9. At-Taubah (Tobat) – التوبة

Surat At-Taubah dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat At-Taubah ( التوبة ) merupakan surah ke 9 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 129 ayat yang diturunkan di kota Madinah. Dengan demikian, Surah At-Taubah tergolong Surat Madaniyah.

Berbeda dengan setiap surah lainnya di dalam Al-Qur’an, Surat At-Taubah tidak didahului dengan ungkapan doa “Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih, Sang Pemberi Rahmat”. Penghilangan yang jelas disengaja ini didasarkan atas pandangan yang dianut oleh banyak Sahabat Nabi bahwa sesungguhnya Surah At-Taubah adalah kelanjutan dari Surah Al-Anfal, dan bahwa keduanya membentuk satu surah (Al-Zamakhsyari), meskipun pada kenyataannya terdapat selang waktu sekitar tujuh tahun antara masa pewahyuan surah yang pertama dan yang kedua. Kendati tidak ada bukti bahwa Nabi sendiri pernah membuat pernyataan seperti itu (Al-Razi), kaitan isi antara At-Taubah dan Al-Anfal tidak dapat disangkal. Sebagian besar isi kedua surah itu berbicara tentang masalah perang antara kaum beriman dan kaum pengingkar kebenaran; menjelang akhir Surah Al-Anfal disebutkan tentang perjanjian-perjanjian dan kemungkinan perjanjian-perjanjian itu dikhianati oleh orang-orang tak beriman—sebuah tema yang dilanjutkan dan dikembangkan pada permulaan Surah At-taubah; dan Surah al-Anfal maupun Surah At-Taubah keduanya terutama membahas tentang perbedaan moral antara kaum beriman, di satu sisi, dan musuh-musuh mereka serta orang-orang yang bermaksud jahat, di sisi lain.

Bagian terbesar Surah At-Taubah berbicara tentang kondisi umum di Madinah sebelum pengerahan pasukan oleh Nabi ke Tabuk pada 9 H, serta tentang terombang-ambingnya semangat sebagian orang yang mengaku telah menjadi pengikut Nabi, tetapi baru sebatas pengakuan saja (nominal followers). Hampir tidak ada keraguan bahwa keseluruhan surah ini diwahyukan tidak lama sebelum, selama, dan sesudah pengerahan pasukan tersebut, dan kebanyakan bagian dari surah ini diturunkan pada saat pasukan Nabi tengah berbaris panjang dari Madinah menuju Tabuk.

Surah ini diberi judul At-Taubah disebabkan oleh seringnya muncul pembicaraan mengenai masalah tobat atau penyesalan yang mendalam (taubah) dan orang-orang yang berbuat salah dan diterimanya tobat mereka itu oleh Allah. Sebagian Sahabat Nabi menyebut surah ini dengan Al-Bara’ah (“Pemutusan Ikatan”), istilah yang muncul sebagai kata pertama pada surah tersebut; dan Al-Zamakhsyari juga menyebutkan beberapa nama lain untuk surah ini yang diberikan oleh para Sahabat Nabi dan orang-orang sesudah mereka, yaitu Al-Mukshziyah (Melepaskan), Al-Fadikhah (Menyingkap), dan Al-Muqasyqisyah (Melepaskan).

At-Taubah mengakhiri apa yang disebut sebagai “tujuh surah panjang” (yaitu, kelompok surah khas yang hampir berdiri sendiri, yang dimulai dengan Surah Al-Baqarah dan diakhiri dengan gabungan Surah Al-Anfal dan Surah At-Taubah; dan hal yang penting ialah bahwa sejumlah ayat terakhir dari kelompok ini (yakni, Surah At-Taubah [9]: 124-127) mengacu kembali pada tema yang mendominasi bagian awal Surah Al-Baqarah [2]: 6-20: yakni, persoalan tentang “mereka yang di dalam hatinya ada penyakit” dan mereka yang tidak dapat meraih keimanan lantaran mereka “berkukuh mengingkari kebenaran” manakala kebenaran itu bertentangan dengan gagasan-gagasan yang telah mereka praanggapkan, serta bertentangan dengan rasa suka atau tidak suka (hawa nafsu) mereka secara pribadi: persoalan abadi dari orang-orang yang tidak bisa diyakinkan dengan pesan ruhani karena mereka tidak mau memahami kebenaran (At-Taubah [9]: 127), dan yang dengan demikian “tidak menipu siapa pun, kecuali diri mereka sendiri, dan mereka tidak menyadarinya” (Al-Baqarah [2]: 9).

Daftar Isi


Surah At-Taubah Ayat 1

بَرَاءَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى الَّذِينَ عَاهَدْتُمْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

barā`atum minallāhi wa rasụlihī ilallażīna ‘āhattum minal-musyrikīn

1. PEMUTUSAN IKATAN oleh Allah dan Rasul-Nya [dengan ini diumumkan] kepada orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah, [dan] yang dengan mereka kalian [wahai orang-orang beriman] telah membuat suatu perjanjian.1


1 Dengan kata lain, “yang mereka (kaum tak beriman) telah langgar dengan sengaja” (Al-Thabari, Al-Baghawi, Al-Zamakhsyari, Al-Râzi); lihat juga ayat 4, yang berbicara tentang kaum tak beriman yang tetap menepati kewajiban-kewajiban mereka terhadap kaum beriman sebagaimana diatur di dalam perjanjian. Ayat di atas berhubungan dengan ayat 56-58 pada surah terdahulu (Al-Anfal). Nomina bara’ah (yang berasal dari verba bari’a, “dia menjadi terbebas [dari sesuatu]” atau “tidak lagi memiliki bagian [dalam sesuatu]”) berarti sebuah deklarasi tentang keadaan bebas atau lepas dari ikatan apa pun, baik ikatan moral maupun ikatan perjanjian, dengan orang atau pihak-pihak terkait (lihat Lane I, h. 178); dengan mengacu kepada Allah—atau Rasul yang berbicara atas nama Allah—kata itu lebih tepat diterjemahkan sebagai “pemutusan ikatan” {disavowal}.


Surah At-Taubah Ayat 2

فَسِيحُوا فِي الْأَرْضِ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ غَيْرُ مُعْجِزِي اللَّهِ ۙ وَأَنَّ اللَّهَ مُخْزِي الْكَافِرِينَ

fa sīḥụ fil-arḍi arba’ata asy-huriw wa’lamū annakum gairu mu’jizillāhi wa annallāha mukhzil-kāfirīn

2. [Umumkanlah kepada mereka:] “Maka, berjalanlah [dengan bebas] di muka bumi selama empat bulan2—tetapi, ketahuilah bahwa kalian tidak akan pernah dapat mengelakkan diri dari Allah, dan bahwa, sungguh, Allah akan menimpakan kehinaan kepada orang-orang yang menolak untuk menerima kebenaran.”


2 Kata-kata ini, yang dialamatkan kepada kaum musyrikin (“orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah”) yang dengan sengaja melanggar perjanjian yang berlaku antara mereka dan orang-orang beriman, mengandung arti pembatalan seluruh kewajiban pihak orang beriman yang diatur di dalam perjanjian. Periode empat bulan yang akan berlangsung antara pengumuman ini dan permulaan (atau dimulainya kembali) permusuhan merupakan penguraian lebih jauh atas perintah “kembalikanlah [yakni, perjanjian itu] kepada mereka dengan cara yang adil” yang terdapat dalam Surah Al-Anfal [8]: 58, yang mengacu pada pelanggaran terhadap perjanjian yang dilakukan oleh kelompok orang tak beriman yang bersikap bermusuhan (lihat juga catatan no. 62 pada ayat 58 Surah Al-Anfal [8]).


Surah At-Taubah Ayat 3

وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الْأَكْبَرِ أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ۙ وَرَسُولُهُ ۚ فَإِنْ تُبْتُمْ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ غَيْرُ مُعْجِزِي اللَّهِ ۗ وَبَشِّرِ الَّذِينَ كَفَرُوا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

wa ażānum minallāhi wa rasụlihī ilan-nāsi yaumal-ḥajjil-akbari annallāha barī`um minal-musyrikīna wa rasụluh, fa in tubtum fa huwa khairul lakum, wa in tawallaitum fa’lamū annakum gairu mu’jizillāh, wa basysyirillażīna kafarụ bi’ażābin alīm

3. Dan, maklumat dari Allah dan Rasul-Nya [dengan ini dibuat] bagi seluruh umat manusia pada hari haji terbesar ini:3 “Allah dan [demikian pula] Rasul-Nya memutuskan ikatan dengan orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain-Nya. Karena itu, jika kalian bertobat, itu akan menjadi kebaikan bagi diri kalian sendiri; dan jika kalian berpaling, ketahuilah bahwa kalian tidak akan pernah dapat mengelakkan diri dari Allah!”

Dan, bagi orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran itu, sampaikanlah olehmu [wahai Nabi] kabar tentang hukuman yang pedih.


3 Tidak ada kesepakatan di kalangan mufasir tentang apa yang dimaksud dengan “hari haji terbesar” (yaum al-hajj al-akbar). Sebagian besar berpendapat bahwa ungkapan itu merujuk pada haji pada 9 H, yang di dalamnya Nabi sendiri tidak turut serta dan memercayakan jabatan pimpinan haji (amir al-hajj) kepada Abu Bakr. Namun, kenyataan bahwa Nabi sendiri tidak pergi haji pada tahun itu menunjukkan bahwa penamaan “haji terbesar” di dalam Al-Quran tidak mungkin diberikan kepada peristiwa haji pada tahun tersebut. Di sisi lain, terdapat sebuah hadis yang bersumber dari ‘Abd Allah ibn ‘Umar bahwa Nabi telah menggambarkan haji terakhir yang dipimpin oleh beliau sendiri pada 10 H sebagai haji terbesar, dan dikenal di dalam sejarah sebagai Haji Perpisahan (Al-Zamakhsyari, Al-Razi); karena itu, kita dapat berasumsi bahwa Haji Perpisahan itulah yang dirujuk secara tidak langsung oleh ayat ini. Jika asumsi ini benar, hal ini akan membenarkan kesimpulan bahwa ayat 3 dan 4 surah ini diwahyukan pada saat Haji Perpisahan, yakni tidak lama sebelum Nabi wafat. Ini mungkin bisa menjelaskan pernyataan, yang secara tepercaya dinisbahkan kepada Sahabat Nabi yang bernama Al-Bara’ (Al-Bukhari, Kitab Al-Tafsir), bahwa At-Taubah adalah surah terakhir yang diwahyukan kepada Nabi: sebab, walaupun sudah tidak diragukan lagi bahwa surah ini secara keseluruhan diturunkan pada 9 H dan diikuti oleh beberapa surah lain, seperti Surah Al-Ma’idah, kemungkinan yang dimaksud oleh Al-Bara’ adalah hanya dua ayat kunci (3 dan 4) Surah At-Taubah ini, yang mungkin diwahyukan pada saat Haji Perpisahan. Jika tidak demikian, keterangan dalam riwayat Al-Bara’ ini tentu membingungkan.


Surah At-Taubah Ayat 4

إِلَّا الَّذِينَ عَاهَدْتُمْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ثُمَّ لَمْ يَنْقُصُوكُمْ شَيْئًا وَلَمْ يُظَاهِرُوا عَلَيْكُمْ أَحَدًا فَأَتِمُّوا إِلَيْهِمْ عَهْدَهُمْ إِلَىٰ مُدَّتِهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

illallażīna ‘āhattum minal-musyrikīna ṡumma lam yangquṣụkum syai`aw wa lam yuẓāhirụ ‘alaikum aḥadan fa atimmū ilaihim ‘ahdahum ilā muddatihim, innallāha yuḥibbul muttaqīn

4. Terkecuali4 [orang-orang]—dari kalangan yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah itu—yang kalian [wahai orang-orang beriman] telah mengadakan perjanjian dengan mereka, dan mereka tidak melalaikan kewajiban mereka terhadap kalian, dan tidak pula mereka membantu orang yang memusuhi kalian: maka, penuhilah perjanjian kalian dengan mereka itu sampai batas-waktu yang disepakati dengan mereka.5 Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang sadar akan Dia.


4 Yakni, dari pembatalan berbagai perjanjian yang telah mereka sepakati bersama dengan orang-orang beriman, seperti yang dijelaskan dalam catatan no. 2.

5 Lit., “hingga batas-waktunya”.


Surah At-Taubah Ayat 5

فَإِذَا انْسَلَخَ الْأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ وَاحْصُرُوهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ ۚ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

fa iżansalakhal-asy-hurul-ḥurumu faqtulul-musyrikīna ḥaiṡu wajattumụhum wa khużụhum waḥṣurụhum waq’udụ lahum kulla marṣad, fa in tābụ wa aqāmuṣ-ṣalāta wa ātawuz-zakāta fa khallụ sabīlahum, innallāha gafụrur raḥīm

5. Dan, apabila bulan-bulan suci telah berlalu,6 bunuhlah orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah itu di mana saja kalian menjumpai mereka,7 tawanlah mereka, kepunglah mereka, dan intailah mereka di setiap tempat yang memungkinkan.8 Namun, jika mereka bertobat, mulai mengerjakan shalat, dan menunaikan zakat, biarkanlah mereka menempuh jalan mereka: sebab, sungguh, Allah Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.9


6 Menurut suatu kebiasaan pra-Islam yang berlaku di Arabia, bulan Muharram, Rajab, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah dianggap “sakral” dalam pengertian bahwa seluruh peperangan antarsuku harus berhenti pada bulan-bulan tersebut. Dengan tujuan untuk memelihara periode gencatan senjata itu serta mendorong perdamaian di antara suku-suku yang kerap saling berperang, Al-Quran tidak menghapuskan, tetapi malah mengukuhkan, kebiasaan kuno ini. Lihat juga Surah Al-Baqarah [2]: 194 dan 217.

7 Apabila dibaca dalam kaitannya dengan dua ayat terdahulu, serta dengan Surah Al-Baqarah [2]: 190-194, ayat di atas berkaitan dengan perang yang sedang berlangsung melawan orang-orang yang bersalah karena telah melanggar perjanjian dan memulai serangan (agresi).

8 Yakni, “melakukan segala sesuatu yang diperlukan dan dianjurkan dalam peperangan”. Istilah marshad berarti “setiap tempat yang memungkinkan untuk mehhat musuh dan memantau gerakannya” (Al-Manar X, h. 199).

9 Sebagaimana telah beberapa kali saya tunjukkan, setiap ayat AI-Quran harus dibaca dan ditafsirkan dengan mempertimbangkan latar belakang Al-Quran secara keseluruhan. Karena itu, ayat di atas (yang berbicara tentang kemungkinan masuk Islamnya “orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah”, yang sedang berperang melawan kaum Mukmin) harus dipertimbangkan dalam kaitannya dengan beberapa ketentuan mendasar Al-Quran. Pertama, “Tidak boleh ada paksaan dalam urusan keyakinan” (Surah Al-Baqarah [2]: 256), menetapkan secara jelas bahwa setiap upaya untuk memaksa orang-orang yang tak beriman untuk memeluk Islam adalah dilarang—yang menghalangi kemungkinan kaum Muslim untuk menuntut atau mengharapkan bahwa seorang musuh yang dikalahkan harus memeluk Islam sebagai harga untuk memperoleh kekebalan (jaminan perlindungan). Kedua, Al-Quran menetapkan, “perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, tetapi janganlah melancarkan agresi—sebab, sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melancarkan agresi (Surah Al-Baqarah [2]: 190); dan, “jika mereka tidak membiarkan kalian, dan tidak menawarkan perdamaian kepada kalian, dan tidak menahan tangan mereka, tawanlah mereka dan bunuhlah mereka dimana saja kalian bertemu dengan mereka: dan terhadap mereka inilah Kami memberikan wewenang kepada kalian dengan jelas [untuk berperang]” (Surah An-Nisa’ [4]: 91). Jadi, perang hanya diizinkan dalam rangka mempertahankan diri (lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 167 dan no. 168), dengan ketentuan lebih jauh bahwa “jika mereka berhenti—perhatikanlah, Allah Maha Pengarnpun, Sang Pemberi Rahmat” (Surah Al-Baqarah [2]: 192) dan “jika mereka berhenti, seluruh permusuhan harus berakhir” (Surah Al-Baqarah [2]: 193). Pindah agama atau beralihnya pihak musuh untuk memeluk Islam—yang diungkapkan dalam kata-kata, “jika mereka bertobat, mulai mengerjakan shalat [lit., ‘mendirikan shalat’], dan menunaikan zakat (zakah, purifying dues)“—tidak lain hanyalah salah satu, dan sama sekali bukan berarti satu-satunya, cara mereka untuk “menghentikan permusuhan”; dan dirujuknya hal itu di dalam ayat 5 dan 11 surah ini tidak mengandung maksud suatu pilihan antara “pindah agama atau mati”, seperti yang diasumsikan oleh sebagian pengkritik Islam yang tidak bersahabat. Ayat 4 dan 6 memberikan uraian lebih jauh tentang sikap yang diperintahkan untuk diambil oleh kaum beriman terhadap orang-orang tak beriman yang tidak memusuhi mereka. (Dalam kaitan ini, lihat juga Surah Al-Mumtahanah [60]: 8-9.)


Surah At-Taubah Ayat 6

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ

wa in aḥadum minal-musyrikīnastajāraka fa ajir-hu ḥattā yasma’a kalāmallāhi ṡumma ablig-hu ma`manah, żālika bi`annahum qaumul lā ya’lamụn

6. Dan, jika siapa pun dari kalangan orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah itu meminta perlindungan kepadamu,10 berikanlah dia perlindungan, agar dia mungkin [dapat] mendengar firman Allah [darimu]; dan kemudian, antarkanlah dia ke tempat di mana dia dapat merasa aman:11 yang demikian ini, lantaran mereka [boleh jadi] adalah orang-orang yang [berdosa semata-mata karena mereka] tidak mengetahui [kebenaran].


10 Lit., “berusaha menjadi tetanggamu”: yakni, sebuah ungkapan kiasan yang berarti memohon perlindungan, berdasarkan kebiasaan Arab kuno (yang dikuatkan oleh Islam) mengenai keharusan untuk menghormati dan melindungi tetangga sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan seseorang.

11 Lit., “tempat keamanannya” (ma’manahu)—yakni, “biarkan dia kembali ke daerah asalnya” (Al-Razi), yang mengandung pengertian bahwa dia bebas menerima atau tidak menerima pesan Al-Quran: suatu penegasan-kembali yang lebih jauh terhadap perintah Al-Quran, “Tidak boleh ada paksaan dalam urusan keyakinan” (Surah Al-Baqarah [2]: 256).


Surah At-Taubah Ayat 7

كَيْفَ يَكُونُ لِلْمُشْرِكِينَ عَهْدٌ عِنْدَ اللَّهِ وَعِنْدَ رَسُولِهِ إِلَّا الَّذِينَ عَاهَدْتُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۖ فَمَا اسْتَقَامُوا لَكُمْ فَاسْتَقِيمُوا لَهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

kaifa yakụnu lil-musyrikīna ‘ahdun ‘indallāhi wa ‘inda rasụlihī illallażīna ‘āhattum ‘indal-masjidil-ḥarām, famastaqāmụ lakum fastaqīmụ lahum, innallāha yuḥibbul-muttaqīn

7. BAGAIMANA BISA orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah diberikan perjanjian oleh Allah dan Rasul-Nya,12 kecuali orang-orang yang kalian [wahai orang-orang beriman] telah mengadakan perjanjian dengan mereka di sekitar Masjid Al-Haram?13 [Adapun orang-orang yang disebut belakangan itu] selama mereka berlaku benar terhadap kalian, maka berlaku benarlah terhadap mereka: sebab, sungguh, Allah menyukai orang-orang yang sadar akan Dia.


12 Lit., “memiliki suatu perjanjian di hadapan [atau ‘dalam pandangan’] Allah dan Rasul-Nya”: yakni, dilindungi oleh orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Rujukan khusus kepada Rasul (Muhammad) dimaksudkan untuk menekankan bahwa dia berbicara dan bertindak atas nama Allah.

13 Bdk. ayat 4. “Perjanjian” yang dirujuk secara tidak langsung itu ialah perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani pada 6 H di Hudaibiyyah, suatu tempat di sekitar Makkah, antara Nabi dan kaum pagan Quraisy yang merupakan (dan dengan jelas dimaksudkan untuk menjadi) suatu model pengendalian diri dan toleransi yang diharapkan dari kaum Mukmin sejati terhadap kaum tak beriman yang tidak memusuhi mereka secara terang-terangan.


Surah At-Taubah Ayat 8

كَيْفَ وَإِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ لَا يَرْقُبُوا فِيكُمْ إِلًّا وَلَا ذِمَّةً ۚ يُرْضُونَكُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ وَتَأْبَىٰ قُلُوبُهُمْ وَأَكْثَرُهُمْ فَاسِقُونَ

kaifa wa iy yaẓ-harụ ‘alaikum lā yarqubụ fīkum illaw wa lā żimmah, yurḍụnakum bi`afwāhihim wa ta`bā qulụbuhum, wa akṡaruhum fāsiqụn

8. Bagaimana [lagi]?14—karena, seandainya mereka [yang memusuhi kalian] mengalahkan kalian, mereka tidak akan menghargai hubungan apa pun [dengan kalian], tidak pula menghormati kewajiban untuk melindungi [kalian].15 Mereka berusaha menyenangkan kalian dengan mulut mereka, sedangkan hati mereka tetap tidak menyukai [kalian]; dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.


14 Ini berhubungan dengan anak kalimat dari ayat sebelumnya dan berhubungan dengan orang-orang yang bersikap bermusuhan dari kalangan “orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah” (kaum musyrik).

15 Istilah ill berarti setiap ikatan atau hubungan yang muncul akibat kesepakatan atau hubungan darah, dan yang membebankan kewajiban atas kedua belah pihak untuk melindungi satu sama lain (bdk. Lane I, h. 75); implikasi yang terakhir itu diungkapkan dalam kata dzimmah, yang secara harfiah berarti suatu “perjanjian perlindungan”.


Surah At-Taubah Ayat 9

اشْتَرَوْا بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِهِ ۚ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

isytarau bi`āyātillāhi ṡamanang qalīlan fa ṣaddụ ‘an sabīlih, innahum sā`a mā kānụ ya’malụn

9. Pesan-pesan Allah telah mereka tukar dengan keuntungan yang bernilai rendah dan, dengan demikian, mereka telah berpaling dari jalan-Nya: perhatikanlah, amat jahat semua yang biasa mereka lakukan itu,


Surah At-Taubah Ayat 10

لَا يَرْقُبُونَ فِي مُؤْمِنٍ إِلًّا وَلَا ذِمَّةً ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُعْتَدُونَ

lā yarqubụna fī mu`minin illaw wa lā żimmah, wa ulā`ika humul-mu’tadụn

10. yang tidak menghargai hubungan dan kewajiban untuk melindungi orang-orang beriman; dan mereka, mereka itulah orang-orang yang melanggar batas-batas apa yang benar!16


16 Atau: “orang-orang yang melancarkan agresi (agresor)”—dalam konteks ini, kedua ungkapan tersebut memiliki arti yang sama.


Surah At-Taubah Ayat 11

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ ۗ وَنُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

fa in tābụ wa aqāmuṣ-ṣalāta wa ātawuz-zakāta fa ikhwānukum fid-dīn, wa nufaṣṣilul-āyāti liqaumiy ya’lamụn

11. Namun, jika mereka bertobat, mulai mengerjakan shalat, dan menunaikan zakat, mereka menjadi saudara seiman kalian:17 dan Kami terangkan pesan-pesan itu dengan jelas kepada orang-orang yang memiliki pengetahuan [bawaan]!


17 Lihat catatan no. 9.


Surah At-Taubah Ayat 12

وَإِنْ نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ مِنْ بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُوا فِي دِينِكُمْ فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ ۙ إِنَّهُمْ لَا أَيْمَانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَنْتَهُونَ

wa in nakaṡū aimānahum mim ba’di ‘ahdihim wa ṭa’anụ fī dīnikum fa qātilū a`immatal-kufri innahum lā aimāna lahum la’allahum yantahụn

12. Akan tetapi, jika mereka melanggar sumpah-sumpah mereka sesudah menyepakati perjanjian,18 dan menghina agama kalian, perangilah orang-orang yang menjadi model sikap durhaka ini19 yang, perhatikanlah, tidak memiliki [rasa hormat atas] sumpah [mereka sendiri], agar mereka berhenti [melakukan agresi].


18 Lit., “jika mereka melanggar sumpah-sumpah mereka setelah perjanjian mereka”. Ini jelas ditujukan kepada orang-orang tak beriman yang, tanpa meninggalkan kepercayaan mereka sendiri, telah menandatangani perjanjian persahabatan dengan kaum Muslim. “Melanggar sumpah-sumpah” dalam kalimat itu merujuk secara tidak langsung pada pelanggaran gencatan senjata Hudaibiyyah oleh kaum pagan Quraisy, yang pada gilirannya berujung pada penaklukan Makkah oleh kaum Muslim pada 8 H.

19 {… then fight against these archetypes of faithlessness}. Kata imam (bentuk jamaknya a’immah) tidak hanya berarti seorang “pemimpin”, tetapi juga—dan utamanya—berarti “seorang yang menjadi objek tiruan oleh pengikutnya” (Taj Al-‘Arus): jadi, seorang “model”, “contoh”, atau “arketipe” {archetype}. Istilah kufr, yang biasanya berarti “pengingkaran terhadap [atau ‘penolakan untuk mengakui’] kebenaran”, di sini diterjemahkan sebagai “sikap durhaka” (faithlessness, ingkar, tidak setia) karena kata itu merujuk secara khusus pada pelanggaran secara sengaja terhadap ikatan atau perjanjian yang telah dibuat secara sungguh-sungguh.


Surah At-Taubah Ayat 13

أَلَا تُقَاتِلُونَ قَوْمًا نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ وَهَمُّوا بِإِخْرَاجِ الرَّسُولِ وَهُمْ بَدَءُوكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ ۚ أَتَخْشَوْنَهُمْ ۚ فَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَوْهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

alā tuqātilụna qauman nakaṡū aimānahum wa hammụ bi`ikhrājir-rasụli wa hum bada`ụkum awwala marrah, a takhsyaunahum, fallāhu aḥaqqu an takhsyauhu ing kuntum mu`minīn

13. Akankah kalian, mungkin, tidak memerangi orang-orang yang melanggar sumpah mereka, dan telah mengerahkan segala kemampuan untuk mengusir Rasul,20 serta telah terlebih dahulu menyerang kalian? Apakah kalian gentar kepada mereka? Tidak, hanya kepada Allah-lah seharusnya kalian merasa gentar,21 jika kalian [benar-benar] orang beriman!


20 Maksudnya, dari Makkah, yang kemudian menyebabkan Nabi dan pengikutnya melakukan eksodus (hijrah) ke Madinah.

21 Lit., “Allah lebih pantas (ahaqq) untuk kalian takut kepada-Nya”.


Surah At-Taubah Ayat 14

قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ

qātilụhum yu’ażżib-humullāhu bi`aidīkum wa yukhzihim wa yanṣurkum ‘alaihim wa yasyfi ṣudụra qaumim mu`minīn

14. Perangilah mereka! Allah akan menghukum mereka melalui tangan kalian, dan akan menimpakan kehinaan atas mereka, dan akan menolong kalian melawan mereka; dan Dia akan melapangkan dada orang yang beriman,


Surah At-Taubah Ayat 15

وَيُذْهِبْ غَيْظَ قُلُوبِهِمْ ۗ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

wa yuż-hib gaiẓa qulụbihim, wa yatụbullāhu ‘alā may yasyā`, wallāhu ‘alīmun ḥakīm

15. dan akan menghilangkan rasa marah di dalam hati mereka. Dan, Allah akan berpaling dengan belas kasih-Nya* kepada orang-orang yang Dia kehendaki:22 sebab, Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.


* {Adalah terjemahan Asad untuk frasa wa yatub Allah ‘ala man yasya’, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi “dan Allah menerima tobat orang yang dikehendaki-Nya”. Salah satu arti verba yatubu memang berpaling (to turn from). Dengan demikian, kedua bentuk penerjemahan tersebut dari segi bahasa dapat diterima.—AM}

22 Ini berhubungan dengan orang-orang tak beriman yang diperangi oleh kaum Muslim: sebab, jika Allah berkehendak, Dia bisa jadi mengubah hati mereka dan menuntun mereka hingga menyadari kebenaran (Al-Baghawi dan Al-Zamakhsyari; lihat juga Al-Manar X, h. 236).


Surah At-Taubah Ayat 16

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تُتْرَكُوا وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَلَمْ يَتَّخِذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَا رَسُولِهِ وَلَا الْمُؤْمِنِينَ وَلِيجَةً ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

am ḥasibtum an tutrakụ wa lammā ya’lamillāhullażīna jāhadụ mingkum wa lam yattakhiżụ min dụnillāhi wa lā rasụlihī wa lal-mu`minīna walījah, wallāhu khabīrum bimā ta’malụn

16. Apakah kalian [wahai orang-orang beriman] mengira bahwa kalian akan dibiarkan (begitu saja),23 kecuali Allah mengetahui bahwa kalian telah berjuang keras [di jalan-Nya]24 tanpa mencari pertolongan selain dari Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman kepada-Nya?25 Sebab, Allah Maha Mengetahui semua yang kalian kerjakan.


23 Lit., “ditinggalkan [sendiri]”, yakni tanpa diuji melalui penderitaan dan kesulitan.

24 Lit., “sementara Allah belum mengetahui siapa yang telah berjuang keras di antara kalian”. Untuk penjelasan tentang “pengetahuan” Allah, lihat Surah Al-‘Imran [3]: 142 dan catatan yang terkait.

25 Lit., “tanpa menjadikan siapa pun sebagai penolong yang setia (walijah) selain Allah dan Rasul-Nya serta,orang-orang beriman”.


Surah At-Taubah Ayat 17

مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللَّهِ شَاهِدِينَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ ۚ أُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ

mā kāna lil-musyrikīna ay ya’murụ masājidallāhi syāhidīna ‘alā anfusihim bil-kufr, ulā`ika ḥabiṭat a’māluhum, wa fin-nāri hum khālidụn

17. TIDAKLAH SEPANTASNYA orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah mengunjungi atau memelihara26 rumah ibadah Allah, sementara [dengan kepercayaan yang mereka yakini] mereka bersaksi melawan diri mereka sendiri bahwa mereka mengingkari kebenaran. Mereka itulah yang perbuatannya akan menjadi sia-sia, dan di dalam neraka, mereka akan berkediaman!27


26 Dalam bentuk transitif, verba ‘amara dapat berarti “mengunjungi” maupun “memelihara” sebuah tempat; karena itu, saya menerjemahkan kata ya’muru sebagai “mereka mengunjungi atau memelihara”.

27 Berdasarkan ayat ini, sejumlah mufasir menyimpulkan bahwa “orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah” (kaum musyrik) tidak diperkenankan untuk masuk ke dalam masjid (“rumah ibadah Allah”). Namun, kesimpulan tersebut sama sekali tidak dapat dipertahankan dengan melihat kenyataan bahwa pada 9 H—yaitu setelah diwahyukannya surah ini—Nabi sendiri menyediakan tempat penginapan bagi rombongan utusan dari ke lompok musyrik Banu Tsaqif di masjid di Madinah (Al-Razi). Dengan demikia, ayat tersebut sekadar mengungkapkan ketidakpantasan moral dari tindakan orang-orang tak beriman dalam “mengunjungi atau memelihara rumah ibadah Allah!”. Berkenaan dengan tidak diperbolehkannya mereka memasuki masjid utama Islam di Makkah (“Masjid Al-Haram”), lihat ayat 28 surah ini.


Surah At-Taubah Ayat 18

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

innamā ya’muru masājidallāhi man āmana billāhi wal-yaumil-ākhiri wa aqāmaṣ-ṣalāta wa ātaz-zakāta wa lam yakhsya illallāh, fa ‘asā ulā`ika ay yakụnụ minal-muhtadīn

18. Orang yang sepatutnya mengunjungi atau memelihara rumah ibadah Allah hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, yang teguh mendirikan shalat, memberikan derma, dan tidak merasa gentar selain kepada Allah: sebab, [hanya orang-orang seperti] mereka itulah yang dapat berharap termasuk dalam golongan yang diberi petunjuk!28


28 Lit., “boleh jadi bahwa mereka itu akan termasuk golongan yang diberi petunjuk”. Namun, menurut Abu Muslim (seperti dikutip oleh Al-Razi), serta ahli tata bahasa terkemuka, Sibawaih (lihat Al-Manar X, h. 253), kata ‘asa, yang biasanya berarti “boleh jadi”, di sini mengacu pada harapan yang mungkin dimiliki oleh orang beriman yang disebut di atas.


Surah At-Taubah Ayat 19

أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ لَا يَسْتَوُونَ عِنْدَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

a ja’altum siqāyatal-ḥājji wa ‘imāratal-masjidil-ḥarāmi kaman āmana billāhi wal-yaumil-ākhiri wa jāhada fī sabīlillāh, lā yastawụna ‘indallāh, wallāhu lā yahdil-qaumaẓ-ẓālimīn

19. Apakah kalian, mungkin, menganggap bahwa [semata-mata] memberikan air kepada para peziarah dan mengurus Masjid Al-Haram adalah setara dengan [perbuatan] orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta yang berjuang sungguh-sungguh di jalan Allah? [Hal-hal] itu tidak sama dalam pandangan Allah.29 Dan Allah tidak mengaruniai petunjuk kepada orang yang [dengan sengaja] berbuat salah.


29 Banyak mufasir berpendapat bahwa ayat ini berbicara, secara tidak langsung, tentang sikap sombong kelompok pagan Quraisy, sebelum penaklukan Makkah oleh kaum Muslim, bahwa mereka lebih unggul daripada semua kelompok yang lain lantaran kedudukan mereka sebagai penjaga Ka’bah dan penyedia air (siqayah) bagi orang-orang yang berziarah ke Ka’bah; dan ketika menjadi tawanan kaum Muslim pada Perang Badar, paman Nabi, Al-‘Abbas, meminta maaf berdasarkan alasan tersebut mengenai hal mengapa dia tidak turut serta dalam hijrah bersama kaum Muslim dari Makkah ke Madinah (Al-Thabari). Namun, ayat ini mungkin masih memiliki makna lain yang lebih mendalam. Menurut sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, dan Ibn Hibban (dan juga Al-Thabari), salah seorang Sahabat Nabi menyatakan di Masjid Madinah, “Setelah memeluk Islam, aku tidak akan peduli untuk berbuat baik selain menyediakan air untuk para peziarah”—sementara seorang Sahabat yang lain menyatakan, “Tidak, [saya lebih memilih untuk memikul tanggung jawab untuk] memelihara Masjid Al-Haram”. Akan tetapi, seorang Sahabat yang lain berkata, “Tidak, berjuang (jihad) di jalan Allah lebih baik daripada apa yang kalian telah sebutkan!” Tidak lama kemudian, ayat Al-Quran di atas diwahyukan kepada Nabi. Oleh karena itu, apa yang dimaksudkan di sini tampaknya ialah bahwa nilai keimanan kepada Allah dan berjuang di jalan-Nya adalah lebih tinggi dibandingkan perbuatan-perbuatan yang, betapapun bermanfaat, hanya menekankan bentuk-bentuk lahiriah: ringkasnya, sikap berserah diri yang sejati kepada Allah jauh lebih tinggi derajatnya daripada tindakan yang semata-mata bersifat ritual.


Surah At-Taubah Ayat 20

الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

allażīna āmanụ wa hājarụ wa jāhadụ fī sabīlillāhi bi`amwālihim wa anfusihim a’ẓamu darajatan ‘indallāh, wa ulā`ika humul-fā`izụn

20. Orang-orang yang beriman dan yang hijrah meninggalkan ranah kejahatan30 serta berjuang sungguh-sungguh di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, memiliki derajat yang tertinggi dalam pandangan Allah; dan mereka, mereka itulah yang akan mendapat kemenangan [pada akhirnya]!


30 Lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 203 dan Surah An-Nisa’ [4], catatan no. 124.


Surah At-Taubah Ayat 21

يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُمْ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ وَرِضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَهُمْ فِيهَا نَعِيمٌ مُقِيمٌ

yubasysyiruhum rabbuhum biraḥmatim min-hu wa riḍwāniw wa jannātil lahum fīhā na’īmum muqīm

21. Sang Pemelihara mereka menyampaikan kepada mereka kabar gembira tentang rahmat [yang mengalir] dari-Nya, dan perkenan[-Nya], serta taman-taman yang menanti mereka, penuh dengan kebahagiaan abadi,


Surah At-Taubah Ayat 22

خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

khālidīna fīhā abadā, innallāha ‘indahū ajrun ‘aẓīm

22. di dalamnya mereka akan berkediaman melampaui hitungan waktu. Sungguh, di sisi Allah terdapat pahala yang besar!


Surah At-Taubah Ayat 23

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā tattakhiżū ābā`akum wa ikhwānakum auliyā`a inistaḥabbul-kufra ‘alal-īmān, wa may yatawallahum mingkum fa ulā`ika humuẓ-ẓālimụn

23. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Janganlah menjadikan bapak kalian dan saudara kalian sebagai sekutu sekiranya ingkar terhadap kebenaran lebih mereka sukai daripada keimanan: sebab, siapa pun di antara kalian yang bersekutu dengan mereka—maka mereka, mereka itulah orang-orang zalim!31


31 Istilah walayah (“persekutuan” atau “persahabatan”) dalam konteks ini digunakan dalam pengertian persekutuan melawan kelompok orang beriman yang lain, seperti di dalam Surah Al-‘Imran [3]: 28. (Mengenai implikasi spiritual yang lebih luas dari ungkapan ini, lihat Surah An-Nisa’ [4], catatan no. 154.) Bahwa istilah itu tidak mengacu pada “persahabatan” dalam pengertian rasa kasih sayang manusia yang lazim adalah jelas dari banyak nasihat di dalam Al-Quran untuk berbuat baik terhadap orangtua dan sanak keluarga; dan, secara lebih jelas, di dalam Surah Al-Mumtahanah [60]: 8-9, yang di dalamnya orang beriman diingatkan bahwa memiliki hubungan yang baik dengan orang-orang tak beriman yang tidak bersikap bermusuhan dengan umat Muslim adalah diperbolehkan, dan bahkan dikehendaki. (Lihat juga Al-Manar X, hh. 269 dan seterusnya, yang di dalamnya penafsiran yang sama dikemukakan.) {“Orang-orang zalim” adalah terjemahan dari evildoers, “pelaku kejahatan” (al-zhalimun).—peny.}


Surah At-Taubah Ayat 24

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

qul ing kāna ābā`ukum wa abnā`ukum wa ikhwānukum wa azwājukum wa ‘asyīratukum wa amwāluniqtaraftumụhā wa tijāratun takhsyauna kasādahā wa masākinu tarḍaunahā aḥabba ilaikum minallāhi wa rasụlihī wa jihādin fī sabīlihī fa tarabbaṣụ ḥattā ya`tiyallāhu bi`amrih, wallāhu lā yahdil-qaumal-fāsiqīn

24. Katakanlah: “Jika bapak kalian, anak kalian, saudara kalian, pasangan kalian, marga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perdagangan yang kalian takut merugi, dan tempat tinggal yang kalian sukai—[jika semua itu] lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjuang di jalan-Nya, tunggulah hingga Allah menjadikan nyata kehendak-Nya;32 dan [ketahuilah bahwa] Allah tidak melimpahkan petunjuk-Nya kepada kaum yang fasik.”


32 Atau: “menjadikan perintah-Nya [terlaksana]”. Ini mungkin mengacu, secara tidak langsung, pada Hari Pengadilan atau—lebih mungkin lagi—kehancuran dan kemunduran tak terelakkan dari komunitas-komunitas yang menempatkan kepentingan pribadi yang sempit di atas nilai-nilai etis. Secara khusus, bagian ayat ini menolak kecenderungan untuk memandang ikatan keluarga dan afiliasi kebangsaan (yang diungkapkan dalam kalimat “marga kalian”) sebagai faktor-faktor perilaku sosial yang menentukan dan, seballknya, mendalilkan ideologi (“Allah, Rasul-Nya, dan berjuang di jalan-Nya”) sebagai satu-satunya dasar sah yang seharusnya menjadi landasan bagi kehidupan orang beriman, baik secara individu maupun sosial.


Surah At-Taubah Ayat 25

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ

laqad naṣarakumullāhu fī mawāṭina kaṡīratiw wa yauma ḥunainin iż a’jabatkum kaṡratukum fa lam tugni ‘angkum syai`aw wa ḍāqat ‘alaikumul-arḍu bimā raḥubat ṡumma wallaitum mudbirīn

25. Sungguh, Allah telah menolong kalian di banyak medan perang, [ketika kalian masih berjumlah sedikit;] dan [Dia juga melakukan hal yang demikian itu] pada Hari Hunain ketika kalian menjadi sombong karena banyaknya jumlah kalian, dan terbukti bahwa jumlah yang banyak itu tidak mernberi manfaat sedikit pun bagi kalian—karena bumi yang kendati demikian luas itu telah menjadi [terlampau] sempit bagi kalian, dan kalian berbalik melarikan diri:33


33 Perang Hunain, yang terjadi di sebuah lembah yang terletak di salah satu jalan dari Makkah menuju Tha’if, berlangsung pada 8 H, tidak lama setelah Makkah ditaklukkan oleh kaum Muslim. Lawan kaum Muslim adalah suku musyrik Hawazin (yang di wilayah merekalah lembah itu berada) dan sekutu mereka, Banu Tsaqif. Pasukan muslim—yang diperkuat oleh banyak orang Makkah yang baru memeluk Islam—terdiri dari 12 ribu orang, sedangkan suku Hawazin dan Tsaqif hanya berjumlah sepertiga dari jumlah pasukan Muslim. Dengan mengandalkan keunggul·an jumlah mereka yang besar, kaum Muslim terlalu merasa percaya diri dan, tampaknya, mereka tidak berhati-hati. Di jalan-jalan sempit di seberang oasis Hunain, mereka jatuh dalam sergapan yang telah disiapkan oleh kelompok Arab Badui {Ar. Badawi, yaitu kelompok masyarakat Arab yang hidup secara nomadik atau berpindah-pindah—peny.} dan mulai mundur kocar-kacir setelah mereka mengalami kekalahan besar akibat para pemanah dari kelompok Arab Badui. Hanya berkat keteladanan Nabi dan para pengikutnya yang awal (kelompok muhajirin dari Makkah dan kelompok anshar dari Madinah), pasukan Muslim dapat terhindar dari kekalahan, dan kekalahan telak kaum Muslim pada awal peperangan kemudian dapat berubah menjadi kemenangan yang menentukan. Pertempuran inilah yang dirujuk ayat 25 dan 26, yang memperlihatkan bahwa pertolongan sejati hanya berasal dari Allah, dan jumlah yang besar, ikatan kekeluargaan, serta kekayaan duniawi adalah tidak berguna jika hal-hal tersebut “lebih kalian cintai daripada Allah, Rasul-Nya, dan berjuang di jalan-Nya” (lihat ayat terdahulu).


Surah At-Taubah Ayat 26

ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ

ṡumma anzalallāhu sakīnatahụ ‘alā rasụlihī wa ‘alal-mu`minīna wa anzala junụdal lam tarauhā wa ‘ażżaballażīna kafarụ, wa żālika jazā`ul-kāfirīn

26. kemudian Allah mencurahkan ketenangan batin [sebagai karunia]-Nya kepada Rasul-Nya dan orang-orang beriman, dan Allah menurunkan [kepada kalian] kekuatan yang kalian tidak dapat lihat,34 dan Allah menghukum orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran: sebab, demikianlah balasan bagi orang-orang yang mengingkari kebenaran!


34 Yakni, kekuatan ruhani. Bdk. Surah Al-‘Imran [3]: 124-125 (yang berhubungan dengan Perang Uhud) dan catatannya, serta Surah Al-Anfal [8]: 9 (yang mengacu pada Perang Badar). Bahwa bantuan itu bersifat ruhani jelas ditunjukkan dalam ungkapan, “kekuatan yang kalian ‘tidak dapat’ [atau ‘tidak’] lihat”.


Surah At-Taubah Ayat 27

ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

ṡumma yatụbullāhu mim ba’di żālika ‘alā may yasyā`, wallāhu gafụrur raḥīm

27. Namun, dengan semua itu,35 Allah akan berpaling dengan belas kasih-Nya kepada orang-orang yang Dia kehendaki: sebab, Allah Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.36


35 Lit., “kemudian, setelah itu”.

36 Mayoritas mufasir (misalnya, Al-Thabari, Al-Baghawi, Al-Zamakhsyari, Ibn Katsir) memahami bahwa ayat ini berbicara tentang orang-orang tak beriman dan memiliki makna yang umum; namun, Al-Razi berpendapat bahwa ayat ini mengacu kepada orang-orang beriman yang berperilaku buruk pada saat permulaan Perang Hunain. Menurut pendapat saya, penafsiran yang pertama adalah lebih sesuai. (Lihat juga kalimat terakhir ayat 15 dan catatan no. 22.)


Surah At-Taubah Ayat 28

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَٰذَا ۚ وَإِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ إِنْ شَاءَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

yā ayyuhallażīna āmanū innamal-musyrikụna najasun fa lā yaqrabul-masjidal-ḥarāma ba’da ‘āmihim hāżā, wa in khiftum ‘ailatan fa saufa yugnīkumullāhu min faḍlihī in syā`, innallāha ‘alīmun ḥakīm

28. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah tidak lain adalah (orang-orang yang) tercela:37 maka, hendaknya mereka tidak mendekati Masjid Al-Haram sejak tahun ini dan seterusnya.38 Dan, sekiranya kalian takut miskin, [ketahuilah bahwa] pada waktunya Allah akan memberikan kekayaan kepada kalian dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki demikian:39 sebab, sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana!


37 Istilah najas (impure, “tercela”) terdapat di dalam Al-Quran hanya pada satu ayat ini dan mengandung suatu makna yang secara khusus bersifat ruhani (lihat Al-Manar X, hh. 322 dan seterusnya). Hingga dewasa ini, kelompok masyarakat Arab Badui di Arabia Tengah dan Timur—yang masih sangat memelihara kemurnian idiom bahasa Arab, berbeda dengan penduduk kota modern—menggambarkan seseorang yang tidak bermoral, tidak beriman, atau jahat sebagai najas. Yang dimaksud dengan al-masjid al-haram (“Rumah Ibadah yang Suci”) tentu saja adalah Ka’bah dan, sebagai implikasinya, mencakup pula keseluruhan wilayah Makkah: ini menjelaskan kalimat berikutnya.

38 Lit., “setelah tahun mereka ini”—yakni, sesudah 9 H, pada saat surah ini diwahyukan.

39 Ayat ini, secara tidak langsung, berbicara tentang ketakutan sebagian kalangan Muslim (dan bukan hanya pada saat ayat ini diwahyukan) bahwa tidak diperbolehkannya orang-orang tak beriman untuk tinggal di dalam atau mengunjungi Makkah bisa jadi menyebabkan Makkah kehilangan kedudukannya sebagai pusat perdagangan dan perniagaan, dan dengan demikian menyebabkan kemiskinan bagi penduduknya.


Surah At-Taubah Ayat 29

قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّىٰ يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

qātilullażīna lā yu`minụna billāhi wa lā bil-yaumil-ākhiri wa lā yuḥarrimụna mā ḥarramallāhu wa rasụluhụ wa lā yadīnụna dīnal-ḥaqqi minallażīna ụtul-kitāba ḥattā yu’ṭul-jizyata ‘ay yadiw wa hum ṣāgirụn

29. [Dan] perangilah orang-orang yang—meskipun telah disampaikan wahyu [pada masa lalu]40—tidak [benar-benar] beriman* kepada Allah maupun Hari Akhir, dan tidak menganggap haram apa yang Allah dan rasul-Nya telah haramkan,41 dan tidak mengikuti agama kebenaran [yang Allah telah perintahkan atas mereka],42 hingga mereka [setuju untuk] membayar pajak pembebasan dengan sukarela, setelah mereka ditundukkan [dalam peperangan].43


40 Lit., “dari kalangan yang telah disampaikan wahyu [pada masa lalu] yang tidak beriman …”, dan seterusnya. Sejalan dengan prinsip dasar—yang diterapkan dalam seluruh penafsiran saya terhadap Al-Quran—bahwa seluruh pernyataan dan ketentuan Al-Quran saling melengkapi dan, kare a itu, tidak dapat dipahami secara tepat kecuali mereka dianggap sebagai bagian dari satu kesatuan, ayat ini juga harus dibaca dalam konteks aturan Al-Quran yang jelas bahwa perang diizinkan hanya dalam rangka mempertahankan diri (lihat Surah Al-Baqarah [2]: 190-194 dan catatan yang terkait). Dengan kata lain, perintah berperang di atas hanya berlaku pada saat terjadinya agresi atau serangan yang dimulai pihak musuh terhadap komunitas atau negara Muslim, atau ketika terdapat ancaman yang jelas terhadap keamanannya: suatu pandangan yang juga dianut oleh pemikir Islam terkemuka, Muhammad ‘Abduh. Ketika menafsirkan ayat ini, ‘Abduh menyatakan: “Berperang menjadi kewajiban dalam Islam hanya untuk kepentingan mempertahankan kebenaran dan para pengikutnya …. Seluruh peperangan yang dilakukan oleh Nabi dilaksanakan dalam rangka mempertahankan diri; dan demikian pula berbagai peperangan yang dijalankan oleh para Sahabat pada periode awal [Islam]” (Al-Manar X, h. 332).

* {Qatilu al-ladzfna la yu’minuna … min al-ladzfna utu al-kitaba. Terjemahan dari frasa “min al-ladzina utu al-kitaba” (“dari kalangan yang telah disampaikan wahyu [pada masa lalu]”) diletakkan oleh Asad di bagian awal kalimat, dalam bentuk sisipan, sebagai keterangan bagi frasa al-ladzina la yu’minuna.—peny.}

41 Menurut pendapat saya, ini merupakan ungkapan kunci dari perintah di atas. Istilah “rasul” di sini jelas digunakan dalam pengertian umum dan berlaku bagi seluruh nabi yang ajaran-ajaran mereka seharusnya menjadi pijakan bagi keyakinan orang Yahudi maupun orang Nasrani—khususnya, Musa dan (dalam kasus Nasrani) Isa (Al-Manar X, hh. 333 dan 337). Karena orang-orang yang dibicarakan di sini dituduh, dalam bagian awal kalimat ini, melakukan dosa yang sedemikian besarnya, yakni sengaja menolak beriman kepada Allah dan Hari Akhir (yakni kehidupan sesudah mati dan tanggung jawab manusia secara perseorangan atas perbuatannya selama di dunia), sulit untuk dipahami bahwa mereka harus dipersalahkan hanya karena pelanggaran-pelanggaran kecil terhadap hukum agama: karena itu, penekanan bahwa mereka “tidak menganggap haram apa yang Allah dan rasul-Nya telah haramkan” mestilah mengacu pada suatu perbuatan yang dosanya sama, atau nyaris sama, besarnya dengan dosa tidak beriman kepada Allah. Dalam konteks perintah yang menyuruh kaum beriman untuk memerangi mereka, “suatu” perbuatan dosa besar atau perbuatan yang nyaris merupakan dosa besar itu hanya dapat berarti satu hal—yaitu, agresi yang tidak beralasan (unprovoked aggression): sebab, hal inilah yang dilarang oleh Allah melalui seluruh nabi yang diamanati untuk menyampaikan pesan-Nya kepada manusia. Nadi, ayat di atas harus dipahami sebagai panggilan bagi orang beriman untuk berperang melawan mereka—dan hanya mereka—yang mengikuti wahyu terdahulu, tetapi hanya sebatas dalam namanya (the nominal followers of earlier revelation), yang mengingkari keyakinan yang mereka sendiri anut dengan melakukan agresi terhadap para pengikut Al-Quran (bdk. Al-Manar X, h. 338).

42 Dalam kaitan ini, lihat pernyataan (di dalam Surah Al-Ma’idah [5]: 13-14) bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani “telah melupakan banyak hal yang telah diperintahkan ke-pada mereka untuk dicamkan”.

43 Dengan kata lain, “yang telah tergabung ke dalam negara Islam”. Istilah jizyah, yang saya terjemahkan sebagai “pajak pembebasan” (exemption tax), muncul hanya satu kali di dalam Al-Quran, tetapi arti dan tujuannya telah dijelaskan secara lengkap di dalam banyak hadis sahih. Istilah ini terkait erat dengan konsep negara Islam sebagai sebuah organisasi ideologis: dan ini adalah hal pokok yang harus senantiasa diingat jika makna sebenarnya dari pajak ini hendak dipahami. Di negara Islam, setiap Muslim yang mampu diwajibkan turut serta dalam jihad (yakni, perang yang adil di jalan Allah) tatkala kebebasan keyakinannya atau keamanan politik masyarakatnya terancam: dengan kata lain, setiap Muslim dikenakan dinas militer. Karena hal ini pada dasarnya merupakan suatu kewajiban keagamaan, tidak adil apabila warga negara non-Muslim, yang tidak menganut ideologi Islam, diharapkan untuk memikul beban yang sama. Di sisi lain, mereka harus diberi perlindungan atas seluruh hak kewarganegaraan mereka serta kebebasan beragama mereka: dan, dalam rangka memberi kompensasi kepada komunitas Muslim atas distribusi beban kewarganegaraan yang tidak setara tersebut, pajak khusus dikenakan atas warga negara non-Muslim (ahl al-dzimmah, lit., “orang-orang yang dijamin dalam perjanjian [atau ‘dilindungi’]”, yakni kelompok non-Muslim yang keamanannya dijamin oleh masyarakat Muslim sesuai undang-undang). Jadi, jizyah tidak lebih dan tidak kurang merupakan suatu pajak pembebasan atau pajak pengecualian sebagai pengganti dinas militer dan sebagai kompensasi atas “perjanjian perlindungan” (dzimmah) yang diberikan kepada kelompok warga tersebut oleh negara Islam. (Istilah jizyah sendiri berasal dari verbs jaza, “ia memberi [sesuatu] sebagai kepuasan” atau “sebagai kompensasi [untuk mengganti sesuatu yang lain]”—bdk. Lane II, h. 422.) Tidak ada tarif tertentu yang ditetapkan oleh Al-Quran atau Nabi untuk pajak ini, tetapi dari seluruh hadis yang ada, jelas bahwa jumlah pajak ini lebih rendah daripada zakah (“sumbangan yang menyucikan”) yang diwajibkan atas kaum Muslim dan—karena ini secara khusus merupakan kewajiban agama Islam—tentunya tidak dibebankan atas orang non-Muslim. Warga non-Muslim yang wajib membayar jizyah hanyalah orang-orang yang, seandainya mereka adalah Muslim, juga akan diharapkan untuk mengabdi pada angkatan bersenjata negara. ltu pun sepanjang mereka dapat membayarnya dengan mudah. Sejalan dengan itu, seluruh warga non-Muslim yang status atau kondisi pribadinya secara otomatis membebaskan mereka dari kewajiban untuk mengikuti dinas militer sesuai undang-undang—yaitu, berdasarkan peraturan-peraturan sangat jelas yang diberlakukan oleh Nabi dibebaskan dari kewajiban untuk membayar jizyah, yakni: (a) semua perempuan, (b) laki-laki yang belum dewasa, (c) orang tua, (d) orang yang sakit atau lumpuh, (e) pendeta dan rahib. Semua warga non-Muslim yang menjadi relawan untuk dinas militer dibebaskan dari kewajiban membayar jizyah.

Terjemahan says atas ungkapan ‘an yad (lit., “dari tangan”) sebagai “dengan sukarela (with a willing hand)”, yaitu tanpa rasa enggan, didasarkan atas salah satu penjelasan yang ditawarkan oleh Al-Zamakhsyari dalam penafsirannya terhadap ayat di atas. Rasyid Ridha, yang memahami kata yad secara kiasan sebagai “kekuasaan” atau “kemampuan”, mengaitkan ungkapan ‘an yad dengan kemampuan finansial orang yang berkewajiban untuk membayar jizyah (lihat Al-Manar X, h. 342): suatu penafsiran yang jelas dibenarkan mengingat definisi yang diterima mengenai pajak tersebut.


Surah At-Taubah Ayat 30

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

wa qālatil-yahụdu ‘uzairunibnullāhi wa qālatin-naṣāral-masīḥubnullāh, żālika qauluhum bi`afwāhihim, yuḍāhi`ụna qaulallażīna kafarụ ming qabl, qātalahumullāh, annā yu`fakụn

30. DAN, ORANG-ORANG YAHUDI berkata, “‘Uzair adalah putra Allah,” sementara orang-orang Nasrani berkata, “Al-Masih adalah putra Allah.” Seperti itulah perkataan yang mereka ucapkan dengan mulut mereka, yang dalam semangatnya meniru perkataan-perkataan yang diucapkan pada masa dahulu oleh orang-orang yang mengingkari kebenaran!44 [Mereka layak dikutuk:] “Semoga Allah membinasakan mereka!”45

Betapa menyimpangnya pikiran mereka!46


44 Pernyataan ini terkait dengan ayat terdahulu yang berbicara tentang para pengikut wahyu terdahulu yang berdosa. Tuduhan syirk (“menisbahkan ketuhanan [atau ‘sifat-sifat ketuhanan’] kepada apa pun selain Allah”) dikenakan terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani untuk memperkuat pernyataan bahwa mereka “tidak mengikuti agama kebenaran [yang Allah telah perintahkan kepada mereka]”.

Berkenaan dengan kepercayaan yang dinisbahkan kepada orang Yahudi bahwa ‘Uzair (Ezra) adalah “anak Allah”, perlu dicatat bahwa hampir seluruh mufasir klasik Al-Quran setuju bahwa yang dimaksud dalam tuduhan ini hanyalah kelompok Yahudi Arab, bukan semua orang Yahudi. (Menurut sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Abbas—yang dikutip oleh Al-Thabari dalam penafsirannya terhadap ayat ini—beberapa Yahudi Madinah suatu kali pernah berkata kepada Muhammad Saw., “Bagaimana kami akan mengikutimu, sementara engkau meninggalkan kiblat kami dan tidak menganggap ‘Uzair sebagai putra Allah?”) Di sisi lain, ‘Uzair menempati posisi unik dalam penghargaan orang-orang Yahudi dan selalu dipuja oleh mereka dengan istilah-istilah yang berlebihan. Dialah yang mengembalikan dan mengodifikasi Taurat setelah kitab itu hilang selama dalam eksodus di Babilonia, dan “menyuntingnya” dalam bentuk yang kurang lebih seperti yang ada dewasa ini; dan, dengan demikian, “dia memperkenalkan pembentukan jenis agama yang eksklusif dan legalistik yang mendominasi agama Yahudi dalam perkembangan kemudian” (Encyclopaedia Britannica, 1963, vol. IX, h. 15). Lalu, sejak saat itu, dia dimuliakan hingga suatu tingkat yang pendapat-pendapatnya tentang Taurat Musa, pada akhirnya, dianggap oleh para pengikut Talmud dalam praktiknya sepadan dengan Taurat itu sendiri: yang, di dalam ideologi Al-Quran, berarti suatu dosa syirik yang tak dapat dimaafkan lantaran hal itu berarti meningkatkan seorang manusia kepada status seorang pembuat hukum semi-Ilahi dan memberi sifat kepadanya yang menghujat Allah—walaupun secara kiasan—yaitu, sifat “ke-anak-an” dalam hubungannya dengan Allah. Dalam kaitan ini, bdk. Bibel, Kitab Keluaran 4: 22-23 (“Israel ialah anak-Ku”) atau Yeremia 31: 9 (“Aku telah menjadi bapa Israel”): ungkapan-ungkapan yang, karena pengertian syirik yang tersirat di dalamnya, dikecam keras oleh Al-Quran.

45 Penambahan yang saya lakukan di dalam kurung dengan kata-kata “mereka layak dikutuk” didasarkan pada penafsiran yang meyakinkan dari Al-Zamakhsyari dan Al-Razi atas frasa tersebut. Pada awalnya, orang Arab menggunakan ungkapan “semoga Allah membinasakannya” dalam pengertian suatu kutukan yang bersifat langsung, tetapi sudah sejak di dalam bahasa Arab sebelum Al-Quran, ungkapan itu telah memiliki karakter suatu idiom yang dimaksudkan untuk mendefinisikan segala sesuatu yang sangat aneh atau menakutkan: dan, menurut banyak filolog, “ketimbang arti harfiahnya, inilah makna [dari ungkapan tersebut] di sini” (Al-Manar X, h. 399).

46 Lihat Surah Al-Ma’idah [5], catatan no. 90.


Surah At-Taubah Ayat 31

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

ittakhażū aḥbārahum wa ruhbānahum arbābam min dụnillāhi wal-masīḥabna maryam, wa mā umirū illā liya’budū ilāhaw wāḥidā, lā ilāha illā huw, sub-ḥānahụ ‘ammā yusyrikụn

31. Mereka telah menjadikan para rabi dan pendeta mereka—dan juga Al-Masih, putra Maryam—sebagai tuhan-tuhan mereka di samping Allah,47 meskipun mereka telah diperintahkan untuk tidak menyembah siapa pun selain Allah Yang Esa, yang tiada tuhan kecuali Dia! Dia yang sungguh amat jauh, dengan kemuliaan-Nya yang tak terhingga, dari segala apa yang mungkin mereka persekutukan dengan-Nya!


47 Bdk. Surah Al-‘Imran [3]: 64.


Surah At-Taubah Ayat 32

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

yurīdụna ay yuṭfi`ụ nụrallāhi bi`afwāhihim wa ya`ballāhu illā ay yutimma nụrahụ walau karihal-kāfirụn

32. Mereka hendak memadamkan cahaya [petunjuk] Allah dengan ucapan-ucapan mereka:48 tetapi, Allah tidak menghendaki [ini terjadi] karena Dia telah berkehendak untuk menyebarkan cahaya-Nya sepenuhnya,49 betapapun hal ini dibenci oleh semua orang yang mengingkari kebenaran.


48 Lit., “dengan mulut mereka”—yang secara tidak langsung mengacu pada “perkataan” (yakni keyakinan) yang disebut di dalam ayat 30.

49 Lit., “kecuali (illa) bahwa Dia melengkapi atau menyempurnakan cahaya-Nya”. Ungkapan “karena Dia telah berkehendak” (yakni, bertentangan dengan apa yang diinginkan oleh orang-orang yang berdosa itu) di sini secara eliptis diimplikasikan oleh kata illa.


Surah At-Taubah Ayat 33

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

huwallażī arsala rasụlahụ bil-hudā wa dīnil-ḥaqqi liyuẓ-hirahụ ‘alad-dīni kullihī walau karihal-musyrikụn

33. Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan [tugas untuk menyebarkan] petunjuk dan agama kebenaran, dengan tujuan agar Dia menjadikannya unggul atas semua agama [yang batil]50—betapapun hal ini mungkin dibenci oleh orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah.


50 Bdk. Surah Al-‘Imran [3]: 19—”satu-satunya agama [yang benar] dalam pandangan Allah adalah penyerahan-diri [manusia] kepada-Nya”. Lihat juga Surah As-Saff [61]: 8-9.


Surah At-Taubah Ayat 34

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۗ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

yā ayyuhallażīna āmanū inna kaṡīram minal-aḥbāri war-ruhbāni laya`kulụna amwālan-nāsi bil-bāṭili wa yaṣuddụna ‘an sabīlillāh, wallażīna yaknizụnaż-żahaba wal-fiḍḍata wa lā yunfiqụnahā fī sabīlillāhi fa basysyir-hum bi’ażābin alīm

34. Wahai, kalian yang telah meraih iman! Sungguh, banyak dari para rabi dan pendeta yang melahap harta orang dengan cara yang salah dan memalingkan [orang] dari jalan Allah. Akan tetapi, bagi orang-orang yang menimbun emas dan perak dan tidak membelanjakannya di jalan Allah51—berilah mereka kabar tentang derita yang pedih [di kehidupan mendatang]:


51 Kemungkinan besar hal ini pertama-tama berbicara, secara tidak langsung, tentang harta kekayaan umat Yahudi dan Nasrani, dan penyalahgunaan mereka atas harta tersebut. Namun, sebagian mufasir berpendapat bahwa ayat tersebut mengacu pada komunitas yang lebih luas, yang meliputi seluruh masyarakat, termasuk umat Islam, yang menimbun harta kekayaan mereka tanpa membelanjakan sedikit pun dari harta itu untuk tujuan-tujuan baik.


Surah At-Taubah Ayat 35

يَوْمَ يُحْمَىٰ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ ۖ هَٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ

yauma yuḥmā ‘alaihā fī nāri jahannama fa tukwā bihā jibāhuhum wa junụbuhum wa ẓuhụruhum, hāżā mā kanaztum li`anfusikum fa żụqụ mā kuntum taknizụn

35. pada Hari kerika [harta yang ditimbun] itu akan dipanaskan di dalam api neraka, dan dahi, lambung, serta punggung mereka akan dicap dengannya,52 [kepada orang-orang yang berdosa itu akan dikatakan:] “Inilah harta yang kalian telah timbun untuk diri kalian sendiri! Maka, rasakanlah [keburukan dari] harta yang kalian timbun itu!”


52 Bdk. alegori serupa di dalam Surah Al-‘Imran [3]: 180 tentang penderitaan yang akan menimpa orang-orang yang tamak dan kikir dalam kehidupan mendatang. Mengenai implikasi-implikasi eskatologis alegori ini dan alegori-alegori yang serupa, lihat artikel Al-Mutasyabihat (Simbolisme dan Alegori) dalam Al-Qur’an.


Surah At-Taubah Ayat 36

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

inna ‘iddatasy-syuhụri ‘indallāhiṡnā ‘asyara syahran fī kitābillāhi yauma khalaqas-samāwāti wal-arḍa min-hā arba’atun ḥurum, żālikad-dīnul-qayyimu fa lā taẓlimụ fīhinna anfusakum wa qātilul-musyrikīna kāffatang kamā yuqātilụnakum kāffah, wa’lamū annallāha ma’al-muttaqīn

36. PERHATIKANLAH, jumlah bulan dalam pandangan Allah adalah dua belas bulan, [yang digariskan] dalam ketetapan Allah pada hari ketika Dia menciptakan lelangit dan bumi; [dan] di antaranya terdapat empat (bulan) yang suci:53 inilah hukum [Allah] yang benar-abadi. Maka, janganlah kalian menzalimi diri sendiri berkenaan dengan [bulan-bulan] ini.54

Dan, perangilah orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah, semuanya bersama-sama—sebagaimana mereka memerangi kalian [wahai orang-orang beriman], semuanya bersama-sama55—dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang sadar akan Dia.


53 Hal ini terkait dengan pembicaraan selanjutnya tentang berperang melawan “orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah” (lihat catatan selanjutnya). Bulan-bulan yang dibicarakan di sini adalah bulan-bulan lunar atau Qamariah {yaitu bulan kalender yang perhitungannya berdasarkan peredaran bulan—peny.}, yang berotasi maju melalui musim-musim pada tahun matahari atau Syamsiah (lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 165). Karena perhitungan dengan menggunakan bulan Qamariah yang lebih mudah diamati adalah lebih alami dibanding bulan tahun Syamsiah yang ditetapkan secara arbitrer, di dalam ayat ini, hal tersebut digambarkan sebagai “hukum [Allah] yang benar-abadi (din)”. Empat “bulan suci” yang pada bulan-bulan itu peperangan dipandang suatu penghinaan terhadap Allah pada masa Arab pra-Islam—suatu pandangan yang telah dikukuhkan oleh Islam (lihat catatan no. 6)—yaitu Muharram, Rajab, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah.

54 Dalam usaha mereka untuk menyingkirkan hambatan-hambatan tertentu yang merugikan perdagangan mereka yang disebabkan oleh rotasi musim dari bulan-bulan kalender Qamariah, orang-orang pagan Arab biasa melakukan penyisipan (intercalation), yaitu penambahan bulan ketiga belas di tahun ketiga, keenam, dan kedelapan setiap periode sewindu (delapan tahunan), dengan maksud untuk menjadikan kalender Qamariah kurang lebih bersifat tetap, tidak berubah-ubah, dan dengan demikian, secara umum bersesuaian dengan kalender Syamsiah. Apabila kaum Muslim menerima penyisipan yang tidak beralasan itu, itu berarti kaum Muslim telah mematok ibadah haji di Makkah dan puasa bulan Ramadhan pada musim yang telah pasti dan, secara permanen, akan membuat pelaksanaan ibadah keagamaan itu menjadi terlalu pasti atau terlalu mudah; dan dalam kedua kasus itu, orang beriman akan merusak tujuan ruhani yang melandasi tugas-tugas keagamaan tersebut—yang merupakan makna dari ungkapan “janganlah kalian menzalimi diri sendiri berkenaan dengan [bulan-bulan] ini”: yakni, dengan mengikuti, tanpa perintah dari Allah, suatu kebiasaan yang diada-adakan oleh “orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain-Nya”, yang dirujuk oleh bagian ayat berikutnya.

55 Yakni, “sebagaimana mereka semua bersatu melawan kalian untuk menolak kebenaran, bersatulah melawan mereka untuk slap berkorban”. Mengenai kondisi-kondisi ketika kaum Muslim diberi kewenangan untuk berperang melawan orang-orang tak beriman, lihat bagian-bagian awal surah ini, terutama ayat 12-13, serta Surah Al-Baqarah [2]: 190-194, yang di dalamnya prinsip-prinsip umum yang berhubungan dengan perang telah digariskan. 


Surah At-Taubah Ayat 37

إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ ۖ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُحِلُّونَهُ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُ عَامًا لِيُوَاطِئُوا عِدَّةَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فَيُحِلُّوا مَا حَرَّمَ اللَّهُ ۚ زُيِّنَ لَهُمْ سُوءُ أَعْمَالِهِمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

innaman-nasī`u ziyādatun fil-kufri yuḍallu bihillażīna kafarụ yuḥillụnahụ ‘āmaw wa yuḥarrimụnahụ ‘āmal liyuwāṭi`ụ ‘iddata mā ḥarramallāhu fa yuḥillụ mā ḥarramallāh, zuyyina lahum sū`u a’mālihim, wallāhu lā yahdil-qaumal-kāfirīn

37. Penyisipan [bulan] tidak lain adalah satu lagi contoh penolakan [mereka] untuk mengakui kebenaran56—yang dengan [cara] itu orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran menjadi tersesat. Mereka menyatakan [penyisipan] itu diperbolehkan pada tahun yang satu dan dilarang pada tahun [yang lain],57 dalam rangka menyesuaikan [secara lahiriah] dengan jumlah bulan yang Allah telah sucikan: dan, dengan demikian, mereka menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah.58 Tampak baik dalam pandangan mereka kejahatan dari perbuatan-perbuatan mereka sendiri, sebab Allah tidak memberi petunjuk-Nya kepada orang-orang yang menolak mengakui kebenaran.


56 Lit., “tidak lain adalah meningkatnya penolakan terhadap kebenaran (kufr)”. Istilah nasi’, yang saya terjemahkan sebagai “penyisipan” (intercalation), dapat juga diterjemahkan sebagai “penangguhan” (postponement)—yakni, penangguhan bulan dalam kalender Qamariah dengan cara menyisipkan bulan ketiga belas secara berkala, sebagaimana dipraktikkan oleh orang-orang Arab pra-Islam dengan maksud untuk menyesuaikan kalender Qamariah, untuk alasan-alasan yang murni bersifat duniawi, dengan kalender tahun matahari atau Syamsiah (lihat catatan no. 54). Al-Quran menggambarkan praktik ini sebagai contoh tambahan pengingkaran terhadap kebenaran (kufr) karena hal ini bertentangan dengan kehendak yang telah dinyatakan oleh Allah berkenaan dengan pemberlakuan kalender Qamariah berkaitan dengan berbagai tugas keagamaan (bdk. ayat terdahulu, juga Surah Al-Baqarah [2]: 189 dan catatan no. 165).

57 Bagian ini berbicara secara tidak langsung tentang perilaku sewenang-wenang masyarakat Arab pra-lslam dalam menyisipkan bulan ketiga belas pada tahun ketiga, keenam, dan kedelapan dalam tiap periode sewindu (delapan tahunan).

58 Dengan cara melakukan penyisipan bulan seperti dibicara-kan di atas. Dalam kebanyakan tahun, kaum pagan Arab berhasil mempertahankan jumlah dua belas bulan dalam satu tahun; tetapi, dengan memisahkan empat “bulan suci” (Muharram, Rajab, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah) dari konteks kalender Qamariah yang semestinya, mereka dengan jelas menodai dan melanggar hukum alam.


Surah At-Taubah Ayat 38

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ ۚ أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

yā ayyuhallażīna āmanụ mā lakum iżā qīla lakumunfirụ fī sabīlillāhiṡ ṡāqaltum ilal-arḍ, a raḍītum bil-ḥayātid-dun-yā minal-ākhirah, fa mā matā’ul-ḥayātid-dun-yā fil-ākhirati illā qalīl

38. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Ada apa dengan kalian, tatkala kalian diseru, “Pergilah untuk berperang di jalan Allah,” kalian merasa berat pada bumi?59 Akankah kalian puas dengan [kesenangan] kehidupan duniawi ini daripada [kebaikan] kehidupan mendatang? Akan tetapi, kesenangan kehidupan di dunia ini tidaklah berarti dibanding kehidupan mendatang!


59 Yakni, “kalian lamban dalam memberi tanggapan, merasa berat pada kehidupan dunia ini”. Ayat ini—dan juga kebanyakan ayat dalam surah ini mulai dari bagian ini hingga seterusnya—mengacu pada pengerahan pasukan ke Tabuk pada 9 H. Alasan utama pengerahan pasukan ini adalah informasi yang kurang lebih diterima oleh Nabi bahwa orang-orang Bizantium yang disebabkan merasa takut dengan pertumbuhan pesat Islam di Arabia dan diprovokasi oleh musuh Nabi, Abu ‘Amir (lihat catatan no. 142 pada ayat 107 surah ini), mengumpulkan pasukan dalam jumlah besar di perbatasan Semenanjung dengan tujuan untuk bergerak maju ke arah Madinah dan menaklukkan kaum Muslim. Untuk menghadapi ancaman serangan tersebut, Nabi mengumpulkan pasukan terkuat yang dimiliki oleh kaum Muslim dan berangkat menuju perbatasan pada bulan Rajab 9 H. Ketika mencapai Tabuk, yang kira-kira terletak di tengah-tengah antara Makkah dan Damaskus, lalu Nabi menjadi yakin bahwa pihak Bizantium belum siap untuk menginvasi Arabia atau mereka telah membatalkan sama sekali ide untuk melakukan invasi tersebut untuk saat itu, sehingga—sejalan dengan prinsip Islam bahwa perang hanya dapat dikobarkan dalam rangka mempertahankan diri—Nabi kembali bersama pengikutnya ke Madinah tanpa terlibat dalam pertempuran.

Pada saat persiapan untuk pengerahan pasukan tersebut, orang-orang munafik dan sekelompok kecil di kalangan orang beriman memperlihatkan keengganan yang sangat kuat (yang dirujuk di dalam ayat ini dan ayat berikutnya) untuk pergi berperang melawan Bizantium: dan kelompok kecit itulah yang dikecam oleh ayat di atas lantaran “merasa berat pada bumi” (Al-Manar X, h. 493).


Surah At-Taubah Ayat 39

إِلَّا تَنْفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّوهُ شَيْئًا ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

illā tanfirụ yu’ażżibkum ‘ażāban alīmaw wa yastabdil qauman gairakum wa lā taḍurrụhu syai`ā, wallāhu ‘alā kulli syai`ing qadīr

39. Apabila kalian tidak pergi untuk berperang [di jalan Allah], Dia akan menghukum kalian dengan hukuman yang pedih dan akan mengganti kalian dengan kaum yang lain—sementara kalian sama sekali tidak akan dapat memberi kemudaratan kepada-Nya: sebab, Allah Mahakuasa untuk menetapkan segala sesuatu.


Surah At-Taubah Ayat 40

إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

illā tanṣurụhu fa qad naṣarahullāhu iż akhrajahullażīna kafarụ ṡāniyaṡnaini iż humā fil-gāri iż yaqụlu liṣāḥibihī lā taḥzan innallāha ma’anā, fa anzalallāhu sakīnatahụ ‘alaihi wa ayyadahụ bijunụdil lam tarauhā wa ja’ala kalimatallażīna kafarus-suflā, wa kalimatullāhi hiyal-‘ulyā, wallāhu ‘azīzun ḥakīm

40. Apabila kalian tidak menolong Rasul60 [ketahuilah bahwa Allah akan menolongnya—sebagaimana ketika] Allah menolongnya pada waktu orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran mengusirnya, [dan dia tidak lain adalah] salah satu dari dua orang:61 tatkala keduanya [bersembunyi] di dalam gua, [dan] Rasul berkata kepada Sahabatnya, “Janganlah bersusah hati: sungguh, Allah bersama kita.”62 Lalu, Allah menurunkan kepadanya [anugerah] ketenangan batin, dan membantunya dengan pasukan [samawi] yang tidak dapat kalian lihat,63 dan menjadikan benar-benar rendah tujuan orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran, sementara tujuan Allah tetap unggul:64 sebab, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.


60 Lit., “-nya”, yakni Nabi Muhammad Saw.

61 Lit., “yang kedua dari yang dua”: bagian ayat ini mengacu secara tidak langsung pada peristiwa pelarian Nabi, yang ditemani oleh Abu Bakr, dari Makkah ke Madinah pada 622 M. Ungkapan “yang kedua dari yang dua” tidak mengandung pengertian mengenai urutan, melainkan sama artinya dengan “satu dari yang dua”: bandingkan dengan perkataan Nabi kepada Abu Bakr pada kesempatan itu, “Menurut pendapatmu, apa [yang dapat terjadi] pada dua [orang] yang bersama mereka Allah menjadi yang ketiga?” (Al-Bukhari, di dalam Bab Fadha’il Ashhab Al-Nabi).

62 Ketika Nabi dan Abu Bakr mulai melakukan hijrah ke Madinah, mereka bersembunyi selama tiga malam di sebuah gua di Bukit Tsur, di sekitar Makkah, di mana mereka hampir ditemukan dan ditangkap oleh kaum pagan Quraisy yang mengejar mereka (Al-Bukhari, loc. cit.).

63 Bdk. ayat 26 surah ini.

64 Lit., “adalah yang tertinggi”. Ungkapan yang saya terjemahkan sebagai “cause, tujuan”, yang muncul sebanyak dua kali di dalam kalimat ini, secara harfiah berbunyi “kata” (kalimah).


Surah At-Taubah Ayat 41

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

infirụ khifāfaw wa ṡiqālaw wa jāhidụ bi`amwālikum wa anfusikum fī sabīlillāh, żālikum khairul lakum ing kuntum ta’lamụn

41. Pergilah untuk berperang, baik hal itu mudah ataupun sulit [bagi kalian],65 dan berjuanglah dengan sungguh-sungguh di jalan Allah dengan harta dan nyawa kalian: ini adalah untuk kebaikan diri kalian sendiri—sekiranya kalian mengetahuinya!


65 Lit., “ringan atau berat”. Terjemahan yang saya ambil sesuai dengan penafsiran atas ungkapan itu oleh sebagian besar mufasir klasik (misalnya, Al-Zamakhsyari dan Al-Razi).


Surah At-Taubah Ayat 42

لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لَاتَّبَعُوكَ وَلَٰكِنْ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ ۚ وَسَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنْفُسَهُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

lau kāna ‘araḍang qarībaw wa safarang qāṣidal lattaba’ụka wa lākim ba’udat ‘alaihimusy-syuqqah, wa sayaḥlifụna billāhi lawistaṭa’nā lakharajnā ma’akum, yuhlikụna anfusahum, wallāhu ya’lamu innahum lakāżibụn

42. Seandainya terdapat [peluang untuk memperoleh] keuntungan segera, dan perjalanan yang mudah, mereka pasti telah mengikutimu, [wahai Nabi:] tetapi, perjalanan yang jauh itu terlampau berat bagi mereka.66 Namun, [sekembalinya kalian, wahai orang-orang beriman,] mereka akan bersumpah dengan nama Allah, “Seandainya sanggup melakukannya, tentulah kami telah berangkat bersama-sama kalian!”—[dan dengan sumpah palsu tersebut,] mereka akan membinasakan diri mereka sendiri: sebab, Allah sungguh mengetahui bahwa mereka berdusta!


66 Bagian ayat ini berbicara tentang keengganan sebagian Muslim untuk mengikuti ajakan Nabi dan untuk bergabung dalam pengerahan pasukan menuju perbatasan (lihat alinea terakhir catatan no. 59). Perjalanan berat selama sekitar 14 hari diperlukan untuk mencapai Tabuk, tujuan dari ekspedisi ini; dan ketidakpastian hasil dan kesulitan yang menyertai ekspedisi tersebut menimbulkan segala macam cara untuk membuat alasan-alasan palsu di pihak orang-orang yang beriman setengah hati dan orang-orang munafik. Seperti diperlihatkan ayat-ayat selanjutnya, Nabi menerima alasan-alasan tersebut dalam banyak kasus dan mengizinkan orang-orang itu untuk tetap tinggal di Madinah.


Surah At-Taubah Ayat 43

عَفَا اللَّهُ عَنْكَ لِمَ أَذِنْتَ لَهُمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَتَعْلَمَ الْكَاذِبِينَ

‘afallāhu ‘angk, lima ażinta lahum ḥattā yatabayyana lakallażīna ṣadaqụ wa ta’lamal-kāżibīn

43. Semoga Allah memaafkanmu [wahai Nabi]!67 Mengapa engkau memberikan izin kepada mereka [untuk tinggal di rumah] sebelum jelas bagimu siapa yang mengatakan kebenaran dan [sebelum] engkau mengetahui [siapa] yang pendusta?


67 Seluruh mufasir sepakat bahwa frasa ini, walaupun diungkapkan dalam bentuk doa, memiliki arti sebuah pernyataan—”Allah memaafkanmu” atau “telah memaafkanmu”— yang membebaskan Nabi dari setiap tanggung jawab moral atas kesalahannya, yang dapat dipahami dari segi manusiawi, ketika menerima permintaan yang tidak beralasan-kuat dari orang-orang yang ingin diizinkan untuk tidak terlibat dalam pengerahan pasukan ke Tabuk tersebut. Bagi saya, pernyataan “pengampunan” ini tampaknya dimaksudkan terutama untuk mencegah agar Nabi tidak mengambil sikap menyalahkan diri sendiri atas tindakannya yang terlampau bebas dalam masalah ini. (Perlu diingat bahwa sebagian Surah At-Taubah ini diturunkan selama atau setelah pengerahan pasukan ke Tabuk.)


Surah At-Taubah Ayat 44

لَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالْمُتَّقِينَ

lā yasta`żinukallażīna yu`minụna billāhi wal-yaumil-ākhiri ay yujāhidụ bi`amwālihim wa anfusihim, wallāhu ‘alīmum bil-muttaqīn

44. Orang-orang yang [benar-benar] beriman kepada Allah dan Hari Akhir tidak meminta kepadamu pengecualian untuk berjuang dengan harta dan nyawa mereka [di jalan Allah]—dan Allah mengetahui sepenuhnya mengenai siapa yang sadar akan Dia—:68


68 “mengetahui sepenuhnya orang-orang yang sadar akan Allah (bi al-muttaqin)”.


Surah At-Taubah Ayat 45

إِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ

innamā yasta`żinukallażīna lā yu`minụna billāhi wal-yaumil-ākhiri wartābat qulụbuhum fa hum fī raibihim yataraddadụn

45. hanya orang-orang yang meminta pengecualian kepadamu itulah mereka yang tidak [benar-benar] beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dan yang hati mereka diliputi keraguan, sehingga dalam keraguan itu mereka terombang-ambing antara hal yang satu dan yang lain.


Surah At-Taubah Ayat 46

وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَٰكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ

walau arādul-khurụja la`a’addụ lahụ ‘uddataw wa lāking karihallāhumbi’āṡahum fa ṡabbaṭahum wa qīlaq’udụ ma’al-qā’idīn

46. Karena, seandainya mereka [benar-benar] ingin berangkat [bersamamu], pastilah mereka telah membuat semacam persiapan untuk itu: tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah menyebabkan mereka mundur tatkala dikatakan, “[Kalian boleh] tinggal di rumah bersama semua [orang lain] yang tinggal di rumah.”69


69 Hal ini mungkin mengacu pada izin yang diberikan oleh Nabi (lihat ayat 43) kepada sebagian di antara para pengikutnya yang, karena alasan-alasan yang tampaknya dapat diterima, tidak dapat ambil bagian dalam perjalanan pasukan ke Tabuk (Al-Thabari, Al-Zamakhsyari dan Al-Razi)—suatu izin yang dengan segera dimanfaatkan oleh orang-orang munafik. Perihal bahwa Allah “menyebabkan” orang-orang munafik menjadi berdosa dengan cara itu, lihat Surah Al-Baqarah [2]: 7, catatan no. 7, serta Surah Al-‘Imran [3], catatan no. 117.


Surah At-Taubah Ayat 47

لَوْ خَرَجُوا فِيكُمْ مَا زَادُوكُمْ إِلَّا خَبَالًا وَلَأَوْضَعُوا خِلَالَكُمْ يَبْغُونَكُمُ الْفِتْنَةَ وَفِيكُمْ سَمَّاعُونَ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

lau kharajụ fīkum mā zādụkum illā khabālaw wa la`auḍa’ụ khilālakum yabgụnakumul-fitnah, wa fīkum sammā’ụna lahum, wallāhu ‘alīmum biẓ-ẓālimīn

47. Seandainya mereka [orang-orang munafik] berangkat bersama kalian, [wahai orang-orang beriman,] mereka tidak akan menambah sesuatu apa pun kepada kalian selain kerusakan, dan tentu mereka akan berlari-lari ke depan dan ke belakang di tengah-tengah kalian, berusaha untuk menyulut pertengkaran di antara kalian, mengingat bahwa di antara kalian terdapat orang-orang yang mau mendengarkan mereka: tetapi, Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.


Surah At-Taubah Ayat 48

لَقَدِ ابْتَغَوُا الْفِتْنَةَ مِنْ قَبْلُ وَقَلَّبُوا لَكَ الْأُمُورَ حَتَّىٰ جَاءَ الْحَقُّ وَظَهَرَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَارِهُونَ

laqadibtagawul-fitnata ming qablu wa qallabụ lakal-umụra ḥattā jā`al-ḥaqqu wa ẓahara amrullāhi wa hum kārihụn

48. Sungguh, bahkan sebelum kali ini,70 mereka telah mencoba untuk menyulut perselisihan dan mengatur berbagai macam tipu muslihat terhadapmu, [wahai Nabi,] hingga kemudian kebenaran terungkap dan kehendak Allah menjadi nyata, betapapun hal ini dibenci oleh mereka.


70 Yakni, sebelum pengerahan pasukan ke Tabuk, yang selama masa itu bagian-bagian surah ini diwahyukan.


Surah At-Taubah Ayat 49

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي ۚ أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا ۗ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ

wa min-hum may yaqụlu`żal lī wa lā taftinnī, alā fil-fitnati saqaṭụ, wa inna jahannama lamuḥīṭatum bil-kāfirīn

49. Dan, di antara mereka, ada [banyak] yang berkata,71 “Berilah saya izin [untuk tetap tinggal di rumah] dan jangan bebani saya dengan cobaan yang terlampau berat!” Ah, sungguh, [dengan membuat permintaan semacam itu,] mereka [telah gagal dalam ujian mereka dan telah] terjerumus ke dalam godaan untuk (melakukan) kejahatan:72 dan, sungguh, mereka benar-benar menyelimuti semua orang yang menolak untuk mengakui kebenaran!


71 Yakni, pada saat Nabi tengah membuat persiapan untuk pengerahan pasukan ke Tabuk.

72 Lihat ayat 44 dan 45. Perlu dicatat bahwa baik bentuk verba la taftinni (yang saya terjemahkan sebagai “jangan bebani saya dengan cobaan yang terlampau berat”) maupun bentuk nomina fitnah mempunyai akar yang sama, yang mencakup makna yang sangat beragam, misalnya: ujian, cobaan, penderitaan, godaan untuk (melakukan) kejahatan, rayuan, penyiksaan, penindasan, perselisihan, konflik antarwarga, dan lain-lain (bandingkan, Surah Al-Anfal [8], catatan no. 25). Karena mustahil di dalam bahasa mana pun kecuali bahasa Arab untuk mereproduksi seluruh nuansa makna tersebut dalam satu ungkapan, terjemahan istilah fitnah mau tidak mau bervariasi sesuai dengan konteks ungkapan itu digunakan.


Surah At-Taubah Ayat 50

إِنْ تُصِبْكَ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ ۖ وَإِنْ تُصِبْكَ مُصِيبَةٌ يَقُولُوا قَدْ أَخَذْنَا أَمْرَنَا مِنْ قَبْلُ وَيَتَوَلَّوْا وَهُمْ فَرِحُونَ

in tuṣibka ḥasanatun tasu`hum, wa in tuṣibka muṣībatuy yaqụlụ qad akhażnā amranā ming qablu wa yatawallaw wa hum fariḥụn

50. Sekiranya nasib baik menimpamu,73 [wahai Nabi,] hal itu akan membuat mereka bersedih; dan sekiranya nasib buruk menimpamu, mereka akan berkata [kepada diri mereka sendiri], “Kami sudah mengambil langkah-langkah pencegahan sebelumnya!”—dan mereka akan berpaling serta bergembira


73 Yakni, selama dalam perjalanan pasukan ke Tabuk, yang pada saat itu kebanyakan dari bagian surah ini diturunkan. Namun, harus diingat bahwa ayat-ayat ini bukan hanya memiliki konotasi historis, melainkan juga bertujuan untuk menggambarkan arti kemunafikan itu sendiri.


Surah At-Taubah Ayat 51

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

qul lay yuṣībanā illā mā kataballāhu lanā, huwa maulānā wa ‘alallāhi falyatawakkalil-mu`minụn

51. Katakanlah: “Tidak akan pernah menimpa kami sesuatu apa pun melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah! Dia-lah Tuhan kami Yang Mahatinggi; dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang beriman bersandar penuh percaya!”*


* {Bertawakal; in God let the believers place their trust.— peny.}


Surah At-Taubah Ayat 52

قُلْ هَلْ تَرَبَّصُونَ بِنَا إِلَّا إِحْدَى الْحُسْنَيَيْنِ ۖ وَنَحْنُ نَتَرَبَّصُ بِكُمْ أَنْ يُصِيبَكُمُ اللَّهُ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ أَوْ بِأَيْدِينَا ۖ فَتَرَبَّصُوا إِنَّا مَعَكُمْ مُتَرَبِّصُونَ

qul hal tarabbaṣụna binā illā iḥdal-ḥusnayaīn, wa naḥnu natarabbaṣu bikum ay yuṣībakumullāhu bi’ażābim min ‘indihī au bi`aidīnā fa tarabbaṣū innā ma’akum mutarabbiṣụn

52. Katakanlah: “Apakah kalian, mungkin, menunggu dengan penuh harap sesuatu [yang buruk] terjadi pada kami—[padahal tidak ada sesuatu yang dapat terjadi pada kami], kecuali salah satu dari dua hal yang terbaik?74 Akan tetapi, menyangkut diri kalian, kami sedang menunggu dengan penuh harap agar Allah menimpakan hukuman atas kalian, [baik] dari diri-Nya75 ataupun melalui tangan kami! Maka, tunggulah dengan penuh harap; sungguh, kami akan menunggu dengan penuh harap bersama kalian!”


74 Yakni, entah berupa kemenangan atau mati syahid di jalan Allah. Verba tarabbasha biasanya bermakna menunggu yang disertai harapan dan, karenanya, kata itu paling tepat diterjemahkan sebagai “dia menunggu dengan ponuh harap”.

75 Dengan kata lain, di kehidupan mendatang.


Surah At-Taubah Ayat 53

قُلْ أَنْفِقُوا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا لَنْ يُتَقَبَّلَ مِنْكُمْ ۖ إِنَّكُمْ كُنْتُمْ قَوْمًا فَاسِقِينَ

qul anfiqụ ṭau’an au kar-hal lay yutaqabbala mingkum, innakum kuntum qauman fāsiqīn

53. Katakanlah: “Kalian boleh saja memberi [sesuatu], dengan sukarela ataupun terpaksa, [berpura-pura bahwa kalian melakukannya karena Allah:] pemberian kalian itu tidak akan pernah diterima76—sebab, sungguh, kalian adalah orang-orang yang cenderung menyimpang!”


76 Yakni, “pemberian itu tidak akan pernah diterima oleh Allah”: mengacu pada kesediaan banyak orang munafik untuk memberi bantuan keuangan untuk “tujuan-tujuan baik”, yang seolah-olah karena alasan pertimbangan moral, tetapi pada kenyataannya, “hanya agar dilihat dan dipuji oleh manusia” (bdk. Surah Al-Baqarah [2]. 264 dan An-Nisat [4]: 38).


Surah At-Taubah Ayat 54

وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ

wa mā mana’ahum an tuqbala min-hum nafaqātuhum illā annahum kafarụ billāhi wa birasụlihī wa lā ya`tụnaṣ-ṣalāta illā wa hum kusālā wa lā yunfiqụna illā wa hum kārihụn

54. Sebab, hanya inilah yang menghalangi pemberian mereka untuk dapat diterima:77 mereka berkukuh menolak untuk mengakui Allah dan Rasul-Nya, dan mereka tidak pernah mengerjakan shalat, kecuali disertai dengan perasaan enggan,78 dan tidak pernah mengeluarkan harta mereka [untuk tujuan-tujuan yang baik], kecuali disertai dengan perasaan benci.


77 Lit., “tidak ada yang menghalangi pemberian mereka untuk diterima, kecuali bahwa …”, dan seterusnya.

78 Lit., “dan mereka tidak mendatangi shalat, kecuali dengan merasa enggan”—yakni, ketika mereka turut ambil bagian dalam beribadah, mereka mengerjakannya hanya demi kepantasan lahiriah semata, dan bukan karena keyakinan dari dalam hati.


Surah At-Taubah Ayat 55

فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ

fa lā tu’jibka amwāluhum wa lā aulāduhum, innamā yurīdullāhu liyu’ażżibahum bihā fil-ḥayātid-dun-yā wa taz-haqa anfusuhum wa hum kāfirụn

55. Maka, janganlah harta duniawi mereka atau [kebahagiaan yang mungkin mereka peroleh dari] anak-anak mereka membuat engkau takjub: Allah hanyalah hendak menghukum mereka melalui hal-hal itu di kehidupan dunia ini, dan [menyebabkan] nyawa mereka melayang, sementara mereka [masih] mengingkari kebenaran.79


79 Dengan kata lain, “karena dosa yang telah mereka lakukan, mereka akan menderita di kehidupan mendatang”. Lihat juga Surah Al-‘Imran [3]: 178 dan Surah Al-Anfal [8]: 28, dan catatannya.


Surah At-Taubah Ayat 56

وَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنَّهُمْ لَمِنْكُمْ وَمَا هُمْ مِنْكُمْ وَلَٰكِنَّهُمْ قَوْمٌ يَفْرَقُونَ

wa yaḥlifụna billāhi innahum lamingkum, wa mā hum mingkum wa lākinnahum qaumuy yafraqụn

56. Dan, mereka bersumpah dengan nama Allah bahwa mereka sungguh termasuk golongan kalian—padahal mereka bukanlah termasuk golongan kalian, melainkan [hanya] orang-orang yang dicekam oleh rasa takut:


Surah At-Taubah Ayat 57

لَوْ يَجِدُونَ مَلْجَأً أَوْ مَغَارَاتٍ أَوْ مُدَّخَلًا لَوَلَّوْا إِلَيْهِ وَهُمْ يَجْمَحُونَ

lau yajidụna malja`an au magārātin au muddakhalal lawallau ilaihi wa hum yajmaḥụn

57. jika mereka dapat menemukan tempat perlindungan atau gua atau celah [di dalam bumi], mereka akan berlari menuju tempat-tempat itu dengan sangat tergesa-gesa.80


80 Jadi, Al-Quran memperlihatkan bahwa sebab terdalam dari kemunafikan adalah perasaan takut—takut terhadap komitmen moral dan, pada saat yang sama, takut untuk melepaskan diri dari lingkungan sosial. Dalam keinginan mereka yang terutama dan tak bermoral untuk selalu bersikap menyesuaikan diri dengan masyarakat, “orang-orang munafik itu berusaha menipu Allah—padahal llah-lah yang menjadikan mereka tertipu [oleh diri mereka sendiri]” (Surah An-Nisa’ [4]: 142); dan karena “mereka melupakan Allah, maka Dia pun melupakan mereka” (Surah At-Taubah [9]: 67). Karena ketiadaan padanan kata dalam bahasa Inggris yang lebih baik, istilah munafiq diterjemahan sebagai hypocrite. {Padanan istilah tersebut dalam bahasa Indonesia ialah “orang yang bermuka-dua”. Kata lainnya yang juga sudah digunakan luas oleh masyarakat Indonesia ialah “munafik”, yang kurang lebih merupakan pengindonesiaan terhadap hasil penyalinan huruf (transliterasi) dari kata aslinya dalam bahasa Arab. Kata “munafik” dipilih untuk digunakan dalam terjemahan Indonesia ini, tetapi dengan pengertian yang mengacu pada penjelasan Asad tentang kata tersebut di dalam kalimat berikutnya.—peny.) Dalam kaitan ini, perlu dicatat bahwa istilah Arab munafiq berlaku baik untuk orang-orang yang secara sadar menyembunyikan maksud mereka yang berniat mengelabui manusia lain, maupun untuk orang-orang yang, karena keraguan dari dalam dirinya sendiri, menipu diri mereka sendiri. Untuk pembahasan lebih lengkap mengenai istilah ini, lihat catatan no. 7 dalam Surah Al-‘Ankabut [29]: 11, yang mungkin mewakili contoh paling awal penggunaan istilah tersebut di dalam Al-Quran.


Surah At-Taubah Ayat 58

وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ

wa min-hum may yalmizuka fiṣ-ṣadaqāt, fa in u’ṭụ min-hā raḍụ wa il lam yu’ṭau min-hā iżā hum yaskhaṭụn

58. Dan, di antara mereka ada orang-orang yang mengeluh tentang dirimu [wahai Nabi] menyangkut [pembagian] persembahan yang diberikan karena Allah:81 jika mereka diberi sebagian dari persembahan itu, mereka bersukacita; tetapi jika mereka tidak diberi bagian, lihatlah! mereka menjadi marah.


81 Karena dalam bahasa Inggris tidak terdapat padanan kata untuk istilah shadaqat (bentuk tunggalnya shadaqah), di sini, istilah tersebut saya terjemahkan sebagai “offerings given for the sake of God” (“persembahan yang diberikan karena Allah”). Istilah ini mencakup segala sesuatu yang diberikan oleh seorang beriman secara sukarela kepada orang lain, baik dilandasi rasa cinta maupun belas kasih, serta apa yang secara moral atau legal wajib dia berikan, tanpa mengharapkan balasan yang bersifat duniawi: yakni, segala bentuk pemberian dan perbuatan yang bersifat dermawan (yang merupakan makna dasar dari shadaqat—misalnya, di dalam Surah Al-Baqarah [2]: 263 dan 264), dan juga pajak wajib yang disebut zakah (“iuran yang menyucikan” karena pemberian itu bisa dikatakan menyucikan harta seseorang dari noda, yaitu berupa sikap mementingkan diri sendiri). Dalam konteks ayat di atas, istilah shadaqat ini merujuk pada dana-dana yang dikumpulkan dan dikelola oleh masyarakat atau negara Muslim. Ketika dana-dana tersebut dicairkan untuk tujuan-tujuan yang ditetapkan di dalam ayat 60, dana-dana tersebut—kali ini dalam hubungannya dengan pihak penerima—sekali lagi memiliki aspek “pemberian yang bersifat dermawan”.


Surah At-Taubah Ayat 59

وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوا مَا آتَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ سَيُؤْتِينَا اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَرَسُولُهُ إِنَّا إِلَى اللَّهِ رَاغِبُونَ

walau annahum raḍụ mā ātāhumullāhu wa rasụluhụ wa qālụ ḥasbunallāhu sayu`tīnallāhu min faḍlihī wa rasụluhụ innā ilallāhi rāgibụn

59. Namun, [tidak lain adalah demi kebaikan mereka sendiri] seandainya mereka merasa puas dengan apa yang telah Allah berikan kepada mereka dan [menyebabkan] Rasul-Nya [memberi mereka],82 serta mengatakan, “Cukuplah Allah bagi kami! Allah akan memberi kami [apa pun yang Dia kehendaki] dari karunia-Nya, dan [akan menyebabkan Rasul-Nya [memberi kami pula]: sungguh, hanya kepada Allah-lah, kami berpaling dengan penuh harapan!”


82 Lit., “apa yang telah Allah berikan kepada mereka dan Rasul-Nya”: suatu bangunan kalimat khas Al-Quran yang dimaksudkan untuk memperlihatkan bukti bahwa pemberi yang sesungguhnya ialah Allah dan bahwa Nabi adalah perantara-Nya. Meskipun bagian-bagian ayat ini terutama berbicara tentang orang-orang munafik di Madinah dan situasi sejarah yang terjadi pada waktu perjalanan pasukan ke Tabuk, makna ayat-ayat itu melampaui peristiwa sejarah yang melatarbelakangi pewahyuan ayat-ayat tersebut, yang menggambarkan “sifat dan mentalitas orang-orang munafik, kapan pun dan di mana pun” (Al-Manar X, h. 567). Sebagai akibatnya, kita dapat beranggapan bahwa dalam konteks ini, rujukan kepada “Nabi Allah” itu bukan terbatas pada pribadi Nabi Muhammad Saw., melainkan secara metonimia juga pada Hukum Islam yang diwahyukan kepadanya—dan, dengan demikian, juga mengacu pada setiap pemerintahan yang memegang kewenangan berdasarkan hukum tersebut dan menyelenggarakan pemerintahan sesuai dengannya.


Surah At-Taubah Ayat 60

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

innamaṣ-ṣadaqātu lil-fuqarā`i wal-masākīni wal-‘āmilīna ‘alaihā wal-mu`allafati qulụbuhum wa fir-riqābi wal-gārimīna wa fī sabīlillāhi wabnis-sabīl, farīḍatam minallāh, wallāhu ‘alīmun ḥakīm

60. Persembahan yang diberikan karena Allah83 [dimaksudkan) hanya untuk orang-orang fakir dan miskin, dan orang-orang yang bertanggung jawab atasnya,84 dan orang-orang yang hatinya masih perlu dibujuk, dan untuk membebaskan manusia dari perbudakan, dan [untuk] orang-orang yang sangat terbebani utang, dan [untuk setiap perjuangan] di jalan Allah, serta [untuk] para musafir: [ini adalah] suatu ketentuan dari Allah—dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.85


83 Lihat catatan no. 81.

84 Yakni, para petugas yang dipercaya untuk mengumpulkan dan mengelola dana-dana zakat.

85 Delapan kategori ini menggariskan ketentuan mengenai orang-orang yang boleh menerima dana zakat tersebut. Istilah al-mu’allafah qulubuhum (“orang-orang yang hatinya masih harus dibujuk”) tampaknya dimaksudkan sebagai orang-orang non-Muslim yang sudah hampir memahami dan, mungkin, menerima Islam. Dalam rangka membantu orang-orang tersebut untuk dapat menerima Islam, segala cara harus diupayakan, baik secara langsung maupun tidak langsung (yakni dengan cara mendakwahkan ajaran Islam seluas mungkin). Mengenai ungkapan fi al-riqab (“untuk membebaskan manusia dari perbudakan”), yang berhubungan dengan pembebasan tawanan perang maupun pembebasan budak, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no.146. Istilah al-ghariman menggambarkan orang-orang beriman yang sangat terbebani utang, yang perjanjian mengenai utang itu sendiri pada awalnya dibuat secara jujur, tetapi kemudian—disebabkan faktor-faktor yang bukan karena kesalahan mereka—mereka tidak mampu membayarnya. Ungkapan “di jalan Allah” mencakup setiap jenis perjuangan dalam menegakkan kebenaran, baik pada masa perang maupun damai, termasuk pengeluaran untuk dakwah Islam dan untuk semua tujuan yang bersifat kedermawanan. Tentang makna ibn al-sabil (“para musafir”), lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 145.


Surah At-Taubah Ayat 61

وَمِنْهُمُ الَّذِينَ يُؤْذُونَ النَّبِيَّ وَيَقُولُونَ هُوَ أُذُنٌ ۚ قُلْ أُذُنُ خَيْرٍ لَكُمْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَيُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَرَحْمَةٌ لِلَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ ۚ وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ رَسُولَ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

wa min-humullażīna yu`żụnan-nabiyya wa yaqụlụna huwa użun, qul użunu khairil lakum yu`minu billāhi wa yu`minu lil-mu`minīna wa raḥmatul lillażīna āmanụ mingkum, wallażīna yu`żụna rasụlallāhi lahum ‘ażābun alīm

61. DAN, DI ANTARA mereka [musuh-musuh kebenaran] itu, ada yang menghujat Nabi dengan mengatakan, Dia selalu mendengar.”86

Katakanlah: “[Ya,] dia selalu mendengar, [mendengarkan] apa yang baik bagi kalian!87 Dia beriman kepada Allah, dan memercayai orang-orang beriman, serta merupakan [perwujudan] rahmat [Allah] bagi orang yang [benar-benar] meraih iman diantara kalian. Dan, bagi orang-orang yang menghujat Rasul Allah—derita nan pedih menanti mereka [di kehidupan akhirat mendatang]!”


86 Yakni, “dia memercayai begitu saja segala sesuatu yang dia dengar”, Kebanyakan mufasir beranggapan bahwa dengan ungkapan itu orang-orang munafik menyindir tentang kecenderungan yang dituduhkan kepada Nabi bahwa dia selalu memercayai begitu saja—baik atau buruk—segala sesuatu yang diceritakan kepadanya tentang orang lain (bdk. Al-Manar X, h. 600). Namun, karena tidak ada bukti historic tentang “kecenderungan” itu pada diri Nabi, menurut saya, apa yang dibicarakan oleh orang-orang munafik itu tampaknya ialah kesediaan Nabi untuk mendengarkan apa yang mereka—bersama dengan banyak orang tidak beriman lainnya —pandang sebagai suara-suara halusinasi belaka, dan suara-suara itu—menurut anggapan mereka—telah ditafsirkan “secara keliru” oleh Nabi sebagai wahyu. Hal ini akan menjelaskan pernyataan bahwa “mereka menghujat Nabi”—yakni, dengan mengatakan bahwa Nabi telah menipu dirinya sendiri—dan perkataan mereka ini “sama artinya dengan pengingkaran terhadap kebenaran” (lihat ayat 74 surah ini).

Verba adza pada dasarnya berarti “dia menyerang” atau “mengganggu (orang lain)”, yakni dengan cara yang tidak menimbulkan bahaya fisik yang nyata (dharar). Karena dalam konteks ayat di atas verba ini digunakan dalam pengertian melontarkan ucapan yang menghujat, kata yu’dzun lebih balk diterjemahkan sebagai “mereka menghujat” (they malign).

87 Yakni, wahyu Allah.


Surah At-Taubah Ayat 62

يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ لِيُرْضُوكُمْ وَاللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَقُّ أَنْ يُرْضُوهُ إِنْ كَانُوا مُؤْمِنِينَ

yaḥlifụna billāhi lakum liyurḍụkum wallāhu wa rasụluhū aḥaqqu ay yurḍụhu ing kānụ mu`minīn

62. [Orang-orang munafik] bersumpah dengan nama Allah di hadapan kalian [bahwa mereka benar-benar beriman], dengan maksud untuk menyenangkan hati kalian [wahai orang-orang beriman]—padahal Allah dan Rasul-Nya-lah yang perkenannya harus mereka cari di atas yang lain, jika benar mereka adalah orang-orang beriman!88


88 Lit., “padahal Allah dan Rasul-Nya adalah yang paling berhak untuk mereka harapkan perkenan-Nya …”, dan seterusnya. Sebagaimana telah ditunjukkan oleh banyak mufasir (dan yang paling ringkas oleh Rasyid Ridha di dalam Al-Manar X, h. 607), di dalam frasa ini tidak ada penyejajaran antara Allah dan Rasul-Nya. Hal itu menjadi jelas dengan penggunaan kata ganti tunggal dalam an yurdhuhu (“mereka seharusnya mencari perkenan-Nya”), yang dimaksudkan untuk menyajikan—dalam bentuk eliptis yang tidak dapat ditiru yang merupakan gaya khas Al-Quran—gagasan bahwa perkenan atau keridhaan Allah adalah satu-satunya tujuan berharga dari seluruh upaya manusia, dan bahwa tugas seorang beriman untuk tunduk pada tuntunan Nabi tidak lain merupakan akibat dari kenyataan bahwa dia adalah pembawa pesan Allah kepada manusia. Dalam kaitan ini, bandingkan dengan, “Siapa pun yang taat kepada Rasul berarti taat kepada Allah” (Surah An-Nisa’ [4]: 80), atau, “Katakanlah [wahai Nabi]: ‘Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, [dan] Allah akan mencintai kalian'” (Surah Al-‘Imran [3]: 31).


Surah At-Taubah Ayat 63

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّهُ مَنْ يُحَادِدِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَأَنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدًا فِيهَا ۚ ذَٰلِكَ الْخِزْيُ الْعَظِيمُ

a lam ya’lamū annahụ may yuḥādidillāha wa rasụlahụ fa anna lahụ nāra jahannama khālidan fīhā, żālikal-khizyul-‘aẓīm

63. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa siapa pun yang menentang Allah dan Rasul-Nya, tersedia baginya api neraka, dan di dalamnya dia akan berkediaman—kehinaan yang paling besar itu?


Surah At-Taubah Ayat 64

يَحْذَرُ الْمُنَافِقُونَ أَنْ تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُمْ بِمَا فِي قُلُوبِهِمْ ۚ قُلِ اسْتَهْزِئُوا إِنَّ اللَّهَ مُخْرِجٌ مَا تَحْذَرُونَ

yaḥżarul-munāfiqụna an tunazzala ‘alaihim sụratun tunabbi`uhum bimā fī qulụbihim, qulistahzi`ụ, innallāha mukhrijum mā taḥżarụn

64. [Sebagian] orang munafik takut apabila sebuah surah [baru] diwahyukan [sebagai bukti] melawan mereka, yang membuat mereka memahami apa yang [sebenarnya] ada di dalam hati mereka.89

Katakanlah: “Teruslah memperolok-olok! Sungguh, Allah akan menjadikan terang apa yang kalian takutkan itu!”90


89 Ini mengacu pada tipe tertentu orang munafik: yakni, orang-orang peragu yang, karena tidak mempunyai keyakinan sesungquhnya dalam rnasalah ini, membiarkan persoalan tentang keberadaan Allah dan/atau kenahian Muhammad Saw. tidak terselesaikan (Al-Manar X, h. 610), tetapi mereka ingin dianggap sebagai orang beriman lantaran mengharapkan keuntungan duniawi. (Karena jelas tidak seluruh orang munafik termasuk dalam kategori ini, penambahan yang saya lakukan dengan kata “sebagian” di awal ayat ini tampaknya dapat dibenarkan.) Sikap mental ambivalen yang secara tidak langsung dirujuk di sini mengandung pengertian kemunafikan bukan hanya dalam kaitannya dengan lingkungan sosial seseorang, melainkan berkaitan juga dengan diri orang itu sendiri: keengganan—atau malah ketakutan—pada diri orang-orang semacam itu untuk mengakui kepada diri mereka sendiri “apa yang sebenarnya terjadi di dalam hati mereka” (bdk. ayat 56-57 dan catatan 80), dan mungkin agaknya ambivalensi ini hanyalah topeng bagi keinginan mereka untuk lari dari semua komitmen ruhani (bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 9—”mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang telah meraih iman—padahal mereka tidak menipu siapa pun, kecuali diri mereka sendiri”).

90 Yakni, pengetahuan-diri. Tuduhan “memperolok-olok” mengacu pada sindiran mereka yang sembrono kepada Nabi bahwa “Dia selalu mendengar” (lihat ayat 61 dan catatan no. 86).


Surah At-Taubah Ayat 65

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ

wa la`in sa`altahum layaqụlunna innamā kunnā nakhụḍu wa nal’ab, qul a billāhi wa āyātihī wa rasụlihī kuntum tastahzi`ụn

65. Akan tetapi, sungguh, seandainya kalian bertanya kepada mereka, mereka pasti akan menjawab, “Kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main [dengan kata-kata].”91

Katakanlah: “Lalu, apakah kalian memperolok-olok Allah, pesan-pesan-Nya, dan Rasul-Nya?


91 Kebanyakan inufasir klasik beranggapan bahwa frasa ini mengacu pada olok-olok yang dilontarkan oleh sebagian orang munafik tentang perjalanan pasukan ke Tabuk yang mereka anggap sia-sia. Namun, dengan mempertimbangkan rangkaian ayat tersebut, saya berpendapat bahwa hal itu lebih jauh merujuk kepada orang-orang yang “menghujat Nabi dengan mengatakan, ‘Dia selalu mendengar'” (ayat 61)— yakni, menuduh bahwa Nabi telah menipu dirinya sendiri—dan dengan demikian, secara tidak langsung “memperolok-olok Allah dan pesan-pesan-Nya” (lihat kalimat berikutnya).


Surah At-Taubah Ayat 66

لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ۚ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

lā ta’tażirụ qad kafartum ba’da īmānikum, in na’fu ‘an ṭā`ifatim mingkum nu’ażżib ṭā`ifatam bi`annahum kānụ mujrimīn

66. Jangan memberikan alasan-alasan [kosong]! Kalian sungguh telah mengingkari kebenaran sesudah [memiliki] kepercayaan [padanya]!”92

Meskipun Kami mungkin memaafkan sebagian dari kalian, Kami akan menghukum sebagian yang lain—lantaran mereka tersesat di dalam dosa.93


92 Lihat catatan no. 89.

93 Yakni, dengan sadar bertahan dalam kemunafikan (Al-Zamakhsyari). Kalimat Al-Quran di atas mengungkapkan ajaran bahwa dalam pengadilan akhir-Nya, Allah akan memperhitungkan segala sesuatu yang terdapat di dalam hati seorang yang berdosa, dan tidak akan mengutuk secara pukul-rata setiap orang yang berbuat dosa akibat kelemahan atau ketidakmampuan dari dalam dirinya sendiri untuk mengatasi keraguannya, dan bukan akibat kecenderungan sadar kepada kejahatan (bdk. Surah An-Nisa’ [4]: 98—” Kecuali orang-orang yang sungguh tidak berdaya—baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak—yang tidak mampu mengerahkan kekuatan apa-apa dan belum diperlihatkan jalan yang lurus”).


Surah At-Taubah Ayat 67

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ ۚ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ ۗ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

al-munāfiqụna wal-munāfiqātu ba’ḍuhum mim ba’ḍ, ya`murụna bil-mungkari wa yan-hauna ‘anil-ma’rụfi wa yaqbiḍụna aidiyahum, nasullāha fa nasiyahum, innal-munāfiqīna humul-fāsiqụn

67. Orang-orang munafik, baik laki-laki maupun perempuan, semuanya adalah sejenis: mereka menyuruh berbuat salah dan melarang berbuat benar,94 dan mereka menahan tangan mereka [dari berbuat baik]. Mereka melupakan Allah, maka Dia pun melupakan mereka. Sungguh, orang-orang munafik—mereka, mereka itulah orang yang benar-benar fasik!95


94 Yakni, perilaku mereka—paling tidak dalam hal akibat-nya—persis berlawanan dengan perilaku yang diharapkan dari orang-orang beriman (bdk. Surah Al-‘Imran [3]: 104, 110, dan 114; At-Taubah [9]: 71 dan 112; serta Al-Hajj [22]: 41).

95 Perlu diingat bahwa ayat ini dan ayat-ayat selanjutnya merujuk kepada orang-orang yang secara sadar bersikap munafik, yang dibicarakan dalam kalimat terakhir ayat sebelumnya, dan bukan orang-orang bimbang, yang kemunafikannya lahir dari perasaan takut dan keraguan dari dalam dirinya sendiri.


Surah At-Taubah Ayat 68

وَعَدَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ هِيَ حَسْبُهُمْ ۚ وَلَعَنَهُمُ اللَّهُ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيمٌ

wa’adallāhul-munāfiqīna wal-munāfiqāti wal-kuffāra nāra jahannama khālidīna fīhā, hiya ḥasbuhum, wa la’anahumullāh, wa lahum ‘ażābum muqīm

68. Allah telah menjanjikan bagi orang-orang munafik, baik laki-laki maupun perempuan—dan juga orang yang [nyata-nyata] mengingkari kebenaran—api neraka, di dalamnya mereka berkediaman: ini akan menjadi bagian yang telah disediakan bagi mereka. Sebab, Allah telah menolak mereka, dan penderitaan yang amat lama menanti mereka.


Surah At-Taubah Ayat 69

كَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنْكُمْ قُوَّةً وَأَكْثَرَ أَمْوَالًا وَأَوْلَادًا فَاسْتَمْتَعُوا بِخَلَاقِهِمْ فَاسْتَمْتَعْتُمْ بِخَلَاقِكُمْ كَمَا اسْتَمْتَعَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ بِخَلَاقِهِمْ وَخُضْتُمْ كَالَّذِي خَاضُوا ۚ أُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

kallażīna ming qablikum kānū asyadda mingkum quwwataw wa akṡara amwālaw wa aulādā, fastamta’ụ bikhalāqihim fastamta’tum bikhalāqikum kamastamta’allażīna ming qablikum bikhalāqihim wa khuḍtum kallażī khāḍụ, ulā`ika ḥabiṭat a’māluhum fid-dun-yā wal-ākhirah, wa ulā`ika humul-khāsirụn

69. [Katakanlah kepada mereka: “Kalian adalah] seperti orang-orang [munafik] yang hidup sebelum kalian.96 Mereka lebih berkuasa daripada kalian, dan lebih banyak memiliki harta benda dan anak-anak daripada kalian; dan mereka menikmati bagian [kebahagiaan] mereka. Dan, kalian telah menikmati bagian kalian—sebagaimana orang-orang sebelum kalian telah menikmati bagian mereka; dan kalian membiarkan saja diri kalian terlibat dalam perbincangan yang tidak senonoh—sebagaimana mereka membiarkan diri mereka terlibat dalam hal itu. Mereka itulah yang perbuatannya menjadi sia-sia di dunia ini maupun di kehidupan mendatang—dan mereka, mereka itulah orang-orang yang merugi!”97


96 Hal ini mengacu pada pernyataan di dalam avat 67 bahwa orang-orang yang secara sadar bersikap munafik pada hakikatnya “semuanya adalah sejenis” (ba’dhuhum min ba’dh).

97 Dengan kata lain, “dan hal yang sama akan menimpa kalian, kecuali kalian bertobat”.


Surah At-Taubah Ayat 70

أَلَمْ يَأْتِهِمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَقَوْمِ إِبْرَاهِيمَ وَأَصْحَابِ مَدْيَنَ وَالْمُؤْتَفِكَاتِ ۚ أَتَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ ۖ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

a lam ya`tihim naba`ullażīna ming qablihim qaumi nụḥiw wa ‘ādiw wa ṡamụda wa qaumi ibrāhīma wa aṣ-ḥābi madyana wal-mu`tafikāt, atat-hum rusuluhum bil-bayyināt, fa mā kānallāhu liyaẓlimahum wa lāking kānū anfusahum yaẓlimụn

70. Maka, apakah kisah-kisah tentang orang-orang sebelum mereka belum pernah sampai kepada mereka [orang-orang munafik dan orang-orang yang mengingkari kebenaran] itu?—[kisah tentang] kaum Nuh, dan tentang [suku] [‘Ad dan Tsamud, serta tentang kaum Ibrahim, dan tentang penduduk Madyan, dan tentang kota-kota yang telah ditaklukkan?98 Kepada mereka [semua], rasul-rasul mereka telah datang dengan membawa semua bukti tentang kebenaran, [tetapi mereka menolaknya:] dan, dengan demikian, bukanlah Allah yang menzalimi mereka [dengan hukuman-Nya], melainkan merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.


98 Yakni, Sodom dan Gomora, kota-kota dari kaum Nabi Luth (lihat Surah Al-A’raf [7]: 80-84 dan Surah Hud [11]: 69-83). Penyebutan tentang hukuman yang ditimpakan atas kaum Nuh serta kaum ‘Ad dan Tsamud, dan penduduk Madyan (Midian, menurut Bibel), terdapat di sejumlah tempat dalam Al-Quran; khususnya, Surah Al-A’raf [7]: 59-79 dan 85-93, serta catatan yang terkait. Penyebutan “kaum Ibrahim” tampaknya mengacu kepada masyarakat Babilonia, yang menolak monoteisme yang diserukan oleh Nabi Ibrahim a.s., serta mengacu kepada penggulingan imperium pertama mereka oleh bangsa Asiria pada sekitar 1100 SM.


Surah At-Taubah Ayat 71

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

wal-mu`minụna wal-mu`minātu ba’ḍuhum auliyā`u ba’ḍ, ya`murụna bil-ma’rụfi wa yan-hauna ‘anil-mungkari wa yuqīmụnaṣ-ṣalāta wa yu`tụnaz-zakāta wa yuṭī’ụnallāha wa rasụlah, ulā`ika sayar-ḥamuhumullāh, innallāha ‘azīzun ḥakīm

71. DAN, [adapun] orang-orang beriman, baik laki-laki maupun perempuan—mereka berdekatan satu sama lain:99 mereka [semua] menyuruh berbuat benar dan melarang berbuat salah, teguh mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Itulah orang-orang yang Allah akan limpahkan rahmat-Nya atas mereka: sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana!


99 Atau: “adalah pelindung [atau ‘kawan dekat dan pelindung’] satu sama lain”. Namun, karena di sini orang beriman dikontraskan dengan orang munafik, yang dibicarakan di dalam ayat 67 sebagai “semuanya adalah sejenis”, istilah wali (jamaknya auliya’) lebih tepat diterjemahkan, dalam pengertiannya yang paling dasar, sebagai “dekat” atau “akrab” satu sama lain.


Surah At-Taubah Ayat 72

وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

wa’adallāhul-mu`minīna wal-mu`mināti jannātin tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā wa masākina ṭayyibatan fī jannāti ‘adn, wa riḍwānum minallāhi akbar, żālika huwal-fauzul-‘aẓīm

72. Allah telah menjanjikan kepada orang-orang beriman, baik laki-laki maupun perempuan, taman-taman yang dilalui aliran sungai, di dalamnya mereka akan berkediaman, serta tempat-tempat yang indah di dalam taman-taman kebahagiaan abadi:100 tetapi, perkenan Allah adalah [kebahagiaan] yang paling besar—sebab, itulah kemenangan yang tertinggi!


100 Untuk penjelasan mengenai terjemahan kata ‘adn ini (yang serupa dengan kata Ibrani ‘eden, “kesenangan” atau “kebahagiaan”), lihat catatan no. 45 dalam Surah Shad [38]: 50, yang di dalamnya ungkapan tersebut muncul untuk pertama kali dalam urutan kronologis pewahyuan Al-Quran


Surah At-Taubah Ayat 73

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

yā ayyuhan-nabiyyu jāhidil-kuffāra wal-munāfiqīna wagluẓ ‘alaihim, wa ma`wāhum jahannamu wa bi`sal-maṣīr

73. WAHAI, NABI! Berjuang sungguh-sungguhlah melawan orang-orang yang mengingkari kebenaran dan orang-orang munafik, dan bersikap tegaslah terhadap mereka.101 Dan, [jika mereka tidak bertobat,] neraka akan menjadi tempat akhir mereka—suatu akhir perjalanan yang amat buruk!


101 Yakni, “jangan berkompromi dengan mereka menyangkut hal-hal mendasar”. Berkenaan dengan arti verba jahada (“dia berjuang sungguh-sungguh”, yakni di jalan kebenaran), lihat Surah An-Nisa’ [4], catatan no. 122. Kata perintah jahid di sini jelas digunakan dalam pengertian ruhani, yang secara tersirat mengandung arti upaya-upaya untuk meyakinkan orang yang secara terang-terangan tak beriman maupun orang yang ragu-ragu, termasuk berbagai jenis orang munafik yang telah dibicarakan pada bagian-bagian terdahulu. Meskipun pertama-tama dialamatkan kepada Nabi, perintah itu secara moral dianggap berlaku pula bagi seluruh orang beriman. 


Surah At-Taubah Ayat 74

يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ مَا قَالُوا وَلَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوا بَعْدَ إِسْلَامِهِمْ وَهَمُّوا بِمَا لَمْ يَنَالُوا ۚ وَمَا نَقَمُوا إِلَّا أَنْ أَغْنَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ مِنْ فَضْلِهِ ۚ فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ ۖ وَإِنْ يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ عَذَابًا أَلِيمًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَمَا لَهُمْ فِي الْأَرْضِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

yaḥlifụna billāhi mā qālụ, wa laqad qālụ kalimatal-kufri wa kafarụ ba’da islāmihim wa hammụ bimā lam yanalụ, wa mā naqamū illā an agnāhumullāhu wa rasụluhụ min faḍlih, fa iy yatụbụ yaku khairal lahum, wa iy yatawallau yu’ażżib-humullāhu ‘ażāban alīman fid-dun-yā wal-ākhirah, wa mā lahum fil-arḍi miw waliyyiw wa lā naṣīr

74. [Orang-orang munafik] bersumpah dengan nama Allah bahwa mereka tidak mengatakan sesuatu [yang salah]; tetapi, sangat jelas mereka telah mengucapkan suatu perkataan yang sama artinya dengan pengingkaran terhadap kebenaran102 dan, dengan demikian, mereka telah mengingkari kebenaran setelah [mengakui bahwa mereka] berserah diri kepada Allah: sebab, mereka menginginkan sesuatu yang berada di luar jangkauan mereka.103 Dan, mereka tidak dapat mencela [agama ini] kecuali bahwa Allah telah memperkaya mereka dan [menyebabkan] Rasul-Nya [memperkaya mereka] dari karunia-Nya!104

Karena itu, jika mereka bertobat, itu adalah demi kebaikan mereka sendiri; tetapi, jika mereka berpaling, Allah akan menjadikan mereka merasakan derita yang pedih di dunia ini dan di kehidupan mendatang, dan mereka tidak akan menemukan penolong di muka bumi dan tidak ada yang akan memberi [mereka] pertolongan.


102 Lihat kalimat pertama ayat 61, dan catatan no. 86. Tuduhan bahwa Nabi menipu dirinya sendiri mengenai soal pewahyuan tentu saja sama dengan ketidakpercayaan terhadap hasil dari pewahyuan kepadanya, yakni Al-Quran.

103 Lit., “yang mereka tidak mampu capai”. Para mufasir klasik berpendapat bahwa ungkapan ini mengacu pada rencana gagal dari sebagian orang munafik untuk membunuh Nabi selama dalam perjalanan ke Tabuk. Namun, tanpa bermaksud memperdebatkan kesahihan penafsiran sejarah tersebut, saya percaya bahwa alusi atau rujukan tak langsung di atas memiliki makna yang jauh lebih dalam—yaitu, kemustahilan eksistensial seseorang untuk mencapai kedamaian batin tanpa kepercayaan positif bahwa kehidupan manusia mempunyai arti dan tujuan, yang kedua hal itu dapat sedikit dipahami hanya melalui wahyu yang diberikan kepada orang-orang yang punya kualitas dan daya tangkap istimewa, yakni para nabi. (Perihal bahwa wahyu Ilahi merupakan satu-satunya sumber bagi jenis pengetahuan ini disebut secara tidak langsung dalam Surah Al-‘Alaq [96]: 5, yaitu di dalam bagian surah Al-Quran yang pertama kali diwahyukan kepada Nabi.) Dengan demikian, dalam keadaan terbelah di antara keinginan yang setengah hati untuk “berserah diri kepada Allah” dan keengganan untuk menerima bimbingan wahyu yang ditawarkan oleh Nabi kepada mereka, hal ini berarti orang-orang munafik “menginginkan sesuatu yang berada di luar jangkauan mereka”.

104 Yakni, melalui tuntunan ruhani yang terkandung di dalam Al-Quran dan kesejahteraan materiel yang dihasilkan dari ketaatan terhadap prinsip-prinsip moral dan sosial Al-Quran. Ungkapan di atas menyiratkan bahwa keengganan orang-orang munafik untuk taat kepada Nabi bukan disebabkan oleh sikap mereka dalam mencela agama seperti itu, melainkan lebih disebabkan oleh kurangnya rasa terima kasih mereka atas keuntungan-keuntungan materiel dan spiritual yang mereka telah peroleh darinya. (Karena memiliki kaitan-kaitan yang bersifat historis, kebanyakan bagian dari ayat ini diungkapkan dalam kata kerja masa lampau, meskipun makna moralnya jelas memiliki jangkauan waktu yang tidak terbatas.)


Surah At-Taubah Ayat 75

وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ

wa min-hum man ‘āhadallāha la`in ātānā min faḍlihī lanaṣṣaddaqanna wa lanakụnanna minaṣ-ṣāliḥīn

75. Dan, di antara mereka ada yang berjanji kepada Allah, “Jika Dia benar-benar memberi kami [sesuatu dari] karunia-Nya, sungguh kami pasti akan menunaikan zakat, dan sungguh kami pasti akan termasuk orang-orang yang saleh!”


Surah At-Taubah Ayat 76

فَلَمَّا آتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ

fa lammā ātāhum min faḍlihī bakhilụ bihī wa tawallaw wa hum mu’riḍụn

76. Akan tetapi, begitu Allah telah memberi mereka [segala sesuatu] dari karunia-Nya, mereka menahannya dengan kikir, dan berpaling dengan keras kepala [dari semua yang telah mereka janjikan]:


Surah At-Taubah Ayat 77

فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِي قُلُوبِهِمْ إِلَىٰ يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

fa a’qabahum nifāqan fī qulụbihim ilā yaumi yalqaunahụ bimā akhlafullāha mā wa’adụhu wa bimā kānụ yakżibụn

77. kemudian, Allah jadikan sifat munafik berakar di dalam hati mereka, [dan tetap berada di dalamnya] hingga Hari ketika mereka akan berjumpa dengan-Nya105—karena mereka telah gagal memenuhi janji yang mereka buat kepada Allah dan karena mereka terbiasa berdusta.106


105 Lit., “Dia telah menyebabkan kemunafikan bagi mereka suatu akibat (a’qabahum) di dalam hati mereka hingga Hari ketika mereka akan bertemu dengan-Nya” (yakni, hingga Hari Kebangkitan mereka), Jadi, Al-Quran menjelaskan bahwa cinta yang berlebihan terhadap kekayaan duniawi adalah yang menyebabkan lahirnya, dalam diri jenis manusia tertentu, sikap mental yang digambarkan sebagai “kemunafikan”—dan bukan sebaliknya (lihat juga Surah Al-Ankabut [29]: 11 dan catatan no. 7). Dalam kaitan ini, bandingkan dengan perkataan Nabi, yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah: “Tanda (ayah) orang munafik ada tiga: ketika berbicara, is berdusta; ketika berjanji, ia mengingkari; dan ketika diberi amanat, ia berkhianat (Al-Bukhari, Muslim, Al-Tirmidzi, dan Al-Nasa’i; hadis-hadis yang sama, yang bersumber dari ‘Abd Allah ibn ‘Amr, diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibn Majah, dan Ibn Hanbal).

106 Yakni, kepada diri mereka sendiri dengan mencari-cari alasan atas tindakan mereka dalam melanggar janji.


Surah At-Taubah Ayat 78

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ وَأَنَّ اللَّهَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ

a lam ya’lamū annallāha ya’lamu sirrahum wa najwāhum wa annallāha ‘allāmul-guyụb

78. Tidakkah mereka tahu bahwa Allah mengetahui [semua] pikiran mereka yang tersembunyi dan pembicaraan rahasia mereka, dan bahwa Allah mengetahui sepenuhnya segala sesuatu yang melampaui pengetahuan indriawi manusia?


Surah At-Taubah Ayat 79

الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ ۙ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

allażīna yalmizụnal-muṭṭawwi’īna minal-mu`minīna fiṣ-ṣadaqāti wallażīna lā yajidụna illā juhdahum fa yaskharụna min-hum, sakhirallāhu min-hum wa lahum ‘ażābun alīm

79. [Orang-orang munafik itulah] yang mencela orang-orang yang memberi karena Allah107 melampaui apa yang wajib mereka berikan dan mencela orang-orang yang tidak memiliki sesuatu [untuk mereka beri] kecuali [sedikit hasil dari] kerja keras mereka, serta mencemooh mereka [semua].108

Allah akan menjadikan cemoohan mereka berbalik menimpa diri mereka sendiri,109 dan derita yang pedih menanti mereka.


107 Mengenai terjemahan saya atas kata shadaqat (sedekah) sebagai “sesuatu yang diberikan karena Allah”, lihat catatan no 81.

108 Ada banyak hadis sahih serupa yang menggambarkan bahwa orang-orang munafik di Madinah biasa mencemooh pemberian atau sumbangan yang dibawa oleh orang-orang beriman kepada Nabi (sebagai kepala umat sekaligus kepala negara) dalam rangka menjalankan perintah Al-Quran bahwa mereka hendaknya “memberi karena Allah”. Misalnya, seorang Sahabat Nabi bernama Abu  Mas’ud menceritakan: “[Ketika] seseorang membawa sumbangan yang banyak, mereka [yakni orang-orang munafik] akan berkata, ‘Dia [hanya] ingin dilihat dan dipuji oleh orang’; dan ketika seseorang membawa sumbangan yang berjumlah sedikit [berupa kurma atau biji-bijian], mereka akan berkata, ‘Allah tidak membutuhkan pemberian semacam itu'” (Al-Bukhari dan Muslim, serta banyak versi serupa di dalam kumpulan-kumpulan hadis yang lain). Namun, ayat di atas tidak sekadar berbicara secara tidak langsung tentang peristiwa-peristiwa sejarah tersebut, tetapi juga berperan untuk mengilustrasikan sikap mental orang munafik yang ketidaktulusannya memengaruhi pandangannya terhadap orang lain.

109 Lit., “Allah akan mencemooh mereka”: suatu pembalikan frasa yang sering kali muncul di dalam Al-Quran (misalnya dalam Surah Al-Baqarah [2]: 15), yang menunjukkan pembalasan Tuhan.


Surah At-Taubah Ayat 80

اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

istagfir lahum au lā tastagfir lahum, in tastagfir lahum sab’īna marratan fa lay yagfirallāhu lahum, żālika bi`annahum kafarụ billāhi wa rasụlih, wallāhu lā yahdil-qaumal-fāsiqīn

80. [Dan,] apakah engkau berdoa [kepada Allah] agar mereka diampuni atau engkau tidak berdoa bagi mereka—[semua itu akan sama saja: sebab, bahkan] jika engkau berdoa sebanyak tujuh puluh kali110 agar mereka diampuni, Allah tidak akan mengampuni mereka, lantaran mereka berkukuh mengingkari Allah dan Rasul-Nya. Dan, Allah tidak menganugerahkan petunjuk-Nya kepada kaum yang fasik seperti itu.111


110 Yakni, berkali-kali (many times). Dalam penggunaan bahasa Arab, angka “tujuh puluh” sering kali berarti “banyak”, seperti halnya “tujuh” sama artinya dengan “beberapa” (lihat Lisan AI-‘Arab dan Taj AI-‘Arus). Berdasarkan banyak hadis sahih (yang antara lain dicatat oleh Al-Bukhari dan Muslim), jelas bahwa Nabi sering berdoa kepada Allah agar Dia berkenan mengampuni musuh-musuhnya.

111 Yakni, “orang-orang yang demikian kuatnya tenggelam dalam sikap menyimpang serta dalam sikap kukuh mereka yang tercela dalam perbuatan jahat (tamarrud) … [sehingga] mereka telah kehilangan seluruh kecenderungan untuk bertobat dan beriman” (Al-Manar X, h. 657).


Surah At-Taubah Ayat 81

فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا ۚ لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ

fariḥal-mukhallafụna bimaq’adihim khilāfa rasụlillāhi wa karihū ay yujāhidụ bi`amwālihim wa anfusihim fī sabīlillāhi wa qālụ lā tanfirụ fil-ḥarr, qul nāru jahannama asyaddu ḥarrā, lau kānụ yafqahụn

81. ORANG-ORANG [munafik] yang tidak ikut pergi berperang merasa gembira dengan ketidakterlibatan mereka [dalam perang]112 setelah [keberangkatan] Rasul Allah karena mereka membenci gagasan untuk berjuang dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah; dan [bahkan] mereka telah berkata [kepada yang lain], “Janganlah pergi berperang dalam keadaan panas terik begini!”

Katakanlah: “Api neraka itu jauh lebih panas!”

Seandainya mereka mengetahui kebenaran itu!


112 Lit., “bergembira dengan duduknya mereka [di rumah]”—ungkapan yang mengacu kepada orang-orang yang, karena dalih yang satu dan lainnya, membenarkan diri mereka sendiri untuk tidak turut serta dalam perjalanan pasukan ke Tabuk (lihat catatan no. 59 dan 66). Sebagaimana terbaca jelas dari rangkaian kalimat berikutnya—serta dinyatakan dengan jelas dalam banyak hadis sahih—salah satu yang dijadikan alasan adalah cuaca yang sangat panas pada musim itu.


Surah At-Taubah Ayat 82

فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

falyaḍ-ḥakụ qalīlaw walyabkụ kaṡīrā, jazā`am bimā kānụ yaksibụn

82. Maka, biarkanlah mereka sedikit tertawa—sebab, mereka akan banyak menangis113 sebagai balasan dari apa yang mereka perbuat.


113 Lit., “dan biarkan mereka banyak menangis”.


Surah At-Taubah Ayat 83

فَإِنْ رَجَعَكَ اللَّهُ إِلَىٰ طَائِفَةٍ مِنْهُمْ فَاسْتَأْذَنُوكَ لِلْخُرُوجِ فَقُلْ لَنْ تَخْرُجُوا مَعِيَ أَبَدًا وَلَنْ تُقَاتِلُوا مَعِيَ عَدُوًّا ۖ إِنَّكُمْ رَضِيتُمْ بِالْقُعُودِ أَوَّلَ مَرَّةٍ فَاقْعُدُوا مَعَ الْخَالِفِينَ

fa ir raja’akallāhu ilā ṭā`ifatim min-hum fasta`żanụka lil-khurụji fa qul lan takhrujụ ma’iya abadaw wa lan tuqātilụ ma’iya ‘aduwwā, innakum raḍītum bil-qu’ụdi awwala marrah, faq’udụ ma’al-khālifīn

83. Karena itu, [wahai Nabi,] jika Allah membawamu lagi berhadapan langsung dengan sebagian dari mereka,114 kemudian mereka minta izin kepadamu unruk pergi [berperang bersamamu), katakanlah: “Kalian tidak akan pernah berangkat bersamaku dan tidak pula akan pernah berperang melawan musuh bersamaku! Sungguh, kalian telah amat senang untuk tinggal di rumah pada kali yang pertama: maka, tinggallah di rumah bersama orang-orang yang [diharuskan untuk] tidak pergi berperang!”115


114 Lit., “jika Allah membawamu kembali [dari perjalanan perang] kepada sekelompok orang dari kalangan mereka”—yakni, orang-orang munafik yang tetap tinggal di rumah dengan dalih palsu.

115 Yakni, bersama dengan orang lanjut usia, perempuan, anak-anak, dan orang-orang sakit, yang tidak mampu atau yang tidak diharapkan untuk pergi berperang (Al-Manar X, h. 662).


Surah At-Taubah Ayat 84

وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰ أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِ ۖ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ

wa lā tuṣalli ‘alā aḥadim min-hum māta abadaw wa lā taqum ‘alā qabrih, innahum kafarụ billāhi wa rasụlihī wa mātụ wa hum fāsiqụn

84. Dan, janganlah engkau menshalati orang yang mati dari kalangan mereka, dan janganlah engkau pernah berdiri (mendoakan) di samping kuburnya:116 sebab, perhatikanlah, mereka berkukuh mengingkari Allah dan Rasul-Nya, dan mereka mati dalam kefasikan mereka ini.117


116 Yakni, kecuali dia telah bertobat sebelum meninggal. Diriwayatkan bahwa ketika musuh bebuyutan Nabi dan pemimpin kaum munafik di Madinah, yakni ‘Abd Allah ibn Ubayy, sedang sekarat, dia mengirim anaknya kepada Nabi untuk menyampaikan permintaan agar Nabi memberikan bajunya kepada ‘Abd Allah ibn Ubayy sehingga dia dapat dikubur dengan menggunakan baju Nabi tersebut dan agar Nabi menshalatinya setelah dia wafat. Nabi menganggap permintaan tersebut sebagai tanda telah bertobatnya ‘Abd Allah ibn Ubayy sehingga Nabi memberikan bajunya kepada ‘Abd Allah ibn Ubayy. Dan, ketika Ibn Ubayy wafat, Nabi memimpin shalat jenazah untuknya. Pada saat ‘Umar ibn Al-Khaththab memprotes keras pengampunan untuk orang yang dianggap oleh seluruh orang beriman sebagai “musuh Allah” itu, Nabi menjawab, “Allah telah mernberiku pilihan menyangkut perkara ini (yang mengacu pada ayat 80 surah ini, ‘apakah engkau berdoa [kepada Allah] agar mereka diampuni atau engkau tidak berdoa bagi mereka …’,  dan seterusnya); maka, aku akan memintakan ampunan [untuknya] lebih dari tujuh puluh kali.” Sejumlah versi lain hadis ini terdapat di dalam kumpulan kitab hadis Al-Bukhari, Al-Tirmidzi, Hanbal, yang bersumber dari Ibn ‘Abbas; Al-Bukhari dan Muslim, yang bersumber dari Ibn ‘Umar; Muslim, yang bersumber dari Jabir ibn ‘Abd Allah; dan dalam berbagai kumpulan kitab hadis yang lain. Karena ‘Abd Allah ibn Ubayy meninggal beberapa waktu setelah Nabi kembali dari Tabuk, sementara ayat 84—seperti kebanyakan ayat dari surah ini—diwahyukan selama pengerahan pasukan ke Tabuk, jelas bahwa larangan yang dikemukakan di dalam ayat ini (seperti ditunjukkan oleh lanjutan ayat tersebut) hanya berkaitan dengan orang-orang yang “berkukuh mengingkari Allah dan Rasul-Nya, dan [yang] mati dalam kefasikan mereka ini”—yaitu, orang-orang berdosa yang tidak bertobat.

117 Lit., “sementara mereka adalah orang-orang yang fasik” {fasiq; iniquitous: sangat bersalah, imoral, dursila}.


Surah At-Taubah Ayat 85

وَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَأَوْلَادُهُمْ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ

wa lā tu’jibka amwāluhum wa aulāduhum, innamā yurīdullāhu ay yu’ażżibahum bihā fid-dun-yā wa taz-haqa anfusuhum wa hum kāfirụn

85. Dan, janganlah harta duniawi mereka dan [kebahagiaan yang mereka mungkin peroleh dari] anak-anak mereka membuat engkau takjub: Allah hanyalah hendak menghukum mereka melalui hal-hal itu di [kehidupan] dunia ini, dan [menyebabkan] nyawa mereka melayang sementara mereka [masih] mengingkari kebenaran.118


118 Bdk. Surah Al-‘Imran [3]: 178 dan Surah Al-Anfal [8]: 28 serta catatan-catatan yang terkait. Pengulangan (yang hampir bersifat harfiah) dari ayat 55 ini dimaksudkan untuk menekankan arti penting psikologis dari masalah ini (Al-Zamakhsyari)— yaitu, tidak berartinya kebahagiaan duniawi dibandingkan dengan kebaikan ruhani atau ketiadaannya.


Surah At-Taubah Ayat 86

وَإِذَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ أَنْ آمِنُوا بِاللَّهِ وَجَاهِدُوا مَعَ رَسُولِهِ اسْتَأْذَنَكَ أُولُو الطَّوْلِ مِنْهُمْ وَقَالُوا ذَرْنَا نَكُنْ مَعَ الْقَاعِدِينَ

wa iżā unzilat sụratun an āminụ billāhi wa jāhidụ ma’a rasụlihista`żanaka uluṭ-ṭauli min-hum wa qālụ żarnā nakum ma’al-qā’idīn

86. [Mereka sungguh mengingkarinya:] sebab, ketika mereka diseru melalui wahyu,119 “Berimanlah kepada Allah dan berjuanglah sungguh-sungguh [di jalan Allah] bersama Rasul-Nya”, [bahkan] orang-orang yang mampu di antara mereka [untuk pergi berperang] meminta izin kepadamu, sambil berkata, “Biarkanlah kami tinggal bersama orang-orang yang tetap di rumah!”120


119 Lit., “ketika sebuah surah diturunkan”: kata surah di sini sama artinya dengan “pesan yang diwahyukan” (lihat catatan no. 25 dalam Surah Muhammad [47]: 20).

120 Yakni, bersama dengan orang-orang yang tidak diharapkan untuk pergi berperang—seperti, perempuan dan anak-anak—maupun orang-orang yang berhalangan lantaran faktor usia ataupun sakit.


Surah At-Taubah Ayat 87

رَضُوا بِأَنْ يَكُونُوا مَعَ الْخَوَالِفِ وَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ

raḍụ bi`ay yakụnụ ma’al-khawālifi wa ṭubi’a ‘alā qulụbihim fa hum lā yafqahụn

87. Mereka sangat senang untuk tetap bersama dengan orang-orang yang tinggal di belakang—yang karena itu, hati mereka ditutup,121 sehingga mereka tidak dapat memahami kebenaran.


121 Bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 7 dan catatan yang terkait, serta Surah Al-A’raf [7]: 100-101.


Surah At-Taubah Ayat 88

لَٰكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ جَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمُ الْخَيْرَاتُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

lākinir-rasụlu wallażīna āmanụ ma’ahụ jāhadụ bi`amwālihim wa anfusihim, wa ulā`ika lahumul-khairātu wa ulā`ika humul-mufliḥụn

88. Akan tetapi, Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berjuang sungguh-sungguh [di jalan Allah] dengan harta dan nyawa mereka: dan mereka itulah yang dinanti oleh hal-hal yang terbaik [di kehidupan mendatang], dan mereka, mereka itulah orang-orang yang akan mencapai keadaan bahagia!


Surah At-Taubah Ayat 89

أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

a’addallāhu lahum jannātin tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā, żālikal-fauzul-‘aẓīm

89. Allah telah menyediakan bagi mereka taman-taman yang dilalui aliran sungai, di dalamnya mereka akan berkediaman: dan itulah kemenangan yang tertinggi!


Surah At-Taubah Ayat 90

وَجَاءَ الْمُعَذِّرُونَ مِنَ الْأَعْرَابِ لِيُؤْذَنَ لَهُمْ وَقَعَدَ الَّذِينَ كَذَبُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ سَيُصِيبُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

wa jā`al-mu’ażżirụna minal-a’rābi liyu`żana lahum wa qa’adallażīna każabullāha wa rasụlah, sayuṣībullażīna kafarụ min-hum ‘ażābun alīm

90. DAN, TELAH datang [kepada Rasul] orang-orang Arab Badui yang memberikan suatu alasan, [dengan permohonan] agar mereka diberikan pengecualian,122 sementara orang-orang yang cenderung mendustakan Allah dan Rasul-Nya diam [begitu saja] di rumah.123 [Dan] derita yang pedih pasti ditimpakan kepada orang-orang di antara mereka yang berkukuh mengingkari kebenaran!


122 Yakni, dan keikutsertaan dalam perjalanan pasukan ke Tabuk. Istilah al-mu’adzdzirun dapat berarti “mereka yang mempunyai alasan yang sahih (‘udzr)” maupun “mereka yang memberikan alasan palsu”; karena itu, yang terbaik istilah itu diterjemahkan sebagai “mereka yang memberikan suatu alasan”. Penyebutan a’rab (“orang Arab Badui”) secara spesifik dalam ayat ini dan ayat-ayat selanjutnya mungkin disebabkan oleh kenyataan bahwa sikap mereka—balk positif maupun negatif—terhadap Islam memiliki arti yang sangat penting dalam konteks sejarah Muslim awal lantaran pesan Nabi Muhammad Saw. tidak dapat memperoleh pijakan nyata yang dapat bertahan lama tanpa terlebih dahulu memperoleh kesetiaan dari orang-orang nomaden maupun setengah nomaden yang suka berperang itu, yang merupakan mayoritas terbesar dari penduduk di Semenanjung Arabia. Pada waktu Nabi sedang bersiap untuk berangkat menuju Tabuk, banyak dari kalangan Arab Badui yang telah memeluk Islam berkeinginan untuk pergi berperang di bawah kepemimpinan Nabi (dan, nyatanya, mereka memang turut berangkat), sementara kalangan Badui lainnya merasa khawatir jika mereka turut berangkat berperang, perkemahan mereka akan diserang oleh suku-suku Badui lainnya yang bermusuhan yang belum memeluk Islam (Al-Razi); sementara itu, kelompok lainnya lagi begitu saja menolak untuk melibatkan diri dalam kesulitan peperangan di tempat yang jauh tersebut, yang menurut mereka tampaknya tidak membuahkan hasil yang berguna bagi kepentingan jangka pendek mereka.

123 Yakni, bahkan tanpa peduli untuk datang ke Madinah dan mengemukakan alasan ketidakikutsertaan mereka.


Surah At-Taubah Ayat 91

لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضَىٰ وَلَا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

laisa ‘alaḍ-ḍu’afā`i wa lā ‘alal-marḍā wa lā ‘alallażīna lā yajidụna mā yunfiqụna ḥarajun iżā naṣaḥụ lillāhi wa rasụlih, mā ‘alal-muḥsinīna min sabīl, wallāhu gafụrur raḥīm

91. [Akan tetapi,] tidak ada kesalahan yang akan ditimpakan kepada orang yang lemah,124 orang yang sakit, dan orang yang tidak memiliki peralatan [untuk memperlengkapi diri mereka sendiri],125 selama mereka bersikap jujur kepada Allah dan Rasul-Nya: tidak ada alasan untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik, sebab Allah Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.


124 Yakni, orang yang sudah lanjut usia dan lemah.

125 Lit., “yang tidak menemukan sesuatu pun untuk digunakan”, yakni untuk peralatan mereka. Pada waktu itu, bendahara umum belum ada, dan setiap orang yang turut serta dalam perjalanan militer diharapkan untuk menyediakan persenjataan dan tunggangannya sendiri.


Surah At-Taubah Ayat 92

وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ

wa lā ‘alallażīna iżā mā atauka litaḥmilahum qulta lā ajidu mā aḥmilukum ‘alaihi tawallaw wa a’yunuhum tafīḍu minad-dam’i ḥazanan allā yajidụ mā yunfiqụn

92. Tidak pula [kesalahan akan ditimpakan] kepada orang-orang yang, ketika mereka datang kepadamu [wahai Nabi, dengan permintaan] agar engkau memberi mereka tunggangan, kepada mereka, engkau berkata, “Aku tidak bisa memperoleh tunggangan untuk membawa kalian”—[kemudian ketika] mereka berpaling, air mata mereka berlinang karena merasa bersedih, lantaran mereka tidak mampu menyediakan [perlengkapan berperang bagi mereka sendiri].


Surah At-Taubah Ayat 93

إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَسْتَأْذِنُونَكَ وَهُمْ أَغْنِيَاءُ ۚ رَضُوا بِأَنْ يَكُونُوا مَعَ الْخَوَالِفِ وَطَبَعَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

innamas-sabīlu ‘alallażīna yasta`żinụnaka wa hum agniyā`, raḍụ bi`ay yakụnụ ma’al-khawālifi wa ṭaba’allāhu ‘alā qulụbihim fa hum lā ya’lamụn

93. Yang dapat disalahkan hanyalah mereka yang meminta izin kepadamu meskipun mereka sesungguhnya mampu [untuk pergi berperang].126 Mereka merasa sangat senang untuk tetap bersama orang-orang yang tidak pergi berperang—karena itu, Allah telah menutup hati mereka, sehingga mereka tidak mengetahui [apa yang mereka perbuat].


126 Lit., “yang meminta pengecualian kepadamu padahal mereka kaya”. Istilah ghani berarti “seorang yang kaya” atau “bebas dari kekurangan” atau “bisa mencukupi diri sendiri”; dalam konteks ini, hal itu jelas mengacu pada kemampuan jasmani selain keuangan: yakni, orang-orang yang mampu secara jasmani serta mampu dari segi keuangan untuk menyediakan perlengkapan bagi diri mereka sendiri (bdk. ayat 86-87).


Surah At-Taubah Ayat 94

يَعْتَذِرُونَ إِلَيْكُمْ إِذَا رَجَعْتُمْ إِلَيْهِمْ ۚ قُلْ لَا تَعْتَذِرُوا لَنْ نُؤْمِنَ لَكُمْ قَدْ نَبَّأَنَا اللَّهُ مِنْ أَخْبَارِكُمْ ۚ وَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

ya’tażirụna ilaikum iżā raja’tum ilaihim, qul lā ta’tażirụ lan nu`mina lakum qad nabba`anallāhu min akhbārikum wa sayarallāhu ‘amalakum wa rasụluhụ ṡumma turaddụna ilā ‘ālimil-gaibi wasy-syahādati fa yunabbi`ukum bimā kuntum ta’malụn

94. [Dan] mereka akan [tetap] mengemukakan berbagai alasan kepada kalian ketika kalian telah kembali kepada mereka [dari perjalanan perang]!

Katakanlah: “Janganlah mengemukakan berbagai alasan [kosong], [sebab] kami tidak akan memercayai kalian: Allah telah memberi tahu kami tentang kalian. Dan, Allah memperlihatkan perbuatan kalian [yang akan datang], dan [begitu juga] Rasul-Nya; dan, pada akhirnya, kalian akan dibawa ke hadapan Dia127 yang mengetahui segala yang berada di luar jangkauan persepsi makhluk serta segala yang dapat disaksikan oleh indra-indra atau pikiran makhluk,128 dan kemudian Dia akan menjadikan kalian benar-benar memahami apa yang kalian kerjakan [selama hidup].”


127 Lit., “dan kemudian, kalian akan dikembalikan kepada-Nya”.

128 Lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 65.


Surah At-Taubah Ayat 95

سَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ إِذَا انْقَلَبْتُمْ إِلَيْهِمْ لِتُعْرِضُوا عَنْهُمْ ۖ فَأَعْرِضُوا عَنْهُمْ ۖ إِنَّهُمْ رِجْسٌ ۖ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

sayaḥlifụna billāhi lakum iżangqalabtum ilaihim litu’riḍụ ‘an-hum, fa a’riḍụ ‘an-hum, innahum rijsuw wa ma`wāhum jahannamu jazā`am bimā kānụ yaksibụn

95. Ketika nanti kalian telah kembali kepada mereka, [wahai orang-orang beriman,] mereka akan bersumpah kepada kalian dengan nama Allah, [dengan mengulangi alasan-alasan mereka] dengan maksud agar kalian membiarkan mereka.129 Maka, biarkanlah mereka: perhatikanlah, mereka itu memuakkan, dan neraka akan menjadi tujuan mereka, sebagai balasan atas apa yang mereka biasa lakukan.


129 Dengan kata lain, “dan tidak menghukum mereka”. Pada kenyataannya, ketakutan mereka tidak beralasan karena, pada saat kembali dari Tabuk, Nabi tidak mengambil tindakan menghukum orang-orang yang tidak ikut dengannya pergi ke Tabuk.


Surah At-Taubah Ayat 96

يَحْلِفُونَ لَكُمْ لِتَرْضَوْا عَنْهُمْ ۖ فَإِنْ تَرْضَوْا عَنْهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَرْضَىٰ عَنِ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ

yaḥlifụna lakum litarḍau ‘an-hum, fa in tarḍau ‘an-hum fa innallāha lā yarḍā ‘anil-qaumil-fāsiqīn

96. Mereka akan bersumpah kepada kalian dengan maksud untuk membuat kalian senang kepada mereka: tetapi [bahkan pun] seandainya kalian senang kepada mereka, sungguh, Allah tidak akan pernah senang kepada orang-orang yang menyimpang.


Surah At-Taubah Ayat 97

الْأَعْرَابُ أَشَدُّ كُفْرًا وَنِفَاقًا وَأَجْدَرُ أَلَّا يَعْلَمُوا حُدُودَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

al-a’rābu asyaddu kufraw wa nifāqaw wa ajdaru allā ya’lamụ ḥudụda mā anzalallāhu ‘alā rasụlih, wallāhu ‘alīmun ḥakīm

97. [Orang-orang munafik di antara] orang-orang Arab Badui itu130 lebih kukuh dalam hal penolakan [mereka] untuk mengakui kebenaran dan dalam hal kemunafikan [mereka dibanding penduduk yang tinggal menetap], dan lebih cenderung mengabaikan ketentuan-ketentuan yang Allah telah turunkan kepada Rasul-Nya—tetapi Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.131


130 Kata-kata yang saya tambahkan di dalam kurung pada bagian awal kalimat ini adalah berdasarkan penafsiran yang diberikan oleh Al-Razi (lihat juga Al-Manar XI, h. 8), yang secara jelas mempertimbangkan ayat 99, yang berbicara tentang orang-orang beriman di kalangan Arab Badui.

131 Karena cara hidup nomadik (yaitu hidup berpindah-pinclah) mereka serta sifat keras dan kasar yang inheren dalam diri mereka, orang-orang Arab Badui Iebih sulit dibanding orang-orang Arab yang hidup menetap untuk dituntun dengan perintah-perintah etis yang tidak berhubungari langsung dengan kepentingan-kepentingan kesukuan mereka—suatu kesulitan yang masih diperparah dengan jarak fisik mereka yang jauh dari pusat-pusat kebudayaan yang lebih tinggi, yang mengakibatkan ketidaktahuan mereka mengenai tuntutan-tuntutan keagamaan. Karena alasan inilah, Nabi sering menekankan keunggulan cara hidup menetap dibanding cara hidup berpindah-pindah (nomaden): bandingkan dengan ucapan beliau, “Orang yang tinggal di gurun pasir (al-badiyah) menjadi keras wataknya,” yang diriwayatkan oleh Al-Tirmidzi, Abu Dawud, Al-Nasa’i, dan Ibn Hanbal, yang bersumber dari Ibn ‘Abbas, serta hadis serupa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Al-Baihaqi, yang bersumber dari Abu Hurairah.


Surah At-Taubah Ayat 98

وَمِنَ الْأَعْرَابِ مَنْ يَتَّخِذُ مَا يُنْفِقُ مَغْرَمًا وَيَتَرَبَّصُ بِكُمُ الدَّوَائِرَ ۚ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

wa minal-a’rābi may yattakhiżu mā yunfiqu magramaw wa yatarabbaṣu bikumud-dawā`ir, ‘alaihim dā`iratus-saụ`, wallāhu samī’un ‘alīm

98. Dan, di antara orang-orang Arab Badui yang tinggal di sekitar kalian terdapat orang-orang yang memandang apa yang mereka berikan [di jalan Allah] sebagai suatu kerugian dan mereka menanti musibah menimpa kalian, [wahai orang-orang beriman: tetapi] merekalah yang akan ditimpa nasib buruk—sebab, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.


Surah At-Taubah Ayat 99

وَمِنَ الْأَعْرَابِ مَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَتَّخِذُ مَا يُنْفِقُ قُرُبَاتٍ عِنْدَ اللَّهِ وَصَلَوَاتِ الرَّسُولِ ۚ أَلَا إِنَّهَا قُرْبَةٌ لَهُمْ ۚ سَيُدْخِلُهُمُ اللَّهُ فِي رَحْمَتِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

wa minal-a’rābi may yu`minu billāhi wal-yaumil-ākhiri wa yattakhiżu mā yunfiqu qurubātin ‘indallāhi wa ṣalawātir-rasụl, alā innahā qurbatul lahum, sayudkhiluhumullāhu fī raḥmatih, innallāha gafụrur raḥīm

99. Namun, di antara orang-orang Arab Badui ada [pula] yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dan memandang apa yang mereka keluarkan [di jalan Allah] sebagai cara untuk mendekatkan mereka kepada Allah dan [cara agar mereka diingat di dalam] doa-doa Rasul. Oh, sungguh, hal itu [memang] akan menjadi cara [Allah] untuk menjadi dekat dengan mereka, [karena] Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya: sungguh, Allah Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat!


Surah At-Taubah Ayat 100

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

was-sābiqụnal-awwalụna minal-muhājirīna wal-anṣāri wallażīnattaba’ụhum bi`iḥsānir raḍiyallāhu ‘an-hum wa raḍụ ‘an-hu wa a’adda lahum jannātin tajrī taḥtahal-an-hāru khālidīna fīhā abadā, żālikal-fauzul-‘aẓīm

100. Dan, adapun orang-orang terdahulu yang paling awal dari orang-orang yang hijrah meninggalkan ranah kejahatan dan dari orang-orang yang melindungi dan menolong agama,132 serta orang-orang yang mengikuti mereka dalam [jalan] kebaikan—Allah amat berkenan dengan mereka dan mereka pun amat berkenan dengan-Nya. Dan, bagi mereka, Allah telah siapkan taman-taman yang dilalui aliran sungai-sungai, di dalamnya mereka berkediaman melampaui perhitungan waktu: inilah kemenangan yang tertinggi!


132 Dalam konteks di atas, istilah muhajirun—lit., “orang-orang yang berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain (berhijrah atau bermigrasi)”, yang saya terjemahkan sebagai “orang-orang yang hijrah meninggalkan ranah kejahatan” (lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 203, dan An-Nisa’ [4], catatan no. 124)—mengacu terutama kepada orang-orang Makkah pengikut Nabi yang berpindah dari Makkah ke Madinah (kota yang sebelum terjadinya peristiwa itu disebut Yatsrib) pada saat Makkah masih berada dalam genggaman musuh-musuh Islam; “orang-orang terdahulu yang paling awal” di antara mereka adalah kelompok yang melakukan migrasi terlebih dahulu, yaitu mereka yang meninggalkan Makkah sebelum atau pada 622 Masehi (yang menandai awal era Hijriah dalam sejarah Islam) dan dalam beberapa tahun berikutnya ketika umat Muslim di Madinah masih berada dalam bahaya lantaran dikepung oleh kekuatan kaum Quraisy di Makkah. Serupa dengan istilah muhajirun, istilah anshar (lit., “penolong”) di sini merujuk kepada orang-orang yang telah memeluk Islam dari kalangan penduduk Madinah, yang melindungi dan menolong (nasharu) saudara seiman mereka—”orang-orang terdahulu yang paling awal” di kalangan mereka adalah orang-orang yang memeluk Islam sebelum dan tidak lama sesudah migrasi (hijrah) Nabi dan Sahabat-Sahabatnya dari Makkah, dan khususnya mereka yang masuk Islam pada saat terjadinya dua pertemuan di Al-‘Aqabah, suatu daerah di dekat Makkah, antara Nabi dan utusan dari suku Aus dan suku Khazraj dan Yatsrib (pertemuan pertama terjadi sekitar setahun Iebih sedikit sebelum Nabi berhijrah, dan pertemuan kedua pada saat beberapa bulan sebelum hijrah Nabi). Namun, terlepas dari konotasi yang murni bersifat sejarah, istilah muhajirun maupun anshar di dalam Al-Quran juga mengandung makna ruhani, dan sering digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang secara moral “telah meninggalkan ranah kejahatan” dan orang-orang yang “melindungi dan menolong agama” (lihat Surah Al-Anfal [8], catatan no. 78).


Surah At-Taubah Ayat 101

وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ ۖ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ ۖ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لَا تَعْلَمُهُمْ ۖ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ ۚ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَىٰ عَذَابٍ عَظِيمٍ

wa mim man ḥaulakum minal-a’rābi munāfiqụn, wa min ahlil-madīnati maradụ ‘alan-nifāq, lā ta’lamuhum, naḥnu na’lamuhum, sanu’ażżibuhum marrataini ṡumma yuraddụna ilā ‘ażābin ‘aẓīm

101. Namun. di antara orang-orang Arab Badui yang tinggal di sekitar kalian terdapat orang-orang munafik; dan di antara penduduk Kota [Nabi]133 terdapat [pula] yang semakin keterlaluan dalam hal kemunafikan [mereka]. Engkau tidak [selalu] mengetahui mereka, [wahai Muhammad—tetapi] Kami mengetahui mereka. Kami akan menyebabkan mereka menderita dua kali [di dunia ini];134 kemudian, mereka benar-benar akan dikembalikan kepada penderitaan yang berat [di kehidupan mendatang].


133 Yakni, Madinah. Pada mulanya, kota itu bernama Yatsrib; tetapi setelah migrasi besar-besaran Nabi dari Makkah, kota itu menjadi dikenal sebagai Madinat Al-Nabi (“Kota Nabi”) dan pada akhirnya Al-Madinah (“Kota” par excellence).

134 Yakni, pertama melalui kegagalan dalam urusan-urusan duniawi mereka, yang disertai dengan kepedihan nurani serta kepedihan spiritual yang ditimbulkan, dan kemudian melalui suatu penyingkapan sepenuhnya, pada saat mereka sedang sekarat, tentang hakikat dosa mereka yang tidak terampuni (Al-Manar XI, h. 19).


Surah At-Taubah Ayat 102

وَآخَرُونَ اعْتَرَفُوا بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُوا عَمَلًا صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا عَسَى اللَّهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

wa ākharụna’tarafụ biżunụbihim khalaṭụ ‘amalan ṣāliḥaw wa ākhara sayyi`ā, ‘asallāhu ay yatụba ‘alaihim, innallāha gafụrur raḥīm

102. Dan [ada pula] yang lain135—[orang-orang yang] telah menjadi sadar akan dosa mereka setelah melakukan perbuatan baik di samping perbuatan jahat;136 [dan] mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka: sebab, sungguh, Allah Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.


135 Yakni, bukan orang beriman dalam pengertian sepenuhnya kata itu, dan bukan pula orang munafik, melainkan orang-orang bimbang dan bersikap setengah hati, yang bingung untuk membedakan antara yang tepat dan yang keliru, atau antara kebenaran dan kebatilan.

136 Lit., “yang mengakui dosa mereka [setelah] mencampuradukkan antara perbuatan baik dan perbuatan jahat”. Meskipun ayat ini terutama berkaitan dengan orang-orang Muslim yang plinplan, yang menolak untuk ambil bagian dalam perjalanan pasukan ke Tabuk, dalam maknanya yang lebih luas ayat ini juga berbicara secara tak langsung tentang semua orang berdosa yang—tanpa dorongan dari luar—menjadi sadar atas kesalahan mereka dan menyesalinya.


Surah At-Taubah Ayat 103

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

khuż min amwālihim ṣadaqatan tuṭahhiruhum wa tuzakkīhim bihā wa ṣalli ‘alaihim, inna ṣalātaka sakanul lahum, wallāhu samī’un ‘alīm

103. [Karena itu, wahai Nabi,] terimalah [sebagian] dari harta mereka yang dipersembahkan karena Allah,137 semoga engkau membersihkan mereka dengan itu dan menyebabkan mereka tumbuh dalam kesucian, dan berdoalah untuk mereka: sungguh, doamu akan menjadi [sumber] ketenteraman bagi mereka—sebab, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.


137 Lit., “ambillah dari harta mereka pemberian untuk Allah (shadagah)” Mengenai makna istilah ini, lihat catatan no. 81. Dalam konteks ini, istilah itu terutama berarti pajak, yang disebut zakat (zakah, “iuran yang menyucikan”), yang diwajibkan bagi setiap Muslim yang memiliki kekayaan dan/atau pendapatan dalam jumlah minimum tertentu. Karena penerimaan zakat oleh kepala negara (atau pemimpin umat) berarti pengakuan bahwa pemberi zakat adalah “seorang Muslim” berdasarkan pengertian Al-Quran untuk istilah ini, Nabi menolak untuk menerima zakat dari semua orang yang tingkah lakunya telah jelas menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang munafik; namun, ayat di atas memberikan kewenangan kepada Nabi (dan, implikasinya, juga kepada para penguasa negara Islam di sepanjang zaman) untuk menerima pembayaran zakat dari orang-orang yang mengungkapkan penyesalannya atau bertobat dengan perbuatan dan kata-kata.


Surah At-Taubah Ayat 104

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

a lam ya’lamū annallāha huwa yaqbalut-taubata ‘an ‘ibādihī wa ya`khużuṣ-ṣadaqāti wa annallāha huwat-tawwābur-raḥīm

104. Tidakkah mereka mengetahui bahwa hanya Allah semata yang dapat menerima tobat dari hamba-hamba-Nya138 dan penerima [sesungguhnya] apa pun yang dipersembahkan demi diri-Nya—dan Allah sematalah yang merupakan Penerima Tobat, Sang Pemberi Rahmat?


138 Lit., “yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya”: dengan demikian, menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun manusia, dan tidak pula Nabi, mempunyai kekuasaan untuk membebaskan seorang yang berdosa dari kesalahannya (Al-Manar XI, h. 32). Seorang nabi tidak dapat berbuat lebih dari sekadar berdoa kepada Allah agar Dia memaafkan para pendosa.


Surah At-Taubah Ayat 105

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

wa quli’malụ fa sayarallāhu ‘amalakum wa rasụluhụ wal-mu`minụn, wa saturaddụna ilā ‘ālimil-gaibi wasy-syahādati fa yunabbi`ukum bimā kuntum ta’malụn

105. Dan, katakanlah [kepada mereka, wahai Nabi]: “Bertindaklah!139 Dan Allah akan memperhatikan perbuatan-perbuatan kalian, dan [demikian pula] Rasul-Nya, serta orang-orang beriman: dan [pada akhirnya] kalian akan dibawa ke hadapan Dia yang mengetahui segala yang berada di luar jangkauan persepsi makhluk serta segala yang dapat disaksikan oleh indra-indra atau pikiran makhluk140—kemudian Dia akan membuat kalian mengerti apa yang telah kalian perbuat.”


139 Hal ini terkait dengan perintah dalam ayat 103, “terimalah [sebagian] dari harta mereka yang dipersembahkan karena Allah, … dan berdoalah untuk mereka”. Penekanan pada tindakan sebagai bagian terpadu dari keimanan merupakan hal yang sangat penting di dalam etika Al-Quran: bandingkan dengan seringnya konsep “beriman” disejajarkan dengan konsep “berbuat balk”, dan kecaman terhadap orang “yang, kendati beriman, namun tidak berbuat balk” (lihat Surah Al-An’am [6]: 158 dan catatan terkait no. 160).

140 Lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 65.


Surah At-Taubah Ayat 106

وَآخَرُونَ مُرْجَوْنَ لِأَمْرِ اللَّهِ إِمَّا يُعَذِّبُهُمْ وَإِمَّا يَتُوبُ عَلَيْهِمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

wa ākharụna murjauna li`amrillāhi immā yu’ażżibuhum wa immā yatụbu ‘alaihim, wallāhu ‘alīmun ḥakīm

106. Dan, [masih ada pula] yang lain—[orang-orang yang perkaranya] ditangguhkan hingga Allah berkehendak untuk mengadili mereka:141 Dia akan menghukum mereka atau berpaling kepada mereka dengan belas kasih-Nya—sebab, Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.


141 Lit., “diserahkan kepada keputusan (amr) Allah” yakni, ditangguhkan dalam rangka mengantisipasi sekiranya mereka bertobat di kemudian hari. Seperti di dalam empat ayat sebelumnya, orang-orang yang dibicarakan di sini terutama adalah orang-orang yang bimbang, yang tidak turut serta dalam pengerahan pasukan ke Tabuk. Secara tersirat, ayat-ayat ini juga berbicara tentang orang-orang yang beriman dengan setengah hati, yang bingung terombang-ambing antara yang benar dan yang salah: namun, perbedaannya ialah para pelaku dosa yang bertobat yang dibicarakan di dalam ayat 102-105 menyadari dosa mereka secara spontan, sedangkan orang yang dibicarakan di dalam ayat 106 belum mencapai tahap perenungan diri dan penyesalan, dan hasilnya ialah kasus mereka “ditangguhkan” sampai ketika dorongan hati mereka menggiring mereka sepenuhnya ke satu arah tertentu. Dari sudut pandang psikologis, kaitan yang nyaris tidak tampak antara ayat ini dan Surah Al-A’raf [7]: 46-47 tetap mungkin untuk dilihat.


Surah At-Taubah Ayat 107

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ ۚ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَىٰ ۖ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

wallażīnattakhażụ masjidan ḍirāraw wa kufraw wa tafrīqam bainal-mu`minīna wa irṣādal liman ḥāraballāha wa rasụlahụ ming qabl, wa layaḥlifunna in aradnā illal-ḥusnā, wallāhu yasy-hadu innahum lakāżibụn

107. DAN, [ada] orang-orang [munafik] yang mendirikan rumah ibadah [tersendiri] untuk menimbulkan kekacauan, mendorong kemurtadan, dan menimbulkan perpecahan di kalangan orang-orang beriman, serta untuk menyediakan tempat bagi orang-orang yang sejak semula telah memerangi Allah dan Rasul-Nya.142 Dan, mereka pasti akan bersumpah [kepada kalian, wahai orang-orang beriman]. “Kami tidak memiliki niat apa pun, kecuali niat yang terbaik!”—padahal Allah [sendiri] menjadi saksi bahwa mereka berdusta.143


142 Lit., “yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya pada waktu yang lalu”—yakni, sebelum perjalanan ke Tabuk. Peristiwa sejarah yang dibicarakan oleh ayat ini dapat diringkaskan sebagai berikut: Sejak hijrah dari Makkah ke Madinah, Nabi telah ditentang dengan keras oleh seorang Abu ‘Amir (“Biarawan”), salah seorang anggota terkemuka dari kalangan suku Khazraj, yang telah memeluk ajaran Kristen beberapa tahun sebelumnya dan menikmati reputasi yang tinggi di kalangan sahabat-sahabatnya dan di kalangan umat Kristen di Suriah. Sejak awal, dia telah menjadi sekutu bagi musuh-musuh Nabi, kaum Quraisy Makkah, serta memihak mereka dalam Perang Uhud (3 H). Tidak lama sesudah Perang Uhud, dia pindah ke Suriah dan melakukan segala cara untuk membujuk Kaisar Bizantium, Heraklius, agar menyerbu Madinah dan menumpas kaum Muslim, sekali dan selamanya. Di Madinah sendiri, Abu ‘Amir mempunyai beberapa pengikut rahasia di kalangan anggota sukunya, yang dengan mereka dia tetap mengadakan surat-menyurat. Pada tahun 9 H, Abu ‘Amir menginformasikan kepada para pengikutnya itu bahwa Heraklius telah setuju untuk mengirim pasukan guna menyerang Madinah, dan untuk maksud itu persiapan dalam skala besar telah dibuat (yang hal itu tampaknya menjadi alasan bagi Nabi untuk mengambil tindakan preventif dengan mengirim pasukan ke Tabuk). Dengan tujuan agar para pengikutnya mempunyai tempat berkumpul pada saat tibanya serangan terhadap Madinah, Abu ‘Amir menyarankan kawan-kawannya agar membangun sebuah masjid milik mereka sendiri di Desa Quba’, di tempat yang berdekatan Iangsung dengan Madinah (yang kemudian saran itu memang dikerjakan oleh mereka), sehingga meniadakan keharusan untuk berkumpul di masjid yang dibangun oleh Nabi sendiri di desa yang sama pada waktu kedatangannya di Madinah (lihat catatan no. 145). Masjid “tandingan” itulah yang dibicarakan oleh ayat di atas. Masjid itu dihancurkan berdasarkan perintah Nabi segera setelah Nabi kembali dari perjalanan ke Tabuk. Abu ‘Amir sendiri meninggal di Suriah tidak lama kemudian. (Mengenai seluruh hadis yang relevan, lihat tafsir Al-Thabari dan Ibn Katsir terhadap ayat ini.)

143 Meskipun keseluruhan ayat ini terutama bercerita tentang peristiwa sejarah yang telah dijelaskan dalam catatan sebelumnya, ayat ini jelas berbicara tentang segala upaya untuk menciptakan perpecahan di kalangan Muslim, dan dengan demikian merupakan penekanan yang lebih jelas terhadap perintah serupa yang lebih awal (lihat Surah Al-An’am [6]: 159 dan catatan terkait, no. 161).


Surah At-Taubah Ayat 108

لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

lā taqum fīhi abadā, lamasjidun ussisa ‘alat-taqwā min awwali yaumin aḥaqqu an taqụma fīh, fīhi rijāluy yuḥibbụna ay yataṭahharụ, wallāhu yuḥibbul-muṭṭahhirīn

108. Janganlah sekali-kali berdiri di tempat semacam itu!144 Hanya rumah ibadah yang sejak semula didirikan atas dasar kesadaran akan Allah yang lebih patut bagimu untuk berdiri di dalamnya145—[rumah ibadah] yang di dalamnya terdapat orang-orang yang berhasrat untuk tumbuh dalam kesucian: sebab, Allah mencintai orang-orang yang menyucikan diri.


144 Lit., “di dalamnya”—dengan kata lain, “melakukan shalat di dalamnya”.

145 Lit., “Sungguh, sebuah rumah ibadah yang dibangun … berdasarkan kesadaran akan Allah (taqwa) adalah yang paling pantas …”, dan seterusnya. Sebagian mufasir percaya bahwa ayat ini berbicara tentang masjid yang dibangun oleh Nabi di Quba’, sebuah desa di dekat Madinah, ketika Nabi tiba di sana pada bulan Rabi’ Al-Awwal 1 H, lantaran bangunan itu merupakan masjid pertama yang dibangun oleh Nabi dan para pengikutnya. Namun, terdapat hadis-hadis sahih yang menerangkan bahwa Nabi juga menggunakan sebutan “rumah ibadah yang dibangun berdasarkan kesadaran akan Allah” (masjidun ussisa ‘ala al-taqwa) untuk masjid (yang dibangun belakangan) di Madinah (Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, ibn Hanbal). Karena itu, cukup beralasan untuk beranggapan bahwa sebutan itu berlaku untuk setiap masjid yang oleh para pendirinya diabdikan secara tulus untuk beribadah kepada Allah: suatu pandangan yang didukung oleh ayat berikutnya.


Surah At-Taubah Ayat 109

أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ تَقْوَىٰ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

a fa man assasa bun-yānahụ ‘alā taqwā minallāhi wa riḍwānin khairun am man assasa bun-yānahụ ‘alā syafā jurufin hārin fan-hāra bihī fī nāri jahannam, wallāhu lā yahdil qaumaẓ-ẓālimīn

109. Lalu, manakah yang lebih baik: orang yang mendirikan bangunannya atas dasar kesadaran akan Allah dan [hasrat untuk memperoleh] perkenan-Nya—ataukah orang yang mendirikan bangunannya di tepi sungai yang terkikis oleh air sehingga bangunan itu [pasti] ambruk bersamanya ke dalam api neraka?

Sebab, Allah tidak menganugerahkan petunjuk-Nya kepada orang-orang yang [dengan sengaja] melakukan kezaliman:


Surah At-Taubah Ayat 110

لَا يَزَالُ بُنْيَانُهُمُ الَّذِي بَنَوْا رِيبَةً فِي قُلُوبِهِمْ إِلَّا أَنْ تَقَطَّعَ قُلُوبُهُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

lā yazālu bun-yānuhumullażī banau rībatan fī qulụbihim illā an taqaṭṭa’a qulụbuhum, wallāhu ‘alīmun ḥakīm

110. bangunan yang telah mereka dirikan itu akan senantiasa menjadi sumber kegelisahan yang mendalam di dalam hati mereka hingga hati mereka itu hancur berkeping-keping.146 Dan, Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.


146 Lit., “kecuali hati mereka terbelah menjadi berkeping-keping”—yakni sampai mereka mati. Di dalam ayat 109-110, pembicaraan tentang “bangunan yang telah mereka bangun” jelas diperluas hingga melampaui pembicaraan tidak langsung sebelumnya mengenai rumah-rumah ibadah, dan secara alegoris menetapkan batasan-batasan bagi semua “perbuatan” dan tingkah laku manusia.


Surah At-Taubah Ayat 111

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

innallāhasytarā minal-mu`minīna anfusahum wa amwālahum bi`anna lahumul-jannah, yuqātilụna fī sabīlillāhi fa yaqtulụna wa yuqtalụna wa’dan ‘alaihi ḥaqqan fit-taurāti wal-injīli wal-qur`ān, wa man aufā bi’ahdihī minallāhi fastabsyirụ bibai’ikumullażī bāya’tum bih, wa żālika huwal-fauzul-‘aẓīm

111. PERHATIKANLAH, Allah telah membeli jiwa dan harta orang-orang beriman dengan menjanjikan mereka surga sebagai balasan [sehingga] mereka berjuang di jalan Allah, dan mereka membunuh dan terbunuh: suatu janji yang benar-benar Dia kehendaki atas diri-Nya sendiri di dalam [kata-kata] Taurat, Injil, dan Al-Quran. Dan, siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah?

Maka, bergembiralah dengan kesepakatan yang telah kalian buat bersama-Nya: sebab, inilah kemenangan yang tertinggi!


Surah At-Taubah Ayat 112

التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

attā`ibụnal-‘ābidụnal-ḥāmidụnas-sā`iḥụnar-rāki’ụnas-sājidụnal-āmirụna bil-ma’rụfi wan-nāhụna ‘anil-mungkari wal-ḥāfiẓụna liḥudụdillāh, wa basysyiril-mu`minīn

112. [Ini adalah kemenangan] orang-orang yang bertobat [kepada Allah manakala mereka telah berbuat dosa], dan yang menyembah dan mengagungkan[-Nya], dan terus-menerus pergi [mencari perkenan-Nya],147 dan menundukkan diri [di hadapan-Nya] dan bersujud dengan penuh rasa cinta dan hormat, dan menyuruh berbuat benar dan melarang berbuat salah, serta memelihara ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh Allah. Dan, sampaikanlah olehmu [wahai Nabi] berita gembira [mengenai janji Allah] kepada semua orang beriman.


147 Mayoritas mufasir memaknai ungkapan al-sa’ihun (lit., “orang-orang yang mengembara”) sebagai al-sha’imun, yakni “orang-orang yang berpuasa”, karena orang yang berpuasa berarti bahwa orang itu menjauhkan dirinya sendiri untuk sementara waktu dari kenikmatan-kenikmatan duniawi, seperti halnya orang yang mengembara di atas bumi (Sufyan ibn `Uyainah, sebagaimana dikutip oleh Al-Razi); dan mereka membenarkan persamaan metaforis ungkapan siyahah (“pengembaraan”) dengan shiyam (“puasa”) berdasarkan kenyataan bahwa sejumlah Sahabat Nabi dan beberapa orang pengikut Sahabat (generasi tabi’un) menafsirkan istilah al-sa’ihun dalam konteks di atas (lihat Al-Thabari). Namun, para mufasir yang lain (misalnya Abu Muslim, sebagaimana dikutip oleh Al-Razi) memilih makna asli dari istilah itu dan menerangkan bahwa istilah itu kurang lebih sinonim dengan al-muhajirun (“orang-orang yang hijrah meninggalkan ranah kejahatan”). Menurut pendapat saya, kata al-sa’ihun paling balk diterjemahkan menjadi “orang-orang yang terus-menerus pergi* [mencari keridhaan sehingga memadukan pengertian harfiah dan pengertian kiasan dari istilah siyahah.

* (go on and on: menggabungkan makna “go” (pergi) dan “on and on“(terus-menerus)—peny.}


Surah At-Taubah Ayat 113

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

mā kāna lin-nabiyyi wallażīna āmanū ay yastagfirụ lil-musyrikīna walau kānū ulī qurbā mim ba’di mā tabayyana lahum annahum aṣ-ḥābul-jaḥīm

113. TIDAKLAH pantas bagi Nabi dan orang-orang yang telah meraih iman untuk mendoakan agar orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah diampuni [oleh-Nya]—meskipun mereka kebetulan adalah saudara dekat [mereka]148—setelah menjadi jelas bagi mereka bahwa orang-orang [mati yang berdosa] itu ditentukan untuk masuk ke dalam api yang menyala-nyala.


148 Sebagaimana jelas dari bagian ayat selanjutnya, larangan ini berkaitan dengan orang yang sudah mati di kalangan para pelaku dosa—yakni, mereka yang mati tanpa bertobat (Al-Zamakhsyari dan Al-Razi)—dan bukan berkenaan dengan orang-orang yang masih hidup: sebab, “doa untuk memintakan ampunan bagi orang-orang [berdosa] yang masih hidup … berarti doa agar Allah memberi mereka petunjuk-Nya … dan hal ini diperbolehkan” (Al-Manar XI, h. 60).


Surah At-Taubah Ayat 114

وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ ۚ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ

wa mā kānastigfāru ibrāhīma li`abīhi illā ‘am mau’idatiw wa’adahā iyyāh, fa lammā tabayyana lahū annahụ ‘aduwwul lillāhi tabarra`a min-h, inna ibrāhīma la`awwāhun ḥalīm

114. Dan, doa Ibrahim agar ayahnya diampuni tidak lain karena janji yang telah dia berikan kepada ayahnya [pada masa hidupnya];149 tetapi tatkala telah menjadi jelas bagi Ibrahim bahwa ayahnya telah menjadi musuh Allah, [Ibrahim] berlepas diri darinya—[meskipun,] perhatikanlah, Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya, sangat penyantun.


149 Janji Ibrahim kepada ayahnya disebut di dalam Surah Maryam [19]: 47-48 dan Surah Al-Mumtahanah [60]: 4; mengenai doa sebenarnya yang diucapkan oleh Ibrahim, lihat Surah Asy-Syu’ara’ [26]: 86-87.


Surah At-Taubah Ayat 115

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِلَّ قَوْمًا بَعْدَ إِذْ هَدَاهُمْ حَتَّىٰ يُبَيِّنَ لَهُمْ مَا يَتَّقُونَ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

wa mā kānallāhu liyuḍilla qaumam ba’da iż hadāhum ḥattā yubayyina lahum mā yattaqụn, innallāha bikulli syai`in ‘alīm

115. Dan, Allah tidak akan pernah—setelah mengajak mereka mengikuti petunjuk-Nya—mengutuk suatu kaum lantaran mereka tersesat150 sebelum Dia menjadikan [semuanya] jelas kepada mereka apa yang mereka seharusnya sadari. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.151


150 Lit., “Tidaklah pantas bagi Allah”—yakni, hal itu tidak sejalan dengan kemahatahuan dan kemahakuasaan Allah—”menyebabkan suatu kaum tersesat setelah Dia rnernberi mereka petunjuk”. Frasa “menyebabkan suatu kaum tersesat” saya terjemahkan sebagai “mengutuk suatu kaum lantaran mereka tersesat”, mengikuti penafsiran yang diberikan oleh beberapa mufasir klasik terkemuka (misalnya, Al-Thabari, Al-Razi). Adapun berkenaan dengan frasa “setelah Dia memberi mereka petunjuk”, menafsirkannya sebagai “setelah Dia mengajak mereka ke jalan kebenaran (al-rusyd)”.

151 Kebanyakan mufasir beranggapan bahwa kaum yang dirujuk di sini adalah orang-orang beriman yang, sebelum diwahyukannya ayat 113, biasa berdoa kepada Allah agar Dia memberikan ampunan-Nya kepada kerabat dan kawan-kawan mereka yang telah mati dalam keadaan syirk (“menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah”): dengan kata lain, orang-orang beriman tidak perlu takut akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang mereka kerjakan sebelum larangan yang ditetapkan di dalam ayat 113 diwahyukan (yakni “sebelum Dia menjadikan [semuanya] jelas kepada mereka apa yang mereka seharusnya sadari”). Namun, Al-Razi juga mengemukakan penafsiran lain atas ayat 115, yaitu bahwa hal itu dimaksudkan untuk menjelaskan betapa kerasnya kecaman yang ditujukan oleh keseluruhan surah ini kepada orang-orang yang mengingkari kebenaran dan orang-orang munafik yang masih tetap tersesat setelah Allah “menjadikan jelas kepada mereka apa yang mereka seharusnya sadari”. (Dalam kaitan ini, lihat Surah Al-An’am [6]: 131-132 dan catatan-catatan yang terkait.) Dari kedua penafsiran tersebut, menurut pendapat saya, penafsiran yang kedua ini adalah yang lebih masuk akal, khususnya dengan mempertimbangkan ayat berikutnya (ayat 116).


Surah At-Taubah Ayat 116

إِنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۚ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

innallāha lahụ mulkus-samāwāti wal-arḍ, yuḥyī wa yumīt, wa mā lakum min dụnillāhi miw waliyyiw wa lā naṣīr

116. Sungguh, hanya milik Allah semata kekuasaan atas lelangit dan bumi; [hanya] Dia yang menghidupkan dan mematikan; dan tidak ada siapa pun selain Allah yang dapat melindungi atau menolong kalian.


Surah At-Taubah Ayat 117

لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

laqat tāballāhu ‘alan-nabiyyi wal-muhājirīna wal-anṣārillażīnattaba’ụhu fī sā’atil-‘usrati mim ba’di mā kāda yazīgu qulụbu farīqim min-hum ṡumma tāba ‘alaihim, innahụ bihim ra`ụfur raḥīm

117. SUNGGUH, Allah telah berpaling dengan belas kasih-Nya kepada Nabi serta kepada orang-orang yang hijrah meninggalkan ranah kejahatan dan orang-orang yang melindungi dan menolong agama152—[semua] yang mengikutinya, pada masa-masa sulit, ketika hati sebagian orang beriman lainnya hampir melenceng dari keimanan.153

Dan, sekali lagi:154 Dia telah berpaling kepada mereka dengan belas kasih-Nya—sebab, perhatikanlah, Dia Mahawelas Asih terhadap mereka, Sang Pemberi Rahmat.


152 Lihat catatan no. 132.

153 Lit., “setelah sekelompok dari rnereka hampir melenceng [dari keimananl”: ungkapan ini rnengacu kepada orang-orang beriman yang—tanpa alasan yang sahih—tidak menanggapi seruan Nabi ketika dia tengah bersiap untuk mengadakan perjalanan ke Tabuk, dan mereka menyesali hal itu kemudian.

154 Lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 31. Menurut AI-Zamakhsyari dan Al-Razi, kata sambung tsumma di sini memiliki arti seperti yang saya gunakan dalam terjemahan saya {yakni, “dan sekali lagi”—peny.} dan berperan untuk menekankan pernyataan bahwa “Allah telah berpaling dengan belas kasih-Nya kepada Nabi … dan semua yang mengikutinya pada masa-masa sulit”.


Surah At-Taubah Ayat 118

وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّىٰ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

wa ‘alaṡ-ṡalāṡatillażīna khullifụ, ḥattā iżā ḍāqat ‘alaihimul-arḍu bimā raḥubat wa ḍāqat ‘alaihim anfusuhum wa ẓannū al lā malja`a minallāhi illā ilaīh, ṡumma tāba ‘alaihim liyatụbụ, innallāha huwat-tawwābur-raḥīm

118. Dan, [Dia berpaling dengan belas kasih-Nya pula kepada] tiga [kelompok orang beriman] yang telah tergelincir ke dalam kerusakan155 hingga, pada akhirnya—setelah bumi, meski betapapun luasnya, telah menjadi [terlalu] sempit bagi mereka dan jiwa mereka telah menjadi [sangat] sempit—mereka mengetahui dengan pasti bahwa tidak ada tempat untuk menghindar dari Allah selain [kembali] kepada-Nya; dan kemudian, Allah berpaling dengan belas kasih-Nya kepada mereka agar mereka bertobat: sebab, sungguh, hanya Allah semata Sang Penerima Tobat, Sang Pemberi Rahmat.156


155 Atau: “telah ditinggalkan di belakang”, yakni saat keberangkatan pasukan Muslim ke Tabuk. Terjemahan saya, “mereka yang telah tergelincir ke dalam kerusakan”, untuk ungkapan alladzina khullifu didasarkan pada makna kiasan dari verba khalufa atau khullifa,”dia telah [atau ‘menjadi’] berubah [lebih buruk]”, atau “dia menjadi rusak” dalam pengertian moral (lihat Asas, Nihayah, Lisan Al-Arab, Al-Qamus, Taj Al-`Arus). Penafsiran seperti itu terhadap ungkapan alladzina khullifu—yang dalam konteks di atas merujuk kepada orang-orang yang tidak ikut berangkat ke Tabuk dengan dalih palsu—mendapat dukungan dari sebagian filolog Arab terkemuka, misalnya, ‘Abd Al-Malik Al-Ashma’i (sebagaimana dikutip penafsirannya atas ayat 83 surah ini).

Adapun ungkapan “tiga yang telah tergelincir ke dalam kerusakan”, menurut pendapat para mufasir klasik, mengacu kepada tiga orang—yaitu Ka’ab ibn Malik, Mararah ibn Al-Rabi’, dan Hilal ibn Umayyah (yang semuanya berasal dari golongan anshar)—yang tidak ikut dalam perjalanan pasukan ke Tabuk dan, karena itu, diasingkan oleh Nabi dan para Sahabat hingga diwahyukannya ayat di atas. Namun, sementara secara historis tidak dapat dimungkiri bahwa ketiga orang Sahabat ini memang termasuk di antara orang-orang beriman yang lalai menunaikan tugas mereka (hadis-hadis yang relevan dapat ditemukan panjang lebar di dalam penafsiran Al-Thabari dan Ibn Katsir atas ayat ini), bagi saya konteks ayat itu agaknya tidak membenarkan pembatasan makna “tiga” pada tiga orang tertentu. Sebaliknya, menurut pendapat saya, yang dimaksudkan dengan kata “tiga” itu ialah tiga kelompok orang beriman yang berbuat salah, yakni: (1) mereka yang mengajukan alasan yang samar-samar dan kemudian diizinkan oleh Nabi untuk tetap tinggal di rumah mereka (sebagaimana diacu secara tidak Iangsung dalam ayat 43-46 serta kalimat pertama ayat 90); (2) mereka yang tidak hadir tanpa izin, tetapi kemudian menyesali kesalahan mereka secara spontan (ayat 102-105); dan (3) mereka yang perkaranya pada awalnya “ditangguhkan” (ayat 106) dan mereka segera menyesali kesalahan mereka setelah Nabi kembali dari Tabuk (pada saat ayat 118 diwahyukan).

156 Dalam implikasinya yang Iebih luas—berbeda dengan alusi yang murni bersifat historis—ayat di atas berbicara tentang semua orang berirnan yang untuk sementara waktu menyimpang dari jalan yang benar dan kemudian setelah menyadari—baik secara spontan atau sebagai akibat kecaman dari pihak lain—bahwa mereka telah “tergelincir ke dalam kerusakan”, mereka dengan tulus menyesali kesalahan mereka.


Surah At-Taubah Ayat 119

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha wa kụnụ ma’aṣ-ṣādiqīn

119. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Tetaplah sadar akan Dia dan hendaklah kalian termasuk orang-orang yang berkata benar!


Surah At-Taubah Ayat 120

مَا كَانَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ أَنْ يَتَخَلَّفُوا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ وَلَا يَرْغَبُوا بِأَنْفُسِهِمْ عَنْ نَفْسِهِ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

mā kāna li`ahlil-madīnati wa man ḥaulahum minal-a’rābi ay yatakhallafụ ‘ar rasụlillāhi wa lā yargabụ bi`anfusihim ‘an nafsih, żālika bi`annahum lā yuṣībuhum ẓama`uw wa lā naṣabuw wa lā makhmaṣatun fī sabīlillāhi wa lā yaṭa`ụna mauṭi`ay yagīẓul-kuffāra wa lā yanalụna min ‘aduwwin nailan illā kutiba lahum bihī ‘amalun ṣāliḥ, innallāha lā yuḍī’u ajral-muḥsinīn

120. Tidaklah layak bagi penduduk Kota [Nabi] dan orang-orang Arab Badui [yang hidup] di sekitar mereka untuk tidak lagi mengikuti Rasul Allah atau peduli terhadap diri mereka sendiri melebihi kepedulian terhadap Rasul!157—sebab, tatkala mereka ditimpa kehausan, kelelahan, dan kelaparan di jalan Allah, dan tatkala mereka mengambil setiap langkah yang mengejutkan158 orang-orang yang mengingkari kebenaran, dan tatkala datang kepada mereka dari pihak musuh apa pun yang mungkin telah ditetapkan bagi mereka159—[tatkala semua itu terjadi,] suatu perbuatan baik dituliskan bagi mereka.160 Sungguh, Allah tidak akan lupa untuk membalas pahala orang-orang yang berbuat baik!


157 Meskipun ayat ini dan ayat-ayat selanjutnya tampaknya berbicara tentang “penduduk Kota Nabi (Madinah)” (lihat catatan no. 133) dan tentang “orang-orang Arab Badui yang hidup di sekitar mereka”, maksud ayat-ayat tersebut bersifat umum dan berlaku untuk semua orang beriman sepanjang masa. Penyebutan khusus “Kota Nabi” adalah didasarkan atas kenyataan bahwa kota itu merupakan tempat Al-Quran selesai diwahyukan dan Islam mencapai perkembangan yang matang di bawah tuntunan Nabi.

158 Lit., “menyebabkan kemurkaan”.

159 Lit., “[tatkala] mereka memperoleh, dari pihak musuh, apa pun yang mereka peroleh”—yakni, kemenangan, kematian, atau penderitaan.

160 Dalam susunan aslinya, kalimat ini berbunyi: “dan tidakIah rasa haus yang mereka derita …, tidak pula setiap Iangkah yang mereka tempuh …, tidak pula segala sesuatu yang mereka terima dari pihak musuh …, melainkan {akan—peny.} dicatat sebagai suatu perbuatan baik bagi mereka”. Susunan kalimat yang sama juga digunakan di dalam ayat selanjutnya.


Surah At-Taubah Ayat 121

وَلَا يُنْفِقُونَ نَفَقَةً صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً وَلَا يَقْطَعُونَ وَادِيًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

wa lā yunfiqụna nafaqatan ṣagīrataw wa lā kabīrataw wa lā yaqṭa’ụna wādiyan illā kutiba lahum liyajziyahumullāhu aḥsana mā kānụ ya’malụn

121. Dan, tatkala mereka mengeluarkan sesuatu [di jalan Allah], entah itu sedikit ataupun banyak, dan tatkala mereka berjalan di muka bumi161 [di jalan Allah]—hal itu dicatat sebagai pahala bagi mereka, dan Allah akan menganugerahi mereka balasan yang terbaik atas semua yang mereka lakukan.


161 Lit., “menyeberangi suatu lembah”. Dalam penafsirannya atas ayat ini, Al-Zamakhsyari dengan tepat menunjukkan bahwa istilah wadi (“lembah” atau “dasar sungai”) sering digunakan dalam bahasa Arab klasik dengan arti “bumi”—suatu istilah yang bahkan, pada zaman kita sekarang ini, lazim digunakan di kalangan Arab Badui di Semenanjung Arabia, khususnya ketika dikombinasikan dengan verba qatha’a (lit., “dia memotong”) dalam arti “menyeberangi” atau “melintasi [suatu jarak]” atau “bergerak maju [dalam suatu perjalanan]”. Jadi, frasa Al-Quran di atas mungkin cocok untuk diterjemahkan sebagai “tatkala mereka berjalan di muka bumi”. (Mengenai susunan kalimat ini, lihat catatan terdahulu.)


Surah At-Taubah Ayat 122

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

wa mā kānal-mu`minụna liyanfirụ kāffah, falau lā nafara ming kulli firqatim min-hum ṭā`ifatul liyatafaqqahụ fid-dīni wa liyunżirụ qaumahum iżā raja’ū ilaihim la’allahum yaḥżarụn

122. Dengan ini semua, tidaklah dikehendaki bahwa seluruh orang beriman pergi ke medan [pada masa perang]. Dari setiap kelompok di antara mereka, sebagian hendaknya menahan diri untuk tidak pergi berperang, dan [sebaliknya] hendaknya mencurahkan waktu untuk memperoleh pengetahuan yang lebih dalam tentang agama, dan [dengan demikian dapat] mengajari saudara mereka apabila mereka telah kembali sehingga hal ini [juga] mungkin dapat melindungi diri mereka sendiri dari kejahatan.162


162 Lit., “[agar dapat] memperingatkan kaumnya ketika mereka kembali kepada kaumnya, supaya kaumnya itu berada dalam bimbingan mereka”. Meskipun secara khusus menyebut pengetahuan keagamaan, perintah di atas jelas berkaitan dengan setiap jenis pengetahuan—hal ini dengan mempertimbangkan kenyataan bahwa Al-Quran tidak memisahkan antara perkara kehidupan yang bersifat ruhani dan yang bersifat duniawi, melainkan memandangnya sebagai aspek-aspek yang berbeda dengan sebuah realitas tunggal yang sama. Di dalam banyak ayat, Al-Quran menyeru orang-orang beriman untuk mengamati seluruh alam dan untuk mencermati aktivitas penciptaan Allah dalam berbagai fenomena dan “hukum-hukum alam”, serta merenungkan berbagai pelajaran dari sejarah agar dapat memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang motivasi manusia dan sumber penggerak yang paling dalam bagi perilakunya; dan, demikianlah, Al-Quran sendiri dicirikan sebagai wahyu yang ditujukan bagi “orang-orang yang berpikir”. Ringkasnya, aktivitas intelektual semacam itu dijadikan dalil sebagai suatu cara yang sahih untuk memperoleh pemahaman yang lebih balk tentang kehendak Allah dan—jika diikuti dengan kesadaran moral—merupakan suatu metode yang sahih untuk beribadah kepada Allah. Prinsip Al-Quran ini telah ditegaskan dalam banyak hadis sahih Nabi, misalnya, “Mencari ilmu adalah tugas suci (faridhah) bagi setiap laki-laki dan perernpuan yang telah berserah diri kepada Allah (muslim wa muslimah)” (Ibn Majah); atau, “Keunggulan (fadhl) orang yang berpengetahuan atas orang yang [sekadar] beribadah [yakni orang yang hanya mengerjakan shalat, puasa, dan sebagainya] laksana keunggulan bulan purnama atas seluruh bintang” (Al-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibn Majah, Ibn Hanbal, Al-Darimi). Sebagai akibatnya, kewajiban orang beriman untuk “mencurahkan diri mereka untuk memperoleh pengetahuan yang lebih dalam tentang agama” (li yatafaqqahu fi al-din) dan untuk membagikan hasilnya kepada sesama orang beriman berkaitan dengan setiap cabang ilmu pengetahuan serta penerapan praktisnya.


Surah At-Taubah Ayat 123

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

yā ayyuhallażīna āmanụ qātilullażīna yalụnakum minal-kuffāri walyajidụ fīkum gilẓah, wa’lamū annallāha ma’al-muttaqīn

123. Wahai, kalian yang telah meraih iman! Berjuanglah melawan para pengingkar kebenaran yang berada di sekitar kalian dan biarkan mereka mendapati bahwa kalian bersikap tegas;163 dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang sadar akan Dia.


163 Yakni, tidak akan berkompromi menyangkut prinsip-prinsip etis. Mengenai situasi umum yang membolehkan perang, lihat Surah Al-Baqarah [2]: 190-194, Al-Hajj [22]: 39, Al-Mumtahanah [60]: 8-9 dan catatan-catatan terkait, serta catatan no. 7 dan 9 pada ayat 5 surah ini. Penyebutan “para pengingkar kebenaran yang berada di sekitar kalian” mungkin disebabkan oleh kenyataan bahwa “orang-orang yang berada di sekitar kalian” itu dapat berbahaya dalam pengertian fisik atau, bisa juga, mereka yang—setelah datang dari tempat jauh—telah siap mendekati negeri Muslim dengan maksud melakukan agresi.


Surah At-Taubah Ayat 124

وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَٰذِهِ إِيمَانًا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

wa iżā mā unzilat sụratun fa min-hum may yaqụlu ayyukum zādat-hu hāżihī īmānā, fa ammallażīna āmanụ fa zādat-hum īmānaw wa hum yastabsyirụn

124. NAMUN, TATKALA suatu surah [dari kitab Ilahi ini] diturunkan, sebagian dari para pengingkar kebenaran itu cenderung bertanya,164 “Siapakah di antara kalian yang keimanannya bertambah kuat [dengan adanya pesan ini]?”

Adapun bagi orang-orang yang telah meraih iman, surah ini sungguh memperkuat keimanan mereka dan mereka bersukacita dengan kabar gernbira [yang telah Allah berikan kepada mereka].165


164 Lit., “di antara mereka ada yang berkata”. “Perkataan” yang mengikuti kalimat tersebut mungkin merupakan sindiran sarkastis yang merujuk pada Surah Al-Anfal [8]: 2, yang berbicara tentang orang-orang beriman “yang keimanannya bertambah kuat ketika pesan-pesan-Nya disampaikan kepada mereka”.

165 Ini mengacu pada janji tentang surga yang diungkapkan di dalam ayat 111.


Surah At-Taubah Ayat 125

وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَىٰ رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ

wa ammallażīna fī qulụbihim maraḍun fa zādat-hum rijsan ilā rijsihim wa mātụ wa hum kāfirụn

125. Akan tetapi, bagi orang-orang yang di dalam hati mereka terdapat penyakit, setiap pesan baru tidak lain hanyalah menambah [unsur] ketidakpercayaan lain terhadap ketidakpercayaan yang mereka telah pendam,166 dan mereka mati pada saat mereka [masih] menolak untuk mengakui kebenaran.


166 Lit., “hal itu tidak lain menambah keburukan yang menjijikkan [lainnya] atas keburukan-yang-menjijikkan mereka” yakni, membuat mereka menjadi semakin keras mengingkari kebenaran pesan-pesan Allah karena mereka secara apriori berkukuh menolak segala sesuatu yang bertentangan dengan penolakan mereka untuk mengakui keberadaan sesuatu apa pun yang berada di luar jangkauan persepsi indriawi manusia (al-ghaib—lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 3).


Surah At-Taubah Ayat 126

أَوَلَا يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٍ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُونَ

a wa lā yarauna annahum yuftanụna fī kulli ‘āmim marratan au marrataini ṡumma lā yatụbụna wa lā hum yażżakkarụn

126. Lantas, tidakkah mereka memperhatikan bahwa mereka sedang diuji setiap tahun?167 Akan tetapi, mereka tidak bertobat dan tidak memikirkan [Allah];


167 Lit., “setiap tahun sekali atau dua kali”—ungkapan kiasan yang berarti kesinambungan atau keberlanjutan (Al-Manar XI, h. 83). “Ujian” itu didasari atas kenyataan bahwa manusia telah dianugerahi dengan nalar dan, karena itu, memiliki kemampuan untuk memilih antara yang benar dan yang salah.


Surah At-Taubah Ayat 127

وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ نَظَرَ بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ هَلْ يَرَاكُمْ مِنْ أَحَدٍ ثُمَّ انْصَرَفُوا ۚ صَرَفَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ

wa iżā mā unzilat sụratun naẓara ba’ḍuhum ilā ba’ḍ, hal yarākum min aḥadin ṡummanṣarafụ, ṣarafallāhu qulụbahum bi`annahum qaumul lā yafqahụn

127. dan, tatkala suatu surah diturunkan, mereka memandang satu sama lain [dan seolah-olah berkata], “Adakah yang dapat melihat apa yang terdapat di dalam hati kalian?”168—dan kemudian mereka berpaling.

Allah telah memalingkan hati mereka [dari kebenaran] sebab mereka adalah orang-orang yang tidak akan memahaminya.169


168 Lit., “yang melihat kalian”—yang menyiratkan pengertian bahwa Allah tidak ada.

169 Bdk. Surah Al-Anfal [8]: 55.


Surah At-Taubah Ayat 128

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

laqad jā`akum rasụlum min anfusikum ‘azīzun ‘alaihi mā ‘anittum ḥarīṣun ‘alaikum bil-mu`minīna ra`ụfur raḥīm

128. SUNGGUH, telah datang kepada kalian [wahai manusia] seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri:170 sangat membebani dirinya [pikiran] bahwa kalian mungkin akan menderita [di kehidupan mendatang]; [dia] penuh perhatian terhadap kalian [dan] penuh rasa sayang serta belas kasih terhadap orang-orang beriman.


170 Yakni, “seorang manusia seperti kalian, yang tidak dianugerahi dengan kekuatan adikodrati apa pun, melainkan semata-mata dipilih oleh Allah untuk menyampaikan pesan-pesan-Nya kepada kalian”. (Lihat catatan no. 2 dalam Surah Qaf [50]: 2.)


Surah At-Taubah Ayat 129

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

fa in tawallau fa qul ḥasbiyallāhu lā ilāha illā huw, ‘alaihi tawakkaltu wa huwa rabbul-‘arsyil-‘aẓīm

129. Namun, apabila mereka [yang berkukuh mengingkari kebenaran itu] berpaling, katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku! Tiada tuhan kecuali Dia. Kepada-Nya-lah kubersandar penuh percaya*, sebab Dia adalah Sang Pemelihara, yang bersinggasana dalam kemahakuasaan yang agung.”171


* {Yakni, bertawakal; in Him have I placed my trust.—peny.}

171 Lit., “Pemelihara (rabb) singgasana kemahakuasaan yang agung”. Mengenai terjemahan saya atas istilah al-‘arsy sebagai “singgasana kemahakuasaan”, lihat catatan no. 43 dalam Surah Al-A’raf [7]: 54


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top