66. At-Tahrim (Larangan) – التحريم

Surat At-Tahrim dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat At-Tahrim ( التحريم ) merupakan surat ke 66 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 12 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Madinah. Dengan demikian, Surah At-Tahrim tergolong Surat Madaniyah.

Surah yang diwahyukan pada paruh kedua periode Madinah ini—mungkin pada 7 H—terkadang dinamakan sebagai “Surah Nabi” (Al-Zamakhsyari) karena paruh pertama surah ini berbicara tentang segi-segi tertentu dari kehidupan pribadi Nabi dan kehidupan berkeluarganya.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah At-Tahrim Ayat 1

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ ۖ تَبْتَغِي مَرْضَاتَ أَزْوَاجِكَ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

yā ayyuhan-nabiyyu lima tuḥarrimu mā aḥallallāhu lak, tabtagī marḍāta azwājik, wallāhu gafụrur raḥīm

1. WAHAI, NABI! Mengapa, karena hendak menyenangkan [salah satu dari] istri-istrimu, engkau mengharamkan [untuk dirimu sendiri] sesuatu yang Allah telah halalkan bagimu?1

Akan tetapi, Allah Maha Pengampun, Maha Pemberi Rahmat:


1 Ada sejumlah riwayat yang bertentangan secara mendasar—dan karena itu, secara keseluruhan, riwayat-riwayat itu kurang dapat dipercaya—mengenai alasan atau alasan-alasan pasti mengapa, di suatu waktu pada paruh kedua periode Madinah, Nabi menyatakan sumpah bahwa selama satu bulan dia tidak akan berhubungan dengan istrinya yang mana pun. Namun, sementara alasan pasti mengenai hal tersebut tidak dapat ditentukan, dari hadis-hadis yang disebut di atas cukup jelas bahwa penolakan yang bersifat emosional dan sementara atas kehidupan pernikahan ini disebabkan sebagian istri Nabi menampakkan sikap saling cemburu dengan terang-terangan di antara sesama mereka. Betapapun, tujuan alusi Al-Quran mengenai peristiwa ini tidak bersifat biografis, tetapi lebih dimaksudkan untuk memberi suatu pelajaran moral yang dapat diterapkan pada seluruh situasi manusia: yaitu, tidak diperbolehkannya mengharamkan apa yang telah dihalalkan oleh Allah kendati hal itu dilakukan karena didorong oleh keinginan untuk menyenangkan orang lain. Terlepas dari hal itu, peristiwa ini berguna untuk mengilustrasikan kenyataan—yang berulang-ulang ditekankan dalam Al-Quran—bahwa Nabi tidak lain adalah manusia biasa dan, karena itu, memiliki emosi-emosi manusiawi dan bahkan sewaktu-waktu dapat melakukan kesalahan (yang kendati demikian, dalam kasus Nabi, kesalahan itu langsung diperlihatkan kepadanya dan, dengan demikian, diperbaiki melalui wahyu Allah).


Surah At-Tahrim Ayat 2

قَدْ فَرَضَ اللَّهُ لَكُمْ تَحِلَّةَ أَيْمَانِكُمْ ۚ وَاللَّهُ مَوْلَاكُمْ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

qad faraḍallāhu lakum taḥillata aimānikum, wallāhu maulākum, wa huwal-‘alīmul-ḥakīm

2. Allah telah memerintahkan kepada kalian [wahai orang-orang beriman] untuk membatalkan dan menebus sumpah-sumpah kalian [yang demikian, sebab mungkin bertentangan dengan apa yang benar dan adil]:2 sebab, Allah adalah Penguasa kalian yang tertinggi, dan Dia sajalah Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana.


2 Lihat Surah Al-Baqarah [2]: 224 dan catatan no. 212 yang terkait, yang memperlihatkan bahwa dalam kondisi-kondisi tertentu, suatu sumpah harus dibatalkan lalu ditebus: karena itu, ungkapan di atas berbunyi, “Allah telah memerintahkan kepada kalian untuk membatalkan dan menebus” (istilah tahillah mencakup kedua konsep itu, yaitu pembatalan dan penebusan).


Surah At-Tahrim Ayat 3

وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَىٰ بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ وَأَظْهَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهُ وَأَعْرَضَ عَنْ بَعْضٍ ۖ فَلَمَّا نَبَّأَهَا بِهِ قَالَتْ مَنْ أَنْبَأَكَ هَٰذَا ۖ قَالَ نَبَّأَنِيَ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ

wa iż asarran-nabiyyu ilā ba’ḍi azwājihī ḥadīṡā, fa lammā nabba`at bihī wa aẓ-harahullāhu ‘alaihi ‘arrafa ba’ḍahụ wa a’raḍa ‘am ba’ḍ, fa lammā nabba`ahā bihī qālat man amba`aka hāżā, qāla nabba`aniyal-‘alīmul-khabīr

3. Dan, lihatlah!3 [Demikianlah yang terjadi tatkala] Nabi menceritakan sesuatu secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya; dan tatkala kemudian istrinya itu membocorkan rahasia tersebut, dan Allah menjadikan Nabi mengetahui hal itu, lalu Nabi memberitahukan [pihak-pihak lain] sebagian cerita itu dan menyembunyikan sebagian lainnya.4 Dan, tatkala Nabi memberi tahu istrinya mengenai hal tersebut, istrinya itu bertanya, “Siapakah yang telah memberi tahu engkau hal ini?”5—[yang kemudian] Nabi menjawab, “Yang Maha Mengetahui, Mahaawas telah memberitahuku.”


3 Lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 21.

4 Lit., “dia berpaling dari (atau ‘menghindari’) sebagian darinya”. Tidak ada hadis sahih yang berbicara mengenai pokok informasi rahasia tersebut. Namun, sebagian mufasir awal menghubungkannya dengan ramalan terselubung Nabi bahwa Abu Bakr dan ‘Umar ibn Al-Khaththab akan menggantikan Nabi sebagai pemimpin umat Muslim; dikatakan bahwa penerima informasi itu adalah Hafshah, putri ‘Umar, sedangkan orang yang kepadanya Hafshah membocorkan informasi tersebut ialah ‘A’isyah, putri Abu Bakr (Al-Baghawi, bersumber dari Ibn ‘Abbas dan Al-Kalbi; juga Al-Zamakhsyari). Jika penafsiran ini benar, ini akan menjelaskan mengapa Nabi “memberitahukan [pihak-pihak lain] sebagian cerita itu dan menyembunyikan sebagian lainnya”: sebab, sekali ramalan rahasianya telah dibocorkan, Nabi tidak lagi menganggap penting untuk menyembunyikan informasi tersebut dari masyarakat; namun, beliau sengaja berbicara secara tidak langsung mengenai hal itu dengan ungkapan yang bersifat samar—mungkin agar tidak memberi kesan bahwa suksesi Abu Bakr dan ‘Umar itu terlihat memperoleh “restu Rasul”, tetapi untuk membiarkan proses itu berjalan berdasarkan keputusan bebas dari masyarakat, sesuai dengan prinsip yang dinyatakan dalam Al-Quran: amruhum syura bainahum (lihat Surah Al-Syura [42]: 38).

5 Yakni, bahwa dia telah membocorkan rahasia Nabi.


Surah At-Tahrim Ayat 4

إِنْ تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا ۖ وَإِنْ تَظَاهَرَا عَلَيْهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ مَوْلَاهُ وَجِبْرِيلُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ بَعْدَ ذَٰلِكَ ظَهِيرٌ

in tatụbā ilallāhi fa qad ṣagat qulụbukumā, wa in taẓāharā ‘alaihi fa innallāha huwa maulāhu wa jibrīlu wa ṣāliḥul-mu`minīn, wal-malā`ikatu ba’da żālika ẓahīr

4. [Katakanlah, wahai Nabi:6] “Seharusnya kalian berdua bertobat kepada Allah karena hati kalian berdua telah menyimpang [dari apa yang benar]!7 Dan, jika kalian berdua saling membantu untuk melawan Nabi [yang merupakan pembawa pesan Allah, ketahuilah bahwa] Allah sendirilah Pelindungnya, dan [bahwa,] karena itu,8 Jibril dan orang-orang saleh di kalangan orang-orang beriman, serta seluruh malaikat [yang lain] akan menjadi penolongnya.”


6 Meskipun dalam ayat berikutnya Nabi dirujuk dalam bentuk orang ketiga, jelas bahwa beliaulah yang diperintah melalui wahyu untuk berbicara demikian kepada istri-istrinya, Hafshah dan ‘A’isyah, (lihat catatan no. 4); karena itulah saya melakukan penyisipan kata seperti di atas.

7 Mengacu kepada Hafshah, yang membocorkan rahasia Nabi, dan kepada ‘A’isyah, yang dengan mendengarkannya berarti juga turut terlibat dalam pembocoran ini (lihat catatan no. 4).

8 Lit., “setelah itu”, yakni sebagai akibat dari kenyataan bahwa Allah sendiri melindungi Nabi.


Surah At-Tahrim Ayat 5

عَسَىٰ رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سَائِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا

‘asā rabbuhū in ṭallaqakunna ay yubdilahū azwājan khairam mingkunna muslimātim mu`mināting qānitātin tā`ibātin ‘ābidātin sā`iḥātin ṡayyibātiw wa abkārā

5. [Wahai, istri-istri Nabi!] seandainya Nabi menceraikan [siapa pun di antara] kalian, Allah dapat saja memberi Nabi, sebagai pengganti kalian, istri-istri yang lebih baik daripada kalian—perempuan-perempuan yang berserah diri kepada Allah, yang sungguh-sungguh beriman, yang taat mematuhi kehendak-Nya, yang bertobat [kepada-Nya manakala mereka berbuat dosa], yang menyembah [hanya kepada-Nya], dan yang terus-menerus [mencari keridhaan-Nya]9—baik mereka itu sebelumnya telah menikah atau perawan.10


9 Mengenai terjemahan atas ungkapan sa’ihat, lihat catatan no. 147 pada Surah At-Taubah [9]: 112, yang di dalamnya ungkapan yang sama muncul dalam bentuk maskulin, yang mengacu baik kepada laki-laki maupun perempuan.

10 Yakni, seperti halnya istri-istri Nabi: salah seorang dari mereka (‘A’isyah) adalah perawan ketika menikah dengan Nabi, yang lain (Zainab binti Jahsy) telah dicerai, sedangkan yang lainnya lagi adalah janda-janda. Alusi ini, beserta kenyataan bahwa Nabi tidak menceraikan siapa pun di antara istri-istrinya, serta rumusan ayat ini yang murni bersifat hipotetis, menunjukkan bahwa ayat ini dimaksudkan sebagai suatu peringatan tidak langsung bagi istri-istri Nabi, yang meskipun mereka sewaktu-waktu berbuat kesalahan—suatu hal yang tidak dapat dihindari pada diri manusia—benar-benar memiliki kebaikan-kebaikan seperti yang disebut di atas. Dalam pengertian yang lebih luas, hal ini agaknya menjadi peringatan bagi seluruh orang beriman, baik laki-laki maupun perempuan: dan hal ini menjelaskan perubahan pokok pembicaraan di dalam ayat berikutnya.


Surah At-Tahrim Ayat 6

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

yā ayyuhallażīna āmanụ qū anfusakum wa ahlīkum nāraw wa qụduhan-nāsu wal-ḥijāratu ‘alaihā malā`ikatun gilāẓun syidādul lā ya’ṣụnallāha mā amarahum wa yaf’alụna mā yu`marụn

6. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Lindungilah diri kalian dan orang-orang yang dekat dengan kalian11 dari api [akhirat] yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu:12 [yang menjadi penjaga] atas api itu adalah kekuatan-kekuatan malaikati yang menakutkan [lagi] keras,13 yang tidak mendurhakai Allah dalam segala hal yang diperintahkan oleh-Nya kepada mereka, melainkan [senantiasa] mengerjakan apa yang diperintahkan kepada mereka.14


11 Lit., “keluarga kalian” atau “kaum kalian”; namun, istilah ahl juga berarti orang-orang yang memiliki kesamaan ras, agama, pekerjaan, dan sebagainya, serta “orang-orang yang berada dalam tanggungan” menurut pengertian paling menyeluruh dari kata ini (Al-Jauhari, Raghib; juga Al-Mughni).

12 Lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 16.

13 Lihat Surah Al-Muddatstsir [74]: 27 dan seterusnya, serta catatan-catatannya yang terkait, khususnya catatan no. 15 dan 16, yang di dalamnya saya telah mencoba menjelaskan makna alegoris ayat ini.

14 Yakni, kekuatan-kekuatan malaikati ini tunduk kepada hukum sebab akibat—yang ditetapkan oleh Allah—yang sebagaimana menguasai alam materiel, juga menguasai alam spiritual.


Surah At-Tahrim Ayat 7

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَعْتَذِرُوا الْيَوْمَ ۖ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

yā ayyuhallażīna kafarụ lā ta’tażirul-yaụm, innamā tujzauna mā kuntum ta’malụn

7. [Maka,] wahai orang-orang yang bersikeras mengingkari kebenaran, janganlah mengemukakan dalih [kosong] pada hari ini:15 [di dalam kehidupan akhirat,] kalian hanya akan diberi balasan atas apa yang kalian lakukan [di dunia ini].


15 Yakni, “jangan mencoba merasionalisasi sikap kalian yang sengaja mengingkari kebenaran”—unsur niat yang sadar tersirat dalam bentuk ungkapan masa lampau, alladzina kafaru (lihat catatan no. 6 dalam Surah Al-Baqarah [2]: 6).


Surah At-Tahrim Ayat 8

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

yā ayyuhallażīna āmanụ tụbū ilallāhi taubatan naṣụḥā, ‘asā rabbukum ay yukaffira ‘angkum sayyi`ātikum wa yudkhilakum jannātin tajrī min taḥtihal-an-hāru yauma lā yukhzillāhun-nabiyya wallażīna āmanụ ma’ah, nụruhum yas’ā baina aidīhim wa bi`aimānihim yaqụlụna rabbanā atmim lanā nụranā wagfir lanā, innaka ‘alā kulli syai`ing qadīr

8. Wahai, kalian yang telah meraih iman! Kembalilah kepada Allah dengan tobat yang setulus-tulusnya:16 boleh jadi Pemelihara kalian akan menghapus perbuatan-perbuatan buruk kalian, dan akan memasukkan kalian ke dalam taman-taman yang dilalui aliran sungai-sungai, pada Hari ketika Allah tidak akan mempermalukan Nabi dan orang-orang beriman yang bersama dengannya:17 cahaya mereka akan memancar dengan cepat di hadapan mereka, dan di sebelah kanan mereka;18 [dan] mereka akan berdoa: “Wahai, Pemelihara Kami! Jadikanlah cahaya kami ini menyinari kami selama-lamanya,19 dan ampunilah dosa-dosa kami: sebab, sungguh, Engkau berkuasa untuk menghendaki segala sesuatu.”


16 Secara tersirat, “karena tidak ada seorang pun manusia, betapapun dia dikaruniai dengan iman, yang dapat terbebas sama sekali dari kesalahan dan godaan”.

17 Implikasinya adalah bahwa Dia bukan hanya “tidak akan mempermalukan” Nabi dan para pengikutnya, melainkan juga sebaliknya, akan memuliakan mereka: suatu pembalikan frasa yang khas, serupa dengan perkataan “Aku akan memberi tahu kalian sesuatu yang tidak akan merugikan kalian”—yakni, “sesuatu yang akan menguntungkan kalian”.

18 Bdk. Surah Al-Hadid [57]: 12 dan catatan no. 12 yang terkait.

19 Lit., “Sempurnakanlah bagi kami cahaya”, yakni dengan membuat cahaya itu abadi.


Surah At-Tahrim Ayat 9

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

yā ayyuhan-nabiyyu jāhidil-kuffāra wal-munāfiqīna wagluẓ ‘alaihim, wa ma`wāhum jahannam, wa bi`sal-maṣīr

9. WAHAI, NABI! Berjuang sungguh-sungguhlah melawan orang-orang yang mengingkari kebenaran dan orang-orang munafik, dan bersikap tegaslah terhadap mereka.20 Dan, [jika mereka tidak bertobat,] neraka akan menjadi tempat akhir mereka—suatu akhir perjalanan yang amat buruk!


20 Lihat catatan no. 101 dalam Surah At-Taubah [9]: 73, yang serupa dengan ayat di atas.


Surah At-Tahrim Ayat 10

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ ۖ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ

ḍaraballāhu maṡalal lillażīna kafarumra`ata nụḥiw wamra`ata lụṭ, kānatā taḥta ‘abdaini min ‘ibādinā ṣāliḥaini fa khānatāhumā fa lam yugniyā ‘an-humā minallāhi syai`aw wa qīladkhulan-nāra ma’ad-dākhilīn

10. Bagi mereka yang bersikeras mengingkari kebenaran, Allah telah mengemukakan suatu perumpamaan dalam [kisah tentang] istri Nuh dan istri Luth; mereka menikah dengan dua orang di antara hamba-hamba Kami yang saleh, dan masing-masing mereka itu berkhianat terhadap suaminya;21 maka, kedua [suami] itu sama sekali tidak akan dapat membantu kedua perempuan ini ketika kepada mereka dikatakan [pada Hari Pengadilan], “Masuklah ke dalam api bersama seluruh orang [berdosa lainnya] yang masuk ke dalamnya!”22


21 Lit., “dan keduanya mengkhianati mereka”, yakni suami mereka masing-masing. Kisah istri Nabi Luth a.s. dan pengkhianatan spiritual terhadap suaminya disebutkan di beberapa tempat dalam Al-Quran; lihat, khususnya, catatan no. 66 dalam Surah Al-A’raf [7]: 83 dan catatan no. 113 dalam Surah Hud [11]: 81. Berkenaan dengan istri Nabi Nuh a.s., ayat di atas merupakan satu-satunya rujukan eksplisit mengenai pengkhianatannya kepada sang suami; namun, agaknya keterangan “orang-orang yang telah berlaku ketetapan [Kami] atas mereka” di dalam Surah Hud [11]: 40 berlaku baik bagi istri Nabi Nuh a.s. maupun bagi anaknya (yang kisahnya muncul dalam Surah Hud [11]: 42-47).

22 Perumpamaan atau tamsil (matsal) tentang dua perempuan ini menyiratkan, pertama-tama, bahwa bahkan hubungan yang paling dekat dengan seorang yang benar-benar saleh—bahkan kendatipun orang saleh itu adalah nabi—tidak dapat menyelamatkan pendosa yang tidak bertobat dari akibat-akibat dosanya; dan, kedua, bahwa orang beriman harus memutuskan dirinya dari segala persekutuan dengan “mereka yang bersikeras mengingkari kebenaran”, bahkan jika mereka itu adalah orang-orang terdekat dan yang paling dikasihinya (bdk. Surah Hud [11]: 46).


Surah At-Tahrim Ayat 11

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

wa ḍaraballāhu maṡalal lillażīna āmanumra`ata fir’aụn, iż qālat rabbibni lī ‘indaka baitan fil-jannati wa najjinī min fir’auna wa ‘amalihī wa najjinī minal-qaumiẓ-ẓālimīn

11. Dan, bagi orang-orang yang telah meraih iman, Allah telah mengemukakan suatu perumpamaan dalam [kisah tentang] istri Fir’aun23 ketika dia berdoa, “Wahai, Pemeliharaku! Bangunkanlah untukku sebuah rumah di dalam surga [yang berada] di sisi-Mu, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatan-perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim!”


23 Bdk. Surah Al-Qashash [28]: 8-9.


Surah At-Tahrim Ayat 12

وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ

wa maryamabnata ‘imrānallatī aḥṣanat farjahā fa nafakhnā fīhi mir rụḥinā wa ṣaddaqat bikalimāti rabbihā wa kutubihī wa kānat minal-qānitīn

12. Dan, [Kami juga telah mengemukakan perumpamaan lainnya tentang sikap sadar akan Allah di dalam kisah tentang] Maryam, putri ‘Imran,24 yang menjaga kesuciannya, lalu Kami tiupkan dari ruh Kami ke dalam dia [yang berada di dalam rahimnya],25 dan yang menerima kebenaran kata-kata Pemeliharanya—dan [dengan demikian, kebenaran] wahyu-wahyu-Nya26—dan dia termasuk di antara kalangan yang sungguh-sungguh taat.


24 Yakni, seorang keturunan dari Keluarga ‘Imran (bdk. sepertiga terakhir catatan no. 22 dalam Surah Alu ‘lmran [3]: 33).

25 Yakni, kepada janin atau anak yang masih berada dalam kandungan (demikianlah Al-Razi menjelaskan kata ganti orang pada ungkapan fihi). Untuk penjelasan mengenai ungkapan alegoris, “Kami tiupkan dari ruh Kami ke dalam dia”, yang banyak disalahpahami ini, lihat catatan no. 87 dalam Surah Al-Anbiya’ [21]: 91.

26 Mengenai makna dari “kata-kata” (kalimat) Allah, Iihat catatan no. 28 pada Surah Alu ‘lmran [3]: 39.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top