4. An-Nisa’ (Perempuan) – النّساء

Surat An-Nisa’ dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat An-Nisa’ ( النّساء ) merupakan surah ke 4 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 176 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Madinah. Dengan demikian, Surah An-Nisa’ tergolong Surat Madaniyah.

Nama An-Nisa’ diberikan kepada surah ini karena banyak ayat surah ini membahas hak-hak perempuan dan soal-soal yang berhubungan dengan kehidupan keluarga secara umum, termasuk hukum waris, larangan menikah antar-orang yang memiliki tingkat pertalian darah tertentu, hubungan pernikahan, dan sebagainya.

Ayat pembuka Surah An-Nisa’ menekankan kesatuan mendasar umat manusia dan kewajiban timbal-balik antara laki-laki dan perempuan, sebagai konsekuensi dari pertalian keluarga ini. Bagian terbesar surah ini berbicara tentang ketentuan-ketentuan praktis menyangkut masalah perang dan damai, serta soal hubungan antara orang beriman dan orang tak beriman, khususnya orang munafik. Ayat 150-152 menegaskan tentang kemustahilan seseorang beriman kepada Allah tanpa beriman kepada para nabi-Nya; dan hal ini, pada gilirannya, mengantarkan kita pada topik pembicaraan tentang kaum Yahudi, yang bukan saja mengingkari kenabian Muhammad, melainkan juga kenabian Isa (Yesus); serta tentang kaum Nasrani, yang mengingkari Muhammad dan menuhankan Isa, kendati sesungguhnya Isa “tiada pernah merasa terlalu angkuh untuk menjadi hamba Allah” (ayat 172). Dan, pada akhirnya, seolah-olah untuk menegaskan bahwa keimanan seseorang tidak dapat dipisahkan dari perilaku sosialnya, ayat terakhir surah ini kembali berbicara tentang hukum waris.

Tidak ada keraguan bahwa ayat-ayat dalam Surah An-Nisa’ seluruhnya diturunkan pada periode Madinah. Dalam urutan pewahyuan, surah ini boleh jadi turun segera setelah turunnya Surah Alu ‘Imran atau, berdasarkan sebagian pendapat ahli, turun setelah Surah Al-‘Imran, tetapi dengan terlebih dahulu diselingi oleh turunnya Surah Al-Ahzab dan Al-Mumtahanah. Bagaimanapun, kemungkinan yang paling besar adalah surah ini diturunkan pada tahun keempat setelah hijrah, walaupun beberapa ayat surah ini mungkin diturunkan pada periode yang lebih awal. Sedangkan, ayat 58 diturunkan pada periode yang lebih terkemudian.

Daftar Isi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah An-Nisa’ Ayat 1

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

yā ayyuhan-nāsuttaqụ rabbakumullażī khalaqakum min nafsiw wāḥidatiw wa khalaqa min-hā zaujahā wa baṡṡa min-humā rijālang kaṡīraw wa nisā`ā, wattaqullāhallażī tasā`alụna bihī wal-ar-ḥām, innallāha kāna ‘alaikum raqībā

1. WAHAI, MANUSIA! Sadarlah akan Pemelihara kalian, yang telah menciptakan kalian dari entitas hidup yang satu, dan darinya Dia menciptakan pasangannya; dan dari keduanya Dia menjadikan laki-laki dan perempuan berkembang biak berlipat ganda.1 Dan, tetaplah sadar akan Allah, yang dengan nama-Nya kalian saling meminta [hak-hak kalian], dan (sadarlah akan) tali hubungan keluarga ini. Sungguh, Allah senantiasa memantau kalian!


1 Dari sekian banyak arti yang dapat dihubungkan dengan istilah nafs—jiwa, ruh, pikiran, makhluk hidup, entitas hidup, manusia, pribadi, diri (dalam pengertian identitas pribadi), umat manusia, sari-kehidupan, prinsip hidup, dan seterusnya—mayoritas mufasir klasik memilih arti “manusia” (human being) dan berpendapat bahwa, dalam kontes ayat ini, kata itu mengacu pada Nabi Adam a.s. Namun, Muhammad `Abduh menolak penafsiran ini (Al-Manar IV, hh. 323 dan seterusnya) dan dia lebih cenderung memilih arti “umat manusia” (humankind) karena istilah ini menekankan asal-usul yang sama dan persaudaraan umat manusia (yang tidak diragukan lagi merupakan maksud ayat di atas), tanpa pada saat yang sama mengaitkannya secara tidak beralasan dengan keterangan Bibel tentang penciptaan Adam dan Hawa. Dalam konteks ini, saya menerjemahkan nafs dengan “entitas hidup” (living entity) karena alasan serupa.

Adapun berkenaan dengan istilah zaujaha (pasangannya), perlu dicatat di sini bahwa, dalam kaitannya dengan makhluk hidup, istilah zauj (“sepasang”, “satu dari sepasang”, atau “pasangan”) berlaku baik untuk unsur laki-laki maupun perempuan dari suatu pasangan. Karena itu, dalam kaitannya dengan umat manusia, istilah ini dapat berarti pasangan perempuan (suami) maupun pasangan laki-laki (istri). Abu Muslim—seperti dikutip Al-Razi—menafsirkan frasa “Dia (Allah) menciptakan darinya (minha) pasangannya” sebagai berikut: “Dia (Allah) menciptakan pasangannya (yaitu pasangan seksualnya) dari jenisnya sendiri (min jinsiha)”. Dengan begitu, pandangan Abu Muslim mendukung pandangan Muhammad ‘Abduh yang telah disebut sebelumnya. Terjemahan harfiah minha menjadi “darinya” (“out of it“) jelas mengacu, sejalan dengan bunyi teksnya, pada fakta biologis bahwa kedua jenis kelamin tersebut berasal dari “entitas hidup yang satu”.


Surah An-Nisa’ Ayat 2

وَآتُوا الْيَتَامَىٰ أَمْوَالَهُمْ ۖ وَلَا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ ۖ وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إِلَىٰ أَمْوَالِكُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ حُوبًا كَبِيرًا

wa ātul-yatāmā amwālahum wa lā tatabaddalul-khabīṡa biṭ-ṭayyibi wa lā ta`kulū amwālahum ilā amwālikum, innahụ kāna ḥụbang kabīrā

2. Karena itu, berikanlah kepada anak-anak yatim harta milik mereka, dan janganlah menukar yang buruk-buruk [milik kalian] dengan yang baik-baik [milik mereka], dan janganlah memakan harta mereka bersama harta kalian:2 sungguh, ini merupakan kejahatan yang besar.


2 Hal ini berkaitan dengan wali yang sah bagi anak yatim selama anak yatim itu belum dewasa.


Surah An-Nisa’ Ayat 3

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا

wa in khiftum allā tuqsiṭụ fil-yatāmā fangkiḥụ mā ṭāba lakum minan-nisā`i maṡnā wa ṡulāṡa wa rubā’, fa in khiftum allā ta’dilụ fa wāḥidatan au mā malakat aimānukum, żālika adnā allā ta’ụlụ

3. Dan, jika kalian khawatir tidak dapat berlaku adil terhadap anak-anak yatim, nikahilah di antara perempuan-perempuan [lain] yang dihalalkan bagi kalian3—[bahkan] dua, atau tiga, atau empat: tetapi, jika kalian khawatir tidak mampu memperlakukan mereka dengan keadilan yang setara, maka (nikahilah) satu orang [saja]—atau [nikahilah di antara] mereka yang kalian miliki secara sah.4 Yang demikian itu lebih memungkinkan kalian untuk tidak menyimpang dari jalan yang benar.


3 Lit., “yang baik bagi kalian”—yaitu, perempuan-perempuan selain dari yang dilarang dalam ayat 22-23 surah ini (Al-Zamakhsyari, Al-Razi). Menurut penafsiran ‘Aisyah, janda Nabi, hal ini mengacu pada kasus (yang bersifat hipotetis) gadis-gadis yatim yang para walinya mungkin berkeinginan untuk menikahi mereka, tetapi tidak siap atau tidak mampu untuk memberi gadis-gadis itu mahar atau maskawin yang layak—implikasinya ialah para wali itu harus menghindari godaan untuk berbuat tidak adil itu dan hendaknya menikahi perempuan yang lain (bdk. Al-Bukhari, Kitab Al-Tafsir, serta Muslim dan Al-Nasa’i). Namun, tidak semua orang yang sezaman dengan ‘Aisyah menganut pandangan yang sama dengannya menyangkut ayat ini. Karena itu, menurut Sa’id ibn Jubair, Qatadah, dan para tabi’un* lainnya, maksud dari ayat di atas ialah: “Sebagaimana sudah sepantasnya kalian takut melanggar kepentingan anak yatim, kalian pun harus menerapkan pertimbangan yang sama hati-hatinya menyangkut kepentingan dan hak perempuan yang hendak kalian nikahi”. Dalam tafsirnya terhadap bagian ayat ini, Al-Thabari mengutip sejumlah variasi dari penafsiran di atas dan secara tegas menyetujui penafsiran tersebut.

* {“Tabi’un adalah generasi yang mengiringi atau mengikuti generasi Sahabat Nabi sehingga mereka menerima ajaran-ajaran Nabi melalui tangan kedua, yakni melalui para Sahabat.—peny.}

4 Lit., “yang dimiliki tangan kanan kalian”—yakni, di antara tawanan perang di jalan Allah (berkenaan dengan hal ini, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 167 dan no. 168, dan Surah Al-Anfal [8], catatan no. 72). Penggalan kalimat “dua, atau tiga, atau empat: tetapi, jika kalian khawatir …”, dan seterusnya, jelas merupakan kalimat sisipan yang berkaitan dengan perempuan merdeka yang disebut pada bagian pertama kalimat tersebut maupun hamba-hamba sahaya perempuan—sebab, kedua nomina ini diatur oleh verba perintah “nikahilah”. Jadi, seluruh kalimat itu berarti: “Nikahilah di antara perempuan-perempuan [lain] yang dihalalkan bagi kalian, atau [di antara] mereka yang kalian miliki secara sah—[bahkan] dua, atau tiga, atau empat: tetapi, jika kalian khawatir tidak mampu memperlakukan mereka dengan keadilan yang setara, maka (nikahilah) satu orang [saja]”. Hal ini menunjukkan bahwa—terlepas mereka adalah perempuan merdeka atau, pada mulanya, budak—jumlah istri tidak boleh melebihi empat. Dalam pengertian inilah Muhammad ‘Abduh memahami ayat di atas (Al-Manar IV, h. 350). Lebih jauh, pandangan ini didukung oleh ayat 25 surah ini serta Surah An-Nur [24]: 32, yang membicarakan pernikahan dengan budak perempuan. Bertentangan dengan pandangan umum dan praktik banyak kaum Muslim pada abad-abad yang silam, baik Al-Quran maupun teladan-hidup Nabi tidak pernah memberi dukungan terhadap hubungan seks tanpa pernikahan.

Berkenaan dengan izin untuk menikahi lebih dari satu istri (hingga maksimal empat orang), hal itu sangat dibatasi dengan syarat, “jika kalian khawatir tidak mampu memperlakukan mereka dengan keadilan yang setara, maka (nikahilah) satu orang [saja]”, sehingga pernikahan dengan banyak istri itu hanya dimungkinkan dalam kasus-kasus yang cukup luar biasa dan dalam keadaan-keadaan yang luar biasa pula (lihat juga anak kalimat pertama dalam ayat 32 Surah An-Nur [24] dan catatannya [no. 42]). Bagaimanapun, orang dapat bertanya, mengapa kebebasan yang sama tidak diberikan kepada perempuan. Jawabannya sederhana. Meskipun memang ada faktor spiritual cinta yang memengaruhi hubungan antara laki-laki dan perempuan, alasan biologis penentu dorongan seks—pada kedua jenis kelamin itu—adalah menghasilkan keturunan (procreation): sementara seorang perempuan hanya dapat, pada suatu waktu, mengandung seorang anak dari hanya satu laki-laki, dan harus mengandungnya selama sembilan bulan sebelum dapat mengandung anak yang lain, seorang laki-laki dapat memperoleh anak setiap kali dia bersetubuh dengan perempuan. Jadi, sia-sia saja jika alam memproduksi naluri poligami pada perempuan; sebaliknya, kecenderungan poligami pada laki-laki dapat dibenarkan secara biologis. Tentu saja, jelas bahwa faktor biologis hanyalah satu—dan bukan berarti selalu yang terpenting—dari berbagai aspek cinta pasangan suami-istri: tetapi, paling tidak ia merupakan sebuah faktor dasar dan, karena itu, bersifat menentukan dalam lembaga pernikahan itu sendiri. Dengan kebijaksanaan yang selalu sepenuhnya mempertimbangkan sifat dasar manusia, hukum Islam tidak lain hanya berusaha melindungi fungsi sosio-biologis pernikahan (yang juga mencakup pemeliharaan keturunan), dengan mengizinkan laki-laki memiliki lebih dari satu istri dan tidak memperbolehkan seorang perempuan memiliki lebih dari satu suami pada waktu yang bersamaan. Sementara itu, masalah spiritual pernikahan, karena tidak dapat diperhitungkan secara pasti dan karena itu berada di luar cakupan hukum, diserahkan kepada kebijaksanaan masing-masing pasangan. Dalam keadaan apa pun—karena pernikahan dalam Islam murni merupakan kontrak sipil—perceraian sebagai solusi senantiasa terbuka bagi masing-masing pasangan. (Berkenaan dengan terputusnya hubungan pernikahan berdasarkan permintaan perempuan, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 218.)


Surah An-Nisa’ Ayat 4

وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً ۚ فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا

wa ātun-nisā`a ṣaduqātihinna niḥlah, fa in ṭibna lakum ‘an syai`im min-hu nafsan fa kulụhu hanī`am marī`ā

4. Dan, berikanlah kepada perempuan-perempuan mahar (maskawin) mereka dengan semangat pemberian hadiah;5 namun, jika mereka, atas persetujuan mereka sendiri, menyerahkan kepada kalian berapa pun bagian dari (mahar) itu, nikmatilah (pemberian) itu dengan senang dan sukacita.


5 Ungkapan nihlah berarti pemberian sesuatu secara suka-rela, atas kehendak sendiri, tanpa mengharapkan imbalan atasnya (Al-Zamakhsyari). Perlu dicatat bahwa jumlah mahar atau maskawin yang harus diberikan oleh mempelai pria kepada mempelai wanita tidak ditentukan oleh hukum: jumlah itu sepenuhnya bergantung pada kesepakatan kedua belah pihak, dan bisa berupa apa saja, bahkan meski hanya sekadar tanda/simbol. Menurut sejumlah hadis sahih yang tercantum dalam kebanyakan kumpulan hadis, Nabi menyatakan secara jelas bahwa “bahkan sebuah cincin besi” sudah cukup jika sang mempelai wanita mau menerimanya, atau kalaupun tidak ada, bahkan “dengan membacakan sebuah ayat Al-Quran kepada pengantin perempuanmu”.


Surah An-Nisa’ Ayat 5

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

wa lā tu`tus-sufahā`a amwālakumullatī ja’alallāhu lakum qiyāmaw warzuqụhum fīhā waksụhum wa qụlụ lahum qaulam ma’rụfā

5. Dan, janganlah memercayakan kepada orang-orang yang lemah pertimbangannya harta yang telah Allah berikan tanggung jawab pemeliharaannya kepada kalian;6 tetapi, berilah mereka rezeki dari harta tersebut, berilah mereka pakaian, dan berbicaralah kepada mereka dengan cara yang baik.


6 Lit., “harta kalian yang telah Allah serahkan kepada kalian”. Konteks ayat ini menunjukkan secara jelas bahwa hal ini berhubungan dengan harta milik anak-anak yatim yang belum mencapai umur dewasa dan, karena itu, “lemah pertimbangan” (lit., “Iemah akal”).


Surah An-Nisa’ Ayat 6

وَابْتَلُوا الْيَتَامَىٰ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ آنَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ ۖ وَلَا تَأْكُلُوهَا إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَنْ يَكْبَرُوا ۚ وَمَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ ۖ وَمَنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهِدُوا عَلَيْهِمْ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ حَسِيبًا

wabtalul-yatāmā ḥattā iżā balagun-nikāḥ, fa in ānastum min-hum rusydan fadfa’ū ilaihim amwālahum, wa lā ta`kulụhā isrāfaw wa bidāran ay yakbarụ, wa mang kāna ganiyyan falyasta’fif, wa mang kāna faqīran falya`kul bil-ma’rụf, fa iżā dafa’tum ilaihim amwālahum fa asy-hidụ ‘alaihim, wa kafā billāhi ḥasībā

6. Dan, ujilah anak-anak yatim [yang berada dalam tanggung jawab pengasuhan kalian] hingga mereka cukup umur untuk menikah; lalu, jika kalian mendapati mereka telah berpikiran matang, serahkanlah kepada mereka harta milik mereka; dan janganlah memakan harta mereka dengan boros, dan tergesa-gesa, sebelum mereka dewasa. Dan, bagi yang kaya, hendaklah dia menahan diri sepenuhnya [dari memakan harta anak yatim itu]; dan bagi yang miskin, hendaklah dia menikmati sebagian dari harta itu dengan cara yang patut. Dan, ketika kalian menyerahkan kembali harta mereka itu kepada mereka, hendaklah ada saksi-saksi bagi mereka—meskipun, tiada yang mampu melakukan perhitungan seperti Allah.


Surah An-Nisa’ Ayat 7

لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ ۚ نَصِيبًا مَفْرُوضًا

lir-rijāli naṣībum mimmā tarakal-wālidāni wal-aqrabụna wa lin-nisā`i naṣībum mimmā tarakal-wālidāni wal-aqrabụna mimmā qalla min-hu au kaṡur, naṣībam mafrụḍā

7. LAKI-LAKI BERHAK memperoleh bagian dari apa yang ditinggalkan oleh ibu-bapak dan kerabatnya, dan (begitu pula) perempuan berhak memperoleh bagian dari apa yang ditinggalkan oleh ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit maupun banyak—suatu bagian yang telah ditetapkan [oleh Allah].


Surah An-Nisa’ Ayat 8

وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُولُو الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينُ فَارْزُقُوهُمْ مِنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

wa iżā ḥaḍaral-qismata ulul-qurbā wal-yatāmā wal-masākīnu farzuqụhum min-hu wa qụlụ lahum qaulam ma’rụfā

8. Dan, apabila kerabat dekat [lainnya], anak-anak yatim, dan orang-orang miskin7 hadir pada saat pembagian [harta waris] itu, berilah mereka sebagian dari harta itu sebagai rezeki dan berbicaralah kepada mereka dengan cara yang baik.


7 Yakni, orang-orang yang tidak memiliki klaim legal (sah) terhadap harta waris tersebut, tetapi patut dipertimbangkan.


Surah An-Nisa’ Ayat 9

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

walyakhsyallażīna lau tarakụ min khalfihim żurriyyatan ḍi’āfan khāfụ ‘alaihim falyattaqullāha walyaqụlụ qaulan sadīdā

9. Dan, hendaklah mereka takut [kepada Allah], orang-orang [ahli waris sah] itu—yang, jika mereka [sendiri] terpaksa meninggalkan keturunan yang lemah, pasti akan merasa khawatir berkenaan dengan mereka itu—dan hendaklah mereka tetap sadar akan Allah, dan hendaklah mereka berbicara [kepada orang-orang miskin itu] dengan cara yang pantas.


Surah An-Nisa’ Ayat 10

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا

innallażīna ya`kulụna amwālal-yatāmā ẓulman innamā ya`kulụna fī buṭụnihim nārā, wa sayaṣlauna sa’īrā

10. Perhatikanlah, orang-orang yang memakan harta milik anak-anak yatim secara zalim tidak lain hanyalah mengisi perut mereka dengan api: sebab, [dalam kehidupan akhirat,] mereka akan merasakan api yang berkobar!


Surah An-Nisa’ Ayat 11

يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ ۖ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ ۚ فَإِنْ كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ ۖ وَإِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ ۚ وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِنْ كَانَ لَهُ وَلَدٌ ۚ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ الثُّلُثُ ۚ فَإِنْ كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلِأُمِّهِ السُّدُسُ ۚ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ ۗ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا ۚ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

yụṣīkumullāhu fī aulādikum liż-żakari miṡlu ḥaẓẓil-unṡayaīn, fa ing kunna nisā`an fauqaṡnataini fa lahunna ṡuluṡā mā tarak, wa ing kānat wāḥidatan fa lahan-niṣf, wa li`abawaihi likulli wāḥidim min-humas-sudusu mimmā taraka ing kāna lahụ walad, fa il lam yakul lahụ waladuw wa wariṡahū abawāhu fa li`ummihiṡ-ṡuluṡ, fa ing kāna lahū ikhwatun fa li`ummihis-sudusu mim ba’di waṣiyyatiy yụṣī bihā au daīn, ābā`ukum wa abnā`ukum, lā tadrụna ayyuhum aqrabu lakum naf’ā, farīḍatam minallāh, innallāha kāna ‘alīman ḥakīmā

11. ADAPUN MENGENAI [warisan] anak-anak kalian, Allah menetapkan [hal ini] bagi kalian:8 Laki-laki hendaknya memperoleh (jumlah yang) sama dengan bagian dua perempuan; tetapi, jika terdapat lebih dari dua perempuan, mereka (perempuan ini) hendaknya memperoleh dua pertiga dari apa yang ditinggalkan [oleh orangtua mereka]; dan jika hanya ada satu orang (perempuan), perempuan ini hendaknya memperoleh setengah darinya.

Adapun bagi orangtua [yang ditinggalkan], masing-masing mereka hendaknya memperoleh seperenam dari harta yang dia (anaknya) tinggalkan, sekiranya yang meninggal itu mempunyai seorang anak [yang masih hidup]; tetapi, jika dia (yang meninggal itu) tidak mempunyai anak dan orangtuanya merupakan ahli waris [satu-satunya], ibunya hendaknya memperoleh sepertiga; dan jika dia (yang meninggal itu) mempunyai beberapa saudara laki-laki dan perempuan, ibunya hendaknya memperoleh seperenam sesudah [dikurangi] wasiat apa pun yang mungkin telah dia buat, atau [dikurangi] utang apa pun [yang mungkin dia punyai].

Adapun mengenai orangtua kalian dan anak-anak kalian—kalian tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih berhak mendapat manfaat dari kalian: [inilah alasan] ketetapan dari Allah [ini]. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.


8 Dalam catatan-catatan saya terhadap ayat 11-12, yang menguraikan pembagian sah warisan untuk keluarga terdekat, saya tidak berupaya menganalisis seluruh implikasi hukum peraturan ini. Hukum waris merupakan persoalan yang khusus dan sangat kompleks dalam cabang fiqih Islam, sehingga uraian utuh mengenai hal tersebut berada di luar cakupan catatan-catatan tafsir yang tujuannya hanya untuk membuat agar teks Al-Quran menjadi lebih mudah dipahami oleh pembaca nonspesialis.


Surah An-Nisa’ Ayat 12

وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ أَزْوَاجُكُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُنَّ وَلَدٌ ۚ فَإِنْ كَانَ لَهُنَّ وَلَدٌ فَلَكُمُ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْنَ ۚ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِينَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ ۚ وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكُمْ وَلَدٌ ۚ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُمْ ۚ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ تُوصُونَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ ۗ وَإِنْ كَانَ رَجُلٌ يُورَثُ كَلَالَةً أَوِ امْرَأَةٌ وَلَهُ أَخٌ أَوْ أُخْتٌ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ ۚ فَإِنْ كَانُوا أَكْثَرَ مِنْ ذَٰلِكَ فَهُمْ شُرَكَاءُ فِي الثُّلُثِ ۚ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَىٰ بِهَا أَوْ دَيْنٍ غَيْرَ مُضَارٍّ ۚ وَصِيَّةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَلِيمٌ

wa lakum niṣfu mā taraka azwājukum il lam yakul lahunna walad, fa ing kāna lahunna waladun fa lakumur-rubu’u mimmā tarakna mim ba’di waṣiyyatiy yụṣīna bihā au daīn, wa lahunnar-rubu’u mimmā taraktum il lam yakul lakum walad, fa ing kāna lakum waladun fa lahunnaṡ-ṡumunu mimmā taraktum mim ba’di waṣiyyatin tụṣụna bihā au daīn, wa ing kāna rajuluy yụraṡu kalālatan awimra`atuw wa lahū akhun au ukhtun fa likulli wāḥidim min-humas-sudus, fa ing kānū akṡara min żālika fa hum syurakā`u fiṡ-ṡuluṡi mim ba’di waṣiyyatiy yụṣā bihā au dainin gaira muḍārr, waṣiyyatam minallāh, wallāhu ‘alīmun ḥalīm

12. Dan, kalian hendaknya mendapat warisan seperdua dari apa yang ditinggalkan oleh istri-istri kalian, asalkan mereka tidak meninggalkan anak; tetapi, jika mereka meninggalkan seorang anak, kalian hendaknya memperoleh seperempat dari apa yang mereka tinggalkan, sesudah [dikurangi] wasiat apa pun yang mungkin telah mereka buat, atau [dikurangi] utang apa pun [yang mungkin mereka punyai]. Dan, janda-janda kalian9 hendaknya memperoleh seperempat dari apa yang kalian tinggalkan, asalkan kalian tidak meninggalkan anak; tetapi, jika kalian meninggalkan anak, mereka hendaknya memperoleh seperdelapan dari apa yang kalian tinggalkan, sesudah [—dikurangi] wasiat apa pun yang mungkin telah kalian buat, atau [dikurangi] utang apa pun [yang mungkin kalian punyai].

Dan, jika seorang laki-laki atau seorang perempuan tidak mempunyai ahli waris dalam garis langsung, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki atau seorang saudara perempuan, masing-masing dari kedua saudara ini hendaknya mewarisi seperenam; tetapi, jika ada lebih dari dua (saudara),10 mereka hendaknya mendapatkan bagian sepertiga [dari warisan], sesudah [dikurangi] wasiat apa pun yang mungkin telah dibuat, atau utang apa pun [yang mungkin dia punyai], dengan tidak dimaksudkan untuk merugikan [para ahli waris].11

[Ini merupakan] perintah dari Allah: dan Allah Maha Mengetahui, Maha Penyantun.


9 Lit., “mereka” (hunna).

10 Lit., “lebih dari itu” (aktsara min dzalika). Menurut mayoritas mufasir klasik, kalimat ini mengacu pada saudara tiri laki-laki dan saudara tiri perempuan. Warisan untuk saudara kandung laki-laki dan perempuan diuraikan pada akhir surah ini (ayat 176),

11 Hal ini mengacu pada wasiat dan utang fiktif, yang dimaksudkan agar ahli waris tidak mendapatkan bagian warisan sah mereka. Menurut beberapa hadis sahih, Nabi melarang pemberian wasiat kepada orang lain lebh dari sepertiga harta yang berwasiat, jika ada ahli-ahli waris yang sah (Al-Bukhari dan Muslim). Namun, jika tIdak ada kerabat dekat yang berhak secara sah terhadap bagian harta waris, pewasiat bebas mewariskan kekayaannya sebagaimana yang dia kehendaki.


Surah An-Nisa’ Ayat 13

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

tilka ḥudụdullāh, wa may yuṭi’illāha wa rasụlahụ yudkhil-hu jannātin tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā, wa żālikal-fauzul-‘aẓīm

13. Ini merupakan batas-batas yang ditetapkan oleh Allah. Dan, siapa pun yang menaati Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam taman-taman yang dilalui aliran sungai-sungai, di dalamnya (mereka) berkediaman: dan inilah kemenangan yang tertinggi.


Surah An-Nisa’ Ayat 14

وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ

wa may ya’ṣillāha wa rasụlahụ wa yata’adda ḥudụdahụ yudkhil-hu nāran khālidan fīhā wa lahụ ‘ażābum muḥīn

14. Dan, siapa pun yang menentang Allah dan Rasul-Nya dan melanggar batas-batas-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api, di dalamnya (dia) berkediaman; dan derita yang menghinakan menantinya.


Surah An-Nisa’ Ayat 15

وَاللَّاتِي يَأْتِينَ الْفَاحِشَةَ مِنْ نِسَائِكُمْ فَاسْتَشْهِدُوا عَلَيْهِنَّ أَرْبَعَةً مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ شَهِدُوا فَأَمْسِكُوهُنَّ فِي الْبُيُوتِ حَتَّىٰ يَتَوَفَّاهُنَّ الْمَوْتُ أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيلًا

wallātī ya`tīnal-fāḥisyata min nisā`ikum fastasy-hidụ ‘alaihinna arba’atam mingkum, fa in syahidụ fa amsikụhunna fil-buyụti ḥattā yatawaffāhunnal-mautu au yaj’alallāhu lahunna sabīlā

15. ADAPUN MENGENAI perempuan-perempuan kalian yang bersalah mengerjakan perbuatan dursila, panggillah empat orang di antara kalian yang telah menyaksikan kesalahan mereka; dan jika orang-orang ini memberikan persaksian terhadap (kesalahan mereka) itu, kurunglah perempuan-perempuan yang bersalah itu12 di dalam rumah hingga ajal menemui mereka atau Allah membukakan jalan kepada mereka [melalui tobat].


12 Lit., “mereka” (hunna).


Surah An-Nisa’ Ayat 16

وَاللَّذَانِ يَأْتِيَانِهَا مِنْكُمْ فَآذُوهُمَا ۖ فَإِنْ تَابَا وَأَصْلَحَا فَأَعْرِضُوا عَنْهُمَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ تَوَّابًا رَحِيمًا

wallażāni ya`tiyānihā mingkum fa āżụhumā, fa in tābā wa aṣlaḥā fa a’riḍụ ‘an-humā, innallāha kāna tawwābar raḥīmā

16. Dan [selanjutnya,] hukumlah kedua orang yang bersalah itu;13 tetapi, jika keduanya bertobat dan memperbaiki jalan mereka, biarkanlah mereka karena, perhatikanlah, Allah adalah Sang Penerima Tobat, Sang Pemberi Rahmat.14


13 Lit., “dan kedua orang di antara kalian yang bersalah karenanya, hukumlah mereka berdua”. Menurut mayoritas mufasir, hal ini merujuk pada perbuatan dursila yang dilakukan laki-laki dan perempuan serta pada hubungan homoseksual.

14 Sebagian mufasir mengartikan kata fahisyah (yang di sini diterjemahkan menjadi immoral conduct, “perbuatan dursila”) dengan “perzinaan” atau “persetubuhan di luar nikah” dan, karena itu, berpendapat bahwa ayat ini telah “dibatalkan” (“di-nasakh“) oleh Surah An-Nur [24]: 2, yang menetapkan hukuman cambuk seratus kali bagi masing-masing pezina itu. Namun, asumsi tak berdasar ini harus ditolak. Sebab, di samping tidak mungkin bagi kita untuk mengakui bahwa ada salah satu ayat Al-Quran yang dibatalkan oleh ayat lainnya (lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 87), ungkapan fahisyah tidak dengan sendirinya mengandung arti persetubuhan di luar nikah (zina): kata ini menunjukkan setiap hal yang sangat tidak sopan, tidak pantas, tidak senonoh, cabul, atau menjijikkan, baik dalam ucapan maupun perbuatan (bdk. Lane VI, hh. 2344 dan seterusnya), dan sama sekali tidak terbatas pada pelanggaran-pelanggaran seksual saja. Jika dibaca dalam konteks ini, dan bersama-sama dengan Surah An-Nur [24]: 2, jelaslah bahwa ungkapan fahisyah di sini menunjukkan perbuatan yang tidak bermoral (immoral, dursila), yang tidak mesti sama dengan zina (“persetubuhan di luar nikah”), sehingga dapat ditebus dengan tobat yang tulus (berbeda dengan perbuatan zina yang terbukti, yang dapat dikenai hukuman cambuk).

Hendaknya diperhatikan bahwa dalam setiap kasus tuduhan pelanggaran atau penyimpangan perilaku seks, Al-Quran mensyaratkan bukti langsung berupa empat orang saksi (padahal dalam setiap kasus hukum lainnya hanya dipersyaratkan dua orang saja) sebagai sine qua non (syarat mutlak) untuk menjatuhkan hukuman. Mengenai alasan yang mendasari perintah ini, serta dampak hukumnya, lihat catatan no. 7 pada Surah An-Nur [24]: 4.


Surah An-Nisa’ Ayat 17

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَٰئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

innamat-taubatu ‘alallāhi lillażīna ya’malụnas-sū`a bijahālatin ṡumma yatụbụna ming qarībin fa ulā`ika yatụbullāhu ‘alaihim, wa kānallāhu ‘alīman ḥakīmā

17. Sungguh, tobat yang diterima oleh Allah hanyalah bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran ketidaktahuan dan kemudian bertobat sebelum waktu mereka habis:15 dan mereka itulah yang Allah akan berpaling kembali kepada mereka dalam belas kasih-Nya*—sebab, Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana;


15 Ungkapan min qarib, yang menunjukkan kedekatan dalam dimensi waktu, dapat juga diterjemahkan menjadi “segera”, yakni segera setelah melakukan perbuatan jahat. Namun, kebanyakan mufasir klasik berpendapat bahwa dalam konteks ini, ungkapan itu menunjukkan waktu sebelum ajal tiba. Tafsiran ini didukung oleh ayat berikutnya.

* {Kalimat ini merupakan terjemahan Muhammad Asad terhadap frasa yatubu Allahu ‘alaihim. Dalam Al-Quran Depag RI, kalimat ini diterjemahkan menjadi “… yang diterima oleh Allah tobatnya”. Verba taba memiliki arti “mendekat sesudah tadinya menjauh”. Ketika seseorang melakukan dosa, Allah menjauh darinya dan ketika dia bertobat (mendekatkan diri kembali dengan) memohon ampun kepada-Nya, Allah pun “kembali [mendekat] kepadanya dalam belas kasih-Nya”.— AM}


Surah An-Nisa’ Ayat 18

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

wa laisatit-taubatu lillażīna ya’malụnas-sayyi`āt, ḥattā iżā ḥaḍara aḥadahumul-mautu qāla innī tubtul-āna wa lallażīna yamụtụna wa hum kuffār, ulā`ika a’tadnā lahum ‘ażāban alīmā

18. sementara itu, tobat tidak akan diterima dari orang-orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan jahat hingga mereka sekarat dan lantas (setelah itu baru) mengatakan,16 “Perhatikanlah, kini aku bertobat”; tidak pula (akan diterima) dari orang-orang yang mati sebagai pengingkar-pengingkar kebenaran: bagi orang-orang seperti inilah, Kami telah menyediakan penderitaan yang pedih.


16 Lit., “hingga ketika maut mendekati salah seorang di antara mereka, dia berkata”.


Surah An-Nisa’ Ayat 19

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا ۖ وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ ۚ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

yā ayyuhallażīna āmanụ lā yaḥillu lakum an tariṡun-nisā`a kar-hā, wa lā ta’ḍulụhunna litaż-habụ biba’ḍi mā ātaitumụhunna illā ay ya`tīna bifāḥisyatim mubayyinah, wa ‘āsyirụhunna bil-ma’rụf, fa ing karihtumụhunna fa ‘asā an takrahụ syai`aw wa yaj’alallāhu fīhi khairang kaṡīrā

19. WAHAI, KALlAN yang telah meraih iman! Tidak halal bagi kalian [mencoba] menjadi ahli waris bagi istri-istri kalian [dengan mempertahankan mereka] berlawanan dengan kehendak mereka;17 dan kalian tidak boleh juga mempertahankan mereka di bawah paksaan dengan maksud untuk menarik kembali apa pun yang mungkin telah kalian berikan kepada mereka, kecuali jika mereka nyata-nyata bersalah karena melakukan perbuatan dursila.18

Dan, bergaullah dengan istri-istri kalian19 secara makruf; sebab, jika kalian tidak menyukai mereka, boleh jadi kalian tidak menyukai sesuatu yang mungkin telah Allah jadikan sebagai sumber20 kebaikan yang berlimpah.


17 Menurut salah satu penafsiran yang diajukan Al-Zamakhsyari, hal ini mengacu pada tindakan mempertahankan secara paksa istri yang tidak dicintai—sehingga mencegahnya kawin dengan lelaki lain—dengan harapan dapat mewarisi kekayaan si istri berdasarkan ketentuan yang ditetapkan dalam kalimat pertama ayat 12. Namun, sebagian mufasir berpendapat bahwa maksud ayat itu adalah: “Tidak halal bagi kalian mewarisi perempuan berlawanan dengan kehendak mereka”—jadi, menunjukkan larangan mewarisi istri dari saudara dekat/ kerabat yang meninggal; suatu kebiasaan pra-Islam. Namun, mengingat fakta bahwa Islam tidak membenarkan tindakan “mewarisi” perempuan dalam keadaan apa pun (tidak hanya jika “berlawanan dengan kehendak mereka”), penafsiran pertama jauh lebih masuk akal.

18 Jika perilaku dursila (imoral) istri telah terbukti melalui empat orang saksi yang melihat langsung perbuatan itu, sebagaimana yang ditetapkan dalam ayat 15, sang suami, ketika menceraikannya, berhak menuntut pengembalian seluruh mahar yang diberikan pada saat akad nikah. jika—sebagaimana diperbolehkan dalam hukum Islam—pada saat melakukan akad nikah dahulu mahar belum diserahkan kepada mempelai perempuan, tetapi bentuk kewajiban yang harus dibayarkan sang suami telah disepakati, sang suami dibebaskan dari kewajiban ini jika perbuatan dursila istrinya terbukti.

19 Lit., “dengan mereka” (hunna).

20 Lit., “dan Allah menempatkan di dalamnya”.


Surah An-Nisa’ Ayat 20

وَإِنْ أَرَدْتُمُ اسْتِبْدَالَ زَوْجٍ مَكَانَ زَوْجٍ وَآتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا فَلَا تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا ۚ أَتَأْخُذُونَهُ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

wa in arattumustibdāla zaujim makāna zaujiw wa ātaitum iḥdāhunna qinṭāran fa lā ta`khużụ min-hu syai`ā, a ta`khużụnahụ buhtānaw wa iṡmam mubīnā

20. Namun, jika kalian berhasrat untuk melepaskan seorang istri dan mengambil istri yang lain sebagai penggantinya, janganlah mengambil kembali apa pun yang telah kalian berikan kepada istri yang pertama, betapapun banyaknya (yang telah kalian berikan itu).21 Atau, apakah mungkin kalian ingin mengambil pemberian itu kembali dengan menuduhnya dan, karena itu, melakukan suatu dosa yang nyata?22


21 Lit., “jika kalian berhasrat menukar seorang istri untuk mengganti istri yang lain, sedangkan kalian telah memberikan kepada salah seorang di antara mereka harta (qinthar), janganlah mengambil kembali apa pun darinya”. Disebutkannya kata “menukar” seorang istri dengan istri yang lain merupakan indikasi yang jelas bahwa dalam pandangan Al-Quran, perkawinan monogami adalah bentuk perkawinan yang dikehendaki.

22 Yakni, secara batil menuduhnya melakukan perbuatan dursila dengan harapan memperoleh kembali maharnya (lihat catatan no. 18 sebelum ini).


Surah An-Nisa’ Ayat 21

وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَىٰ بَعْضُكُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

wa kaifa ta`khużụnahụ wa qad afḍā ba’ḍukum ilā ba’ḍiw wa akhażna mingkum mīṡāqan galīẓā

21. Dan, bagaimana kalian mengambilnya kembali setelah kalian (berdua) saling menyerahkan diri-diri kalian, dan setelah dia23 menerima sumpah setia yang amat kukuh dari kalian?


23 Lit., “mereka”—mengacu pada semua perempuan yang telah menikah.


Surah An-Nisa’ Ayat 22

وَلَا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۚ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلًا

wa lā tangkiḥụ mā nakaḥa ābā`ukum minan-nisā`i illā mā qad salaf, innahụ kāna fāḥisyataw wa maqtā, wa sā`a sabīlā

22. DAN, JANGANLAH mengawini perempuan-perempuan yang telah dikawini sebelumnya oleh ayah-ayah kalian—meskipun masa lalu tak dapat diubah lagi:24 hal ini, sungguh, merupakan perbuatan yang memalukan, sesuatu yang dibenci, dan sebuah jalan yang buruk.


24 Lit., “kecuall apa yang telah terjadi sebelumnya”—yakni, ampunan akan diberikan kepada orang yang melakukannya sebelum peraturan Al-Quran ini diumumkan, atau (dalam kasus seseorang yang berpindah menganut agama Islam di kemudian hari) sebelum seseorang memeluk agama Islam.


Surah An-Nisa’ Ayat 23

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

ḥurrimat ‘alaikum ummahātukum wa banatukum wa akhawātukum wa ‘ammātukum wa khālātukum wa banatul-akhi wa banatul-ukhti wa ummahātukumullātī arḍa’nakum wa akhawātukum minar-raḍā’ati wa ummahātu nisā`ikum wa raba`ibukumullātī fī ḥujụrikum min-nisā`ikumullātī dakhaltum bihinna fa il lam takụnụ dakhaltum bihinna fa lā junāḥa ‘alaikum wa ḥalā`ilu abnā`ikumullażīna min aṣlābikum wa an tajma’ụ bainal-ukhtaini illā mā qad salaf, innallāha kāna gafụrar raḥīmā

23. Diharamkan atas kalian ibu-ibu kalian, anak-anak perempuan kalian, saudara-saudara perempuan kalian, saudara-saudara perempuan bapak kalian serta saudara-saudara perempuan ibu kalian, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara perempuan; ibu-ibu susu kalian, saudara-saudara perempuan sepersusuan kalian; ibu-ibu dari istri kalian; anak-anak perempuan tiri kalian—yang merupakan anak asuh kalian—yang lahir dari istri-istri kalian yang telah kalian campuri; tetapi jika kalian belum bercampur dengan istri kalian itu, tiada dosa bagi kalian [apabila mengawini anak-anak perempuan mereka]; dan [diharamkan bagi kalian] istri-istri anak kandung kalian yang dahulu memancar dari sulbi kalian; dan [kalian diharamkan] memiliki dua perempuan bersaudara [sebagai istri-istri kalian] pada waktu yang bersamaan—tetapi, masa lalu tak dapat diubah lagi:25 sebab, perhatikanlah, sungguh Allah Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.


25 Lihat catatan sebelum ini.


Surah An-Nisa’ Ayat 24

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۖ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَٰلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ ۚ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

wal-muḥṣanātu minan-nisā`i illā mā malakat aimānukum, kitāballāhi ‘alaikum, wa uḥilla lakum mā warā`a żālikum an tabtagụ bi`amwālikum muḥṣinīna gaira musāfiḥīn, fa mastamta’tum bihī min-hunna fa ātụhunna ujụrahunna farīḍah, wa lā junāḥa ‘alaikum fīmā tarāḍaitum bihī mim ba’dil-farīḍah, innallāha kāna ‘alīman ḥakīmā

24. Dan, [diharamkan bagi kalian] semua perempuan yang bersuami, selain yang kalian miliki secara sah [melalui ikatan perkawinan]:26 inilah ketetapan Allah, yang mengikat kalian. Namun, dihalalkan bagi kalian semua [perempuan] selain mereka ini, untuk kalian cari, dengan menawarkan kepada mereka sebagian dari harta-harta kalian,27 dengan mengawini mereka melalui ikatan pernikahan yang tulus, bukan melalui perzinaan.

Dan kepada perempuan-perempuan, yang bersama mereka itu kalian ingin menikmati pernikahan, hendaknya kalian memberi mahar yang merupakan hak mereka; tetapi kalian tidak akan berdosa jika, setelah [menyetujui] kewajiban yang halal ini, kalian saling bersepakat secara sukarela mengenai apa pun [yang lain]:28 perhatikanlah, sungguh Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.


26 Istilah muhshanah secara harfiah berarti “perempuan yang dibentengi [dari ketidaksucian]” dan mengandung tiga arti, yakni (1) “perempuan yang bersuami”, (2) “perempuan suci, dan (3) “perempuan merdeka”. Menurut hampir semua mufasir, al-muhshanat dalam konteks di atas menunjukkan “perempuan yang bersuami”. Adapun ungkapan ma malakat aimanukum (“orang-orang yang dimiliki tangan kanan kalian”, yakni “orang-orang yang kalian miliki secara sah“)*, sering dipahami sebagai budak-budak perempuan yang ditawan dalam peperangan di jalan Allah (dalam kaitan ini, lihat Surah AI-Anfal [8]: 67 dan catatannya). Para mufasir yang memilih makna ini berpendapat bahwa perempuan-perempuan budak itu dapat dikawini tanpa memedulikan apakah mereka mempunyai suami di negeri asalnya atau tidak. Namun, terlepas dari perbedaan pendapat yang mendasar (bahkan di kalangan Sahabat Nabi) mengenai legalitas perkawinan semacam itu, sejumlah mufasir paling terkemuka menyatakan bahwa ma malakat aimanukum di sini menunjukkan “perempuan-perempuan yang secara sah kalian miliki melalui ikatan perkawinan“; demikian komentar Al-Razi dalam tafsirnya atas ayat ini, dan Al-Thabari dalam salah satu penjelasan alternafifnya (dengan mengacu pada ‘Abd Allah ibn ‘Abbas, Mujahid, dan lain-lainnya). Secara khusus, menjelaskan bahwa kata-kata “semua perempuan yang bersuami” (al-muhshanat min al-nisa), yang disebutkan setelah menguraikan larangan menikah antar-orang yang memiliki tingkat pertalian darah tertentu, dimaksudkan untuk menekankan larangan melakukan hubungan seks dengan perempuan selain istri yang sah.

* {Dalam teks asal bahasa Inggrisnya: those whom your right hands possess (orang-orang yang dimiliki tangan kanan kalian) dan those whom you rightfully possess” (orang-orang yang kalian miliki secara sah). Perhatikan pilihan kata right hand (tangan kanan) dan rightfully posses (miliki secara sah), keduanya menggunakan kata right untuk menerjemahkan kata bahasa Arab aiman (yamin) yang berarti “kanan” dan sekaligus “baik”.—peny.}

27 Lit., “dengan harta-harta kalian”—yakni menawarkan kepada mereka mahar yang pantas sebagaimana yang dituntut hukum.

28 Bdk. ayat 4 surah ini dan catatannya.


Surah An-Nisa’ Ayat 25

وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ مِنْكُمْ طَوْلًا أَنْ يَنْكِحَ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ فَمِنْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ مِنْ فَتَيَاتِكُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ۚ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِكُمْ ۚ بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ ۚ فَانْكِحُوهُنَّ بِإِذْنِ أَهْلِهِنَّ وَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ مُحْصَنَاتٍ غَيْرَ مُسَافِحَاتٍ وَلَا مُتَّخِذَاتِ أَخْدَانٍ ۚ فَإِذَا أُحْصِنَّ فَإِنْ أَتَيْنَ بِفَاحِشَةٍ فَعَلَيْهِنَّ نِصْفُ مَا عَلَى الْمُحْصَنَاتِ مِنَ الْعَذَابِ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ الْعَنَتَ مِنْكُمْ ۚ وَأَنْ تَصْبِرُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

wa mal lam yastaṭi’ mingkum ṭaulan ay yangkiḥal-muḥṣanātil-mu`mināti fa mimmā malakat aimānukum min fatayātikumul-mu`mināt, wallāhu a’lamu bi`īmānikum, ba’ḍukum mim ba’ḍ, fangkiḥụhunna bi`iżni ahlihinna wa ātụhunna ujụrahunna bil-ma’rụfi muḥṣanātin gaira musāfiḥātiw wa lā muttakhiżāti akhdān, fa iżā uḥṣinna fa in ataina bifāḥisyatin fa ‘alaihinna niṣfu mā ‘alal-muḥṣanāti minal-‘ażāb, żālika liman khasyiyal-‘anata mingkum, wa an taṣbirụ khairul lakum, wallāhu gafụrur raḥīm

25. Dan, adapun orang-orang di antara kalian yang, karena keadaan, tidak dapat29 mengawini perempuan-perempuan beriman yang merdeka, [biarkanlah mereka mengawini] gadis-gadis beriman dari kalangan orang-orang yang kalian miliki secara sah.30 Dan, Allah mengetahui segalanya mengenai iman kalian; setiap salah seorang dari kalian adalah keturunan dari yang lain.31 Maka, kawinilah mereka dengan izin kaum mereka, dan berilah mereka mahar dengan cara yang makruf—mereka adalah perempuan-perempuan yang menyerahkan diri mereka melalui ikatan pernikahan yang tulus, bukan melalui perzinaan, bukan pula sebagai kekasih-kekasih gelap.32 Dan, ketika mereka telah menikah, dan kemudian bersalah mengerjakan perbuatan dursila, mereka hendaknya dikenakan setengah hukuman dari yang dikenakan terhadap perempuan-perempuan merdeka yang bersuami.33

[Izin untuk mengawini perempuan-perempuan budak] ini [berlaku] bagi orang-orang di antara kalian yang takut kalau-kalau terjerumus ke dalam kejahatan.34 Namun, bertekun dalam kesabaran [dan berpantang dari perkawinan-perkawinan semacam itu] adalah untuk kebaikan kalian sendiri: dan, Allah Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.


29 Frasa lam yastathi thaulan sering diartikan “dia tidak dalam keadaan mampu”, yakni secara finansial; tapi Muhammad ‘Abduh, dengan amat meyakinkan, mengungkapkan pandangan bahwa istilah itu berlaku untuk semua keadaan preventif, baik yang bersifat materiel, personal, maupun sosial (Al-Manar V, h. 19).

30 Dalam konteks ini, ma malakat aimanukum (lit., “orang-orang yang dimiliki tangan kanan kalian”) menunjukkan perempuan-perempuan yang ditawan dalam perang suci dan setelah itu memeluk Islam. Dalam frasa di atas, kata ganti “kalian” (kum) mengacu pada umat secara keseluruhan.

31 Yakni, karena seluruh umat manusia—apa pun “status sosial” lahiriah mereka—merupakan anggota dari keluarga umat manusia yang satu dan sama dan, karena itu, sederajat dalam pandangan Allah (bdk. Surah Alu ‘Imran [3]: 195), maka yang membuat seseorang menjadi lebih baik atau lebih buruk daripada orang lain hanyalah kekuatan atau kelemahan imannya.

32 Lit., “dan tidak mengambil untuk diri mereka kekasih-kekasih gelap”. Penggalan ayat ini menunjukkan sikap tegas bahwa hubungan seks dengan budak-budak perempuan diizinkan hanya atas dasar perkawinan, dan bahwa dalam hal ini tidak ada perbedaan antara mereka dan perempuan-perempuan merdeka; karena itu, pergundikan dilarang.

33 Status sosial perempuan-budak yang lebih lemah jelas menjadikan mereka lebih rentan digoda daripada perempuan merdeka yang bersuami.

34 Yakni, bagi orang-orang yang, karena satu atau lain alasan, tidak dapat mengawini perempuan merdeka dan, pada saat yang sama, tidak sanggup menghadapi godaan-godaan yang muncul akibat membujang. Seperti dijelaskan dalam kalimat berikutnya, Al-Quran cenderung menghalangi perkawinan semacam itu—tak pelak lagi, untuk menghilangkan daya tarik utama institusi perbudakan itu sendiri, dan lalu mendorong penghapusannya.


Surah An-Nisa’ Ayat 26

يُرِيدُ اللَّهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمْ وَيَهْدِيَكُمْ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَيَتُوبَ عَلَيْكُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

yurīdullāhu liyubayyina lakum wa yahdiyakum sunanallażīna ming qablikum wa yatụba ‘alaikum, wallāhu ‘alīmun ḥakīm

26. Allah ingin membuat [semua ini] jelas bagi kalian, dan memberi kalian petunjuk ke jalan hidup [saleh] (yang ditempuh) orang-orang yang mendahului kalian,35 dan berpaling kembali kepada kalian dalam belas kasih-Nya: sebab, Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.


35 Sebuah pengingatan terhadap ajaran-ajaran keagamaan sejati pada masa Iampau, yang bertujuan menghasilkan keselarasan antara tabiat fisik manusia dan tuntutan jiwanya—sebuah keselarasan yang dihancurkan manakala asketisisme dipostulatkan sebagai satu-satunya alternatif yang mungkin terhadap keduniawian (lihat juga Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 118). Pengingatan ini muncul dari pembahasan tentang moralitas seks pada ayat-ayat terdahulu yang berbicara tentang hubungan suami-istri.


Surah An-Nisa’ Ayat 27

وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا

wallāhu yurīdu ay yatụba ‘alaikum, wa yurīdullażīna yattabi’ụnasy-syahawāti an tamīlụ mailan ‘aẓīmā

27. Dan, Allah ingin berpaling kembali kepada kalian dalam belas kasih-Nya, sedangkan orang-orang yang [hanya] mengikuti hawa nafsu mereka ingin agar kalian berpaling menjauh dari jalan yang benar.36


36 Lit., “menginginkan kalian menyimpang dengan penyimpangan yang luar biasa”.


Surah An-Nisa’ Ayat 28

يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

yurīdullāhu ay yukhaffifa ‘angkum, wa khuliqal-insānu ḍa’īfā

28. Allah ingin meringankan beban-beban kalian:37 sebab, manusia diciptakan (bersifat) lemah.


37 Yakni, menghilangkan, melalui petunjuk-Nya, semua kemungkinan konflik antara jiwa manusia dan dorongan-dorongan ragawinya, dan menunjukinya sebuah jalan hidup (way of life) yang dengannya kedua unsur dari watak manusia ini dapat diselaraskan dan dipuaskan secara maksimal.


Surah An-Nisa’ Ayat 29

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

yā ayyuhallażīna āmanụ lā ta`kulū amwālakum bainakum bil-bāṭili illā an takụna tijāratan ‘an tarāḍim mingkum, wa lā taqtulū anfusakum, innallāha kāna bikum raḥīmā

29. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Janganlah saling memakan harta sesama secara batil—bahkan tidak pula melalui perdagangan yang berdasarkan persetujuan bersama38—dan janganlah saling membinasakan: sebab, perhatikanlah, sungguh Allah Maha Pemberi Rahmat kepada kalian!


38 Jika partikel (kata sambung) illa sebelum anak kalimat di atas diberi maknanya yang lazim dengan “kecuali” atau “kecuali kalau ia”, frasa tersebut harus diterjemahkan demikian: “kecuali kalau ia merupakan [suatu kegiatan] perdagangan yang berdasarkan persetujuan bersama”. Namun, rumusan ini telah membingungkan banyak mufasir: sebab, jika dipahami secara harfiah, hal itu berarti bahwa keuntungan yang batil dari perdagangan yang berdasarkan persetujuan bersama dikecualikan dari Iarangan umum, “Janganlah saling memakan harta secara batil”—sebuah anggapan yang mustahil dipertahankan mengingat prinsip etika yang dipostulatkan oleh Al-Quran. Untuk menghilangkan kesukaran ini, mayoritas mufasir menyatakan pandangannya bahwa partikel illa dalam konteks ini berarti “tetapi”, dan bahwa anak kalimat itu harus dipahami sebagai berikut: “tetapi halal bagi kalian untuk saling mengambil keuntungan dari harta-harta kalian melalui perdagangan yang sah berdasarkan persetujuan bersama”. Namun, selain fakta bahwa tafsiran ini terlalu dibuat-buat dan tidak wajar, ia tidak menjelaskan mengapa “perdagangan yang sah” harus dikhususkan di sini sebagai satu-satunya cara untuk saling memperoleh keuntungan ekonomis—sebab, sebagaimana dinyatakan dalam tafsirnya tentang ayat ini, “mengambil keuntungan ekonomis melalui hadiah, pusaka, warisan yang sah, sedekah, mahar, atau ganti rugi karena kecelakaan, tidaklah kurang halalnya: sebab, selain perdagangan, ada banyak cara untuk memperoleh harta [secara halal]”. Lalu, mengapa hanya perdagangan yang ditekankan?—dan, lagi pula, mengapa hal ini ditekankan dalam sebuah konteks yang tidak secara khusus membahas masalah-masalah perdagangan? Menurut saya, jawaban yang benar-benar memuaskan atas teka-teki ini hanya dapat diperoleh melalui pertimbangan linguistik terhadap partikel illa. Terlepas dari konotasi illa yang lazim, yakni “kecuali” atau “kecuali kalau ia”, partikel itu—seperti telah ditunjukkan baik dalam Al-Qamus maupun Al-Mughni—kadang-kadang berarti “dan” (wa); demikian juga, apabila partikel itu didahului oleh anak kalimat negatif, ia dapat bersinonim dengan “tidak pula” atau “dan bukan pula” (wa-la): seperti dalam Surah An-Naml [27]: 10-11, “Para rasul tidak perlu takut dalam kehadiran-Ku, dan tiada pula (illa) orang yang …”, dan seterusnya. Sekarang, jika kita menerapkan penggunaan yang khusus ini pada kalimat di atas, kita akan sampai pada pembacaan demikian: “tidak pula [kalian boleh melakukannya] melalui perdagangan yang berdasarkan persetujuan bersama”, atau lebih sederhananya, “bahkan tidak pula melalui perdagangan yang berdasarkan persetujuan bersama”—sehingga maknanya kemudian segera menjadi jelas, yakni: orang-orang beriman dilarang saling memakan harta sesama secara batil meskipun orang lain itu—karena berada pada pihak yang lebih lemah—setuju dengan perampasan atau pengeksploitasian semacam itu karena tekanan keadaan. Tambahan pula, pembacaan yang saya pilih ini secara logis berkaitan dengan ayat 32 yang mengingatkan orang-orang beriman untuk tidak iri hati dan mendamba-dambakan harta orang lain.


Surah An-Nisa’ Ayat 30

وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا

wa may yaf’al żālika ‘udwānaw wa ẓulman fa saufa nuṣlīhi nārā, wa kāna żālika ‘alallāhi yasīrā

30. Dan, adapun orang yang melakukan hal ini dengan maksud jahat dan dengan suatu keinginan untuk berbuat zalim39—kelak dia akan Kami jadikan menanggung [penderitaan berupa] api: sebab, hal ini sungguh mudah bagi Allah.


39 Lit., “dengan pelanggaran [yang disengaja] dan kezaliman” (‘udwanan wa-zhulman).


Surah An-Nisa’ Ayat 31

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا

in tajtanibụ kabā`ira mā tun-hauna ‘an-hu nukaffir ‘angkum sayyi`ātikum wa nudkhilkum mudkhalang karīmā

31. Jika kalian menghindari dosa-dosa besar yang telah diperintahkan kepada kalian untuk menjauhinya, Kami akan menghapus perbuatan-perbuatan buruk kalian [yang kecil], dan akan menjadikan kalian memasuki tempat tinggal kemuliaan.40


40 Yakni, surga. Namun, menurut sebagian mufasir, ungkapan mudkhal bukan menunjukkan tempat, melainkan cara “masuk” (Al-Razi)—dalam kasus di atas, frasa tersebut dapat diterjemahkan menjadi: “Kami akan memasukkan kalian [dalam kehidupan akhiratmu] dalam keadaan mulia”.


Surah An-Nisa’ Ayat 32

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

wa lā tatamannau mā faḍḍalallāhu bihī ba’ḍakum ‘alā ba’ḍ, lir-rijāli naṣībum mimmaktasabụ, wa lin-nisā`i naṣībum mimmaktasabn, was`alullāha min faḍlih, innallāha kāna bikulli syai`in ‘alīmā

32. Karena itu, janganlah iri hati terhadap karunia yang Allah anugerahkan dengan lebih banyak kepada sebagian di antara kalian dibanding kepada sebagian lainnya. Laki-laki hendaknya memperoleh manfaat dari apa yang mereka usahakan, dan perempuan hendaknya memperoleh manfaat dari apa yang mereka usahakan. Karena itu, mohonlah kepada Allah [untuk memberikan kepada kalian] sebagian dari karunia-Nya: perhatikanlah, sungguh Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.


Surah An-Nisa’ Ayat 33

وَلِكُلٍّ جَعَلْنَا مَوَالِيَ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ ۚ وَالَّذِينَ عَقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ فَآتُوهُمْ نَصِيبَهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدًا

wa likullin ja’alnā mawāliya mimmā tarakal-wālidāni wal-aqrabụn, wallażīna ‘aqadat aimānukum fa ātụhum naṣībahum, innallāha kāna ‘alā kulli syai`in syahīdā

33. Dan, kepada setiap orang telah Kami tetapkan ahli-ahli waris untuk apa yang mungkin dia tinggalkan: (yakni) orangtua, karib kerabat, dan orang-orang yang kalian telah mengikat janji setia kepada mereka:41 karena itu, berikanlah kepada mereka bagian mereka. Perhatikanlah, sungguh Allah adalah saksi atas segala sesuatu.


41 Yakni, para istri dan suami (Abu Muslim, seperti dikutip Al-Razi).


Surah An-Nisa’ Ayat 34

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

ar-rijālu qawwāmụna ‘alan-nisā`i bimā faḍḍalallāhu ba’ḍahum ‘alā ba’ḍiw wa bimā anfaqụ min amwālihim, faṣ-ṣāliḥātu qānitātun ḥāfiẓātul lil-gaibi bimā ḥafiẓallāh, wallātī takhāfụna nusyụzahunna fa’iẓụhunna wahjurụhunna fil-maḍāji’i waḍribụhunn, fa in aṭa’nakum fa lā tabgụ ‘alaihinna sabīlā, innallāha kāna ‘aliyyang kabīrā

34. LAKI-LAKI HARUS SEPENUHNYA menjaga perempuan* dengan karunia-karunia yang telah Allah anugerahkan secara lebih banyak kepada laki-laki daripada kepada perempuan,42 dan dengan apa yang bisa mereka nafkahkan dari harta milik mereka. Dan, perempuan-perempuan saleh ialah yang benar-benar taat, yang menjaga keintiman** yang telah Allah [perintahkan untuk di-] jaga.43

Adapun perempuan-perempuan yang kalian khawatirkan iktikad buruknya,44 [pertama-tama] nasihatilah mereka; kemudian tinggalkan mereka sendiri di tempat tidur; kemudian pukullah mereka;45 dan jika kemudian mereka menaati kalian, janganlah mencari-cari jalan untuk menyakiti mereka. Perhatikanlah, sungguh Allah Mahatinggi, Mahabesar!


* {Kalimat ini adalah terjemahan Asad terhadap frasa al-rijal qawwamuna ‘ala al-nisa’, yang dalam terjemahan Al-Quran Depag RI diterjemahkan menjadi “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan” (edisi 1971) dan “Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri)” (edisi 2002). Di dalam kamus, kata qiwam berarti penyangga, penopang, sehingga qiwam ahlih berarti “penopang atau pendukung keluarga” (provider or supporter of his family). Terjemahan Depag RI edisi 1971 di atas bisa memberi kesan ayat ini sebagai ayat misogini.—AM}

42 Lit., “lebih banyak kepada sebagian mereka daripada kepada sebagian lainnya”.

Ungkapan qawwam merupakan bentuk intensif dari qa’im (“seorang yang bertanggung jawab atas” atau “menjaga” sesuatu atau seseorang). Maka, qama ‘ala al-mar’ah menunjukkan “dia [laki-laki] mengemban tanggung jawab pemberian nafkah atas perempuan itu” atau “dia [laki-laki] menafkahinya” (lihat Lane VIII, h. 2995). Bentuk gramatikal qawwam lebih komprehensif daripada qa’im dan menggabungkan konsep-konsep pemeliharaan dan perlindungan fisik serta pertanggungjawaban moral: dan, karena faktor terakhir inilah, saya menerjemahkan frasa ini menjadi “laki-laki harus sepenuhnya menjaga perempuan”.

** {intimacy; dalam kamus, kata ini berarti: keintiman, kerukunan, dan hubungan seksual.—peny.}

43 Lit., “yang menjaga apa yang tidak bisa dilihat (al-ghaib) karena Allah telah [menghendakinya untuk di-] jaga”.

44 lstilah nusyuz (lit., “pembangkangan”—di sini diterjemahkan menjadi “iktikad buruk”, ill-will) mencakup setiap bentuk perilaku buruk yang disengaja oleh seorang istri terhadap suami atau oleh seorang suami terhadap istri, termasuk apa yang kini digambarkan sebagai “kekejaman mental”; berkenaan dengan suami, nusyuz juga mencakup “perlakuan kasar” secara fisik terhadap istri (bdk. ayat 128 surah ini). Dalam konteks ayat ini, “iktikad-buruk” seorang istri maksudnya adalah tindakan melanggar kewajiban perkawinannya secara terus-menerus dan disengaja.

45 Dari berbagai hadis sahih, jelaslah bahwa Nabi sendiri sangat membenci gagasan memukul istri dan bersabda, pada Iebih dari satu kesempatan, “Bagaimana mungkin salah seorang di antara kalian memukul istrinya seperti dia memukul budak, lalu pada malam hari tidur bersamanya?” (Al-Bukhari dan Muslim). Berdasarkan hadis lainnya, Nabi melarang memukui perempuan mana pun dengan sabdanya, “Jangan pernah memukul hamba-hamba perempuan Allah” (Abu Dawud, Al-Nasa’i, Ibn Majah, Ahmad ibn Hanbal, Ibn Hibban, dan Hakim, berdasarkan riwayat Iyas ibn ‘Abd Allah; Ibn Hibban, berdasarkan riwayat ‘Abd Allah ibn ‘Abbs; dan Baihaqi, berdasarkan riwayat Umm Kultsum). Ketika ayat Al-Quran di atas yang mengesahkan pemukulan terhadap istri yang membangkang diwahyukan, Nabi diberitakan bersabda, “Aku menginginkan sesuatu, tapi Allah berkehendak lain—dan apa yang dikehendaki Allah pastilah lebih baik” (lihat Al-Manar V, h. 74). Berkenaan dengan semua hal ini, Nabi menetapkan dalam pidatonya pada saat Haji Perpisahan (Haji Wada’), menjelang wafatnya, bahwa memukul menjadi alternatif solusi hanya jika istri “jelas-jelas bersalah karena perbuatan dursila (imoral)”, dan bahwa pukulan itu harus “sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan rasa sakit (ghair mubarrih)”; hadis-hadis sahih tentang hal ini terdapat dalam hadis riwayat Muslim, Al-Tirmidzi, Abu Dawud, Al-Nas’i, dan Ibn Majah. Berdasarkan hadis-hadis ini, semua mufasir menekankan bahwa “pemukulan” ini, jikapun dipilih sebagai solusi, hendaknya bersifat kurang lebih simbolis—”dengan sikat gigi atau benda-benda semisalnya” (Al-Thabari, mengutip pandangan ulama terdahulu), atau bahkan “dengan saputangan terlipat” (Al-razi); dan sebagian ulama Muslim terkemuka (misalnya, Al-Syafi’i) berpendapat bahwa memukul itu nyaris tidak diperbolehkan, dan seharusnya dihindari: dan mereka menjustifikasi pendapat ini dengan perasaan pribadi Nabi atas masalah ini.


Surah An-Nisa’ Ayat 35

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا

wa in khiftum syiqāqa bainihimā fab’aṡụ ḥakamam min ahlihī wa ḥakamam min ahlihā, iy yurīdā iṣlāḥay yuwaffiqillāhu bainahumā, innallāha kāna ‘alīman khabīrā

35. Dan, jika kalian khawatir bahwa persengketaan mungkin terjadi di antara pasangan [suami-istri], tunjuklah seorang juru damai dari pihak suami dan seorang juru damai dari pihak istri; jika mereka berdua hendak mengadakan perbaikan, boleh jadi Allah akan menciptakan perdamaian di antara mereka. Perhatikanlah, Allah sungguh Maha Mengetahui, Mahaawas.


Surah An-Nisa’ Ayat 36

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

wa’budullāha wa lā tusyrikụ bihī syai`aw wa bil-wālidaini iḥsānaw wa biżil-qurbā wal-yatāmā wal-masākīni wal-jāri żil-qurbā wal-jāril-junubi waṣ-ṣāḥibi bil-jambi wabnis-sabīli wa mā malakat aimānukum, innallāha lā yuḥibbu mang kāna mukhtālan fakhụrā

36. DAN, SEMBAHLAH Allah [saja], dan janganlah menisbahkan ketuhanan, dengan cara apa pun, kepada apa pun selain Dia.46

Dan, berbuat baiklah kepada orangtua kalian, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dari kalangan kalian sendiri, tetangga yang asing,47 sahabat di sisi kalian, musafir, dan orang-orang yang kalian miliki secara sah.48

Sungguh, Allah tidak menyukai siapa pun di antara orang-orang yang membangga-banggakan diri dengan penuh kesombongan;


46 Ungkapan syai’an (yang diterjemahkan di sini menjadi “dengan cara apa pun”) memberikan kejelasan bahwa syirk (“menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah”) tidak terbatas pada penyembahan terhadap “tuhan-tuhan” lain, tetapi juga mengimplikasikan tindakan menisbahkan kekuatan-kekuatan Ilahi atau semi-Ilahi kepada pribadi-pribadi atau objek-objek yang tidak dipandang sebagai tuhan: dengan kata lain, ia juga mencakup penyembahan terhadap wali-wali (orang suci), dan sebagainya.

47 Yakni, “baik dia berasal dari kalangan kalian sendiri maupun dari komunitas lain”. Bahwa ungkapan “kalangan kalian sendiri” (dzu al-qurba) mengacu pada komunitas dan bukan pada keluarga seseorang yang sebenarnya, tampak jelas dari fakta bahwa “karib kerabat” telah disebutkan sebelumnya pada awal kalimat ini. Nabi sering menekankan kewajiban moral orang yang beriman terhadap tetangganya, apa pun keyakinannya; dan sikapnya tecermin dalam hadis, “Siapa pun yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah berbuat baik kepada tetangganya” (Al-Bukhari, Muslim, dan lain- lain).

48 Menurut ‘Ali ibn Abi Thalib, ‘Abd Allah ibn Mas’ud, dan sejumlah Sahabat lainnya, “sahabat di sisi kalian” (al-shahib bi al-janb) adalah istri atau suami seseorang (Al-Thabari). Sementara, “orang-orang yang kalian miliki secara sah” (secara harfiah, “orang-orang yang dimiliki tangan kanan kalian”) dalam konteks ini berarti budak, baik laki-laki maupun perempuan. Karena ayat ini memerintahkan untuk “berbuat baik” terhadap semua orang yang berhubungan dengan kita, dan karena hal terbaik yang dapat dilakukan kepada budak adalah memerdekakannya, ayat di atas secara eliptis menyeru untuk memerdekakan budak (Al-Manar V, h. 94). Lihat juga Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 146, serta Surah At-Taubah [9]: 60, yang di dalamnya membebaskan manusia dari perbudakan disebutkan secara eksplisit sebagai salah satu tujuan alokasi dana zakat.


Surah An-Nisa’ Ayat 37

الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَيَكْتُمُونَ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا

allażīna yabkhalụna wa ya`murụnan-nāsa bil-bukhli wa yaktumụna mā ātāhumullāhu min faḍlih, wa a’tadnā lil-kāfirīna ‘ażābam muhīnā

37. [begitu juga] orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain bersikap kikir, dan menyembunyikan apa pun yang telah Allah anugerahkan kepada mereka dari karunia-Nya; dan, demikianlah, Kami telah menyiapkan penderitaan yang hina untuk semua orang yang mengingkari kebenaran.


Surah An-Nisa’ Ayat 38

وَالَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ ۗ وَمَنْ يَكُنِ الشَّيْطَانُ لَهُ قَرِينًا فَسَاءَ قَرِينًا

wallażīna yunfiqụna amwālahum ri`ā`an-nāsi wa lā yu`minụna billāhi wa lā bil-yaumil-ākhir, wa may yakunisy-syaiṭānu lahụ qarīnan fa sā`a qarīnā

38. Dan, [Allah tidak menyukai] orang-orang yang menafkahkan harta milik mereka untuk orang lain [hanya] agar dilihat dan dipuji oleh manusia, padahal mereka tidak beriman kepada Allah maupun Hari Akhir; dan orang yang menjadikan setan sebagai sahabat-sejiwa, betapa buruknya sahabat-sejiwa yang dia miliki itu!49


49 Mengingatkan pada Surah Al-Baqarah [2]: 268. Dalam ayat tersebut, setan diceritakan “mengancam kalian dengan kemungkinan menjadi miskin dan mengajak kalian menjadi kikir”. Implikasinya adalah, bahwa orang-orang yang mematuhinya, “menjadikan setan sebagai sahabat-sejiwa (qarin)nya” . Mengenai derivasi kata ini, lihat catatan no. 24 pada Surah Fushshilat [41]: 25.


Surah An-Nisa’ Ayat 39

وَمَاذَا عَلَيْهِمْ لَوْ آمَنُوا بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقَهُمُ اللَّهُ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِهِمْ عَلِيمًا

wa māżā ‘alaihim lau āmanụ billāhi wal-yaumil-ākhiri wa anfaqụ mimmā razaqahumullāh, wa kānallāhu bihim ‘alīmā

39. Dan, apa yang harus mereka takutkan,50 kalau saja mereka beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dan menafkahkan [di jalan-Nya] apa yang telah Allah anugerahkan kepada mereka sebagai rezeki—karena Allah sungguh memiliki pengetahuan yang sempurna mengenai mereka?


50 Lit., “apa yang ada di atas mereka”. Tarnpaknya, hal ini mengacu pada pernyataan Al-Quran yang sering diulang bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah dan hidup secara saleh “tidak perlu takut” (la khauf ‘alaihim—lit., “tidak [perlu] ada ketakutan di atas mereka”).


Surah An-Nisa’ Ayat 40

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۖ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

innallāha lā yaẓlimu miṡqāla żarrah, wa in taku ḥasanatay yuḍā’if-hā wa yu`ti mil ladun-hu ajran ‘aẓīmā

40. Sungguh, Allah tidak menzalimi [siapa pun] (walaupun) seberat atom; dan jika ada perbuatan baik, Dia akan melipatgandakannya, dan akan menganugerahkan pahala yang besar dari rahmat-Nya.51


51 Lit., “dari diri-Nya sendiri”—yakni, jauh melebihi apa yang pantas diperoleh orang saleh.


Surah An-Nisa’ Ayat 41

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ شَهِيدًا

fa kaifa iżā ji`nā ming kulli ummatim bisyahīdiw wa ji`nā bika ‘alā hā`ulā`i syahīdā

41. Maka, bagaimanakah [para pendosa itu akan lolos pada Hari Pengadilan,] tatkala Kami datangkan saksi-saksi dari tiap-tiap umat,52 dan mendatangkan engkau [wahai Nabi] sebagai saksi atas mereka?


52 Yakni, rasul-rasul terdahulu yang diutus kepada setiap umat atau peradaban.


Surah An-Nisa’ Ayat 42

يَوْمَئِذٍ يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَعَصَوُا الرَّسُولَ لَوْ تُسَوَّىٰ بِهِمُ الْأَرْضُ وَلَا يَكْتُمُونَ اللَّهَ حَدِيثًا

yauma`iżiy yawaddullażīna kafarụ wa ‘aṣawur-rasụla lau tusawwā bihimul-arḍ, wa lā yaktumụnallāha ḥadīṡā

42. Pada Hari itu, orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran dan tidak menaati rasul akan berharap agar bumi menelan mereka:53 tetapi mereka tidak akan [mampu] menyembunyikan dari Allah apa pun yang telah terjadi.


53 Lit., “menjadi sama rata dengan mereka”. Kata “rasul” di sini boleh jadi digunakan dalam pengertian umum dan mengacu pada seluruh rasul yang menyampaikan pesan Allah pada satu atau lain waktu.


Surah An-Nisa’ Ayat 43

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا

yā ayyuhallażīna āmanụ lā taqrabuṣ-ṣalāta wa antum sukārā ḥattā ta’lamụ mā taqụlụna wa lā junuban illā ‘ābirī sabīlin ḥattā tagtasilụ, wa ing kuntum marḍā au ‘alā safarin au jā`a aḥadum mingkum minal-gā`iṭi au lāmastumun-nisā`a fa lam tajidụ mā`an fa tayammamụ ṣa’īdan ṭayyiban famsaḥụ biwujụhikum wa aidīkum, innallāha kāna ‘afuwwan gafụrā

43. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Janganlah berusaha melakukan shalat ketika kalian dalam keadaan mabuk,54 [tetapi tunggulah] hingga kalian mengetahui apa yang sedang kalian ucapkan; juga, janganlah [melakukan shalat pada saat kalian berada] dalam keadaan yang menuntut penyucian menyeluruh,55 hingga kalian mandi—kecuali jika kalian sedang bepergian [dan tidak sanggup melakukannya]. Namun, jika kalian sakit, atau dalam perjalanan, atau baru saja membuang hajat,56 atau telah bersebadan dengan perempuan, dan tidak dapat memperoleh air—bertayamumlah dengan debu yang bersih, dengan mengusap secara lembut muka dan tangan kalian [dengannya].57 Perhatikanlah, Allah benar-benar Sang Penghapus Dosa-Dosa, dan Maha Pengampun.


54 Paparan tentang shalat dalam ayat ini bermula dari disebutkannya Hari Pengadilan dalam ayat-ayat sebelumnya, ketika manusia harus menjawab di hadapan Allah tentang apa yang telah dia lakukan selama hidupnya di dunia ini: sebab, dalam shalatlah, seorang manusia menghadap Allah secara spiritual selama hidupnya di bumi dan mengingatkan dirinya sendiri akan tanggung jawabnya kepada Sang Pencipta. Mengenai larangan mengerjakan shalat “dalam keadaan mabuk”, sejumlah mufasir beranggapan bahwa peraturan ini merupakan tahap awal dari larangan total terhadap minuman keras dan, karena itu, telah “dibatalkan” (di-nasakh) oleh pemberlakuan hukum berpantang dari semua minuman keras secara total (Surah Al-Ma’idah [5]: 90). Namun, di samping fakta bahwa doktrin “nasakh” sama sekali tidak dapat dipertahankan (lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 87), tidak ada bukti apa pun untuk menganggap bahwa ayat di atas merupakan “langkah pertama” yang akhirnya menjadi mubazir, demikianlah kira-kira, setelah larangan total diwahyukan. Tentu saja, benar bahwa Al-Quran melarang mengonsumsi minuman keras sepanjang masa, dan tidak hanya pada waktu shalat; tetapi, karena “manusia diciptakan (bersifat) lemah” (Surah An-Nisa’ [4]: 28), ketergelinciran manusia dari jalan kebajikan selalu mungkin terjadi: maka, ayat di atas diberlakukan untuk mencegah bertambahnya dosa karena shalat dalam keadaan mabuk, di samping dosa karena minum minuman keras itu sendiri. Di samping itu, ungkapan “ketika kalian dalam keadaan mabuk (sukara)” berlaku tidak hanya untuk minuman beralkohol, karena kata sukr, dalam konotasinya yang lebih luas, berarti setiap keadaan mental yang tidak seimbang yang mencegah seseorang menggunakan kemampuan-kemampuan intelektual sepenuhnya: dengan kata lain, kata sukr ini dapat pula digunakan untuk menunjuk pada terganggunya kemampuan berpikir secara temporer karena obat-obatan, perasaan pusing, atau hawa nafsu, serta pada keadaan yang secara kiasan digambarkan sebagai drunk with sleep “mengigau”—singkatnya, menunjuk pada setiap kondisi ketika penalaran normal menjadi kacau dan terhenti. Dan, karena Al-Quran menuntut kesadaran sebagai unsur mutlak dalam setiap kegiatan ibadah, shalat hanya diperbolehkan ketika seseorang memiliki kendali penuh atas kemampuan-kemampuan mentalnya, dan ketika “tahu apa yang dia ucapkan”.

55 Yakni, setelah bersanggama. Kata junub (yang saya terjemahkan menjadi: “dalam keadaan yang menuntut penyucian menyeluruh”) merupakan turunan dari verba janaba, “dia membuat [sesuatu] menjadi jauh”, dan berarti “kejauhan” seseorang dari shalat karena tenggelam dalam hasrat seksual.

56 Lit., “jika salah seorang di antara kalian datang dari tempat di mana seseorang membuang …” dan seterusnya.

57 Penyucian simbolik ini, yakni tayamum, dilakukan dengan cara menyentuh tanah, atau apa saja yang dianggap mengandung debu, dengan kedua telapak tangan dan menyapukannya secara lembut pada wajah dan kedua tangan. Manakala air tidak dapat diperoleh, atau tidak dapat digunakan karena sakit, tayamum dapat menggantikan penyucian total setelah melakukan hubungan seks {ghusl; mandi wajib, mandi junub—peny.} dan penyucian parsial sebelum shalat (wudhu).


Surah An-Nisa’ Ayat 44

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يَشْتَرُونَ الضَّلَالَةَ وَيُرِيدُونَ أَنْ تَضِلُّوا السَّبِيلَ

a lam tara ilallażīna ụtụ naṣībam minal-kitābi yasytarụnaḍ-ḍalālata wa yurīdụna an taḍillus-sabīl

44. TIDAKKAH ENGKAU PERHATIKAN orang-orang yang, setelah dianugerahi bagian mereka dari kitab Ilahi,58 kini menukarnya dengan kesesatan, dan menginginkan agar kalian tersesat [pula]?


58 Orang-orang yang dirujuk adalah pengikut-pengikut Al-kitab. Jadi, setelah Al-Quran menyinggung persoalan shalat dalam ayat sebelumnya, ia kembali melanjutkan tema pokoknya: tanggung jawab manusia terhadap perbuatannya dan, khususnya, terhadap cara manusia menanggapi petunjuk yang ditawarkan kepadanya melalui wahyu-wahyu Allah.


Surah An-Nisa’ Ayat 45

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِأَعْدَائِكُمْ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَلِيًّا وَكَفَىٰ بِاللَّهِ نَصِيرًا

wallāhu a’lamu bi`a’dā`ikum, wa kafā billāhi waliyyaw wa kafā billāhi naṣīrā

45. Namun, Allah paling mengetahui siapa musuh-musuh kalian: dan tiada satu pun yang dapat melindungi* seperti Allah, dan tiada satu pun yang dapat menolong seperti Allah.


* {befriend: melindungi, berlaku seperti sahabat, menolong. Kata ini memiliki ragam makna yang mirip dengan kata waliy: pelindung, teman dekat, penolong.—peny.}


Surah An-Nisa’ Ayat 46

مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَٰكِنْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا

minallażīna hādụ yuḥarrifụnal-kalima ‘am mawāḍi’ihī wa yaqụlụna sami’nā wa ‘aṣainā wasma’ gaira musma’iw wa rā’inā layyam bi`alsinatihim wa ṭa’nan fid-dīn, walau annahum qālụ sami’nā wa aṭa’nā wasma’ wanẓurnā lakāna khairal lahum wa aqwama wa lākil la’anahumullāhu bikufrihim fa lā yu`minụna illā qalīlā

46. Di antara orang-orang yang beragama Yahudi, ada sebagian yang mengubah makna kata-kata [yang diwahyukan], dengan mengeluarkannya dari konteksnya dan berkata, [demikian kira- kira,] “Telah kami dengar, tetapi kami tidak taat,” dan, “Dengarlah tanpa memperhatikan,”59 dan, “Perhatikanlah kami [wahai Muhammad]”—yakni, bermain-main dengan lidah mereka, sehingga menunjukkan bahwa Iman [yang benar] adalah batil.60 Dan, andai mereka berkata, “Kami dengar dan kami taat,” dan “Dengarlah [kami], dan bersabarlah dengan kami,” tentulah hal itu untuk kebaikan mereka sendiri dan lebih lurus: tetapi Allah telah menolak mereka karena penolakan mereka untuk mengakui kebenaran—karena mereka tidak beriman, kecuali pada sedikit hal saja.61


59 Bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 93. Ungkapan “Dengarlah tanpa memperhatikan” yang diucapkan, begitulah kira-kira, oleh orang-orang Yahudi kepada mereka sendiri menggambarkan sikap mereka, baik terhadap kitab suci mereka sendiri maupun terhadap pesan Al-Quran.

60 Lit., “membuat serangan (tha’n) terhadap Keimanan”—yakni, menganggap bahwa keyakinan itu memiliki cacat yang mendasar. Ucapan “Perhatikanlah kami” dimaksudkan untuk menyampaikan pendirian orang-orang Yahudi bahwa mereka tidak perlu mempelajari ajaran apa pun yang disampaikan Nabi Muhammad Saw., dan bahwa—sebaliknya—Muhammad-lah yang hendaknya tunduk pada pandangan mereka tentang masalah-masalah keagamaan. Sehubungan dengan ini, lihat pernyataan mereka, “Hati kami telah penuh dengan pengetahuan”, dalam Surah Al-Baqarah [2]: 88.

61 Lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 74.


Surah An-Nisa’ Ayat 47

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ آمِنُوا بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَطْمِسَ وُجُوهًا فَنَرُدَّهَا عَلَىٰ أَدْبَارِهَا أَوْ نَلْعَنَهُمْ كَمَا لَعَنَّا أَصْحَابَ السَّبْتِ ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا

yā ayyuhallażīna ụtul-kitāba āminụ bimā nazzalnā muṣaddiqal limā ma’akum ming qabli an naṭmisa wujụhan fa naruddahā ‘alā adbārihā au nal’anahum kamā la’annā aṣ-ḥābas-sabt, wa kāna amrullāhi maf’ụlā

47. Wahai, kalian yang telah diberi wahyu [terdahulu]! Berimanlah pada apa yang [kini] telah Kami turunkan, yang mempertegas [kebenaran] apa pun yang telah kalian miliki, agar Kami tidak menghapus harapan-harapan kalian dan memupuskannya62—atau Kami menolaknya sebagaimana Kami menolak kaum yang melanggar Sabat itu: sebab, ketetapan Allah senantiasa terlaksana.63


62 Lit., “agar Kami tidak melenyapkan wajah-wajah”—yakni, arah berpalingnya, atau arah menghadapnya seseorang, dengan penuh harapan (‘Abduh dalam Al-Manar V, hh. 144 dst.)—”dan membawa mereka kembali ke akhir-akhir mereka”. Perlu dicatat bahwa kata dubur (yang bentuk jamaknya adalah adbar) tidak selalu berarti “bagian belakang” sesuatu—sebagaimana anggapan sebagian besar penerjemah—tetapi sering berarti “bagian terakhir” atau “akhir”-nya (bdk. Lane III, h. 846).

63 Hal ini mengingatkan pada kisah pelanggar-Sabat (secara harfiah, “orang-orang Sabat”) yang disebutkan dalam Surah Al-Baqarah [2]: 65 dan dijelaskan selengkapnya pada Surah Al-A’raf [7]: 163-166.


Surah An-Nisa’ Ayat 48

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

innallāha lā yagfiru ay yusyraka bihī wa yagfiru mā dụna żālika limay yasyā`, wa may yusyrik billāhi fa qadiftarā iṡman ‘aẓīmā

48. SUNGGUH, Allah tidak mengampuni tindakan menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Dia, meskipun Dia mengampuni dosa apa pun yang lebih kecil64 bagi siapa pun yang Dia kehendaki: sebab, orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah benar-benar telah berbuat dosa yang amat besar.65


64 Lit., “apa pun di bawah itu”.

65 Penekanan Al-Quran yang terus-menerus terhadap kemahaesaan transendental Allah bertujuan membebaskan manusia dari semua rasa kebergantungan pada pengaruh-pengaruh dan kekuatan-kekuatan lain, sehingga akan mengangkat manusia secara spiritual serta melahirkan “pemurnian” yang disinggung pada ayat berikutnya. Karena tujuan ini dirusak oleh dosa syirk (“menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah”), Al-Quran menggambarkannya sebagai dosa yang “tidak terampuni” selama hal itu masih dilakukan—kecuali jika dan hingga sang pendosa bertobat (bdk. ayat 17 dan 18 surah ini).


Surah An-Nisa’ Ayat 49

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ ۚ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا

a lam tara ilallażīna yuzakkụna anfusahum, balillāhu yuzakkī may yasyā`u wa lā yuẓlamụna fatīlā

49. Tidakkah engkau perhatikan orang-orang yang menganggap diri mereka suci?66 Sekali-kali tidak, tetapi Allah-lah yang menyebabkan siapa pun yang Dia kehendaki untuk tumbuh dalam kesucian; dan tiada seorang pun akan dizalimi (walau) selebar rambut pun.67


66 Yakni, orang-orang Yahudi, yang menganggap dirinya sebagai “umat pilihan Tuhan” dan, karenanya, ditakdirkan secara apriori untuk mendapatkan rahmat Tuhan; dan orang-orang Nasrani, yang menganggap Yesus sebagai “penebus dosa” manusia. Juga, ada hubungan yang jelas antara pandangan ini dan disebutkannya syirk pada ayat sebelumnya, karena orang-orang Yahudi dan Nasrani, walaupun tidak memercayai eksistensi tuhan apa pun selain Allah, menisbahkan sifat-sifat Ilahi atau semi-llahi, dalam berbagai tingkatan, kepada manusia-manusia tertentu: kaum Nasrani melakukan hal ini dengan (1) meninggikan Yesus sedemikian rupa sehingga meyakininya sebagai manifestasi Tuhan dalam bentuk manusia dan (2) secara terang-terangan menyembah hierarki santo-santo; kaum Yahudi melakukan hal ini dengan menisbahkan kekuasaan untuk menetapkan hukum kepada cendekiawan-cendekiawan Talmud, yang putusan-putusan hukumnya dipercayai dapat menyalahi, jika diperlukan, peraturan apa pun dalam kitab suci mereka (dalam hal ini, bdk. Surah At-Taubah [9]: 31). Tak perlu dikatakan lagi celaan ini juga berlaku bagi orang Muslim yang tergelincir dalam perbuatan dosa dengan menyembah wali-wali dan mempersembahkan kepada mereka bentuk-bentuk pemuliaan yang hanya berhak ditujukan kepada Allah. Karena itu ungkapan “orang-orang yang menganggap diri mereka suaci” dalam konteks ini mencakup semua orang yang berpikir bahwa mereka memercayai Tuhan Yang Esa (semata-mata karena mereka tidak menyembah beberapa/banyak tuhan secara sadar), tetapi, bagaimanapun, tetap menanggung dosa syirk dalam pengertiannya yang lebih dalam.

67 Berdasarkan kebanyakan buku filologi (misalnya, Al-Qamus), fatil adalah “benang tipis yang digulung di antara jari-jari seseorang”—suatu istilah yang juga, walaupun tidak hanya, menunjukkan serat halus yang menempel pada belahan biji kurma (bdk. Lane VI, h. 2334). Secara idiomatik, istilah itu paling tepat diterjemahkan menjadi “selebar rambut”. Ayat di atas menyatakan, pertama, bahwa kemurnian spiritual bukanlah hak istimewa suatu kelompok atau komunitas tertentu, dan kedua, bahwa seseorang dapat menjadi atau tetap suci hanya berkat rahmat Allah, sebab “manusia diciptakan (bersifat) lemah” (ayat 28 surah ini). Lihat juga catatan no. 27 terhadap paragraf kedua dari Surah An-Najm [53]: 32.


Surah An-Nisa’ Ayat 50

انْظُرْ كَيْفَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۖ وَكَفَىٰ بِهِ إِثْمًا مُبِينًا

unẓur kaifa yaftarụna ‘alallāhil-każib, wa kafā bihī iṡmam mubīnā

50. Perhatikanlah, bagaimana mereka menisbahkan rekaan dusta mereka itu sendiri kepada Allah—tiada lagi dosa yang lebih nyata daripada hal ini.68


68 Lit., “dan ini cukup sebagai suatu dosa yang nyata”. Ayat ini mengacu pada berbagai pernyataan arbitrer dalam masalah teologis, misalnya penegasan kaum Yahudi bahwa mereka adalah “umat pilihan” dan, karena itu, bebas dari hukuman Tuhan; doktrin Kristen tentang “penebusan dosa”; definisi tentang Tuhan sebagai “trinitas” dengan Yesus sebagai “oknum kedua”-nya; dan lain sebagainya.


Surah An-Nisa’ Ayat 51

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَٰؤُلَاءِ أَهْدَىٰ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلًا

a lam tara ilallażīna ụtụ naṣībam minal-kitābi yu`minụna bil-jibti waṭ-ṭāgụti wa yaqụlụna lillażīna kafarụ hā`ulā`i ahdā minallażīna āmanụ sabīlā

51. Tidakkah engkau perhatikan orang-orang yang, setelah diberi bagian mereka dari kitab llahi, [kini] percaya pada misteri-misteri yang tidak berdasar dan (percaya) pada kuasa-kuasa jahat,69 dan berpendapat bahwa orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran pasti lebih mendapat petunjuk daripada orang-orang yang telah meraih iman?


69 Kata al-jibt—yang saya terjemahkan menjadi “misteri-misteri yang tidak berdasar”—mungkin, sebagaimana ditunjukkan dalam Lisan Al-‘Arab, berasal dari bahasa non-Arab. Menurut beberapa mufasir, kata ini menunjukkan: “sesuatu yang tidak bernilai” atau “sesuatu yang tidak ada kebaikannya” (Al-Qamus, Baidhawi); menurut mufasir lainnya, ia berarti “pesona” (‘Umar ibn Al-Khathtb, Mujahid, dan Sya`bi, sebagaimana dikutip oleh Al-Thabari; juga Al-Qamus); yang lain lagi menafsirkannya sebagai “apa pun yang disembah selain Allah” (Al-Zamakhsyari), dan, karena itu, dapat digunakan untuk menunjuk pada berhala dan penyembahan-berhala (Al-Qamus, Lisan Al-‘Arab) dan—menurut sebuah hadis yang dikutip oleh Abu Dawud—menunjuk pada segala jenis ramalan takhayul dan tenung. Dengan mempertimbangkan semua tafsiran ini, al-jibt dapat didefinisikan sebagai “suatu kombinasi dari ide-ide yang membingungkan (dijl), dugaan-dugaan khayali (auham), dan cerita-cerita fiktif (khurafat)” (Al-Manar V, h. 157)—dengan kata lain, misteri-misteri yang muskil tanpa suatu dasar yang nyata.

Adapun mengenai ungkapan “kuasa-kuasa jahat” (al-thaghut)*, tampaknya ia di sini mengacu pada kepercayaan-kepercayaan dan praktik-praktik takhayul—seperti tenung, ramalan tentang masa yang akan datang, kepercayaan terhadap pertanda “baik” atau “buruk”, dan sebagainya—hal-hal yang semuanya dikutuk Al-Quran. Lihat juga Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 250.

* {Dalam Al-Quran Depag RI, kata thaghut diterjemahkan menjadi “sesembahan-sesembahan selain Allah”. Bentuk verbal dari thaghut adalah thagha yang berarti, antara Iain, “melampaui batas”, “sewenang-wenang (tiranik)”. Dalam Surah ThaHa [20]: 24, Fir’aun disebut “telah melanggar batas” (innahu thagha): dia dengan sewenang-wenang mendaku sebagai Tuhan. Dari pengertian inilah kemudian kata thaghut diterjemahkan menjadi sesembahan selain Allah.—AM}


Surah An-Nisa’ Ayat 52

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ ۖ وَمَنْ يَلْعَنِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ نَصِيرًا

ulā`ikallażīna la’anahumullāh, wa may yal’anillāhu fa lan tajida lahụ naṣīrā

52. Mereka itulah orang-orang yang telah Allah tolak: dan siapa yang ditolak oleh Allah tidak akan memperoleh seorang penolong pun.


Surah An-Nisa’ Ayat 53

أَمْ لَهُمْ نَصِيبٌ مِنَ الْمُلْكِ فَإِذًا لَا يُؤْتُونَ النَّاسَ نَقِيرًا

am lahum naṣībum minal-mulki fa iżal lā yu`tụnan-nāsa naqīrā

53. Atau, apakah mungkin mereka berserikat dalam kekuasaan [Allah]?70 Akan tetapi [andaikan mereka berserikat], lihatlah, mereka tidak akan memberikan kepada orang lain (walau) sebesar [isi] celah biji kurma!


70 Sindiran terhadap orang-orang Yahudi yang yakin bahwa mereka memiliki posisi istimewa dalam pandangan Allah.


Surah An-Nisa’ Ayat 54

أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۖ فَقَدْ آتَيْنَا آلَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَآتَيْنَاهُمْ مُلْكًا عَظِيمًا

am yaḥsudụnan-nāsa ‘alā mā ātāhumullāhu min faḍlih, fa qad ātainā āla ibrāhīmal-kitāba wal-ḥikmata wa ātaināhum mulkan ‘aẓīmā

54. Atau, apakah mungkin mereka dengki kepada orang-orang lain karena apa yang telah Allah anugerahkan kepada mereka dari karunia-Nya?71 Namun kemudian, Kami telah anugerahkan wahyu dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah anugerahkan kepada mereka sebuah kerajaan yang besar:


71 Yakni, wahyu yang—menurut orang-orang Yahudi—diperuntukkan khusus bagi mereka saja.


Surah An-Nisa’ Ayat 55

فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ بِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ صَدَّ عَنْهُ ۚ وَكَفَىٰ بِجَهَنَّمَ سَعِيرًا

fa min-hum man āmana bihī wa min-hum man ṣadda ‘an-h, wa kafā bijahannama sa’īrā

55. dan di antara mereka ada yang [benar-benar] beriman padanya,72 dan di antara mereka ada yang berpaling darinya.

Dan, tiada yang dapat membakar seperti [api] neraka:


72 Yakni, pada Ibrahim—artinya, mereka setia mengikuti risalahnya. Hendaknya diperhatikan bahwa Nabi Muhammad Saw. juga adalah keturunan Nabi Ibrahim a.s. melalui garis-langsung, yang risalahnya dipertegas dan dilanjutkan di dalam Al-Quran.


Surah An-Nisa’ Ayat 56

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا

innallażīna kafarụ bi`āyātinā saufa nuṣlīhim nārā, kullamā naḍijat julụduhum baddalnāhum julụdan gairahā liyażụqul-‘ażāb, innallāha kāna ‘azīzan ḥakīmā

56. sebab, sungguh, orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran pesan-pesan Kami, kelak akan Kami jadikan merasakan api: [dan] setiap kali kulit mereka hangus, akan Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang baru, agar mereka merasakan penderitaan [sepenuhnya].73 Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.


73 Alegori yang dahsyat tentang derita akhirat ini jelas dimaksudkan untuk menonjolkan lamanya penderitaan itu (Al-Razi).


Surah An-Nisa’ Ayat 57

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ لَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ ۖ وَنُدْخِلُهُمْ ظِلًّا ظَلِيلًا

wallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti sanudkhiluhum jannātin tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā abadā, lahum fīhā azwājum muṭahharatuw wa nudkhiluhum ẓillan ẓalīlā

57. Namun, orang-orang yang meraih iman dan berbuat kebajikan akan Kami masukkan ke dalam taman-taman yang dilalui aliran sungai-sungai, (mereka) berkediaman di dalamnya melampaui perhitungan waktu; di sana mereka akan mempunyai pasangan-pasangan yang suci: dan [demikianlah] Kami akan masukkan mereka ke dalam kebahagiaan yang berlimpah.74


74 Makna utama zhill adalah “naungan” dan, dengan demikian, ungkapan zhill zhalil dapat diterjemahkan menjadi “naungan yang sangat melindungi”—yakni: “naungan yang penuh”. Namun, dalam pemakaian bahasa Arab klasik, kata zhill juga berarti “tutupan” atau “tempat berlindung” dan, secara figuratif, “perlindungan” (Raghib); dan juga “suatu keadaan yang tenteram, nyaman, dan makmur” (bdk. Lane V, h. 1915) atau singkatnya “kebahagiaan”—dan dalam kombinasi zhill zhalil, berarti “kebahagiaan yang melimpah” (Al-Razi)—yang sepertinya sangat sesuai dengan implikasi-implikasi alegoris dari kata “surga”.


Surah An-Nisa’ Ayat 58

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

innallāha ya`murukum an tu`addul-amānāti ilā ahlihā wa iżā ḥakamtum bainan-nāsi an taḥkumụ bil-‘adl, innallāha ni’immā ya’iẓukum bih, innallāha kāna samī’am baṣīrā

58. PERHATIKANLAH, Allah memerintahkan kalian untuk menyampaikan segala yang diamanatkan atas kalian kepada orang-orang yang berhak menerimanya, dan manakala kalian menetapkan hukum di antara orang-orang, hendaklah menetapkan dengan adil.75 Sungguh, teramat baiklah apa yang Allah perintahkan kepada kalian: sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat!


75 Yakni, dalam kasus-kasus yudisial, dan juga ketika menilai alasan, sikap, dan perilaku orang lain.

Kata amanah berarti apa pun yang telah dipercayakan kepada seseorang, baik dalam pengertian fisik maupun moral (Al-Razi). Jika kita membaca aturan ini dalam konteks ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, jelas bahwa ia mengacu pada pesan atau—mengingat bentuk jamak kata amanat—pada sejumlah kebenaran yang telah disampaikan kepada orang-orang beriman melalui kitab Ilahi, dan yang harus mereka pandang sebagai amanat suci untuk disampaikan lagi kepada “orang-orang yang berhak menerimanya”—yakni, kepada seluruh manusia, yang kepada merekalah pesan-pesan Al-Quran ditujukan. Tentu saja, hal ini tidak berarti bahwa aturan tersebut tidak mencakup pula hal-hal yang lebih luas, misalnya mencakup benda-benda atau tanggung jawab moral apa pun yang diamanatkan kepada orang yang beriman—dan, khususnya, mencakup tindakan menjalankan kekuasaan duniawi dan kedaulatan politik oleh komunitas Muslim atau suatu negara Muslim, yang dibicarakan dalam ayat berikutnya.


Surah An-Nisa’ Ayat 59

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

yā ayyuhallażīna āmanū aṭī’ullāha wa aṭī’ur-rasụla wa ulil-amri mingkum, fa in tanāza’tum fī syai`in fa ruddụhu ilallāhi war-rasụli ing kuntum tu`minụna billāhi wal-yaumil-ākhir, żālika khairuw wa aḥsanu ta`wīlā

59. Wahai, kalian yang telah meraih iman! Taatlah pada Allah, taatlah pada Rasul, dan pada orang-orang dari kalangan kalian76 yang telah mendapatkan amanat kekuasaan; dan jika kalian berlainan pendapat tentang urusan apa pun, rujukkanlah ia pada Allah dan Rasul,77 jika kalian [benar-benar} beriman pada Allah dan hari Akhir. Inilah yang terbaik [bagi kalian], dan yang terbaik kesudahannya.78


76 Yakni, dari kalangan orang-orang yang beriman.

77 Yakni, pada Al-Quran dan Sunnah (perkataan dan perbuatan) Nabi. Lihat juga ayat 65 surah ini.

78 Dibaca dalam kaitannya dengan Surah Alu ‘Imran [3]: 26, yang menyebut Allah sebagai “Pemilik seluruh kekuasaan”—dan, karenanya, merupakan sumber pokok otoritas moral dan politik—ayat di atas menetapkan aturan fundamental mengenai perilaku individu-individu yang beriman serta dasar konseptual bagi negara Islami (Islamic state). Kekuasaan politik dipegang sebagai amanat (amanah) dari Allah; dan kehendak-Nya, sebagaimana diwujudkan dalam peraturan-peraturan yang tertuang dalam Hukum Islam, adalah sumber sejati dari segala kedaulatan. Penekanan, dalam konteks ini, terhadap “orang-orang dari kalangan kalian yang telah mendapatkan amanat kekuasaan” memberi kejelasan bahwa para pemegang kekuasaan (ulu al-amr) dalam negara islami mestilah orang-orang Muslim.


Surah An-Nisa’ Ayat 60

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا

a lam tara ilallażīna yaz’umụna annahum āmanụ bimā unzila ilaika wa mā unzila ming qablika yurīdụna ay yataḥākamū ilaṭ-ṭāgụti wa qad umirū ay yakfurụ bih, wa yurīdusy-syaiṭānu ay yuḍillahum ḍalālam ba’īdā

60. TIDAKKAH ENGKAU PERHATIKAN orang-orang yang mengaku bahwa mereka beriman pada apa yang telah diturunkan kepadamu, [wahai Nabi,] serta pada apa yang diturunkan sebelum engkau, [dan sekalipun begitu, masih] bersedia tunduk pada aturan kuasa-kuasa jahat79—meskipun mereka telah diperintah untuk menolaknya, mengingat bahwa setan tidak lain hanya ingin menyesatkan mereka sejauh-jauhnya?


79 Lit., “yang saling menyeru pada keputusan [atau ‘aturan’] kuasa-kuasa jahat (al-thaghut)”: mengacu pada orang-orang yang disebutkan dalam ayat 51 surah ini; karena orang-orang itu memuliakan apa yang dalam Al-Quran digambarkan sebagai al-thaghut (lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 250), tindakan mereka ini menghalangi semua kebaikan yang sedianya dapat mereka peroleh dari petunjuk berdasarkan wahyu.


Surah An-Nisa’ Ayat 61

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا

wa iżā qīla lahum ta’ālau ilā mā anzalallāhu wa ilar-rasụli ra`aital-munāfiqīna yaṣuddụna ‘angka ṣudụdā

61. Dan demikianlah, setiap kali dikatakan kepada mereka, “Marilah mengikuti apa yang telah Allah turunkan, dan mengikuti Rasul,” niscaya engkau dapat melihat orang-orang munafik ini berpaling dari engkau dengan enggan.80


80 Menurut mufasir-mufasir klasik, orang-orang munafik yang disebutkan dalam ayat 60-64 surah ini mengacu pada kaum munafik Madinah yang, pada masa Nabi, secara lahiriah mengaku sebagai pengikutnya, tetapi tidak sungguh-sungguh memercayai ajaran-ajarannya. Namun, bagi saya, cakupan ayat ini jauh melampaui konteks historis pewahyuannya karena ia menyentuh problem psikologis keimanan yang sering terjadi. Orang-orang yang tidak yakin sepenuhnya bahwa ada suatu realitas di luar jangkauan persepsi manusia (al-ghaib, dalam pengertian yang dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 3), biasanya merasa sulit untuk memisahkan pandangan etis mereka dari kegemaran pribadi dan hasrat mereka yang secara moral dipertanyakan—akibatnya, sering terjadi bahwa mereka “bersedia tunduk pada apa yang diperintahkan oleh kuasa-kuasa jahat itu kepada mereka”. Meskipun mereka dengan setengah hati mengakui bahwa sebagian dari ajaran-ajaran moral yang berdasarkan wahyu (dalam hal ini, Al-Quran) mengandung “kebenaran-kebenaran tertentu”, secara naluriah mereka berpaling dari ajaran itu ketika ia berbenturan dengan apa-apa yang, menurut kebiasaan dan pemikiran mereka, dianggap menarik: dengan demikian, mereka berdosa karena bersikap munafik, dalam pengertian religiusnya yang terdalam.


Surah An-Nisa’ Ayat 62

فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا

fa kaifa iżā aṣābat-hum muṣībatum bimā qaddamat aidīhim ṡumma jā`ụka yaḥlifụna billāhi in aradnā illā iḥsānaw wa taufīqā

62. Namun, bagaimana [mereka akan lolos] ketika musibah menimpa mereka [pada Hari Pengadilan] disebabkan apa yang telah mereka perbuat di dunia ini81—lalu mereka akan datang kepadamu, sambil bersumpah dengan nama Allah, “Maksud kami hanyalah berbuat baik, dan menciptakan keselarasan”?82


81 Lit., “apa yang telah dipersiapkan tangan-tangan mereka”: sebuah paparan terhadap sikap mendua mereka dan terhadap kebingungan yang mungkin ditimbulkan oleh sikap ini terhadap orang lain.

82 Yakni, mereka akan berdalih bahwa tujuan mereka hanyalah menyelaraskan etika Al-Quran dengan pandangan-dunia “humanistik” (yaitu yang berpusat pada manusia): sebuah dalih yang secara implisit ditolak Al-Quran karena merupakan bentuk kemunafikan dan penipuan-diri (bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 11-12). Mengenai frasa “lalu mereka akan datang kepadamu”, lihat ayat 41 surah ini.


Surah An-Nisa’ Ayat 63

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا

ulā`ikallażīna ya’lamullāhu mā fī qulụbihim fa a’riḍ ‘an-hum wa’iẓ-hum wa qul lahum fī anfusihim qaulam balīgā

63. Adapun mereka—Allah mengetahui segala yang ada dalam hati mereka; maka, biarkanlah mereka, dan nasihatilah mereka, dan berbicaralah dengan mereka perihal diri mereka sendiri dengan suatu cara yang khidmat dan berkesan:


Surah An-Nisa’ Ayat 64

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

wa mā arsalnā mir rasụlin illā liyuṭā’a bi`iżnillāh, walau annahum iż ẓalamū anfusahum jā`ụka fastagfarullāha wastagfara lahumur-rasụlu lawajadullāha tawwābar raḥīmā

64. sebab, Kami tidak pernah mengutus seorang rasul pun kecuali bahwa dia harus ditaati dengan seizin Allah.83 Maka, jika saja setelah menzalimi diri sendiri, mereka datang kembali kepadamu dan memohon kepada Allah untuk mengampuni mereka—dan Rasul pun mendoakan agar mereka diampuni—mereka pasti akan mendapati bahwa Allah adalah Sang Penerima Tobat, Sang Pemberi Rahmat.


83 Ungkapan “dengan seizin Allah” dalam konteks ini harus dipahami sebagai “dengan pertolongan Allah” atau “dengan rahmat Allah” (Al-Zamakhsyari, Al-Razi). Sebagaimana sering ditemukan dalam Al-Quran, perubahan kata ganti secara tiba-tiba dalam satu kalimat yang sama—misalnya dari “Kami” atau “Aku” menjadi “Dia”, atau dari “Kami” menjadi “Allah”—dimaksudkan untuk menanamkan kesan kepada pendengar atau pembaca Al-Quran akan fakta bahwa Allah bukanlah suatu “sosok pribadi” (person), melainkan suatu Kekuatan Yang Maha Meliputi, yang tidak dapat didefinisikan atau bahkan tidak dapat diungkapkan secara memadai melalui bahasa manusia mana pun karena keterbatasan bahasa manusia tersebut.


Surah An-Nisa’ Ayat 65

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

fa lā wa rabbika lā yu`minụna ḥattā yuḥakkimụka fīmā syajara bainahum ṡumma lā yajidụ fī anfusihim ḥarajam mimmā qaḍaita wa yusallimụ taslīmā

65. Namun, sekali-kali tidak, demi Pemeliharamu! Mereka tidak [benar-benar] beriman kecuali kalau mereka menjadikan engkau [wahai Nabi] sebagai hakim dalam setiap perkara yang mereka perselisihkan di antara mereka sendiri, dan kemudian tidak menemukan penghalang dalam hati mereka untuk menerima keputusanmu dan menerima [keputusan itu] dengan penyerahan-diri sepenuhnya.84


84 Secara tegas, ayat ini mewajibkan setiap Muslim untuk tunduk pada peraturan-peraturan yang diajarkan Nabi, melalui wahyu Ilahi, yang berisi contoh-contoh bagaimana Al-Quran harus diamalkan, sehingga memungkinkan orang-orang beriman untuk menerapkannya dalam kehidupan nyata. Peraturan-peraturan ini membentuk apa yang disebut sebagai sunnah (lit., “jalan”) Nabi Muhammad Saw. dan mempunyai kekuatan legal penuh (jika terbukti sahih—bebas dari kemungkinan keraguan) bersama dengan Al-Quran: lihat ayat 80 surah ini.


Surah An-Nisa’ Ayat 66

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوهُ إِلَّا قَلِيلٌ مِنْهُمْ ۖ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا

walau annā katabnā ‘alaihim aniqtulū anfusakum awikhrujụ min diyārikum mā fa’alụhu illā qalīlum min-hum, walau annahum fa’alụ mā yụ’aẓụna bihī lakāna khairal lahum wa asyadda taṡbītā

66. Meskipun demikian, andai Kami perintahkan kepada mereka,85 “Korbankanlah diri kalian,” atau “Tinggalkanlah negeri kalian,” hanya sebagian kecil dari mereka yang akan melakukannya86—meskipun, jika mereka melaksanakan apa yang dinasihatkan kepada mereka, hal yang demikian itu sungguh untuk kebaikan mereka sendiri dan akan sangat mengukuhkan [keimanan] mereka,


85 Yakni, melalui wahyu-Ilahi yang disampaikan kepada Nabi (lihat catatan sebelum ini).

86 Lit., “mereka tidak akan melakukannya, kecuali sedikit di antara mereka”: kata ganti hum (mereka) jelas mengacu pada orang-orang yang setengah-hati, yang tidak siap melakukan pengorbanan yang dituntut oieh keyakinan mereka “Korbankanlah diri kalian” untuk membela keyakinan dan kebebasan serta, jika perlu, meninggalkan kampung halaman, mengawali—demikianlah kira-kira—suatu uraian panjang tentang berperang di jalan Allah, yang dimulai dari ayat 71.


Surah An-Nisa’ Ayat 67

وَإِذًا لَآتَيْنَاهُمْ مِنْ لَدُنَّا أَجْرًا عَظِيمًا

wa iżal la`ātaināhum mil ladunnā ajran ‘aẓīmā

67. kemudian Kami pasti anugerahkan kepada mereka, dari rahmat Kami, imbalan yang besar,


Surah An-Nisa’ Ayat 68

وَلَهَدَيْنَاهُمْ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا

wa lahadaināhum ṣirāṭam mustaqīmā

68. dan pasti (Kami) beri mereka petunjuk ke jalan yang lurus.


Surah An-Nisa’ Ayat 69

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

wa may yuṭi’illāha war-rasụla fa ulā`ika ma’allażīna an’amallāhu ‘alaihim minan-nabiyyīna waṣ-ṣiddīqīna wasy-syuhadā`i waṣ-ṣāliḥīn, wa ḥasuna ulā`ika rafīqā

69. Sebab, semua yang menaati Allah dan Rasul akan termasuk di antara orang-orang yang telah Allah anugerahi nikmat: (yakni) para nabi, orang-orang yang tidak pernah menyimpang dari kebenaran, orang-orang yang [dengan hidup mereka] menjadi saksi atas kebenaran, dan orang-orang saleh: dan mereka itulah sebaik-baiknya sahabat!


Surah An-Nisa’ Ayat 70

ذَٰلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ عَلِيمًا

żālikal-faḍlu minallāh, wa kafā billāhi ‘alīmā

70. Demikianlah karunia Allah—dan tiada satu pun yang memiliki ilmu yang Allah miliki.


Surah An-Nisa’ Ayat 71

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُبَاتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعًا

yā ayyuhallażīna āmanụ khużụ ḥiżrakum fanfirụ ṡubātin awinfirụ jamī’ā

71. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Bersiaga penuhlah menghadapi bahaya, baik kalian pergi berperang dalam kelompok-kelompok kecil maupun secara keseluruhan.87


87 Lit., “dan lalu majulah, [baik] dalam kelompok kecil atau secara keseluruhan”—ungkapan yang disebutkan terakhir itu dapat diterapkan untuk menunjuk apa yang pada masa kini disebut dengan “perang total”. Kata hidzr tidak hanya berkonotasi dengan usaha menjaga diri seseorang terhadap bahaya yang dekat, tetapi mencakup juga usaha membuat segala persiapan yang perlu, seperti (dalam konteks ini) organisasi militer, perlengkapan, dan sebagainya. Masalah perang itu sendiri timbul dari prinsip-prinsip kenegaraan yang bersifat ideologis, yang didalilkan dalam ayat 59 surah ini. Karena kaum Muslim diharapkan untuk mengorganisasikan kehidupan komunal mereka dalam kerangka sebuah negara yang didasarkan pada premis-premis ideologis yang terdapat dalam Al-Quran, mereka harus dipersiapkan untuk menghadapi permusuhan kelompok atau bangsa yang menentang pandangan-dunia dan sistem sosial Islam serta, yang diduga, akan berkukuh menghancurkannya: karena itu, konsep perang defensif di jalan Allah (jihad) memainkan peran yang sangat penting dalam skema sosio-politik Islam dan sering kali disinggung dalam berbagai tempat dalam Al-Quran.


Surah An-Nisa’ Ayat 72

وَإِنَّ مِنْكُمْ لَمَنْ لَيُبَطِّئَنَّ فَإِنْ أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَالَ قَدْ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيَّ إِذْ لَمْ أَكُنْ مَعَهُمْ شَهِيدًا

wa inna mingkum lamal layubaṭṭi`ann, fa in aṣābatkum muṣībatung qāla qad an’amallāhu ‘alayya iż lam akum ma’ahum syahīdā

72. Dan, perhatikanlah, sungguh ada di antara kalian orang yang berlambat-lambat, dan kemudian, jika musibah menimpa kalian, (dia) berkata, “Allah telah menganugerahkan nikmat-Nya kepadaku karena aku tidak ikut bersama mereka!”


Surah An-Nisa’ Ayat 73

وَلَئِنْ أَصَابَكُمْ فَضْلٌ مِنَ اللَّهِ لَيَقُولَنَّ كَأَنْ لَمْ تَكُنْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ مَوَدَّةٌ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ مَعَهُمْ فَأَفُوزَ فَوْزًا عَظِيمًا

wa la`in aṣābakum faḍlum minallāhi layaqụlanna ka`al lam takum bainakum wa bainahụ mawaddatuy yā laitanī kuntu ma’ahum fa afụza fauzan ‘aẓīmā

73. Akan tetapi, jika keberuntungan datang kepada kalian dari Allah, orang yang seperti itu88 pasti akan berkata—seolah-olah belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kalian dan dia—: “Duhai, andai aku bersama-sama mereka, sehingga aku mendapat [bagian dari] kemenangan besar [mereka]!”


88 Lit., “dia”.


Surah An-Nisa’ Ayat 74

فَلْيُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يَشْرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآخِرَةِ ۚ وَمَنْ يُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيُقْتَلْ أَوْ يَغْلِبْ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

falyuqātil fī sabīlillāhillażīna yasyrụnal-ḥayātad-dun-yā bil-ākhirah, wa may yuqātil fī sabīlillāhi fa yuqtal au yaglib fa saufa nu`tīhi ajran ‘aẓīmā

74. Karena itu, hendaklah mereka berperang di jalan Allah—semua orang yang bersedia menukar kehidupan dunia ini dengan kehidupan akhirat: sebab, bagi orang yang berperang di jalan Allah, baik dia gugur atau memperoleh kemenangan, kelak akan Kami anugerahkan pahala yang besar.


Surah An-Nisa’ Ayat 75

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا

wa mā lakum lā tuqātilụna fī sabīlillāhi wal-mustaḍ’afīna minar-rijāli wan-nisā`i wal-wildānillażīna yaqụlụna rabbanā akhrijnā min hāżihil-qaryatiẓ-ẓālimi ahluhā, waj’al lanā mil ladungka waliyyā, waj’al lanā mil ladungka naṣīrā

75. Dan, bagaimana kalian sampai menolak berperang89 di jalan Allah dan (untuk membela) orang-orang yang tak berdaya baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak yang berseru, “Wahai, Pemelihara kami! Keluarkanlah kami [menyongsong kemerdekaan] dari negeri ini, yang penduduknya adalah para penindas; dan bangkitkanlah untuk kami, berkat rahmat-Mu, seorang pelindung; dan bangkitkanlah untuk kami, berkat rahmat-Mu, seseorang yang akan memberi kami pertolongan!”


89 Lit., “apa gerangan masalahnya dengan kalian sehingga kalian tidak berperang”—artinya, mereka tidak mempunyai alasan moral untuk melakukan penolakan semacam itu.


Surah An-Nisa’ Ayat 76

الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

allażīna āmanụ yuqātilụna fī sabīlillāh, wallażīna kafarụ yuqātilụna fī sabīliṭ-ṭāgụti fa qātilū auliyā`asy-syaiṭān, inna kaidasy-syaiṭāni kāna ḍa’īfā

76. Orang-orang yang telah meraih iman berperang di jalan Allah, sedangkan orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran berperang di jalan kuasa-kuasa jahat. Maka, perangilah kawan-kawan setan itu: sungguh, tipu daya setan itu benar-benar lemah!90


90 Jadi, Al-Quran menunjukkan bahwa “kejahatan” bukanlah merupakan faktor independen dan esoteris dari kehidupan, melainkan lebih merupakan akibat takluknya seseorang terhadap godaan yang timbul karena kelemahan moralnya sendiri dan, karena itu, “mengingkari kebenaran”. Dengan kata lain, “kekuatan” prinsip negatif yang disimbolkan dengan setan tidak memiliki realitas intrinsik (“tipu daya setan itu benar-benar lemah”): ia hanya akan terwujud jika manusia dengan sengaja memilih tindakan yang salah.


Surah An-Nisa’ Ayat 77

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوا أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً ۚ وَقَالُوا رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَ لَوْلَا أَخَّرْتَنَا إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ ۗ قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَىٰ وَلَا تُظْلَمُونَ فَتِيلًا

a lam tara ilallażīna qīla lahum kuffū aidiyakum wa aqīmuṣ-ṣalāta wa ātuz-zakāh, fa lammā kutiba ‘alaihimul-qitālu iżā farīqum min-hum yakhsyaunan-nāsa kakhasy-yatillāhi au asyadda khasy-yah, wa qālụ rabbanā lima katabta ‘alainal-qitāl, lau lā akhkhartanā ilā ajaling qarīb, qul matā’ud-dun-yā qalīl, wal-ākhiratu khairul limanittaqā, wa lā tuẓlamụna fatīlā

77. TIDAKKAH ENGKAU PERHATIKAN orang-orang yang dikatakan kepada mereka, “Tahanlah tangan kalian,91 dan berteguhlah mendirikan shalat, dan tunaikanlah zakat”? Namun, segera setelah perang [di jalan Allah] diwajibkan kepada mereka, lihatlah, sebagian dari mereka merasa gentar kepada manusia sebagaimana seharusnya seseorang merasa gentar kepada Allah atau bahkan lebih gentar lagi—dan berkata, “Wahai, Pemelihara kami! Mengapa Engkau mewajibkan perang kepada kami? Andaikan Engkau memberi penangguhan sebentar saja!”

Katakanlah: “Amat singkat kesenangan dunia ini, sedangkan kehidupan akhirat itulah yang terbaik bagi orang-orang yang sadar akan Allah—karena tiada seorang pun di antara kalian akan dizalimi walau selebar rambut pun.


91 Yakni, dari tindak kekerasan yang zalim, yang sering merupakan kecenderungan manusia. Fakta bahwa kebanyakan manusia harus diperintah untuk menahan diri dari kekerasan dikontraskan, dalam kalimat berikutnya, dengan keengganan banyak manusia untuk menanggung risiko menghadapi bahaya fisik di jalan kesalehan.


Surah An-Nisa’ Ayat 78

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ ۗ وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِنْدِكَ ۚ قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ فَمَالِ هَٰؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا

aina mā takụnụ yudrikkumul-mautu walau kuntum fī burụjim musyayyadah, wa in tuṣib-hum ḥasanatuy yaqụlụ hāżihī min ‘indillāh, wa in tuṣib-hum sayyi`atuy yaqụlụ hāżihī min ‘indik, qul kullum min ‘indillāh, fa māli hā`ulā`il-qaumi lā yakādụna yafqahụna ḥadīṡā

78. Di mana saja kalian berada, kematian akan menyergap kalian—sekalipun kalian berada di dalam menara-menara nan tinggi menjulang.”

Namun, tatkala sesuatu yang baik terjadi pada mereka, beberapa [orang] berkata, “Ini dari Allah,” sedangkan tatkala keburukan menimpa mereka, mereka berkata, “Ini dari engkau [Bung]!”92

Katakanlah: “Semuanya dari Allah.”

Maka, apa gerangan masalahnya dengan orang-orang ini sehingga mereka sama sekali tidak dapat menangkap kebenaran dari hal-hal yang dikatakan kepada mereka?93


92 Yakni, mereka tidak menyadari bahwa kejadian buruk mungkin terjadi akibat perbuatan mereka sendiri atau karena salah memilih jalan dari beberapa alternatif yang tersedia bagi mereka. Alih-alih, mereka buru-buru mengaitkannya dengan kesalahan atau kekurangan orang lain.

93 Lit., “sesuatu yang dikatakan [kepada mereka]”—yakni, kebenaran yang, baik melalui nalar mereka sendiri maupun melalui ajaran semua nabi, seharusnya tampak jelas bagi mereka.


Surah An-Nisa’ Ayat 79

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ ۚ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا

mā aṣābaka min ḥasanatin fa minallāhi wa mā aṣābaka min sayyi`atin fa min nafsik, wa arsalnāka lin-nāsi rasụlā, wa kafā billāhi syahīdā

79. Kebaikan apa pun yang terjadi padamu adalah dari Allah; dan keburukan apa pun yang menimpamu adalah dari dirimu sendiri.94

DAN, KAMI telah mengutusmu [wahai Muhammad] sebagai seorang rasul bagi seluruh manusia: dan tiada satu pun yang dapat memberi kesaksian [atas hal ini] sebagaimana Allah.


94 Tidak ada kontradiksi antara pernyataan ini dan pernyataan sebelumnya bahwa “semuanya dari Allah”. Dalam pandangan-dunia Al-Quran, Allah adalah sumber pokok semua kejadian: karena itu, semua kebaikan yang datang kepada seseorang dan semua keburukan yang menimpanya, pada hakikatnya, bersumber dari kehendak Allah. Bagaimanapun, apa-apa yang dipandang manusia sebagai “nasib buruk” itu, pada akhirnya, tidak semuanya benar-benar merupakan keburukan (evil)—karena “boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia baik bagi kalian, dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu, padahal ia buruk bagi kalian: dan Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui” (Surah Al-Baqarah [2]: 216). Jadi, banyak hal yang tampaknya “buruk/jahat”, tapi boleh jadi hanya merupakan ujian dan suatu cara yang ditetapkan Allah untuk mendorong pertumbuhan spiritual melalui penderitaan; dan, hal-hal yang tampaknya “buruk” itu tidak selalu merupakan akibat dari pilihan yang salah atau perbuatan salah yang dilakukan seseorang yang tertimpa kemalangan. Karena itu, jelas bahwa “keburukan” atau “nasib malang” yang dibicarakan ayat ini mempunyai konotasi yang terbatas, sebab ia mengacu pada keburukan dalam pengertian moral kata ini, yakni: pada penderitaan yang timbul karena perbuatan atau perilaku seseorang, dan ini sesuai dengan hukum kausalitas alam yang telah Allah tetapkan pada semua ciptaan-Nya, dan yang digambarkan Al-Quran sebagai “ketetapan Allah” (sunnah Allah). Untuk semua penderitaan semacam ini, hanya manusia itu sendirilah yang dapat dipersalahkan, karena “Allah tidak menzalimi [siapa pun] (walaupun) seberat atom” (Surah An-Nisa’ [4]: 40).


Surah An-Nisa’ Ayat 80

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

may yuṭi’ir-rasụla fa qad aṭā’allāh, wa man tawallā fa mā arsalnāka ‘alaihim ḥafīẓā

80. Siapa pun yang taat kepada Rasul berarti taat kepada Allah; adapun orang-orang yang berpaling—Kami mengutusmu bukan untuk menjadi pemelihara mereka.


Surah An-Nisa’ Ayat 81

وَيَقُولُونَ طَاعَةٌ فَإِذَا بَرَزُوا مِنْ عِنْدِكَ بَيَّتَ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ غَيْرَ الَّذِي تَقُولُ ۖ وَاللَّهُ يَكْتُبُ مَا يُبَيِّتُونَ ۖ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا

wa yaqụlụna ṭā’atun fa iżā barazụ min ‘indika bayyata ṭā`ifatum min-hum gairallażī taqụl, wallāhu yaktubu mā yubayyitụn, fa a’riḍ ‘an-hum wa tawakkal ‘alallāh, wa kafā billāhi wakīlā

81. Dan, mereka berkata, “Kami sungguh taat padamu”95—tetapi ketika mereka telah pergi dari hadapanmu, sebagian dari mereka merekayasa, di tengah gelapnya malam, [kepercayaan-kepercayaan] yang lain dari yang engkau katakan;96 padahal sementara itu, Allah mencatat apa yang mereka rekayasa di tengah gelapnya malam itu. Maka, tinggalkanlah mereka, dan bersandarlah penuh percaya kepada Allah: sebab, tiada satu pun yang layak dipercaya sebagaimana Allah.


95 Lit., “Dan, mereka berkata, ‘Ketaatan'”; mengacu pada kaum munafik Madinah pada masa Nabi dan—implikasinya—pada orang-orang yang berpura-pura mengagumi Islam dan para pengikut Islam yang ragu-ragu sepanjang masa.

96 Yakni, mereka diam-diam mencoba menyelewengkan pesan Rasul Allah. Verba bata berarti “dia menghabiskan malam”; dalam bentuk bayyata, ia berarti “dia merencanakan [sesuatu atau melakukan sesuatu] pada malam hari” atau “dia merekayasa/memikirkan [sesuatu] pada malam hari” (Lisan Al-‘Arab), yakni, secara rahasia, yang disimbolkan dengan “gelapnya malam”.


Surah An-Nisa’ Ayat 82

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

a fa lā yatadabbarụnal-qur`ān, walau kāna min ‘indi gairillāhi lawajadụ fīhikhtilāfang kaṡīrā

82. Maka, apakah mereka tidak berusaha memahami Al-Quran ini? Andai ia berasal bukan dari Allah, tentulah mereka akan mendapati banyak pertentangan internal di dalamnya!97


97 Yakni, fakta bahwa Al-Quran bebas dari segala kontradiksi internal—meskipun diwahyukan secara bertahap selama dua puluh tiga tahun—seharusnya meyakinkan mereka bahwa ia tidak “dikarang oleh Muhammad” (suatu tuduhan yang sering kali dilontarkan terhadapnya, tidak hanya oleh orang-orang yang hidup pada masanya, tetapi juga oleh orang-orang tidak beriman pada masa-masa kemudian), tetapi hanya mungkin berasal dari sebuah sumber yang melampaui batas-batas kemampuan manusia (adi-manusia, supra-human). Lihat juga Surah Al-Furqan [25]: 32 dan Surah Az-Zumar [39]: 23.


Surah An-Nisa’ Ayat 83

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

wa iżā jā`ahum amrum minal-amni awil-khaufi ażā’ụ bih, walau raddụhu ilar-rasụli wa ilā ulil-amri min-hum la’alimahullażīna yastambiṭụnahụ min-hum, walau lā faḍlullāhi ‘alaikum wa raḥmatuhụ lattaba’tumusy-syaiṭāna illā qalīlā

83. DAN, JIKA datang kepada mereka urusan [rahasia] apa pun menyangkut perdamaian atau peperangan, mereka98 menyebarluaskannya—padahal, andai mereka menyerahkannya kepada Rasul dan kepada orang-orang dari kalangan kaum beriman99 yang telah diamanati kewenangan, tentulah mereka yang ahli dalam memperoleh informasi rahasia100* akan mengetahui [apa yang harus dilakukan dengan] hal itu.

Dan, andai bukan karena karunia Allah terhadap kalian dan rahmat-Nya, niscaya kalian semua, kecuali sebagian kecil saja, sudah akan mengikuti setan.


98 Yakni, mereka yang menganut Islam dengan setengah hati, yang dibicarakan dalam ayat terdahulu (Al-Zamakhsyari). Sebutan mengenai perdamaian atau peperangan—lit., “aman atau bahaya (khauf)”—dihubungkan, pertama, dengan prinsip-prinsip dasar kenegaraan yang disebutkan dalam ayat 59 surah ini dan, kedua, dengan wacana tentang perang di jalan Allah yang dimulai dari ayat 71.

99 Lit., “dari kalangan mereka”.

100 Lit., “orang-orang dari kalangan mereka yang memperoleh/menguak [kebenaran]”, yakni aparatur-aparatur khusus negara yang diamanatkan untuk mengumpulkan dan mengevaluasi informasi-informasi intelijen di bidang politik dan mtliter.

* {Frasa ini dalam Al-Quran Depag Rl diterjemahkan menjadi “tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya (secara resmi) dari mereka (Rasul dan Ulil Amri)”. Perbedaan ini terjadi karena Muhammad Asad memahami kata minhum dengan pengertian “sebagian dari mereka” (orang-orang yang bertugas menguak kebenaran) sehingga menerjemahkannya menjadi “mereka yang ahli dalam memperoleh informasi rahasia”. Sedangkan, terjemahan Depag RI memahaminya dengan arti “dari mereka” (yakni: Rasul dan Ulil Amri). Dilihat dari struktur kalimat, terjemahan Depag RI lebih tepat.—AM}


Surah An-Nisa’ Ayat 84

فَقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا تُكَلَّفُ إِلَّا نَفْسَكَ ۚ وَحَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ ۖ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَكُفَّ بَأْسَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَاللَّهُ أَشَدُّ بَأْسًا وَأَشَدُّ تَنْكِيلًا

fa qātil fī sabīlillāh, lā tukallafu illā nafsaka wa ḥarriḍil-mu`minīn, ‘asallāhu ay yakuffa ba`sallażīna kafarụ, wallāhu asyaddu ba`saw wa asyaddu tangkīlā

84. Maka, berperanglah engkau101 di jalan Allah—karena engkau hanya bertanggung jawab terhadap dirimu sendiri—dan gugahlah semangat orang-orang beriman untuk menaklukkan segala rasa takut akan kematian.102 Boleh jadi, Allah menahan kekuatan orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran itu: sebab, Allah lebih besar kekuatan-Nya, dan lebih besar kemampuan-Nya untuk menghalangi.


101 Meskipun utamanya ditujukan kepada Nabi, kata “engkau” dalam kalimat ini mengacu pada setiap orang yang beriman. Peringatan di atas harus dipahami dalam konteks perang yang sedang terjadi dan bukan suatu hasutan (incitement) untuk melakukan peperangan.

102 Istilah haradh berarti kerusakan tubuh atau pikiran” atau “kerusakan perilaku seseorang” serta “kegelisahan pikiran yang terus-menerus” (Al-Qamus). Menurut Raghib, bentuk verbal harradhahu berarti “dia menghilangkan semua haradh dari dirinya”—senada dengan ungkapan marradhahu, “dia menghilangkan penyakit (maradh) dari dirinya”. Dalam Al-Quran, verba harridh ini muncul dua kali (yakni, dalam ayat ini serta dalam Surah Al-Anfal [8]: 65) dalam bentuk kalimat perintah (fi’l al-amr): “Bebaskanlah orang-orang beriman dari segala kegelisahan pikiran” atau, secara figuratif, “dari segala rasa takut akan kematian”—dan, karena itu, dapat dengan tepat diungkapkan demikian: “gugahlah semangat (inspire) orang-orang beriman untuk menaklukkan segala rasa takut akan kematian”. Frasa harridh al-mu’minin biasanya diterjemahkan menjadi “desaklah” (urge) [atau “piculah” (rouse) atau “agitasilah” (stir up)] orang-orang beriman”, tetapi terjemahan itu tidak mencakup makna harradha seutuhnya—walaupun fakta menunjukkan bahwa terjemahan yang seperti itu dikemukakan oleh sejumlah filolog klasik (bdk. Lane II, h. 548).


Surah An-Nisa’ Ayat 85

مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا ۖ وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقِيتًا

may yasyfa’ syafā’atan ḥasanatay yakul lahụ naṣībum min-hā, wa may yasyfa’ syafā’atan sayyi`atay yakul lahụ kiflum min-hā, wa kānallāhu ‘alā kulli syai`im muqītā

85. Siapa pun yang mengajak ke jalan yang baik* akan memperoleh bagian berkahnya;103 dan siapa pun yang mengajak ke jalan yang buruk akan mempertanggungjawabkan perannya dalam hal itu: sebab, sungguh, Allah mengawasi segala sesuatu.104


* {Kalimat “… mengajak ke jalan yang baik” adalah terjemahan yang diberikan oleh Asad untuk frasa yasyfa’ syafa’at hasanat, yang dalam Al-Quran Depag RI diterjemahkan menjadi “memberi syafaat yang baik”. Dalam kamus, kata syafa’at berarti “mediasi” (perantaraan) sehingga pelakunya (syafi’) berarti “mediator”. Orang yang mengajak orang lain berbuat baik adalah “mediator” dan, karena itu, Muhammad Asad memberikan penerjemahan seperti di atas.—AM}

103 Lit., “akan memperoleh bagian (nashib) darinya”. Karena istilah nashib di sini bermakna positif, ia dapat dengan tepat diterjemahkan menjadi “bagian berkahnya”.

104 Nomina kifl merupakan turunan dari verba kafala, “dia membuat dirinya bertanggung jawab [terhadap sesuatu]”. Menurut Al-Thabari, kata itu, dalam konteks ini, berarti “ikut bertanggung jawab dan berdosa”. Ungkapan minha (“darinya”) mengindikasikan peran si pendosa datam tindak kejahatan, yang padanya kata ganti milik ha (“nya”) mengacu.


Surah An-Nisa’ Ayat 86

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

wa iżā ḥuyyītum bitaḥiyyatin fa ḥayyụ bi`aḥsana min-hā au ruddụhā, innallāha kāna ‘alā kulli syai`in ḥasībā

86. Namun, jika kalian dihormati dengan suatu penghormatan [kedamaian], balaslah dengan penghormatan yang bahkan lebih baik, atau [setidaknya] dengan yang sepadan dengannya.105 Sungguh, Allah benar-benar memperhitungkan segala sesuatu.


105 Lit., “hormatilah dengan lebih baik daripada itu atau kembalikanlah”. Dalam konteks ayat ini, hal ini jelas mengacu pada suatu tawaran perdamaian yang diajukan oleh musuh yang berperang dengan kaum Mukmin serta mengacu pada individu-individu yang, walaupun mungkin saja termasuk golongan musuh, tampaknya mempunyai maksud-maksud damai. Sesuai dengan perintah, “jika mereka condong pada perdamaian, hendaknya engkau pun condong pada perdamaian” (Surah Al-Anfal [8]: 61), dan “jika mereka berhenti, semua permusuhan harus berakhir” (Surah Al-Baqarah [2]: 193), orang-orang beriman wajib berdamai dengan musuh yang jelas-jelas bermaksud mencapai kesepakatan yang adil; begitu pula, mereka harus sungguh-sungguh mempertimbangkan individu-individu dari kalangan musuh yang tidak ikut serta secara aktif dalam permusuhan (lihat juga ayat 94 surah ini).


Surah An-Nisa’ Ayat 87

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ ۗ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا

allāhu lā ilāha illā huw, layajma’annakum ilā yaumil-qiyāmati lā raiba fīh, wa man aṣdaqu minallāhi ḥadīṡā

87. Allah—yang tidak ada tuhan kecuali Dia—pasti akan mengumpulkan kalian semua bersama-sama pada Hari Kebangkitan, yang [kedatangannya] tidak diragukan lagi: dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?


Surah An-Nisa’ Ayat 88

فَمَا لَكُمْ فِي الْمُنَافِقِينَ فِئَتَيْنِ وَاللَّهُ أَرْكَسَهُمْ بِمَا كَسَبُوا ۚ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَهْدُوا مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ ۖ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا

fa mā lakum fil-munāfiqīna fi`ataini wallāhu arkasahum bimā kasabụ, a turīdụna an tahdụ man aḍallallāh, wa may yuḍlilillāhu fa lan tajida lahụ sabīlā

88. Maka, bagaimana bisa pikiran kalian mendua106** mengenai orang-orang munafik, padahal Allah [sendiri] telah memungkiri mereka disebabkan kesalahan mereka?107 Atau, apakah kalian ingin memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah Allah biarkan sesat—padahal engkau tidak akan pernah dapat menemukan jalan bagi orang yang Allah biarkan sesat?


106 Lit., “dua golongan”.

** {Kalimat ini merupakan terjemahan yang diberikan oleh Asad untuk frasa fama lakum fi al-munafiqin fi’atain. Frasa ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik”. Dalam terjemahan yang diberikan oleh Asad terkandung arti bahwa “kamu” (orang-orang beriman) tidak terpecah menjadi dua golongan, tetapi yang terpecah adalah “pikiranmu” (ragu-ragu). Sedangkan, dalam terjemahan Depag, yang terpecah adalah “(pendapat) orang-orang beriman”. Kata fi’at, lazimnya, memang diartikan dengan golongan atau kelompok.—AM}

107 Lit., “mengingat bahwa Allah telah melemparkan mereka kembali sebagai akibat darl apa yang telah mereka usahakan”. Ada berbagai dugaan, yang hampir semuanya bersifat historis, mengenai identitas orang-orang munafik ini. Sejumlah mufasir menganggap bahwa ayat tersebut mengacu pada kaum munafik Madinah pada tahun-tahun awal hijrah Nabi; yang lain (misalnya, Al-Thabari) lebih memilih pendapat yang dikemukakan Ibn ‘Abbas bahwa ayat tersebut mengacu pada orang-orang Makkah tertentu yang, sebelum hijrah Nabi, secara lahirnya menerima Islam, tetapi terus mendukung kaum musyrik Quraisy dengan sembunyi-sembunyi. Namun, bagi saya, tampaknya kita tidak perlu menelusuri tafsiran “historis” dari ayat ini karena ayat tersebut dapat dipahami dengan mudah dalam pengertian umum. Ayat sebelumnya berbicara tentang Allah, menekankan keesaan-Nya dan kebenaran nyata yang melekat pada risalah yang diwahyukan-Nya, serta kepastian adanya pengadilan pada Hari Kebangkitan. Lanjutan argumen itu adalah, “Maka, mengapa pikiran kalian mendua, berkenaan dengan derajat moral orang-orang yang sedemikian jauhnya bermanis-bibir terhadap kebenaran risalah Allah dan, meskipun demikian, tetap tidak mau secara jujur memilih antara yang benar dan yang salah?”


Surah An-Nisa’ Ayat 89

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً ۖ فَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَاءَ حَتَّىٰ يُهَاجِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَخُذُوهُمْ وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ ۖ وَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

waddụ lau takfurụna kamā kafarụ fa takụnụna sawā`an fa lā tattakhiżụ min-hum auliyā`a ḥattā yuhājirụ fī sabīlillāh, fa in tawallau fa khużụhum waqtulụhum ḥaiṡu wajattumụhum wa lā tattakhiżụ min-hum waliyyaw wa lā naṣīrā

89. Mereka amat suka melihat kalian mengingkari kebenaran sebagaimana mereka telah mengingkarinya, sehingga kalian menjadi seperti mereka. Maka, janganlah kalian menjadikan mereka sebagai sekutu hingga mereka hijrah meninggalkan ranah kejahatan108 karena Allah; dan jika mereka kembali pada permusuhan [yang nyata], tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kalian menemui mereka.

Dan, janganlah mengambil seorang pun di antara mereka109 sebagai sekutu kalian atau pemberi pertolongan,


108 Lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 203, serta catatan no. 124 surah ini.

109 Yakni, siapa pun di antara mereka yang belum “meninggalkan ranah kejahatan” dan terombang-ambing ragu antara iman dan kafir.


Surah An-Nisa’ Ayat 90

إِلَّا الَّذِينَ يَصِلُونَ إِلَىٰ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ أَوْ جَاءُوكُمْ حَصِرَتْ صُدُورُهُمْ أَنْ يُقَاتِلُوكُمْ أَوْ يُقَاتِلُوا قَوْمَهُمْ ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَسَلَّطَهُمْ عَلَيْكُمْ فَلَقَاتَلُوكُمْ ۚ فَإِنِ اعْتَزَلُوكُمْ فَلَمْ يُقَاتِلُوكُمْ وَأَلْقَوْا إِلَيْكُمُ السَّلَمَ فَمَا جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ عَلَيْهِمْ سَبِيلًا

illallażīna yaṣilụna ilā qaumim bainakum wa bainahum mīṡāqun au jā`ụkum ḥaṣirat ṣudụruhum ay yuqātilụkum au yuqātilụ qaumahum, walau syā`allāhu lasallaṭahum ‘alaikum fa laqātalụkum, fa ini’tazalụkum fa lam yuqātilụkum wa alqau ilaikumus-salama fa mā ja’alallāhu lakum ‘alaihim sabīlā

90. kecuali orang-orang [di antara mereka] yang memiliki ikatan dengan orang-orang yang mengadakan perjanjian dengan kalian, atau orang-orang yang datang kepada kalian karena hati mereka surut dari [gagasan untuk] berperang, baik melawan kalian atau melawan kaum mereka sendiri—meskipun, andai Allah menghendaki untuk menjadikan mereka lebih kuat daripada kalian, mereka pasti akan memerangi kalian.110 Maka, jika mereka membiarkan kalian, dan tidak memerangi kalian, dan menawarkan perdamaian kepada kalian, Allah tidak mengizinkan kalian menyakiti mereka.111


110 Lit., “jika Allah menghendaki, niscaya Dia sungguh memberikan kepada mereka kekuasaan terhadap kalian, kemudian …” dan seterusnya—artinya mereka urung memerangi kaum Mukmin hanya karena mereka tidak memiliki kekuatan yang diperlukan, bukan karena iktikad baik {untuk berdamai—peny.}.

111 Lit., “Allah tidak memberikan jalan bagi kalian untuk menyerang mereka”: suatu paparan tentang peraturan yang ditetapkan dalam ayat 86 surah ini.


Surah An-Nisa’ Ayat 91

سَتَجِدُونَ آخَرِينَ يُرِيدُونَ أَنْ يَأْمَنُوكُمْ وَيَأْمَنُوا قَوْمَهُمْ كُلَّ مَا رُدُّوا إِلَى الْفِتْنَةِ أُرْكِسُوا فِيهَا ۚ فَإِنْ لَمْ يَعْتَزِلُوكُمْ وَيُلْقُوا إِلَيْكُمُ السَّلَمَ وَيَكُفُّوا أَيْدِيَهُمْ فَخُذُوهُمْ وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ ۚ وَأُولَٰئِكُمْ جَعَلْنَا لَكُمْ عَلَيْهِمْ سُلْطَانًا مُبِينًا

satajidụna ākharīna yurīdụna ay ya`manụkum wa ya`manụ qaumahum, kulla mā ruddū ilal-fitnati urkisụ fīhā, fa il lam ya’tazilụkum wa yulqū ilaikumus-salama wa yakuffū aidiyahum fa khużụhum waqtulụhum ḥaiṡu ṡaqiftumụhum, wa ulā`ikum ja’alnā lakum ‘alaihim sulṭānam mubīnā

91. Kalian akan mendapati [bahwa ada] orang-orang lain yang ingin agar mereka aman dari kalian serta aman dari kaum mereka sendiri, [tetapi mereka ini,] manakala dihadapkan lagi dengan godaan untuk (melakukan) kejahatan, langsung terjun ke dalamnya.112 Karena itu, jika mereka tidak membiarkan kalian, dan tidak menawarkan perdamaian kepada kalian, dan tidak menahan tangan mereka, tawanlah mereka dan bunuhlah mereka di mana saja kalian bertemu dengan mereka: dan terhadap mereka inilah Kami memberikan wewenang kepada kalian dengan jelas [untuk berperang].113


112 Lit., “manakala mereka dikembalikan pada godaan (fitnah), mereka dilemparkan kembali ke dalamnya”, atau “diterjunkan ke dalamnya”.

113 Lit, “Kami memberi kalian kekuasaan (sulthan) yang nyata”—suatu pengulangan yang tegas mengenai peraturan yang mengizinkan perang hanya untuk mempertahankan diri (bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 190 dan seterusnya, serta catatan-catatannya, no. 167 dan no. 168).


Surah An-Nisa’ Ayat 92

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلَّا خَطَأً ۚ وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ إِلَّا أَنْ يَصَّدَّقُوا ۚ فَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ ۖ وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ ۖ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

wa mā kāna limu`minin ay yaqtula mu`minan illā khaṭa`ā, wa mang qatala mu`minan khaṭa`an fa taḥrīru raqabatim mu`minatiw wa diyatum musallamatun ilā ahlihī illā ay yaṣṣaddaqụ, fa ing kāna ming qaumin ‘aduwwil lakum wa huwa mu`minun fa taḥrīru raqabatim mu`minah, wa ing kāna ming qaumim bainakum wa bainahum mīṡāqun fa diyatum musallamatun ilā ahlihī wa taḥrīru raqabatim mu`minah, fa mal lam yajid fa ṣiyāmu syahraini mutatābi’aini taubatam minallāh, wa kānallāhu ‘alīman ḥakīmā

92. DAN, MUSTAHIL orang beriman akan membunuh orang beriman lainnya, kecuali karena kesalahan.114

Dan, orang yang membunuh orang beriman karena kesalahan diwajibkan memerdekakan seorang yang beriman dari perbudakan dan membayar ganti rugi kepada keluarga korban,115 kecuali jika mereka melepaskan hak itu dengan bersedekah.

Adapun jika yang terbunuh itu termasuk kaum yang sedang berperang dengan kalian,116 sedangkan dia adalah oang yang beriman, [batas hukumannya adalah] memerdekakan seorang yang beriman dari perbudakan; sedangkan, jika dia termasuk kaum yang terikat perjanjian dengan kalian, [hukumannya berupa] ganti rugi yang harus dibayarkan kepada keluarganya di samping memerdekakan seorang yang beriman dari perbudakan.117 Dan siapa yang tidak mampu, hendaklah berpuasa dua bulan berturut-turut [sebagai gantinya].118

[Inilah] cara tobat yang ditetapkan Allah: dan, sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.


114 Berdasarkan ayat ini, yang dibaca dalam kaitannya dengan ayat 93, beberapa ulama Mu’tazilah berpendapat bahwa seorang Mukmin yang sengaja membunuh orang Mukmin Iainnya harus dianggap sebagai orang kafir (Al-Razi). Tentu saja, hal ini tidak berlaku pada eksekusi hukuman mati yang dijatuhkan sesuai dengan proses hukum.

115 Lit., “orang-orangnya”—yakni, para ahli waris atau orang-orang yang berada dalam tanggungan korban. “Memerdekakan seorang yang beriman dari perbudakan”, yang disebutkan tiga kali dalam ayat ini, pertama-tama mengacu pada orang-orang yang ditawan dalam perang (bdk. Surah Al-Anfal [8], catatan no. 72). Namun, lihat juga catatan no. 5 pada Surah Al-Mujadalah [58]: 3.

116 Lit., “yang bermusuhan dengan kalian”—artinya mereka benar-benar berada dalam keadaan perang.

117 Ini berkenaan dengan kasus ketika korbannya adalah non-Muslim yang berasal dari kalangan yang memiliki hubungan damai dan normal dengan umat Muslim; dalam kasus seperti ini, sanksinya sama dengan sanksi membunuh sesama Muslim, jika kondisinya sama.

118 Yakni, seperti puasa dalam bulan Ramadhan (lihat Surah Al-Baqarah [2]: 183-187). Keringanan ini berlaku bagi seseorang yang tidak mampu membayar ganti rugi dan/atau tidak mampu membayar biaya untuk memerdekakan seorang budak (Al-Razi), atau tidak dapat menemukan seorang budak untuk dimerdekakan, sebagaiman yang terjadi pada saat ini (Al-Manar V, h. 337).


Surah An-Nisa’ Ayat 93

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

wa may yaqtul mu`minam muta’ammidan fa jazā`uhụ jahannamu khālidan fīhā wa gaḍiballāhu ‘alaihi wa la’anahụ wa a’adda lahụ ‘ażāban ‘aẓīmā

93. Namun, siapa pun yang dengan sengaja membunuh seorang yang beriman, balasannya adalah neraka, di sanalah (dia) berkediaman; dan Allah akan memurkainya, dan akan menolaknya, dan akan menyiapkan baginya derita yang dahsyat.


Surah An-Nisa’ Ayat 94

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَىٰ إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ ۚ كَذَٰلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

yā ayyuhallażīna āmanū iżā ḍarabtum fī sabīlillāhi fa tabayyanụ wa lā taqụlụ liman alqā ilaikumus-salāma lasta mu`minā, tabtagụna ‘araḍal-ḥayātid-dun-yā fa ‘indallāhi magānimu kaṡīrah, każālika kuntum ming qablu fa mannallāhu ‘alaikum fa tabayyanụ, innallāha kāna bimā ta’malụna khabīrā

94. [Karena itu,] wahai kalian yang telah meraih iman, jika kalian pergi [berperang] di jalan Allah, bersikaplah teliti, dan janganlah—karena menginginkan keuntungan dari kehidupan duniawi yang singkat ini—berkata kepada siapa pun yang menawarkan salam perdamaian kepada kalian, “Engkau bukan seorang yang beriman”:119 sebab, di sisi Allah ada harta yang melimpah. Kalian juga pernah mengalami keadaan yang sama120—tetapi Allah menganugerahkan rahmat-Nya atas kalian. Oleh karena itu, bersikaplah teliti: sungguh, Allah Mahaawas terhadap apa yang kalian kerjakan.


119 Dengan kata lain, “dan, karena itu, engkau adalah musuh”. Ayat ini melarang memperlakukan orang yang tidak berperang sebagai musuh dan menggunakan dalih kekufuran orang itu (yang hanya berdasarkan dugaan) sebagai alasan untuk menyita hartanya sebagai pampasan perang. Perintah “bersikaplah teliti” (tabayyanu) mengharuskan kaum Mukmin untuk memastikan, dalam setiap kasus, apakah orang itu terlibat secara aktif dalam permusuhan atau tidak.

120 Lit., “demikianlah kalian [juga] begitu pada masa lalu”. Karena perintah sebelumnya mengacu pada seluruh komunitas, tampaknya anak kalimat di atas juga memiliki implikasi yang sama: yakni, mengacu pada suatu masa ketika kaum Muslim, karena lemah dan sedikit jumlahnya, bergantung pada belas kasih musuh yang memiliki kekuatan yang lebih besar. Karena itu, difirmankanlah kepada kaum yang beriman, kira-kira demikian: “Ingatlah kelemahan kalian pada masa lalu, dan perlakukanlah orang-orang yang ingin berdamai di antara musuh-musuh kalian seperti kalian ingin diperlakukan pada masa lalu ketika kalian masih lemah.”


Surah An-Nisa’ Ayat 95

لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ۚ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً ۚ وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا

lā yastawil-qā’idụna minal-mu`minīna gairu uliḍ-ḍarari wal-mujāhidụna fī sabīlillāhi bi`amwālihim wa anfusihim, faḍḍalallāhul-mujāhidīna bi`amwālihim wa anfusihim ‘alal-qā’idīna darajah, wa kullaw wa’adallāhul-ḥusnā, wa faḍḍalallāhul-mujāhidīna ‘alal-qā’idīna ajran ‘aẓīmā

95. ORANG-ORANG BERIMAN yang tetap pasif121—kecuali yang tidak mampu—tidaklah bisa disamakan dengan orang-orang yang sungguh-sungguh berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka:122 Allah telah muliakan orang-orang yang sungguh-sungguh berjuang dengan harta dan jiwa mereka jauh di atas orang-orang yang tetap (bersikap) pasif. Meskipun Allah telah menjanjikan kebaikan tertinggi kepada semua orang [yang beriman], Allah telah muliakan orang-orang yang sungguh-sungguh berjuang di atas orang-orang yang tetap (bersikap) pasif dengan [menjanjikan bagi mereka] pahala yang besar—


121 Lit., “yang duduk [di rumah]”—yakni, tidak ikut serta dalam perjuangan di jalan Allah, baik secara fisik maupun moral.

122 Istilah mujahid merupakan turunan dari verba jahada, yang berarti “dia telah berjuang” atau “telah berusaha keras” atau “telah mencurahkan dirinya”, yakni dengan tujuan yang baik dan melawan kejahatan. Karena itu, jihad berarti “berjuang di jalan Allah” dalam pengertian terluas dari ungkapan ini: yakni, mencakup tidak hanya perang fisik (qital) semata, tetapi juga setiap perjuangan yang baik dalam pengertian moral; karena itu, misalnya, Nabi menggambarkan perjuangan seseorang melawan hawa nafsu dan kelemahannya sendiri (jihad al-nafs) sebagai “jihad terbesar” (Al-Baihaqi, berdasarkan riwayat Jabir ibn `Abd Allah).


Surah An-Nisa’ Ayat 96

دَرَجَاتٍ مِنْهُ وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

darajātim min-hu wa magfirataw wa raḥmah, wa kānallāhu gafụrar raḥīmā

96. (yaitu dengan) derajat [yang jauh lebih tinggi] daripadanya—dan ampunan atas dosa-dosa, serta rahmat-Nya; sebab, Allah sungguh Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.


Surah An-Nisa’ Ayat 97

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ ۖ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ ۚ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا ۚ فَأُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

innallażīna tawaffāhumul-malā`ikatu ẓālimī anfusihim qālụ fīma kuntum, qālụ kunnā mustaḍ’afīna fil-arḍ, qālū a lam takun arḍullāhi wāsi’atan fa tuhājirụ fīhā, fa ulā`ika ma`wāhum jahannam, wa sā`at maṣīrā

97. Perhatikanlah, orang-orang yang diwafatkan para malaikat dalam keadaan masih menzalimi diri mereka sendiri, [para malaikat itu] akan bertanya, “Ada apa gerangan dengan kalian?”123

Mereka akan menjawab, “Kami terlalu lemah di bumi.”

[Para malaikat itu] akan berkata, “Bukankah bumi Allah itu cukup luas bagi kalian sehingga kalian dapat hijrah meninggalkan ranah kejahatan?”124

Maka, bagi orang-orang seperti itu, tujuannya adalah neraka—suatu akhir perjalanan yang teramat buruk!


123 Lit., “dalam [keadaan] bagaimanakah kalian?”—yakni, ketika hidup. Ini mengacu pada mereka yang menghindar dari semua perjuangan di jalan Allah tanpa alasan yang sah.

124 Lit., “bukankah bumi Allah luas, sehingga kalian dapat berpindah di sana?” Istilah hijrah (lit., “eksodus; perpindahan besar-besaran”), yang merupakan turunan dari verba hajara (“dia telah pindah”), digunakan dalam Al-Quran dalam dua pengertian: salah satunya bersifat historis, yang menunjukkan kepindahan Nabi bersama para Sahabatnya dari Makkah ke Madinah; sedangkan, yang lainnya mempunyai konotasi moral—yakni, “pindahnya” seseorang dari kejahatan menuju Allah—dan tidak harus berarti meninggaikan negeri dalam pengertian fisik. Jadi, ayat di atas mengacu pada istilah hijrah dalam maknanya yang lebih luas, etis, dan bersifat moral ini—sama seperti ayat-ayat sebelumnya (ayat 95-96) mengacu pada “berjuang sungguh-sungguh di jalan Allah” (jihad) dalam pengertiannya yang terluas, yang mencakup usaha-usaha fisik, moral, serta—jika diperlukan—pengorbanan harta dan bahkan nyawa seseorang. Walaupun hijrah fisik dari Makkah ke Madinah tidak lagi diwajibkan terhadap kaum Mukmin setelah penaklukan Makkah pada 8 H, hijrah spiritual dari ranah kejahatan menuju ranah kebajikan berlanjut menjadi suatu tuntutan fundamental dalam Islam: dengan kata lain, seorang yang tidak “berhijrah dari kejahatan menuju Allah” tidak bisa dianggap sebagai seorang yang beriman—ini menjelaskan mengapa kalimat berikutnya mengutuk semua orang yang lalai dalam hal ini.


Surah An-Nisa’ Ayat 98

إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا

illal-mustaḍ’afīna minar-rijāli wan-nisā`i wal-wildāni lā yastaṭī’ụna ḥīlataw wa lā yahtadụna sabīlā

98. Kecuali orang-orang yang sungguh tidak berdaya—baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak-yang tidak mampu mengerahkan kekuatan apa-apa dan belum diperlihatkan jalan yang lurus:125


125 Atau: “tidak dapat menemukan jalan [yang benar]”—menunjukkan bahwa mereka sangat kebingungan dan, karena itu, tidak dapat memahami tuntutan dasar Islam ini; atau, kemungkinan lain, bahwa pesan yang berkenaan dengan tuntutan ini belum disampaikan dan dijelaskan secara memadai kepada mereka.


Surah An-Nisa’ Ayat 99

فَأُولَٰئِكَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَفُوًّا غَفُورًا

fa ulā`ika ‘asallāhu ay ya’fuwa ‘an-hum, wa kānallāhu ‘afuwwan gafụrā

99. adapun mereka itu, mudah-mudahan Allah menghapus dosa-dosa mereka—sebab, Allah sungguh Sang Penghapus Dosa-Dosa, Maha Pengampun.


Surah An-Nisa’ Ayat 100

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

wa may yuhājir fī sabīlillāhi yajid fil-arḍi murāgamang kaṡīraw wa sa’ah, wa may yakhruj mim baitihī muhājiran ilallāhi wa rasụlihī ṡumma yudrik-hul-mautu fa qad waqa’a ajruhụ ‘alallāh, wa kānallāhu gafụrar raḥīmā

100. Dan, siapa pun yang hijrah meninggalkan ranah kejahatan karena Allah, akan mendapati banyak jalan yang sepi di muka bumi ini,126 dan juga kehidupan yang melimpah. Dan, siapa pun yang meninggalkan rumahnya, melarikan diri dari keburukan menuju Allah dan Rasul-Nya, lalu maut menyergapnya—pahalanya tersedia di sisi Allah: sebab, Allah sungguh Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.


126 Kata muragham merupakan turunan dari nomina ragham (“debu”) dan berkaitan dengan ungkapan idiomatik raghima anfuhu, “hidungnya dipaksa menempel pada debu”, yakni dia menjadi rendah dan terpaksa melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendaknya. Jadi, muragham berarti “suatu jalan yang ditempuh oleh seseorang yang meninggalkan kaumnya karena dia tidak sepaham dengan mereka” (Al-Zamakhsyari). Artinya, berpisahnya seseorang dari lingkungan akrabnya mengharuskan dia melakukan apa yang disebut sebagai muraghamah, “pemutusan [dari orang lain]” atau “perceraian dari kelompok yang ada atau dari kelompok yang akrab” (lihat Lane III, h. 1113). Dengan semua pertimbangan ini, kata muragham dapat diterjemahkan dengan lebih baik, dalam konteks di atas, menjadi “jalan yang sepi”—sebuah kiasan untuk menggambarkan rasa sepi yang meremukkan hati, yang hampir selalu menyertai langkah pertama seseorang yang memulai “hijrah dari kejahatan menuju Allah”. (Mengenai ungkapan yang disebutkan terakhir ini, lihat catatan no. 124 sebelum ini serta catatan no. 203 pada Surah Al-Baqarah [2].)


Surah An-Nisa’ Ayat 101

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا

wa iżā ḍarabtum fil-arḍi fa laisa ‘alaikum junāḥun an taqṣurụ minaṣ-ṣalāti in khiftum ay yaftinakumullażīna kafarụ, innal-kāfirīna kānụ lakum ‘aduwwam mubīnā

101. DAN, APABILA KALIAN pergi [berperang] di muka bumi, tiada dosa bagi kalian apabila memperpendek shalat127 kalian, jika kalian khawatir kalau-kalau orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran itu mungkin tiba-tiba menyerang kalian:128 sebab, sungguh, orang-orang yang mengingkari kebenaran itu adalah musuh yang nyata bagi kalian.


127 Lit., “shalat”: mengacu pada shalat wajib lima kali sehari—pada waktu shubuh (shubh), siang (zhuhr), sore (‘ashr), setelah matahari terbenam (maghrib), dan malam (‘isya’). Jika seseorang sedang dalam perjalanan atau dalam bahaya, shalat ini boleh dipersingkat (di-qashr) dan digabungkan (di-jama’), yakni shalat zhuhr digabung dengan shalat ‘ashr, dan shalat maghrib digabung dengan shalat ‘isya’*. Sementara Sunnah Nabi juga membolehkan menggabung dan mempersingkat shalat ini ketika melakukan perjalanan dalam keadaan damai, Al-Quran hanya menyebutkan kebolehannya dalam situasi perang; inilah yang menjustifikasi penyisipan kata “berperang” pada kalimat pembuka. Shalat yang dibicarakan pada ayat berikutnya—yang dilakukan jamaahnya secara bergiliran—disebut shalat al-khauf (“shalat dalam bahaya”).

* {Mempersingkat shalat (qashr) dilakukan dengan mengurangi rakaat shalat: shalat Zhuhur, Ashar, dan ‘Isya yang normalnya masing-masing berjumlah 4 rakaat boleh dipersingkat menjadi masing-masing 2 rakaat; sedangkan shalat Shubuh (2 rakaat) dan Maghrib (3 rakaat) tidak boleh disingkat.—peny.}

128 Lit., “mungkin menimpakan kemalangan kepada kalian”—yang, menurut hampir semua mufasir, menunjuk pada serangan tiba-tiba.


Surah An-Nisa’ Ayat 102

وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِنْ وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَىٰ لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ ۗ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُمْ مَيْلَةً وَاحِدَةً ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ كَانَ بِكُمْ أَذًى مِنْ مَطَرٍ أَوْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَنْ تَضَعُوا أَسْلِحَتَكُمْ ۖ وَخُذُوا حِذْرَكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا

wa iżā kunta fīhim fa aqamta lahumuṣ-ṣalāta faltaqum ṭā`ifatum min-hum ma’aka walya`khużū asliḥatahum, fa iżā sajadụ falyakụnụ miw warā`ikum walta`ti ṭā`ifatun ukhrā lam yuṣallụ falyuṣallụ ma’aka walya`khużụ ḥiżrahum wa asliḥatahum, waddallażīna kafarụ lau tagfulụna ‘an asliḥatikum wa amti’atikum fa yamīlụna ‘alaikum mailataw wāḥidah, wa lā junāḥa ‘alaikum ing kāna bikum ażam mim maṭarin au kuntum marḍā an taḍa’ū asliḥatakum, wa khużụ ḥiżrakum, innallāha a’adda lil-kāfirīna ‘ażābam muhīnā

102. Maka, apabila engkau berada di antara orang-orang yang beriman,129 lalu hendak mengimami mereka dalam shalat, hendaknya [hanya] sekelompok dari mereka yang berdiri bersamamu, dengan tetap menyandang senjata mereka. Lalu, setelah mereka menyelesaikan shalatnya, hendaknya mereka memberimu perlindungan;130 sementara kelompok lainnya yang belum shalat, hendaknya maju dan shalat bersamamu, dengan bersiaga penuh terhadap bahaya dan tetap menyandang senjata mereka: [sebab,] orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran itu suka jika melihatmu lengah akan senjata dan perlengkapanmu, agar mereka dapat menyerbu kalian dengan serangan mendadak.131 Namun, tiada dosa bagi kalian apabila meletakkan senjata-senjata kalian [ketika bershalat] jika kalian terganggu dengan hujan132 atau jika kalian sakit; namun, bersiaga penuhlah [senantiasa] menghadapi bahaya.

Sungguh, Allah telah menyiapkan derita yang hina bagi semua orang yang mengingkari kebenaran!


129 Lit., “di antara mereka”. “Engkau” dalam kalimat ini utamanya mengacu pada Nabi dan, secara tersirat, pada pemimpin setiap kelompok orang-orang beriman yang berperang melawan “mereka yang mengingkari kebenaran”.

130 Lit., “ketika mereka bersujud, hendaknya mereka (yakni kelompok lain) berada di belakangmu”. Ungkapan idiomatik ini hendaknya tidak dipahami secara harfiah: dalam bahasa Arab klasik, frasa kana min wara’ika (lit., “dia ada di belakangmu”) berarti “dia melindungimu” atau (dalam bahasa militer) “he covered thee“, “dia melindungimu {dari serangan}”, dan tidak dimaksudkan untuk menggambarkan posisi fisik kedua orang atau kelompok itu.

131 Lit., “menyerbu kalian dengan satu serbuan”.

132 Yakni, jika ada risiko bahwa senjata-senjata mereka dapat rusak karena kondisi cuaca yang tidak baik, prajurit dibebaskan dari kewajiban tetap memegang senjata ketika shalat. Pembebasan ini tentu saja hanya berlaku bagi prajurit-prajurit yang memegang senjata-senjata yang peka; dan hal yang sama juga berlaku ketika mereka sedang sakit, sebagaimana disebutkan dalam lanjutan ayat tersebut. Namun, harus diingat bahwa kata mathar (lit., “hujan”) sering digunakan dalam Al-Quran untuk menunjukkan suatu “kemalangan yang menimpa”; dan jika kita memilih makna ini, frasa di atas dapat diterjemahkan menjadi “jika kalian ditimpa kemalangan”—jadi, dapat mencakup berbagai kondisi darurat yang mungkin terjadi.


Surah An-Nisa’ Ayat 103

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۚ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

fa iżā qaḍaitumuṣ-ṣalāta fażkurullāha qiyāmaw wa qu’ụdaw wa ‘alā junụbikum, fa iżaṭma`nantum fa aqīmuṣ-ṣalāh, innaṣ-ṣalāta kānat ‘alal-mu`minīna kitābam mauqụtā

103. Dan, jika kalian telah menyelesaikan shalat, ingatlah Allah—(dalam keadaan) berdiri, duduk, dan berbaring; dan apabila kalian telah aman kembali, dirikanlah shalat kalian [dengan sempurna]. Sungguh, bagi semua orang yang beriman, shalat itu benar-benar merupakan kewajiban suci yang dikaitkan dengan waktu-waktu tertentu [dalam hari].


Surah An-Nisa’ Ayat 104

وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ ۖ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ ۖ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

wa lā tahinụ fibtigā`il-qaụm, in takụnụ ta`lamụna fa innahum ya`lamụna kamā ta`lamụn, wa tarjụna minallāhi mā lā yarjụn, wa kānallāhu ‘alīman ḥakīmā

104. Dan, janganlah gentar ketika kalian mengejar pasukan [musuh] itu. Jika kalian menderita kesakitan, perhatikanlah, mereka pun menderita kesakitan sebagaimana yang kalian alami: tetapi kalian berharap [menerima] dari Allah apa yang tidak dapat mereka harapkan. Dan, Allah sungguh Maha Mengetahui, Mahabijaksana.


Surah An-Nisa’ Ayat 105

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ ۚ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا

innā anzalnā ilaikal-kitāba bil-ḥaqqi litaḥkuma bainan-nāsi bimā arākallāh, wa lā takul lil-khā`inīna khaṣīmā

105. PERHATIKANLAH, Kami telah menurunkan kepadamu kitab Ilahi ini, yang menyatakan kebenaran, agar engkau dapat mengadili di antara manusia menurut apa yang telah Allah ajarkan kepadamu.133 Karena itu, janganlah berselisih dengan orang-orang yang mengkhianati amanat mereka,


133 “Engkau” dalam ayat ini dan dalam dua ayat selanjut-nya—serta dalam ayat 113—tampaknya mengacu pada Nabi; namun, secara tersirat, ia mengacu pada setiap orang yang telah menerima petunjuk Al-Quran: hal ini tampak jelas dari penggunaan bentuk jamak “kalian” dalam ayat 109. Karena itu, usaha mayoritas mufasir untuk menerangkan ayat ini dari sudut pandang historis murni tidak terlalu meyakinkan, terlebih Iagi karena hal itu akan memberikan suatu batasan yang tidak perlu terhadap ajaran etis yang berlaku umum, yang sebenarnya sudah jelas dengan sendirinya.


Surah An-Nisa’ Ayat 106

وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

wastagfirillāh, innallāha kāna gafụrar raḥīmā

106. akan tetapi, mohonlah kepada Allah agar memaafkan [mereka]:134 perhatikanlah, Allah sungguh Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.


134 Ini jelas mengacu pada orang-orang munafik serta pengikut-pengikut Al-Quran yang beriman dengan setengah-hati, yang dibicarakan sebelumnya dalam surah ini: keduanya dipersalahkan karena mengkhianati amanat yang dipercayakan kepada mereka karena mereka berpura-pura telah menerima pesan-pesan Al-Quran, tetapi, pada kenyataannya, mencoba menyelewengkannya (lihat ayat 81). Karena mereka sudah menyadari tuntutan Al-Quran terhadap mereka dan, meskipun demikian, tetap mengelak untuk sungguh-sungguh berserah diri mengikuti petunjuknya, tidak ada gunanya berdebat dengan mereka.


Surah An-Nisa’ Ayat 107

وَلَا تُجَادِلْ عَنِ الَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنْفُسَهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا أَثِيمًا

wa lā tujādil ‘anillażīna yakhtānụna anfusahum, innallāha lā yuḥibbu mang kāna khawwānan aṡīmā

107. Walaupun demikian, janganlah berdebat mewakili orang-orang yang mengkhianati diri mereka sendiri:135 sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang mengkhianati amanat mereka dan terus-menerus melakukan dosa.


135 Yakni, “engkau boleh memohon kepada Allah untuk memaafkan mereka, tetapi jangan coba-coba mencari pembenaran atas tingkah laku mereka”. Merupakan suatu hal yang signifikan bahwa Al-Quran menggambarkan seorang yang mengkhianati amanat, baik secara spiritual maupun sosial, sebagai “mengkhianati diri sendiri”—sebagaimana Al-Quran sering menggambarkan seorang yang dengan sengaja melakukan suatu dosa atau kezaliman (zhulm) sebagai “seorang yang berdosa terhadap dirinya sendiri” atau “menzalimi dirinya sendiri” (zhalim nafsahu)—karena setiap perbuatan dosa yang disengaja akan merusak pelakunya secara spiritual.


Surah An-Nisa’ Ayat 108

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَىٰ مِنَ الْقَوْلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا

yastakhfụna minan-nāsi wa lā yastakhfụna minallāhi wa huwa ma’ahum iż yubayyitụna mā lā yarḍā minal-qaụl, wa kānallāhu bimā ya’malụna muḥīṭā

108. Mereka menyembunyikan perbuatan-perbuatan mereka dari manusia; tetapi dari Allah, mereka tidak bisa menyembunyikannya—sebab, Dia bersama dengan mereka kapan pun mereka merekayasa, di tengah gelapnya malam, segala bentuk kepercayaan136 yang tidak Dia ridhai. Dan, Allah sungguh Maha Meliputi [dengan ilmu-Nya] segala apa yang mereka kerjakan.


136 Lit., “keyakinan” (min al-qaul). Hendaknya diingat bahwa kata qaul tidak berarti “suatu perkataan” atau “suatu ucapan” semata (yang merupakan arti utamanya): tetapi, secara figuratif, ia juga menunjukkan apa pun yang dapat digambarkan sebagai suatu “pernyataan konseptual”, seperti opini, doktrin, atau keyakinan. Al-Quran sering menggunakan kata qaul dalam pengertian ini.


Surah An-Nisa’ Ayat 109

هَا أَنْتُمْ هَٰؤُلَاءِ جَادَلْتُمْ عَنْهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَمَنْ يُجَادِلُ اللَّهَ عَنْهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْ مَنْ يَكُونُ عَلَيْهِمْ وَكِيلًا

hā`antum hā`ulā`i jādaltum ‘an-hum fil-ḥayātid-dun-yā, fa may yujādilullāha ‘an-hum yaumal-qiyāmati am may yakụnu ‘alaihim wakīlā

109. Duhai, kalian dapat saja berdebat mewakili mereka dalam kehidupan dunia ini: namun, siapakah yang akan berdebat mewakili mereka di hadapan Allah pada Hari Kebangkitan, atau siapakah yang akan menjadi pembela mereka?


Surah An-Nisa’ Ayat 110

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

wa may ya’mal sū`an au yaẓlim nafsahụ ṡumma yastagfirillāha yajidillāha gafụrar raḥīmā

110. Walaupun demikian, siapa pun yang mengerjakan kejahatan atau[pun] menzalimi dirinya sendiri, lalu setelah itu berdoa kepada Allah agar mengampuninya, niscaya (dia) mendapati Allah Yang Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat:


Surah An-Nisa’ Ayat 111

وَمَنْ يَكْسِبْ إِثْمًا فَإِنَّمَا يَكْسِبُهُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

wa may yaksib iṡman fa innamā yaksibuhụ ‘alā nafsih, wa kānallāhu ‘alīman ḥakīmā

111. sebab, orang yang melakukan dosa, melakukannya hanya untuk kemudaratan dirinya sendiri;137 dan Allah sungguh Maha Mengetahui, Mahabijaksana.


137 Lit., “orang yang memperoleh dosa, memperolehnya hanya untuk dirinya sendiri”.


Surah An-Nisa’ Ayat 112

وَمَنْ يَكْسِبْ خَطِيئَةً أَوْ إِثْمًا ثُمَّ يَرْمِ بِهِ بَرِيئًا فَقَدِ احْتَمَلَ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

wa may yaksib khaṭī`atan au iṡman ṡumma yarmi bihī barī`an fa qadiḥtamala buhtānaw wa iṡmam mubīnā

112. Namun, orang yang melakukan kesalahan atau dosa, dan kemudian melemparkan kesalahannya itu kepada orang yang tidak bersalah, dia membebani dirinya sendiri dengan kesalahan dusta dan [juga] dosa yang nyata.


Surah An-Nisa’ Ayat 113

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ وَرَحْمَتُهُ لَهَمَّتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ أَنْ يُضِلُّوكَ وَمَا يُضِلُّونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ ۖ وَمَا يَضُرُّونَكَ مِنْ شَيْءٍ ۚ وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ ۚ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا

walau lā faḍlullāhi ‘alaika wa raḥmatuhụ lahammaṭ ṭā`ifatum min-hum ay yuḍillụk, wa mā yuḍillụna illā anfusahum wa mā yaḍurrụnaka min syaī`, wa anzalallāhu ‘alaikal-kitāba wal-ḥikmata wa ‘allamaka mā lam takun ta’lam, wa kāna faḍlullāhi ‘alaika ‘aẓīmā

113. Dan, sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah sebagian dari mereka [yang mendustakan diri mereka sendiri] akan berupaya menyesatkanmu; namun, mereka tidak lain hanyalah menyesatkan diri mereka sendiri. Tidak pula mereka dapat membahayakanmu sedikit pun, sebab Allah telah menurunkan kepadamu kitab Ilahi ini dan [memberikan kepadamu] hikmah, dan telah mengajarkan kepadamu ilmu yang sebelumnya tidak kau ketahui. Dan, karunia Allah kepadamu sungguh amatlah besar.


Surah An-Nisa’ Ayat 114

لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

lā khaira fī kaṡīrim min najwāhum illā man amara biṣadaqatin au ma’rụfin au iṣlāḥim bainan-nās, wa may yaf’al żālikabtigā`a marḍātillāhi fa saufa nu`tīhi ajran ‘aẓīmā

114. BIASANYA, TIDAK ADA KEBAIKAN yang lahir dari pembicaraan-pembicaraan rahasia—kecuali yang dilakukan untuk menyuruh memberi sedekah, melakukan hal-hal yang makruf*, atau mengadakan perbaikan di antara manusia:138 dan kepada yang berbuat demikian karena mencari penerimaan yang baik (ridha) dari Allah, kelak akan Kami anugerahkan pahala yang besar.


* {ma’ruf = equitable dealings: yang patut, wajar—peny.}

138 Lit., “Tidak ada kebaikan dalam kebanyakan pembicaraan rahasia (najwa) mereka itu—kecuaii dia yang menyuruh …” dan seterusnya. Jadi, pembicaraan rahasia yang bertujuan positif dan bermanfaat—misalnya, perundingan perdamaian antarnegara atau masyarakat—dikecualikan dari celaan terhadap “pembicaraan-pembicaraan rahasia” itu, karena pemberitaan yang terlalu dini kadang-kadang bisa merugikan pencapalan tujuan, atau bisa (khususnya dalam kasus yang menyangkut sedekah) melukai perasaan orang-orang yang bersangkutan.


Surah An-Nisa’ Ayat 115

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

wa may yusyāqiqir-rasụla mim ba’di mā tabayyana lahul-hudā wa yattabi’ gaira sabīlil-mu`minīna nuwallihī mā tawallā wa nuṣlihī jahannam, wa sā`at maṣīrā

115. Namun, adapun orang yang, setelah petunjuk diberikan kepadanya, memutus dirinya dari Rasul dan mengikuti jalan selain yang ditempuh orang-orang beriman—akan Kami biarkan dia dengan apa yang telah dipilihnya itu,139 dan Kami jadikan dia menanggung api neraka: suatu akhir perjalanan yang teramat buruk!


139 Lit., “dia akan Kami [jadikan] berpaling ke arah mana dia [sendiri] telah berpaling”—sebuah penekanan terhadap kebebasan manusia untuk memilih.


Surah An-Nisa’ Ayat 116

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

innallāha lā yagfiru ay yusyraka bihī wa yagfiru mā dụna żālika limay yasyā`, wa may yusyrik billāhi fa qad ḍalla ḍalālam ba’īdā

116. SUNGGUH, Allah tidak mengampuni tindakan menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain-Nya, meskipun Dia mengampuni dosa apa pun yang lebih kecil bagi siapa pun yang Dia kehendaki: sebab, orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah, sungguh, telah jauh tersesat.


Surah An-Nisa’ Ayat 117

إِنْ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا إِنَاثًا وَإِنْ يَدْعُونَ إِلَّا شَيْطَانًا مَرِيدًا

iy yad’ụna min dụnihī illā ināṡā, wa iy yad’ụna illā syaiṭānam marīdā

117. Alih-alih Dia, yang mereka seru hanyalah lambang-lambang mati140—sehingga tidak menyeru siapa pun, kecuali setan yang durhaka


140 Kata inats (yang merupakan bentuk jamak dari untsa, “seorang perempuan”) tampaknya digunakan oleh orang Arab pra-Islam untuk menunjuk berhala-berhala mereka, mungkin karena kebanyakan dari berhala-berhala itu dianggap perempuan. Karena itu, menurut beberapa filolog, bentuk jamak inats berarti “benda-benda mati” (bdk. Lane I, h. 112). Ibn ‘Abbas, Qatadah, dan Al-Hasan Al-Bashri menerangkan bahwa kata tersebut menunjukkan apa pun yang pasif dan tidak bernyawa (Al-Thabari); definisi ini juga dipilih oleh Raghib. Di sisi lain, Al-Thabari menyebutkan sebuah hadis (yang diriwayatkan oleh ‘Urwah) yang menginformasikan bahwa mushaf AI-Quran milik ‘Aisyah mencantumkan kata autsan (“berhala-berhala”), bukan inats (bandingkan juga dengan Al-Zamakhsyari dan Ibn Katsir). Terjemahan “lambang-lambang mati” dalam konteks ini adalah yang paling tepat karena menggabungkan konsep “berhala” dengan “benda-benda mati”.


Surah An-Nisa’ Ayat 118

لَعَنَهُ اللَّهُ ۘ وَقَالَ لَأَتَّخِذَنَّ مِنْ عِبَادِكَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا

la’anahullāh, wa qāla la`attakhiżanna min ‘ibādika naṣībam mafrụḍā

118. yang telah Allah tolak karena dia berkata, “Sungguh, dari hamba-hamba-Mu, akan kuambil bagianku yang sudah ditentukan,


Surah An-Nisa’ Ayat 119

وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الْأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا

wa la`uḍillannahum wa la`umanniyannahum wa la`āmurannahum fa layubattikunna āżānal-an’āmi wa la`āmurannahum fa layugayyirunna khalqallāh, wa may yattakhiżisy-syaiṭāna waliyyam min dụnillāhi fa qad khasira khusrānam mubīnā

119. dan akan kusesatkan mereka, dan kupenuhi mereka dengan angan-angan kosong; dan akan kuperintah mereka—dan mereka akan memotong telinga-telinga hewan ternak [untuk sesembahan berhala]; dan akan kuperintah mereka—dan mereka akan merusak ciptaan Allah!”141

Namun, semua yang menjadikan setan—alih-alih Allah sebagai pelindungnya, sungguh nyata-nyata kehilangan segalanya:


141 Bdk. Surah Al-A’raf [7]: 16-17. Orang-orang Arab pra-Islam biasa mempersembahkan hewan ternak kepada salah satu berhala mereka dengan memotong atau menyobek telinga hewan itu. Setelah melakukan hal ini, hewan itu dianggap sakral (Al-Thabari). Dalam konteks ayat ini, paparan tersebut digunakan secara metonimia untuk menggambarkan praktik-praktik atau kecenderungan-kecenderungan kemusyrikan secara umum. Cerita mengenai setan yang merayu manusia agar merusak (secara harfiah, ‘mengubah’) ciptaan Allah” mempunyai makna yang jarang diperhatikan secara memadai: Karena ciptaan ini, serta caranya mewujudkan diri, merupakan suatu ekspresi dari kehendak perencanaan oleh Allah, segala usaha untuk mengubah watak intrinsik ciptaan itu merupakan tindak perusakan.

Untuk makna yang lebih luas dari kata syaithan (“setan” atau “kekuatan setani”), lihat bagian pertama catatan no. 16 pada Surah Al-Hijr [15]: 17.


Surah An-Nisa’ Ayat 120

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ ۖ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا

ya’iduhum wa yumannīhim, wa mā ya’iduhumusy-syaiṭānu illā gurụrā

120. dia (setan) memberikan janji-janji kepada mereka, dan memenuhi mereka dengan angan-angan kosong: padahal, apa pun yang setan janjikan kepada mereka itu tidak lain hanyalah dimaksudkan untuk memperdaya pikiran.142


142 Kata ghurur berarti apa pun yang memperdaya dan menipu pikiran—contohnya, berpantang secara total dari segala kesenangan duniawi atau meyakini kepercayaan yang absurd (tidak masuk akal) bahwa tujuan dan pencapaian-pencapaian manusia tidak ada batasnya.


Surah An-Nisa’ Ayat 121

أُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَلَا يَجِدُونَ عَنْهَا مَحِيصًا

ulā`ika ma`wāhum jahannamu wa lā yajidụna ‘an-hā mahīṣā

121. Mereka itu tempat tujuannya adalah neraka: dan mereka tidak akan memperoleh jalan untuk melarikan diri darinya.


Surah An-Nisa’ Ayat 122

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا ۚ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا

wallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti sanudkhiluhum jannātin tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā abadā, wa’dallāhi ḥaqqā, wa man aṣdaqu minallāhi qīlā

122. Namun, orang-orang yang meraih iman dan berbuat kebajikan akan Kami masukkan ke dalam taman-taman yang dilalui aliran sungai-sungai; (mereka) berkediaman di dalamnya melampaui perhitungan waktu: inilah janji Allah yang sebenarnya—dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?


Surah An-Nisa’ Ayat 123

لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ ۗ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

laisa bi`amāniyyikum wa lā amāniyyi ahlil-kitāb, may ya’mal sū`ay yujza bihī wa lā yajid lahụ min dụnillāhi waliyyaw wa lā naṣīrā

123. Ini mungkin tidaklah bersesuaian dengan angan-angan kosong kalian—tidak pula bersesuaian dengan angan-angan kosong para penganut wahyu-wahyu terdahulu143—[yakni bahwa] siapa pun yang mengerjakan kejahatan akan dibalas karenanya, dan (dia) tidak akan mendapati siapa pun yang akan melindunginya dari Allah, dan tiada seorang pun yang akan memberinya pertolongan,


143 Berkaitan dengan gagasan orang-orang Yahudi bahwa mereka adalah “umat pilihan Tuhan” dan, karenanya, dijamin mendapatkan rahmat-Nya pada Hari Kemudian; juga dengan dogma Kristen tentang “penebusan dosa”, yang menjanjikan keselamatan bagi semua yang memercayai Nabi Isa a.s. sebagai “anak Tuhan”.


Surah An-Nisa’ Ayat 124

وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا

wa may ya’mal minaṣ-ṣāliḥāti min żakarin au unṡā wa huwa mu`minun fa ulā`ika yadkhulụnal-jannata wa lā yuẓlamụna naqīrā

124. sementara siapa pun—baik laki-laki maupun perempuan—yang mengerjakan perbuatan-perbuatan baik [apa saja yang bisa dia kerjakan], serta beriman, (dia) akan memasuki surga dan tidak akan dizalimi (walau) sebesar [isi] celah biji kurma.


Surah An-Nisa’ Ayat 125

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

wa man aḥsanu dīnam mim man aslama waj-hahụ lillāhi wa huwa muḥsinuw wattaba’a millata ibrāhīma ḥanīfā, wattakhażallāhu ibrāhīma khalīlā

125. Dan, siapakah yang lebih baik keyakinannya daripada orang yang menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, sedangkan dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti ajaran Ibrahim, yang berpaling dari segala yang batil—mengingat bahwa Allah memuliakan Ibrahim dengan cinta-Nya?144


144 Lit., “memiiih Ibrahim menjadi sahabat (khalil) tercinta [-Nya]”.


Surah An-Nisa’ Ayat 126

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ مُحِيطًا

wa lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, wa kānallāhu bikulli syai`im muḥīṭā

126. Sebab, kepunyaan Allah-lah segala yang ada di lelangit dan di bumi; dan, sungguh, Allah Maha Meliputi segala sesuatu.


Surah An-Nisa’ Ayat 127

وَيَسْتَفْتُونَكَ فِي النِّسَاءِ ۖ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِيهِنَّ وَمَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ فِي يَتَامَى النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا تُؤْتُونَهُنَّ مَا كُتِبَ لَهُنَّ وَتَرْغَبُونَ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْوِلْدَانِ وَأَنْ تَقُومُوا لِلْيَتَامَىٰ بِالْقِسْطِ ۚ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِهِ عَلِيمًا

wa yastaftụnaka fin-nisā`, qulillāhu yuftīkum fīhinna wa mā yutlā ‘alaikum fil-kitābi fī yatāman-nisā`illātī lā tu`tụnahunna mā kutiba lahunna wa targabụna an tangkiḥụhunna wal-mustaḍ’afīna minal-wildāni wa an taqụmụ lil-yatāmā bil-qisṭ, wa mā taf’alụ min khairin fa innallāha kāna bihī ‘alīmā

127. DAN, MEREKA akan meminta kepadamu untuk menerangkan kepada mereka hukum mengenai perempuan.145 Katakanlah: “Allah [Sendiri] yang menerangkan kepada kalian hukum-hukum yang berkenaan dengan mereka”—sebab, [kehendak-Nya ditunjukkan] dalam apa yang disampaikan kepada kalian melalui kitab Ilahi ini tentang perempuan yatim [yang berada dalam tanggung jawab kalian], yang—karena kalian sendiri boleh jadi berhasrat mengawini mereka—kalian tidak memberikan kepada mereka apa yang telah ditetapkan bagi mereka;146 dan mengenai anak-anak yang tidak berdaya; dan mengenai kewajiban kalian untuk memperlakukan anak-anak yatim secara adil. Dan, kebajikan apa saja yang kalian kerjakan—perhatikanlah, Allah sungguh Maha Mengetahuinya.


145 Yakni, hukum-hukum yang berkenaan dengan hubungan perkawinan, bagian perempuan dalam warisan, dan sebagainya. Fatwa atau ifta’ berarti “klarifikasi atas perintah legal” yang diberikan sebagai jawaban atas sebuah pertanyaan; senada dengan itu, verba istaftahu berarti “dia memintanya untuk memberikan sebuah keputusan legal”, atau “menerangkan kepadanya suatu hukum [tertentu]”. Karena hukum yang disinggung dalam ayat di atas sudah dibahas sebelumnya dalam surah ini, pengulangannya dimaksudkan untuk menekankan betapa pentingnya masalah-masalah itu, serta besarnya tanggung jawab laki-laki terhadap perempuan yang secara fisiologis lebih lemah. Sesuai dengan sistematika yang berlaku di sepanjang Al-Quran, bahasan yang panjang mengenai persoalan-persoalan moral atau etis—seperti dalam pasase ini—biasanya diikuti oleh ayat-ayat yang berkaitan dengan perundang-undangan sosial. Tujuannya adalah untuk menonjolkan eratnya kaitan antara kehidupan spiritual manusia dan perilaku sosialnya.

146 Bdk. ayat 3 surah ini, “Dan, jika kalian khawatir tidak dapat berlaku adil terhadap anak-anak yatim …”, dan penjelasan ‘Aisyah yang dikutip pada catatan no. 3.


Surah An-Nisa’ Ayat 128

وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۚ وَالصُّلْحُ خَيْرٌ ۗ وَأُحْضِرَتِ الْأَنْفُسُ الشُّحَّ ۚ وَإِنْ تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

wa inimra`atun khāfat mim ba’lihā nusyụzan au i’rāḍan fa lā junāḥa ‘alaihimā ay yuṣliḥā bainahumā ṣul-ḥā, waṣ-ṣul-ḥu khaīr, wa uḥḍiratil-anfususy-syuḥḥ, wa in tuḥsinụ wa tattaqụ fa innallāha kāna bimā ta’malụna khabīrā

128. Dan, jika seorang perempuan khawatir akan perlakuan buruk dari suaminya, atau bahwa dia (suami) akan berpaling darinya, tiada salahnya bagi keduanya untuk menyelesaikan urusan di antara mereka itu dengan damai: sebab, perdamaian itu adalah yang terbaik, dan sikap mementingkan diri sendiri itu selalu ada dalam jiwa manusia. Namun, jika kalian berbuat baik dan sadar akan Dia—perhatikanlah, Allah sungguh Mahaawas terhadap segala yang kalian perbuat.


Surah An-Nisa’ Ayat 129

وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ ۖ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ ۚ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

wa lan tastaṭī’ū an ta’dilụ bainan-nisā`i walau ḥaraṣtum fa lā tamīlụ kullal-maili fa tażarụhā kal-mu’allaqah, wa in tuṣliḥụ wa tattaqụ fa innallāha kāna gafụrar raḥīmā

129. Dan, kalian tidak akan mampu memperlakukan istri-istri kalian dengan keadilan yang setara, walaupun kalian sangat menginginkannya;147 karena itu, jangan biarkan diri kalian terlalu cenderung terhadap yang satu dengan menelantarkan yang lain, dengan membiarkannya, demikianlah kira-kira, dalam keadaan antara memiliki dan tidak memiliki suami.148 Namun, jika kalian mengadakan perbaikan dan sadar akan Dia—perhatikanlah, Allah sungguh Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.


147 Ini menqacu pada kasus ketika seseorang mempunyai lebih dari satu istri—suatu kebolehan yang bergantung pada tekad dan kemampuannya untuk “memperlakukan mereka dengan keadilan yang setara” sebagaimana ditetapkan dalam ayat 3 surah ini. Karena laki-laki yang sungguh-sungguh sadar akan tanggung jawab moralnya akan merasa berdosa jika dia lebih mencintai salah seorang istrinya daripada istrinya (atau istri-istrinya) yang lain, ayat ini memberikan suatu “penjelasan hukum” mengenai persoalan ini dengan menerangkan bahwa perasaan berada di luar kendali manusia: dengan kata lain, persamaan perlakuan yang disyaratkan hanya berkaitan dengan perilaku lahiriah dan urusan-urusan praktis dengan istri-istrinya. Bagaimanapun, mengingat fakta bahwa perilaku seseorang terhadap orang lain, dalam jangka panjang, hampir selalu dipengaruhi oleh apa yang dia rasakan terhadap orang itu, ayat di atas—yang dibaca dalam kaitannya dengan ayat 3 dan khususnya dalam kalimat penutup—memberikan suatu pembatasan (restriksi) moral terhadap poligami.

148 Lit., “jangan cenderung dengan segala kecenderungan”—yakni, terhadap salah seorang istri sehingga istri yang lain sama sekali tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang—”dengan membiarkannya, demikianlah kira-kira, dalam kebimbangan (ka al-mu’allaqah)”. Mengenai terjemahan saya atas frasa ini, lihat Lane V, h. 2137.


Surah An-Nisa’ Ayat 130

وَإِنْ يَتَفَرَّقَا يُغْنِ اللَّهُ كُلًّا مِنْ سَعَتِهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ وَاسِعًا حَكِيمًا

wa iy yatafarraqā yugnillāhu kullam min sa’atih, wa kānallāhu wāsi’an ḥakīmā

130. Dan, jika suami-istri149 bercerai, Allah akan memberi kecukupan kepada mereka masing-masing dari limpahan karunia-Nya: sebab, Allah benar-benar Maha Tak Terhingga, Mahabijaksana,


149 Lit., “keduanya”.


Surah An-Nisa’ Ayat 131

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ ۚ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا

wa lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, wa laqad waṣṣainallażīna ụtul-kitāba ming qablikum wa iyyākum anittaqullāh, wa in takfurụ fa inna lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, wa kānallāhu ganiyyan ḥamīdā

131. dan kepunyaan Allah-lah segala yang ada di lelangit dan segala yang ada di bumi.

DAN, SUNGGUH, Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang dianugerahi wahyu sebelum masa kalian, dan juga kepada kalian sendiri, agar tetap sadar akan Allah. Dan, jika kalian mengingkari-Nya—perhatikanlah, kepunyaan Allah-lah segala yang ada di lelangit dan segala yang ada di bumi, dan Allah sungguh Mahacukup, Maha Terpuji.


Surah An-Nisa’ Ayat 132

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا

wa lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, wa kafā billāhi wakīlā

132. Dan, kepunyaan Allah-lah segala yang ada di lelangit dan segala yang ada di bumi; dan tiada satu pun yang layak dipercaya sebagaimana Allah.


Surah An-Nisa’ Ayat 133

إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ أَيُّهَا النَّاسُ وَيَأْتِ بِآخَرِينَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ قَدِيرًا

iy yasya` yuż-hibkum ayyuhan-nāsu wa ya`ti bi`ākharīn, wa kānallāhu ‘alā żālika qadīrā

133. Jika Dia menghendaki, Dia bisa menjadikan kalian, wahai manusia, musnah dan memunculkan makhluk-makhluk lain [sebagai pengganti kalian]: sebab, Allah sungguh berkuasa berbuat demikian.


Surah An-Nisa’ Ayat 134

مَنْ كَانَ يُرِيدُ ثَوَابَ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ ثَوَابُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا بَصِيرًا

mang kāna yurīdu ṡawābad-dun-yā fa ‘indallāhi ṡawābud-dun-yā wal-ākhirah, wa kānallāhu samī’am baṣīrā

134. Jika seseorang menghendaki imbalan dunia ini, [hendaklah dia ingat bahwa] di sisi Allah ada imbalan dunia ini dan [sekaligus] akhirat nanti: dan, Allah sungguh Maha Mendengar, Maha Meihat.


Surah An-Nisa’ Ayat 135

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ ۚ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا ۖ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَىٰ أَنْ تَعْدِلُوا ۚ وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

yā ayyuhallażīna āmanụ kụnụ qawwāmīna bil-qisṭi syuhadā`a lillāhi walau ‘alā anfusikum awil-wālidaini wal-aqrabīn, iy yakun ganiyyan au faqīran fallāhu aulā bihimā, fa lā tattabi’ul-hawā an ta’dilụ, wa in talwū au tu’riḍụ fa innallāha kāna bimā ta’malụna khabīrā

135. WAHAI, KALlAN yang telah meraih iman! Senantiasa teguhlah kalian dalam menegakkan keadilan, menjadi saksi atas kebenaran karena Allah, meskipun terhadap diri kalian sendiri atau orangtua dan kaum kerabat kalian. Entah orang yang bersangkutan itu kaya atau miskin, klaim Allah lebih utama dibanding [klaim-klaim] mereka.150 Maka, janganlah mengikuti hawa nafsu kalian sendiri, agar kalian tidak menyimpang dari keadilan: sebab, jika kalian menyelewengkan [kebenaran], atau menolak bersaksi, perhatikanlah, Allah sungguh Mahaawas terhadap semua yang kalian perbuat!


150 Yakni, “jangan sampai kalian menentang atau berpihak pada seseorang semata-mata karena fakta bahwa orang itu kaya dan jangan pula, karena rasa iba yang keliru, mengutamakan orang miskin dengan mengorbankan kebenaran”.


Surah An-Nisa’ Ayat 136

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

yā ayyuhallażīna āmanū āminụ billāhi wa rasụlihī wal-kitābillażī nazzala ‘alā rasụlihī wal-kitābillażī anzala ming qabl, wa may yakfur billāhi wa malā`ikatihī wa kutubihī wa rusulihī wal-yaumil-ākhiri fa qad ḍalla ḍalālam ba’īdā

136. Wahai, kalian yang telah meraih iman! Berpegang teguhlah dalam iman kalian pada Allah dan Rasul-Nya, dan pada kitab Ilahi yang telah Dia turunkan kepada Rasul-Nya secara bertahap, serta pada wahyu yang Dia turunkan sebelumnya:151 sebab, siapa pun yang mengingkari Allah, malaikat-malaikat-Nya, wahyu-wahyu-Nya, rasul-rasul-Nya, dan Hari Akhir, sungguh telah jauh tersesat.152


151 Yang dimaksud di sini adalah keimanan akan fakta adanya wahyu-wahyu sebelum Al-Quran, bukan keimanan pada kitab-kitab wahyu itu dalam bentuknya kini, yang—seperti berkali-kali dinyatakan di dalam Al-Quran—merupakan hasil perubahan yang amat jauh dari teks aslinya.

152 Karena melalui makhluk atau kekuatan yang digambarkan sebagai malaikat inilah Allah menyampaikan wahyu-wahyu-Nya kepada para nabi, iman pada malaikat dikaitkan dengan iman pada wahyu itu sendiri.


Surah An-Nisa’ Ayat 137

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ ازْدَادُوا كُفْرًا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ سَبِيلًا

innallażīna āmanụ ṡumma kafarụ ṡumma āmanụ ṡumma kafarụ ṡummazdādụ kufral lam yakunillāhu liyagfira lahum wa lā liyahdiyahum sabīlā

137. Perhatikanlah, adapun orang-orang yang akhirnya beriman, lalu mengingkari kebenaran, kemudian beriman lagi, lalu lagi-lagi mengingkari kebenaran, dan sesudah itu menjadi semakin berkukuh dalam mengingkari kebenaran153—Allah tidak akan mengampuni mereka, tidak pula akan menunjuki mereka dengan jalan apa pun jua.


153 Lit., “bertambah dalam pengingkaran kebenaran”.


Surah An-Nisa’ Ayat 138

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

basysyiril-munāfiqīna bi`anna lahum ‘ażāban alīmā

138. Kabarkanlah kepada orang-orang munafik seperti itu, bahwa derita yang pedih menanti mereka.


Surah An-Nisa’ Ayat 139

الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

allażīna yattakhiżụnal-kāfirīna auliyā`a min dụnil-mu`minīn, a yabtagụna ‘indahumul-‘izzata fa innal-‘izzata lillāhi jamī’ā

139. Adapun orang-orang yang mengambil para pengingkar kebenaran itu sebagai sekutu-sekutu mereka dengan meninggalkan orang–orang beriman—apakah mereka berharap agar dimuliakan oleh mereka (para pengingkar) itu, padahal, perhatikanlah, segala kemuliaan adalah milik Allah [saja]?154


154 Lihat Surah Alu ‘Imran [3]: 28. Bagaimanapun, kata “sekutu-sekutu” (auliya’, bentuk tunggalnya: wali) dalam konteks ini tidak semata-mata menunjukkan aliansi politik. Secara khusus, ia jelas mengacu pada “aliansi moral” dengan para pengingkar kebenaran: yakni, lebih memilih jalan hidup mereka daripada jalan hidup orang-orang yang beriman, dengan harapan agar “dihormati” atau dianggap sederajat oleh pengingkar-pengingkar kebenaran itu. Karena meniru-niru jalan hidup kaum yang nyata-nyata kafir jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip moral yang digariskan oleh keyakinan sejati, tindakan itu pasti akan menyebabkan ditinggalkannya prinsip-prinsip moral tersebut secara berangsur-angsur.


Surah An-Nisa’ Ayat 140

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

wa qad nazzala ‘alaikum fil-kitābi an iżā sami’tum āyātillāhi yukfaru bihā wa yustahza`u bihā fa lā taq’udụ ma’ahum ḥattā yakhụḍụ fī ḥadīṡin gairihī innakum iżam miṡluhum, innallāha jāmi’ul-munāfiqīna wal-kāfirīna fī jahannama jamī’ā

140. Dan, sungguh, Dia telah memerintahkan kepada kalian dalam kitab Ilahi ini, bahwa setiap kali kalian mendengar orang-orang mengingkari kebenaran pesan-pesan Allah dan memperolok-olokkannya, kalian harus menghindari berkumpul dengan mereka hingga mereka mulai membicarakan hal-hal yang lain155—jika tidak, sungguh, kalian akan menjadi serupa dengan mereka.

Perhatikanlah, Allah akan mengumpulkan orang-orang yang mengingkari kebenaran dalam neraka, bersama-sama dengan orang-orang munafik,


155 Lit., “kalian tidak boleh duduk dengan mereka hingga mereka menyibukkan diri mereka dalam pembicaraan selain hal ini”. Perintah yang dimaksud dalam ayat ini terdapat dalam Surah Al-An’am [6]: 68, yang diwahyukan pada periode yang jauh lebih awal.


Surah An-Nisa’ Ayat 141

الَّذِينَ يَتَرَبَّصُونَ بِكُمْ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ فَتْحٌ مِنَ اللَّهِ قَالُوا أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ وَإِنْ كَانَ لِلْكَافِرِينَ نَصِيبٌ قَالُوا أَلَمْ نَسْتَحْوِذْ عَلَيْكُمْ وَنَمْنَعْكُمْ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ ۚ فَاللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

allażīna yatarabbaṣụna bikum, fa ing kāna lakum fat-ḥum minallāhi qālū a lam nakum ma’akum wa ing kāna lil-kāfirīna naṣībung qālū a lam nastaḥwiż ‘alaikum wa namna’kum minal-mu`minīn, fallāhu yaḥkumu bainakum yaumal-qiyāmah, wa lay yaj’alallāhu lil-kāfirīna ‘alal-mu`minīna sabīlā

141. yang tidak lain hanyalah menanti apa yang akan menimpa kalian: maka, jika kemenangan dari Allah datang kepada kalian, mereka berkata, “Bukankah kami berada di pihak kalian?”—sedangkan jika orang-orang yang mengingkari kebenaran itu mendapat keberuntungan, mereka berkata [kepada pengingkar kebenaran itu], “Bukankah kami telah berhasil mengambil hati kalian dengan membela kalian terhadap orang-orang beriman itu?”156

Namun, Allah akan memberi keputusan di antara kalian semua pada Hari Kebangkitan; dan Allah tidak akan pernah membiarkan orang-orang yang mengingkari kebenaran itu mencelakakan orang-orang yang beriman.157


156 Lit., “tidakkah kami memperoleh kekuasaan atas kalian [yakni, ‘atas hati kalian’—bdk. Lane II, h, 664] dan membela kalian melawan orang-orang beriman itu?” Kata “orang-orang beriman itu” di sini jelas-jelas memiliki maksud sarkastik.*

* {Dalam teks aslinya, maksud sarkastik ini ditunjukkan oleh Asad dengan menerjemahkan frasa “orang-orang beriman itu” menjadi those believers, alih-alih the believers. The believers bernada netral, sedangkan those bellevers bernada mencemooh. Nuansa ini hilang ketika teksnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.—peny.}

157 Pernyataan ini, tentu saja, memiliki makna yang murni spiritual dan tidak mesti selalu diikuti dengan perubahan nasib dalam kehidupan—karena (sebagaimana ditunjukkan ayat ini) “orang-orang yang mengingkari kebenaran” pada suatu saat tertentu mungkin “beruntung”, yakni mungkin meraih keunggulan sementara atas orang-orang yang beriman.


Surah An-Nisa’ Ayat 142

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

innal-munāfiqīna yukhādi’ụnallāha wa huwa khādi’ụhum, wa iżā qāmū ilaṣ-ṣalāti qāmụ kusālā yurā`ụnan-nāsa wa lā yażkurụnallāha illā qalīlā

142. Perhatikanlah, orang-orang munafik itu berusaha menipu Allah—padahal, Allah-lah yang menjadikan mereka tertipu [oleh diri mereka sendiri].158 Dan, apabila mereka berdiri untuk melaksanakan shalat, mereka berdiri dengan rasa malas, hanya agar dilihat dan dipuji manusia, dan hanya sedikit mengingat Allah,


158 Beberapa mufasir (misalnya, Al-Razi) menafsirkan frasa huwa khadi’uhum (lit., “Dia adalah penipu mereka”) sebagai “Dia akan membalas tipuan mereka”. Bagaimanapun, terjemahan yang saya pilih tampaknya lebih serasi dengan Surah AI-Baqarah [2]: 9, yang menyebutkan jenis kemunafikan yang sama: “Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang telah meraih iman—padahal mereka tidak menipu siapa pun, kecuali diri mereka sendiri, dan mereka tidak menyadarinya”. Lihat juga Al-Manar V, h. 469, yang memandang bahwa kedua penafsiran tersebut saling melengkapi.


Surah An-Nisa’ Ayat 143

مُذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَٰلِكَ لَا إِلَىٰ هَٰؤُلَاءِ وَلَا إِلَىٰ هَٰؤُلَاءِ ۚ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا

mużabżabīna baina żālika lā ilā hā`ulā`i wa lā ilā hā`ulā`, wa may yuḍlilillāhu fa lan tajida lahụ sabīlā

143. (mereka) ragu-ragu antara ini dan itu, tidak [bersetia] pada yang ini maupun yang itu. Akan tetapi, bagi siapa pun yang dibiarkan sesat oleh Allah, engkau tidak akan pernah bisa memperoleh jalan apa pun.


Surah An-Nisa’ Ayat 144

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُبِينًا

yā ayyuhallażīna āmanụ lā tattakhiżul-kāfirīna auliyā`a min dụnil-mu`minīn, a turīdụna an taj’alụ lillāhi ‘alaikum sulṭānam mubīnā

144. Wahai, kalian yang telah meraih iman! Janganlah mengambil para pengingkar kebenaran itu sebagai sekutu-sekutu kalian dengan meninggalkan orang-orang yang beriman! Apakah kalian ingin menyodorkan suatu bukti nyata di hadapan Allah atas kesalahan kalian?159


159 Lit., “sebuah bukti nyata melawan diri kalian sendiri”. Lihat catatan no. 154 sebelum ini.


Surah An-Nisa’ Ayat 145

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

innal-munāfiqīna fid-darkil-asfali minan-nār, wa lan tajida lahum naṣīrā

145. Sungguh, orang-orang munafik itu akan berada pada dasar yang paling dalam dari api neraka, dan engkau tidak akan menemukan siapa pun yang dapat menolong mereka.


Surah An-Nisa’ Ayat 146

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا

illallażīna tābụ wa aṣlaḥụ wa’taṣamụ billāhi wa akhlaṣụ dīnahum lillāhi fa ulā`ika ma’al-mu`minīn, wa saufa yu`tillāhul-mu`minīna ajran ‘aẓīmā

146. Kecuali orang-orang yang bertobat, dan menjalani hidup secara saleh, dan berpegang teguh pada Allah, dan bertambah tulus dalam keyakinan mereka pada Allah semata: sebab, mereka ini akan menjadi satu dengan orang-orang beriman—dan, kelak, Allah akan memberikan kepada orang-orang beriman pahala yang besar.


Surah An-Nisa’ Ayat 147

مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

mā yaf’alullāhu bi’ażābikum in syakartum wa āmantum, wa kānallāhu syākiran ‘alīmā

147. Mengapa Allah hendak menjadikan kalian menderita [karena dosa-dosa kalian yang lalu] jika kalian bersyukur dan meraih iman?—padahal Allah senantiasa menyambut rasa syukur, Maha Mengetahui?160


160 Syukur yang disebutkan di sini bersifat umum—suatu perasaan terirna kasih karena diberi hidup dan dianugerahi apa yang disebut dengan “jiwa”: suatu perasaan yang sering kali mendorong manusia untuk menyadari bahwa anugerah kehidupan dan kesadaran ini bukanlah kebetulan sehingga, sesuai dengan alur berpikir yang logis, dia beriman kepada Allah. Menurut Al-Zamakhsyari, inilah alasan mengapa “syukur” ditempatkan sebelum “iman” dalam struktur kalimat di atas.


Surah An-Nisa’ Ayat 148

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

lā yuḥibbullāhul-jahra bis-sū`i minal-qauli illā man ẓulim, wa kānallāhu samī’an ‘alīmā

148. Allah tidak menyukai setiap keburukan yang diucapkan dengan terang-terangan, kecuali jika dilakukan oleh orang yang telah dizalimi [karenanya].161 Dan, Allah sungguh Maha Mendengar, Maha Mengetahui,


161 Sebagaimana dijelaskan oleh beberapa mufasir (misalnya, Al-Razi), hal ini mungkin merujuk pada tindakan menyebarluaskan ucapan-ucapan atau perbuatan-perbuatan dari para pendosa yang sudah bertobat—baik orang-orang munafik maupun mereka yang nyata-nyata mengingkari kebenaran—yang disebutkan dalam dua ayat sebelumnya: suatu penafsiran yang tampaknya muncul dari konteks ayat-ayat tersebut. Bagaimanapun, pernyataan di atas juga memiliki maksud umum, yakni: ia melarang segala tindakan menyebarluaskan perbuatan atau perkataan buruk seseorang kepada publik, “kecuali jika dilakukan oleh orang yang telah dizalimi [karenanya]” yang juga berarti bahwa perilaku buruk yang memengaruhi masyarakat secara keseluruhan dapat dipublikasikan jika kepentingan kelompok yang teraniaya—dalam hal ini, masyarakat itu sendiri—memang menuntutnya.


Surah An-Nisa’ Ayat 149

إِنْ تُبْدُوا خَيْرًا أَوْ تُخْفُوهُ أَوْ تَعْفُوا عَنْ سُوءٍ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا

in tubdụ khairan au tukhfụhu au ta’fụ ‘an sū`in fa innallāha kāna ‘afuwwang qadīrā

149. baik kalian melakukan kebajikan secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi, atau memaafkan kesalahan [yang dilakukan] orang lain [terhadap kalian]: sebab, perhatikanlah, Allah sungguh Sang Penghapus Dosa-Dosa, Maha Tak Terhingga dalam kuasa-Nya.


Surah An-Nisa’ Ayat 150

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا

innallażīna yakfurụna billāhi wa rusulihī wa yurīdụna ay yufarriqụ bainallāhi wa rusulihī wa yaqụlụna nu`minu biba’ḍiw wa nakfuru biba’ḍiw wa yurīdụna ay yattakhiżụ baina żālika sabīlā

150. SUNGGUH, orang-orang yang mengingkari Allah dan para rasul-Nya dengan berupaya keras untuk membuat perbedaan antara [beriman pada] Allah dan [beriman pada] para rasul-Nya, dan yang berkata, “Kami beriman pada yang satu, tetapi kami mengingkari yang lainnya,”162 serta bermaksud mengambil jalan di antara itu


162 Atau: “Kami beriman pada satu bagian dan kami mengingkari bagian lainnya”—yaitu, mereka beriman pada Allah, tetapi tidak beriman pada rasul-rasul-Nya (Al-Zamakhsyari) atau mereka beriman pada sebagian rasul, tetapi mengingkari yang lainnya (Al-Thabari dan Al-Zamakhsyari). Menurut hemat saya, penafsiran yang pertamalah yang lebih tepat karena mencakup bukan saja penolakan terhadap sebagian rasul, melainkan juga penolakan total terhadap gagasan bahwa Allah telah mewahyukan kehendak-Nya melalui rasul-rasul pilihan-Nya. Dalam Islam, menolak salah satu atau seluruh rasul Allah merupakan dosa besar yang hampir sama beratnya dengan dosa mengingkari Allah.


Surah An-Nisa’ Ayat 151

أُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا ۚ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا

ulā`ika humul-kāfirụna ḥaqqā, wa a’tadnā lil-kāfirīna ‘ażābam muhīnā

151. —mereka, mereka itulah orang-orang yang sungguh mengingkari kebenaran: dan bagi orang-orang yang mengingkari kebenaran itu, telah Kami siapkan penderitaan yang hina.


Surah An-Nisa’ Ayat 152

وَالَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَمْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ أُولَٰئِكَ سَوْفَ يُؤْتِيهِمْ أُجُورَهُمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

wallażīna āmanụ billāhi wa rusulihī wa lam yufarriqụ baina aḥadim min-hum ulā`ika saufa yu`tīhim ujụrahum, wa kānallāhu gafụrar raḥīmā

152. Namun, adapun bagi orang-orang yang beriman pada Allah dan para rasul-Nya, serta tidak membeda-bedakan siapa pun di antara mereka163—kepada mereka, kelak, akan Dia anugerahkan pahala mereka [sepenuhnya]. Dan, Allah sungguh Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.


163 Yakni, dalam hal bahwa mereka semua adalah utusan-utusan Allah.


Surah An-Nisa’ Ayat 153

يَسْأَلُكَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَنْ تُنَزِّلَ عَلَيْهِمْ كِتَابًا مِنَ السَّمَاءِ ۚ فَقَدْ سَأَلُوا مُوسَىٰ أَكْبَرَ مِنْ ذَٰلِكَ فَقَالُوا أَرِنَا اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْهُمُ الصَّاعِقَةُ بِظُلْمِهِمْ ۚ ثُمَّ اتَّخَذُوا الْعِجْلَ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ فَعَفَوْنَا عَنْ ذَٰلِكَ ۚ وَآتَيْنَا مُوسَىٰ سُلْطَانًا مُبِينًا

yas`aluka ahlul-kitābi an tunazzila ‘alaihim kitābam minas-samā`i fa qad sa`alụ mụsā akbara min żālika fa qālū arinallāha jahratan fa akhażat-humuṣ-ṣā’iqatu biẓulmihim, ṡummattakhażul-‘ijla mim ba’di mā jā`at-humul-bayyinātu fa ‘afaunā ‘an żālik, wa ātainā mụsā sulṭānam mubīnā

153. PARA PENGANUT Perjanjian Lama164 memintamu [wahai Nabi] agar engkau menjadikan suatu wahyu diturunkan kepada mereka dari langit.165 Dan, bahkan sesuatu yang lebih besar daripada ini telah mereka mintakan kepada Musa ketika mereka berkata, “Jadikanlah kami (mampu) bertatap muka dengan Allah secara langsung”—lalu petir hukuman menyambar mereka karena kezaliman mereka ini.166 Setelah itu, mereka menyembah anak sapi [emas]—dan ini (semua terjadi) setelah segala bukti kebenaran datang kepada mereka!

Walaupun begitu, Kami hapus [dosa mereka] ini, dan memberikan kepada Musa sebuah bukti yang nyata [tentang kebenaran],


164 Seperti ditunjukkan oleh lanjutan ayat ini, istilah ahl al-kitab (“para penganut wahyu [terdahulu]”) di sini secara khusus mengacu pada orang-orang Yahudi, sehingga terjemahannya menjadi “para penganut Perjanjian Lama*” dapat dijustifikasi.

* {Alkitab (Bibel) terbagi dua: Kitab-Kitab Perjanjian Lama (PL) dan Kitab-Kitab Perjanjian Baru (PB). PL berisi kumpulan kitab pra-Nabi Isa Al-Masih a.s., sedangkan PB berisi kumpulan Kitab Injil dan kitab pasca-Isa. PL adalah kitab suci umat Yahudi, yang juga diimani umat Nasrani. Sedangkan PB diimani oleh umat Nasrani, tetapi tidak diimani oleh umat Yahudi.—peny.}

165 Dengan kata lain, “sebagai bukti kenabianmu”. Atau, kalimat tersebut dapat dipahami demikian: “Mereka memintamu untuk menurunkan kepada mereka sebuah kitab dari langit [dalam bentuk buku]”. Namun, mengingat pernyataan Al-Quran yang sering diulang bahwa kaum Yahudi yakin bahwa hanya merekalah yang bisa mendapathan wahyu Ilahi, menurut saya, terjemahan yang saya pilih lebih tepat.

166 Lihat Surah Al-Baqarah [2]: 55 dan catatan no. 40.


Surah An-Nisa’ Ayat 154

وَرَفَعْنَا فَوْقَهُمُ الطُّورَ بِمِيثَاقِهِمْ وَقُلْنَا لَهُمُ ادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُلْنَا لَهُمْ لَا تَعْدُوا فِي السَّبْتِ وَأَخَذْنَا مِنْهُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

wa rafa’nā fauqahumuṭ-ṭụra bimīṡāqihim wa qulnā lahumudkhulul-bāba sujjadaw wa qulnā lahum lā ta’dụ fis-sabti wa akhażnā min-hum mīṡāqan galīẓā

154. dengan menegakkan Gunung Sinai, tinggi menjulang di atas mereka, sebagai saksi atas sumpah setia mereka. Dan, Kami berkata kepada mereka, “Masukilah pintu gerbang itu dengan rendah hati”;167 dan Kami katakan kepada mereka, “Janganlah melanggar hukum-Sabat”; dan Kami menerima dari mereka sumpah setia yang amat kukuh.


167 Lihat Surah Al-Baqarah [2]: 58-59 dan catatan-catatanya.


Surah An-Nisa’ Ayat 155

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ وَكُفْرِهِمْ بِآيَاتِ اللَّهِ وَقَتْلِهِمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَقَوْلِهِمْ قُلُوبُنَا غُلْفٌ ۚ بَلْ طَبَعَ اللَّهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا

fa bimā naqḍihim mīṡāqahum wa kufrihim bi`āyātillāhi wa qatlihimul-ambiyā`a bigairi ḥaqqiw wa qaulihim qulụbunā gulf, bal ṭaba’allāhu ‘alaihā bikufrihim fa lā yu`minụna illā qalīlā

155. Dan demikianlah, [Kami hukum mereka168] disebabkan pelanggaran atas sumpah mereka itu, dan penolakan mereka untuk mengakui pesan-pesan Allah, dan pembunuhan yang mereka lakukan terhadap nabi-nabi dengan melanggar segala (nilai) kebenaran, dan bualan mereka, “Hati kami telah penuh dengan pengetahuan”—sekali-kali tidak, melainkan Allah telah menutup hati mereka sebagai akibat dari pengingkaran mereka terhadap kebenaran, dan [kini] mereka tidak beriman kecuali terhadap sedikit hal saja—;169*


168 Pemyataan yang berkenaan dengan hukuman mereka—yang di sini dinyatakan secara tersirat—diungkapkan secara eksplisit dalam ayat 160.

169 Lihat Surah Al-Baqarah [2]: 88 dan catatan-catatannya.

* {Kalimat “… kecuali terhadap sedikit hal saja” adalah terjemahan Asad untuk kata qalila yang terdapat di akhir ayat 155 di atas. Dengan demikian, pengertian yang diberikan adalah “mereka tidak beriman kecuali terhadap sedikit hal saja”. Dalam Al-Quran terjemahan Depag RI, frasa tersebut diterjemahkan menjadi “kecuali sebagian kecil dari mereka”. Asad merujukkan kata qalila pada hal-hal yang diimani, sedangkan terjemahan Depag merujukkannya pada orang-orang Yahudi.—AM}


Surah An-Nisa’ Ayat 156

وَبِكُفْرِهِمْ وَقَوْلِهِمْ عَلَىٰ مَرْيَمَ بُهْتَانًا عَظِيمًا

wa bikufrihim wa qaulihim ‘alā maryama buhtānan ‘aẓīmā

156. dan karena penolakan mereka untuk mengakui kebenaran, dan tuduhan dahsyat yang mereka lontarkan terhadap Maryam,170


170 Fitnah yang dimaksud adalah tuduhan populer yang dinyatakan oleh orang-orang Yahudi bahwa Nabi Isa a.s. adalah anak hasil zina.


Surah An-Nisa’ Ayat 157

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ ۚ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ ۚ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا

wa qaulihim innā qatalnal-masīḥa ‘īsabna maryama rasụlallāh, wa mā qatalụhu wa mā ṣalabụhu wa lākin syubbiha lahum, wa innallażīnakhtalafụ fīhi lafī syakkim min-h, mā lahum bihī min ‘ilmin illattibā’aẓ-ẓanni wa mā qatalụhu yaqīnā

157. dan bualan mereka, “Perhatikanlah, kami telah membunuh Al-Masih, Isa, putra Maryam, [yang mengaku sebagai] rasul Allah!”

Padahal, mereka tidak membunuhnya, dan tidak pula mereka menyalibnya, melainkan hanya tampak bagi mereka [seolah-olah terjadi] demikian;171 dan sungguh, orang-orang yang berselisih paham tentang hal itu benar-benar bingung, tidak memiliki pengetahuan [yang sebenarnya] tentang hal itu, dan tiada lain hanyalah mengikuti dugaan belaka. Sebab, sudah pasti, mereka tidak membunuhnya:


171 Jadi, Al-Quran sama sekali menolak kisah penyaliban Nabi Isa a.s. Di kalangan umat Muslim, ada banyak cerita khayal yang menyatakan bahwa, pada saat-saat terakhir, Allah mengganti Isa dengan seseorang yang sangat mirip dengannya (menurut sejumlah riwayat, orang tersebut adalah Yudas), yang pada akhirnya disalib menggantikan Nabi Isa a.s. Namun, tidak ada keterangan apa pun, baik dalam Al-Quran maupun hadis sahih, yang mendukung kebenaran riwayat-riwayat ini dan, karena itu, kisah-kisah yang dikemukakan oleh para mufasir klasik seputar kejadian ini harus segera ditolak. Kisah-kisah tersebut hanya merupakan upaya-upaya membingungkan guna “menyelaraskan” pernyataan-pernyataan Al-Quran (bahwa Isa tidak disalib) dengan gambaran grafis dalam Injil (tentang kisah penyaliban Nabi Isa a.s.). Kisah penyaliban itu sendiri telah dijelaskan dengan ringkas dalam Al-Quran dengan frasa wa lakin syubbiha Iahum, yang saya terjemahkan menjadi “melainkan hanya tampak bagi mereka seolah-olah terjadi demikian”—yang menunjukkan bahwa seiring dengan berjalannya masa, jauh setelah zaman Nabi Isa a.s., sebuah legenda muncul (mungkin di bawah pengaruh kepercayaan Mitraistik yang pengaruhnya pada masa itu sangat kuat) yang kira-kira mengatakan bahwa dia telah mati di tiang salib untuk menebus “dosa asal” yang diduga melekat pada setiap manusia. Kemudian, legenda ini menjadi benar-benar kukuh di kalangan pengikut-pengikut Nabi Isa a.s. yang belakangan sehingga bahkan musuh-musuhnya pun, orang-orang Yahudi, mulai meyakininya—meskipun dalam nada penghinaan (karena, pada masa-masa itu, penyaliban merupakan bentuk hukuman mati yang mengerikan, yang dipersiapkan untuk para penjahat yang paling jahat). Menurut hemat saya, inilah satu-satunya keterangan yang memuaskan untuk frasa wa lakin syubbiha lahum, terlebih lagi karena ungkapan syubbiha li, secara idiomatik, sinonim dengan khuyyila li, “[sesuatu] menjadi khayalan bagi saya”, yakni “dalam pikiran saya”—dengan kata lain, “[ia] tampak bagi saya” (lihat Al-Qamus, entri khayala, serta Lane II, h. 833, dan IV, h. 1500).


Surah An-Nisa’ Ayat 158

بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

bal rafa’ahullāhu ilaīh, wa kānallāhu ‘azīzan ḥakīmā

158. sama sekali tidak! Allah memuliakannya ke haribaan-Nya172—dan Allah sungguh Mahaperkasa, Mahabijaksana.


172 Bdk. Surah Alu ‘Imran [3]: 55, yang di dalamnya Allah berkata kepada Nabi Isa a.s., “Sungguh, Aku akan membuatmu wafat, dan akan memuliakanmu ke haribaan-Ku.” Verba rafa’ahu (lit., “dia telah mengangkatnya” atau “menaikkannya”), manakala pelaku tindakan raf’ (“menaikkan”) seorang manusia dinisbahkan kepada Allah, selalu bermakna “penghormatan” atau “pemuliaan”. Di ayat mana pun dalam Al-Quran, tidak ada keterangan yang mendukung kepercayaan populer bahwa Allah telah “mengangkat” Nabi Isa a.s. secara fisik ke surga pada masa hidupnya. Ungkapan “Allah memuliakannya ke haribaan-Nya” dalam ayat di atas menunjukkan kenaikan Nabi Isa a.s. ke wilayah rahmat khusus Allah—sebuah nikmat yang diperoleh semua nabi, sebagaimana tampak jelas dari Surah Maryam [19]: 57, yang di dalamnya verba rafa’nahu (“Kami memuliakannya”) digunakan berkenaan dengan Nabi Idris a.s. (Lihat juga Muhammad ‘Abduh, Al-Manar III, h. 316, dan VI, h. 20). Frasa “sama sekali tidak” (bal) pada awal kalimat dimaksudkan untuk menekankan tegasnya perbedaan antara kepercayaan orang-orang Yahudi bahwa mereka telah membuat Nabi Isa a.s. mati secara hina di tiang salib, dengan fakta bahwa Allah telah “memuliakannya ke haribaan-Nya”.

{Buya HAMKA, Ketua MUI pertama Indonesia dan peraih penghargaan doktor HC dari Universitas Al-Azhar, Mesir, serta penulis tafsir Al-Azhar, juga membahas soal ini dalam bukunya, Peladjaran Agama lslam, Bulan-Bintang, 1956, sbb.: “Mereka (para ulama tafsir—red.) perbincangkan apakah Isa itu masih hidup, lalu diangkat Tuhan ke langit, ataukah dia telah meninggal dunia sebagaimana kebanyakan manusia. Tuhan bersabda tentang Nabi Isa: ‘Sesungguhnya, Aku mewafatkan engkau dan mengangkatkan engkau kepada-Ku.’ Orang yang memegang kepercayaan bahwa Nabi Isa belum mati, dan hanya menguatkan bahwa Nabi Isa diangkat ke langit dengan tubuhnya, terpaksa mesti mencari arti yang lain dari kata ‘wafat’ itu. Tetapi yang berpendapat bahwa Nabi Isa mati, langsung saja mengartikan ayat itu menurut zahir bunyinya. Mula-mula beliau wafat, setelah itu beliau diangkat ke hadirat Tuhan, sebagaimana setiap insan yang mulia. Sebab itu, ke-angkat-an itu tidak mesti ke langit, melainkan ke hadirat Tuhan.”—peny.}


Surah An-Nisa’ Ayat 159

وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا

wa im min ahlil-kitābi illā layu`minanna bihī qabla mautih, wa yaumal-qiyāmati yakụnu ‘alaihim syahīdā

159. Sungguhpun begitu, tiada seorang pun dari penganut wahyu terdahulu yang, pada saat kematiannya, tidak memahami kebenaran tentang Isa;173 dan pada Hari Kebangkitan, dia [sendiri] akan menjadi saksi kebenaran melawan mereka.


173 Lit., “yang tidak beriman padanya sebelum kematiannya”. Menurut ayat ini, semua orang Yahudi dan Nasrani yang beriman menyadari pada saat kematian mereka bahwa Nabi Isa a.s. adalah benar-benar seorang nabi Allah—bukan seorang penipu, bukan pula “anak Tuhan” (Al-Zamakhsyari).


Surah An-Nisa’ Ayat 160

فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا

fa biẓulmim minallażīna hādụ ḥarramnā ‘alaihim ṭayyibātin uḥillat lahum wa biṣaddihim ‘an sabīlillāhi kaṡīrā

160. Maka, disebabkan kezaliman yang telah dilakukan oleh orang-orang yang menganut agama Yahudi, Kami halangi mereka dari hal-hal tertentu yang baik-baik dalam hidup ini, yang [dahulunya] dibolehkan bagi mereka174; dan [ini Kami lakukan] karena mereka begitu sering berpaling dari jalan Allah,175


174 Mayoritas mufasir berasumsi bahwa hal ini mengacu pada pembatasan makanan yang secara ekstrem ditetapkan bagi orang Yahudi, yang disinggung dalam Surah Alu ‘Imran [3]: 93 dan Surah Al-An’am [6]: 146. Namun, karena Surah Alu ‘Imran [3]: 93 dengan jelas menyatakan bahwa pembatasan dan larangan itu adalah suatu hukuman karena perbuatan buruk yang dilakukan “sebelum Taurat diturunkan”, sedangkan ayat yang sedang kita bahas ini mengacu pada perilaku mereka yang penuh dosa pada masa-masa belakangan, kita harus menyimpulkan bahwa hukuman yang dibicarakan di sini mempunyai makna lain, yaitu: tercerabutnya orang-orang Yahudi dalam waktu yang lama dari sekian banyak “hal-hal tertentu yang baik-baik dalam hidup ini”, yang dinikmati oleh bangsa-bangsa lainnya—yakni, kehinaan dan penderitaan yang harus mereka pikul sepanjang sebagian besar perjalanan sejarah mereka, khususnya setelah masa Nabi Isa a.s. Atas dasar penafsiran inilah, saya menerjemahkan ungkapan harramna ‘alaihim (lit., “Kami melarang mereka”) menjadi “Kami halangi mereka dari” (We deny unto them).

175 Verba shadda (“dia berpaling”) bisa berbentuk transitif maupun intransitif. Demikian pula kata shadd: nomina yang merupakan turunan dari shadda. Dalam kasus shadda yang transitif, kalimat tersebut dapat dibaca, “karena mereka telah memalingkan banyak orang [lain] dari jalan Allah”, dalam kasus intransitif, “karena mereka [begitu] sering berpaling dari jalan Allah”. Mengingat penekanan yang berulang-ulang dalam Al-Quran mengenai watak degil Bani Israil—dan bukti-bukti yang melimpah tentang hal ini dalam Perjanjian Lama—saya memilih terjemahan intransitif.


Surah An-Nisa’ Ayat 161

وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ ۚ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

wa akhżihimur-ribā wa qad nuhụ ‘an-hu wa aklihim amwālan-nāsi bil-bāṭil, wa a’tadnā lil-kāfirīna min-hum ‘ażāban alīmā

161. dan [karena] mereka memakan riba meskipun hal itu telah diharamkan bagi mereka, dan (karena) mereka memakan harta orang lain secara batil. Dan, bagi orang-orang di antara mereka yang [terus] mengingkari kebenaran, telah Kami siapkan derita yang pedih.


Surah An-Nisa’ Ayat 162

لَٰكِنِ الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ مِنْهُمْ وَالْمُؤْمِنُونَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَالْمُقِيمِينَ الصَّلَاةَ ۚ وَالْمُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالْمُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أُولَٰئِكَ سَنُؤْتِيهِمْ أَجْرًا عَظِيمًا

lākinir-rāsikhụna fil-‘ilmi min-hum wal-mu`minụna yu`minụna bimā unzila ilaika wa mā unzila ming qablika wal-muqīmīnaṣ-ṣalāta wal-mu`tụnaz-zakāta wal-mu`minụna billāhi wal-yaumil-ākhir, ulā`ika sanu`tīhim ajran ‘aẓīmā

162. Namun, adapun orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka,176 dan orang-orang beriman yang percaya pada apa yang telah diturunkan kepadamu, serta (pada) apa yang telah diturunkan sebelummu, dan orang-orang yang [sungguh] teguh mendirikan shalat,177 dan memberikan derma, serta semua orang yang beriman pada Allah dan Hari Akhir—mereka inilah yang akan Kami berikan pahala yang besar.


176 Yakni, orang-orang dari kalangan Yahudi yang tidak berpuas-diri hanya dengan ibadah ritual, tetapi juga mencoba menyelami makna terdalam iman.

177 Menurut ahli gramatika (nahwu) aliran Bashrah, dan khususnya Sibawaih, penggunaan bentuk akusatif (manshub) yang terdapat dalam ungkapan al-muqimin al-shalah (“orang-orang yang teguh mendirikan shalat”)—alih-alih bentuk nominatifnya, al-muqimun—adalah perangkat gramatikal yang sah, yang dimaksudkan untuk menekankan kualitas khusus dan terpuji yang melekat pada shalat dan pada orang-orang yang mencurahkan diri padanya (lihat Al-Zamakhsyari dan Al-Razi). Inilah alasan mengapa saya menyisipkan kata “sungguh” di antara dua kurung siku.


Surah An-Nisa’ Ayat 163

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ ۚ وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَعِيسَىٰ وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ ۚ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا

innā auḥainā ilaika kamā auḥainā ilā nụḥiw wan-nabiyyīna mim ba’dih, wa auḥainā ilā ibrāhīma wa ismā’īla wa is-ḥāqa wa ya’qụba wal-asbāṭi wa ‘īsā wa ayyụba wa yụnusa wa hārụna wa sulaimān, wa ātainā dāwụda zabụrā

163. PERHATIKANLAH, Kami telah memberi wahyu kepadamu [wahai Nabi] sebagaimana Kami telah memberi wahyu kepada Nuh dan semua nabi setelahnya—sebagaimana Kami telah memberi wahyu kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, termasuk Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman; dan sebagaimana telah Kami anugerahkan kepada Daud sebuah kitab hikmah Ilahi;178


178 Yakni, Kitab Zabur (lih. Surah Al-Anbiya’ [21], catatan no. 101).


Surah An-Nisa’ Ayat 164

وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ ۚ وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا

wa rusulang qad qaṣaṣnāhum ‘alaika ming qablu wa rusulal lam naqṣuṣ-hum ‘alaīk, wa kallamallāhu mụsā taklīmā

164. dan sebagaimana [Kami telah berikan wahyu kepada] rasul-rasul [lainnyal yang telah Kami sebutkan kepadamu sebelum ini,179 serta rasul-rasul yang tidak Kami sebutkan kepadamu; dan sebagaimana Allah menuturkan firman-Nya kepada Musa:


179 Yakni, sebelum pewahyuan surah ini.


Surah An-Nisa’ Ayat 165

رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

rusulam mubasysyirīna wa munżirīna li`allā yakụna lin-nāsi ‘alallāhi ḥujjatum ba’dar-rusul, wa kānallāhu ‘azīzan ḥakīmā

165. [Kami utus semua] rasul [ini] sebagai penyampai berita gembira dan pemberi peringatan, agar manusia tiada memiliki alasan di hadapan Allah sesudah [datangnya] rasul-rasul ini; dan Allah benar-benar Mahaperkasa, Mahabijaksana.


Surah An-Nisa’ Ayat 166

لَٰكِنِ اللَّهُ يَشْهَدُ بِمَا أَنْزَلَ إِلَيْكَ ۖ أَنْزَلَهُ بِعِلْمِهِ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ يَشْهَدُونَ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا

lākinillāhu yasy-hadu bimā anzala ilaika anzalahụ bi’ilmih, wal-malā`ikatu yasy-hadụn, wa kafā billāhi syahīdā

166. Bagaimanapun jua, Allah [Sendiri] menjadi saksi tentang kebenaran dari apa yang Dia turunkan kepadamu: berkat hikmah-Nya sendiri-lah Dia menurunkannya, dengan para malaikat sebagai saksinya—meskipun tiada satu pun yang dapat menjadi saksi seperti Allah.


Surah An-Nisa’ Ayat 167

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ قَدْ ضَلُّوا ضَلَالًا بَعِيدًا

innallażīna kafarụ wa ṣaddụ ‘an sabīlillāhi qad ḍallụ ḍalālam ba’īdā

167. Perhatikanlah, orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran dan berkukuh memalingkan orang-orang lain dari jalan Allah, benar-benar telah jauh tersesat.


Surah An-Nisa’ Ayat 168

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَظَلَمُوا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ طَرِيقًا

innallażīna kafarụ wa ẓalamụ lam yakunillāhu liyagfira lahum wa lā liyahdiyahum ṭarīqā

168. Perhatikanlah, orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran dan berkukuh melakukan kezaliman—Allah benar-benar tidak akan mengampuni mereka, tidak pula Dia akan memberi mereka petunjuk ke jalan mana pun,


Surah An-Nisa’ Ayat 169

إِلَّا طَرِيقَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا

illā ṭarīqa jahannama khālidīna fīhā abadā, wa kāna żālika ‘alallāhi yasīrā

169. kecuali jalan yang menuju neraka, di dalamnya (mereka) berkediaman melampaui perhitungan waktu; dan, hal ini sungguh mudah bagi Allah.


Surah An-Nisa’ Ayat 170

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الرَّسُولُ بِالْحَقِّ مِنْ رَبِّكُمْ فَآمِنُوا خَيْرًا لَكُمْ ۚ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

yā ayyuhan-nāsu qad jā`akumur-rasụlu bil-ḥaqqi mir rabbikum fa āminụ khairal lakum, wa in takfurụ fa inna lillāhi mā fis-samāwāti wal-arḍ, wa kānallāhu ‘alīman ḥakīmā

170. Wahai, manusia! Rasul kini telah datang kepada kalian dengan kebenaran dari Pemelihara kalian: maka, berimanlah demi kebaikan kalian sendiri! Dan, jika kalian mengingkari kebenaran—perhatikanlah, kepunyaan Allah-lah segala yang ada di lelangit dan segala yang ada di bumi, dan Allah sungguh Maha Mengetahui, Mahabijaksana!


Surah An-Nisa’ Ayat 171

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۖ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ ۚ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ ۚ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ ۘ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا

yā ahlal-kitābi lā taglụ fī dīnikum wa lā taqụlụ ‘alallāhi illal-ḥaqq, innamal-masīḥu ‘īsabnu maryama rasụlullāhi wa kalimatuh, alqāhā ilā maryama wa rụḥum min-hu fa āminụ billāhi wa rusulih, wa lā taqụlụ ṡalāṡah, intahụ khairal lakum, innamallāhu ilāhuw wāḥid, sub-ḥānahū ay yakụna lahụ walad, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, wa kafā billāhi wakīlā

171. WAHAI, PARA PENGIKUT INJIL! Janganlah melampaui batas-batas [kebenaran] dalam keyakinan keagamaan kalian,180 dan jangan mengatakan apa pun tentang Allah kecuali yang benar. Al-Masih Isa, putra Maryam, tidak lain hanyalah Rasul Allah—[pemenuhan] janji-Nya yang telah Dia sampaikan kepada Maryam—dan ruh yang diciptakan-Nya.181 Maka, berimanlah pada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan janganlah berkata, “[Tuhan adalah] tri-tunggal.” Berhentilah [dari pernyataan ini] demi kebaikan kalian sendiri. Allah tiada lain adalah Tuhan yang Esa; Mahakudus Dia, dalam kemuliaan-Nya, dari mempunyai anak: kepunyaan Dia-lah segala yang ada di lelangit dan segala yang ada di bumi; dan tiada satu pun yang layak dipercaya sebagaimana Allah.


180 Yakni, dengan mengagungkan Nabi Isa a.s. hingga menyamai Allah. Karena yang dimaksud di sini adalah orang-orang Kristen secara khusus, saya menerjemahkan kitab menjadi “Injil” (Gospel).

181 Lit., “Perkataan-Nya yang Dia sampaikan kepda Maryam dan ruh dari-Nya”. Menurut Al-Thabari, yang dimaksud dengan “Perkataan” (kalimah) adalah “berita (risalah) yang Allah perintahkan kepada malaikat untuk disampaikan kepada Maryam dan kabar gembira dari Allah kepada Maryam” (mengacu pada Surah Alu ‘Imran [3]: 45)—yang menjustifikasi penerjemahan kalimatuhu menjadi “[pemenuhan] janji-Nya”. (Lihat juga Surah Alu ‘Imran [3], catatan no. 28.) Adapun mengenai ungkapan ruhun minhu (“ruh dari-Nya” atau “yang diciptakan-Nya”), hendaknya diperhatikan bahwa di antara berbagai makna kata ruh dalam Al-Quran (misalnya, “ilham” [inspiration] pada Surah Al-Baqarah [2]: 87 dan 253), ia juga digunakan dalam pengertian utama sebagai “tiupan kehidupan” (breath of life), “nyawa” (soul), atau “ruh” (spirit): misalnya, pada Surah As-Sajdah [32]: 9, yang berbicara tentang evolusi embrio manusia yang beriangsung terus-menerus: “dan kemudian Dia membentuknya [yakni, manusia] … dan meniupkan ke dalamnya dari ruh-Nya”—yaitu, menganugerahinya dengan jiwa yang sadar yang merupakan anugerah tertinggi dari Allah kepada manusia dan, oleh karena itu, digambarkan sebagai “tiupan dari ruh-Nya”. Dalam ayat yang dibahas ini, yang menekankan ke-manusia-an Nabi Isa a.s. dan menolak ke-tuhan-annya, Al-Quran menunjukkan bahwa Nabi Isa a.s., sebagaimana manusia yang lain, merupakan “ruh yang diciptakan-Nya”.


Surah An-Nisa’ Ayat 172

لَنْ يَسْتَنْكِفَ الْمَسِيحُ أَنْ يَكُونَ عَبْدًا لِلَّهِ وَلَا الْمَلَائِكَةُ الْمُقَرَّبُونَ ۚ وَمَنْ يَسْتَنْكِفْ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيَسْتَكْبِرْ فَسَيَحْشُرُهُمْ إِلَيْهِ جَمِيعًا

lay yastangkifal-masīḥu ay yakụna ‘abdal lillāhi wa lal-malā`ikatul-muqarrabụn, wa may yastangkif ‘an ‘ibādatihī wa yastakbir fa sayaḥsyuruhum ilaihi jamī’ā

172. Tiada pernah Al-Masih merasa terlalu angkuh untuk menjadi hamba Allah, tidak pula malaikat-malaikat yang dekat dengan-Nya. Dan, orang-orang yang merasa terlalu angkuh untuk menyembah-Nya dan menyombongkan diri mereka [hendaknya mengetahui bahwa pada Hari Pengadilan], Dia akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya;


Surah An-Nisa’ Ayat 173

فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدُهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ اسْتَنْكَفُوا وَاسْتَكْبَرُوا فَيُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَلَا يَجِدُونَ لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

fa ammallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti fa yuwaffīhim ujụrahum wa yazīduhum min faḍlih, wa ammallażīnastangkafụ wastakbarụ fa yu’ażżibuhum ‘ażāban alīmaw wa lā yajidụna lahum min dụnillāhi waliyyaw wa lā naṣīrā

173. kemudian, bagi orang-orang yang telah meraih iman dan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik, Dia akan memberikan pahala mereka dengan layak, dan bahkan menambahkan bagi mereka lebih banyak lagi dari karunia-Nya; sedangkan orang-orang yang merasa terlalu angkuh dan menyombongkan diri, Dia akan menghukum mereka dengan penderitaan yang pedih: dan, mereka tidak akan menemukan seorang pun yang akan melindungi mereka dari Allah, dan tidak seorang pun yang akan memberi mereka pertolongan.


Surah An-Nisa’ Ayat 174

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا

yā ayyuhan-nāsu qad jā`akum bur-hānum mir rabbikum wa anzalnā ilaikum nụram mubīnā

174. WAHAI, MANUSIA! Sebuah perwujudan kebenaran kini telah datang kepada kalian dari Pemelihara kalian, dan Kami telah menurunkan kepada kalian cahaya yang terang-benderang.


Surah An-Nisa’ Ayat 175

فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَاعْتَصَمُوا بِهِ فَسَيُدْخِلُهُمْ فِي رَحْمَةٍ مِنْهُ وَفَضْلٍ وَيَهْدِيهِمْ إِلَيْهِ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا

fa ammallażīna āmanụ billāhi wa’taṣamụ bihī fa sayudkhiluhum fī raḥmatim min-hu wa faḍliw wa yahdīhim ilaihi ṣirāṭam mustaqīmā

175. Adapun orang-orang yang telah meraih iman pada Allah dan berpegang teguh pada-Nya—Dia akan merangkul mereka dalam182 rahmat dan karunia-Nya, dan membimbing mereka kepada Diri-Nya dengan jalan yang lurus.


182 Lit., “menjadikan mereka memasuki”.


Surah An-Nisa’ Ayat 176

يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلَالَةِ ۚ إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ لَيْسَ لَهُ وَلَدٌ وَلَهُ أُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَ ۚ وَهُوَ يَرِثُهَا إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهَا وَلَدٌ ۚ فَإِنْ كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثَانِ مِمَّا تَرَكَ ۚ وَإِنْ كَانُوا إِخْوَةً رِجَالًا وَنِسَاءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ ۗ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ أَنْ تَضِلُّوا ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

yastaftụnak, qulillāhu yuftīkum fil-kalālah, inimru`un halaka laisa lahụ waladuw wa lahū ukhtun fa lahā niṣfu mā tarak, wa huwa yariṡuhā il lam yakul lahā walad, fa ing kānataṡnataini fa lahumaṡ-ṡuluṡāni mimmā tarak, wa ing kānū ikhwatar rijālaw wa nisā`an fa liż-żakari miṡlu ḥaẓẓil-unṡayaīn, yubayyinullāhu lakum an taḍillụ, wallāhu bikulli syai`in ‘alīm

176. MEREKA AKAN MEMINTAMU untuk menjelaskan kepada mereka.183 Katakanlah: “[Demikian ini] Allah menjelaskan kepada kalian hukum mengenai [warisan dari] orang-orang yang tidak meninggalkan ahli waris dalam garis langsung: Jika seseorang meninggal tanpa meninggalkan anak dan mempunyai seorang saudara perempuan, saudara perempuan itu hendaknya mendapat warisan seperdua dari harta yang dia tinggalkan, sebagaimana dia hendaknya mendapat warisan dari saudara perempuannya jika saudara perempuannya itu meninggal tanpa meninggalkan anak. Namun, jika ada dua saudara perempuan, keduanya [bersama-sama] akan memperoleh dua-pertiga dari harta yang dia tinggalkan; dan jika ada saudara-saudara lelaki dan saudara-saudara perempuan,184 maka bagian saudara laki-laki adalah sebanyak dua bagian saudara perempuan.”

Allah membuat [semua ini] jelas bagi kalian, agar kalian tidak tersesat; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.


183 Yakni, tentang hukum waris yang disebutkan dalam kalimat berikutnya. Berkenaan dengan makna istifta’ (“suatu permintaan untuk mendapatkan keterangan mengenai hukum [tertentu]”), lihat catatan no. 145 surah ini. Perubahan topik yang tampaknya terjadi secara tiba-tiba dari pasase sebelumnya—yang berbicara mengenai persoalan-persoalan teologi—ke ayat ini, sesuai dengan prinsip Al-Quran yang sengaja menjalin petuah moral dengan hukum-hukum praktis: dan ini sesuai dengan ajaran bahwa kehidupan manusia baik fisik maupun spiritual, individual ataupun sosial—merupakan satu kesatuan yang integral dan, karena itu, memerlukan perhatian yang simultan dari segala aspeknya, jika konsep “kehidupan yang baik” itu ingin diwujudkan. Ayat di atas melengkapi rangkaian tentang hukum-waris yang dimulai di bagian awal surah ini.

184 Lit., “saudara-saudara (ikhwah), laki-laki dan perempuan”. Hendaknya diperhatikan bahwa ungkapan ikhwah mencakup saudara laki-laki saja, atau saudara perempuan saja, atau keduanya sekaligus.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top