berpura-pura merasakan apa yang sebenarnya tidak dia rasakan. Dalam ayat ini, ungkapan tersebut menunjukkan sanggahan Nabi bahwa beliau tidak memiliki kedudukan “adi-alami” apa pun.


Surah Sad Ayat 87

إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ

in huwa illā żikrul lil-‘ālamīn

87. Perhatikanlah, [kitab Ilahi] ini tidak lain hanyalah sebuah peringatan bagi semesta alam—


Surah Sad Ayat 88

وَلَتَعْلَمُنَّ نَبَأَهُ بَعْدَ حِينٍ

wa lata’lamunna naba`ahụ ba’da ḥīn

88. dan kalian pasti akan menangkap maksudnya setelah beberapa waktu lagi!”


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top