71. Nuh (Nabi Nuh) – نوح

Surat Nuh dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Nuh ( نوح ) merupakan surat ke 71 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 28 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Nuh tergolong Surat Makkiyah.

Surah yang keseluruhannya menguraikan dakwah Nabi Nuh kepada kaumnya yang zalim ini secara simbolik menggambarkan setiap perjuangan yang dilakukan oleh seorang Mukmin yang sadar melawan materialisme buta dan kehampaan segenap nilai-nilai spiritual yang diakibatkannya. Kisah Nuh itu sendiri juga diceritakan pada sejumlah tempat lain dalam Al-Quran, terutama dalam Surah Hud [11]: 25 dst.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Nuh Ayat 1

إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ أَنْ أَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

innā arsalnā nụhan ilā qaumihī an anżir qaumaka ming qabli ay ya`tiyahum ‘ażābun alīm

1. PERHATIKANLAH, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, [dengan berfirman:] “Peringatkanlah kaummu sebelum penderitaan yang pedih menimpa mereka!”


Surah Nuh Ayat 2

قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ

qāla yā qaumi innī lakum nażīrum mubīn

2. [Dan Nuh] berkata, “Hai kaumku! aku tidak lain adalah seorang pemberi peringatan yang jelas kepada kalian, [yang diutus untuk memerintahkan kepada kalian]


Surah Nuh Ayat 3

أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ

ani’budullāha wattaqụhu wa aṭī’ụn

3. bahwa hendaknya kalian menyembah Allah [saja] dan sadarlah akan Dia senantiasa. “Sekarang, taatilah aku,


Surah Nuh Ayat 4

يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ إِنَّ أَجَلَ اللَّهِ إِذَا جَاءَ لَا يُؤَخَّرُ ۖ لَوْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

yagfir lakum min żunụbikum wa yu`akhkhirkum ilā ajalim musammā, inna ajalallāhi iżā jā`a lā yu`akhkhar, lau kuntum ta’lamụn

4. agar Dia dapat mengampuni sebagian dosa kalian, dan memberi kalian penangguhan hingga suatu masa yang diketahui [oleh-Nya saja]:1 akan tetapi, perhatikanlah, jika masa yang telah ditetapkan Allah itu akhirnya tiba, ia tidak dapat ditarik kembali—andaikan kalian mengetahuinya!”


1 Yakni, hingga akhir kehidupan setiap orang—yang menyiratkan bahwa meskipun dosa-dosa yang mereka lakukan sebelum beriman mungkin diampuni, selanjutnya setelah itu, yakni hingga mereka mati, mereka bertanggung jawab sepenuhnya atas tingkah laku mereka menurut iman baru yang mereka anut itu. Bdk. Surah An-Nisa [4]: 18—”tobat tidak akan diterima dari orang-orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan jahat hingga mereka sekarat dan lantas mengatakan, ‘Perhatikanlah, kini aku bertobat'”.


Surah Nuh Ayat 5

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا

qāla rabbi innī da’autu qaumī lailaw wa nahārā

5. [Dan setelah beberapa lama, Nuh] berkata, “Wahai, Pemeliharaku! Sungguh, aku telah menyeru kaumku malam dan siang,


Surah Nuh Ayat 6

فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا

fa lam yazid-hum du’ā`ī illā firārā

6. tetapi seruanku hanya membuat mereka berlari semakin jauh dan jauh [dari-Mu].2


2 Lit., “tidak meningkatkan mereka dalam hal apa pun, kecuali melarikan diri”.


Surah Nuh Ayat 7

وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا

wa innī kullamā da’autuhum litagfira lahum ja’alū aṣābi’ahum fī āżānihim wastagsyau ṡiyābahum wa aṣarrụ wastakbarustikbārā

7. Dan, perhatikanlah, setiap kali aku menyeru mereka dengan maksud agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan jari-jemari ke dalam telinga mereka, dan menutupi diri dengan pakaian [dosa] mereka,3 dan semakin keras kepala serta menjadi [bahkan semakin] congkak dalam kebanggaan batil mereka.


3 Mengenai alasan sisipan di atas—yang memberikan makna metafora kepada konsep “pakaian”—Iihat catatan no. 2 pada Surah Al-Muddatstsir [74]: 4; bdk. juga dengan ungkapan “pakaian kesadaran akan Allah” (libas al-taqwa) dalam Surah Al-A’raf [7]: 26.


Surah Nuh Ayat 8

ثُمَّ إِنِّي دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا

ṡumma innī da’autuhum jihārā

8. “Dan, perhatikanlah, aku telah menyeru mereka secara terang-terangan;


Surah Nuh Ayat 9

ثُمَّ إِنِّي أَعْلَنْتُ لَهُمْ وَأَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًا

ṡumma innī a’lantu lahum wa asrartu lahum isrārā

9. dan, perhatikanlah, aku telah berkhutbah kepada mereka di muka umum; dan aku telah berbicara kepada mereka secara diam-diam dan rahasia;


Surah Nuh Ayat 10

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا

fa qultustagfirụ rabbakum innahụ kāna gaffārā

10. dan aku berkata, “Mohonlah kepada Pemelihara kalian agar mengampuni dosa-dosa kalian—sebab, perhatikanlah, Dia Maha Pengampun!


Surah Nuh Ayat 11

يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا

yursilis-samā`a ‘alaikum midrārā

11. Dia akan mencurahkan kepada kalian berkah-berkah samawi yang melimpah,4


4 Lit., “Dia akan mengirimkan langit ke atas kalian dengan berlimpah” (tetapi Iihat juga catatan no. 76 pada Surah Hud [11]: 52).


Surah Nuh Ayat 12

وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

wa yumdidkum bi`amwāliw wa banīna wa yaj’al lakum jannātiw wa yaj’al lakum an-hārā

12. dan akan menolong kalian dengan harta duniawi dan anak-anak, serta menganugerahkan kepada kalian taman-taman, dan menganugerahkan kepada kalian aliran sungai-sungai.5


5 Dua karunia yang di sebutkan terakhir itu secara tidak langsung berbicara mengenai kebahagiaan di akhirat, yang disimbolkan dalam Al-Quran dengan “taman-taman yang dilalui aliran sungai-sungai.”


Surah Nuh Ayat 13

مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا

mā lakum lā tarjụna lillāhi waqārā

13. “‘Ada apa gerangan dengan kalian, sehingga kalian tidak dapat mengharapkan keagungan Allah,6


6 Yakni, “sehingga kalian menolak beriman kepada Allah” (Al-Zamakhsyari). Beberapa ahli (semisal, Jauhari) memaknai ungkapan di atas dengan “sehingga kalian tidak takut akan keagungan Allah”, yang juga menunjukkan tiadanya iman kepada-Nya.


Surah Nuh Ayat 14

وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا

wa qad khalaqakum aṭwārā

14. padahal Dia telah menciptakan [setiap orang di antara] kalian dalam tahap-tahap yang berurutan?7


7 Yakni, melalui suatu proses evolusi secara berangsur-angsur, dalam rahim ibu, dari setetes sperma dan sel benih yang telah dibuahi (ovum perempuan), hingga embrio tersebut menjadi entitas manusia yang baru dan mandiri (bdk. Surah Al-Hajj [22]: 5): semua ini menunjukkan adanya sebuah rencana dan tujuan, dan, karenanya, juga menunjukkan eksistensi Sang Pencipta yang sadar.


Surah Nuh Ayat 15

أَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللَّهُ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا

a lam tarau kaifa khalaqallāhu sab’a samāwātin ṭibāqā

15. “‘Tidakkah kalian melihat bagaimana Allah menciptakan tujuh langit secara sangat serasi satu sama lain;8


8 Bdk. Surah Al-Mulk [67]: 3 dan catatan no. 2 yang terkait.


Surah Nuh Ayat 16

وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا

wa ja’alal-qamara fīhinna nụraw wa ja’alasy-syamsa sirājā

16. dan telah menetapkan di dalamnya bulan sebagai suatu cahaya [yang dipantulkan] dan menetapkan matahari sebagai sebuah pelita [yang bersinar]?9


9 Lihat Surah Yunus {10]: 5, yang di dalamnya matahari digambarkan sebagai “[sumber] sinar yang memancar” (dhiya’) dan bulan sebagai “cahaya [yang dipantulkan]” (nur); kedua sisipan ini dijelaskan dalam catatan no. 10 pada Surah Yunus [10]: 5.


Surah Nuh Ayat 17

وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ نَبَاتًا

wallāhu ambatakum minal-arḍi nabātā

17. Dan Allah telah menyebabkan kalian tumbuh dari bumi dalam pertumbuhan [secara bertahap]:10 dan kemudian Dia akan mengembalikan kalian kepadanya [melalui kematian]:


10 Ungkapan ini memiliki makna ganda. Pertama, ungkapan ini menggambarkan evolusi tubuh manusia yang berasal dari substansi yang sama—baik substansi organik maupun anorganik—yang ditemukan baik di dalam maupun di atas permukaan bumi: dan dalam pengertian ini, ungkapan tersebut meliputi penciptaan individu manusia “dalam tahap-tahap yang berurutan” sebagaimana yang disebutkan dalam ayat 14 sebelumnya. Kedua, ungkapan tersebut menggambarkan evolusi spesies manusia yang, bermula dari organisme paling sederhana yang hidup di muka bumi, secara bertahap meningkat ke tahap perkembangan yang lebih tinggi sampai akhirnya mencapai taraf kompleksitas antara badan, pikiran, dan jiwa yang terlihat jelas pada manusia.


Surah Nuh Ayat 18

ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا

ṡumma yu’īdukum fīhā wa yukhrijukum ikhrājā

18. dan [kemudian] Dia akan mengeluarkan kalian [darinya] melalui kebangkitan.11


11 Lit., “dengan suatu pengeluaran [yang terakhir]”.


Surah Nuh Ayat 19

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ بِسَاطًا

wallāhu ja’ala lakumul-arḍa bisāṭā

19. “‘Dan Allah telah menjadikan bumi sebagai suatu hamparan yang luas bagi kalian,


Surah Nuh Ayat 20

لِتَسْلُكُوا مِنْهَا سُبُلًا فِجَاجًا

litaslukụ min-hā subulan fijājā

20. supaya kalian dapat berjalan di atasnya pada jalan-jalan yang luas.'”12


12 Yakni, “Dia telah membekali kalian dengan segala kemudahan untuk menjalani kehidupan yang baik di muka bumi”—implikasinya yang tersirat adalah, “Lalu, tidakkah kalian mengakui-Nya dan bersyukur kepada-Nya?”


Surah Nuh Ayat 21

قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًا

qāla nụḥur rabbi innahum ‘aṣaunī wattaba’ụ mal lam yazid-hu māluhụ wa waladuhū illā khasārā

21. [Dan] Nuh melanjutkan, “Wahai, Pemeliharaku! Perhatikanlah, mereka [benar-benar] menentangku karena mereka mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya semakin mendorong mereka kepada kehancuran,13


13 Lit., “dan telah mengikuti orang yang kekayaan dan anak-anaknya tidak meningkatkannya dalam hal apa pun, kecuali kerugian”: yakni, orang-orang yang kecenderungan dan kekuatannya hanya menambah keangkuhan dan kebanggaan batil mereka dan, dengan demikian, mendorong mereka pada keruntuhan spiritual. Di balik ini, kita disuguhi suatu isyarat yang halus mengenai fakta bahwa pencurahan segala daya upaya semata-mata demi kemakmuran materiel pasti akan, dalam jangka panjang, menghancurkan seluruh nilai moral dan, selanjutnya, struktur masyarakat itu sendiri.


Surah Nuh Ayat 22

وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا

wa makarụ makrang kubbārā

22. dan (orang-orang) yang telah merencanakan suatu hujatan yang amat besar [terhadap-Mu],


Surah Nuh Ayat 23

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

wa qālụ lā tażarunna ālihatakum wa lā tażarunna waddaw wa lā suwā’aw wa lā yagụṡa wa ya’ụqa wa nasrā

23. lantaran mereka berkata [kepada para pengikut mereka], “Jangan sekali-kali meninggalkan tuhan-tuhan kalian: jangan tinggalkan Wadd atau Suwa’, tidak pula Yaghuts, Ya’uq, ataupun Nasr!’14


14 Seperti terlihat jelas dari sumber-sumber awal, lima tuhan ini termasuk di antara tuhan-tuhan yang juga banyak disembah oleh bangsa Arab pra-lslam (lihat karya Hisyam ibn Muhammad Al-Kalbi, Kitab Al-Asnam, ed. Ahmad Zaki, Kairo, 1914—suatu karya kecil, namun sangat bernilai). Praktik pemujaan terhadap tuhan-tuhan ini mungkin telah diperkenalkan ke Semenanjung Arabia dari Suriah dan Babilonia. Di kedua wilayah tersebut, tampaknya pemujaan semacam ini sudah ada sejak zaman terdahulu.


Surah Nuh Ayat 24

وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا ۖ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا ضَلَالًا

wa qad aḍallụ kaṡīrā, wa lā tazidiẓ-ẓālimīna illā ḍalālā

24. “Dan demikianlah mereka menyesatkan banyak orang: karena itu, tetapkanlah agar orang-orang zalim itu semakin jauh tersesat [dari segala yang mungkin mereka inginkan]!”15


15 Lit., “janganlah Engkau tambahkan apa pun kepada orang-orang zalim itu, kecuali penyimpangan yang jauh”, yakni, dari pencapaian tujuan-tujuan duniawi mereka (Al-Razi).


Surah Nuh Ayat 25

مِمَّا خَطِيئَاتِهِمْ أُغْرِقُوا فَأُدْخِلُوا نَارًا فَلَمْ يَجِدُوا لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْصَارًا

mimmā khaṭī`ātihim ugriqụ fa udkhilụ nāran fa lam yajidụ lahum min dụnillāhi anṣārā

25. Lalu, disebabkan oleh dosa-dosa mereka, mereka ditenggelamkan [dalam banjir besar], dan dihukum dengan siksa api neraka [di akhirat];16 dan mereka tidak menemukan seorang pun yang dapat menolong mereka melawan Allah.


16 Lit., “dan dijadikan masuk ke dalam api”—bentuk lampau tersebut menunjukkan tidak-terelakkannya penderitaan yang pasti akan datang (Al-Zamakhsyari).


Surah Nuh Ayat 26

وَقَالَ نُوحٌ رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا

wa qāla nụḥur rabbi lā tażar ‘alal-arḍi minal-kāfirīna dayyārā

26. Dan, Nuh berdoa, “Wahai, Pemeliharaku! Janganlah Engkau biarkan di muka bumi seorang pun di antara orang-orang yang mengingkari kebenaran itu:


Surah Nuh Ayat 27

إِنَّكَ إِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوا إِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا

innaka in tażar-hum yuḍillụ ‘ibādaka wa lā yalidū illā fājirang kaffārā

27. sebab, perhatikanlah, jika Engkau membiarkan mereka, mereka akan [selalu berupaya] menyesatkan orang-orang yang menyembah-Mu, dan hanya akan melahirkan kejahatan dan sikap tak bersyukur yang sangat keras.17


17 Lit., “melahirkan orang-orang yang jahat (fajir), sangat tidak bersyukur (kaffar)”: namun, karena tidak seorang pun—apalagi seorang nabi—dibenarkan berpendapat bahwa keturunan orang-orang zalim pasti lah bersifat zalim juga, jelaslah bahwa istilah fajir dan kaffar digunakan di sini secara metonimia, jadi merujuk pada sifat atau sikap, bukan pada orang.


Surah Nuh Ayat 28

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا تَبَارًا

rabbigfir lī wa liwālidayya wa liman dakhala baitiya mu`minaw wa lil-mu`minīna wal-mu`mināt, wa lā tazidiẓ-ẓālimīna illā tabārā

28. “Wahai, Pemeliharaku! Berikanlah ampunan-Mu kepadaku, kepada kedua orangtuaku, kepada siapa saja yang masuk ke rumahku sebagai orang beriman, dan kepada semua orang beriman laki-laki dan perempuan [pada masa-masa kemudian]; dan jadikanlah orang-orang zalim itu semakin menemui kehancuran!”18


18 Lit., “janganlah Engkau tambahkan apa pun kepada orang-orang zalim itu kecuali kehancuran”—yaitu, hancurnya tujuan-tujuan mereka dan, dengan demikian, hancurnya kejahatan itu sendiri.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top