16. An-Nahl (Lebah) – النحل

Surat An-Nahl dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat An-Nahl ( النحل ) merupakan surah ke 16 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 128 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah An-Nahl tergolong Surat Makkiyah.

Menurut hampir semua sumber yang terpercaya (termasuk Al-Itqan), surah ini diwahyukan beberapa bulan sebelum Nabi hijrah ke Madinah. Meskipun beberapa mufasir berpendapat bahwa tiga ayat terakhirnya termasuk ke dalam periode Madinah, tidak ada bukti yang mendukung pandangan yang sedikit banyak bersifat spekulatif ini.

Nama surah ini—atau, lebih tepatnya, kata-kunci yang dipakai untuk menyebut surah ini sejak masa Nabi—didasarkan pada rujukan dalam ayat 68-69 yang mengacu pada contoh tindakan kreatif Allah yang mengagumkan, berupa insting/naluri yang Dia anugerahkan kepada lebah. Sesungguhnya, bukti terhadap aktivitas Sang Pencipta yang selalu mengandung tujuan tertentu inilah yang menjadi pokok persoalan sebagian besar ayat dalam surah ini—suatu aktivitas yang mencapai puncaknya berupa petunjuk yang Dia berikan kepada manusia melalui pesan-pesan-Nya yang diwahyukan, yang tersimpul, demikianlah kira-kira, dalam ayat 90: “Perhatikanlah, Allah memerintahkan keadilan, perbuatan baik, dan kedermawanan terhadap sesama manusia; dan Dia melarang segala hal yang memalukan dan semua yang bertentangan dengan akaI, serta kedengkian”.

Daftar Isi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah An-Nahl Ayat 1

أَتَىٰ أَمْرُ اللَّهِ فَلَا تَسْتَعْجِلُوهُ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

atā amrullāhi fa lā tasta’jilụh, sub-ḥānahụ wa ta’ālā ‘ammā yusyrikụn

1. KEPUTUSAN ALLAH [pasti] datang: karena itu, janganlah kalian meminta agar kedatangannya dipercepat!1

Maha Tak Terhingga Dia dalam kemuliaan-Nya serta Mahatinggi melampaui apa pun yang mungkin manusia persekutukan dengan-Nya!


1 Berkenaan dengan rujukan yang mengacu pada permintaan tidak masuk akal dari orang-orang yang tidak beriman ini, lihat Surah Al-An’am [6]: 57-58, Surah Al-Anfal [8]: 32, dan Surah Yunus [10]: 50-51, serta catatan-catatannya.


Surah An-Nahl Ayat 2

يُنَزِّلُ الْمَلَائِكَةَ بِالرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ أَنْذِرُوا أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاتَّقُونِ

yunazzilul-malā`ikata bir-rụḥi min amrihī ‘alā may yasyā`u min ‘ibādihī an anżirū annahụ lā ilāha illā ana fattaqụn

2. Dia menyebabkan para malaikat turun dengan ilham Ilahi ini,2 [yang dianugerahkan] berdasarkan perintah-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya: “Peringatkanlah [seluruh manusia] bahwa tidak ada tuhan kecuali Aku: karena itu, sadarlah akan Aku!”


2 Istilah ruh (lit., “ruh” [spirit], “jiwa” atau “napas kehidupan”) sering digunakan dalam Al-Quran dalam pengertian “inspirasi/ilham”—dan lebih khusus lagi, “ilham Ilahi”—karena, seperti dijelaskan Al-Zamakhsyari dalam kaitannya dengan ayat di atas serta dengan kalimat pertama dalam Surah Asy-Syura [42]: 52, “ia menghidupkan hati yang [seakan] telah mati dalam kebodohannya, dan dalam agama, ia mempunyai fungsi yang sama sebagaimana halnya jiwa bagi tubuh”. Penjelasan yang sangat mirip diberikan oleh Al-Razi dalam konteks yang sama. Contoh paling awal dari penggunaan istilah ruh dalam pengertiannya yang khusus ini adalah Surah Al-Qadr [97]: 4.


Surah An-Nahl Ayat 3

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ ۚ تَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

khalaqas-samāwāti wal-arḍa bil-ḥaqq, ta’ālā ‘ammā yusyrikụn

3. Dia telah menciptakan lelangit dan bumi sesuai dengan kebenaran [hakiki];3 Mahatinggi Dia melampaui apa pun yang mungkin manusia persekutukan dengan-Nya!4


3 Yakni, sesuai dengan makna dan tujuan yang hanya diketahui oleh-Nya. Lihat juga Surah Yunus [10]: 5 dan, khususnya, catatannya, no. 11.

4 Pengulangan sebagian ayat pertama ini dimaksudkan untuk menekankan betapa uniknya kekuatan-kekuatan kreatif Allah.


Surah An-Nahl Ayat 4

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ

khalaqal-insāna min nuṭfatin fa iżā huwa khaṣīmum mubīn

4. Dia menciptakan manusia dari setetes air mani [belaka]: dan lihatlah! makhluk yang sama ini menunjukkan dirinya dianugerahi kemampuan berpikir dan membantah!5


5 Lit., “dia menjadi pembantah yang nyata dalam perbedaan pendapat (khashim mubin)”. Menurut Al-Zamakhsyari dan Al-Razi, frasa di atas dapat dipahami dengan dua penafsiran. Dalam ungkapan Al-Zamakhsyari, “penafsiran pertama adalah bahwa setelah sebelumnya manusia merupakan setetes mani [belaka], yakni sebuah partikel materi tanpa kesadaran atau gerakan, ia kemudian menjadi sangat pandai mengungkapkan gagasan (minthiq), mampu mengemukakan pendapat sendiri (untuk mendukung atau menolak suatu proposisi), menghadapi perselisihan dengan berani, dan merumuskan argumentasinya dengan jelas: [dan, di sinilah letaknya] isyarat terhadap daya kreatif Allah. [Penafsiran] lainnya adalah bahwa manusia [cenderung menjadi] pembantah Pemeliharanya, yakni menolak mengakui Pencipta dirinya [sendiri].” Di lain pihak, Al-Razi sepenuhnya mendukung penafsiran yang pertama, “karena ayat-ayat di atas dimaksudkan untuk menekankan bukti tentang keberadaan Pencipta yang Mahabijaksana, bukan fakta tentang keangkuhan manusia dan kecenderungannya untuk durhaka dan tidak tahu berterima kasih.” Namun, dengan mempertimbangkan Surah YaSin [36]: 77-78 (yang diwahyukan pada periode yang jauh lebih awal), saya berpendapat bahwa kedua penafsiran di atas tidak saling terpisah, alih-alih, saling melengkapi, karena pasase ini dimaksudkan untuk menekankan sifat unik manusia sebagai makhluk berakal—suatu sifat yang dapat membawanya pada puncak-puncak prestasi, tapi dapat pula menyebabkannya benar-benar tersesat: demikianlah alasan terjemahan bebas saya terhadap frasa yang sangat dalam dan eliptis ini.


Surah An-Nahl Ayat 5

وَالْأَنْعَامَ خَلَقَهَا ۗ لَكُمْ فِيهَا دِفْءٌ وَمَنَافِعُ وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ

wal-an’āma khalaqahā lakum fīhā dif`uw wa manāfi’u wa min-hā ta`kulụn

5. Dan Dia menciptakan binatang ternak: kalian memperoleh kehangatan darinya, dan [berbagai] manfaat [lain]; dan dari mereka, kalian mendapatkan makanan;


Surah An-Nahl Ayat 6

وَلَكُمْ فِيهَا جَمَالٌ حِينَ تُرِيحُونَ وَحِينَ تَسْرَحُونَ

wa lakum fīhā jamālun ḥīna turīḥụna wa ḥīna tasraḥụn

6. dan kalian mendapati keindahan pada hewan ternak itu tatkala kalian menggiring mereka pulang pada petang hari dan tatkala kalian melepaskannya untuk merumput pada pagi hari.


Surah An-Nahl Ayat 7

وَتَحْمِلُ أَثْقَالَكُمْ إِلَىٰ بَلَدٍ لَمْ تَكُونُوا بَالِغِيهِ إِلَّا بِشِقِّ الْأَنْفُسِ ۚ إِنَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

wa taḥmilu aṡqālakum ilā baladil lam takụnụ bāligīhi illā bisyiqqil-anfus, inna rabbakum lara`ụfur raḥīm

7. Dan mereka membawa beban-beban kalian menuju [banyak] tempat yang [jika mereka tidak membawanya,] kalian tidak akan mampu mencapainya tanpa (merasakan) kesukaran yang besar pada diri kalian.

Sungguh, Pemelihara kalian Maha Melimpahkan Kasih, Sang Pemberi Rahmat!


Surah An-Nahl Ayat 8

وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً ۚ وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

wal-khaila wal-bigāla wal-ḥamīra litarkabụhā wa zīnah, wa yakhluqu mā lā ta’lamụn

8. Dan [Dia-lah yang telah menciptakan] kuda, bagal, dan keledai untuk kalian tunggangi, dan juga untuk keindahan [mereka]: dan Dia masih akan menciptakan apa-apa yang [hingga kini] tidak kalian ketahui.6


6 Dalam konteks ini, penggunaan verba yakhluqu menyiratkan pengertian masa yang akan datang (“Dia akan menciptakan”) berlawanan dengan bentuk lampau khalaqa yang terdapat pada pasase-pasase terdahulu. Karena rujukan yang mengacu pada terus-menerusnya tindakan penciptaan yang dilakukan Allah ini disebutkan segera setelah penyebutan sarana transportasi primitif (yakni, binatang-binatang yang dijinakkan manusia untuk tujuan ini), jelas-jelas ia berhubungan dengan benda-benda lain yang kategorinya sama yang hingga kini belum dikenal: yakni, berkaitan dengan sarana transportasi baru yang tidak henti-hentinya diciptakan Allah melalui perantaraan daya inovasi yang telah Dia anugerahkan pada akal manusia (bdk. Surah YaSin [36]: 42). Karena setiap tingkatan perkembangan manusia selalu memberi kesaksian terhadap penemuan-penemuan baru yang sebelumnya tidak terbayangkan dalam dunia transportasi, pernyataan Al-Quran bahwa “Dia masih akan menciptakan apa-apa yang [hingga kini] tidak kalian ketahui” tetap absah untuk setiap periode sejarah manusia, baik masa lalu, kini, maupun yang akan datang.


Surah An-Nahl Ayat 9

وَعَلَى اللَّهِ قَصْدُ السَّبِيلِ وَمِنْهَا جَائِرٌ ۚ وَلَوْ شَاءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ

wa ‘alallāhi qaṣdus-sabīli wa min-hā jā`ir, walau syā`a lahadākum ajma’īn

9. Dan [karena Dia adalah Pencipta kalian,] hanya Allah-lah yang menunjukkan kalian jalan yang benar:7 namun, ada [banyak orang] yang menyimpang darinya. Bagaimanapun, seandainya Dia menghendaki, Dia pasti telah menunjuki kalian semua dengan benar.8


7 Lit., “pada Allah-lah terletak [penunjukan] tujuan dari jalan itu”—yakni, penetapan tujuan-tujuan etika dan moralitas yang tersirat dalam konsep “jalan yang benar”. Dalam analisis yang lebih jauh terhadap frasa ini, ungkapan “terletak pada Allah-lah” (‘ala Allah) serupa maksudnya dengan pernyataan dalam Surah Al-An’am [6]: 12 dan 54 bahwa Dia “telah menetapkan atas diri-Nya hukum rahmat dan belas kasih”: dengan kata lain, Allah selalu menunjuki jalan yang benar kepada setiap orang yang bersedia/berkehendak untuk mengikutinya.

8 Karena konsep moralitas berkaitan dengan kebebasan manusia yang diberikan oleh Allah untuk memilih antara yang baik dan yang buruk, Allah tidak “memaksakan” petunjuk-Nya kepada manusia, tetapi menyerahkannya kepada manusia untuk menerima atau menolaknya.


Surah An-Nahl Ayat 10

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً ۖ لَكُمْ مِنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ

huwallażī anzala minas-samā`i mā`al lakum min-hu syarābuw wa min-hu syajarun fīhi tusīmụn

10. Dia-lah yang menurunkan air dari langit; kalian minum darinya, dan darinya [minum] tumbuh-tumbuhan yang padanya kalian menggembalakan hewan-hewan kalian;


Surah An-Nahl Ayat 11

يُنْبِتُ لَكُمْ بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُونَ وَالنَّخِيلَ وَالْأَعْنَابَ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

yumbitu lakum bihiz-zar’a waz-zaitụna wan-nakhīla wal-a’nāba wa ming kulliṡ-ṡamarāt, inna fī żālika la`āyatal liqaumiy yatafakkarụn

11. [dan] dengan kebaikan air itu, Dia menyebabkan hasil panen tumbuh untuk kalian, dan pohon zaitun, pohon kurma, anggur, serta segala macam buah [lainnya]: dalam hal yang demikian ini, perhatikanlah, sungguh terdapat pesan bagi kaum yang berpikir!


Surah An-Nahl Ayat 12

وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ وَالنُّجُومُ مُسَخَّرَاتٌ بِأَمْرِهِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

wa sakhkhara lakumul-laila wan-nahāra wasy-syamsa wal-qamar, wan-nujụmu musakhkharātum bi`amrih, inna fī żālika la`āyātil liqaumiy ya’qilụn

12. Dan Dia telah menjadikan malam dan siang, matahari dan bulan tunduk [kepada hukum-hukum-Nya, supaya mereka membawa manfaat] bagi kalian;9 dan semua bintang tunduk kepada perintah-Nya: dalam hal yang demikian ini, perhatikanlah, sungguh terdapat pesan-pesan bagi kaum yang menggunakan akalnya!


9 Lihat Surah Ibrahim [14]: 33 dan catatannya, no. 46.


Surah An-Nahl Ayat 13

وَمَا ذَرَأَ لَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهُ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَذَّكَّرُونَ

wa mā żara`a lakum fil-arḍi mukhtalifan alwānuh, inna fī żālika la`āyatal liqaumiy yażżakkarụn

13. Dan segala [keindahan dari] warna-warni yang telah Dia ciptakan untuk kalian di bumi: dalam hal yang demikian ini, perhatikanlah, sungguh terdapat pesan bagi kaum yang [berkemauan] untuk merenungkannya!


Surah An-Nahl Ayat 14

وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

wa huwallażī sakhkharal-baḥra lita`kulụ min-hu laḥman ṭariyyaw wa tastakhrijụ min-hu ḥilyatan talbasụnahā, wa taral-fulka mawākhira fīhi wa litabtagụ min faḍlihī wa la’allakum tasykurụn

14. Dan Dia-lah yang telah menjadikan lautan tunduk [kepada hukum-hukum-Nya] agar kalian dapat memakan daging segar darinya, dan mengambil darinya perhiasan yang dapat kalian pakai.

Dan, di atas [laut] itu orang melihat10 bahtera-bahtera yang mengarungi gelombang, agar kalian [dapat] pergi mencari sebagian dari karunia-Nya, dan dengan demikian bersyukur [kepada-Nya].


10 Lit., “engkau melihat”.


Surah An-Nahl Ayat 15

وَأَلْقَىٰ فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَأَنْهَارًا وَسُبُلًا لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

wa alqā fil-arḍi rawāsiya an tamīda bikum wa an-hāraw wa subulal la’allakum tahtadụn

15. Dia telah menempatkan gunung-gunung yang kokoh di atas bumi agar bumi itu tidak bergoyang bersama kalian,11 sungai-sungai dan jalan-jalan, agar kalian dapat menemukan jalan kalian,


11 Rupanya, ini mengacu pada fakta bahwa tegaknya gunung-gunung itu di sebabkan oleh proses penyeimbangan bertahap yang berlangsung pada lapisan padat kerak bumi—suatu proses yang, pada gilirannya, merupakan akibat dari sejumlah tekanan dan getaran karena proses pendinginan dan pengerasan zat-zat, yang bergerak dari permukaan menuju pusat , yang mungkin berbentuk cair atau bahkan gas yang tampaknya membentuk lapisan dalam bumi. Kelihatannya, sebagian dari lapisan dalam ini tetap terjaga kepadatannya semata-mata karena tekanan yang sangat besar dari material lapisan yang berada di atasnya, yang mana gunung-gunung adalah bukti yang paling gamblang: dan ini menjelaskan keterangan Al-Quran (pada Surah An-Naba’ [78]: 7) yang menyebutkan gunung-gunung sebagai “pasak-pasak” (autad), yakni, simbol bagi kekokohan dan keseimbangan relatif yang dicapai oleh permukaan bumi secara bertahap sepanjang sejarah geologisnya. Meskipun kenyataannya keseimbangan ini tidak bersifat mutlak (yang dibuktikan dengan adanya gempa bumi dan letusan gunung berapi), kepadatan kerak bumilah—berlaw anan dengan lapisan dalamnya yang mungkin berbentuk cair tapi pasti sangat tidak stabil—yang memungkinkan adanya kehidupan di muka bumi: dan menurut saya, inilah makna dari frasa “agar bumi itu tidak bergoyang bersama kalian” (atau “bersama mereka”) yang terdapat pada ayat di atas serta pada Surah Al-Anbiya’ [21]: 31 dan Surah Luqman [31]: 10.


Surah An-Nahl Ayat 16

وَعَلَامَاتٍ ۚ وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ

wa ‘alāmāt, wa bin-najmi hum yahtadụn

16. dan juga [berbagai] alat-alat petunjuk [lainnya]: sebab, dengan bintang-bintang [itulah], manusia menemukan jalannya.12


12 Lit., “mereka menemukan jalan mereka”. Pasase ini mengakhiri deskripsi sebelumnya mengenai kemurahan Allah kepada manusia, yakni dengan kembali—secara halus—kepada tema yang dibawakan pada ayat 4 dan yang secara tidak langsung disinggung dalam kalimat terakhir ayat 8 serta dalam ayat 14: yaitu, pertimbangan terhadap potensi intelektual manusia—karunia terbesar yang dilimpahkan Allah kepada manusia. (Dalam kaitannya dengan ini, lihat catatan no. 5 di atas, serta alegori tentang penciptaan manusia yang diuraikan dalam Surah Al-Baqarah [2]: 30-33.)


Surah An-Nahl Ayat 17

أَفَمَنْ يَخْلُقُ كَمَنْ لَا يَخْلُقُ ۗ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

a fa may yakhluqu kamal lā yakhluq, a fa lā tażakkarụn

17. MAKA, APAKAH DIA yang menciptakan dapat dibandingkan dengan sembarang [makhluk] yang tidak dapat menciptakan?

Maka, tidakkah kalian mau merenungkan?


Surah An-Nahl Ayat 18

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

wa in ta’uddụ ni’matallāhi lā tuḥṣụhā, innallāha lagafụrur raḥīm

18. Sebab, seandainya kalian mencoba menghitung nikmat-nikmat Allah, niscaya kalian tidak pernah dapat menghitungnya!

Perhatikanlah, Allah benar-benar Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat;


Surah An-Nahl Ayat 19

وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ

wallāhu ya’lamu mā tusirrụna wa mā tu’linụn

19. dan Allah mengetahui segala yang kalian rahasiakan serta segala yang kalian nyatakan.


Surah An-Nahl Ayat 20

وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ

wallażīna yad’ụna min dụnillāhi lā yakhluqụna syai`aw wa hum yukhlaqụn

20. Adapun makhluk-makhluk yang diseru oleh sebagian manusia13 di samping Allah itu tidak dapat menciptakan apa pun, sebab mereka sendiri diciptakan:


13 Lit., “yang mereka seru”: ini mengacu—sebagaimana tampak jelas dari ayat 21 berikut—pada orang-orang suci (wali-wali) yang telah wafat, yang oleh pengikut mereka dianggap memiliki sifat-sifat ketuhanan atau semi-ketuhanan tertentu.


Surah An-Nahl Ayat 21

أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ ۖ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

amwātun gairu aḥyā`, wa mā yasy’urụna ayyāna yub’aṡụn

21. makhluk-makhluk itu mati, tidak hidup,14 dan mereka [bahkan] tidak mengetahui bilakah mereka akan dibangkitkan dari kematian!


14 Bdk. Surah Al-A’raf [7]: 191-194.


Surah An-Nahl Ayat 22

إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ فَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ قُلُوبُهُمْ مُنْكِرَةٌ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ

ilāhukum ilāhuw wāḥid, fallażīna lā yu`minụna bil-ākhirati qulụbuhum mungkiratuw wa hum mustakbirụn

22. Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa: tetapi hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat itu menolak untuk mengakui [kebenaran] ini karena kebanggaan batil mereka.15


15 Yakni, mereka terlalu angkuh untuk menerima gagasan tentang kebergantungan mutlak manusia dan tanggung jawabnya kepada Zat Yang Mahatinggi.


Surah An-Nahl Ayat 23

لَا جَرَمَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ

lā jarama annallāha ya’lamu mā yusirrụna wa mā yu’linụn, innahụ lā yuḥibbul-mustakbirīn

23. Sungguh, Allah mengetahui segala yang mereka rahasiakan serta segala yang mereka nyatakan—[dan,] perhatikanlah, Dia tidak menyukai orang-orang yang cenderung menyombongkan diri,


Surah An-Nahl Ayat 24

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ ۙ قَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

wa iżā qīla lahum māżā anzala rabbukum qālū asāṭīrul-awwalīn

24. dan [yang], manakala mereka ditanya, “Apakah yang telah diturunkan oleh Pemelihara kalian?”—biasa menjawab, “Dongeng orang-orang dahulu!”16


16 Yakni, dengan kata lain, “dan bukan wahyu-wahyu Ilahi” (bdk. Surah Al-Anfal [8]: 21).


Surah An-Nahl Ayat 25

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۙ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

liyaḥmilū auzārahum kāmilatay yaumal-qiyāmati wa min auzārillażīna yuḍillụnahum bigairi ‘ilm, alā sā`a mā yazirụn

25. Karena itu,17 pada Hari Kebangkitan, mereka akan memikul penuh beban mereka sendiri, serta memikul sebagian beban orang-orang tidak berpengetahuan yang telah mereka sesatkan:18 oh, amat buruklah beban yang akan dipikulkan kepada mereka itu!


17 Kata penghubung li yang mendahului verba yahmilu (“mereka akan membawa”) di sini—sebagaimana ditunjukkan Al-Razi—jelas-jelas berfungsi sebagai apa yang oleh para ahli tata bahasa disebut sebagai lam al-‘aqibah, yang hanya menunjukkan rangkaian sebab akibat (‘aqibah); ia dapat diterjemahkan secara tepat dengan memakai partikel penghubung “dan”, atau—sebagaimana dalam konteks ini—dengan kata “karena itu” {hence}.

18 Lit., “orang-orang yang mereka sesatkan tanpa pengetahuan”—yakni, tanpa diketahui atau dipahami oleh orang-orang yang mengikuti itu (Al-Zamakhsyari).


Surah An-Nahl Ayat 26

قَدْ مَكَرَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَأَتَى اللَّهُ بُنْيَانَهُمْ مِنَ الْقَوَاعِدِ فَخَرَّ عَلَيْهِمُ السَّقْفُ مِنْ فَوْقِهِمْ وَأَتَاهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُونَ

qad makarallażīna ming qablihim fa atallāhu bun-yānahum minal-qawā’idi fa kharra ‘alaihimus-saqfu min fauqihim wa atāhumul-‘ażābu min ḥaiṡu lā yasy’urụn

26. Orang-orang yang hidup sebelum mereka pun sungguh telah merencanakan banyak hujatan19—kemudian Allah mendatangkan kehancuran terhadap segala yang pernah mereka bangun,20 [dengan menghantam] pada dasar-dasarnya, sehingga jatuhlah atapnya menimpa mereka dari atas,21 dan penderitaan menimpa mereka tanpa mereka sadari bilakah ia datang.


19 Lit., “telah mengadakan makar” (makara): yakni, mereka menghujat dengan menyatakan wahyu Wahyu Ilahi Sebagai “dongeng-dongeng zaman dahulu” dan dengan menolak mengakui keberadaan Allah atau keesaan dan keunikan-Nya.

20 Lit., “bangunan mereka” (lihat catatan berikut ini).

21 Ini jelas-jelas merupakan sebuah metafora (Al-Razi) yang menggambarkan gagal totalnya seluruh daya upaya—baik yang dilakukan secara individual maupun sosial—yang didasarkan pada ketidakbertuhanan dan kebanggaan batil.


Surah An-Nahl Ayat 27

ثُمَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُخْزِيهِمْ وَيَقُولُ أَيْنَ شُرَكَائِيَ الَّذِينَ كُنْتُمْ تُشَاقُّونَ فِيهِمْ ۚ قَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ إِنَّ الْخِزْيَ الْيَوْمَ وَالسُّوءَ عَلَى الْكَافِرِينَ

ṡumma yaumal-qiyāmati yukhzīhim wa yaqụlu aina syurakā`iyallażīna kuntum tusyāqqụna fīhim, qālallażīna ụtul-‘ilma innal-khizyal-yauma was-sū`a ‘alal-kāfirīn

27. Dan kemudian, pada Hari Kebangkitan, Dia akan menutupi mereka [semua] dengan kenistaan22 dan akan berfirman, “Kini, di manakah makhluk-makhluk itu, yang kalian anggap bersekutu dalam ketuhanan-Ku,23 dan [yang] demi mereka, kalian memutuskan diri [dari petunjuk-Ku]?”24

[Kemudian,] orang-orang yang [dalam kehidupan dunia mereka] dianugerahi dengan pengetahuan25 akan berkata, “Sungguh, kenistaan dan kesengsaraan pada hari ini [telah menimpa] terhadap orang-orang yang mengingkari kebenaran—


22 Yakni, pada akhirnya, Dia akan menutupi mereka [semua] secara total dengan kenistaan—sebab, “baru pada Hari Kebangkitan-lah kalian akan mendapat balasan sepenuhnya [atas apa saja yang telah kalian lakukan]” (Surah Al-‘Imran [3]: 185). Karena kata ganti “mereka” mengacu bukan hanya pada para pendosa terdahulu yang disebut dalam kalimat sisipan dalam ayat sebelumnya melainkan juga pada orang-orang yang dibicarakan dalam ayat 22-25, saya menyisipkan kata “semua”.

23 Lit., “mereka [yang diduga sebagai] sekutu-sekutu-Ku itu”. Mengenai penggunaan istilah syarik (jamak: syuraka’) dalam Al-Quran dalam kaitannya dengan kepercayaan keagamaan, lihat Surah Al-An’am [6] catatan no. 15.

24 Atau: “kalian terbiasa melawan [petunjuk-Ku]”. Dalam kaitan ini, lihat Surah Al-Anfal [8], catatan no. 16.

25 Yakni, mereka yang telah mengambil manfaat dari pengetahuan tentang yang baik dan yang buruk yang ditawarkan Allah kepada manusia melalui para nabi-Nya.


Surah An-Nahl Ayat 28

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ ۖ فَأَلْقَوُا السَّلَمَ مَا كُنَّا نَعْمَلُ مِنْ سُوءٍ ۚ بَلَىٰ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

allażīna tatawaffāhumul-malā`ikatu ẓālimī anfusihim fa alqawus-salama mā kunnā na’malu min sū`, balā innallāha ‘alīmum bimā kuntum ta’malụn

28. orang-orang yang diwafatkan para malaikat dalam keadaan masih menzalimi diri mereka sendiri!”

Kemudian, mereka [yang didakwa] itu akan mengajukan penyerahan diri mereka [seraya berkata], “Kami tidak [bermaksud untuk] mengerjakan kejahatan apa pun!”26

[Tetapi, jawaban untuk mereka adalah,] “Ya, sungguh, Allah Maha Mengetahui segala yang telah kalian kerjakan!”27


26 Bdk. Surah Al-An’am [6]: 23 dan catatan-catatannya, serta Surah Al-Baqarah [2]: 11.

27 Jadi, secara tersirat, “dan Dia akan mengadili kalian berdasarkan motivasi kalian”—menunjukkan tertolaknya dalih ketidaktahuan yang diajukan oleh mereka, mengingat bahwa mereka telah diberi petunjuk oleh Allah melalui pesan-pesan yang diwahyukan-Nya, yang kemudian dengan sengaja mereka cemoohkan karena kesombongan mereka dan menolaknya mentah-mentah sebagai “dongeng orang-orang dahulu” (lihat ayat 22-24).


Surah An-Nahl Ayat 29

فَادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۖ فَلَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ

fadkhulū abwāba jahannama khālidīna fīhā, fa labi`sa maṡwal-mutakabbirīn

29. Karena itu, masukilah pintu-pintu neraka, di dalamnya (kalian) tinggal!”

Dan, sungguh buruklah keadaan semua orang yang cenderung menyombongkan diri itu!


Surah An-Nahl Ayat 30

وَقِيلَ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ ۚ قَالُوا خَيْرًا ۗ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۚ وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ ۚ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ

wa qīla lillażīnattaqau māżā anzala rabbukum, qālụ khairā, lillażīna aḥsanụ fī hāżihid-dun-yā ḥasanah, wa ladārul-ākhirati khaīr, wa lani’ma dārul-muttaqīn

30. Namun, [ketika] orang-orang yang sadar akan Allah ditanya, “Apakah yang telah diturunkan oleh Pemelihara kalian?”—mereka menjawab, ”Kebaikan tertinggi!”

Kebaikan* di dunia ini menanti semua orang yang gigih melakukan kebaikan;28 tetapi, keadaan akhir mereka masih akan jauh lebih baik lagi: sebab, sungguh betapa istimewanya [dalam kehidupan akhirat] keadaan orang-orang yang sadar akan Allah!


28 “Kebaikan” (hasanah; good fortune*) ini, dalam konteks ini tidak mesti berarti keuntungan materiel, tetapi lebih mengacu pada kepuasan ruhani dan perasaan keamanan batin yang timbul dari kesadaran yang murni akan keberadaan Allah (takwa—peny.).

* {Di sini, Muhammad Asad menerjemahkan hasanah menjadi “good fortune“; fortune bisa berarti “keberuntungan”, “nasib baik”, dan juga “harta kekayaan”.—peny.}


Surah An-Nahl Ayat 31

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ لَهُمْ فِيهَا مَا يَشَاءُونَ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْزِي اللَّهُ الْمُتَّقِينَ

jannātu ‘adniy yadkhulụnahā tajrī min taḥtihal-an-hāru lahum fīhā mā yasyā`ụn, każālika yajzillāhul-muttaqīn

31. Taman-taman kebahagiaan abadi akan mereka masuki—[taman-taman] yang dilalui aliran sungai-sungai—di dalamnya mereka mendapati segala yang mungkin mereka kehendaki.

Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang sadar akan Dia—


Surah An-Nahl Ayat 32

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ ۙ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

allażīna tatawaffāhumul-malā`ikatu ṭayyibīna yaqụlụna salāmun ‘alaikumudkhulul-jannata bimā kuntum ta’malụn

32. orang-orang yang dijemput—maut oleh para malaikat ketika mereka berada dalam keadaan suci-batin, seraya menyapa mereka demikian: “Kedamaian semoga tercurah atas kalian! Masuklah ke dalam surga berkat apa yang telah kalian kerjakan [dalam kehidupan di dunia]!”


Surah An-Nahl Ayat 33

هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ أَمْرُ رَبِّكَ ۚ كَذَٰلِكَ فَعَلَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ وَمَا ظَلَمَهُمُ اللَّهُ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

hal yanẓurụna illā an ta`tiyahumul-malā`ikatu au ya`tiya amru rabbik, każālika fa’alallażīna ming qablihim, wa mā ẓalamahumullāhu wa lāking kānū anfusahum yaẓlimụn

33. APAKAH MEREKA [yang mengingkari kebenaran] hanyalah menanti malaikat muncul di hadapan mereka, atau menunggu terwujudnya keputusan Pemelihara kalian?29

Demikianlah perilaku orang-orang [pendosa yang keras kepala] yang hidup sebelum masa mereka; dan [ketika mereka dibinasakan,] bukanlah Allah yang menzalimi mereka, melainkan merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri:


29 Lit., “datangnya para malaikat kepada mereka atau datangnya keputusan (amr) Allah”—yakni, Hari Kebangkitan. Makna utuh dari pasase ini terdapat dalam Surah Al-An’am [6]: 158, yang diwahyukan pada periode yang sama dengan surah ini.


Surah An-Nahl Ayat 34

فَأَصَابَهُمْ سَيِّئَاتُ مَا عَمِلُوا وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

fa aṣābahum sayyi`ātu mā ‘amilụ wa ḥāqa bihim mā kānụ bihī yastahzi`ụn

34. sebab, seluruh kejahatan yang telah mereka perbuat [kembali] menimpa mereka; dan mereka diliputi oleh sesuatu yang biasa mereka cemoohkan itu.30


30 Lihat Surah Al-An’am [6]: 10 dan catatannya. Frasa-frasa yang mirip muncul dalam banyak tempat lainnya dalam Al-Quran, dan selalu mengacu pada cemoohan terhadap pesan-pesan Ilahi, dan khususnya, pada prediksi terhadap datangnya hukuman Allah kepada para pendosa yang terkutuk. Sebagaimana yang sudah sering dijelaskan, di sini Al-Quran menunjukkan bahwa “hukuman” atau “penderitaan” (‘adzab) ini hanyalah suatu konsekuensi alamiah yang tidak terelakkan dari kezaliman yang dilakukan dengan sengaja: karena itu, orang yang melakukan kezaliman, kenyataannya, “berbuat zalim kepada dirinya sendiri” atau “berdosa terhadap dirinya sendiri” lantaran dia menghancurkan integritas ruhaninya sendiri dan karena itu pasti akan menderita olehnya.


Surah An-Nahl Ayat 35

وَقَالَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا عَبَدْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ نَحْنُ وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ ۚ كَذَٰلِكَ فَعَلَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

wa qālallażīna asyrakụ lau syā`allāhu mā ‘abadnā min dụnihī min syai`in naḥnu wa lā ābā`unā wa lā ḥarramnā min dụnihī min syaī`, każālika fa’alallażīna ming qablihim, fa hal ‘alar-rusuli illal-balāgul-mubīn

35. Adapun orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah berkata, “Seandainya Allah menghendaki, kami tidak akan menyembah sesuatu pun melainkan Dia—baik kami maupun nenek moyang kami; dan kami tidak mengharamkan apa pun tanpa perintah dari-Nya.”31

Demikianlah yang dikatakan orang-orang [pendosa] yang hidup sebelum masa mereka; tetapi, kemudian, apakah para rasul harus melakukan sesuatu yang lebih daripada sekadar menyampaikan dengan jelas pesan [yang diamanatkan kepada mereka]?32


31 Lit., “selain dari-Nya”. Dalam kaitan ini, lihat Surah Al-An’am [6]: 148 dan catatannya, no. 141. (Sejumlah larangan dan tabu yang ditetapkan secara arbitrer dan tidak berdasar yang disinggung dalam ayat tersebut dan juga dalam ayat ini dibahas dalam Surah Al-An’am [6]: 136-153 dan dijelaskan dalam catatan-catatannya.) Cemoohan terhadap pesan-pesan Allah yang dilakukan oleh para pengingkar kebenaran ini tersirat dalam tindakan mereka yang mempertanyakan anugerah kebebasan berkehendak yang diberikan-Nya kepada manusia—yakni, kemampuan untuk memilih antara yang benar dan yang salah, yang menjadi dasar seluruh moralitas.

32 Yakni, para rasul tidak dapat memaksa siapa pun untuk membuat pilihan yang benar.


Surah An-Nahl Ayat 36

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

wa laqad ba’aṡnā fī kulli ummatir rasụlan ani’budullāha wajtanibuṭ-ṭāgụt, fa min-hum man hadallāhu wa min-hum man ḥaqqat ‘alaihiḍ-ḍalālah, fa sīrụ fil-arḍi fanẓurụ kaifa kāna ‘āqibatul-mukażżibīn

36. Dan sungguh, di dalam setiap masyarakat,33 telah Kami bangkitkan seorang rasul [yang diberi amanat untuk menyampaikan pesan ini], “Sembahlah Allah, dan jauhilah kuasa-kuasa jahat!”34

Dan di antara [generasi-generasi silam] itu terdapat orang-orang yang telah dirahmati Allah dengan petunjuk-Nya,35 sebagaimana ada [banyak orang] di antara mereka yang tidak terhindarkan lagi terjerumus dalam kesalahan yang besar:36 maka, bepergianlah di muka bumi dan perhatikanlah apa yang akhirnya terjadi pada orang-orang yang mendustakan kebenaran!


33 Atau “pada setiap zaman”, karena istilah ummah juga mengandung makna ini. Dalam pengertiannya yang lebih luas, di sini ia juga bisa berarti “peradaban”, jadi mencakup sekelompok manusia sekaligus periode waktu.

34 Untuk terjemahan istilah al-thaghut ini, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 250. Hendaknya diingat bahwa, dalam peristilahan Al-Quran, “menyembah Allah” selalu menyiratkan konsep rasa tanggung jawab manusia di hadapan-Nya: karena itu, perintah di atas—dalam rumusan paling ringkas yang dapat dibayangkan—mencakup total keseluruhan semua perintah dan larangan etis, dan merupakan dasar dan sumber seluruh moralitas, serta suatu pesan yang tidak berubah-ubah yang terkandung dalam setiap agama yang sejati.

35 Yakni, yang mengambil manfaat dari petunjuk yang ditawarkan oleh-Nya kepada semua manusia.

36 Lit., “yang terhadap mereka kesalahan menjadi tak terelakkan (haqqa ‘alaihi)” atau “yang terhadap mereka [suatu putusan] bersalah menjadi tak terelakkan”: yakni, seseorang yang hatinya “telah Allah tutup” sebagai akibat dari tindakan sadarnya yang berkukuh menolak petunjuk-Nya (lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no.7, serta Surah Ibrahim [14], catatan no. 4).


Surah An-Nahl Ayat 37

إِنْ تَحْرِصْ عَلَىٰ هُدَاهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ يُضِلُّ ۖ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

in taḥriṣ ‘alā hudāhum fa innallāha lā yahdī may yuḍillu wa mā lahum min nāṣirīn

37. [Adapun orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran—] meskipun engkau sangat berhasrat untuk menunjukkan kepada mereka jalan yang benar, [ketahuilah bahwa,] sungguh, Allah tidak memberikan petunjuk-Nya kepada siapa pun yang Dia nilai telah tersesat;37 dan orang yang demikian itu tidak mempunyai seorang penolong pun [pada Hari Kebangkitan].


37 Lihat catatan sebelumnya, juga Surah Al-Anfal [8]: 55 dan catatannya, no. 58.


Surah An-Nahl Ayat 38

وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ ۙ لَا يَبْعَثُ اللَّهُ مَنْ يَمُوتُ ۚ بَلَىٰ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

wa aqsamụ billāhi jahda aimānihim lā yab’aṡullāhu may yamụt, balā wa’dan ‘alaihi ḥaqqaw wa lākinna akṡaran-nāsi lā ya’lamụn

38. Namun demikian,38 mereka bersumpah demi Allah dengan sumpah mereka yang paling sungguh-sungguh; “Allah tidak akan pernah membangkitkan siapa pun yang telah mati!”39

Bahkan, sungguh! [Ini telah Allah janjikan] dengan sebuah janji yang telah Dia tetapkan terhadap Diri-Nya sendiri; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.


38 Lit., “Dan”—namun, karena kata penghubung ini jelas-jelas dimaksudkan untuk menguraikan pernyataan sebelumnya, sebaiknya ia diterjemahkan seperti di atas.

39 Pengingkaran yang tegas terhadap adanya kebangkitan ini—yang menunjukkan pengingkaran terhadap adanya pengadilan terakhir oleh Tuhan berkenaan dengan kebaikan dan keburukan—merupakan ciri sikap mental yang menolak mengakui adanya realitas, atau bahkan adanya kemungkinan, apa pun yang berada di luar lingkup pengamatan aktual atau potensial manusia. Karena sikap seperti ini merupakan akibat dari pandangan yang secara intrinsik bersifat materialistik terhadap kehidupan dan akibat dari “kebanggaan batil” yang dirujuk pada ayat 22-23, sikap ini bersifat anti-agama dalam pengertian yang paling luas dari kata ini, sekalipun ia disertai dengan keimanan yang samar-samar—karena tidak dihayati sebagai sesuatu yang penting—terhadap keberadaan Allah.


Surah An-Nahl Ayat 39

لِيُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي يَخْتَلِفُونَ فِيهِ وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّهُمْ كَانُوا كَاذِبِينَ

liyubayyina lahumullażī yakhtalifụna fīhi wa liya’lamallażīna kafarū annahum kānụ kāżibīn

39. [Dia akan membangkitkan mereka] agar Allah dapat menjelaskan kepada mereka semua hal yang [kini] mereka perselisihkan,40 dan agar orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran [tentang kebangkitan] akhirnya dapat mengetahui bahwa mereka adalah pendusta.


40 Yakni, pertama-tama, tentang kebenaran akan terjadinya kebangkitan dan pengadilan itu sendiri, dan secara umum, tentang jawaban final terhadap segala persoalan metafisika yang membingungkan manusia selama hidupnya di dunia.


Surah An-Nahl Ayat 40

إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

innamā qaulunā lisyai`in iżā aradnāhu an naqụla lahụ kun fa yakụn

40. Manakala Kami menghendaki untuk menjadikan apa saja, Kami hanya mengatakan kepadanya firman Kami “Jadilah”—maka terjadilah ia!


Surah An-Nahl Ayat 41

وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

wallażīna hājarụ fillāhi mim ba’di mā ẓulimụ lanubawwi`annahum fid-dun-yā ḥasanah, wa la`ajrul-ākhirati akbar, lau kānụ ya’lamụn

41. ADAPUN orang-orang yang hijrah meninggalkan ranah kejahatan41 karena Allah, sesudah mereka merasakan derita kezaliman [sehubungan dengan keimanan mereka]—Kami pasti akan menganugerahkan kepada mereka kedudukan yang baik di dunia;42 tetapi pahala mereka dalam kehidupan akhirat akan jauh lebih besar.

Andaikan saja mereka [yang mengingkari kebenaran] itu dapat memahami43


41 Untuk penjelasan terhadap terjemahan alladzina hajaru ini, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 203, dan Surah An-Nisa’ [4], catatan no. 124. Bahwa “meninggalkan ranah kejahatan (berhijrah)” di sini memiliki konotasi spiritual-murni tampak jelas dari pensejajarannya dengan “mengingkari kebenaran” yang dirujuk dalam ayat-ayat sebelumnya.

42 Lihat catatan no. 28.

43 Verba ‘alima, yang utamanya berarti “dia telah mengetahui”, juga berarti “dia menjadi tahu”, yakni, “dia telah mengerti”; dan—sebagaimana dijelaskan oleh Al-Baghawi, Al-Zamakhsyari, dan Al-Razi—karena kata ganti “mereka” dalam frasa lau kanu ya’lamun mengacu kepada para pengingkar kebenaran yang dibicarakan dalam pasase-pasase terdahulu, jelaslah bahwa terjemahan “andaikan saja mereka dapat memahami”-lah yang diindikasikan di sini—apalagi karena ia memberikan kaitan yang sangat jelas dengan klausa objektif berikutnya.


Surah An-Nahl Ayat 42

الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

allażīna ṣabarụ wa ‘alā rabbihim yatawakkalụn

42. orang-orang yang, setelah meraih kesabaran dalam menghadapi kesusahan, bersandar penuh percaya kepada Pemelihara mereka saja!44


44 {in their Sustainer place their trust: bertawakal} Yakni, jika mereka benar-benar bisa memahami motivasi spiritual orang-orang beriman, mereka (para pengingkar kebenaran itu) sendiri pun akan mulai beriman.


Surah An-Nahl Ayat 43

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ ۚ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

wa mā arsalnā ming qablika illā rijālan nụḥī ilaihim fas`alū ahlaż-żikri ing kuntum lā ta’lamụn

43. DAN [bahkan] sebelum masamu [wahai Muhammad], Kami tidak pernah mengutus seorang pun [sebagai rasul Kami] kecuali manusia [biasa], yang Kami beri wahyu:45 dan jika kalian masih belum mengetahui hal ini, tanyakanlah kepada para penganut wahyu46 [terdahulu],


45 Pasase ini mempunyai dua makna: pertama, ia berhubungan dengan pernyataan yang disebutkan dalam ayat 36 bahwa rasul-rasul Allah telah datang, pada satu atau lain masa, pada setiap peradaban, dan bahwa, sebagai konsekuensinya, tidak ada satu pun kelompok manusia yang secara substansial pernah dibiarkan tanpa mendapat petunjuk Allah; kedua, ia menjawab keberatan yang sering dikemukakan oleh orang-orang yang tidak beriman bahwa Muhammad tidak mungkin merupakan rasul Allah karena dia “adalah manusia biasa saja”. (Mengenai doktrin Al-Quran bahwa tidak ada satu pun makhluk, tidak pula nabi, yang pernah dianugerahi dengan kekuatan atau sifat-sifat “adi-alami”, lihat Surah Al-An’am [6]: 50 dan Surah Al-A’raf [7]: 188 serta catatan-catatannya yang terkait dengan ayat-ayat tersebut; lihat juga catatan no. 94 pada Surah Al-An’am [6]: 109.)

46 Lit., “pengingat”—karena setiap pesan Ilahi dimaksudkan untuk mengingatkan seseorang pada kebenaran. Kaum yang hendaknya ditanyai untuk mendapatkan penerangan mengenai hal ini tampaknya adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani (Al-Thabari, Al-Zamakhsyari).


Surah An-Nahl Ayat 44

بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ ۗ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

bil-bayyināti waz-zubur, wa anzalnā ilaikaż-żikra litubayyina lin-nāsi mā nuzzila ilaihim wa la’allahum yatafakkarụn

44. [dan mereka akan mengatakan kepadamu bahwa nabi-nabi mereka pun adalah manusia biasa yang telah Kami anugerahi] dengan seluruh bukti kebenaran dan dengan kitab-kitab hikmat Ilahi.47

Dan kepadamu [pula] Kami telah menurunkan pengingat ini, agar engkau menerangkan kepada umat manusia segala yang pernah diturunkan kepada mereka,48 dan supaya mereka berpikir.


47 Kalimat di atas ditujukan, secara tersisip, kepada semua yang mempertanyakan apakah Al-Quran benar-benar berasal dari Allah berdasarkan alasan-alasan yang disebutkan pada catatan no. 45. Untuk penjelasan bagi istilah zubur (“kitab-kitab hikmat Ilahi”), lihat Surah Al-Anbiya’ [21], catatan no. 101.

48 Dengan kata lain, “melalui wahyu”—menyiratkan pengertian bahwa nilai-nilai moral sifatnya bebas dari segala perubahan zaman dan, karenanya, harus dianggap permanen.


Surah An-Nahl Ayat 45

أَفَأَمِنَ الَّذِينَ مَكَرُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ يَخْسِفَ اللَّهُ بِهِمُ الْأَرْضَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُونَ

a fa aminallażīna makarus-sayyi`āti ay yakhsifallāhu bihimul-arḍa au ya`tiyahumul-‘ażābu min ḥaiṡu lā yasy’urụn

45. Maka, dapatkah orang-orang yang menyusun rencana jahat itu49 merasa aman bahwa Allah tidak akan menjadikan bumi menelan mereka,50 atau bahwa penderitaan tidak akan menimpa mereka tanpa mereka menyadari kapan [ia datang]?—


49 Menurut hemat saya, yang dimaksud dengan “rencana jahat” di sini adalah sistem filsafat yang mengingkari Allah dan sistem moralitas yang sesat.

50 Yakni, meluluhlantakkan mereka.


Surah An-Nahl Ayat 46

أَوْ يَأْخُذَهُمْ فِي تَقَلُّبِهِمْ فَمَا هُمْ بِمُعْجِزِينَ

au ya`khużahum fī taqallubihim fa mā hum bimu’jizīn

46. atau bahwa Allah tidak akan menghukum mereka [dengan tiba-tiba] di tengah-tengah kedatangan dan kepergian mereka,51 tanpa mereka mampu mengelak [dari-Nya],


51 Yakni, di tengah-tengah kesibukan mereka sehari-hari. Penyisipan kata “tiba-tiba” yang saya lakukan dibenarkan berdasarkan keterangan, dalam ayat berikutnya; yang merujuk pada bentuk kerusakan lainnya, yaitu yang terjadi secara bertahap.


Surah An-Nahl Ayat 47

أَوْ يَأْخُذَهُمْ عَلَىٰ تَخَوُّفٍ فَإِنَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

au ya`khużahum ‘alā takhawwuf, fa inna rabbakum lara`ụfur raḥīm

47. atau Allah menghukum mereka dengan kehancuran yang perlahan-lahan?52

Dan sungguhpun begitu, perhatikanlah, Pemelihara kalian adalah Maha Pelimpah Kasih, Sang Pemberi Rahmat!53


52 Salah satu arti takhawwuf adalah “penyusutan bertahap” atau “kerusakan” atau “kerusakan yang lambat” (Lisan Al-‘Arab, entri khawafa; demikian juga Al-Thabari dan Al-Zamakhsyari); dalam konteks di atas, istilah tersebut jelas mempunyai konotasi sosial dan moral: proses disintegrasi seluruh nilai-nilai etika, kekuasaan, ikatan sosial, kebahagiaan, dan akhirnya, disintegrasi kehidupan itu sendiri, yang berlangsung secara betahap.

53 Secara tersirat, “mengingat bahwa Dia menawarkan petunjuk kepada kalian melalui para nabi-Nya, dan memberi kalian waktu untuk merenung dan memperbaiki jalan hidup kalian sebelum kalian melakukan kesalahan yang tidak dapat diperbaiki yang akan merugikan diri kalian sendiri”.


Surah An-Nahl Ayat 48

أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَىٰ مَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ يَتَفَيَّأُ ظِلَالُهُ عَنِ الْيَمِينِ وَالشَّمَائِلِ سُجَّدًا لِلَّهِ وَهُمْ دَاخِرُونَ

a wa lam yarau ilā mā khalaqallāhu min syai`iy yatafayya`u ẓilāluhụ ‘anil-yamīni wasy-syamā`ili sujjadal lillāhi wa hum dākhirụn

48. LALU, APAKAH mereka [yang mengingkari kebenaran itu] tidak pernah mempertimbangkan apa pun dari hal-hal yang telah Allah ciptakan54—[bagaimana] bayangan mereka mengarah ke kanan dan ke kiri, bersujud di hadapan Allah dan berserah diri sepenuhnya [kepada kehendak-Nya]?55


54 Mengingat kata-kata binatang dan malaikat, dalam ayat berikutnya, yang disebutkan secara terpisah, “hal-hal” yang dirujuk di sini tampaknya menunjukkan benda-benda mati dan mungkin juga organisme hidup seperti tetumbuhan.

55 Lit., “mereka benar-benar menjadi rendah” atau “tunduk”. “Sujud” yang dirujuk dalam ayat ini dan ayat berikutnya jelas-jelas merupakan simbolisme yang mengungkapkan ketundukan intrinsik seluruh makhluk dan benda kepada kehendak Allah. Lihat juga Surah Ar-Ra’d [13]: 15 dan catatan-catatannya (no. 33 dan 34).


Surah An-Nahl Ayat 49

وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ دَابَّةٍ وَالْمَلَائِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

wa lillāhi yasjudu mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍi min dābbatiw wal-malā`ikatu wa hum lā yastakbirụn

49. Karena, di hadapan Allah-lah bersujud segala yang berada di lelangit dan segala yang ada di bumi—setiap binatang yang bergerak, dan para malaikat:56 [bahkan] mereka tidak bersikap sombong:


56 Yakni, yang terendah maupun yang tertinggi. Istilah dabbah berarti setiap makhluk fisik yang berperasaan, yang mampu bergerak secara spontan, dan di sini dikontraskan dengan makhluk-makhluk spiritual yang tidak memiliki wujud materiel yang dikenal sebagai “malaikat” (Al-Razi).


Surah An-Nahl Ayat 50

يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

yakhāfụna rabbahum min fauqihim wa yaf’alụna mā yu`marụn

50. mereka takut kepada Pemeliharanya yang berada tinggi di atas mereka, dan melaksanakan apa pun yang diperintahkan kepada mereka.57


57 Yakni, berdasarkan fitrah mereka, malaikat-malaikat itu harus menuruti naluri yang telah ditanamkan Allah dalam diri mereka dan, karena itu, tidak sanggup untuk melakukan apa yang digambarkan sebagai “dosa”. Namun, manusia berbeda secara mendasar dalam hal ini. Berlawanan dengan “setiap binatang yang bergerak dan malaikat” yang secara alami tidak mengenal dosa, manusia dianugerahi dengan kebebasan berkehendak dalam pengertian moral dari istilah ini, yakni: dia dapat memilih antara yang benar dan yang salah—dan karenanya dia dapat, bahkan sering, berbuat dosa. Namun, meskipun dia berbuat dosa, pada saat yang sama dia tunduk pada hukum sebab-akibat universal yang ditetapkan oleh Allah, dan yang dirujuk dalam Al-Quran sebagai sunnat Allah (“ketetapan Allah”): karenanya, Al-Quran menyatakan bahwa “segala [benda dan makhluk] yang ada di lelangit dan bumi bersujud di hadapan Allah dengan sukarela maupun terpaksa” (Surah Ar-Ra’d [13]: 15).


Surah An-Nahl Ayat 51

وَقَالَ اللَّهُ لَا تَتَّخِذُوا إِلَٰهَيْنِ اثْنَيْنِ ۖ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

wa qālallāhu lā tattakhiżū ilāhainiṡnaīn, innamā huwa ilāhuw wāḥidun fa iyyāya far-habụn

51. Dan Allah telah berfirman, “Janganlah kalian menyembah dua tuhan [atau lebih].58 Dia-lah Yang Maha Esa dan satus-atunya Tuhan: karena itu, hanya kepada-Ku, hanya kepada-Ku-lah hendaknya kalian merasa gentar!”59


58 Bentuk dual ganda dalam frasa ilahain itsnain (“dua tuhan”) berfungsi untuk menekankan larangan menyembah “lebih dari satu tuhan”—yakni, segala sesuatu selain Allah Yang Esa.

59 Inilah contoh yang mencolok mengenai perubah-ubahan kata ganti dalam AI-Quran manakala kata ganti tersebut mengacu pada Allah. Sebagaimana yang telah saya jelaskan dalam Prakata (catatan kaki no. 2) serta pada tempat-tempat lain, perubahan kata ganti secara mendadak (“Dia”, “Aku”, “Kami”, dan sebagainya) menunjukkan bahwa Allah tidak terbatas dan, karenanya, melampaui cakupan definisi yang ditunjukkan dalam penggunaan kata ganti “personal”.


Surah An-Nahl Ayat 52

وَلَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَهُ الدِّينُ وَاصِبًا ۚ أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَتَّقُونَ

wa lahụ mā fis-samāwāti wal-arḍi wa lahud-dīnu wāṣibā, a fa gairallāhi tattaqụn

52. Dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu yang ada di lelangit dan di bumi, dan kepada-Nya [sajalah] kepatuhan itu selalu diperuntukkan: maka, akankah kalian bersikap takzim kepada selain Allah?


Surah An-Nahl Ayat 53

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

wa mā bikum min ni’matin fa minallāhi ṡumma iżā massakumuḍ-ḍurru fa ilaihi taj`arụn

53. Karena, kebaikan apa pun yang datang kepada kalian, datangnya dari Allah; dan manakala bahaya menimpa kalian, kepada-Nya-lah kalian menghiba pertolongan60


60 Bdk. Surah Al-An’am [6]: 40-41.


Surah An-Nahl Ayat 54

ثُمَّ إِذَا كَشَفَ الضُّرَّ عَنْكُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْكُمْ بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ

ṡumma iżā kasyafaḍ-ḍurra ‘angkum iżā farīqum mingkum birabbihim yusyrikụn

54. namun, begitu Dia menghilangkan bahaya itu dari kalian, lihatlah! sebagian dari kalian [mulai] menganggap bahwa kekuatan-kekuatan Iain bersekutu dalam ketuhanan Pemelihara mereka,61


61 Lit., “menyekutukan [kekuatan lain] dengan Pemelihara mereka”: jadi, dengan menisbahkan berubahnya “peruntungan” mereka kepada apa yang dianggap sebagai faktor-faktor dan pengaruh-pengaruh “eksternal”, mereka menganggap bahwa—demikianlah kira-kira—faktor dan pengaruh tersebut memiliki sifat-sifat dan kuasa-kuasa Ilahi.


Surah An-Nahl Ayat 55

لِيَكْفُرُوا بِمَا آتَيْنَاهُمْ ۚ فَتَمَتَّعُوا ۖ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ

liyakfurụ bimā ātaināhum, fa tamatta’ụ, fa saufa ta’lamụn

55. [seolah-olah] untuk membuktikan rasa tidak berterima kasih mereka atas semua yang telah Kami berikan kepada mereka!

Maka, nikmatilah kehidupan kalian [nan singkat]: tetapi, kelak akhirnya kalian akan mengetahui [kebenaran]!


Surah An-Nahl Ayat 56

وَيَجْعَلُونَ لِمَا لَا يَعْلَمُونَ نَصِيبًا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ ۗ تَاللَّهِ لَتُسْأَلُنَّ عَمَّا كُنْتُمْ تَفْتَرُونَ

wa yaj’alụna limā lā ya’lamụna naṣībam mimmā razaqnāhum, tallāhi latus`alunna ‘ammā kuntum taftarụn

56. Demikianlah adanya, mereka menisbahkan—dari rezeki yang telah Kami anugerahkan kepada mereka—suatu andil terhadap hal-hal yang sama sekali tidak mereka ketahui.62

Demi Allah, kalian pasti akan dimintai pertanggungjawaban tentang semua rekaan-rekaan batil kalian!


62 Menurut mayoritas mufasir klasik, hal ini berhubungan dengan kebiasaan bangsa Arab musyrik—yang disebutkan dalam Surah Al-An’am [6]: 136—untuk mempersembahkan sebagian hasil produksi pertanian dan ternak mereka kepada berhala-berhala mereka; dan karena berhala-berhala tersebut merupakan rekaan khayali saja, di sini mereka digambarkan sebagai “hal-hal yang tidak mereka ketahui”. Namun, sebagaimana yang telah saya jelaskan dalam catatan no. 120 pada Surah Al-An’am [6]: 136, pernyataan di atas mengandung makna yang jauh lebih luas dan lebih umum, yaitu: ia berkaitan langsung dengan tiga ayat sebelumnya, yakni, dengan penisbahan suatu andil (nashib) dalam daya cipta Allah—dan karena itu, penisbahan pengaruh yang menentukan atas kehidupan seseorang—kepada “sebab-sebab” atau “kekuatan-kekuatan” selain Dia. Pandangan ini juga dikemukakan oleh Al-Razi (dengan secara khusus merujuk kepada spekulasi-spekulasi astrologis) dalam kalimat penutup pada penafsirannya terhadap ayat di atas.


Surah An-Nahl Ayat 57

وَيَجْعَلُونَ لِلَّهِ الْبَنَاتِ سُبْحَانَهُ ۙ وَلَهُمْ مَا يَشْتَهُونَ

wa yaj’alụna lillāhil-banāti sub-ḥānahụ wa lahum mā yasytahụn

57. Dan [demikian juga] mereka menisbahkan anak-anak perempuan bagi Allah, yang tiada batas dalam kemuliaan-Nya63—sedangkan untuk mereka sendiri [andaikan mereka mampu, mereka hanya memilih] apa yang mereka inginkan:64


63 Bangsa Arab pra-Islam percaya bahwa dewi-dewi Al-Lat, Al-‘Uzza, dan Manat (lihat catatan no. 13 pada Surah An-Najm [53]: 19-20), serta para malaikat, yang mereka anggap sebagai perempuan, merupakan “anak-anak perempuan Allah”. Sebagai bantahan terhadap kepercayaan ini, Al-Quran menyatakan bahwa Allah amat jauh dari segala ketidaksempurnaan (subhanahu), bahwa Dia utuh dalam Diri-Nya Sendiri, dan karenanya, bebas dari ketidak-utuhan yang melekat pada konsep “keturunan” sebagai keberlangsungan wujud seseorang (bdk. Surah Al-An’am [6]: 100 dan catatannya—no. 87 dan 88). Pasase sisipan ini, yang terdiri dari ayat 57-59, dijelaskan dalam catatan no. 66 di bawah.

64 Yaitu, hanya keturunan laki-laki, karena bangsa Arab pra-Islam menganggap anak perempuan tidak lebih daripada suatu keburukan yang dibutuhkan (necessary evil).


Surah An-Nahl Ayat 58

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَىٰ ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ

wa iżā busysyira aḥaduhum bil-unṡā ẓalla waj-huhụ muswaddaw wa huwa kaẓīm

58. sebab, manakala seseorang dari mereka diberi kabar gembira dengan [kelahiran] anak perempuan,65 wajahnya menghitam dan dirinya dipenuhi dengan kemarahan yang ditahan-tahan,


65 Yakni, suatu berita yang seharusnya dianggap sebagai kabar gembira karena jenis kelamin anak seharusnya tidak menyebabkan perbedaan apa pun dalam hal cinta kasih orangtua kepadanya.


Surah An-Nahl Ayat 59

يَتَوَارَىٰ مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ ۚ أَيُمْسِكُهُ عَلَىٰ هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

yatawarā minal-qaumi min sū`i mā busysyira bih, a yumsikuhụ ‘alā hụnin am yadussuhụ fit-turāb, alā sā`a mā yaḥkumụn

59. seraya menghindari semua orang karena buruknya [anggapan orang-orang terhadap] berita gembira yang diterimanya, [batinnya berkecamuk:] Haruskah dia mempertahankan [anak] ini terlepas dari rasa jijik [yang dia rasakan terhadap anak itu]—atau, mestikah dia menguburnya dalam tanah? Oh, alangkah buruknya apa pun yang mereka putuskan!66


66 Yakni, kedua pilihan tersebut sama-sama buruk: yakni, memelihara anak itu untuk selanjutnya menjadi sasaran hinaan yang terus-menerus, atau menguburnya hidup-hidup, sebagaimana yang sering dilakukan oleh orang Arab pagan.

Sebagaimana yang selalu terjadi pada setiap ayat Al-Quran yang merujuk kejadian atau kebiasaan historis, pasase ini—yang dengan amat keras mengutuk cara laki-laki memperlakukan wanita di Jazirah Arab pra-Islam—mengandung makna yang jauh melampaui fenomena sosial spesifik ini serta tindakan pembunuhan bayi yang merupakan akibat darinya. Tampaknya, hal yang paling penting dari keseluruhan pasase itu adalah kalimat “untuk mereka sendiri [andaikan mereka mampu, mereka hanya memilih] apa yang mereka sukai”: dengan kata lain, sementara mereka dengan teramat ekstrem mengasosiasikan kepada Allah sejumlah gagasan yang bagi diri mereka sendiri menjijikkan (misalnya, anak perempuan, yang dipandang rendah oleh mereka sendiri), mereka tidak bersedia menerima konsep pertanggungjawaban akhir manusia di hadapan-Nya, karena konsep seperti ini—yang mewajibkan mereka membebani diri dengan suatu disiplin moral—akan menghalang-halangi kecenderungan hedonistik mereka. Dan, karena mereka menentang gagasan pertanggungjawaban final dalam hal moral, secara naluriah mereka juga menolak gagasan kebangkitan dan kehidupan pasca-kematian jasad; dan karena mereka, secara tersirat, mengingkari kekuasaan Allah untuk membangkitkan manusia dari kematian, mereka juga mengingkari kemahakuasaan-Nya dan, karena itu, mereka mulai “menisbahkan ketuhanan”—yakni, fungsi penyebab sejati—kepada berbagai kekuatan, makhluk, atau pengaruh khayali: jadi, dengan menyisipkan keterangan yang merujuk pada kepercayaan dan kebiasaan Arab pra-Islam, wacana ini kembali lagi pada titik awal dengan membicarakan konsep keesaan, keunikan, dan kemahakuasaan Allah—konsep-konsep yang menjadi titik pusat pembahasan keseluruhan Al-Quran.


Surah An-Nahl Ayat 60

لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ مَثَلُ السَّوْءِ ۖ وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

lillażīna lā yu`minụna bil-ākhirati maṡalus-saụ`, walillāhil-maṡalul-a’lā, wa huwal-‘azīzul-ḥakīm

60. [Demikianlah,] sifat buruk melekat pada semua orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat yang akan datang67—sedangkan pada Allah melekat semua sifat yang paling luhur: sebab, Dia-lah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana!


67 Yakni, karena secara tersirat mereka mengingkari pertanggungjawaban akhir manusia di hadapan Allah. Menurut Al-Zamakhsyari dan Al-Razi, istilah matsal (lit., “contoh” atau “tamsil”) di sini dan pada klausa berikutnya berkonotasi shifah (“sifat”).


Surah An-Nahl Ayat 61

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَٰكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

walau yu`ākhiżullāhun-nāsa biẓulmihim mā taraka ‘alaihā min dābbatiw wa lākiy yu`akhkhiruhum ilā ajalim musammā, fa iżā jā`a ajaluhum lā yasta`khirụna sā’ataw wa lā yastaqdimụn

61. Adapun seandainya Allah menghukum manusia [dengan segera] karena seluruh kejahatan yang mereka perbuat [di dunia], Dia tidak akan meninggalkan satu makhluk pun di muka bumi. Namun, Allah memberi penangguhan kepada mereka sampai batas waktu yang ditentukan [oleh-Nya]:68 tetapi, tatkala datang [akhir] batas-waktu mereka, mereka tidak dapat menundanya walaupun sesaat, dan tidak pula dapat mempercepatnya.69


68 Atau: “di ketahui [hanya oleh-Nya]”—yakni, lamanya hidup mereka di dunia, yang dapat mereka gunakan untuk merenung dan bertobat.

69 Untuk penerjemahan saya atas kata sa’ah menjadi “saat” (a single moment), lihat Surah Al-A’raf [7], catatan no. 26.


Surah An-Nahl Ayat 62

وَيَجْعَلُونَ لِلَّهِ مَا يَكْرَهُونَ وَتَصِفُ أَلْسِنَتُهُمُ الْكَذِبَ أَنَّ لَهُمُ الْحُسْنَىٰ ۖ لَا جَرَمَ أَنَّ لَهُمُ النَّارَ وَأَنَّهُمْ مُفْرَطُونَ

wa yaj’alụna lillāhi mā yakrahụna wa taṣifu alsinatuhumul-każiba anna lahumul-ḥusnā lā jarama anna lahumun-nāra wa annahum mufraṭụn

62. Namun demikian, mereka menisbahkan kepada Allah sesuatu yang mereka [sendiri] benci70—dan [sementara itu,] lidah mereka mengucapkan dusta bahwa [dengan melakukan yang demikian itu] mereka mendapat kebaikan tertinggi!71

Sungguh, mereka hanya memperoleh api neraka, dan akan dikecualikan [dari mendapat rahmat Allah]!72


70 Yakni, “anak-anak perempuan” (lihat ayat 57-59): tetapi, ayat ini juga mengacu, sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Zamakhsyari, pada tindakan menyekutukan Allah dengan makhluk-makhluk khayali yang dianggap memiliki bagian tertentu dalam kekuasaan-Nya, sehingga akan meniadakan konsep keunikan-Nya: dengan kata lain, sementara kaum yang dibicarakan di sini pasti akan merasa benci jika melihat wilayah pengaruh absah mereka dilanggar dan digerogoti oleh lawan-lawannya, mereka tidak menerapkan pertimbangan yang sama dalam gagasan mereka tentang Allah.

71 Lit., “bahwa bagi merekalah kebaikan yang tertinggi (al-husna)”—yakni, dalam pandangan Allah—karena mereka menganggap bahwa pandangan-pandangan religius atau anti-religius mereka, terlepas dari kerancuan pandangan tersebut, sebagai pandangan yang baik dan benar. Penafsiran al-husna dalam konteks di atas ini (yang antara lain disebutkan oleh Al-Zamakhsyari dan Al-Razi) secara logis berkaitan dengan pernyataan pada ayat berikutnya bahwa “setan telah menjadikan seluruh perbuatan orang-orang itu tampak indah dalam pandangan mereka sendiri”.

72 Lit., “bagi mereka [atau ‘bagian mereka’] adalah api neraka, dan mereka akan ditinggalkan”.


Surah An-Nahl Ayat 63

تَاللَّهِ لَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَهُوَ وَلِيُّهُمُ الْيَوْمَ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

tallāhi laqad arsalnā ilā umamim ming qablika fa zayyana lahumusy-syaiṭānu a’mālahum fa huwa waliyyuhumul-yauma wa lahum ‘ażābun alīm

63. Demi Allah, [wahai Nabi,] bahkan sebelum masamu, Kami telah mengutus rasul-rasul kepada [berbagai] masyarakat: tetapi [mereka yang berkukuh mengingkari kebenaran selalu menolak mendengarkan pesan-pesan Kami disebabkan] setan telah menjadikan seluruh perbuatan orang-orang itu tampak baik dalam pandangan mereka sendiri: dan hari ini dia [begitu] dekat dengan mereka73 [sebagaimana dekatnya dia dengan para pendosa pada masa silam]; karena itu, penderitaan yang pedih menanti mereka.


73 Atau: “Dia adalah pelindung [atau ‘pemimpin’] mereka hari ini”. Hendaknya diingat bahwa nomina wali diderivasi dari verba waliya, yang utamanya berarti “dia adalah (atau ‘telah menjadi’] dekat [atau ‘akrab’, yakni, dengan seseorang atau sesuatu]”. Dalam pengertian inilah, istilah wali digunakan dalam Al-Quran dengan mengacu pada kedekatan Allah dengan orang-orang beriman (misalnya, dalam Surah Al-Baqarah [2]: 257 atau Surah Al-‘Imran [3]: 68), atau kedekatan mereka dengan Allah (lihat Surah Yunus [10]: 62 dan catatannya no. 84). Demikian pula, “kuasa-kuasa jahat” (al-thaghut) dibicarakan dalam Surah Al-Baqarah [2]: 257 sebagai “dekat dengan mereka yang berkukuh mengingkari kebenaran (alladzina kafaru)”.


Surah An-Nahl Ayat 64

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ ۙ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

wa mā anzalnā ‘alaikal-kitāba illā litubayyina lahumullażikhtalafụ fīhi wa hudaw wa raḥmatal liqaumiy yu`minụn

64. Dan kepadamu [pun] telah Kami turunkan kitab Ilahi ini tanpa alasan lain selain agar engkau dapat menjelaskan kepada mereka mengenai segala [persoalan keimanan] yang mereka perselisihkan, dan [dengan demikian menawarkan] petunjuk dan rahrnat bagi kaum yang mau beriman.


Surah An-Nahl Ayat 65

وَاللَّهُ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

wallāhu anzala minas-samā`i mā`an fa aḥyā bihil-arḍa ba’da mautihā, inna fī żālika la`āyatal liqaumiy yasma’ụn

65. DAN ALLAH menurunkan air dari langit, lalu dengan air itu menghidupkan bumi sesudah matinya:74 perhatikanlah, dalam yang demikian ini sungguh terdapat pesan bagi orang-orang yang [mau] mendengarkan.


74 Sebagaimana begitu sering terdapat dalam Al-Quran, di sini ayat yang mengacu pada kehidupan ruhani yang ditimbulkan oleh wahyu Ilahi kemudian diikuti oleh ayat yang menggambarkan ajaibnya kehidupan organis sebagai isyarat lainnya yang membuktikan tindakan kreatif Allah.


Surah An-Nahl Ayat 66

وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً ۖ نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ

wa inna lakum fil-an’āmi la’ibrah, nusqīkum mimmā fī buṭụnihī mim baini farṡiw wa damil labanan khāliṣan sā`igal lisy-syāribīn

66. Dan perhatikanlah, pada binatang ternak [pun] sungguh rerdapat pelajaran bagi kalian: Kami memberi minum kepada kalian dari [cairan] yang [dikeluarkan dari] dalam perut mereka itu, antara yang harus dikeluarkan [dari tubuh binatang itu] dan darah-kehidupan[-nya]: susu yang murni dan menyenangkan bagi mereka yang meminumnya.75


75 Susu—yang merupakan sekresi kelenjar—tidak dibutuhkan bagi kehidupan (atau, sebagaimana digambarkan di sini secara metonimia, bagi “darah”) si induk; di lain pihak, ia bukan sekadar sesuatu yang dikeluarkan tubuh karena tidak bermanfaat lagi bagi metabolisme tubuh: karena itu, ia disebut sebagai zat “antara yang harus dikeluarkan [dari tubuh binatang itu] dan darah[-nya]”.


Surah An-Nahl Ayat 67

وَمِنْ ثَمَرَاتِ النَّخِيلِ وَالْأَعْنَابِ تَتَّخِذُونَ مِنْهُ سَكَرًا وَرِزْقًا حَسَنًا ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

wa min ṡamarātin-nakhīli wal-a’nābi tattakhiżụna min-hu sakaraw wa rizqan ḥasanā, inna fī żālika la`āyatal liqaumiy ya’qilụn

67. Dan [Kami berikan kepada kalian makanan] dari buah kurma dan anggur: darinya, kalian membuat minuman yang memabukkan dan rezeki yang bermanfaat—dalam yang demikian ini, perhatikanlah, sungguh terdapat pesan bagi orang-orang yang menggunakan akal mereka!76


76 Istilah sakar (lit., “anggur” atau secara umum, “yang memabukkan”) di sini dikontraskan dengan rizqan hasanan (“rezeki yang bermanfaat”), jadi memberi batasan terhadap sifat dan dampak alkohol, baik yang positif maupun yang negatif. Meskipun surah ini diwahyukan sekitar sepuluh tahun sebelum Al-Quran mengharamkan minuman keras dalam Surah Al-Ma’idah [5]: 90-91, tidak diragukan lagi bahwa ayat di atas sudah menyiratkan kutukan moral terhadapnya (Ibn ‘Abbas, sebagaimana dikutip oleh Al-Thabari; juga Al-Razi).


Surah An-Nahl Ayat 68

وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ

wa auḥā rabbuka ilan-naḥli anittakhiżī minal-jibāli buyụtaw wa minasy-syajari wa mimmā ya’risyụn

68. Dan [perhatikanlah bagaimana] Pemeliharamu telah mengilhami lebah:77 “Buatlah untukmu sendiri sarang-sarang di gunung-gunung dan dalam pepohonan, dan pada apa yang mungkin [manusia] bangun [untukmu berupa sarang];


77 Ungkapan “Dia telah mengilhami” (auha) dimaksudkan untuk menonjolkan betapa mengagumkannya kualitas insting yang memungkinkan serangga tingkat rendah itu mampu membangun karya agung geometris berupa sarang lebah dari lubang-lubang lilin yang berbentuk prisma segi enam dengan proporsi yang sempurna—suatu struktur yang paling ekonomis, dan karena itu, paling rasional jika dipandang dari segi ruang dan bahan penyusunnya. Bersamaan dengan ayat berikutnya, yang menyebutkan proses perubahan sari tumbuhan menjadi madu yang terjadi dalam tubuh lebah, hal ini memberikan bukti yang kuat mengenai “ketetapan-ketetapan Allah” yang mewujud dalam seluruh alam.


Surah An-Nahl Ayat 69

ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

ṡumma kulī ming kulliṡ-ṡamarāti faslukī subula rabbiki żululā, yakhruju mim buṭụnihā syarābum mukhtalifun alwānuhụ fīhi syifā`ul lin-nās, inna fī żālika la`āyatal liqaumiy yatafakkarụn

69. kemudian makanlah dari semua jenis buah-buahan, dan ikutilah dengan rendah hati jalan-jalan yang telah diperintahkan Pemeliharamu bagimu.”78

[Dan, lihatlah!] dari dalam [lebah-lebah] ini, keluar cairan yang beraneka warna, yang di dalamnya terkandung (sumber) kesehatan bagi manusia.

Dalam semua ini, perhatikanlah, sungguh terdapat pesan bagi orang-orang yang berpikir!


78 Lit., “jalan-jalan Pemeliharamu”.


Surah An-Nahl Ayat 70

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ ثُمَّ يَتَوَفَّاكُمْ ۚ وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَىٰ أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْ لَا يَعْلَمَ بَعْدَ عِلْمٍ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ قَدِيرٌ

wallāhu khalaqakum ṡumma yatawaffākum wa mingkum may yuraddu ilā arżalil-‘umuri likai lā ya’lama ba’da ‘ilmin syai`ā, innallāha ‘alīmung qadīr

70. DAN ALLAH telah menciptakan kalian, dan pada waktunya akan menyebabkan kalian mati; dan banyak di antara kalian yang pada usia tua dijadikan benar-benar tidak berdaya, tiada mengetahui apa pun lagi hal-hal yang pernah diketahuinya dengan baik.79

Sungguh, Allah Maha Mengetahui, kekuasaan-Nya tiada terhingga!


79 Lit., “dikembalikan kepada umur yang paling tak berdaya, sehingga dia tidak mengetahui apa pun setelah [sebelumnya pernah memiliki] pengetahuan”: hal ini mengacu pada daur organis pertumbuhan manusia, bertambahnya kekuatan fisik, kecerdasan, dan pengalamannya, yang lalu diikuti oleh penurunan kualitas itu secara bertahap, dan dalam sejumlah kasus, oleh ketidakberdayaan usia tua, yang menyerupai ketidakberdayaan bayi yang baru lahir.


Surah An-Nahl Ayat 71

وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ ۚ فَمَا الَّذِينَ فُضِّلُوا بِرَادِّي رِزْقِهِمْ عَلَىٰ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَهُمْ فِيهِ سَوَاءٌ ۚ أَفَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ

wallāhu faḍḍala ba’ḍakum ‘alā ba’ḍin fir-rizq, fa mallażīna fuḍḍilụ birāddī rizqihim ‘alā mā malakat aimānuhum fa hum fīhi sawā`, a fa bini’matillāhi yaj-ḥadụn

71. Dan kepada sebagian di antara kalian, Allah memberikan sarana rezeki yang lebih berlimpah daripada sebagian yang lain: namun, orang-orang yang lebih dikaruniai kelimpahan [sering] tidak mau membagi rezekinya dengan orang-orang yang tangan kanannya mereka miliki, sehingga mereka [semua] dapat sejajar dalam hal ini.80 Maka, akankah mereka mengingkari nikmat-nikmat Allah?


80 Frasa “membagi rezekinya dengan …” dst., secara harfiah berbunyi, “mengembalikan rezeki mereka kepada”. Ungkapan “orang-orang yang tangan kanannya mereka miliki” (yakni, “yang mereka miliki secara sah”) dapat mengacu pada: pertama, budak-budak yang dijadikan tawanan dalam perang di jalan Allah (lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 167-168, dan Surah Al-Anfal [8], catatan no. 72), atau, kedua—dalam pengertian metonimia—semua orang yang penghidupannya tergantung kepada orang lain, sehingga menjadi tanggung jawab orang lain itu. Ajaran Islam dengan tegas menetapkan bahwa orang-orang yang menjadi tanggungan seseorang harus menikmati hak-hak yang sama dengan penanggungnya berkenaan dengan kebutuhan primernya; demikianlah, Nabi bersabda: “Orang-orang yang bergantung kepada kalian (khawalukum {‘pembantu-pembantu kalian’—peny.}) ini, yang telah Allah letakkan di bawah kekuasaan kalian [lit., ‘di bawah tangan kalian’], mereka adalah saudara-saudara kalian. Karena itu, siapa saja yang saudaranya berada di bawah kekuasaannya harus memberinya makanan yang sama dengan yang dia makan, dan harus memberinya pakaian yang sama dengan yang dia pakai. Dan janganlah membebani mereka dengan apa pun yang berada di luar kekuatan mereka; tetapi jika kalian [harus] membebani mereka, hendaklah kalian sendiri yang membantu mereka.” (Hadis sahih ini, yang dicatat oleh Bukhari dengan berbagai variasi dalam Shahih-nya, terdapat pula dalam kumpulan kitab Muslim, Tirmidzi, dan Ibn Hanbal.) Namun, manusia sering gagal menghidupkan kesadaran akan tanggung jawab moral ini: dan kegagalan itu, sebagaimana yang ditunjukkan oleh rangkaian ayat tersebut, sama saja dengan mengingkari nikmat-nikmat Allah dan pemeiiharaan-Nya yang terus-menerus terhadap semua makhluk-Nya.


Surah An-Nahl Ayat 72

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ ۚ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ

wallāhu ja’ala lakum min anfusikum azwājaw wa ja’ala lakum min azwājikum banīna wa ḥafadataw wa razaqakum minaṭ-ṭayyibāt, a fa bil-bāṭili yu`minụna wa bini’matillāhi hum yakfurụn

72. Dan Allah telah memberikan kepada kalian pasangan-pasangan dari jenis kalian sendiri81 dan memberi kalian, melalui pasangan-pasangan kalian, anak-anak dan cucu-cucu, dan telah menyediakan bagi kalian rezeki dari yang baik-baik dalam kehidupan ini.

Maka, akankah manusia82 [terus] beriman kepada hal-hal yang batil dan sia-sia, dan kemudian sampai menyerapahi nikmat-nikmat Allah?—


81 Lit., “telah menjadikan [atau ‘menyediakan’] untuk kalian pasangan dari diri kalian sendiri”. lstilah zauj menunjukkan tidak hanya “sepasang” atau “sepasang suami istri”, tetapi juga—sebagaimana dalam kasus ayat ini—”salah satu dari pasangan” atau “pasangan” dari jenis kelamin yang berbeda; karena itu, bila mengacu pada manusia, bentuk jamak azwaj dapat berarti “para suami” maupun “para istri”.

82 Lit., “mereka”, yakni, mereka yang mengingkari kebenaran tentang keberadaan dan/atau keesaan Allah.


Surah An-Nahl Ayat 73

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَهُمْ رِزْقًا مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ شَيْئًا وَلَا يَسْتَطِيعُونَ

wa ya’budụna min dụnillāhi mā lā yamliku lahum rizqam minas-samāwāti wal-arḍi syai`aw wa lā yastaṭī’ụn

73. dan akankah mereka [terus] menyembah, alih-alih Allah, sesuatu yang tidak memiliki kekuasaan untuk memberikan kepada mereka rezeki apa pun dari lelangit atau bumi,83 dan yang sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa?


83 Mengenai makna komprehensif yang terkandung dalam istilah rizq, lihat kalimat pertama catatan no. 4 pada Surah Al-Baqarah [2]: 3.


Surah An-Nahl Ayat 74

فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

fa lā taḍribụ lillāhil-amṡāl, innallāha ya’lamu wa antum lā ta’lamụn

74. Karena itu, janganlah kalian mengadakan penyerupaan-penyerupaan apa pun bagi Allah!84 Sungguh, Allah mengetahui [segalanya], sedangkan kalian tidak memiliki pengetahuan [yang sejati].


84 Yakni, “jangan menghujat Allah dengan menganggap siapa pun atau apa pun sebagai bandingan-Nya, atau dengan mencoba mendefinisikan-Nya melalui istilah apa pun—karena “definisi”, pada akhirnya, sama saja dengan membatasi sifat-sifat dari objek yang didefinisikan dalam hubungannya, atau dalam perbandingannya, dengan objek atau objek-objek lainnya: akan tetapi, Allah “Mahatinggi melampaui segala sesuatu yang dapat manusia pikirkan melalui definisi” (lihat kalimat terakhir Surah Al-An’am [6]: 100 dan catatannya, no. 88).


Surah An-Nahl Ayat 75

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا عَبْدًا مَمْلُوكًا لَا يَقْدِرُ عَلَىٰ شَيْءٍ وَمَنْ رَزَقْنَاهُ مِنَّا رِزْقًا حَسَنًا فَهُوَ يُنْفِقُ مِنْهُ سِرًّا وَجَهْرًا ۖ هَلْ يَسْتَوُونَ ۚ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

ḍaraballāhu maṡalan ‘abdam mamlụkal lā yaqdiru ‘alā syai`iw wa mar razaqnāhu minnā rizqan ḥasanan fa huwa yunfiqu min-hu sirraw wa jahrā, hal yastawụn, al-ḥamdu lillāh, bal akṡaruhum lā ya’lamụn

75. Allah mengemukakan [kepada kalian] perumpamaan [dua orang laki-laki—] seorang laki-laki budak, yang tidak dapat berbuat apa pun berdasarkan kehendaknya sendiri, dan seorang laki-laki [merdeka] yang Kami anugerahi dengan rezeki yang baik [sebagai karunia] dari Kami, supaya dia dapat membelanjakan dari (rezeki) itu [sekehendak hatinya, baik] secara rahasia maupun terbuka. Dapatkah [dua orang] ini dianggap sama?85

Segala puji bagi Allah [saja]: tetapi, kebanyakan dari mereka tidak memahaminya.


85 Jawabannya: jelas-jelas tidak bisa. Implikasinya pun sama jelasnya: yakni, jika bahkan kedua macam manusia ini tidak dapat dianggap sama, bagaimana mungkin suatu makhluk—yang secara intrinsik juga bergantung kepada makhluk lainnya—atau suatu kekuatan alam yang dapat dipahami atau dibayangkan oleh manusia, dianggap memiliki kekuasaan yang sebanding dengan yang dimiliki oleh Allah, Yang Maha besar, Yang Maha Tidak Terhingga, Yang Maha Tak Terbayangkan—Sumber swamandiri dari segala sesuatu yang ada? (Argumentasi ini dilanjutkan dan diuraikan lebih jauh pada perumpamaan selanjutnya.)


Surah An-Nahl Ayat 76

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلَيْنِ أَحَدُهُمَا أَبْكَمُ لَا يَقْدِرُ عَلَىٰ شَيْءٍ وَهُوَ كَلٌّ عَلَىٰ مَوْلَاهُ أَيْنَمَا يُوَجِّهْهُ لَا يَأْتِ بِخَيْرٍ ۖ هَلْ يَسْتَوِي هُوَ وَمَنْ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ ۙ وَهُوَ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

wa ḍaraballāhu maṡalar rajulaini aḥaduhumā abkamu lā yaqdiru ‘alā syai`iw wa huwa kallun ‘alā maulāh, ainamā yuwajjihhu lā ya`ti bikhairin hal yastawī huwa wa may ya`muru bil-‘adli wa huwa ‘alā ṣirāṭim mustaqīm

76. Dan Allah mengemukakan [kepada kalian] perumpamaan dua orang laki-laki [lain]—salah satunya bisu,86 tidak mampu melakukan apa pun berdasarkan kehendaknya sendiri, dan menjadi beban belaka bagi tuannya: untuk tugas apa pun yang ditujukan kepadanya,87 dia tidak menghasilkan kebaikan apa pun. Dapatkah orang seperti itu dipandang sama dengan [seorang bijak] yang memerintahkan perbuatan yang benar dan dia sendiri mengikuti jalan yang lurus?88


86 Istilah ahkam berarti “bisu” (dumb), baik dalam pengertian harfiah-fisiologisnya maupun (seperti dalam percakapan bahasa Inggris sehari-hari) dalam pengertian “tidak mampu berbicara sebagaimana mestinya” karena kelemahan intelektual: yakni, “bodoh” atau “dungu”. Kedua makna tersebut terkandung dalam deskripsi Al-Quran di atas.

87 Atau: “ke mana pun dia mengutusnya”.

88 Yakni, yang tidak hanya bijaksana dan saleh, tetapi juga mempunyai kekuatan dan wewenang untuk rnemerintahkan cara hidup yang saleh terhadap orang lain. Jadi, jika dalam perumpamaan pertama, isu utamanya adalah perbedaan yang kontras antara kemerdekaan dan perbudakan atau—secara lebih umum—antara kebergantungan dan kebebasan, pada perumpamaan kedua kita disuguhkan antitesis kebisuan dan ketidakmampuan di satu sisi, serta kebijaksanaan, keadilan, dan kemampuan di sisi lain; dan, kedua perumpamaan ini mengandung implikasi yang sama (lihat catatan no. 85).


Surah An-Nahl Ayat 77

وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَمَا أَمْرُ السَّاعَةِ إِلَّا كَلَمْحِ الْبَصَرِ أَوْ هُوَ أَقْرَبُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

wa lillāhi gaibus-samāwāti wal-arḍ, wa mā amrus-sā’ati illā kalam-ḥil-baṣari au huwa aqrab, innallāha ‘alā kulli syai`ing qadīr

77. Dan89 kepunyaan Allah [sajalah] pengetahuan tentang realitas tersembunyi lelangit dan bumi.90 Dan demikianlah, peristiwa datangnya Saat Terakhir itu akan mewujudkan diri [dalam waktu singkat,] seperti kedipan mata, atau bahkan lebih dekat:91 sebab, perhatikanlah, Allah berkuasa menetapkan segala sesuatu.


89 Pasase ini berkaitan dengan kalimat kedua ayat 74—”Sungguh, Allah mengtetahui [segalanya}, sedangkan kalian tidak memiliki pengetahuan [yang sejati}”.

90 Sebagaimana yang dapat disimpulkan dari rangkaian ayat tersebut, istilah ghaib—yang di sini diterjemahkan menjadi “realitas tersembunyi”—dalam konteks ini mengacu pada datangnya Saat Terakhir, yang waktu kedatangannya hanya diketahui Allah (Al-Zamakhsyari). Sejajar dengan ini, mungkin ia juga berhubungan dengan keberadaan Allah, yang tidak bisa dibuktikan secara langsung oleh kesaksian pancaindra kita (Al-Baidhawi) tetapi, sebagaimana yang secara konsisten dikemukakan oleh Al-Quran, dapat disimpulkan dari dampak-dampak kasatmata yang merupakan hasil daya cipta-Nya.

91 Lit., “urusan [yakni, terwujudnya] Saat [Terakhir] itu akan seperti …”, dst.—menyiratkan pengertian bahwa kejadian tersebut bersifat tiba-tiba dan sama sekali tidak terduga; hal ini terjadi karena tiadanya jeda waktu antara penetapan kiamat itu oleh Allah dan perwujudannya: inilah yang menjelaskan frasa “atau bahkan lebih dekat” pada akhir kalimat di atas.


Surah An-Nahl Ayat 78

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

wallāhu akhrajakum mim buṭụni ummahātikum lā ta’lamụna syai`aw wa ja’ala lakumus-sam’a wal-abṣāra wal-af`idata la’allakum tasykurụn

78. Dan Allah telah mengeluarkan kalian dari rahim ibu kalian (dalam keadaan) tidak mengetahui apa pun—tetapi Dia telah menganugerahi kalian pendengaran, penglihatan, dan pikiran, agar kalian memiliki alasan untuk bersyukur.


Surah An-Nahl Ayat 79

أَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ مُسَخَّرَاتٍ فِي جَوِّ السَّمَاءِ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا اللَّهُ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

a lam yarau ilaṭ-ṭairi musakhkharātin fī jawwis-samā`, mā yumsikuhunna illallāh, inna fī żālika la`āyātil liqaumiy yu`minụn

79. Maka, tidak pernahkah mereka [yang mengingkari kebenaran itu] memperhatikan burung-burung, yang dimudahkan [oleh Allah] terbang di udara92 tanpa ada yang menahannya di atas selain Allah? Perhatikanlah, dalam yang demikian ini sungguh terdapat pesan bagi orang-orang yang hendak beriman!


92 Lit., “tunduk [kepada hukum Allah] di udara yang terdapat di langit”.


Surah An-Nahl Ayat 80

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ سَكَنًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ جُلُودِ الْأَنْعَامِ بُيُوتًا تَسْتَخِفُّونَهَا يَوْمَ ظَعْنِكُمْ وَيَوْمَ إِقَامَتِكُمْ ۙ وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا أَثَاثًا وَمَتَاعًا إِلَىٰ حِينٍ

wallāhu ja’ala lakum mim buyụtikum sakanaw wa ja’ala lakum min julụdil-an’āmi buyụtan tastakhiffụnahā yauma ẓa’nikum wa yauma iqāmatikum wa min aṣwāfihā wa aubārihā wa asy’ārihā aṡāṡaw wa matā’an ilā ḥīn

80. Dan Allah telah memberikan kepada kalian [kemampuan untuk membangun] rumah-rumah kalian sebagai tempat beristirahat, dan telah menganugerahkan kepada kalian [keterampilan untuk membuat] tempat-tempat tinggal dari kulit binatang93—yang mudah kalian bawa tatkala kalian bepergian dan bermukim—dan [untuk membuat] perlengkapan serta benda-benda yang dipakai untuk keperluan sementara dari bulu-bulu mereka [yang kasar] atau yang halus94 serta dari rambut mereka.


93 Istilah julud (bentuk tunggalnya, jild) secara harfiah berarti “kulit-kulit”. Namun, di sini tampaknya ia juga berarti bulu wol yang tumbuh pada kulit hewan-hewan peliharaan. Perlu diingat bahwa dalam penggunaan bahasa Arab, nomina bait (“rumah”) tidak hanya berarti bangunan yang solid, tetapi juga “kemah”—singkatnya, setiap macam hunian, baik yang bersifat permanen maupun sementara.

94 Wabar (di sini digunakan dalam bentuk jamaknya, awbar) adalah bulu-bulu lembut yang tumbuh pada punuk unta (“rambut unta”), dan digunakan dalam proses penenunan kain-kain halus dan kadang-kadang juga untuk menenun tenda-tenda orang Badui.


Surah An-Nahl Ayat 81

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِمَّا خَلَقَ ظِلَالًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْجِبَالِ أَكْنَانًا وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ وَسَرَابِيلَ تَقِيكُمْ بَأْسَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْلِمُونَ

wallāhu ja’ala lakum mimmā khalaqa ẓilālaw wa ja’ala lakum minal-jibāli aknānaw wa ja’ala lakum sarābīla taqīkumul-ḥarra wa sarābīla taqīkum ba`sakum, każālika yutimmu ni’matahụ ‘alaikum la’allakum tuslimụn

81. Dan di antara berbagai objek ciptaan-Nya,95 Allah telah menentukan bagi kalian [berbagai] sarana perlindungan:96 demikianlah, Dia telah memberikan tempat-tempat berlindung bagi kalian di gunung-gunung, dan telah memberi kalian [kemampuan untuk membuat] pakaian guna melindungi kalian dari panas [dan dingin],97 serta pakaian yang dapat melindungi kalian dari kekerasan [timbal-balik] kalian.98

Dengan cara inilah Dia memberikan nikmat-nikmat-Nya kepada kalian sepenuhnya, agar kalian dapat berserah diri kepada-Nya.


95 Lit., “dari apa yang telah Dia ciptakan”.

96 Lit., “bayang-bayang” (zhilal, bentuk tunggalnya, zhill). Secara metonimia, istilah ini kadang-kadang digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang “menaungi” seseorang dalam pengertian melindunginya; dan karena rangkaian ayat tersebut jelas mengacu pada sarana perlindungan, pada tempat ini—menurut saya—makna derivatif zhilal inilah yang lebih tepat daripada makna harfiahnya.

97 Menurut hampir semua mufasir klasik, penyebutan “panas” di sini juga menyiratkan lawannya, yakni “dingin”; inilah alasan bagi penyisipan saya.

98 Menurut mayoritas mufasir, sebutan “pakaian” (sarabil) yang kedua dalam ayat ini hendaknya dipahami sebagai “baju besi” atau “zirah”, sehingga ia mengingatkan pada peperangan dan bentuk-bentuk kekerasan timbal-balik lainnya. Namun, meskipun penafsiran ini tidak dapat dikesampingkan, bagi saya tampaknya sebutan “pakaian” pada kali yang kedua ini dapat dipahami dalam pengertian yang jauh lebih luas, yakni, secara metonimia mungkin menunjukkan semua jenis “penutup” (yakni, segala sarana untuk melindungi tubuh) yang boleh jadi terpaksa digunakan manusia dalam situasi berbahaya yang ditimbulkannya sendiri: inilah alasan bagi penekanan “kekerasan kalian” (ba’sakum) dalam ayat di atas.


Surah An-Nahl Ayat 82

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

fa in tawallau fa innamā ‘alaikal-balāgul-mubīn

82. NAMUN, JIKA mereka berpaling [darimu, wahai Nabi, ingatlah bahwa] kewajibanmu hanyalah menyampaikan dengan jelas pesan [yang diamanatkan kepadamu].


Surah An-Nahl Ayat 83

يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ يُنْكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ

ya’rifụna ni’matallāhi ṡumma yungkirụnahā wa akṡaruhumul-kāfirụn

83. Mereka [yang berpaling darinya] benar-benar mengetahui nikmat Allah, tetapi meskipun demikian, mereka menolak mengakuinya [sebagai nikmat Allah], karena kebanyakan dari mereka terbiasa mengingkari kebenaran.99


99 Yakni, meskipun mereka menyadari betapa banyaknya karunia yang dinikmati manusia, mereka. menolak untuk rnenisbahkan datangnya karunia itu pada aktivitas kreatif Allah, sehingga secara implisit mengingkari keberadaan-Nya. Terjemahan saya terhadap al-kafirun menjadi “yang terbiasa mengingkari kebenaran” dipersyaratkan oleh kata sandang penentu {lam al ta’rif} “al” yang, dalam susunan kalimat di atas, dimaksudkan untuk menekankan kesengajaan niat.


Surah An-Nahl Ayat 84

وَيَوْمَ نَبْعَثُ مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا ثُمَّ لَا يُؤْذَنُ لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَلَا هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ

wa yauma nab’aṡu ming kulli ummatin syahīdan ṡumma lā yu`żanu lillażīna kafarụ wa lā hum yusta’tabụn

84. Namun, suatu Hari, dari setiap masyarakat akan Kami bangkitkan seorang saksi,100 kemudian orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran tidak akan diizinkan untuk membela diri [dengan berdalih tidak tahu],101 dan tidak pula mereka diizinkan untuk melakukan perbaikan.


100 Mengacu pada Hari Pengadilan, ketika para nabi yang telah diutus oleh Allah kepada setiap masyarakat—atau, dalam pengertian yang lebih luas dari istilah ummah, kepada setiap periode peradaban atau kebudayaan—secara simbolis akan bersaksi bahwa mereka telah menyampaikan pesan-pesan Allah kepada umat mereka, dan telah menjelaskan makna kebenaran dan kebatilan kepada mereka sehingga mereka tidak memiliki dalih lagi.

101 Menurut Al-Zamakhsyari, keadaan mereka yang “tidak diberi izin” untuk membela diri merupakan suatu metonimia yang maksudnya adalah bahwa mereka tidak memiliki argumentasi atau alasan yang absah untuk diajukan. (Bdk. Surah Al-Mursalat [77]: 35-36.)


Surah An-Nahl Ayat 85

وَإِذَا رَأَى الَّذِينَ ظَلَمُوا الْعَذَابَ فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ وَلَا هُمْ يُنْظَرُونَ

wa iżā ra`allażīna ẓalamul-‘ażāba fa lā yukhaffafu ‘an-hum wa lā hum yunẓarụn

85. Dan tatkala orang-orang yang berkukuh melakukan kezaliman itu menyaksikan penderitaan [yang menanti mereka, mereka akan menyadari bahwa] penderitaan itu tidak akan diringankan bagi mereka [melalui pembelaan diri mereka]; dan tidak pula mereka diberi penangguhan.


Surah An-Nahl Ayat 86

وَإِذَا رَأَى الَّذِينَ أَشْرَكُوا شُرَكَاءَهُمْ قَالُوا رَبَّنَا هَٰؤُلَاءِ شُرَكَاؤُنَا الَّذِينَ كُنَّا نَدْعُو مِنْ دُونِكَ ۖ فَأَلْقَوْا إِلَيْهِمُ الْقَوْلَ إِنَّكُمْ لَكَاذِبُونَ

wa iżā ra`allażīna asyrakụ syurakā`ahum qālụ rabbanā hā`ulā`i syurakā`unallażīna kunnā nad’ụ min dụnik, fa alqau ilaihimul-qaula innakum lakāżibụn

86. Dan tatkala orang-orang yang biasa menisbahkan ketuhanan kepada wujud-wujud selain Allah menyaksikan [pada Hari Pengadilan]102 makhluk-makhluk yang biasa mereka persekutukan dengan Allah, mereka akan berseru, “Wahai, Pemelihara kami! Inilah makhluk-makhluk yang terhadapnya kami nisbahkan sekutu dalam ketuhanan-Mu, dan yang biasa kami sembah alih-alih Engkau!”103—kemudian [makhluk-makhluk itu] akan melemparkan jawaban kepada mereka, “Perhatikanlah, kalian benar-benar telah berdusta [kepada diri kalian sendiri]!”104


102 Bdk. Surah Al-An’am [6]: 22 dan catatannya, no. 15.

103 AI-Quran menyatakan dalam banyak tempat bahwa pada Hari Pengadilan, setiap pendosa yang mati tanpa bertobat akan mendapatkan penglihatan yang jelas dan objektif tentang dosanya; yang masing-masing dari dosa itu akan menjadi realitas independen yang akan bersaksi melawan pelakunya sendiri dan memaksanya untuk mengakui kesalahannya, yang kini sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Dalam hal ini, hendaknya diingat bahwa Al-Quran menggambarkan setiap perbuatan dosa—baik berupa penolakan terhadap konsep keesaan dan keunikan Allah maupun tindakan zalim terhadap makhluk-Nya—terutama sebagai tindakan “menzalimi diri sendiri” atau “berdosa terhadap diri sendiri”.

104 Bdk. Surah Al-An’am [6]: 23-24 dan catatan no. 16 dan 17.


Surah An-Nahl Ayat 87

وَأَلْقَوْا إِلَى اللَّهِ يَوْمَئِذٍ السَّلَمَ ۖ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ

wa alqau ilallāhi yauma`iżinis-salama wa ḍalla ‘an-hum mā kānụ yaftarụn

87. Dan pada Hari itu, mereka [yang telah melakukan dosa demikian itu, dengan terlambat] akan menyatakan ketundukannya kepada Allah; dan semua rekaan batil mereka akan meninggalkan mereka.


Surah An-Nahl Ayat 88

الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ زِدْنَاهُمْ عَذَابًا فَوْقَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يُفْسِدُونَ

allażīna kafarụ wa ṣaddụ ‘an sabīlillāhi zidnāhum ‘ażāban fauqal-‘ażābi bimā kānụ yufsidụn

88. Terhadap semua orang yang berkukuh mengingkari kebenaran dan memalingkan orang lain dari jalan Allah, akan Kami tumpukkan penderitaan demi penderitaan sebagai balasan atas semua kerusakan yang telah mereka perbuat:


Surah An-Nahl Ayat 89

وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ۖ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ ۚ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

wa yauma nab’aṡu fī kulli ummatin syahīdan ‘alaihim min anfusihim wa ji`nā bika syahīdan ‘alā hā`ulā`, wa nazzalnā ‘alaikal-kitāba tibyānal likulli syai`iw wa hudaw wa raḥmataw wa busyrā lil-muslimīn

89. sebab, suatu Hari, akan Kami bangkitkan dari setiap masyarakat seseorang yang bersaksi melawan mereka dari kalangan mereka sendiri.105

Dan engkau [pun, wahai Nabi,] telah Kami tampilkan menjadi saksi berkenaan dengan mereka [yang telah menerima pesanmu],106 karena Kami telah menurunkan kepadamu kitab Ilahi ini, setahap demi setahap, untuk membuat jelas segala sesuatunya,107 dan untuk memberikan petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi semua orang yang telah berserah diri kepada Allah.


105 Lihat catatan no. 100.

106 Walaupun orang-orang Arab yang hidup semasa Nabi tentu saja adalah pihak yang pertama kali mendengar wahyu yang disampaikannya—suatu kenyataan yang mengandung bobot tertentu berkenaan dengan cara mereka menanggapinya—pesan Al-Quran itu sendiri ditujukan bagi seluruh umat manusia (lihat dalam kaitan ini, khususnya, Surah Al-A’raf [7]: 158, AI-Anbiya’ [21]: 107, serta catatan-catatan nya).

107 Yakni, segala sesuatu yang berkenaan dengan pengetahuan tentang yang baik dan yang buruk, baik dalam pengertian individual maupun sosial dari istilah ini.

Mengenai terjemahan saya terhadap frasa nazzalna, hendaknya diingat bahwa bentuk gramatikal yang khusus ini sering digunakan dalam Al-Quran untuk menonjolkan fakta bahwa Al-Quran diwahyukan secara berangsur-angsur (“setahap demi setahap”) selama suatu periode waktu yang panjang, tidak secara sekaligus.


Surah An-Nahl Ayat 90

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

innallāha ya`muru bil-‘adli wal-iḥsāni wa ītā`i żil-qurbā wa yan-hā ‘anil-faḥsyā`i wal-mungkari wal-bagyi ya’iẓukum la’allakum tażakkarụn

90. PERHATIKANLAH, Allah memerintahkan keadilan, perbuatan baik, dan kedermawanan terhadap sesama manusia;108 dan Dia melarang segala hal yang memalukan dan semua yang bertentangan dengan akal,109 serta kedengkian; [dan] Dia [berkali-kali] menasihati kalian agar kalian dapat mengingat [semua ini].


108 Lit., “pemberian kepada karib-kerabat (dzu al-qurba) [seseorang]”. Istilah karib-kerabat ini biasanya berarti “keluarga”, baik melalui pertalian darah maupun perkawinan; tetapi, karena di sini ia muncul dalam konteks ayat yang mengandung peringatan etis yang komprehensif, ia jelas-jelas mengacu pada “karib-kerabat” manusia dalam pengertian yang paling luas dari istilah ini, yakni, pada “sesama manusia”.

109 Istilah al-munkar (yang di tempat lain saya terjemahkan menjadi “yang salah”) di sini mengandung pengertian asalnya, yakni “yang ditolak oleh pikiran [atau perasaan moral]”, dan “yang harus ditolak”. Al-Zamakhsyari lebih spesifik, dan menjelaskan bahwa istilah ini dalam konteks di atas berarti “yang diingkari akal [manusia]” atau “yang dinyatakan tidak benar” (ma tunkiruhu al-‘uqul): dengan kata lain, semua yang berlawanan dengan nalar dan akal sehat (yang tentunya tidak boleh dikacaukan dengan hal-hal yang berada di luar jangkauan pemahaman manusia, al-ghaib). Penjelasan yang amat meyakinkan ini berhubungan bukan hanya dengan proposisi-proposisi yang tidak dapat diterima secara nalar (dalam pengertian abstrak istilah ini), melainkan juga dengan tindakan dan sikap yang amat tidak masuk akal dan, karena itu, tercela. Dengan demikian, penjelasan ini sepenuhnya sejalan dengan pendekatan rasional Al-Quran terhadap masalah-masalah etika serta sejalan dengan penekanannya terhadap akal sehat dan sikap moderat dalam perilaku manusia. Inilah alasan bagi penerjemahan saya atas istilah al-munkar, dalam ayat ini dan dalam tempat lain yang semisalnya, menjadi “segala yang bertentangan dengan akal”.


Surah An-Nahl Ayat 91

وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلًا ۚ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ

wa aufụ bi’ahdillāhi iżā ‘āhattum wa lā tangquḍul-aimāna ba’da taukīdihā wa qad ja’altumullāha ‘alaikum kafīlā, innallāha ya’lamu mā taf’alụn

91. Dan bersetialah terhadap ikatan kalian dengan Allah kapan pun kalian mengikatkan diri dengan sebuah janji,110 dan janganlah kalian melanggar sumpah-sumpah [kalian] sesudah menegaskannya [dengan sukarela],111 dan setelah (kalian) memanggil Allah sebagai saksi terhadap iktikad baik kalian:112 perhatikanlah, Allah mengetahui semua yang kalian perbuat.


110 Mengenai ungkapan “ikatan dengan Allah” (‘ahd Allah), lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 19. Klausa “kapan pun kalian mengikatkan diri dengan suatu janji” mempunyai makna ganda: pertama, (sebagaimana dalam Surah Ar-Ra’d [13]: 20) ia mengacu pada kewajiban spiritual, moral, dan sosial yang lahir dari keimanan seseorang pada Allah; dan, kedua, ia berlaku untuk semua sumpah atau janji yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain—sebab, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Razi, setiap janji yang diberikan oleh seseorang kepada seorang lainnya, pada intinya, merupakan janji kepada Allah. Aspek kedua dari “ikatan” manusia dengan Allah inilah yang dirujuk oleh rangkaian ayat tersebut.

111 Yakni, berbeda dengan sumpah “yang diucapkan tanpa sadar” (lihat Surah Al-Baqarah [2]: 225).

112 Lit., “dan telah menjadikan Allah [atau ‘menamai Allah sebagai’] penjamin (kafil) kalian”.


Surah An-Nahl Ayat 92

وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا تَتَّخِذُونَ أَيْمَانَكُمْ دَخَلًا بَيْنَكُمْ أَنْ تَكُونَ أُمَّةٌ هِيَ أَرْبَىٰ مِنْ أُمَّةٍ ۚ إِنَّمَا يَبْلُوكُمُ اللَّهُ بِهِ ۚ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

wa lā takụnụ kallatī naqaḍat gazlahā mim ba’di quwwatin angkāṡā, tattakhiżụna aimānakum dakhalam bainakum an takụna ummatun hiya arbā min ummah, innamā yablụkumullāhu bih, wa layubayyinanna lakum yaumal-qiyāmati mā kuntum fīhi takhtalifụn

92. Karena itu, janganlah kalian seperti seorang perempuan yang merusak dan menguraikan kembali benang rajutan yang telah dipintal dan dijadikan kuat olehnya [sendiri]—[janganlah bersikap seperti ini, dengan] menggunakan sumpah kalian sebagai alat untuk menipu satu sama lain,113 hanya karena sebagian di antara kalian mungkin lebih kuat daripada sebagian yang lain.114

Dengan semua ini, Allah hanya menguji kalian—dan [Dia melakukannya] agar pada Hari Kebangkitan Dia dapat menjelaskan kepada kalian segala hal yang dahulu biasa kalian perselisihkan itu.115


113 Lit., “sebagai suatu [alat untuk] penipuan (dakhalan) di antara kalian sendiri”.

114 Lit., “karena ada orang-orang (ummah) yang lebih berkuasa daripada orang-orang [lainnya]”: berkaitan dengan pernyataan dan janji palsu yang dibuat karena rasa takut.

115 Sebagaimana yang tampak jelas dari pasase terdahulu serta rangkaian ayatnya, perbedaan yang dirujuk di sini berhubungan dengan nilai-nilai moral dan etika, yang mana orang-orang dari berbagai bangsa dan kepercayaan menganut pandangan yang berbeda-beda mengenai kebenaran dan relevansinya. Lihat juga Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 94.


Surah An-Nahl Ayat 93

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَلَتُسْأَلُنَّ عَمَّا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

walau syā`allāhu laja’alakum ummataw wāḥidataw wa lākiy yuḍillu may yasyā`u wa yahdī may yasyā`, wa latus`alunna ‘ammā kuntum ta’malụn

93. Karena, seandainya Allah menghendaki, Dia pasti dapat menjadikan kalian semua satu umat tunggal;116 namun, Dia membiarkan tersesat siapa saja yang ingin [tersesat], dan memberi petunjuk kepada siapa saja yang ingin [diberi petunjuk];117 dan kalian pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas segala yang pernah kalian kerjakan!118


116 Yakni, diikat oleh nilai-nilai moral yang disepakati secara timbal-balik. Dalam kaitan ini, lihat Surah Yunus [10]: 19 dan catatan-catatannya, khususnya no. 29. Untuk uraian tentang konsep ummah whidah (“satu umat yang tunggal”) dan implikasinya yang lebih jauh, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 197 dan 198.

117 Atau: “Dia membiarkan tersesat siapa pun yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa pun yang Dia kehendaki”. Mengenai masalah kebebasan berkehendak (free will) versus predestinasi (takdir), yang tampaknya tersirat dalam gagasan Allah sebagai yang “membiarkan manusia [atau ‘menjadikannya’] tersesat” atau, sebaliknya, “memberinya petunjuk”, lihat Surah Ibrahim [14], catatan no. 4.

118 Seraya menyinggung gagasan-gagasan batil yang mengatakan bahwa perbuatan baik dan buruk manusia—dan karena itu, juga kecenderungan dan sikap yang diakibatkannya—telah “ditetapkan sebelumnya” oleh Allah dan bukan merupakan akibat pilihan bebas, Al-Zamakhsyari mengakhiri pandangannya mengenai masalah ini (yang saya kutip dalam Surah Ibrahim [14], catatan no. 4) dengan ungkapan berikut: “seandainya [benar] Allah memaksa [manusia] agar tersesat atau, sebaliknya, memaksa [manusia] mengikuti petunjuk-Nya, mengapa Dia menetapkan bahwa perbuatan manusia merupakan sesuatu yang akan mereka pertanggungjawabkan?”


Surah An-Nahl Ayat 94

وَلَا تَتَّخِذُوا أَيْمَانَكُمْ دَخَلًا بَيْنَكُمْ فَتَزِلَّ قَدَمٌ بَعْدَ ثُبُوتِهَا وَتَذُوقُوا السُّوءَ بِمَا صَدَدْتُمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلَكُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

wa lā tattakhiżū aimānakum dakhalam bainakum fa tazilla qadamum ba’da ṡubụtihā wa tażụqus-sū`a bimā ṣadattum ‘an sabīlillāh, wa lakum ‘ażābun ‘aẓīm

94. Dan janganlah kalian gunakan sumpah-sumpahmu sebagai alat untuk saling menipu—yang menyebabkan tergelincirnya kaki [kalian] setelah sebelumnya tegak kokoh,119 sehingga kemudian kalian harus merasakan [akibat-akibat] buruk120 karena kalian berpaling dari jalan Allah, dengan penderitaan yang amat besar menanti kalian [di kehidupan akhirat mendatang].


119 Yakni, “kalian akan mendurhakai Allah setelah meraih iman”, mengingat bahwa—sebagaimana yang dijelaskan dalam catatan no. 110—setiap janji yang diberikan manusia kepada manusia lainnya sama saja dengan janji kepada Allah.

120 Yakni, di dunia ini (Al-Thabari, Al-Zamakhsyari, Al-Baidhawi), karena pelanggaran janji secara berangsur-angsur pasti akan mengakibatkan hilangnya rasa saling percaya dan, karena itu, menyebabkan runtuhnya struktur sosial.


Surah An-Nahl Ayat 95

وَلَا تَشْتَرُوا بِعَهْدِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۚ إِنَّمَا عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

wa lā tasytarụ bi’ahdillāhi ṡamanang qalīlā, innamā ‘indallāhi huwa khairul lakum ing kuntum ta’lamụn

95. Karena itu, janganlah menukar perjanjian kalian dengan Allah demi keuntungan yang tak berharga!

Sungguh, apa yang ada pada Allah jauh lebih baik bagi kalian, andaikan saja kalian mengetahuinya:


Surah An-Nahl Ayat 96

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ ۖ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ ۗ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

mā ‘indakum yanfadu wa mā ‘indallāhi bāq, wa lanajziyannallażīna ṣabarū ajrahum bi`aḥsani mā kānụ ya’malụn

96. semua yang ada pada kalian pasti akan berakhir, sedangkan yang ada pada Allah adalah kekal.

Dan, Kami pasti akan memberikan, kepada orang-orang yang sabar dalam menghadapi kesusahan, pahala mereka sesuai dengan perbuatan terbaik yang pernah mereka kerjakan.


Surah An-Nahl Ayat 97

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

man ‘amila ṣāliḥam min żakarin au unṡā wa huwa mu`minun fa lanuḥyiyannahụ ḥayātan ṭayyibah, wa lanajziyannahum ajrahum bi`aḥsani mā kānụ ya’malụn

97. Adapun siapa saja—baik laki-laki maupun perempuan yang melakukan perbuatan-perbuatan kebajikan, dan sementara itu dia adalah seorang yang beriman—dia pasti akan Kami buat menjalani kehidupan yang baik;121 dan Kami pasti akan memberikan kepada orang-orang semacam ini pahala mereka sesuai dengan perbuatan terbaik yang pernah mereka kerjakan.


121 Hal ini bisa mengacu pada kehidupan di dunia ini—sebab, seorang Mukmin sejati selalu menemukan kebahagiaan dalam kesadarannya akan kemahahadiran Allah—atau pada kebahagiaan yang menantinya di akhirat, atau pada keduanya.


Surah An-Nahl Ayat 98

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

fa iżā qara`tal-qur`āna fasta’iż billāhi minasy-syaiṭānir-rajīm

98. ADAPUN manakala engkau membaca Al-Quran, mohonkanlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.122


122 Pasase ini (ayat 98-105) jelas berkaitan dengan peringatan etis umum pada ayat 90 dan, dengan demikian, juga dengan pernyataan (pada ayat 89) bahwa Al-Quran dimaksudkan “untuk menjadikan segala sesuatunya jelas dan untuk memberikan petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi semua orang yang telah berserah diri kepada Allah”—yang, pada gilirannya, menyiratkan pengertian bahwa Al-Quran adalah sumber puncak dari segala nilai moral dan etis yang dikehendaki Allah, dan dengan demikian, merupakan kriteria yang tidak berubah-ubah untuk menentukan kebaikan dan keburukan. Namun, karena manusia—berdasarkan fitrahnya—selalu cenderung mempertanyakan keabsahan standar-standar moral yang ditetapkan melalui wahyu, kini orang beriman diseru, setiap kali dia membaca atau merenungi kitab suci ini, untuk memohon pertolongan spiritual Allah terhadap bisikan-bisikan yang digambarkan Al-Quran sebagai “setan, yang terkutuk”—yakni, seluruh kekuatan jahat, baik yang ada dalam jiwa manusia sendiri maupun yang ada dalam lingkungan sosialnya, yang cenderung meruntuhkan keyakinan moralnya dan menjauhkannya dari Allah.


Surah An-Nahl Ayat 99

إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

innahụ laisa lahụ sulṭānun ‘alallażīna āmanụ wa ‘alā rabbihim yatawakkalụn

99. Perhatikanlah, setan itu tidak mempunyai kekuasaan atas orang-orang yang telah meraih iman dan bersandar penuh percaya (bertawakal) kepada Pemeliharanya:


Surah An-Nahl Ayat 100

إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ

innamā sulṭānuhụ ‘alallażīna yatawallaunahụ wallażīna hum bihī musyrikụn

100. dia hanya berkuasa terhadap orang-orang yang mau mengikutinya,123 dan orang-orang yang [dengan demikian] mempersekutukannya dengan Allah.124


123 Atau: “yang menjadikannya sebagai pemimpin mereka”. Dalam kaitan ini, bdk. Surah Ibrahim [14]: 22 dan catatan no. 31.

124 Yakni, karena mereka mengagung-agungkan, sehingga nyaris menyembah, bujuk rayu yang berupa kekayaan, kekuasaan, kedudukan sosial, dsb.


Surah An-Nahl Ayat 101

وَإِذَا بَدَّلْنَا آيَةً مَكَانَ آيَةٍ ۙ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُنَزِّلُ قَالُوا إِنَّمَا أَنْتَ مُفْتَرٍ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

wa iżā baddalnā āyatam makāna āyatiw wallāhu a’lamu bimā yunazzilu qālū innamā anta muftar, bal akṡaruhum lā ya’lamụn

101. Dan kini, tatkala Kami mengganti satu pesan dengan pesan yang lain125—karena Allah mengetahui sepenuhnya apa yang Dia turunkan secara berangsur-angsur126—mereka [yang mengingkari kebenaran] biasa berkata, “Engkau hanya mengada-adakannya!” Tidak demikian, tetapi kebanyakan mereka tidak memahaminya!127


125 Yakni, mengganti sistem keagamaan yang terdahu dengan pesan Al-Quran—dan bukan, sebagaimana ditegaskan oleh sejumlah ulama, “membatalkan” satu ayat Al-Quran lalu menggantinya dengan ayat lainnya. (Mengenai “doktrin pembatalan [nasikh-mansukh]” yang tidak dapat dipertahankan lagi, dalam pengertian yang disebut terakhir, lihat Surah Al-Baqarah [2]: 106 dan catatan no. 87, serta catatan no. 35 pada Surah Fussilat [41]: 42.)

126 Yakni, bertahapnya pewahyuan ini (yang tersirat dalam bentuk verba yunazzil) berkaitan dengan rencana Allah yang secara berangsur-angsur mengungkapkan kehendak-Nya kepada manusia dengan mengganti syariat agama yang satu dengan syariat agama lainnya sesuai dengan perkembangan intelektual dan sosial manusia, yang mencapai puncaknya dengan pesan Al-Quran.

127 Yakni, mereka tidak memahami pentingnya syariat yang baru dan, karena itu, tidak benar-benar memahami Al-Quran.


Surah An-Nahl Ayat 102

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

qul nazzalahụ rụḥul-qudusi mir rabbika bil-ḥaqqi liyuṡabbitallażīna āmanụ wa hudaw wa busyrā lil-muslimīn

102. Katakanlah: “Ilham Suci128 telah membawanya turun dari Pemeliharamu secara bertahap, dengan menyatakan kebenaran, agar ia dapat memberi keteguhan kepada orang-orang yang telah meraih iman, dan memberikan petunjuk serta kabar gembira bagi semua orang yang telah berserah diri kepada Allah.”


128 Sebagaimana dalam tiga tempat lainnya yang memuat ungkapan ruh al-qudus (Surah Al-Baqarah [2]: 87 dan 253, serta Surah Al-Ma’idah [5]: 110), di sini saya pun menerjemahkannya menjadi “ilham suci” (lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 71), suatu istilah yang, menurut hemat saya, merupakan sinonim Al-Quran untuk “wahyu Ilahi”. Namun, terjemahan harfiah “ruh kudus” juga dimungkinkan jika kita menerapkan istilah ini untuk malaikat yang menyampaikan wahyu Allah kepada para nabi {yakni, malaikat Jibril—peny.}. (Lihat juga ayat 2 suarh ini dan catatan no. 2.)


Surah An-Nahl Ayat 103

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ ۗ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ

wa laqad na’lamu annahum yaqụlụna innamā yu’allimuhụ basyar, lisānullażī yul-ḥidụna ilaihi a’jamiyyuw wa hāżā lisānun ‘arabiyyum mubīn

103. Dan sungguh, Kami benar-benar mengetahui bahwa mereka berkata, “[Semua] ini tidak lain hanyalah diajarkan oleh seorang manusia kepadanya!”129—(meskipun) bahasa orang yang mereka tunjuk dengan penuh kedengkian itu adalah bahasa yang sama sekali asing,130 padahal ini adalah logat bahasa Arab, yang jelas [dalam dirinya sendiri] dan secara jelas menunjukkan kebenaran [sumbernya].131


129 Yakni, kepada Nabi Muhammad Saw.—jadi, menyindir bahwa pengakuan Nabi yang menyatakan bahwa dia mendapat wahyu dari Allah adalah salah.

130 Sementara sebagian orang pagan Quraisy memandang bahwa gagasan-gagasan yang diungkapkan dalam Al-Quran itu “dibuat-buat” oleh Nabi Muhammad Saw., sebagian lainnya berpendapat bahwa gagasan tersebut pasti diajarkan oleh orang asing kepadanya—mungkin seorang Nasrani—yang hidup di Makkah pada waktu itu, atau orang yang diduga pernah bertemu dengan Nabi pada masa-masa awal hidupnya. Berbagai dugaan telah dikemukakan—baik oleh mufasir Muslim terdahulu maupun oleh para orientalis modern—berkenaan dengan “identitas” orang atau orang-orang yang ada dalam benak penduduk Makkah yang curiga ini; tetapi semua dugaan tersebut bersifat spekulatif murni dan, karena itu, tidak memiliki nilai historis apa pun. Kecurigaan orang-orang pagan Makkah ini hanyalah menunjukkan kenyataan sejarah bahwa lawan-lawan Nabi yang tidak ingin memberikan pujian bahwa beliau telah “mengarang” Al-Quran (yang keagungannya tidak dapat mereka ingkari) itu, dengan enteng menyatakan bahwa Al-Quran dikarang—atau sekurang-kurangnya diilhami—oleh seorang “guru” khayal Nabi yang berkebangsaan non-Arab.

131 Untuk penjelasan atas terjemahan istilah deskriptif mubin ini, lihat Surah Yusuf [12], catatun no. 2. Di sini, istilah tersebut digunakan untuk menekankan fakta bahwa tidak ada satu pun manusia—apalagi yang bukan berkebangsaan Arab—yang mampu menghasilkan diksi bahasa Arab yang agung dan tanpa cacat sebagaimana yang digunakan oleh Al-Quran.


Surah An-Nahl Ayat 104

إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ لَا يَهْدِيهِمُ اللَّهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

innallażīna lā yu`minụna bi`āyātillāhi lā yahdīhimullāhu wa lahum ‘ażābun alīm

104. Sungguh, adapun mengenai orang-orang yang tidak akan beriman kepada pesan-pesan Allah, Allah tidak memberi petunjuk kepada mereka; dan bagi mereka derita yang pedih [dalam kehidupan akhirat].


Surah An-Nahl Ayat 105

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

innamā yaftaril-każiballażīna lā yu`minụna bi`āyātillāh, wa ulā`ika humul-kāżibụn

105. Yang mengadakan kebatilan ini tidak lain hanyalah mereka yang tidak akan beriman kepada pesan-pesan Allah;132 dan mereka, mereka itulah yang berdusta!


132 Yakni, tuduhan keji yang dirujuk dalam ayat 103. Meskipun pernyataan ini, pertama-tama, mengacu pada musuh-musuh Nabi yang hidup sezaman dengannya, pernyataan tersebut jelas-jelas juga mengacu kepada manusia di segala zaman yang menolak beriman pada realitas wahyu Muhammad Saw., dan yang berupaya untuk merendahkan nilai wahyu tersebut dengan menyatakannya sebagai sekadar ilusi-ilusi obsesif atau bahkan pemalsuan yang disengaja.


Surah An-Nahl Ayat 106

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَٰكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

mang kafara billāhi mim ba’di īmānihī illā man ukriha wa qalbuhụ muṭma`innum bil-īmāni wa lākim man syaraḥa bil-kufri ṣadran fa ‘alaihim gaḍabum minallāh, wa lahum ‘ażābun ‘aẓīm

106. Adapun orang yang mengingkari Allah setelah dia meraih iman—dan hal ini, tentunya, tidak berlaku bagi133 orang yang melakukannya di bawah paksaan, padahal hatinya tetap setia dengan keimanannya,134 tetapi [hanya berlaku bagi] orang yang membuka hatinya secara sukarela untuk mengingkari kebenaran—: terhadap semua orang yang seperti inilah murka Allah [ditimpakan], dan penderitaan yang amat besar menanti mereka:


133 Lit., “kecuali”—tetapi, susunan kalimat bahasa Arab pada kalimat selanjutnya mengharuskan partikel illa diterjemahkan menurut cara yang saya gunakan (“dan hal ini, tentunya, tidak berlaku bagi …,” dst.).

134 Lit., “seseorang yang dipaksa, sementara hatinya telah tenteram dalam keyakinan[-nya]”. lni berhubungan dengan orang beriman yang, karena berada di bawah siksaan atau ancaman kematian, berpura-pura “menarik kembali {pernyataan keimanannya}” untuk menyelamatkan diri. Meskipun Al-Quran menjelaskan dalam sejumlah tempat bahwa mati syahid karena mempertahankan iman memiliki nilai pahala yang amat tinggi, “Allah tiada membebani seseorang melebihi kemampuannya” (bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 233 dan 286, Al-An’am [6]: 152, Al-A’raf [7]: 42, Al-Mu’minun [23]: 62, dan banyak pernyataan lainnya dalam Al-Quran dengan maksud yang sama).


Surah An-Nahl Ayat 107

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

żālika bi`annahumustaḥabbul-ḥayātad-dun-yā ‘alal-ākhirati wa annallāha lā yahdil-qaumal-kāfirīn

107. semua ini adalah karena mereka jauh lebih menghargai kehidupan dunia ini daripada kehidupan akhirat, dan karena Allah tidak memberikan petunjuk-Nya kepada orang-orang yang mengingkari kebenaran.


Surah An-Nahl Ayat 108

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

ulā`ikallażīna ṭaba’allāhu ‘alā qulụbihim wa sam’ihim wa abṣārihim, wa ulā`ika humul-gāfilụn

108. Orang-orang yang hati, pendengaran, dan penglihatannya telah ditutup oleh Allah—mereka, mereka itulah orang-orang yang lalai!135


135 Secara tersirat, “mengenai apa yang baik dan buruk untuk mereka”.

Untuk penjelasan mengenai tindakan Allah “menutup” hati mereka yang berkukuh mengingkari kebenaran, lihat Surah Al-Baqarah [2]: 7 dan catatannya.


Surah An-Nahl Ayat 109

لَا جَرَمَ أَنَّهُمْ فِي الْآخِرَةِ هُمُ الْخَاسِرُونَ

lā jarama annahum fil-ākhirati humul-khāsirụn

109. Sesungguhnya, mereka, merekalah yang dalam kehidupan akhirat akan menjadi orang-orang yang merugi!


Surah An-Nahl Ayat 110

ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ هَاجَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا فُتِنُوا ثُمَّ جَاهَدُوا وَصَبَرُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

ṡumma inna rabbaka lillażīna hājarụ mim ba’di mā futinụ ṡumma jāhadụ wa ṣabarụ, inna rabbaka mim ba’dihā lagafụrur raḥīm

110. Namun, perhatikanlah, Pemeliharamu [memberikan ampunan-Nya] kepada orang-orang yang hijrah meninggalkan ranah kejahatan sesudah ditaklukkan oleh godaannya,136 dan yang kemudian berjuang sungguh-sungguh [di jalan Allah] dan bersabar dalam menghadapi kesusahan: perhatikanlah, sesudah [tobat] yang seperti itu, Pemeliharamu benar-benar Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat!


136 Untuk penjelasan mengenai konsep fitnah (yang di sini muncul dalam bentuk verba futinu) dan mengenai penerjemahannya menjadi “godaan untuk (melakukan) kejahatan”, lihat Surah Al-Anfal [8], catatan no. 25. Mengenai ungkapan alladzina hajaru dalam pengertian spiritualnya, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 203 dan Surah An-Nisa’ [4], catatan no. 124.


Surah An-Nahl Ayat 111

يَوْمَ تَأْتِي كُلُّ نَفْسٍ تُجَادِلُ عَنْ نَفْسِهَا وَتُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

yauma ta`tī kullu nafsin tujādilu ‘an nafsihā wa tuwaffā kullu nafsim mā ‘amilat wa hum lā yuẓlamụn

111. [Maka, sadarlah akan] Hari tatkala setiap manusia akan datang untuk membela dirinya [sendiri], dan setiap manusia akan diberi balasan sepenuhnya atas segala yang telah dia kerjakan, dan tidak seorang pun akan dizalimi.


Surah An-Nahl Ayat 112

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

wa ḍaraballāhu maṡalang qaryatang kānat āminatam muṭma`innatay ya`tīhā rizquhā ragadam ming kulli makānin fa kafarat bi`an’umillāhi fa ażāqahallāhu libāsal-jụ’i wal-khaufi bimā kānụ yaṣna’ụn

112. DAN ALLAH mengemukakan [bagi kalian] suatu perumpamaan: [Bayangkanlah] sebuah negeri yang [dahulunya] aman dan tenteram, yang rezekinya datang melimpah-ruah kepadanya dari segenap penjuru, dan yang kemudian menolak untuk menunjukkan rasa syukur atas nikmat-nikmat Allah: oleh karena itu, Allah menyebabkan negeri itu merasakan kesengsaraan yang meliputi segalanya137 berupa kelaparan dan ketakutan, sebagai akibat dari semua [kejahatan] yang terus-menerus dilakukan oleh penduduknya.138


137 lit., “pakaian” (libas). Dalam bahasa Arab klasik, istilah ini secara idiomatis digunakan untuk menggambarkan tingkat kemalangan terhebat yang “menyelimuti seseorang seperti pakaian” (Taj Al-‘Arus, dengan rujukan spesifik terhadap ayat di atas).

138 Perumpamaan ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa sikap tidak bersyukur yang dilakukan dengan sengaja atas berbagai nikmat yang dilimpahkan Allah kepada manusia—dengan kata lain, penolakan untuk tunduk kepada petunjuk-Nya yang dilakukan dengan sengaja—dalam jangka panjang dan dalam konteks kehidupan sosial secara keseluruhan, pasti akan mengakibatkan kehancuran tidak hanya di akhirat, tetapi juga di dunia ini, karena tidak ada masyarakat yang bisa berharap untuk hidup aman dan nyaman kecuali kalau masyarakat itu menyesuaikan diri dengan standar sosial dan etika yang terkandung dalam konsep “ikatan manusia dengan Allah” (sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 19).


Surah An-Nahl Ayat 113

وَلَقَدْ جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْهُمْ فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمُ الْعَذَابُ وَهُمْ ظَالِمُونَ

wa laqad jā`ahum rasụlum min-hum fa każżabụhu fa akhażahumul-‘ażābu wa hum ẓālimụn

113. Dan sesungguhnya, telah datang kepada mereka seorang rasul di antara mereka sendiri—tetapi, mereka mendustakannya; dan oleh karena itu, penderitaan meliputi mereka sementara mereka berbuat zalim [terhadap diri mereka sendiri].


Surah An-Nahl Ayat 114

فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

fa kulụ mimmā razaqakumullāhu ḥalālan ṭayyibaw wasykurụ ni’matallāhi ing kuntum iyyāhu ta’budụn

114. MAKA, makanlah semua hal yang baik dan halal yang telah Allah sediakan untuk kalian sebagai rezeki; dan bersyukurlah kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya, jika [memang benar-benar] Dia-lah yang kalian sembah.139


139 Seruan untuk bersyukur inilah yang menghubungkan pasase ini dengan perumpamaan sebelumnya tentang negeri yang tidak bersyukur dan, demikian pula, dengan pasase pembuka (ayat 1-15) surah ini.


Surah An-Nahl Ayat 115

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

innamā ḥarrama ‘alaikumul-maitata wad-dama wa laḥmal-khinzīri wa mā uḥilla ligairillāhi bih, fa maniḍṭurra gaira bāgiw wa lā ‘ādin fa innallāha gafụrur raḥīm

115. Dia hanya mengharamkan bagi kalian bangkai, darah, daging babi, dan apa pun (yang disembelih) selain atas nama Allah; tetapi jika seseorang terdorong [kepadanya] karena terpaksa—tanpa menginginkannya dan tidak pula melampaui kebutuhannya saat itu—sungguh, Allah Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.140


140 Hendaknya dicatat bahwa dua ayat di atas hampir sama dengan Surah Al-Baqarah [2]: 172-173, dan karena itu harus dibaca dalam kaitannya dengan keseluruhan pasase tempat kedua ayat tersebut tercantum, yakni Surah Al-Baqarah [2]: 168-173. Bdk. Surah Al-An’am [6]: 145.


Surah An-Nahl Ayat 116

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

wa lā taqụlụ limā taṣifu alsinatukumul-każiba hāżā ḥalāluw wa hāżā ḥarāmul litaftarụ ‘alallāhil-każib, innallażīna yaftarụna ‘alallāhil-każiba lā yufliḥụn

116. Karena itu, janganlah mengucapkan kebatilan dengan membiarkan lidah kalian memutuskan [berdasarkan kehendak kalian sendiri], “Ini halal dan itu haram”, dengan demikian menisbahkan rekaan-rekaan dusta kalian sendiri kepada Allah:141 sebab; perhatikanlah, orang-orang yang menisbahkan rekaan-rekaan dustanya sendiri kepada Allah tidak akan pernah meraih kebahagiaan!


141 Berkenaan dengan permasalahan yang amat penting mengenai penentuan arbitrer—berdasarkan selera subjektif—terhadap apa yang dianggap baik atau buruk secara etika, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 137.


Surah An-Nahl Ayat 117

مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

matā’ung qalīluw wa lahum ‘ażābun alīm

117. Kesenangan yang singkat [mungkin mereka dapatkan di dunia ini]—tetapi, penderitaan yang pedih menanti mereka [dalam kehidupan akhirat]!


Surah An-Nahl Ayat 118

وَعَلَى الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا مَا قَصَصْنَا عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ ۖ وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

wa ‘alallażīna hādụ ḥarramnā mā qaṣaṣnā ‘alaika ming qabl, wa mā ẓalamnāhum wa lāking kānū anfusahum yaẓlimụn

118. Dan [hanya] terhadap orang-orang yang menganut iman Yahudi-lah Kami haramkan semua yang telah Kami sebutkan kepadamu sebelum ini;142 dan Kami tiada menzalimi mereka, akan tetapi merekalah yang terus-menerus menzalimi dirinya sendiri.


142 Yakni, dalam Surah Al-An’am [6]: 146, yang diwahyukan tidak lama sebelum surah ini. Partikel penghubung “dan” pada awal kalimat ini membentuk suatu kaitan dengan perintah yang terdapat dalam ayat 114 di atas, “makanlah semua hal yang baik dan halal yang telah Allah sediakan untuk kalian sebagai rezeki”; implikasinya (sebagaimana dalam Surah Al-An’am [6]: 145), hal yang benar-benar baik dan bermanfaat tiada satu pun yang diharamkan bagi orang beriman, dan kebanyakan larangan dan pembatasan yang dibebankan terhadap Orang-orang Yahudi sehubungan dengan soal makanan dibebankan hanya terhadap mereka sebagai hukuman atas dosa yang terus-menerus mereka lakukan (bdk. Surah Al-‘Imran [3]: 93).


Surah An-Nahl Ayat 119

ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ عَمِلُوا السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ وَأَصْلَحُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

ṡumma inna rabbaka lillażīna ‘amilus-sū`a bijahālatin ṡumma tābụ mim ba’di żālika wa aṣlaḥū inna rabbaka mim ba’dihā lagafụrur raḥīm

119. Dan sekali lagi:143 perhatikanlah, Pemeliharamu [menunjukkan belas kasih-Nya] kepada orang-orang yang melakukan kejahatan karena kebodohan, dan yang sesudah itu bertobat dan menjalani hidup dengan saleh: perhatikanlah, sesudah [tobat] yang seperti itu, Pemeliharamu benar-benar Maha Pengampun, Sang Pernberi Rahmat!


143 Untuk terjemahan tsumma ini, lihat Surah AI-An’am [6], catatan no. 31.


Surah An-Nahl Ayat 120

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

inna ibrāhīma kāna ummatang qānital lillāhi ḥanīfā, wa lam yaku minal-musyrikīn

120. SUNGGUH, Ibrahim adalah seorang yang menghimpun dalam dirinya seluruh kebaikan,144 patuh kepada kehendak Allah dengan segenap pengabdian, berpaling dari segala yang batil,145 dan tidak termasuk di antara orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah:


144 Ini adalah salah satu dari sekian banyak arti ummah dan, menurut saya, yang paling tepat dalam konteks di atas.

Penyebutan Ibrahim pada tempat ini mengandung suatu rujukan yang subtil terhadap ayat 118 yang membicarakan orang-orang Yahudi: sebab, mereka menyatakan diri sebagai “umat pilihan” dengan alasan bahwa mereka merupakan keturunan Ibrahim, padahal Al-Quran secara konsisten menolak segala klaim bahwa seseorang memiliki status khusus berdasarkan faktor keturunannya. Lagi pula, Al-Quran menyatakan dalam banyak tempat bahwa sementara Bapak Bangsa Ibrani ini—yang juga merupakan bapak moyang sebagian besar suku-suku Arab—merupakan personifikasi kebaikan dan kehanifan, sehingga “Allah memuliakan Ibrahim dengan cinta-Nya” (Surah An-Nisa’ [4]: 125), keturunan Yahudi-nya selalu cenderung mendurhakai Allah, sehingga “terus-menerus menzalimi diri mereka sendiri”.

145 Untuk penjelasan mengenai penerjemahan istilah hanif ini, lihat Surah Al- Baqarah [2], catatan no. 110.


Surah An-Nahl Ayat 121

شَاكِرًا لِأَنْعُمِهِ ۚ اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

syākiral li`an’umihijtabāhu wa hadāhu ilā ṣirāṭim mustaqīm

121. [sebab, dia selalu] bersyukur atas nikmat-nikmat yang dianugerahkan oleh Dia yang telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.


Surah An-Nahl Ayat 122

وَآتَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ

wa ātaināhu fid-dun-yā ḥasanah, wa innahụ fil-ākhirati laminaṣ-ṣāliḥīn

122. Maka, Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia; dan, sungguh, di akhirat [pun] dia akan mendapati dirinya di antara orang-orang saleh.


Surah An-Nahl Ayat 123

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

ṡumma auḥainā ilaika anittabi’ millata ibrāhīma ḥanīfā, wa mā kāna minal-musyrikīn

123. Dan akhirnya,146 Kami ilhamkan [pesan ini] kepadamu, [wahai Muhammad:] “Ikutilah keyakinan Ibrahim, yang berpaling dari segala yang batil, dan yang tidak termasuk di antara orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah;


146 Lit., “setelah itu” atau “kemudian” (tsumma): tetapi, karena di sini partikel ini jelas-jelas mengacu pada puncak semua wahyu sebagaimana yang termanifestasi dalam Al-Quran, terjemahan di atas tampaknya tepat.


Surah An-Nahl Ayat 124

إِنَّمَا جُعِلَ السَّبْتُ عَلَى الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ ۚ وَإِنَّ رَبَّكَ لَيَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

innamā ju’ilas-sabtu ‘alallażīnakhtalafụ fīh, wa inna rabbaka layaḥkumu bainahum yaumal-qiyāmati fīmā kānụ fīhi yakhtalifụn

124. [dan ketahuilah bahwa pengamalan] Sabat hanya diwajibkan kepada orang-orang yang berselisih pandangan mengenai dia;147 tetapi, sungguh, Allah akan mengadili di antara mereka pada Hari Kebangkitan sehubungan dengan segala hal yang biasa mereka perselisihkan.”148


147 Yakni, mengenai Ibrahim a.s. Implikasinya adalah bahwa mayoritas orang Yahudi telah menyimpang dari ajaran sejati Ibrahim (yang merupakan makna dari frasa “orang-orang yang berselisih pandangan mengenai dia”) lantaran sebagian besar mereka akhirnya menjadi yakin bahwa mereka merupakan “umat pilihan Tuhan” hanya karena mereka merupakan keturunan dari Nabi yang besar itu: suatu asumsi yang jelas-jelas berlawanan dengan setiap ajaran keagamaan sejati. Sebagaimana sering dijelaskan oleh Al-Quran, kesombongan spiritual ini dihukum oleh Allah dengan membebankan kepada Bani lsrail—dan hanya kepada mereka—segala macam bentuk larangan dan ritual yang ketat, di antaranya adalah kewajiban untuk meninggalkan semua pekerjaan dan bahkan perjalanan pada hari Sabat. Dalam implikasinya yang paling luas, pasase ini dimaksudkan untuk menekankan fakta bahwa semua ritual yang diwajibkan oleh Allah hanyalah merupakan sarana untuk mencapai disiplin ruhani, dan bukan merupakan tujuan agama itu sendiri.

148 Yakni, Dia akan mengadili antara mereka yang yakin akan mendapatkan keselamatan akhir berdasarkan dugaan mereka sebagai “umat pilihan Tuhan”, dan mereka yang percaya kepada tanggung jawab pribadi manusia di hadapan Allah: dengan demikian, wacana ini kembali pada masalah kesadaran akan kemahahadiran Allah (ketakwaan) dan kesalehan.


Surah An-Nahl Ayat 125

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

ud’u ilā sabīli rabbika bil-ḥikmati wal-mau’iẓatil-ḥasanati wa jādil-hum billatī hiya aḥsan, inna rabbaka huwa a’lamu biman ḍalla ‘an sabīlihī wa huwa a’lamu bil-muhtadīn

125. SERULAH [semua manusia] kepada jalan Pemeliharamu dengan kebijaksanaan dan nasihat yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang terbaik:149 sebab, perhatikanlah, Pemeliharamu yang paling mengetahui mengenai siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dia paling mengetahui tentang siapa yang mendapat petunjuk.


149 Bdk. Surah Al-‘Ankabut [29]: 46-“Dan janganlah berdebat dengan para penganut wahyu terdahulu, kecuali dengan cara yang paling baik”. Penekanan pada kebaikan, kebijaksanaan, serta penggunaan nalar semata dalam semua diskusi keagamaan dengan penganut agama lain sepenuhnya sejalan dengan perintah dasar dan tegas, “Tiada paksaan dalam urusan keyakinan” (Surah Al-Baqarah [2]: 256).


Surah An-Nahl Ayat 126

وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ ۖ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ

wa in ‘āqabtum fa ‘āqibụ bimiṡli mā ‘ụqibtum bih, wa la`in ṣabartum lahuwa khairul liṣ-ṣābirīn

126. Karena itu, jika kalian harus memberikan tanggapan terhadap suatu serangan [dalam berdebat], tanggapilah hanya sebatas serangan yang dilancarkan terhadap kalian;150 akan tetapi, menahan diri kalian dengan sabar adalah sungguh jauh lebih baik bagi [kalian, karena Allah bersama] orang-orang yang sabar dalam menghadapi kesusahan.


150 Lit., “balaslah [atau ‘tanggapilah’] dengan yang serupa dengan apa yang ditimpakan kepada kalian”: jadi, orang-orang beriman diperingatkan untuk mengendalikan diri ketika berargumentasi dengan penganut-penganut agama lain, dan jangan pernah melanggar sopan-santun dan kepatutan intelektual. Meskipun serangan balasan dalam berargumentasi diperbolehkan jika harga diri seseorang diserang lawan, lanjutan ayat tersebut menjelaskan bahwa yang secara moral lebih baik adalah meninggalkannya sama sekali dan menghadapi serangan yang tidak adil itu dengan sabar.


Surah An-Nahl Ayat 127

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ

waṣbir wa mā ṣabruka illā billāhi wa lā taḥzan ‘alaihim wa lā taku fī ḍaiqim mimmā yamkurụn

127. Maka, tahanlah dengan sabar [segala yang mungkin dikatakan oleh mereka yang mengingkari kebenaran itu]—dengan selalu mengingat bahwa hanya Allah-lah yang memberimu kekuatan untuk menahan kesusahan151—dan janganlah engkau bersedih hati terhadap mereka, dan jangan pula bersempit dada karena, dalil-dalil batil yang mereka rekayasa:152


151 Lit., “dan kesabaranmu dalam menghadapi kesusahan (shabr) tidak lain adalah karena [atau ‘bergantung pada’] Allah”—jadi, perdebatan tersebut jangan sekali-kali dibiarkan menjadi sumber kesombongan spiritual dan perasaan ‘ujub (berbangga-diri karena merasa saleh, false self-righteousness).

152 Lit., “segala yang mereka tipu-dayakan”, yakni, dengan membuat-buat argumen yang batil dan tidak relevan untuk membantah pesan-pesan Allah.


Surah An-Nahl Ayat 128

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

innallāha ma’allażīnattaqaw wallażīna hum muḥsinụn

128. sebab, sungguh, Allah beserta orang-orang yang sadar akan Dia dan juga berbuat kebajikan!


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top