68. Al-Qalam (Pena) – القلم

Surat Al-Qalam dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Qalam ( القلم ) merupakan surat ke 68 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 52 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Al-Qalam tergolong Surat Makkiyah.

Menurut kronologi turunnya wahyu, surah ini kemungkinan besar menduduki tempat ketiga. Beberapa ahli—di antaranya Al-Suyuthi—cenderung berpendapat bahwa surah ini diwahyukan segera setelah lima ayat pertama Surah Al-‘Alaq [96]; namun, pendapat ini bertentangan dengan beberapa hadis yang sangat sahih, yang menyatakan bahwa sebagian besar ayat dalam Surah Al-Muddatstsir [74]-lah yang menempati urutan kedua dalam kronologi pewahyuan (lihat catatan pendahuluan pada surah tersebut). Bagaimanapun, Surah Al-Qalam ini tidak syak lagi merupakan salah satu bagian Al-Quran yang paling awal diturunkan.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Qalam Ayat 1

ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ

nūn, wal-qalami wa mā yasṭurụn

1. Nun.1

PERHATIKANLAH pena, dan segala yang mereka tulis [dengannya]!2


1 Secara kronologis, ini merupakan kemunculan pertama dari huruf-huruf “terpisah” (yakni, huruf-huruf tunggal, almuqaththa’at) yang mendahului sejumlah surah Al-Quran. Mengenai berbagai teori yang berkaitan dengan huruf-huruf ini, lihat artikel Al-Muqatta’at (Huruf-Huruf Terpisah) dalam Al-Qur’an. Dugaan beberapa mufasir awal (yang banyak dikutip oleh Al-Thabari) bahwa huruf n (yang dilafalkan nun) di sini merupakan singkatan dari nomina nun (yang cara pelafalannya persis sama) yang berarti “ikan besar” dan “tempat tinta” dengan tegas ditolak oleh beberapa ahli terkemuka (semisal, Al-Zamakhsyari dan Al-Razi) berdasarkan alasan-alasan gramatika.

2 Tentang makna huruf qasam (adjurative particle, sumpah) wa di awal kalimat ini, lihat bagian pertama dari catatan no. 23 pada Surah Al-Muddatstsir [74}: 32. Penyebutan “pena” dimaksudkan untuk mengingatkan wahyu Al-Quran yang paling awal diturunkan, yakni lima ayat pertama Surah Al-‘Alaq [96], dan dengan demikian menegaskan fakta kenabian Muhammad. Mengenai makna simbolik dari konsep “pena”, lihat Surah Al-‘Alaq [96]: 3-5 dan catatan no. 3 yang terkait.


Surah Al-Qalam Ayat 2

مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ

mā anta bini’mati rabbika bimajnụn

2. Berkat nikmat Pemeliharamu, engkau sama sekali bukanlah orang gila!3


3 Ini mengacu pada ejekan yang dilontarkan oleh sebagian besar orang yang sezaman dengan Nabi Muhammad Saw. saat menyambut permulaan dakwahnya, dan ejekan inilah yang mereka lancarkan terus kepada beliau selama bertahun-tahun. Dalam pengertiannya yang lebih luas, pasase tersebut berkaitan tidak hanya dengan Nabi—sebagaimana sering terjadi dalam Al-Quran—tetapi juga dengan semua orang yang telah mengikuti atau akan mengikutinya: khusus dalam ayat ini, ia berkaitan dengan semua orang yang menjadikan iman kepada Tuhan dan kepada kehidupan sesudah mati sebagai dasar penilaian moralnya.


Surah Al-Qalam Ayat 3

وَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ

wa inna laka la`ajran gaira mamnụn

3. Dan, sungguh, bagimulah pahala yang tiada pernah berakhir—


Surah Al-Qalam Ayat 4

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

wa innaka la’alā khuluqin ‘aẓīm

4. sebab, perhatikanlah, engkau sungguh mengikuti jalan hidup yang luhur;4


4 Istilah khuluq, yang saya terjemahkan menjadi “jalan hidup”, menggambarkan “karakter”, “watak bawaan”, atau “sifat dasar” seseorang menurut pengertiannya yang terluas, serta “perilaku yang sudah merupakan kebiasaan” yang menjadi, demikian kira-kira, “second nature” seseorang (Taj Al-‘Arus). Penyamaan khuluq dengan “jalan hidup” yang saya lakukan didasarkan pada penjelasan terhadap ayat di atas oleh ‘Abd Allah ibn ‘Abbas (seperti dikutip Al-Thabari), yang menyatakan bahwa di sini istilah tersebut merupakan sinonim dari kata din: dan kita harus ingat bahwa salah satu makna dasar dari kata din adalah “jalan [atau ‘cara’] bertingkah laku” atau “bertindak” (Qamus). Lebih jauh, kita menemukan beberapa hadis sahih yang menyatakan bahwa istri Nabi, yakni ‘Aisyah, yang bercerita tentang Nabi beberapa tahun setelah beliau wafat, berulang-ulang menekankan bahwa “jalan hidup (khuluq) Nabi adalah Al-Quran” (Muslim, Al-Thabari, dan Hakim, berdasarkan riwayat Sa’id ibn Hisyam; Ibn Hanbal, Abu Dawud, dan Al-Nasa’i, berdasarkan riwayat Al-Hasan Al-Bashri; Al-Thabari, berdasarkan riwayat Qatadah dan Jubair ibn Nufail; dan sejumlah kumpulan hadis lainnya).


Surah Al-Qalam Ayat 5

فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُونَ

fa satubṣiru wa yubṣirụn

5. dan [suatu hari] engkau akan melihat, dan mereka [yang sekarang mengejekmu] akan melihat,


Surah Al-Qalam Ayat 6

بِأَيْيِكُمُ الْمَفْتُونُ

bi`ayyikumul-maftụn

6. siapa di antara kalian yang hilang akal.


Surah Al-Qalam Ayat 7

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

inna rabbaka huwa a’lamu biman ḍalla ‘an sabīlihī wa huwa a’lamu bil-muhtadīn

7. Sungguh, Pemeliharamu sajalah yang benar-benar mengetahui tentang siapa yang telah menyimpang dari jalan-Nya, sebagaimana Dia sajalah yang sepenuhnya mengetahui tentang orang-orang yang menemukan jalan yang lurus.


Surah Al-Qalam Ayat 8

فَلَا تُطِعِ الْمُكَذِّبِينَ

fa lā tuṭi’il-mukażżibīn

8. Karena itu, janganlah engkau tunduk kepada [selera] orang-orang yang mendustakan kebenaran:


Surah Al-Qalam Ayat 9

وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ

waddụ lau tud-hinu fa yud-hinụn

9. mereka menginginkanmu bersikap lunak [terhadap mereka], agar mereka dapat bersikap lunak [terhadapmu].5


5 Yakni, “mereka menginginkanmu agar bersikap kompromis sehubungan dengan prinsip-prinsip etika dan nilai-nilai moral, sehingga mereka kemudian akan membalas dengan sikap yang sama dan berhenti memusuhimu secara aktif”.


Surah Al-Qalam Ayat 10

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ

wa lā tuṭi’ kulla ḥallāfim mahīn

10. Selanjutnya,6 janganlah engkau tunduk kepada orang hina yang mengucapkan sumpah-sumpah,


6 Lit., “Dan”. Jenis-jenis penyakit moral yang diuraikan selanjutnya sudah barang tentu hanya disebutkan sebagai contoh dari tipe-tipe manusia yang seleranya (kesukaan atau kebenciannya) sama sekali tidak perlu dipertimbangkan.


Surah Al-Qalam Ayat 11

هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ

hammāzim masysyā`im binamīm

11. [atau kepada] pemfitnah yang menyebar-nyebarkan cerita-cerita fitnah,


Surah Al-Qalam Ayat 12

مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ

mannā’il lil-khairi mu’tadin aṡīm

12. [atau] orang yang menghalangi kebaikan, [atau] para pelanggar batas yang penuh dosa.


Surah Al-Qalam Ayat 13

عُتُلٍّ بَعْدَ ذَٰلِكَ زَنِيمٍ

‘utullim ba’da żālika zanīm

13. [atau] orang yang kejam, karena dirasuki ketamakan7 dan, di samping itu semua, benar-benar tidak berguna [bagi sesama manusia].8


7 Kata ‘utul—yang berasal dari verba ‘atala, “dia menarik [seseorang atau sesuatu] dengan cara yang kasar dan kejam”—digunakan untuk menggambarkan seseorang yang menggabungkan dalam dirinya sifat kejam dan serakah; demikianlah alasan bagi terjemahan yang saya pilih.

8 Para mufasir memberikan penafsiran yang amat beragarn terhadap istilah zanim, yang tampaknya berasal dari nomina zanamah, yakni jenggul kulit berdaging yang menggantung di bawah telinga seekor kambing. Karena jenggul ini tampaknya tidak memiliki fungsi fisiologis apa-apa, istilah zanim lama-kelamaan akhirnya menunjukkan “seseorang [atau ‘sesuatu’] yang tidak dibutuhkan” (Taj Al-‘Arus): dengan kata lain, sia-sia atau tidak berguna. Karena itu, masuk akal jika kita berpendapat bahwa dalam konteks di atas, istilah ini menggambarkan seseorang yang sama sekali tidak berguna dalam masyarakat.


Surah Al-Qalam Ayat 14

أَنْ كَانَ ذَا مَالٍ وَبَنِينَ

ang kāna żā māliw wa banīn

14. Apakah karena dia memiliki harta duniawi dan anak-anak


Surah Al-Qalam Ayat 15

إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

iżā tutlā ‘alaihi āyātunā qāla asāṭīrul-awwalīn

15. sehingga, setiap kali pesan-pesan Kami disampaikan kepadanya, orang yang seperti itu berkata, “Dongeng-dongeng zaman dahulu”?9


9 lstilah banun (lit., “anak-anak” atau “anak-anak laki-laki”) sering digunakan dalam Al-Quran secara metonimia, yang berarti “dukungan khalayak” atau “banyaknya pengikut”; dalam kaitannya dengan istilah mal (“harta benda duniawi”), istilah ini dimaksudkan untuk menggambarkan mentalitas tertentu yang memandang bahwa harta kekayaan dan pengaruh memiliki semacam makna pseudo-religius dan bahwasanya tanda-tanda kesuksesan duniawi yang nyata merupakan bukti post-factum bagi “kesalehan” orang yang bersangkutan dan, karenanya, menunjukkan bahwa dia tidak lagi membutuhkan petunjuk.


Surah Al-Qalam Ayat 16

سَنَسِمُهُ عَلَى الْخُرْطُومِ

sanasimuhụ ‘alal-khurṭụm

16. [Karena itulah,] Kami akan memberinya tanda dengan kehinaan yang tidak terhapuskan!10


10 Lit., “Kami akan rnemberinya tanda pada moncongnya (khurthum)”. Semua mufasir menunjukkan bahwa ungkapan idiomatik ini memiliki makna metafora yang tegas, yaitu, “Kami akan memberinya stigma kehinaan yang tidak terhapuskan” (bdk. Lane II, 724, yang mengutip Raghib dan Taj Al-‘Arus).


Surah Al-Qalam Ayat 17

إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ

innā balaunāhum kamā balaunā aṣ-ḥābal-jannah, iż aqsamụ layaṣrimunnahā muṣbiḥīn

17. Perhatikanlah, [adapun para pendosa semacam itu,] Kami [hanyalah] menguji mereka11 sebagaimana Kami menguji para pemilik kebun tertentu yang bersumpah bahwa mereka pasti akan memetik buahnya pada esok hari,


11 Yakni, dengan memberikan kepada mereka kemakmuran yang sama sekali tidak sepadan dengan moral mereka yang buruk.


Surah Al-Qalam Ayat 18

وَلَا يَسْتَثْنُونَ

wa lā yastaṡnụn

18. dan tidak memberi ruang [bagi kehendak Allah]:12


12 Yakni, mereka sepenuhnya yakin dapat meraih tujuan mereka tanpa persyaratan “jika Allah menghendaki”: menunjuk pada pelajaran pertama yang hendaknya dipetik dari tamsil ini, serta pada keterkaitannya dengan pertanyaan retoris dalam ayat 14-15 sebelumnya.


Surah Al-Qalam Ayat 19

فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِنْ رَبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَ

fa ṭāfa ‘alaihā ṭā`ifum mir rabbika wa hum nā`imụn

19. kemudian hukuman dari Pemeliharamu menimpa [kebun] itu ketika mereka sedang lelap tidur,


Surah Al-Qalam Ayat 20

فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ

fa aṣbaḥat kaṣ-ṣarīm

20. sehingga pada keesokan harinya kebun itu menjadi tandus dan suram.


Surah Al-Qalam Ayat 21

فَتَنَادَوْا مُصْبِحِينَ

fa tanādau muṣbiḥīn

21. Maka, tatkala mereka bangun pada pagi hari, mereka menyeru satu sama lain,


Surah Al-Qalam Ayat 22

أَنِ اغْدُوا عَلَىٰ حَرْثِكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَارِمِينَ

anigdụ ‘alā ḥarṡikum ing kuntum ṣārimīn

22. “Pergilah segera ke kebun kalian jika ingin memanen buahnya!”


Surah Al-Qalam Ayat 23

فَانْطَلَقُوا وَهُمْ يَتَخَافَتُونَ

fanṭalaqụ wa hum yatakhāfatụn

23. Maka, mereka pun meluncur, sambil berbisik-bisik satu sama lain,


Surah Al-Qalam Ayat 24

أَنْ لَا يَدْخُلَنَّهَا الْيَوْمَ عَلَيْكُمْ مِسْكِينٌ

al lā yadkhulannahal-yauma ‘alaikum miskīn

24. Sungguh, tidak seorang miskin pun boleh masuk ke dalamnya hari ini [dan datang] kepada kalian [tanpa diduga-duga]!”13


13 Semenjak masa Bibel pun telah dipahami bahwa orang miskin memiliki hak atas sebagian dari hasil panen yang dihasilkan ladang dan kebun yang dimiliki saudara mereka yang lebih beruntung (bdk. Surah Al-An’am [6]: 141—”berikanlah [kepada yang miskin] hak mereka pada waktu panen”). Keputusan “para pemilik kebun” untuk mencabut hak orang-orang miskin ini adalah jenis dosa kedua yang ditunjukkan oleh tamsil di atas: dan karena ini merupakan dosa sosial, ia berkaitan dengan ayat 10-13.


Surah Al-Qalam Ayat 25

وَغَدَوْا عَلَىٰ حَرْدٍ قَادِرِينَ

wa gadau ‘alā ḥarding qādirīn

25. —dan pagi-pagi sekali mereka pergi, dengan bertekad bulat pada tujuannya.


Surah Al-Qalam Ayat 26

فَلَمَّا رَأَوْهَا قَالُوا إِنَّا لَضَالُّونَ

fa lammā ra`auhā qālū innā laḍāllụn

26. Akan tetapi, segera setelah mereka melihat [kebun itu dan tidak dapat mengenali]-nya, mereka berseru, “Sungguh, kita telah kehilangan jalan!”


Surah Al-Qalam Ayat 27

بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَ

bal naḥnu maḥrụmụn

27. —[dan kemudian,] “Tidak, tetapi kita telah menjadi melarat!”


Surah Al-Qalam Ayat 28

قَالَ أَوْسَطُهُمْ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ لَوْلَا تُسَبِّحُونَ

qāla ausaṭuhum a lam aqul lakum lau lā tusabbiḥụn

28. Berkatalah orang yang berpikiran paling lurus di antara mereka, “Bukankah aku telah mengatakan kepada kalian, ‘Mengapa kalian tidak memuji kemuliaan Allah yang tidak terhingga?’”14


14 Ini jelas-jelas merujuk pada kegagalan mereka untuk menyadari bahwa tidak ada satu pun dapat terjadi jika Yang Mahakuasa tidak menghendakinya (ayat 18).


Surah Al-Qalam Ayat 29

قَالُوا سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ

qālụ sub-ḥāna rabbinā innā kunnā ẓālimīn

29. Mereka menjawab, “Maha Tak Terhingga Kemuliaan Pemelihara kami! Sungguh, kami melakukan kezaliman!”


Surah Al-Qalam Ayat 30

فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَلَاوَمُونَ

fa aqbala ba’ḍuhum ‘alā ba’ḍiy yatalāwamụn

30. —dan kemudian mereka berhadap-hadapan seraya saling mencela.


Surah Al-Qalam Ayat 31

قَالُوا يَا وَيْلَنَا إِنَّا كُنَّا طَاغِينَ

qālụ yā wailanā innā kunnā ṭāgīn

31. [Akhirnya] mereka berkata, “Duhai, celakalah kita! Sungguh, kita benar-benar telah bertindak keterlaluan!


Surah Al-Qalam Ayat 32

عَسَىٰ رَبُّنَا أَنْ يُبْدِلَنَا خَيْرًا مِنْهَا إِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا رَاغِبُونَ

‘asā rabbunā ay yubdilanā khairam min-hā innā ilā rabbinā rāgibụn

32. [Akan tetapi,] mudah-mudahan Pemelihara kita akan memberikan kepada kita sesuatu yang lebih baik sebagai gantinya:15 sebab, sungguh, kepada Pemelihara kitalah, kita berpaling dengan penuh harap!”


15 Yakni, ampunan-Nya.


Surah Al-Qalam Ayat 33

كَذَٰلِكَ الْعَذَابُ ۖ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

każālikal-‘ażāb, wa la’ażābul-ākhirati akbar, lau kānụ ya’lamụn

33. DEMIKIANLAH penderitaan [yang dengannya Kami uji sebagian manusia di dunia ini];16 akan tetapi, jauh lebih besar penderitaan [yang akan harus dipikul oleh para pendosa] dalam kehidupan akhirat—andaikan saja mereka mengetahuinya!


16 Ini berhubungan dengan anak kalimat pertama ayat 17 sebelumnya yang, pada gilirannya, mengacu pada mentalitas yang dibicarakan dalam ayat 14-15.


Surah Al-Qalam Ayat 34

إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ

inna lil-muttaqīna ‘inda rabbihim jannātin na’īm

34. Karena, perhatikanlah, [hanya] orang-orang yang sadar akan Allah yang dinanti oleh taman-taman kebahagiaan di sisi Pemelihara mereka:


Surah Al-Qalam Ayat 35

أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ

a fa naj’alul-muslimīna kal-mujrimīn

35. atau haruskah Kami, mungkin, memperlakukan orang-orang yang menyerahkan dirinya kepada Kami17 seperti [Kami memperlakukan] orang-orang yang tetap tenggelam dalam dosa?


17 Ini merupakan kemunculan paling awal dari kata muslimun (jamak dari muslim) dalam sejarah pewahyuan Af-Quran. Di sepanjang karya ini, saya menerjemahkan istilah muslim dan islam sesuai dengan makna orisinal keduanya, yakni “orang yang menyerahkan [atau ‘telah menyerahkan’] dirinya kepada Allah” dan “penyerahan-diri manusia kepada Allah”; hal yang sama juga berlaku bagi semua bentuk verbal dari kata aslama yang terdapat dalam Al-Quran. Hendaknya diingat bahwa penggunaan “yang sudah terlembagakan” dari kedua istilah ini—yakni, penerapan kedua istilah itu hanya kepada para pengikut Nabi Muhammad—jelas-jelas merupakan perkembangan yang terjadi setelah masa pewahyuan Al-Quran dan, karenanya, harus dihindari dalam penerjemahan Al-Quran.


Surah Al-Qalam Ayat 36

مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

mā lakum, kaifa taḥkumụn

36. Ada apa gerangan dengan kalian?18 Atas dasar apakah kalian menetapkan [yang benar dan yang salah]?


18 Yakni, secara tersirat, “Wahai kalian, para pendosa”.


Surah Al-Qalam Ayat 37

أَمْ لَكُمْ كِتَابٌ فِيهِ تَدْرُسُونَ

am lakum kitābun fīhi tadrusụn

37. Ataukah kalian, mungkin, memiliki sebuah kitab Ilahi [khusus] yang kalian kaji,


Surah Al-Qalam Ayat 38

إِنَّ لَكُمْ فِيهِ لَمَا تَخَيَّرُونَ

inna lakum fīhi lamā takhayyarụn

38. dan yang di dalamnya kalian menemukan segala yang ingin kalian temukan?19


19 Lit., “sehingga di dalamnya kalian [dapat] memiliki segala yang kalian pilih [untuk miliki]”—yakni, sebuah pembenaran moral terhadap klaim bahwa apa pun yang dianggap “berguna secara praktis” dengan sendirinya adalah benar.


Surah Al-Qalam Ayat 39

أَمْ لَكُمْ أَيْمَانٌ عَلَيْنَا بَالِغَةٌ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۙ إِنَّ لَكُمْ لَمَا تَحْكُمُونَ

am lakum aimānun ‘alainā bāligatun ilā yaumil-qiyāmati inna lakum lamā taḥkumụn

39. Ataukah kalian telah menerima janji yang sungguh-sungguh, yang mengikat Kami hingga Hari Kebangkitan, bahwa pasti bagi kalianlah apa pun yang kalian tetapkan [sebagai hak kalian yang sah]?


Surah Al-Qalam Ayat 40

سَلْهُمْ أَيُّهُمْ بِذَٰلِكَ زَعِيمٌ

sal-hum ayyuhum biżālika za’īm

40. Tanyakanlah kepada mereka, siapa di antara mereka yang dapat menjamin hal ini!


Surah Al-Qalam Ayat 41

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ فَلْيَأْتُوا بِشُرَكَائِهِمْ إِنْ كَانُوا صَادِقِينَ

am lahum syurakā`, falya`tụ bisyurakā`ihim ing kānụ ṣādiqīn

41. Ataukah mereka, mungkin, memiliki orang suci untuk mendukung pandangan mereka?20

Maka, baiklah, jika mereka sungguh-sungguh dalam pernyataan mereka ini, hendaklah mereka mendatangkan pendukung-pendukung mereka itu


20 Lit., “Ataukah mereka memiliki sekutu?”—yakni, orang-orang bijak (‘uqala’) yang akan mendukung pandangan dan jalan hidup mereka (Al-Zamakhsyari dan Al-Razi). Karena itu, ungkapan syuraka’uhum dalam kalimat berikutnya diterjemahkan menjadi “pendukung-pendukung mereka itu”.


Surah Al-Qalam Ayat 42

يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ

yauma yuksyafu ‘an sāqiw wa yud’auna ilas-sujụdi fa lā yastaṭī’ụn

42. pada Hari tatkala wujud sesungguhnya dari manusia akan disingkapkan hingga ke tulangnya,21 dan tatkala mereka [yang kini mengingkari kebenaran] akan diseru untuk bersujud [di hadapan Allah],22 dan tidak mampu melakukannya:


21 Lit., “ketika [tulang]-kering akan disingkapkan”: yakni, ketika pikiran, perasaan, dan motivasi terdalam manusia akan disingkapkan sejelas-jelasnya. Implikasinya adalah klaim mereka sebelumnya bahwa apa pun yang “berguna” dapat dibenarkan secara moral (lihat catatan no. 19 sebelumnya) akan ditunjukkan secara telanjang—yakni, sebagai sesuatu yang tidak dapat dipertahankan dan secara spiritual merusak.

22 Yakni, dengan tulus dan merendahkan diri di hadapan-Nya dengan senang hati.


Surah Al-Qalam Ayat 43

خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۖ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ

khāsyi’atan abṣāruhum tar-haquhum żillah, wa qad kānụ yud’auna ilas-sujụdi wa hum sālimụn

43. pandangan mereka tertunduk sedih, dengan kenistaan meliputi mereka—mengingat bahwa mereka telah diseru [dengan sia-sia] untuk bersujud [di hadapan-Nya] ketika mereka masih sejahtera [dan hidup].


Surah Al-Qalam Ayat 44

فَذَرْنِي وَمَنْ يُكَذِّبُ بِهَٰذَا الْحَدِيثِ ۖ سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ

fa żarnī wa may yukażżibu bihāżal-ḥadīṡ, sanastadrijuhum min ḥaiṡu lā ya’lamụn

44. Karena itu, biarkanlah Aku sendiri bersama orang-orang yang mendustakan berita ini.23 Akan Kami rendahkan mereka dengan berangsur-angsur, tanpa mereka merasakan bagaimana hal itu terjadi:24


23 Yakni, wahyu Ilahi pada umumnya, dan berita tentang kebangkitan dan pengaditan pada khususnya—implikasinya adatah bahwa hanya Allah sendirilah yang berhak memutuskan apakah akan, atau bagaimana cara, menghukum mereka.

24 Lit., “tanpa mereka mengetahui dari mana [hal itu datang]”. Kalimat di atas, dan juga kalimat berikutnya (ayat 45), dapat ditemukan dalam rumusan yang persis sama pada Surah Al-A’raf [7]: 182-183.


Surah Al-Qalam Ayat 45

وَأُمْلِي لَهُمْ ۚ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ

wa umlī lahum, inna kaidī matīn

45. sebab, perhatikanlah, walaupun boleh jadi Aku memberikan kelonggaran kepada mereka untuk sementara waktu, rencana halus-Ku amat teguh!25


25 Istilah “rencana halus” (kaid) di sini tampaknya menunjukkan rencana tak terduga Allah sehubungan dengan penciptaan. Manusia hanya dapat melihat rencana penciptaan ini sepintas saja dalam penggalan-penggalan yang terpisah, tanpa pernah dapat melihat keseluruhannya: suatu rencana yang di dalamnya segala sesuatu dan semua peristiwa memiliki fungsi yang pasti, dan tidak ada yang bersifat kebetulan. (Dalam kaitan ini, lihat catatan no. 11 dalam Surah Yunus [10]: 5—”Tiada satu pun dari ini yang telah Allah ciptakan tanpa kebenaran [hakiki]”.) Secara tidak langsung, ayat di atas menyinggung pertanyaan mengenai mengapa Allah membiarkan begitu banyak orang jahat menikmati kehidupan mereka sepenuhnya, sedangkan begitu banyak orang saleh dibiarkan menderita: jawabannya adalah bahwa sepanjang hidupnya di dunia ini, manusia tidak dapat benar-benar memahami ke manakah hal-hal yang tampaknya merupakan kebahagiaan dan ketidakbahagiaan itu pada akhirnya akan berujung, dan peran apakah yang mereka mainkan dalam “rencana halus” Allah dalam penciptaan.


Surah Al-Qalam Ayat 46

أَمْ تَسْأَلُهُمْ أَجْرًا فَهُمْ مِنْ مَغْرَمٍ مُثْقَلُونَ

am tas`aluhum ajran fa hum mim magramim muṡqalụn

46. Ataukah [mereka takut kalau-kalau] engkau meminta imbalan kepada mereka, [wahai Nabi,] sehingga mereka akan terbebani utang [jika mereka mendengarkanmu]?


Surah Al-Qalam Ayat 47

أَمْ عِنْدَهُمُ الْغَيْبُ فَهُمْ يَكْتُبُونَ

am ‘indahumul-gaibu fa hum yaktubụn

47. Atau [apakah mereka menyagka] bahwa realitas tersembunyi [tentang segala sesuatu] nyaris berada dalam genggaman mereka, sehingga [pada waktunya] mereka dapat menuliskannya?26


26 Secara tersirat, “dan, karenanya, mereka tidak perlu mendengarkan wahyu Allah”. Menqenai signifikansi sebenarnya dari kata al-ghaib—yang tidak syak lagi muncul untuk pertama kalinya dalam kronologi pewahyuan Al-Quran dalam ayat di atas—lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 3. Penggunaannya dalam konteks di atas dimaksudkan untuk mengurai dan mengembangkan lebih jauh gagasan yang telah disinggung dalam Surah Al-‘Alaq [96]: 6-7—”Tidak, sungguh, manusia menjadi benar-benar melampaui batas manakafa dia menganggap dirinya sendiri serbacukup”. Secara lebih khusus, pasase ini menunjukkan salahnya kepercayaan arogan yang menganggap bahwa solusi bagi segala misteri alam semesta “sudah berada di ambang pintu” dan bahwa sains yang berpusat pada manusia—yang dalam ayat di atas diisyaratkan dengan penyebutan kata “menuliskannya”—dapat dan akan mengajarkan para ahlinya bagaimana “menaklukkan alam” dan bagaimana meraih apa yang mereka anggap sebagai kehidupan yang baik.


Surah Al-Qalam Ayat 48

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوتِ إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌ

faṣbir liḥukmi rabbika wa lā takung kaṣāḥibil-ḥụt, iż nādā wa huwa makẓụm

48. MAKA, TERIMALAH ketetapan Pemeliharamu dengan sabar, dan janganlah engkau seperti dia yang (berada dalam) ikan besar, yang berdoa [dalam kesusahan] setelah tunduk pada amarah.27


27 Ini mengacu pada Nabi Yunus—lihat Surah Al-Anbiya’ [21]: 87 dan catatan no. 82 dan 83 yang terkait. Seperti disebutkan dalam Surah Al-Shaffat [37]: 140, “dia melarikan diri bagaikan seorang budak yang kabur”, yakni dari tugas yang telah diamanatkan Allah kepadanya, karena kaumnya tidak langsung menerima kebenaran dakwahnya: dan, demikian pulalah Nabi Muhammad diingatkan agar beliau tidak berputus asa atau marah sehubungan dengan perlawanan yang ditunjukkan kepadanya oleh sebagian besar kaumnya di Makkah, tetapi harus tetap gigih dalam misi kenabiannya.


Surah Al-Qalam Ayat 49

لَوْلَا أَنْ تَدَارَكَهُ نِعْمَةٌ مِنْ رَبِّهِ لَنُبِذَ بِالْعَرَاءِ وَهُوَ مَذْمُومٌ

lau lā an tadārakahụ ni’matum mir rabbihī lanubiża bil-‘arā`i wa huwa mażmụm

49. [Dan, ingatlah:] sekiranya rahmat dari Pemeliharanya tidak sampai kepadanya,28 dia pasti telah dicampakkan ke pesisir tandus itu dalam keadaan hina:29


28 Bdk. Surah Al-Shaffat [37]: 143—”sekiranya dia bukan termasuk orang-orang yang [meskipun dalam puncak kesusahannya masih dapat] memuji kemuliaan Allah Yang Tak Terhingga”: yaitu, mereka yang selalu mengingat Allah dan memohon ampunan-Nya.

29 Lit., “sedangkan dia masih tetap tercela”, yakni, memikul dosa dan tidak dapat ditebus dengan tobat: menunjukkan bahwa kalau bukan karena rahmat Allah, dia akan mati sebagai seorang pendosa.


Surah Al-Qalam Ayat 50

فَاجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَجَعَلَهُ مِنَ الصَّالِحِينَ

fajtabāhu rabbuhụ fa ja’alahụ minaṣ-ṣāliḥīn

50. namun, [sebagaimana yang terjadi,] Pemeliharanya telah memilihnya dan memasukkannya di antara orang-orang saleh.


Surah Al-Qalam Ayat 51

وَإِنْ يَكَادُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُ لَمَجْنُونٌ

wa iy yakādullażīna kafarụ layuzliqụnaka bi`abṣārihim lammā sami’uż-żikra wa yaqụlụna innahụ lamajnụn

51. Karena itu, [bersabarlah,] meskipun orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran itu benar-benar akan mencelakakanmu dengan pandangan mata mereka setiap kali mereka mendengar peringatan ini, dan [meskipun begitu] mereka berkata, “[Adapun Muhammad,] perhatikanlah, dia pastilah orang gila!”


Surah Al-Qalam Ayat 52

وَمَا هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ

wa mā huwa illā żikrul lil-‘ālamīn

52. [Bersabarlah:] sebab, ini tidak lain hanyalah sebuah peringatan [dari Allah] bagi seluruh umat manusia.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top