51. Az-Zariyat (Angin yang Menerbangkan Debu) – الذاريات

Surat Az-Zariyat dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Az-Zariyat ( الذاريات ) merupakan surat ke 51 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 60 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Az-Zariyat tergolong Surat Makkiyah.

Nama surah ini—yang menurut Al-Suyuthi diwahyukan sekitar dua tahun sebelum Nabi hijrah ke Madinah—didasarkan pada kata al-dzariyat yang muncul pada ayat pertama.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Az-Zariyat Ayat 1

وَالذَّارِيَاتِ ذَرْوًا

waż-żāriyāti żarwā

1. PERHATIKANLAH angin yang menerbangkan debu sampai jauh ke segala penjuru,


Surah Az-Zariyat Ayat 2

فَالْحَامِلَاتِ وِقْرًا

fal-ḥāmilāti wiqrā

2. dan yang membawa beban [awan-awan tebal] itu,


Surah Az-Zariyat Ayat 3

فَالْجَارِيَاتِ يُسْرًا

fal-jāriyāti yusrā

3. dan yang bergerak cepat dengan mudah dan lancar,


Surah Az-Zariyat Ayat 4

فَالْمُقَسِّمَاتِ أَمْرًا

fal-muqassimāti amrā

4. dan yang membagi-bagi [anugerah kehidupan] menurut perintah [Allah]!1


1 Keterangan-keterangan simbolis ini, yang terdiri dari partisip-partisip adjektival tanpa menyebutkan nomina-nomina yang diterangkannya, telah ditafsirkan dengan berbagai cara oleh para mufasir terdahulu; namun, karena terdapat kesepakatan pendapat mengenai makna partisip al-dzariyat yang muncul pada awal ayat, yakni “angin yang menerbangkan debu”, kita dapat berasumsi bahwa ketiga partisip lainnya mengacu pada sejumlah fase atau manifestasi yang berbeda-beda dari fenomena yang sama (Al-Razi)—yaitu, mengacu pada peranan yang dimainkan oleh kombinasi angin, awan, dan hujan sebagai fungsi pemberi-kehidupan—jadi, secara simbolis, menunjuk pada proses kreasi kehidupan itu sendiri yang sangat menakjubkan dan, karenanya, menunjuk pada keberadaan Sang Pencipta yang sadar dan memiliki tujuan.


Surah Az-Zariyat Ayat 5

إِنَّمَا تُوعَدُونَ لَصَادِقٌ

innamā tụ’adụna laṣādiq

5. Sungguh, apa yang dijanjikan kepada kalian2 pasti benar,


2 Yakni, hidup sesudah mati.


Surah Az-Zariyat Ayat 6

وَإِنَّ الدِّينَ لَوَاقِعٌ

wa innad-dīna lawāqi’

6. dan sungguh, pengadilan pasti akan datang!


Surah Az-Zariyat Ayat 7

وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْحُبُكِ

was-samā`i żātil-ḥubuk

7. PERHATIKANLAH angkasa yang sarat dengan garis-garis edar bintang-gemintang!3


3 Yakni, “renungkanlah Sang Pencipta alam raya yang menakjubkan ini dan—karena itu—pikirkanlah tanggung jawab kalian kepada-Nya”.


Surah Az-Zariyat Ayat 8

إِنَّكُمْ لَفِي قَوْلٍ مُخْتَلِفٍ

innakum lafī qaulim mukhtalif

8. Sungguh, [wahai manusia,] kalian benar-benar berselisih mengenai apa yang harus diimani:4


4 Lit., “kalian benar-benar berada dalam perselisihan pendapat (qaul)”, yakni, mengenai adanya kehidupan setelah mati, adanya Allah, ataupun mengenai kebenaran-kebenaran yang terdapat dalam wahyu Ilahi, dan sebagainya.


Surah Az-Zariyat Ayat 9

يُؤْفَكُ عَنْهُ مَنْ أُفِكَ

yu`faku ‘an-hu man ufik

9. menjadi menyimpanglah pandangan-pandangannya tentang hal itu, orang yang menipu dirinya sendiri!5


5 Lit., “dipalingkan menyimpang dari [kebenaran] ini, orang yang dibuat mendustakan”—atau, menurut Taj Al-‘Arus, “orang yang akal dan pikirannya menyimpang”, yakni, orang-orang yang secara apriori cenderung menipu dirinya sendiri: ini menunjukkan bahwa iman kepada Allah dan, karenanya, iman kepada Hari Akhir merupakan hal yang inheren dalam pikiran dan perasaan manusia, serta menunjukkan bahwa, oleh karena itu, meninggalkan kepercayaan ini tidak lain merupakan akibat dari penyimpangan intelektual.


Surah Az-Zariyat Ayat 10

قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ

qutilal-kharrāṣụn

10. Mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri,6 mereka yang cenderung menduga-duga apa yang tidak dapat mereka pastikan7


6 Untuk penerjemahan ungkapan qutila ini, lihat catatan no. 9 pada Surah Al-Muddatstsir [74]: 19.

7 Demikianlah Taj Al-‘Arus menjelaskan makna yang lebih dalam dari istilah al-kharrashun di atas. “Apa yang tidak dapat mereka pastikan”, dalam konteks ini, sama artinya dengan al-ghaib, “realitas yang melampaui jangkauan pemahaman manusia.”


Surah Az-Zariyat Ayat 11

الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ

allażīna hum fī gamratin sāhụn

11. orang-orang yang terombang ambing, tenggelam dalam kebodohan—


Surah Az-Zariyat Ayat 12

يَسْأَلُونَ أَيَّانَ يَوْمُ الدِّينِ

yas`alụna ayyāna yaumud-dīn

12. mereka yang bertanya [dengan mengejek], “Bilakah Hari Pengadilan itu?”


Surah Az-Zariyat Ayat 13

يَوْمَ هُمْ عَلَى النَّارِ يُفْتَنُونَ

yauma hum ‘alan-nāri yuftanụn

13. [Hari Pengadilan itu adalah] suatu Hari ketika mereka benar-benar dicoba oleh api,8


8 “Cobaan/ujian (trial, fitnah) oleh api” ini sejalan dengan beberapa keterangan Al-Quran yang mengisyaratkan bahwa penderitaan di akhirat yang digambarkan sebagai “neraka” itu tidak akan bersifat kekal: berkaitan dengan hal ini, lihat catatan no. 114 pada Surah Al-An’am [6]: 128, catatan no. 10 pada Surah Ghafir [40]: 12, dan catatan no. 53 pada Surah Az-Zukhruf [43]: 74.


Surah Az-Zariyat Ayat 14

ذُوقُوا فِتْنَتَكُمْ هَٰذَا الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تَسْتَعْجِلُونَ

żụqụ fitnatakum, hāżallażī kuntum bihī tasta’jilụn

14. [dan akan dikatakan:] “Rasakanlah cobaan kalian ini! Inilah dia yang dahulu kalian minta dengan tergesa-gesa!”9


9 Ini merujuk pada tuntutan sarkastik mereka dahulu, agar dihukum karena menolak pesan-pesan Al-Quran: bdk. Surah Al-An’am [6]: 57-58 dan Surah Al-Anfal [8]: 32.


Surah Az-Zariyat Ayat 15

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ

innal-muttaqīna fī jannātiw wa ‘uyụn

15. [Namun,] perhatikanlah, orang-orang yang sadar akan Allah akan mendapati diri mereka di dalam taman-taman dan mata air-mata air,


Surah Az-Zariyat Ayat 16

آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُحْسِنِينَ

ākhiżīna mā ātāhum rabbuhum, innahum kānụ qabla żālika muḥsinīn

16. menikmati semua yang Allah anugerahkan kepada mereka [karena], sungguh, mereka adalah orang-orang yang melakukan kebaikan pada masa silam:10


10 Lit., “sebelum [Hari] itu”.


Surah Az-Zariyat Ayat 17

كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ

kānụ qalīlam minal-laili mā yahja’ụn

17. (yaitu,) mereka sedikit sekali berbaring tidur pada waktu malam,


Surah Az-Zariyat Ayat 18

وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

wa bil-as-ḥāri hum yastagfirụn

18. dan berdoa memohon ampunan dari lubuk hati mereka yang terdalam;11


11 Lihat catatan no. 10 pada Surah Al-‘lmran [3]: 17.


Surah Az-Zariyat Ayat 19

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

wa fī amwālihim ḥaqqul lis-sā`ili wal-maḥrụm

19. dan pada segala yang mereka miliki, [mereka menetapkan] bagian tertentu bagi orang yang mungkin meminta [pertolongan] dan orang yang mungkin berkekurangan.12


12 Yakni, secara tersirat, “tapi tidak dapat meminta”—dan ini berlaku untuk semua makhluk hidup, baik manusia maupun binatang yang tidak mengeluarkan suara (Al-Razi), terlepas apakah kebutuhannya bersifat fisik atau emosional.


Surah Az-Zariyat Ayat 20

وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ

wa fil-arḍi āyātul lil-mụqinīn

20. DAN, DI MUKA BUMI terdapat tanda-tanda [keberadaan Allah, yang dapat dilihat] bagi orang-orang yang dianugerahi keteguhan batin,


Surah Az-Zariyat Ayat 21

وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

wa fī anfusikum, a fa lā tubṣirụn

21. persis sebagaimana [terdapat pula tanda-tanda keberadaan Allah] pada diri kalian sendiri:13 maka, tidak dapatkah kalian melihat?


13 Lihat catatan no. 3 pada Surah Al-Jatsiyah [45]: 4.


Surah Az-Zariyat Ayat 22

وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ

wa fis-samā`i rizqukum wa mā tụ’adụn

22. Dan, di langit terdapat [sumber] rezeki kalian [di muka bumi]14 dan [sumber dari] segala yang dijanjikan kepada kalian [untuk kehidupan setelah mati]:


14 Yakni, yang bersifat fisik (hujan) maupun spiritual (kebenaran dan petunjuk).


Surah Az-Zariyat Ayat 23

فَوَرَبِّ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّهُ لَحَقٌّ مِثْلَ مَا أَنَّكُمْ تَنْطِقُونَ

fa wa rabbis-samā`i wal-arḍi innahụ laḥaqqum miṡla mā annakum tanṭiqụn

23. sebab, demi Pemelihara langit dan bumi, [kehidupan setelah mati] ini adalah kebenaran yang sejati—sama benarnya sebagaimana kalian dianugerahi kemampuan berbicara!15


15 Lit., “sama seperti kalian berbicara” atau “mampu berbicara”: secara tidak langsung, ini mengacu pada kemampuan manusia untuk berpikir secara konseptual dan mengekspresikan diri—yakni, mengacu pada sesuatu yang benar-benar disadarinya secara aksiomatis.


Surah Az-Zariyat Ayat 24

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ

hal atāka ḥadīṡu ḍaifi ibrāhīmal-mukramīn

24. APAKAH TELAH SAMPAI kepadamu kisah tentang tamu-tamu Ibrahim yang dimuliakan?16


16 Kisah ini (serta keterangan berikutnya tentang apa yang terjadi pada kaum Nabi Luth a.s., suku ‘Ad dan Tsamud, Nabi Musa a.s. dan pengikut Fir’aun, serta umat Nabi Nuh a.s.) berkaitan dengan rujukan sebelumnya terhadap “tanda-tanda”—baik yang kasatmata maupun yang konseptual—yang menunjukkan eksistensi dan kemahakuasaan Allah serta kausalitas moral yang bersifat tetap, yang digambarkan dalam Al-Quran sebagai “ketetapan Allah” (sunnat Allah). Kisah mengenai tamu-tamu Nabi Ibrahim a.s. juga terdapat dalam Surah Hud [11]: 69 dst. dan—dalam versi yang agak lebih singkat—dalam Surah Al-Hijr [15]: 51 dst.


Surah Az-Zariyat Ayat 25

إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا ۖ قَالَ سَلَامٌ قَوْمٌ مُنْكَرُونَ

iż dakhalụ ‘alaihi fa qālụ salāmā, qāla salām, qaumum mungkarụn

25. Ketika mereka [utusan-utusan samawi itu] mendatanginya dan mengucapkan salam damai kepadanya, Ibrahim menjawab, “[Dan] salam damai [semoga tercurah kepada kalian]!”—[seraya berkata kepada dirinya sendiri,] “Mereka adalah orang-orang asing.”17


17 Lit., “orang-orang yang tidak dikenal”—yakni, dia tidak menyadari bahwa mereka adalah malaikat.


Surah Az-Zariyat Ayat 26

فَرَاغَ إِلَىٰ أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ

fa rāga ilā ahlihī fa jā`a bi’ijlin samīn

26. Lalu dia pergi diam-diam menemui keluarganya, dan membawa anak sapi [panggang] yang gemuk,


Surah Az-Zariyat Ayat 27

فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ

fa qarrabahū ilaihim, qāla alā ta`kulụn

27. dan menghidangkannya di hadapan mereka, seraya berkata, “Tidakkah kalian hendak makan?”


Surah Az-Zariyat Ayat 28

فَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً ۖ قَالُوا لَا تَخَفْ ۖ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ

fa aujasa min-hum khīfah, qālụ lā takhaf, wa basysyarụhu bigulāmin ‘alīm

28. [Dan tatkala dia melihat bahwa tamu-tamu itu tidak hendak makan,] dia menjadi khawatir terhadap mereka;18 [tetapi] mereka berkata, “Jangan Takut”—dan mereka memberinya kabar gembira tentang [kelahiran] seorang putra yang akan dianugerahi dengan pengetahuan yang dalam.19


18 Lihat catatan no. 101 pada Surah Hud [11]: 70.

19 Yakni, akan diangkat sebagai nabi (bdk. Surah Al-Hijr [15]: 53).


Surah Az-Zariyat Ayat 29

فَأَقْبَلَتِ امْرَأَتُهُ فِي صَرَّةٍ فَصَكَّتْ وَجْهَهَا وَقَالَتْ عَجُوزٌ عَقِيمٌ

fa aqbalatimra`atuhụ fī ṣarratin fa ṣakkat waj-hahā wa qālat ‘ajụzun ‘aqīm

29. Kemudian istrinya mendekati [tamu-tamu itu] dengan berteriak, dan menepuk mukanya [karena tercengang] dan berseru, “Seorang perempuan tua yang mandul [seperti aku]!”


Surah Az-Zariyat Ayat 30

قَالُوا كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِ ۖ إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ

qālụ każāliki qāla rabbuk, innahụ huwal-ḥakīmul-‘alīm

30. Mereka menjawab, “Demikianlah Pemeliharamu telah menetapkan; dan sungguh, Dia sajalah Yang Mahabijaksana, Maha Mengetahui!”


Surah Az-Zariyat Ayat 31

قَالَ فَمَا خَطْبُكُمْ أَيُّهَا الْمُرْسَلُونَ

qāla fa mā khaṭbukum ayyuhal-mursalụn

31. Berkata [Ibrahim], “Dan apakah [lagi] tujuan kalian, wahai para utusan [samawi]?”


Surah Az-Zariyat Ayat 32

قَالُوا إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَىٰ قَوْمٍ مُجْرِمِينَ

qālū innā ursilnā ilā qaumim mujrimīn

32. Mereka menjawab, “Perhatikanlah, kami diutus kepada kaum yang tenggelam dalam dosa,20


20 Yakni, kaum Nabi Luth a.s.


Surah Az-Zariyat Ayat 33

لِنُرْسِلَ عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِنْ طِينٍ

linursila ‘alaihim ḥijāratam min ṭīn

33. agar mengirimkan kepada mereka serangan-serangan hukuman sekeras batu,21


21 Lit., “batu-batu dari tanah liat”—kata “tanah” (thin), menurut Al-Zamakhsyari, sama dengan kata sijjil yang disebutkan dalam Surah Hud [11]: 82 dan yang secara tentatif dijelaskan dalam catatannya yang terkait (no. 114) sebagai “hukuman yang telah ditakdirkan sebelumnya”.


Surah Az-Zariyat Ayat 34

مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ لِلْمُسْرِفِينَ

musawwamatan ‘inda rabbika lil-musrifīn

34. yang ditandai dalam pandangan Pemeliharamu untuk [menghukum] orang-orang yang membuang-buang dirinya sendiri.22


22 Mengenai penjelasan tentang penerjemahan musrifin ini, lihat catatan no. 21 pada Surah Yunus [10]: 12.


Surah Az-Zariyat Ayat 35

فَأَخْرَجْنَا مَنْ كَانَ فِيهَا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

fa akhrajnā mang kāna fīhā minal-mu`minīn

35. Dan, seiring berjalannya waktu,23 Kami keluarkan [dari kota Luth] orang-orang beriman yang ada di sana [yang jumlahnya sedikit]:


23 Lit., “Dan kemudian”, yakni, setelah peristiwa-peristiwa yang digambarkan dalam Surah Hud [11]: 77 dst. dan Al-Hijr [15]: 61 dst.


Surah Az-Zariyat Ayat 36

فَمَا وَجَدْنَا فِيهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

fa mā wajadnā fīhā gaira baitim minal-muslimīn

36. sebab, Kami tidak mendapati di sana orang yang berserah diri kepada Kami, kecuali satu rumah [saja]24.


24 Yakni, keluarga Nabi Luth a.s.


Surah Az-Zariyat Ayat 37

وَتَرَكْنَا فِيهَا آيَةً لِلَّذِينَ يَخَافُونَ الْعَذَابَ الْأَلِيمَ

wa taraknā fīhā āyatal lillażīna yakhāfụnal-‘ażābal-alīm

37. Jadi, Kami tinggalkan di dalamnya25 suatu pesan bagi orang-orang yang takut akan penderitaan yang pedih [yang menanti semua orang zalim].


25 Yakni, dalam musnahnya Kota Sodom dan Gomora.


Surah Az-Zariyat Ayat 38

وَفِي مُوسَىٰ إِذْ أَرْسَلْنَاهُ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ

wa fī mụsā iż arsalnāhu ilā fir’auna bisulṭānim mubīn

38. DAN DALAM [kisah Fir’aun dan] Musa, [Kami tinggalkan pesan yang sama26] pula: [sebab,] ketika Kami mengutusnya kepada Fir’aun dengan kekuasaan [Kami] yang nyata,


26 Sisipan di atas didasarkan pada kesepakatan mayoritas mufasir klasik mengenai frasa “Dan dalam Musa pula” {wa fi Musa}.


Surah Az-Zariyat Ayat 39

فَتَوَلَّىٰ بِرُكْنِهِ وَقَالَ سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ

fa tawallā biruknihī wa qāla sāḥirun au majnụn

39. dan Fir’aun berpaling dalam [kesombongan akan] kekuasaannya dan berkata, “[Musa ini adalah] tukang sihir atau orang gila!”—


Surah Az-Zariyat Ayat 40

فَأَخَذْنَاهُ وَجُنُودَهُ فَنَبَذْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ وَهُوَ مُلِيمٌ

fa akhażnāhu wa junụdahụ fa nabażnāhum fil-yammi wa huwa mulīm

40. Kami tangkap dia dan tentaranya, dan Kami lemparkan mereka semua ke dalam laut: dan [tidak ada selain] Fir’aun yang harus dipersalahkan [atas apa yang terjadi].27


27 Ini merupakan ilustrasi terhadap doktrin Al-Quran bahwa penderitaan yang pasti akan menimpa orang zalim di dunia ini atau di akhirat kelak, atau di dunia dan akhirat sekaligus, tidak lain merupakan konsekuensi dari perbuatannya sendiri.


Surah Az-Zariyat Ayat 41

وَفِي عَادٍ إِذْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الرِّيحَ الْعَقِيمَ

wa fī ‘ādin iż arsalnā ‘alaihimur-rīḥal-‘aqīm

41. Dan [kalian mendapatkan pesan yang sama] pada [apa yang terjadi terhadap kaum] ‘Ad, ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan


Surah Az-Zariyat Ayat 42

مَا تَذَرُ مِنْ شَيْءٍ أَتَتْ عَلَيْهِ إِلَّا جَعَلَتْهُ كَالرَّمِيمِ

mā tażaru min syai`in atat ‘alaihi illā ja’alat-hu kar-ramīm

42. yang tidak meninggalkan apa pun yang telah dilandanya, tetapi menyebabkan [semua] itu menjadi seperti tulang belulang yang mati dan terurai.28


28 Lihat Surah Al-Haqqah [69]: 6-8. Adapun mengenai kisah suku ‘Ad itu sendiri, lihat paruh kedua catatan no. 48 pada Surah Al-A’raf [7]: 65.


Surah Az-Zariyat Ayat 43

وَفِي ثَمُودَ إِذْ قِيلَ لَهُمْ تَمَتَّعُوا حَتَّىٰ حِينٍ

wa fī ṡamụda iż qīla lahum tamatta’ụ ḥattā ḥīn

43. Dan juga pada [kisah kaum] Tsamud, ketika dikatakan kepada mereka, “Kalian akan menikmati hidup selama beberapa saat [saja],”29


29 Bdk. Surah Hud [11]: 65. Uraian umum tentang kaum Tsamud digambarkan dalam Surah Al-A’raf [7]: 73-79.


Surah Az-Zariyat Ayat 44

فَعَتَوْا عَنْ أَمْرِ رَبِّهِمْ فَأَخَذَتْهُمُ الصَّاعِقَةُ وَهُمْ يَنْظُرُونَ

fa ‘atau ‘an amri rabbihim fa akhażat-humuṣ-ṣā’iqatu wa hum yanẓurụn

44. setelah mereka berpaling dari perintah Pemelihara mereka seraya mencibir—lalu petir hukuman menyambar mereka ketika mereka melihatnya [tanpa daya]:


Surah Az-Zariyat Ayat 45

فَمَا اسْتَطَاعُوا مِنْ قِيَامٍ وَمَا كَانُوا مُنْتَصِرِينَ

fa mastaṭā’ụ ming qiyāmiw wa mā kānụ muntaṣirīn

45. sebab, mereka bahkan tidak dapat bangun, dan tidak dapat mempertahankan diri sendiri.


Surah Az-Zariyat Ayat 46

وَقَوْمَ نُوحٍ مِنْ قَبْلُ ۖ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ

wa qauma nụḥim ming qabl, innahum kānụ qauman fāsiqīn

46. Dan [demikian pula Kami binasakan] kaum Nuh dahulu: sebab, mereka adalah kaum yang fasik.


Surah Az-Zariyat Ayat 47

وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ

was-samā`a banaināhā bi`aidiw wa innā lamụsi’ụn

47. DAN Kami-lah yang telah membangun alam semesta30 dengan kekuasaan [penciptaan Kami]; dan, sungguh, Kami-lah yang terus-menerus mengembangkannya.31


30 Lit., “langit” atau “angkasa”. Dalam Al-Quran, “langit” sering memiliki konotasi “alam semesta”, sedangkan bentuk jamaknya (“lelangit”) bisa berkonotasi “sistem kosmik”.

31 Lihat catatan no. 38 pada bagian pertama Surah Al-Anbiya’ [21]: 30. Frasa inna la-musi’un dengan jelas mengindikasikan gagasan modern tentang “alam semesta yang mengembang”—yaitu, fakta bahwa kosmos, meskipun terbatas, terus-menerus mengembang.


Surah Az-Zariyat Ayat 48

وَالْأَرْضَ فَرَشْنَاهَا فَنِعْمَ الْمَاهِدُونَ

wal-arḍa farasynāhā fa ni’mal-māhidụn

48. Dan bumi telah Kami hampar-luaskan—dan betapa bagus Kami mengaturnya.32


32 Yakni, sesuai dengan kebutuhan organisme hidup yang akan—dan akhirnya memang—hidup berkembang di atasnya.


Surah Az-Zariyat Ayat 49

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

wa ming kulli syai`in khalaqnā zaujaini la’allakum tażakkarụn

49. Dan segala sesuatu telah Kami ciptakan berlawan-lawanan,33 supaya kalian ingat [bahwa Allah-lah yang Esa].34


33 Lit., “dari segala sesuatu telah Kami ciptakan pasangan-pasangan”—suatu frasa yang dijelaskan dalam catatan no. 18 pada Surah YaSin [36]: 36.

34 Bdk. Surah Al-Fajr [89]: 3 dan catatan no. 2 yang terkait.


Surah Az-Zariyat Ayat 50

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ ۖ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ

fa firrū ilallāh, innī lakum min-hu nażīrum mubīn

50. Maka, [wahai Muhammad, katakanlah kepada mereka:] “Bersegeralah lari menuju Allah [meninggalkan segala yang batil dan jahat]! Sungguh, aku adalah seorang pemberi peringatan yang nyata dari-Nya!


Surah Az-Zariyat Ayat 51

وَلَا تَجْعَلُوا مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ ۖ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ

wa lā taj’alụ ma’allāhi ilāhan ākhar, innī lakum min-hu nażīrum mubīn

51. Dan janganlah menisbahkan ketuhanan kepada apa pun35 selain Allah: sungguh, aku adalah seorang pemberi peringatan yang nyata dari-Nya!”


35 Lit., “jangan mengadakan tuhan yang lain”.


Surah Az-Zariyat Ayat 52

كَذَٰلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ

każālika mā atallażīna ming qablihim mir rasụlin illā qālụ sāḥirun au majnụn

52. [Namun,] demikianlah adanya: belum pernah seorang rasul pun datang kepada orang-orang yang hidup sebelum mereka, kecuali mereka berkata, “[Ia adalah] tukang pikat,36 atau orang gila!”


36 Lit., “tukang sihir”. {Lihat catatan penyunting pada Surah Yunus [10], catatan no. 5.—peny.}


Surah Az-Zariyat Ayat 53

أَتَوَاصَوْا بِهِ ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ

a tawāṣau bih, bal hum qaumun ṭāgụn

53. Apakah mereka, mungkin, mewariskan [cara berpikir] ini sebagai suatu peninggalan kepada satu sama lain?

Tidak, mereka adalah kaum yang penuh dengan keangkuhan yang melampaui batas!


Surah Az-Zariyat Ayat 54

فَتَوَلَّ عَنْهُمْ فَمَا أَنْتَ بِمَلُومٍ

fa tawalla ‘an-hum fa mā anta bimalụm

54. Maka, berpalinglah dari mereka, dan engkau sekali-kali tidak dipersalahkan;


Surah Az-Zariyat Ayat 55

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

wa żakkir fa innaż-żikrā tanfa’ul-mu`minīn

55. sungguhpun begitu, tetaplah memberi peringatan [kepada semua orang yang mau mendengar]: sebab, sungguh, peringatan seperti itu akan bermanfaat bagi orang-orang beriman.


Surah Az-Zariyat Ayat 56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

wa mā khalaqtul-jinna wal-insa illā liya’budụn

56. Dan [katakanlah kepada mereka bahwa] Aku tidak menciptakan makhluk gaib37 dan manusia kecuali supaya mereka dapat [mengenal dan] menyembah-Ku.38


37 Untuk pembahasan lengkap tentang istilah jinn (“makhluk gaib”), lihat artikel Istilah dan Konsep Jin dalam Islam. Seperti yang dijelaskan oleh mayoritas filolog—dan ditegaskan Al-Razi dalam tafsirnya atas ayat di atas—istilah ini juga mencakup malaikat, karena mereka pun merupakan makhluk atau kekuatan yang “tersembunyi dari indra manusia”.

38 Jadi, tujuan utama penciptaan semua makhluk rasional adalah pemahaman (ma’rifah) mereka terhadap eksistensi Tuhan dan, karena itu, kesediaan mereka secara sadar untuk menyesuaikan eksistensi mereka dengan apa pun yang mereka pahami sebagai kehendak dan rencana-Nya: dan dwi konsep “pemahaman dan kebersediaan” inilah yang memberikan makna terdalam dari apa yang digambarkan Al-Quran sebagai “ibadah” {pengabdian, penghambaan}. Sebagaimana yang ditunjukkan dalam ayat berikutnya, seruan spiritual ini tidaklah muncul karena adanya “kebutuhan” pada Sang Pencipta, Yang Serbacukup dan Tak Terhingga dalam Kekuasaan-Nya, tetapi dirancang sebagai instrumen untuk perkembangan batin orang yang beribadah itu sendiri, yang—dengan keberserah-diriannya secara sadar kepada Kehendak Sang Pencipta Yang Maha Meliputi itu—bisa berharap mendapatkan pemahaman yang lebih tepat tentang Kehendak-Nya itu dan, dengan demikian, menjadi lebih dekat dengan Allah sendiri.


Surah Az-Zariyat Ayat 57

مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ

mā urīdu min-hum mir rizqiw wa mā urīdu ay yuṭ’imụn

57. [Namun sementara itu,] Aku tidak pernah meminta rezeki dari mereka, dan tidak pula Aku meminta supaya mereka memberi-Ku makan:


Surah Az-Zariyat Ayat 58

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

innallāha huwar-razzāqu żul-quwwatil-matīn

58. sebab, sungguh, Allah sendiri-lah yang Maha Pemberi Segala Rezeki, Pemilik Segala Kekuasaan, Yang Mahaabadi!


Surah Az-Zariyat Ayat 59

فَإِنَّ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا ذَنُوبًا مِثْلَ ذَنُوبِ أَصْحَابِهِمْ فَلَا يَسْتَعْجِلُونِ

fa inna lillażīna ẓalamụ żanụbam miṡla żanụbi aṣ-ḥābihim fa lā yasta’jilụn

59. Dan, sungguh, orang-orang yang berkukuh melakukan kezaliman akan mendapatkan bagian [kezaliman] mereka sebagaimana bagian yang diberikan kepada teman-teman mereka [dahulu];39 maka, janganlah mereka meminta kepada-Ku untuk menyegerakan [hukuman mereka]!


39 Menunjukkan bahwa setiap perbuatan zalim akan mendapatkan balasan-hukumannya tersendiri di dunia atau di akhirat.


Surah Az-Zariyat Ayat 60

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ يَوْمِهِمُ الَّذِي يُوعَدُونَ

fa wailul lillażīna kafarụ miy yaumihimullażī yụ’adụn

60. Karena, celakalah orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran—[celakalah] pada Hari yang telah dijanjikan kepada mereka!


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top