54. Al-Qamar (Bulan) – القمر

Surat Al-Qamar dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Qamar ( القمر ) merupakan surat ke 54 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 55 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Al-Qamar tergolong Surat Makkiyah.

Sebagaimana ditunjukkan oleh Al-Razi, ayat pertama surah ini tampaknya nyaris merupakan kelanjutan saja dari ayat-ayat terakhir surah sebelumnya (Surah An-Najm [53]), khususnya ayat 57—“(Saat Terakhir) yang amat dekat itu semakin mendekat”—: dengan demikian, kita bisa mengasumsikan bahwa kedua surah ini diwahyukan dalam waktu yang kira-kira bersamaan, yakni menjelang masa-masa akhir dari bagian awal kenabian Muhammad Saw. (mungkin pada tahun keempat kenabian).

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Qamar Ayat 1

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ

iqtarabatis-sā’atu wansyaqqal-qamar

1. SAAT TERAKHIR semakin dekat, dan bulan terpecah belah.1


1 Sebagian besar mufasir berpendapat bahwa ayat ini merujuk kepada suatu fenomena yang dikatakan telah disaksikan oleh beberapa orang yang hidup sezaman dengan Nabi Saw. Seperti digambarkan dalam beberapa laporan yang diriwayatkan oleh sejumlah Sahabat, pada suatu malam, bulan tampak seakan-akan terbelah menjadi dua bagian. Sementara tidak ada alasan untuk meragukan kebenaran subjektif laporan-laporan ini, boleh jadi bahwa yang sesungguhnya terjadi adalah semacam gerhana bulan parsial yang tidak biasa, yang menghasilkan ilusi optik yang tidak biasa pula. Namun, terlepas dari apakah sesungguhnya fenomena itu, dapat dipastikan bahwa ayat Al-Quran di atas tidak mengacu pada peristiwa tersebut, tetapi merujuk kepada suatu peristiwa di masa depan: yakni, peristiwa yang akan terjadi ketika Saat Terakhir datang. (Al-Quran sering menggunakan bentuk waktu lampau untuk menunjuk pada masa depan, terlebih lagi dalam ayat-ayat yang membicarakan datangnya Saat Terakhir dan Hari Kebangkitan; penggunaan bentuk waktu lampau ini dimaksudkan untuk menekankan kepastian dari peristiwa yang diterangkan oleh verba tersebut.) Karenanya, Raghib menganggap benar sepenuhnya penafsiran frasa insyaqqa al-qamar (bulan terpecah belah) sebagai berkenaan dengan malapetaka kosmik—yakni, akhir dunia sebagaimana yang kita kenal ini—yang akan terjadi sebelum datangnya Hari Kebangkitan (lihat entri syaqq dalam Mufradat). Seperti disebutkan oleh Al-Zamakhsyari, penafsiran ini didukung oleh sejumlah mufasir terdahulu; dan, menurut saya, penafsiran ini lebih meyakinkan lagi mengingat bahwa dalam ayat Al-Quran di atas, penyebutan “buIan yang terpecah belah” disejajarkan dengan penyebutan datangnya hari kiamat. (Berkaitan dengan ini, kita hendaknya ingat bahwa tidak ada satu pun ayat Al-Quran yang berbicara mengenai “mendekatnya” Saat Terakhir dan Hari Kebangkitan yang didasarkan pada konsep “waktu” menurut ukuran manusia.)


Surah Al-Qamar Ayat 2

وَإِنْ يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ

wa iy yarau āyatay yu’riḍụ wa yaqụlụ siḥrum mustamirr

2. Namun, jika mereka [yang menolak segala pemikiran tentang Saat Terakhir itu] melihat suatu tanda yang menunjukkan kedatangannya], mereka akan berpaling dan berkata, “Sebuah khayalan yang terus-menerus berulang!”—


Surah Al-Qamar Ayat 3

وَكَذَّبُوا وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَكُلُّ أَمْرٍ مُسْتَقِرٌّ

wa każżabụ wattaba’ū ahwā`ahum wa kullu amrim mustaqirr

3. sebab, mereka berkukuh mendustakannya,2 (karena) selalu terbiasa mengikuti hawa nafsu mereka sendiri.

Namun, pada akhirnya, segala sesuatu mengungkapkan kebenarannya.3


2 Lit., “mereka telah mendustakan[-nya]”: ini mengacu pada ramalan tentang datangnya Saat Terakhir dan Hari Kebangkitan. Penggunaan bentuk lampau dalam kalimat di atas menunjukkan adanya niat yang sadar dan ketetapan hati (bdk. Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 6). Mengenai penerjemahan saya atas kata sihr menjadi “khayalan”, Iihat Surah Al-Muddatstsir [74], catatan no. 12.

3 Lit., “segala sesuatu telah ditetapkan dalam wujudnya [sendiri]”: yakni, segala sesuatu memiliki realitas intrinsik (haqiqah) masing-masing, dan semuanya pasti akan mengungkapkan realitas tersebut entah di dunia ini atau di akhirat nanti (Al-Baghawi, berdasarkan riwayat Al-Kalbi); karenanya, segala sesuatu pasti memiliki maksud atau “tujuan”-nya sendiri (Al-Zamakhsyari). Kedua penafsiran ini—yang saling melengkapi—merefleksikan pernyataan Al-Quran yang sering diulang-ulang, yakni bahwa segala sesuatu yang ada atau terjadi memiliki makna dan tujuan: bdk. Surah Al-‘Imran [3]: 191, Surah Yunus [10]: 5, dan Surah Shad [38]: 27 (khususnya, lihat catatan no. 11 dalam Surah Yunus [10]: 5). Dalam konteks ayat di atas, frasa tersebut berkaitan dengan kebenaran yang dirujuk dalam ayat-ayat sebelumnya, sekaligus dengan penolakan terhadap kebenaran tersebut oleh mereka yang “terbiasa mengikuti hawa nafsu mereka sendiri [saja]” {ahwaahum, desjres}.


Surah Al-Qamar Ayat 4

وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنَ الْأَنْبَاءِ مَا فِيهِ مُزْدَجَرٌ

wa laqad jā`ahum minal-ambā`i mā fīhi muzdajar

4. Dan sesungguhnya, telah datang kepada mereka banyak berita yang seharusnya dapat menahan [keangkuhan mereka]:4


4 Lit., “yang di dalamnya ada penghalang”: yakni, ada banyak isyarat, dalam alam yang dapat diobservasi ini, yang menunjukkan adanya kekuasaan mencipta dan mencipta-ulang yang dimiliki Tuhan, sebagaimana ada banyak pula berita, yang disampaikan melalui nabi-nabi yang mendapat wahyu dari Allah, yang memberi tahu manusia tentang akan berlanjutnya kehidupan setelah kematian jasmani dan, oleh karena itu, tentang kenyataan bahwa sikap dan perbuatan seseorang di dunia ini pasti akan membawa konsekuensi-konsekuensi tertentu dalam kehidupan akhirat yang akan datang.


Surah Al-Qamar Ayat 5

حِكْمَةٌ بَالِغَةٌ ۖ فَمَا تُغْنِ النُّذُرُ

ḥikmatum bāligatun fa mā tugnin-nużur

5. hikmah yang amat luas [telah disampaikan kepada mereka]: tetapi [karena] semua peringatan tidak berguna,


Surah Al-Qamar Ayat 6

فَتَوَلَّ عَنْهُمْ ۘ يَوْمَ يَدْعُ الدَّاعِ إِلَىٰ شَيْءٍ نُكُرٍ

fa tawalla ‘an-hum, yauma yad’ud-dā’i ilā syai`in nukur

6. berpalinglah engkau dari mereka.

Pada Hari ketika Suara yang Menyeru akan menyeru [manusia] kepada sesuatu yang tidak dapat dipahami,5


5 Lit. “sesuatu yang tidak diketahui (nukur)”—yaitu, “sesuatu yang tidak dapat diketahui manusia (yakni, melalui penglihatannya) karena mereka tidak pernah menemukan hal yang seperti itu” (Al-Zamakhsyari).


Surah Al-Qamar Ayat 7

خُشَّعًا أَبْصَارُهُمْ يَخْرُجُونَ مِنَ الْأَجْدَاثِ كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُنْتَشِرٌ

khusysya’an abṣāruhum yakhrujụna minal-ajdāṡi ka`annahum jarādum muntasyir

7. mereka akan keluar dari kubur-kubur mereka dengan pandangan yang tertunduk sedih, [berterbangan] seperti belalang yang ditiup [angin],


Surah Al-Qamar Ayat 8

مُهْطِعِينَ إِلَى الدَّاعِ ۖ يَقُولُ الْكَافِرُونَ هَٰذَا يَوْمٌ عَسِرٌ

muhṭi’īna ilad-dā’, yaqụlul-kāfirụna hāżā yaumun ‘asir

8. berlarian kebingungan menuju Suara yang Menyeru itu; [dan] orang-orang yang [kini] mengingkari kebenaran akan berseru, “Ini adalah hari malapetaka!”


Surah Al-Qamar Ayat 9

كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا وَقَالُوا مَجْنُونٌ وَازْدُجِرَ

każżabat qablahum qaumu nụḥin fa każżabụ ‘abdanā wa qālụ majnụnuw wazdujir

9. [LAMA] SEBELUM mereka [yang kini mengingkari kebangkitan itu], kaum Nuh juga mendustakannya: dan mereka mendustakan hamba Kami dan berkata, “Orang gila dia!”—dan dia dihalau.6


6 Lihat Surah Hud [11]: 25-48, yang menceritakan kisah Nabi Nuh a.s. dan bencana air bah secara lebih terperinci.


Surah Al-Qamar Ayat 10

فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ

fa da’ā rabbahū annī maglụbun fantaṣir

10. Kemudian dia menyeru Pemeliharanya, “Sungguh, aku telah dikalahkan; maka, tolonglah aku!”


Surah Al-Qamar Ayat 11

فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ

fa fataḥnā abwābas-samā`i bimā`im mun-hamir

11. Maka, Kami bukakan pintu-pintu langit dengan air yang tercurah amat deras,


Surah Al-Qamar Ayat 12

وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ

wa fajjarnal-arḍa ‘uyụnan faltaqal-mā`u ‘alā amring qad qudir

12. dan menyebabkan bumi memancarkan sejumlah mata air, sehingga bertemulah air-air itu untuk tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya:


Surah Al-Qamar Ayat 13

وَحَمَلْنَاهُ عَلَىٰ ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ

wa ḥamalnāhu ‘alā żāti alwāḥiw wa dusur

13. tetapi dia Kami bawa di atas [bahtera] itu yang terbuat dari [sekadar] papan dan paku,


Surah Al-Qamar Ayat 14

تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا جَزَاءً لِمَنْ كَانَ كُفِرَ

tajrī bi`a’yuninā, jazā`al limang kāna kufir

14. dan ia berlayar di bawah pengawasan Kami:7 sebagai imbalan bagi dia, yang selama ini telah ditolak dengan sikap tiada bersyukur.


7 {under Our eyes: bia’yunina: “dengan mata Kami”—peny.}. Yakni, “di bawah perlindungan Kami”. Rujukan terhadap bahtera Nabi Nuh a.s. yang dinyatakan sebagai “terbuat dari [sekadar] papan dan paku” ini dimaksudkan untuk menekankan rapuhnya bahtera ini—sebagaimana rapuhnya semua hasil upaya manusia lainnya.


Surah Al-Qamar Ayat 15

وَلَقَدْ تَرَكْنَاهَا آيَةً فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

wa laqat taraknāhā āyatan fa hal mim muddakir

15. Dan sesungguhnya, telah Kami jadikan [bahtera yang mengambang] itu senantiasa menjadi tanda abadi [yang menunjukkan rahmat Kami terhadap manusia]:8 maka, siapakah yang ingin merenungkannya?9


8 Lihat Surah YaSin [36]: 41-42 dan catatan no. 22 dan 23 yang terkait. Secara harfiah, frasa di atas berbunyi demikian, “Kami telah meninggalkan mereka [atau ‘yang demikian’] sebagai sebuah tanda …” dst. Menurut Ibn Katsir, kata ganti ha dalam taraknaha mengacu kepada “perahu pada umumnya” (jins al-sufun) dan beliau mengutip pasase yang disebut di atas (Surah YaSin [36]: 41-42) sehubungan dengan hal ini; demikianlah alasan saya menyisipkan kata “bahtera yang mengambang”. “Tanda” yang dibicarakan di sini berkenaan dengan tindakan Allah yang telah menganugerahkan daya inovasi ke dalam pikiran manusia dan, dengan demikian, memberikan kemampuan untuk memperlebar cakupan hidupnya melalui upaya-upaya sadar.

9 Lit., “Dan adakah yang mau …” dst. Kalimat di atas diulang-ulang beberapa kali dalam surah ini seperti sebuah refrein.


Surah Al-Qamar Ayat 16

فَكَيْفَ كَانَ عَذَابِي وَنُذُرِ

fa kaifa kāna ‘ażābī wa nużur

16. Dan, betapa dahsyatnya derita yang Aku timpakan manakala peringatan-peringatan-Ku diabaikan!10


10 Lit., “betapakah penderitaan [yang disebabkan oleh]-Ku (‘adzabi) dan peringatan-peringatan-Ku”—yakni, penderitaan yang dirasakan setelah peringatan-peringatan tersebut. Walaupun kalimat ini dinyatakan dalam bentuk waktu lampau, maksud yang dikandungnya jelas-jelas bersifat abadi.


Surah Al-Qamar Ayat 17

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

wa laqad yassarnal-qur`āna liż-żikri fa hal mim muddakir

17. Karena itu, sungguh, telah Kami mudahkan Al-Quran ini untuk dipahami dan diingat:11 maka, siapakah yang ingin merenungkannya?


11 Nomina dzikr utamanya berarti “pengingatan”, atau—seperti didefinisikan oleh Raghib—” kehadiran [sesuatu] dalam pikiran”. Secara konseptual, dan sebagaimana yang digunakan dalam konteks di atas serta dalam ayat 22, 32, dan 40, kata ini mencakup dua gagasan kembar, yaitu pemahaman dan pengingatan, yakni menyimpan sesuatu dalam pikiran.


Surah Al-Qamar Ayat 18

كَذَّبَتْ عَادٌ فَكَيْفَ كَانَ عَذَابِي وَنُذُرِ

każżabat ‘ādun fa kaifa kāna ‘ażābī wa nużur

18. [KAUM] ‘AD mendustakan kebenaran: dan betapa dahsyatnya derita yang Aku timpakan manakala peringatan-peringatan-Ku diabaikan!


Surah Al-Qamar Ayat 19

إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا فِي يَوْمِ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ

innā arsalnā ‘alaihim rīḥan ṣarṣaran fī yaumi naḥsim mustamirr

19. Perhatikanlah, Kami telah mengirimkan kepada mereka angin ribut yang mengamuk pada hari yang amat nahas:


Surah Al-Qamar Ayat 20

تَنْزِعُ النَّاسَ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ مُنْقَعِرٍ

tanzi’un-nāsa ka`annahum a’jāzu nakhlim mungqa’ir

20. yang menyapu manusia seakan-akan mereka seperti batang-batang pohon kurma yang tumbang:12


12 Sebagaimana yang disebutkan dalam Surah Al-Haqqah [69]: 6-8, angin ini—yang jelas-jelas merupakan badai pasir yang luar biasa dahsyatnya—mengamuk terus-menerus tanpa henti selama tujuh malam dan delapan hari. Untuk keterangan lebih terperinci mengenai suku ‘Ad, Iihat bagian kedua dari catatan no. 48 dalam Surah Al-A’raf [7]: 65.


Surah Al-Qamar Ayat 21

فَكَيْفَ كَانَ عَذَابِي وَنُذُرِ

fa kaifa kāna ‘ażābī wa nużur

21. sebab, betapa dahsyatnya derita yang Aku timpakan manakala peringatan-peringatan-Ku diabaikan!


Surah Al-Qamar Ayat 22

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

wa laqad yassarnal-qur`āna liż-żikri fa hal mim muddakir

22. Karena itu, sungguh, telah Kami mudahkan Al-Quran ini untuk dipahami dan diingat: maka, siapakah yang ingin merenungkannya?


Surah Al-Qamar Ayat 23

كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِالنُّذُرِ

każżabaṡ ṡamụdu bin-nużur

23. [DAN, kaum] Tsamud telah mendustakan semua peringatan [Kami];


Surah Al-Qamar Ayat 24

فَقَالُوا أَبَشَرًا مِنَّا وَاحِدًا نَتَّبِعُهُ إِنَّا إِذًا لَفِي ضَلَالٍ وَسُعُرٍ

fa qālū abasyaram minnā wāḥidan nattabi’uhū innā iżal lafī ḍalāliw wa su’ur

24. dan mereka berkata, “Akankah kita mengikuti seorang manusia biasa dari antara kita?13 Jika demikian halnya, perhatikanlah, kita pasti akan tenggelam dalam kesesatan dan kebodohan!


13 Mengenai implikasi umum dari pertanyaan retoris ini, lihat catatan no. 2 dalam Surah Qaf [50]: 2. Mengenai kisah suku Tsamud dan nabi mereka, Shaleh, serta peristiwa unta betina, lihat Surah Al-A’raf [7]: 73-79, Hud [11]: 61-68, Asy-Syu’ara’ [26]: 141-158, dan catatan -catatannya yang terkait.


Surah Al-Qamar Ayat 25

أَأُلْقِيَ الذِّكْرُ عَلَيْهِ مِنْ بَيْنِنَا بَلْ هُوَ كَذَّابٌ أَشِرٌ

a ulqiyaż-żikru ‘alaihi mim baininā bal huwa każżābun asyir

25. Mengapa—suatu peringatan [Ilahi] diturunkan kepada dia saja di antara kita? Tidak, dia adalah seorang pendusta yang besar mulut!”


Surah Al-Qamar Ayat 26

سَيَعْلَمُونَ غَدًا مَنِ الْكَذَّابُ الْأَشِرُ

saya’lamụna gadam manil-każżābul-asyir

26. [Dan, Allah berfirman,] “Esok14 mereka akan mengetahui siapakah sebenarnya pendusta yang besar mulut itu!


14 Yakni, segera. Dalam bahasa Arab klasik, kata ghadan (“besok”) sering kali mengacu kepada masa depan yang relatif dekat, yang bisa berarti “besok” (dalam makna harfiahnya) ataupun “pada saatnya”, atau “segera”. Oleh karena itu—seperti yang dikemukakan oleh semua ahli—penggunaan kata ini dalam konteks di atas boleh jadi merujuk kepada Saat Terakhir, yang dalam ayat pertama surah ini dikatakan “semakin dekat”.


Surah Al-Qamar Ayat 27

إِنَّا مُرْسِلُو النَّاقَةِ فِتْنَةً لَهُمْ فَارْتَقِبْهُمْ وَاصْطَبِرْ

innā mursilun-nāqati fitnatal lahum fartaqib-hum waṣṭabir

27. Perhatikanlah, [wahai Shaleh,] Kami melepaskan unta betina ini sebagai ujian bagi mereka;15 dan tunggu sajalah mereka dan bersabarlah.


15 Untuk keterangan mengenai ayat ini serta ayat lainnya dalam Al-Quran yang mengisahkan unta betina yang “dilepaskan sebagai ujian” bagi kaum Tsamud, lihat Surah Al-A’raf [7], catatan no. 57. Dalam konteks ini, tindakan Allah yang “membiarkannya lepas” tampaknya bersinonim dengan “membiarkan unta betina itu menjadi” ujian.


Surah Al-Qamar Ayat 28

وَنَبِّئْهُمْ أَنَّ الْمَاءَ قِسْمَةٌ بَيْنَهُمْ ۖ كُلُّ شِرْبٍ مُحْتَضَرٌ

wa nabbi`hum annal-mā`a qismatum bainahum, kullu syirbim muḥtaḍar

28. Dan beritahukanlah kepada mereka bahwa air [sumur-sumur] mereka itu hendaknya dibagi di antara mereka16, dengan bagian air yang ditentukan secara adil.


16 Yakni, antara gembalaan mereka sendiri dan un a betina yang tidak dimiliki oleh siapa pun itu: lihat Surah Asy-Syu’ara’ [26]: 155 dan catatan no. 67.


Surah Al-Qamar Ayat 29

فَنَادَوْا صَاحِبَهُمْ فَتَعَاطَىٰ فَعَقَرَ

fa nādau ṣāḥibahum fa ta’āṭā fa ‘aqar

29. Namun, mereka memanggil kawannya [yang paling berani], lalu dia melakukan [perbuatan jahat itu], dan menyembelih [hewan] itu dengan kejam:17


17 Mengenai penerjemahan ‘aqara di atas, Iihat catatan no. 61 dalam Surah Al-A’raf [7]: 77.


Surah Al-Qamar Ayat 30

فَكَيْفَ كَانَ عَذَابِي وَنُذُرِ

fa kaifa kāna ‘ażābī wa nużur

30. dan betapa dahsyatnya derita yang Aku timpakan manakala peringatan-peringatan-Ku diabaikan!


Surah Al-Qamar Ayat 31

إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ صَيْحَةً وَاحِدَةً فَكَانُوا كَهَشِيمِ الْمُحْتَظِرِ

innā arsalnā ‘alaihim ṣaiḥataw wāḥidatan fa kānụ kahasyīmil-muḥtaẓir

31. Perhatikanlah, Kami timpakan kepada mereka satu suara ledakan [hukuman Kami],18 maka mereka menjadi seperti ranting-ranting kering yang berserakan di kandang domba.


18 Lihat catatan no. 98 dalam Surah Hud [11]: 67.


Surah Al-Qamar Ayat 32

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

wa laqad yassarnal-qur`āna liż-żikri fa hal mim muddakir

32. Karena itu, sungguh, telah Kami mudahkan Al-Quran ini untuk dipahami dan diingat: maka, siapakah yang ingin merenungkannya?


Surah Al-Qamar Ayat 33

كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوطٍ بِالنُّذُرِ

każżabat qaumu lụṭim bin-nużur

33. KAUM LUTH [pun] telah mendustakan semua peringatan [Kami]:


Surah Al-Qamar Ayat 34

إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ حَاصِبًا إِلَّا آلَ لُوطٍ ۖ نَجَّيْنَاهُمْ بِسَحَرٍ

innā arsalnā ‘alaihim ḥāṣiban illā āla lụṭ, najjaināhum bisaḥar

34. [maka] perhatikanlah, Kami mengirimkan kepada mereka angin badai yang mematikan;19 dan hanya keluarga Luth yang Kami selamatkan saat fajar menyingsing,


19 Yakni, secara tersirat, “angin badai hukuman”: lihat Surah Hud [11]: 82 dan catatan no. 114.

Kisah Nabi Luth a.s. dan orang-orang senegerinya disebutkan di beberapa tempat dalam Al-Quran, yang paling terperinci dalam Surah Hud [11]: 69-83.


Surah Al-Qamar Ayat 35

نِعْمَةً مِنْ عِنْدِنَا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي مَنْ شَكَرَ

ni’matam min ‘indinā, każālika najzī man syakar

35. sebagai nikmat dari Kami: demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur!


Surah Al-Qamar Ayat 36

وَلَقَدْ أَنْذَرَهُمْ بَطْشَتَنَا فَتَمَارَوْا بِالنُّذُرِ

wa laqad anżarahum baṭsyatanā fa tamārau bin-nużur

36. Karena dia sungguh telah memperingatkan mereka akan dahsyatnya hukuman Kami; tetapi dengan keras kepala, mereka meragukan peringatan-peringatan itu,


Surah Al-Qamar Ayat 37

وَلَقَدْ رَاوَدُوهُ عَنْ ضَيْفِهِ فَطَمَسْنَا أَعْيُنَهُمْ فَذُوقُوا عَذَابِي وَنُذُرِ

wa laqad rāwadụhu ‘an ḍaifihī fa ṭamasnā a’yunahum fa żụqụ ‘ażābī wa nużur

37. dan bahkan memintanya untuk menyerahkan tamu-tamunya [kepada mereka]:20 lalu Kami mencabut penglihatan mereka [lalu berkata kepada mereka, kira-kira demikian]:21 “Maka, rasakanlah derita yang Kutimpakan jika peringatan-peringatan-Ku diabaikan!”


20 Lihat Surah Hud [11]: 77-79 dan catatan-catatannya.

21 Menurut Ibn ‘Abbas (seperti dikutip Al-Razi), ungkapan thams al-‘ain (pencabutan penglihatan) di sini berarti “keterselubungan [sesuatu] dari kesadaran seseorang” (hajb ‘an al-idrak). Oleh karena itu, ungkapan thamasna a’yunahum dapat dipahami dalam pengertian bahwa Allah mencabut semua pandangan moral dari diri mereka sebagai konsekuensi dari kecenderungan-kecenderungan jahat mereka sendiri (bdk. Surah YaSin [36]: 66 dan catatan-catatannya yang terkait), sehingga—sebagaimana yang ditunjukkan oleh lanjutan ayat itu—menjadikan mereka harus menjalani penderitaan yang menyengsarakan di dunia ini dan dalam kehidupan yang akan datang.


Surah Al-Qamar Ayat 38

وَلَقَدْ صَبَّحَهُمْ بُكْرَةً عَذَابٌ مُسْتَقِرٌّ

wa laqad ṣabbaḥahum bukratan ‘ażābum mustaqirr

38. Dan sesungguhnya, penderitaan yang kekal benar-benar menimpa mereka pada keesokan harinya:


Surah Al-Qamar Ayat 39

فَذُوقُوا عَذَابِي وَنُذُرِ

fa żụqụ ‘ażābī wa nużur

39. “Maka, rasakanlah derita yang Aku timpakan manakala peringatan-peringatan-Ku diabaikan!”


Surah Al-Qamar Ayat 40

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

wa laqad yassarnal-qur`āna liż-żikri fa hal mim muddakir

40. Karena itu, sungguh, telah Kami mudahkan Al-Quran ini untuk dipahami dan diingat: maka, siapakah yang ingin merenungkannya?


Surah Al-Qamar Ayat 41

وَلَقَدْ جَاءَ آلَ فِرْعَوْنَ النُّذُرُ

wa laqad jā`a āla fir’aunan-nużur

41. Dan sesungguhnya, telah datang [pula] peringatan-peringatan seperti itu kepada kaum Fir’aun:


Surah Al-Qamar Ayat 42

كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كُلِّهَا فَأَخَذْنَاهُمْ أَخْذَ عَزِيزٍ مُقْتَدِرٍ

każżabụ bi`āyātinā kullihā fa`akhażnāhum akhża ‘azīzim muqtadir

42. mereka pun mendustakan semua pesan-pesan Kami: dan kemudian Kami hukum mereka, sebab hanyalah Yang Mahaperkasa, yang menentukan segala sesuatu, yang dapat menghukum.22


22 Lit, “Kami gengga mmereka dengan genggaman Yang Mahaperkasa …” dst. Disebutkannya “kaum Fir’aun” secara khusus—sekaligus sebagai penutup pasase ini—disebabkan oleh kenyataan bahwa bangsa Mesir adalah bangsa yang paling maju dan kuat pada masa kuno yang dirujuk oleh ayat ini dan ayat-ayat sebelumnya.


Surah Al-Qamar Ayat 43

أَكُفَّارُكُمْ خَيْرٌ مِنْ أُولَٰئِكُمْ أَمْ لَكُمْ بَرَاءَةٌ فِي الزُّبُرِ

a kuffārukum khairum min ulā`ikum am lakum barā`atun fiz-zubur

43. MAKA, APAKAH orang-orang di antara kalian yang [kini] mengingkari kebenaran itu23 lebih baik daripada yang lainnya itu—ataukah kalian, mungkin, telah [dijanjikan untuk] mempunyai kekebalan dalam kitab-kitab kebijaksanaan [Ilahi zaman dahulu]?24


23 Lit., “para pengingkar kebenaranmu” (kuffarukum).

24 lihat Surah Al-Anbiya’ [21], catatan no. 101.


Surah Al-Qamar Ayat 44

أَمْ يَقُولُونَ نَحْنُ جَمِيعٌ مُنْتَصِرٌ

am yaqụlụna naḥnu jamī’um muntaṣir

44. Ataukah mereka berkata, “Kami adalah golongan yang bersatu [dan oleh karena itu] pasti menang”?25


25 Alur penalaran di balik pemikiran ini dapat dirangkum sebagai berikut: “Kami, yang menolak apa yang disebut-sebut sebagai wahyu Ilahi ini; mewakili pendapat banyak orang; dan, karena pandangan-pandangan kami ini dianut oleh banyak kalangan, pandangan kami ini pasitilah benar dan, karena itu, pada akhirnya pasti akan menang”. Dengan kata lain, orang-orang yang disifati sebagai “para penolak kebenaran” itu merasa pasti mengenai kebenaran pandangan mereka semata-mata karena mereka merepresentasikan “pendapat mayoritas”—ini merupakan khayalan yang memperdaya diri, yang didasari oleh pandangan hidup materialistik murni.


Surah Al-Qamar Ayat 45

سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّونَ الدُّبُرَ

sayuhzamul-jam’u wa yuwallụnad-dubur

45. Namun,] pasukan besar [orang-orang yang mengingkari kebenaran] itu akan dikalahkan, dan mereka akan berbalik mundur [melarikan diri],26


26 Kenyataan bahwa Nabi Saw. membacakan ayat ini beberapa saat sebelum Perang Badar (lihat catatan no. 10 dalam Surah Al-Anfal [8]: 10) menyebabkan sebagian besar mufasir berpendapat bahwa ayat ini diwahyukan sebagai nubuat yang spesifik mengenai kemenangan kaum Muslim terhadap kaum pagan Quraisy. Meski hal ini mungkin, menurut saya, makna ayat di atas jauh lebih luas dan abadi sebagaimana yang sudah dijelaskan dalam catatan sebelumnya. Pendapat ini diperkuat oleh ayat-ayat berikutnya, yang berbicara mengenai akibat-akibat buruk yang akan menimpa di akhirat sebagai konsekuensi dari dosa yang dilakukan secara sengaja, terlepas dari keterpurukan dalam bidang moral dan sosial, di dunia ini, yang menimpa masyarakat yang berbuat dosa itu secara keseluruhan.


Surah Al-Qamar Ayat 46

بَلِ السَّاعَةُ مَوْعِدُهُمْ وَالسَّاعَةُ أَدْهَىٰ وَأَمَرُّ

balis-sā’atu mau’iduhum was-sā’atu ad-hā wa amarr

46. Namun tidak—Saat Terakhir itulah waktu ketika mereka benar-benar akan menemui nasib mereka;27 dan Saat Terakhir itu akan menjadi petaka, dan lebih pahit:


27 Lit., “waktu yang telah ditetapkan atas mereka” (mau’iduhum).


Surah Al-Qamar Ayat 47

إِنَّ الْمُجْرِمِينَ فِي ضَلَالٍ وَسُعُرٍ

innal-mujrimīna fī ḍalāliw wa su’ur

47. sebab, perhatikanlah, orang-orang yang tenggelam dalam dosa itu [pada saat itu akan mengetahui bahwa merekalah yang] tenggelam dalam kesesatan dan kebodohan!28


28 Lihat ayat 24.


Surah Al-Qamar Ayat 48

يَوْمَ يُسْحَبُونَ فِي النَّارِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمْ ذُوقُوا مَسَّ سَقَرَ

yauma yus-ḥabụna fin-nāri ‘alā wujụhihim, żụqụ massa saqar

48. Pada Hari ketika mereka akan diseret ke dalam neraka pada wajah-wajah mereka,29 [akan dikatakan kepada mereka:] “Rasakanlah kini sentuhan api neraka!”


29 Lihat catatan no. 83 dalam Surah Al-Ahzab [33]: 66 juga catatan no. 30 dalam Surah Al-Furqan [25]: 34.


Surah Al-Qamar Ayat 49

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

innā kulla syai`in khalaqnāhu biqadar

49. PERHATIKANLAH, segala sesuatu telah Kami ciptakan menurut ukuran dan proporsi yang seharusnya;


Surah Al-Qamar Ayat 50

وَمَا أَمْرُنَا إِلَّا وَاحِدَةٌ كَلَمْحٍ بِالْبَصَرِ

wa mā amrunā illā wāḥidatung kalam-ḥim bil-baṣar

50. dan perintah Kami [terhadap sesuatu dan terjadinya sesuatu itu] hanyalah satu [tindakan], bagaikan sekejap mata.30


30 Yakni, tidak ada selang waktu dan tidak ada perbedaan konseptual antara “ketika Allah berkehendak menciptakan sesuatu” dan “ketika Dia menciptakan sesuatu itu”, karena “tatkala Dia menetapkan untuk menjadikan sesuatu, Dia hanya mengatakan kepadanya, ‘Jadilah’—maka terjadilah ia!” (Surah Al-Baqarah [2]: 117, Al-‘Imran [3]: 47, An-Nahl [16]: 40, Maryam [19]: 35, YaSin [36]: 82, dan Ghafir [40]: 68). Permisalan “sekejap mata” tentunya bersifat idiomatik murni, yakni didasari oleh konsep manusia tentang sesuatu yang terjadi secara instan. Dalam konteks ayat ini—sebagaimana yang ditunjukkan oleh lanjutan ayat di atas—hal ini mengacu kepada betapa cepatnya Allah dapat menghancurkan masyarakat yang bergelimang dosa, jika Allah menghendakinya.


Surah Al-Qamar Ayat 51

وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا أَشْيَاعَكُمْ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

wa laqad ahlaknā asy-yā’akum fa hal mim muddakir

51. Demikianlah, sesungguhnya telah Kami binasakan orang-orang yang serupa dengan kalian [pada masa lalu]: maka, siapakah yang mau merenungkannya?


Surah Al-Qamar Ayat 52

وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ

wa kullu syai`in fa’alụhu fiz-zubur

52. [Mereka benar-benar bersalah] karena semua [kejahatan] yang mereka perbuat telah [diungkapkan kepada mereka sedemikian rupa] dalm kitab-kitab kebijaksanaan [Ilahi zaman dahulu];31


31 Yakni, kitab-kitab suci pada masa-masa silam (al-zubur) telah menjadikan pengertian baik dan buruk benar-benar jelas bagi mereka, akan tetapi mereka dengan sengaja mengabaikan dan bahkan secara sadar menolak ajaran-ajaran tersebut. Ayat di atas menunjukkan bahwa, pertama, ajaran-ajaran etis dasar dari semua agama wahyu secara esensial sama; dan kedua, Allah “tidak akan pernah membinasakan suatu masyarakat karena kezalimannya, selama penduduknya masih belum menyadari [makna benar dan salah]” (Iihat Surah Al-An’am [6]: 131-132, Al-Hijr [15]: 4, Asy-Syu’ara’ [26]: 208-209, dan catatan-catatannya yang terkait).


Surah Al-Qamar Ayat 53

وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُسْتَطَرٌ

wa kullu ṣagīriw wa kabīrim mustaṭar

53. dan segala sesuatu [yang dilakukan manusia], baik yang kecil maupun yang besar, ditulis [di sisi Allah].


Surah Al-Qamar Ayat 54

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ

innal-muttaqīna fī jannātiw wa nahar

54. [Karena itu,] perhatikanlah, orang-orang yang sadar akan Allah akan mendapati mereka di dalam [surga yang berisi] taman-taman dan aliran sungai-sungai,


Surah Al-Qamar Ayat 55

فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ

fī maq’adi ṣidqin ‘inda malīkim muqtadir

55. dalam kedudukan yang benar, pada hadirat Sang Maha Berdaulat, yang menentukan segala sesuatu ….


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top