Surat An-Naba' dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

78. An-Naba’ (Berita Besar) – النبأ

Surat An-Naba’ ( النبأ ) merupakan surah ke 78 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 40 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah An-Naba’ tergolong Surat Makkiyah.

Tema surah ini, yang tidak diragukan lagi termasuk dalam periode Makkah akhir (Al-Suyuthi), adalah tentang kelanjutan hidup manusia setelah kematian jasmani, yakni, kebangkitan kembali dan pengadilan akhir Allah. Nama yang biasa menjadi julukan bagi surah ini berasal dari kata naba’ yang terdapat pada ayat kedua.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah An-Naba’ Ayat 1

عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ

‘amma yatasā`alụn

1. TENTANG APAKAH mereka [paling sering] saling bertanya?


Surah An-Naba’ Ayat 2

عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ

‘anin-naba`il-‘aẓīm

2. Tentang kabar yang dahsyat [mengenai kebangkitan kembali],


Surah An-Naba’ Ayat 3

الَّذِي هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ

allażī hum fīhi mukhtalifụn

3. yang mereka perselisihkan [begitu sengit].1


1 Pertanyaan yang paling menyita pikiran manusia ini—pertanyaan mengenai apakah ada kehidupan setelah mati—telah dijawab dengan bermacam-macam jawaban sepanjang zaman. Tentu saja, mustahil untuk memaparkan jawaban-jawaban yang sangat beragam itu; meskipun demikian, sedikit garis besar pemikiran mengenai hal ini dapat dilihat dengan jelas, dan pemaparan dari sebagian penjelasan itu mungkin dapat berguna bagi pemahaman yang lebih baik mengenai sikap Al-Quran terhadap masalah ini. Sebagian orang—mungkin dalam jumlah yang kecil—tampaknya yakin bahwa kematian jasmani berarti kemusnahan total yang prosesnya tidak dapat dibalik lagi dan bahwa, karena itu, semua pembicaraan mengenai Hari Kemudian tidak lain hanyalah pemikiran yang sia-sia. Sebagian yang lain berpendapat bahwa setelah kematian seorang individu, “sari kehidupan” (jiwa) manusia kembali kepada apa yang dianggap sebagai sumber asalnya yang dibayangkan sebogai “jiwa universal”—dan bersatu dengannya seluruhnya. Sebagian lainnya percaya terhadap perpindahan berturut-turut jiwa individu pada saat mati ke tubuh yang lain, entah tubuh manusia atau binatang, tetapi tanpa adanya kesinambungan kesadaran individu. Sementara itu, sebagian yang lain berpandangan bahwa hanya jiwa, bukan keseluruhan “pribadi manusia”, yang terus hidup setelah mati—yaitu, dalam bentuk yang sepenuhnya ruhani, tanpa jasmani. Dan, terakhir, sebagian orang percaya akan terus hidupnya pribadi dan kesadaran individu, dan mereka menganggap kematian dan kebangkitan-kembali sebagai tahapan kembar dari tindak positif penciptaan-kembali keseluruhan kepribadian manusia, dalam bentuk apa pun: dan inilah pandangan Al-Quran tentang kehidupan akhirat.


Surah An-Naba’ Ayat 4

كَلَّا سَيَعْلَمُونَ

kallā saya’lamụn

4. Tidak, tetapi pada akhirnya, mereka akan memahami [hal itu]!


Surah An-Naba’ Ayat 5

ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُونَ

ṡumma kallā saya’lamụn

5. Dan, sekali lagi:2 tidak, tetapi pada akhirnya mereka akan memahami!


2 Mengenai terjemahan kata tsumma ini, lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 31.


Surah An-Naba’ Ayat 6

أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا

a lam naj’alil-arḍa mihādā

6. BUKANKAH telah Kami jadikan bumi sebagai tempat istirahat [bagi kalian],


Surah An-Naba’ Ayat 7

وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا

wal-jibāla autādā

7. dan gunung-gunung sebagai pasak­ pasak[-nya]?3


3 Lihat Surah An-Nahl [16]: 15—“Dia telah meletakkan gunung-gunung yang kokoh di atas bumi agar bumi itu tidak bergoyang bersama kalian”—dan catatan no. 11 yang terkait, yang menjelaskan penyebutan gunung-gunung sebagai “pasak-pasak”.

Keseluruhan bagian surah ini (ayat 6-16) dimaksudkan untuk menggambarkan kemahakuasaan dan kemahapenciptaan Allah, yang seolah-olah berkata, “Bukankah Dia yang telah menciptakan alam semesta juga mampu membangkitkan dan menciptakan kembali manusia dalam bentuk apa pun yang Dia pandang perlu?”


Surah An-Naba’ Ayat 8

وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجًا

wa khalaqnākum azwājā

8. Dan, telah Kami jadikan kalian berpasang-pasangan;4


4 Yakni, “dengan kekuasaan mencipta yang sama, Kami telah menciptakan polaritas yang menakjubkan dari dua jenis kelamin pada diri kalian dan makhluk bernyawa lainnya”. Fenomena polaritas, yang tampak jelas di seluruh alam semesta (lihat Surah YaSin [36]: 36 dan catatan no. 18 yang terkait), digambarkan lebih jauh dalam ayat 9-11 .


Surah An-Naba’ Ayat 9

وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا

wa ja’alnā naumakum subātā

9. dan Kami jadikan tidur kalian [sebagai perlambang] kematian5


5 Demikianlah pendapat Al-Zamakhsyari, yang menekankan makna dasar kata subat sebagai “terputus” (qath’), yakni “mati”; juga filolog terkemuka abad ke-2, Abu ‘Ubaidah Ma’mar ibn Al-Mutsanna, yang (sebagaimana dikutip oleh Al-Razi) menjelaskan ungkapan subat sebagai “padanan kata (syibh) untuk kematian”.


Surah An-Naba’ Ayat 10

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا

wa ja’alnal-laila libāsā

10. dan Kami jadikan malam sebagai jubah[-nya],


Surah An-Naba’ Ayat 11

وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا

wa ja’alnan-nahāra ma’āsyā

11. dan Kami jadikan siang [sebagai perlambang] kehidupan.6


6 Menurut Al-Zamakhsyari, istilah ma’asy (“sesuatu yang dengannya seseorang hidup”) di sini bersinonim dengan “kehidupan”. Dalam polaritas dari keadaan tidur (atau “kematian”) dan keadaan jaga (atau “kehidupan”), kita melihat adanya alusi tentang kematian jasmani dan kebangkitan kembali sesudahnya yang telah disinggung dalam Surah Al-An’am [6]: 60.


Surah An-Naba’ Ayat 12

وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًا

wa banainā fauqakum sab’an syidādā

12. Dan, telah Kami bangun di atas kalian lelangit yang tujuh,7


7 Lit., “tujuh yang kukuh”, yang mengindikasikan kemajemukan sistem alam semesta (lihat Surah Al-Baqarah [2] catatan no. 20).


Surah An-Naba’ Ayat 13

وَجَعَلْنَا سِرَاجًا وَهَّاجًا

wa ja’alnā sirājaw wahhājā

13. dan telah Kami tempatkan [di dalamnya mentari,] pelita yang amat terang menyala-nyala.


Surah An-Naba’ Ayat 14

وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجًا

wa anzalnā minal-mu’ṣirāti mā`an ṡajjājā

14. Dan, dari awan-awan yang digerakkan angin, Kami turunkan air yang tercurah dengan berlimpah,


Surah An-Naba’ Ayat 15

لِنُخْرِجَ بِهِ حَبًّا وَنَبَاتًا

linukhrija bihī ḥabbaw wa nabātā

15. supaya dapat Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh­-tumbuhan,


Surah An-Naba’ Ayat 16

وَجَنَّاتٍ أَلْفَافًا

wa jannātin alfāfā

16. dan kebun-kebun yang rimbun dengan de­daunan.8


8 Ungkapan ini menyiratkan bahwa bukti yang sedemikian melimpah mengenai adanya tujuan dan rencana dalam seluruh alam yang kasatmata ini menunjukkan adanya Pencipta yang sadar, yang “tidak menciptakan [semua] ini tanpa makna dan tujuan” (Surah Al-‘Imran [3]: 191), dan yang—sebagaimana ditekankan dalam rangkaian ayat berikutnya—suatu hari akan menjatuhkan keputusan-Nya menyangkut kemauan dan keengganan manusia untuk hidup sesuai dengan ukuran-ukuran moralitas yang diterangkan kepadanya melalui naluri bawaan maupun melalui wahyu llahi.


Surah An-Naba’ Ayat 17

إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتًا

inna yaumal-faṣli kāna mīqātā

17. SUNGGUH, Hari Pembeda [antara yang benar dan yang salah]9 memiliki waktu yang telah ditetapkan:


9 Lihat catatan no. 6 dalam Surah Al-Mursalat [77]: 13. Bagian surah ini berhubungan dengan ayat 4-5.


Surah An-Naba’ Ayat 18

يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجًا

yauma yunfakhu fiṣ-ṣụri fa ta`tụna afwājā

18. Hari ketika sangka kala [kebangkitan] dibunyikan dan kalian semua akan datang berbondong-bondong;


Surah An-Naba’ Ayat 19

وَفُتِحَتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ أَبْوَابًا

wa futiḥatis-samā`u fa kānat abwābā

19. dan ketika langit dibukakan dan menjadi [seperti] gerbang-gerbang [yang dibentangkan se­lebar-lebarnya];10


10 Secara alegoris, “misteri-misteri Hari itu akan dapat dipahami oleh manusia”—dengan demikian, ungkapan itu memperkuat lebih jauh konsep “Hari Pembeda antara yang benar dan yang salah”.


Surah An-Naba’ Ayat 20

وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًا

wa suyyiratil-jibālu fa kānat sarābā

20. dan ketika gunung-gunung dijadikan sirna seolah-olah mereka adalah fatamorgana.11


11 Lihat catatan no. 90 dalam Surah Ta’Ha’ [20]: 105-107, serta catatan no. 63 dalam Surah Ibrahim [14]: 48.


Surah An-Naba’ Ayat 21

إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًا

inna jahannama kānat mirṣādā

21. [Pada Hari itu,] sungguh, neraka akan mengintai [orang­ orang yang mengingkari kebenaran]—


Surah An-Naba’ Ayat 22

لِلطَّاغِينَ مَآبًا

liṭ-ṭāgīna ma`ābā

22. tujuan bagi orang­ orang yang biasa melanggar batas-batas apa yang benar!


Surah An-Naba’ Ayat 23

لَابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا

lābiṡīna fīhā aḥqābā

23. Di dalamnya, mereka akan tinggal untuk waktu yang lama.12


12 Yakni, bukan untuk selamanya, karena istilah huqb atau hiqbah (bentuk jamak: ahqab) berarti tidak lebih dari “suatu periode waktu” atau “waktu yang panjang” (Al-Jauhari)—menurut sebagian mufasir, “delapan puluh tahun”, sedangkan menurut sebagian yang lain, “satu tahun” atau “bertahun-tahun” (Al-Asas, Al-Qamus, Lisan Al-‘Arab, dan sebagainya). Namun, definisi apa pun yang diberikan pada istilah ini, jelas bahwa istilah ini berarti periode waktu yang terbatas, bukan keabadian: dan hal ini sejalan dengan banyak petunjuk di dalam Al-Quran yang menyatakan bahwa penderitaan yang digambarkan sebagai “neraka” tidaklah abadi (lihat catatan no. 114 dalam paragraf terakhir Surah Al-An’am [6]: 128), serta sejalan dengan beberapa hadis sahih Nabi (misalnya, hadis yang dikutip dalam catatan no. 10 dalam Surah Ghafir [40]: 12).


Surah An-Naba’ Ayat 24

لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا

lā yażụqụna fīhā bardaw wa lā syarābā

24. Mereka tiada merasakan kesejukan di dalamnya, tiada pula minuman [yang dapat menghilangkan rasa dahaga]—


Surah An-Naba’ Ayat 25

إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا

illā ḥamīmaw wa gassāqā

25. hanya keputusasaan yang membara dan kegelapan yang sedingin es:13


13 Mengenai terjemahan saya atas kata hamim menjadi “keputusasaan yang membara”, lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 62. Makna kata ghassaq dijelaskan dalam catatan no. 47 dalam Surah Sad [38]: 57-58.


Surah An-Naba’ Ayat 26

جَزَاءً وِفَاقًا

jazā`aw wifāqā

26. suatu balasan yang setimpal [untuk dosa-dosa mereka]!


Surah An-Naba’ Ayat 27

إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَابًا

innahum kānụ lā yarjụna ḥisābā

27. Perhatikanlah, mereka tidak berharap untuk dimintai pertanggungjawaban,


Surah An-Naba’ Ayat 28

وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا

wa każżabụ bi`āyātinā kiżżābā

28. (karena) mendustakan pesan-pesan kami seluruhnya:


Surah An-Naba’ Ayat 29

وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَابًا

wa kulla syai`in aḥṣaināhu kitābā

29. namun, Kami telah mencatat segala se­suatu [yang mereka perbuat].


Surah An-Naba’ Ayat 30

فَذُوقُوا فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا

fa żụqụ fa lan nazīdakum illā ‘ażābā

30. [Dan, demikianlah akan Kami katakan:] “Maka, rasakanlah [buah dari perbuatan jahat kalian] karena kini Kami tidak akan menimpakan kepada kalian selain penderitaan demi pende­ritaan!”14


14 Lit., “Kami tidak akan menambahkan padamu sesuatu apa pun, kecuali penderitaan”: yakni, hingga dosa-dosa di dunia ini ditebus dengan penderitaan atau azab yang sepadan di akhirat—sebab, “siapa pun yang datang [ke hadapan Allah] dengan perbuatan jahat hanya akan diberi balasan yang setimpal dengannya; dan tiada seorang pun yang akan dizalimi” (Surah Al-An’am [6]: 160).


Surah An-Naba’ Ayat 31

إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا

inna lil-muttaqīna mafāzā

31. [Tetapi,] sungguh, bagi orang-orang yang sadar akan Allah, tersedia kepuasan yang paling tinggi:15


15 Yakni, pemenuhan semua yang mungkin pernah diinginkan oleh manusia (Al-Razi), yang disimbolkan dengan “taman-taman yang rindang” dan sebagainya dalam ayat selanjutnya.


Surah An-Naba’ Ayat 32

حَدَائِقَ وَأَعْنَابًا

ḥadā`iqa wa a’nābā

32. taman-taman dan kebun-kebun anggur yang rindang,


Surah An-Naba’ Ayat 33

وَكَوَاعِبَ أَتْرَابًا

wa kawā’iba atrābā

33. dan teman-teman yang elok dan tampan, yang benar-benar sepadan,16


16 Mengenai terjemahan kata atrab di atas, lihat Surah Al-Waqi’ah [56], catatan no. 15. Berkenaan dengan terjemahan saya atas kata kawa’ib menjadi “teman-teman yang elok dan tampan” (splendid companions), hendaknya diingat bahwa nomina ka’b—yang darinya kata pelaku ka’ib diturunkan—memiliki banyak arti dan bahwa salah satu dari makna kata itu ialah “kemenonjolan” (prominence), “keunggulan” (eminence), atau “keagungan” (glory) (Lisan Al-‘Arab); dengan demikian, verba ka’ba, ketika diterapkan kepada persona, berarti “dia membuat [orang lain] ‘menonjol’, ‘unggul’, atau ‘agung’” (ibid.). Berdasarkan arti kiasan dari verba ka’ba dan nomina ka’b, kata pelaku ka’ib sering digunakan dalam bahasa percakapan populer untuk menunjuk pada “gadis yang buah dadanya sedang menjadi menonjol” atau “sedang mekar berkembang”: karena itu, banyak mufasir berpandangan bahwa istilah itu mengacu secara tidak langsung kepada “teman-teman wanita” berusia muda yang akan menghibur para penghuni surga (yang dalam hal ini diandaikan sebagai pria). Namun, terlepas dari kenyataan bahwa seluruh alegori Al-Quran tentang kenikmatan-kenikmatan surgawi sama-sama berlaku untuk perempuan maupun laki-laki, penafsiran kata kawa’ib semacam itu mengabaikan asal-usul yang bersifat murni derivatif dari ungkapan populer di atas—yang didasarkan atas konotasi kiasan dari “keadaan menonjol” (prominence) yang terkandung dalam nomina ka’b—dan menggantikan ungkapan yang jelas bermakna kiasan itu menjadi bermakna harfiah, yakni sesuatu yang menonjol secara fisik: dan, menurut saya, hal ini sama sekali tidak dapat dibenarkan. Jika kita mengingat bahwa penggambaran-penggambaran Al-Quran tentang berbagai kenikmatan di surga selalu bersifat alegoris, kita menyadari bahwa dalam konteks di atas, istilah kawa’ib tidak dapat memiliki arti lain kecuali “makhluk-makhluk yang sangat agung [atau ‘elok’]”, tanpa mendefinisikan jenis kelaminnya; dan, dalam kombinasinya dengan istilah atrab, ungkapan itu berarti “teman-teman yang elok dan tampan, yang benar-benar sepadan”—dengan demikian, ungkapan ini mengacu secara tidak langsung kepada hubungan orang-orang yang diberkati satu sama lain, dan menekankan kecocokan/kompatibilitas timbal-balik yang mutlak dan martabat yang setara dari mereka semua. Lihat juga catatan no. 13 dalam Surah Al-Waqi’ah [56]: 34.


Surah An-Naba’ Ayat 34

وَكَأْسًا دِهَاقًا

wa ka`san dihāqā

34. dan gelas [kebahagiaan] yang melimpah-ruah.


Surah An-Naba’ Ayat 35

لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا كِذَّابًا

lā yasma’ụna fīhā lagwaw wa lā kiżżābā

35. Tiada pembicaraan sia-sia akan mereka dengar di dalam [surga] itu, tidak pula ada dusta.


Surah An-Naba’ Ayat 36

جَزَاءً مِنْ رَبِّكَ عَطَاءً حِسَابًا

jazā`am mir rabbika ‘aṭā`an ḥisābā

36. [Semua itu akan menjadi] balasan dari Pemeliharamu, pemberian yang sesuai dengan perhitungan[-Nya]17


17 Yakni, tidak hanya sesuai dengan perbuatan-perbuatan baik mereka, tetapi juga jauh melampaui perbuatan-perbuatan itu, sesuai dengan karunia Allah yang tiada terhingga.


Surah An-Naba’ Ayat 37

رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الرَّحْمَٰنِ ۖ لَا يَمْلِكُونَ مِنْهُ خِطَابًا

rabbis-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumar-raḥmāni lā yamlikụna min-hu khiṭābā

37. [balas­an dari] Pemelihara lelangit dan bumi dan segala yang terdapat di antara keduanya, Yang Maha Pengasih! [Dan,] tiada seorang pun mampu mengangkat suara kepada­ Nya


Surah An-Naba’ Ayat 38

يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلَائِكَةُ صَفًّا ۖ لَا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ وَقَالَ صَوَابًا

yauma yaqụmur-rụḥu wal-malā`ikatu ṣaffal lā yatakallamụna illā man ażina lahur-raḥmānu wa qāla ṣawābā

38. pada Hari ketika semua jiwa [manusia]18 dan semua malaikat berdiri berbaris: tidak ada yang akan berbicara kecuali dia yang telah diberi izin oleh Yang Maha Pengasih; dan [setiap orang hanya] akan berkata yang benar.19


18 Lit., “jiwa”, dalam bentuk tunggal, tetapi menyiratkan bentuk jamak. Menurut Ibn ‘Abbas, Qatadah, dan Al-Hasan (semuanya dikutip oleh Al-Thabari), inilah makna al-ruh dalam konteks di atas.

19 Hal ini termasuk hak simbolis para nabi untuk “memberi syafaat” {yaitu memintakan ampunan} bagi para pendosa pada Hari Pengadilan (lihat Surah Yunus [10]: 3—“Tiada seorang pun dapat memberi syafaat, kecuali kalau Dia mengizinkannya”—dan catatan no. 7 yang terkait, yang menyatakan dengan jelas bahwa “syafaat” [permohonan ampun] semacam itu mengandung pengertian bahwa Allah secara apriori [sebelumnya] telah menerima tobat para pendosa). Dalam pengertian yang lebih luas, pernyataan bahwa orang yang diizinkan oleh Allah untuk berbicara “[hanya] akan berkata yang benar” menyiratkan kemustahilan seseorang untuk berdusta pada Hari Pengadilan.


Surah An-Naba’ Ayat 39

ذَٰلِكَ الْيَوْمُ الْحَقُّ ۖ فَمَنْ شَاءَ اتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِ مَآبًا

żālikal-yaumul-ḥaqq, fa man syā`attakhaża ilā rabbihī ma`ābā

39. Itu akan menjadi Hari Kebenaran Tertinggi:20 siapa saja yang berkehendak, maka biarkan dia menempuh jalan yang akan mengantarkan kepada Pemeliharanya!


20 Bdk. Surah Al-Haqqah [69]: 1 dan catatan no. 1 yang terkait. Secara objektif, hal itu akan menjadi momen ketika realitas sesungguhnya dari kehidupan manusia dan tujuannya dapat dipahami sepenuhnya oleh manusia.


Surah An-Naba’ Ayat 40

إِنَّا أَنْذَرْنَاكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا يَوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا

innā anżarnākum ‘ażābang qarībay yauma yanẓurul-mar`u mā qaddamat yadāhu wa yaqụlul-kāfiru yā laitanī kuntu turābā

40. Sungguh, Kami telah memperingatkan kalian tentang penderitaan yang sangat dekat—[penderitaan] pada Hari ketika manusia akan melihat [dengan jelas] apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya dan ketika orang yang mengingkari kebe­aran berkata, “Ah, seandainya aku hanyalah tanah…!”21


21 Bdk. Surah Al-Haqqah [69]: 27.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Similar Posts