43. Az-Zukhruf (Perhiasan Emas) – الزخرف

Surat Az-Zukhruf dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Az-Zukhruf ( الزخرف ) merupakan surat ke 43 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 89 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Az-Zukhruf tergolong Surat Makkiyah.

Surah yang namanya berasal dari kata zukhruf yang disebutkan secara insidental dalam ayat 35 ini hampir seluruhnya dicurahkan untuk menyampaikan prinsip bahwa menisbahkan ketuhanan, dalam bentuk apa pun, kepada siapa pun atau apa pun selain Allah tidak hanya merusak secara spiritual, tetapi juga tidak dapat diterima secara logis. Lebih jauh, penekanan diberikan pada fakta bahwa seluruh penyimpangan spiritual semacam itu, biasanya, diakibatkan oleh ketaatan buta manusia kepada apa yang dianggapnya sebagai kepercayaan nenek moyang mereka: “Perhatikan, kami mendapati nenek moyang kami bersepakat mengenai apa yang harus dipercayai—dan, sungguh, pada jejak merekalah, kami mendapatkan petunjuk!” (ayat 22 dan, dalam bentuknya yang sedikit dimodifikasi, ayat 23).

Daftar Isi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Az-Zukhruf Ayat 1

حم

ḥā mīm

1. Ha. Mim.1


1 Lihat artikel Al-Muqatta’at (Huruf-Huruf Terpisah) dalam Al-Qur’an.


Surah Az-Zukhruf Ayat 2

وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ

wal-kitābil-mubīn

2. PERHATIKANLAH kitab Ilahi ini, yang jelas dalam dirinya sendiri dan secara jelas menunjukkan kebenaran:2


2 Mengenai penerjemahan istilah mubin ini, lihat catatan no. 2 dalam Surah Yusuf [12]: 1.


Surah Az-Zukhruf Ayat 3

إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

innā ja’alnāhu qur`ānan ‘arabiyyal la’allakum ta’qilụn

3. perhatikanlah, Kami telah menyebabkannya menjadi suatu wacana dalam bahasa Arab, agar kalian dapat memahaminya dengan akal kalian.3


3 Lihat catatan no. 3 dalam Surah Yusuf [12]: 3.


Surah Az-Zukhruf Ayat 4

وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ

wa innahụ fī ummil-kitābi ladainā la’aliyyun ḥakīm

4. Dan, sungguh, [karena benar-benar berasal dari] sumber segala wahyu4 di sisi Kami, ia sangat mulia, penuh dengan hikmah.


4 Bdk. klausa terakhir dari Surah Ar-Ra’d [13]: 39—”pada-Nya-lah (‘indahu) sumber (umm) segala wahyu”. Istilah umm (lit., “ibu”) sering memiliki pengertian idiomatik “asal-usul” atau “sumber” (ashl), dan kadang-kadang—seperti dalam Surah Al-‘Imran [3]: 7—”esensi”. Namun, dalam konteks ini, hanya makna pertama yang dapat diterapkan. Lihat juga catatan no. 11 pada ayat terakhir dari Surah Al-Buruj [85].


Surah Az-Zukhruf Ayat 5

أَفَنَضْرِبُ عَنْكُمُ الذِّكْرَ صَفْحًا أَنْ كُنْتُمْ قَوْمًا مُسْرِفِينَ

a fa naḍribu ‘angkumuż-żikra ṣaf-ḥan ang kuntum qaumam musrifīn

5. [WAHAI, KALIAN yang mengingkari kebenaran!] Haruskah Kami, mungkin, menarik peringatan ini dari kalian sama sekali, mengingat kalian adalah orang-orang yang berkukuh memubazirkan diri?5


5 Untuk penerjemahan istilah musrif ini, lihat catatan no. 21 pada kalimat terakhir dari Surah Yunus [10]: 12. Pertanyaan retoris di atas terjawab dengan sendirinya, yakni jawabannya tentulah “tidak”—ini menunjukkan bahwa Allah tidak pernah berhenti “mengingatkan” para pendosa melalui wahyu-wahyu-Nya dan selalu menerima tobat.


Surah Az-Zukhruf Ayat 6

وَكَمْ أَرْسَلْنَا مِنْ نَبِيٍّ فِي الْأَوَّلِينَ

wa kam arsalnā min nabiyyin fil-awwalīn

6. Dan, betapa banyak nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat zaman dahulu!


Surah Az-Zukhruf Ayat 7

وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

wa mā ya`tīhim min nabiyyin illā kānụ bihī yastahzi`ụn

7. Akan tetapi, tidak pernah seorang nabi pun datang kepada mereka tanpa mereka memperolok-oloknya—


Surah Az-Zukhruf Ayat 8

فَأَهْلَكْنَا أَشَدَّ مِنْهُمْ بَطْشًا وَمَضَىٰ مَثَلُ الْأَوَّلِينَ

fa ahlaknā asyadda min-hum baṭsyaw wa maḍā maṡalul-awwalīn

8. maka, [akhirnya,] Kami hancurkan mereka [meskipun mereka itu] yang lebih besar kekuatannya daripada orang-orang ini:6 dan, gambaran orang-orang terdahulu itu menjadi sesuatu yang telah silam.


6 Yakni, dibandingkan dengan orang-orang yang disebutkan dalam ayat 5 sebelumnya.


Surah Az-Zukhruf Ayat 9

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ

wa la`in sa`altahum man khalaqas-samāwāti wal-arḍa layaqụlunna khalaqahunnal-‘azīzul-‘alīm

9. Namun, demikianlah [kebanyakan manusia]: jika7 engkau tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang telah menciptakan lelangit dan bumi?”—mereka pasti akan menjawab, “Yang Mahaperkasa, Yang Maha Mengetahui telah menciptakannya.”


7 Lihat Surah Ar-Rum [30], catatan no. 45.


Surah Az-Zukhruf Ayat 10

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ مَهْدًا وَجَعَلَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلًا لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

allażī ja’ala lakumul-arḍa mahdaw wa ja’ala lakum fīhā subulal la’allakum tahtadụn

10. Dia-lah yang telah menjadikan bumi sebagai buaian bagi kalian, dan telah menyediakan bagi kalian berbagai jalan [penghidupan] di atasnya,8 agar kalian dapat mengikuti jalan yang benar.


8 Bdk. Surah Ta’Ha’ [20]: 53.


Surah Az-Zukhruf Ayat 11

وَالَّذِي نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَنْشَرْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا ۚ كَذَٰلِكَ تُخْرَجُونَ

wallażī nazzala minas-samā`i mā`am biqadar, fa ansyarnā bihī baldatam maitā, każālika tukhrajụn

11. Dan, Dia-lah yang terus-menerus menurunkan air9 dari langit menurut ukuran yang semestinya: dan [seperti halnya] Kami menghidupkan dengan air itu tanah yang mati, demikian pulalah kalian akan dibangkitkan [dari keadaan mati].


9 Bentuk gramatikal nazzala di sini menunjukkan “keberulang-ulangan”: karena itu, hal ini ditegaskan dengan kata “terus-menerus”.


Surah Az-Zukhruf Ayat 12

وَالَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْفُلْكِ وَالْأَنْعَامِ مَا تَرْكَبُونَ

wallażī khalaqal-azwāja kullahā wa ja’ala lakum minal-fulki wal-an’āmi mā tarkabụn

12. Dan, Dia-lah yang telah menciptakan semua yang berlawanan.10

Dan, Dia [itulah yang] menyediakan bagi kalian semua kapal dan hewan yang kalian tunggangi,


10 Lit., “semua pasangan”. Beberapa mufasir menganggap istilah azwaj dalam konteks ini sama artinya dengan “jenis-jenis” (Al-Baghawi, Al-Zamakhsyari, Al-Baidhawi, Ibn Katsir): yakni, mereka mengartikan frasa di atas sebagai hanya menyatakan bahwa Allah menciptakan segala jenis hal, wujud, dan fenomena. Mufasir lainnya (seperti, Al-Thabari) melihat bahwa istilah tersebut mengandung rujukan terhadap adanya polaritas yang tampak jelas dalam seluruh ciptaan. Ibn ‘Abbas (sebagaimana dikutip Al-Razi) mengatakan bahwa istilah azwaj ini menunjuk pada konsep keberlawanan secara umum, seperti “manis dan asam, putih dan hitam, atau laki-laki dan perempuan”; keterangan ini kemudian oleh Al-Razi, ditambahkan dengan menyatakan bahwa segala sesuatu dalam ciptaan memiliki imbangannya, “seperti tinggi dan rendah, kanan dan kiri, depan dan belakang, dahulu dan nanti, wujud dan sifat” dan lain sebagainya, sedangkan Tuhan—dan hanya Dia—adalah unik, tanpa ada sesuatu pun yang dapat disebut sebagai “berlawanan” atau “serupa” atau “berpasangan” dengan-Nya. Oleh karena itu, kalimat di atas menyuarakan makna yang sama dari pernyataan bahwa “dan tidak ada apa pun yang dapat diperbandingkan dengan-Nya” (Surah Al-Ikhlas [112]: 4).


Surah Az-Zukhruf Ayat 13

لِتَسْتَوُوا عَلَىٰ ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ

litastawụ ‘alā ẓuhụrihī ṡumma tażkurụ ni’mata rabbikum iżastawaitum ‘alaihi wa taqụlụ sub-ḥānallażī sakhkhara lanā hāżā wa mā kunnā lahụ muqrinīn

13. agar kalian dapat memperoleh kekuasaan atas mereka,11 dan agar kalian dapat mengingat nikmat-nikmat Pemelihara kalian setiap kali kalian menguasai mereka, dan mengucapkan, “Maha Tak Terhingga Kemuliaan Dia yang telah menjadikan [semua] ini tunduk untuk kami pergunakan—sebab, [kalau bukan karena-Nya,] kami tidak akan mampu meraihnya.


11 Lit., “atas punggungnya”—yakni, menurut semua mufasir klasik, “punggung” hewan-hewan yang disebutkan di atas dan juga kapal-kapal laut; kata ganti yang berbentuk tunggal (Arab: “hi“; Indonesia: “nya“) mengacu kepada keseluruhan hal yang tercakup dalam konsep “segala yang kalian tunggangi” (ma tarkabun): dengan kata lain, “segala yang kalian gunakan atau dapat kalian gunakan untuk sarana transportasi”. Mengenai li-tastawu yang saya terjemahkan menjadi “agar kalian dapat memperoleh kekuasaan”, saya perlu menandaskan bahwa verba istawa (lit., “dia menetapkan dirinya”) sering memiliki arti seperti yang saya gunakan itu: lihat Jauhari, Al-Raghib, dan Lisan Al-‘Arab, entri sawa; juga Lane IV, 1478.


Surah Az-Zukhruf Ayat 14

وَإِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

wa innā ilā rabbinā lamungqalibụn

14. Karena itu, sungguh, kepada-Nya-lah kita harus selalu berpaling,”


Surah Az-Zukhruf Ayat 15

وَجَعَلُوا لَهُ مِنْ عِبَادِهِ جُزْءًا ۚ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَكَفُورٌ مُبِينٌ

wa ja’alụ lahụ min ‘ibādihī juz`ā, innal-insāna lakafụrum mubīn

15. NAMUN,12 kepada-Nya, mereka nisbahkan keturunan dari sebagian makhluk yang diciptakan oleh-Nya!13 Sungguh, manusia itu jelas-jelas sangat tidak bersyukur!


12 Yakni, terlepas dari fakta bahwa kebanyakan manusia sangat mudah mengakui bahwa Tuhan telah menciptakan segala yang ada (ayat 9 sebelumnya), sebagian manusia cenderung melupakan keunikan-Nya.

13 Lit., “menisbahkan kepada-Nya suatu bagian dari [beberapa] ciptaan-Nya (‘ibad)”: bdk. Surah Al-An’am [6]: 100 dan catatan-catatan yang terkait. Nomina juz’ (lit., “bagian”) di sini tampaknya berarti “suatu bagian dari Diri- Nya“, sebagaimana diisyaratkan dalam konsep “keturunan”; karena itulah, saya menerjemahkannya seperti di atas. Di sisi lain, jika juz’ dipahami dalam pengertian harfiahnya, kalimat di atas bisa (sebagaimana diasumsikan Al-Razi) memiliki makna yang lebih umum, yakni “mereka menisbahkan suatu bagian dari ketuhanan-Nya kepada beberapa makhluk yang Dia ciptakan”. Namun, sesuai lanjutan ayat berikutnya yang jelas-jelas merujuk kepada tindakan menisbahkan “keturunan” terhadap Allah, terjemahan saya tampaknya lebih cocok.


Surah Az-Zukhruf Ayat 16

أَمِ اتَّخَذَ مِمَّا يَخْلُقُ بَنَاتٍ وَأَصْفَاكُمْ بِالْبَنِينَ

amittakhaża mimmā yakhluqu banātiw wa aṣfākum bil-banīn

16. Ataukah, mungkin, [kalian berpikir] bahwa di antara seluruh makhluk-Nya, Dia telah memilih bagi Diri-Nya sendiri anak perempuan, dan mengutamakan kalian dengan anak laki-laki?14


14 Hendaknya diingat bahwa orang-orang yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah kaum musyrik Arab yang percaya bahwa sebagian dewi mereka, serta para malaikat, adalah “anak-anak perempuan Tuhan”. Mengingat fakta bahwa bangsa Arab pra-Islam menganggap anak perempuan hanya sebagai beban belaka dan kelahiran mereka sebagai aib, ayat ini jelas bernada menyindir. (Dalam hal ini, bdk. Surah An-Nahl [16]: 57-59.)


Surah Az-Zukhruf Ayat 17

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِمَا ضَرَبَ لِلرَّحْمَٰنِ مَثَلًا ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ

wa iżā busysyira aḥaduhum bimā ḍaraba lir-raḥmāni maṡalan ẓalla waj-huhụ muswaddaw wa huwa kaẓīm

17. Karena [demikianlah:] manakala salah seorang di antara mereka diberi kabar gembira [tentang kelahiran] apa yang serta-merta dia nisbahkan kepada Yang Maha Pemurah,15 wajahnya berubah gelap, dan dia dipenuhi kemarahan yang terpendam:


15 Lit., “apa yang dia anggap sebagai kesamaan dengan (atau ‘menyerupai’] Yang Maha Pengasih”: maksudnya, anak perempuan, yang mengisyaratkan suatu kesamaan alamiah dengan pihak yang memperanakkannya.


Surah Az-Zukhruf Ayat 18

أَوَمَنْ يُنَشَّأُ فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبِينٍ

a wa may yunasysya`u fil-ḥilyati wa huwa fil-khiṣāmi gairu mubīn

18. “Apa? [Haruskah aku memiliki seorang anak perempuan]—anak yang harus dibesarkan demi menjadi hiasan [semata]?”16—dan kemudian dia mendapati dirinya tercabik-cabik oleh suatu pertentangan batin yang samar-samar.17


16 Yakni, seseorang yang, berdasarkan sudut pandang bangsa Arab pra-Islam, tidak mempunyai fungsi lain, kecuali sekadar “menghiasi” kehidupan manusia.

17 Lit., “dia mendapati dirinya dalam pertengkaran yang tidak terlihat (ghair mubin)”—yakni, konflik batin yang tidak dia akui dalam alam sadarnya: bdk. Surah An-Nahl [16]: 59—”[batinnya berkecamuk:] Haruskah dia mempertahankan anak ini, terlepas dari rasa jijik [yang dia rasakan terhadap anak itu]—atau haruskah dia menguburnya dalam tanah?” (Lihat juga, khususnya, catatan no. 66 yang terkait.)


Surah Az-Zukhruf Ayat 19

وَجَعَلُوا الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمَٰنِ إِنَاثًا ۚ أَشَهِدُوا خَلْقَهُمْ ۚ سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْأَلُونَ

wa ja’alul-malā`ikatallażīna hum ‘ibādur-raḥmāni ināṡā, a syahidụ khalqahum, satuktabu syahādatuhum wa yus`alụn

19. Dan [meskipun demikian,] mereka menyatakan bahwa para malaikat—yang tidak lain hanyalah makhluk yang diciptakan oleh Yang Maha Pengasih18—itu adalah perempuan: [namun,] apakah mereka menyaksikan penciptaan mereka?

Pernyataan batil mereka ini19 akan dicatat, dan mereka akan diminta mempertanggungjawabkan [hal itu pada Hari Pengadilan]!


18 Atau: “mereka tidak lain hanyalah penyembah [atau “makhluk”] (‘ibad) dari Yang Maha Pengasih”—yang dalam kedua kasus tersebut menekankan kedudukan mereka sebagai makhluk yang diciptakan dan, karenanya, bukan Tuhan.

19 Lit., “kesaksian mereka”, yakni rnengenai “jenis kelamin” malaikat, yang pada hakikatnya bersifat spiritual (Al-Razi) dan, karenanya, tidak memiliki jenis kelamin.


Surah Az-Zukhruf Ayat 20

وَقَالُوا لَوْ شَاءَ الرَّحْمَٰنُ مَا عَبَدْنَاهُمْ ۗ مَا لَهُمْ بِذَٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

wa qālụ lau syā`ar-raḥmānu mā ‘abadnāhum, mā lahum biżālika min ‘ilmin in hum illā yakhruṣụn

20. Namun, mereka berkata, “Andaikan Yang Maha Pengasih [tidak] menghendakinya, kami tidak akan pernah menyembah mereka!”

[Akan tetapi,] mereka tidak bisa mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang [kehendak-Nya atas] hal yang demikian itu: mereka tidak lain hanyalah menduga-duga.20


20 Yakni, mereka tidak dapat memiliki “pengetahuan” apa pun mengenai sesuatu yang tidak mempunyai realitas sama sekali—sebab, alih-alih “menghendaki” tindakan dosa mereka, Allah justru telah menyerahkan keputusan untuk melakukan pilihan moral antara yang benar dan yang salah kepada kehendak bebas mereka sendiri. (Dalam hal ini, lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 143.)


Surah Az-Zukhruf Ayat 21

أَمْ آتَيْنَاهُمْ كِتَابًا مِنْ قَبْلِهِ فَهُمْ بِهِ مُسْتَمْسِكُونَ

am ātaināhum kitābam ming qablihī fa hum bihī mustamsikụn

21. Ataukah Kami, mungkin, telah memberikan kepada mereka sebuah wahyu [yang bertentangan] sebelum yang satu ini, yang kini masih mereka pegang erat?21


21 Yakni, wahyu yang akan mengizinkan manusia untuk menyembah wujud lain selain Allah, atau menisbahkan “anak” kepada-Nya: sebuah pertanyaan retorik yang dengan sendirinya mengisyaratkan bantahan.


Surah Az-Zukhruf Ayat 22

بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ

bal qālū innā wajadnā ābā`anā ‘alā ummatiw wa innā ‘alā āṡārihim muhtadụn

22. Tidak, namun mereka berkata, “Perhatikan, kami mendapati nenek moyang kami bersepakat mengenai apa yang harus dipercayai—dan, sungguh, pada jejak merekalah, kami mendapatkan petunjuk!”


Surah Az-Zukhruf Ayat 23

وَكَذَٰلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ

wa każālika mā arsalnā ming qablika fī qaryatim min nażīrin illā qāla mutrafụhā innā wajadnā ābā`anā ‘alā ummatiw wa innā ‘alā āṡārihim muqtadụn

23. Dan, demikianlah: setiap Kami mengutus, sebelum masamu, seorang pemberi peringatan kepada masyarakat mana pun, para penduduknya yang menenggelamkan diri dalam mengejar kesenangan22 akan selalu berkata, “Perhatikanlah, kami mendapati nenek moyang kami bersepakat mengenai apa yang harus dipercayai—dan, sungguh, kami tidak lain hanyalah mengikuti jejak-jejak mereka!”23


22 Mengenai penerjemahan istilah mutraf ini (yang berasal dari verba tarafa), lihat catatan no. 147 dalam Surah Hud [11]: 116.

23 Ketika menafsirkan pasase ini, Al-Razi, mengatakan: “Kalaupun di dalam Al-Quran hanya terdapat ayat-ayat ini, cukuplah ayat-ayat itu untuk menunjukkan batilnya ajaran taklid buta [seorang Muslim] kepada pendapat keagamaan [orang lain] (ibthal al-qaul bi al-taqlid): sebab, Allah telah menyatakan dengan jelas [dalam ayat-ayat ini] bahwa para pengingkar kebenaran itu tidak mendasarkan keyakinan mereka pada akal, dan tidak pula pada otoritas yang jelas dari sebuah teks yang diwahyukan, tetapi hanya mengikuti secara buta pendapat-pendapat nenek moyang dan para pendahulu mereka; dan semua ini telah dinyatakan tercela dan amat hina oleh Allah.”


Surah Az-Zukhruf Ayat 24

قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِأَهْدَىٰ مِمَّا وَجَدْتُمْ عَلَيْهِ آبَاءَكُمْ ۖ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ

qāla a walau ji`tukum bi`ahdā mimmā wajattum ‘alaihi ābā`akum, qālū innā bimā ursiltum bihī kāfirụn

24. [Kemudian setiap nabi] akan berkata,24 “Mengapa, walaupun aku membawakan untuk kalian suatu petunjuk yang lebih baik daripada apa yang kalian dapati dipercaya oleh nenek moyang kalian?”—[yang] akan dijawab oleh mereka, “Perhatikan, kami mengingkari adanya kebenaran dalam [apa yang kalian nyatakan sebagai] pesan-pesan kalian!”


24 Meskipun dalam sejumlah cara-baca Al-Quran {qira’at} kata pembuka dalam ayat ini diucapkan sebagai bentuk perintah, qul (“katakanlah”), menurut bacaan Hats ibn Sulaiman Al-Asadi—yang digunakan sebagai dasar bagi terjemahan ini—kata itu dilafalkan qala (“dia telah berkata” atau, karena ini terjadi berulang-ulang, “dia akan berkata”).


Surah Az-Zukhruf Ayat 25

فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ ۖ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

fantaqamnā min-hum fanẓur kaifa kāna ‘āqibatul-mukażżibīn

25. Maka, Kami timpakan hukuman Kami terhadap mereka: dan, perhatikanlah apa yang akhirnya terjadi pada orang-orang yang mendustakan kebenaran!


Surah Az-Zukhruf Ayat 26

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ

wa iż qāla ibrāhīmu li`abīhi wa qaumihī innanī barā`um mimmā ta’budụn

26. DAN, TATKALA Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, [dia mencamkan kebenaran ini dalam benaknya:25] “Sungguh, aku sama sekali tidak akan menyembah apa yang kalian sembah!


25 Yakni, tidak diperbolehkannya bertaklid buta mengikuti pandangan keagamaan yang hanya didukung oleh tradisi turun-temurun dan, dengan demikian, tersebar dalam lingkungan seseorang, lalu menganggap pandangan tersebut benar meskipun bertentangan dengan akal dan/atau wahyu Ilahi. Pencarian kebenaran yang dilakukan oleh Ibrahim disebutkan beberapa kali dalam Al-Quran, khususnya dalam Surah Al-An’am [6]: 74 dst. dan Surah Al-Anbiya’ [21]: 51 dst.


Surah Az-Zukhruf Ayat 27

إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ

illallażī faṭaranī fa innahụ sayahdīn

27. Tidak ada [yang aku sembah] kecuali Dia yang telah menjadikanku ada: dan, perhatikan, Dia-lah yang akan memberiku petunjuk!”


Surah Az-Zukhruf Ayat 28

وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

wa ja’alahā kalimatam bāqiyatan fī ‘aqibihī la’allahum yarji’ụn

28. Dan, dia mengucapkan ini sebagai kata yang ditakdirkan akan menjadi abadi pada kalangan orang-orang yang datang sesudahnya, sehingga mereka dapat [selalu] kembali [kepada kata-kata itu].


Surah Az-Zukhruf Ayat 29

بَلْ مَتَّعْتُ هَٰؤُلَاءِ وَآبَاءَهُمْ حَتَّىٰ جَاءَهُمُ الْحَقُّ وَرَسُولٌ مُبِينٌ

bal matta’tu hā`ulā`i wa ābā`ahum ḥattā jā`ahumul-ḥaqqu wa rasụlum mubīn

29. Adapun [mengenai orang-orang yang datang sesudah Ibrahim,] Aku izinkan mereka—sebagaimana [Aku telah mengizinkan] nenek moyang mereka—menikmati kehidupan mereka dengan bebas hingga kebenaran datang kepada mereka melalui seorang rasul yang akan menjelaskan segala sesuatu:26


26 Yakni, Allah tidak membebankan kepada mereka kewajiban moral apa pun sebelum menjelaskan kepada mereka pengertian tentang benar dan salah melalui suatu pesan yang diwahyukan. Pertama-tama, ayat ini mengacu kepada orang-orang musyrik pada zaman Nabi dan kemakmuran yang dapat mereka nikmati sejak waktu yang lama (bdk. Surah Al-Anbiya’ [21]: 44); namun, dalam pengertian yang lebih luas, pasase ini menunjukkan bahwa Allah tidak akan pernah menghukum manusia karena kesalahan yang mereka lakukan sepanjang mereka belum ditunjukkan dengan jelas bagaimana membedakan antara yang baik dan yang buruk (bdk. Surah Al-An’am [6]: 131-132).


Surah Az-Zukhruf Ayat 30

وَلَمَّا جَاءَهُمُ الْحَقُّ قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ وَإِنَّا بِهِ كَافِرُونَ

wa lammā jā`ahumul-ḥaqqu qālụ hāżā siḥruw wa innā bihī kāfirụn

30. tetapi, sekarang, tatkala telah datang kebenaran itu kepada mereka, mereka berkata, “Semua ini adalah kepiawaian berbicara yang memikat27—dan, perhatikanlah, kami mengingkari adanya kebenaran di dalamnya!”


27 Lihat catatan no. 12 dalam Surah Al-Muddassir [74]: 24, yang di dalamnya kata sihr dalam pengertian yang seperti ini muncul untuk pertama kalinya dalam sejarah pewahyuan Al-Quran.


Surah Az-Zukhruf Ayat 31

وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ هَٰذَا الْقُرْآنُ عَلَىٰ رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ

wa qālụ lau lā nuzzila hāżal-qur`ānu ‘alā rajulim minal-qaryataini ‘aẓīm

31. Dan, mereka juga berkata, “Mengapa Al-Quran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari kedua kota ini?”28


28 Yakni, Makkah dan Tha’if—yang mengisyaratkan bahwa jika Al-Quran ini ,benar-benar adalah wahyu Ilahi, tentunya ia akan diturunkan kepada seseorang yang “berkedudukan tinggi”, bukan kepada Nabi Muhammad Saw. yang tidak memiliki kekayaan ataupun kedudukan yang menonjol di kota kelahirannya.


Surah Az-Zukhruf Ayat 32

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

a hum yaqsimụna raḥmata rabbik, naḥnu qasamnā bainahum ma’īsyatahum fil-ḥayātid-dun-yā wa rafa’nā ba’ḍahum fauqa ba’ḍin darajātil liyattakhiża ba’ḍuhum ba’ḍan sukhriyyā, wa raḥmatu rabbika khairum mimmā yajma’ụn

32. Namun, apakah mereka yang membagi-bagikan rahmat Pemeliharamu?

[Tidak, karena] Kami-lah yang membagi-bagikan sarana-sarana penghidupan di antara mereka dalam kehidupan dunia ini, dan mengangkat sebagian dari mereka beberapa derajat di atas sebagian yang lain, agar mereka dapat memperoleh manfaat dari tindakan saling membantu mereka—[demikian pula, Kami-lah yang memberikan karunia ruhani kepada siapa saja yang Kami kehendaki]: dan rahmat Pemeliharamu ini lebih baik daripada seluruh [kekayaan duniawi] yang dapat mereka kumpulkan.


Surah Az-Zukhruf Ayat 33

وَلَوْلَا أَنْ يَكُونَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً لَجَعَلْنَا لِمَنْ يَكْفُرُ بِالرَّحْمَٰنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِنْ فِضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ

walau lā ay yakụnan-nāsu ummataw wāḥidatal laja’alnā limay yakfuru bir-raḥmāni libuyụtihim suqufam min fiḍḍatiw wa ma’ārija ‘alaihā yaẓ-harụn

33. Dan, sekiranya bukan karena semua manusia akan menjadi satu masyarakat [yang jahat jika di hadapan mereka ada kekayaan yang melimpah],29 Kami tentu telah menyediakan bagi orang-orang yang [sekarang] mengingkari Yang Maha Pengasih atap perak bagi rumah mereka, dan tangga-tangga [perak] untuk naik,


29 Karena “manusia diciptakan (bersifat) lemah” (Surah An-Nisa’ [4]: 28), nyaris menjadi “hukum alam” bahwa manakala terbuka peluang bagi manusia untuk memperoleh kekayaan yang banyak, dia menjadi mudah kehilangan pertimbangan-pertimbangan spiritual dan moralnya, dan menjadi benar-benar egoistis, tamak, dan kejam.


Surah Az-Zukhruf Ayat 34

وَلِبُيُوتِهِمْ أَبْوَابًا وَسُرُرًا عَلَيْهَا يَتَّكِئُونَ

wa libuyụtihim abwābaw wa sururan ‘alaihā yattaki`ụn

34. dan pintu-pintu [perak] bagi rumah-rumah mereka, dan dipan-dipan [perak] untuk bersandar,


Surah Az-Zukhruf Ayat 35

وَزُخْرُفًا ۚ وَإِنْ كُلُّ ذَٰلِكَ لَمَّا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَالْآخِرَةُ عِنْدَ رَبِّكَ لِلْمُتَّقِينَ

wa zukhrufā, wa ing kullu żālika lammā matā’ul-ḥayātid-dun-yā, wal-ākhiratu ‘inda rabbika lil-muttaqīn

35. serta emas [yang tak terhitung] ….30

Namun, semua itu hanyalah akan menjadi kesenangan hidup [sesaat] di dunia ini—sedangkan [kebahagiaan dalam] kehidupan akhirat di sisi Pemeliharamu menanti orang-orang yang selalu sadar akan Allah.


30 Makna utama dari nomina zukhruf adalah “emas”; pengertian “perhiasan” atau (seperti dalam Surah Yunus [10]: 24) “perhiasan yang memperdaya” hanya merupakan makna sekunder (Taj Al-‘Arus).


Surah Az-Zukhruf Ayat 36

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

wa may ya’syu ‘an żikrir-raḥmāni nuqayyiḍ lahụ syaiṭānan fa huwa lahụ qarīn

36. Adapun orang yang memilih untuk tetap buta dari mengingat Yang Maha Pengasih, Kami tetapkan baginya dorongan jahat [yang abadi] untuk menjadi diri-lainnya:31


31 Lit., “Kami tetapkan baginya setan, dan dia menjadi diri-lainnya (qarin; other-self)”: lihat catatan no. 24 dalam Surah Fussilat [41]: 25. Mengenai makna psikologis dari istilah syaithan yang diterjemahkan menjadi “dorongan jahat”, lihat paruh pertama catatan no. 16 dalam Surah Al-Hijr [15]: 17, serta catatan no. 31 dalam Surah Ibrahim [14]: 22.


Surah Az-Zukhruf Ayat 37

وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ

wa innahum layaṣuddụnahum ‘anis-sabīli wa yaḥsabụna annahum muhtadụn

37. kemudian, perhatikanlah, [dorongan-dorongan jahat] ini menghalangi orang-orang semacam itu dari jalan [kebenaran], yang membuat mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk ke jalan yang benar!


Surah Az-Zukhruf Ayat 38

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ

ḥattā iżā jā`anā qāla yā laita bainī wa bainaka bu’dal-masyriqaini fa bi`sal-qarīn

38. Namun, pada akhirnya,32 ketika orang [yang berdosa] itu datang di hadapan Kami [pada Hari Pengadilan], dia akan berkata [kepada diri-lain dia itu], “Andaikan saja antara aku dan engkau ada jarak seperti jarak timur dan barat!”33 sebab, sungguh [terbukti amat] jahatlah diri-lain itu!


32 Lit., “hingga”.

33 Demikianlah kebanyakan mufasir menafsirkan frasa yang secara literal berbunyi “dua timur” (al-masyriqain). Penafsiran ini didasarkan pada ungkapan idiomatik yang tidak jarang digunakan dalam bahasa Arab klasik, yakni memaksudkan dua hal yang berlawanan—atau dua entitas yang terkait secara konseptual—dengan menyebutkan salah satu dari keduanya dalam bentuk ganda: umpamanya, “dua bulan” maksudnya adalah “matahari dan buIan”; “dua Bashrah” maksudnya adalah Kufah dan Bashrah; dan seterusnya.


Surah Az-Zukhruf Ayat 39

وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ

wa lay yanfa’akumul-yauma iẓ ẓalamtum annakum fil-‘ażābi musytarikụn

39. Pada Hari itu, tidak ada gunanya sedikit pun bagi kalian [untuk mengetahui] bahwa, karena kalian berbuat dosa [bersama-sama], kalian sekarang pun harus berbagi derita [bersama-sama pula].34


34 Yakni, “kalian tidak akan merasa terhibur ketika mengetahui bahwa kalian tidak sendirian dalam merasakan penderitaan, berbeda dengan penderitaan di dunia” (Al-Zamakhsyari, Al-Razi, Al-Baidhawi). Karena kalimat ini dirumuskan dalam bentuk jamak dan bukan dalam bentuk ganda, jelaslah bahwa ia mengacu kepada semua pendosa yang, semasa hidupnya, menyerah tunduk kepada dorongan jahatnya sendiri—yakni, “diri lain” mereka {their other selves}, demikianlah kira-kira-sehingga “tetap buta dari mengingat Allah”. Dalam
pengertiannya yang lebih luas, ayat di atas menunjukkan bahwa semua perbuatan jahat, kapan pun dan di mana pun ia dilakukan, tidak lain hanyalah merupakan mata-mata rantai dari untaian yang sama, yakni satu kejahatan, tidak bisa tidak, pasti mendorong kejahatan yang lain: bdk. Surah Ibrahim [14]: 49—”pada Hari itu, engkau akan melihat semua orang yang tenggelam dalam dosa diikat bersama-sama (muqarranin) dalam belenggu”—sebuah frasa yang telah dijelaskan dalam catatan no. 64 yang terkait. Hendaknya diperhatikan bahwa partisip muqarran diderivasi dari akar verba yang sama (qarana) dengan istilah qarin (yang saya terjemahkan dalam ayat 36 dan 38 surah ini dan dalam Surah Fussilat [41]: 25 menjadi “diri-lain”): dan, menurut saya, ini merupakan indikasi lebih jauh, yang disinggung dalam ayat ini, terhadap “kebersamaan” semua perbuatan jahat.


Surah Az-Zukhruf Ayat 40

أَفَأَنْتَ تُسْمِعُ الصُّمَّ أَوْ تَهْدِي الْعُمْيَ وَمَنْ كَانَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

a fa anta tusmi’uṣ-ṣumma au tahdil-‘umya wa mang kāna fī ḍalālim mubīn

40. MUNGKINKAH ENGKAU [wahai Muhammad,] dapat menjadikan orang yang tuli mendengar, atau menunjukkan jalan yang benar kepada orang yang buta atau kepada orang yang jelas-jelas tenggelam dalam kesesatan?35


35 Pertanyaan retorik ini mengisyaratkan jawaban “tidak”: bdk. Surah Fathir [35]: 22—”engkau tidak bisa membuat mendengar orang [yang tuli hatinya seperti orang mati] di dalam kuburnya”.


Surah Az-Zukhruf Ayat 41

فَإِمَّا نَذْهَبَنَّ بِكَ فَإِنَّا مِنْهُمْ مُنْتَقِمُونَ

fa immā naż-habanna bika fa innā min-hum muntaqimụn

41. Akan tetapi, baik Kami mewafatkanmu [atau tidak sebelum pesanmu berjaya]—sungguh, akan Kami timpakan hukuman Kami terhadap mereka;


Surah Az-Zukhruf Ayat 42

أَوْ نُرِيَنَّكَ الَّذِي وَعَدْنَاهُمْ فَإِنَّا عَلَيْهِمْ مُقْتَدِرُونَ

au nuriyannakallażī wa’adnāhum fa innā ‘alaihim muqtadirụn

42. dan baik Kami tunjukkan kepadamu pemenuhan janji Kami kepada mereka [di dunia ini atau tidak]—sungguh, Kami Mahakuasa atas mereka!


Surah Az-Zukhruf Ayat 43

فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

fastamsik billażī ụḥiya ilaīk, innaka ‘alā ṣirāṭim mustaqīm

43. Maka, berpegang teguhlah kepada semua yang telah diwahyukan kepadamu: sebab, perhatikanlah, engkau berada di jalan yang lurus;


Surah Az-Zukhruf Ayat 44

وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ ۖ وَسَوْفَ تُسْأَلُونَ

wa innahụ lażikrul laka wa liqaumik, wa saufa tus`alụn

44. dan, sungguh, [wahyu] ini akan menjadi [sumber] keutamaan bagimu dan kaummu:36 namun, pada waktunya, kalian semua akan diminta pertanggungjawaban [atas apa yang telah kalian lakukan terhadapnya].37


36 Mengenai penerjemahan dzikr di atas menjadi “[sumber] keutamaan” {[a source of] eminence}, lihat paruh pertama catatan no. 13 dalam Surah Al-Anbiya’ [21]: 10.

37 Maknanya adalah bahwa pada Hari Pengadilan, semua nabi akan ditanya, secara metaforis, mengenai apa jawaban yang mereka terima dari kaumnya (bdk. Surah Al-Ma’idah [5]: 109), dan orang-orang yang menyatakan diri sebagai pengikut para nabi itu akan dimintai pertanggungjawaban sehubungan dengan manfaat spiritual dan sosial yang telah mereka berikan—atau tidak mereka berikan—setelah menerima wahyu yang disampaikan kepada mereka itu: dengan demikian, “keutamaan” yang dijanjikan kepada para pengikut Nabi Muhammad Saw. akan bergantung pada perilaku aktual mereka dan bukan sekadar pada pernyataan iman (syahadat) mereka.


Surah Az-Zukhruf Ayat 45

وَاسْأَلْ مَنْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رُسُلِنَا أَجَعَلْنَا مِنْ دُونِ الرَّحْمَٰنِ آلِهَةً يُعْبَدُونَ

was`al man arsalnā ming qablika mir rusulinā a ja’alnā min dụnir-raḥmāni ālihatay yu’badụn

45. Dan [di atas segalanya,] tanyakanlah kepada siapa pun di antara rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum zamanmu38 apakah Kami pernah mengizinkan sembahan-sembahan selain Yang Maha Pengasih untuk disembah!


38 Yakni, “perhatikanlah wahyu-wahyu terdahulu dan tanyakanlah dirimu sendiri”.


Surah Az-Zukhruf Ayat 46

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ فَقَالَ إِنِّي رَسُولُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

wa laqad arsalnā mụsā bi`āyātinā ilā fir’auna wa mala`ihī fa qāla innī rasụlu rabbil-‘ālamīn

46. KARENA ITU,39 Kami sungguh telah mengutus Musa dengan membawa pesan-pesan Kami kepada Fir’aun dan para pembesarnya; dan dia berkata, “Perhatikanlah, aku adalah seorang rasul dari Pemelihara seluruh alam!”


39 Yakni, demi melaksanakan ajaran, sebagaimana yang disebutkan di atas, bahwa manusia tidak diperbolehkan menyembah siapa pun atau apa pun kecuali Allah.


Surah Az-Zukhruf Ayat 47

فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِآيَاتِنَا إِذَا هُمْ مِنْهَا يَضْحَكُونَ

fa lammā jā`ahum bi`āyātinā iżā hum min-hā yaḍ-ḥakụn

47. Akan tetapi, begitu dia datang di hadapan mereka dengan membawa tanda-tanda [mukjizat] Kami,40 lihatlah! mereka menertawakannya,


40 Lihat catatan no. 94 pada kalimat terakhir Surah Al-An’am [6]: 109.


Surah Az-Zukhruf Ayat 48

وَمَا نُرِيهِمْ مِنْ آيَةٍ إِلَّا هِيَ أَكْبَرُ مِنْ أُخْتِهَا ۖ وَأَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

wa mā nurīhim min āyatin illā hiya akbaru min ukhtihā, wa akhażnāhum bil-‘ażābi la’allahum yarji’ụn

48. meskipun masing-masing tanda yang Kami tunjukkan kepada mereka lebih berbobot dibandingkan yang sebelumnya: dan [setiap saat,] Kami hukum mereka dengan penderitaan, agar mereka dapat kembali [kepada Kami].41


41 Konsep “kembali” kepada Allah menunjukkan bahwa kemampuan naluriah untuk merasakan keberadaan-Nya sudah melekat dalam sifat manusia itu sendiri dan bahwa “berpalingnya” manusia dari Allah hanyalah merupakan konsekuensi dari kemerosotan spiritual, bukan merupakan tendensi atau kecenderungan aslinya: bdk. Surah Al-A’raf [7]: 172-173.

“Penderitaan” (‘adzab) yang disebutkan di atas berkenaan dengan wabah penyakit yang menyerang bangsa Mesir yang pembangkang itu (lihat Surah Al-A’raf [7]: 130 dst.).


Surah Az-Zukhruf Ayat 49

وَقَالُوا يَا أَيُّهَ السَّاحِرُ ادْعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِنْدَكَ إِنَّنَا لَمُهْتَدُونَ

wa qālụ yā ayyuhas-sāḥirud’u lanā rabbaka bimā ‘ahida ‘indak, innanā lamuhtadụn

49. Dan, [setiap waktu] mereka berseru, “Hai, engaku ahli sihir! Berdoalah kepada Pemeliharamu untuk kami berdasarkan janji [kenabian] yang telah Dia berikan kepadamu: sebab, sungguh, kami sekarang akan mengikuti jalan yang benar!”


Surah Az-Zukhruf Ayat 50

فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُمُ الْعَذَابَ إِذَا هُمْ يَنْكُثُونَ

fa lammā kasyafnā ‘an-humul-‘ażāba iżā hum yangkuṡụn

50. Akan tetapi, setiap Kami hilangkan penderitaan dari mereka, lihatlah! mereka memungkiri janjinya.


Surah Az-Zukhruf Ayat 51

وَنَادَىٰ فِرْعَوْنُ فِي قَوْمِهِ قَالَ يَا قَوْمِ أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَهَٰذِهِ الْأَنْهَارُ تَجْرِي مِنْ تَحْتِي ۖ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

wa nādā fir’aunu fī qaumihī qāla yā qaumi a laisa lī mulku miṣra wa hāżihil-an-hāru tajrī min taḥtī, a fa lā tubṣirụn

51. Dan, Fir’aun melontarkan suatu seruan kepada kaumnya dengan mengatakan, “Wahai, kaumku! Bukankah kekuasaan atas Mesir ini milikku, karena semua sungai ini mengalir di kakiku?42 Lalu, apakah kalian tidak dapat melihat [bahwa aku adalah tuhan kalian yang tertinggi]?


42 Lit., “di bawahku”, yakni, “dalam kekuasaanku”: merujuk kepada penerapan sistem irigasi yang bermula dari Sungai Nil dan dikendalikan oleh kekuasaan kerajaan.


Surah Az-Zukhruf Ayat 52

أَمْ أَنَا خَيْرٌ مِنْ هَٰذَا الَّذِي هُوَ مَهِينٌ وَلَا يَكَادُ يُبِينُ

am ana khairum min hāżallażī huwa mahīnuw wa lā yakādu yubīn

52. Bukankah aku lebih baik daripada orang hina ini yang nyaris tidak dapat menjelaskan maksudnya?43


43 Ini mengacu kepada kesulitan bicara yang diidap Nabi Musa (bdk. Surah Ta’Ha’ [20]: 27-28 dan catatan no. 17 yang terkait), atau mungkin mengacu kepada kandungan pesan yang disampaikan olehnya, yang dalam pandangan Fir’aun tidak cukup meyakinkan.


Surah Az-Zukhruf Ayat 53

فَلَوْلَا أُلْقِيَ عَلَيْهِ أَسْوِرَةٌ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ جَاءَ مَعَهُ الْمَلَائِكَةُ مُقْتَرِنِينَ

falau lā ulqiya ‘alaihi aswiratum min żahabin au jā`a ma’ahul-malā`ikatu muqtarinīn

53. “Lantas—mengapa tidak ada gelang emas disandingkan kepadanya?44—atau mengapa tidak ada malaikat yang datang bersamanya?”


44 Di Mesir kuno, gelang dan kalung emas dianggap sebagai simbol-simbol kebesaran kerajaan (bdk. Kitab Kejadian 41: 42), atau setidak-tidaknya dianggap menunjukkan martabat sosial yang tinggi. Tampaknya, ini menggemakan kembali keberatan yang diajukan oleh kaum musyrik terhadap Nabi Muhammad Saw. sebagaimana yang disebutkan dalam ayat 31: “Mengapa Al-Quran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari kedua kota ini?” Demikian pula halnya dengan lanjutan ayat tersebut mengenai “tiadanya malaikat” {yang mengiringi kedatangan Nabi Musa a.s.}.


Surah Az-Zukhruf Ayat 54

فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ

fastakhaffa qaumahụ fa aṭā’ụh, innahum kānụ qauman fāsiqīn

54. Maka, Fir’aun menghasut kaumnya dan mereka menaatinya: sebab, perhatikanlah, mereka adalah orang-orang yang fasik!


Surah Az-Zukhruf Ayat 55

فَلَمَّا آسَفُونَا انْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَ

fa lammā āsafụnantaqamnā min-hum fa agraqnāhum ajma’īn

55. Namun, tatkala mereka terus menantang Kami, Kami timpakan hukuman Kami terhadap mereka, dan menenggelamkan mereka semua:


Surah Az-Zukhruf Ayat 56

فَجَعَلْنَاهُمْ سَلَفًا وَمَثَلًا لِلْآخِرِينَ

fa ja’alnāhum salafaw wa maṡalal lil-ākhirīn

56. maka, Kami buat mereka menjadi sesuatu yang telah silam, dan sebagai contoh bagi orang-orang yang akan datang sesudah mereka.


Surah Az-Zukhruf Ayat 57

وَلَمَّا ضُرِبَ ابْنُ مَرْيَمَ مَثَلًا إِذَا قَوْمُكَ مِنْهُ يَصِدُّونَ

wa lammā ḍuribabnu maryama maṡalan iżā qaumuka min-hu yaṣiddụn

57. ADAPUN MANAKALA [hakikat] putra Maryam dijadikan sebagai contoh, [wahai Muhammad,] lihatlah! kaummu bersorak gembira karena hal ini,


Surah Az-Zukhruf Ayat 58

وَقَالُوا أَآلِهَتُنَا خَيْرٌ أَمْ هُوَ ۚ مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلًا ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ

wa qālū a ālihatunā khairun am huw, mā ḍarabụhu laka illā jadalā, bal hum qaumun khaṣimụn

58. dan berkata, “Manakah yang lebih baik—tuhan-tuhan kami atau dia?”45

[Akan tetapi,] hanya dengan semangat berbantahanlah, mereka mengemukakan perbandingan ini ke hadapanmu: memang, mereka adalah kaum yang suka berbantah-bantahan!46


45 Ketika mengkritik kutukan Al-Quran terhadap praktik kemusyrikan mereka yang menyembah malaikat—yang di sini mereka gambarkan sebagai “tuhan-tuhan kami”—orang-orang musyrik Quraisy menunjuk pada praktik serupa yang dilakukan orang-orang Kristen yang menyembah Yesus sebagai “anak Tuhan”, bahkan “inkarnasi Tuhan,” dan mengemukakan dalih yang kurang lebih berbunyi demikian: “Al-Quran menyatakan bahwa Isa hanyalah manusia biasa—akan tetapi, orang-orang Nasrani, yang digambarkan Al-Quran itu sendiri sebagai ‘para penganut wahyu terdahulu’ (ahl al-kitab), menganggap Isa sebagai Tuhan. Karena itu, bukankah praktik menyembah malaikat yang kami lakukan dapat lebih dibenarkan, mengingat malaikat jelas-jelas lebih unggul ketimbang sekadar manusia?” Kesalahan “argumen” ini ditunjukkan dalam lanjutan ayat di atas.

46 Karena Al-Quran mengutuk secara eksplisit, dan dalam banyak ayat, penuhanan Yesus yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani, praktik penuhanan yang tidak berdasar ini tidak dapat digunakan sebagai argumen untuk mendukung penyembahan kaum musyrik terhadap malaikat dan, dengan demikian, ini bertentangan dengan Al-Quran: dalam ungkapan Al-Zamakhsyari, argumen semacam itu sama saja dengan “menerapkan analogi yang salah pada proposisi yang salah” (qiyas bathil bi bathil).


Surah Az-Zukhruf Ayat 59

إِنْ هُوَ إِلَّا عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ وَجَعَلْنَاهُ مَثَلًا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ

in huwa illā ‘abdun an’amnā ‘alaihi wa ja’alnāhu maṡalal libanī isrā`īl

59. [Adapun Isa,] dia tidak lain hanyalah [seorang manusia—] seorang hamba Kami yang telah Kami anugerahkan kepadanya [kenabian], dan yang telah Kami jadikan teladan bagi Bani Israil.


Surah Az-Zukhruf Ayat 60

وَلَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَا مِنْكُمْ مَلَائِكَةً فِي الْأَرْضِ يَخْلُفُونَ

walau nasyā`u laja’alnā mingkum malā`ikatan fil-arḍi yakhlufụn

60. Dan, sekiranya Kami menghendaki, [wahai kalian yang menyembah malaikat,] Kami sungguh dapat membuat kalian menjadi malaikat-malaikat yang menggantikan satu sama lain di muka bumi!47


47 Ini menunjukkan bahwa tidak hanya Isa a.s. yang bukan merupakan wujud supernatural, tetapi malaikat pun hanya merupakan makhluk yang keberadaannya terbatas—sebagaimana ditunjukkan oleh frasa “menggantikan satu sama lain”—dan, karenanya, sama sekali tidak memiliki status ketuhanan (Al-Baidhawi).


Surah Az-Zukhruf Ayat 61

وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ فَلَا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ ۚ هَٰذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ

wa innahụ la’ilmul lis-sā’ati fa lā tamtarunna bihā wattabi’ụn, hāżā ṣirāṭum mustaqīm

61. DAN, PERHATIKANLAH, [kitab Ilahi] ini benar-benar merupakan suatu sarana untuk mengetahui [bahwa] Saat Terakhir [pasti datang];48 karena itu, janganlah ragu sedikit pun tentangnya, tetapi ikutilah Aku: [hanya] inilah jalan yang lurus.


48 Sementara kebanyakan mufasir menganggap kata ganti hu dalam innahu merujuk kepada Isa dan, karenanya, menafsirkan frasa di atas menjadi “dia (Isa) sesungguhnya adalah sarana untuk mengetahui [yakni, isyarat akan datangnya] Saat Terakhir”, beberapa ahli—misalnya, Qatadah, Hasan Al-Bashri, dan Sa’id ibn Jubair (yang kesemuanya dikutip oleh Al-Thabari, Al-Baghawi, dan Ibn Katsir)—mengaitkan kata ganti tersebut dengan Al-Quran sehingga memahami frasa di atas dalam pengertian seperti yang saya pilih dalam terjemahan di atas. Frasa “Saat Terakhir” yang disebutkan secara khusus dalam konteks di atas dimaksudkan untuk menekankan tanggung jawab final manusia di hadapan Sang Pencipta dan, karena itu , menekankan fakta bahwa peribadatan merupakan hak-Nya semata: dengan demikian, pasase sisipan ini mengalir logis setelah ayat sebelumnya menyebutkan tentang kekeliruan praktik penuhanan Isa.


Surah Az-Zukhruf Ayat 62

وَلَا يَصُدَّنَّكُمُ الشَّيْطَانُ ۖ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

wa lā yaṣuddannakumusy-syaiṭān, innahụ lakum ‘aduwwum mubīn

62. Dan, jangan biarkan setan menghalangi kalian [dari jalan yang lurus itu]—sebab, sungguh, dia adalah musuh kalian yang nyata!


Surah Az-Zukhruf Ayat 63

وَلَمَّا جَاءَ عِيسَىٰ بِالْبَيِّنَاتِ قَالَ قَدْ جِئْتُكُمْ بِالْحِكْمَةِ وَلِأُبَيِّنَ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي تَخْتَلِفُونَ فِيهِ ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ

wa lammā jā`a ‘īsā bil-bayyināti qāla qad ji`tukum bil-ḥikmati wa li`ubayyina lakum ba’ḍallażī takhtalifụna fīh, fattaqullāha wa aṭī’ụn

63. ADAPUN TATKALA Isa datang [kepada umatnya] dengan membawa semua bukti kebenaran, dia berkata, “Sekarang aku datang kepada kalian membawa hikmah,49 dan menjelaskan kepada kalian sebagian hal yang kalian perselisihkan:50 karena itu, sadarlah akan Allah dan taatlah kepadaku.


49 Yakni, wahyu Ilahi.

50 Menurut Al-Thabari, pembatasan “sebagian hal …” dst. berhubungan dengan masalah kepercayaan dan moral saja, karena masalah yang berhubungan dengan kehidupan duniawi kaumnya bukan merupakan bagian dari misi Nabi Isa a.s. Pernyataan ini bertepatan dengan citra Yesus sebagaimana yang terdapat dalam deskripsi (yang diakui bersifat fragmenter saja) mengenai ajaran-ajarannya yang sampai kepada kita dalam Injil Sinoptik.

{Injil Sinoptik mencakup tiga Kitab Injil pertama dalam Kitab Perjanjian Baru, yakni Injil Matius, Injil Markus, dan Injil Lukas. Ketiga Injil ini mengisahkan kehidupan dan ajaran Yesus dari sudut pandang yang serupa dan memiliki kemiripan struktur. Injil Yohanes—Injil resmi keempat yang diakui Gereja—mengisahkan banyak episode kehidupan Yesus yang tidak disebutkan dalam tiga Injil yang pertama, sehingga menjadikan Injil ini unik.—peny.}


Surah Az-Zukhruf Ayat 64

إِنَّ اللَّهَ هُوَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۚ هَٰذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ

innallāha huwa rabbī wa rabbukum fa’budụh, hāżā ṣirāṭum mustaqīm

64. “Sungguh, Allah adalah Pemeliharaku dan Pemelihara kalian; maka sembahlah Dia [saja]: [hanya] inilah jalan yang lurus!”


Surah Az-Zukhruf Ayat 65

فَاخْتَلَفَ الْأَحْزَابُ مِنْ بَيْنِهِمْ ۖ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْ عَذَابِ يَوْمٍ أَلِيمٍ

fakhtalafal-aḥzābu mim bainihim, fa wailul lillażīna ẓalamụ min ‘ażābi yaumin alīm

65. Akan tetapi, kelompok-kelompok di antara mereka [yang datang setelah Isa] mulai bersilang pendapat:51 maka, celakalah bagi orang-orang yang berkukuh melakukan kezaliman—[celakalah] karena penderitaan [yang akan menimpa mereka] pada Hari yang memilukan!


51 Yakni, secara tersirat, mengenai hakikat Isa dan tentang tidak diperbolehkannya menyembah siapa pun kecuali Allah: ini mengacu kepada perkembangan yang selanjutnya terjadi dalam agama Kristen.


Surah Az-Zukhruf Ayat 66

هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا السَّاعَةَ أَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

hal yanẓurụna illas-sā’ata an ta`tiyahum bagtataw wa hum lā yasy’urụn

66. APAKAH MEREKA [yang tenggelam dalam dosa] itu hanya menanti datangnya Saat Terakhir—[menantikan] ia datang kepada mereka secara tiba-tiba, tanpa mereka menyadari [kedatangannya]?


Surah Az-Zukhruf Ayat 67

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

al-akhillā`u yauma`iżim ba’ḍuhum liba’ḍin ‘aduwwun illal-muttaqīn

67. Pada Hari itu, [yang dahulunya merupakan] kawan akan menjadi musuh satu sama lain52—[semuanya] kecuali orang-orang yang sadar akan Allah.


52 Yakni, mereka akan saling membenci—pihak yang satu karena menyadari bahwa mereka telah disesatkan oleh orang-orang yang dahulunya adalah teman-teman mereka sendiri, sedangkan pihak yang lain karena melihat bahwa mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas dosa-dosa orang yang telah mereka sesatkan.


Surah Az-Zukhruf Ayat 68

يَا عِبَادِ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ وَلَا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ

yā ‘ibādi lā khaufun ‘alaikumul-yauma wa lā antum taḥzanụn

68. [Dan, Allah akan berfirman,] “Wahai, kalian hamba-hamba-Ku! Kalian tidak perlu takut pada hari ini, dan tidak perlu pula kalian bersedih hati—


Surah Az-Zukhruf Ayat 69

الَّذِينَ آمَنُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا مُسْلِمِينَ

allażīna āmanụ bi`āyātinā wa kānụ muslimīn

69. [Wahai, kalian] yang telah meraih iman kepada pesan-pesan Kami dan telah berserah diri kepada Kami!


Surah Az-Zukhruf Ayat 70

ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُونَ

udkhulul-jannata antum wa azwājukum tuḥbarụn

70. Masuklah ke dalam surga, kalian dan pasangan kalian, dengan kegembiraan yang menyenangkan!”


Surah Az-Zukhruf Ayat 71

يُطَافُ عَلَيْهِمْ بِصِحَافٍ مِنْ ذَهَبٍ وَأَكْوَابٍ ۖ وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ ۖ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

yuṭāfu ‘alaihim biṣiḥāfim min żahabiw wa akwāb, wa fīhā mā tasytahīhil-anfusu wa talażżul-a’yun, wa antum fīhā khālidụn

71. [Dan, di sana] mereka akan dilayani dengan nampan-nampan dan piala-piala emas; dan di sana akan ditemukan segala yang diinginkan oleh jiwa dan [segala yang] menyenangkan dipandang mata.

Dan, di dalamnya kalian akan berkediaman, [wahai kalian yang beriman:]


Surah Az-Zukhruf Ayat 72

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

wa tilkal-jannatullatī ụriṡtumụhā bimā kuntum ta’malụn

72. sebab, itulah surga yang akan diwariskan kepada kalian berkat perbuatan-perbuatan kalian di masa lalu:


Surah Az-Zukhruf Ayat 73

لَكُمْ فِيهَا فَاكِهَةٌ كَثِيرَةٌ مِنْهَا تَأْكُلُونَ

lakum fīhā fākihatung kaṡīratum min-hā ta`kulụn

73. buah-buah [perbuatan itu] akan kalian miliki secara berlimpah, [dan] darinyalah kalian akan makan!


Surah Az-Zukhruf Ayat 74

إِنَّ الْمُجْرِمِينَ فِي عَذَابِ جَهَنَّمَ خَالِدُونَ

innal-mujrimīna fī ‘ażābi jahannama khālidụn

74. [Namun,] perhatikanlah, orang-orang yang tenggelam dalam dosa akan berkediaman di dalam derita neraka:53


53 Yakni, sepanjang periode yang tidak ditentukan: lihat paragraf terakhir Surah Al-An’am [6]: 128 dan catatan no. 114 yang terkait, serta sabda Nabi yang dikutip dalam catatan no. 10 pada Surah Ghafir [40]: 12, yang menunjukkan bahwa—sesuai dengan pernyataan Al-Quran, “Allah telah menetapkan atas diri-Nya hukum rahmat dan belas kasih” (Surah Al-An’am [6]: 12 dan 54)—penderitaan dalam alam akhirat yang digambarkan sebagai “neraka” itu tidak akan berlangsung takterbatas. Di antara para ulama kalam yang menganut pandangan ini adalah Al-Razi, yang dalam tafsirnya terhadap ayat di atas menekankan bahwa ungkapan “mereka akan berkediaman (khalidun) di dalam derita neraka” sekadar menunjukkan suatu jangka waktu yang tidak ditentukan, jadi “tidak mencakup pengertian kekekalan” (la yufidu al-dawam).


Surah Az-Zukhruf Ayat 75

لَا يُفَتَّرُ عَنْهُمْ وَهُمْ فِيهِ مُبْلِسُونَ

lā yufattaru ‘an-hum wa hum fīhi mublisụn

75. derita itu tidak akan diringankan bagi mereka; dan di dalamnya mereka akan tenggelam dalam keputusasaan.


Surah Az-Zukhruf Ayat 76

وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا هُمُ الظَّالِمِينَ

wa mā ẓalamnāhum wa lāking kānụ humuẓ-ẓālimīn

76. Dan, bukanlah Kami yang akan menzalimi mereka, melainkan merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.


Surah Az-Zukhruf Ayat 77

وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ ۖ قَالَ إِنَّكُمْ مَاكِثُونَ

wa nādau yā māliku liyaqḍi ‘alainā rabbuk, qāla innakum mākiṡụn

77. Dan, mereka akan berseru, “Wahai, engkau [malaikat] yang menguasai [neraka]! Biarkanlah Pemeliharamu menghabisi (hidup) kami!”—[kemudian] dia akan menjawab, “Sungguh, kalian harus tetap bertahan hidup [dalam keadaan ini] ….“


Surah Az-Zukhruf Ayat 78

لَقَدْ جِئْنَاكُمْ بِالْحَقِّ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَكُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُونَ

laqad ji`nākum bil-ḥaqqi wa lākinna akṡarakum lil-ḥaqqi kārihụn

78. SESUNGGUHNYA, [wahai kalian para pendosa,] Kami telah menyampaikan kebenaran kepada kalian; akan tetapi, kebanyakan kalian membenci kebenaran itu.54


54 Sebagaimana terlihat jelas dari ayat 81 dst. di atas, ini merujuk kepada kebenaran mengenai keesaan dan keunikan Tuhan, kebenaran yang ditolak oleh mereka yang memercayai Isa sebagai “anak Tuhan”: dengan demikian, pembahasan di sini kembali pada masalah “hakikat” Isa yang telah disinggung dalam ayat 57-65.


Surah Az-Zukhruf Ayat 79

أَمْ أَبْرَمُوا أَمْرًا فَإِنَّا مُبْرِمُونَ

am abramū amran fa innā mubrimụn

79. Mengapa—dapatkah mereka [yang mengingkari kebenaran itu sekali-kali] menetapkan apa [kebenaran] itu semestinya?55


55 Verba barama atau abrama secara literal berarti “dia menjalin” atau “memilin [sesuatu] menjadi satu”, misalnya, memilin benang untuk membuat tali; atau “dia memilin [sesuatu] dengan baik” atau “kuat-kuat”. Secara kiasan, kata itu berarti “menetapkan” atau “menentukan” sesuatu, proposisi, alur peristiwa, dan lain sebagainya (Jauhari). Menurut Lisan Al-‘Arab, frasa abrama al-amr berarti “dia menetapkan (ahkama) kasus tersebut”. Dalam konteks ayat ini, istilah amr, yang dituliskan tanpa kata sandang penentu {lam al-ta’rif}, menunjukkan “apa saja” atau—dalam pengertiannya yang terluas—”apa saja yang semestinya” [atau “mungkin”]: jadi, dengan mempertimbangkan ayat sebelumnya, kita sampai pada pengertian frasa itu sebagai “menetapkan apakah [kebenaran itu] yang semestinya” yang dilakukan secara arbitrer—yakni, berlawanan dengan apa yang ditegaskan Al-Quran sebagai kebenaran.


Surah Az-Zukhruf Ayat 80

أَمْ يَحْسَبُونَ أَنَّا لَا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ ۚ بَلَىٰ وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُونَ

am yaḥsabụna annā lā nasma’u sirrahum wa najwāhum, balā wa rusulunā ladaihim yaktubụn

80. Ataukah, mungkin, mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar pikiran tersembunyi dan pembicaraan-pembicaraan rahasia mereka?56

Memang, sungguh, [Kami mendengar,] dan kekuatan-kekuatan samawi Kami57 bersama mereka, mencatat [semua].


56 Kemungkinan besar ini merujuk kepada perdebatan tajam yang sudah berlangsung selama berabad-abad di kalangan orang-orang Kristen tentang masalah apakah Isa adalah “anak Tuhan” dan, karenanya, bersifat Ilahi. Perdebatan itu sering dipengaruhi oleh kecenderungan bawah sadar dari sebagian pemikir Kristen awal terhadap kultus dan konsep kuno, yang sebagian besarnya bersifat Mithraistik, yang pada awalnya sangat ditentang oleh para teolog unitarian—yang paling terkenal di antaranya adalah Arius, Uskup Aleksandria (sekitar 280-336 M). Namun, melalui Konsili Nicea (325 M) yang dimotivasi oleh faktor-faktor politik, pandangan-pandangan kaum Arian—yang hingga saat itu amat banyak dianut oleh mayoritas orang Kristen yang fasih—dituduh sebagai “bid’ah”, dan selanjutnya doktrin tentang ketuhanan Kristus secara resmi dirumuskan dalam apa yang disebut sebagai Kredo Nicea dan menjadi dasar iman Kristen. (Lihat juga catatan no. 60 berikutnya.)

57 Lit., “utusan-utusan Kami”, yakni, para malaikat.


Surah Az-Zukhruf Ayat 81

قُلْ إِنْ كَانَ لِلرَّحْمَٰنِ وَلَدٌ فَأَنَا أَوَّلُ الْعَابِدِينَ

qul ing kāna lir-raḥmāni waladun fa ana awwalul-‘ābidīn

81. Katakanlah [wahai Nabi]: “Jika Yang Maha Pengasih [benar-benar] mempunyai putra, akulah yang akan menjadi orang pertama yang menyembahnya!”


Surah Az-Zukhruf Ayat 82

سُبْحَانَ رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

sub-ḥāna rabbis-samāwāti wal-arḍi rabbil-‘arsyi ‘ammā yaṣifụn

82. Mahasuci Dia, dalam kemuliaan-Nya, Sang Pemelihara lelangit dan bumi—Sang Pemelihara yang bersinggasana dalam kemahakuasaan58—dari definisi apa pun yang mungkin mereka nisbahkan kepada-Nya!59


58 Bdk. anak kalimat terakhir dalam Surah At-Taubah [9] dan catatan no. 171 yang terkait.

59 Lihat catatan no. 88 pada kalimat terakhir Surah Al-An’am [6]: 100.


Surah Az-Zukhruf Ayat 83

فَذَرْهُمْ يَخُوضُوا وَيَلْعَبُوا حَتَّىٰ يُلَاقُوا يَوْمَهُمُ الَّذِي يُوعَدُونَ

fa żar-hum yakhụḍụ wa yal’abụ ḥattā yulāqụ yaumahumullażī yụ’adụn

83. Namun, biarkanlah mereka tenggelam dalam pembicaraan dan permainan [kata-kata] yang sia-sia60 hingga mereka menghadapi Hari [Pengadilan] mereka yang telah dijanjikan kepada mereka:


60 Tampaknya ini mengacu kepada kepelikan verbal yang terdapat dalam Kredo Nicea*, khususnya pernyataan “Yesus Kristus, Anak Tuhan. Ia dilahirkan, bukan dijadikan [yakni, tidak diciptakan], oleh Sang Bapak sebagai Anak-Nya yang tunggal, sehakikat dengan Sang Bapak, Tuhan segala tuhan …”, dst.

* {Nicea adalah sebuah kota yang sekarang terletak di wilayah Turki. Pada 325 M, Kaisar Romawi, Konstantin yang Agung, mengadakan sidang di kota ini untuk menyelesaikan perselisihan mengenai hakikat Yesus. Dari 1.800 uskup di seluruh Kekaisaran Romawi, 318 menghadiri sidang ini yang akhirnya menetapkan Kredo Nicea yang disebutkan di atas sebagai pandangan resmi Gereja terhadap Yesus.—peny.}


Surah Az-Zukhruf Ayat 84

وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَٰهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَٰهٌ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ

wa huwallażī fis-samā`i ilāhuw wa fil-arḍi ilāh, wa huwal-ḥakīmul-‘alīm

84. sebab, [pada saat itulah mereka akan mengetahui bahwa hanya] Dia-lah Tuhan di langit dan Tuhan di bumi dan [bahwa] Dia sajalah Yang Mahabijaksana, Maha Mengetahui.


Surah Az-Zukhruf Ayat 85

وَتَبَارَكَ الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَعِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

wa tabārakallażī lahụ mulkus-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumā, wa ‘indahụ ‘ilmus-sā’ah, wa ilaihi turja’ụn

85. Dan Mahasuci Dia, Pemilik kekuasaan atas lelangit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya; dan di sisi-Nya-lah pengetahuan tentang Saat Terakhir dan kepada-Nya-lah kalian semua akan dikembalikan!


Surah Az-Zukhruf Ayat 86

وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

wa lā yamlikullażīna yad’ụna min dụnihisy-syafā’ata illā man syahida bil-ḥaqqi wa hum ya’lamụn

86. Dan, [wujud-wujud] yang diseru oleh sebagian orang di samping Allah itu61 tidak memiliki kekuasaan untuk memberi syafaat [pada Hari Pengadilan] bagi siapa pun, kecuali (bagi) orang-orang yang [dalam hidupnya] menyaksikan kebenaran dan mengetahui [bahwa Allah itu esa dan unik].62


61 Merujuk kepada orang-orang suci atau para nabi yang secara keliru dipertuhankan dan, khususnya (mengingat konteks pasase ini), merujuk kepada Nabi Isa.

62 Untuk penjelasan mengenai konsep Al-Quran tentang “syafaat”, lihat Surah Yunus [10]: 3-“Tiada seorang pun dapat memberi syafaat, kecuali kalau Dia mengizinkannya”—dan catatan no. 7 yang terkait.

Sisipan “bahwa Allah itu esa dan unik” yang saya masukkan pada akhir ayat di atas didasarkan pada penafsiran Al-Razi terhadap pasase ini, yang mengisyaratkan bahwa “menyaksikan kebenaran” secara lisan saja tidaklah berguna jika ia tidak lahir dari kesadaran batin akan keesaan dan keunikan Tuhan.


Surah Az-Zukhruf Ayat 87

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

wa la`in sa`altahum man khalaqahum layaqụlunnallāhu fa annā yu`fakụn

87. Adapun jika engkau bertanya kepada mereka [yang menyembah wujud mana pun selain Allah] tentang siapa yang telah menciptakan mereka, mereka pasti akan menjawab, “Allah”. Maka, betapa menyimpangnya pikiran mereka!


Surah Az-Zukhruf Ayat 88

وَقِيلِهِ يَا رَبِّ إِنَّ هَٰؤُلَاءِ قَوْمٌ لَا يُؤْمِنُونَ

wa qīlihī yā rabbi inna hā`ulā`i qaumul lā yu`minụn

88. [Akan tetapi, Allah Maha Mengetahui orang yang benar-benar beriman63] dan seruannya [yang diliputi keputusasaan], “Wahai, Pemeliharaku! Sungguh, mereka ini adalah orang-orang yang tidak akan beriman!”


63 Al-Razi (yang penafsirannya menjadi dasar bagi sisipan di atas) menganggap bahwa ayat ini merujuk kepada Nabi Muhammad Saw. Namun, tampaknya, makna ayat itu lebih luas, yakni mencakup setiap orang beriman, dari mana pun golongannya, yang bersedih hati menyaksikan kekeliruan orang-orang yang menisbahkan ketuhanan atau sifat-sifat ketuhanan kepada wujud apa pun selain Tuhan sendiri.


Surah Az-Zukhruf Ayat 89

فَاصْفَحْ عَنْهُمْ وَقُلْ سَلَامٌ ۚ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

faṣfaḥ ‘an-hum wa qul salām, fa saufa ya’lamụn

89. Namun, tabahlah engkau menghadapi mereka dan katakan: “Damai [semoga tercurah atas kalian]!”—karena kelak mereka akhirnya akan mengetahui [kebenaran].


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top