32. As-Sajdah (Sujud) – السجدة

Surat As-Sajdah dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat As-Sajdah merupakan surat ke 32 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 30 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian Surah As-Sajdah tergolong Surat Makkiyah.

Hampir semua mufasir sepakat bahwa Surah As-Sajdah ini termasuk dalam periode Makkah akhir, dan bahwa surah tersebut diwahyukan segera setelah Surah Al-Mu’minun (“Orang-Orang Beriman”). Pendapat yang dikemukakan oleh beberapa mufasir bahwa ayat 16-20 diwahyukan di Madinah bersifat spekulatif semata dan tidak perlu dipertimbangkan dengan serius.

Kata kunci yang akhirnya diterima sebagai “judul” surah ini tercantum dalam ayat 15.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah As-Sajdah Ayat 1

الم

alif lām mīm

1. Alif. Lam. Mim.1


1 Lihat artikel Al-Muqatta’at (Huruf-Huruf Terpisah) dalam Al-Qur’an.


Surah As-Sajdah Ayat 2

تَنْزِيلُ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

tanzīlul-kitābi lā raiba fīhi mir rabbil-‘ālamīn

2. Turunnya kitan Ilahi ini, tidak diragukan lagi, adalah dari Pemelihara semesta alam:


Surah As-Sajdah Ayat 3

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۚ بَلْ هُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أَتَاهُمْ مِنْ نَذِيرٍ مِنْ قَبْلِكَ لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ

am yaqụlụnaftarāh, bal huwal-ḥaqqu mir rabbika litunżira qaumam mā atāhum min nażīrim ming qablika la’allahum yahtadụn

3. dan sungguhpun begitu,2 mereka [yang berkukuh mengingkari kebenaran] menyatakan, “[Muhammad] telah membuat-buatnya!”

Sekali-kali tidak, tetapi ia adalah kebenaran dari Pemeliharamu yang memungkinkanmu memberi peringatan kepada kaum [ini], yang belum datang kepada mereka pemberi peringatan sebelum engkau, agar mereka dapat mengikuti jalan yang benar.


2 Bdk. catatan no. 61 pada Surah Yunus [10]: 38.


Surah As-Sajdah Ayat 4

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ ۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ

allāhullażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa wa mā bainahumā fī sittati ayyāmin ṡummastawā ‘alal-‘arsy, mā lakum min dụnihī miw waliyyiw wa lā syafī’, a fa lā tatażakkarụn

4. ALLAH-LAH yang telah menciptakan lelangit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dalam enam masa, dan bersemayam di atas singgasana kemahakuasaan-Nya.3 Kalian tidak memiliki siapa pun yang akan melindungi kalian dari Allah, dan tidak memiliki siapa pun yang akan menjadi perantara pemberi syafaat bagi kalian [pada Hari Pengadilan]: maka, tidakkah kalian merenungkan diri kalian sendiri?


3 Lihat catatan no. 43 pada Surah Al-A’raf [7]: 54.


Surah As-Sajdah Ayat 5

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ

yudabbirul-amra minas-samā`i ilal-arḍi ṡumma ya’ruju ilaihi fī yauming kāna miqdāruhū alfa sanatim mimmā ta’uddụn

5. Dia mengatur segala yang ada, mulai dari ruang samawi sampai bumi; dan pada akhirnya semua akan naik kepada-Nya [untuk diadili] pada suatu Hari yang panjangnya [seperti] seribu tahun perhitungan kalian.4


4 Yakni, bagi orang-orang yang diadili, Hari Pengadilan akan terasa tak kunjung berakhir. Dalam idiom bahasa Arab kuno, hari yang berat atau menyakitkan dikatakan sebagai hari yang “panjang”, sebagaimana hari yang bahagia dikatakan “singkat” (Al-Maraghi XXI, h. 105).


Surah As-Sajdah Ayat 6

ذَٰلِكَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

żālika ‘ālimul-gaibi wasy-syahādatil-‘azīzur-raḥīm

6. Demikianlah Dia yang mengetahui segala yang berada di luar jangkauan persepsi makhluk, serta segala yang dapat disaksikan oleh indra-indra atau pikiran makhluk:5 Yang Mahaperkasa, Sang Pemberi Rahmat,


5 Lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 65.


Surah As-Sajdah Ayat 7

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ ۖ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ

allażī aḥsana kulla syai`in khalaqahụ wa bada`a khalqal-insāni min ṭīn

7. Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan dengan sebaik-baiknya.6

Demikianlah, Dia memulai penciptaan manusia dari tanah liat;7


6 Yakni, Dia menjadikan setiap perincian ciptaan-Nya sesuai dengan fungsi-fungsi yang dimaksudkan untuknya, terlepas dari apakah fungsi-fungsi itu bisa kita pahami atau berada di luar jangkauan persepsi kita. Dalam teks, pasase ayat 7-9 diungkapkan dalam kalimat bentuk lampau; tetapi, karena ia berhubungan dengan suatu tindak penciptaan yang terus-menerus, pasase tersebut juga menandakan bentuk kini sekaligus bentuk akan datang (fi’l mudhari’) serta bentuk lampau (fi’I madhi) dan, karena itu, dapat dengan tepat diterjemahkan dalam kalimat bentuk kini {present tense}.

7 Bdk. catatan no. 4 pada Surah Al-Mu’minun [23]: 12. Mengingat ayat berikutnya, “tindakan memulai” penciptaan manusia ini tampaknya secara tidak langsung mengingatkan pada komposisi dasar tubuh manusia itu sendiri serta menyinggung eksistensi pralahir setiap individu dalam tubuh-tubuh kedua orangtuanya.


Surah As-Sajdah Ayat 8

ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ

ṡumma ja’ala naslahụ min sulālatim mim mā`im mahīn

8. kemudian, Dia menyebabkannya diperanakkan8 dari sari pati cairan yang rendah;


8 Lit., “Dia telah menyebabkan [yakni, sebagaimana ditunjukkan dalam catatan no. 6, ‘Dia menyebabkan’] keturunannya [atau ‘anaknya’] dari …”, dan seterusnya.


Surah As-Sajdah Ayat 9

ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

ṡumma sawwāhu wa nafakha fīhi mir rụḥihī wa ja’ala lakumus-sam’a wal-abṣāra wal-af`idah, qalīlam mā tasykurụn

9. dan kemudian, Dia membentuknya sesuai dengan apa yang telah ditentukan baginya, dan meniupkan ke dalamnya dari ruh-Nya:9 dan [demikianlah, wahai manusia,] Dia menganugerahi kalian pendengaran, penglihatan, perasaan sekaligus pikiran:10 [sungguhpun begitu,] betapa jarangnya kalian bersyukur!


9 Sebagaimana dalam Surah Al-Hijr [15]: 29 dan Surah Sad [38]: 72, “tiupan dari ruh-Nya ke dalam manusia” adalah sebuah metafora untuk anugerah Ilahi yang berupa kehidupan dan kesadaran, atau “jiwa” (yang, sebagaimana ditunjukkan dalam Surah An-Nisa’ [4], catatan no. 181, merupakan salah satu makna istilah ruh) . Karena itu, “jiwa setiap manusia berasal dari ruh Allah” (Al-Razi). Mengenai verba sawwahu—yang saya terjemahkan menjadi “Dia membentuknya sesuai dengan apa yang telah ditentukan baginya”—lihat catatan no. 1 pada Surah Al-A’la [87]: 2 dan catatan no. 5 pada Surah Asy-Syams [91]: 7.

10 Lit., “kalbu-kalbu” (af’idah [hati dalam bentuk jamak]), yang dalam bahasa Arab klasik merupakan metonimia untuk “perasaan” sekaligus “pikiran”; karenanya, istilah ini saya terjemahkan dengan cara menggabung keduanya.


Surah As-Sajdah Ayat 10

وَقَالُوا أَإِذَا ضَلَلْنَا فِي الْأَرْضِ أَإِنَّا لَفِي خَلْقٍ جَدِيدٍ ۚ بَلْ هُمْ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ كَافِرُونَ

wa qālū a iżā ḍalalnā fil-arḍi a innā lafī khalqin jadīd, bal hum biliqā`i rabbihim kāfirụn

10. Karena, [banyak di antara] mereka [yang] berkata, “Apa? Setelah kita [mati dan] lenyap di dalam tanah, akankah kita benar-benar [dihidupkan kembali] menjadi makhluk yang baru?”

Sekali-kali tidak, tetapi [dengan mengatakan ini,] mereka mengingkari kebenaran bahwa mereka ditakdirkan untuk bertemu dengan Pemelihara mereka!11


11 Secara tersirat, “dan dengan demikian, secara tersirat, mereka mengingkari eksistensi-Nya”. (Bdk. catatan no. 11 dan no. 12 pada Surah Ar-Ra’d [13]: 5.)


Surah As-Sajdah Ayat 11

قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ

qul yatawaffākum malakul-mautillażī wukkila bikum ṡumma ilā rabbikum turja’ụn

11. Katakanlah, “[Suatu hari,] Malaikat Maut yang telah diberi tanggung jawab terhadap kalian akan mengumpulkan kalian dan, kemudian, kepada Pemelihara kalianlah, kalian akan dikembalikan!”


Surah As-Sajdah Ayat 12

وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ

walau tarā iżil-mujrimụna nākisụ ru`ụsihim ‘inda rabbihim, rabbanā abṣarnā wa sami’nā farji’nā na’mal ṣāliḥan innā mụqinụn

12. Seandainya engkau dapat melihat [bagaimana kejadiannya pada Hari Pengadilan] ketika orang-orang yang tenggelam dalam dosa akan menundukkan kepala mereka di hadapan pemelihara mereka, [dengan berkata,] “Wahai, Pemelihara kami! [Kini] kami telah melihat dan mendengar! Maka, kembalikanlah kami [kepada kehidupan duniawi kami] agar kami dapat mengerjakan perbuatan-perbuatan kebajikan: sebab [kini], perhatikanlah, kami yakin [akan kebenaran]!”


Surah As-Sajdah Ayat 13

وَلَوْ شِئْنَا لَآتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا وَلَٰكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّي لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

walau syi`nā la`ātainā kulla nafsin hudāhā wa lākin ḥaqqal-qaulu minnī la`amla`anna jahannama minal-jinnati wan-nāsi ajma’īn

13. Namun, seandainya Kami menghendaki, niscaya Kami telah memaksakan petunjuk kami terhadap manusia:12 tetapi [Kami tidak menghendakinya begitu—dan demikianlah] agar kalam-Ku menjadi kenyataan:* “Aku pasti akan memenuhi neraka dengan makhluk-makhluk gaib dan manusia bersama-sama!”13


12 Lit., “Kami tentu bisa saja telah memberikan kepada setiap manusia (nafs) petunjuknya”, yakni, dengan cara paksaan: tetapi, karena hal ini akan menghilangkan kemampuan manusia untuk memilih antara kebenaran dan kesalahan—dan, karenanya, menghilangkan semua pertanggungjawaban moral—Allah tidak “memaksakan” petunjuk-Nya kepada siapa pun (bdk. Surah Asy-Syu’ara’ [26]: 4 dan catatannya).

* {“menjadi kenyataan” adalah terjemahan untuk “has come true” (haqqa)—peny.}

13 Lihat Surah Al-A’raf [7]: 13 serta paragraf terakhtr Surah Hud [11]: 119. Mengenai “makhluk-makhluk gaib” (jinn), lihat artikel Istilah dan Konsep Jin dalam Islam.


Surah As-Sajdah Ayat 14

فَذُوقُوا بِمَا نَسِيتُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا إِنَّا نَسِينَاكُمْ ۖ وَذُوقُوا عَذَابَ الْخُلْدِ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

fa żụqụ bimā nasītum liqā`a yaumikum hāżā, innā nasīnākum wa żụqụ ‘ażābal-khuldi bimā kuntum ta’malụn

14. [Dan, Dia akan berkata kepada para pendosa,] “Maka, rasakanlah [balasannya] karena kalian telah melupakan datangnya Hari [Pengadilan] kalian ini—sebab, sungguh, Kami [pun kini] melupakan kalian: maka, rasakanlah derita yang kekal [ini] atas segala [keburukan] yang biasa kalian kerjakan.


Surah As-Sajdah Ayat 15

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

innamā yu`minu bi`āyātinallażīna iżā żukkirụ bihā kharrụ sujjadaw wa sabbaḥụ biḥamdi rabbihim wa hum lā yastakbirụn

15. HANYA MEREKA [yang benar-benar] beriman kepada pesan-pesan Kami-lah yang, setiap kali pesan-pesan itu disampaikan kepada mereka, menyungkurkan diri seraya bersujud dan bertasbih memuji kemulian-Nya yang tiada batas; dan yang tidak pernah dipenuhi dengan kebanggaan semu;


Surah As-Sajdah Ayat 16

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

tatajāfā junụbuhum ‘anil-maḍāji’i yad’ụna rabbahum khaufaw wa ṭama’aw wa mimmā razaqnāhum yunfiqụn

16. [dan] yang terdorong untuk bangkit14 dari tempat tidur mereka [pada malam hari] untuk berdoa kepada Pemelihara mereka dengan rasa takut dan harap; dan yang menafkahkan untuk orang lain sebagian dari rezeki yang telah Kami anugerahkan kepada mereka.


14 Lit., “yang sisi [yakni, tubuh-tubuh] mereka bangkit dengan gelisah”.


Surah As-Sajdah Ayat 17

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

fa lā ta’lamu nafsum mā ukhfiya lahum ming qurrati a’yun, jazā`am bimā kānụ ya’malụn

17. Dan, [adapun bagi orang-orang beriman seperti itu,] tiada manusia yang dapat membayangkan betapa kesenangan yang penuh kebahagiaan, yang hingga kini masih tersembunyi, menanti mereka [dalam kehidupan akhirat]15 sebagai balasan atas semua yang mereka kerjakan.


15 Lit., “apa yang masih tersembunyi bagi mereka [dalam bentuk] pandangan mata yang menyenangkan”, yakni, kesenangan yang penuh kebahagiaan, terlepas dari apakah kesenangan itu dalarn bentuk yang dapat dilihat, didengar, atau dirasakan. Ungkapan “apa yang masih tersembunyi bagi mereka” dengan jelas menyinggung kualitas kehidupan di akhirat yang tak bisa diketahui—dan, karena itu, hanya bisa digambarkan secara alegoris. Kemustahilan manusia untuk dapat benar-benar “membayangkan” surga telah dijelaskan oleh Nabi dalam hadis sahih: “Allah berfirman, ‘Aku telah mempersiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh apa yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia” (Al-Bukhari dan Muslim, yang bersumber dari Abu Hurairah; juga Al-Tirmidzi). Hadis ini selalu dianggap oleh para Sahabat sebagai penjelasan Nabi sendiri terhadap ayat di atas (bdk. Fath Al-Bari VIII, hh. 418 dan seterusnya).


Surah As-Sajdah Ayat 18

أَفَمَنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كَانَ فَاسِقًا ۚ لَا يَسْتَوُونَ

a fa mang kāna mu`minang kamang kāna fāsiqā, lā yastawụn

18. Maka, apakah dia yang [dalam kehidupan duniawinya] merupakan seorang yang beriman dapat disamakan dengan seorang yang fasik? [Sekali-kali tidak,] kedua orang ini tidaklah sama!


Surah As-Sajdah Ayat 19

أَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ جَنَّاتُ الْمَأْوَىٰ نُزُلًا بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

ammallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti fa lahum jannātul-ma`wā nuzulam bimā kānụ ya’malụn

19. Adapun orang-orang yang meraih iman dan mengerjakan perbuatan-perbuatan saleh—taman-taman peristirahatan menanti mereka, sebagai suatu sambutan [dari Allah], sebagai akibat dari apa yang telah mereka kerjakan;


Surah As-Sajdah Ayat 20

وَأَمَّا الَّذِينَ فَسَقُوا فَمَأْوَاهُمُ النَّارُ ۖ كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا أُعِيدُوا فِيهَا وَقِيلَ لَهُمْ ذُوقُوا عَذَابَ النَّارِ الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ

wa ammallażīna fasaqụ fa ma`wāhumun-nāru kullamā arādū ay yakhrujụ min-hā u’īdụ fīhā wa qīla lahum żụqụ ‘ażāban-nārillażī kuntum bihī tukażżibụn

20. akan tetapi, orang-orang yang tenggelam dalam kefasikan—tempat kembali mereka adalah neraka: setiap kali mereka berusaha keluar darinya, mereka akan dilemparkan kembali ke dalamnya; dan akan dikatakan kepada mereka, “Rasakanlah [sekarang] derita neraka ini, yang dahulu biasa kalian sebut sebagai dusta!”


Surah As-Sajdah Ayat 21

وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَىٰ دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

wa lanużīqannahum minal-‘ażābil-adnā dụnal-‘ażābil-akbari la’allahum yarji’ụn

21. Namun, sebelum [Kami hukum mereka dengan] derita yang mahapedih itu, Kami pasti akan biarkan mereka merasakan sebagian derita yang segera menjelang16 agar mereka dapat [bertobat dan] memperbaiki jalan-jalan mereka.17


16 Lit., “yang lebih dekat”, yakni, di dunia ini: untuk penjelasannya, lihat catatan no. 27 pada Surah At-Tur [52]: 47.

17 Lit., “agar mereka dapat kembali [kepada kesalehan]”.


Surah As-Sajdah Ayat 22

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا ۚ إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ

wa man aẓlamu mim man żukkira bi`āyāti rabbihī ṡumma a’raḍa ‘an-hā, innā minal-mujrimīna muntaqimụn

22. Dan, siapakah yang lebih zalim daripada orang yang kepadanya pesan-pesan Pemeliharanya telah disampaikan dan yang kemudian berpaling darinya? Sungguh, akan Kami timpakan hukuman Kami terhadap orang-orang yang tersesat dalam dosa [karenanya]!


Surah As-Sajdah Ayat 23

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ فَلَا تَكُنْ فِي مِرْيَةٍ مِنْ لِقَائِهِ ۖ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ

wa laqad ātainā mụsal-kitāba fa lā takun fī miryatim mil liqā`ihī wa ja’alnāhu hudal libanī isrā`īl

23. DAN, SUNGGUH, [wahai Muhammad,] Kami [juga] telah menyampaikan wahyu kepada Musa: maka, janganlah ragu karena [engkau] menemukan [kebenaran] yang sama [dalam wahyu yang diberikan kepadamu].18

Dan, [sebagaimana] Kami jadikan [wahyu terdahulu] itu menjadi petunjuk bagi Bani Israil,


18 Dengan pasase ini, wacana kembali pada tema yang telah diuraikan di awal surah ini—yaitu: asal-usul Ilahi wahyu yang diberikan kepada Nabi Muhammad Saw. yang, seperti ditunjukkan bagian ini, berasal dari sumber yang sama dengan wahyu yang diberikan kepada Nabi Musa (rasul agung Allah terakhir yang diakui oleh tiga agama monoteistik: Yahudi, Nasrani, dan Islam). Lebih lanjut, kebenaran-kebenaran fundamental yang sama dalam semua wahyu Ilahi, yang ditekankan dalam ayat di atas, mengimplikasikan tuntutan-tuntutan moral yang sama pula terhadap para pengikut wahyu-wahyu itu, terlepas dari perbedaan zaman, ras, atau lingkungan sosial.


Surah As-Sajdah Ayat 24

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

wa ja’alnā min-hum a`immatay yahdụna bi`amrinā lammā ṣabarụ, wa kānụ bi`āyātinā yụqinụn

24. dan [sebagaimana] Kami bangkitkan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk [kepada kaum mereka] sesuai dengan perintah Kami,19 sepanjang mereka (kaum itu) tekun dalam kesabaran dan memiliki iman yang teguh pada pesan-pesan Kami—[demikian pulalah yang akan terjadi dengan kitab Ilahi yang diwahyukan kepadamu, wahai Muhammad].20


19 Yakni, sesuai dengan peraturan-peraturan Ilahi yang diuraikan di dalam Taurat pada dan untuk zaman mereka: ini secara tidak langsung mengingatkan pada merosotnya keimanan, yang sering disebutkan di dalam Al-Quran, di kalangan Bani lsrail pada masa-masa kemudian, dan kecenderungan di kalangan banyak pemimpin dan cendekiawan mereka untuk menyelewengkan teks Taurat dan, dengan demikian, “mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan” (lihat, misalnya, Surah Al-Baqarah [2]: 42, 75, 79, dan catatan-catatannya).

20 Sisipan ini mencerminkan penafsiran Al-Zamakhsyari terhadap pasase di atas, yang menyatakan bahwa Al-Quran ditakdirkan untuk memberi petunjuk dan cahaya sepanjang para pemimpin agama dalam masyarakat sabar dalam menghadapi kesusahan dan setia-teguh dalam keimanan mereka: sebuah penafsiran yang menyiratkan bahwa Al-Quran tidak akan bermanfaat bagi orang-orang yang telah kehilangan kebajikan-kebajikan moral dan imannya.


Surah As-Sajdah Ayat 25

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

inna rabbaka huwa yafṣilu bainahum yaumal-qiyāmati fīmā kānụ fīhi yakhtalifụn

25. SUNGGUH, Allah sajalah yang akan memberi keputusan di antara manusia21 pada Hari Kebangkitan berkenaan dengan semua yang biasa mereka perselisihkan.22


21 Lit., “di antara mereka”.

22 Lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 94; juga Surah Al-Hajj [22]: 67-69. Dalam hal ini, perselisihan pendapat ini berkenaan dengan iman pada kebangkitan di satu sisi, dan dengan pengingkarannya di sisi lain.


Surah As-Sajdah Ayat 26

أَوَلَمْ يَهْدِ لَهُمْ كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنَ الْقُرُونِ يَمْشُونَ فِي مَسَاكِنِهِمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ ۖ أَفَلَا يَسْمَعُونَ

a wa lam yahdi lahum kam ahlaknā ming qablihim minal-qurụni yamsyụna fī masākinihim, inna fī żālika la`āyāt, a fa lā yasma’ụn

26. [Namun,] tidak dapatkah mereka [yang mengingkari kebenaran] mengambil pelajaran dengan mengingat berapa banyak generasi yang telah Kami hancurkan sebelum masa mereka?23—[kaum] yang [kini,] mereka [sendiri] berjalan-jalan di tempat tinggal kaum itu?

Perhatikanlah, dalam yang demikian ini, sungguh terdapat pesan-pesan: maka, tidakkah mereka mendengarkan?


23 Untuk makna yang lebih luas dari istilah qam (lit., “generasi”) ini, lihat catatan no. 111 pada Surah TaHa [20]: 128.


Surah As-Sajdah Ayat 27

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَسُوقُ الْمَاءَ إِلَى الْأَرْضِ الْجُرُزِ فَنُخْرِجُ بِهِ زَرْعًا تَأْكُلُ مِنْهُ أَنْعَامُهُمْ وَأَنْفُسُهُمْ ۖ أَفَلَا يُبْصِرُونَ

a wa lam yarau annā nasụqul-mā`a ilal-arḍil-juruzi fa nukhriju bihī zar’an ta`kulu min-hu an’āmuhum wa anfusuhum, a fa lā yubṣirụn

27. Tidakkah mereka perhatikan bahwa Kami-lah yang menghalau hujan ke atas tanah kering yang tandus dan, dengan demikian, menumbuhkan tanam-tanaman yang darinya binatang-binatang ternak mereka dan mereka sendiri makan? Maka, tidakkah mereka dapat melihat [kebenaran tentang adanya kebangkitan]?


Surah As-Sajdah Ayat 28

وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَٰذَا الْفَتْحُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

wa yaqụlụna matā hāżal-fat-ḥu ing kuntum ṣādiqīn

28. Akan tetapi, mereka menjawab, “Kapankah keputusan akhir itu akan terjadi jika apa yang kalian [kaum beriman] katakan itu benar?”24


24 Mengacu pada pernyataan dalam ayat 25.


Surah As-Sajdah Ayat 29

قُلْ يَوْمَ الْفَتْحِ لَا يَنْفَعُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِيمَانُهُمْ وَلَا هُمْ يُنْظَرُونَ

qul yaumal-fat-ḥi lā yanfa’ullażīna kafarū īmānuhum wa lā hum yunẓarụn

29. Katakanlah: “Pada Hari Keputusan Akhir itu, keimanan mereka [yang baru diperoleh itu] tidak akan berguna bagi orang-orang yang [dalam masa hidup mereka] berkukuh mengingkari kebenaran, tidak pula mereka akan diberi penangguhan!”—


Surah As-Sajdah Ayat 30

فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَانْتَظِرْ إِنَّهُمْ مُنْتَظِرُونَ

fa a’riḍ ‘an-hum wantaẓir innahum muntaẓirụn

30. maka, tinggalkanlah mereka sendiri dan tunggulah [hingga kebenaran terungkap, sebagaimana], perhatikanlah, mereka (pun) menunggu ….


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top