Surat An-Nas dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

114. An-Nas (Umat Manusia) – الناس

Surat An-Nas ( الناس ) merupakan surah penutup (ke-114) dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 6 ayat yang sebagian besar mufasir menganggap diturunkan di kota Makkah dan sebagian lainnya menyatakan diturunkan di kota Madinah. Dengan demikian, Surah An-Nas digolongkan menjadi Surat Makkiyah dan Madaniyah.

Nama surah ini diambil dari kata an-nas yang berulang kali disebut dalam ayat-ayatnya.

Sementara kebanyakan mufasir menganggap Surat An-Nas dan surah sebelumnya (Al-Falaq) turun pada masa awal periode Makkah, beberapa mufasir (misalnya, Al-Razi dan Ibn Katsir) menganggap keduanya diwahyukan di Madinah. Sementara itu, yang lainnya (umpamanya Al-Baghawi, Al-Zamakhsyari, dan Al-Baidhawi) tidak memberikan jawaban. Berdasarkan sedikit bukti yang ada pada kita, tampaknya mungkin bahwa kedua surah tersebut turun pada periode awal Makkah.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surat An-Nas Ayat 1

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

qul a’ụdżu birabbin-nās

1. KATAKANLAH: “Aku berlindung kepada Pemelihara manusia,


Surat An-Nas Ayat 2

مَلِكِ النَّاسِ

malikin-nās

2. “Penguasanya manusia,


Surat An-Nas Ayat 3

إِلَٰهِ النَّاسِ

ilāhin-nās

3. “Tuhannya manusia,


Surat An-Nas Ayat 4

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ

min syarril-waswāsil-khannās

4. “dari kejahatan penggoda yang berbisik-bisik dan tersamar,


Surat An-Nas Ayat 5

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ

alladżī yuwaswisu fī ṣudụrin-nās

5. “yang berbisik-bisik di dalam kalbu-kalbu manusia1


1 Yakni, “setan” dalam maknanya yang paling luas, sebagaimana ditunjukkan oleh Al-Razi (dikutip dalam Surah Ibrahim [14], catatan no. 31).


Surat An-Nas Ayat 6

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

minal-jinnati wan-nās

6. “dari semua [godaan untuk (melakukan) kejahatan, yang bersumber dari] kekuatan yang tidak terlihat serta [dari] manusia.”2


2 Penyebutan istilah dan konsep al-jinnah (sinonim dengan al-jinn) dalam ayat di atas mungkin merupakan yang paling awal dalam Al-Quran; istilah ini dijelaskan secara tentatif pada artikel Istilah dan Konsep Jin dalam Islam. Dalam konteks di atas, istilah itu mungkin menunjuk pada kekuatan alam yang tidak terlihat dan misterius yang menerpa jiwa manusia, dan yang terkadang membuat kita sulit membedakan mana yang benar dan yang salah. Namun, berdasarkan ayat terakhir dari surah terakhir Al-Quran ini, mungkin pula disimpulkan bahwa “kekuatan yang tidak terlihat” itu—yang darinya kita diperintahkan untuk berlindung kepada Allah—merupakan godaan-godaan untuk melakukan kejahatan yang timbul karena kebutaan hati kita sendiri, karena nafsu kita yang tidak terkendali, dan karena gagasan keliru serta nilai-nilai batil yang mungkin telah diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang kita.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Similar Posts