41. Fussilat (Yang Dijelaskan Dengan Terang) – فصلت

Surat Fussilat dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Fussilat ( فصلت ) merupakan surat ke 41 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 54 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Fussilat tergolong Surat Makkiyah.

Surah yang diwahyukan segera setelah Surat Ghafir ini melanjutkan tema yang telah dimulai dalam surah tersebut, yaitu: sikap manusia dalam menerima wahyu Ilahi berdasarkan nalar dan pemikiran yang saksama, atau menolaknya dengan sengaja.

Nama surah ini diambil dari kata fussilat yang terdapat dalam ayat 3, yang merujuk kepada pesan-pesan Al-Qur’an “yang dijelaskan dengan terang”.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Fussilat Ayat 1

حم

ḥā mīm

1. Ha. Mim.1


1 Lihat artikel Al-Muqatta’at (Huruf-Huruf Terpisah) dalam Al-Qur’an.


Surah Fussilat Ayat 2

تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

tanzīlum minar-raḥmānir-raḥīm

2. TURUNNYA [wahyu ini] berasal dari Yang Maha Pengasih, Sang Pemberi Rahmat:


Surah Fussilat Ayat 3

كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

kitābun fuṣṣilat āyātuhụ qur`ānan ‘arabiyyal liqaumiy ya’lamụn

3. Sebuah kitab Ilahi, yang pesan-pesannya dijelaskan dengan terang sebagai wacana dalam bahasa Arab2 bagi orang-orang yang memiliki pengetahuan [bawaan],


2 Lihat Surah Yusuf [12]: 2 dan catatan no. 3 yang terkait.


Surah Fussilat Ayat 4

بَشِيرًا وَنَذِيرًا فَأَعْرَضَ أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ

basyīraw wa nażīrā, fa a’raḍa akṡaruhum fa hum lā yasma’ụn

4. agar menjadi pembawa berita gembira sekaligus peringatan.

Namun, [manakala kitab Ilahi ini disampaikan kepada manusia,] kebanyakan dari mereka berpaling, sehingga mereka tidak dapat mendengar [pesannya];3


3 “Orang-orang yang memiliki pengetahuan [bawaan]” yang disebutkan dalam ayat sebelumnya jelas-jelas adalah mereka yang memahami makna spiritual kitab Ilahi ini dan, karenanya, menerima petunjuknya: oleh karena itu, yang dirujuk dalam frasa di atas dan dalam ayat berikutnya bukanlah “sebagian besar dari mereka“, melainkan sebaliknya, orang-orang yang sama sekali tidak memiliki pengetahuan semacam itu dan, akibatnya, Al-Quran menjadi tidak berarti bagi mereka. Pembedaan yang tersirat secara eliptis ini—yang diabaikan oleh mayoritas mufasir (dengan satu-satunya pengecualian barangkali Ibn Katsir)—hanya dapat d:itunjukkan melalui penyisipan di awal kalimat.


Surah Fussilat Ayat 5

وَقَالُوا قُلُوبُنَا فِي أَكِنَّةٍ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ وَفِي آذَانِنَا وَقْرٌ وَمِنْ بَيْنِنَا وَبَيْنِكَ حِجَابٌ فَاعْمَلْ إِنَّنَا عَامِلُونَ

wa qālụ qulụbunā fī akinnatim mimmā tad’ụnā ilaihi wa fī āżāninā waqruw wa mim baininā wa bainika ḥijābun fa’mal innanā ‘āmilụn

5. maka, mereka berkata, [demikianlah kira-kira:] “Hati kami tertutup bagi apa pun yang engkau serukan kepada kami, [wahai Muhammad,] dan dalam telinga kami ada ketulian, serta antara kami dan engkau terdapat suatu penghalang.4 Maka, lakukanlah [apa pun yang kau inginkan, sementara] kami, perhatikanlah, akan melakukan [sebagaimana yang selalu kami lakukan]!”


4 Mengenai penerjemahan istilah hijab ini, lihat catatan no. 36 pada kalimat pertama Surah Al-A’raf [7]: 46. Lihat juga Surah Al-An’am [6]: 25. “Perkataan” yang “diucapkan” orang-orang yang berpaling dari pesan Al-Quran itu tentu saja bersifat kiasan, jadi hanya menggambarkan sikap mereka.


Surah Fussilat Ayat 6

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ ۗ وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ

qul innamā ana basyarum miṡlukum yụḥā ilayya annamā ilāhukum ilāhuw wāḥidun fastaqīmū ilaihi wastagfirụh, wa wailul lil-musyrikīn

6. Katakanlah, [wahai Nabi:] “Aku hanyalah seorang manusia biasa seperti kalian.5 Telah diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa: maka, tetaplah berjalan lurus menuju-Nya dan mohonlah ampunan-Nya!”

Dan, celakalah atas orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun di samping Dia,


5 Bdk. Surah Al-An’am [6]: 50 dan catatan no. 38 yang terkait.


Surah Fussilat Ayat 7

الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ

allażīna lā yu`tụnaz-zakāta wa hum bil-ākhirati hum kāfirụn

7. [dan] orang-orang yang tidak memberikan derma: sebab merekalah, mereka yang [dengan demikian,] mengingkari kebenaran akan kehidupan akhirat!6


6 Beriman kepada Allah Yang Maha Esa dan bermurah hati kepada sesama manusia merupakan dua tuntutan mendasar dalam Islam. Sebaliknya, melanggar salah satu dari dua tuntutan ini dengan sengaja sama saja dengan menolak tanggung jawab manusia di hadapan Allah dan, karenanya, secara tersirat, mengingkari adanya kelanjutan hidup di akhirat. (Mengenai penerjemahan saya atas istilah zakah, dalam konteks ini, menjadi “derma”, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 34. Hendaknya diingat bahwa pemakaian istilah zakah untuk merujuk pada pajak wajib yang dikenakan kepada kaum Muslim bermula sejak periode Madinah, sedangkan surah ini diwahyukan di Makkah.)


Surah Fussilat Ayat 8

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

innallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti lahum ajrun gairu mamnụn

8. [Namun,] sungguh, orang-orang yang telah meraih iman dan berbuat kebajikan akan mendapat pahala yang tiada habis-habisnya!


Surah Fussilat Ayat 9

قُلْ أَئِنَّكُمْ لَتَكْفُرُونَ بِالَّذِي خَلَقَ الْأَرْضَ فِي يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُونَ لَهُ أَنْدَادًا ۚ ذَٰلِكَ رَبُّ الْعَالَمِينَ

qul a innakum latakfurụna billażī khalaqal-arḍa fī yaumaini wa taj’alụna lahū andādā, żālika rabbul-‘ālamīn

9. KATAKANLAH: “Apakah kalian benar-benar mengingkari Dia yang telah menciptakan bumi dalam dua masa?7 Dan apakah kalian menyatakan bahwa ada kekuatan yang dapat menandingi Dia,8 Pemelihara seluruh alam?”


7 Mengenai penerjemahan atas istilah yaum di atas (lit., “hari”), menjadi “masa”, Iihat kalimat terakhir catatan no. 43 pada Surah Al-A’raf [7]: 54. Seperti dalam banyak ayat Al-Quran lainnya yang berhubungan dengan peristiwa kosmik, frasa “enam masa” penciptaan alam semesta yang disebutkan berulang-ulang ini—”dua masa” di antaranya, menurut ayat di atas, merujuk pada evolusi alam anorganik, termasuk bumi—memiliki makna alegori murni: dalam hal ini, menurut saya, frasa tersebut mengisyaratkan bahwa alam semesta tidak bereksistensi “secara abadi”, tetapi memiliki permulaan waktu tertentu, dan bahwa ia membutuhkan jangka-waktu tertentu untuk dapat berevolusi sehingga menjadi seperti saat ini.

8 Lit., “apakah kalian memberikan kepada-Nya tandingan-tandingan (andad)?” Untuk penjelasannya, lihat catatan no. 13 pada Surah Al-Baqarah [2]: 22.


Surah Fussilat Ayat 10

وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِنْ فَوْقِهَا وَبَارَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَا أَقْوَاتَهَا فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاءً لِلسَّائِلِينَ

wa ja’ala fīhā rawāsiya min fauqihā wa bāraka fīhā wa qaddara fīhā aqwātahā fī arba’ati ayyām, sawā`al lis-sā`ilīn

10. Karena Dia [itulah yang, setelah menciptakan bumi,] meletakkan gunung-gunung yang kokoh di atasnya, [menjulang tinggi] di atas permukaannya, dan mencurahkan [begitu banyak] berkah di atasnya, serta membagi secara adil9 sarana penghidupannya bagi semua yang ingin mencarinya: [dan semua ini Dia ciptakan] dalam empat masa.10


9 Yakni, sesuai dengan keadilan Ilahi, dan bukan menurut konsep manusia tentang “keadilan” dan “kebutuhan”.

10 Hampir semua mufasir klasik sepakat bahwa “empat masa” ini meliputi “dua masa” yang disebutkan dalam ayat sebelumnya: demikianlah alasan saya menyisipkan kata-kata “dan semua ini Dia ciptakan”. Jika ditambah dengan “dua masa” yang disebutkan dalam ayat 12, hasil penjumlahan angka alegoris ini menjadi enam.


Surah Fussilat Ayat 11

ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ

ṡummastawā ilas-samā`i wa hiya dukhānun fa qāla lahā wa lil-arḍi`tiyā ṭau’an au karhā, qālatā atainā ṭā`i’īn

11. Dan,11 Dia [itulah yang] menerapkan rancangan-Nya pada langit, yang dahulunya [tidak lain] adalah asap;12 dan Dia [itulah yang] berfirman kepada mereka dan kepada bumi, “Datanglah [mewujud], kalian berdua, secara sukarela ataupun terpaksa!”—yang dijawab oleh keduanya, “Kami datang dengan taat.”13


11 Manakala partikel tsumma digunakan untuk menghubungkan pernyataan-pernyataan yang paralel seperti dalam ayat di atas—yakni, pernyataan-pernyataan yang tidak mesti menunjukkan suatu urutan waktu—ia berfungsi sebagai penghubung biasa, dan dapat diterjemahkan menjadi “dan”.

12 Yakni, gas—tampaknya adalah gas hidrogen, yang oleh para fisikawan dianggap sebagai elemen dasar yang darinya semua partikel material alam semesta berkembang dan masih terus berkembang. Mengenai makna sama’ (“langit” atau “lelangit”) dalam pengertian kosmiknya, lihat catatan no. 20 pada Surah Al-Baqarah [2]: 29.

13 Ketika menjelaskan pasase ini, Al-Zamakhsyari menyatakan bahwa: “Makna perintah Allah kepada langit dan bumi agar ‘datang’, dan makna ketundukannya [terhadap perintah-Nya] adalah sebagai berikut: Dia menghendaki keduanya tercipta, maka keduanya tercipta sebagaimana yang Dia kehendaki … : dan inilah jenis metafora (majaz) yang disebut dengan ‘alegori’ (tamtsil) …. Jadi, maksud [pasase ini] hanyalah sebagai gambaran (tashwir) tentang pengaruh kekuasaan Allah yang agung terhadap segala sesuatu yang dikehendaki [oleh-Nya], dan bukan arti selainnya ….” (Jelaslah bahwa penalaran Al-Zamakhsyari didasarkan pada pernyataan Al-Quran yang sering diulang, “Manakala Allah menghendaki untuk menjadikan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, ‘Jadilah’—maka terjadilah ia!”) Ketika mengakhiri penafsirannya terhadap pasase di atas, Al-Zamakhsyari menambahkan: “Jika saya ditanya tentang makna [kata-kata] ‘secara sukarela ataupun terpaksa’, saya akan mengatakan bahwa itu adalah ungkapan perumpamaan (matsal) yang menunjukkan bahwa kehendak-Nya yang agung itu, tidak dapat tidak, pasti terjadi.”


Surah Fussilat Ayat 12

فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَىٰ فِي كُلِّ سَمَاءٍ أَمْرَهَا ۚ وَزَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظًا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

fa qaḍāhunna sab’a samāwātin fī yaumaini wa auḥā fī kulli samā`in amrahā, wa zayyannas-samā`ad-dun-yā bimaṣābīḥa wa ḥifẓā, żālika taqdīrul-‘azīzil-‘alīm

12. Dan, Dia [itulah yang] menetapkan agar mereka menjadi tujuh langit14 dalam dua masa, dan mengajarkan kepada masing-masing langit itu perannya. Dan langit yang terdekat dengan bumi, Kami hiasi dengan cahaya, dan Kami jadikan mereka aman terpelihara:15 demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa, Yang Maha Mengetahui.


14 Yakni, menjadi sistem kosmik yang banyak (bdk. catatan no. 20 pada Surah Al-Baqarah [2]: 29).

15 Bdk. Surah Al-Hijr [15]: 16-18 dan catatan no. 16 dan 17; serta Surah As-Saffat [37]: 6 dan seterusnya.


Surah Fussilat Ayat 13

فَإِنْ أَعْرَضُوا فَقُلْ أَنْذَرْتُكُمْ صَاعِقَةً مِثْلَ صَاعِقَةِ عَادٍ وَثَمُودَ

fa in a’raḍụ fa qul anżartukum ṣā’iqatam miṡla ṣā’iqati ‘ādiw wa ṡamụd

13. NAMUN, jika mereka berpaling,16 katakanlah, “Aku memperingatkan kalian tentang [datangnya] petir hukuman17 seperti petir [yang menimpa suku] ‘Ad dan Tsamud!”18


16 Ini berkaitan dengan kalimat pembuka ayat 9 sebelumnya: “Apakah kalian benar-benar mengingkari Dia yang telah menciptakan …”, dan seterusnya.

17 Lihat catatan no. 40 pada Surah Al-Baqarah [2]: 55.

18 Mengenai kisah dua suku kuno ini, Iihat Surah Al-A’raf [7]: 65-79 dan catatan-catatannya, khususnya no. 48 dan 56; serta Surah Asy-Syu’ara’ [26]: 123-158.


Surah Fussilat Ayat 14

إِذْ جَاءَتْهُمُ الرُّسُلُ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ ۖ قَالُوا لَوْ شَاءَ رَبُّنَا لَأَنْزَلَ مَلَائِكَةً فَإِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ

iż jā`at-humur-rusulu mim baini aidīhim wa min khalfihim allā ta’budū illallāh, qālụ lau syā`a rabbunā la`anzala malā`ikatan fa innā bimā ursiltum bihī kāfirụn

14. Lihatlah! Kepada mereka datang para rasul [Allah], seraya membicarakan apa yang terbentang di hadapan mereka dan apa yang [masih] di luar pengetahuan mereka,19 [dan menyeru mereka,] “Janganlah menyembah siapa pun, kecuali Allah!”

Mereka menjawab, “Jika Pemelihara kami telah menghendaki [agar kami mempercayai apa yang kalian katakan], Dia pasti telah menurunkan malaikat-malaikat [sebagai pembawa pesan-Nya].20 Namun demikian, perhatikan, kami mengingkari adanya kebenaran dalam apa yang [menurut pengakuan kalian,] kalian diutus membawanya!”


19 Lit., “dari antara dua tangannya dan dari belakang mereka”: yakni, mengingatkan mereka pada sesuatu yang mereka ketahui—yaitu, apa yang telah terjadi terhadap para pendosa seperti mereka sendiri yang hidup pada masa sebelum mereka—dan memperingatkan mereka akan apa yang pasti akan terjadi juga pada mereka pada masa yang akan datang, jika mereka berkukuh mengingkari kebenaran (Al-Hasan Al-Bashri, sebagaimana dikutip oleh Al-Zamakhsyari). Namun, mungkin juga kita memahami frasa di atas (yang telah dijelaskan dalam catatan no. 247 pada Surah Al-Baqarah [2]: 255) dengan cara lain, yang lebih langsung: para rasul Allah menunjukkan kepada kaum pendosa itu sesuatu yang sudah jelas bagi mereka (lit., “antara tangan mereka”)—yakni, sikap mereka yang jelas-jelas keliru menyangkut perhatian mereka terhadap masalah sosial dan duniawi serta konsep-konsep moral mereka—serta menunjukkan sikap tidak masuk akal mereka yang menolak sesuatu yang masih berada di luar pengetahuan mereka (lit., “di belakang mereka”): yaitu, hidup sesudah mati dan pengadilan akhir Allah.

20 Bdk. Surah Al-An’am [6]: 8-9 dan Al-Hijr [15]: 7.


Surah Fussilat Ayat 15

فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً ۖ أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ

fa ammā ‘ādun fastakbarụ fil-arḍi bigairil-ḥaqqi wa qālụ man asyaddu minnā quwwah, a wa lam yarau annallāhallażī khalaqahum huwa asyaddu min-hum quwwah, wa kānụ bi`āyātinā yaj-ḥadụn

15. Adapun mengenai [suku] ‘Ad, mereka berjalan di muka bumi dengan angkuh, [seraya melakukan pelanggaran] terhadap segala (nilai) kebenaran, dan berkata, “Siapakah yang dapat memiliki kekuatan lebih besar daripada kekuatan kami?”

Mengapa—tidakkah mereka menyadari bahwa Allah, yang menciptakan mereka, memiliki kekuatan yang lebih besar daripada yang mereka miliki?

Akan tetapi, mereka terus menolak pesan-pesan Kami;


Surah Fussilat Ayat 16

فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا فِي أَيَّامٍ نَحِسَاتٍ لِنُذِيقَهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَخْزَىٰ ۖ وَهُمْ لَا يُنْصَرُونَ

fa arsalnā ‘alaihim rīḥan ṣarṣaran fī ayyāmin naḥisātil linużīqahum ‘ażābal-khizyi fil-ḥayātid-dun-yā, wa la’ażābul-ākhirati akhzā wa hum lā yunṣarụn

16. dan kemudian, Kami kirimkan kepada mereka angin ribut yang mengamuk selama beberapa hari yang nahas,21 sehingga menjadikan mereka bisa mencicipi, dalam kehidupan dunia ini, derita yang menghinakan: akan tetapi, derita [mereka] dalam kehidupan akhirat akan jauh lebih menghinakan, dan mereka tidak memiliki seorang penolong pun.


21 Lihat Surah Al-Haqqah [69]: 6-8.


Surah Fussilat Ayat 17

وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَىٰ عَلَى الْهُدَىٰ فَأَخَذَتْهُمْ صَاعِقَةُ الْعَذَابِ الْهُونِ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

wa ammā ṡamụdu fa hadaināhum fastaḥabbul-‘amā ‘alal-hudā fa akhażat-hum ṣā’iqatul-‘ażābil-hụni bimā kānụ yaksibụn

17. Adapun [suku] Tsamud, Kami telah menawarkan kepada mereka petunjuk, tetapi mereka lebih suka memilih kebutaan daripada petunjuk: maka, petir derita yang menghinakan menimpa mereka sebagai akibat dari segala [kejahatan] yang telah mereka lakukan;


Surah Fussilat Ayat 18

وَنَجَّيْنَا الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

wa najjainallażīna āmanụ wa kānụ yattaqụn

18. dan Kami selamatkan [hanya] orang-orang yang telah meraih iman dan sadar akan Kami.


Surah Fussilat Ayat 19

وَيَوْمَ يُحْشَرُ أَعْدَاءُ اللَّهِ إِلَى النَّارِ فَهُمْ يُوزَعُونَ

wa yauma yuḥsyaru a’dā`ullāhi ilan-nāri fa hum yụza’ụn

19. Karena itu, [peringatkanlah semua manusia akan] Hari ketika musuh-musuh Allah akan dikumpulkan bersama di hadapan api (neraka), kemudian akan digiring maju,


Surah Fussilat Ayat 20

حَتَّىٰ إِذَا مَا جَاءُوهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَأَبْصَارُهُمْ وَجُلُودُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

ḥattā iżā mā jā`ụhā syahida ‘alaihim sam’uhum wa abṣāruhum wa julụduhum bimā kānụ ya’malụn

20. hingga, ketika mereka mendekatinya, pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka [sendiri] akan memberi kesaksian melawan mereka, dengan menceritakan apa yang telah mereka kerjakan [di muka bumi].


Surah Fussilat Ayat 21

وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدْتُمْ عَلَيْنَا ۖ قَالُوا أَنْطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

wa qālụ lijulụdihim lima syahittum ‘alainā, qālū anṭaqanallāhullażī anṭaqa kulla syai`iw wa huwa khalaqakum awwala marratiw wa ilaihi turja’ụn

21. Dan, mereka akan bertanya kepada kulit mereka, “Mengapa kalian memberi kesaksian melawan kami?”—[dan kulit] ini akan menjawab, “Allah, yang membuat segala sesuatu berbicara, telah membuat kami berbicara [pula]: sebab, Dia [itulah yang] telah menciptakan kalian pada kali pertama—dan kepada-Nya [sekarang] kalian dikembalikan.


Surah Fussilat Ayat 22

وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَا أَبْصَارُكُمْ وَلَا جُلُودُكُمْ وَلَٰكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا تَعْمَلُونَ

wa mā kuntum tastatirụna ay yasy-hada ‘alaikum sam’ukum wa lā abṣārukum wa lā julụdukum wa lākin ẓanantum annallāha lā ya’lamu kaṡīram mimmā ta’malụn

22. Dan, kalian tidak mencoba menyembunyikan [dosa-dosa kalian] untuk mencegah pendengaran, penglihatan, dan kulit kalian memberi kesaksian melawan kalian: tidak, tetapi kalian menduga bahwa Allah tidak banyak mengetahui tentang apa yang kalian perbuat—


Surah Fussilat Ayat 23

وَذَٰلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

wa żālikum ẓannukumullażī ẓanantum birabbikum ardākum fa aṣbaḥtum minal-khāsirīn

23. dan justru dugaan yang kalian sangkakan terhadap Pemelihara kalian itu telah membinasakan kalian, maka kini kalian mendapati diri di antara orang-orang yang merugi!”


Surah Fussilat Ayat 24

فَإِنْ يَصْبِرُوا فَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ ۖ وَإِنْ يَسْتَعْتِبُوا فَمَا هُمْ مِنَ الْمُعْتَبِينَ

fa iy yaṣbirụ fan-nāru maṡwal lahum, wa iy yasta’tibụ fa mā hum minal-mu’tabīn

24. Dan, kemudian jika [pun] mereka menahan [nasibnya] dengan sabar, api (neraka) tetap akan menjadi tempat kediaman mereka;22 dan jika mereka berdoa agar diizinkan melakukan perbaikan, mereka tidak akan diizinkan melakukannya:23


22 Secara tersirat, “kecuali Allah berkehendak untuk membebaskan mereka”: lihat paragraf terakhir Surah Al-An’am [6]: 128 dan catatan no. 114 yang terkait; lihat juga hadis yang dikutip dalam catatan no. 10 pada Surah Ghafir [40]: 12.

23 Lit., “mereka tidak akan termasuk di antara orang-orang yang diizinkan untuk melakukan perbaikan”: secara tidak langsung mengacu pada permintaan orang-orang yang diazab itu, pada Hari Pengadilan, agar diberi “kesempatan kedua” di dunia, serta pada penolakan Allah mengabulkan permintaan tersebut (bdk. Surah Al-An’am [6]: 27-28 dan As-Sajdah [32]: 12).


Surah Fussilat Ayat 25

وَقَيَّضْنَا لَهُمْ قُرَنَاءَ فَزَيَّنُوا لَهُمْ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَحَقَّ عَلَيْهِمُ الْقَوْلُ فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ إِنَّهُمْ كَانُوا خَاسِرِينَ

wa qayyaḍnā lahum quranā`a fa zayyanụ lahum mā baina aidīhim wa mā khalfahum wa ḥaqqa ‘alaihimul-qaulu fī umaming qad khalat ming qablihim minal-jinni wal-ins, innahum kānụ khāsirīn

25. karena [ketika mereka lalai terhadap Kami,] Kami tetapkan bagi mereka [dorongan-dorongan jahat mereka sendiri sebagai] diri-lain [mereka],24 dan mereka ini menjadikan apa pun yang terbentang di hadapan mereka, dan apa pun yang ada di luar pengetahuan mereka, tampak baik bagi mereka.25

Dan demikianlah, ketetapan [hukuman] pasti akan menimpa mereka bersama umat [pendosa lainnya dari] makhluk gaib26 dan manusia yang telah berlalu sebelum masa mereka: sungguh, mereka [semua] benar-benar akan merugi!


24 {other selves}. Atau: “sahabat-sejiwa {soul-mates}” (bdk. Surah An-Nisa’ [4]: 38). Verba qarana, yang darinya kata qarin berasal, berarti “dia berkaitan” atau “berhubungan akrab” atau “bertalian [sesuatu dengan sesuatu yang lain]”. Bdk. Surah Az-Zukhruf [43]: 36—”adapun orang yang memilih untuk tetap buta dari mengingat Yang Maha Pengasih, Kami tetapkan baginya dorongan jahat [lit., ‘setan’] [yang abadi] untuk menjadi diri-lainnya”.

25 Lit., “yang ada di antara tangan mereka dan yang ada di belakang mereka”: yakni, dorongan-dorongan jahat mereka sendiri (yang telah menjadi “diri mereka yang lain”, demikianlah kira-kira) membuat mereka terpikat pada daya tarik duniawi yang terhampar di hadapan mereka untuk dinikmati habis-habisan tanpa batasan moral apa pun. Pada saat yang sama, hal ini menyebabkan mereka menganggap bahwa gagasan tentang kebangkitan dan pengadilan Allah sebagai khayalan saja—dengan demikian, memberi mereka rasa aman yang keliru sehubungan dengan sesuatu yang ada di luar jangkauan pengetahuan mereka.

26 Mengenai penerjemahan—dan makna—istilah jinn ini, lihat artikel Istilah dan Konsep Jin dalam Islam.


Surah Fussilat Ayat 26

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ

wa qālallażīna kafarụ lā tasma’ụ lihāżal-qur`āni walgau fīhi la’allakum taglibụn

26. ADAPUN orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran berkata [satu sama lain], “Jangan dengarkan Al-Quran ini, alih-alih berbicaralah mengenainya secara main-main, supaya kalian dapat meraih keunggulan!”27


27 Ini secara tidak langsung mengacu pada upaya-upaya yang bertujuan mendiskreditkan Al-Quran, dengan menggambarkannya sebagai “hasil karya” Muhammad Saw. untuk memenuhi tujuan-tujuannya sendiri (baik yang bersifat personal maupun politis), sebagai rangkaian “kutipan yang keliru” dari kitab-kitab suci terdahulu, sebagai akibat “halusinasi”, dan sebagainya: semuanya itu menunjukkan bahwa para penentang pesan-pesan Al-Quran itu secara instingtif merasakan kekuatan Al-Quran, dan pada saat yang sama menyadari bahwa ia mengancam cara pandang mereka terhadap kehidupan—suatu cara pandang yang materialistis dan puas-diri (self-complacent)—dan, karenanya, harus diperangi. lni menjelaskan pernyataan di akhir ayat 28 bahwa mereka “sengaja menolak” pesan-pesan Allah.


Surah Fussilat Ayat 27

فَلَنُذِيقَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا عَذَابًا شَدِيدًا وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَسْوَأَ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ

fa lanużīqannallażīna kafarụ ‘ażāban syadīdaw wa lanajziyannahum aswa`allażī kānụ ya’malụn

27. Namun, Kami pasti akan membuat orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran itu merasakan penderitaan yang dahsyat, dan Kami pasti akan memberikan balasan kepada mereka sesuai dengan perbuatan mereka yang terburuk!


Surah Fussilat Ayat 28

ذَٰلِكَ جَزَاءُ أَعْدَاءِ اللَّهِ النَّارُ ۖ لَهُمْ فِيهَا دَارُ الْخُلْدِ ۖ جَزَاءً بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ

żālika jazā`u a’dā`illāhin-nāru lahum fīhā dārul-khuld, jazā`am bimā kānụ bi`āyātinā yaj-ḥadụn

28. Balasan demikian terhadap musuh-musuh Allah itu adalah api [neraka di akhirat]: di dalamnya mereka akan memiliki tempat kediaman yang tak terhitung jangka waktunya sebagai akibat dari penolakan mereka yang disengaja terhadap pesan-pesan Kami.28


28 Tentang penerjemahan verba jahada di atas, lihat Surah Al-‘Ankabut [29], catatan no. 45.


Surah Fussilat Ayat 29

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا رَبَّنَا أَرِنَا اللَّذَيْنِ أَضَلَّانَا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ نَجْعَلْهُمَا تَحْتَ أَقْدَامِنَا لِيَكُونَا مِنَ الْأَسْفَلِينَ

wa qālallażīna kafarụ rabbanā arinallażaini aḍallānā minal-jinni wal-insi naj’al-humā taḥta aqdāminā liyakụnā minal-asfalīn

29. Dan, mereka yang [dalam hidupnya di dunia ini] berkukuh mengingkari kebenaran [kemudian] akan berseru, “Wahai, Pemelihara kami! Perlihatkanlah kepada kami makhluk-makhluk gaib dan manusia-manusia yang telah menyesatkan kami:29 kami akan menginjak-injak mereka, agar mereka menjadi yang terendah di antara semuanya!”30


29 Lihat Surah Al-An’am [6]: 112—”bagi setiap nabi telah Kami jadikan musuh, yaitu kekuatan-kekuatan jahat (syayathin) dari kalangan manusia dan dari kalangan makhluk-makhluk gaib”—dan catatan no. 98 yang terkait.

30 Bdk. Surah Al-A’raf [7]: 38.


Surah Fussilat Ayat 30

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

innallażīna qālụ rabbunallāhu ṡummastaqāmụ tatanazzalu ‘alaihimul-malā`ikatu allā takhāfụ wa lā taḥzanụ wa absyirụ bil-jannatillatī kuntum tụ’adụn

30. [Namun,] perhatikanlah, adapun mereka yang berkata, “Pemelihara kami adalah Allah,” kemudian mereka dengan teguh mengikuti jalan yang benar—kepada merekalah para malaikat sering turun, [seraya berkata,] “Jangan takut dan bersedih hati, tetapi terimalah kabar gembira tentang surga yang telah dijanjikan kepada kalian!


Surah Fussilat Ayat 31

نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

naḥnu auliyā`ukum fil-ḥayātid-dun-yā wa fil-ākhirah, wa lakum fīhā mā tasytahī anfusukum wa lakum fīhā mā tadda’ụn

31. Kami dekat dengan kalian dalam kehidupan di dunia ini dan [demikian pula] dalam kehidupan akhirat; dan dalam [kehidupan akhirat] itu, kalian akan mendapatkan segala yang mungkin diinginkan jiwa kalian, dan di dalamnya kalian akan mendapatkan semua yang pernah kalian minta,


Surah Fussilat Ayat 32

نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ

nuzulam min gafụrir raḥīm

32. sebagai sambutan yang cepat dari Dia Yang Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat!”


Surah Fussilat Ayat 33

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

wa man aḥsanu qaulam mim man da’ā ilallāhi wa ‘amila ṣāliḥaw wa qāla innanī minal-muslimīn

33. Dan, siapakah yang perkataannya dapat lebih baik daripada dia yang menyeru [sesamanya] kepada Allah, dan mengerjakan apa yang layak dan benar, serta berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang yang berserah diri kepada Allah”?


Surah Fussilat Ayat 34

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

wa lā tastawil-ḥasanatu wa las-sayyi`ah, idfa’ billatī hiya aḥsanu fa iżallażī bainaka wa bainahụ ‘adāwatung ka`annahụ waliyyun ḥamīm

34. Namun, [karena] yang baik dan yang jahat tentu tidak sama, tolaklah olehmu [kejahatan itu] dengan sesuatu yang lebih baik,31—dan lihatlah! orang yang antara dirinya dan dirimu terdapat permusuhan [kemudian bisa saja menjadi] seakan-akan dia [selalu] dekat [denganmu], seorang kawan sejati!


31 Lihat catatan no. 44 pada Surah Ar-Ra’d [13]: 22. Dalam ayat ini, perintah agar “menolak [kejahatan itu] dengan sesuatu yang lebih baik” berkaitan dengan cara menghadapi bantahan-bantahan yang tidak senonoh dan kritik penuh kebencian terhadap Al-Quran. Seluruh pasase ini (ayat 33 dst.) berkaitan dengan ayat 26.


Surah Fussilat Ayat 35

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

wa mā yulaqqāhā illallażīna ṣabarụ, wa mā yulaqqāhā illā żụ ḥaẓẓin ‘aẓīm

35. Namun, [kemampuan untuk meraih] hal ini tidak dianugerahkan kepada siapa pun, kecuali bagi orang-orang yang biasa bersabar dalam menghadapi kesusahan: ia tidak dianugerahkan kepada siapa pun, kecuali bagi orang-orang yang dikaruniai keberuntungan yang besar!


Surah Fussilat Ayat 36

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

wa immā yanzagannaka minasy-syaiṭāni nazgun fasta’iż billāh, innahụ huwas-samī’ul-‘alīm

36. Karena itu, seandainya bisikan setan menggiringmu [pada amarah buta], berlindunglah kepada Allah: perhatikanlah, hanya Dia Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui!32


32 Yakni, Dia sajalah yang mengetahui apa yang ada dalam hati manusia, dan Dia sajalah yang memahami motivasi-motivasi terdalam—yang oleh mereka sendiri tidak disadari—dari orang-orang yang mengkritik keras Al-Quran. Lihat Surah Al-A’raf [7]: 199-200 dan catatan-catatannya, khususnya catatan no. 164.


Surah Fussilat Ayat 37

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

wa min āyātihil-lailu wan-nahāru wasy-syamsu wal-qamar, lā tasjudụ lisy-syamsi wa lā lil-qamari wasjudụ lillāhillażī khalaqahunna ing kuntum iyyāhu ta’budụn

37. Adapun di antara tanda-tanda-Nya adalah malam dan siang, serta matahari dan bulan: [karena itu,] janganlah memuja matahari atau bulan, tetapi bersujudlah memuja Allah, yang telah menciptakan mereka—jika memang Dia yang [benar-benar] kalian sembah.33


33 Menurut Al-Razi, ini berkaitan dengan frasa “menyeru [sesamanya] kepada Allah” dalam ayat 33 sebelumnya. Allah adalah satu-satunya sebab dan sumber dari segala sesuatu; dan segala sesuatu yang ada tidak lain merupakan tanda kekuasaan kreatif-Nya yang menakjubkan. Karena itu, merupakan suatu penghujatan—terlepas dari ketidaklogisannya—untuk menisbahkan kekuasaan hakiki (yang merupakan makna “pemujaan” dalam konteks ini) kepada apa pun yang diciptakan, baik berupa fenomena konkret, kekuatan alam yang abstrak, sekumpulan peristiwa, ataupun bahkan gagasan.


Surah Fussilat Ayat 38

فَإِنِ اسْتَكْبَرُوا فَالَّذِينَ عِنْدَ رَبِّكَ يُسَبِّحُونَ لَهُ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَهُمْ لَا يَسْأَمُونَ

fa inistakbarụ fallażīna ‘inda rabbika yusabbiḥụna lahụ bil-laili wan-nahāri wa hum lā yas`amụn

38. Dan, meskipun sebagian orang demikian angkuhnya [untuk mendengarkan seruan ini], mereka yang [dalam hatinya] berada bersama Pemeliharamu bertasbih memuji kemuliaan-Nya yang tak terhingga pada malam dan siang hari, dan tidak pernah merasa lelah [karenanya].


Surah Fussilat Ayat 39

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الْأَرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ ۚ إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۚ إِنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

wa min āyātihī annaka taral-arḍa khāsyi’atan fa iżā anzalnā ‘alaihal-mā`ahtazzat wa rabat, innallażī aḥyāhā lamuḥyil-mautā, innahụ ‘alā kulli syai`ing qadīr

39. Sebab, di antara tanda-tanda-Nya adalah ini: engkau melihat bumi terhampar gersang—dan lihatlah! ketika Kami turunkan hujan di atasnya, ia bergerak dan mengembang [dipenuhi kehidupan]! Sungguh, Dia yang menghidupkannya pasti dapat menghidupkan orang yang mati [hatinya pula]: sebab, perhatikanlah, Dia berkuasa menciptakan segala sesuatu.34


34 Meskipun pernyataan tentang menghidupkan bumi sering ditemukan dalam Al-Quran sebagai perumpamaan bagi kebangkitan manusia pada hari kiamat, dalam konteks ini (dan sejalan dengan keseluruhan pasase ayat 33-39) ia tampaknya merupakan gambaran bagi kekuasaan Allah untuk menganugerahkan kehidupan spiritual ke dalam hati yang, sampai saat ini, masih tertutup terhadap kebenaran akan eksistensi dan kemahakuasaan Allah. Karena itu, pernyataan tersebut mengisyaratkan suatu seruan kepada orang Mukmin agar jangan pernah berputus asa dari harapan bahwa “orang-orang yang mengi ngkari kebenaran itu” suatu saat dapat menangkap kebenaran pesan-pesan Al-Quran.


Surah Fussilat Ayat 40

إِنَّ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي آيَاتِنَا لَا يَخْفَوْنَ عَلَيْنَا ۗ أَفَمَنْ يُلْقَىٰ فِي النَّارِ خَيْرٌ أَمْ مَنْ يَأْتِي آمِنًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ ۖ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

innallażīna yul-ḥidụna fī āyātinā lā yakhfauna ‘alainā, a fa may yulqā fin-nāri khairun am may ya`tī āminay yaumal-qiyāmah, i’malụ mā syi`tum innahụ bimā ta’malụna baṣīr

40. SUNGGUH, orang-orang yang memutarbalikkan makna pesan-pesan Kami tidaklah tersembunyi dari Kami: karena itu, mana [di antara keduanya] yang akan lebih baik keadaannya—dia yang [ditakdirkan untuk] dicampakkan ke dalam api, ataukah dia yang akan datang dengan aman [ke hadapan Kami] pada Hari Kebangkitan?

Lakukanlah apa yang kalian kehendaki: sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.


Surah Fussilat Ayat 41

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ

innallażīna kafarụ biż-żikri lammā jā`ahum, wa innahụ lakitābun ‘azīz

41. Sungguh, orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran peringatan ini segera setelah kebenaran itu datang kepada mereka—[merekalah orang-orang yang merugi]: sebab, perhatikanlah, ia adalah kitab Ilahi yang mulia:


Surah Fussilat Ayat 42

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ ۖ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

lā ya`tīhil-bāṭilu mim baini yadaihi wa lā min khalfih, tanzīlum min ḥakīmin ḥamīd

42. tiada kebatilan dapat menyentuhnya baik secara terbuka maupun tersembunyi,35 [karena ia] diturunkan oleh Yang Mahabijaksana, Maha Terpuji.


35 Lit., “tidak dari antara tangan-tangannya, dan tidak pula dari belakangnya”, yakni, ia tidak dapat diubah baik secara terang-terangan dengan menambah atau menguranginya (Al-Razi), maupun secara diam-diam dengan melakukan penafsiran yang bertentangan atau yang sengaja menimbulkan kebingungan. Pernyataan di atas merupakan salah satu pasase Al-Quran yang dijadikan dasar oleh sang mufasir besar, Abu Muslim Al-Ishfahani (seperti dikutip Al-Razi), untuk menolak mutlak teori “penghapusan” (nasakh)—untuk penjelasan tentangnya, lihat catatan no. 87 pada Surah Al-Baqarah [2]: 106. Karena “penghapusan” ayat Al-Quran mana pun sama saja dengan ibthal-nya—yakni, pernyataan tersurat atau tersirat bahwa sejak saat itu, ia harus dianggap tidak ada dan tidak berlaku—ayat tersebut harus dipandang “batil” (bathil) dalam konteks Al-Quran sebagaimana adanya di hadapan kita: dan hal ini, seperti yang ditunjukkan oleh Abu Muslim, akan jelas-jelas berlawanan dengan pernyataan di atas, bahwa “tiada kebatilan (bathil) dapat menyentuhnya”.


Surah Fussilat Ayat 43

مَا يُقَالُ لَكَ إِلَّا مَا قَدْ قِيلَ لِلرُّسُلِ مِنْ قَبْلِكَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ وَذُو عِقَابٍ أَلِيمٍ

mā yuqālu laka illā mā qad qīla lir-rusuli ming qablik, inna rabbaka lażụ magfiratiw wa żụ ‘iqābin alīm

43. [Adapun engkau, wahai Nabi,] tidak ada yang dikatakan kepadamu kecuali hal itu telah dikatakan kepada semua rasul [Allah] sebelum masamu.36

Perhatikanlah, Pemeliharamu benar-benar penuh ampunan—namun, Dia juga berkuasa memberikan balasan yang teramat pedih!


36 Ini secara tidak langsung mengacu pada tuduhan para penentang Nabi bahwa beliau sendirilah “yang mengarang” apa yang diklaimnya sebagai wahyu Ilahi, juga pada tuntutan mereka bahwa beliau harus “membuktikan” kebenaran misi kenabiannya dengan mendatangkan suatu mukjizat: suatu cemoohan yang dari waktu ke waktu dialami oleh semua nabi terdahulu, dan yang dilambangkan dengan istilah “perkataan” orang-orang tak beriman, yang disebutkan dalam ayat 5 surah ini.


Surah Fussilat Ayat 44

وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوا لَوْلَا فُصِّلَتْ آيَاتُهُ ۖ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ ۗ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ ۖ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى ۚ أُولَٰئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ

walau ja’alnāhu qur`ānan a’jamiyyal laqālụ lau lā fuṣṣilat āyātuh, a a’jamiyyuw wa ‘arabiyy, qul huwa lillażīna āmanụ hudaw wa syifā`, wallażīna lā yu`minụna fī āżānihim waqruw wa huwa ‘alaihim ‘amā, ulā`ika yunādauna mim makānim ba’īd

44. Adapun seandainya Kami tetapkan [kitab Ilahi] ini menjadi suatu wacana dalam bahasa bukan Arab, mereka [yang kini menolaknya] pasti akan mengatakan, “Mengapa pesan-pesannya tidak dijelaskan dengan terang?37 Mengapa—[suatu pesan] dalam bahasa bukan Arab, sedangkan [pembawanya] orang Arab?”

Katakanlah: “Bagi semua yang telah meraih iman, [kitab Ilahi] ini adalah suatu petunjuk dan sumber kesehatan; tetapi bagi orang-orang yang tidak akan beriman—di telinga mereka terdapat ketulian, sehingga kitab Ilahi itu tetap kabur bagi mereka: mereka itu [bagaikan orang-orang yang] diseru dari kejauhan.”38


37 Secara tersirat, yakni “dalam bahasa yang dapat kita pahami”. Karena Nabi berkebangsaan Arab dan hidup di lingkungan Arabia, pesannya harus diungkapkan dalam bahasa Arab agar dapat dipahami oleh masyarakat yang pertama-tama ditujunya: dalam kaitan ini, lihat catatan no. 72 pada kalimat pertama Surah Ar-Ra’d [13]: 37, serta paruh pertama Surah Ibrahim [14]: 4 “Dan, tidak pernah Kami mengutus seorang rasul pun melainkan [dengan pesan] dalam bahasa kaumnya sendiri, agar dia dapat menjadikan [kebenaran itu] jelas bagi mereka”. Andaikan pesan Al-Quran dirumuskan dalam bahasa selain bahasa Arab, pernyataan musuh-musuh Nabi bahwa “antara kami dan engkau terdapat suatu penghalang” (ayat 5 surah ini) tentunya dapat dibenarkan.

38 Lit., “dari suatu tempat yang jauh”: yakni, mereka hanya dapat mendengar bunyi kata-kata itu, tetapi tidak dapat memahami maknanya.


Surah Fussilat Ayat 45

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ فَاخْتُلِفَ فِيهِ ۗ وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ ۚ وَإِنَّهُمْ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مُرِيبٍ

wa laqad ātainā mụsal-kitāba fakhtulifa fīh, walau lā kalimatun sabaqat mir rabbika laquḍiya bainahum, wa innahum lafī syakkim min-hu murīb

45. Demikianlah, Kami pun telah menyampaikan wahyu kepada Musa dahulu, dan kemudian timbullah perdebatan tentang hal itu.39 Dan [saat itu, sebagaimana kini,] seandainya bukan karena suatu ketetapan yang telah datang dari Pemeliharamu, segalanya pasti telah diputuskan di antara mereka [sejak awalnya].40 Namun demikian, perhatikanlah, mereka [yang tidak akan percaya kepada kitab Ilahi ini] berada dalam keraguan yang besar, yang sama dengan kecurigaan, terhadap apa yang diisyaratkannya.41


39 Seperti yang terjadi dengan Al-Quran pada masa silam maupun masa kini, sebagian orang menerima pesan Ilahi yang diwahyukan kepada Musa, dan sebagian lain menolaknya (Al-Zamakhsyari, Al-Razi), sedangkan sebagian lainnya berselisih mengenai makna dan penerapan ajaran-ajarannya (Al-Thabari).

40 Untuk penjelasan terhadap pasase ini, serta tentang kesamaan sikap manusia terhadap Kitab Suci terdahulu dan terhadap Al-Quran, lihat kalimat kedua Surah Yunus [10]: 19 dan catatan no. 29 yang terkait.

41 Lit., “tentangnya”, yakni, keraguan tentang apakah pendekatan Al-Quran terhadap masalah ruh dan jasad manusia—dan, khususnya, penekanannya terhadap kesatuan esensial dari aspek kembar kehidupan manusia ini (bdk. catatan no. 118 pada kalimat pertama Surah Al-Baqarah [2]: 143)—dapat dibenarkan atau tidak. Dalam pengertian yang lebih luas, keragu-raguan mereka yang mengingkari kebenaran ini berkaitan dengan pertanyaan tentang apakah agama itu sendiri “bermanfaat” atau “berbahaya” bagi masyarakat manusia—sebuah pertanyaan yang dilontarkan dan dijawab oleh mereka dengan bias yang kuat menentang semua keyakinan keagamaan.


Surah Fussilat Ayat 46

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

man ‘amila ṣāliḥan falinafsihī wa man asā`a fa ‘alaihā, wa mā rabbuka biẓallāmil lil-‘abīd

46. SIAPA PUN yang mengerjakan hal-hal yang pantas dan benar, maka dia melakukannya demi kebaikannya sendiri; dan siapa pun yang berbuat jahat, maka dia menimpakan derita pada dirinya sendiri: dan Allah tidak pernah sedikit pun menzalimi makhluk-makhluk-Nya.


Surah Fussilat Ayat 47

إِلَيْهِ يُرَدُّ عِلْمُ السَّاعَةِ ۚ وَمَا تَخْرُجُ مِنْ ثَمَرَاتٍ مِنْ أَكْمَامِهَا وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنْثَىٰ وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلْمِهِ ۚ وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ أَيْنَ شُرَكَائِي قَالُوا آذَنَّاكَ مَا مِنَّا مِنْ شَهِيدٍ

ilaihi yuraddu ‘ilmus-sā’ah, wa mā takhruju min ṡamarātim min akmāmihā wa mā taḥmilu min unṡā wa lā taḍa’u illā bi’ilmih, wa yauma yunādīhim aina syurakā`ī qālū āżannāka mā minnā min syahīd

47. Pengetahuan tentang bilakah Saat Terakhir akan tiba hanya ada pada-Nya. Dan tiada buah keluar dari kelopaknya, dan tiada seorang perempuan pun pernah mengandung atau melahirkan, kecuali dengan sepengetahuan-Nya.

Maka, pada Hari tatkala Dia memanggil mereka, “Di manakah kini [yang dianggap sebagai] sekutu-sekutu-Ku itu?”—mereka [pasti] akan menjawab, “Kami mengaku kepada-Mu bahwa tak seorang pun di antara kami dapat memberi kesaksian [bahwa ada yang bersekutu dalam ketuhanan-Mu]!”


Surah Fussilat Ayat 48

وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَدْعُونَ مِنْ قَبْلُ ۖ وَظَنُّوا مَا لَهُمْ مِنْ مَحِيصٍ

wa ḍalla ‘an-hum mā kānụ yad’ụna ming qablu wa ẓannụ mā lahum mim maḥīṣ

48. Maka, semua yang biasa mereka seru dahulu akan meninggalkan mereka; dan mereka akan mengetahui dengan pasti bahwa tidak ada jalan bagi mereka untuk melarikan diri.


Surah Fussilat Ayat 49

لَا يَسْأَمُ الْإِنْسَانُ مِنْ دُعَاءِ الْخَيْرِ وَإِنْ مَسَّهُ الشَّرُّ فَيَئُوسٌ قَنُوطٌ

lā yas`amul-insānu min du’ā`il-khairi wa im massahusy-syarru fa ya`ụsung qanụṭ

49. MANUSIA TIDAK PERNAH LELAH memohon [hal-hal] yang baik [dalam kehidupan]; dan apabila nasib buruk menimpanya, niscaya dia berputus asa,42 seraya menyerah pada keputusasaan.


42 Lihat catatan no. 17 pada Surah Hud [11]: 9.


Surah Fussilat Ayat 50

وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ رَحْمَةً مِنَّا مِنْ بَعْدِ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ هَٰذَا لِي وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُجِعْتُ إِلَىٰ رَبِّي إِنَّ لِي عِنْدَهُ لَلْحُسْنَىٰ ۚ فَلَنُنَبِّئَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِمَا عَمِلُوا وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنْ عَذَابٍ غَلِيظٍ

wa la`in ażaqnāhu raḥmatam minnā mim ba’di ḍarrā`a massat-hu layaqụlanna hāżā lī wa mā aẓunnus-sā’ata qā`imataw wa la`ir ruji’tu ilā rabbī inna lī ‘indahụ lal-ḥusnā, fa lanunabbi`annallażīna kafarụ bimā ‘amilụ wa lanużīqannahum min ‘ażābin galīẓ

50. Namun, setiap kali Kami membiarkannya merasakan sebagian dari rahmat Kami sesudah kesulitan menghampirinya, dia pasti berkata, “Ini tidak lain sudah menjadi hak aku!”—dan, “Aku pikir, Saat Terakhir itu tidak akan pernah datang:43 tetapi andaikan ia [benar-benar datang, dan] aku sungguh-sungguh harus dikembalikan kepada Pemeliharaku, maka, perhatikanlah, kebaikan tertinggi telah menantiku di sisi-Nya!”44

Namun, [pada Hari Pengadilan,] Kami pasti akan memberikan kepada orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran itu45 pemahaman yang utuh mengenai segala yang pernah mereka kerjakan, dan [dengan begitu, Kami] pasti akan membuat mereka merasakan penderitaan yang dahsyat.46


43 Yakni, biasanya manusia begitu dibutakan oleh kecintaannya terhadap dunia ini sehingga dia tidak dapat membayangkan bahwa dunia ini akan berakhir. Pernyataan ini menyiratkan keragu-raguan tentang adanya kehidupan setelah mati dan pembalasan oleh Allah pada Hari Kebangkitan.

44 Karena yakin sepenuhnya akan hasil usahanya sendiri (sebagaimana diungkapkan dalam kata-kata, “Ini tidak lain sudah menjadi hak aku”), dia yakin bahwa—kalaupun benar ada kehidupan setelah mati-pandangan yang amat menyanjung dirinya sendiri itu akan didukung oleh Allah.

45 Yakni, kebenaran tentang adanya kebangkitan dan pengadilan Allah.

46 Yakni, kesadaran bahwa mereka telah menghabiskan hidup dalam keadaan buta secara spiritual itu sendirilah yang akan menjadi sumber penderitaan mereka di akhirat: bdk. Surah Al-Isra’ [17]: 72—”siapa pun yang buta [hatinya] di [dunia] ini akan menjadi buta [pula] di akhirat”.


Surah Fussilat Ayat 51

وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَىٰ بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُو دُعَاءٍ عَرِيضٍ

wa iżā an’amnā ‘alal-insāni a’raḍa wa na`ā bijānibih, wa iżā massahusy-syarru fa żụ du’ā`in ‘arīḍ

51. Dan, begitu pula, tatkala Kami mencurahkan nikmat-nikmat Kami kepada manusia, dia cenderung berpaling dan menjauhkan diri [dari mengingat Kami]; namun, segera setelah nasib buruk menyentuhnya, dia dipenuhi dengan doa yang panjang lebar!47


47 Lit., “doa-doa yang lebar [yakni, dilama-lamakan atau dipanjang-panjangkan dengan banyak kata]”.


Surah Fussilat Ayat 52

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كَانَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ثُمَّ كَفَرْتُمْ بِهِ مَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ هُوَ فِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ

qul a ra`aitum ing kāna min ‘indillāhi ṡumma kafartum bihī man aḍallu mim man huwa fī syiqāqim ba’īd

52. APAKAH KALIAN telah memikirkan [bagaimana keadaanmu] jika ini benar-benar [sebuah wahyu] dari Allah, sementara kalian mengingkari kebenarannya? Siapa yang dapat lebih tersesat daripada orang yang menempatkan dirinya [begitu] mendalam di dalam kesalahan?48


48 Menurut Al-Razi, hal ini secara tersirat mengacu pada sikap orang-orang yang—seperti disebutkan dalam ayat 4 dan 5 surah ini—”berpaling” dari pesan Al-Quran, sambil berkata, demikianlah kira-kira: “Hati kami tertutup bagi apa pun yang engkau serukan kepada kami, [wahai Muhammad,] dan dalam telinga kami ada ketulian, serta antara kami dan engkau terdapat suatu penghalang”.


Surah Fussilat Ayat 53

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

sanurīhim āyātinā fil-āfāqi wa fī anfusihim ḥattā yatabayyana lahum annahul-ḥaqq, a wa lam yakfi birabbika annahụ ‘alā kulli syai`in syahīd

53. Kelak Kami akan menjadikan mereka sepenuhnya memahami49 pesan-pesan Kami [melalui apa yang mereka persepsi] dalam cakrawala terjauh [dari alam semesta] dan di dalam diri mereka sendiri,50 sehingga akan menjadi jelas bagi mereka bahwa [wahyu] ini sungguh-sungguh adalah kebenaran. [Namun tetap saja,] tidak cukupkah [bagi mereka untuk mengetahui] bahwa Pemeliharamu Maha Menyaksikan segala sesuatu?51


49 Lit., “Kami akan menunjukkan kepada mereka” atau “membuat mereka melihat”.

50 Yakni, dengan memperdalam dan memperluas pandangan mereka secara progresif terhadap keajaiban-keajaiban alam semesta, serta dengan memahami secara lebih mendalam jiwa manusia sendiri—yang semuanya menunjukkan adanya Pencipta yang sadar.

51 Yakni, bahwa Dia Mahaperkasa dan Maha Melihat: suatu kebenaran fundamental yang, dengan sendirinya, sudah cukup untuk mengingatkan manusia akan tanggung jawabnya di hadapan-Nya.


Surah Fussilat Ayat 54

أَلَا إِنَّهُمْ فِي مِرْيَةٍ مِنْ لِقَاءِ رَبِّهِمْ ۗ أَلَا إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ مُحِيطٌ

alā innahum fī miryatim mil liqā`i rabbihim, alā innahụ bikulli syai`im muḥīṭ

54. Oh, sungguh, mereka ragu apakah akan bertemu dengan Pemelihara mereka [pada Hari Pengadilan]!

Oh, sungguh, Dia Maha Meliputi segala sesuatu!


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top