79. An-Nazi’at (Yang Terbit Itu) – النازعات

Surat An-Nazi'at dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat An-Nazi’at ( النازعات ) merupakan surah ke 79 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 46 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah An-Nazi’at tergolong Surat Makkiyah.

Surah yang termasuk ke dalam periode Makkah akhir ini, yang diwahyukan tidak lama setelah surah yang sebelumnya, namanya diambil dari kata an-nazi’at yang muncul dalam ayat pertama.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ


Surah An-Nazi’at Ayat 1

وَالنَّازِعَاتِ غَرْقًا

wan-nāzi’āti garqā

1. PERHATIKANLAH [bintang-gemintang] itu, yang terbit hanya untuk terbenam,1


1 Mengenai terjemahan saya atas kata sumpah wa menjadi “Perhatikanlah” {consider}, lihat paruh pertama catatan no. 23 datam Surah Al-Mudatsir [74]: 32.

Para mufasir awal memberikan penjelasan yang sangat berbeda terhadap ayat 1-5 surah ini. Penafsiran yang paling populer didasarkan pada pandangan bahwa kata pelaku deskriptif al-nazi’at, al-nasyithat, al-sabihat, al-sabiqat, dan al-mudabbirat merujuk pada malaikat dan berbagai aktivitas mereka berkaitan dengan jiwa orang yang sekarat: suatu penafsiran yang ditolak secara tegas oleh Abu Muslim Al-Ishfahani, yang—sebagaimana disebut oleh Al-Razi—menunjukkan bahwa malaikat tidak pernah dirujuk di dalam Al-Quran dalam bentuk kata feminin (mu’annats), seperti lima kata pelaku di atas, dan bahwa bagian ayat-ayat ini tidak dapat dikecualikan. Yang juga sama-sama tidak meyakinkan—lantaran agak mengada-ada—adalah penjelasan yang mengaitkan kelima kata pelaku itu dengan jiwa orang yang sekarat, atau para tentara yang terlibat dalam perang suci, atau tunggangan perang, dan sebagainya. Penafsiran yang paling jelas dan sederhana dikemukakan oleh Qatadah (sebagaimana dikutip oleh Al-Thabari dan Al-Baghawi) dan Al-Hasan Al-Bashri (dikutlp oleh Al-Baghawi dan Al-Razi), yang berpendapat bahwa apa yang dimaksud dengan ungkapan ini adalah bintang-bintang—termasuk matahari dan bulan—dan pergerakannya di ruang angkasa: dan penafsiran ini sepenuhnya sejalan dengan banyak ayat lainnya dalam Al-Quran, yang di dalamnya keselarasan benda-benda angkasa itu, dalam orbit yang multibentuk dan kecepatan yang bervariasi, dikutip sebagai bukti perencanaan dan penciptaan yang dilakukan Allah. Sejalan dengan penafsiran ini, kata pelaku al-nazi’at yang muncul dalam ayat pertama berarti “terbit” atau “naik”-nya bintang-bintang setiap hari, sementara “terbenamnya” bintang-bintang itu kemudian diindikasikan dengan ungkapan gharqan, yang mengandung dua konsep, yaitu “terbenam” (yakni menghilang) dan, secara kiasan, “sempurnanya” fenomena keseharian tersebut (Al-Zamakhsyari).


Surah An-Nazi’at Ayat 2

وَالنَّاشِطَاتِ نَشْطًا

wan-nāsyiṭāti nasyṭā

2. dan bergerak [di tempat peredarannya] dengan gerakan yang tetap,2


2 Yakni, bergerak dari satu gugusan bintang ke gugusan bintang lainnya (Al-Zamakhsyari).


Surah An-Nazi’at Ayat 3

وَالسَّابِحَاتِ سَبْحًا

was-sābiḥāti sab-ḥā

3. dan mengambang [di angkasa] dengan tenang,


Surah An-Nazi’at Ayat 4

فَالسَّابِقَاتِ سَبْقًا

fas-sābiqāti sabqā

4. dan sungguhpun begitu susul-menyusul dengan cepat:3


3 Tampaknya, hal ini secara tidak langsung berbicara tentang kecepatan yang berbeda-beda dari bintang-bintang yang tengah bergerak menurut orbitnya (Al-Hasan dan Abu ‘Ubaidah, sebagaimana dikutip oleh Al-Razi), dan juga keluasan orbit-orbit mereka dalam hubungannya satu sama lain.


Surah An-Nazi’at Ayat 5

فَالْمُدَبِّرَاتِ أَمْرًا

fal-mudabbirāti amrā

5. dan dengan demikian mereka melaksanakan perintah [Sang Pencipta]!


Surah An-Nazi’at Ayat 6

يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُ

yauma tarjufur-rājifah

6. [KARENA ITU,4 pikirkanlah akan] Hari ketika suatu guncangan yang amat keras akan mengguncangkan [dunia],


4 Yakni, setelah menyadari bukti kemahakuasaan Allah yang telah disebut di atas dan, karena itu, juga bukti tentang tunduknya manusia pada pengadilan akhir-Nya.


Surah An-Nazi’at Ayat 7

تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ

tatba’uhar-rādifah

7. di­ikuti oleh [guncangan-guncangan] berikutnya!


Surah An-Nazi’at Ayat 8

قُلُوبٌ يَوْمَئِذٍ وَاجِفَةٌ

qulụbuy yauma`iżiw wājifah

8. Pada Hari itu, hati [manusia] akan berdebar-debar,


Surah An-Nazi’at Ayat 9

أَبْصَارُهَا خَاشِعَةٌ

abṣāruhā khāsyi’ah

9. [dan] pandangan mereka tertunduk …


Surah An-Nazi’at Ayat 10

يَقُولُونَ أَإِنَّا لَمَرْدُودُونَ فِي الْحَافِرَةِ

yaqụlụna a innā lamardụdụna fil-ḥāfirah

10. [Meskipun demikian,] sebagian orang berkata, “Apa?! Apakah kita benar-benar akan dikembalikan kepada bentuk kita semula—


Surah An-Nazi’at Ayat 11

أَإِذَا كُنَّا عِظَامًا نَخِرَةً

a iżā kunnā ‘iẓāman nakhirah

11. walaupun kita mungkin telah menjadi [tumpukan] tulang belulang yang hancur lebur?”


Surah An-Nazi’at Ayat 12

قَالُوا تِلْكَ إِذًا كَرَّةٌ خَاسِرَةٌ

qālụ tilka iżang karratun khāsirah

12. [Dan,] mereka menambahkan, “Kalau demikian, itu adalah pengembalian yang merugi­kan!”5


5 Secara tersirat mengandung sindiran (Al-Zamakhsyari) bahwa jika demikian halnya, apa yang kini mereka pandang sebagai anggapan yang “masuk akal” akan terbukti keliru.


Surah An-Nazi’at Ayat 13

فَإِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ

fa innamā hiya zajratuw wāḥidah

13. [Namun] kemudian, [Saat Terakhir] itu tidak lain akan [menimpa mereka dengan tiba-tiba, seolah-olah] merupakan sekali teriakan saja—


Surah An-Nazi’at Ayat 14

فَإِذَا هُمْ بِالسَّاهِرَةِ

fa iżā hum bis-sāhirah

14. dan kemudian, lihatlah, mereka akan sepenuhnya sadar [mengenai kebenaran itu]!


Surah An-Nazi’at Ayat 15

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ مُوسَىٰ

hal atāka ḥadīṡu mụsā

15. TELAH SAMPAIKAH kisah Musa dalam jangkauan pengetahuanmu?6


6 Berkaitan dengan pasase sebelumnya, kisah Musa (yang muncul jauh lebih terperinci dalam Surah Ta’Ha’ [20]: 9-98) dikutip di sini sebagai ilustrasi mengenai kenyataan bahwa pada Hari Pengadilan nanti, setiap orang harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang telah dia lakukan selama hidupnya, dan bahwa fungsi utama setiap nabi adalah untuk membuat manusia sadar akan tanggung jawab tersebut.


Surah An-Nazi’at Ayat 16

إِذْ نَادَاهُ رَبُّهُ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى

iż nādāhu rabbuhụ bil-wādil-muqaddasi ṭuwā

16. Lihatlah! Pemeliharanya memanggilnya di lembah yang disucikan dua kali:7


7 Lihat catatan no. 9 dalam Surah Ta’Ha’ [20]: 12.

Mengenai makna kata idz pada awal kalimat ini, yang saya terjemahkan menjadi “Lihatlah!”, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 21.


Surah An-Nazi’at Ayat 17

اذْهَبْ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ

iż-hab ilā fir’auna innahụ ṭagā

17. “Pergilah kepada Fir’aun—sebab, sungguh, dia telah melanggar seluruh batas apa yang benar—


Surah An-Nazi’at Ayat 18

فَقُلْ هَلْ لَكَ إِلَىٰ أَنْ تَزَكَّىٰ

fa qul hal laka ilā an tazakkā

18. dan katakanlah [kepada Fir’aun], ‘Apakah engkau ingin mencapai kesucian?


Surah An-Nazi’at Ayat 19

وَأَهْدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ فَتَخْشَىٰ

wa ahdiyaka ilā rabbika fa takhsyā

19. [Jika demikian,] maka aku akan membimbingmu menuju [pengetahuan tentang] Pemeliharamu, supaya [sejak saat ini] engkau merasa gentar pada-Nya.’”8


8 Hal ini menyiratkan bahwa selama manusia tidak sepenuhnya menyadari keberadaan Allah, dia tidak dapat benar-benar membedakan antara apa yang benar dan yang salah dari sudut pandang moral; dan karena Allah Mahaadil, Dia tidak akan menghukum orang yang belum mencapai kemampuan untuk melakukan pembedaan itu (atau, sebagaimana diungkapkan dalam kalimat terdahulu, belum “mencapai kesucian [moral]”): bdk. Surah Al-An’am [6]: 131—“Pemeliharamu tidak akan pernah membinasakan suatu masyarakat karena kezalimannya selama penduduknya masih belum menyadari [makna benar dan salah]”.


Surah An-Nazi’at Ayat 20

فَأَرَاهُ الْآيَةَ الْكُبْرَىٰ

fa arāhul-āyatal-kubrā

20. Dan kemudian, dia [pergi menuju Fir’aun dan] mem­buatnya sadar akan keajaiban [rahmat Allah] yang besar itu.9


9 Lit., “memperlihatkan kepadanya keajaiban yang besar itu”, yakni [keajaiban] petunjuk yang, berkat rahmat-Nya yang tak terhitung, diberikan oleh Allah bahkan kepada pendosa yang paling membangkang.


Surah An-Nazi’at Ayat 21

فَكَذَّبَ وَعَصَىٰ

fa każżaba wa ‘aṣā

21. Namun, [Fir’aun] mendustakan dan mendurhakai [selu­ruh petunjuk],


Surah An-Nazi’at Ayat 22

ثُمَّ أَدْبَرَ يَسْعَىٰ

ṡumma adbara yas’ā

22. dan dengan terang-terangan berpaling [dari Musa];


Surah An-Nazi’at Ayat 23

فَحَشَرَ فَنَادَىٰ

fa ḥasyara fa nādā

23. dan kemudian, dia mengumpulkan [pembesar­-pembesarnya] dan berseru memanggil [kaumnya],


Surah An-Nazi’at Ayat 24

فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ

fa qāla ana rabbukumul-a’lā

24. dan berkata, “Akulah tuhan kalian yang mahatinggi!”10


10 Bdk. Surah Al-Qasas [28]: 38 dan catatan no. 36 yang terkait. Tindakan Fir’aun yang menyatakan dirinya sebagai tuhan merupakan dosa yang paling besar, yang dengan begitu “dia telah melanggar seluruh batas apa yang benar” (ayat 17).


Surah An-Nazi’at Ayat 25

فَأَخَذَهُ اللَّهُ نَكَالَ الْآخِرَةِ وَالْأُولَىٰ

fa akhażahullāhu nakālal-ākhirati wal-ụlā

25. Dan kemudian, Allah menghukumnya, [dan menjadi­kannya] contoh peringatan dalam kehidupan akhirat maupun dalam dunia ini.11


11 Lit., “dalam [kehidupan] yang pertama”. Lihat kalimat terakhir dalam Surah Al-A’raf  [7]: 137—“Kami hancur-leburkan segala yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya, dan segala yang telah mereka bangun”—dan catatan no. 100.


Surah An-Nazi’at Ayat 26

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِمَنْ يَخْشَىٰ

inna fī żālika la’ibratal limay yakhsyā

26. Pada yang demikian itu, perhatikanlah, terdapat pelajaran bagi semua orang yang gentar [kepada Allah].


Surah An-Nazi’at Ayat 27

أَأَنْتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ ۚ بَنَاهَا

a antum asyaddu khalqan amis-samā`, banāhā

27. [WAHAI, MANUSIA!] Apakah kalian lebih sulit untuk diciptakan dibandingkan dengan langit yang telah Dia ba­ngun?12


12 Lit., “atau langit …”, dan seterusnya. “Langit” di sini, sebagaimana di banyak tempat lainnya dalam Al-Quran, merupakan suatu metonimia atau kiasan untuk “sistem kosmik” (bdk. catatan no. 20 dalam Surah Al-Baqarah [2]: 29). Ayat di atas merupakan pengulangan dari ayat yang lebih terdahulu turun dan lebih eksplisit—yakni, Surah Ghafir [40]: 56-57, yang harus dibaca bersama dengan catatan no. 40 dan 41 yang terkait. Kedua pasase ini menolak pandangan tentang alam semesta “yang berpusat pada manusia” dengan menunjukkan ketidakberartian manusia dibandingkan dengan keluasan dan kompleksitas keseluruhan alam semesta yang diciptakan oleh Allah.


Surah An-Nazi’at Ayat 28

رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا

rafa’a samkahā fa sawwāhā

28. Telah Dia tinggikan atap langit itu dan telah Dia bentuk langit itu sesuai dengan apa yang telah ditentukan baginya;13


13 Lihat Surah Al-A’la [87]: 2, yang merupakan contoh paling awal, dalam kronologi pewahyuan Al-Quran, penggunaan verba sawwa dalam pengertian di atas.


Surah An-Nazi’at Ayat 29

وَأَغْطَشَ لَيْلَهَا وَأَخْرَجَ ضُحَاهَا

wa agṭasya lailahā wa akhraja ḍuḥāhā

29. dan telah Dia jadikan gelap malamnya dan telah Dia lahirkan cahaya siangnya.


Surah An-Nazi’at Ayat 30

وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَٰلِكَ دَحَاهَا

wal-arḍa ba’da żālika daḥāhā

30. Dan, sesudah itu, bumi: permukaannya telah Dia ben­tangkan dengan luas,


Surah An-Nazi’at Ayat 31

أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا

akhraja min-hā mā`ahā wa mar’āhā

31. dan airnya telah Dia sebabkan keluar darinya, dan padang rumputnya,14


14 Kata “padang rumput” (mar’a) di sini, secara kiasan, berarti seluruh tumbuhan yang cocok untuk dikonsumsi oleh manusia atau hewan (Al-Razi).


Surah An-Nazi’at Ayat 32

وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا

wal-jibāla arsāhā

32. dan telah Dia jadikan gunung-gunung itu kokoh:


Surah An-Nazi’at Ayat 33

مَتَاعًا لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ

matā’al lakum wa li`an’āmikum

33. [semua itu] sebagai sarana penghidupan untuk kalian dan binatang-binatang ternak kalian.15


15 Sebagaimana dalam Surah ‘Abasa [80]: 24-32, ayat ini menunjukkan bahwa manusia harus bersyukur kepada Allah dan harus senantiasa menyadari keberadaan-Nya sebagai Pemberi Rezeki: karena itu, wacana berikutnya kembali kepada soal kebangkitan dan pengadilan terakhir.


Surah An-Nazi’at Ayat 34

فَإِذَا جَاءَتِ الطَّامَّةُ الْكُبْرَىٰ

fa iżā jā`atiṭ-ṭāmmatul-kubrā

34. MAKA, ketika peristiwa [kebangkitan] yang amat dahsyat itu datang—


Surah An-Nazi’at Ayat 35

يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ مَا سَعَىٰ

yauma yatażakkarul-insānu mā sa’ā

35. pada Hari itu, manusia akan mengingat [de­ngan jelas] semua yang telah dia lakukan;


Surah An-Nazi’at Ayat 36

وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِمَنْ يَرَىٰ

wa burrizatil-jaḥīmu limay yarā

36. dan api [neraka] yang berkobar akan dibentangkan di hadapan setiap orang yang [ditakdirkan untuk] melihatnya.16


16 Bdk. Surah Asy-Syu’ara’ [26]: 91—“dibentangkan di hadapan mereka yang telah tenggelam dalam kesalahan yang besar”: dengan demikian, mengingatkan manusia bahwa penderitaan di akhirat (“neraka“) merupakan akibat yang tak dapat dielakkan dari penghancuran-diri ruhani melalui kezaliman yang dilakukan secara sengaja.


Surah An-Nazi’at Ayat 37

فَأَمَّا مَنْ طَغَىٰ

fa ammā man ṭagā

37. Sebab, untuk orang yang telah melanggar batas-batas apa yang benar,


Surah An-Nazi’at Ayat 38

وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا

wa āṡaral-ḥayātad-dun-yā

38. dan lebih mengutamakan kehidupan dunia ini [daripada kebaikan jiwanya],


Surah An-Nazi’at Ayat 39

فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

fa innal-jaḥīma hiyal-ma`wā

39. api yang berkobar itu benar-benar akan menjadi tempat tujuan(-nya)!


Surah An-Nazi’at Ayat 40

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ

wa ammā man khāfa maqāma rabbihī wa nahan-nafsa ‘anil-hawā

40. Namun, untuk orang yang takut akan Kehadiran Pemeli­haranya dan menahan lubuk dirinya dari hasrat-hasrat yang rendah,


Surah An-Nazi’at Ayat 41

فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

fa innal-jannata hiyal-ma`wā

41. surga benar-benar akan menjadi tempat tujuan(-nya)!


Surah An-Nazi’at Ayat 42

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا

yas`alụnaka ‘anis-sā’ati ayyāna mursāhā

42. MEREKA AKAN MENANYAKAN kepadamu [wahai Nabi] tentang Saat Terakhir, “Kapankah itu akan terjadi?”


Surah An-Nazi’at Ayat 43

فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا

fīma anta min żikrāhā

43. [Namun,] bagaimana engkau dapat mengatakan apa pun tentangnya,17


17 Lit., “di manakah [atau ‘atas dasar apakah’] engkau sehubungan dengan penyebutannya (min dzikraha)?”


Surah An-Nazi’at Ayat 44

إِلَىٰ رَبِّكَ مُنْتَهَاهَا

ilā rabbika muntahāhā

44. [mengingat bahwa] hanya di tangan Pemeli­haramu-lah awal dan akhir [segala pengetahuan] tentangnya?18


18 Lit., “batas yang terjauh”, yakni awal dan akhir dari semua hal yang dapat diketahui tentangnya. Bdk. Surah Al-A’raf [7]: 187 dan catatan no. 153 yang terkait.


Surah An-Nazi’at Ayat 45

إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَخْشَاهَا

innamā anta munżiru may yakhsyāhā

45. Engkau tidak lain hanyalah [diutus] untuk memberi peringatan kepada orang yang takut terhadapnya.


Surah An-Nazi’at Ayat 46

كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا

ka`annahum yauma yaraunahā lam yalbaṡū illā ‘asyiyyatan au ḍuḥāhā

46. Pada Hari ketika mereka menyaksikannya, [akan tampak bagi mereka] seolah-olah mereka tinggal [di dunia ini] tidak lebih lama dari satu sore atau [satu malam, yang berakhir dengan] pagi harinya!19


19 Sebagaimana di banyak tempat lainnya dalam Al-Quran (misalnya, dalam Surah Al-Baqarah [2]: 259, Surah Al-Isra’ [17]: 52, Surah Al-Kahfi [18]: 19, Surah Ta’Ha’ [20]: 103-104, Surah Al-Mu’minun [23]: 112-113, Surah Ar-Rum [30]: 55, dan lainnya), ini adalah indikasi yang nyaris tidak tampak mengenai konsep manusia tentang “waktu” yang bersifat semu dan terikat pada bumi—suatu konsep yang, seperti dikatakan kepada kita, akan kehilangan seluruh maknanya dalam konteks realitas akhir (yang disebut “akhirat” [al-akhirah]).


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top