50. Qaf (Qaf) – ق

Surat Qaf dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Qaf ( ق ) merupakan surat ke 50 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 45 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Qaf tergolong Surat Makkiyah.

Surah ini, yang dikenal dengan huruf-simbol qaf pada awal ayat pertamanya, tampaknya diwahyukan pada tahun keempat kenabian. Ia diawali dan diakhiri dengan ayat-ayat yang merujuk pada Al-Qur’an, dan secara keseluruhan membahas persoalan tentang kematian dan kebangkitan.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Qaf Ayat 1

ق ۚ وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ

qāf, wal-qur`ānil-majīd

1. Qaf,1

PERHATIKANLAH Al-Quran yang sangat mulia ini!


1 Secara kronologis, surah ini adalah surah kedua (setelah Surah Al-Qalam [68]) yang diawali dengan huruf-huruf simbol yang terpisah-pisah. Mengenai teori-teori yang berkaitan dengan simbol-simbol ini, lihat artikel Al-Muqatta’at (Huruf-Huruf Terpisah) dalam Al-Qur’an. Adapun berkenaan dengan penerjemahan saya terhadap partikel sumpah wa yang mengawali kalimat berikutnya menjadi “Perhatikanlah”, lihat bagian pertama catatan no. 23 pada Surah Al-Muddatstsir [74]: 32, tempat partikel sumpah ini muncul untuk pertama kalinya dalam kronologi pewahyuan.


Surah Qaf Ayat 2

بَلْ عَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ فَقَالَ الْكَافِرُونَ هَٰذَا شَيْءٌ عَجِيبٌ

bal ‘ajibū an jā`ahum munżirum min-hum fa qālal-kāfirụna hāżā syai`un ‘ajīb

2. Namun, tidak—mereka menganggap suatu hal yang aneh bahwa seorang pemberi peringatan datang kepada mereka dari tengah-tengah mereka sendiri;2 maka berkatalah para pengingkar kebenaran ini, “Ini adalah sesuatu yang aneh!


2 Ini merupakan pernyataan Al-Quran yang paling awal—yang diulang-ulang dalam beberapa tempat lain—mengenai sikap orang-orang “yang menganggap suatu hal yang aneh” bahwa ada pesan-pesan Ilahi yang disampaikan oleh seseorang “dari tengah-tengah mereka sendiri”, yakni, manusia biasa seperti mereka. Meskipun tidak diragukan lagi bahwa pernyataan ini pada mulanya mengacu pada tanggapan negatif kaum kafir Makkah terhadap dakwah Nabi Muhammad Saw., pengulangannya yang begitu sering dalam Al-Quran jelas-jelas memiliki implikasi yang lebih luas melampaui rujukan historisnya: ia menunjuk pada kecenderungan umum—yang ada pada banyak manusia dan pada setiap tahapan perkembangannya—untuk tidak memercayai pernyataan keagamaan yang tidak mengandung unsur eksotisme karena disampaikan oleh seseorang dari latar belakang sosial dan kultural yang sama dengan mereka yang menjadi sasaran dakwahnya, dan karena wahyu itu sendiri bersandar sepenuhnya pada—sebagaimana Al-Quran—seruan untuk mendayagunakan akal dan rasa moral manusia. Karena itu, secara eksplisit Al-Quran menyebutkan “keberatan” orang-orang terhadap seorang nabi “yang memakan makanan [seperti semua manusia lainnya] dan berjalan di pasar-pasar” (Surah Al-Furqan [25]: 7; lihat juga catatan no. 16 pada surah yang sama).


Surah Qaf Ayat 3

أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا ۖ ذَٰلِكَ رَجْعٌ بَعِيدٌ

a iżā mitnā wa kunnā turābā, żālika raj’um ba’īd

3. Mengapa—[bagaimana mungkin kita akan dibangkitkan] setelah kita mati dan menjadi tanah? Kembali yang semacam itu tampaknya sungguh jauh dari mungkin!”


Surah Qaf Ayat 4

قَدْ عَلِمْنَا مَا تَنْقُصُ الْأَرْضُ مِنْهُمْ ۖ وَعِنْدَنَا كِتَابٌ حَفِيظٌ

qad ‘alimnā mā tangquṣul-arḍu min-hum, wa ‘indanā kitābun ḥafīẓ

4. Kami sungguh mengetahui bagaimana bumi itu menghancurkan jasad-jasad mereka,3 sebab, bersama Kami ada catatan yang terpelihara.


3 Lit., “apa yang dikurangi bumi dari mereka”—menunjukkan bahwa janji Allah tentang adanya kebangkitan sepenuhnya mempertimbangkan fakta bahwa jasad manusia telah terurai dalam tanah. Karena itu, kebangkitan akan menjadi seperti “suatu penciptaan yang baru” (bdk. Surah Yunus [10]: 4, Al-Anbiya’ [21]: 104, Surah Ar-Rum [30]: 11, Surah Al-Buruj [85]: 13 dst.), yang mengingatkan pada proses repetitif penciptaan dan penciptaan-kembali yang tampak pada alam organik (bdk. Surah Yunus [10]: 34, Surah An-Naml [27]: 64, Surah Ar-Rum [30]; 27).


Surah Qaf Ayat 5

بَلْ كَذَّبُوا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ فَهُمْ فِي أَمْرٍ مَرِيجٍ

bal każżabụ bil-ḥaqqi lammā jā`ahum fa hum fī amrim marīj

5. Tidak, tetapi mereka [yang menolak memercayai kebangkitan] telah terbiasa mendustakan kebenaran ini kapan pun kebenaran tersebut disampaikan kepada mereka; dan demikianlah mereka berada dalam keadaan bingung.4


4 Karena mereka menolak secara apriori semua ide tentang adanya kehidupan setelah mati, mereka dibingungkan oleh tiadanya jawaban yang memuaskan mengenai “mengapa” dan “untuk apa” manusia hidup, adanya perbedaan takdir manusia yang sangat jelas, serta hal-hal yang tampak bagi mereka sebagai kekejaman alam yang buta dan tidak bermakna: permasalahan-permasalahan ini hanya bisa dipecahkan dengan latar belakang iman terhadap adanya kehidupan setelah “kematian” jasad dan, karenanya, terhadap adanya tujuan serta rencana yang mendasari seluruh penciptaan.


Surah Qaf Ayat 6

أَفَلَمْ يَنْظُرُوا إِلَى السَّمَاءِ فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْنَاهَا وَزَيَّنَّاهَا وَمَا لَهَا مِنْ فُرُوجٍ

a fa lam yanẓurū ilas-samā`i fauqahum kaifa banaināhā wa zayyannāhā wa mā lahā min furụj

6. Tidakkah mereka melihat langit di atas mereka—bagaimana Kami meninggikannya dan menjadikannya indah dan terbebas dari segala kekurangan?5


5 Lit., “dan ia tidak memiliki celah-celah [atau ‘retakan’] sedikit pun”.


Surah Qaf Ayat 7

وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ

wal-arḍa madadnāhā wa alqainā fīhā rawāsiya wa ambatnā fīhā ming kulli zaujim bahīj

7. Dan bumi—Kami telah menjadikannya terbentang luas, dan meletakkan di atasnya gunung-gunung yang kokoh, dan menyebabkannya menumbuhkan tanam-tanaman indah yang bermacam-ragam,


Surah Qaf Ayat 8

تَبْصِرَةً وَذِكْرَىٰ لِكُلِّ عَبْدٍ مُنِيبٍ

tabṣirataw wa żikrā likulli ‘abdim munīb

8. sehingga memberikan pengetahuan dan peringatan bagi setiap manusia yang kembali kepada Allah dengan sukarela.


Surah Qaf Ayat 9

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ

wa nazzalnā minas-samā`i mā`am mubārakan fa ambatnā bihī jannātiw wa ḥabbal-ḥaṣīd

9. Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh berkah, sehingga dengan air itu tumbuhlah kebun-kebun dan ladang biji-bijian,


Surah Qaf Ayat 10

وَالنَّخْلَ بَاسِقَاتٍ لَهَا طَلْعٌ نَضِيدٌ

wan-nakhla bāsiqātil lahā ṭal’un naḍīd

10. dan pohon-pohon kurma yang tinggi dengan mayang yang lebat bersusun-susun,


Surah Qaf Ayat 11

رِزْقًا لِلْعِبَادِ ۖ وَأَحْيَيْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا ۚ كَذَٰلِكَ الْخُرُوجُ

rizqal lil-‘ibādi wa aḥyainā bihī baldatam maitā, każālikal-khurụj

11. sebagai rezeki yang telah ditetapkan bagi manusia; dan dengan [semua] ini Kami hidupkan tanah yang sudah mati: [dan] seperti itulah terjadinya kebangkitan [pada manusia].


Surah Qaf Ayat 12

كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَأَصْحَابُ الرَّسِّ وَثَمُودُ

każżabat qablahum qaumu nụḥiw wa aṣ-ḥābur-rassi wa ṡamụd

12. [Jauh] sebelum orang-orang itu [yang kini membantah kebangkitan], telah mendustakan (pula) kaum Nuh terhadap kebenaran ini, dan [juga] penduduk Al-Rass,6 [suku] Tsamud,


6 Lihat catatan no. 33 pada Surah Al-Furqan [25]: 38.


Surah Qaf Ayat 13

وَعَادٌ وَفِرْعَوْنُ وَإِخْوَانُ لُوطٍ

wa ‘āduw wa fir’aunu wa ikhwānu lụṭ

13. dan kaum ‘Ad, Fir’aun, dan saudara-saudara Luth,7


7 Istilah “saudara” (ikhwan) di sini digunakan secara metonimia dan menunjuk pada suatu kelompok manusia yang memiliki pandangan atau lingkungan yang sama. Karena orang-orang tersebut merujuk pada lingkungan sosial Nabi Luth (bdk. Surah Al-A’raf [7]: 83 atau Hud [11]: 77-83), mereka digambarkan sebagai “saudara”-nya, meskipun konsep-konsep moral dan keyakinan mereka seluruhnya berbeda.


Surah Qaf Ayat 14

وَأَصْحَابُ الْأَيْكَةِ وَقَوْمُ تُبَّعٍ ۚ كُلٌّ كَذَّبَ الرُّسُلَ فَحَقَّ وَعِيدِ

wa aṣ-ḥābul-aikati wa qaumu tubba’, kullung każżabar-rusula fa ḥaqqa wa’īd

14. penduduk lembah-lembah yang berhutan [di Madyan], serta kaum Tubba’:8 mereka semua telah mendustakan rasul-rasul—dan kemudian terjadilah apa yang telah Kuperingatkan [kepada mereka].


8 Mengenai “kaum Tubba'”, lihat Surah Ad-Dukhan [44]: 37 dan catatannya yang terkait. “Penduduk lembah-lembah yang berhutan” adalah penduduk Madyan (dalam Bibel: Midian), sebagaimana tampak jelas dalam Surah Asy-Syu’ara’ [26]: 176, dst. Kisah mereka diuraikan dalam Al-Quran pada beberapa tempat; untuk versi yang paling terperinci, lihat Surah Hud [11]: 84-95.


Surah Qaf Ayat 15

أَفَعَيِينَا بِالْخَلْقِ الْأَوَّلِ ۚ بَلْ هُمْ فِي لَبْسٍ مِنْ خَلْقٍ جَدِيدٍ

a fa ‘ayīnā bil-khalqil-awwal, bal hum fī labsim min khalqin jadīd

15. Maka, dapatkah Kami [dianggap telah] letih karena penciptaan yang pertama?9

Tidak—namun, sebagian orang10 [masih] tenggelam dalam keragu-raguan tentang [kemungkinan adanya] penciptaan yang baru!


9 Yakni, karena menciptakan alam raya atau, lebih spesifik lagi, manusia.

10 Lit., “mereka”.


Surah Qaf Ayat 16

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

wa laqad khalaqnal-insāna wa na’lamu mā tuwaswisu bihī nafsuh, wa naḥnu aqrabu ilaihi min ḥablil-warīd

16. DAN, SUNGGUH, Kami-lah yang telah menciptakan manusia, dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh lubuk terdalam hatinya ke dalam dirinya: sebab, Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.


Surah Qaf Ayat 17

إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ

iż yatalaqqal-mutalaqqiyāni ‘anil-yamīni wa ‘anisy-syimāli qa’īd

17. [Maka,] manakala dua tuntutan [wataknya] saling berhadapan, berseteru dari kanan dan dari kiri,11


11 Bagian pertama kalimat di atas—yakni, frasa yatalaqqa al-mutalaqqiyan—bisa dipahami dalam dua arti, yaitu: “dua yang ditakdirkan akan menerima benar-benar menerima”, atau “dua yang bertujuan saling bertemu benar-benar bertemu”. Biasanya, para mufasir klasik memilih arti yang pertama dan, karenanya, menafsirkan pasase tersebut sebagai berikut: “… dua malaikat yang ditugaskan untuk mencatat amal manusia benar-benar mencatatnya, seraya duduk di sebelah kanan dan kirinya”. Namun, menurut pendapat saya, makna kedualah (“dua yang bertujuan saling bertemu”) yang lebih cocok dengan ayat sebelumnya, yang membicarakan apa yang “dibisikkan” oleh lubuk diri manusia (nafs) “ke dalam dirinya”, yakni, menyuarakan hasrat-hasrat bawah sadarnya. Jadi, “dua yang bertujuan bertemu itu” menurut saya adalah dua tuntutan, atau lebih tepatnya, dua kekuatan motif fundamental dalam fitrah manusia, yaitu: pada satu sisi, hasrat-hasrat dan dorongan-dorongannya yang instingtif (naluriah) dan mendasar, baik yang bersifat indriawi  maupun bukan (yang kesemuanya dalam psikologi modern dikenal dengan istilah “libido”), serta pada sisi lain, akalnya, baik yang intuitif maupun reflektif. “Yang duduk (qa’id) di sebelah kanan dan di sebelah kiri” menurut pendapat saya adalah metafora bagi sifat yang senantiasa bertentangan dari kedua daya ini, yang masing-masing senantiasa berusaha keras untuk berkuasa dalam diri setiap manusia: demikianlah alasan saya menerjemahkan “qa’id” menjadi “berseteru”. Selain itu, penafsiran ini didukung kuat oleh rujukan yang terdapat dalam ayat 21 mengenai tampilnya manusia pada Hari Pengadilan dengan “apa yang mendorong dan yang menyaksikan”—suatu frasa yang tidak diragukan lagi merujuk pada dorongan instingtif serta akal sadar manusia (lihat catatan no. 14).


Surah Qaf Ayat 18

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

mā yalfiẓu ming qaulin illā ladaihi raqībun ‘atīd

18. bahkan tidak sepatah kata pun dapat dia ucapkan, melainkan ada pemantau bersamanya yang selalu hadir.12


12 Yakni, hati nuraninya. “Mengucapkan sepatah kata” secara konseptual berkaitan dengan “bisikan” dalam jiwa manusia yang disebutkan dalam ayat sebelumnya.


Surah Qaf Ayat 19

وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ

wa jā`at sakratul-mauti bil-ḥaqq, żālika mā kunta min-hu taḥīd

19. Dan [kemudian,] datanglah senjakala kematian dengan membawa serta kebenaran [seutuhnya]13—itulah [dia, wahai manusia,] yang kalian selalu lari darinya!—


13 Yakni, pengetahuan seutuhnya mengenai dirinya sendiri.


Surah Qaf Ayat 20

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ ۚ ذَٰلِكَ يَوْمُ الْوَعِيدِ

wa nufikha fiṣ-ṣụr, żālika yaumul-wa’īd

20. dan [pada akhirnya,] sangkakala [kebangkitan] akan ditiupkan: itulah Hari terlaksananya peringatan.


Surah Qaf Ayat 21

وَجَاءَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَعَهَا سَائِقٌ وَشَهِيدٌ

wa jā`at kullu nafsim ma’ahā sā`iquw wa syahīd

21. Dan, setiap manusia akan datang ke muka bersama dorongan-dorongan terdalamnya [yang dahulu] dan pikiran sadar[-nya],14


14 Lit., “dengan apa yang mendorong (sa’iq) dan yang menyaksikan (syahid)”. Sementara istilah sa’iq jelas merujuk pada dorongan dasar manusia—terutama yang menjerumuskannya ke dalam nafsu yang tidak terkendali dan, karenanya, ke dalam dosa—istilah syahid (yang saya terjemahkan menjadi “pikiran sadar”) di sini mengacu pada bangkitnya lapisan-lapisan kesadaran manusia yang lebih dalam, yang secara tiba-tiba menjadikan dia sadar terhadap realitas moral dirinya—yakni, “tersingkapnya selubung” yang dirujuk pada ayat berikutnya—yang memaksanya untuk “menjadi saksi” atas dirinya sendiri (bdk. Surah Al-Isra’ [17]: 14, Surah An-Nur [24]: 24, YaSin [36]: 65, Fussilat [41]: 20, dst.).


Surah Qaf Ayat 22

لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَٰذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ

laqad kunta fī gaflatim min hāżā fa kasyafnā ‘angka giṭā`aka fa baṣarukal-yauma ḥadīd

22. [dan akan dikatakan:] “Sesungguhnya, kamu lalai dari [Hari Pengadilan] ini; namun kini telah Kami singkapkan darimu selubungmu, dan tajamlah penglihatanmu pada hari ini!”


Surah Qaf Ayat 23

وَقَالَ قَرِينُهُ هَٰذَا مَا لَدَيَّ عَتِيدٌ

wa qāla qarīnuhụ hāżā mā ladayya ‘atīd

23. Dan, sebagian15 dari dirinya akan berkata, “Inilah dia yang senantiasa hadir bersamaku!”16


15 Lit., “temannya yang akrab” (qarinuhu). Kata qarin berarti sesuatu yang “berkaitan”, “berhubungan”, atau “akrab” dengan sesuatu yang lain (bdk. Surah Fussilat [41]: 25 dan Surah Az-Zukhruf [43]: 36 yang di dalamnya istilah qarin diterjemahkan menjadi “diri-lain [seseorang]”). Dalam ayat ini—yang dibaca bersamaan dengan ayat 21—istilah ini tampaknya berarti “satu bagian” dalam diri manusia, yaitu kesadaran moralnya yang sudah bangkit.

16 Yakni, nalar para pendosa itu akan berdalih bahwa kurang lebih dia sudah selalu sadar akan, dan bahkan mungkin bersikap kritis terhadap, dorongan dan hawa nafsu yang menjerumuskannya ke dalam perbuatan buruk: tetapi, seperti yang ditunjukkan dalam rangkaian ayat selanjutnya, pengetahuan rasional yang terlambat dan, karenanya, sia-sia secara moral ini tidak mengurangi beban rasa bersalah manusia, melainkan semakin memperkuatnya.


Surah Qaf Ayat 24

أَلْقِيَا فِي جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَنِيدٍ

alqiyā fī jahannama kulla kaffārin ‘anīd

24. [Kemudian, Allah akan memerintahkan:] “Campakkan, campakkan17 ke dalam neraka, setiap musuh kebenaran yang keras kepala [semacam itu],


17 Dalam ayat ini, serta dalam ayat 26, kata perintah “campakkan” diungkapkan dalam bentuk ganda* (alqiya). Sebagaimana dijelaskan oleh banyak filolog klasik (dan hampir semua mufasir), hal ini secara linguistik diperbolehkan untuk memberikan suatu tekanan khusus, dan maknanya sama dengan pengulangan yang tegas terhadap perintah tersebut. Atau, bentuk ganda tersebut dapat dipahami sebagai benar-benar menunjuk pada dua hal: yakni, dua manifestasi dalam jiwa manusia yang disinggung dalam ayat 17 dan digambarkan dalam ayat 21 sebagai sa’iq dan syahid (lihat catatan 14), yang keduanya—dalam interaksi antarkeduanya—bertanggung jawab atas keruntuhan spiritual manusia dan, karenanya, atas penderitaannya di akhirat.

* {Dalam gramatika bahasa Arab, bentuk kata perintah bergantung pada objek penderitanya: jika objeknya tunggal, kata perintahnya berbentuk tunggal; jika objeknya jamak, kata perintahnya berbentuk jamak; dan, jika objeknya ganda (seperti dalam ayat ini), kata perintahnya juga berbentuk ganda.—peny.}


Surah Qaf Ayat 25

مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ مُرِيبٍ

mannā’il lil-khairi mu’tadim murīb

25. [setiap] orang yang enggan melakukan kebajikan [dan] sang pelanggar batas yang penuh dosa [dan] sang penimbul ketidakpercayaan [di antara manusia—setiap orang]


Surah Qaf Ayat 26

الَّذِي جَعَلَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ فَأَلْقِيَاهُ فِي الْعَذَابِ الشَّدِيدِ

allażī ja’ala ma’allāhi ilāhan ākhara fa alqiyāhu fil-‘ażābisy-syadīd

26. yang menjadikan tuhan lain di samping Allah:18 maka, campakkan dia, campakkan dia ke dalam penderitaan yang amat dahsyat!”


18 Ini berhubungan tidak hanya dengan pemujaan terhadap hal-hal atau kekuatan-kekuatan nyata maupun imajiner yang diyakini memiliki sifat-sifat ketuhanan, tetapi juga dengan “penyembahan” terhadap nilai-nilai batil dan konsep-konsep imoral yang sering ditaati orang dengan semangat yang hampir menyerupai semangat keagamaan.


Surah Qaf Ayat 27

قَالَ قَرِينُهُ رَبَّنَا مَا أَطْغَيْتُهُ وَلَٰكِنْ كَانَ فِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ

qāla qarīnuhụ rabbanā mā aṭgaituhụ wa lāking kāna fī ḍalālim ba’īd

27. Diri-lain manusia19 akan berkata, “Wahai, Pemelihara kami! Bukanlah aku yang menjerumuskan pikiran sadarnya20 ke dalam kejahatan—[bukan,] tetapi ia telah tersesat jauh [karena kemauannya sendiri]!”21


19 Lit.—sebagaimana dalam ayat 23—”temannya yang akrab” (qarin): namun, sementara pada ayat 23 istilah tersebut dapat dipahami sebagai menunjuk pada kesadaran moral atau nalar seseorang (bdk. catatan no. 15), dalam ayat ini jelaslah bahwa “si pembicara” itulah yang menjadi lawan bicaranya, yakni dorongan-dorongan instingtif dan hawa nafsu yang amat besar dan tak terkendali yang ada dalam diri seorang pendosa, yang disimpulkan dalam istilah sa’iq (“apa yang mendorong”) dan sering dilambangkan dengan syaithan (“setan” atau “kekuatan setani”: lihat pernyataan Al-Razi yang dikutip dalam catatan no. 31 pada Surah Ibrahim [14]: 22). Dalam pengertian ini, istilah qarin mempunyai konotasi yang sama dengan yang terdapat dalam Surah Fussilat [41]: 25 dan Surah Az-Zukhruf [43]: 36.

20 Lit., “dia” atau “itu”—merujuk pada kemampuan nalar sadar manusia yang berfungsi sebagai pengendali (syahid).

21 Yakni, selera dan dorongan-dorongan jahat dalam diri manusia tidak akan berkuasa kecuali akal sadarnya menyimpang dari kebenaran-kebenaran moral: dan, inilah yang menjelaskan—dalam konteks ini—maksud ayat 24-25.


Surah Qaf Ayat 28

قَالَ لَا تَخْتَصِمُوا لَدَيَّ وَقَدْ قَدَّمْتُ إِلَيْكُمْ بِالْوَعِيدِ

qāla lā takhtaṣimụ ladayya wa qad qaddamtu ilaikum bil-wa’īd

28. [Dan] Dia akan berfirman, “Janganlah bertengkar di hadapan-Ku [wahai kalian para pendosa,] karena Aku telah memberikan peringatan sebelumnya kepada kalian [tentang Hari Perhitungan ini],


Surah Qaf Ayat 29

مَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ وَمَا أَنَا بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

mā yubaddalul-qaulu ladayya wa mā ana biẓallāmil lil-‘abīd

29. Keputusan yang dibuat oleh-Ku tidak akan diubah; tetapi tidak pernah Aku menzalimi hamba-hamba-Ku sedikit pun!”


Surah Qaf Ayat 30

يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَأْتِ وَتَقُولُ هَلْ مِنْ مَزِيدٍ

yauma naqụlu lijahannama halimtala`ti wa taqụlu hal mim mazīd

30. Pada Hari itu, Kami akan bertanya kepada neraka, “Apakah engkau sudah penuh?”—dan neraka akan menjawab, “[Belum,] masih adakah tambahan [untukku]?”


Surah Qaf Ayat 31

وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ

wa uzlifatil-jannatu lil-muttaqīna gaira ba’īd

31. Dan [pada Hari itu,] surga akan dibawa ke dalam jangkauan pandangan22 orang-orang yang sadar akan Allah, sehingga surga itu tidak akan jauh lagi; [dan akan dikatakan kepada mereka:]


22 Lit., “didekatkan kepada”.


Surah Qaf Ayat 32

هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ

hāżā mā tụ’adụna likulli awwābin ḥafīẓ

32. “Inilah yang dijanjikan kepada kalian—[dijanjikan] kepada setiap orang yang senantiasa kembali kepada Allah dan selalu mengingat-Nya—


Surah Qaf Ayat 33

مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَٰنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ

man khasyiyar-raḥmāna bil-gaibi wa jā`a biqalbim munīb

33. [setiap orang] yang merasa gentar-terpukau pada Yang Maha Pengasih walaupun Dia berada di luar jangkauan persepsi manusia, dan yang datang [kepada-Nya] dengan hati yang penuh sesal karena dosa.23


23 Lihat kalimat terakhir Surah An-Nur [24]: 31 dan catatan no. 41 yang terkait.


Surah Qaf Ayat 34

ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ ۖ ذَٰلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ

udkhulụhā bisalām, żālika yaumul-khulụd

34. Masukilah [surga] ini dengan damai; inilah Hari yang di dalamnya kehidupan abadi bermula!”24


24 Lit., “Hari Keabadian”.


Surah Qaf Ayat 35

لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ

lahum mā yasyā`ụna fīhā wa ladainā mazīd

35. Di dalam [surga] itu, mereka akan memperoleh apa pun yang mereka kehendaki—tetapi bahkan ada lebih banyak lagi di sisi Kami.


Surah Qaf Ayat 36

وَكَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنْ قَرْنٍ هُمْ أَشَدُّ مِنْهُمْ بَطْشًا فَنَقَّبُوا فِي الْبِلَادِ هَلْ مِنْ مَحِيصٍ

wa kam ahlaknā qablahum ming qarnin hum asyaddu min-hum baṭsyan fa naqqabụ fil-bilād, hal mim maḥīṣ

36. DAN, BERAPA BANYAK generasi yang telah Kami binasakan sebelum orang-orang itu [yang kini mengingkari kebenaran]25—orang-orang yang kekuatannya lebih besar daripada mereka ini—: tetapi [ketika hukuman Kami menimpa mereka,] mereka menjadi pengembara di muka bumi, sekadar mencari tempat untuk berlindung.26


25 Ini berkaitan dengan ayat 12-14. Hendaknya diingat bahwa dalam penggunaan bahasa Arab kuno, istilah qarn—yang di sini diterjemahkan menjadi “generasi”—sering berarti “suatu periode waktu yang menggantikan periode lainnya”: jadi, “abad” atau “orang-orang yang hidup pada masa yang sama” dan, akhirnya, “peradaban” dalam pengertian historis dari kata ini. Dari rangkaian ayatnya, jelaslah bahwa makna yang disebutkan terakhir inilah yang dimaksudkan di sini.

26 Lit., “mereka mengembara mencari (naqqabu) di sejumlah negeri: Adakah tempat berlindung?”—menunjukkan bahwa setelah peradaban mereka hancur, mereka tidak dapat berbuat apa-apa lagi selain berusaha keras semata-mata untuk mempertahankan hidup.


Surah Qaf Ayat 37

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

inna fī żālika lażikrā limang kāna lahụ qalbun au alqas-sam’a wa huwa syahīd

37. Perhatikanlah, pada yang demikian ini benar-benar terdapat peringatan bagi setiap orang yang hatinya sepenuhnya sadar27—yakni, [setiap orang yang] menggunakan pendengarannya dengan pikiran yang sadar28


27 Demikianlah yang dikemukakan Al-Zamakhsyari; secara harfiah, frasa itu berbunyi “orang yang mempunyai hati”.

28 Lit., “atau menggunakan pendengaran sedang dia menjadi saksi (wa huwa syahid)”. Menurut Al-Zamakhsyari, frasa syahid berarti “hadir dengan akalnya”, yaitu dengan pikiran sadarnya (bdk. penggunaan yang sama terhadap kata syahid dalam ayat 21). Partikel penghubung “atau” (au) yang mengawali klausa di atas tidak menandakan suatu pilihan, tetapi—sebagaimana yang sering dijumpai dalam Al-Quran—memiliki fungsi penjelas, mirip dengan “yaitu” atau “dengan kata lain”, yang diikuti dengan perincian terhadap apa yang disebutkan sebelumnya.


Surah Qaf Ayat 38

وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوبٍ

wa laqad khalaqnas-samāwāti wal-arḍa wa mā bainahumā fī sittati ayyāmiw wa mā massanā mil lugụb

38. dan [yang mengetahui bahwa] Kami benar-benar telah menciptakan lelangit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya dalam enam masa, dan [bahwa] tiada keletihan sedikit pun dapat menyentuh Kami.29


29 Keseluruhan pasase ini (ayat 36-38) menekankan kemahakuasaan Allah, yang dapat dipahami oleh “siapa pun yang hatinya sepenuhnya sadar”. Rujukan di atas yang menyebutkan tentang tindakan Allah yang telah menciptakan alam semesta “dalam enam masa” merupakan yang tertua dalam kronologi pewahyuan Al-Quran. Sehubungan dengan hal ini, hendaknya dicatat bahwa dalam bahasa Arab kuno, istilah yaum tidak selalu menunjuk pada 24 jam dari “hari-hari” bumi, tetapi juga merujuk pada sembarang periode, betapapun lama atau singkatnya. Dalam pengertian kosmik sebagaimana yang digunakan di sini dan dalam ayat-ayat lain dalam Al-Quran, bentuk jamak ayyam lebih tepat diterjemahkan menjadi aeons {“masa yang amat panjang”}. Ungkapan tentang mustahilnya Allah merasa “letih” dengan proses penciptaan tersebut mengaitkan pasase ini dengan ayat 15 dan, karenanya, secara tidak langsung juga berbicara tentang kekuasaan Allah untuk membangkitkan kembali orang yang sudah mati.


Surah Qaf Ayat 39

فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ

faṣbir ‘alā mā yaqụlụna wa sabbiḥ biḥamdi rabbika qabla ṭulụ’isy-syamsi wa qablal-gurụb

39. KARENA ITU, [wahai orang beriman,] bersabarlah terhadap apa pun yang mungkin mereka katakan,30 dan bertasbihlah memuji kemuliaan Pemeliharamu yang tidak terhingga dan panjatkanlah pujian sebelum terbit matahari dan sebelum ia terbenam;31


30 Yakni, secara tersirat, “anggapan bahwa kebangkitan ‘mustahil’ terjadi”.

31 Yakni, “ingatlah kemahabesaran-Nya setiap saat”.


Surah Qaf Ayat 40

وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَأَدْبَارَ السُّجُودِ

wa minal-laili fa sabbiḥ-hu wa adbāras-sujụd

40. dan di malam hari pula, bertasbihlah memuji kemuliaan-Nya, dan setiap usai shalat.32


32 Lit., “pada akhir-akhir (adbar) sujud”.


Surah Qaf Ayat 41

وَاسْتَمِعْ يَوْمَ يُنَادِ الْمُنَادِ مِنْ مَكَانٍ قَرِيبٍ

wastami’ yauma yunādil-munādi mim makāning qarīb

41. Dan, dengarkanlah [selalu] tentang hari ketika Dia yang mengeluarkan panggilan [kematian] akan memanggil [engkau] dari dekat;33


33 Lit., “dari tempat yang dekat”—yakni, dari dalam diri manusia sendiri: menggemakan kembali ayat 16 sebelumnya, “Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”. “Panggilan” yang disebutkan di sini jelas-jelas adalah panggilan kematian, yang terhadap kedatangannya manusia harus senantiasa mempersiapkan diri.


Surah Qaf Ayat 42

يَوْمَ يَسْمَعُونَ الصَّيْحَةَ بِالْحَقِّ ۚ ذَٰلِكَ يَوْمُ الْخُرُوجِ

yauma yasma’ụnaṣ-ṣaiḥata bil-ḥaqq, żālika yaumul-khurụj

42. [dan renungkanlah dirimu pula, tentang] Hari ketika semua [manusia] akan mendengar ledakan terakhir dengan sebenar-benarnya—itulah Hari [ketika mereka] keluar [dari kematian].


Surah Qaf Ayat 43

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي وَنُمِيتُ وَإِلَيْنَا الْمَصِيرُ

innā naḥnu nuḥyī wa numītu wa ilainal-maṣīr

43. Sesungguhnya, Kami-lah yang menganugerahkan hidup dan menimpakan kematian; dan bersama Kami-lah seluruh akhir perjalanan


Surah Qaf Ayat 44

يَوْمَ تَشَقَّقُ الْأَرْضُ عَنْهُمْ سِرَاعًا ۚ ذَٰلِكَ حَشْرٌ عَلَيْنَا يَسِيرٌ

yauma tasyaqqaqul-arḍu ‘an-hum sirā’ā, żālika ḥasyrun ‘alainā yasīr

44. pada Hari ketika bumi terbelah-belah di sekeliling mereka tatkala mereka bergegas [menuju pengadilan Allah]: mudahlah bagi Kami [untuk melaksanakan] pengumpulan itu.


Surah Qaf Ayat 45

نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُولُونَ ۖ وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِجَبَّارٍ ۖ فَذَكِّرْ بِالْقُرْآنِ مَنْ يَخَافُ وَعِيدِ

naḥnu a’lamu bimā yaqụlụna wa mā anta ‘alaihim bijabbār, fażakkir bil-qur`āni may yakhāfu wa’īd

45. Kami mengetahui sepenuhnya tentang apa yang dikatakan oleh mereka [yang mengingkari kebangkitan]; dan engkau sekali-kali tidak dapat memaksa mereka [untuk memercayainya]. Sungguhpun begitu, berilah peringatan melalui Al-Quran ini kepada semua orang yang takut akan peringatan-Ku.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top