91. Asy-Syams (Matahari) – الشمس

Surat Asy-Syams dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Asy-Syams ( الشمس ) merupakan surah ke 91 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 15 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surat As-Syams tergolong Surat Makkiyah.

Kata kunci yang digunakan untuk mengidentifikasi surat ini terdapat dalam ayat pertama, yaitu asy-syams (Matahari). Pendapat yang umum dianut ialah bahwa surah ini diwahyukan tidak lama sesudah Surah Al-Qadr [97].

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah As-Syams Ayat 1

وَالشَّمْسِ وَضُحٰىهَاۖ

wasy-syamsi wa ḍuḥāhā

1. PERHATIKANLAH mentari dan terangnya yang menyinari,


Surah As-Syams Ayat 2

وَالْقَمَرِ اِذَا تَلٰىهَاۖ

wal-qamari iżā talāhā

2. dan bulan tatkala ia memantulkan (sinar) mentari!1


1 Lit., “tatkala ia mengikutinya (talaha)”, yakni matahari. Menurut filolog terkemuka Al-Farra’ yang hidup pada abad ke-2 hijrah, “makna ungkapan itu ialah bulan memperoleh cahayanya dari matahari” (dikutip oleh Al-Razi). Demikian pula penafsiran Raghib terhadap ungkapan di atas.


Surah As-Syams Ayat 3

وَالنَّهَارِ اِذَا جَلّٰىهَاۖ

wan-nahāri iżā jallāhā

3. Perhatikanlah siang tatkala ia menampakkan dunia,2


2 Lit., “menampakkannya” (jallaha)—kata ganti “nya” (ha) di sini jelas mengacu pada “dunia” atau “bumi” (Al-Zamakhsyari). Perlu dicatat bahwa ayat 1-10 menekankan polaritas—baik yang bersifat jasmani maupun ruhani—yang ada dalam seluruh ciptaan dan membedakannya dengan keesaan dan keunikan Sang Pencipta.


Surah As-Syams Ayat 4

وَالَّيْلِ اِذَا يَغْشٰىهَاۖ

wal-laili iżā yagsyāhā

4. dan malam tatkala ia menyelimutinya dengan gelap!


Surah As-Syams Ayat 5

وَالسَّمَاۤءِ وَمَا بَنٰىهَاۖ

was-samā`i wa mā banāhā

5. Perhatikanlah langit dan penciptaannya yang menakjubkan,3


3 Lit., “dan apa yang telah membangunnya”—yakni, kualitas-kualitas menakjubkan yang bertanggung jawab atas terciptanya keserasian dan kesepadanan kosmos yang tampak (yang jelas merupakan arti dari istilah sama’ dalam konteks ini). Demikian pula dengan penyebutan kata bumi pada bagian berikutnya, yang secara harfiah berbunyi, “apa yang menghamparkannya”, dengan jelas merupakan alusi tentang kualitas-kualitas yang bertanggung jawab atas terciptanya keindahan dan keanekaragaman hamparannya.


Surah As-Syams Ayat 6

وَالْاَرْضِ وَمَا طَحٰىهَاۖ

wal-arḍi wa mā ṭaḥāhā

6. dan bumi serta seluruh hamparannya!


Surah As-Syams Ayat 7

وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰىهَاۖ

wa nafsiw wa mā sawwāhā

7. Perhatikanlah diri manusia4 dan bagaimana dibentuk sesuai dengan apa yang telah ditentukan baginya,5


4 Sebagaimana terdapat dalam begitu banyak contoh lainnya, istilah nafs, yang memiliki cakupan arti sangat luas (lihat kalimat pertama catatan no. 1 pada Surah An-Nisa’ [4]: 1), di sini berarti diri atau pribadi manusia sebagai suatu keseluruhan: yakni, suatu wujud yang terdiri atas tubuh jasmani dan sari-kehidupan (life-essence) yang sulit untuk dijelaskan, yang secara longgar digambarkan sebagai “jiwa” (soul).

5 lit., “dan apa yang telah membuat [atau ‘membentuk’]nya (sawwaha) sesuai dengan…”, dan seterusnya. Untuk pengertian khusus verba sawwa ini, lihat catatan no. 1 pada Surah Al-A’la [87]: 2, yang merupakan contoh penggunaan paling awal dari kata tersebut di dalam Al-Quran dalam pengertian di atas. Penyebutan tentang manusia dan apa yang membentuk “pribadi manusia”, serta pembicaraan tersirat tentang suatu entitas hidup yang merupakan fenomena yang sangat kompleks itu (yang di dalamnya kebutuhan dan hasrat jasmani, aktivitas emosi dan intelektual saling terjalin sedemikian erat sehingga tidak dapat dipisahkan) dilakukan setelah disampaikannya seruan untuk memperhatikan kebesaran alam semesta yang sulit dijelaskan itu—sejauh ia berada dalam jangkauan persepsi dan pemahaman manusia—sebagai bukti yang sangat menakjubkan tentang kekuasaan Allah dalam mencipta.


Surah As-Syams Ayat 8

فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ

fa al-hamahā fujụrahā wa taqwāhā

8. dan bagaimana diri itu diilhami dengan kelemahan-kelemahan akhlak serta dengan kesadaran akan Allah!6


6 Lit., “dan [perhatikanlah] apa yang mengilhaminya dengan perbuatan-perbuatan tak bermoral (fujuraha) dan kesadarannya akan Allah (taqwaha)”—yakni, kenyataan bahwa manusia mungkin saja naik hingga mencapai tingkatan ruhani yang tinggi ataupun terjatuh ke dalam tingkatan yang sangat tidak bermoral merupakan suatu karakteristik dasar dari watak manusia. Dalam pengertian terdalamnya, kemampuan manusia untuk berlaku salah adalah sejalan dengan kemampuannya untuk berlaku benar: dengan kata lain, polaritas kecenderungan (polarity of tendencies) yang inheren dalam diri manusia itulah yang membuat setiap pilihan yang “benar” itu menjadi bernilai dan, dengan demikian, menganugerahi manusia dengan kehendak bebas moral (moral free will); dalam kaitan ini, bdk. catatan no. 16 pada Surah Al-A’raf [7]: 24-25.


Surah As-Syams Ayat 9

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ

qad aflaḥa man zakkāhā

9. Kebahagiaanlah yang pasti akan diraih oleh orang yang menyebabkan [diri] itu tumbuh dalam kesucian,


Surah As-Syams Ayat 10

وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ

wa qad khāba man dassāhā

10. dan benar-benar merugilah orang yang menguburnya [dalam kegelapan].


Surah As-Syams Ayat 11

كَذَّبَتْ ثَمُوْدُ بِطَغْوٰىهَآ

każżabaṡ ṡamụdu biṭagwāhā

11. KEBENARAN [INI] telah [kaum] Tsamud dustakan lantaran sikap sombong mereka yang amat keterlaluan,7


7 Mengenai kisah suku Tsamud, yang di sini diberikan sebagai ilustrasi tentang potensi manusia melakukan kejahatan, lihat Surah Al-A’raf [7]: 73-79 dan catatan-catatan terkait.


Surah As-Syams Ayat 12

اِذِ انْۢبَعَثَ اَشْقٰىهَاۖ

iżimba’aṡa asyqāhā

12. ketika orang yang paling celaka di antara mereka bergegas maju [untuk melakukan perbuatan jahatnya],


Surah As-Syams Ayat 13

فَقَالَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللّٰهِ نَاقَةَ اللّٰهِ وَسُقْيٰهَاۗ

fa qāla lahum rasụlullāhi nāqatallāhi wa suqyāhā

13. meskipun rasul Allah telah berkata kepada mereka, “Ini adalah unta betina milik Allah, maka biarkanlah ia minum [dan jangan sakiti ia]!”8


8 Mengenai “unta betina milik Allah”, lihat Surah Al-A’raf [7], catatan no. 57. Mengenai rujukan khusus pada perintah “Biarkanlah ia minum”, lihat Surah Asy-Syu’ara’ [26]: 155 dan catatan no. 67 yang terkait. Rumusan ayat ini menunjukkan bahwa riwayat unta betina itu telah dikenal dengan baik oleh bangsa Arab pada masa pra-lslam.


Surah As-Syams Ayat 14

فَكَذَّبُوْهُ فَعَقَرُوْهَاۖ فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُمْ بِذَنْۢبِهِمْ فَسَوّٰىهَاۖ

fa każżabụhu fa ‘aqarụhā fa damdama ‘alaihim rabbuhum biżambihim fa sawwāhā

14. Namun, mereka mendustakan rasul itu dan menyembelih unta betina itu dengan kejam9—kemudian Pemelihara mereka menimpakan mereka dengan kehancuran yang sehancur-hancurnya disebabkan dosa mereka, dan membinasakan mereka seluruhnya:


9 Mengenai penerjemahan ‘aqaruha ini, lihat catatan no. 61 pada Surah Al-A’raf (7): 77.


Surah As-Syams Ayat 15

وَلَا يَخَافُ عُقْبٰهَا

wa lā yakhāfu ‘uqbāhā

15. sebab, tidak seorang pun [dari mereka] merasa takut terhadap apa yang mungkin menimpa mereka.10


10 Ini menyiratkan bahwa: tiadanya rasa belas kasihan sama sekali terhadap ciptaan Allah menunjukkan bahwa mereka tidak takut terhadap balasan-hukuman-Nya dan, karena itu, memperlihatkan bahwa mereka tidak benar-benar memercayai-Nya.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top