27. An-Naml (Semut) – النمل

Surat An-Naml dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat An-Naml ( النمل ) merupakan surah ke 27 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 93 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah An-Naml tergolong Surat Makkiyah.

Nabi dan sebagian besar Sahabat dekatnya biasa menamai surah ini Tha-Sin (sesuai dengan simbol-simbol huruf yang mengawali ayat pertama surah ini). Namun, pada masa-masa belakangan, surah ini dikenal sebagai An-Naml, sesuai dengan kata naml yang terdapat pada ayat ke-18 yang, karena kaitannya dengan hikayat-hikayat Nabi Sulaiman, telah memesona dan melestarikan imajinasi begitu banyak umat Muslim yang mendengar atau membaca Al-Qur’an.

Seperti yang ditunjukkan dalam catatan no. 77 dalam Surah Al-Anbiya’ [21]: 82, Al-Qur’an sering menggunakan hikayat semacam [hikayat-hikayat Nabi Sulaiman] ini sebagai suatu sarana perumpamaan untuk mengungkapkan kebenaran-kebenaran etis universal tertentu; dan Al-Qur’an menggunakan hikayat-hikayat ini karena alasan sederhana, yakni bahwa, bahkan sebelum kedatangan Islam pun, hikayat-hikayat tersebut telah tertanam sedemikian kuatnya dalam ingatan puitis orang-orang Arab—kaum yang bahasanya digunakan sebagai bahasa Al-Qur’an, dan yang menjadi sasaran penyampaian wahyu Al-Qur’an itu untuk pertama kalinya—sehingga kebanyakan dari hikayat tersebut memperoleh, demikianlah kira-kira, realitas kulturalnya sendiri, sehingga penolakan atau penerimaan terhadap pendapat bahwa asal usul hikayat itu semata-mata bersifat mitologis merupakan hal yang sama sekali tidak relevan. Dalam konteks Al-Qur’an, satu-satunya yang relevan dalam hal ini adalah kebenaran spiritual yang mendasari setiap hikayat ini: yakni, suatu kebenaran yang memiliki banyak sisi dan berlapis-lapis yang selalu dikemukakan Al-Qur’an, kadang-kadang secara eksplisit, kadang-kadang secara eliptis, sering pula secara alegoris, tetapi senantiasa disertai relevansi yang nyata mengenai sejumlah kedalaman dan konflik tersembunyi dalam jiwa manusiawi kita sendiri.

Menurut kesepakatan mayoritas mufasir, Surat An-Naml yang diwahyukan pada pertengahan periode Makkah diturunkan tidak lama setelah surah sebelumnya (Asy-Syu’ara’).

Daftar Isi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah An-Naml Ayat 1

طس ۚ تِلْكَ آيَاتُ الْقُرْآنِ وَكِتَابٍ مُبِينٍ

ṭā sīn, tilka āyātul-qur`āni wa kitābim mubīn

1. Tha. Sin.1

INI ADALAH PESAN-PESAN Al-Quran—sebuah kitab Ilahi yang jelas pada dirinya sendiri dan dengan jelas menunjukkan kebenaran:2



Surah An-Naml Ayat 2

هُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

hudaw wa busyrā lil-mu`minīn

2. sebuah petunjuk dan berita gembira bagi orang-orang beriman


Surah An-Naml Ayat 3

الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

allażīna yuqīmụnaṣ-ṣalāta wa yu`tụnaz-zakāta wa hum bil-ākhirati hum yụqinụn

3. yang teguh mendirikan shalat dan mengeluarkan derma:3 sebab, mereka itulah orang-orang yang dari lubuk hatinya meyakini kehidupan akhirat!



Surah An-Naml Ayat 4

إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ زَيَّنَّا لَهُمْ أَعْمَالَهُمْ فَهُمْ يَعْمَهُونَ

innallażīna lā yu`minụna bil-ākhirati zayyannā lahum a’mālahum fa hum ya’mahụn

4. Adapun mengenai orang-orang yang tidak akan beriman pada kehidupan akhirat—perhatikanlah, Kami telah menjadikan perbuatan-perbuatan mereka tampak baik bagi mereka, maka mereka terhuyung ke sana kemari dalam keadaan buta.4



Surah An-Naml Ayat 5

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَهُمْ سُوءُ الْعَذَابِ وَهُمْ فِي الْآخِرَةِ هُمُ الْأَخْسَرُونَ

ulā`ikallażīna lahum sū`ul-‘ażābi wa hum fil-ākhirati humul-akhsarụn

5. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan penderitaan terburuk: sebab, mereka, mereka itulah yang di kehidupan akhirat akan menjadi orang-orang yang paling merugi!


Surah An-Naml Ayat 6

وَإِنَّكَ لَتُلَقَّى الْقُرْآنَ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ عَلِيمٍ

wa innaka latulaqqal-qur`āna mil ladun ḥakīmin ‘alīm

6. Namun, [adapun engkau, wahai orang beriman,] sungguh, engkau telah menerima Al-Quran ini karena rahmat dari Yang Mahabijaksana, Maha Mengetahui.5



Surah An-Naml Ayat 7

إِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِأَهْلِهِ إِنِّي آنَسْتُ نَارًا سَآتِيكُمْ مِنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ آتِيكُمْ بِشِهَابٍ قَبَسٍ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ

iż qāla mụsā li`ahlihī innī ānastu nārā, sa`ātīkum min-hā bikhabarin au ātīkum bisyihābing qabasil la’allakum taṣṭalụn

7. LIHATLAH! [Tatkala tersesat di padang gurun,6] Musa berkata kepada keluarganya, “Perhatikanlah, aku melihat api [di kejauhan]; dari sana, aku dapat membawakan suatu berita bagi kalian [mengenai jalan mana yang harus kita ikuti], atau [setidak-tidaknya] membawakan untuk kalian sebatang suluh yang terbakar sehingga kalian dapat menghangatkan diri.”



Surah An-Naml Ayat 8

فَلَمَّا جَاءَهَا نُودِيَ أَنْ بُورِكَ مَنْ فِي النَّارِ وَمَنْ حَوْلَهَا وَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

fa lammā jā`ahā nụdiya am bụrika man fin-nāri wa man ḥaulahā, wa sub-ḥānallāhi rabbil-‘ālamīn

8. Akan tetapi, tatkala Musa datang mendekatinya, sebuah seruan dikumandangkan: “Telah diberkati semua orang yang berada dalam [jangkauan] api ini dan semua orang yang berada di dekatnya!7 Dan, Maha Tak Terhingga Kemuliaan Allah, Pemelihara seluruh alam!”



Surah An-Naml Ayat 9

يَا مُوسَىٰ إِنَّهُ أَنَا اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

yā mụsā innahū anallāhul-‘azīzul-ḥakīm

9. [Dan, Allah berfirman demikian:] “Wahai, Musa! Sungguh, Aku sajalah Allah, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana!”


Surah An-Naml Ayat 10

وَأَلْقِ عَصَاكَ ۚ فَلَمَّا رَآهَا تَهْتَزُّ كَأَنَّهَا جَانٌّ وَلَّىٰ مُدْبِرًا وَلَمْ يُعَقِّبْ ۚ يَا مُوسَىٰ لَا تَخَفْ إِنِّي لَا يَخَافُ لَدَيَّ الْمُرْسَلُونَ

wa alqi ‘aṣāk, fa lammā ra`āhā tahtazzu ka`annahā jānnuw wallā mudbiraw wa lam yu’aqqib, yā mụsā lā takhaf, innī lā yakhāfu ladayyal-mursalụn

10. [Dan kemudian, Allah berfirman,] “Kini, lemparkanlah tongkatmu!”8

Namun, tatkala Musa melihat tongkat itu bergerak-gerak cepat, seolah-olah tongkat itu seekor ular, dia mundur [ketakutan] dan tidak [berani] kembali.9

[Dan, Allah berfirman lagi kepadanya,] “Wahai, Musa! Jangan takut—sebab, perhatikanlah, para rasul tidak perlu takut dalam Kehadiran-Ku,



Surah An-Naml Ayat 11

إِلَّا مَنْ ظَلَمَ ثُمَّ بَدَّلَ حُسْنًا بَعْدَ سُوءٍ فَإِنِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

illā man ẓalama ṡumma baddala ḥusnam ba’da sū`in fa innī gafụrur raḥīm

11. dan tiada pula10 (perlu merasa takut,) orang yang telah melakukan kezaliman, lalu mengubah kezalimannya dengan kebaikan:11 sebab, sungguh, Aku Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat!



Surah An-Naml Ayat 12

وَأَدْخِلْ يَدَكَ فِي جَيْبِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ ۖ فِي تِسْعِ آيَاتٍ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَقَوْمِهِ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ

wa adkhil yadaka fī jaibika takhruj baiḍā`a min gairi sū`in fī tis’i āyātin ilā fir’auna wa qaumih, innahum kānụ qauman fāsiqīn

12. “Dan, masukkanlah tanganmu ke bagian dada bajumu: ia akan keluar [bersinar] putih, tanpa cacat!12

“[Dan, engkau harus pergi] dengan (membawa) sembilan pesan[-Ku] kepada Fir’aun dan kaumnya13—sebab, sungguh, mereka adalah kaum yang fasik!”



Surah An-Naml Ayat 13

فَلَمَّا جَاءَتْهُمْ آيَاتُنَا مُبْصِرَةً قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ مُبِينٌ

fa lammā jā`at-hum āyātunā mubṣiratang qālụ hāżā siḥrum mubīn

13. Namun, ketika pesan-pesan Kami yang memberikan penerangan itu sampai kepada mereka, mereka berkata, “Ini jelas-jelas [hanyalah] tipuan yang memikat!”14



Surah An-Naml Ayat 14

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

wa jaḥadụ bihā wastaiqanat-hā anfusuhum ẓulmaw wa ‘uluwwā, fanẓur kaifa kāna ‘āqibatul-mufsidīn

14. —dan mereka menolaknya karena kejahatan dan kebanggaan-diri mereka, meskipun akal mereka meyakini kebenarannya: dan perhatikanlah apa yang akhirnya terjadi pada para penyebar kerusakan itu!


Surah An-Naml Ayat 15

وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ عِلْمًا ۖ وَقَالَا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَنَا عَلَىٰ كَثِيرٍ مِنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ

wa laqad ātainā dāwụda wa sulaimāna ‘ilmā, wa qālal-ḥamdu lillāhillażī faḍḍalanā ‘alā kaṡīrim min ‘ibādihil-mu`minīn

15. DAN, SUNGGUH, Kami telah memberi pengetahuan [yang benar]15 kepada Daud dan [juga kepada] Sulaiman; dan keduanya biasa mengucapkan: “Segala puji bagi Allah, yang telah mengistimewakan kami melebihi banyak hamba-Nya yang beriman!”



Surah An-Naml Ayat 16

وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُودَ ۖ وَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ ۖ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِينُ

wa wariṡa sulaimānu dāwụda wa qāla yā ayyuhan-nāsu ‘ullimnā manṭiqaṭ-ṭairi wa ụtīnā ming kulli syaī`, inna hāżā lahuwal-faḍlul-mubīn

16. Dan, [dalam pengetahuan mendalam ini,] Sulaiman [benar-benar] adalah ahli waris Daud; dan dia berkata, “Wahai, sekalian manusia! Kami telah diajari percakapan burung, dan telah dianugerahi [dengan berlimpah] segala sesuatu [yang baik]: perhatikanlah, ini benar-benar suatu karunia yang nyata [dari Allah]!”


Surah An-Naml Ayat 17

وَحُشِرَ لِسُلَيْمَانَ جُنُودُهُ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوزَعُونَ

wa ḥusyira lisulaimāna junụduhụ minal-jinni wal-insi waṭ-ṭairi fa hum yụza’ụn

17. Dan, [suatu hari,] dihimpunlah di hadapan Sulaiman bala pasukannya (yang terdiri) dari makhluk-makhluk gaib,16 manusia, dan burung; lalu, mereka itu dipimpin maju dalam barisan yang teratur



Surah An-Naml Ayat 18

حَتَّىٰ إِذَا أَتَوْا عَلَىٰ وَادِ النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

hattā iżā atau ‘alā wādin-namli qālat namlatuy yā ayyuhan-namludkhulụ masākinakum, lā yahṭimannakum sulaimānu wa junụduhụ wa hum lā yasy’urụn

18. hingga, ketika mereka tiba di suatu lembah [yang penuh dengan] semut, seekor semut berseru, “Wahai, kalian para semut! Masuklah ke dalam sarang-sarang kalian agar Sulaiman dan bala pasukannya tidak menghancurkan kalian tanpa [sedikit pun] mengetahui (keberadaan) [kalian]!”


Surah An-Naml Ayat 19

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

fa tabassama ḍāḥikam ming qaulihā wa qāla rabbi auzi’nī an asykura ni’matakallatī an’amta ‘alayya wa ‘alā wālidayya wa an a’mala ṣāliḥan tarḍāhu wa adkhilnī biraḥmatika fī ‘ibādikaṣ-ṣāliḥīn

19. Kemudian, [Sulaiman] tersenyum gembira mendengar perkataan semut itu dan berkata, “Wahai, Pemeliharaku! Berilah aku ilham agar aku dapat selalu mensyukuri nikmat-nikmat-Mu yang dengannya telah Engkau muliakan aku dan kedua orangtuaku,17 dan agar aku dapat mengerjakan apa yang benar [sesuai dengan cara] yang akan membuat-Mu ridha; dan masukkanlah aku, dengan rahmat-Mu, ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh!”



Surah An-Naml Ayat 20

وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لَا أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينَ

wa tafaqqadaṭ-ṭaira fa qāla mā liya lā aral-hudhuda am kāna minal-gā`ibīn

20. Dan, [suatu hari,] dia mencari-cari tanpa hasil terhadap [segolongan] burung [tertentu); dan lalu dia berkata, “Mengapa aku tidak melihat Hudhud? Atau, mungkinkah ia termasuk yang tidak hadir?


Surah An-Naml Ayat 21

لَأُعَذِّبَنَّهُ عَذَابًا شَدِيدًا أَوْ لَأَذْبَحَنَّهُ أَوْ لَيَأْتِيَنِّي بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ

la`u’ażżibannahụ ‘ażāban syadīdan au la`ażbaḥannahū au laya`tiyannī bisulṭānim mubīn

21. [Jika begitu,] aku benar-benar akan menghukumnya dengan keras atau membunuhnya, kecuali jika ia membawakanku alasan yang meyakinkan!”18



Surah An-Naml Ayat 22

فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطْتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ

fa makaṡa gaira ba’īdin fa qāla aḥaṭtu bimā lam tuḥiṭ bihī wa ji`tuka min saba`im binaba`iy yaqīn

22. Namun, [Hudhud] hanya terlambat sebentar; dan [ketika datang,] ia berkata, “Aku telah meliputi [dengan pengetahuanku] sesuatu yang belum pernah engkau liputi [dengan pengetahuanmu]—sebab, aku telah datang kepadamu dari Saba’ dengan suatu berita yang pasti!19



Surah An-Naml Ayat 23

إِنِّي وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ

innī wajattumra`atan tamlikuhum wa ụtiyat ming kulli syai`iu wa lahā ‘arsyun ‘aẓīm

23. “Perhatikanlah, di sana aku mendapati seorang wanita yang memerintah mereka; dan dia telah diberi [kelimpahan] segala sesuatu [yang baik], serta mempunyai singgasana yang besar.


Surah An-Naml Ayat 24

وَجَدْتُهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ

wajattuhā wa qaumahā yasjudụna lisy-syamsi min dụnillāhi wa zayyana lahumusy-syaiṭānu a’mālahum fa ṣaddahum ‘anis-sabīli fa hum lā yahtadụn

24. Dan, aku mendapati dia dan kaumnya memuja matahari, alih-alih Allah; dan setan telah menjadikan perbuatan-perbuatan mereka ini tampak baik (dalam pandangan) mereka; dan [karena itu] menghalangi mereka dari jalan [Allah] sehingga mereka tidak dapat menemukan jalan yang benar:


Surah An-Naml Ayat 25

أَلَّا يَسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي يُخْرِجُ الْخَبْءَ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُخْفُونَ وَمَا تُعْلِنُونَ

allā yasjudụ lillāhillażī yukhrijul-khab`a fis-samāwāti wal-arḍi wa ya’lamu mā tukhfụna wa mā tu’linụn

25. [sebab, mereka akhirnya sampai memercayai] bahwa mereka tidak perlu memuja Allah20—[meskipun Dia-lah] yang mengeluarkan segala yang tersembunyi di lelangit dan di bumi,21 dan yang mengetahui segala yang kalian sembunyikan serta segala yang kalian nyatakan:



Surah An-Naml Ayat 26

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

allāhu lā ilāha illā huwa rabbul-‘arsyil-‘aẓīm

26. Allah, yang tiada tuhan kecuali Dia—Sang Pemelihara, yang bersinggasana dalam kemahakuasaan yang agung!”22



Surah An-Naml Ayat 27

قَالَ سَنَنْظُرُ أَصَدَقْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْكَاذِبِينَ

qāla sananẓuru a ṣadaqta am kunta minal-kāżibīn

27. Berkatalah [Sulaiman], “Akan kita lihat, apakah engkau berkata benar, ataukah engkau termasuk salah satu di antara para pendusta!


Surah An-Naml Ayat 28

اذْهَبْ بِكِتَابِي هَٰذَا فَأَلْقِهْ إِلَيْهِمْ ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ فَانْظُرْ مَاذَا يَرْجِعُونَ

iż-hab bikitābī hāżā fa alqih ilaihim ṡumma tawalla ‘an-hum fanẓur māżā yarji’ụn

28. Pergilah dengan membawa suratku ini dan sampaikanlah kepada mereka; kemudian, undur dirilah dari mereka dan perhatikanlah [jawaban] apa yang mereka berikan.


Surah An-Naml Ayat 29

قَالَتْ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ إِنِّي أُلْقِيَ إِلَيَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ

qālat yā ayyuhal-mala`u innī ulqiya ilayya kitābung karīm

29. [Ketika Ratu Saba’ telah membaca surat Sulaiman,] berkatalah dia, “Wahai, kalian para bangsawan! Sepucuk surat yang benar-benar istimewa telah disampaikan kepadaku.


Surah An-Naml Ayat 30

إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

innahụ min sulaimāna wa innahụ bismillāhir-raḥmānir-raḥīm

30. Perhatikanlah, surat ini dari Sulaiman, dan surat ini berbunyi, ‘Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Sang Pemberi Rahmat:


Surah An-Naml Ayat 31

أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ

allā ta’lụ ‘alayya wa`tụnī muslimīn

31. [Allah berfirman,] “Janganlah menyombongkan diri kalian terhadap Aku, tetapi datanglah kepada-Ku dalam penyerahan diri yang penuh kerelaan!”23



Surah An-Naml Ayat 32

قَالَتْ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَفْتُونِي فِي أَمْرِي مَا كُنْتُ قَاطِعَةً أَمْرًا حَتَّىٰ تَشْهَدُونِ

qālat yā ayyuhal-mala`u aftụnī fī amrī, mā kuntu qāṭi’atan amran ḥattā tasy-hadụn

32. Ratu Saba’ menambahkan, “Wahai, kalian para bangsawan! Kemukakanlah pendapat kalian tentang masalah yang kini dihadapkan padaku;24 aku tidak akan pernah membuat suatu keputusan [penting] kecuali kalian hadir bersamaku.”



Surah An-Naml Ayat 33

قَالُوا نَحْنُ أُولُو قُوَّةٍ وَأُولُو بَأْسٍ شَدِيدٍ وَالْأَمْرُ إِلَيْكِ فَانْظُرِي مَاذَا تَأْمُرِينَ

qālụ naḥnu ulụ quwwatiw wa ulụ ba`sin syadīdiw wal-amru ilaiki fanẓurī māżā ta`murīn

33. Mereka menjawab, “Kita diberkahi kekuatan dan keberanian yang besar dalam peperangan—tetapi, perintah ada di tanganmu; maka, pertimbangkanlah apa yang akan engkau perintahkan.”


Surah An-Naml Ayat 34

قَالَتْ إِنَّ الْمُلُوكَ إِذَا دَخَلُوا قَرْيَةً أَفْسَدُوهَا وَجَعَلُوا أَعِزَّةَ أَهْلِهَا أَذِلَّةً ۖ وَكَذَٰلِكَ يَفْعَلُونَ

qālat innal-mulụka iżā dakhalụ qaryatan afsadụhā wa ja’alū a’izzata ahlihā ażillah, wa każālika yaf’alụn

34. Berkatalah Ratu Saba’, “Sungguh, setiap kali raja-raja memasuki suatu negeri, mereka menghancurkannya25 dan mengubah penduduknya yang paling mulia menjadi yang paling hina. Dan, inilah cara yang [selalu] mereka lakukan.26



Surah An-Naml Ayat 35

وَإِنِّي مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِمْ بِهَدِيَّةٍ فَنَاظِرَةٌ بِمَ يَرْجِعُ الْمُرْسَلُونَ

wa innī mursilatun ilaihim bihadiyyatin fa nāẓiratum bima yarji’ul-mursalụn

35. Karena itu, perhatikanlah, aku akan mengirim hadiah kepada [kaum] itu dan menunggu [jawaban] apa pun yang dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.”


Surah An-Naml Ayat 36

فَلَمَّا جَاءَ سُلَيْمَانَ قَالَ أَتُمِدُّونَنِ بِمَالٍ فَمَا آتَانِيَ اللَّهُ خَيْرٌ مِمَّا آتَاكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بِهَدِيَّتِكُمْ تَفْرَحُونَ

fa lammā jā`a sulaimāna qāla a tumiddụnani bimālin fa mā ātāniyallāhu khairum mimmā ātākum, bal antum bihadiyyatikum tafraḥụn

36. Adapun tatkala [utusan Ratu itu] sampai kepada Sulaiman, dia berkata, “Apakah kalian bermaksud menambah kekayaanku? Akan tetapi, kekayaan yang diberikan Allah kepadaku27 [amat jauh] lebih baik daripada segala yang Dia berikan kepada kalian! Tidak, [hanya orang-orang seperti] kalianlah28 yang merasa gembira dengan hadiah kalian ini!



Surah An-Naml Ayat 37

ارْجِعْ إِلَيْهِمْ فَلَنَأْتِيَنَّهُمْ بِجُنُودٍ لَا قِبَلَ لَهُمْ بِهَا وَلَنُخْرِجَنَّهُمْ مِنْهَا أَذِلَّةً وَهُمْ صَاغِرُونَ

irji’ ilaihim falana`tiyannahum bijunụdil lā qibala lahum bihā wa lanukhrijannahum min-hā ażillataw wa hum ṣāgirụn

37. “Kembalilah engkau kepada mereka [yang telah mengirimmu]! Karena, [Allah berfirman,) ‘Kami pasti akan mendatangi mereka dengan kekuatan yang tidak mampu mereka tahan, dan pasti akan menjadikan mereka terusir dari [negeri mereka] itu, dalam keadaan hina dan rendah!’”29



Surah An-Naml Ayat 38

قَالَ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَنْ يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ

qāla yā ayyuhal-mala`u ayyukum ya`tīnī bi’arsyihā qabla ay ya`tụnī muslimīn

38. [KETIKA SULAIMAN mengetahui bahwa Ratu Saba’ telah datang30], Sulaiman berkata [kepada dewannya), “Wahai, kalian para bangsawan! Siapakah di antara kalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum dia dan para pengikutnya datang kepadaku dalam penyerahan yang penuh kerelaan kepada Allah?”31



Surah An-Naml Ayat 39

قَالَ عِفْرِيتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ ۖ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ

qāla ‘ifrītum minal-jinni ana ātīka bihī qabla an taqụma mim maqāmik, wa innī ‘alaihi laqawiyyun amīn

39. Berkatalah salah seorang makhluk gaib yang pemberani [yang tunduk kepada Sulaiman], “Aku akan membawakannya kepadamu sebelum engkau bangkit dari kursi-dewanmu—sebab, perhatikanlah, aku cukup kuat untuk melakukannya, [dan] layak mendapatkan kepercayaan!”


Surah An-Naml Ayat 40

قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ ۚ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

qālallażī ‘indahụ ‘ilmum minal-kitābi ana ātīka bihī qabla ay yartadda ilaika ṭarfuk, fa lammā ra`āhu mustaqirran ‘indahụ qāla hāżā min faḍli rabbī, liyabluwanī a asykuru am akfur, wa man syakara fa innamā yasykuru linafsih, wa mang kafara fa inna rabbī ganiyyung karīm

40. Dia yang mendapatkan cahaya wahyu32 menjawab, “[Tidak,] adapun aku—aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip!”33

Dan, tatkala Sulaiman melihat singgasana itu benar-benar ada di hadapannya,34 dia pun berseru, “Ini adalah [sebuah hasil] dari karunia Pemeliharaku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau tidak!35 Bagaimanapun, siapa saja yang bersyukur [kepada Allah], hanyalah bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri; dan siapa saja yang tidak bersyukur [hendaknya mengetahui bahwa], sungguh, Pemeliharaku Mahacukup, Maha Pemurah dalam memberi!”



Surah An-Naml Ayat 41

قَالَ نَكِّرُوا لَهَا عَرْشَهَا نَنْظُرْ أَتَهْتَدِي أَمْ تَكُونُ مِنَ الَّذِينَ لَا يَهْتَدُونَ

qāla nakkirụ lahā ‘arsyahā nanẓur a tahtadī am takụnu minallażīna lā yahtadụn

41. [Dan,] Sulaiman melanjutkan, “Ubahlah singgasananya sehingga dia tidak mungkin mengetahui bahwa singgasana itu adalah miliknya: mari kita lihat apakah dia bersedia diberi petunjuk [kepada kebenaran] ataukah tetap menjadi salah seorang dari mereka yang tidak akan diberi petunjuk.”36



Surah An-Naml Ayat 42

فَلَمَّا جَاءَتْ قِيلَ أَهَٰكَذَا عَرْشُكِ ۖ قَالَتْ كَأَنَّهُ هُوَ ۚ وَأُوتِينَا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهَا وَكُنَّا مُسْلِمِينَ

fa lammā jā`at qīla a hākażā ‘arsyuk, qālat ka`annahụ huw, wa ụtīnal-‘ilma ming qablihā wa kunnā muslimīn

42. Dan, demikianlah, begitu Ratu Saba’ datang, dia ditanya, “Apakah singgasanamu seperti ini?”

Dia menjawab, “Seolah-olah singgasana ini sama!”37

[Dan, Sulaiman berkata kepada para bangsawannya, “Dia telah sampai pada kebenaran tanpa pertolongan apa pun dari kita,]38 meskipun kitalah yang telah diberi pengetahuan [Ilahi] sebelum dia, dan telah [lama] menyerahkan diri kepada Allah!



Surah An-Naml Ayat 43

وَصَدَّهَا مَا كَانَتْ تَعْبُدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ إِنَّهَا كَانَتْ مِنْ قَوْمٍ كَافِرِينَ

wa ṣaddahā mā kānat ta’budu min dụnillāh, innahā kānat ming qauming kāfirīn

43. [Dan, Ratu Saba’ telah memahami kebenaran] meskipun apa-apa yang biasa dia sembah,39 alih-alih Allah, telah menjauhkannya [dari jalan yang benar]: sebab, perhatikanlah, dia adalah keturunan orang-orang yang mengingkari kebenaran!”40



Surah An-Naml Ayat 44

قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الصَّرْحَ ۖ فَلَمَّا رَأَتْهُ حَسِبَتْهُ لُجَّةً وَكَشَفَتْ عَنْ سَاقَيْهَا ۚ قَالَ إِنَّهُ صَرْحٌ مُمَرَّدٌ مِنْ قَوَارِيرَ ۗ قَالَتْ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

qīla lahadkhuliṣ-ṣar-ḥ, fa lammā ra`at-hu ḥasibat-hu lujjataw wa kasyafat ‘an sāqaihā, qāla innahụ ṣar-ḥum mumarradum ming qawārīr, qālat rabbi innī ẓalamtu nafsī wa aslamtu ma’a sulaimāna lillāhi rabbil-‘ālamīn

44. [Tak lama setelah itu,] dikatakan kepadanya: “Masukilah halaman istana ini”—tetapi ketika dia melihatnya, dia mengira bahwa halaman istana itu adalah permukaan air yang sangat dalam, dan dia pun menyingkapkan kedua kakinya.41

Berkatalah Sulaiman, “Perhatikanlah, ini [hanyalah] halaman istana yang dilapisi secara halus dengan kaca.”42

Berserulah Ratu Saba’, “Wahai, Pemeliharaku! Aku telah berbuat dosa terhadap diriku sendiri [karena menyembah selain Engkau]: tetapi [kini] aku menyerahkan diri, bersama Sulaiman, kepada Pemelihara seluruh alam!”



Surah An-Naml Ayat 45

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ فَإِذَا هُمْ فَرِيقَانِ يَخْتَصِمُونَ

wa laqad arsalnā ilā ṡamụda akhāhum ṣāliḥan ani’budullāha fa iżā hum farīqāni yakhtaṣimụn

45. DAN [demikian pula], sungguh, Kami telah mengutus kepada [suku] Tsamud, saudara mereka, Shaleh, [dengan membawa pesan ini]: “Sembahlah Allah saja!”43—dan, perhatikanlah, mereka [terpecah menjadi] dua golongan yang saling berselisih.



Surah An-Naml Ayat 46

قَالَ يَا قَوْمِ لِمَ تَسْتَعْجِلُونَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ ۖ لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

qāla yā qaumi lima tasta’jilụna bis-sayyi`ati qablal-ḥasanah, lau lā tastagfirụnallāha la’allakum tur-ḥamụn

46. Berkata [Shaleh kepada golongan yang bersalah], “Mengapa kalian berusaha untuk menyegerakan datangnya keburukan kepada kalian daripada mengharapkan kebaikan?44 Tidakkah kalian, lebih baik, meminta Allah mengampuni dosa-dosa kalian, agar kalian dapat dirahmati dengan belas kasih-Nya?”



Surah An-Naml Ayat 47

قَالُوا اطَّيَّرْنَا بِكَ وَبِمَنْ مَعَكَ ۚ قَالَ طَائِرُكُمْ عِنْدَ اللَّهِ ۖ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تُفْتَنُونَ

qāluṭ ṭayyarnā bika wa bimam ma’ak, qāla ṭā`irukum ‘indallāhi bal antum qaumun tuftanụn

47. Mereka menjawab, “Kami meramalkan (datangnya) keburukan dari engkau dan orang-orang yang mengikutimu!”45

Berkata Shaleh, “Nasib kalian, yang baik ataupun yang buruk, terpulang kepada Allah:46 memang, kalian adalah kaum yang sedang menjalani sebuah ujian!”



Surah An-Naml Ayat 48

وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ

wa kāna fil-madīnati tis’atu rahṭiy yufsidụna fil-arḍi wa lā yuṣliḥụn

48. Adapun di kota itu ada sembilan orang laki-laki47 yang biasa melakukan perbuatan-perbuatan jahat di seluruh negeri dan tidak ingin melakukan perbaikan;



Surah An-Naml Ayat 49

قَالُوا تَقَاسَمُوا بِاللَّهِ لَنُبَيِّتَنَّهُ وَأَهْلَهُ ثُمَّ لَنَقُولَنَّ لِوَلِيِّهِ مَا شَهِدْنَا مَهْلِكَ أَهْلِهِ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ

qālụ taqāsamụ billāhi lanubayyitannahụ wa ahlahụ ṡumma lanaqụlanna liwaliyyihī mā syahidnā mahlika ahlihī wa innā laṣādiqụn

49. [dan] setelah mereka saling mengikatkan diri dengan sumpah atas nama Allah,48 mereka berkata, “Sungguh, kami akan menyerangnya beserta keluarganya dengan tiba-tiba pada malam hari [dan membunuh mereka semua], kemudian kami akan berkata dengan tegas kepada kerabatnya, ‘Kami tidak menyaksikan kehancuran keluarganya itu—dan, perhatikanlah, sungguh kami adalah orang-orang yang benar!’”



Surah An-Naml Ayat 50

وَمَكَرُوا مَكْرًا وَمَكَرْنَا مَكْرًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

wa makarụ makraw wa makarnā makraw wa hum lā yasy’urụn

50. Dan kemudian, mereka menyusun rekayasa jahat, tetapi Kami menyusun rekayasa halus [Kami sendiri], dan mereka tidak menyadarinya.


Surah An-Naml Ayat 51

فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ مَكْرِهِمْ أَنَّا دَمَّرْنَاهُمْ وَقَوْمَهُمْ أَجْمَعِينَ

fanẓur kaifa kāna ‘āqibatu makrihim annā dammarnāhum wa qaumahum ajma’īn

51. Maka, perhatikanlah, bagaimana jadinya seluruh rekayasa jahat mereka pada akhirnya: Kami hancur-leburkan mereka dan orang-orang mereka, semuanya;


Surah An-Naml Ayat 52

فَتِلْكَ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً بِمَا ظَلَمُوا ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

fa tilka buyụtuhum khāwiyatam bimā ẓalamụ, inna fī żālika la`āyatal liqaumiy ya’lamụn

52. dan [kini,] tempat-tempat tinggal mereka kosong, [musnah] sebagai akibat dari perbuatan-perbuatan huruk mereka.

Perhatikanlah, dalam yang demikian ini sungguh terdapat pesan-pesan bagi orang-orang yang memiliki pengetahuan [bawaan]—


Surah An-Naml Ayat 53

وَأَنْجَيْنَا الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

wa anjainallażīna āmanụ wa kānụ yattaqụn

53. mengingat bahwa telah Kami selamatkan orang-orang yang meraih iman dan sadar akan Kami.


Surah An-Naml Ayat 54

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ وَأَنْتُمْ تُبْصِرُونَ

wa lụṭan iż qāla liqaumihī a ta`tụnal-fāḥisyata wa antum tubṣirụn

54. DAN [demikian pula, telah Kami selamatkan] Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya,49 “Apakah kalian hendak melakukan perbuatan menjijikkan ini seraya mata kalian terbuka [melihatnya bertentangan dengan fitrah]?50



Surah An-Naml Ayat 55

أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

a innakum lata`tụnar-rijāla syahwatam min dụnin-nisā`, bal antum qaumun taj-halụn

55. Haruskah kalian benar-benar mendatangi laki-laki dengan berahi, alih-alih mendatangi perempuan? Tidak, tetapi kalian adalah kaum tanpa pengetahuan sedikit pun [akan yang benar dan yang salah]!”


Surah An-Naml Ayat 56

فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوا آلَ لُوطٍ مِنْ قَرْيَتِكُمْ ۖ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ

fa mā kāna jawāba qaumihī illā ang qālū akhrijū āla lụṭim ming qaryatikum innahum unāsuy yataṭahharụn

56. Namun, jawaban kaumnya hanyalah ini: “Usirlah [Luth dan] pengikut Luth dari negeri kalian! Sungguh, mereka adalah orang-orang yang berlagak suci!”51



Surah An-Naml Ayat 57

فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ إِلَّا امْرَأَتَهُ قَدَّرْنَاهَا مِنَ الْغَابِرِينَ

fa anjaināhu wa ahlahū illamra`atahụ qaddarnāhā minal-gābirīn

57. Kemudian, Kami selamatkan dia dan seluruh keluarganya—kecuali istrinya, yang Kami tetapkan termasuk di antara orang-orang yang tertinggal52



Surah An-Naml Ayat 58

وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا ۖ فَسَاءَ مَطَرُ الْمُنْذَرِينَ

wa amṭarnā ‘alaihim maṭarā, fa sā`a maṭarul-munżarīn

58. sementara itu, terhadap yang lainnya, Kami turunkan hujan [kehancuran]: dan betapa mengerikannya hujan yang ditimpakan terhadap semua orang yang membiarkan diri mereka diberi peringatan [tanpa mengambil manfaat dari peringatan itu]!53



Surah An-Naml Ayat 59

قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَامٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَىٰ ۗ آللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ

qulil-ḥamdu lillāhi wa salāmun ‘alā ‘ibādihillażīnaṣṭafā, āllāhu khairun ammā yusyrikụn

59. KATAKANLAH: “Segala puji bagi Allah, dan semoga kedamaian tercurah atas hamba-hamba-Nya yang Dia pilih [untuk menjadi rasul-rasul-Nya]!”

Bukankah Allah jauh lebih baik daripada apa pun yang manusia persekutukan [secara batil] dengan-Nya?54



Surah An-Naml Ayat 60

أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُنْبِتُوا شَجَرَهَا ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُونَ

am man khalaqas-samāwāti wal-arḍa wa anzala lakum minas-samā`i mā`an fa ambatnā bihī ḥadā`iqa żāta bahjah, mā kāna lakum an tumbitụ syajarahā, a ilāhum ma’allāh, bal hum qaumuy ya’dilụn

60. Tidak—siapakah yang telah menciptakan lelangit dan bumi, serta menurunkan air [yang memberikan kehidupan] untuk kalian dari angkasa? Sebab, dengan cara inilah Kami jadikan kebun-kebun yang amat indah tumbuh—[padahal,] kalian tiada berkuasa membuat tumbuh [bahkan sebatang saja dari] pohon-pohon itu!

Adakah kekuasaan ilahi yang lain di samping Allah? Tidak! Mereka [yang mengira demikian] adalah orang-orang yang menyimpang [dari jalur nalar]!


Surah An-Naml Ayat 61

أَمَّنْ جَعَلَ الْأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

am man ja’alal-arḍa qarāraw wa ja’ala khilālahā an-hāraw wa ja’ala lahā rawāsiya wa ja’ala bainal-baḥraini ḥājizā, a ilāhum ma’allāh, bal akṡaruhum lā ya’lamụn

61. Tidak—siapakah yang telah menjadikan bumi itu sebagai tempat tinggal yang cocok55 [untuk makhluk hidup], dan telah menjadikan sungai-sungai [mengalir] di tengah-tengahnya, dan telah meletakkan di atasnya gunung-gunung yang kokoh, dan telah menempatkan suatu pemisah di antara dua himpunan air yang besar itu?56

Adakah kekuasaan ilahi yang lain di samping Allah? Tidak! Kebanyakan dari mereka [yang mengira demikian] tidak mengetahui [apa yang mereka katakan]!



Surah An-Naml Ayat 62

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

am may yujībul-muḍṭarra iżā da’āhu wa yaksyifus-sū`a wa yaj’alukum khulafā`al-arḍ, a ilāhum ma’allāh, qalīlam mā tażakkarụn

62. Tidak—siapakah yang menanggapi orang yang dalam kesulitan ketika dia menyeru kepada-Nya, dan yang menghilangkan derita [yang menyebabkan kesulitan itu], dan yang menjadikan kalian mewarisi bumi?57

Adakah kekuasaan ilahi yang lain di samping Allah? Betapa jarangnya kalian mengingat ini!



Surah An-Naml Ayat 63

أَمَّنْ يَهْدِيكُمْ فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَنْ يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ تَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

am may yahdīkum fī ẓulumātil-barri wal-baḥri wa may yursilur-riyāḥa busyram baina yadai raḥmatih, a ilāhum ma’allāh, ta’ālallāhu ‘ammā yusyrikụn

63. Tidak—siapakah yang menunjuki kalian di tengah-tengah gelap gulitanya daratan dan lautan,58 dan yang mengirimkan angin sebagai kabar gembira akan kedatangan rahmat-Nya?59

Adakah kekuasaan ilahi yang lain di samping Allah? Mahatinggi Allah melampaui segala sesuatu yang mungkin manusia persekutukan dengan-Nya!



Surah An-Naml Ayat 64

أَمَّنْ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَمَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

am may yabda`ul-khalqa ṡumma yu’īduhụ wa may yarzuqukum minas-samā`i wal-arḍ, a ilāhum ma’allāh, qul hātụ bur-hānakum ing kuntum ṣādiqīn

64. Tidak—siapakah yang menciptakan [seluruh kehidupan] dari kejadian pertamanya, lalu mengulanginya lagi?60 Dan, siapakah yang memberikan kepada kalian rezeki dari langit dan bumi?61

Adakah kekuasaan ilahi yang lain di samping Allah?

Katakanlah: “[Jika demikian yang kalian sangka,] tunjukkanlah bukti kalian jika kalian benar-benar memercayai pernyataan kalian!”62



Surah An-Naml Ayat 65

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

qul lā ya’lamu man fis-samāwāti wal-arḍil-gaiba illallāh, wa mā yasy’urụna ayyāna yub’aṡụn

65. Katakanlah: “Tiada seorang pun di lelangit atau di bumi yang mengetahui kenyataan tersembunyi [dari segala sesuatu yang ada: tiada yang mengetahuinya,] kecuali Allah.”63

Dan, mereka [yang hidup] tiada pula dapat merasakan kapan mereka akan dibangkitkan dari kematian:



Surah An-Naml Ayat 66

بَلِ ادَّارَكَ عِلْمُهُمْ فِي الْآخِرَةِ ۚ بَلْ هُمْ فِي شَكٍّ مِنْهَا ۖ بَلْ هُمْ مِنْهَا عَمُونَ

baliddāraka ‘ilmuhum fil-ākhirah, bal hum fī syakkim min-hā, bal hum min-hā ‘amụn

66. tidak, pengetahuan mereka tentang kehidupan akhirat tidak sampai pada kebenaran:64 tidak, mereka [sering] ragu-ragu tentang kenyataannya: tidak, mereka buta terhadapnya.65



Surah An-Naml Ayat 67

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَإِذَا كُنَّا تُرَابًا وَآبَاؤُنَا أَئِنَّا لَمُخْرَجُونَ

wa qālallażīna kafarū a iżā kunnā turābaw wa ābā`unā a innā lamukhrajụn

67. Dan demikianlah, orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran berkata, “Apa? Setelah kita menjadi tanah—kita dan nenek moyang kita—apakah kita [semua] benar-benar akan dibangkitkan [dari kematian]?


Surah An-Naml Ayat 68

لَقَدْ وُعِدْنَا هَٰذَا نَحْنُ وَآبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ إِنْ هَٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

laqad wu’idnā hāżā naḥnu wa ābā`unā ming qablu in hāżā illā asāṭīrul-awwalīn

68. Sungguh, pada masa lalu, kami juga telah dijanjikan dengan ini—kami dan nenek moyang kami; ini tidak lain hanyalah dongeng-dongeng kuno!”


Surah An-Naml Ayat 69

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ

qul sīrụ fil-arḍi fanẓurụ kaifa kāna ‘āqibatul-mujrimīn

69. Katakan: “Berjalanlah menjelajahi bumi dan perhatikanlah apa yang akhirnya terjadi pada orang-orang yang [dahulu] tenggelam dalam dosa!”66



Surah An-Naml Ayat 70

وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُنْ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ

wa lā taḥzan ‘alaihim wa lā takun fī ḍaiqim mimmā yamkurụn

70. Akan tetapi, jangan berdukacita karena mereka, dan janganlah merasa susah karena dalil-dalil batil yang mereka susun [guna menentang pesan-pesan Allah].67



Surah An-Naml Ayat 71

وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَٰذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

wa yaqụlụna matā hāżal-wa’du ing kuntum ṣādiqīn

71. Dan. [ketika] mereka bertanya, “Bilakah janji [kebangkitan] ini akan dipenuhi? Jawablah, wahai orang yang beriman padanya,] jika kalian memang orang-orang yang benar!”—


Surah An-Naml Ayat 72

قُلْ عَسَىٰ أَنْ يَكُونَ رَدِفَ لَكُمْ بَعْضُ الَّذِي تَسْتَعْجِلُونَ

qul ‘asā ay yakụna radifa lakum ba’ḍullażī tasta’jilụn

72. katakanlah: “Boleh jadi sesuatu yang kalian minta disegerakan68 [karena kebodohan kalian] itu telah datang mendekat kepada kalian ….”



Surah An-Naml Ayat 73

وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَشْكُرُونَ

wa inna rabbaka lażụ faḍlin ‘alan-nāsi wa lākinna akṡarahum lā yasykurụn

73. Sungguh, adapun Pemeliharamu benar-benar tiada terhingga dalam karunia-Nya kepada manusia—tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.


Surah An-Naml Ayat 74

وَإِنَّ رَبَّكَ لَيَعْلَمُ مَا تُكِنُّ صُدُورُهُمْ وَمَا يُعْلِنُونَ

wa inna rabbaka laya’lamu mā tukinnu ṣudụruhum wa mā yu’linụn

74. Akan tetapi, sungguh, Pemeliharamu mengetahui segala yang disembunyikan hati mereka serta segala yang mereka nyatakan:


Surah An-Naml Ayat 75

وَمَا مِنْ غَائِبَةٍ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

wa mā min gā`ibatin fis-samā`i wal-arḍi illā fī kitābim mubīn

75. sebab, tiada sesuatu pun yang [sedemikian dalamnya] tersembunyi di langit atau di bumi, melainkan tercatat dalam ketetapan[-Nya] yang nyata.


Surah An-Naml Ayat 76

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَقُصُّ عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَكْثَرَ الَّذِي هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

inna hāżal-qur`āna yaquṣṣu ‘alā banī isrā`īla akṡarallażī hum fīhi yakhtalifụn

76. PERHATIKANLAH, Al-Quran ini menjelaskan69 kepada Bani Israil sebagian besar [dari apa yang] mereka berselisih tentangnya;70



Surah An-Naml Ayat 77

وَإِنَّهُ لَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

wa innahụ lahudaw wa raḥmatul lil-mu`minīn

77. dan, sungguh, Al-Quran ini merupakan petunjuk dan rahmat bagi semua orang yang beriman [padanya].


Surah An-Naml Ayat 78

إِنَّ رَبَّكَ يَقْضِي بَيْنَهُمْ بِحُكْمِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ

inna rabbaka yaqḍī bainahum biḥukmih, wa huwal-‘azīzul-‘alīm

78. Sungguh, [wahai orang beriman,] Pemeliharamu akan mengadili antara mereka menurut kebijaksanaan-Nya— sebab, Dia sajalah Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui.


Surah An-Naml Ayat 79

فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۖ إِنَّكَ عَلَى الْحَقِّ الْمُبِينِ

fa tawakkal ‘alallāh, innaka ‘alal-ḥaqqil-mubīn

79. Karena itu, bersandarlah penuh percaya* kepada Allah [saja]—sebab, perhatikanlah, yang kau imani adalah kebenaran yang terbukti dengan sendirinya.71



Surah An-Naml Ayat 80

إِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَىٰ وَلَا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعَاءَ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ

innaka lā tusmi’ul-mautā wa lā tusmi’uṣ-ṣummad-du’ā`a iżā wallau mudbirīn

80. [Namun,] sungguh, engkau tidak dapat menjadikan orang yang mati mendengar: dan [demikian pula,] engkau tidak dapat menjadikan orang yang tuli [hatinya] mendengar seruan ini jika mereka berpaling [darimu] dan pergi,


Surah An-Naml Ayat 81

وَمَا أَنْتَ بِهَادِي الْعُمْيِ عَنْ ضَلَالَتِهِمْ ۖ إِنْ تُسْمِعُ إِلَّا مَنْ يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا فَهُمْ مُسْلِمُونَ

wa mā anta bihādil-‘umyi ‘an ḍalālatihim, in tusmi’u illā may yu`minu bi`āyātinā fa hum muslimụn

81. sebagaimana engkau tidak dapat menunjuki orang yang buta [hatinya] keluar dari kesesatan mereka; tiada seorang pun yang dapat kau jadikan mendengar, kecuali orang-orang yang [ingin] beriman pada pesan-pesan Kami, lalu mereka menyerahkan diri kepada Kami.72



Surah An-Naml Ayat 82

وَإِذَا وَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ أَخْرَجْنَا لَهُمْ دَابَّةً مِنَ الْأَرْضِ تُكَلِّمُهُمْ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا بِآيَاتِنَا لَا يُوقِنُونَ

wa iżā waqa’al-qaulu ‘alaihim akhrajnā lahum dābbatam minal-arḍi tukallimuhum annan-nāsa kānụ bi`āyātinā lā yụqinụn

82. Adapun [mengenai orang yang tuli dan buta hatinya—] tatkala perkataan [kebenaran] terungkap menentang mereka,73 Kami akan keluarkan bagi mereka suatu makhluk dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka bahwa manusia tidak memiliki keimanan yang sejati akan pesan-pesan Kami.74



Surah An-Naml Ayat 83

وَيَوْمَ نَحْشُرُ مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ فَوْجًا مِمَّنْ يُكَذِّبُ بِآيَاتِنَا فَهُمْ يُوزَعُونَ

wa yauma naḥsyuru ming kulli ummatin faujam mim may yukażżibu bi`āyātinā fa hum yụza’ụn

83. Dan, pada Hari itu, Kami akan mengumpulkan dari dalam tiap-tiap umat segolongan orang-orang yang mendustakan pesan-pesan Kami; dan mereka akan dikelompokkan [sesuai dengan besarnya dosa-dosa mereka]


Surah An-Naml Ayat 84

حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوا قَالَ أَكَذَّبْتُمْ بِآيَاتِي وَلَمْ تُحِيطُوا بِهَا عِلْمًا أَمَّاذَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

ḥattā iżā jā`ụ qāla a każżabtum bi`āyātī wa lam tuḥīṭụ bihā ‘ilman ammāżā kuntum ta’malụn

84. hingga suatu waktu ketika mereka akan datang [untuk diadili. Dan,] Allah akan berfirman, “Apakah kalian mendustakan pesan-pesan-Ku meskipun pengetahuan [kalian] gagal meliputinya?75 Atau, apakah yang [kalian kira] telah kalian kerjakan?”



Surah An-Naml Ayat 85

وَوَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ بِمَا ظَلَمُوا فَهُمْ لَا يَنْطِقُونَ

wa waqa’al-qaulu ‘alaihim bimā ẓalamụ fa hum lā yanṭiqụn

85. Dan, kalam [kebenaran] akan tegak terungkap menentang mereka di hadapan76 segala kezaliman yang telah mereka perbuat, dan mereka tidak akan [mampu untuk] mengucapkan sepatah kata pun [untuk berdalih]:



Surah An-Naml Ayat 86

أَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنَا اللَّيْلَ لِيَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

a lam yarau annā ja’alnal-laila liyaskunụ fīhi wan-nahāra mubṣirā, inna fī żālika la`āyātil liqaumiy yu`minụn

86. sebab, tidakkah mereka memperhatikan bahwa Kami-lah yang telah menjadikan malam bagi mereka agar mereka dapat beristirahat padanya, dan siang, untuk menjadikan [mereka] melihat?77

Perhatikanlah, dalam yang demikian ini sungguh terdapat pesan-pesan bagi orang-orang yang beriman!



Surah An-Naml Ayat 87

وَيَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَفَزِعَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ۚ وَكُلٌّ أَتَوْهُ دَاخِرِينَ

wa yauma yunfakhu fiṣ-ṣụri fa fazi’a man fis-samāwāti wa man fil-arḍi illā man syā`allāh, wa kullun atauhu dākhirīn

87. Dan, pada Hari itu, sangkakala [pengadilan] akan dikumandangkan, dan semua [makhluk] yang ada di lelangit dan semua yang ada di bumi akan dilanda ketakutan, kecuali yang dikehendaki Allah [untuk dibebaskan]: dan semuanya akan datang menghadap-Nya dalam keadaan yang rendah serendah-rendahnya.


Surah An-Naml Ayat 88

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ ۚ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ ۚ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ

wa taral-jibāla taḥsabuhā jāmidataw wa hiya tamurru marras-saḥāb, ṣun’allāhillażī atqana kulla syaī`, innahụ khabīrum bimā taf’alụn

88. Dan, engkau akan lihat gunung-gunung itu, yang [kini] engkau sangka demikian kokohnya, berlalu seperti berlalunya awan: sebuah karya cipta Allah, yang telah mengatur segala sesuatu menuju kesempurnaan!78

Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala yang kalian perbuat!



Surah An-Naml Ayat 89

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِنْهَا وَهُمْ مِنْ فَزَعٍ يَوْمَئِذٍ آمِنُونَ

man jā`a bil-ḥasanati fa lahụ khairum min-hā, wa hum min faza’iy yauma`iżin āminụn

89. Siapa pun yang datang [ke hadapan-Nya] dengan perbuatan baik akan memperoleh kebaikan [yang lebih lanjut] darinya;79 dan mereka akan aman dari ketakutan pada Hari itu.



Surah An-Naml Ayat 90

وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَكُبَّتْ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ هَلْ تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

wa man jā`a bis-sayyi`ati fa kubbat wujụhuhum fin-nār, hal tujzauna illā mā kuntum ta’malụn

90. Akan tetapi, mereka yang datang dengan membawa perbuatan-perbuatan buruk80—wajah mereka akan disungkurkan ke dalam api, [dan mereka akan ditanyai:] “Bukankah ini tidak lain hanyalah balasan yang setimpal81 atas apa yang kalian perbuat [di dunia]?”



Surah An-Naml Ayat 91

إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَٰذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ ۖ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

innamā umirtu an a’buda rabba hāżihil-baldatillażī ḥarramahā wa lahụ kullu syai`iw wa umirtu an akụna minal-muslimīn

91. [KATAKANLAH, wahai Muhammad:] “Aku telah diperintahkan untuk menyembah Pemelihara Kota ini82—Dia yang telah menjadikannya suci, dan yang kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu; dan aku telah diperintahkan agar termasuk di antara orang-orang yang berserah diri kepada-Nya,



Surah An-Naml Ayat 92

وَأَنْ أَتْلُوَ الْقُرْآنَ ۖ فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَقُلْ إِنَّمَا أَنَا مِنَ الْمُنْذِرِينَ

wa an atluwal-qur`ān, fa manihtadā fa innamā yahtadī linafsih, wa man ḍalla fa qul innamā ana minal-munżirīn

92. dan agar aku menyampaikan Al-Quran ini [kepada dunia].”

Oleh karena itu, siapa pun yang memilih untuk mengikuti jalan yang benar, dia mengikuti jalan itu tidak lain hanyalah untuk kebaikannya sendiri; dan jika siapa pun ingin sesat, katakanlah [kepadanya]: “Aku hanyalah seorang pemberi peringatan!”


Surah An-Naml Ayat 93

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ سَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ فَتَعْرِفُونَهَا ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

wa qulil-ḥamdu lillāhi sayurīkum āyātihī fa ta’rifụnahā, wa mā rabbuka bigāfilin ‘ammā ta’malụn

93. Dan, katakanlah: “Segala puji bagi Allah! Pada saatnya, Dia akan menjadikan kalian melihat [kebenaran dari] pesan-pesan-Nya, dan lalu kalian akan mengetahuinya [sebagaimana adanya].”

Dan, Pemeliharamu tidak lalai terhadap apa pun yang kalian semua lakukan.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top