Surat Ar-Rum dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

30. Ar-Rum (Bangsa Bizantium) – الروم

Surat Ar-Rum ( الروم ) merupakan surah ke 30 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 60 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Ar-Rum tergolong Surat Makkiyah.

Surah ini, yang diturunkan sekitar enam atau tujuh tahun sebelum hijrah, diberi judul berdasarkan nubuat atau ramalan mengenai bangsa Bizantium* yang disebutkan dalam ayat-ayat pembuka. (Untuk latar belakang historis nubuat ini, lihat catatan no 2 dan 3.) Seusai mengemukakan prediksi yang tegas mengenai peristiwa-peristiwa ini, yang pada saat pewahyuannya masih diselimuti kabut yang menutupi masa depan, surah ini segera berlanjut menuju tema sentralnya:

  1. betapa menakjubkannya penciptaan yang dilakukan Allah atas segala sesuatu yang ada di alam ini,
  2. tindakan-Nya yang terus-menerus “mengeluarkan yang hidup dari yang mati”, dan, karena itu,
  3. kemampuan serta janji-Nya untuk membangkitkan yang mati pada akhir masa.

Namun, Al-Qur’an menyatakan bahwa kebanyakan manusia “berkeras hati untuk tidak mau mengetahuinya” (ayat 56), sebab “mereka tidak lain hanyalah mengetahui permukaan luar dari kehidupan dunia ini, adapun hal-hal pamungkas yang pokok, sama sekali mereka lalaikan” (ayat 7); dan karena mereka mengabaikan hal-hal pamungkas yang pokok itu, “telah muncul kerusakan di darat dan di laut sebagai akibat dari perbuatan tangan-tangan manusia” (ayat 41): suatu prediksi yang amat tajam mengenai apa yang terjadi pada zaman kita dewasa ini.


* {Bizantium (Byzantines, Romawi Timur) adalah wilayah bagian timur dari Imperium Romawi pada akhir masa-masa kejayaannya. Ibu kotanya Konstantinopel (kini Istanbul, termasuk wilayah Turki). Bizantium ini hendaknya dibedakan dari Imperium Romawi (Roman Empire, Romawi Barat) yang berpusat di Roma (Italia sekarang). Dalam surah ini, istilah Rum merujuk pada Bizantium, yakni Romawi Timur itu, bukan Romawi Barat.—peny.}

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Ar-Rum Ayat 1

الم

alif lām mīm

1. Alif. Lam. Mim.1


1 Lihat artikel Al-Muqatta’at (Huruf-Huruf Terpisah) dalam Al-Qur’an.


Surah Ar-Rum Ayat 2

غُلِبَتِ الرُّومُ

gulibatir-rụm

2. TELAH DIKALAHKAN bangsa Bizantium


Surah Ar-Rum Ayat 3

فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ

fī adnal-arḍi wa hum mim ba’di galabihim sayaglibụn

3. di negeri-negeri yang dekat; namun, terlepas dari kekalahan mereka yang ini, merekalah yang kelak akan menang


Surah Ar-Rum Ayat 4

فِي بِضْعِ سِنِينَ ۗ لِلَّهِ الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ ۚ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ

fī biḍ’i sinīn, lillāhil-amru ming qablu wa mim ba’d, wa yauma`iżiy yafraḥul-mu`minụn

4. dalam beberapa tahun lagi: [sebab,] pada Allah-lah segala kekuasaan untuk memutuskan, dari awal hingga akhir.2

Dan, pada hari itu, orang-orang beriman [juga punya alasan untuk] bergembira


2 {first and last} Lit., “sebelum dan sesudah”. Kekalahan dan kemenangan yang diceritakan dalam ayat ini mengacu pada fase-fase terakhir peperangan yang berlangsung selama berabad-abad antara Kekaisaran Bizantium dan Persia. Selama tahun-tahun awal abad ke-7, bangsa Persia menaklukkan sebagian wilayah Suriah dan Anatolia, “negeri-negeri yang dekat”, yakni, dekat dengan jantung Kekaisaran Bizantium; pada 613 M, mereka menduduki Damaskus, dan pada 614 M Yerusalem; Mesir jatuh ke tangan mereka pada 615-616 M, dan pada saat yang sama mereka mengepung Konstantinopel, ibu kota Kekaisaran Bizantium itu sendiri. Pada masa ketika surah ini diwahyukan—sekitar tahun ke-7 sebelum hijrah, yang bertepatan dengan 615 atau 616 M—kehancuran total Kekaisaran Bizantium tampaknya tidak lama lagi akan terjadi. Para Sahabat Nabi, yang kala itu masih berjumlah sedikit, merasa sedih saat mendengar berita kekalahan telak Bizantium itu, bangsa yang beragama Nasrani yang, bagaimanapun jua, sama-sama beriman pada Tuhan Yang Esa. Di sisi lain, kaum musyrik Quraisy bersimpati kepada bangsa Persia yang, menurut dugaan mereka, akan mendukung mereka untuk melawan gagasan keesaan Tuhan. Ketika Nabi Muhammad menyampaikan ayat-ayat Al-Quran di atas, yang meramalkan kemenangan Bizantium “dalam beberapa tahun lagi”, ramalan ini mendapat cemoohan dari kaum Quraisy. Selanjutnya, istilah bidh’ (yang umumnya diterjemahkan menjadi “beberapa”) menunjukkan sembarang jumlah antara tiga dan sepuluh; dan, sebagaimana yang akhirnya benar-benar terjadi, pada 622 M—yakni, enam atau tujuh tahun setelah prediksi Al-Quran tersebut—situasi pun berbalik dan menguntungkan Bizantium. Pada tahun itu, Kaisar Heraklius ganti mengalahkan bangsa Persia di Issus, daerah di selatan Pegunungan Taurus, dan kemudian mengusir mereka dari Asia Kecil. Pada 624 M, dia mengobarkan perang itu sampai ke wilayah teritorial Persia dan, dengan begitu, menempatkan musuh pada posisi defensif (bertahan); dan pada awal Desember 626 M, bala tentara Persia benar-benar ditaklukkan oleh Romawi Timur.


Surah Ar-Rum Ayat 5

بِنَصْرِ اللَّهِ ۚ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

binaṣrillāh, yanṣuru may yasyā`, wa huwal-‘azīzur-raḥīm

5. karena pertolongan Allah:3 [sebab,] Dia memberi pertolongan kepada siapa pun yang Dia kehendaki, karena Dia sajalah Yang Mahaperkasa, Sang Pemberi Rahmat.


3 Ini adalah prediksi tentang Perang Badar, yang akan terjadi delapan atau sembilan tahun kemudian, pada bulan Ramadhan 2 H, (bertepatan dengan bulan Januari 624 M), ketika kaum Muslim secara telak mengalahkan kekuatan musyrik Quraisy yang jauh lebih unggul (lihat pengantar untuk Surah Al-Anfal [8]). Ungkapan “pada hari itu” dalam konteks ini bermakna “pada saat yang sama”, sebab walaupun Perang Badar dimulai dan berakhir dalam satu hari, kemenangan-kemenangan Heraklius atas bangsa Persia baru terwujud setelah memakan waktu beberapa tahun.


Surah Ar-Rum Ayat 6

وَعْدَ اللَّهِ ۖ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ وَعْدَهُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

wa’dallāh, lā yukhlifullāhu wa’dahụ wa lākinna akṡaran-nāsi lā ya’lamụn

6. [Inilah] janji Allah. Tidak pernah Allah melanggar janji-Nya—tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui[nya]:


Surah Ar-Rum Ayat 7

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

ya’lamụna ẓāhiram minal-ḥayātid-dun-yā wa hum ‘anil-ākhirati hum gāfilụn

7. mereka tidak lain hanyalah mengetahui permukaan luar dari kehidupan dunia ini, adapun hal-hal pamungkas yang pokok, sama sekali mereka lalaikan.4


4 Datam konteks ini, istilah al-akhirah mencakup baik realitas batin kehidupan dunia ini maupun realitas pamungkas kehidupan akhirat {realitas ultima, pamungkas, pokok}.


Surah Ar-Rum Ayat 8

أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ ۗ مَا خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ لَكَافِرُونَ

a wa lam yatafakkarụ fī anfusihim, mā khalaqallāhus-samāwāti wal-arḍa wa mā bainahumā illā bil-ḥaqqi wa ajalim musammā, wa inna kaṡīram minan-nāsi biliqā`i rabbihim lakāfirụn

8. Tiada pernahkah mereka belajar berpikir untuk diri mereka sendiri?5

Allah tidak menciptakan lelangit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya tanpa [suatu] kebenaran [hakiki] dan suatu batas-waktu yang ditentukan [oleh-Nya]:6 dan sungguhpun begitu, perhatikanlah, ada banyak orang yang dengan keras kepala mengingkari kebenaran bahwa mereka ditakdirkan untuk bertemu dengan Pemelihara mereka!


5 Lit., “Apakah mereka tidak pernah berpikir dalam diri mereka sendiri?”

6 Yakni, berbeda dengan Allah, Yang Mahaabadi dan Maha Tak Terbatas, segala sesuatu yang diciptakan bersifat terbatas dan terkena perubahan dan kematian/berkesudahan. Mengenai illa bi al-haqq (lit., “kecuali dengan [atau ‘dalam’] kebenaran”), yang saya terjemahkan menjadi “tanpa [suatu] kebenaran [hakiki]”, lihat catatan no. 11 yang menjelaskan kalimat kedua pada Surah Yunus [10]: 5.


Surah Ar-Rum Ayat 9

أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ كَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَأَثَارُوا الْأَرْضَ وَعَمَرُوهَا أَكْثَرَ مِمَّا عَمَرُوهَا وَجَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ ۖ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

a wa lam yasīrụ fil-arḍi fa yanẓurụ kaifa kāna ‘āqibatullażīna ming qablihim, kānū asyadda min-hum quwwataw wa aṡārul-arḍa wa ‘amarụhā akṡara mimmā ‘amarụhā wa jā`at-hum rusuluhum bil-bayyināt, fa mā kānallāhu liyaẓlimahum wa lāking kānū anfusahum yaẓlimụn

9. Maka, tidak pernahkah mereka melakukan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan apa yang pada akhirnya terjadi terhadap orang-orang [yang mengingkari kebenaran] itu, yang hidup sebelum masa mereka? Kekuatan orang-orang itu lebih besar daripada mereka; dan orang-orang itu telah meninggalkan pengaruh yang lebih kuat di muka bumi, dan bahkan membangunnya dengan lebih baik7 daripada [yang dilakukan oleh mereka] ini; dan kepada mereka [juga] telah datang rasul-rasul mereka dengan segala bukti kebenaran: dan demikianlah, [ketika mereka menolak kebenaran, lalu binasa,] bukanlah Allah yang menzalimi mereka, melainkan merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.


7 Lit., “lebih banyak”. Frasa ini dapat juga diterjemahkan menjadi “menghuninya (atau ‘tinggal di dalamnya’) dalam jumlah yang lebih besar”.


Surah Ar-Rum Ayat 10

ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِينَ أَسَاءُوا السُّوأَىٰ أَنْ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَكَانُوا بِهَا يَسْتَهْزِئُونَ

ṡumma kāna ‘āqibatallażīna asā`us-sū`ā ang każżabụ bi`āyātillāhi wa kānụ bihā yastahzi`ụn

10. Dan, sekali lagi:8 keburukanlah yang pasti akan menjadi akhir-kesudahan orang-orang yang berbuat buruk karena mendustakan pesan-pesan Allah dan memperolok-oloknya.


8 Untuk terjemahan tsumma yang khusus ini, lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 31.


Surah Ar-Rum Ayat 11

اللَّهُ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

allāhu yabda`ul-khalqa ṡumma yu’īduhụ ṡumma ilaihi turja’ụn

11. ALLAH MENCIPTAKAN [manusia] dari permulaan, dan kemudian mengulangi (penciptaan)-nya:9 dan, pada akhirnya, kepada-Nya-lah kalian semua akan dikembalikan.


9 Yakni, Dia akan mengulangi (penciptaan)nya kembali: bdk. Surah Yunus [10]: 4 dan catatan no. 8. (Rumusan yang lebih umum untuk pernyataan yang sama ada pada ayat 27 surah ini.)


Surah Ar-Rum Ayat 12

وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يُبْلِسُ الْمُجْرِمُونَ

wa yauma taqụmus-sā’atu yublisul-mujrimụn

12. Dan, ketika Saat Terakhir menyingsing, orang-orang yang tersesat dalam dosa akan berputus asa:


Surah Ar-Rum Ayat 13

وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ مِنْ شُرَكَائِهِمْ شُفَعَاءُ وَكَانُوا بِشُرَكَائِهِمْ كَافِرِينَ

wa lam yakul lahum min syurakā`ihim syufa’ā`u wa kānụ bisyurakā`ihim kāfirīn

13. karena mereka tidak akan memperoleh pemberi syafaat pada (diri) makhluk-makhluk yang biasa mereka anggap bersekutu dalam ketuhanan Allah10 mengingat bahwa mereka sendiri [ketika itu sudah] berhenti memercayai khayalan-khayalan hina mereka dahulu.11


10 Lit., “di antara sekutu-sekutu[-Tuhan] mereka” (lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 15).

11 Lit., “mereka akan telah menolak sekutu-sekutu[-Tuhan] mereka itu”.


Surah Ar-Rum Ayat 14

وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يَوْمَئِذٍ يَتَفَرَّقُونَ

wa yauma taqụmus-sā’atu yauma`iżiy yatafarraqụn

14. Dan, ketika Saat Terakhir menyingsing—pada Hari itu, semua [manusia] akan dipisah-pisahkan:


Surah Ar-Rum Ayat 15

فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَهُمْ فِي رَوْضَةٍ يُحْبَرُونَ

fa ammallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti fa hum fī rauḍatiy yuḥbarụn

15. adapun orang-orang yang telah meraih iman dan mengerjakan perbuatan-perbuatan kebajikan, mereka akan dijadikan berbahagia di dalam taman kesenangan;


Surah Ar-Rum Ayat 16

وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَلِقَاءِ الْآخِرَةِ فَأُولَٰئِكَ فِي الْعَذَابِ مُحْضَرُونَ

wa ammallażīna kafarụ wa każżabụ bi`āyātinā wa liqā`il-ākhirati fa ulā`ika fil-‘ażābi muḥḍarụn

16. namun, adapun orang-orang yang menolak untuk mengakui kebenaran dan mendustakan pesan-pesan Kami—dan [dengan demikian, mendustakan] berita12 tentang kehidupan akhirat—mereka akan tetap berada dalam penderitaan.


12 Lihat catatan no. 111 pada Surah Al-A’raf [7]: 147.


Surah Ar-Rum Ayat 17

فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ

fa sub-ḥānallāhi ḥīna tumsụna wa ḥīna tuṣbiḥụn

17. MAKA, bertasbihlah memuji kemuliaan Allah yang tiada terhingga ketika kalian memasuki saat-saat malam dan ketika kalian terbangun pada pagi hari;


Surah Ar-Rum Ayat 18

وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ

wa lahul-ḥamdu fis-samāwāti wal-arḍi wa ‘asyiyyaw wa ḥīna tuẓ-hirụn

18. dan [mengingat bahwa] bagi Dia-lah tertuju segala puja-puji di lelangit dan di bumi, [agungkanlah Dia] pula pada waktu petang, dan ketika kalian memasuki saat pertengahan hari.13


13 Yakni, “mengingat Allah sepanjang waktu”. Terlepas dari peringatan yang bersifat umum ini, waktu-waktu yang disebutkan di atas menunjukkan saat-saat pelaksanaan shalat lima waktu sehari-semalam yang diwajibkan atas seorang Muslim. “Saat-saat malam” mengindikasikan shalat setelah terbenamnya matahari (maghrib) serta shalat setelah gelap malam tiba (‘isya).


Surah Ar-Rum Ayat 19

يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَيُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ وَكَذَٰلِكَ تُخْرَجُونَ

yukhrijul-ḥayya minal-mayyiti wa yukhrijul-mayyita minal-ḥayyi wa yuḥyil-arḍa ba’da mautihā, wa każālika tukhrajụn

19. Dia[-lah yang] mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan memberi kehidupan kepada bumi setelah dahulunya ia mati: dan bahkan seperti itulah kalian akan dikeluarkan [dari kematian menuju kehidupan].


Surah Ar-Rum Ayat 20

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُونَ

wa min āyātihī an khalaqakum min turābin ṡumma iżā antum basyarun tantasyirụn

20. Dan, di antara keajaiban-keajaiban-Nya adalah ini: Dia menciptakan kalian dari tanah14—lalu, lihatlah! kalian menjadi manusia yang berkembang biak ke segala penjuru!


14 Lihat paruh Kedua catatan no. 47 pada Surah Al-‘Imran [3]: 59, dan catatan no. 4 pada Surah Al-Mu’minun [23]: 12.


Surah Ar-Rum Ayat 21

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

wa min āyātihī an khalaqa lakum min anfusikum azwājal litaskunū ilaihā wa ja’ala bainakum mawaddataw wa raḥmah, inna fī żālika la`āyātil liqaumiy yatafakkarụn

21. Dan, di antara keajaiban-keajaiban-Nya adalah ini: Dia menciptakan untuk kalian pasangan-pasangan dari jenis kalian sendiri15 supaya kalian cenderung kepada mereka, dan Dia menumbuhkan cinta dan kelembutan hati di antara kalian: perhatikanlah, dalam yang demikian ini sungguh terdapat pesan-pesan bagi orang-orang yang berpikir!


15 Lit., “dari antara kalian sendiri” (lihat Surah An-Nisa’ [4], catatan no. 1).


Surah Ar-Rum Ayat 22

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ

wa min āyātihī khalqus-samāwāti wal-arḍi wakhtilāfu alsinatikum wa alwānikum, inna fī żālika la`āyātil lil-‘ālimīn

22. Dan, di antara keajaiban-keajaiban-Nya adalah penciptaan lelangit dan bumi, dan keragaman bahasa dan warna kulit kalian, sebab, perhatikanlah, dalam yang demikian ini sungguh terdapat pesan-pesan bagi semua orang yang memiliki pengetahuan [bawaan]!


Surah Ar-Rum Ayat 23

وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

wa min āyātihī manāmukum bil-laili wan-nahāri wabtigā`ukum min faḍlih, inna fī żālika la`āyātil liqaumiy yasma’ụn

23. Dan, di antara keajaiban-keajaiban-Nya adalah tidur kalian, pada waktu malam ataupun siang, serta [kemampuan] kalian [untuk melakukan usaha] pencarian sebagian karunia-Nya: perhatikanlah, dalam yang demikian ini sungguh terdapat pesan-pesan bagi orang-orang yang [mau] mendengarkan!


Surah Ar-Rum Ayat 24

وَمِنْ آيَاتِهِ يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَيُحْيِي بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

wa min āyātihī yurīkumul-barqa khaufaw wa ṭama’aw wa yunazzilu minas-samā`i mā`an fa yuḥyī bihil-arḍa ba’da mautihā, inna fī żālika la`āyātil liqaumiy ya’qilụn

24. Dan, di antara keajaiban-keajaiban-Nya adalah ini: Dia memperlihatkan ke hadapan kalian kilat, yang menimbulkan [baik] ketakutan dan [juga] harapan,16 dan menurunkan air dari langit, lalu dengan air itu memberi kehidupan kepada bumi setelah dahulunya ia mati: perhatikanlah, dalam yang demikian ini sungguh terdapat pesan-pesan bagi orang-orang yang mempergunakan akal mereka!


16 Yakni, harapan akan hujan—sebuah perlambang yang sering diulang dalam Al-Quran untuk menyimbolkan iman dan kehidupan ruhani (bdk. Surah Ar-Ra’d [13]: 12).


Surah Ar-Rum Ayat 25

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ تَقُومَ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ بِأَمْرِهِ ۚ ثُمَّ إِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةً مِنَ الْأَرْضِ إِذَا أَنْتُمْ تَخْرُجُونَ

wa min āyātihī an taqụmas-samā`u wal-arḍu bi`amrih, ṡumma iżā da’ākum da’watam minal-arḍi iżā antum takhrujụn

25. Dan, di antara keajaiban-keajaiban-Nya adalah ini: langit dan bumi berdiri kokoh dengan perintah-Nya.17

[Ingatlah semua ini: sebab,] pada akhirnya, ketika Dia memanggil kalian dari bumi dengan sekali panggilan—lihatlah! kalian [semua] akan bangkit muncul [untuk diadili].


17 Bdk. Surah Ar-Ra’d [13]: 2. Dalam ayat itu, Allah dikatakan telah “meninggikan lelangit tanpa penyangga apa pun yang dapat kalian lihat”—sebuah frasa yang dijelaskan dalam catatannya (no. 4).


Surah Ar-Rum Ayat 26

وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ

wa lahụ man fis-samāwāti wal-arḍ, kullul lahụ qānitụn

26. Karena, kepunyaan-Nya-lah setiap makhluk yang ada di lelangit dan di bumi; segala sesuatu tunduk patuh pada kehendak-Nya.


Surah Ar-Rum Ayat 27

وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ ۚ وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

wa huwallażī yabda`ul-khalqa ṡumma yu’īduhụ wa huwa ahwanu ‘alaīh, wa lahul-maṡalul-a’lā fis-samāwāti wal-arḍ, wa huwal-‘azīzul-ḥakīm

27. Dan, Dia-lah yang menciptakan [seluruh kehidupan] dari permulaan, dan kemudian mengulangi (penciptaan)nya kembali:18 dan hal ini sangat mudah bagi-Nya karena milik-Nya-lah esensi segala yang mahaagung di lelangit dan di bumi,19 dan Dia sajalah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.


18 Meskipun pernyataan ini diutarakan dengan menggunakan kata-kata yang hampir sama dengan yang terdapat dalam ayat 11 (serta dalam Surah Yunus [10]: 4), pernyata an tersebut di sini jelas mengandung arti yang lebih umum, yang mengacu tidak hanya pada manusia dan kebangkitan manusia secara individual, tetapi juga pada penciptaan dan penciptaan-kembali segala kehidupan secara terus-menerus.

19 Pada dasarnya, istilah matsal menunjukkan “kesamaan” atau “keserupaan” dan, karena itu, sering digunakan dalam Al-Quran (misalnya, dalam ayat berikut) dalam pengertian “perumpamaan”. Namun, adakalanya istilah ini sama artinya dengan shifah, yang berarti “sifat” intrinsik, “kualitas”, atau “hakikat” {nature} dari sesuatu, konsep, atau makhluk hidup (bdk. sebutan “hakikat Isa” dan “hakikat Adam” dalam Surah Al-‘Imran [3]: 59). Dengan rujukan pada Allah, yang “Maha tinggi (Dia) melampaui segala sesuatu yang dapat manusia definisikan” (lihat Surah Al-An’am [6]: 100 dan catatan no. 88), ungkapan matsal jelas menunjukkan suatu kualitas wujud {quality of being} yang sama sekali berbeda dengan semua kategori eksistensi lainnya, sebab “tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya” (Surah Asy-Syura [42]: 11) dan “tidak ada apa pun yang dapat dibandingkan dengan-Nya” Surah Al-Ikhlash [112]: 4): karena itu, dalam konteks ini, matsal paling tepat diterjemahkan menjadi “esensi” {essence}.


Surah Ar-Rum Ayat 28

ضَرَبَ لَكُمْ مَثَلًا مِنْ أَنْفُسِكُمْ ۖ هَلْ لَكُمْ مِنْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ مِنْ شُرَكَاءَ فِي مَا رَزَقْنَاكُمْ فَأَنْتُمْ فِيهِ سَوَاءٌ تَخَافُونَهُمْ كَخِيفَتِكُمْ أَنْفُسَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

ḍaraba lakum maṡalam min anfusikum, hal lakum mimmā malakat aimānukum min syurakā`a fī mā razaqnākum fa antum fīhi sawā`un takhāfụnahum kakhīfatikum anfusakum, każālika nufaṣṣilul-āyāti liqaumiy ya’qilụn

28. Dia mengajukan kepada kalian suatu perumpamaan yang diambil dari kehidupan kalian sendiri:20 (yakni) akankah kalian [setuju untuk] menjadikan sebagian dari mereka yang dimiliki tangan kanan kalian21 itu sebagai sekutu-sekutu [yang sederajat] dalam rezeki apa pun yang telah Kami anugerahkan kepada kalian sehingga kalian [dan mereka] akan mempunyai bagian yang sama terhadap rezeki itu, dan kalian akan takut [untuk memanfaatkannya tanpa membicarakannya] dengan mereka, sebagaimana kalian takut [kepada yang lebih kuat di antara] sesama kalian?22

Demikianlah, Kami jelaskan pesan-pesan ini dengan gamblang kepada orang-orang yang mempergunakan akalnya.


20 Lit., “sebuah perumpamaan (matsal) dari diri kalian sendiri”.

21 Yakni, budak-budak atau orang-orang yang tunduk di bawah kekuasaan seseorang.

22 Lit., “diri kalian sendiri”—yakni, “orang-orang yang kedudukannya sama dengan kalian”. Tentu saja, pertanyaan ini bersifat retoris dan jawabannya harus dalam bentuk negatif. Namun, jika seorang tuan (demikianlah argumen yang tersirat dalam pertanyaan retoris ini) tidak ingin menerima budak-budaknya sebagai sekutu yang sederajat—sekalipun pada dasarnya seorang tuan sama dengan seorang budak, karena keduanya sama-sama manusia (Al-Zamakhsyari)—bagaimana mungkin manusia bisa memandang benda atau makhluk apa pun setara dengan Dia, Tuhan dan Penguasa mutlak manusia, yang tidak dapat dibandingkan dengan apa pun yang ada atau yang mungkin ada? (Perumpamaan lain dengan arti yang serupa ada dalam Surah An-Nahl [16]: 75-76.)


Surah Ar-Rum Ayat 29

بَلِ اتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَهْوَاءَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۖ فَمَنْ يَهْدِي مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ ۖ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

balittaba’allażīna ẓalamū ahwā`ahum bigairi ‘ilm, fa may yahdī man aḍallallāh, wa mā lahum min nāṣirīn

29. Namun, tidak—mereka yang berkukuh berbuat zalim hanya mengikuti hawa nafsu mereka sendiri, tanpa memiliki pengetahuan apa pun [tentang kebenaran].23 Dan, siapakah yang dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah Allah biarkan sesat, dan yang [setelah itu] tidak mempunyai seorang penolong pun?24


23 Dalam hal ini, frasa alladzina zhalamu (“mereka yang berkukuh berbuat zalim”) berkaitan dengan orang-orang yang sengaja menisbahkan ketuhanan atau kekuatan-kekuatan Ilahi kepada seseorang atau sesuatu apa pun selain Allah sehingga, dengan demikian, melahirkan hasrat untuk menyembah “perantara-perantara” {mediator} yang dianggap bersifat Ilahi atau semi-Ilahi itu, yang diyakini dapat menjadi penghubung antara mereka dan Allah. Karena hasrat seperti itu bertentangan dengan gagasan kemahatahuan dan kemahahadiran Allah, keberadaan hasrat itu sendiri menunjukkan bahwa orang yang bersangkutan tidak benar-benar beriman pada-Nya dan, karena itu, sedikit pun tidak memiliki pengetahuan tentang kebenaran.

24 Untuk penjelasan tentang tindakan Allah yang “membiarkan manusia sesat”, lihat catatan no. 4 yang menjelaskan kalimat kedua pada Surah Ibrahim [14]: 4, serta catatan no. 7 pada Surah Al-Baqarah [2]: 7.


Surah Ar-Rum Ayat 30

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

fa aqim waj-haka lid-dīni ḥanīfā, fiṭratallāhillatī faṭaran-nāsa ‘alaihā, lā tabdīla likhalqillāh, żālikad-dīnul qayyimu wa lākinna akṡaran-nāsi lā ya’lamụn

30. MAKA, hadapkanlah wajahmu25 dengan teguh kepada [satu-satunya] keyakinan [yang sejati-abadi], dengan berpaling dari segala yang batil,26 sesuai dengan kecenderungan alami (fitrah) yang telah Allah tanamkan ke dalam manusia:27 [dengan tujuan] untuk tidak memperkenankan perubahan apa pun yang merusak apa yang telah Allah ciptakan28—inilah [tujuan dari satu-satunya] keyakinan yang sejati-abadi; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.


25 Yakni, “serahkanlah dirimu seutuhnya”; istilah “wajah” sering digunakan secara metonimia dalam pengertian “diri seseorang seutuhnya”.

26 Untuk penerjemahan hanif ini, lihat catatan no. 110 pada Surah Al-Baqarah [2]: 135.

27 Lihat Surah Al-A’raf [7]: 172 dan catatannya (no. 139). Istilah fithrah yang saya terjemahkan menjadi “natural disposition (kecenderungan/watak alamiah, fitrah)” dalam konteks ini berarti kemampuan intuitif manusia, yang merupakan pembawaan sejak lahir, untuk membedakan yang benar dan yang salah, kesejatian dan kepalsuan, dan, dengan demikian, untuk merasakan eksistensi dan keesaan Allah. Bdk. sabda Nabi yang cukup masyhur, yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim: “Setiap anak dilahirkan dalam kecenderungan alami (fitrah); kedua orangtuanyalah yang kelak mengalihkannya menjadi seorang ‘Yahudi’, seorang ‘Nasrani’, atau seorang ‘Majusi’.” Jadi, tiga rumusan keagamaan yang sangat populer pada masa Nabi ini dipertentangkan dengan “fitrah” yang, menurut definisi, merupakan pengetahuan naluriah manusia akan Allah dan akan penyerahan-diri (islam) kepada-Nya. (Istilah “kedua-orangtua” di sini memiliki makna yang lebih luas, yakni “pengaruh sosial” atau “lingkungan”.)

28 Lit., “tidak akan ada [atau ‘akan dibuat’] perubahan dalam ciptaan (khalq) Allah”, yakni dalam fitrah yang diacu di atas (Al-Zamakhsyari). Jelaslah bahwa dalam konteks ini, istilah tabdil (“perubahan”) mencakup konsep “kerusakan”.


Surah Ar-Rum Ayat 31

مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

munībīna ilaihi wattaqụhu wa aqīmuṣ-ṣalāta wa lā takụnụ minal-musyrikīn

31. [Maka, berpalinglah dari segala yang batil,] dengan berpaling menuju Dia [semata]; dan tetap sadarlah akan Dia, dan berteguhlah mendirikan shalat, dan janganlah termasuk di antara orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain-Nya,


Surah Ar-Rum Ayat 32

مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

minallażīna farraqụ dīnahum wa kānụ syiya’ā, kullu ḥizbim bimā ladaihim fariḥụn

32. [atau] di antara orang-orang yang telah memecah belah kesatuan agama mereka dan menjadi golongan-golongan, setiap kelompok hanya membanggakan [ajaran] yang mereka anut.29


29 Lihat Surah Al-An’am [6]: 159, Surah Al-Anbiya’ [21]: 92-93, dan Surah Al-Mu’minun [23]: 52-53, serta catatan-catatannya.


Surah Ar-Rum Ayat 33

وَإِذَا مَسَّ النَّاسَ ضُرٌّ دَعَوْا رَبَّهُمْ مُنِيبِينَ إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا أَذَاقَهُمْ مِنْهُ رَحْمَةً إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ

wa iżā massan-nāsa ḍurrun da’au rabbahum munībīna ilaihi ṡumma iżā ażāqahum min-hu raḥmatan iżā farīqum min-hum birabbihim yusyrikụn

33. DAN [begitulah adanya:] apabila kesusahan menimpa manusia, mereka menyeru kepada Pemelihara mereka, dengan berpaling kepada-Nya [untuk memohon bantuan]; tetapi begitu Dia membiarkan mereka merasakan sebagian rahmat-Nya, lihatlah! sebagian dari mereka [mulai] menganggap bahwa kekuatan-kekuatan lain bersekutu dalam ketuhanan Pemelihara mereka.30


30 Lihat catatan no. 61 pada Surah An-Nahl [16]: 54.


Surah Ar-Rum Ayat 34

لِيَكْفُرُوا بِمَا آتَيْنَاهُمْ ۚ فَتَمَتَّعُوا فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ

liyakfurụ bimā ātaināhum, fa tamatta’ụ, fa saufa ta’lamụn

34. [seolah-olah] untuk membuktikan rasa tak bersyukur mereka atas semua yang telah Kami limpahkan kepada mereka!

Maka, nikmatilah kehidupan [singkat] kalian: akan tetapi, pada waktunya kelak kalian akan mengetahui [kebenaran]!


Surah Ar-Rum Ayat 35

أَمْ أَنْزَلْنَا عَلَيْهِمْ سُلْطَانًا فَهُوَ يَتَكَلَّمُ بِمَا كَانُوا بِهِ يُشْرِكُونَ

am anzalnā ‘alaihim sulṭānan fa huwa yatakallamu bimā kānụ bihī yusyrikụn

35. Apakah Kami pernah menurunkan kepada mereka sebuah kitab Ilahi31 yang [dengan nada persetujuan] membicarakan tindakan mereka menyembah apa pun disamping Kami?32


31 Lit., “sebuah keterangan” atau “wewenang” (sulthan); dalam konteks ini, jelas menunjukkan wahyu.

32 Lit, “yang biasa mereka persekutukan [dengan Kami]”. Bdk. paragraf kedua Surah Fathir [35]: 40 dan catatannya (no. 27).


Surah Ar-Rum Ayat 36

وَإِذَا أَذَقْنَا النَّاسَ رَحْمَةً فَرِحُوا بِهَا ۖ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ إِذَا هُمْ يَقْنَطُونَ

wa iżā ażaqnan-nāsa raḥmatan fariḥụ bihā, wa in tuṣib-hum sayyi`atum bimā qaddamat aidīhim iżā hum yaqnaṭụn

36. Dan [begitulah adanya:] apabila Kami biarkan manusia merasakan rahmat [Kami], mereka gembira dengannya; tetapi jika keburukan menimpa mereka sebagai akibat dari apa yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri33—lihatlah! mereka kehilangan segala harapan!


33 Lihat Surah An-Nisa’ [4]: 79 dan catatannya (no. 94).


Surah Ar-Rum Ayat 37

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

a wa lam yarau annallāha yabsuṭur-rizqa limay yasyā`u wa yaqdir, inna fī żālika la`āyātil liqaumiy yu`minụn

37. Maka, tidakkah mereka memperhatikan bahwa Allah-lah yang menganugerahkan rezeki yang melimpah, atau memberikannya dalam jumlah yang sedikit, kepada siapa pun yang Dia kehendaki?

Perhatikanlah, dalam yang demikian ini sungguh terdapat pesan-pesan bagi orang-orang yang beriman!


Surah Ar-Rum Ayat 38

فَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

fa āti żal-qurbā ḥaqqahụ wal-miskīna wabnas-sabīl, żālika khairul lillażīna yurīdụna waj-hallāhi wa ulā`ika humul-mufliḥụn

38. Karenanya, berikanlah kepada kerabat haknya, serta kepada orang-orang miskin dan musafir;34 inilah yang terbaik bagi orang-orang yang mencari wajah (ridha) Allah: sebab mereka, mereka itulah yang akan meraih kebahagiaan!


34 Bdk. Surah Al-Isra’ [17]: 26.


Surah Ar-Rum Ayat 39

وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ ۖ وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ

wa mā ātaitum mir ribal liyarbuwa fī amwālin-nāsi fa lā yarbụ ‘indallāh, wa mā ātaitum min zakātin turīdụna waj-hallāhi fa ulā`ika humul-muḍ’ifụn

39. Dan [ingatlah:] apa pun yang mungkin kalian berikan dengan riba agar ia dapat bertambah melalui harta-milik orang [lain], tidak akan membawa tambahan [bagi kalian] dalam pandangan Allah35—sedangkan semua yang kalian berikan berupa derma, untuk mencari keridhaan Allah, [akan diberkahi oleh-Nya:36] sebab mereka, mereka [yang mencari keridhaan-Nya] itulah yang akan mendapatkan balasan dengan dilipatgandakan!


35 Inilah penyebutan paling awal untuk istilah dan konsep riba dalam kronologi pewahyuan Al-Quran. Dalam pengertian umum dan linguistiknya, istilah ini menunjukkan suatu “tambahan” atau “kenaikan” sesuatu melebihi dan di atas ukuran atau jumlah aslinya; dalam terminologi Al-Quran, istilah ini berarti suatu tambahan yang haram atas sejumlah uang atau barang yang dipinjamkan oleh seseorang atau sekumpulan orang kepada orang lain, melalui pembungaan. Para fuqaha (ahli fiqih) awal melihat permasalahan ini dari sudut pandang kondisi ekonomi pada masa mereka, atau pada masa sebelum mereka, sehingga kebanyakan di antara mereka mendefinisikan “tambahan haram” ini sebagai laba yang diperoleh melalui pinjaman apa pun yang menghasilkan bunga, terlepas dari tinggi-rendahnya suku bunga dan motif ekonomi yang melandasinya. Maka, seperti ditunjukkan oleh begitu melimpahnya literatur hukum tentang pokok bahasan ini, ulama atau para sarjana Muslim belum dapat mencapai suatu kesepakatan yang mutlak tentang definisi riba: yakni, suatu definisi yang mencakup semua situasi legal yang mungkin, dan secara positif merespons semua urgensi lingkungan ekonomi yang berubah-ubah. Menurut Ibn Katsir (dalam tafsirnya atas Surah Al-Baqarah [2]: 275), “bahasan tentang riba merupakan salah satu bahasan yang paling pelik bagi banyak cendekiawan (ahl al-‘ilm)”. Hendaknya diingat bahwa ayat yang mengutuk dan melarang riba yang dirumuskan dalam istilah-istilah hukum Surah Al-Baqarah [2]: 275-281) merupakan wahyu terakhir yang diterima Nabi, yang wafat beberapa hari kemudian (bdk. catatan no. 268 pada Surah Al-Baqarah [2]: 281); karenanya, para Sahabat tidak mempunyai kesempatan untuk bertanya kepada Nabi tentang implikasi-implikasi syariat dari ketentuan-ketentuan itu—sehingga ‘Umar ibn Khaththab pun, berdasarkan riwayat yang dapat dipercaya, dikabarkan pernah berkata, “Yang terakhir diwahyukan [dari Al-Quran] adalah bahasan [lit., ‘ayat’] tentang riba; dan, perhatikanlah, Rasulullah meninggal tanpa [lit., ‘sebelum’] menjelaskan maknanya kepada kita” (Ibn Hanbal, yang diriwayatkan oleh Sa’id ibn Al-Musayyab). Namun, kerasnya Al-Quran mengutuk riba dan orang-orang yang mempraktikkannya memberikan suatu indikasi nyata yang cukup akan hakikat dan implikasi-implikasi moral dan sosialnya—khususnya ketika kita mencermati latar belakang pengalaman ekonomi umat manusia selama berabad-abad. Dalam garis besarnya, riba (dalam pengertian yang digunakan dalam Al-Quran dan dalam banyak sabda Nabi) dipandang keji karena keuntungan riba diperoleh melalui pinjaman berbunga yang melibatkan suatu eksploitasi terhadap orang yang secara ekonomi lemah oleh orang yang kuat dan memiliki sumber daya: suatu eksploitasi yang dicirikan dengan fakta bahwa si pemberi pinjaman, yang tetap menguasai kepemilikan penuh atas modal yang dipinjamkan dan tidak memedulikan aspek legal dari tujuan dan cara penggunaan modal itu, berdasarkan perjanjian dijamin untuk tetap mendapat keuntungan, terlepas apakah si peminjam mungkin menderita kerugian akibat transaksi ini. Dengan mencamkan definisi ini, kita menyadari bahwa persoalan mengenai jenis transaksi-transaksi finansial apa saja yang termasuk dalam kategori riba atau tidak, pada akhirnya, merupakan persoalan moral, yang sangat terkait dengan motif sosio-ekonomi yang mendasari hubungan timbal-balik antara si peminjam dan si pemberi pinjaman; dan, apabila diungkapkan dalam istilah-istilah murni ekonomi, hal ini merupakan persoalan mengenai bagaimana laba dan risiko dapat dibagi/ditanggung secara adil oleh kedua pihak yang melakukan suatu transaksi utang-piutang. Tentu saja, mustahil untuk menjawab persoalan ganda ini dengan suatu cara yang kaku dan definitif: jawaban-jawaban kita dengan sendirinya harus bervariasi sesuai dengan perubahan-perubahan yang memengaruhi perkembangan sosial dan teknologi dan, karenanya, lingkungan ekonomi manusia. Karenanya, sementara kutukan Al-Quran atas konsep dan praktik riba ini bersifat tegas dan final, setiap generasi Muslim berturut-turut dihadapkan dengan tantangan untuk memberikan dimensi-dimensi baru dan arti ekonomis yang segar terhadap istilah ini yang, karena tiadanya kata yang lebih tepat, bisa diterjemahkan menjadi “usury” dalam bahasa Inggris (riba).

Dalam contoh ayat ini, (yang, sebagaimana telah saya sebutkan, menyebutkan istilah riba untuk pertama kalinya dalam sejarah kronologis Al-Quran), belum ada larangan tegas terhadapnya; tetapi larangan yang muncul dalam Surah Al-Baqarah [2]: 275 dan seterusnya sudah ditengarai dengan menyebutkan jahatnya keinginan untuk menambah harta kekayaan seseorang “melalui harta-milik orang [lain]”, yakni, dengan mengeksploitasi orang lain.

36 Bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 276.


Surah Ar-Rum Ayat 40

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ۖ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَفْعَلُ مِنْ ذَٰلِكُمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

allāhullażī khalaqakum ṡumma razaqakum ṡumma yumītukum ṡumma yuḥyīkum, hal min syurakā`ikum may yaf’alu min żālikum min syaī`, sub-ḥānahụ wa ta’ālā ‘ammā yusyrikụn

40. ALLAH LAH yang telah menciptakan kalian, dan kemudian memberi kalian rezeki, dan kemudian akan mematikan kalian, dan kemudian menghidupkan kalian kembali. Mampukah makhluk-makhluk atau kekuatan-kekuatan yang kalian anggap bersekutu dalam ketuhanan-Nya37 itu melakukan apa pun dari hal-hal ini? Maha Tak Terhingga Kemuliaan-Nya, Mahatinggi (Dia) melampaui segala sesuatu yang mungkin mereka persekutukan dengan-Nya!


37 Lit., “siapa pun dari sekutu-sekutu[-Tuhan] kalian”. Bdk. catatan no. 15 pada Surah Al-An’am [6]: 22.


Surah Ar-Rum Ayat 41

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

ẓaharal-fasādu fil-barri wal-baḥri bimā kasabat aidin-nāsi liyużīqahum ba’ḍallażī ‘amilụ la’allahum yarji’ụn

41. [Karena mereka akhirnya melalaikan Allah,] telah muncul kerusakan di darat dan di laut sebagai akibat dari perbuatan tangan-tangan manusia: dan demikianlah Dia akan membiarkan mereka merasakan38 [akibat buruk] dari sebagian perbuatan mereka agar mereka dapat kembali [ke jalan yang benar].39


38 Awalan li dalam li yudziqahum di sini tidak mengindikasikan suatu tujuan atau maksud (“supaya” atau “agar”), tetapi merupakan sebuah lam al-‘aqibah, yakni awalan yang mengungkapkan suatu akibat faktual (yang paling baik diterjemahkan menjadi “kemudian” atau “demikianlah”).

39 Dengan demikian, meningkatnya pencemaran dan kerusakan lingkungan alam kita yang—mungkin baru sebagian, tapi sudah—begitu dahsyat diperlihatkan pada masa kita ini, di sini diprediksikan sebagai “akibat dari apa yang telah diperbuat oleh tangan-tangan manusia”, yakni akibat dari semangat penemuan-penemuan yang swadestruktif (karena sepenuhnya bersifat materialistis), dan aktivitas gila-gilaan yang kini mengancam umat manusia dengan bencana-bencana ekologis yang tak dapat dibayangkan sebelumnya: yakni, polusi tanah, udara, dan air yang tak terkendali karena limbah industri dan rumah tangga, proses peracunan yang progresif terhadap tumbuh-tumbuhan dan kehidupan laut, segala bentuk cacat genetis pada tubuh manusia akibat terus meluasnya penggunaan obat-obatan dan bahan kimia yang tampaknya “bermanfaat”, dan punahnya—secara berangsur-angsur—banyak spesies hewan yang penting bagi kesejahteraan manusia. Terhadap semua ini, dapat ditambahkan pula cepatnya kemerosotan dan tercerai-berainya kehidupan sosial manusia, meningkatnya penyimpangan seksual, kejahatan, dan kekerasan dalam semua segi, yang barangkali akan berpuncak pada kepunahan total akibat penggunaan senjata nuklir: pada akhirnya, semua ini disebabkan oleh (1) manusia melupakan Allah dan, karena itu, melupakan semua nilai moral yang mutlak; dan (2) kekeliruan mereka akibat meyakini bahwa satu-satunya hal yang berarti hanyalah “kemajuan” materiel.


Surah Ar-Rum Ayat 42

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلُ ۚ كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُشْرِكِينَ

qul sīrụ fil-arḍi fanẓurụ kaifa kāna ‘āqibatullażīna ming qabl, kāna akṡaruhum musyrikīn

42. Katakanlah: “Berjalanlah menjelajahi muka bumi dan perhatikanlah apa yang pada akhirnya terjadi terhadap orang-orang [yang berdosa] itu yang hidup pada masa lalu [sebelum kalian]: kebanyakan dari mereka biasa menisbahkan sifat-sifat ketuhanan kepada benda-benda atau makhluk-makhluk selain Allah.”40


40 Yakni, mereka memuja kesenangan materiel dan kekuasaan serta, dengan demikian, menjadi buta terhadap semua nilai ruhani dan pada akhirnya menghancurkan diri mereka sendiri.


Surah Ar-Rum Ayat 43

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ الْقَيِّمِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا مَرَدَّ لَهُ مِنَ اللَّهِ ۖ يَوْمَئِذٍ يَصَّدَّعُونَ

fa aqim waj-haka liddīnil-qayyimi ming qabli ay ya`tiya yaumul lā maradda lahụ minallāhi yauma`iżiy yaṣṣadda’ụn

43. Maka, hadapkanlah wajahmu dengan teguh kepada satu-satunya keyakinan yang sejati41 sebelum datang dari Allah suatu Hari [perhitungan—Hari] yang tidak dapat dihindarkan.

Pada hari itu, semua akan terpisah-pisah:


41 Lihat ayat 30, serta catatan-catatannya; lihat juga Surah Al-‘Imran [3]: 19—”satu-satunya agama [yang benar] dalam pandangan Allah adalah penyerahan-diri [manusia] kepada-Nya”.


Surah Ar-Rum Ayat 44

مَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُ ۖ وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِأَنْفُسِهِمْ يَمْهَدُونَ

mang kafara fa ‘alaihi kufruh, wa man ‘amila ṣāliḥan fa li`anfusihim yam-hadụn

44. dia yang mengingkari kebenaran akan menanggung [beban] pengingkarannya, sedangkan semua orang yang mengerjakan apa yang baik dan adil akan menyiapkan bekal yang melimpah untuk diri mereka sendiri,


Surah Ar-Rum Ayat 45

لِيَجْزِيَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ

liyajziyallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti min faḍlih, innahụ lā yuḥibbul-kāfirīn

45. agar Dia dapat memberi balasan, dari karunia-Nya, kepada orang-orang yang telah meraih iman dan mengerjakan perbuatan-perbuatan kebajikan.

Sungguh, Dia tidak mencintai orang-orang yang menolak untuk mengakui kebenaran—


Surah Ar-Rum Ayat 46

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ يُرْسِلَ الرِّيَاحَ مُبَشِّرَاتٍ وَلِيُذِيقَكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَلِتَجْرِيَ الْفُلْكُ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

wa min āyātihī ay yursilar-riyāḥa mubasysyirātiw wa liyużīqakum mir raḥmatihī wa litajriyal-fulku bi`amrihī wa litabtagụ min faḍlihī wa la’allakum tasykurụn

46. sebab, di antara keajaiban-keajaiban-Nya adalah ini: Dia mengirimkan [pesan-pesan-Nya seperti Dia mengirimkan] angin yang membawa berita gembira42 supaya Dia dapat menjadikan kalian merasakan rahmat-Nya [melalui hujan yang memberi-kehidupan], dan agar kapal-kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya, dan agar kalian dapat pergi mencari sebagian dari karunia-Nya, dan agar kalian mempunyai alasan untuk bersyukur.


42 Frasa “pesan-pesan Allah” yang saya sisipkan di antara dua tanda kurung dijustifikasi oleh ayat-ayat sebelum dan sesudah ayat ini. Selain itu, hanya melalui sisipan seperti itulah makna simbolis dari “angin yang membawa berita gembira” dapat dijelaskan sepenuhnya.


Surah Ar-Rum Ayat 47

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ رُسُلًا إِلَىٰ قَوْمِهِمْ فَجَاءُوهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَانْتَقَمْنَا مِنَ الَّذِينَ أَجْرَمُوا ۖ وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

wa laqad arsalnā ming qablika rusulan ilā qaumihim fa jā`ụhum bil-bayyināti fantaqamnā minallażīna ajramụ, wa kāna ḥaqqan ‘alainā naṣrul-mu`minīn

47. Dan, sungguh, [wahai, Muhammad, bahkan] sebelum engkau, Kami telah mengutus rasul-rasul—masing-masing kepada kaumnya sendiri43—dan mereka membawakan kepada mereka semua bukti kebenaran: dan lalu, [dengan menjadikan orang-orang beriman mencapai kemenangan,] Kami timpakan hukuman terhadap orang-orang yang [dengan senagaja] melakukan kejahatan: sebab, Kami telah mewajibkan atas diri Kami untuk menolong orang-orang yang beriman.


43 Lit., “Kami telah mengutus rasul-rasul kepada kaumnya [sendiri]”: lihat catatan no. 96 pada Surah Yunus [10]: 74.


Surah Ar-Rum Ayat 48

اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ ۖ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

allāhullażī yursilur-riyāḥa fa tuṡīru saḥāban fa yabsuṭuhụ fis-samā`i kaifa yasyā`u wa yaj’aluhụ kisafan fa taral-wadqa yakhruju min khilālih, fa iżā aṣāba bihī may yasyā`u min ‘ibādihī iżā hum yastabsyirụn

48. Allah-lah yang mengirimkan angin [harapan]44 sehingga angin itu menaikkan awan—kemudian Dia menyebarkannya di langit sebagaimana Dia kehendaki, dan memisah-misahkannya sehingga engkau melihat hujan keluar dari tengah-tengahnya: dan segera setelah Dia menjadikannya jatuh kepada siapa pun yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya—lihatlah! mereka bergembira,


44 Seperti dalam ayat 46 di atas, “angin” di sini memiliki makna simbolis, yaitu kehidupan ruhani dan harapan; karena itu, saya menyisipkannya.


Surah Ar-Rum Ayat 49

وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلِ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ

wa ing kānụ ming qabli ay yunazzala ‘alaihim ming qablihī lamublisīn

49. sekalipun sekejap saat yang lalu, [persis] sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa!


Surah Ar-Rum Ayat 50

فَانْظُرْ إِلَىٰ آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

fanẓur ilā āṡāri raḥmatillāhi kaifa yuḥyil-arḍa ba’da mautihā, inna żālika lamuḥyil mautā, wa huwa ‘alā kulli syai`ing qadīr

50. Maka, perhatikanlah, [wahai manusia,] tanda-tanda rahmat Allah ini—bagaimana Dia memberi kehidupan kepada bumi setelah dahulunya bumi itu mati! Sungguh, [Tuhan] yang sama dengan yang ini pula-lah yang benar-benar dapat menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati: sebab, Dia berkuasa menetapkan segala sesuatu!


Surah Ar-Rum Ayat 51

وَلَئِنْ أَرْسَلْنَا رِيحًا فَرَأَوْهُ مُصْفَرًّا لَظَلُّوا مِنْ بَعْدِهِ يَكْفُرُونَ

wa la`in arsalnā rīḥan fa ra`auhu muṣfarral laẓallụ mim ba’dihī yakfurụn

51. Namun, demikianlah adanya: jika45 Kami mengirimkan angin [yang membakar tanah mereka], dan mereka melihatnya menjadi kuning, mereka mulai—setelah [kesenangan terdahulu] itu—mengingkari kebenaran [akan keperkasaan dan rahmat Kami]!46


45 Partikel la’in (lit., “sungguh, jika …”) sering digunakan dalam Al-Quran untuk mengungkapkan sifat khas dan repetitif dari suatu sikap atau situasi yang diacu dalam rangkaian kalimat selanjutnya; dalam kasus-kasus seperti itu, partikel tersebut cocok diterjemahkan menjadi “demikianlah adanya: jika …”, dan seterusnya.

46 Untuk penjelasan menyeluruh terhadap ayat ini, lihat Surah Hud [11]: 9 dan catatan-catatannya (no. 16-19).


Surah Ar-Rum Ayat 52

فَإِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَىٰ وَلَا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعَاءَ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ

fa innaka lā tusmi’ul-mautā wa lā tusmi’uṣ-ṣummad-du’ā`a iżā wallau mudbirīn

52. Dan, sungguh, engkau tidak sanggup menjadikan orang-orang yang mati dapat mendengar: dan [begitu juga,] engkau tidak sanggup menjadikan orang-orang yang tuli [hatinya] mendengar seruan ini ketika mereka berpaling membelakangi[mu] dan pergi,


Surah Ar-Rum Ayat 53

وَمَا أَنْتَ بِهَادِ الْعُمْيِ عَنْ ضَلَالَتِهِمْ ۖ إِنْ تُسْمِعُ إِلَّا مَنْ يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا فَهُمْ مُسْلِمُونَ

wa mā anta bihādil-‘umyi ‘an ḍalālatihim, in tusmi’u illā may yu`minu bi`āyātinā fa hum muslimụn

53. sebagaimana engkau tidak dapat menunjuki orang-orang yang buta [hatinya] (untuk keluar) dari kesesatan mereka: tiada satu pun yang dapat engkau jadikan mendengar [seruanmu], kecuali orang-orang yang [berkehendak untuk] beriman pada pesan-pesan Kami, dan lalu menyerahkan diri mereka kepada Kami.47


47 Bdk. rangkaian ayat yang identik yang terdapat dalam Surah An-Naml [27]: 80-81 dan catatannya (no. 72).


Surah Ar-Rum Ayat 54

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

allāhullażī khalaqakum min ḍa’fin ṡumma ja’ala mim ba’di ḍa’fing quwwatan ṡumma ja’ala mim ba’di quwwatin ḍa’faw wa syaibah, yakhluqu mā yasyā`, wa huwal-‘alīmul-qadīr

54. ALLAH-LAH yang menciptakan kalian [semua] dari [suatu keadaaan yang] lemah, dan kemudian, setelah keadaan lemah itu, menakdirkan kekuatan [untuk kalian,] dan kemudian, setelah [suatu periode] kekuatan, menakdirkan kelemahan [usia tua] dan rambut yang memutih.48 Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki; dan Dia sajalah Yang Maha Mengetahui, Maha Tak Terhingga Kuasa-Nya.


48 Sebenarnya, kalimat ini disajikan dalam kalimat bentuk lampau (al-madhi) “telah menciptakan kalian” dan “telah menakdirkan”, sehingga menekankan sifat berulang-ulangnya fase-fase kehidupan manusia. Dalam terjemahan {bahasa Inggrisnya}, pengulang-ulangan ini dapat dengan tepat diungkapkan melalui kalimat bentuk-kini {present tense}.


Surah Ar-Rum Ayat 55

وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يُقْسِمُ الْمُجْرِمُونَ مَا لَبِثُوا غَيْرَ سَاعَةٍ ۚ كَذَٰلِكَ كَانُوا يُؤْفَكُونَ

wa yauma taqụmus-sā’atu yuqsimul-mujrimụna mā labiṡụ gaira sā’ah, każālika kānụ yu`fakụn

55. [Dia-lah yang akan menjadikan kalian mati, dan kelak akan membangkitkan kalian.]49 Dan, ketika Saat Terakhir tiba, orang-orang yang tenggelam dalam dosa akan bersumpah bahwa mereka tinggal [di bumi] tidak lebih lama dari sesaat saja: begitulah mereka biasa memperdaya diri mereka sendiri [sepanjang hidup mereka]!50


49 Sisipan ini—yang maknanya tersirat secara eliptis di sini—menunjukkan kaitan antara pasase ini dan pasase sebelumnya, serta engan ayat-ayat 11-16 dan 27.

50 Gagasan manusia tentang “waktu” bersifat ilusif karena gagasan itu terikat oleh perspektif manusia yang hidup di waktu-bumi. Sifat ilusif dari gagasan manusia tentang waktu ini dikemukakan oleh Al-Quran di beberapa tempat. Dalam konteks di atas, penekanannya terletak, pertama, pada kerelatifan konsep ini—yakni, pada betapa pendeknya kehidupan kita di bumi dibandingkan dengan kehidupan di akhirat yang tak mengenal waktu (bandingkan, misalnya, dengan Surah Yunus [10]: 45 atau Surah Al-Isra’ [17]: 52)—dan, kedua, pada dalih-dalih yang hanya memperdaya diri sendiri—yang dikemukakan para pendosa yang kelak dibangkitkan, yakni bahwa hidup mereka di bumi terlalu singkat sehingga mereka tidak menyadari kesalahan-kesalahan mereka dan tidak dapat memperbaiki jalan hidup mereka. Aspek kedua dari masalah inilah yang disinggung oleh Al-Quran dengan kata-kata, “begitulah mereka terbiasa memperdaya diri mereka sendiri” (lit., “dipalingkan”, yakni dari kebenaran). Untuk penjelasan tentang verba yu’fikun, lihat Surah Al-Ma’idah [5], catatan no. 90.


Surah Ar-Rum Ayat 56

وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَالْإِيمَانَ لَقَدْ لَبِثْتُمْ فِي كِتَابِ اللَّهِ إِلَىٰ يَوْمِ الْبَعْثِ ۖ فَهَٰذَا يَوْمُ الْبَعْثِ وَلَٰكِنَّكُمْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

wa qālallażīna ụtul-‘ilma wal-īmāna laqad labiṡtum fī kitābillāhi ilā yaumil-ba’ṡi fa hāżā yaumul-ba’ṡi wa lākinnakum kuntum lā ta’lamụn

56. Namun, orang-orang yang [dalam masa hidup mereka] dianugerahi dengan pengetahuan51 dan keimanan akan berkata, “Sungguh, kalian telah terlambat dalam [menerima kebenaran] yang telah Allah wahyukan,52 [dan kalian telah menunggu] hingga Hari Kebangkitan: maka, inilah Hari Kebangkitan itu: tetapi, kalian-kalian berkeras hati untuk tidak mau mengetahuinya!53


51 Lihat Surah An-Nahl [16], catatan no. 25.

52 Lit., “berkenaan dengan (fi) wahyu Allah (kitab)”, yakni, bahwa orang mati akan dibangkitkan dan diadili oleh-Nya. Perlu diperhatikan bahwa verba labitsa berarti “dia menunggu [sesuatu]” atau “dia terlambat [berkenaan dengan sesuatu]” juga “dia tinggal [di suatu tempat]” atau “dia tetap” {remained}. Jelaslah bahwa dalam ayat 55, ma labitsu berarti “mereka tidak tinggal” atau “tetap”, sedangkan dalam ayat 56, labitstum berarti “kalian telah terlambat” atau “kalian telah menunggu”.

53 Lit., “kalian terbiasa tidak mengetahui”—yakni, “kalian berkukuh menutup pikiran kalian terhadap janji ini”.


Surah Ar-Rum Ayat 57

فَيَوْمَئِذٍ لَا يَنْفَعُ الَّذِينَ ظَلَمُوا مَعْذِرَتُهُمْ وَلَا هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ

fa yauma`iżil lā yanfa’ullażīna ẓalamụ ma’żiratuhum wa lā hum yusta’tabụn

57. Maka, pada Hari itu, alasan (yang dikemukakan oleh) orang-orang yang berkukuh berbuat zalim tiada bermanfaat (lagi) bagi mereka, tidak pula mereka akan diperkenankan untuk melakukan perbaikan.


Surah Ar-Rum Ayat 58

وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ ۚ وَلَئِنْ جِئْتَهُمْ بِآيَةٍ لَيَقُولَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا مُبْطِلُونَ

wa laqad ḍarabnā lin-nāsi fī hāżal-qur`āni ming kulli maṡal, wa la`in ji`tahum bi`āyatil layaqụlannallażīna kafarū in antum illā mubṭilụn

58. DAN, SUNGGUH, Kami telah mengemukakan kepada manusia segala macam perumpamaan dalam Al-Quran ini.54 Namun demikianlah: jika engkau mendatangi mereka dengan pesan apa pun [yang seperti itu], orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran pasti akan berkata, “Engkau hanyalah membuat klaim-klaim batil!”


54 Lihat catatan no. 33 yang menerangkan klausa pertama Surah Az-Zumar [39]: 27.


Surah Ar-Rum Ayat 59

كَذَٰلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

każālika yaṭba’ullāhu ‘alā qulụbillażīna lā ya’lamụn

59. Demikianlah cara Allah menutup hati orang-orang yang tidak [mau] mengetahui [kebenaran].55


55 Untuk penjelasan tentang “penutupan” hati orang-orang seperti itu oleh Allah, lihat catatan no. 7 pada Surah Al-Baqarah [2]: 7.


Surah Ar-Rum Ayat 60

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ وَلَا يَسْتَخِفَّنَّكَ الَّذِينَ لَا يُوقِنُونَ

faṣbir inna wa’dallāhi ḥaqquw wa lā yastakhiffannakallażīna lā yụqinụn

60. Maka, tetaplah bersabar dalam menghadapi kesusahan: sungguh, janji Allah [tentang kebangkitan] adalah benar—maka janganlah biarkan orang-orang yang tidak memiliki keyakinan itu menggelisahkan pikiranmu!


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Similar Posts