Surat An-Nasr dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

110. An-Nasr (Pertolongan) – النصر

Surat An-Nasr ( النصر ) merupakan surah ke 110 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 3 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Madinah. Dengan demikian, Surah An-Nasr tergolong Surat Madaniyah.

Surat An-Nasr diwahyukan di Mina ketika Nabi menunaikan Haji Wada’ pada bulan Dzulhijjah 10 H, yakni sekitar dua bulan lebih sebelum beliau wafat. Tidak diragukan lagi, inilah surah terakhir dalam bentuk utuh yang disampaikan Nabi kepada dunia. Surah ini didahului sehari sebelumnya (pada Jum’at, 9 Dzulhijjah) oleh ayat “Pada hari ini, telah Kusempurnakan bagi kalian hukum agama kalian, dan telah Kulimpahkan kepada kalian nikmat-Ku sepenuhnya, dan telah Kutetapkan bahwa penyerahan diri pada-Ku (al-Islam) menjadi agama kalian” (Surah Al-Ma’idah [5]: 3): dan karena ayat itu nyaris langsung diikuti dengan surah ini, beberapa Sahabat Nabi berkesimpulan bahwa misi Nabi telah selesai, dan itu berarti beliau tidak lama lagi akan wafat (Bukhari). Kenyataannya, satu-satunya wahyu yang diterima Nabi setelah Surah An-Nashr adalah ayat 281 pada Surah Al-Baqarah.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah An-Nasr Ayat 1

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ

iżā jā`a naṣrullāhi wal-fat-ḥ

1. TATKALA DATANG pertolongan Allah dan kemenangan,


Surah An-Nasr Ayat 2

وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا

wa ra`aitan-nāsa yadkhulụna fī dīnillāhi afwājā

2. dan engkau lihat manusia masuk agama Allah1 dengan berbondong-bondong,


1 Yakni, agama penyerahan-diri kepada Allah: bdk. Surah Al-‘Imran [3]: 19—”satu-satunya agama [yang benar] dalam pandangan Allah adalah penyerahan-diri [manusia] kepada-Nya”.


Surah An-Nasr Ayat 3

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

fa sabbiḥ biḥamdi rabbika wastagfir-h, innahụ kāna tawwābā

3. maka bertasbihlah memuji kemuliaan Pemeliharamu yang tak terhingga, dan pujilah Dia, dan carilah ampunan-Nya: sebab, perhatikanlah, Dia senantiasa Sang Penerima Tobat.2


2 Hal ini menunjukkan bahwa bahkan seandainya manusia memeluk agama yang sejati dengan berbondong-bondong sekalipun, seorang yang beriman mestinya tidak lantas berpuas diri, alih-alih, hendaknya dia menjadi lebih rendah hati dan lebih sadar akan kekurangan dirinya sendiri. Lagi pula, Nabi diriwayatkan pernah bersabda, “Perhatikanlah, umat manusia telah memasuki agama Allah dengan berbondong-bondong—dan pada saatnya, mereka juga akan meninggalkannya dengan berbondong-bondong” (Ibn Hanbal, menurut riwayat Jabir ibn ‘Abd Allah; hadis serupa, yang diriwayatkan Abu Hurairah, tercantum dalam Mustadrak).


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Similar Posts