28. Al-Qasas (Kisah) – القصص

Surat Al-Qasas dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Qasas ( القصص ) merupakan surah ke 28 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 88 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Al-Qasas tergolong Surat Makkiyah.

Nyaris tidak ada keraguan sedikit pun bahwa Surat Al-Qasas secara keseluruhan diwahyukan pada akhir periode Makkah, persis sebelum Surah Al-Isra’ [17]. Akan tetapi, menurut beberapa ahli, ayat ke-85 diturunkan di sebuah tempat bernama Juhfah tatkala Nabi berhijrah dari Makkah ke Madinah.

“Nama” konvensional surah ini tampaknya diambil secara acak dari kata al-qashash yang terdapat pada bagian kedua ayat ke-25—suatu pilihan yang kemungkinan dipengaruhi oleh kenyataan bahwa kira-kira setengah dari surah ini dicurahkan untuk menceritakan sebagian kisah Nabi Musa. Perlu dicatat bahwa sebagian besar kisah ini melukiskan aspek-aspek manusiawi murni dari kehidupan Musa—yaitu, dorongan-dorongan batin, kebingungan-kebingungan, dan kekeliruan-kekeliruan yang memang menjadi bagian dari keadaan manusia itu sendiri: aspek-aspek yang ditekankan oleh Al-Qur’an, dalam rangka menghapus setiap kecenderungan yang mungkin ada di kalangan orang-orang saleh untuk menisbahkan sifat-sifat “supramanusiawi” atau, bahkan, semi-ketuhanan kepada rasul-rasul. Dengan tepat, surah ini diakhiri dengan suatu seruan keras untuk mengajak kepada kebenaran bahwa “tiada tuhan kecuali Allah”, dan bahwa “segala sesuatu pasti akan binasa, kecuali diri-Nya [yang kekal]”.

Daftar Isi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Qasas Ayat 1

طسم

ṭā sīm mīm

1. Tha. Sin. Mim.1


1 Lihat artikel Al-Muqatta’at (Huruf-Huruf Terpisah) dalam Al-Qur’an.


Surah Al-Qasas Ayat 2

تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ

tilka āyātul-kitābil-mubīn

2. INILAH PESAN-PESAN kitab Ilahi yang jelas pada dirinya sendiri dan dengan jelas menunjukkan kebenaran.2


2 Untuk penjelasan tentang penerjemahan kata sifat mubin di atas, lihat catatan no. 2 dalam Surah Yusuf [12]: 1.


Surah Al-Qasas Ayat 3

نَتْلُو عَلَيْكَ مِنْ نَبَإِ مُوسَىٰ وَفِرْعَوْنَ بِالْحَقِّ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

natlụ ‘alaika min naba`i mụsā wa fir’auna bil-ḥaqqi liqaumiy yu`minụn

3. [Kini] Kami sampaikan kepadamu sebagian kisah Musa dan Fir’aun dengan menyatakan kebenaran untuk [kebaikan] orang-orang yang akan beriman.


Surah Al-Qasas Ayat 4

إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

inna fir’auna ‘alā fil-arḍi wa ja’ala ahlahā syiya’ay yastaḍ’ifu ṭā`ifatam min-hum yużabbiḥu abnā`ahum wa yastaḥyī nisā`ahum, innahụ kāna minal-mufsidīn

4. Perhatikanlah, Fir’aun telah menyombongkan diri di negeri itu dan membagi-bagi rakyatnya ke dalam kasta-kasta.3 Segolongan di antara mereka, dia pandang sangat rendah; dia akan menyembelih anak-anak lelaki mereka dan membiarkan hidup [hanya] anak-anak perempuan mereka:4 sebab, perhatikanlah, Fir’aun termasuk orang-orang yang menyebarkan kerusakan [di muka bumi].


3 Lit., “kelompok-kelompok” atau “golongan-golongan”—yang di sini tak syak lagi mengacu pada pembagian masyarakat ke dalam golongan “keturunan mulia” dan “keturunan rendahan”: suatu pembagian yang dikecam keras oleh Al-Quran. Seperti disebutkan dalam kalimat berikutnya, kelompok yang “dipandang sangat rendah” oleh Fir’aun adalah bangsa Israel, yang dalam struktur sosial masyarakat Mesir ditempatkan pada tingkat paling rendah dan tercerabut dari hampir seluruh hak asasi manusianya.

4 Lihat catatan no. 7.


Surah Al-Qasas Ayat 5

وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ

wa nurīdu an namunna ‘alallażīnastuḍ’ifụ fil-arḍi wa naj’alahum a immataw wa naj’alahumul-wāriṡīn

5. Akan tetapi, kehendak Kami-lah untuk [justru] memberikan karunia Kami kepada orang-orang yang dipandang sangat rendah di negeri itu dan menjadikan mereka pelopor-pelopor agama,5 dan ahli-ahli waris [kejayaan Fir’aun],


5 Lit., “pemimpin-pemimpin” atau “teladan-teladan” (a’immah; tunggal: imam)—secarat idak langsung mengingatkan pada kenyataan historis bahwa kaum Yahudi adalah kaum pertama yang menerima keyakinan monoteistik dalam rumusan yang jelas dan tegas dan, dengan demikian, menjadi pelopor bagi agama Kristen dan Islam.


Surah Al-Qasas Ayat 6

وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَنُرِيَ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا مِنْهُمْ مَا كَانُوا يَحْذَرُونَ

wa numakkina lahum fil-arḍi wa nuriya fir’auna wa hāmāna wa junụdahumā min-hum mā kānụ yaḥżarụn

6. dan meneguhkan kedudukan mereka secara kukuh di muka bumi, dan membiarkan Fir’aun dan Haman6 beserta bala tentaranya mengalami, melalui orang-orang [Bani Israil] itu, suatu hal yang justru mereka upayakan agar terhindar darinya.7


6 Sosok Haman ini, yang disebutkan beberapa kali dalam Al-Quran sebagai penasihat utama Fir’aun, tidak boleh dikacaukan dengan Haman dari Persia yang terdapat dalam Perjanjian Lama (Kitab Ester 3 dst.). Kemungkinan besar, kata “Haman”, sebagaimana yang digunakan dalam Al-Quran ini, sama sekali bukanlah nama diri, melainkan versi pelafalan bahasa Arab dari julukan gabungan Ha-Amen yang diberikan kepada setiap pendeta utama dari Dewa bangsa Mesir, Amon. Karena pada saat itu pemujaan terhadap Amon sangat dominan di Mesir, pendeta utamanya menduduki peringkat kedua setelah peringkat Fir’aun yang memerintah. Asumsi bahwa orang yang disebutkan dalam Al-Quran sebagai Haman ini memang seorang pendeta utama dalam ordo pemujaan terhadap Amon, diperkuat oleh permintaan Fir’aun (yang disebutkan dalam ayat 38 surah ini dan dalam ayat 36-37 Surah Ghafir [40] agar Haman  membangunkan baginya sebuah ”menara yang tinggi” sehingga dia dapat ”melihat [atau ‘naik menuju’] Tuhannya Musa”: ini, di antaranya, boleh jadi merupakan suatu keterangan yang secara tidak langsung mengingatkan pada tujuan religius yang melandasi pembangunan sejumlah piramida besar di Mesir, dan pada tugas pendeta utama sebagai kepala arsitek pembangunan piramida tersebut. (Tetapi, lihat juga catatan no. 37.)

7 Bangsa Mesir—yang tentu ingat akan dinasti asing Hyksos pada zaman dahulu yang menyerbu Mesir dan kemudian bersekutu dengan bangsa Yahudi (lihat Surah Yusuf [12], catatan no. 44—khawatir bahwa bangsa Yahudi ini pada masa mendatang juga akan membuat kesepakatan bersama dengan-penyerbu asing (bdk. Bibel, Keluaran 1: 10): dan, untuk melindungi diri mereka dari bahaya ini, mereka memutuskan—sebagaimana disebutkan dalam beberapa tempat dalam Al-Quran dan juga dalam Bibel—untuk membunuh setiap bayi laki-laki Yahudi.


Surah Al-Qasas Ayat 7

وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ أُمِّ مُوسَىٰ أَنْ أَرْضِعِيهِ ۖ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي ۖ إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ

wa auḥainā ilā ummi mụsā an arḍi’īh, fa iżā khifti ‘alaihi fa alqīhi fil-yammi wa lā takhāfī wa lā taḥzanī, innā rāddụhu ilaiki wa jā’ilụhu minal-mursalīn

7. Dan demikianlah, [ketika dia lahir, maka,] Kami ilhamkan kepada ibunda Musa: “Susuilah dia [untuk sementara] dan kemudian apabila engkau khawatir terhadapnya, jatuhkanlah dia ke sungai,8 dan janganlah engkau takut dan bersedih hati—sebab, Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan akan menjadikannya sebagai salah seorang di antara rasul-rasul Kami!”


8 Secara tersirat, “dan dia akan diselamatkan”; bdk. Surah TaHa [20]: 39.


Surah Al-Qasas Ayat 8

فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا ۗ إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا كَانُوا خَاطِئِينَ

faltaqaṭahū ālu fir’auna liyakụna lahum ‘aduwwaw wa ḥazanā, inna fir’auna wa hāmāna wa junụdahumā kānụ khāṭi`īn

8. Maka, [sebagian anggota] keluarga9 Fir’aun menemukan [dan menyelamatkan]-nya: sebab, [Kami telah menetapkan] bahwa dia menjadi musuh bagi mereka dan [sumber] kesedihan, mengingat bahwa Fir’aun dan Haman beserta tentaranya sungguh adalah para pendosa!


9 Seperti terlihat dari ayat selanjutnya, dan dari Surah At-Tahrim [66]: 11, yang dimaksud di sini adalah istri Fir’aun sendiri.


Surah Al-Qasas Ayat 9

وَقَالَتِ امْرَأَتُ فِرْعَوْنَ قُرَّتُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ ۖ لَا تَقْتُلُوهُ عَسَىٰ أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

wa qālatimra`atu fir’auna qurratu ‘ainil lī wa lak, lā taqtulụhu ‘asā ay yanfa’anā au nattakhiżahụ waladaw wa hum lā yasy’urụn

9. Kini istri Fir’aun berkata, “[Anak ini dapat menjadi] penyejuk mata bagiku dan bagimu! Janganlah membunuhnya: mungkin saja dia bermanfaat bagi kita atau kita mengangkatnya sebagai anak!” Dan, mereka tidak menyadari [akan menjadi apa dia nantinya].


Surah Al-Qasas Ayat 10

وَأَصْبَحَ فُؤَادُ أُمِّ مُوسَىٰ فَارِغًا ۖ إِنْ كَادَتْ لَتُبْدِي بِهِ لَوْلَا أَنْ رَبَطْنَا عَلَىٰ قَلْبِهَا لِتَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

wa aṣbaḥa fu`ādu ummi mụsā fārigā, ing kādat latubdī bihī lau lā ar rabaṭnā ‘alā qalbihā litakụna minal-mu`minīn

10. Namun, pada hari berikutnya, kehampaan yang pedih tumbuh di hati ibunda Musa,10 dan dia sungguh akan mengungkapkan segalanya tentang Musa, seandainya Kami tidak menganugerahi hatinya dengan kekuatan yang cukup untuk mempertahankan keyakinannya [pada janji Kami].11


10 Yakni, mengungkap identitasnya yang sebenarnya dengan harapan Musa akan dikembalikan kepadanya.

11 Lit., “agar dia dapat menjadi salah seorang di antara mereka yang beriman”.


Surah Al-Qasas Ayat 11

وَقَالَتْ لِأُخْتِهِ قُصِّيهِ ۖ فَبَصُرَتْ بِهِ عَنْ جُنُبٍ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

wa qālat li`ukhtihī quṣṣīh, fa baṣurat bihī ‘an junubiw wa hum lā yasy’urụn

11. Maka, ibunda Musa berkata kepada saudara perempuan Musa, “Ikutilah dia”—dan [anak perempuan itu] mengawasi Musa dari jauh, sedangkan mereka [yang mengambil Musa] tidak menyadarinya.


Surah Al-Qasas Ayat 12

وَحَرَّمْنَا عَلَيْهِ الْمَرَاضِعَ مِنْ قَبْلُ فَقَالَتْ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ أَهْلِ بَيْتٍ يَكْفُلُونَهُ لَكُمْ وَهُمْ لَهُ نَاصِحُونَ

wa ḥarramnā ‘alaihil-marāḍi’a ming qablu fa qālat hal adullukum ‘alā ahli baitiy yakfulụnahụ lakum wa hum lahụ nāṣiḥụn

12. Adapun sejak awal, Kami jadikan Musa menolak menyusu pada para pengasuh [bangsa Mesir] itu; dan [ketika saudara perempuannya kemudian mengetahui hal ini,] dia berkata, “Maukah kalian aku tunjukkan suatu keluarga yang dapat mengasuhnya untuk kalian dan mengawasinya dengan iktikad baik?”


Surah Al-Qasas Ayat 13

فَرَدَدْنَاهُ إِلَىٰ أُمِّهِ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ وَلِتَعْلَمَ أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

fa radadnāhu ilā ummihī kai taqarra ‘ainuhā wa lā taḥzana wa lita’lama anna wa’dallāhi ḥaqquw wa lākinna akṡarahum lā ya’lamụn

13. Maka, Kami mengembalikan Musa kepada ibunya agar hatinya senang, dan agar dia tidak bersedih lagi, dan agar dia mengetahui bahwa janji Allah selalu benar(-benar terjadi)—meskipun kebanyakan mereka tidak mengetahuinya!


Surah Al-Qasas Ayat 14

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَىٰ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

wa lammā balaga asyuddahụ wastawā ātaināhu ḥukmaw wa ‘ilmā, wa każālika najzil-muḥsinīn

14. ADAPUN KETIKA [Musa] telah dewasa dan [berpikiran] matang, Kami berikan kepadanya kemampuan untuk menilai [antara yang benar dan yang salah] serta pengetahuan [bawaan]: sebab, demikianlah, Kami membalas orang-orang yang berbuat kebajikan.12


12 Pernyataan ini, yang nyaris sama dengan pernyataan yang terdapat dalam Surah Yusuf [12]: 22 (yang mengacu pada Yusuf), menekankan nikmat Ilahi yang tertinggi yang berupa kesadaran ruhani (‘ilm dalam maknanya yang terdalam) yang dikombinasikan dengan pemikiran rasional, sebagaimana yang diungkapkan dalam konsep hukm, yakni “kemampuan memutuskan [antara yang benar dan yang salah]”. Seperti yang jelas terlihat dari Surah Asy-Syu’ara’ [26]: 20, Nabi Musa mencapai kematangan ruhaninya setelah peristiwa-peristiwa yang digambarkan dalam ayat 15 dan seterusnya.


Surah Al-Qasas Ayat 15

وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ عَلَىٰ حِينِ غَفْلَةٍ مِنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلَانِ هَٰذَا مِنْ شِيعَتِهِ وَهَٰذَا مِنْ عَدُوِّهِ ۖ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ مُوسَىٰ فَقَضَىٰ عَلَيْهِ ۖ قَالَ هَٰذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُبِينٌ

wa dakhalal-madīnata ‘alā ḥīni gaflatim min ahlihā fa wajada fīhā rajulaini yaqtatilāni hāżā min syī’atihī wa hāżā min ‘aduwwih, fastagāṡahullażī min syī’atihī ‘alallażī min ‘aduwwihī fa wakazahụ mụsā fa qaḍā ‘alaihi qāla hāżā min ‘amalisy-syaiṭān, innahụ ‘aduwwum muḍillum mubīn

15. Dan, [suatu hari] Musa memasuki kota ketika [sebagian besar] penduduknya [beristirahat di rumah mereka dan] tidak menyadari apa yang sedang terjadi [di jalanan];13 dan, di sana, Musa menemukan dua orang laki-laki yang sedang berkelahi—salah satunya dari kaumnya sendiri,14 dan yang lainnya dari golongan musuhnya. Dan, orang yang berasal dari golongannya itu berteriak kepada Musa meminta pertolongan terhadap orang yang merupakan musuhnya—kemudian Musa memukul jatuh orang itu dengan tinjunya dan [dengan begitu] menyebabkan kematiannya.

[Namun kemudian,] Musa berkata [kepada dirinya sendiri], “Ini adalah perbuatan setan! Sungguh, setan adalah musuh yang nyata, yang menyesatkan [manusia]!”15


13 Lit., “pada saat penduduknya lengah”.

14 Yakni, orang Yahudi.

15 Tentang “perbuatan setan” yang disebutkan dalam ayat ini, lihat paruh pertama catatan no. 16 dalam Surah Al-Hijr [15]: 17. Dalam hal ini, ayat 16-17 tampaknya menunjukkan bahwa Bani Israil-lah yang telah melakukan kezaliman, bukan bangsa Mesir (bdk. catatan berikutnya). Tampaknya, tindakan Nabi Musa membantu orang Israel itu dilakukan karena rasa ikatan ras yang muncul secara naluriah tanpa mempertimbangkan salah dan benarnya kasus tersebut; namun, segera setelah itu, Nabi Musa menyadari bahwa dia telah melakukan suatu dosa besar, tidak hanya karena membunuh orang yang tidak bersalah betapapun karena khilaf, tetapi juga karena mendasarkan tindakannya semata-mata pada prasangka kesukuan—atau, sebagaimana yang kita gambarkan sekarang, prasangka rasial atau kebangsaan. Jelaslah bahwa inilah makna inti ulasan Al-Quran tentang kisah Nabi Musa. Nilai moral dari kisah ini telah ditekankan dan dijelaskan oleh Nabi dalam pelbagai kesempatan: bdk. ucapannya yang terkenal, “Bukan dari golongan kami, orang yang menyerukan ikatan kesukuan (‘ashabiyyah); dan bukan dari golongan kami, orang yang berperang karena ikatan kesukuan; dan bukan dari golongan kami, orang yang mati karena ikatan kesukuan” (Abu Dawud, berdasarkan riwayat Jubair ibn Muth’im). Ketika diminta menjelaskan makna “ikatan kesukuan”, Nabi menjawab, “Ikatan kesukuan berarti menolong kaum kalian dengan cara yang zalim” (ibid., berdasarkan riwayat Watsilah ibn Al-Asqa’).


Surah Al-Qasas Ayat 16

قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

qāla rabbi innī ẓalamtu nafsī fagfir lī fa gafara lah, innahụ huwal-gafụrur-raḥīm

16. [Dan,] Musa berdoa, “Wahai, Pemeliharaku! Sungguh, aku telah berbuat aniaya terhadap diriku sendiri! Maka, berilah aku ampunan-Mu!”

Dan, Dia mengampuninya—sebab sungguh, Allah sajalah Yang maha Pengampun dan Sang Pemberi Rahmat.


Surah Al-Qasas Ayat 17

قَالَ رَبِّ بِمَا أَنْعَمْتَ عَلَيَّ فَلَنْ أَكُونَ ظَهِيرًا لِلْمُجْرِمِينَ

qāla rabbi bimā an’amta ‘alayya fa lan akụna ẓahīral lil-mujrimīn

17. Musa berkata, “Wahai, Pemeliharaku! [Aku bersumpah] demi segala nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku: Aku tidak akan pernah lagi menolong orang-orang yang tenggelam dalam dosa seperti itu!”16


16 Menurut Ibn ‘Abbas dan Muqatil (yang keduanya dikutip oleh Al-Baghawi), “hal ini merupakan suatu isyarat bahwa orang Israel yang ditolong Nabi Musa adalah orang yang mengingkari kebenaran (kafir)”—yakni, kafir dalam pengertian moral definisi ini. (Lihat juga kalimat terakhir ayat 86 surah ini.)


Surah Al-Qasas Ayat 18

فَأَصْبَحَ فِي الْمَدِينَةِ خَائِفًا يَتَرَقَّبُ فَإِذَا الَّذِي اسْتَنْصَرَهُ بِالْأَمْسِ يَسْتَصْرِخُهُ ۚ قَالَ لَهُ مُوسَىٰ إِنَّكَ لَغَوِيٌّ مُبِينٌ

fa aṣbaḥa fil-madīnati khā`ifay yataraqqabu fa iżallażistanṣarahụ bil-amsi yastaṣrikhuh, qāla lahụ mụsā innaka lagawiyyum mubīn

18. Dan, pagi berikutnya, Musa mendapati dirinya sendiri di kota itu, seraya memandang penuh kecemasan akan dirinya, ketika orang yang meminta pertolongannya kemarin [sekali lagi] berteriak kepadanya [meminta tolong17—kemudian] Musa berkata kepadanya, “Perhatikanlah, engkau benar-benar tenggelam dalam kesalahan!”18


17 Dengan kata lain, “melawan orang Mesir lainnya”.

18 Lit., “tenggelam dalam kesalahan yang besar” atau “menyimpang dari hal yang benar”.


Surah Al-Qasas Ayat 19

فَلَمَّا أَنْ أَرَادَ أَنْ يَبْطِشَ بِالَّذِي هُوَ عَدُوٌّ لَهُمَا قَالَ يَا مُوسَىٰ أَتُرِيدُ أَنْ تَقْتُلَنِي كَمَا قَتَلْتَ نَفْسًا بِالْأَمْسِ ۖ إِنْ تُرِيدُ إِلَّا أَنْ تَكُونَ جَبَّارًا فِي الْأَرْضِ وَمَا تُرِيدُ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْمُصْلِحِينَ

fa lammā an arāda ay yabṭisya billażī huwa ‘aduwwul lahumā qāla yā mụsā a turīdu an taqtulanī kamā qatalta nafsam bil-amsi in turīdu illā an takụna jabbāran fil-arḍi wa mā turīdu an takụna minal-muṣliḥīn

19. Akan tetapi, kemudian,19 begitu Musa hendak melayangkan pukulan keras terhadap orang yang menjadi musuh [bersama] mereka, musuhnya itu berseru, “Wahai, Musa, apakah engkau hendak membunuhku sebagaimana engkau telah membunuh orang lain kemarin? Tujuanmu hanyalah ingin menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri ini karena engkau tidak ingin menjadi salah seorang di antara orang-orang yang melakukan perbaikan!”


19 Dengan kata lain, “dipengaruhi, sekali Iagi, oleh rasa ikatan kesukuan dengan orang Israel”, sebagaimana diisyaratkan melalui lanjutan kalimat itu, yang menyebutkan orang Mesir sebagai “musuh [bersama] mereka”.


Surah Al-Qasas Ayat 20

وَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ يَسْعَىٰ قَالَ يَا مُوسَىٰ إِنَّ الْمَلَأَ يَأْتَمِرُونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ فَاخْرُجْ إِنِّي لَكَ مِنَ النَّاصِحِينَ

wa jā`a rajulum min aqṣal-madīnati yas’ā qāla yā mụsā innal-mala`a ya`tamirụna bika liyaqtulụka fakhruj innī laka minan-nāṣiḥīn

20. Dan, [seketika itu juga] seorang laki-laki datang berlari dari ujung terjauh kota itu dan berkata, “Wahai, Musa! Perhatikanlah, para pembesar [kerajaan] tengah merundingkan kasusmu dengan maksud membunuhmu! Maka, pergilah: sungguh, aku termasuk orang-orang yang berharap agar engkau selamat!”


Surah Al-Qasas Ayat 21

فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ ۖ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

fa kharaja min-hā khā`ifay yataraqqabu qāla rabbi najjinī minal-qaumiẓ-ẓālimīn

21. Maka, Musa pergi dari sana seraya memandang dengan penuh kecemasan akan dirinya dan berdoa, “Wahai, Pemeliharaku! Selamatkanlah aku dari semua kaum yang zalim!”


Surah Al-Qasas Ayat 22

وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلْقَاءَ مَدْيَنَ قَالَ عَسَىٰ رَبِّي أَنْ يَهْدِيَنِي سَوَاءَ السَّبِيلِ

wa lammā tawajjaha tilqā`a madyana qāla ‘asā rabbī ay yahdiyanī sawā`as-sabīl

22. Dan, tatkala dia mengalihkan wajahnya ke arah Madyan, dia berkata [kepada dirinya sendiri], “Boleh jadi, Pemeliharaku akan membimbingku ke jalan yang benar!”20


20 Penduduk Madyan (yang dalam Bibel disebut Midian) adalah bangsa Arab dari kelompok Amori. Karena dari segi ras dan bahasa mereka terkait erat dengan orang-orang Yahudi, mereka dapat diandalkan untuk menolong Nabi Musa dalam menghadapi kesulitannya. Tentang lokasi geografis daerah Madyan, lihat Surah Al-A’râf [7], catatan no. 67.


Surah Al-Qasas Ayat 23

وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأَتَيْنِ تَذُودَانِ ۖ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا ۖ قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّىٰ يُصْدِرَ الرِّعَاءُ ۖ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ

wa lammā warada mā`a madyana wajada ‘alaihi ummatam minan-nāsi yasqụna wa wajada min dụnihimumra`ataini tażụdān, qāla mā khaṭbukumā, qālatā lā nasqī ḥattā yuṣdirar-ri’ā`u wa abụnā syaikhung kabīr

23. ADAPUN TATKALA dia sampai di sumur-sumur21 Madyan. di sana dia mendapati sekelompok besar laki-laki yang sedang memberi minum [kawanan ternak mereka]; dan, agak jauh dari mereka, dia berjumpa dengan dua orang wanita yang sedang menahan ternaknya.

Musa bertanya [kepada mereka], “Ada apa dengan kalian?”

Mereka menjawab, “Kami tidak dapat memberi minum [ternak kami], sebelum gembala-gembala itu pulang [menggiring ternak mereka]—sebab, [kami lemah dan] bapak kami adalah orang yang telah berusia lanjut.”


21 Lit., “air” atau “air-air”.


Surah Al-Qasas Ayat 24

فَسَقَىٰ لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّىٰ إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

fa saqā lahumā ṡumma tawallā ilaẓ-ẓilli fa qāla rabbi innī limā anzalta ilayya min khairin faqīr

24. Maka, dia memberi minum [ternak kedua gadis itu] untuk mereka: lalu, dia kembali ke tempat yang teduh dan berdoa, “Wahai, Pemeliharaku! Sungguh, aku sangat membutuhkan kebaikan apa pun yang mungkin Engkau anugerahkan kepadaku!”


Surah Al-Qasas Ayat 25

فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا ۚ فَلَمَّا جَاءَهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ ۖ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

fa jā`at-hu iḥdāhumā tamsyī ‘alastiḥyā`ing qālat inna abī yad’ụka liyajziyaka ajra mā saqaita lanā, fa lammā jā`ahụ wa qaṣṣa ‘alaihil-qaṣaṣa qāla lā takhaf, najauta minal-qaumiẓ-ẓālimīn

25. [Tak lama] setelah itu, salah seorang dari dua [gadis] tersebut mendekatinya, sambil berjalan dengan malu-malu, dan berkata, “Perhatikanlah, bapakku mengundang engkau agar dia dapat memberi balasan yang layak kepadamu karena engkau telah memberi minum [ternak kami].”

Dan, tatkala [Musa] mendatanginya dan menceritakan kepadanya kisah [hidupnya], dia berkata, “Jangan takut! Kini engkau selamat dari kaum yang zalim itu!”


Surah Al-Qasas Ayat 26

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ

qālat iḥdāhumā yā abatista`jir-hu inna khaira manista`jartal-qawiyyul-amīn

26. Berkatalah salah seorang dari kedua [putri] itu, “Wahai, Ayahku! Pekerjakanlah dia: sebab, sungguh, sebaik-baik orang yang dapat engkau pekerjakan adalah orang yang kuat dan dapat dipercaya [seperti dia]!”


Surah Al-Qasas Ayat 27

قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَىٰ أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ ۖ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَ ۖ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ ۚ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ

qāla innī urīdu an ungkiḥaka iḥdabnatayya hātaini ‘alā an ta`juranī ṡamāniya ḥijaj, fa in atmamta ‘asyran fa min ‘indik, wa mā urīdu an asyuqqa ‘alaīk, satajidunī in syā`allāhu minaṣ-ṣāliḥīn

27. [Setelah beberapa saat, sang ayah] berkata, “Perhatikanlah, aku bermaksud menikahkan engkau dengan salah seorang dari kedua putriku ini dengan syarat bahwa engkau akan tetap (bekerja) melayaniku selama delapan tahun; dan, jika engkau sempurnakan menjadi sepuluh [tahun], itu adalah [suatu karunia] darimu karena aku tidak ingin membebankan kesulitan apa pun kepadamu: [sebaliknya.] engkau akan mendapatiku, insya Allah*, sebagai orang yang saleh dalam segala urusanku.”22


* {in sya Allah; if God so wills; jika Allah menghendaki demikian—peny.}

22 Lit., “termasuk salah seorang yang saleh”.


Surah Al-Qasas Ayat 28

قَالَ ذَٰلِكَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ ۖ أَيَّمَا الْأَجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلَا عُدْوَانَ عَلَيَّ ۖ وَاللَّهُ عَلَىٰ مَا نَقُولُ وَكِيلٌ

qāla żālika bainī wa bainak, ayyamal-ajalaini qaḍaitu fa lā ‘udwāna ‘alayy, wallāhu ‘alā mā naqụlu wakīl

28. [Musa] menjawab, “Demikianlah yang akan terjadi antara aku dan engkau! Mana saja dari kedua jangka waktu itu yang aku penuhi, hendaknya tidak ada kebencian terhadapku. Dan, Allah menjadi saksi atas segala yang kita ucapkan!”


Surah Al-Qasas Ayat 29

فَلَمَّا قَضَىٰ مُوسَى الْأَجَلَ وَسَارَ بِأَهْلِهِ آنَسَ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ نَارًا قَالَ لِأَهْلِهِ امْكُثُوا إِنِّي آنَسْتُ نَارًا لَعَلِّي آتِيكُمْ مِنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ جَذْوَةٍ مِنَ النَّارِ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ

fa lammā qaḍā mụsal-ajala wa sāra bi`ahlihī ānasa min jānibiṭ-ṭụri nārā, qāla li`ahlihimkuṡū innī ānastu nāral-la’allī ātīkum min-hā bikhabarin au jażwatim minan-nāri la’allakum taṣṭalụn

29. DAN, KETIKA Musa telah menyelesaikan jangka waktunya, dan sedang mengembara bersama keluarganya [di padang pasir], dia melihat api di lereng Gunung Sinai;23 [kemudian] dia berkata kepada keluarganya, “Tunggulah di sini. Perhatikanlah, aku melihat api [di kejauhan]; mudah-mudahan dari sana aku dapat membawakan suatu berita bagi kalian,24 atau [setidak-tidaknya] sebatang suluh dari api itu sehingga kalian dapat menghangatkan diri.”


23 Untuk penjelasan tentang pengembaraan Nabi Musa di padang pasir, lihat catatan no. 7 pada Surah Ta’Ha’ [20]: 10, untuk penjelasan tentang alegori “api”, lihat catatan no. 7 pada Surah An-Naml [27]: 7-8.

Di sepanjang karya ini, kata al-thur (“gunung”) diterjemahkan menjadi “Gunung Sinai” karena, setiap kali menyebutkan kata al-thur, Al-Quran selalu mengacu pada gunung ini, bukan pada gunung lainnya.

24 Dengan kata lain, “tentang jalan mana yang harus kita ikuti”.


Surah Al-Qasas Ayat 30

فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ مِنْ شَاطِئِ الْوَادِ الْأَيْمَنِ فِي الْبُقْعَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ أَنْ يَا مُوسَىٰ إِنِّي أَنَا اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

fa lammā atāhā nụdiya min syāṭi`il-wādil-aimani fil-buq’atil-mubārakati minasy-syajarati ay yā mụsā innī anallāhu rabbul-‘ālamīn

30. Akan tetapi, tatkala Musa datang mendekatinya, sebuah seruan dikumandangkan dari sisi sebelah kanan lembah itu dari pohon [yang terbakar] di atas tanah yang diberkahi,25 “Wahai, Musa! Sungguh, Aku adalah Allah, Pemelihara semesta alam!”


25 Sebagaimana dalam Surah Maryam [19]: 52 dan Surah TaHa [20]: 80 sebutan sisi “kanan” memiliki konotasi “keberkahan”: dalam hal ini, lihat catatan no. 25 pada Surah Al-Muddssir [74]: 39. Adapun mengenai “tanah yang diberkahi”, lihat catatan no. 9 tentang ungkapan “lembah yang disucikan-dua kali” dalam Surah Ta’Ha’ [20]: 11. Kata “pohon” yang disebutkan dalam ayat di atas jelas sama dengan “semak yang menyala” dalam Bibel (Kitab Keluaran 3: 2).


Surah Al-Qasas Ayat 31

وَأَنْ أَلْقِ عَصَاكَ ۖ فَلَمَّا رَآهَا تَهْتَزُّ كَأَنَّهَا جَانٌّ وَلَّىٰ مُدْبِرًا وَلَمْ يُعَقِّبْ ۚ يَا مُوسَىٰ أَقْبِلْ وَلَا تَخَفْ ۖ إِنَّكَ مِنَ الْآمِنِينَ

wa an alqi ‘aṣāk, fa lammā ra`āhā tahtazzu ka`annahā jānnuw wallā mudbiraw wa lam yu’aqqib, yā mụsā aqbil wa lā takhaf, innaka minal-āminīn

31. Dan, [kemudian Dia berkata,] “Lemparkanlah tongkatmu!”

Namun, segera setelah [Musa] melihat tongkat itu bergerak-gerak cepat, seolah-olah tongkat itu seekor ular, dia mundur [ketakutan] dan tidak [berani] kembali.26

[Dan, Allah berbicara lagi kepadanya,] “Wahai, Musa! Mendekatlah dan janganlah takut—sebab, perhatikanlah, engkau termasuk orang-orang yang aman [di dunia ini dan di akhirat]!27


26 Mungkin, mukjizat tongkat tersebut memiliki suatu makna simbolik: lihat Surah Ta’Ha’ [20], catatan no. 14.

27 Bdk. Surah An-Naml [27]: 10—”para rasul tidak perlu takut dalam kehadiran-Ku”.


Surah Al-Qasas Ayat 32

اسْلُكْ يَدَكَ فِي جَيْبِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ وَاضْمُمْ إِلَيْكَ جَنَاحَكَ مِنَ الرَّهْبِ ۖ فَذَانِكَ بُرْهَانَانِ مِنْ رَبِّكَ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ

usluk yadaka fī jaibika takhruj baiḍā`a min gairi sū`iw waḍmum ilaika janāḥaka minar-rahbi fażānika bur-hānāni mir rabbika ilā fir’auna wa mala`ih, innahum kānụ qauman fāsiqīn

32. “[Dan kini,] masukkanlah tanganmu ke bajumu di bagian dada: ia akan keluar [bersinar] putih, tanpa cacat.28 Dan [selanjutnya,] dekapkanlah tanganmu kepadamu tanpa rasa takut.29

“Maka, hal itu akan menjadi dua tanda [bagimu sebagai rasul] dari Pemeliharamu30 kepada Fir’aun dan pembesar-pembesarnya—sebab, perhatikanlah, mereka adalah kaum yang fasik!”


28 Lihat catatan no. 85 pada Surah Al-A’raf [7]: 108.

29 Seperti ditunjukkan oleh Al-Zamakhsyari, kalimat idiomatik di atas merupakan sebuah metonimia yang mengingatkan pada bahasa tubuh yang umum dikenal untuk menunjukkan rasa takut—tolakan tangan, atau lengan seseorang secara refleks ketika menghadapi sesuatu yang menakutkan; sebaliknya, “dekapan tangan [secara harfiah, ‘sayap’] seseorang pada dirinya sendiri” merupakan ungkapan kebebasan dari rasa takut. Dalam ayat ini, ungkapan tersebut mempertegas kata-kata penutup ayat 31—”perhatikanlah, engkau termasuk orang-orang yang aman [di dunia ini dan di akhirat]”.

30 “Dua tanda” (burhanan) dapat dipahami sebagai (1) kemampuan Nabi Musa untuk tetap bebas selamanya dari ketakutan fisik ataupun moral berkat keyakinannya akan kemahahadiran Allah, serta (2) kemampuannya untuk menunjukkan bahwa tampilan dan kenyataan tidak selalu sama.


Surah Al-Qasas Ayat 33

قَالَ رَبِّ إِنِّي قَتَلْتُ مِنْهُمْ نَفْسًا فَأَخَافُ أَنْ يَقْتُلُونِ

qāla rabbi innī qataltu min-hum nafsan fa akhāfu ay yaqtulụn

33. [Musa] berkata, “Wahai, Pemeliharaku! Aku telah membunuh salah seorang dari mereka sehingga aku takut mereka akan membunuhku ….31


31 Dengan kata lain, “dan, dengan begitu, aku tidak mungkin merampungkan dakwahku”: sebab, sejauh berkenaan dengan dirinya, Nabi Musa telah bebas dari rasa takut.


Surah Al-Qasas Ayat 34

وَأَخِي هَارُونُ هُوَ أَفْصَحُ مِنِّي لِسَانًا فَأَرْسِلْهُ مَعِيَ رِدْءًا يُصَدِّقُنِي ۖ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُكَذِّبُونِ

wa akhī hārụnu huwa afṣaḥu minnī lisānan fa arsil-hu ma’iya rid`ay yuṣaddiqunī innī akhāfu ay yukażżibụn

34. Dan, saudaraku Harun—dia jauh lebih fasih dalam berbicara daripada aku.32 Karena itu, utuslah dia sebagai pembantu agar dia dapat menjadi saksi [secara lebih fasih] atas kebenaran ucapanku: sebab, aku sungguh takut mereka akan mendustakanku.”


32 Bdk. Surah TaHa [20]: 27-28 dan Surah Asy-Syu’ara’ [26]: 12-13, serta catatannya yang terkait.


Surah Al-Qasas Ayat 35

قَالَ سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجْعَلُ لَكُمَا سُلْطَانًا فَلَا يَصِلُونَ إِلَيْكُمَا ۚ بِآيَاتِنَا أَنْتُمَا وَمَنِ اتَّبَعَكُمَا الْغَالِبُونَ

qāla sanasyuddu ‘aḍudaka bi`akhīka wa naj’alu lakumā sulṭānan fa lā yaṣilụna ilaikumā bi`āyātinā, antumā wa manittaba’akumal-gālibụn

35. Berfirmanlah Dia, “Kami akan memperkuat tanganmu melalui saudaramu, dan memberikan kepada engkau berdua kekuasaan yang besar agar mereka tidak dapat menyentuh kalian:33 berkat pesan-pesan Kami, kalian berdua dan semua orang yang mengikuti kalian akan berjaya!”


33 Lit., “sehingga mereka tidak akan menjangkaumu”.


Surah Al-Qasas Ayat 36

فَلَمَّا جَاءَهُمْ مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا بَيِّنَاتٍ قَالُوا مَا هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُفْتَرًى وَمَا سَمِعْنَا بِهَٰذَا فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ

fa lammā jā`ahum mụsā bi`āyātinā bayyināting qālụ mā hāżā illā siḥrum muftaraw wa mā sami’nā bihāżā fī ābā`inal-awwalīn

36. NAMUN TATKALA Musa datang kepada mereka dengan membawa pesan-pesan Kami yang jelas, [Fir’aun dan pembesar-pembesarnya] berkata, “Semua ini tidak lain hanyalah kepiawaian berbicara yang memikat yang dibuat [manusia]:34 dan kami belum pernah mendengar [yang seperti] ini, [juga tidak pernah terdengar] pada masa nenek moyang kami dahulu!”


34 Lihat catatan no. 12 pada Surah Al-Muddassir [74]: 24, yang merupakan ayat Al-Quran paling awal yang menyebutkan istilah sihr dalam pengertian di atas.


Surah Al-Qasas Ayat 37

وَقَالَ مُوسَىٰ رَبِّي أَعْلَمُ بِمَنْ جَاءَ بِالْهُدَىٰ مِنْ عِنْدِهِ وَمَنْ تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدَّارِ ۖ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

wa qāla mụsā rabbī a’lamu biman jā`a bil-hudā min ‘indihī wa man takụnu lahụ ‘āqibatud-dār, innahụ lā yufliḥuẓ-ẓālimụn

37. Dan, Musa menjawab, “Pemeliharaku yang paling mengetahui siapa yang datang dengan petunjuk dari-Nya dan milik siapakah masa depan itu!35 Sungguh, orang-orang zalim tidak akan pernah meraih kebahagiaan!”


35 Untuk penjelasan atas ungkapan di atas, lihat Surah An-Naml [6], catatan no. 118.


Surah Al-Qasas Ayat 38

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرِي فَأَوْقِدْ لِي يَا هَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَلْ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَطَّلِعُ إِلَىٰ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ مِنَ الْكَاذِبِينَ

wa qāla fir’aunu yā ayyuhal-mala`u mā ‘alimtu lakum min ilāhin gairī, fa auqid lī yā hāmānu ‘alaṭ-ṭīni faj’al lī ṣarḥal la’allī aṭṭali’u ilā ilāhi mụsā wa innī la`aẓunnuhụ minal-kāżibīn

38. Kemudian, Fir’aun berkata, “Wahai, kalian para bangsawan! Aku tidak tahu bahwa kalian memiliki tuhan selain aku!36 Maka, baiklah, Wahai, Haman, nyalakanlah bagiku api untuk [membakar batu bata dari] tanah liat, kemudian dirikanlah untukku sebuah menara yang tinggi supaya aku dapat melihat Tuhannya Musa,37—meskipun, perhatikanlah, aku yakin bahwa dia termasuk orang-orang yang [selalu] berdusta!”


36 Mengingat fakta bahwa bangsa Mesir kuno menyembah banyak dewa, ucapan ini hendaknya dipahami tidak secara harfiah; tetapi, karena setiap Fir’aun dipandang sebagai inkarnasi (penubuhan) prinsip Ilahi itu sendiri, dia menuntut—dan menerima—pemujaan masyarakatnya sebagai “Tuhan Yang Mahatinggi” (bdk. Surah An-Nazi’at [79]: 24) sehingga mengklaim, begitulah kira-kira, memiliki segala sifat yang hanya dinisbahkan pada dewa-dewa.

37 Atau: “naik menuju tuhan Musa”. Mana pun dari dua makna tersebut yang dinisbahkan pada verba iththali’u, permintaan Fir’aun agar dibangunkan sebuah “menara yang tinggi” bukanlah sekadar mengacu pada pembangunan salah satu piramida besar (lihat catatan no. 6 sebelumnya), tetapi juga merupakan suatu ejekan dan penghinaan terhadap gagasan Nabi Musa tentang Tuhan sebagai Kekuatan Yang Maha Meliputi, yang melampaui segala yang ada dengan cara yang tak terbayangkan.


Surah Al-Qasas Ayat 39

وَاسْتَكْبَرَ هُوَ وَجُنُودُهُ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ إِلَيْنَا لَا يُرْجَعُونَ

wastakbara huwa wa junụduhụ fil-arḍi bigairil-ḥaqqi wa ẓannū annahum ilainā lā yurja’ụn

39. Maka, dengan angkuh, tanpa bernalar sedikit pun,38 dia dan pasukannya bertingkah di muka bumi—seolah-olah menyangka bahwa mereka tidak akan pernah menghadap Kami [untuk diadili]!39


38 {without the least good sense} Lit., “tanpa kebenaran [apa pun]” atau “justifikasi” [apa pun] (bi ghair al-haqq).

39 Lit., “dan mereka menduga bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami”. Tak syak lagi bahwa orang-orang Mesir kuno memang percaya pada adanya kehidupan sesudah mati, dan bahwa kepercayaan ini juga meliputi konsep pembalasan Ilahi. Namun, karena Fir’aun yang berhadapan dengan Nabi Musa ini konon telah bertindak angkuh dan menentang segala kearifan, Al-Quran—secara tersirat—menyamakan sikapnya itu dengan sikap orang yang tidak percaya pada kebangkitan dan tanggung jawab puncak manusia di hadapan Allah: karena itu, saya menerjemahkan kata sambung wa di awal kalimat di atas menjadi “seolah-olah” (just as if).


Surah Al-Qasas Ayat 40

فَأَخَذْنَاهُ وَجُنُودَهُ فَنَبَذْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ ۖ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظَّالِمِينَ

fa akhażnāhu wa junụdahụ fa nabażnāhum fil-yamm, fanẓur kaifa kāna ‘āqibatuẓ-ẓālimīn

40. Lalu, Kami cengkam dia dan pasukannya, dan Kami lemparkan mereka ke laut: dan lihatlah apa yang akhirnya terjadi pada orang-orang zalim itu:


Surah Al-Qasas Ayat 41

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يُنْصَرُونَ

wa ja’alnāhum a immatay yad’ụna ilan-nār, wa yaumal-qiyāmati lā yunṣarụn

41. [Kami hancurkan mereka,] dan Kami jadikan mereka sebagai contoh-contoh [kejahatan] yang menunjukkan jalan menuju api [neraka];40 [sementara] tidak ada pertolongan yang akan datang kepada mereka pada Hari Kebangkitan,


40 Lit., “contoh-contoh (a’immah) yang mengajak ke neraka”. Ini merupakan kalimat penting dari cuplikan kisah Nabi Musa di atas. Sebagaimana ayat 15-16 yang dimaksudkan untuk menarik perhatian kita terhadap dosa prasangka kesukuan atau rasial (lihat catatan no. 15), dijulukinya Fir’aun dalam ayat ini sebagai “contoh [kejahatan]; (archetype of evil)” menunjukkan fakta bahwa kebanggaan batil (takabbur) dan kesombongan (istikbar) benar-benar merupakan sikap berpikir “setani”; ini secara berulang-ulang ditunjukkan dalam Al-Quran melalui kisah simbolis “pemberontakan” iblis terhadap Allah (mengenai maknanya, lihat catatan no. 26 pada Surah Al-Baqarah [2]: 34 dan catatan no. 31 pada Surah Al-Hijr [15]: 41. Karena dorongan-dorongan “setani” ini secara intrinsik merupakan kejahatan, mereka selalu menimbulkan perbuatan jahat dan, karena itu, mengakibatkan lemahnya atau bahkan hancurnya potensi ruhani manusia secara menyeluruh: yang, pada gilirannya, pasti menyebabkan kesengsaraan di akhirat.


Surah Al-Qasas Ayat 42

وَأَتْبَعْنَاهُمْ فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا لَعْنَةً ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ هُمْ مِنَ الْمَقْبُوحِينَ

wa atba’nāhum fī hāżihid-dun-yā la’nah, wa yaumal-qiyāmati hum minal-maqbụḥīn

42. Kami jadikan kutukan mengikuti mereka di dunia ini pula;41 dan pada Hari Kebangkitan, mereka akan mendapati diri mereka termasuk orang-orang yang kehilangan segala kebaikan.42


41 Yakni, melalui konotasi peyoratif yang sec.ara universal dinisbahkan pada kata sifat “Fir’auniah” {baca: bersifat seperti Fir’aun—peny.}. Perlu dicatat bahwa kata la’nah, yang di sini diterjemahkan menjadi “kutukan”, pada dasarnya berarti “tindakan menjaahkan” (ib’ad), yakni dari segala kebaikan dan, karenanya, dari segala yang benar-benar diinginkan.

42 Yakni, orang-orang yang akan menjauhkn diri mereka sendiri dari rahmat Allah karena perbuatan mereka; menurut kebanyakan mufasir dan filolog klasik, makna inilah yang terkandung dalam istilah maqbuh dalam konteks ini (bdk. Lisan Al-‘Arab, Taj Al-‘Arus, dan sebagainya).


Surah Al-Qasas Ayat 43

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ مِنْ بَعْدِ مَا أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ الْأُولَىٰ بَصَائِرَ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

wa laqad ātainā mụsal-kitāba mim ba’di mā ahlaknal-qurụnal-ụlā baṣā`ira lin-nāsi wa hudaw wa raḥmatal la’allahum yatażakkarụn

43. Dan [kemudian,] sungguh, setelah Kami binasakan generasi-generasi [pendosa] yang terdahu itu, Kami berikan kepada Musa wahyu [Kami] sebagai sarana pengetahuan bagi manusia,43 dan sebagai petunjuk dan rahmat, agar mereka dapat mengingatkan diri mereka sendiri [akan Kami].


43 Berkat kedudukannya sebagai contoh pertama dari Hukum yang diwahyukan oleh Allah, Kitab Taurat membuka tahapan baru dalam sejarah agama umat manusia {bdk. julukan Bani Israil sebagai “pelopor agama” dalam ayat 5 Surah ini).


Surah Al-Qasas Ayat 44

وَمَا كُنْتَ بِجَانِبِ الْغَرْبِيِّ إِذْ قَضَيْنَا إِلَىٰ مُوسَى الْأَمْرَ وَمَا كُنْتَ مِنَ الشَّاهِدِينَ

wa mā kunta bijānibil-garbiyyi iż qaḍainā ilā mụsal-amra wa mā kunta minasy-syāhidīn

44. ADAPUN [mengenai engkau, wahai Muhammad,] engkau tidak berada di sisi terbenamnya matahari di lereng [Gunung Sinai] ketika Kami menetapkan Hukum kepada Musa, dan tidak pula engkau termasuk orang-orang yang menyaksikan [zamannya]:44


44 Menunjukkan bahwa kisah Nabi Musa a.s. sebagaimana diceritakan dalam Al-Quran ini hanya dapat diketahui Muhammad Saw. melalui wahyu: karena itu, Al-Quran sendiri pasti merupakan sebuah wahyu Ilahi.

Istilah al-amr, yang di atas diterjemahkan menjadi “Hukum”, merupakan padanan kata Arab bagi kata Ibrani torah (“hukum” atau “perintah”), yakni sebutan yang diterima umum bagi wahyu yang diberikan kepada Nabi Musa.


Surah Al-Qasas Ayat 45

وَلَٰكِنَّا أَنْشَأْنَا قُرُونًا فَتَطَاوَلَ عَلَيْهِمُ الْعُمُرُ ۚ وَمَا كُنْتَ ثَاوِيًا فِي أَهْلِ مَدْيَنَ تَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا وَلَٰكِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ

wa lākinnā ansya`nā qurụnan fa taṭāwala ‘alaihimul-‘umur, wa mā kunta ṡāwiyan fī ahli madyana tatlụ ‘alaihim āyātinā wa lākinnā kunnā mursilīn

45. tidak, akan tetapi [antara mereka dan engkau] telah Kami munculkan [banyak] generasi, dan amat panjanglah masa hidup mereka.

Dan, tidaklah engkau tinggal di antara penduduk Madyan seraya menyampaikan pesan-pesan Kami kepada mereka:45 tidak, tetapi Kami [selalu] mengutus [para rasul Kami kepada manusia].


45 Yakni, “engkau bukanlah yang pertama di antara rasul-rasul Kami, wahai Muhammad: Kami telah mengutusmu kepada masyarakat pada masamu, sebagaimana Kami telah mengutus Syu’aib kepada masyarakat Madyan” (Al-Dhahhak, seperti dikutip oleh Al-Razi).


Surah Al-Qasas Ayat 46

وَمَا كُنْتَ بِجَانِبِ الطُّورِ إِذْ نَادَيْنَا وَلَٰكِنْ رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أَتَاهُمْ مِنْ نَذِيرٍ مِنْ قَبْلِكَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

wa mā kunta bijānibiṭ-ṭụri iż nādainā wa lākir raḥmatam mir rabbika litunżira qaumam mā atāhum min nażīrim ming qablika la’allahum yatażakkarụn

46. Dan, tidak pula engkau berada di lereng Gunung Sinai ketika Kami menyeru [Musa]:46 tetapi, [engkau juga diutus] sebagai rahmat Pemeliharamu untuk memberi peringatan kepada kaum yang belum pernah didatangi pemberi peringatan sebelummu, agar mereka dapat merenungi diri mereka sendiri [akan Kami];


46 Menurut beberapa mufasir klasik, “lereng Gunung Sinai” di sini yang disebutkan untuk kedua kalinya ini mengandung suatu kiasan akan jaminan Allah yang disebutkan dalam Surah AI-A’raf [7]: 156: “rahmat-Ku meliputi segala sesuatu …” (Al-Thabari, Al-Razi). Penafsiran ini paling masuk akal mengingat pada kalimat berikutnya, dakwah Nabi Muhammad Saw. disebut sebagai “rahmat Pemeliharamu (rahmah)”.


Surah Al-Qasas Ayat 47

وَلَوْلَا أَنْ تُصِيبَهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ فَيَقُولُوا رَبَّنَا لَوْلَا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

walau lā an tuṣībahum muṣībatum bimā qaddamat aidīhim fa yaqụlụ rabbanā lau lā arsalta ilainā rasụlan fa nattabi’a āyātika wa nakụna minal-mu`minīn

47. dan [Kami telah mengutusmu] agar [pada Hari Pengadilan] ketika bencana menimpa mereka sebagai akibat dari perbuatan tangan mereka sendiri, mereka tidak berkata, “Wahai, Pemelihara kami, seandainya Engkau mengutus seorang rasul kepada kami, tentu kami akan mengikuti pesan-pesan-Mu dan akan termasuk orang-orang yang beriman!”


Surah Al-Qasas Ayat 48

فَلَمَّا جَاءَهُمُ الْحَقُّ مِنْ عِنْدِنَا قَالُوا لَوْلَا أُوتِيَ مِثْلَ مَا أُوتِيَ مُوسَىٰ ۚ أَوَلَمْ يَكْفُرُوا بِمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ مِنْ قَبْلُ ۖ قَالُوا سِحْرَانِ تَظَاهَرَا وَقَالُوا إِنَّا بِكُلٍّ كَافِرُونَ

fa lammā jā`ahumul-ḥaqqu min ‘indinā qālụ lau lā ụtiya miṡla mā ụtiya mụsā, a wa lam yakfurụ bimā ụtiya mụsā ming qabl, qālụ siḥrāni taẓāharā, wa qālū innā bikulling kāfirụn

48. Sungguhpun begitu, kini, tatkala kebenaran dari Kami telah datang kepada mereka, mereka berkata, “Mengapa dia (Muhammad) tidak diberi sesuatu seperti yang telah diberikan kepada Musa?”47

Akan tetapi, bukankah mereka sebelum ini juga telah mendustakan kebenaran yang telah diberikan kepada Musa? [Karena] mereka memang berkata, “Dua contoh khayalan, [yang tampaknya] saling mendukung!”48 Dan, mereka menambahkan, “Perhatikanlah, kami menolak kebenaran keduanya!”


47 Sebagaimana yang sering ditunjukkan oleh Al-Quran, kebenaran-kebenaran etis asasi yang diuraikan di dalam Al-Quran sama dengan kebenaran etis asasi wahyu-wahyu terdahulu. Justru pernyataan inilah yang membuat para penentang Nabi Muhammad Saw.—baik pada masanya maupun pada masa sesudahnya—mempertanyakan kemurnian Al-Quran: mereka beralasan, “Jika Al-Quran benar-benar diwahyukan oleh Allah, mana mungkin begitu banyak pernyataannya, terutama hukum sosialnya, sangat berbeda dengan hukum-hukum yang diajarkan dalam Kitab Suci sebelumnya, yakni Taurat?” Dengan mengemukakan argumen ini (dan terlepas dari masalah apakah teks Bibel yang kita kenal kini telah berubah sejalan dengan berlalunya waktu atau tidak), para penentang risalah Nabi Muhammad Saw. sengaja mengabaikan fakta, yang berkali-kali ditekankan dalam Al-Quran, bahwa sistem hukum (syariat) terdahulu disesuaikan dengan tingkat ruhani masyarakat yang bersangkutan, dan disesuaikan dengan urgensi dari episode tertentu dalam sejarah manusia dan, karenanya, harus digantikan dengan hukum yang baru pada tahap perkembangan manusia yang lebih tinggi (dalam kaitan ini, lihat paragraf kedua Surah Al-Ma’idah [5]: 48 dan catatannya [no . 66]. Namun, sebagaimana terlihat jelas dari rangkaian ayat berikutnya—dan terutama dari kalimat terakhir ayat ini—argumen di atas yang tampaknya bagus itu tidak dimaksudkan untuk menguatkan argumen kemurnian Bibel dalam perbandingannya dengan kemurnian Al-Quran; alih-alih, tujuan argumen ini adalah untuk mendiskreditkan kedua agama ini dan, melalui keduanya, mendiskreditkan prinsip dasar agama yang selalu ditentang oleh pikiran yang tidak religius, yaitu: gagasan tentang wahyu Ilahi, kebergantungan mutlak manusia pada Allah, dan pertanggungjawaban manusia kepada-Nya, Sang Penyebab Yang Awal dan Yang Akhir dari segala sesuatu yang ada.

48 Pada satu sisi, hinaan ini mengacu pada prediksi Perjanjian Lama tentang kedatangan Nabi Muhammad Saw. (bdk. Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 33), dan, pada sisi lainnya, mengacu pada pernyataan Al-Quran yang sering diulang bahwa kitab Ilahi ini diwahyukan “untuk mempertegas kebenaran wahyu-wahyu terdahulu”. Tentang kata sihr (lit., “magi” atau “sihir”) yang saya terjemahkan menjadi “khayalan”—dan kadang-kadang menjadi “kepiawaian berbicara yang memikat”—lihat catatan no. 12 pada Surah Al-Muddassir [74]: 24.


Surah Al-Qasas Ayat 49

قُلْ فَأْتُوا بِكِتَابٍ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ هُوَ أَهْدَىٰ مِنْهُمَا أَتَّبِعْهُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

qul fa`tụ bikitābim min ‘indillāhi huwa ahdā min-humā attabi’hu ing kuntum ṣādiqīn

49. Katakanlah: “Maka, buatlah wahyu [lain] dari Allah yang menawarkan petunjuk yang lebih baik daripada keduanya49—[dan] aku akan mengikutinya, jika kau berkata benar!”


49 Yakni, Taurat dan Al-Quran. Injil tidak disebutkan dalam konteks ini karena, seperti telah ditekankan sendiri oleh Yesus, risalahnya didasarkan pada Hukum Musa dan tidak dimaksudkan untuk menggantikan hukum tersebut.


Surah Al-Qasas Ayat 50

فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

fa il lam yastajībụ laka fa’lam annamā yattabi’ụna ahwā`ahum, wa man aḍallu mim manittaba’a hawāhu bigairi hudam minallāh, innallāha lā yahdil-qaumaẓ-ẓālimīn

50. Dan, karena mereka tidak dapat memenuhi tantanganmu ini,50 ketahuilah bahwa mereka hanya mengikuti hawa nafsu mereka sendiri: dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang [hanya] mengikuti hawa nafsunya sendiri tanpa petunjuk apa pun dari Allah?

Sungguh, Allah tidak memberikan petunjuk-Nya kepada orang-orang yang biasa berbuat zalim!


50 Lit., “jika mereka tidak menjawabmu”, yang mengisyaratkan bahwa mereka tidak mampu menerima tantangan di atas.


Surah Al-Qasas Ayat 51

وَلَقَدْ وَصَّلْنَا لَهُمُ الْقَوْلَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

wa laqad waṣṣalnā lahumul-qaula la’allahum yatażakkarụn

51. SUNGGUH, KINI telah Kami jadikan firman [Kami] ini menjangkau umat manusia secara bertahap51 agar mereka dapat [belajar] mencamkannya dalam benak.


51 Lit., “telah Kami jadikan firman ini menjangkau mereka secara berangsur-angsur”: makna ini tersirat dalam bentuk verbal kata washshalna yang—seperti bentuk kata nazzalna yang sama secara gramatikal—mengisyaratkan pewahyuan Al-Quran secara bertahap, selama dua puluh tiga tahun masa kenabian Muhammad Saw.


Surah Al-Qasas Ayat 52

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِهِ هُمْ بِهِ يُؤْمِنُونَ

allażīna ātaināhumul-kitāba ming qablihī hum bihī yu`minụn

52. Adapun orang-orang yang telah Kami berikan wahyu terdahulu—mereka [juga pasti] beriman pada yang satu ini;52


52 Ini merupakan sebuah pernyataan tentang fakta historis—yang menyinggung perpindahan agama orang-orang Yahudi dan Kristen pada masa Nabi Muhammad Saw.—sekaligus suatu ramalan. Namun, harus dipahami bahwa, dalam konteks di atas, “pemberian” wahyu oleh Allah mengisyaratkan suatu penerimaan ajaran-ajarannya secara sadar dan tulus oleh orang-orang yang dituju oleh wahyu tersebut: karena ketulusan inilah yang telah memungkinkan mereka—atau yang akan memungkinkan mereka—menyadari bahwa Al-Quran menyerukan kebenaran-kebenaran moral yang sama seperti kebenaran-kebenaran yang diajarkan wahyu-wahyu terdahulu. (Bdk. Surah Asy-Syu’ara’ [26]: 196-197 dan catatan no. 83-85 yang terkait.)


Surah Al-Qasas Ayat 53

وَإِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ قَالُوا آمَنَّا بِهِ إِنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّنَا إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلِهِ مُسْلِمِينَ

wa iżā yutlā ‘alaihim qālū āmannā bihī innahul-ḥaqqu mir rabbinā innā kunnā ming qablihī muslimīn

53. dan tatkala wahyu ini disampaikan kepada mereka [dengan jelas], mereka [pasti akan] menyatakan, “Kami telah beriman padanya karena, perhatikanlah, ia adalah kebenaran dari Pemelihara kita—dan, sungguh, bahkan sebelum ini pun kami telah berserah diri kepada-Nya!”


Surah Al-Qasas Ayat 54

أُولَٰئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

ulā`ika yu`tauna ajrahum marrataini bimā ṣabarụ wa yadra`ụna bil-ḥasanatis-sayyi`ata wa mimmā razaqnāhum yunfiqụn

54. Mereka inilah yang akan diberi pahala dua kali lipat karena telah bersabar dalam menghadapi kesusahan, menolak kejahatan dengan kebaikan,53 dan menafkahkan untuk orang lain sebagian dari rezeki yang telah Kami anugerahkan kepada mereka,


53 Lihat catatan no. 44 dalam Surah Ar-Ra’d [13]: 22 yang menerangkan ungkapan yang sama. Dalam konteks ayat ini, penyebutan “kesabaran dalam menghadapi kesusahan” dan “menolak kejahatan dengan kebaikan” jelas mengacu pada hilangnya hubungan komunal, pemboikotan sosial, dan segala bentuk penganiayaan fisik dan moral pada masa lalu yang sering terjadi pada orang-orang yang menerima ajaran-ajaran agama yang berbeda dengan ajaran yang dianut oleh komunitasnya sendiri.


Surah Al-Qasas Ayat 55

وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ

wa iżā sami’ul-lagwa a’raḍụ ‘an-hu wa qālụ lanā a’mālunā wa lakum a’mālukum salāmun ‘alaikum lā nabtagil-jāhilīn

55. dan setiap mendengar perkataan yang tak berguna,54 mereka berpaling darinya dan berkata, “Terhadap kamilah perbuatan kami akan diperhitungkan, dan terhadap kalian, perbuatan kalian. Kedamaian semoga tercurah atas kalian—[tetapi] kami tidak mencari-cari orang yang lalai [akan makna yang benar dan yang salah] semacam itu.”


54 Ini jelas mengacu pada upaya-upaya yang dilakukan, berdasarkan prasangka, untuk mencemooh re-orientasi ruhani orang yang bersangkutan.


Surah Al-Qasas Ayat 56

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

innaka lā tahdī man aḥbabta wa lākinnallāha yahdī may yasyā`, wa huwa a’lamu bil-muhtadīn

56. SUNGGUH, engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada setiap orang yang kau cintai: tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk orang yang ingin [diberi petunjuk];55 dan Allah Maha Mengetahui semua orang yang bersedia diberi petunjuk.56


55 Atau: “Allah memberi petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki”—kedua versi terjemahan ini sama-sama benar secara sintaksis. Menurut sejumlah hadis sahih, ayat di atas berhubungan dengan ketidakmampuan Nabi membujuk pamannya yang sedang sekarat, Abu Thalib, yang sangat dia cintai dan yang telah mencintai serta melindunginya sepanjang hidupnya agar meninggalkan  kepercayaan musyrik nenek moyangnya dan selanjutnya menyatakan keimanannya akan keesaan Allah. Karena dipengaruhi oleh Abu Jahl dan para pemuka Makkah lainnya, Abu Thalib wafat dengan mengakui, menurut ucapannya sendiri, “keyakinan ‘Abd AI-Muththalib” (Al-Bukhari) atau, menurut versi lain (yang dikutip oleh Al-Thabari), “keyakinan nenek moyangku (al-asy-yakh)”. Namun, tak diragukan lagi bahwa pernyataan Al-Quran “engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada setiap orang yang kau cintai”, juga memiliki makna yang abadi: ia menekankan ketidakmampuan manusia untuk berupaya “mengalihkan” keyakinan orang lain betapapun dia amat dicintai dan mencintainya atau melindunginya dari ketergelinciran ke dalam sesuatu yang dipandang salah olehnya, kecuali jika orang tersebut memang ingin diberi petunjuk.

56 Penerjemahan terhadap ungkapan al-muhtadin di atas sesuai dengan penafsiran yang, dalam konteks ini, dikemukakan oleh banyak mufasir klasik—misalnya, “orang-orang yang menerima petunjuk” (Al-Zamakhsyari), “siapa saja yang pada saatnya menemukan jalan yang benar” (Al-Razi}, “orang-orang yang telah bersiap (musta’iddin) untuknya” (Al-Baidhawi), “semua yang layak mendapat petunjuk” (Ibn Katstr), dan sebagainya. Jadi, petunjuk Allah merupakan pemberian final rahmat-Nya yang dengannya Dia membalas semua orang yang ingin diberi petunjuk. Untuk pembahasan lebih jauh tentang masalah ini, pembaca disarankan agar merujuk pada penjelasan Al-Zamakhsyari yang amat mencerahkan, yang dikutip dalam catatan no. 4 pada Surah Ibrahim [14]: 4.


Surah Al-Qasas Ayat 57

وَقَالُوا إِنْ نَتَّبِعِ الْهُدَىٰ مَعَكَ نُتَخَطَّفْ مِنْ أَرْضِنَا ۚ أَوَلَمْ نُمَكِّنْ لَهُمْ حَرَمًا آمِنًا يُجْبَىٰ إِلَيْهِ ثَمَرَاتُ كُلِّ شَيْءٍ رِزْقًا مِنْ لَدُنَّا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

wa qālū in nattabi’il-hudā ma’aka nutakhaṭṭaf min arḍinā, a wa lam numakkil lahum ḥaraman āminay yujbā ilaihi ṡamarātu kulli syai`ir rizqam mil ladunnā wa lākinna akṡarahum lā ya’lamụn

57. Kini, sebagian orang berkata, “Seandainya kami mengikuti petunjuk yang kau serukan kepada kami, niscaya kami akan diusir dari tanah kami!”57

Mengapa—bukankah Kami telah menetapkan bagi mereka suatu tempat perlindungan yang aman, yang ke tempat itu akan dikumpulkan buah-buahan dari segala hal [yang baik-baik], sebagai rezeki dari Kami?”58

Akan tetapi, kebanyakan mereka tidak mengetahui [kebenaran ini].


57 Lit, “Seandainya kami mengikuti petunjuk bersamamu, niscaya kami akan tercerabut dari negeri kami” (atau “tanah kami”). Bagian ini memiliki konotasi ganda. Pada taraf historis, ia menggemakan keberatan yang disuarakan oleh kaum musyrik Makkah terhadap dakwah Nabi Muhammad Saw.: “Seandainya kami menerima seruanmu, sebagian besar suku lain akan menganggap hal ini sebagai suatu pengkhianatan terhadap kepercayaan nenek moyang kita bersama dan mereka akan mengusir kita dari tanah kita.” Dalam pengertian yang lebih umum dan abadi, bagian tersebut mencerminkan keragu-raguan banyak orang—pada masa, lingkungan, atau dari kepercayaan agama mana pun—yang meskipun menyadari kebenaran suatu seruan ruhani yang baru, masih takut mengakui kebenarannya karena khawatir kalau-kalau pengakuan ini akan menimbulkan pemutusan hubungan antara mereka dan masyarakatnya dan, dengan begitu, akan melemahkan mereka {cut the ground from under their feet [melemahkan mereka]: suatu idiom yang sengaja dipilih oleh Asad karena berdekatan makna dan lafaznya dengan frasa we would be torn away from our very soil, “kami akan diusir dari tanah kami”—peny.}.

58 Seperti ekspresi rasa takut pada ayat sebelumnya, jawaban Al-Quran ini juga dapat dipahami dalam dua pengertian. Dalam pengertian yang terbatas dan historis, ia berkaitan dengan doa Nabi Ibrahim agar negeri yang ada di sekeliling Ka’bah dijadikan aman sepanjang masa dan agar ketandusan alamnya dikompensasikan dengan pertolongan yang membawa manfaat dari luar (bdk. Surah Ibrahim [14]: 35-41; juga Surah Al-Baqarah [2]: 126). Ungkapan ini juga berkaitan dengan dikabulkannya doa ini oleh Allah; jadi, masyarakat Makkah pada masa Nabi diingatkan bahwa mereka tidak perlu takut diusir dari tanah suci ini selama mereka tetap saleh dan bertawakal kepada Allah. Dalam konotasi ruhaninya yang murni, di sisi lain, “tempat perlindungan yang aman” merupakan janji Allah—yang disebutkan dalam ayat 61 selanjutnya—bahwa semua orang yang beriman pada-Nya dan sadar akan tanggung jawab mereka terhadap-Nya akan dikaruniai rasa kedamaian batin di dunia ini dan kebahagiaan yang abadi dalam kehidupan akhirat; dan karena mereka akan dibalas dengan “buah” dari semua perbuatan baik mereka, mereka “tidak perlu takut dan tidak pula bersedih hati” (bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 62, Al-‘Imran [3]: 170, Al-Ma’idah [5]: 69, Al- An’am [6]: 48, Al-A’raf [7]: 35, Yunus [10]: 62, Al-Ahqaf [46]: 13). Lihat juga catatan no. 59 pada Surah Al-‘Ankabut [29]: 67.


Surah Al-Qasas Ayat 58

وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَرْيَةٍ بَطِرَتْ مَعِيشَتَهَا ۖ فَتِلْكَ مَسَاكِنُهُمْ لَمْ تُسْكَنْ مِنْ بَعْدِهِمْ إِلَّا قَلِيلًا ۖ وَكُنَّا نَحْنُ الْوَارِثِينَ

wa kam ahlaknā ming qaryatim baṭirat ma’īsyatahā, fa tilka masākinuhum lam tuskam mim ba’dihim illā qalīlā, wa kunnā naḥnul-wāriṡīn

58. Dan, betapa banyaknya masyarakat yang telah Kami hancurkan, yang [sudah] bersenang-senang dalam kemewahan dan kemudahan hidup, sehingga tempat tinggal mereka itu—seluruhnya, kecuali sedikit saja—tidak pernah ditempati lagi sesudah mereka: sebab, sungguh, Kami sajalah yang akan tetap ada ketika segala sesuatu berlalu-binasa!59


59 Lit., “sungguh (kunna) Kami adalah ahli warisnya”. Untuk penjelasan tentang penerjemahan saya atas ungkapan ini, lihat catatan no. 22 pada Surah Al-Hijr [15]: 23. Ayat di atas menekankan kerapuhan dan tidak berartinya segala “keuntungan” duniawi jika dibandingkan dengan kekalnya kebaikan petunjuk Allah.


Surah Al-Qasas Ayat 59

وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَىٰ حَتَّىٰ يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا ۚ وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَىٰ إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ

wa mā kāna rabbuka muhlikal-qurā ḥattā yab’aṡa fī ummihā rasụlay yatlụ ‘alaihim āyātinā, wa mā kunnā muhlikil-qurā illā wa ahluhā ẓālimụn

59. Namun, Pemeliharamu tidak akan pernah menghancurkan suatu masyarakat tanpa [terlebih dahulu] mengangkat di tengah-tengah mereka seorang rasul yang menyampaikan kepada mereka pesan-pesan Kami;60 dan Kami tidak akan pernah menghancurkan suatu masyarakat, kecuali jika penduduknya biasa berbuat zalim [satu sama lain].61


60 Dengan kata lain, “dan, dengan begitu, membuat mereka mengetahui pengertian benar dan salah”: bdk. Surah Al-An’am [6]: 130-132 dan catatannya yang terkait (no. 116 dan 117).

61 Sehubungan dengan ini, bdk. Surah Hud [11]: 117 dan catatan no. 149. Ketiga rangkaian ayat yang dirujuk di sini serta dalam catatan sebelumnya (yakni Surah Al-An’am [6]: 130-132, Surah Hud [11]: 117, dan Surah Al-Qasas [28]: 59) saling terkait dan, karenanya, harus dibaca secara berdampingan. Ayat ini berkaitan dengan ayat 58 sebelumnya yang membicarakan “kemewahan dan kemudahan hidup”, suatu hal yang sering menyebabkan masyarakat saling menzalimi.


Surah Al-Qasas Ayat 60

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا ۚ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

wa mā ụtītum min syai`in fa matā’ul-ḥayātid-dun-yā wa zīnatuhā, wa mā ‘indallāhi khairuw wa abqā, a fa lā ta’qilụn

60. Dan [ingatlah:] apa saja yang diberikan kepadamu [saat ini] tidak lain hanyalah untuk kesenangan hidup [sementara] di dunia ini dan sebagai perhiasannya—sedangkan yang ada di sisi Allah [jauh] lebih baik dan lebih kekal. Maka, tidakkah kalian menggunakan akal kalian?


Surah Al-Qasas Ayat 61

أَفَمَنْ وَعَدْنَاهُ وَعْدًا حَسَنًا فَهُوَ لَاقِيهِ كَمَنْ مَتَّعْنَاهُ مَتَاعَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ هُوَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْمُحْضَرِينَ

a fa maw wa’adnāhu wa’dan ḥasanan fa huwa lāqīhi kamam matta’nāhu matā’al-ḥayātid-dun-yā ṡumma huwa yaumal-qiyāmati minal-muḥḍarīn

61. Lalu, apakah orang yang telah Kami berikan kepadanya suatu janji yang baik yang akan dia lihat pemenuhannya [pada hari kebangkitannya]62 sama dengan orang yang kepadanya Kami berikan [seluruh] kesenangan hidup duniawi ini, tetapi pada Hari Kebangkitan akan mendapati dirinya termasuk orang yang akan didakwa [di hadapan Kami]?63


62 Lihat paruh pertama catatan no. 58.

63 Yakni, secara tersirat, “karena telah menyalahgunakan pemberian Kami dan menisbahkannya kepada kekuatan lain selain Kami”.


Surah Al-Qasas Ayat 62

وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ أَيْنَ شُرَكَائِيَ الَّذِينَ كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ

wa yauma yunādīhim fa yaqụlu aina syurakā`iyallażīna kuntum taz’umụn

62. Karena, pada Hari itu, Dia akan menyeru mereka dan bertanya, “Kini, di manakah [wujud atau kekuatan] yang dahulu kalian bayangkan bersekutu dalam ketuhanan-Ku?”64


64 Lit., “sekutu-sekutu-Ku yang kalian duga [ada]”: lihat catatan no. 15 dan 16 pada Surah Al-An’Am [6]: 22-23.


Surah Al-Qasas Ayat 63

قَالَ الَّذِينَ حَقَّ عَلَيْهِمُ الْقَوْلُ رَبَّنَا هَٰؤُلَاءِ الَّذِينَ أَغْوَيْنَا أَغْوَيْنَاهُمْ كَمَا غَوَيْنَا ۖ تَبَرَّأْنَا إِلَيْكَ ۖ مَا كَانُوا إِيَّانَا يَعْبُدُونَ

qālallażīna ḥaqqa ‘alaihimul-qaulu rabbanā hā`ulā`illażīna agwainā, agwaināhum kamā gawainā, tabarra`nā ilaika mā kānū iyyānā ya’budụn

63. [kemudian} mereka, yang terhadap mereka itulah perkataan [kebenaran] akan tegak terungkap,65 akan berseru, “Wahai, Pemelihara kami! Orang-orang yang telah kami sesatkan begitu mendalam itu, kami hanya menyesatkan (mereka) sebagaimana kami sendiri tersesat.66 [Kini,] di hadapan-Mu, kami sangkal mereka: bukanlah kami yang telah mereka sembah!”67


65 Yakni, akan kenyataan bahwa Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka (bdk. Surah An-Naml [27]: 82 dan catatan no. 73 yang terkait). Sebagaimana ditunjukkan oleh rangkaian ayat ini, orang-orang yang dimaksud di sini adalah “para tokoh pemikir” yang diduga telah meletakkan standar perilaku sosial dan penilaian moral yang salah dalam masyarakat; dan karena, pada dasarnya, mereka yang bertanggung jawab atas kesesatan para pengikutnya, merekalah yang pertama-tama akan merasakan penderitaan dalam kehidupan akhirat.

66 Yakni, “kami tidak menyesatkan mereka karena benci, tetapi semata-mata karena kami sendiri telah disesatkan oleh para pendahulu kami”. “Jawaban” ini, tentu, merupakan suatu elakan; tetapi, ia dikutip dalam ayat ini untuk menunjukkan bahwa kecintaan manusia pada nilai-nilai dan konsep konsep keliru yang berdasarkan pada materialisme belaka—yang betapa pun kelirunya, tetap saja nyaris dipertuhankan—sering kali merupakan masalah “kontinuitas sosial” semata: dengan kata lain, keabsahan nilai-nilai palsu materialistik itu diterima begitu saja hanya karena nilai-nilai tersebut telah dihormati sejak lama oleh setiap generasi yang secara membabi buta menerima pandangan yang dipegang teguh oleh nenek moyang mereka. Dalam pengertiannya yang terdalam, ayat ini—sebagaimana banyak ayat lainnya yang serupa sepanjang Al-Quran—menunjukkan bahwa tindakan menerima kebenaran proposisi etis atau intelektual hanya karena proposisi tersebut dipandang benar oleh generasi terdahulu merupakan suatu hal yang tidak dapat dibenarkan secara moral.

67 Dengan kata lain, mereka hanya terbiasa menyembah nafsu dan keinginan mereka sendiri yang diproyeksikan pada wujud-wujud yang sama sekali tidak berhubungan. Sehubungan dengan ini, Iihat Surah Yunus [10]: 28 dan catatannya, khususnya catatan no. 46; juqa Surah Saba’ [34]: 41 dan catatannya (no. 52).


Surah Al-Qasas Ayat 64

وَقِيلَ ادْعُوا شُرَكَاءَكُمْ فَدَعَوْهُمْ فَلَمْ يَسْتَجِيبُوا لَهُمْ وَرَأَوُا الْعَذَابَ ۚ لَوْ أَنَّهُمْ كَانُوا يَهْتَدُونَ

wa qīlad’ụ syurakā`akum fa da’auhum fa lam yastajībụ lahum, wa ra`awul-‘ażāb, lau annahum kānụ yahtadụn

64. Dan, akan dikatakan [kepada mereka]: “[Kini,] serulah [wujud atau kekuatan] itu yang biasa kalian anggap bersekutu dalam ketuhanan Allah!”68—dan mereka akan memohon [pertolongan] kepadanya, tetapi [objek sembahan batil] itu tidak menjawab mereka: kemudian mereka akan melihat derita [yang menanti mereka—derita yang sebenarnya dapat dihindari] seandainya mereka dahulu bersedia menerima petunjuk!69


68 Lit., “sekutu-sekutu[-Tuhan]mu”: lihat catatan no. 64.

69 Untuk terjemahan atas frasa lau kanu yahtadun ini, lihat catatan no. 56 sebelum ini.


Surah Al-Qasas Ayat 65

وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ مَاذَا أَجَبْتُمُ الْمُرْسَلِينَ

wa yauma yunādīhim fa yaqụlu māżā ajabtumul-mursalīn

65. Dan, pada Hari itu, Allah akan menyeru mereka dan bertanya, “Bagaimana kalian menanggapi para rasul-Ku?”70


70 Ini berkaitan dengan kalimat pertama ayat 59, yang telah dijelaskan dalam catatannya (no. 60). Ayat ini menunjukkan dengan jelas bahwa para pendosa itu tidak menanggapi petunjuk yang ditawarkan rasul-rasul Allah kepada mereka. Seperti dalam sejumlah ayat Al-Quran lainnya, “pertanyaan” Allah ini hanya dimaksudkan untuk menekankan adanya suatu kesalahan moral yang kini tampak jelas bagi suara hati manusia yang menyesali-dirinya sendiri.


Surah Al-Qasas Ayat 66

فَعَمِيَتْ عَلَيْهِمُ الْأَنْبَاءُ يَوْمَئِذٍ فَهُمْ لَا يَتَسَاءَلُونَ

fa ‘amiyat ‘alaihimul-ambā`u yauma`iżin fa hum lā yatasā`alụn

66. —akan tetapi, pada saat itu, seluruh alasan dan dalih akan dihilangkan dari pikiran mereka71 dan mereka satu sama lain tidak akan [mampu] memperoleh jawaban [yang berguna].72


71 Lit., “pada Hari itu akan menjadi kabur bagi mereka”. Nomina anba’, yang secara harfiah berarti “berita-berita”, di sini memiliki makna gabungan “alasan dan dalih” (Al-Thabari).

72 Yakni, mereka semua akan sama-sama bingung. Untuk penerjemahan kata la yatas’alun di atas (lit., “mereka tidak akan [mampu] saling bertanya”), lihat penjelasan atas ungkapan ini yang dikemukakan oleh Al-Baghawi, Al-Zamakhsyari, dan Al-Baidhawi.


Surah Al-Qasas Ayat 67

فَأَمَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَعَسَىٰ أَنْ يَكُونَ مِنَ الْمُفْلِحِينَ

fa ammā man tāba wa āmana wa ‘amila ṣāliḥan fa ‘asā ay yakụna minal-mufliḥīn

67. Namun sebaliknya—siapa saja yang bertobat73 dan meraih iman serta mengerjakan perbuatan-perbuatan kebajikan, teramat bisa [berharap untuk] mendapati dirinya termasuk di antara orang-orang yang meraih kebahagiaan [dalam kehidupan akhirat].


73 Yakni, selama hidupnya di dunia ini. Untuk penjelasan tentang penekanan pada tobat ini—yang timbul dari kesadaran seseorang akan kesalahan moralnya—lihat Surah An-Nur [24], catatan no. 41.


Surah Al-Qasas Ayat 68

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ ۗ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

wa rabbuka yakhluqu mā yasyā`u wa yakhtār, mā kāna lahumul-khiyarah, sub-ḥānallāhi wa ta’ālā ‘ammā yusyrikụn

68. DAN [DEMIKIANLAH:] Pemeliharamu menciptakan apa saja yang Dia kehendaki; dan Dia memilihkan [bagi manusia] apa pun yang terbaik bagi mereka.74 Maha Tak Terhingga Kemuliaan Allah dan Mahatinggi (Dia) melampaui segala sesuatu yang mungkin mereka persekutukan dengan-Nya!


74 Beberapa mufasir klasik cenderung menafsirkan ma dalam frasa ma kana lahum al-khirah sebagai partikel negasi (nafi) dan kata khirah sebagai “pilihan” atau “kebebasan memilih” sehingga memaknai frasa ini dengan “Dia memilih, [tetapi] mereka [yakni, manusia] tidak memiliki kebebasan memilih”. Namun, menurut saya, penafsiran ini bertentangan tidak hanya dengan rangkaian ayat sebelumnya, tetapi juga dengan maksud Al-Quran secara keseluruhan, yang terus-menerus menekankan tanggung jawab manusia untuk (dan, karenanya, kebebasan yang relatif dalam) memilih antara yang benar dan yang salah—dan, semua ini berjalan seiring dengan penekanannya pada kekuasaan tak terbatas yang dimiliki Allah untuk menetapkan alur faktual peristiwa. Oleh karena itu, saya memilih untuk mendasarkan penerjemahan saya pada penafsiran yang dikemukakan dan diajukan secara meyakinkan oleh Al-Thabari, yang memandang partikel ma tersebut bukan sebagai negasi (nafi), alih-alih sebagai kata ganti penghubung yang sinonim dengan alladzi (“yang” atau “apa pun”), dan memahami nomina khirah menurut makna dasarnya, yaitu “yang dipilih” atau “yang disukai”, yakni karena dipandang sebagai yang terbaik: dengan kata lain, sebagai sinonim kata khair. Al-Zamakhsyari menyebutkan penafsiran ini dan jelas-jelas menyetujuinya (meskipun tidak secara khusus menyebut Al-Thabari), serta memperluasnya sebagai berikut: “Allah memilih bagi umat manusia apa pun yang terbaik (ma huwa khair) dan paling bermanfaat (ashlhah) bagi mereka, sebab Allah lebih mengetahui daripada manusia mengenai apa yang terbaik bagi mereka.”


Surah Al-Qasas Ayat 69

وَرَبُّكَ يَعْلَمُ مَا تُكِنُّ صُدُورُهُمْ وَمَا يُعْلِنُونَ

wa rabbuka ya’lamu mā tukinnu ṣudụruhum wa mā yu’linụn

69. Dan, Pemeliharamu mengetahui segala yang disembunyikan oleh hati mereka serta segala yang mereka nyatakan:


Surah Al-Qasas Ayat 70

وَهُوَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ لَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُولَىٰ وَالْآخِرَةِ ۖ وَلَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

wa huwallāhu lā ilāha illā huw, lahul-ḥamdu fil-ụlā wal-ākhirati wa lahul-ḥukmu wa ilaihi turja’ụn

70. sebab, Dia-lah Allah, tiada tuhan kecuali Dia. Bagi-Nya-lah segala puji, di awal dan akhir [masa];75 dan di sisi-Nya-lah segala keputusan berada; dan kepada-Nya-lah kalian semua akan dikembalikan.


75 Atau: “dalam kehidupan yang awal ini [yaitu di dunia ini] dan dalam kehidupan akhirat”.


Surah Al-Qasas Ayat 71

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ اللَّيْلَ سَرْمَدًا إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَٰهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِضِيَاءٍ ۖ أَفَلَا تَسْمَعُونَ

qul a ra`aitum in ja’alallāhu ‘alaikumul-laila sarmadan ilā yaumil-qiyāmati man ilāhun gairullāhi ya`tīkum biḍiyā`, a fa lā tasma’ụn

71. Katakanlah: “Pernahkah kalian memikirkan [hal ini]: ‘Seandainya Allah menetapkan bagi kalian malam hari yang berlangsung terus-menerus, tanpa jeda, hingga Hari Kebangkitan—adakah tuhan lain selain Allah yang dapat mendatangkan cahaya bagi kalian?’76 Lalu, tidakkah kalian mau mendengar [kebenaran]?”


76 Lit., “siapakah [yakni ‘di manakah’] tuhan …,” dst., yang jelas menunjukkan bahwa “tuhan” semacam itu tidak ada.


Surah Al-Qasas Ayat 72

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ النَّهَارَ سَرْمَدًا إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَٰهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِلَيْلٍ تَسْكُنُونَ فِيهِ ۖ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

qul a ra`aitum in ja’alallāhu ‘alaikumun-nahāra sarmadan ilā yaumil-qiyāmati man ilāhun gairullāhi ya`tīkum bilailin taskunụna fīh, a fa lā tubṣirụn

72. Katakanlah: “Pernahkah kalian memikirkan [hal ini]: ‘Seandajnya Allah menetapkan bagi kalian siang hari yang berlangsung terus-menerus, tanpa jeda, hingga Hari Kebangkitan—adakah tuhan lain selain Allah yang dapat mendatangkan [kegelapan] malam bagi kalian, tempat kalian dapat beristirahat?’ Lalu, tidakkah kalian mau melihat [kebenaranl?”77


77 Yakni, “Tidakkah kalian menyadari ajaibnya ciptaan yang terencana dan bertujuan?”


Surah Al-Qasas Ayat 73

وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

wa mir raḥmatihī ja’ala lakumul-laila wan-nahāra litaskunụ fīhi wa litabtagụ min faḍlihī wa la’allakum tasykurụn

73. Karena, berkat rahmat-Nya-lah, Dia menjadikan bagi kalian malam dan siang agar kalian dapat beristirahat dan berusaha mencari [apa yang kalian butuhkan dari] karunia-Nya: dan [Dia memberikan semua ini kepada kalian] agar kalian memiliki alasan untuk bersyukur.


Surah Al-Qasas Ayat 74

وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ أَيْنَ شُرَكَائِيَ الَّذِينَ كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ

wa yauma yunādīhim fa yaqụlu aina syurakā`iyallażīna kuntum taz’umụn

74. DAN, PADA HARI ITU,78 Dia akan berseru kepada mereka [yang didakwa di hadapan kursi pengadilan-Nya] dan bertanya, “Kini, di manakah [wujud atau kekuatan] yang dahulu kalian bayangkan bersekutu dalam ketuhanan-Ku?”79


78 Yakni, Hari Kebangkitan—jadi, kembali ke tema yang diuraikan dalam ayat 62-66 sebelum ini.

79 Pengulangan “pertanyaan” Allah ini, yang telah disebutkan dalam ayat 62 sebelum ini, dimaksudkan untuk menekankan fakta bahwa para pendosa itu sama sekali tidak mampu menjustifikasi sikap mereka dahulu secara rasional; inilah yang menjelaskan kalimat yang saya sisipkan di awal ayat berikutnya.


Surah Al-Qasas Ayat 75

وَنَزَعْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا فَقُلْنَا هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ فَعَلِمُوا أَنَّ الْحَقَّ لِلَّهِ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ

wa naza’nā ming kulli ummatin syahīdan fa qulnā hātụ burhānakum fa ‘alimū annal-ḥaqqa lillāhi wa ḍalla ‘an-hum mā kānụ yaftarụn

75. Dan, [mereka akan tetap diam: sebab, pada saat itu] Kami telah mendatangkan sejumlah saksi dari tiap-tiap ummat80 dan berkata [kepada para pendosa itu], “Tunjukkanlah suatu bukti atas apa yang telah kalian nyatakan!”81

Dan demikianlah, mereka akan mengerti bahwa segala kebenaran itu [hanyalah] milik Allah;82 dan semua rekaan batil mereka akan meninggalkan mereka.83


80 Yakni, nabi-nabi yang telah tampil pada berbagai tahapan sejarah umat manusia, dan yang sekarang akan memberi kesaksian bahwa mereka telah menyampaikan pesan Allah kepada umat yang dituju sebagaimana mestinya.

81 Lit., “Tunjukkan bukti kalian”—yaitu, tentang kemungkinan seseorang atau sesuatu mempunyai sifat-sifat ketuhanan.

82 Yakni, bahwa Dia-lah Realitas Tertinggi, dan apa pun yang ada atau mungkin ada adalah akibat dari kehendak-Nya semata.

83 Tentang makna frasa ma kanu yaftarun (lit., “segala yang biasa mereka ada-adakan”—yang di sini, seperti juga dalam Surah Al-An’am [6]: 24, Al-A’raf [7]: 53, Yunus [10]: 30, Hud [11]: 21, dan An-Nahl [16]: 87, saya terjemahkan menjadi “semua rekaan-rekaan batil mereka”)—lihat Surah Hud [11], catatan no. 42; juga catatan no. 15 dalam Surah Al-An’am [6]: 22. Contoh spesifik “rekaan-rekaan batil” semacam itu—yakni, kesia-siaan tindakan manusia untuk bersandar pada kekayaan dan kekuasaan duniawinya sendiri—digambarkan dalam kisah Qarun yang segera diuraikan dalam rangkaian ayat selanjutnya (lihat catatan berikut).


Surah Al-Qasas Ayat 76

إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ ۖ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ

inna qārụna kāna ming qaumi mụsā fa bagā ‘alaihim wa ātaināhu minal-kunụzi mā inna mafātiḥahụ latanū`u bil-‘uṣbati ulil-quwwati iż qāla lahụ qaumuhụ lā tafraḥ innallāha lā yuḥibbul-fariḥīn

76. [KINI,] PERHATIKANLAH, Qarun adalah salah seorang di antara kaum Musa;84 tetapi dia menyombongkan diri terhadap mereka—semata-mata karena Kami telah memberikan kepadanya kekayaan yang sedemikian (besar) sehingga peti hartanya saja pasti terlalu berat bagi suatu pasukan yang terdiri dari sepuluh orang atau bahkan lebih.85

Ketika [mereka melihat kesombongannya,] kaumnya berkata kepadanya, “Janganlah berbangga diri [dengan kekayaanmu] karena, sungguh, Allah tidak mencintai orang yang berbangga diri [karena hal yang tak berarti]!


84 Struktur kalimat di atas dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa bahkan seseorang yang telah menjadi pengikut salah seorang rasul terbesar pun tidak bebas dari kemungkinan berbuat dosa karena pengaruh rasa bangga-diri yang batil dan pengagungan-diri—suatu contoh khusus dari “rekaan-rekaan batil” yang disebutkan dalam ayat sebelumnya. “Menyamakan” Qarun dengan Korah yang dikisahkan dalam Perjanjian Lama (Kitab Bilangan 16) tidaklah relevan, dan juga tidak didukung oleh teks Al-Quran, apalagi karena tujuan kisah ini merupakan suatu pelajaran moral dan bukan narasi historis. Inilah yang menjelaskan mengapa dalam ayat lainnya (yakni, Surah Al-‘Ankabut [29]: 39 dan Surah Ghafir [40]: 24) kisah Qarun disejajarkan dengan Fir’aun, si pendosa besar.

85 Istilah ‘ushbah berarti rombongan yang terdiri dari 10 orang atau lebih (hingga 40): karena di sini istilah tersebut digunakan secara metonimia, yang menunjukkan beratnya beban yang dibawa, sebaiknya istilah itu diterjemahkan seperti di atas.

Nomina mafatih adalah bentuk jamak baik dari kata miftah atau miftāh (“kunci”) maupun maftah (“sesuatu yang terkunci”, yakni “timbunan kekayaan” atau “peti harta”), dimana arti yang disebutkan terakhir inilah yang jelas-jelas dimaksud dalam konteks ini.


Surah Al-Qasas Ayat 77

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

wabtagi fīmā ātākallāhud-dāral-ākhirata wa lā tansa naṣībaka minad-dun-yā wa aḥsing kamā aḥsanallāhu ilaika wa lā tabgil-fasāda fil-arḍ, innallāha lā yuḥibbul-mufsidīn

77. Sebaliknya, carilah melalui apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu itu (kebaikan) kehidupan akhirat86 tanpa, pada saat yang sama, melupakan bagianmu sendiri [yang sah] di dunia ini;87 dan berbuat baiklah [kepada orang lain] sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu; dan janganlah berusaha menyebarkan kerusakan di muka bumi: sebab, sungguh, Allah tidak mencintai orang-orang yang menyebarkan kerusakan!”


86 Yakni, dengan membelanjakannya untuk bersedekah dan untuk kebaikan.

87 Lit., “dan jangan lupa …”, dst.: sebuah seruan untuk bersikap dermawan dan, pada saat yang sama, untuk menganut sikap pertengahan (bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 143—”Kami telah menetapkan kalian menjadi umat pertengahan”).


Surah Al-Qasas Ayat 78

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي ۚ أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْأَلُ عَنْ ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ

qāla innamā ụtītuhụ ‘alā ‘ilmin ‘indī, a wa lam ya’lam annallāha qad ahlaka ming qablihī minal-qurụni man huwa asyaddu min-hu quwwataw wa akṡaru jam’ā, wa lā yus`alu ‘an żunụbihimul-mujrimụn

78. Dia (Qarun) menjawab, “[Kekayaan] ini telah diberikan kepadaku berkat pengetahuan yang ada padaku semata!”88

Tidakkah dia mengetahui bahwa Allah telah menghancurkan [orang-orang sombong dari] banyak generasi sebelum (masa)-nya—orang-orang yang lebih besar kekuasaannya daripada dia dan lebih banyak menumpuk harta?

Akan tetapi, orang yang tenggelam dalam dosa seperti itu tidak dapat ditanya mengenai dosa-dosa mereka ….89


88 Yakni, “sebagai hasil dari pengalaman, kelihaian, dan kemampuanku sendiri” (bdk. Surah Az-Zumar [39]: 49 dan catatan no. 55 yang terkait).

89 Dengan jelas menunjukkan bahwa “orang-orang yang tenggelam dalam dosa seperti itu” (al-mujrimun) biasanya tidak dapat melihat kekeliruannya sendiri dan, karena itu, tidak menghiraukan peringatan.


Surah Al-Qasas Ayat 79

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ ۖ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

fa kharaja ‘alā qaumihī fī zīnatih, qālallażīna yurīdụnal-ḥayātad-dun-yā yā laita lanā miṡla mā ụtiya qārụnu innahụ lażụ haẓẓin ‘aẓīm

79. Kemudian, dia pergi ke luar di hadapan kaumnya dengan segala kemegahannya; [dan] orang-orang yang hanya memperhatikan kehidupan dunia ini berkata, “Andai saja kita memiliki seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun! Sungguh, dia telah dianugerahi keberuntungan dan kekayaan yang sangat besar!”


Surah Al-Qasas Ayat 80

وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ

wa qālallażīna ụtul-‘ilma wailakum ṡawābullāhi khairul liman āmana wa ‘amila ṣāliḥā, wa lā yulaqqāhā illaṣ-ṣābirụn

80. Akan tetapi, orang-orang yang telah diberi pengetahuan sejati berkata, “Celakalah kalian! Nilai dalam pandangan Allah90 teramat jauh lebih baik bagi orang yang meraih iman dan melakukan apa yang benar: akan tetapi, tiada seorang pun, kecuali orang-orang yang bersabar dalam menghadapi kesusahan, yang dapat meraih [nikmat] ini.”


90 Lit., “imbalan pahala (dari) Allah”, dengan kata lain, “nilai keuntungan ruhani”.


Surah Al-Qasas Ayat 81

فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ

fa khasafnā bihī wa bidārihil-arḍ, fa mā kāna lahụ min fi`atiy yanṣurụnahụ min dụnillāhi wa mā kāna minal-muntaṣirīn

81. Dan kemudian, Kami jadikan bumi menelannya (Qarun) dan tempat tinggalnya; dan dia tidak memiliki seorang pun atau apa pun yang menolongnya terhadap Allah, dan tidak pula dia termasuk orang yang dapat menolong dirinya sendiri.91


91 Lit., “dia tidak mempunyai pasukan apa pun untuk menolongnya …”, dan seterusnya. Qarun “ditelan bumi” boleh jadi merupakan suatu kiasan bagi sirnanya—karena sebab-sebab apa pun segala kekayaan duniawinya secara katastropik dan tanpa dapat diramalkan sebelumnya serta, dengan demikian, hilangnya kemegahan yang dahulu dia nikmati.


Surah Al-Qasas Ayat 82

وَأَصْبَحَ الَّذِينَ تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِالْأَمْسِ يَقُولُونَ وَيْكَأَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ ۖ لَوْلَا أَنْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا ۖ وَيْكَأَنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

wa aṣbaḥallażīna tamannau makānahụ bil-amsi yaqụlụna waika`annallāha yabsuṭur-rizqa limay yasyā`u min ‘ibādihī wa yaqdir, lau lā am mannallāhu ‘alainā lakhasafa binā, waika`annahụ lā yufliḥul-kāfirụn

82. Dan, pada hari berikutnya, orang-orang yang kemarin amat merindukan kedudukan Qarun berseru, “Aduhai malangnya, [karena kita tidak sadar] bahwa sungguh Allah [sajalah] yang menganugerahkan rezeki yang melimpah, atau memberikannya dalam jumlah yang sedikit, kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara makhluk-Nya! Jika saja Allah tidak berbelas kasih kepada kita, Dia dapat menjadikan [bumi ini] menelan kita juga! Aduhai malangnya, [karena kita telah lupa] bahwa orang-orang yang mengingkari kebenaran tidak akan meraih kebahagiaan.”


Surah Al-Qasas Ayat 83

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

tilkad-dārul-ākhiratu naj’aluhā lillażīna lā yurīdụna ‘uluwwan fil-arḍi wa lā fasādā, wal-‘āqibatu lil-muttaqīn

83. Adapun mengenai kehidupan [yang bahagia] di akhirat, Kami [hanya] akan menganugerahkannya kepada orang-orang yang tidak menyombongkan diri di muka bumi, dan tidak pula menyebarkan kerusakan: sebab, masa depan itu milik orang-orang yang sadar akan Allah.92


92 Anak kalimat terakhir ini menjelaskan bahwa agar memperoleh nilai ruhani, sikap “tidak mencari” kemuliaan duniawi atau tenggelam dalam harta benda yang merusak akhlak harus merupakan hasil dari suatu pilihan moral yang sadar semata, bukan karena tidak acuh atau karena tidak ada kesempatan.


Surah Al-Qasas Ayat 84

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِنْهَا ۖ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى الَّذِينَ عَمِلُوا السَّيِّئَاتِ إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

man jā`a bil-ḥasanati fa lahụ khairum min-hā, wa man jā`a bis-sayyi`ati fa lā yujzallażīna ‘amilus-sayyi`āti illā mā kānụ ya’malụn

84. Siapa pun yang datang [ke hadapan Allah] dengan suatu perbuatan baik akan memperoleh kebaikan [yang lebih banyak] darinya;93 adapun orang yang datang dengan suatu perbuatan jahat—[ketahuilah bahwa] mereka yang berbuat jahat tidak akan diberi balasan melebihi apa yang [serupa dengan yang] telah mereka kerjakan.94


93 Lihat catatan no. 79 tentang frasa yang sama yang tercantum dalam Surah An-Naml [27]: 89.

94 Bdk. Surah Al-An’am [6]: 160 dan catatannya (no. 162).


Surah Al-Qasas Ayat 85

إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَىٰ مَعَادٍ ۚ قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ مَنْ جَاءَ بِالْهُدَىٰ وَمَنْ هُوَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

innallażī faraḍa ‘alaikal-qur`āna larādduka ilā ma’ād, qul rabbī a’lamu man jā`a bil-hudā wa man huwa fī ḍalālim mubīn

85. SESUNGGUHNYA, [wahai orang beriman,] Dia yang telah menetapkan Al-Quran ini dengan ketentuan-ketentuan yang jelas, dengan menjadikannya mengikatmu,95 pasti akan mengembalikanmu lagi [dari kematian] menuju suatu kehidupan yang baru.96

Katakanlah [kepada orang-orang yang menolak kebenaran]: “Pemeliharaku paling mengetahui siapa yang diberi petunjuk dengan benar97 dan siapa yang nyata-nyata tersesat dalam kesalahan!”


95 Menurut Mujahid (seperti dikutip Al-Thabari), ungkapan faradha ‘alaika hampir sinonim dengan a’thaka, “Dia telah memberikan-(nya) kepadamu”. Namun, hal ini hanya menguraikan satu bagian dari ungkapan yang kompleks di atas yang di sini, menurut saya, memiliki suatu makna yang mirip dengan makna kata faradhnaha (“telah Kami tetapkan dengan kata-kata yang lugas”) yang terdapat dalam ayat pertama Surah An-Nur [24] dan dijelaskan dalam catatannya yang terkait (no. 1). Dalam konteks ayat ini, partikel ‘alaika (“padamu”), dengan akhiran pronominalnya, memberikan kepada anak kalimat di atas makna tambahan tentang kewajiban moral orang-orang yang menerima pesan Al-Quran agar menyesuaikan jalan hidupnya dengan ajaran-ajaran Al-Quran; karena itulah saya menerjemahkan frasa tersebut secara majemuk.

96 Istilah ma’ad secara harfiah berarti “suatu tempat [atau ‘keadaan’] yang kepadanya seseorang kembali” dan, secara figuratif, “tujuan akhir” atau “keadaan terakhir” manusia; dalam konteks ayat ini, istilah ini jelas sinonim dengan “kehidupan akhirat”. Begitulah kebanyakan mufasir klasik menafsirkan ungkapan di atas. Akan tetapi, berdasarkan asumsi yang tidak jelas yang mengatakan bahwa ayat ini ditujukan secara khusus kepada Nabi, beberapa mufasir cenderung berpendapat bahwa nomina ma’ad di sini memiliki konotasi fisik murni dan khusus—”suatu tempat kembali”—yang diduga merujuk pada janji Allah kepada Rasul-Nya (yang diberikan selama atau setelah Nabi hijrah dari Makkah ke Madinah), bahwa suatu hari dia akan kembali ke kota kelahirannya sebagai pemenang. Namun, menurut pendapat saya, ayat tersebut memiliki makna yang lebih dalam, yang tidak terkait dengan suatu tempat atau tonggak tertentu apa pun dalam sejarah: ayat ini ditujukan kepada setiap orang beriman dan menjanjikan tidak hanya kesinambungan hidup setelah kematian jasad, tetapi juga menjanjikan suatu kelahiran-ulang ruhani di dunia ini kepada siapa saja yang membuka hatinya terhadap pesan-pesan Al-Quran dan kemudian menganggap pesan itu mengikat dirinya.

97 Lit., “siapa yang datang dengan petunjuk”.


Surah Al-Qasas Ayat 86

وَمَا كُنْتَ تَرْجُو أَنْ يُلْقَىٰ إِلَيْكَ الْكِتَابُ إِلَّا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ ظَهِيرًا لِلْكَافِرِينَ

wa mā kunta tarjū ay yulqā ilaikal-kitābu illā raḥmatam mir rabbika fa lā takụnanna ẓahīral lil-kāfirīn

86. Kini, [adapun mengenai dirimu sendiri, wahai orang beriman,] engkau tidak pernah dapat meramalkan98 bahwa kitab Ilahi ini [suatu hari] akan diberikan kepadamu: akan tetapi, [ia benar-benar datang kepadamu] berkat rahmat Pemeliharamu.

Karena itu, janganlah sekali-kali engkau mendukung orang-orang yang mengingkari kebenaran [petunjuk Ilahi].


98 Lit., “berharap” atau “menduga”.


Surah Al-Qasas Ayat 87

وَلَا يَصُدُّنَّكَ عَنْ آيَاتِ اللَّهِ بَعْدَ إِذْ أُنْزِلَتْ إِلَيْكَ ۖ وَادْعُ إِلَىٰ رَبِّكَ ۖ وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

wa lā yaṣuddunnaka ‘an āyātillāhi ba’da iż unzilat ilaika wad’u ilā rabbika wa lā takụnanna minal-musyrikīn

87. dan janganlah sekali-kali engkau biarkan mereka memalingkanmu dari pesan-pesan Allah sesudah pesan-pesan itu diturunkan kepadamu: alih-alih,99 serulah [semua manusia] kepada Pemeliharamu.

Dan, janganlah sekali-kali engkau menjadi salah satu di antara orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Dia,


99 Lit., “dan”.


Surah Al-Qasas Ayat 88

وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ ۘ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ ۚ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

wa lā tad’u ma’allāhi ilāhan ākhar, lā ilāha illā huw, kullu syai`in hālikun illā waj-hah, lahul-ḥukmu wa ilaihi turja’ụn

88. dan janganlah menyeru tuhan apa pun di samping Allah.

Tiada tuhan kecuali Dia. Segala sesuatu pasti akan binasa, kecuali Diri-Nya [yang kekal].100 Di sisi-Nya-lah terletak segala keputusan dan kepada-Nya-lah kalian semua akan dikembalikan.


100 Lihat Surah Ar-Rahman [55]: 26-27 dan catatan no. 11 yang terkait.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top