42. Asy-Syura (Musyawarah) – الشورى

Surat Asy-Syura dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Asy-Syura ( الشورى ) merupakan surat ke 42 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 53 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Asy-Syura tergolong Surat Makkiyah.

Bagian awal dan akhir surah ini menekankan realitas wahyu Ilahi, dan fakta bahwa semua nabi, sepanjang masa, mengajarkan kebenaran esensial yang satu dan sama—yaitu, keberadaan dan keesaan Allah—dan prinsip-prinsip etika yang sama: kesemua prinsip ini mewajibkan semua orang yang beriman kepada Allah Yang Maha Esa—apa pun “golongan agama” mereka secara historis—untuk menganggap diri mereka sebagai “umat yang satu” (lihat ayat 13 dan 15). Karena itu, semua spekulasi tentang “hakikat” Allah yang pasti akan menyebabkan perselisihan itu adalah “sia-sia dan hampa dalam pandangan Pemelihara mereka” (ayat 16), karena “tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya” (ayat 11) dan, karenanya, tiada sesuatu pun yang dapat digunakan untuk mendefinisikan-Nya. Dan, karena Allah tidak dapat didefinisikan dan mustahil dipahami, manusia bahkan tidak dapat menangkap hakikat sebenarnya dari perbuatan-Nya, di luar fakta bahwa Dia telah menetapkan hukum sebab dan akibat terhadap seluruh makhluk—sehingga dalam kehidupan akhirat, manusia hanya akan memetik hasil dari “apa yang telah diperbuat oleh tangannya sendiri” di dunia ini.

Kata kunci yang digunakan untuk menamai surah ini berasal dari frasa syura bainahum (“musyawarah di antara mereka”) dalam ayat 38, yang menggambarkan salah satu dari prinsip-prinsip sosial mendasar yang harus menjadi ciri suatu umat beriman yang sejati.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Asy-Syura Ayat 1

حم

ḥā mīm

1. Ha. Mim.


Surah Asy-Syura Ayat 2

عسق

‘Aīn sīn qāf

2. ‘Ain. Sin. Qaf.1


1 Lihat artikel Al-Muqatta’at (Huruf-Huruf Terpisah) dalam Al-Qur’an.


Surah Asy-Syura Ayat 3

كَذَٰلِكَ يُوحِي إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

każālika yụḥī ilaika wa ilallażīna ming qablikallāhul-‘azīzul-ḥakīm

3. DEMIKIANLAH Allah, Yang Mahaperkasa, Yang Mahabijaksana, telah mewahyukan [kebenaran] kepadamu, [wahai Muhammad,] dan kepada orang-orang yang telah mendahuluimu:2


2 Yakni, kebenaran-kebenaran dasar yang dikemukakan dalam wahyu Al-Quran—yang sebagian di antaranya dirangkum datam ayat di atas—adalah sama dengan yang telah diwahyukan kepada nabi-nabi terdahulu.


Surah Asy-Syura Ayat 4

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, wa huwal-‘aliyyul-‘aẓīm

4. Kepunyaan-Nya-lah segala yang ada di lelangit dan segala yang ada di muka bumi; dan Dia Mahatinggi, Mahaagung.


Surah Asy-Syura Ayat 5

تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْ فَوْقِهِنَّ ۚ وَالْمَلَائِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَنْ فِي الْأَرْضِ ۗ أَلَا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

takādus-samāwātu yatafaṭṭarna min fauqihinna wal-malā`ikatu yusabbiḥụna biḥamdi rabbihim wa yastagfirụna liman fil-arḍ, alā innallāha huwal-gafụrur-raḥīm

5. Lelangit yang paling tinggi nyaris hancur lebur [karena gentar-takjub kepada-Nya]; dan para malaikat bertasbih dan memuji kemualiaan Pemelihara mereka yang tak terhingga, dan memohon ampunan bagi semua yang ada di bumi.3

Oh, sungguh, hanya Allah Yang Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat!


3 Yakni, seluruh umat manusia (sebagaimana ditunjukkan oleh kata ganti man, yang selalu merujuk pada makhluk yang dianugerahi akal yang sadar). Implikasinya adalah bahwa sementara semua manusia—baik yang beriman maupun yang tidak beriman—dapat berbuat salah dan dosa, Allah “penuh ampunan terhadap manusia terlepas dari semua perbuatan zalim mereka” (Surah Ar-Ra’d [13]: 6). Lihat juga kalimat pertama Surah Yu nus [10]: 11 dan catatan no. 17 yang terkait.


Surah Asy-Syura Ayat 6

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ اللَّهُ حَفِيظٌ عَلَيْهِمْ وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِوَكِيلٍ

wallażīnattakhażụ min dụnihī auliyā`allāhu ḥafīẓun ‘alaihim wa mā anta ‘alaihim biwakīl

6. ADAPUN mengenai orang-orang yang menjadikan siapa pun di samping Dia sebagai pelindung mereka—Allah mengawasi mereka, dan engkau tidak bertanggung jawab atas perilaku mereka.


Surah Asy-Syura Ayat 7

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَىٰ وَمَنْ حَوْلَهَا وَتُنْذِرَ يَوْمَ الْجَمْعِ لَا رَيْبَ فِيهِ ۚ فَرِيقٌ فِي الْجَنَّةِ وَفَرِيقٌ فِي السَّعِيرِ

wa każālika auḥainā ilaika qur`ānan ‘arabiyyal litunżira ummal-qurā wa man ḥaulahā wa tunżira yaumal-jam’i lā raiba fīh, farīqun fil-jannati wa farīqun fis-sa’īr

7. [Engkau hanyalah diberi amanat dengan membawa pesan Kami, yakni:] dan demikianlah Kami telah mewahyukan kepadamu sebuah wacana dalam bahasa Arab4, agar engkau dapat memberi peringatan kepada kota yang paling utama di antara kota-kota lain dan semua yang tinggal di sekitarnya5—yakni, mengingatkan [mereka] akan Hari Berkumpul, yang [kedatangannya] sama sekali tak diragukan: [Hari ketika] sebagian orang akan mendapati diri mereka di surga, dan sebagian lagi dalam api yang berkobar.


4 Bdk. Surah Ibrahim [14]: 4—”Dan tidak pernah Kami mengutus seorang rasul pun melainkan [dengan pesan] dalam bahasa kaumnya sendiri”; lihat juga catatan no. 72 pada kalimat pertama Surah Ar-Ra’d [13]: 37.

5 Yakni, seluruh umat manusia (Al-Thabari, Al-Baghawi , Al-Razi). Tentang sebutan Makkah sebagai “kota yang paling utama di antara kota-kota lain”, lihat catatan no. 75 terhadap ungkapan yang sama dalam Surah Al-An’am [6]: 92.


Surah Asy-Syura Ayat 8

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَهُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ يُدْخِلُ مَنْ يَشَاءُ فِي رَحْمَتِهِ ۚ وَالظَّالِمُونَ مَا لَهُمْ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

walau syā`allāhu laja’alahum ummataw wāḥidataw wa lākiy yudkhilu may yasyā`u fī raḥmatih, waẓ-ẓālimụna mā lahum miw waliyyiw wa lā naṣīr

8. Adapun seandainya Allah menghendaki, Dia pasti dapat menjadikan mereka semua satu umat tunggal:6 namun, Dia memasukkan ke dalam rahmat-Nya orang yang ingin [untuk dimasukkan]7—sedangkan orang-orang zalim itu tidak memiliki seorang pun untuk melindungi dan menolong mereka [pada Hari Pengadilan].


6 Implikasinya adalah, “akan tetapi Dia tidak menghendakinya”: Iihat paragraf kedua Surah Al-Ma’idah [5]: 48 dan catatan no. 66 dan 67 yang terkait; Surah An-NahI [16]: 93 dan catatan no. 116; serta catatan no. 29 pada Surah Yunus [10]: 19.

7 Atau: “Dia memasukkan siapa pun yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya”—ini mirip dengan makna ganda yang terkandung dalam frasa yang sering diulang dalam Al-Quran, Allahu yahdi man yasya’u wa yudhillu man yasya’u, yang dapat dipahami sebagai “Allah memberi petunjuk kepada siapa pun yang Dia kehendaki dan membiarkan sesat siapa saja yang Dia kehendaki”, atau sebagai “Allah memberi petunjuk kepada orang yang ingin [diberi petunjuk] dan membiarkan sesat siapa pun yang ingin [sesat]”. Lihat, khususnya, komentar terperinci Al-Zamakhsyari terhadap masalah ini yang dikutip dalam catatan no. 4 pada paruh kedua ayat 4 Surah Ibrahim [14].


Surah Asy-Syura Ayat 9

أَمِ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۖ فَاللَّهُ هُوَ الْوَلِيُّ وَهُوَ يُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

amittakhażụ min dụnihī auliyā`, fallāhu huwal-waliyyu wa huwa yuḥyil-mautā wa huwa ‘alā kulli syai`ing qadīr

9. Apakah mereka, mungkin, [menyangka bahwa mereka dapat] memilih pelindung-pelindung selain Dia? Akan tetapi, hanya Allah-lah Pelindung [segala sesuatu], karena hanya Dia-lah yang menghidupkan yang mati, dan hanya Dia yang berkuasa menetapkan segala sesuatu.


Surah Asy-Syura Ayat 10

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبِّي عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

wa makhtalaftum fīhi min syai`in fa ḥukmuhū ilallāh, żālikumullāhu rabbī ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb

10. DAN, MENGENAI APA PUN yang mungkin kalian perselisihkan, [wahai orang-orang beriman,] keputusan tentangnya ada pada Allah.8

[Karena itu, katakanlah:] “Demikian itulah Allah, Pemeliharaku: kepada-Nya aku bersandar penuh percaya*, dan kepada-Nya aku selalu berpaling kembali.


8 Ini—yang berkaitan dengan kalimat pertama ayat 8 di atas—jelas-jelas berhubungan dengan masalah iman dan hukum agama (Al-Baghawi, Al-Zamakhsyari). Ayat di atas, bagi beberapa pakar Hukum Islam—di antaranya Ibn Hazm—menjadi salah satu argumen penting untuk menolak penarikan kesimpulan melalui analogi (qiyas) sebagai cara untuk “menetapkan” masalah-masalah hukum agama yang tidak dirumuskan dengan jelas dalam nash—yaitu, redaksi lahiriah (zhahir) dari kata/kalimat dalam Al-Quran dan, tentunya juga, perintah Nabi. Seperti ditunjukkan Al-Razi, inilah makna frasa “mengenai apa pun yang mungkin kalian perselisihkan, keputusan (hukm) tentangnya ada pada Allah”. (Dalam hal ini, lihat catatan no. 120 pada Surah Al-Ma’idah [5]: 101; juga bagian “The Scope of Islamic Law” [Ruang Lingkup Hukum Islam] dalam buku saya, State and Government, hh. 11-15.)

* {Yakni, bertawakal; in Him have I placed my trust.—peny.}


Surah Asy-Syura Ayat 11

فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

fāṭirus-samāwāti wal-arḍ, ja’ala lakum min anfusikum azwājaw wa minal-an’āmi azwājā, yażra`ukum fīh, laisa kamiṡlihī syaī`, wa huwas-samī’ul-baṣīr

11. [Dia-lah] Pencipta lelangit dan bumi. Dia telah memberikan kepada kalian pasangan dari jenis kalian sendiri9—persis sebagaimana [Dia telah menetapkan bahwa] di antara binatang [terdapat] pasangan-pasangan—agar dengan begitu kalian berkembang biak: [akan tetapi,] tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia sajalah Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.10


9 Lihat catatan no. 81 pada Surah An-Nahl [16]: 72.

10 Rujukan sebelumnya terhadap fungsi seks yang merupakan ketetapan Allah dan, dengan demikian, terhadap polaritas dan keberagaman yang tampak jelas pada seluruh makhluk hidup—baik pada manusia maupun binatang—dimaksudkan untuk menekankan pernyataan tentang keesaan dan keunikan mutlak Allah pada ayat di atas. Frasa “tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya” menunjukkan bahwa Dia pada dasarnya—dan bukan sekadar dalam sifat-sifat-Nya—”berbeda” dengan segala sesuatu yang ada atau mungkin ada, atau berbeda dengan segala sesuatu yang dapat dipahami, dibayangkan, atau didefinisikan oleh manusia (lihat catatan no. 88 pada Surah Al-An’am [6]: 100); dan karena “tidak ada apa pun yang dapat dibandingkan dengan-Nya” (Surah Al-Ikhlas [112]: 4), bahkan tentang “bagaimana berbedanya” Dia dengan segala sesuatu yang lain itu pun melampaui kategori pemikiran manusia.


Surah Asy-Syura Ayat 12

لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

lahụ maqālīdus-samāwāti wal-arḍ, yabsuṭur-rizqa limay yasyā`u wa yaqdir, innahụ bikulli syai`in ‘alīm

12. Kepunyaan-Nya-lah kunci-kunci lelangit dan bumi: Dia memberikan rezeki yang melimpah, atau memberikannya dalam jumlah yang sedikit, kepada siapa saja yang Dia kehendaki: sebab, perhatikanlah, Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.11


11 Yakni, Dia mengetahui tidak hanya apa yang “memang layak bagi” setiap manusia, tetapi juga mengetahui apa yang secara intrinsik—walau tidak selalu tampak jelas—memang baik dan diperlukan dalam konteks rencana penciptaan yang dilakukan-Nya. Selanjutnya, segala sesuatu adalah milik-Nya semata, dan manusia hanyalah diizinkan untuk memanfaatkan apa yang secara umum dianggap sebagai “hak milik”.


Surah Asy-Syura Ayat 13

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ ۖ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ ۚ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ ۚ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ

syara’a lakum minad-dīni mā waṣṣā bihī nụḥaw wallażī auḥainā ilaika wa mā waṣṣainā bihī ibrāhīma wa mụsā wa ‘īsā an aqīmud-dīna wa lā tatafarraqụ fīh, kabura ‘alal-musyrikīna mā tad’ụhum ilaīh, allāhu yajtabī ilaihi may yasyā`u wa yahdī ilaihi may yunīb

13. Dalam masalah iman,12 Dia telah menetapkan bagi kalian apa yang telah Dia perintahkan kepada Nuh—dan yang tentangnya telah Kami berikan pengetahuan kepadamu [wahai Muhammad] melalui wahyu13—sebagaimana apa yang telah Kami perintahkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, (yaitu): Tegakkanlah iman [yang sejati] dengan kukuh, dan janganlah kalian mencerai-beraikan kesatuan kalian dalam hal itu.14

[Dan, meskipun kesatuan iman] yang engkau serukan kepada mereka itu tampak amat berat bagi orang-orang yang biasa mempersekutukan Allah dengan wujud atau kekuatan lain, Allah menarik kepada-Nya siapa pun yang ingin, dan membimbing menuju diri-Nya siapa pun yang berpaling kepada-Nya.


12 Lihat paragraf pertama catatan no. 249 pada Surah Al-Baqarah [2]: 256. Karena, seperti ditunjukkan oleh rangkaian ayat itu, istilah din dalam konteks ini tidak dapat diartikan sebagai menunjuk pada “gama” (religion) dalam pengertiannya yang paling luas, termasuk hukum-hukum syariat—yang, secara kodrati, memang berbeda-beda dalam setiap agama yang datang silih berganti (bdk. catatan no. 66 pada Surah Al-Ma’idah [5]: 48)—di sini, kata itu jelas-jelas hanya berarti kandungan etis dan spiritual dari agama, yakni “keyakinan” (faith) dalam pengertiannya yang paling umum. Dengan ayat ini, wacana kembali ke tema yang disebutkan dalam permulaan surah, yaitu kesamaan prinsip-prinsip spiritual dan moral yang tidak berubah, yang mendasari semua agama wahyu.

13 Lit., “yang telah Kami wahyukan kepadamu”, yang mengisyaratkan bahwa hanya melalui wahyulah Nabi Muhammad Saw. kemudian mengetahui “apa yang telah Dia perintahkan kepada Nuh”.

14 Bdk. Surah Al-‘Imran [3]: 19—”satu-satunya agama [yang benar] dalam pandangan Allah adalah penyerahan-diri [manusia] kepada-Nya”; dan Surah Al-‘Imran [3]: 85—” jika seseorang mencari agama selain penyerahan-diri kepada Allah, hal itu tidak akan pernah diterima darinya”. Prinsip ini, yang diajarkan oleh semua nabi Allah, sejajar dengan pernyataan tegas dalam Surah Al-Anbiya’ [21]: 92 dan Al-Mu’minun [23]: 52—”Sungguh, [wahai kalian yang beriman pada-Ku,] umat kalian ini adalah umat yang satu, karena Aku adalah Pemelihara kalian semua”. Sebagian besar mufasir terkemuka (seperti, Al-Zamakhsyari, Al-Razi, Ibn Katsir) memahami ungkapan ini sebagai pernyataan yang tegas tentang kesatuan umum semua agama yang didasarkan pada kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, terlepas dari segala perbedaan yang berkaitan dengan “sejumlah ketentuan dan praktik [khusus] yang diperintahkan demi kebaikan berbagai umat sesuai dengan kondisi mereka [yang terikat waktu] (‘ala hasabi ahwaliha)”, sebagaimana dikemukakan Al- Zamakhsyari dalam tafsirnya atas ayat yang dibahas ini.


Surah Asy-Syura Ayat 14

وَمَا تَفَرَّقُوا إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۚ وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ ۚ وَإِنَّ الَّذِينَ أُورِثُوا الْكِتَابَ مِنْ بَعْدِهِمْ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مُرِيبٍ

wa mā tafarraqū illā mim ba’di mā jā`ahumul-‘ilmu bagyam bainahum, walau lā kalimatun sabaqat mir rabbika ilā ajalim musammal laquḍiya bainahum, wa innallażīna ụriṡul-kitāba mim ba’dihim lafī syakkim min-hu murīb

14. Dan [adapun para pengikut wahyu terdahulu,] mereka mencerai-beraikan kesatuan mereka, karena rasa saling dengki, hanya setelah mereka mulai mengetahui [kebenaran].15 Dan seandainya bukan karena suatu ketetapan yang telah dikeluarkan oleh Pemeliharamu, [dengan menunda semua keputusan] hingga suatu masa yang telah ditentukan [oleh-Nya], semua (persoalan) pasti telah diputuskan di antara mereka [sejak awal].16 Namun, perhatikan, kalangan yang telah mendapatkan warisan kitab Ilahi mereka dari orang-orang yang telah mendahului mereka17 [kini] berada dalam keraguan yang besar, yang tiada bedanya dengan kecurigaan, terhadap apa yang diisyaratkannya.18


15 Lit., “mereka tidak memutuskan kesatuan mereka hingga setefah pengetahuan datang kepada mereka”—yakni, pengetahuan bahwa Allah itu esa, dan bahwa ajaran-ajaran semua nabi-Nya pada dasarnya sama. Bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 213 dan, secara lebih eksplisit, Surah Al-Mu’minun [23]: 53, yang muncul segera setelah pernyataan bahwa “umat kalian ini adalah umat yang satu” (lihat juga catatan no. 30 pada Surah Al-Mu’minun [23]: 53).

16 Untuk penjelasan tentang pasase ini, lihat catatan no. 29 pada Surah Yunus [10]: 19.

17 Lit., “kalangan yang telah diwariskan kepada mereka kitab Ilahi sesudah mereka”: ini jelas merujuk pada Bibel dan para penganutnya di kemudian hari.

18 Lit., “tentangnya”—yaitu, ragu-ragu tentang apakah Kitab Suci itu benar-benar diwahyukan oleh Tuhan dan, akhirnya, tentang apakah konsep “wahyu Ilahi” itu sendiri memang benar.


Surah Asy-Syura Ayat 15

فَلِذَٰلِكَ فَادْعُ ۖ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ ۖ وَقُلْ آمَنْتُ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنْ كِتَابٍ ۖ وَأُمِرْتُ لِأَعْدِلَ بَيْنَكُمُ ۖ اللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ ۖ لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ ۖ لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ۖ اللَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

fa liżālika fad’, wastaqim kamā umirt, wa lā tattabi’ ahwā`ahum, wa qul āmantu bimā anzalallāhu ming kitāb, wa umirtu li`a’dila bainakum, allāhu rabbunā wa rabbukum, lanā a’mālunā wa lakum a’mālukum, lā ḥujjata bainanā wa bainakum, allāhu yajma’u bainanā, wa ilaihil-maṣīr

15. Karena itu, maka19 serulah [seluruh manusia], dan ikutilah jalan yang benar sebagaimana engkau telah diperintahkan [oleh Allah]; dan janganlah mengikuti selera mereka, tetapi katakanlah:

“Aku beriman kepada wahyu mana pun yang telah Allah turunkan; dan aku diperintahkan untuk menciptakan keadilan dalam pandangan-pandangan kalian terhadap satu sama lain.20 Allah adalah Pemelihara kami dan Pemelihara kalian. Bagi kami akan diperhitungkan perbuatan kami, dan bagi kalian, perbuatan kalian. Hendaknya tidak ada pertikaian antara kami dan kalian: Allah akan mengumpulkan kita semua bersama-sama—sebab, pada-Nya-lah akhir semua perjalanan.


19 Yakni, karena penyimpangan terhadap kesatuan iman manusia kepada Tuhan Yang Esa ini, yang dahulunya dianut manusia.

20 Lit., “di antara kalian”—yakni, “mendorong kalian agar menjadi lebih toleran satu sama lain”: ini jelas mengacu pada kebencian yang menghalangi terciptanya pemahaman di antara berbagai sekte dan mazhab pemikiran dalam semua agama wahyu.


Surah Asy-Syura Ayat 16

وَالَّذِينَ يُحَاجُّونَ فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا اسْتُجِيبَ لَهُ حُجَّتُهُمْ دَاحِضَةٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ

wallażīna yuḥājjụna fillāhi mim ba’di mastujība lahụ ḥujjatuhum dāḥiḍatun ‘inda rabbihim wa ‘alaihim gaḍabuw wa lahum ‘ażābun syadīd

16. Dan adapun orang-orang yang [masih] ingin berdebat tentang Allah21 sesudah Dia telah diakui [oleh mereka]—semua argumen mereka sia-sia dan hampa dalam pandangan Pemelihara mereka, dan kutukan[-Nya] akan jatuh ke atas mereka, dan bagi mereka ada derita yang pedih:


21 Yakni, tentang sifat-sifat-Nya dan “bagaimana” Wujud-Nya, yang semuanya berada di luar jangkauan akal manusia.


Surah Asy-Syura Ayat 17

اللَّهُ الَّذِي أَنْزَلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ وَالْمِيزَانَ ۗ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ قَرِيبٌ

allāhullażī anzalal-kitāba bil-ḥaqqi wal mīzān, wa mā yudrīka la’allas-sā’ata qarīb

17. [karena] Allah [sendirilah] yang telah menurunkan wahyu, yang menyatakan kebenaran, dan [dengan demikian, telah memberikan kepada manusia] neraca [untuk menimbang antara yang benar dan yang salah].22

Dan, engkau tidak tahu, Saat Terakhir itu boleh jadi sudah dekat!


22 Dua sisipan di atas didasarkan pada Surah Al-Hadid [57]: 25, tempat gagasan yang mendasari ayat ini telah dinyatakan dengan jelas. Implikasinya adalah bahwa karena Allah sendiri telah memberikan kepada manusia, melalui wahyu yang silih berganti, standar untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, maka memperdebatkan hakikat Wujud-Nya dan keputusan terakhir-Nya merupakan hal yang lancang dan sia-sia; itulah alasan disebutkannya Saat Terakhir dan, dengan demikian, Hari Pengadilan, dalam paruh kedua ayat ini dan dalam ayat berikutnya.


Surah Asy-Syura Ayat 18

يَسْتَعْجِلُ بِهَا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِهَا ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا مُشْفِقُونَ مِنْهَا وَيَعْلَمُونَ أَنَّهَا الْحَقُّ ۗ أَلَا إِنَّ الَّذِينَ يُمَارُونَ فِي السَّاعَةِ لَفِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ

yasta’jilu bihallażīna lā yu`minụna bihā, wallażīna āmanụ musyfiqụna min-hā wa ya’lamụna annahal-ḥaqq, alā innallażīna yumārụna fis-sā’ati lafī ḍalālim ba’īd

18. Orang-orang yang tidak beriman kepada Saat Terakhir itu [dengan nada mengejek] memohon kedatangannya segera23—sedangkan orang yang telah meraih iman merasa gentar terhadapnya, dan mengetahui hal itu adalah benar.

Oh, sungguh, orang-orang yang mempertanyakan Saat Terakhir itu benar-benar telah tersesat jauh!


23 Ini bukan sekadar rujukan terhadap tuntutan sarkastik para penentang Nabi (yang disebutkan beberapa kali dalam Al-Quran) agar mendatangkan “hukuman dengan segera” ke atas mereka untuk membuktikan kedudukannya sebagai rasul Allah, melainkan juga merupakan rujukan tak langsung terhadap orang-orang tidak beriman sepanjang masa yang, tanpa memiliki “bukti” apa pun, menolak tegas gagasan tentang Kebangkitan dan Pengadilan Akhir.


Surah Asy-Syura Ayat 19

اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ

allāhu laṭīfum bi’ibādihī yarzuqu may yasyā`, wa huwal-qawiyyul-‘azīz

19. ALLAH Mahabaik terhadap makhluk-makhluk-Nya: Dia memberi rezeki kepada siapa pun yang Dia kehendaki—sebab, hanya Dia-lah Yang Mahadigdaya, Mahaperkasa.


Surah Asy-Syura Ayat 20

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

mang kāna yurīdu ḥarṡal-ākhirati nazid lahụ fī ḥarṡih, wa mang kāna yurīdu ḥarṡad-dun-yā nu`tihī min-hā wa mā lahụ fil-ākhirati min naṣīb

20. Bagi orang yang menginginkan panen dalam kehidupan akhirat mendatang, Kami akan anugerahkan tambahan dalam panennya; sedangkan bagi orang yang [hanya] menginginkan panen di dunia ini, Kami [dapat] memberi sebagian darinya—akan tetapi, dia tidak memiliki bagian apa pun dalam [nikmat-nikmat] kehidupan akhirat mendatang.24


24 Yakni, orang-orang yang menjalani hidup yang saleh dan mengarahkan usaha kerasnya menuju tujuan-tujuan spiritual pasti akan menerima, di akhirat, lebih daripada apa yang mereka harapkan; sedangkan, orang-orang yang semata-mata mengejar imbalan duniawi saja mungkin (tetapi belum tentu akan) meraih sebagian (dan belum tentu semuanya) dari tujuan-tujuan mereka, tanpa memiliki alasan apa pun untuk mengharapkan “bagian dalam nikmat-nikmat” yang menanti orang-orang saleh di akhirat kelak.


Surah Asy-Syura Ayat 21

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ ۚ وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ ۗ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

am lahum syurakā`u syara’ụ lahum minad-dīni mā lam ya`żam bihillāh, walau lā kalimatul-faṣli laquḍiya bainahum, wa innaẓ-ẓālimīna lahum ‘ażābun alīm

21. Apakah karena mereka [yang hanya peduli terhadap dunia ini] percaya kepada kekuatan-kekuatan yang diduga berserikat dalam ketuhanan Allah,25 yang menetapkan bagi mereka, sebagai hukum moral, sesuatu yang tidak pernah Allah perkenankan?26

Adapun seandainya bukan karena ketetapan [Allah] mengenai penilaian akhir,27 semuanya pasti telah diputuskan di antara mereka [di dunia ini]:28 namun, sungguh, penderitaan yang pedih [dalam kehidupan akhirat] menanti orang-orang zalim.


25 Lit., “Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu [Allah]”—yakni, “apakah mereka percaya bahwa fenomena sesaat, seperti kekayaan, kekuasaan, ‘keberuntungan’, dan lain-lain, mengandung sesuatu yang bersifat Ilahi pada dirinya?”; implikasinya adalah bahwa kepercayaan terhadap “kekuatan-kekuatan” seperti itu biasanya menjadi akar dari tindakan manusia yang semata-mata memburu tujuan-tujuan duniawi. (Mengenai penerjemahan saya atas istilah syuraka’—lit., “partner” [sekutu] atau “sekutu” [Allah]—di atas, lihat catatan no. 15 pada Surah Al-An’am [6]: 22.)

26 Yakni, yang menyebabkan mereka menyerahkan diri dengan semangat yang menyerupai semangat keagamaan kepada sesuatu yang dicela Allah—yakni, mengejar tujuan-tujuan materialistis semata dan mengabaikan semua nilai spiritual dan etika. Mengenai penerjemahan saya atas din, dalam konteks ini, menjadi “hukum moral”, lihat catatan no. 3 pada Surah Al-Kafirun [109]: 6.

27 Lit., “kata putus” (kalimat al-fashl), yakni, bahwa penilaian akhir-Nya akan ditangguhkan hingga Hari Kebangkitan (lihat catatan berikutnya).

28 Yakni, Allah akan membuat pembedaan yang tegas, di dunia ini, antara orang-orang yang mengharapkan akhirat dan orang-orang yang hanya peduli pada kesuksesan duniawi, dengan menganugerahkan kebahagiaan tak terbatas kepada kelompok pertama dan menjadikan kelompok kedua menderita: akan tetapi, karena hanya di akhiratlah kehidupan manusia benar-benar akan terpenuhi, Allah telah menetapkan untuk menunda pembedaan ini sampai Hari Kemudian.


Surah Asy-Syura Ayat 22

تَرَى الظَّالِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا كَسَبُوا وَهُوَ وَاقِعٌ بِهِمْ ۗ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فِي رَوْضَاتِ الْجَنَّاتِ ۖ لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

taraẓ-ẓālimīna musyfiqīna mimmā kasabụ wa huwa wāqi’um bihim, wallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti fī rauḍātil-jannāt, lahum mā yasyā`ụna ‘inda rabbihim, żālika huwal-faḍlul-kabīr

22. [Dalam kehidupan akhirat itu,] engkau akan melihat orang-orang zalim itu dipenuhi ketakutan karena [memikirkan] apa yang telah mereka perbuat: sebab, [kini] perbuatan itu pasti balik menimpa mereka.

Dan, di padang-padang rumput yang berbunga dari taman-taman [surga, engkau akan melihat] orang-orang yang telah meraih iman dan melakukan perbuatan-perbuatan kebajikan: segala yang mungkin mereka inginkan akan mereka peroleh pada Pemelihara mereka: [dan] ini, inilah karunia yang besar—


Surah Asy-Syura Ayat 23

ذَٰلِكَ الَّذِي يُبَشِّرُ اللَّهُ عِبَادَهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ۗ قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ ۗ وَمَنْ يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْنًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ

żālikallażī yubasysyirullāhu ‘ibādahullażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāt, qul lā as`alukum ‘alaihi ajran illal-mawaddata fil-qurbā, wa may yaqtarif ḥasanatan nazid lahụ fīhā ḥusnā, innallāha gafụrun syakụr

23. itulah [karunia] yang dengannya Allah memberikan kabar gembira kepada hamba-hamba-Nya yang telah meraih iman dan berbuat kebajikan.

Katakanlah [wahai Nabi]: “Aku tiada meminta imbalan dari kalian untuk [pesan] ini selain [bahwa kalian harus] mencintai sesama manusia.”29

Karena, jika seseorang memperoleh [manfaat dari] perbuatan baik, Kami akan memberikan kepadanya melalui perbuatan itu tambahan kebaikan: dan, sungguh, Allah Maha Pengampun, selalu menyambut rasa syukur.


29 Lit., “cinta terhadap orang-orang yang dekat (al-qurba)”. Sebagian mufasir mengartikan ungkapan ini dengan “orang-orang yang dekat denganku“, yaitu kerabat Nabi Muhammad Saw.: akan tetapi, selain keberatan bahwa tuntutan “pribadi” semacam itu akan bertentangan dengan penegasan sebelumnya, “Aku tiada meminta imbalan dari kalian”, fakta bahwa kata ganti kepunyaan dalam kata al-qurba memang sengaja tidak disebutkan menunjukkan bahwa ungkapan tersebut tidak terbatas pada hubungan pribadi apa pun, tetapi, sebaliknya, mengacu pada suatu hubungan umum dengan semua manusia: yaitu, persahabatan antar-sesama manusia—suatu konsep yang mengisyaratkan postulat etis yang mendasar agar saling peduli terhadap kesejahteraan materiel dan spiritual sesama.


Surah Asy-Syura Ayat 24

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا ۖ فَإِنْ يَشَإِ اللَّهُ يَخْتِمْ عَلَىٰ قَلْبِكَ ۗ وَيَمْحُ اللَّهُ الْبَاطِلَ وَيُحِقُّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

am yaqụlụnaftarā ‘alallāhi każibā, fa iy yasya`illāhu yakhtim ‘alā qalbik, wa yam-ḥullāhul-bāṭila wa yuḥiqqul-ḥaqqa bikalimātih, innahụ ‘alīmum biżātiṣ-ṣudụr

24. APAKAH MEREKA, mungkin, berkata, “[Muhammad] telah menisbahkan rekaan-rekaan dustanya sendiri kepada Allah?”

Namun kemudian, seandainya Allah menghendaki, Dia pasti dapat menutup hatimu [selamanya]: sebab, Allah menghapuskan segala kebatilan, dan dengan kalam-kalam-Nya membuktikan bahwa yang benar adalah benar.30

Sungguh, Dia Maha Mengetahui apa yang ada di dalam hati [manusia];


30 Lihat catatan no. 103 pada Surah Yunus [10]: 82.


Surah Asy-Syura Ayat 25

وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ

wa huwallażī yaqbalut-taubata ‘an ‘ibādihī wa ya’fụ ‘anis-sayyi`āti wa ya’lamu mā taf’alụn

25. dan Dia-lah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya, dan memaafkan perbuatan-perbuatan buruk, dan mengetahui segala yang kalian kerjakan,


Surah Asy-Syura Ayat 26

وَيَسْتَجِيبُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَيَزِيدُهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۚ وَالْكَافِرُونَ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ

wa yastajībullażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti wa yazīduhum min faḍlih, wal-kāfirụna lahum ‘ażābun syadīd

26. dan menanggapi semua orang yang telah meraih iman dan berbuat kebajikan; dan [Dia-lah yang, dalam kehidupan akhirat mendatang,] akan memberikan kepada mereka, berkat karunia-Nya, jauh lebih banyak [daripada yang patut mereka terima], sedangkan bagi para pengingkar kebenaran [hanya] tersedia derita yang dahsyat.


Surah Asy-Syura Ayat 27

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

walau basaṭallāhur-rizqa li’ibādihī labagau fil-arḍi wa lākiy yunazzilu biqadarim mā yasyā`, innahụ bi’ibādihī khabīrum baṣīr

27. Karena, sekiranya Allah memberikan [di dunia ini] rezeki yang melimpah kepada [semua] hamba-Nya, mereka akan berperilaku angkuh dan melampaui batas di muka bumi:31 namun demikianlah, Allah menurunkan [rahmat-Nya] menurut ukuran yang semestinya, sebagaimana yang Dia kehendaki: sebab, sungguh, Dia Maha Mengetahui [kebutuhan] makhluk-makhluk-Nya dan Maha Melihat mereka semua.


31 Pasase ini berkaitan dengan, dan menguraikan, pernyataan dalam ayat sebelumnya bahwa Allah “menanggapi semua orang yang telah meraih iman dan berbuat kebajikan”—suatu pernyataan yang sepintas tampak bertentangan dengan fakta bahwa sementara banyak pendosa hidup lebih makmur dan bahagia, banyak orang saleh ditimpa kesedihan dan derita. Sebagai jawaban terhadap keberatan ini, ayat di atas secara eliptis menunjuk pada sifat bawaan manusia berupa “keserakahan untuk selalu memperoleh lebih banyak” (lihat Surah At-Takatsur [102]: 1), yang sering menyebabkan manusia “menjadi benar-benar melampaui batas, manakala dia menganggap dirinya sendiri serbacukup” (Surah Al-‘Alaq [96]: 6-7). Untuk mengimbangi kecenderungan ini, Al-Quran terus menerus menekankan bahwa “tanggapan” Allah terhadap orang-orang saleh—juga terhadap orang-orang zalim—akan menjadi nyata sepenuhnya dalam kehidupan akhirat, dan tidak mesti dalam dunia ini yang, bagaimanapun, hanyalah merupakan tahap pertama keberadaan manusia yang singkat ini.


Surah Asy-Syura Ayat 28

وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ ۚ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ

wa huwallażī yunazzilul-gaiṡa mim ba’di mā qanaṭụ wa yansyuru raḥmatah, wa huwal-waliyyul-ḥamīd

28. Dan, Dia-lah yang menurunkan hujan sesudah [manusia] kehilangan segala harapan dan membentangkan rahmat-Nya [melalui hujan tersebut]:32 sebab, Dia sajalah Pelindung [mereka], Yang Maha Terpuji.


32 Penyebutan hujan sebagai simbol pemberi kehidupan ini berkaitan dengan pernyataan sebelumnya. bahwa “Allah menurunkan [rahmat-Nya] menurut ukuran yang semestinya, sebagaimana yang Dia kehendaki”, dan merupakan pendahuluan, demikianlah kira-kira, bagi pernyataan dalam ayat berikutnya bahwa semua ciptaan tidak lain hanyalah merupakan “tanda” kasatmata atau “pengungkapan” eksistensi Allah dan perbuatan-Nya yang memiliki hikmah, serta menunjukkan adanya kelangsungan hidup di akhirat yang merupakan ketetapan Allah.


Surah Asy-Syura Ayat 29

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَثَّ فِيهِمَا مِنْ دَابَّةٍ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ جَمْعِهِمْ إِذَا يَشَاءُ قَدِيرٌ

wa min āyātihī khalqus-samāwāti wal-arḍi wa mā baṡṡa fīhimā min dābbah, wa huwa ‘alā jam’ihim iżā yasyā`u qadīr

29. Dan, di antara tanda-tanda-Nya adalah penciptaan lelangit dan bumi [itu sendiri], dan (penciptaan) seluruh makhluk hidup yang Dia jadikan berkembang biak seluas lelangit dan bumi:33 dan [karena Dia telah menciptakan mereka,] Dia [juga] berkuasa mengumpulkan mereka [menuju Diri-Nya] kapan pun Dia menghendaki.


33 Lit., “dalam keduanya”. Dalam Al-Quran, ungkapan “lelangit dan bumi” selalu menunjukkan alam semesta secara keseluruhan.


Surah Asy-Syura Ayat 30

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

wa mā aṣābakum mim muṣībatin fa bimā kasabat aidīkum wa ya’fụ ‘ang kaṡīr

30. Adapun musibah apa saja yang mungkin menimpa kalian [pada Hari Pengadilan] akan merupakan hasil dari perbuatan tangan kalian sendiri,34 meskipun Dia banyak memaafkan;


34 Frasa yang berulang-ulang muncul ini merupakan metonimia qurani bagi perbuatan-perbuatan dan sikap sadar manusia di dunia ini. Ia dimaksudkan untuk menunjukkan fakta bahwa perbuatan atau sikap itu merupakan “hasil panen” dari karakter spiritual seseorang dan, karenanya, memiliki pengaruh yang pasti terhadap taraf hidupnya di akhirat. Karena kehidupan akhirat tidak lain hanyalah merupakan keberlanjutan alamiah dari kehidupan duniawi, pertumbuhan dan kebahagiaan spiritual manusia yang terjadi selanjutnya atau, sebaliknya, kegelapan dan penderitaan spiritualnya—yang secara simbolik digambarkan sebagai “pahala” dan “derita” (azab-hukuman) Allah, atau “surga” dan “neraka”—bergantung pada, dan merupakan akibat dari, apa yang telah “diperbuat” seseorang sebelumnya.


Surah Asy-Syura Ayat 31

وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ فِي الْأَرْضِ ۖ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

wa mā antum bimu’jizīna fil-arḍ, wa mā lakum min dụnillāhi miw waliyyiw wa lā naṣīr

31. dan kalian tidak dapat mengelak dari-Nya di muka bumi, dan kalian tidak memiliki siapa pun untuk melindungi kalian dari Allah [dalam kehidupan akhirat mendatang], dan tiada seorang pun yang memberi kalian pertolongan.


Surah Asy-Syura Ayat 32

وَمِنْ آيَاتِهِ الْجَوَارِ فِي الْبَحْرِ كَالْأَعْلَامِ

wa min āyātihil-jawāri fil-baḥri kal-a’lām

32. Dan, di antara tanda-tanda-Nya35 adalah bahtera-bahtera yang berlayar membelah lautan bagaikan gunung-gunung [yang mengapung]:


35 Sebagaimana terlihat jelas dari rangkaian kalimatnya, dalam hal ini istilah ayah (lit., “tanda” atau “pesan [Ilahi]”) digunakan dalam pengertian “perumpamaan”. (Lihat catatan berikutnya.)


Surah Asy-Syura Ayat 33

إِنْ يَشَأْ يُسْكِنِ الرِّيحَ فَيَظْلَلْنَ رَوَاكِدَ عَلَىٰ ظَهْرِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

iy yasya` yuskinir-rīḥa fa yaẓlalna rawākida ‘alā ẓahrih, inna fī żālika la`āyātil likulli ṣabbārin syakụr

33. jika Dia menghendaki, Dia menenangkan angin, maka jadilah bahtera-bahtera itu tak bergerak di atas permukaan laut—[dan,] dalam yang demikian ini, perhatikanlah, benar-benar terdapat pesan-pesan bagi semua orang yang sepenuhnya sabar dalam menghadapi kesusahan, dan yang amat dalam rasa syukurnya [kepada Allah];


Surah Asy-Syura Ayat 34

أَوْ يُوبِقْهُنَّ بِمَا كَسَبُوا وَيَعْفُ عَنْ كَثِيرٍ

au yụbiq-hunna bimā kasabụ wa ya’fu ‘ang kaṡīr

34. kalau tidak, Dia dapat menyebabkan mereka binasa karena apa yang telah mereka perbuat;36 dan [meskipun demikian,] Dia banyak memaafkan.


36 Yakni, karena kejahatan yang telah mereka lakukan. Menurut saya, pasase di atas secara majasi berbicara tentang tiga alternatif yang mungkin terjadi dalam kehidupan akhirat: yakni, kemajuan dan kebahagiaan spiritual (yang dilambangkan dengan kapal yang berlayar bebas di lautan); kemandekan spiritual (kapal-kapal yang tak bergerak di atas permukaan laut); serta petaka dan derita spiritual (yang terangkum dalam konsep “kebinasaan”). Alternatif kedua ini tampaknya merujuk pada kondisi orang-orang yang berada ‘ala al-a’raf yang dibicarakan dalam Surah Al-A’raf [7]: 46 dan seterusnya, dan dijelaskan dalam catatan no. 37 yang terkait.


Surah Asy-Syura Ayat 35

وَيَعْلَمَ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِنَا مَا لَهُمْ مِنْ مَحِيصٍ

wa ya’lamallażīna yujādilụna fī āyātinā, mā lahum mim maḥīṣ

35. Dan, biarlah mereka mengetahui, orang-orang yang mempertanyakan pesan-pesan Kami,37 bahwa bagi mereka tidak ada jalan untuk melarikan diri.


37 Untuk penerjemahan yujadilun ini, lihat catatan no. 25 pada Surah Ghafir [40]: 35.


Surah Asy-Syura Ayat 36

فَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ لِلَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

fa mā ụtītum min syai`in fa matā’ul-ḥayātid-dun-yā, wa mā ‘indallāhi khairuw wa abqā lillażīna āmanụ wa ‘alā rabbihim yatawakkalụn

36. DAN, [ingatlah bahwa] apa pun yang diberikan kepada kalian [sekarang] tidak lain hanyalah kesenangan hidup [sepintas saja] di dunia ini—sedangkan yang ada di sisi Allah jauh lebih baik dan lebih kekal.

[Itu akan diberikan] kepada semua orang yang meraih iman dan yang kepada Pemeliharanya mereka bersandar penuh percaya;*


* {yakni, bertawakal kepada Pemelihara mereka}


Surah Asy-Syura Ayat 37

وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ

wallażīna yajtanibụna kabā`iral-iṡmi wal-fawāḥisya wa iżā mā gaḍibụ hum yagfirụn

37. dan orang-orang yang menjauhkan diri dari dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji; dan orang-orang yang, apabila mereka tergerak marah, segera memaafkan;


Surah Asy-Syura Ayat 38

وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

wallażīnastajābụ lirabbihim wa aqāmuṣ-ṣalāta wa amruhum syụrā bainahum wa mimmā razaqnāhum yunfiqụn

38. dan orang-orang yang menjawab [seruan] Pemelihara mereka dan teguh mendirikan shalat**; dan orang-orang yang aturannya [dalam semua urusan yang menyangkut kepentingan bersama] adalah musyawarah di antara mereka;38 dan orang-orang yang menafkahkan untuk orang lain sebagian dari rezeki yang telah Kami anugerahkan kepada mereka;39


** {aqamush-shalata: constant in prayer}

38 Persyaratan khusus yang menjadi karakteristik orang beriman sejati ini—yang oleh para Sahabat Nabi dipandang begitu penting sehingga mereka selalu menyebut surah ini dengan kata kunci “musyawarah” (syura)—memiliki maksud ganda: pertama, ia dimaksudkan untuk mengingatkan semua pengikut Al-Quran bahwa mereka harus tetap bersatu dalam umat yang tunggal; dan kedua, ia menetapkan prinsip bahwa semua urusan kemasyarakatan mereka harus ditransaksikan dengan saling bermusyawarah. (Mengenai implikasi politis prinsip ini, lihat State and Government, hh. 44 dan seterusnya)

39 Lihat catatan no. 4 pada Surah Al-Baqarah [2]: 3. Di sini, “menafkahkan untuk orang lain”—yang disebutkan segera setelah seruan terhadap kesatuan masyarakat dan musyawarah—mengandung makna umum, yakni keadilan sosial.


Surah Asy-Syura Ayat 39

وَالَّذِينَ إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَغْيُ هُمْ يَنْتَصِرُونَ

wallażīna iżā aṣābahumul-bagyu hum yantaṣirụn

39. dan orang-orang yang, apabila kezaliman menimpa mereka, mereka membela diri.


Surah Asy-Syura Ayat 40

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

wa jazā`u sayyi`atin sayyi`atum miṡluhā, fa man ‘afā wa aṣlaḥa fa ajruhụ ‘alallāh, innahụ lā yuḥibbuẓ-ẓālimīn

40. Namun, [ingatlah bahwa upaya untuk] membalas kejahatan dapat menjadi kejahatan pula:40 karena itu, siapa saja yang memaafkan [musuhnya] dan melakukan perdamaian, balasannya ada di sisi Allah—sebab, sungguh, Dia tidak mencintai orang-orang yang berbuat zalim.41


40 Lit., “adalah [atau ‘boleh jadi’] suatu kejahatan yang serupa dengannya”. Dengan kata lain, perjuangan melawan tirani (yakni, terjemahan dari kata baghy yang terdapat dalam kalimat terakhir ayat sebelumnya) sering cenderung merosot menjadi sikap tiranik serupa terhadap para penindas sebelumnya. Karena itu, sebagian besar mufasir klasik (seperti, Al-Baghawi, Al-Zamakhsyari, Al-Razi, Al-Baidhawi) menekankan larangan mutlak terhadap “tindakan melampaui yang hak” (i’tida’) ketika membela diri terhadap tirani dan penindasan. (Bdk. pasase yang berkaitan dengan perang melawan “mereka yang memerangi kalian” dalam Surah Al-Baqarah [2]: 190 dan seterusnya.)

41 Yakni, dalam konteks ini, misalnya tergoda mengikuti hawa nafsu dalam tindakan balas dendam yang tidak semestinya terhadap para penindas mereka sebelumnya.


Surah Asy-Syura Ayat 41

وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُولَٰئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيلٍ

wa lamanintaṣara ba’da ẓulmihī fa ulā`ika mā ‘alaihim min sabīl

41. Namun, sungguh, siapa saja yang membela diri setelah dianiaya—tidak ada kesalahan apa pun yang mengenai mereka:


Surah Asy-Syura Ayat 42

إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

innamas-sabīlu ‘alallażīna yaẓlimụnan-nāsa wa yabgụna fil-arḍi bigairil-ḥaqq, ulā`ika lahum ‘ażābun alīm

42. kesalahan hanyalah pada orang-orang yang menindas orang [lain] dan berperilaku melampaui batas di muka bumi, dengan melanggar segala (nilai) kebenaran: bagi mereka tersedia penderitaan yang pedih!


Surah Asy-Syura Ayat 43

وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

wa laman ṣabara wa gafara inna żālika lamin ‘azmil-umụr

43. Walaupun begitu, jika seseorang bersabar dalam menghadapi kesusahan dan memaafkan—yang demikian itu, perhatikanlah, benar-benar adalah sesuatu yang hendaknya dicita-citakan oleh seseorang.42


42 Bdk. Surah Fussilat [41]: 34-35, serta catatan no. 44 pada Surah Ar-Ra’d [13]: 22.


Surah Asy-Syura Ayat 44

وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ وَلِيٍّ مِنْ بَعْدِهِ ۗ وَتَرَى الظَّالِمِينَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ يَقُولُونَ هَلْ إِلَىٰ مَرَدٍّ مِنْ سَبِيلٍ

wa may yuḍlilillāhu fa mā lahụ miw waliyyim mim ba’dih, wa taraẓ-ẓālimīna lammā ra`awul-‘ażāba yaqụlụna hal ilā maraddim min sabīl

44. DAN [demikianlah] orang yang Allah biarkan tersesat43 sama sekali tidak memiliki pelindung sesudah itu: maka engkau akan melihat orang-orang yang zalim44 semacam itu [pada Hari Pengadilan, dan akan mendengar bagaimana] mereka berseru segera setelah mereka melihat penderitaan [yang menanti mereka], “Adakah jalan kembali?”45


43 Lihat catatan no. 4 pada Surah Ibrahim [14]: 4.

44 Meskipun pada dasarnya ini merupakan suatu rujukan kepada “orang-orang yang menindas orang [lain] dan berperilaku melampaui batas di muka bumi, dengan melanggar segala (nilai) kebenaran” (ayat 42 sebelumnya), arti istilah ini bersifat umum dan berlaku bagi segala macam orang yang melakukan dosa dengan sengaja.

45 Yakni, “kesempatan yang kedua” di dunia: bdk. Surah Al-An’am [6]: 27-28.


Surah Asy-Syura Ayat 45

وَتَرَاهُمْ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا خَاشِعِينَ مِنَ الذُّلِّ يَنْظُرُونَ مِنْ طَرْفٍ خَفِيٍّ ۗ وَقَالَ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ أَلَا إِنَّ الظَّالِمِينَ فِي عَذَابٍ مُقِيمٍ

wa tarāhum yu’raḍụna ‘alaihā khāsyi’īna minaż-żulli yanẓurụna min ṭarfin khafiyy, wa qālallażīna āmanū innal-khāsirīnallażīna khasirū anfusahum wa ahlīhim yaumal-qiyāmah, alā innaẓ-ẓālimīna fī ‘ażābim muqīm

45. Dan, engkau akan melihat mereka dihadapkan kepada [malapetaka] itu (dalam keadaan) merendahkan diri dalam kehinaan, melihat [sekitar] dengan pandangan sembunyi-sembunyi—sedangkan orang-orang yang telah meraih iman akan berkata, “Sungguh, merugilah pada Hari Kebangkitan [ini] orang-orang yang menyia-nyiakan diri mereka sendiri dan pengikutnya!”46

Oh, sungguh, orang-orang yang zalim itu akan jatuh ke dalam penderitaan yang amat lama,


46 Kata ahl pada dasarnya berarti “penduduk” suatu kota, negeri, atau anggota keluarga, serta “sesama anggota” dari satu ras, agama, profesi, dan lain sebagainya. Dalam pengertian ideologisnya yang lebih luas, istilah ini dilekatkan pada orang-orang yang memiliki karakteristik tertentu yang sama, seperti ahl al-‘ilm (“orang-orang yang berpengetahuan”, yakni para ulama), atau orang-orang yang mengikuti kepercayaan atau keyakinan yang satu dan sama, seperti ahlal-kitab (“para pengikut wahyu [terdahulu]”), ahl al-Qur’an (“para pengikut Al-Quran”), dan lain-lain. Karena, seperti ditunjukkan dalam catatan no. 44, pasase di atas pada dasarnya merujuk—walau tidak secara khusus—pada para tiran dan penindas yang dibicarakan dalam ayat 42, istilah ahluhum jelas berarti “para pengikut mereka”. Dengan demikian, kalimat di atas menunjukkan bahwa setiap jenis kezaliman (zhulm), dan khususnya penindasan terhadap orang lain, selalu menimbulkan kerugian spiritual, dan akhirnya kehancuran-diri, pada para pelakunya dan/atau para pengikutnya.


Surah Asy-Syura Ayat 46

وَمَا كَانَ لَهُمْ مِنْ أَوْلِيَاءَ يَنْصُرُونَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ سَبِيلٍ

wa mā kāna lahum min auliyā`a yanṣurụnahum min dụnillāh, wa may yuḍlilillāhu fa mā lahụ min sabīl

46. dan sama sekali tidak mempunyai pelindung yang dapat menolong mereka menghadapi Allah: sebab, orang yang Allah biarkan tersesat tidak akan menemukan jalan [untuk melarikan diri].


Surah Asy-Syura Ayat 47

اسْتَجِيبُوا لِرَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا مَرَدَّ لَهُ مِنَ اللَّهِ ۚ مَا لَكُمْ مِنْ مَلْجَإٍ يَوْمَئِذٍ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَكِيرٍ

istajībụ lirabbikum ming qabli ay ya`tiya yaumul lā maradda lahụ minallāh, mā lakum mim malja`iy yauma`iżiw wa mā lakum min nakīr

47. [Karena itu, wahai manusia,] tanggapilah Pemelihara kalian sebelum datang, atas perintah Allah,47 suatu Hari yang saat itu tidak akan ada jalan kembali: [sebab,] pada Hari itu, kalian tidak akan memiliki tempat berlindung, dan tidak pula kalian akan mampu mengingkari apa pun [kesalahan yang telah kalian perbuat].


47 Lit., “dari Allah”.


Surah Asy-Syura Ayat 48

فَإِنْ أَعْرَضُوا فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا ۖ إِنْ عَلَيْكَ إِلَّا الْبَلَاغُ ۗ وَإِنَّا إِذَا أَذَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً فَرِحَ بِهَا ۖ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ فَإِنَّ الْإِنْسَانَ كَفُورٌ

fa in a’raḍụ fa mā arsalnāka ‘alaihim ḥafīẓā, in ‘alaika illal-balāg, wa innā iżā ażaqnal-insāna minnā raḥmatan fariḥa bihā, wa in tuṣib-hum sayyi`atum bimā qaddamat aidīhim fa innal-insāna kafụr

48. NAMUN, JIKA mereka berpaling [darimu, wahai Nabi, ketahuilah bahwa] Kami mengutusmu bukan untuk menjadi penjaga mereka: kewajibanmu tak lebih hanyalah menyampaikan pesan [yang diamanatkan kepadamu].

Dan, perhatikanlah, [yang berpaling dari pesan-pesan Kami tidak lain hanyalah didorong oleh kelemahan dan berubah-ubahnya sifat manusia:48 maka,] ketika Kami menjadikan manusia merasakan rahmat Kami, dia cenderung bersukaria dengannya;49 tetapi jika kemalangan menimpa [siapa saja di antara] mereka akibat perbuatan tangan mereka sendiri, maka, perhatikanlah, manusia menunjukkan betapa dirinya tidak bersyukur!50


48 Sisipan ini—yang penting adanya demi pemahaman yang tepat terhadap konteks tersebut—didasarkan pada penjelasan meyakinkan Al-Razi tentang bagaimana pasase ini berkaitan dengan pasase sebelumnya. Manusia, biasanya, terpikat untuk mengejar hal-hal dan kesenangan materiel, yang pemenuhannya dia samakan dengan kebahagiaan; karena itu, dia hanya memberikan perhatian yang sedikit terhadap tujuan dan nilai-nilai spiritual, apalagi jika dia diseru untuk meninggalkan pencarian egoistisnya itu demi kepentingan akhirat kelak—yang baginya masih bersifat hipotetis.

49 Yakni, ketika Allah menganugerahkan kepadanya sejumlah keuntungan materiel, manusia cenderung bersenang-senang dalam “keberhasilan” semacam itu, dengan menisbahkannya semata-mata pada kemampuan dan kecerdasannya sendiri (bdk. kalimat pertama Surah Fussilat [41]: 50).

50 Yakni, bukannya mengingat kebahagiaannya pada masa lalu dengan bersyukur, dia justru mempertanyakan eksistensi Allah itu sendiri, dengan mengatakan bahwa jika Allah benar-benar ada, Dia “tidak mungkin membiarkan” begitu banyak kemalangan dan penderitaan tersebar di dunia: suatu argumen yang menyesatkan karena tidak memperhitungkan adanya kehidupan akhirat dan, lebih dari itu, didasarkan pada konsep tentang Tuhan dalam kaitannya dengan perasaan dan harapan manusia semata.


Surah Asy-Syura Ayat 49

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ

lillahi mulkus-samāwāti wal-arḍ, yakhluqu mā yasyā`, yahabu limay yasyā`u ināṡaw wa yahabu limay yasyā`uż-żukụr

49. Kepunyaan Allah sajalah kekuasaan atas lelangit dan bumi. Dia menciptakan apa pun yang Dia kehendaki: Dia menganugerahkan anak-anak perempuan kepada siapa pun yang Dia kehendaki, dan anak-anak lelaki kepada siapa pun yang Dia kehendaki;


Surah Asy-Syura Ayat 50

أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا ۖ وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ

au yuzawwijuhum żukrānaw wa ināṡā, wa yaj’alu may yasyā`u ‘aqīmā, innahụ ‘alīmung qadīr

50. atau Dia menganugerahkan laki-laki dan perempuan [kepada siapa pun yang Dia kehendaki], dan menjadikan mandul siapa saja yang Dia kehendaki: sebab, sungguh, Dia Maha Mengetahui, Tak Terhingga Kekuasaan-Nya.51


51 Maksud utama pasase ini adalah menegaskan kembali akan fakta bahwa apa pun yang terjadi pada manusia merupakan hasil dari kehendak Allah yang tak dapat diduga: suatu fakta yang digambarkan dalam rangkaian ayat itu melalui fenomena yang sangat umum dan sering terjadi dalam kehidupan manusia—tidak dapat diprediksinya jenis kelamin bayi yang akan lahir serta kemandulan: dan, demikian jugalah halnya dengan tindakan Allah menganugerahkan kebahagiaan dan menimpakan penderitaan duniawi yang tidak dapat diukur atau diprediksi berdasarkan apa yang mungkin dipandang manusia sebagai “hak”-nya.


Surah Asy-Syura Ayat 51

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ

wa mā kāna libasyarin ay yukallimahullāhu illā waḥyan au miw warā`i ḥijābin au yursila rasụlan fa yụḥiya bi`iżnihī mā yasyā`, innahụ ‘aliyyun ḥakīm

51. Dan, tidak diperuntukkan bagi manusia bahwa Allah berbicara kepadanya selain melalui ilham yang tiba-tiba,52 atau [melalui suara, demikianlah kira-kira,] dari balik tabir, atau dengan mengutus seorang rasul untuk menyampaikan, dengan izin-Nya, apa pun yang Dia kehendaki [untuk disampaikan]:53 sebab, sungguh, Dia Mahatinggi, Mahabijaksana.


52 {sudden inspiration:} Ini merupakan makna dasar wahy, suatu istilah yang menggabungkan konsep ketiba-tibaan dan pencerahan batin {illumination} (Raghib); dalam Al-Quran, istilah ini sering, meskipun tidak selalu, bersinonim dengan “revelation” (pencerahan; wahyu).

Pasase di atas berkaitan dengan paragraf pertama ayat 48, yang berbicara tentang pesan Allah yang diamanatkan kepada Nabi.

53 Bdk. Surah An-Najm [53]: 10.


Surah Asy-Syura Ayat 52

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

wa każālika auḥainā ilaika rụḥam min amrinā, mā kunta tadrī mal-kitābu wa lal-īmānu wa lākin ja’alnāhu nụran nahdī bihī man nasyā`u min ‘ibādinā, wa innaka latahdī ilā ṣirāṭim mustaqīm

52. Dan demikianlah, juga,54 [wahai Muhammad,] telah Kami sampaikan kepadamu pesan yang menghidupkan,55 [yang datang] atas perintah Kami.

[Sebelum pesan ini datang kepadamu,] engkau tidak mengetahui apakah wahyu itu, dan tidak pula mengetahui apa [maksud dan dampak dari] iman itu:56 tetapi [kini,] Kami telah menjadikan [pesan] ini sebagai cahaya, yang dengannya Kami memberi petunjuk kepada siapa pun yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami: dan, sungguh, [berdasarkan cahaya itu,] engkau pun harus memberi petunjuk [kepada manusia] menuju jalan yang lurus—


54 Yakni, melalui tiga cara yang disebutkan dalam ayat sebelumnya.

55 Istilah ruh (lit., “ruh” {spirit} atau “jiwa” {soul} dalam Al-Quran sering memiliki makna “ilham Ilahi” {divine inspiration} (lihat Surah An-Nahl [16], catatan no. 2). Dalam konteks ini, istilah tersebut jelas berarti kandungan ilham Ilahi yang dianugerahkan kepada Nabi Muhammad, yaitu Al-Quran (Al-Thabari’, Al-Zamakhsyari, Al-Razi, Ibn Katsir), yang dimaksudkan untuk mendorong manusia pada kehidupan spiritual yang lebih intensif: karena itulah saya menerjemahkannya seperti di atas.

56 Yakni, bahwa konsep “keyakinan” itu sendiri menunjukkan adanya kepasrahan-diri (islam) manusia seutuhnya kepada Allah.


Surah Asy-Syura Ayat 53

صِرَاطِ اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ أَلَا إِلَى اللَّهِ تَصِيرُ الْأُمُورُ

ṣirāṭillāhillażī lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, alā ilallāhi taṣīrul-umụr

53. jalan yang mengantarkan kepada Allah, Pemilik segala yang ada di lelangit dan segala yang ada di bumi.

Oh, sungguh, bersama Allah-lah awal dan akhir segala sesuatu!57


57 Lit., “kepada Allah-lah segala sesuatu (al-umur) mencari jalannya”: yakni, segala sesuatu akan kembali kepada-Nya sebagai sumbernya, dan jalan yang mereka pilih bergantung pada kehendak-Nya (Al-Baidhawi).


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top