39. Az-Zumar (Rombongan-Rombongan) – الزمر

Surat Az-Zumar dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Az-Zumar ( الزمر ) merupakan surah ke 39 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 75 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Az-Zumar tergolong Surat Makkiyah.

Surah yang diturunkan pada pertengahan periode Makkah ini namanya diambil dari penyebutan insidental kata zumaran (“secara berombongan”) dalam ayat 71 dan 73.

Tema utama surah ini adalah bukti keberadaan dan keesaan Allah dalam segala perwujudan alam—yang konsekuensinya adalah bahwa Dia sajalah yang dapat menentukan nasib manusia, dan bahwa kepada-Nya-lah manusia pada dasarnya bertanggung jawab. Sebuah gagasan penting diungkapkan dalam ayat 53: “Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri kalian sendiri! Janganlah berputus asa dari belas kasih Allah: perhatikanlah, Allah mengampuni semua dosa”, yakni, bagi orang yang bertobat sebelum mati. Karena itu, sebagian besar surah ini berisi alegori-alegori tentang Saat Terakhir dan Hari Pengadilan—karena “demikianlah Allah memenuhi para hamba-Nya dengan ketakutan” (ayat 16), sebagaimana Dia menjanjikan kepada orang yang saleh bahwa “segala yang pernah mereka rindukan menanti mereka di sisi Pemelihara mereka” (ayat 34).

Daftar Isi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Az-Zumar Ayat 1

تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

tanzīlul-kitābi minallāhil-‘azīzil-ḥakīm

1. Turunnya kitab Ilahi ini berasal dari Allah, Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana:


Surah Az-Zumar Ayat 2

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ

innā anzalnā ilaikal-kitāba bil-ḥaqqi fa’budillāha mukhliṣal lahud-dīn

2. sebab, perhatikanlah, Kami-lah yang telah menurunkan wahyu ini kepadamu, dengan menyatakan kebenaran: maka sembahlah Dia, tuluslah dalam keyakinanmu kepada Dia saja!


Surah Az-Zumar Ayat 3

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

alā lillāhid-dīnul-khāliṣ, wallażīnattakhażụ min dụnihī auliyā`, mā na’buduhum illā liyuqarribụnā ilallāhi zulfā, innallāha yaḥkumu bainahum fī mā hum fīhi yakhtalifụn, innallāha lā yahdī man huwa kāżibung kaffār

3. Bukankah semua keyakinan yang tulus adalah bagi Allah semata?

Namun, orang-orang yang mengambil siapa pun di samping Dia sebagai pelindung mereka [biasa berkata,] “Tidaklah kami menyembah mereka, kecuali agar mereka mendekatkan kami kepada Allah.”1

Perhatikanlah, [pada Hari Kebangkitan,] Allah akan memutuskan di antara mereka2 mengenai segala hal yang di dalamnya mereka menyimpang [dari kebenaran]: sebab, sungguh, Allah tidak memberikan petunjuk-Nya kepada orang-orang yang suka berdusta [terhadap dirinya sendiri3 dan] sama sekali tidak bersyukur!


1 Ini berkaitan tidak hanya dengan penyembahan terhadap orang-orang suci, para malaikat, dan orang-orang yang “dipertuhankan” itu sendiri, tetapi juga berhubungan dengan penggambaran simbolik mereka (misalnya, berupa patung, gambar, benda keramat,dan lain-lain) dan, dalam kasus orang-orang yanq sudah mati, makam-makam mereka (yang sebenarnya maupun yang diduga sebagai makamnya). Karena seluruh praktik semacam itu didasarkan pada harapan adanya “perantaraan” antara si penyembah itu dan Allah, praktik-praktik itu jelas bertentangan dengan konsep kemahatahuan dan keadilan-Nya, dan karena itu—meskipun terjadi secara meluas—sangat ditolak Al-Quran.

2 Yakni, antara para penyembah itu dan pemimpin-pemimpin spiritual mereka yang telah menyesatkan mereka (bdk. Surah Saba’ [34]: 31-33).

3 Bdk. Surah Al-An’am [6]: 22-24 dan catatan-catatan yang terkait.


Surah Az-Zumar Ayat 4

لَوْ أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا لَاصْطَفَىٰ مِمَّا يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ سُبْحَانَهُ ۖ هُوَ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

lau arādallāhu ay yattakhiża waladal laṣṭafā mimmā yakhluqu mā yasyā`u sub-ḥānah, huwallāhul-wāḥidul-qahhār

4. Seandainya Allah berkehendak mengambil seorang anak bagi diri-Nya, Dia pasti dapat memilih siapa saja yang Dia kehendaki di antara apa pun yang telah Dia ciptakan—[akan tetapi,] Maha Tak Terhingga Dia dalam kemuliaan-Nya!4 Dia-lah Allah Yang Maha Esa, yang memegang kekuasaan mutlak atas segala sesuatu!


4 Implikasinya adalah sebagai berikut: Karena Tuhan Mahaperkasa, Dia dapat berbuat dan memiliki apa pun yang Dia kehendaki; jadi, andai Dia menghendaki, Dia dapat “mengambil seorang anak bagi Diri-Nya” (yang mengacu pada doktrin Kristen mengenai Yesus sebagai “anak Tuhan”). Namun, mengingat Dia “Maha Tak Terhinqga Kemuliaan-Nya”—yakni, Mahasempurna kemuliaan-Nya dan sangat jauh dari ketidaksempurnaan—Dia secara niscaya, ipso facto, jauh dari ketidaklengkapan; padahal, kebutuhan (atau keinginan) untuk memiliki keturunan justru menunjukkan ketidaklengkapan!; walhasil, ini secara logis menafikan kemungkinan bahwa Tuhan memlliki seorang “anak”. (Bdk. kalimat terakhir Surah Al-An’am [6]: 100 dan catatan no. 88 yang terkait.)


Surah Az-Zumar Ayat 5

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ ۖ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ ۖ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ۗ أَلَا هُوَ الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ

khalaqas-samāwāti wal-arḍa bil-ḥaqq, yukawwirul-laila ‘alan-nahāri wa yukawwirun-nahāra ‘alal-laili wa sakhkharasy-syamsa wal-qamar, kulluy yajrī li`ajalim musammā, alā huwal-‘azīzul-gaffār

5. Dia-lah yang telah menciptakan lelangit dan bumi sesuai dengan suatu kebenaran [hakiki].5 Dia menyebabkan malam mengalir ke dalam siang, dan menyebabkan siang mengalir ke dalam malam; dan Dia telah menjadikan matahari dan bulan tunduk [kepada hukum-hukum-Nya], masing-masing beredar hingga batas-waktu yang ditentukan [oleh-Nya].6

Bukankah Dia Yang Mahaperkasa, Yang Maha Pengampun?


5 Lihat catatan no. 11 terhadap kalimat kedua terakhir dalam Surah Yunus [10]: 5.

6 Lihat catatan no. 5 pada Surah Ar-Ra’d [13]: 2.


Surah Az-Zumar Ayat 6

خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ الْأَنْعَامِ ثَمَانِيَةَ أَزْوَاجٍ ۚ يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلَاثٍ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُصْرَفُونَ

khalaqakum min nafsiw wāḥidatin ṡumma ja’ala min-hā zaujahā wa anzala lakum minal-an’āmi ṡamāniyata azwāj, yakhluqukum fī buṭụni ummahātikum khalqam mim ba’di khalqin fī ẓulumātin ṡalāṡ, żālikumullāhu rabbukum lahul-mulk, lā ilāha illā huw, fa annā tuṣrafụn

6. Dia telah menciptakan kalian [semua] dari entitas hidup yang satu, dan darinya membentuk pasangannya;7 dan Dia telah menganugerahkan kepada kalian empat jenis hewan ternak baik yang jantan maupun yang betina;8 [dan] Dia menciptakan kalian dalam rahim ibu kalian, dari penciptaan yang satu ke yang lain, dalam tiga lapis pekatnya kegelapan.9

Demikianlah Allah, Pemelihara kalian: bagi-Nya seluruh kekuasaan; tidak ada tuhan kecuali Dia: maka, bagaimana bisa kalian kehilangan pandangan terhadap kebenaran?10


7 Lihat Surah An-Nisa’ [4]: 1 dan catatan no. 1 yang terkait.

8 Lit., “delapan [dalam] pasangan”, yakni, jantan dan betina dari empat jenis binatang ternak (domba, kambing, unta, dan keluarga sapi). Untuk penjelasan mengenai penerjemahan saya, lihat catatan no. 130 pada Surah Al-An’am [6]: 143-144. Dalam ayat itu, jenjs-jenis binatang ternak yang sama juga dibicarakan dalam hubungannya dengan tabu-tabu tertentu yang tidak bermakna dan bersifat takhayul yang berasal dari zaman pra-Islam; sedangkan di sini, binatang-binatang ternak itu disebut sebagai “dianugerahkan Allah kepada kalian” dan, karenanya, halal. Di samping itu, penyebutan binatang ternak dalam konteks ini dimaksudkan untuk mengingatkan manusia bahwa Allah-lah yang memberinya rezeki dan, karena itu, manusia benar-benar bergantung kepada Allah.

9 Lit., “dengan penciptaan setelah penciptaan, dalam tiga kegelapan”: mengacu kepada tahapan-tahapan perkembangan janin, yang berulang-ulang dibicarakan dalam Al-Quran (bdk. Surah Al-Hajj [22]: 5 dan Surah Al-Mu’minum [23]: 12-14), dan kepada kegelapan rahim, selaput membran yang membungkus janin, serta kebutaan janin itu sebelum dilahirkan.

10 Lit., “maka, bagaimana kalian dipalingkan?”—yakni, dari kebenaran.


Surah Az-Zumar Ayat 7

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ ۖ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ ۗ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

in takfurụ fa innallāha ganiyyun ‘angkum, wa lā yarḍā li’ibādihil-kufr, wa in tasykurụ yarḍahu lakum, wa lā taziru wāziratuw wizra ukhrā, ṡumma ilā rabbikum marji’ukum fa yunabbi`ukum bimā kuntum ta’malụn, innahụ ‘alīmum biżātiṣ-ṣudụr

7. Jika kalian tidak bersyukur11—perhatikanlah, Allah tidak membutuhkan kalian; namun demikian, Dia tidak menyetujui sikap tidak bersyukur di kalangan hamba-hamba-Nya: sedangkan, jika kalian menunjukkan rasa syukur, Dia menyetujuinya bagi kalian.

Dan, tiada seorang pun penanggung beban akan dijadikan menanggung beban orang lain.12

Kelak, kepada Pemelihara kalianlah, kalian semua pasti kembali, lalu Dia akan membuat kalian [benar-benar] memahami segala yang telah kalian kerjakan [dalam kehidupan]: sebab, sungguh, Dia Maha Mengetahui apa yang ada dalam hati [manusia].


11 Atau: “Jika kalian mengingkari kebenaran”.

12 Pernyataan ini muncul sebanyak lima kali dalam Al-Quran dengan rumusan yang persis sama (selain ayat di atas, dalam Surah Al-An’am [6]: 164, Al-Isra’ [17]: 15, Fathir [35]: 18, dan An-Najm [53]: 38—yang disebutkan terakhir ini merupakan yang paling awal dalam kronologi pewahyuannya). Dalam ayat 7 Surah Az-Zumar ini, pernyataan tersebut secara tidak langsung berbicara tentang (dan menolak) doktrin Kristen mengenai “penebusan dosa” dan, secara tidak langsung, mengenai pemujaan terhadap orang-orang suci dsb., yang dibicarakan dalam ayat 3 sebelumnya dan diuraikan dalam catatan no. 1. (Lihat juga catatan no. 31 pada Surah An-Najm [53]: 38.)


Surah Az-Zumar Ayat 8

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُ مُنِيبًا إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُ نِعْمَةً مِنْهُ نَسِيَ مَا كَانَ يَدْعُو إِلَيْهِ مِنْ قَبْلُ وَجَعَلَ لِلَّهِ أَنْدَادًا لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًا ۖ إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

wa iżā massal-insāna ḍurrun da’ā rabbahụ munīban ilaihi ṡumma iżā khawwalahụ ni’matam min-hu nasiya mā kāna yad’ū ilaihi ming qablu wa ja’ala lillāhi andādal liyuḍilla ‘an sabīlih, qul tamatta’ bikufrika qalīlan innaka min aṣ-ḥābin-nār

8. [DEMIKIANLAH adanya:] adapun tatkala kemalangan menimpa manusia, mungkin dia berseru13 kepada Pemeliharanya, berpaling kepada-Nya [memohon pertolongan]; namun, segera setelah Dia memberikan nikmat kepadanya karena rahmat-Nya, dia lupa kepada Dia yang sebelumnya dia seru, dan menyatakan bahwa ada kekuatan-kekuatan lain yang dapat menandingi Allah14—dan dengan demikian menyesatkan [orang lain] dari jalan-Nya.

Katakanlah [kepada orang yang melakukan dosa seperti itu]: “Bersenang-senanglah dengan pengingkaranmu terhadap kebenaran ini untuk sementara waktu; [namun,] sungguh, engkau termasuk orang-orang yang ditetapkan di neraka!


13 Lit., “dia berseru”, yakni secara naluriah, dan biasanya.

14 Lit., “dan memberikan kepada Allah tandingan-tandingan (andad, jamak dari nidd)”. Bdk. kalimat terakhir Surah Al-Baqarah [2]: 22 dan catatan no. 13 yang terkait.


Surah Az-Zumar Ayat 9

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

am man huwa qānitun ānā`al-laili sājidaw wa qā`imay yaḥżarul-ākhirata wa yarjụ raḥmata rabbih, qul hal yastawillażīna ya’lamụna wallażīna lā ya’lamụn, innamā yatażakkaru ulul-albāb

9. Atau [apakah engkau memandang dirimu sama dengan] orang yang tulus menyembah [Allah] sepanjang malam, dengan bersujud atau berdiri [dalam shalat], selalu sadar akan kehidupan akhirat, dan mengharapkan rahmat Pemeliharanya?”15

Katakanlah: “Dapatkah mereka yang mengetahui dan mereka yang tidak mengetahui dipandang sama?”

[Akan tetapi,] hanya mereka yang dianugerahi pengetahuan mendalamlah yang merenungkan hal ini!


15 Kemungkinan lain, ayat di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut: “Apakah, mungkin, orang yang menyembah … dan mengharapkan rahmat Pemeliharanya, [sama dengan orang yang mengingkari kebenaran]?”


Surah Az-Zumar Ayat 10

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

qul yā ‘ibādillażīna āmanuttaqụ rabbakum, lillażīna aḥsanụ fī hāżihid-dun-yā ḥasanah, wa arḍullāhi wāsi’ah, innamā yuwaffaṣ-ṣābirụna ajrahum bigairi ḥisāb

10. Katakanlah: “[Demikianlah Allah berfirman:16] ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang telah meraih iman! Sadarlah akan Pemelihara kalian! Kebaikan tertinggi telah menanti orang-orang yang tekun berbuat kebajikan di dunia ini. Dan [ingatlah:] bumi Allah itu luas,17 [dan,] sungguh, orang-orang yang sabar dalam menghadapi kesusahan akan diberi balasan penuh, melampaui segala perhitungan!”


16 Sisipan ini dibenarkan oleh fakta bahwa kata ganti milik dalam frasa “hamba-hamba-Ku” berikutnya jelas-jelas mengacu pada Allah.

17 Yakni, selalu saja ada kemungkinan untuk berbuat kebajikan dan “berhijrah dari kejahatan menuju Allah”—yang disebutkan terakhir ini merupakan makna permanen dan spiritual dari konsep hijrah yang diisyaratkan di sini: lihat catatan no. 124 pada Surah An-Nisa’ [4]: 97.


Surah Az-Zumar Ayat 11

قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ

qul innī umirtu an a’budallāha mukhliṣal lahud-dīn

1. Katakan [wahai Muhammad]: “Perhatikanlah, aku diperintahkan untuk menyembah Allah, tulus dalam keyakinanku kepada Dia semata;


Surah Az-Zumar Ayat 12

وَأُمِرْتُ لِأَنْ أَكُونَ أَوَّلَ الْمُسْلِمِينَ

wa umirtu li`an akụna awwalal-muslimīn

12. dan aku diperintahkan untuk menjadi yang terutama di antara orang-orang yang berserah diri kepada Allah.”


Surah Az-Zumar Ayat 13

قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

qul innī akhāfu in ‘aṣaitu rabbī ‘ażāba yaumin ‘aẓīm

13. Katakan: “Perhatikanlah, aku takut, seandainya aku memberontak Pemeliharaku, terhadap penderitaan [yang akan menimpaku] pada Hari [Pengadilan] yang dahsyat itu.”


Surah Az-Zumar Ayat 14

قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِينِي

qulillāha a’budu mukhliṣal lahụ dīnī

14. Katakan: “Allah sajalah yang aku sembah, tulus dalam keyakinanku kepada Dia semata”—


Surah Az-Zumar Ayat 15

فَاعْبُدُوا مَا شِئْتُمْ مِنْ دُونِهِ ۗ قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ أَلَا ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

fa’budụ mā syi`tum min dụnih, qul innal-khāsirīnallażīna khasirū anfusahum wa ahlīhim yaumal-qiyāmah, alā żālika huwal-khusrānul-mubīn

15. dan [terserah kalian, wahai para pendosa, untuk menghaturkan] sembah [pada] apa pun yang kalian suka selain Dia!”

Katakan: “Perhatikanlah, yang [benar-benar] rugi adalah orang-orang yang telah kehilangan diri mereka sendiri dan karib-kerabat pada Hari Kebangkitan nanti:18 sebab, bukankah ini, ini, kerugian yang [paling] nyata?


18 Mengisyaratkan bahwa pada Hari Kebangkitan, mereka akan dipisahkan dari semua orang yang mereka cintai dan dari semua yang dekat dengan mereka di dunia ini tanpa dapat bertemu lagi. “Hilangnya diri seseorang”, menurut saya, berarti runtuhnya identitas dan keunikan sejati seseorang sebagai manusia, yang dalam klausa berikutnya digambarkan sebagai “kerugian yang paling nyata” yang akan diderita manusia dalam kehidupan akhirat mendatang.


Surah Az-Zumar Ayat 16

لَهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِنَ النَّارِ وَمِنْ تَحْتِهِمْ ظُلَلٌ ۚ ذَٰلِكَ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ ۚ يَا عِبَادِ فَاتَّقُونِ

lahum min fauqihim ẓulalum minan-nāri wa min taḥtihim ẓulal, żālika yukhawwifullāhu bihī ‘ibādah, yā ‘ibādi fattaqụn

16. Awan-awan api akan berada di atas mereka dan awan-awan [yang serupa] di bawah mereka …. ”

Demikianlah Allah memenuhi para hamba-Nya dengan ketakutan.19

Wahai, hamba-hamba-Ku! Maka, sadarlah akan Aku—


19 Sebagaimana dalam sejumlah ayat lain, dalam ungkapan ini Al-Quran secara tidak langsung berbicara tentang sifat alegoris serta tujuan sebenarnya dari seluruh penggambaran tentang penderitaan (azab) yang menanti para pendosa di akhirat; bdk. Surah Al-Mudatsir [74]: 35-36—“Sungguh, [api-neraka] itu benar-benar merupakan salah satu [peringatan] yang amat besar: peringatan bagi manusia”.


Surah Az-Zumar Ayat 17

وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَىٰ ۚ فَبَشِّرْ عِبَادِ

wallażīnajtanabuṭ-ṭāgụta ay ya’budụhā wa anābū ilallāhi lahumul-busyrā, fa basysyir ‘ibād

17. karena, bagi orang-orang yang menjauhkan diri dari kuasa-kuasa jahat agar mereka tidak [tergoda untuk] menyembahnya,20 dan alih-alih berpaling kepada Allah, ada berita gembira [tentang kebahagiaan dalam kehidupan akhirat].21


20 Mengenai penerjemahan saya atas al-thaghat menjadi “kuasa-kuasa jahat”, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 250. Dalam konteks ayat ini, cakupan istilah tersebut tampaknya terbatas pada daya-goda dari ambisi-ambisi atau hasrat-hasrat jahat tertentu—seperti mengejar kekuasaan demi kekuasaan itu sendiri, mengumpulkan kekayaan dengan mengeksploitasi sesama manusia, mengejar status sosial melalui segala cara yang tak bermoral, dan lain sebagainya—yang kesemuanya dapat menjadikan manusia kehilangan seluruh orientasi spiritualnya, dan menjadi diperbudak oleh hawa nafsunya.


21 Bdk. Surah Yunus [10]: 62-64.


Surah Az-Zumar Ayat 18

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

allażīna yastami’ụnal-qaula fa yattabi’ụna aḥsanah, ulā`ikallażīna hadāhumullāhu wa ulā`ika hum ulul-albāb

18. yang mendengarkan [dengan cermat] segala yang dikatakan, dan mengikuti yang terbaik darinya:22 [karena] mereka itulah orang-orang yang telah Allah rahmati dengan petunjuk-Nya, dan mereka itulah yang [benar-benar] dianugerahi pengetahuan yang mendalam.


22 Menurut Al-Razi, ini menggambarkan orang-orang yang mengkaji setiap proposisi keagamaan (dalam pengertiannya yang paling luas) berdasarkan akalnya sendiri, dengan menerima apa yang oleh nalar mereka dianggap sahih dan mungkin, dan menolak segala sesuatu yang tidak lulus uji nalar. Dalam ungkapan Al-Razi, ayat di atas mengungkapkan “suatu pujian dan penghargaan terhadap sikap mengikuti bukti yang diberikan oleh akal seseorang (hujjah al-‘aql), dan terhadap sampainya seseorang pada kesimpulan yang sesuai dengan [hasil-hasil] pengujian kritis (nazhar), dan penyimpulan logis (istidlal).” Pandangan yang agak serupa, meskipun dalam ungkapan yang lebih sederhana, dikemukakan oleh Al-Thabari.


Surah Az-Zumar Ayat 19

أَفَمَنْ حَقَّ عَلَيْهِ كَلِمَةُ الْعَذَابِ أَفَأَنْتَ تُنْقِذُ مَنْ فِي النَّارِ

a fa man ḥaqqa ‘alaihi kalimatul-‘ażāb, a fa anta tungqiżu man fin-nār

19. Di sisi lain,23 apakah orang yang telah ditetapkan baginya hukuman penderitaan [dari Allah, dapat diselamatkan oleh manusia]? Apakah engkau, mungkin, dapat menyelamatkan orang yang [sudah—demikianlah kira-kira—] berada dalam api?24


23 Dalam pandangan saya, inilah makna dari awalan fa dalam fa-man—jadi, secara tersirat menekankan perbedaan antara berita gembira yang diberikan kepada orang-orang yang telah meraih iman dan penderitaan (azab) yang menanti “orang-orang yang telah kehilangan diri mereka sendiri” karena melakukan perbuatan dosa (ayat 15-16).

24 Mengingat pernyataan Al-Quran yang berulang-ulang bahwa Allah selalu menerima tobat yang tulus dari seorang pendosa asalkan tobat itu dilakukan sebelum sakratulmaut, “hukuman berupa penderitaan” dari-Nya, yang tak terelakkan, jelas berkaitan dengan orang-orang yang mati tanpa bertobat dan, karenanya, melihat diri mereka seakan-akan “sudah berada dalam api”.


Surah Az-Zumar Ayat 20

لَٰكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ غُرَفٌ مِنْ فَوْقِهَا غُرَفٌ مَبْنِيَّةٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ وَعْدَ اللَّهِ ۖ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ الْمِيعَادَ

lākinillażīnattaqau rabbahum lahum gurafum min fauqihā gurafum mabniyyatun tajrī min taḥtihal-an-hār, wa’dallāh, lā yukhlifullāhul-mī’ād

20. Sebaliknya,25 [dalam kehidupan akhirat,] orang-orang yang selalu sadar akan Pemelihara mereka akan memiliki kediaman-kediaman yang ditinggikan di atas kediaman-kediaman, yang di bawahnya mengalir aliran sungai-sungai: [inilah] janji Allah—[dan] Allah tidak pernah lalai memenuhi janji-Nya.


25 Lit., “Akan tetapi” (lakin), yang menandakan peralihan kembali ke tema ayat 17-18.


Surah Az-Zumar Ayat 21

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَلَكَهُ يَنَابِيعَ فِي الْأَرْضِ ثُمَّ يُخْرِجُ بِهِ زَرْعًا مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَجْعَلُهُ حُطَامًا ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

a lam tara annallāha anzala minas-samā`i mā`an fa salakahụ yanābī’a fil-arḍi ṡumma yukhriju bihī zar’am mukhtalifan alwānuhụ ṡumma yahīju fa tarāhu muṣfarran ṡumma yaj’aluhụ huṭāmā, inna fī żālika lażikrā li`ulil-albāb

21. TIDAKKAH engkau perhatikan bahwa Allah-lah yang menurunkan air dari langit, lalu menyebabkannya mengalir menembus bumi dalam bentuk mata-air-mata-air? Dan kemudian, dengan air itu Dia tumbuhkan tanam-tanaman dengan berbagai warna; lalu tanaman itu menjadi layu, dan engkau dapat melihatnya menguning; dan akhirnya Dia menyebabkannya hancur menjadi tanah.26

Sungguh, dalam [semua] ini benar-benar terdapat suatu peringatan bagi-orang-orang yang dianugerahi pengetahuan yang mendalam!


26 Sebagaimana dalam banyak ayat Al-Quran lainnya, ayat di atas—yang menyebutkan proses transformasi yang tak berkesudahan dan siklus kehidupan dan kematian yang menakjubkan dalam seluruh alam—berperan untuk menekankan keagungan Allah dan, khususnya, kekuasaan-Nya untuk membangkitkan orang yang telah mati: jadi, secara tidak langsung, mengacu pada pernyataan di akhir ayat sebelumnya bahwa “Allah tidak pernah lalai memenuhi janji-Nya”.


Surah Az-Zumar Ayat 22

أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

a fa man syaraḥallāhu ṣadrahụ lil-islāmi fa huwa ‘alā nụrim mir rabbih, fa wailul lil-qāsiyati qulụbuhum min żikrillāh, ulā`ika fī ḍalālim mubīn

22. Lalu, dapatkah orang yang dadanya telah Allah buka lebar-lebar dengan kesediaan untuk berserah diri kepada-Nya, sehingga dia tercerahkan oleh cahaya [yang memancar] dari Pemeliharanya, [disamakan dengan orang yang buta dan tuli hatinya]?

Maka, celakalah orang-orang yang hatinya telah mengeras terhadap segala ingatan akan Allah! Mereka itu jelas-jelas tenggelam dalam kesesatan!


Surah Az-Zumar Ayat 23

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

allāhu nazzala aḥsanal-ḥadīṡi kitābam mutasyābiham maṡāniya taqsya’irru min-hu julụdullażīna yakhsyauna rabbahum, ṡumma talīnu julụduhum wa qulụbuhum ilā żikrillāh, żālika hudallāhi yahdī bihī may yasyā`, wa may yuḍlilillāhu fa mā lahụ min hād

23. Allah menurunkan27 sebaik-baik ajaran dalam bentuk kitab Ilahi yang isinya benar-benar selaras, yang mengulang-ulang setiap pernyataan [kebenaran] dalam berbagai bentuk28—[sebuah kitab Ilahi] yang membuat gemetar kulit orang-orang yang gentar-terpukau pada Allah: [namun,] pada akhirnya, kulit dan hati mereka melembut karena mengingat rahmat Allah ….

Demikianlah petunjuk Allah: dengannya Dia memberi petunjuk orang yang ingin [diberi petunjuk]29—sementara orang yang dibiarkan tersesat oleh Allah, tidak akan pernah memperoleh petunjuk apa pun.30


27 Lit., “telah menurunkan” (nazzala, has been bestowing), yakni, tahap demi tahap. Bentuk verbal nazzala menunjukkan baik kebertahapan maupun kesinambungan proses turunnya wahyu Ilahi dan, karena itu, dapat dengan tepat diterjemahkan dengan menggunakan bentuk kalimat kala kini (present tense, “bestows”: menurunkan).

28 Inilah makna istilah matsani (bentuk jamak dari matsna) yang paling dapat diterima dalam konteks ini, seperti dijelaskan Al-Zamakhsyari dalam tafsirnya terhadap ayat di atas. Makna lainnya yang mungkin, yang dipilih oleh Al-Razi, adalah “memasangkan pernyataan-pernyataannya”, yakni, merujuk kepada polaritas yang ditekankan dalam seluruh ajaran Al-Quran (misalnya, perintah dan larangan, kewajiban dan hak, imbalan dan hukuman, surga dan neraka, cahaya dan kegelapan, yang umum dan yang khusus, dan sebagainya). Mengenai keselarasan internal Al-Quran, lihat juga Surah An-Nisa’ [4]: 82 dan Al-Furqan [25]: 32, serta catatan-catatannya yang terkait.

29 Atau: “Dia memberi petunjuk dengannya siapa saja yang Dia kehendaki”; secara sintaktis, kedua rumusan ini benar.

30 Lihat catatan no. 4 pada Surah Ibrahim [14]: 4.


Surah Az-Zumar Ayat 24

أَفَمَنْ يَتَّقِي بِوَجْهِهِ سُوءَ الْعَذَابِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ وَقِيلَ لِلظَّالِمِينَ ذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْسِبُونَ

a fa may yattaqī biwaj-hihī sū`al-‘ażābi yaumal-qiyāmah, wa qīla liẓ-ẓālimīna żụqụ mā kuntum taksibụn

24. Lalu, dapatkah orang yang tidak memiliki apa pun selain wajahnya [semata] untuk melindungi dirinya31 dari derita pedih [yang akan menimpanya] pada Hari Kebangkitan [disamakan dengan orang yang sadar akan Allah]?

[Pada Hari itu,] akan dikatakan kepada orang-orang zalim: “Rasakanlah [kini] apa yang telah kalian usahakan [dalam kehidupan]!”


31 Lit., “yang akan melindungi dirinya sendiri dengan wajahnya”: sebuah ungkapan idiomatik yang menunjukkan bahwa orang yang bersangkutan tidak memiliki apa-apa untuk melindungi dirinya.


Surah Az-Zumar Ayat 25

كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَأَتَاهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُونَ

każżaballażīna ming qablihim fa atāhumul-‘ażābu min ḥaiṡu lā yasy’urụn

25. Orang-orang yang hidup sebelum mereka itu [pun] telah mendustakan kebenaran—kemudian, penderitaan menimpa mereka tanpa mereka menyadari bilakah penderitaan itu datang:


Surah Az-Zumar Ayat 26

فَأَذَاقَهُمُ اللَّهُ الْخِزْيَ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

fa ażāqahumullāhul-khizya fil-ḥayātid-dun-yā, wa la’ażābul-ākhirati akbar, lau kānụ ya’lamụn

26. maka, Allah membiarkan mereka merasakan kenistaan [bahkan] dalam kehidupan di dunia ini.32 Namun, [betapa] penderitaan [para pendosa] itu akan jauh lebih besar dalam kehidupan akhirat—kalau saja mereka [yang kini mengingkari kebenaran itu] mengetahuinya.


32 Bdk. Surah An-Nahl [16]: 26, yang berisi kalimat tambahan, “Allah mendatangkan kehancuran terhadap segala yang pernah mereka bangun …”, dan seterusnya, yang menjelaskan rujukan di atas terhadap penderitaan dan kenistaan mereka “dalam kehidupan di dunia ini”.


Surah Az-Zumar Ayat 27

وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

wa laqad darabnā lin-nāsi fī hāżal-qur`āni ming kulli maṡalil la’allahum yatażakkarụn

27. DEMIKIANLAH, Kami benar-benar telah mengemukakan kepada manusia segala jenis perumpamaan di dalam Al-Quran ini,33 agar mereka dapat merenungkan diri; [dan Kami telah mewahyukannya]


33 Sebagaimana dalam sejumlah pasase lain dalam Al-Quran, penggunaan istilah “perumpamaan” (matsal) segera atau langsung setelah gambaran tentang kondisi manusia di akhirat—yang baik ataupun yang buruk—dimaksudkan untuk memperingatkan kita bahwa segala gambaran sepert itu mengacu pada sesuatu yang “berada di luar jangkauan pemahaman manusia” (al-ghaib) dan, karenanya, tidak dapat disampaikan kepada manusia kecuali melalui alegori atau perumpamaan, yang diungkapkan sesuai dengan pengalaman manusia dan, karena itu, dapat dicapai oleh imajinasi manusia.


Surah Az-Zumar Ayat 28

قُرْآنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

qur`ānan ‘arabiyyan gaira żī ‘iwajil la’allahum yattaqụn

28. sebagai wacana dalam bahasa Arab, bebas dari segala liku-liku,34 agar mereka dapat menjadi sadar akan Allah.


34 Lit., “tanpa liku-liku (‘iwaj)”, yakni, yang dapat mengaburkan maknanya: lihat catatan no. 1 dalam Surah Al-Kahfi [18}: 1, tempat istilah ini muncul dalam ungkapan yang sedikit berbeda. Mengenai penekanan terhadap perumusan kitab Ilahi ini “dalam bahasa Arab”, lihat Surah Yusuf [12]: 2; Ar-Ra’d [13]: 37, Ibrahim [14]: 4, dan Fussilat [41]: 44, serta catatan-catatannya yang terkait.


Surah Az-Zumar Ayat 29

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا ۚ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

ḍaraballāhu maṡalar rajulan fīhi syurakā`u mutasyākisụna wa rajulan salamal lirajulin hal yastawiyāni maṡalā, al-ḥamdu lillāh, bal akṡaruhum lā ya’lamụn

29. [Untuk itu,] Allah mengemukakan sebuah perumpamaan: seorang laki-laki yang dimiliki oleh beberapa tuan secara berserikat,35 [yang kesemuanya] berselisih satu sama lain, dan seorang lagi yang bergantung sepenuhnya pada satu orang saja: dapatkah keadaan keduanya ini dipandang sama?36

[Tidak,] segala puji [hanya] bagi Allah: namun, kebanyakan mereka tidak memahami hal ini.


35 Lit., “yang tentangnya ada [sejumlah} sekutu (syuraka’)”, yakni, sebagai tuan-tuan penguasanya: hal ini merupakan suatu metafora bagi kepercayaan terhadap banyak tuhan.

36 Istilah matsal, yang biasanya saya terjemahkan menjadi “perumpamaan” (misalnya, pada awal ayat ini dan dalam ayat 27), utamanya berarti “keserupaan”, yakni, sesuatu dengan yang lainnya; tetapi, adakalanya kata tersebut digunakan secara figuratif sebagai sinonim untuk kata shifah (“kualitas”, “sifat intrinsik”, atau “watak” sesuatu) atau halah (“kondisi” atau “keadaan”-nya). Dalam ayat ini, makna yang disebutkan terakhir inilah yang paling tepat, karena ia berbicara secara tidak langsung mengenai keadaan manusia yang dipengaruhi oleh salah satu dari dua sikap yang saling bertentangan, yaitu: iman kepada kesaan dan keunikan transendental Allah di satu sisi, dan kesediaan untuk menisbahkan kuasa-kuasa dan sifat-sifat Ilahi kepada berbagai makhluk atau kepada apa yang dianggap sebagai “penjelmaan” Tuhan, di sisi lain.


Surah Az-Zumar Ayat 30

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ

innaka mayyituw wa innahum mayyitụn

30. Namun, sungguh, engkau pasti mati, [wahai Muhammad,] dan, sungguh, mereka pun pasti mati:


Surah Az-Zumar Ayat 31

ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِنْدَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ

ṡumma innakum yaumal-qiyāmati ‘inda rabbikum takhtaṣimụn

31. kemudian, perhatikanlah, pada Hari Kebangkitan, kalian semua akan menyerahkan perselisihan kalian di hadapan Pemelihara kalian.


Surah Az-Zumar Ayat 32

فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَبَ عَلَى اللَّهِ وَكَذَّبَ بِالصِّدْقِ إِذْ جَاءَهُ ۚ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ

fa man aẓlamu mim mang każaba ‘alallāhi wa każżaba biṣ-ṣidqi iż jā`ah, a laisa fī jahannama maṡwal lil-kāfirīn

32. Dan, siapakah yang dapat lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta tenatnag Allah,37 dan mendustakan kebenaran segera setelah kebenaran itu disampaikan ke hadapannya? Bukankah neraka tempat berkediaman [yang sepantasnya] bagi semua yang mengingkari kebenaran?38


37 Dalam ayat ini, ungkapan “mengada-adakan dusta tentang Allah” mengacu pada tindakan mempersekutukan-Nya dengan seseorang atau sesuatu selain Dia, baik dalam bentuk kepercayaan kepada adanya banyak tuhan, atau kepada “penjelmaan” Tuhan ke dalam bentuk manusia, atau kepada orang-orang suci yang dianggap memiliki kekuasaan semi-Ilahi.

38 Lit., “Bukankah dalam neraka ada suatu tempat berkediaman …”, dan seterusnya: suatu pertanyaan retoris yang menunjukkan: pertama, bahwa penderitaan di akhirat merupakan nasib yang tak terelakkan—secara simbolis, merupakan “tempat berkediaman”—bagi para pendosa semacam itu; dan kedua, bahwa dalam konsep dan gambaran tentang “neraka” itu, kita disuguhi dengan suatu alegori yang menggambarkan penderitaan yang disebabkan oleh diri-sendiri.


Surah Az-Zumar Ayat 33

وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

wallażī jā`a biṣ-ṣidqi wa ṣaddaqa bihī ulā`ika humul-muttaqụn

33. Akan tetapi, orang yang membawa kebenaran, dan orang yang sepenuh hati menerimanya sebagai kebenaran—mereka, mereka itulah yang [benar-benar] sadar akan Dia!


Surah Az-Zumar Ayat 34

لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۚ ذَٰلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ

lahum mā yasyā`ụna ‘inda rabbihim, żālika jazā`ul-muḥsinīn

34. Segala yang pernah mereka rindukan menanti mereka di sisi Pemelihara mereka: demikianlah balasan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan.


Surah Az-Zumar Ayat 35

لِيُكَفِّرَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَسْوَأَ الَّذِي عَمِلُوا وَيَجْزِيَهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ

liyukaffirallāhu ‘an-hum aswa`allażī ‘amilụ wa yajziyahum ajrahum bi-aḥsanillażī kānụ ya’malụn

35. Dan untuk itu, Allah akan menghapus dari catatan mereka (perbuatan) yang terburuk yang pernah mereka kerjakan, dan memberikan balasan kepada mereka sesuai dengan (perbuatan) yang terbaik yang mereka kerjakan [dalam kehidupan di dunia].


Surah Az-Zumar Ayat 36

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ ۖ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ ۚ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

a laisallāhu bikāfin ‘abdah, wa yukhawwifụnaka billażīna min dụnih, wa may yuḍlilillāhu fa mā lahụ min hād

36. BUKANKAH Allah cukup bagi hamba-Nya? Sungguhpun begitu, mereka akan menakut-nakuti engkau dengan [kekuatan-kekuatan Ilahiah khayalan yang mereka sembah] selain Dia!39

Akan tetapi, orang yang dibiarkan tersesat oleh Allah tidak akan pernah memperoleh petunjuk apa pun.


39 Atau: “alih-alih Dia”. Ini berhubungan tidak hanya dengan tuhan-tuhan batil, tetapi juga dengan orang-orang suci, baik yang masih hidup maupun yang telah mati, dan bahkan dengan konsep-konsep abstrak tertentu yang dalam pandangan umum dianggap memiliki sifat-sifat karismatik—seperti kekayaan, kekuasaan, status sosial, keunggulan bangsa atau suku, gagasan tentang “serbacukup” (self-sufficiency)-nya manusia, dan lain-lain—dan, akhirnya, dengan segala nilai batil yang dibiarkan menguasai pikiran dan keinginan manusia. Orang-orang yang tak bertuhan selalu menekankan pentingnya memberikan perhatian kepada semua daya dan nilai khayali ini, dan menakut-nakuti diri mereka sendiri dan sesamanya dengan pemikiran bahwa pengabaian terhadap hal-hal tersebut dapat mengakibatkan dampak buruk dalam kehidupan praktis mereka.


Surah Az-Zumar Ayat 37

وَمَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُضِلٍّ ۗ أَلَيْسَ اللَّهُ بِعَزِيزٍ ذِي انْتِقَامٍ

wa may yahdillāhu fa mā lahụ mim muḍill, a laisallāhu bi’azīzin żintiqām

37. sedangkan orang yang diberi petunjuk oleh Allah ke jalan yang benar tidak pernah dapat disesatkan.

Bukankah Allah Mahaperkasa, Sang Pembalas kejahatan?


Surah Az-Zumar Ayat 38

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ ۚ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ ۖ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ

wa la`in sa`altahum man khalaqas-samāwāti wal-arḍa layaqụlunnallāh, qul a fa ra`aitum mā tad’ụna min dụnillāhi in arādaniyallāhu biḍurrin hal hunna kāsyifātu ḍurrihī au arādanī biraḥmatin hal hunna mumsikātu raḥmatih, qul ḥasbiyallāh, ‘alaihi yatawakkalul-mutawakkilụn

38. Dan, demikianlah [kebanyakan manusia]: jika40 engkau tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang telah menciptakan lelangit dan bumi?”—tentu mereka akan menjawab, “Allah.”41

Katakanlah: “Lalu, pernahkah kalian memperhatikan apa yang kalian seru selain Allah? Seandainya Allah menghendaki mudarat menimpaku, dapatkah [kekuatan-kekuatan khayali] itu menghilangkan mudarat yang ditimpakan oleh-Nya? Atau, andaikan Dia menghendaki rahmat turun padaku, dapatkah mereka menahan rahmat-Nya [dariku]?”

Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku! [Hanya] kepada-Nya-lah semua orang yang percaya [pada kebenaran-Nya] bersandar penuh percaya.”*


40 Tentang penerjemahan la’in ini, lihat Surah Hud [11], catatan no. 11.

41 Lihat catatan no. 23 pada Surah Luqman [31]: 25.

* {Yakni, bertawakal; In Him [alone] place their trust all who have trust [In His existence].—peny.}


Surah Az-Zumar Ayat 39

قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ ۖ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ

qul yā qaumi’malụ ‘alā makānatikum innī ‘āmil, fa saufa ta’lamụn

39. Katakanlah: “Wahai, kaumku [yang mengingkari kebenaran]! Lakukanlah segala hal yang mungkin ada dalam batas kemampuan kalian, [sementara] aku, perhatikanlah, akan berkarya [di jalan Allah]: kelak kalian akan mengetahui


Surah Az-Zumar Ayat 40

مَنْ يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَيَحِلُّ عَلَيْهِ عَذَابٌ مُقِيمٌ

may ya`tīhi ‘ażābuy yukhzīhi wa yaḥillu ‘alaihi ‘ażābum muqīm

40. siapa yang akan ditimpa dengan penderitaan [di dunia ini] yang akan meliputinya dengan kenistaan,42 dan terhadap siapa derita yang amat lama [dalam kehidupan akhirat] akan turun!”


42 Lit., “derita (‘adzab) yang akan menghinakannya”: mengisyaratkan bahwa ketundukan pada nilai-nilai batil pasti akan mengakibatkan kehancuran spiritual manusia dan, jika hal ini terus dilakukan oleh banyak orang, akan menyebabkan bencana sosial dan penderitaan yang meluas.


Surah Az-Zumar Ayat 41

إِنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ لِلنَّاسِ بِالْحَقِّ ۖ فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۖ وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِوَكِيلٍ

innā anzalnā ‘alaikal-kitāba lin-nāsi bil-ḥaqq, fa manihtadā fa linafsih, wa man ḍalla fa innamā yaḍillu ‘alaihā, wa mā anta ‘alaihim biwakīl

41. PERHATIKANLAH, Kami telah menurunkan kepadamu kitab Ilahi ini, yang menyatakan kebenaran bagi [kemaslahatan semua] manusia. Dan siapa saja yang memilih untuk diberi petunjuk [dengannya,] maka dia melakukannya demi kebaikannya sendiri, dan siapa saja yang memilih untuk tersesat, tersesatnya itu hanyalah kerugian bagi dirinya sendiri; dan engkau tidak berkuasa menentukan nasib mereka.43


43 Atau: “engkau tidak bertanggung jawab atas perilaku mereka” (lihat catatan no. 4 pada Surah Al-Isra’ [17]: 2).


Surah Az-Zumar Ayat 42

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

allāhu yatawaffal-anfusa ḥīna mautihā wallatī lam tamut fī manāmihā, fa yumsikullatī qaḍā ‘alaihal-mauta wa yursilul-ukhrā ilā ajalim musammā, inna fī żālika la`āyātil liqaumiy yatafakkarụn

42. Allah [sajalah yang memiliki kekuasaan ini—Dia] yang menyebabkan semua manusia mati saat kematian [jasmani] mereka, dan [menyebabkan seolah-olah mati], selama tidurnya, orang-orang yang belum mati:44 maka, Dia menahan [dari kehidupan,] orang-orang yang telah Dia tetapkan kematiannya, dan membiarkan yang lainnya bebas selama batas-waktu yang telah ditentukan [oleh-Nya].

Perhatikanlah, dalam [semua] ini, benar-benar terdapat pesan-pesan bagi orang-orang yang berpikir!


44 Menurut Al-Razi, pasase ini secara alegoris berkaitan dengan pasase sebelumnya—cahaya petunjuk dipersamakan dengan kehidupan, tersesatnya manusia dipersamakan dengan kematian atau, jika kesesatan tersebut tidak selamanya, dipersamakan dengan tidur (yang menyerupai mati) yang diikuti dengan bangun. Namun, terlepas dari ini semua, di sini kita disuguhi dengan sebuah peringatan—senada dengan pasase berikutnya—tentang keperkasaan Allah dan, terutama, kekuasaan eksklusif-Nya untuk menghidupkan dan mematikan. Mengenai verba operatif yatawaffa, utamanya ia berarti “Dia mengambil [sesuatu] seluruhnya”; dan karena kematian ditandai dengan hilangnya seluruh dorongan vital (“nyawa”) dari badan yang dahulunya hidup—yakni, “ditarik seluruhnya”, demikian kira-kira—bentuk verba ini sejak zaman dahulu telah digunakan secara simbolik dalam pengertian “menyebabkan mati”, dan (dalam bentuk intransitifnya) “mati” atau (sebagai nomina) “kematian”: suatu penggunaan yang selalu dipakai dalam Al-Quran. Penyamaan tidur dengan mati disebabkan oleh fakta bahwa dalam kedua keadaan tersebut, badan terlihat tidak memiliki kesadaran—yakni, secara parsial dan temporer ketika tidur, dan secara keseluruhan dan selamanya ketika mati. (Terjemahan populer anfus—jamak dari nafs—menjadi “nyawa [souls]” tentunya tidak tepat dalam konteks di atas, karena, menurut ajaran fundamental Al-Quran, nyawa manusia tidak “mati” pada saat kematian jasmaninya, tetapi sebaliknya, tetap hidup selamanya. Karena itu, istilah anfus di sini harus diterjemahkan menjadi “manusia”.)


Surah Az-Zumar Ayat 43

أَمِ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ شُفَعَاءَ ۚ قُلْ أَوَلَوْ كَانُوا لَا يَمْلِكُونَ شَيْئًا وَلَا يَعْقِلُونَ

amittakhażụ min dụnillāhi syufa’ā`, qul a walau kānụ lā yamlikụna syai`aw wa lā ya’qilụn

43. Namun,45 mereka memilih [menyembah] perantara-perantara [khayalan] berdampingan dengan Allah!46

Katakanlah: “Mengapa—meskipun mereka tidak memiliki kekuasaan atas apa pun, dan tidak memiliki pengertian?”47


45 Inilah makna partikel am dalam konteks ini (Al-Zamakhsyari), yang menunjukkan bahwa terlepas dari semua bukti tentang kemahabesaran Allah, banyak manusia cenderung mengabaikannya.

46 Yakni, para perantara (pemberi syafaat) yang seolah-olah dapat bertindak tanpa izin Allah—suatu asumsi yang jelas-jelas ditolak Al-Quran (lihat Surah Yunus [10], catatan no. 7).

47 Mengacu pada pemujaan terhadap orang-orang suci yang telah mati, pusara atau barang-barang peninggalannya, serta pemujaan terhadap gambar dan patung orang-orang suci, tuhan-tuhan khayalan, dan lain sebagainya.


Surah Az-Zumar Ayat 44

قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا ۖ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

qul lillahisy-syafā’atu jamī’ā, lahụ mulkus-samāwāti wal-arḍ, ṡumma ilaihi turja’ụn

44. Katakanlah: “Milik Allah sajalah [kekuasaan untuk memberi hak] perantaraan itu:48 kepunyaan-Nya [sajalah] kekuasaan atas lelangit dan bumi; dan, akhirnya, kepada-Nya-lah kalian semua akan dikembalikan.


48 Mengenai masalah perantara (pemberi syafaat) itu sendiri, lihat catatan no. 7 pada Surah Yunus [10]: 3.


Surah Az-Zumar Ayat 45

وَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ ۖ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

wa iżā żukirallāhu waḥdahusyma`azzat qulụbullażīna lā yu`minụna bil-ākhirah, wa iżā żukirallażīna min dụnihī iżā hum yastabsyirụn

45. Dan sungguhpun begitu, manakala Allah saja yang disebut, hati orang-orang yang tidak akan beriman kepada kehidupan akhirat itu mengerut penuh keengganan—sedangkan, jika [kekuatan-kekuatan khayali] itu disebut berdampingan dengan-Nya, lihatlah, mereka bergembira!49


49 Karena kesadaran akan Allah pasti menuntut adanya rasa tanggung jawab moral sebagai konsekuensinya, orang-orang yang tidak percaya kepada Allah berpaling darinya dan kemudian “menyembah”—secara nyata atau metaforis—kekuatan-kekuatan khayali yang tidak menuntut tanggung jawab moral semacam itu.


Surah Az-Zumar Ayat 46

قُلِ اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِي مَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

qulillāhumma fāṭiras-samāwāti wal-arḍi ‘ālimal-gaibi wasy-syahādati anta taḥkumu baina ‘ibādika fī mā kānụ fīhi yakhtalifụn

46. Katakanlah: “Ya Allah! Pencipta lelangit dan bumi! Yang mengetahui segala yang berada di luar jangkauan persepsi makhluk, serta segala yang dapat disaksikan oleh indra-indra atau pikiran makhluk!50 Engkau-lah yang akan memutuskan di antara hamba-hamba-Mu [pada Hari Kebangkitan] tentang segala hal yang dahulu biasa mereka perselisihkan!”


50 Lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 65.


Surah Az-Zumar Ayat 47

وَلَوْ أَنَّ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَمِثْلَهُ مَعَهُ لَافْتَدَوْا بِهِ مِنْ سُوءِ الْعَذَابِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ وَبَدَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ

walau anna lillażīna ẓalamụ mā fil-arḍi jamī’aw wa miṡlahụ ma’ahụ laftadau bihī min sū`il-‘ażābi yaumal-qiyāmah, wa badā lahum minallāhi mā lam yakụnụ yaḥtasibụn

47. Namun, andaikan orang-orang yang berkukuh melakukan kezaliman itu memiliki segala yang ada di muka bumi, dan dua kali lipat dari itu,51 mereka pasti akan menawarkannya sebagai tebusan bagi penderitaan pedih [yang akan menimpa mereka] pada Hari Kebangkitan:52 sebab, sesuatu yang tidak pernah mereka perhitungkan sebelumnya [pada saat itu] akan diperlihatkan dengan jelas kepada mereka oleh Allah;53


51 Lit., “dan yang serupa dengan itu besertanya”.

52 Bdk. Surah Al-‘Imran [3]: 91 dan catatan no. 71 yang terkait.

53 Lit., “akan menjadi jelas bagi mereka (bada lahum) dari Allah”—yakni, fakta bahwa sikap dan perilaku manusia di dunia ini menentukan keadaan dan perkembangannya lebih lanjut di akhirat: dengan kata lain, bahagia atau derita dalam kehidupan akhirat (yang secara alegori digambarkan sebagai “surga”, “neraka”, “pahala”, atau “hukuman”) tidak lain hanyalah merupakan konsekuensi alamiah dari upaya manusia dalam memanfaatkan kemampuan, bakat, dan kesempatan-kesempatannya ketika hidup.


Surah Az-Zumar Ayat 48

وَبَدَا لَهُمْ سَيِّئَاتُ مَا كَسَبُوا وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

wa badā lahum sayyi`ātu mā kasabụ wa ḥāqa bihim mā kānụ bihī yastahzi`ụn

48. dan akan menjadi jelaslah bagi mereka kejahatan yang telah mereka perbuat [dalam kehidupan]: dan mereka kemudian akan diliputi oleh kebenaran yang dahulu justru biasa mereka cemoohkan.54


54 Lit., “yang dahulu mereka cemoohkan akan meliputi mereka (will enfold them)” atau “akan telah meliputi mereka (will have enfolded them)”: yakni, realitas adanya kehidupan sesudah mati dan kebenaran-kebenaran spiritual yang diajarkan oleh para nabi Allah akan meliputi mereka.


Surah Az-Zumar Ayat 49

فَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلْنَاهُ نِعْمَةً مِنَّا قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ ۚ بَلْ هِيَ فِتْنَةٌ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

fa iżā massal-insāna ḍurrun da’ānā ṡumma iżā khawwalnāhu ni’matam minnā qāla innamā ụtītuhụ ‘alā ‘ilm, bal hiya fitnatuw wa lākinna akṡarahum lā ya’lamụn

49. [DEMIKIANLAH,] adapun tatkala kemalangan menimpa manusia, dia berseru kepada Kami memohon pertolongan: tetapi ketika Kami memberikan kepadanya suatu nikmat berkat rahmat Kami, dia berkata [kepada dirinya], “Aku diberi [semua] ini berkat kebijaksanaan[ku-sendiri].55

Tidak, [pemberian nikmat] ini adalah suatu ujian: akan tetapi, kebanyakan mereka tidak memahaminya!


55 Lit., “pengetahuan”—yakni, “kekayaanku disebabkan oleh kemampuan dan kecerdikanku sendiri”: lihat kalimat pertama Surat Al-Qasas [28]: 78 dan catatannya yang terkait. Akan tetapi, sementara pada ayat itu “perkataan” atau pemikiran ini dinisbahkan kepada Qarun yang legendaris itu, dalam ayat ini—yang secara kronologis diturunkan jauh lebih dahulu—pemikiran itu dikatakan sebagai ciri-ciri manusia itu sendiri (lihat, misalnya, Surah Al-A’raf [7]: 189-190, yang di dalam ayat itu kecenderungan ini disebutkan dalam kaitannya dengan pengalaman menjadi orangtua).


Surah Az-Zumar Ayat 50

قَدْ قَالَهَا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَمَا أَغْنَىٰ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

qad qālahallażīna ming qablihim fa mā agnā ‘an-hum mā kānụ yaksibụn

50. Hal yang sama telah dikatakan oleh [banyak] orang yang hidup sebelum masa mereka [kepada diri mereka sendiri]; tetapi tidak ada gunanya bagi mereka segala yang pernah mereka raih:


Surah Az-Zumar Ayat 51

فَأَصَابَهُمْ سَيِّئَاتُ مَا كَسَبُوا ۚ وَالَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْ هَٰؤُلَاءِ سَيُصِيبُهُمْ سَيِّئَاتُ مَا كَسَبُوا وَمَا هُمْ بِمُعْجِزِينَ

fa aṣābahum sayyi`ātu mā kasabụ, wallażīna ẓalamụ min hā`ulā`i sayuṣībuhum sayyi`ātu mā kasabụ wa mā hum bimu’jizīn

51. karena semua perbuatan jahat yang telah mereka lakukan akan [berbalik] menimpa mereka. Dan [hal serupa akan terjadi pada] orang-orang pada masa kini yang berkukuh melakukan kezaliman:56 segala perbuatan jahat yang pernah mereka lakukan akan [berbalik] menimpa mereka, dan mereka tidak akan pernah bisa mengelak [dari Allah]!


56 Lit., “orang-orang yang berkukuh melakukan kezaliman (alladzina zhalamu) di antara yang ini di sini”.


Surah Az-Zumar Ayat 52

أَوَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

a wa lam ya’lamū annallāha yabsuṭur-rizqa limay yasyā`u wa yaqdir, inna fī żālika la`āyātil liqaumiy yu`minụn

52. Lalu, apakah mereka tidak menyadari bahwa Allah-lah yang menganugerahkan rezeki yang melimpah, atau memberikannya dalam jumlah yang sedikit, kepada siapa saja yang Dia kehendaki?

Perhatikanlah, pada yang demikian itu, benar-benar terdapat pesan-pesan bagi orang yang akan beriman!


Surah Az-Zumar Ayat 53

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

qul yā ‘ibādiyallażīna asrafụ ‘alā anfusihim lā taqnaṭụ mir raḥmatillāh, innallāha yagfiruż-żunụba jamī’ā, innahụ huwal-gafụrur-raḥīm

53. KATAKANLAH: “[Demikianlah Allah berfirman:57] ‘Wahai, hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri kalian sendiri! Janganlah berputus asa dari belas kasih Allah: perhatikanlah, Allah mengampuni semua dosa58—sebab, sungguh, Dia sajalah Yang Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat!’”


57 Lihat catatan no. 16 yang menjelaskan sisipan pada ayat 10 surah ini.

58 Yakni, secara tersirat, “kapan pun pendosa itu bertobat dan kembali kepada-Nya”: bdk. Surah Al-An’am [6]: 54—“Pemeliharamu telah menetapkan atas diri-Nya hukum rahmat dan belas kasih—sehingga jika siapa pun di antara kalian melakukan perbuatan buruk karena ketidaktahuan dan sesudah itu bertobat dan hidup secara saleh, Dia sungguh Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat”; atau Surah An-Nisa’ [4]: 110—“siapa pun yang mengerjakan kejahatan atau[pun] menzalimi dirinya sendiri, lalu setelah itu berdoa kepada Allah agar mengampuninya, niscaya (dia) mendapati Allah Yang Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat”.


Surah Az-Zumar Ayat 54

وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

wa anībū ilā rabbikum wa aslimụ lahụ ming qabli ay ya`tiyakumul-‘ażābu ṡumma lā tunṣarụn

54. Karena itu, berpalinglah kepada Pemelihara kalian [saja] dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum derita [kematian dan kebangkitan] datang kepada kalian, karena kemudian kalian tidak akan ditolong.59


59 Bdk. Surah An-Nisa’ [4]: 18—“tobat tidak akan diterima dari orang-orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan jahat hingga mereka sekarat dan lantas (setelah itu baru) mengatakan, ‘Perhatikanlah, kini aku bertobat’; tidak pula (akan diterima) dari orang-orang yang mati sebagai pengingkar-pengingkar kebenaran”.


Surah Az-Zumar Ayat 55

وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

wattabi’ū aḥsana mā unzila ilaikum mir rabbikum ming qabli ay ya`tiyakumul-‘ażābu bagtataw wa antum lā tasy’urụn

55. Dan sebelum penderitaan tersebut datang kepada kalian dengan tiba-tiba, tanpa kalian menyadari [kedatangannya], ikutilah [ajaran] yang terbaik yang telah diwahyukan kepada kalian oleh Pemelihara kalian,


Surah Az-Zumar Ayat 56

أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ

an taqụla nafsuy yā ḥasratā ‘alā mā farrattu fī jambillāhi wa ing kuntu laminas-sākhirīn

56. agar tidak ada seorang manusia pun60 mengatakan [pada Hari Pengadilan], “Betapa menyesal aku karena telah lalai terhadap apa yang menjadi hak Allah, dan karena termasuk di antara orang-orang yang mengejek [kebenaran]!”—


60 Selama tidak ada indikasi yang jelas bahwa istilah nafs memiliki makna lain, kata itu berarti “manusia”; karena itu, kata ganti yang merujuk pada istilah nafs ini (yang dalam bahasa Arabnya berbentuk feminin) dalam terjemahan saya berbentuk maskulin {he}.


Surah Az-Zumar Ayat 57

أَوْ تَقُولَ لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي لَكُنْتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

au taqụla lau annallāha hadānī lakuntu minal-muttaqīn

57. atau agar dia tidak berkata, “Seandainya Allah memberiku petunjuk, pasti aku sudah termasuk di antara orang-orang yang sadar akan Dia!”—


Surah Az-Zumar Ayat 58

أَوْ تَقُولَ حِينَ تَرَى الْعَذَابَ لَوْ أَنَّ لِي كَرَّةً فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

au taqụla ḥīna taral-‘ażāba lau anna lī karratan fa akụna minal-muḥsinīn

58. atau agar dia tidak berkata, ketika dia akhirnya menyadari penderitaan [yang menantinya], “Andai saja aku memiliki kesempatan kedua [dalam kehidupan], sehingga aku bisa termasuk di antara orang-orang yang berbuat kebajikan!”61


61 Bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 167 dan Asy-Syu’ara’ [26]: 102, serta Al-An’am [6]: 27-28 dan catatannya (no. 19).


Surah Az-Zumar Ayat 59

بَلَىٰ قَدْ جَاءَتْكَ آيَاتِي فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ

balā qad jā`atka āyātī fa każżabta bihā wastakbarta wa kunta minal-kāfirīn

59. [Namun, Allah akan menjawab,] “Ya, sungguh! Pesan-pesan-Ku telah datang kepadamu; tetapi engkau mendustakannya dan (engkau) dipenuhi dengan keangkuhan, serta termasuk di antara orang-orang yang mengingkari kebenaran!”


Surah Az-Zumar Ayat 60

وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى اللَّهِ وُجُوهُهُمْ مُسْوَدَّةٌ ۚ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْمُتَكَبِّرِينَ

wa yaumal-qiyāmati tarallażīna każabụ ‘alallāhi wujụhuhum muswaddah, a laisa fī jahannama maṡwal lil-mutakabbirīn

60. Dan [demikianlah,] pada Hari Kebangkitan, engkau akan melihat semua orang yang mengada-adakan dusta tentang Allah [dengan] wajah mereka yang menjadi gelap [karena kesedihan dan kenistaan].62 Bukankah neraka tempat berkediaman [yang sepantasnya] bagi semua yang biasa membanggakan diri?63


62 Frasa iswadda wajhuhu (lit., “wajahnya menjadi hitam” atau “gelap”) digunakan secara idiomatik untuk menggambarkan ekspresi wajah yang penuh dengan kesedihan atau kenistaan (bdk. Surah An-Nahl [16]: 58), sebagaimana kebalikannya, ibyadhdha wajhuhu (lit., “wajahnya menjadi putih” atau “bersinar”) menggambarkan raut muka yang mengekspresikan kebahagiaan atau kebanggaan yang positif: bdk. Surah Al-‘Imran [3]: 106—“sebagian wajah akan bersinar [dengan kebahagiaan] dan sebagian wajah akan menjadi gelap [karena dukacita]”. Terlepas dari hal ini, kedua frasa tersebut juga memiliki makna kiasan, yakni—masing-masing—“dia menjadi [atau ‘merasa’] hina”, dan “dihormati”.

Mengenai “mengada-adakan dusta tentang Allah” yang dibicarakan dalam ayat ini, lihat catatan no. 37 sebelumnya.

63 Lihat catatan no. 38 terhadap kalimat terakhir ayat 32 surah ini.


Surah Az-Zumar Ayat 61

وَيُنَجِّي اللَّهُ الَّذِينَ اتَّقَوْا بِمَفَازَتِهِمْ لَا يَمَسُّهُمُ السُّوءُ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

wa yunajjillāhullażīnattaqau bimafāzatihim lā yamassuhumus-sū`u wa lā hum yaḥzanụn

61. Namun, Allah akan melindungi semua orang yang sadar akan Dia [dan akan memberi mereka kebahagiaan] berkat kemenangan [batin] mereka; tidak ada kemalangan yang akan menyentuh mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati.


Surah Az-Zumar Ayat 62

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

allāhu khāliqu kulli syai`iw wa huwa ‘alā kulli syai`iw wakīl

62. ALLAH adalah Pencipta segala sesuatu, dan hanya Dia yang berkuasa untuk menentukan nasib segala sesuatu.64


64 Mengenai makna istilah wakil dalam konteks ini, lihat catatan no. 4 pada Surah Al-Isra’ [17]: 2.


Surah Az-Zumar Ayat 63

لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

lahụ maqālīdus-samāwāti wal-arḍ, wallażīna kafarụ bi`āyātillāhi ulā`ika humul-khāsirụn

63. Kepunyaan Dia-lah kunci-kunci [misteri] lelangit dan bumi: dan orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran pesan-pesan Allah—mereka, mereka itulah orang-orang yang merugi!


Surah Az-Zumar Ayat 64

قُلْ أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَأْمُرُونِّي أَعْبُدُ أَيُّهَا الْجَاهِلُونَ

qul a fa gairallāhi ta`murūnnī a’budu ayyuhal-jāhilụn

64. Katakanlah: “Maka, apakah kalian menyuruhku agar menyembah sesuatu selain Allah, wahai kalian yang tidak sadar [akan yang benar dan yang salah]?”


Surah Az-Zumar Ayat 65

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

wa laqad ụḥiya ilaika wa ilallażīna ming qablik, la`in asyrakta layaḥbaṭanna ‘amaluka wa latakụnanna minal-khāsirīn

65. Dan sungguhpun begitu, telah diwahyukan kepadamu [wahai manusia],65 juga kepada orang-orang yang hidup sebelummu, bahwa jika sekali-kali engkau menisbahkan kuasa-kuasa ilahiah kepada apa pun selain Allah, seluruh perbuatanmu pasti akan sia-sia: sebab, [dalam kehidupan akhirat,] engkau pasti akan termasuk di antara orang-orang yang merugi.


65 Yakni, “telah disampaikan kepadamu melalui pesan-pesan Allah yang diwahyukan kepada para nabi”. Hampir seluruh mufasir klasik berpendapat bahwa pasase ini ditujukan kepada Nabi Muhammad Saw. Hal ini tidak masuk akal mengingat Allah Maha Mengetahui bahwa baik Nabi Muhammad maupun siapa saja di antara para nabi sebelumnya tidak akan pernah melakukan dosa besar “menisbahkan kekuasaan ketuhanan kepada apa pun selain Allah” (yang dirujuk dalam ayat itu). Di sisi lain, peringatan di atas menjadi sangat meyakinkan dan relevan bila dipahami sebagai dialamatkan kepada manusia secara umum, terlepas dari masa dan keadaan spesifiknya.


Surah Az-Zumar Ayat 66

بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ

balillāha fa’bud wa kum minasy-syākirīn

66. Tidak, tetapi sembahlah Allah [saja], dan hendaklah engkau termasuk di antara orang-orang yang bersyukur [kepada-Nya]!


Surah Az-Zumar Ayat 67

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

wa mā qadarullāha ḥaqqa qadrihī wal-arḍu jamī’ang qabḍatuhụ yaumal-qiyāmati was-samāwātu maṭwiyyātum biyamīnih, sub-ḥānahụ wa ta’ālā ‘ammā yusyrikụn

67. Dan, mereka [yang menyembah apa pun selain Allah] tidak memiliki suatu pemahaman yang benar tentang Allah, karena seluruh bumi akan menjadi genggaman [semata] bagi-Nya pada Hari Kebangkitan, dan lelangit akan digulung dalam tangan kanan-Nya:66 Maha Tak Terhingga Kemuliaan-Nya dan Mahatinggi Dia melampaui segala sesuatu yang mungkin mereka persekutukan dengan-Nya!


66 Yakni, seluruh alam semesta tidak ada apa-apanya di hadapan Allah: untuk alegori spesifik mengenai kemahabesaran Allah ini, lihat Surah Al-Anbiya’ [21]: 104. Ada banyak contoh, baik dalam Al-Quran maupun dalam hadis-hadis sahih, tentang penggunaan metaforis dari istilah “tangan” untuk mengacu pada kekuatan dan kekuasaan mutlak Allah. Penyebutan khusus, dalam ayat di atas, tentang Hari Kebangkitan didasarkan pada fakta bahwa hanya pada saat kebangkitannya sendirilah seorang manusia akan memahami sepenuhnya konsep kemahabesaran Allah, yang dalam kata-kata berikutnya disebut sebagai, “Maha Tak Terhingga Kemuliaan-Nya (subhanahu)”.


Surah Az-Zumar Ayat 68

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ۖ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰ فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

wa nufikha fiṣ-ṣụri fa ṣa’iqa man fis-samāwāti wa man fil-arḍi illā man syā`allāh, ṡumma nufikha fīhi ukhrā fa iżā hum qiyāmuy yanẓurụn

68. Dan [pada Hari itu,] sangkakala [pengadilan] akan dibunyikan, dan semua [makhluk] yang ada di lelangit dan semua yang ada di muka bumi akan jatuh pingsan, kecuali mereka yang dikehendaki Allah [untuk dibebaskan].67

Kemudian, sangkakala itu akan berbunyi lagi—dan lihatlah! seraya berdiri [di hadapan Kursi Pengadilan], mereka akan mulai melihat [kebenaran]!68


67 Sebagaimana terlihat jelas pada Surah An-Naml [27]: 89, ayat di atas secara tidak langsung berbicara tentang kehidupan ruhani yang tak tergoyahkan di dunia ini—dan, karenanya, kebahagiaan di akhirat—bagi orang-orang yang telah meraih iman dan mengerjakan perbuatan-perbuatan kebajikan. Bdk. Sur ah Al-Anbiya’ [21]: 103—“Kemahadahsyatan [Hari Kebangkitan] tidak akan menyebabkan mereka bersedih”.

68 Bdk. Surah As-Saffat [37]: 19.


Surah Az-Zumar Ayat 69

وَأَشْرَقَتِ الْأَرْضُ بِنُورِ رَبِّهَا وَوُضِعَ الْكِتَابُ وَجِيءَ بِالنَّبِيِّينَ وَالشُّهَدَاءِ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

wa asyraqatil-arḍu binụri rabbihā wa wuḍi’al-kitābu wajī`a bin-nabiyyīna wasy-syuhadā`i wa quḍiya bainahum bil-ḥaqqi wa hum lā yuẓlamụn

69. Dan, bumi akan bersinar terang dengan cahaya Pemeliharanya.69 Dan catatan [perbuatan setiap manusia] akan dibentangkan,70 dan seluruh nabi akan di datangkan beserta semua saksi [lainnya];71 dan keputusan ditetapkan bagi mereka semua dengan adil. Dan mereka tidak akan dizalimi,


69 Yakni, kehendak-Nya akan terungkap dengan jelas. Lihat juga Surah Ibrahim [14]: 48, yang menyatakan bahwa pada Hari Kebangkitan, “bumi akan diubah menjadi bumi yang lain, demikian pula lelangit”. Rujukan lebih jauh mengenai transformasi (dan bukan pemusnahan) alam semesta ini ditemukan dalam Surah Ta’Ha’ [20]: 105-107.

70 Bdk. Surah Al-Isra’ [17]: 13-14 (dan catatan no. 18 yang terkait); juga Surah Al-Kahfi [18]: 49.

71 Lihat Surah An-Nisa’ [4]: 41 dan catatan no. 52 yang terkait. Sejalan dengan itu, frasa di atas bisa juga berarti “semua nabi sebagai saksi-saksi”, yakni, untuk mendukung atau membantah orang-orang yang telah menerima pesan Allah yang disampaikan oleh para nabi. Namun, dengan segala kemungkinannya, kata syuhada’ (atau asyhad dalam Surah Ghafir [40]: 51) di sini berarti—sebagaimana dalam bentuk tunggalnya (syahid) dalam Surah Qaf [50]: 21—kesadaran manusia yang baru saja tergugah untuk bangkit, yang akan memaksanya untuk menjadi saksi atas dirinya sendiri pada Hari Pengadilan (bdk. Surah Al-An’am [6]: 130, Al-Isra’ [17]: 14, An-Nur [24]: 24, Ya’Sin [36]: 65, Fussilat [41]: 20 dan seterusnya).


Surah Az-Zumar Ayat 70

وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَا يَفْعَلُونَ

wa wuffiyat kullu nafsim mā ‘amilat wa huwa a’lamu bimā yaf’alụn

70. karena setiap manusia akan diberi balasan penuh atas [kebaikan atau keburukan] apa pun yang telah dia perbuat:72 dan Dia Maha Mengetahui segala yang mereka kerjakan.


72 Bdk. Surah Al-Zalzalah [99]: 7-8, “siapa pun yang mengerjakan kebaikan, walau seberat atom, niscaya akan melihatnya; dan siapa pun yang mengerjakan kejahatan, walau seberat atom, niscaya akan melihatnya”.


Surah Az-Zumar Ayat 71

وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِ رَبِّكُمْ وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا ۚ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِينَ

wa sīqallażīna kafarū ilā jahannama zumarā, ḥattā iżā jā`ụhā futiḥat abwābuhā wa qāla lahum khazanatuhā a lam ya`tikum rusulum mingkum yatlụna ‘alaikum āyāti rabbikum wa yunżirụnakum liqā`a yaumikum hāżā, qālụ balā wa lākin ḥaqqat kalimatul-‘ażābi ‘alal-kāfirīn

71. Dan, orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran akan digiring secara berombongan ke neraka hingga, ketika mereka tiba di sana, pintu-pintunya akan terbuka, dan penjaga-penjaganya akan bertanya kepada mereka, “Apakah belum pernah datang kepada kalian rasul-rasul dari antara kalian sendiri, yang menyampaikan kepada kalian pesan-pesan Pemelihara kalian dan memberi peringatan tentang datangnya Hari [Pengadilan] kalian ini?”

Mereka akan menjawab, “Memang benar!”

Akan tetapi, hukuman berupa penderitaan akan [telah] menimpa para pengingkar kebenaran itu;73


73 Yakni, sebagai konsekuensi yang tak terelakkan dari dosa mereka yang tidak ditobati.


Surah Az-Zumar Ayat 72

قِيلَ ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۖ فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ

qīladkhulū abwāba jahannama khālidīna fīhā, fa bi`sa maṡwal-mutakabbirīn

72. [dan] akan diperintahkan kepada mereka, “Masukilah pintu-pintu neraka, berkediaman di dalamnya!”

Dan, betapa buruknya tempat tinggal bagi orang-orang yang terbiasa menyombongkan diri!74


74 Yakni, secara tersirat, “dan karena itu, menolak mengikuti petunjuk yang ditawarkan kepada mereka oleh para rasul Allah”: bdk. Surah Al-‘Alaq [96]: 6-7—“manusia menjadi benar-benar melampaui batas manakala dia menganggap dirinya sendiri serbacukup”. Lihat juga Surah An-Nahl [16]: 22 dan catatan no. 15 yang terkait.


Surah Az-Zumar Ayat 73

وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ

wa sīqallażīnattaqau rabbahum ilal-jannati zumarā, ḥattā iżā jā`ụhā wa futiḥat abwābuhā wa qāla lahum khazanatuhā salāmun ‘alaikum ṭibtum fadkhulụhā khālidīn

73. Namun, orang-orang yang sadar akan Pemelihara mereka akan digiring secara berombongan menuju surga hingga, ketika mereka tiba di sana, mereka akan mendapati pintu-pintunya terbuka lebar;75 dan para penjaganya akan berkata kepada mereka, “Kedamaian tercurah kepada kalian! Kalian telah berbuat kebajikan: maka, masukilah [surga] ini, berdiam di dalamnya!”


75 Lit., “dan pintu-pintunya telah [atau ‘akan telah’] dibuka”, yakni, sebelum mereka tiba, sebagaimana diisyaratkan oleh partikel wa (lit., “dan”) yang dalam hal ini menunjukkan keterdahuluan dalam urutan waktu (Al-Zamakhsyari). Dalam kaitan ini, bdk. Surah Sad [38]: 50—“taman-taman kebahagiaan abadi, dengan pintu-pintu gerbang yang terbuka lebar bagi mereka”.


Surah Az-Zumar Ayat 74

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي صَدَقَنَا وَعْدَهُ وَأَوْرَثَنَا الْأَرْضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَاءُ ۖ فَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

wa qālul-ḥamdu lillāhillażī ṣadaqanā wa’dahụ wa auraṡanal-arḍa natabawwa`u minal-jannati ḥaiṡu nasyā`, fa ni’ma ajrul-‘āmilīn

74. Dan, mereka akan berseru, “Segala puji bagi Allah, yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami, dan telah memberikan kepada kami hamparan [kebahagiaan] ini sebagai bagian kami, sehingga kami dapat tinggal di surga sesuka kami!”76

Dan, surga itu akan menjadi sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang telah bekerja [di jalan Allah].


76 Lit., “telah menjadikan kami ahli waris tanah ini”, yakni, surga. Menurut seluruh mufasir klasik, konsep “warisan” di sini digunakan secara metaforis untuk menunjukkan hak atau bagian yang sah bagi orang-orang yang diberi rahmat itu. Istllah ardh (lit., “bumi” atau “tanah”) juga mengandung arti—terutama dalam syair—“segala sesuatu yang dihamparkan” (bdk. Lane I, 48): karena itu, saya menerjemahkannya, dalam konteks di atas, menjadi “hamparan”.


Surah Az-Zumar Ayat 75

وَتَرَى الْمَلَائِكَةَ حَافِّينَ مِنْ حَوْلِ الْعَرْشِ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ ۖ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ وَقِيلَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

wa taral-malā`ikata ḥāffīna min ḥaulil-‘arsyi yusabbiḥụna biḥamdi rabbihim, wa quḍiya bainahum bil-ḥaqqi wa qīlal-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn

75. Dan, akan kau lihat para malaikat mengitari singgasana kemahakuasaan [Allah],77 seraya memuji dan mengagungkan kemuliaan Pemelihara mereka. Dan, penilaian akan ditetapkan secara adil terhadap semua [yang pernah hidup dan mati], dan akan terucap kata itu:78 “Segala puji bagi Allah, Pemelihara seluruh alam!”


77 Setiap kali istilah al-‘arsy (“singgasana [Allah]”) disebutkan dalam Al-Quran, istilah itu digunakan sebagai kiasan bagi kekuasaan mutlak Allah atas segala sesuatu: oleh karena itu, saya menerjemahkannya menjadi “singgasana kemahakuasaan [Allah]”. (Lihat juga Surah Al-A’raf [7]: 54 dan catatan no. 43 yang terkait.) Sebutan “malaikat yang mengitarinya” jelas mengandung makna kiasan: lihat catatan no. 4 pada Surah Ghafir [40]: 7.

78 Lit., “akan dikatakan”.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top