35. Fathir (Sang Pencipta) – فاطر

Surat Fatir dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Fatir ( فاطر ) merupakan surah ke 35 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 45 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Fatir tergolong Surat Makkiyah.

Mayoritas mufasir menempatkan surah ini secara kronologis antara Surah Al-Furqan [25] dan Surah Maryam [19], yaitu sekitar 7 atau 8 tahun sebelum Nabi hijrah dari Makkah ke Madinah. Nama surah ini diambil dari sifat Allah sebagai al-fathir (“Sang Pencipta lelangit dan bumi”) yang disebutkan pada ayat pertama. Nama lain yang diberikan pada surah ini oleh beberapa Sahabat Nabi dan beberapa mufasir klasik adalah Al-Mala’ikah (Malaikat), juga didasarkan pada ayat pertama.

Hampir seluruh ayat Surah Fathir ini berkenaan dengan kekuasaan unik yang dimiliki Allah untuk mencipta dan membangkitkan. Surah ini juga menegaskan bahwa Allah telah mewahyukan kehendak-Nya melalui perantaraan rasul-rasul-Nya—tetapi “hanya orang-orang yang dianugerahi dengan pengetahuan [bawaan-lah] yang [benar-benar] gentar-terpukau terhadap Allah: [sebab, hanya merekalah yang memahami bahwa,] sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun” (paragraf kedua ayat 28).

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Fatir Ayat 1

الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۚ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

al-ḥamdu lillāhi fāṭiris-samāwāti wal-arḍi jā’ilil-malā`ikati rusulan ulī ajniḥatim maṡnā wa ṡulāṡa wa rubā’, yazīdu fil-khalqi mā yasyā`, innallāha ‘alā kulli syai`ing qadīr

1. SEGALA PUJI bagi Allah, Pencipta lelangit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai pembawa pesan-pesan[-Nya], yang mempunyai sayap-sayap, dua, tiga, atau empat.1

[Tak henti-hentinya] Dia menambahkan pada ciptaan-Nya apa pun yang Dia kehendaki:2 sebab, sungguh, Allah berkuasa menetapkan apa saja.


1 “Sayap” makhluk atau kekuatan spiritual yang dipakai untuk menggambarkan malaikat ini, jelas merupakan sebuah metafora yang melambangkan kecepatan dan kekuatan penyampaian wahyu Allah kepada nabi-nabi-Nya. Banyaknya sayap malaikat ini (dua, tiga, empat) mungkin dimaksudkan untuk menekankan tidak terhingganya cara-cara yang dimiliki Allah untuk mewujudkan perintah-Nya di alam semesta yang Dia ciptakan ini: suatu asumsi yang, menurut saya, didukung oleh hadis sahih yang kira-kira menyebutkan bahwa pada malam ketika Nabi mengalami Mikraj (lihat artikel Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw), Nabi melihat Jibril “memiliki enam ratus sayap” (Bukhari dan Muslim, menurut riwayat Ibn Mas’ud).

2 Yakni, proses penciptaan berlangsung berkesinambungan senantiasa berekspansi dalam cakupan, jangkauan, dan ragamnya.


Surah Fatir Ayat 2

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

mā yaftaḥillāhu lin-nāsi mir raḥmatin fa lā mumsika lahā, wa mā yumsik fa lā mursila lahụ mim ba’dih, wa huwal-‘azīzul-ḥakīm

2. Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia, berupa rahmat, tiada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang Dia tahan, tiada seorang pun yang sanggup melepaskannya sesudah itu; sebab, hanya Dia-lah yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.


Surah Fatir Ayat 3

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ

yā ayyuhan-nāsużkurụ ni’matallāhi ‘alaikum, hal min khāliqin gairullāhi yarzuqukum minas-samā`i wal-arḍ, lā ilāha illā huwa fa annā tu`fakụn

3. Wahai, manusia! Ingatlah akan nikmat yang dianugerahkan Allah kepada kalian! Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kalian dari langit dan bumi?3 Tiada tuhan kecuali Dia: namun, alangkah menyimpangnya pikiran kalian!4


3 Lihat Surah Yunus [10]: 31 dan catatannya (no. 49).

4 Dengan kata lain, “karena kalian menyandangkan kualitas atau kekuatan ketuhanan kepada siapa pun atau apa pun selain Dia”. Untuk penjelasan frasa anna tu’fakun (lit., “betapa berpalingnya kalian”, yakni dari kebenaran), lihat Surah Al-Ma’idah [5], catatan no. 90.


Surah Fatir Ayat 4

وَإِنْ يُكَذِّبُوكَ فَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ

wa iy yukażżibụka fa qad kużżibat rusulum ming qablik, wa ilallāhi turja’ul-umụr

4. Namun, jika mereka [yang pikirannya menyimpang itu] mendustakan engkau, [wahai Nabi, ingatlah bahwa] demikian pula, sebelum masamu, telah didustakan pula rasul-rasul [yang lain]: sebab, [kaum yang tidak percaya itu selalu menolak mengakui bahwa] segala hal kembali kepada Allah [sebagai sumbernya].


Surah Fatir Ayat 5

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۖ وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

yā ayyuhan-nāsu inna wa’dallāhi ḥaqqun fa lā tagurrannakumul-ḥayātud-dun-yā, wa lā yagurrannakum billāhil-garụr

5. WAHAI, MANUSIA! Sungguh, janji Allah [tentang kebangkitan] pasti benar: maka, jangan sekali-kali biarkan kehidupan dunia ini menipu kalian, dan jangan biarkan tipuan pikiran-pikiran [kalian sendiri] tentang Allah, menipu kalian!5


5 Lihat Surah Luqman [31]: 33 (yang bunyi ayatnya persis sama) dan catatannya (no. 30).

Mengenai penyebutan setan, secara eksplisit, yang terdapat pada ayat berikutnya surah ini, lihat pernyataan Al-Razi yang dikutip pada catatan no. 31 Surah Ibrahim [14]: 22, dan juga catatan no. 16 Surah Al-Hijr [15]: 17.


Surah Fatir Ayat 6

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

innasy-syaiṭāna lakum ‘aduwwun fattakhiżụhu ‘aduwwā, innamā yad’ụ ḥizbahụ liyakụnụ min aṣ-ḥābis-sa’īr

6. Perhatikanlah, setan itu adalah musuh bagi kalian: maka perlakukanlah ia sebagai musuh. Ia hanyalah mengajak pengikutnya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala—


Surah Fatir Ayat 7

الَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

allażīna kafarụ lahum ‘ażābun syadīd, wallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti lahum magfiratuw wa ajrung kabīr

7. [sebab,] bagi orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran, ada derita dahsyat yang menanti, sebagaimana bagi orang-orang yang telah meraih iman dan mengerjakan perbuatan-perbuatan kebajikan ada ampunan serta pahala yang besar.


Surah Fatir Ayat 8

أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا ۖ فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۖ فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

a fa man zuyyina lahụ sū`u ‘amalihī fa ra`āhu ḥasanā, fa innallāha yuḍillu may yasyā`u wa yahdī may yasyā`u fa lā taż-hab nafsuka ‘alaihim ḥasarāt, innallāha ‘alīmum bimā yaṣna’ụn

8. Maka, orang yang [amat] dipesonakan oleh kejahatan perbuatannya sendiri sehingga [akhirnya] dia menganggapnya sebagai kebaikan, bukankah [dia memang pengikut setan]?

Sebab, sungguh, Allah membiarkan sesat siapa saja yang ingin [sesat], sebagaimana Dia menunjuki siapa saja yang ingin [ditunjuki].6 Maka, [wahai orang-orang yang telah meraih iman,] janganlah melelahkan diri kalian karena berdukacita terhadap mereka: sungguh, Allah Maha Mengetahui semua yang mereka perbuat!


6 Lihat catatan no. 4 Surah Ibrahim [14] yang menjelaskan terjemahan saya atas kalimat ini.


Surah Fatir Ayat 9

وَاللَّهُ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَسُقْنَاهُ إِلَىٰ بَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَحْيَيْنَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ كَذَٰلِكَ النُّشُورُ

wallāhullażī arsalar-riyāḥa fa tuṡīru saḥāban fa suqnāhu ilā baladim mayyitin fa aḥyainā bihil-arḍa ba’da mautihā, każālikan-nusyụr

9. DAN, [ingatlah:] Allah-lah yang mengirimkan angin, agar angin itu menggerakkan awan, kemudian Kami halau awan itu ke negeri yang mati dan, dengan cara itu, Kami hidupkan bumi itu setelah matinya: seperti itulah kebangkitan akan terjadi!


Surah Fatir Ayat 10

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا ۚ إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ ۚ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۖ وَمَكْرُ أُولَٰئِكَ هُوَ يَبُورُ

mang kāna yurīdul-‘izzata fa lillāhil-‘izzatu jamī’ā, ilaihi yaṣ’adul-kalimuṭ-ṭayyibu wal-‘amaluṣ-ṣāliḥu yarfa’uh, wallażīna yamkurụnas-sayyi`āti lahum ‘ażābun syadīd, wa makru ulā`ika huwa yabụr

10. Barang siapa yang menghendaki kekuasaan dan kemuliaan, [harus mengetahui bahwa] semua kekuasaan dan kemuliaan itu [hanyalah] milik Allah. Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik, dan perbuatan-perbuatan baik sungguh diluhurkan oleh-Nya. Dan, bagi orang-orang yang dengan licik merekayasa perbuatan-perbuatan jahat—penderitaan dahsyat menanti mereka; dan segala rencana mereka pasti menjadi sia-sia.7


7 Dalam konteks ini—seperti dalam paragraf pertama Surah YunuS [10]: 21 atau pada Surah Saba’ [34]: 33—tampaknya kedua nomina makr (lit., “makar”, “rekayasa jahat” atau “perekayasaan jahat”, “persekongkolan”) dan verba yamkurun (lit., “mereka merekayasa” atau “bersekongkol”) memiliki konotasi “merekayasa dalil-dalil batil (atau menyesatkan)” untuk menentang sesuatu yang benar. Karena bagian sebelumnya mengacu pada kemampuan mencipta yang Allah miliki, dan khususnya pada kekuasaan-Nya untuk menciptakan hidup dan membangkitkan kembali yang mati (ayat 9), “perbuatan-perbuatan jahat” yang disebutkan tersebut, rupanya merupakan argumen batil yang dimaksudkan untuk “membantah” pernyataan tentang kebangkitan.


Surah Fatir Ayat 11

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ جَعَلَكُمْ أَزْوَاجًا ۚ وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنْثَىٰ وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلْمِهِ ۚ وَمَا يُعَمَّرُ مِنْ مُعَمَّرٍ وَلَا يُنْقَصُ مِنْ عُمُرِهِ إِلَّا فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

wallāhu khalaqakum min turābin ṡumma min nuṭfatin ṡumma ja’alakum azwājā, wa mā taḥmilu min unṡā wa lā taḍa’u illā bi’ilmih, wa mā yu’ammaru mim mu’ammariw wa lā yungqaṣu min ‘umurihī illā fī kitāb, inna żālika ‘alallāhi yasīr

11. Dan, [ingatlah:] Allah menciptakan [setiap orang di antara] kalian dari tanah,8 lalu dari setetes air mani; kemudian menggolongkan kalian ke dalam salah satu dari dua jenis kelamin.9 Dan, tiada seorang perempuan pun mengandung atau melahirkan kecuali dengan sepengetahuan-Nya; dan tiada dipanjangkan umur seorang yang berusia panjang—dan tiada seorang pun dikurangi usianya—kecuali sudah ditentukan dalam ketetapan [Allah]: sebab, perhatikanlah, semua ini mudah bagi Allah.


8 Lihat paruh kedua catatan no. 47 Surah Al-‘Imran [3]: 59, dan catatan no. 4 pada Surah Al-Mu’minun [23]: 12.

9 Lit., “menjadikan kamu suami-istri” atau “berpasangan (satu sama lain)”.


Surah Fatir Ayat 12

وَمَا يَسْتَوِي الْبَحْرَانِ هَٰذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ سَائِغٌ شَرَابُهُ وَهَٰذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ ۖ وَمِنْ كُلٍّ تَأْكُلُونَ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُونَ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا ۖ وَتَرَى الْفُلْكَ فِيهِ مَوَاخِرَ لِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

wa mā yastawil-baḥrāni hāżā ‘ażbun furātun sā`igun syarābuhụ wa hāżā mil-ḥun ujāj, wa ming kullin ta`kulụna laḥman ṭariyyaw wa tastakhrijụna ḥilyatan talbasụnahā, wa taral-fulka fīhi mawākhira litabtagụ min faḍlihī wa la’allakum tasykurụn

12. [Mudah bagi Dia menciptakan kesamaan dan keragaman:10] maka, dua himpunan besar air [di atas permukaan bumi]11 tidaklah sama—yang satu segar, menghilangkan haus, sedap diminum, dan yang lainnya asin lagi pahit: dan, sungguhpun begitu, dari masing-masing air itu kalian memakan daging segar dan [dari salah satunya] kalian mengambil permata yang dapat kalian pakai; dan pada keduanya kalian bisa melihat kapal-kapal mengarungi gelombang, supaya kalian [dapat] pergi ke luar mencari sebagian karunia-Nya dan, dengan demikian, bersyukur.


10 Kalimat sisipan ini mencerminkan penjelasan meyakinkan yang dikemukakan Al-Razi terhadap bagian selanjutnya dari ayat ini, dan kaitannya dengan ayat sebelumnya.

11 Untuk keterangan mengenai penerjemahan al-bahran, lihat catatan no. 41 pada Surah Al-Furqan [25]: 53.


Surah Fatir Ayat 13

يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ ۚ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ

yụlijul-laila fin-nahāri wa yụlijun-nahāra fil-laīl, wa sakhkharasy-syamsa wal-qamara kulluy yajrī li`ajalim musammā, żālikumullāhu rabbukum lahul-mulk, wallażīna tad’ụna min dụnihī mā yamlikụna ming qiṭmīr

13. Dia menjadikan malam bertambah panjang dengan memendekkan siang, dan Dia menjadikan siang bertambah panjang dengan memendekkan malam; dan Dia telah menjadikan matahari dan bulan tunduk [kepada hukum-hukum-Nya], masing-masing menjalani garis edarnya menurut batas-waktu yang ditentukan [oleh-Nya].12

Demikian itulah Allah, Pemelihara kalian: kepunyaan-Nya-lah segala kerajaan—sedangkan, apa-apa yang kalian seru selain Dia tidak mempunyai apa-apa walau (sehelai) kulit ari biji kurma!


12 Lihat Surah Ar-Ra’d [13], catatan no. 5.


Surah Fatir Ayat 14

إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ ۚ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ

in tad’ụhum lā yasma’ụ du’ā`akum, walau sami’ụ mastajābụ lakum, wa yaumal-qiyāmati yakfurụna bisyirkikum, wa lā yunabbi`uka miṡlu khabīr

14. Jika kalian menyeru mereka, mereka tidak mendengar panggilan kalian; dan, meskipun mereka dapat mendengar, mereka tidak akan [mampu] menjawab kalian. Dan [lalu,] pada Hari Kebangkitan, mereka akan menyangkal sama sekali tindakan kalian mempersekutukan mereka dengan Allah.13

Dan, tiada yang dapat menjadikan kalian memahami [kebenaran] sebagaimana Dia, Yang Maha Mengetahui.


13 Al-Quran menyatakan di banyak tempat bahwa semua objek sembahan batil—baik orang suci, malaikat, benda-benda pusaka, jimat, atau kekuatan alam yang disembah seperti menyembah Allah—pada Hari Kebangkitan akan “memberikan kesaksian” melawan orang-orang yang pernah menyembah mereka dan akan “menyangkal” mereka: suatu kiasan simbolis bagi persepsi manusia mengenai realitas tertinggi pada akhir zaman.


Surah Fatir Ayat 15

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

yā ayyuhan-nāsu antumul-fuqarā`u ilallāh, wallāhu huwal-ganiyyul-ḥamīd

15. Wahai, manusia! Kalianlah yang membutuhkan Allah, sedangkan Dia sajalah Yang Mahacukup, yang kepada-Nya-lah segala pujian hendaknya ditujukan.


Surah Fatir Ayat 16

إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ

iy yasya` yuż-hibkum wa ya`ti bikhalqin jadīd

16. Jika Dia menghendaki, Dia dapat memusnahkan kalian dan mendatangkan umat manusia yang baru [sebagai pengganti kalian]:14


14 Lihat catatan no. 27 pada Surah Ibrahim [14]: 19.


Surah Fatir Ayat 17

وَمَا ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ

wa mā żālika ‘alallāhi bi’azīz

17. dan, yang demikian itu tidak sukar bagi Allah.


Surah Fatir Ayat 18

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۚ وَإِنْ تَدْعُ مُثْقَلَةٌ إِلَىٰ حِمْلِهَا لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ ۗ إِنَّمَا تُنْذِرُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ ۚ وَمَنْ تَزَكَّىٰ فَإِنَّمَا يَتَزَكَّىٰ لِنَفْسِهِ ۚ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

wa lā taziru wāziratuw wizra ukhrā, wa in tad’u muṡqalatun ilā ḥimlihā lā yuḥmal min-hu syai`uw walau kāna żā qurbā, innamā tunżirullażīna yakhsyauna rabbahum bil-gaibi wa aqāmuṣ-ṣalāh, wa man tazakkā fa innamā yatazakkā linafsih, wa ilallāhil-maṣīr

18. DAN, TIADA SEORANG PUN penanggung beban akan dijadikan menanggung beban orang lain;15 dan jika seseorang yang merasa berat dengan pikulannya memanggil [orang lain] untuk membantunya memikul, tiada beban apa pun yang dapat ditanggung [oleh orang lain itu], bahkan walaupun orang itu adalah kerabat dekatnya.16

Maka, yang [benar-benar] dapat engkau beri peringatan hanyalah orang-orang yang gentar-terpukau pada Pemeliharanya, walau Dia berada di luar jangkauan persepsinya,17 dan orang-orang yang teguh mendirikan shalat, dan [ketahuilah bahwa] barang siapa yang bertambah kesuciannya, tiada lain meraih kesucian semata-mata untuk kebaikan dirinya sendiri, dan [bahwa] pada Allah-lah akhir semua perjalanan.


15 Yakni, pada Hari Pengadilan—karena “[kesalahan] apa pun yang dilakukan oleh seseorang bergantung padanya saja” {yakni, menjadi tanggung jawabnya sendiri} (Surah Al-An’am [6]: 164, yang diikuti dengan kalimat yang serupa dengan kalimat di atas.

16 Dengan demikian, pemindahan tanggung jawab moral dari satu orang ke orang lain mustahil terjadi. Sementara, bagian pertama pernyataan tersebut mengisyaratkan penolakan terhadap doktrin Kristiani mengenai “dosa asal” yang diduga membebani manusia, bagian kedua jelas-jelas menolak doktrin “penebusan” dosa itu oleh Yesus. (Lihat juga Surah An-Najm [53]: 38 dan catatannya no. 31.)

17 Untuk penjelasan penerjemahan bi al-ghaib, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 3. Maknanya adalah bahwa hanya “orang-orang yang memercayai eksistensi apa-apa yang berada di luar jangkauan persepsi manusia” itulah yang benar-benar dapat memperoleh manfaat dari “peringatan” yang terdapat pada pernyataan sebelumnya. (Lihat juga Surah An-Naml [27]: 80-81 dan Surah Ar-Rum [30]: 52-53.)


Surah Fatir Ayat 19

وَمَا يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ

wa mā yastawil-a’mā wal-baṣīr

19. Karena [demikianlah adanya:] tidaklah sama orang buta dengan orang yang melihat;


Surah Fatir Ayat 20

وَلَا الظُّلُمَاتُ وَلَا النُّورُ

wa laẓ-ẓulumātu wa lan-nụr

20. dan tidak pula sama gelap gulita dengan cahaya;


Surah Fatir Ayat 21

وَلَا الظِّلُّ وَلَا الْحَرُورُ

wa laẓ-ẓillu wa lal-ḥarụr

21. dan tidaklah sama [sejuknya] bayangan dengan panas yang membakar:


Surah Fatir Ayat 22

وَمَا يَسْتَوِي الْأَحْيَاءُ وَلَا الْأَمْوَاتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُسْمِعُ مَنْ يَشَاءُ ۖ وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ

wa mā yastawil-aḥyā`u wa lal-amwāt, innallāha yusmi’u may yasyā`, wa mā anta bimusmi’im man fil-qubụr

22. dan tidak sama orang yang hidup dengan orang yang mati [hatinya].

Perhatikanlah, [wahai Muhammad,] Allah bisa menjadikan mendengar siapa pun yang Dia kehendaki, sedangkan engkau tidak bisa membuat mendengar orang [yang tuli hatinya seperti orang mati] di dalam kuburnya:


Surah Fatir Ayat 23

إِنْ أَنْتَ إِلَّا نَذِيرٌ

in anta illā nażīr

23. engkau tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan.


Surah Fatir Ayat 24

إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا ۚ وَإِنْ مِنْ أُمَّةٍ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٌ

innā arsalnāka bil-ḥaqqi basyīraw wa nażīrā, wa im min ummatin illā khalā fīhā nażīr

24. Sungguh, Kami telah mengutusmu dengan kebenaran, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan: sebab, tiada suatu masyarakat pun melainkan telah ada seorang pemberi peringatan [yang hidup dan] wafat di antaranya.18


18 Di antara makna ummah (yang dipilih Al-Zamakhsyari ketika menafsirkan ayat ini) adalah “orang-orang pada suatu waktu” atau “masa”. Makna lainnya, “orang-orang sejenis”, yakni “suatu bangsa” atau “masyarakat” (yang saya pakai dalam konteks ini). Dengan mempertimbangkan makna ketiga (yang sudah mapan}, yakni “suatu cara hidup [yang khas]” atau “perilaku” (Jauhari), istilah “masyarakat” dalam hal ini cukup dekat dengan konsep modern “peradaban” dalam pengertian historis.

Penekanan pada pemberi peringatan (yakni para nabi) yang telah “wafat” dimaksudkan untuk menegaskan sisi kemanusiaan dan ketidakabadian setiap (dan semua) nabi itu.


Surah Fatir Ayat 25

وَإِنْ يُكَذِّبُوكَ فَقَدْ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ وَبِالزُّبُرِ وَبِالْكِتَابِ الْمُنِيرِ

wa iy yukażżibụka fa qad każżaballażīna ming qablihim, jā`at-hum rusuluhum bil-bayyināti wa biz-zuburi wa bil-kitābil-munīr

25. Dan, jika mereka mendustakan engkau—demikian pulalah orang-orang yang hidup sebelum mereka [banyak yang] telah mendustakan kebenaran, [tatkala] datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan semua bukti kebenaran, dan dengan kitab-kitab kebijaksanaan Ilahi, dan dengan wahyu yang menyinari;


Surah Fatir Ayat 26

ثُمَّ أَخَذْتُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۖ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ

ṡumma akhażtullażīna kafarụ fa kaifa kāna nakīr

26. [tetapi] pada akhirnya, Aku hukum semua orang yang berkukuh mengingkari kebenaran: dan alangkah dahsyatnya penolakan-Ku!


Surah Fatir Ayat 27

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا ۚ وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ

a lam tara annallāha anzala minas-samā`i mā`ā, fa akhrajnā bihī ṡamarātim mukhtalifan alwānuhā, wa minal-jibāli judadum bīḍuw wa ḥumrum mukhtalifun alwānuhā wa garābību sụd

27. TIDAKKAH ENGKAU menyadari bahwasanya Allah menurunkan air dari langit, yang dengannya Kami hasilkan buah-buahan yang beraneka warna—sebagaimana di gunung-gunung terdapat lapisan putih dan merah yang beraneka ragam dan ada pula yang hitam pekat,


Surah Fatir Ayat 28

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

wa minan-nāsi wad-dawābbi wal-an’āmi mukhtalifun alwānuhụ każālik, innamā yakhsyallāha min ‘ibādihil-‘ulamā`, innallāha ‘azīzun gafụr

28. dan [sebagaimana] di antara manusia, binatang melata, dan hewan ternak pun bermacam-macam warnanya?19

Di antara semua hamba-hamba-Nya, hanya orang-orang yang dianugerahi dengan pengetahuan [bawaan-lah]20 yang [benar-benar] gentar-terpukau terhadap Allah: [sebab, hanya merekalah yang memahami bahwa,] sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun.


19 Bdk. Surah An-Nahl [16]: 13, yang di dalamnya kemegahan alam (“keindahan warna-warna”) disebutkan sebagai suatu bukti kekuasaan kreatif Allah.

20 Yakni, pengetahuan spiritual yang lahir dari kesadaran bahwa fenomena yang teramati tidak dapat menunjukkan keseluruhan realitas, karena ada “hal-hal yang berada di luar jangkauan persepsi makhluk” (bandingkan Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 3).


Surah Fatir Ayat 29

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ

innallażīna yatlụna kitāballāhi wa aqāmuṣ-ṣalāta wa anfaqụ mimmā razaqnāhum sirraw wa ‘alāniyatay yarjụna tijāratal lan tabụr

29. [Yaitu] mereka yang [benar-benar] mengikuti wahyu Allah, teguh mendirikan shalat, dan menafkahkan, secara diam-diam dan terang-terangan, sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka—mereka itulah yang boleh mengharapkan perniagaan yang tidak pernah merugi


Surah Fatir Ayat 30

لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

liyuwaffiyahum ujụrahum wa yazīdahum min faḍlih, innahụ gafụrun syakụr

30. karena Dia akan memberi mereka pahala yang adil, dan bahkan menambah karunia-Nya kepada mereka: sebab, sungguh, Dia Maha Pengampun, selalu menyambut rasa syukur.


Surah Fatir Ayat 31

وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ هُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ بِعِبَادِهِ لَخَبِيرٌ بَصِيرٌ

wallażī auḥainā ilaika minal-kitābi huwal-ḥaqqu muṣaddiqal limā baina yadaīh, innallāha bi’ibādihī lakhabīrum baṣīr

31. Dan, [ketahuilah bahwa] seluruh kitab Ilahi yang telah Kami ilhamkan kepadamu itulah kebenaran sejati, yang mempertegas kebenaran apa saja yang masih ada dari wahyu-wahyu sebelumnya21—sebab, perhatikanlah, terhadap [kebutuhan] hamba-hamba-Nya, Allah benar-benar Maha Mengetahui, Maha Melihat.


21 Untuk penjelasan mengenai penerjemahan frasa ma baina yadaihi, lihat catatan no. 3 pada Surah Al-‘Irnran [3]: 3.


Surah Fatir Ayat 32

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

ṡumma auraṡnal-kitāballażīnaṣṭafainā min ‘ibādinā, fa min-hum ẓālimul linafsih, wa min-hum muqtaṣid, wa min-hum sābiqum bil-khairāti bi`iżnillāh, żālika huwal-faḍlul-kabīr

32. Dan juga, Kami telah menganugerahkan kitab Ilahi ini sebagai warisan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami: dan di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri; dan ada segolongan yang tetap berada di pertengahan [antara benar dan salah];22 dan segolongan lagi ada yang, dengan izin Allah, terdepan dalam perbuatan baik: [dan] ini, benar-benar, merupakan karunia yang amat besar!


22 Lihat Surah Al-A’raf [7]: 46 dan catatan no. 37 yang terkait.


Surah Fatir Ayat 33

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا ۖ وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ

jannātu ‘adniy yadkhulụnahā yuḥallauna fīhā min asāwira min żahabiw wa lu`lu`ā, wa libāsuhum fīhā ḥarīr

33. [Karena itu,] taman-taman kebahagiaan abadi akan mereka masuki. Di dalamnya, mereka dihiasi dengan gelang-gelang emas dan mutiara, dan diberi pakaian sutra;23


23 Mengenai simbolisme “perhiasan” di surga bagi orang-orang yang diberkati ini, lihat catatan no. 41 pada Surah Al-Kahfi [18]: 31.


Surah Fatir Ayat 34

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ ۖ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ

wa qālul-ḥamdu lillāhillażī aż-haba ‘annal-ḥazan, inna rabbanā lagafụrun syakụr

34. dan mereka akan berkata, “Segala puji bagi Allah, yang telah menghilangkan dukacita kami: sebab, sungguh, Pemelihara kami benar-benar Maha Pengampun, selalu menyambut rasa syukur—


Surah Fatir Ayat 35

الَّذِي أَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِنْ فَضْلِهِ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌ

allażī aḥallanā dāral-muqāmati min faḍlih, lā yamassunā fīhā naṣabuw wa lā yamassunā fīhā lugụb

35. Dia yang, dengan karunia-Nya, telah menempatkan kami dalam kediaman abadi, yang di dalamnya kepayahan tidak dapat mendatangi kami, dan kelesuan tidak dapat menyentuh kami!”


Surah Fatir Ayat 36

وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لَا يُقْضَىٰ عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ مِنْ عَذَابِهَا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي كُلَّ كَفُورٍ

wallażīna kafarụ lahum nāru jahannam, lā yuqḍā ‘alaihim fa yamụtụ wa lā yukhaffafu ‘an-hum min ‘ażābihā, każālika najzī kulla kafụr

36. Namun, bagi orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran—api Neraka Jahanam telah menanti mereka: hidup mereka tidak akan diakhiri sehingga mereka dapat mati, dan tidak pula penderitaan yang disebabkan [api itu] akan diringankan bagi mereka: demikianlah, Kami membalas setiap orang yang tidak memiliki rasa syukur.


Surah Fatir Ayat 37

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ ۚ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ ۖ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ

wa hum yaṣṭarikhụna fīhā, rabbanā akhrijnā na’mal ṣāliḥan gairallażī kunnā na’mal, a wa lam nu’ammirkum mā yatażakkaru fīhi man tażakkara wa jā`akumun-nażīr, fa żụqụ fa mā liẓ-ẓālimīna min naṣīr

37. Dan, di dalam [neraka] itu, mereka berteriak keras, “Wahai, Pemelihara kami! Keluarkanlah kami [dari penderitaan ini]! [Niscaya] kami akan berbuat baik, berbeda dengan yang telah biasa kami kerjakan [pada masa lalu]!”

[Namun, Kami akan menjawab,] “Tidakkah Kami telah memberimu umur yang cukup panjang sehingga siapa pun yang bersedia merenung dapat merenungi dirinya sendiri? Dan [selain itu,] seorang pemberi peringatan telah datang kepada kalian! Maka, rasakanlah [buah perbuatan-perbuatan zalim kalian]: sebab, para pelaku kezaliman tidak akan memiliki siapa-siapa yang akan menolong mereka!”


Surah Fatir Ayat 38

إِنَّ اللَّهَ عَالِمُ غَيْبِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

innallāha ‘ālimu gaibis-samāwāti wal-arḍ, innahụ ‘alīmum biżātiṣ-ṣudụr

38. SUNGGUH, Allah mengetahui realitas tersembunyi lelangit dan bumi: [dan,] perhatikanlah, Dia Maha Mengetahui apa yang ada dalam hati [manusia].


Surah Fatir Ayat 39

هُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ فِي الْأَرْضِ ۚ فَمَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُ ۖ وَلَا يَزِيدُ الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ إِلَّا مَقْتًا ۖ وَلَا يَزِيدُ الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ إِلَّا خَسَارًا

huwallażī ja’alakum khalā`ifa fil-arḍ, fa mang kafara fa ‘alaihi kufruh, wa lā yazīdul-kāfirīna kufruhum ‘inda rabbihim illā maqtā, wa lā yazīdul-kāfirīna kufruhum illā khasārā

39. Dia-lah yang telah menjadikan kalian mewarisi bumi.24 Karena itu, barang siapa yang berkukuh mengingkari kebenaran [mengenai keesaan dan keunikan Allah hendaknya mengetahui bahwa] pengingkarannya ini akan berbalik menimpa dirinya sendiri: sebab, pengingkaran mereka [yang terus-menerus] terhadap kebenaran ini tidak lain hanyalah akan menambah jijik para pengingkar itu dalam pandangan Pemelihara mereka, dan lalu, pengingkaran mereka terhadap kebenaran ini tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka.


24 Lihat catatan no. 22 pada Surah Al-Baqarah [2]: 30. Dalam hal ini, kenyataan bahwa Allah menjadikan manusia “mewarisi bumi” menyiratkan pemberian kemampuan kepada manusia untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, demikian juga antara kebenaran dan kebatilan.


Surah Fatir Ayat 40

قُلْ أَرَأَيْتُمْ شُرَكَاءَكُمُ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ أَمْ آتَيْنَاهُمْ كِتَابًا فَهُمْ عَلَىٰ بَيِّنَتٍ مِنْهُ ۚ بَلْ إِنْ يَعِدُ الظَّالِمُونَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا إِلَّا غُرُورًا

qul a ra`aitum syurakā`akumullażīna tad’ụna min dụnillāh, arụnī māżā khalaqụ minal-arḍi am lahum syirkun fis-samāwāt, am ātaināhum kitāban fa hum ‘alā bayyinatim min-h, bal iy ya’iduẓ-ẓālimụna ba’ḍuhum ba’ḍan illā gurụrā

40. Katakanlah: “Apakah kalian [sungguh-sungguh] pernah memikirkan para makhluk dan kekuatan yang kalian anggap bersekutu dalam ketuhanan Allah,25 [dan] yang kalian seru selain Allah? Perlihatkanlah kepada-Ku bagian manakah dari bumi ini yang telah mereka ciptakan—ataukah [kalian menyatakan bahwa] mereka bersekutu dalam [menguasai] lelangit?”

Pernahkah Kami memberi mereka26 sebuah kitab Ilahi yang dapat mereka andalkan sebagai bukti [untuk mendukung pendapat-pendapat mereka]?27 Tidak, [harapan yang] saling dipertahankan para pelaku kejahatan itu tidak lain hanyalah tipuan belaka.28


25 Lit., yaitu “sekutu-sekutu [-Tuhan] kalian”: lihat catatan no. 15 pada Surah Al-An’am [6]: 22.

26 Yakni, kepada mereka yang menisbahkan ketuhanan kepada makhluk-makhluk atau kekuatan selain Allah.

27 Bdk. Surah Ar-Rurn [30]: 35—”Apakah Kami pernah menurunkan kepada mereka sebuah kitab Ilahi yang [dengan nada persetujuan] membicarakan tindakan mereka menyembah apa pun di samping Kami?” Penyebutan “kitab Ilahi” ini menjelaskan bahwa orang-orang yang dibicarakan di sini adalah pengikut-pengikut wahyu sebelumnya yang melakukan kesalahan, dan bukan orang-orang ateis.

28 Yakni, harapan mereka bahwa orang-orang suci yang mereka sifati dengan sifat-sifat ketuhanan atau semi-ketuhanan akan menjadi “perantara” antara mereka dan Allah, atau “memohon ampunan” untuk mereka di hadapan-Nya. Harapan ini hanyalah khayalan belaka.


Surah Fatir Ayat 41

إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا ۚ وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ ۚ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

innallāha yumsikus-samāwāti wal-arḍa an tazụlā, wa la`in zālatā in amsakahumā min aḥadim mim ba’dih, innahụ kāna ḥalīman gafụrā

41. Sungguh, Allah [saja] yang menahan benda-benda angkasa29 dan bumi supaya jangan menyimpang [dari orbitnya]—sebab, jika mereka menyimpang, tidak ada seorang pun yang dapat menahannya setelah Dia berhenti melakukannya.30

[Namun,] sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun.31


29 Lit., menahan “lelangit”—dalam hal ini tampaknya merupakan sebuah metonimia untuk seluruh bintang, galaksi, nebula, dan sebagainya yang melintasi angkasa kosmis dengan mengikuti sistem hukum yang amat kompleks yang Allah tetapkan, yang di dalamnya hukum gravitasi yang mungkin paling nyata bagi manusia hanyalah salah satunya.

30 Lit., “setelah Dia”. Ini tampaknya sebuah kiasan mengenai Saat Terakhir, yang menurut Al-Quran akan ditandai dengan bencana kosmis.

31 Yakni, karena Dia tidak mempercepat berakhirnya dunia, meskipun penghuninya banyak bergelimang dosa, dan tidak menghukum tanpa memberikan kesempatan kepada orang yang berdosa untuk merenung dan bertobat (bdk. ayat 45).


Surah Fatir Ayat 42

وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِنْ جَاءَهُمْ نَذِيرٌ لَيَكُونُنَّ أَهْدَىٰ مِنْ إِحْدَى الْأُمَمِ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُمْ نَذِيرٌ مَا زَادَهُمْ إِلَّا نُفُورًا

wa aqsamụ billāhi jahda aimānihim la`in jā`ahum nażīrul layakụnunna ahdā min iḥdal-umam, fa lammā jā`ahum nażīrum mā zādahum illā nufụrā

42. Jadi, mereka [yang menentang kebenaran sering] bersumpah demi Allah dengan sekuat-kuatnya sumpah bahwa, jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan mengikuti bimbingannya dengan lebih baik daripada masyarakat mana pun [pada zaman dahulu yang telah mengikuti pemberi peringatan yang diutus kepada mereka]:32 tetapi kini, tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, [seruannya] tidak lain hanyalah semakin menambah penolakan mereka,


32 Bdk. Surah Al-An’am [6]: 157 dan catatannya (no. 158).


Surah Fatir Ayat 43

اسْتِكْبَارًا فِي الْأَرْضِ وَمَكْرَ السَّيِّئِ ۚ وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ ۚ فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا سُنَّتَ الْأَوَّلِينَ ۚ فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِيلًا ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلًا

istikbāran fil-arḍi wa makras-sayyi`, wa lā yaḥīqul-makrus-sayyi`u illā bi`ahlih, fa hal yanẓurụna illā sunnatal-awwalīn, fa lan tajida lisunnatillāhi tabdīlā, wa lan tajida lisunnatillāhi taḥwīlā

43. (menambah) perilaku sombong mereka di muka bumi, dan rekayasa jahat mereka [menyusun dalil-dalil batil untuk menentang pesan-pesan Allah].33

Namun, [pada akhirnya,] siasat jahat semacam itu tidak akan menimpa selain kepada orang-orang yang merencanakannya sendiri; dan apa lagikah yang dapat mereka harapkan selain daripada [akan dibuat menjalani] ketetapan orang-orang [pendosa] pada masa-masa lalu?34

Maka [demikianlah adanya]: sekali-kali engkau tidak akan menjumpai perubahan pada ketetapan Allah; ya, sekali-kali engkau tidak akan menjumpai penyimpangan dalam ketetapan Allah!


33 Yakni, argumen menyesatkan yang dimaksudkan untuk mengolok-olok ayat-ayat itu dan untuk “menyanggah” bahwa ayat-ayat itu bukan bersumber dari Allah (bdk. Surah Yunus [10]: 21 atau Surah Saba’ [34]: 33 dan catatannya untuk penjelasan atas istilah makr yang digunakan Al-Quran dalam pengertian ini).

34 Yakni, menjalani ketetapan (sunnah) di mana akhirnya Allah telah menghukum mereka.


Surah Fatir Ayat 44

أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَكَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعْجِزَهُ مِنْ شَيْءٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَلِيمًا قَدِيرًا

a wa lam yasīrụ fil-arḍi fa yanẓurụ kaifa kāna ‘āqibatullażīna ming qablihim wa kānū asyadda min-hum quwwah, wa mā kānallāhu liyu’jizahụ min syai`in fis-samāwāti wa lā fil-arḍ, innahụ kāna ‘alīmang qadīrā

44. Tiada pernahkah mereka berjalan di muka bumi dan memperhatikan apa yang akhirnya terjadi pada mereka [yang mengingkari kebenaran] yang hidup pada masa sebelum mereka, sedangkan orang-orang yang mengingkari kebenaran itu [jauh] lebih besar kekuatannya daripada mereka? Dan, [tidakkah mereka melihat bahwa kehendak] Allah tidak akan bisa digagalkan oleh apa pun, baik di lelangit maupun di bumi, sebab, sungguh, Allah Maha Mengetahui dan tiada batas dalam kuasa-Nya.


Surah Fatir Ayat 45

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَىٰ ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَٰكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا

walau yu`ākhiżullāhun-nāsa bimā kasabụ mā taraka ‘alā ẓahrihā min dābbatiw wa lākiy yu`akhkhiruhum ilā ajalim musammā, fa iżā jā`a ajaluhum fa innallāha kāna bi’ibādihī baṣīrā

45. Adapun, jika Allah menghukum manusia [sekaligus] disebabkan perbuatan [salah] yang dilakukan mereka [di bumi], niscaya Dia tidak akan menyisakan satu makhluk pun di atas permukaannya. Namun, Dia memberi mereka penangguhan sampai waktu yang telah ditentukan [oleh-Nya]:35 namun, ketika batas-waktu mereka telah habis—maka, sungguh, [mereka akan menyadari bahwa] Allah melihat segala yang ada di dalam [hati] hamba-hamba-Nya.


35 Atau: “diketahui [oleh Dia saja]”—yakni, akhir kehidupan mereka di bumi.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top