55. Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) – الرحمن

Surat Ar-Rahman dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Ar-Rahman ( الرحمن ) merupakan surat ke 55 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 78 ayat yang menurut sebagian besar mufasir diturunkan di kota Makkah dan sebagian lainnya menganggap diturunkan di kota Madinah. Dengan demikian, Surah Ar-Rahman digolongkan menjadi Surat Makkiyah dan Madaniyah.

Walaupun kebanyakan mufasir menganggap surah ini termasuk ke dalam periode Makkah, Al-Zamakhsyari dan (salah satu di antara ulama pada masa terkemudian, yaitu) Al-Suyuthi menggolongkannya ke dalam periode Madinah. Al-Baidhawi tidak memberikan jawaban, dan menambahkan bahwa beberapa bagian mungkin diturunkan sebelum Nabi hijrah ke Madinah, sedangkan beberapa bagian lainnya diwahyukan setelahnya. Beberapa ulama berpendapat bahwa surah ini turun segera setelah Surah Ar-Ra’d [13]: suatu opini yang tidak cukup membantu, sebab periode pewahyuan surah itu pun tidak dapat ditentukan secara pasti.

Daftar Isi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Ar-Rahman Ayat 1

الرَّحْمَٰنُ

ar-raḥmān

1. YANG MAHA PENGASIH


Surah Ar-Rahman Ayat 2

عَلَّمَ الْقُرْآنَ

‘allamal-qur`ān

2. telah mengajarkan Al-Quran ini [kepada manusia].


Surah Ar-Rahman Ayat 3

خَلَقَ الْإِنْسَانَ

khalaqal-insān

3. Dia telah menciptakan manusia:


Surah Ar-Rahman Ayat 4

عَلَّمَهُ الْبَيَانَ

‘allamahul-bayān

4. Dia telah mengajarkan kepadanya pemikiran dan ucapan yang jelas.1


1 Istilah al-bayan berarti “sarana yang dengannya sesuatu didefinisikan [secara intelektual] dan dibuat menjadi jelas” (Raghib). Istilah ini diterapkan baik untuk pikiran maupun untuk ucapan karena ia mencakup kemampuan untuk membuat sesuatu hal atau gagasan menjadi jelas dalam benak, dan secara konseptual berbeda dengan hal atau gagasan lainnya, serta mencakup daya untuk mengungkapkan pengetahuan ini secara jelas dalam bentuk bahasa lisan atau bahasa tulisan (Taj Al-‘Arus): oleh karena itu, dalam konteks ayat di atas, istilah itu diterjemahkan menjadi “pemikiran dan ucapan yang jelas” {articulate thought and speech}; mengingatkan kembali pada “pengetahuan tentang nama-nama segala sesuatu” (yakni, kemampuan berpikir konseptual) yang dianugerahkan kepada manusia (lihat Surah Al-Baqarah [2]: 31 dan catatan no. 23 yang terkait).


Surah Ar-Rahman Ayat 5

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ

asy-syamsu wal-qamaru biḥusbān

5. [Atas perintah-Nya,] matahari dan bulan beredar menurut jalur yang telah ditentukan;2


2 Lit., “sesuai dengan perhitungan yang pasti”.


Surah Ar-Rahman Ayat 6

وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ

wan-najmu wasy-syajaru yasjudān

6. [ke hadapan-Nya] bersujud bintang gemintang dan pepohonan.


Surah Ar-Rahman Ayat 7

وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ

was-samā`a rafa’ahā wa waḍa’al-mīzān

7. Dan langit telah Dia tinggikan, dan Dia tetapkan [untuk segala sesuatu] ukuran,3


3 Nomina mizan, yang biasanya bermakna “keseimbangan”, di sini mengandung pengertian yang lebih umum, yakni “ukuran” atau “pengukuran” dengan cara apa pun (Al-Zamakhsyari), baik dalam pengertian konkret maupun abstraknya. (Bdk. juga penggunaan majasi istilah mizan pada Surah Asy-Syura [42]: 17 dan Surah Al-Hadid [57]: 25.)


Surah Ar-Rahman Ayat 8

أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ

allā taṭgau fil-mīzān

8. sehingga kalian [juga, wahai manusia,] tidak boleh melanggar batas ukuran [tentang yang benar]:


Surah Ar-Rahman Ayat 9

وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ

wa aqīmul-wazna bil-qisṭi wa lā tukhsirul-mīzān

9. karenanya, timbanglah [perbuatanmu] dengan adil, dan janganlah mengurangi ukuran!


Surah Ar-Rahman Ayat 10

وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِ

wal-arḍa waḍa’ahā lil-anām

10. Dan bumi telah Dia bentangkan untuk semua makhluk hidup,


Surah Ar-Rahman Ayat 11

فِيهَا فَاكِهَةٌ وَالنَّخْلُ ذَاتُ الْأَكْمَامِ

fīhā fākihatuw wan-nakhlu żātul-akmām

11. dengan buah-buahan di atasnya, dan pohon-pohon kurma dengan gugusan-gugusan [kurma] yang terbungkus,


Surah Ar-Rahman Ayat 12

وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ وَالرَّيْحَانُ

wal-ḥabbu żul-‘aṣfi war-raiḥān

12. dan biji-bijian yang tumbuh tinggi pada tangkai-tangkainya, dan tanam-tanaman yang harum aromanya.


Surah Ar-Rahman Ayat 13

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

13. Maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang dapat kalian ingkari?4


4 Kebanyakan mufasir klasik menafsirkan bentuk ganda dari frasa ini—rabbikuma (“Pemelihara kalian berdua”) dan tukadzdziban (“apakah kalian [atau ‘dapatkah kalian’] berdua ingkari”)—sebagai berhubungan dengan alam manusia dan alam “makhluk gaib” (yakni; jinn—lihat artikel Istilah dan Konsep Jin dalam Islam); namun penjelasan yang paling gamblang (di antaranya disebutkan oleh Al-Razi) menyatakan bahwa hal itu mengacu pada dua kelompok manusia, yakni laki-laki dan perempuan, yang kepada merekalah Al-Quran ditujukan. Nomina jamak ala’, yang saya terjemahkan menjadi “kuasa”, secara harfiah berarti “anugerah” atau “nikmat”; namun karena frasa di atas, yang diulang berkali-kali di dalam surah ini, berkaitan tidak hanya dengan nikmat-nikmat yang Allah anugerahkan kepada ciptaan-Nya, tetapi, secara lebih umum, berkaitan dengan semua perwujudan daya cipta dan kuasa-Nya, beberapa mufasir terdahulu—misalnya, Ibn Zaid, sebagaimana dikutip oleh Al-Thabari—menganggap istilah ala’, dalam konteks ini, sebagai sinonim dari qudrah (“kuasa” atau “kuasa -kuasa”).


Surah Ar-Rahman Ayat 14

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ

khalaqal-insāna min ṣalṣāling kal-fakhkhār

14. Dia telah menciptakan manusia dari tanah liat yang menimbulkan suara, seperti tembikar,5


5 Lihat Surah Al-Hijr [15]: 26 dan catatan no. 24 yang terkait.


Surah Ar-Rahman Ayat 15

وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ

wa khalaqal-jānna mim mārijim min nār

15. sedangkan makhluk-makhluk gaib telah Dia ciptakan dari nyala api yang mengacaukan,6


6 Bdk. Surah Al-Hijr [15]: 27—”dari api (yang berasal) dari angin yang sangat panas (nar al-samum)”—jadi, menekankan komposisinya dan asal-usulnya yang tidak bersifat jasmaniah. Cakupan makna istilah jinn (“makhluk gaib”, invisible beings) telah disinggung secara singkat dalam catatan no. 86 Surah Al-An’am [6]: 100 dan dalam catatan no. 67 Surah As-Saffat [37]: 158; untuk penjelasan yang lebih terperinci, lihat artikel Istilah dan Konsep Jin dalam Islam.


Surah Ar-Rahman Ayat 16

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

16. Maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang dapat kalian ingkari?


Surah Ar-Rahman Ayat 17

رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِ

rabbul-masyriqaini wa rabbul-magribaīn

17. [Dia-lah] Pemelihara dua titik terjauh tempat terbitnya matahari, dan Pemelihara dua titik terjauh tempat terbenamnya matahari.7


7 Yakni, titik-titik ekstrem {di permukaan bumi} tempat matahari terbit dan terbenam pada musim panas dan musim dingin (lihat Surah As-Saffat [37]: 5 dan Al-Ma’arij [70]: 40), termasuk “semua titik yang terdapat di antara keduanya”: sebuah metonimia bagi Allah sebagai Penyebab Utama dari gerak orbital yang terjadi di alam semesta.


Surah Ar-Rahman Ayat 18

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

18. Maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang dapat kalian ingkari?


Surah Ar-Rahman Ayat 19

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ

marajal-baḥraini yaltaqiyān

19. Dia telah memberikan keleluasaan bagi dua himpunan besar air sehingga keduanya dapat bertemu:


Surah Ar-Rahman Ayat 20

بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَا يَبْغِيَانِ

bainahumā barzakhul lā yabgiyān

20. [namun,] antara keduanya terdapat penghalang yang tidak dapat mereka lampaui.8


8 Lihat Surah Al-Furqan [25]: 53 dan catatan no. 41 dan 42 yang terkait.


Surah Ar-Rahman Ayat 21

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

21. Maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang dapat kalian ingkari?


Surah Ar-Rahman Ayat 22

يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانُ

yakhruju min-humal-lu`lu`u wal-marjān

22. Dari dua [lautan] ini, muncullah mutiara, baik besar maupun kecil.


Surah Ar-Rahman Ayat 23

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

23. Maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang dapat kalian ingkari?


Surah Ar-Rahman Ayat 24

وَلَهُ الْجَوَارِ الْمُنْشَآتُ فِي الْبَحْرِ كَالْأَعْلَامِ

wa lahul-jawāril-munsya`ātu fil-baḥri kal-a’lām

24. Dan kepunyaan-Nya-lah bahtera-bahtera agung yang berlayar membelah lautan bagaikan gunung-gunung [yang mengapung].9


9 Lit., “di laut seperti gunung-gunung”. Rujukan terhadap bahtera yang disebutkan sebagai “kepunyaan Allah” dimaksudkan untuk menekankan anugerah kepandaian dan daya inovasi yang Allah berikan kepada manusia—sebuah refleksi dari kekuasaan kreatif Allah—yang mewujudkan diri dalam semua hal yang dapat dihasilkan manusia. (Lihat juga Surah Asy-Syura [42]: 32-34 dan catatan-catatannya.)


Surah Ar-Rahman Ayat 25

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

25. Maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang dapat kalian ingkari?


Surah Ar-Rahman Ayat 26

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ

kullu man ‘alaihā fān

26. Semua yang hidup di bumi atau di lelangit10 pasti akan binasa:


10 Lit., “Setiap orang yang ada di atasnya”, yaitu di atas bumi dan/atau, menurut Ibn Katsir, di lelangit—karena kata ganti dalam ‘alaiha tampaknya berhubungan dengan seluruh alam semesta.


Surah Ar-Rahman Ayat 27

وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

wa yabqā waj-hu rabbika żul-jalāli wal-ikrām

27. namun, tetap kekal abadi Wujud Pemeliharamu,11 penuh kemuliaan dan kejayaan.


11 Lit., “wajah”, atau “muka”, istilah yang dalam bahasa Arab klasik digunakan secara metonimia untuk menunjuk pada “diri” atau “keseluruhan diri” seseorang—dalam kasus ini, maksudnya adalah Diri atau Realitas Hakiki Allah. Bdk. juga Surah Al-Qasas [28]: 88, “Segala sesuatu pasti akan binasa, kecuali Diri-Nya [yang kekal]”.


Surah Ar-Rahman Ayat 28

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

28. Maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang dapat kalian ingkari?


Surah Ar-Rahman Ayat 29

يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

yas`aluhụ man fis-samāwāti wal-arḍ, kulla yaumin huwa fī sya`n

29. Kepada-Nya bergantung semua makhluk12 di lelangit dan di bumi; [dan] setiap hari Dia mewujudkan Diri-Nya dalam cara lain lagi [yang menakjubkan].


12 Lit., “Kepada Dia-lah meminta [atau ‘Kepada Dia-lah memohon’] siapa pun yang …”, dst.: yakni, semua bergantung kepada-Nya untuk mendapatkan keselamatan dan rezeki.


Surah Ar-Rahman Ayat 30

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

30. Maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang dapat kalian ingkari?


Surah Ar-Rahman Ayat 31

سَنَفْرُغُ لَكُمْ أَيُّهَ الثَّقَلَانِ

sanafrugu lakum ayyuhaṡ-ṡaqalān

31. [SUATU HARI] Kami akan menhukum kalian,13 wahai dua makhluk yang penuh beban dosa!14


13 Lit., “Kami akan mengerahkan Diri Kami kepada kalian”.

14 Yakni, “kalian, laki-laki dan perempuan, yang penuh dosa” (lihat catatan no. 4). Menurut sebuah penafsiran yang dikutip oleh Al-Razi, julukan tsaqalan (bentuk jamak-ganda dari tsaqal, “sesuatu yang berat”) berarti bahwa kedua jenis manusia ini dapat melakukan, dan karena itu terbebani dengan, dosa.


Surah Ar-Rahman Ayat 32

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

32. Maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang dapat kalian ingkari?


Surah Ar-Rahman Ayat 33

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا ۚ لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ

yā ma’syaral-jinni wal-insi inistaṭa’tum an tanfużụ min aqṭāris-samāwāti wal-arḍi fanfużụ, lā tanfużụna illā bisulṭān

33. Wahai, kalian yang menjalin hubungan yang erat dengan makhluk-makhluk gaib dan manusia [yang jahat]!15 Jika kalian [menyangka bahwa kalian] dapat menembus wilayah lelangit dan bumi,16 tembuslah! [Namun,] kalian tidak akan dapat menembusnya, kecuali dengan kekuasaan [dari Allah]!17


15 Untuk penjelasan mengenai penerjemahan ma’syar al-jinn wa al-ins, lihat catatan no. 112 pada paragraf pertama Surah Al-An’am [6]: 128.

16 Yakni, untuk melarikan diri dari pembalasan dan hukuman Allah.

17 Yakni, “kecuali Dia hehdak memaafkan kalian”: bdk. paragraf terakhir Surah Al-An’am [6]: 128 dan catatan no. 114 yang terkait.


Surah Ar-Rahman Ayat 34

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

34. Maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang dapat kalian ingkari?


Surah Ar-Rahman Ayat 35

يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِنْ نَارٍ وَنُحَاسٌ فَلَا تَنْتَصِرَانِ

yursalu ‘alaikumā syuwāẓum min nāriw wa nuḥāsun fa lā tantaṣirān

35. Kilatan api serta asap akan dilepaskan ke arah kalian, dan kalian akan ditinggal tanpa pertolongan!


Surah Ar-Rahman Ayat 36

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

36. Maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang dapat kalian ingkari?


Surah Ar-Rahman Ayat 37

فَإِذَا انْشَقَّتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ وَرْدَةً كَالدِّهَانِ

fa iżansyaqqatis-samā`u fa kānat wardatang kad-dihān

37. Dan ketika langit terbelah dan menjadi merah seperti minyak [yang terbakar]18


18 Ini adalah salah satu dari beberapa penafsiran yang absah terhadap istilah dihan (lihat Al-Thabari); penafsiran lainnya adalah “kulit cokelat [atau merah] seperti habis terbakar”, yang bersinonim dengan adim (Al-Zamakhsyari); tafsiran lainnya lagi adalah “sisa minyak zaitun” (Raghib). Semua penafsiran ini mengandung satu gagasan yang sama—yakni, perubahan (atau sejumlah perubahan) warna langit yang terjadi secara mendadak dan mengejutkan pada Saat Terakhir.


Surah Ar-Rahman Ayat 38

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

38. Maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang dapat kalian ingkari?


Surah Ar-Rahman Ayat 39

فَيَوْمَئِذٍ لَا يُسْأَلُ عَنْ ذَنْبِهِ إِنْسٌ وَلَا جَانٌّ

fa yauma`iżil lā yus`alu ‘an żambihī insuw wa lā jānn

39. Karena pada Hari itu, tiada seorang manusia atau makhluk gaib pun yang akan ditanya mengenai dosa-dosanya.19


19 Yakni, para pendosa ltu “akan mendapati bahwa semua yang pernah mereka perbuat [kini] ada di hadapan mereka” (Surah Al-Kahfi [18]: 49) serta “lidah, tangan, dan kaki mereka akan memberi kesaksian melawan mereka dengan [mengingatkan] apa yang mereka telah perbuat” (Surah An-Nur [24]: 24).


Surah Ar-Rahman Ayat 40

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

40. Maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang dapat kalian ingkari?


Surah Ar-Rahman Ayat 41

يُعْرَفُ الْمُجْرِمُونَ بِسِيمَاهُمْ فَيُؤْخَذُ بِالنَّوَاصِي وَالْأَقْدَامِ

yu’raful-mujrimụna bisīmāhum fa yu`khażu bin-nawāṣī wal-aqdām

41. Semua yang tenggelam dalam dosa akan dikenali melalui tanda-tandanya, dan akan dipegang ubun-ubun dan kakinya!20


20 Ini mengacu pada rasa malu dan hina amat berat yang mereka alami. Orang-orang Arab pada zaman kuno, jika ingin menekankan ketundukan seseorang kepada orang lainnya, mereka akan berkata, “Ubun-ubun orang itu berada dalam genggaman si fulan.” (Lihat pula Surah Al-‘Alaq [96]: 15-16 dan catatan no. 8 yang terkait.)


Surah Ar-Rahman Ayat 42

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

42. Maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang dapat kalian ingkari?


Surah Ar-Rahman Ayat 43

هَٰذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي يُكَذِّبُ بِهَا الْمُجْرِمُونَ

hāżihī jahannamullatī yukażżibu bihal-mujrimụn

43. Inilah neraka yang [kini] didustakan oleh mereka yang tenggelam dalam dosa:


Surah Ar-Rahman Ayat 44

يَطُوفُونَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ حَمِيمٍ آنٍ

yaṭụfụna bainahā wa baina ḥamīmin ān

44. mereka berjalan ke sana kemari di antara neraka itu dan keputusasaan [mereka sendiri] yang panas membara!21


21 Untuk penerjemahan hamim menjadi “keputusasaan yang membara”, lihat catatan no. 62 pada kalimat terakhir Surah Al-An’am [6]: 70. Bahwa semua gambaran Qurani tentang “ganjaran” dan “hukuman” di akhirat bersifat alegoris jelas-jelas diisyaratkan oleh gaya ungkap ayat di atas, yang menyebutkan para pendosa itu “berjalan ke sana kemari” antara neraka dan keputusasaan yang membara (bainaha wa baina hamim)—yakni, terlempar-lempar di antara penderitaan yang nyata dan derita sesal yang tiada guna.


Surah Ar-Rahman Ayat 45

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

45. Maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang dapat kalian ingkari?


Surah Ar-Rahman Ayat 46

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

wa liman khāfa maqāma rabbihī jannatān

46. NAMUN, BAGI MEREKA yang takut akan Kehadiran Pemeliharanya, dua taman [surga disediakan]22


22 Yakni, dua macam surga, yang akan dialami secara simultan. Berbagai penafsiran dikemukakan mengenai hal ini oleh para mufasir klasik: misalnya, “surga yang pertama sebagai balasan bagi perbuatan baik yang mereka lakukan, dan surga yang kedua sebagai balasan atas sikap mereka menghindari dosa” (Al-Zamakhsyari); atau sebuah surga yang “mencakup baik kenikmatan spiritual maupun fisik, sehingga [terlihat] seolah-olah ada dua surga” (Al-Razi). Akhirnya, dapat saja disimpulkan bahwa disebutkannya secara tegas “dua taman [surga]” ini mengandung—sebagaimana ayat sebelumnya yang menyebutkan para pendosa yang “berjalan di antara neraka dan keputusasaan yang membara”—isyarat tegas yang menunjukkan bahwa semua gambaran kehidupan akhirat bersifat alegoris, serta menunjukkan intensitas (atau multiplikasi) yang tak terperi dari segala perasaan yang terbayangkan dan tidak terbayangkan yang dialami dalam kehidupan akhirat. Gambaran kenikmatan surga pada ayat berikutnya pun hendaknya dipahami dengan cara yang sama.


Surah Ar-Rahman Ayat 47

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

47. maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang dapat kalian ingkari?—


Surah Ar-Rahman Ayat 48

ذَوَاتَا أَفْنَانٍ

żawātā afnān

48. [dua surga] dengan banyak corak yang menakjubkan.23


23 Menurut Al-Thabari, nomina fann (lit., “modus” atau “cara”) dalam hal ini bersinonim dengan laun ( “warna” atau “corak”). Afnan adalah bentuk jamak-ganda, dan karenanya berarti “corak yang banyak“; dan karena—seperti disebutkan dalam Taj Al-‘Arus—salah satu dari sekian makna yang diterima dari fann adalah “sesuatu yang menakjubkan”, afnan dapat pula diterjemahkan menjadi “banyak hal yang menakjubkan”. Penafsiran yang saya ambil ini menggabungkan kedua interpretasi itu.

Mengenai sifat tak terlukiskan dari apa yang disebut sebagai “surga”, Iihat Surah As-Sajdah [32]: 17 dan catatan no. 15 yang terkait.


Surah Ar-Rahman Ayat 49

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

49. Maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang dapat kalian ingkari?


Surah Ar-Rahman Ayat 50

فِيهِمَا عَيْنَانِ تَجْرِيَانِ

fīhimā ‘aināni tajriyān

50. Di dalam kedua [taman] ini, mengalirlah dua mata air.24


24 “Dua mata air” surga mengingatkan pada “dua laut” yang dibicarakan dalam Surah Al-Kahfi [18]: 60-61, yang, menurut Al-Baidhawi, melambangkan dua sumber atau arus pengetahuan yang bisa diraih manusia, yaitu: yang pertama didapat melalui observasi dan analisis intelektual terhadap fenomena eksternal (‘ilm al-zhahir), dan yang kedua melalui wawasan batin-mistik (‘ilm al-bathin).


Surah Ar-Rahman Ayat 51

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

51. Maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang dapat kalian ingkari?


Surah Ar-Rahman Ayat 52

فِيهِمَا مِنْ كُلِّ فَاكِهَةٍ زَوْجَانِ

fīhimā ming kulli fākihatin zaujān

52. Pada keduanya akan [ditemukan] dua jenis dari setiap buah.25


25 Menurut Al-Zamakhsyari: “satu jenis yang dikenal dan satu jenis yang asing (gharib)”—yakni, pengetahuan atau perasaan yang dapat dibayangkan berdasarkan pengalaman kita dalam hidup di dunia ini dan pengetahuan atau perasaan yang, hingga kini, belum terbayangkan bagi kita, dan karenanya hanya dapat diisyaratkan melalui simbol atau alegori. Mengenai konsep “alegori” itu sendiri, lihat Surah Alu ‘Imran [3]: 7 dan catatan no. 8 yang terkait.


Surah Ar-Rahman Ayat 53

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

53. Maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang dapat kalian ingkari?


Surah Ar-Rahman Ayat 54

مُتَّكِئِينَ عَلَىٰ فُرُشٍ بَطَائِنُهَا مِنْ إِسْتَبْرَقٍ ۚ وَجَنَى الْجَنَّتَيْنِ دَانٍ

muttaki`īna ‘alā furusyim baṭā`inuhā min istabraq, wa janal-jannataini dān

54. [Dalam surga seperti itulah mereka yang diberkati akan tinggal,] berbaring di atas permadani-permadani yang bagian dalamnya dilapisi brokat yang melimpah;26 dan buah-buahan kedua taman ini akan mudah dijangkau.


26 Bdk. Surah Al-Kahfi [18]: 31 dan catatan no. 41 yang terkait. Frasa “berbaring di atas permadani-permadani” (atau “di atas dipan-dipan” pada Surah Al-Kahfi [18]: 31) merupakan perlambang ketenangan yang sempurna dan kedamaian jiwa. Penggambaran “permadani” surga yang “bagian dalamnya dilapisi kain brokat yang melimpah” mungkin dimaksudkan untuk menyampaikan gagasan bahwa sebagaimana halnya lapisan-dalam permadani yang biasanya tidak tampak, begitu pulalah dengan keindahan surga yang tidak berhubungan dengan tampilan luar, karena ia bersifat spiritual-batini {Al-Razi). Konsep ini sudah muncul dalam penafsiran masa-masa awal, seperti dikutip olen Al-Zamakhsyari, yang menafsirkan “permadani” yang dibicarakan di sini sebagai cahaya.


Surah Ar-Rahman Ayat 55

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

55. Maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang dapat kalian ingkari?


Surah Ar-Rahman Ayat 56

فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ

fīhinna qāṣirātuṭ-ṭarfi lam yaṭmiṡ-hunna insung qablahum wa lā jānn

56. Di dalam [taman-taman] ini akan ada pasangan-pasangan dengan pandangan yang sopan, yang tidak seorang manusia atau makhluk gaib pun pernah menyentuhnya sebelum itu.27


27 Lihat Surah Al-Waqi’ah [56]: 35-36 dan catatan no. 14 yang terkait. Sehubungan dengan ungkapan qashirat al-tharf (lit., “yang menahan pandangannya”), Iihat catatan no. 46 pada Surah Sad [38]: 52, yang di dalamnya ungkapan tersebut muncul untuk pertama kalinya dalam Al-Quran.


Surah Ar-Rahman Ayat 57

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

57. Maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang dapat kalian ingkari?


Surah Ar-Rahman Ayat 58

كَأَنَّهُنَّ الْيَاقُوتُ وَالْمَرْجَانُ

ka`annahunnal-yāqụtu wal-marjān

58. [Manakala kalian dijanjikan kecemerlangan,] laksana [kecemerlangan] rubi dan mutiara—


Surah Ar-Rahman Ayat 59

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

59. maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang dapat kalian ingkari?


Surah Ar-Rahman Ayat 60

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

hal jazā`ul-iḥsāni illal-iḥsān

60. Bukankah tidak ada balasan bagi kebaikan, kecuali kebaikan pula?


Surah Ar-Rahman Ayat 61

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

61. Maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang dapat kalian ingkari?


Surah Ar-Rahman Ayat 62

وَمِنْ دُونِهِمَا جَنَّتَانِ

wa min dụnihimā jannatān

62. Dan, selain kedua taman itu, akan ada lagi dua taman [lainnya]28


28 Kebanyakan mufasir berasumsi—dengan tidak terlalu meyakinkan—bahwa “dua taman lain” tersebut adalah yang disediakan bagi orang-orang beriman yang mendapatkan pahala lebih sedikit. Berlawanan dengan penafsiran yang lemah dan agak arbitrer ini, menurut saya tampaknya penyebutan “dua taman lainnya” yang disejajarkan dengan “dua taman” yang disebutkan sebelumnya dimaksudkan untuk menyampaikan gagasan ketakterhinggaan dalam hubungannya dengan konsep surga itu sendiri, yakni: taman di atas taman di atas taman dalam pemandangan yang tak berujung, yang gambarannya agak bervariasi, namun kesemuanya merupakan simbol dari kebahagiaan tertinggi.


Surah Ar-Rahman Ayat 63

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

63. maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang dapat kalian ingkari?


Surah Ar-Rahman Ayat 64

مُدْهَاۤمَّتٰنِۚ

mud-hāmmatān

64. dua [taman] yang sangat hijau.29


29 Yakni, karena penyiraman yang berlimpah (Taj Al-‘Arus). Hendaknya diperhatikan bahwa kata sifat “hijau” sering kali digunakan di dalam Al-Quran untuk menunjukkan kehidupan yang selalu segar: misalnya, “pakaian hijau” yang akan dikenakan oleh penghuni surga (Surah Al-Kahfi [18]: 31 dan Surah Al-Insan [76]: 21), atau “padang-padang hijau” tempat mereka akan berbaring (bdk. ayat 76 surah ini).


Surah Ar-Rahman Ayat 65

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

65. Maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang dapat kalian ingkari?


Surah Ar-Rahman Ayat 66

فِيهِمَا عَيْنَانِ نَضَّاخَتَانِ

fīhimā ‘aināni naḍḍākhatān

66. Dalam [masing-masing] kedua [taman] itu, akan ada dua mata air yang memancar.


Surah Ar-Rahman Ayat 67

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

67. Maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang dapat kalian ingkari?


Surah Ar-Rahman Ayat 68

فِيهِمَا فَاكِهَةٌ وَنَخْلٌ وَرُمَّانٌ

fīhimā fākihatuw wa nakhluw wa rummān

68. Di dalam keduanya terdapat [semua jenis] buah-buahan, dan pohon kurma serta delima.


Surah Ar-Rahman Ayat 69

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

69. Maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang dapat kalian ingkari?


Surah Ar-Rahman Ayat 70

فِيهِنَّ خَيْرَاتٌ حِسَانٌ

fīhinna khairātun ḥisān

70. Di dalam [taman-taman] ini terdapat [semua] hal yang terbagus dan terindah.


Surah Ar-Rahman Ayat 71

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

71. Maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang dapat kalian ingkari?


Surah Ar-Rahman Ayat 72

حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ

ḥụrum maqṣụrātun fil-khiyām

72. [Di sana, orang-orang yang diberkati itu akan tinggal bersama] teman-teman [mereka] yang suci30 dan sopan, di dalam ruangan-ruangan [yang indah]—


30 Untuk penerjemahan nomina plural hur ini (yang menunjukkan maskulin dan feminin sekaligus), lihat catatan no. 8 pada Surah Al-Waqi’ah [56]: 22, yakni, tempat istilah ini disebutkan untuk pertama kalinya di dalam Al-Quran; juga catatan no. 13 pada Surah Al-Waqi’ah [56]: 34.


Surah Ar-Rahman Ayat 73

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

73. maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang dapat kalian ingkari?


Surah Ar-Rahman Ayat 74

لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ

lam yaṭmiṡ-hunna insung qablahum wa lā jānn

74. [teman-teman] yang tidak seorang manusia atau makhluk gaib pun pernah menyentuhnya sebelum itu.


Surah Ar-Rahman Ayat 75

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

75. Maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang dapat kalian ingkari?


Surah Ar-Rahman Ayat 76

مُتَّكِئِينَ عَلَىٰ رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَعَبْقَرِيٍّ حِسَانٍ

muttaki`īna ‘alā rafrafin khuḍriw wa ‘abqariyyin ḥisān

76. [Di dalam surga seperti itulah mereka akan tinggal,] seraya berbaring di atas padang-padang rumput hijau dan permadani yang sungguh indah.


Surah Ar-Rahman Ayat 77

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

77. Maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang dapat kalian ingkari?


Surah Ar-Rahman Ayat 78

تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

tabārakasmu rabbika żil-jalāli wal-ikrām

78. MAHASUCI nama Pemeliharamu, penuh kemuliaan dan kejayaan!


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top