95. At-Tin (Tin / Ara) – التينِ

Surat At-Tin dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat At-Tin ( التينِ ) merupakan surah ke 95 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 8 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah At-Tin tergolong Surat Makkiyah.

Surah yang diwahyukan setelah Surah Al-Buruj [85] ini merumuskan suatu kebenaran moral yang fundamental, dengan menekankan fakta bahwa kebenaran itu merupakan hal yang umum bagi seluruh ajaran agama yang sejati. “Nama” surah—atau, lebih tepatnya, kata kunci yang mana surah ini dikenal—berasal dari penyebutan “tin” (yakni, pohon tin atau ara) pada ayat pertama.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah At-Tin Ayat 1

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ

wat-tīni waz-zaitụn

1. PERHATIKANLAH ara (tin) dan zaitun,


Surah At-Tin Ayat 2

وَطُورِ سِينِينَ

wa ṭụri sīnīn

2. dan Gunung Sinai,


Surah At-Tin Ayat 3

وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ

wa hāżal-baladil-amīn

3. dan negeri yang aman ini!1


1 Dalam konteks ini, “ara” dan “zaitun” merupakan simbol dari negeri-negeri tempat pohon-pohon tersebut banyak dijumpai: yakni, negeri-negeri yang berbatasan dengan bagian timur wilayah Mediterania, khususnya Palestina dan Suriah. Karena di negeri-negeri inilah para nabi keturunan Ibrahim yang disebutkan di dalam Al-Quran hidup dan menyebarkan ajarannya, dua jenis pohon ini dapat dipandang sebagai metonimia atau kiasan bagi ajaran-ajaran keagamaan yang disuarakan melalui serangkaian panjang orang-orang yang memperoleh wahyu Allah tersebut, yang mencapai puncaknya pada nabi Yahudi terakhir, yakni Nabi Isa a.s. Di sisi lain, “Gunung Sinai” menekankan secara khusus kerasulan Nabi Musa a.s. karena hukum agama yang berlaku sebelum, dan hingga, kedatangan Nabi Muhammad Saw.—dan yang dalam hal-hal esensinya juga mengikat Nabi lsa—diwahyukan kepada Nabi Musa pada sebuah gunung di Gurun Sinai. Terakhir, “negeri yang aman ini” (sebagaimana tampak jelas dari Surah Al-Baqarah [2]: 126) tidak diragukan lagi berarti Makkah, tempat Muhammad Saw., Nabi Terakhir, lahir dan menerima panggilan Ilahi. Dengan demikian, ayat 1 hingga ayat 3 mengarahkan perhatian kita pada kesatuan etika fundamental yang mendasari ajaran-ajaran—yang sejati—dari keseluruhan tiga fase sejarah agama monoteis, yang secara kiasan dipersonifikasikan oleh Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s., dan Nabi Muhammad Saw. Kebenaran khusus yang harus diperhatikan di sini dibicarakan di dalam tiga ayat berikutnya.


Surah At-Tin Ayat 4

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

laqad khalaqnal-insāna fī aḥsani taqwīm

4. Sungguh, Kami menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,2


2 Yakni, dianugerahi dengan semua kualitas positif, baik yang bersifat fisik maupun mental, sesuai dengan fungsi-fungsi yang dimaksudkan untuk dijalankan oleh makhluk ini. Konsep “bentuk yang sebaik-baiknya” (the best conformation) berhubungan dengan pernyataan Al-Quran bahwa segala sesuatu yang Allah ciptakan, termasuk manusia atau diri (nafs), “dibentuk sesuai dengan apa yang telah ditentukan baginya” (yakni, sesuai dengan apa yang dikehendaki darinya; lihat Surah Asy-Syams [91]: 7 dan catatan no. 5 yang terkait, serta—dalam pengertian yang lebih umum—Surah Al-A’la [87]: 2 dan catatan no. 1). Pernyataan ini sama sekali tidak menyiratkan bahwa semua manusia memiliki “bentuk yang sebaik-baiknya” yang sama dari segi kualitas jasmani atau mental mereka: hal itu semata-mata menyiratkan bahwa, terlepas dari keberuntungan atau ketidakberuntungan alamiahnya, tiap-tiap manusia dianugerahi dengan kemampuan untuk memanfaatkan kualitas bawaan mereka dan kualitas lingkungan yang mereka hadapi dengan cara yang sebaik-baiknya demi keuntungan dirinya. (Dalam kaitan ini, lihat Surah Ar-Rum [30]: 30 dan catatan-catatannya yang terkait, khususnya no. 27 dan no. 28.)


Surah At-Tin Ayat 5

ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ

ṡumma radadnāhu asfala sāfilīn

5. dan, setelah itu, Kami turunkan dia ketempat yang serendah-rendahnya3


3 Ungkapan “Kami turunkan dia ke tempat yang serendah-rendahnya” ini merupakan konsekuensi dari tindakan manusia yang mengkhianati—dengan kata lain, menyelewengkan—kecenderungan asalnya yang positif: yakni, merupakan akibat dari perbuatan dan kelalaian manusia sendiri. Mengenai “penurunan” itu, yang oleh Allah dinisbahkan sebagai perbuatan-Nya sendiri, lihat catatan no. 7 dalam Surah Al-Baqarah [2]: 7.


Surah At-Tin Ayat 6

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

illallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti fa lahum ajrun gairu mamnụn

6. kecuali orang-orang yang telah meraih iman dan mengerjakan perbuatan-perbuatan kebajikan: maka, bagi mereka, pahala yang tiada habis-habisnya!


Surah At-Tin Ayat 7

فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ

fa mā yukażżibuka ba’du bid-dīn

7. Lalu, [wahai manusia,] apakah yang dapat menyebabkan engkau mendustakan hukum moral ini?4


4 Yakni, mendustakan kesahihan hukum moral—yang, menurut pendapat saya, adalah makna dari istilah din dalam konteks ini—yang secara umum digariskan di dalam tiga ayat sebelumnya. (Mengenai makna khusus konsep din ini, lihat catatan no. 3 dalam Surah Al-Kafirun [109]: 6.) Pertanyaan retoris di atas memiliki implikasi sebagai berikut: karena hukum moral yang dirujuk di sini telah ditekankan dalam ajaran-ajaran yang dibawa oleh seluruh agama monoteis (bdk. ayat 1-3 dan catatan no. 1), kebenaran hukum moral itu seharusnya menjadi terbukti dengan sendirinya (self-evident) bagi setiap orang yang tidak berprasangka; lebih lanjut, penolakan terhadap hukum moral itu sama dengan penolakan terhadap seluruh kebebasan pilihan moral yang dimiliki manusia, dan karena itu juga berarti penolakan terhadap keadilan Allah, yang—per definisi—merupakan “Hakim yang seadil-adilnya”, sebagaimana ditunjukkan di dalam ayat selanjutnya.


Surah At-Tin Ayat 8

أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ

a laisallāhu bi`aḥkamil-ḥākimīn

8. Bukankah Allah adalah Hakim yang seadil-adilnya?


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top