83. Al-Muthaffifin (Orang-Orang yang Mengurangi Takaran) – الْمُطَفِّفينَ

Surat Al-Mutaffifin dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Muthaffifin ( الْمُطَفِّفينَ ) merupakan surah ke 83 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 36 ayat yang sebagian besar mufasir menyatakan diturunkan di kota Makkah dan sebagian lainnya menganggap diwahyukan di kota Madinah. Dengan demikian, Surah Al-Muthaffifin digolongkan menjadi Surat Makkiyah dan Madaniyah.

Nama surah ini diambil dari kata al-muthaffifin (“Orang-Orang yang Mengurangi Takaran”) yang terdapat pada ayat pertamanya. Surah ini juga disebut dengan nama Al-Tatfif karena merupakan derivat kata al-muthaffifin. Muthaffifin adalah kata pelaku dan bentuk jamak dari kata muthaffif, adapun kata tathfif diambil dari kata thaf.

Banyak mufasir—di antaranya Al-Suyuthi—menganggap Surat Al-Muthaffifin sebagai wahyu makkiyyah (periode Makkah) yang terakhir. Namun, sejumlah hadits sahih menunjukkan dengan jelas bahwa sedikitnya empat ayat pertama surah ini diturunkan beberapa saat setelah tibanya Nabi di Madinah (bdk. Al-Thabari, Al-Baghawi, Ibn Katsir): sebagian mufasir lainnya bahkan melangkah lebih jauh dan menganggap keseluruhan surah ini termasuk dalam periode Madinah. Jika kita mempertimbangkan seluruh bukti yang ada dan mengabaikan semua spekulasi yang tidak lebih hanya didasarkan pada tema dan gaya, kita dapat beranggapan bahwa batang tubuh utama surah ini memang diwahyukan pada periode Makkah paling akhir, sementara bagian ayat pembuka surah ini (yang secara eksplisit dirujuk oleh hadits-hadits sahih yang disebut di atas) termasuk dalam kelompok surah yang diwahyukan pada periode Madinah awal. Dengan demikian, surah ini—seperti Surah Al-‘Ankabut [29]—secara keseluruhan berada di ambang antara kedua periode tersebut.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Muthaffifin Ayat 1

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ

wailul lil-muṭaffifīn

1. CELAKALAH ORANG-ORANG yang mengurangi takaran:


Surah Al-Muthaffifin Ayat 2

الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ

allażīna iżaktālụ ‘alan-nāsi yastaufụn

2. orang yang, manakala menerima haknya dari orang [lain], meminta agar haknya itu dipenuhi—


Surah Al-Muthaffifin Ayat 3

وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ

wa iżā kālụhum aw wazanụhum yukhsirụn

3. tetapi manakala mereka harus menakar atau menimbang apa pun yang merupakan kewajiban mereka terhadap orang lain, mereka memberikan kurang dari yang seharusnya!1


1 Bagian ini (ayat 1-3) tentu saja bukan hanya berbicara tentang transaksi-transaksi perniagaan, melainkan juga tentang setiap aspek hubungan sosial, baik yang bersifat praktis maupun moral, yang penerapannya mencakup bukan hanya kepemilikan fisik setiap individu, melainkan juga segenap hak dan tanggung jawabnya.


Surah Al-Muthaffifin Ayat 4

أَلَا يَظُنُّ أُولَٰئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ

alā yaẓunnu ulā`ika annahum mab’ụṡụn

4. Tidakkah mereka mengetahui bahwa mereka pasti akan dibangkitkan dari kematian


Surah Al-Muthaffifin Ayat 5

لِيَوْمٍ عَظِيمٍ

liyaumin ‘aẓīm

5. [dan akan dipanggil untuk dimintai pertanggungjawaban] pada Hari yang amat dahsyat—


Surah Al-Muthaffifin Ayat 6

يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

yauma yaqụmun-nāsu lirabbil-‘ālamīn

6. Hari tatkala seluruh manusia akan berdiri di hadapan Pemelihara seluruh alam semesta?


Surah Al-Muthaffifin Ayat 7

كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ

kallā inna kitābal-fujjāri lafī sijjīn

7. TIDAK, SUNGGUH, catatan orang yang jahat benar-benar [ditulis] dalam bentuk yang tidak dapat dielakkan!2


2 Menurut sebagian filolog terkemuka (misalnya, Abu ‘Ubaidah, sebagaimana dikutip di dalam Lisan Al-‘Arab), istilah sijjin berasal dari—atau bahkan bersinonim dengan—nomina sijn, yang berarti “penjara”. Berdasarkan derivasi kata itu, sebagian mufasir menyandangkan kepada kata sijjin itu makna kiasan da’im, yakni “keberlanjutan” atau “kesinambungan” (ibid.). Dengan demikian, dalam penerapannya secara metafora terhadap “catatan” para pendosa, istilah sijjin jelas dimaksudkan untuk menekankan suatu kualitas tidak dapat dielakkan, seolah-olah isi catatan itu “terpenjara” selamanya, yakni ditulis tanpa dapat dihapus sehingga mustahil untuk mengelak dari apa yang terkandung di dalam catatan tersebut: karena itu, ungkapan fi sijjin saya terjemahkan menjadi “[ditulis] dalam bentuk yang tidak dapat dielakkan”. Menurut pendapat saya, penafsiran ini dibenarkan sepenuhnya oleh ayat 9.


Surah Al-Muthaffifin Ayat 8

وَمَا أَدْرَاكَ مَا سِجِّينٌ

wa mā adrāka mā sijjīn

8. Dan, apa yang dapat membuat engkau bisa membayangkan akan seperti apakah bentuk yang tidak dapat dielakkan itu?


Surah Al-Muthaffifin Ayat 9

كِتَابٌ مَرْقُومٌ

kitābum marqụm

9. Suatu catatan tertulis [yang tidak dapat dihapus]!


Surah Al-Muthaffifin Ayat 10

وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ

wailuy yauma`iżil lil-mukażżibīn

10. Celakalah pada Hari itu orang-orang yang mendustakan kebenaran—


Surah Al-Muthaffifin Ayat 11

الَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ

allażīna yukażżibụna biyaumid-dīn

11. orang-orang yang mendustakan [kedatangan] Hari Pengadilan:


Surah Al-Muthaffifin Ayat 12

وَمَا يُكَذِّبُ بِهِ إِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ

wa mā yukażżibu bihī illā kullu mu’tadin aṡīm

12. sebab, tidak ada yang mendustakannya, kecuali mereka yang melanggar seluruh batas apa yang benar [dan] yang tenggelam dalam dosa:3


3 Hal ini menyiratkan bahwa pengingkaran terhadap tanggung jawab akhir di hadapan Allah—dan karena itu, pengingkaran terhadap pengadilan-Nya—senantiasa bersifat kondusif bagi terjadinya perbuatan dosa atau pelanggaran terhadap semua perintah moral. (Meskipun ayat ini dan ayat selanjutnya disusun dalam bentuk tunggal, saya menerjemahkan ayat-ayat tersebut dalam bentuk jamak {yang dalam terjemahan Indonesia muncul dalam bentuk kata ganti “mereka”—peny.} karena hal itu ditunjukkan secara idiomatik oleh kata kull sebelum kata pelaku deskriptif mu’tad dan atsim, serta penggunaan bentuk jamak langsung di dalam ayat 14 dan seterusnya.)


Surah Al-Muthaffifin Ayat 13

إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

iżā tutlā ‘alaihi āyātunā qāla asāṭīrul-awwalīn

13. [dan kemudian,] setiap kali pesan-pesan Kami disampaikan kepada mereka, mereka tidak lain hanya berkata, “Dongeng-dongeng masa lalu!”


Surah Al-Muthaffifin Ayat 14

كَلَّا بَلْ ۜرَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

kallā bal rāna ‘alā qulụbihim mā kānụ yaksibụn

14. Tidak, tetapi hati mereka terkikis oleh semua [kejahatan] yang biasa mereka lakukan!4


4 Lit., “apa yang mereka usahakan telah menutupi hati mereka dengan karat”: yang menyiratkan bahwa sikap kukuh mereka dalam melakukan perbuatan jahat secara bertahap tetah mencerabut mereka dari kesadaran akan tanggung jawab moral dan, karena itu, juga menghilangkan kemampuan mereka untuk membayangkan gambaran tentang kenyataan akan pengadilan akhir Allah.


Surah Al-Muthaffifin Ayat 15

كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ

kallā innahum ‘ar rabbihim yauma`iżil lamaḥjụbụn

15 Tidak, sungguh, dari [rahmat] Pemelihara mereka, pada Hari itu mereka akan terhalang;


Surah Al-Muthaffifin Ayat 16

ثُمَّ إِنَّهُمْ لَصَالُو الْجَحِيمِ

ṡumma innahum laṣālul-jaḥīm

16. dan kemudian, perhatikanlah, mereka akan masuk ke dalam api yang berkobar


Surah Al-Muthaffifin Ayat 17

ثُمَّ يُقَالُ هَٰذَا الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ

ṡumma yuqālu hāżallażī kuntum bihī tukażżibụn

17. dan [kepada mereka] dikatakan: Inilah [apa] yang kalian dahulu biasa dustakan!”


Surah Al-Muthaffifin Ayat 18

كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْأَبْرَارِ لَفِي عِلِّيِّينَ

kallā inna kitābal-abrāri lafī ‘illiyyīn

18. TIDAK, SUNGGUH, catatan orang yang benar-benar baik itu [ditulis] dalam bentuk yang seluhur-luhurnya!5


5 Yakni, berbeda dengan catatan orang yang jahat (lihat ayat 7). Berkenaan dengan istilah ‘illiyyun, dikatakan bahwa kata itu adalah bentuk jamak dari kata ‘illi atau ‘illiyyah (“ketinggian”, “keluhuran”, “keagungan”) atau, alternatifnya, kata jamak yang tidak memiliki bentuk tunggal (Al-Qamus, Taj Al-‘Arus); dalam kedua kasus tersebut, kata itu sama-sama berasal dari verba ‘ala, yang berarti “[sesuatu] yang [atau ‘menjadi’] tinggi” atau “luhur” atau—secara kiasan—“agung”: demikianlah, sebagaimana terdapat dalam ungkapan idiomatik terkenal, huwa min ‘illiyyat qaumihi, “dia termasuk orang yang [paling] agung di antara kaumnya”. Dengan mempertimbangkan derivasi kata tersebut, kata jamak ‘illiyyun jelas memiliki konotasi penekanan, yaitu “keluhuran di atas keluhuran” (Taj Al-‘Arus) atau “bentuk yang seluhur-luhurnya”.


Surah Al-Muthaffifin Ayat 19

وَمَا أَدْرَاكَ مَا عِلِّيُّونَ

wa mā adrāka mā ‘illiyyụn

19. Dan, apa yang dapat membuat engkau bisa membayangkan akan seperti apakah bentuk yang seluhur-luhurnya itu?


Surah Al-Muthaffifin Ayat 20

كِتَابٌ مَرْقُومٌ

kitābum marqụm

20. Suatu catatan tertulis [yang tidak dapat dihapus],


Surah Al-Muthaffifin Ayat 21

يَشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُونَ

yasy-haduhul-muqarrabụn

21. yang disaksikan oleh semua yang telah [selamanya] didekatkan kepada Allah.6


6 Yakni, [disaksikan] oleh para nabi dan orang suci sepanjang masa serta oleh para malaikat.


Surah Al-Muthaffifin Ayat 22

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ

innal-abrāra lafī na’īm

22. Perhatikanlah, [di dalam kehidupan akhirat,] orang yang benar-benar baik akan berada dalam kebahagiaan sepenuhnya:


Surah Al-Muthaffifin Ayat 23

عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ

‘alal-arā`iki yanẓurụn

23. [seraya beristirahat] di atas dipan, mereka akan memandang [Allah]:7


7 Bdk. Surah Al-Qiyamah [75]: 23. Sebagaimana di banyak tempat lainnya dalam Al-Quran, “dipan-dipan” di surga yang disediakan bagi para pelaku kebaikan melambangkan ketenangan yang seutuhnya serta kepuasan batin.


Surah Al-Muthaffifin Ayat 24

تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ

ta’rifu fī wujụhihim naḍratan na’īm

24. pada wajah mereka, engkau akan melihat sinar terang kebahagiaan.


Surah Al-Muthaffifin Ayat 25

يُسْقَوْنَ مِنْ رَحِيقٍ مَخْتُومٍ

yusqauna mir raḥīqim makhtụm

25. Mereka akan diberi minum berupa anggur murni yang atasnya dilak dengan segel [Allah],


Surah Al-Muthaffifin Ayat 26

خِتَامُهُ مِسْكٌ ۚ وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

khitāmuhụ misk, wa fī żālika falyatanāfasil-mutanāfisụn

26. yang tatkala dituang, menebarkan aroma minyak kesturi.8

Maka, untuk [anggur surga] itulah, hendaknya semua orang mengejarnya seperti orang yang [ingin] mengejar sesuatu yang sangat penting:


8 Lit., “ujungnya (khitamuhu) adalah minyak kesturi”. Terjemahan saya atas ungkapan tersebut mencerminkan penafsiran yang dilakukan terhadap ungkapan itu oleh beberapa mufasir dari generasi kedua Islam, serta oleh Abu ‘Ubaidah ibn Al-Mutsanna (yang semuanya dikutip oteh Al-Razi). “Minuman anggur murni” (rahiq) di akhirat—yang, berbeda dengan anggur yang ada di dunia, akan dilengkapi dengan “segel” (yakni, perkenan) dari Allah karena “tidak ada rasa pening di dalamnya dan mereka tidak mabuk karenanya” (Surah As-Saffat [37]: 47)—adalah perlambang lainnya tentang surga. Perlambang ini, yang disajikan dengan cara membandingkannya dengan sensasi-sensasi yang dapat dialami oleh manusia, secara tidak langsung mengacu pada sensasi-sensasi kenikmatan dalam kehidupan akhirat yang—dalam bentuk yang diintensifkan hingga melampaui seluruh imajinasi manusia—disediakan bagi orang-orang yang saleh. Sebagian sufi Muslim yang terkenal (seperti, Jalal Al-Din Rumi) berpendapat bahwa “minuman anggur murni” itu merupakan alusi tentang penglihatan ruhani/spiritual terhadap Allah: suatu penafsiran yang, menurut saya, sepenuhnya dibenarkan oleh rangkaian ayat tersebut.


Surah Al-Muthaffifin Ayat 27

وَمِزَاجُهُ مِنْ تَسْنِيمٍ

wa mizājuhụ min tasnīm

27. sebab, anggur itu terbuat dari segala yang paling mengagungkan9


9 Sementara kebanyakan mufasir klasik menganggap bahwa nomina infinitif tasnim merupakan nama dari salah satu “sumber-sumber air yang ada di dalam surga” yang bersifat alegoris atau, alternatifnya, tidak memberikan definisi sama sekali terhadap istilah itu, saya berpendapat bahwa derivasi tasnim dari verba sannama—“dia meninggikan [sesuatu]” atau “membuat [sesuatu itu] tinggi”—lebih menunjuk pada pengaruh/dampak yang akan ditimbulkan oleh “anggur” pengetahuan Ilahi terhadap orang yang “meminum”-nya di surga. Karenanya, salah seorang dari generasi sesudah Sahabat (tabi’i) yang bernama ‘Ikrimah (sebagaimana dikutip oleh Al-Razi,) menyamakan kata tasnim dengan kata tasyrif, yang berarti “sesuatu yang memuliakan” atau “mengagungkan”.


Surah Al-Muthaffifin Ayat 28

عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ

‘ainay yasyrabu bihal-muqarrabụn

28. sumber air [kebahagiaan] yang akan diminum oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah.10


10 Bdk. Surah Al-Insan [76]: 5-6 dan catatan-catatannya yang terkait.


Surah Al-Muthaffifin Ayat 29

إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ

innallażīna ajramụ kānụ minallażīna āmanụ yaḍ-ḥakụn

29. PERHATIKANLAH, mereka yang telah mencampakkan dirinya sendiri ke dalam dosa, biasa menertawakan orang-orang yang telah meraih iman;11


11 Ayat 29-33 sebenarnya berbentuk lampau (past tense, fi’l madhi), yakni sebagaimana jika dilihat dari tingkatan waktu Hari Pengadilan. Namun, karena ayat-ayat sebelum dan sesudahnya (yakni, ayat 18-28 dan ayat 34-36) dirumuskan dalam bentuk waktu mendatang (future tense, fi’l mudhari’), ayat 29-33 (yang berhubungan dengan kehidupan di dunia ini) dapat dengan tepat diterjemahkan dalam bentuk waktu sekarang (present tense).


Surah Al-Muthaffifin Ayat 30

وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ

wa iżā marrụ bihim yatagāmazụn

30. dan tatkala orang-orang yang telah meraih iman itu berlalu di hadapan mereka, mereka [mengejek dengan] saling mengedipkan mata;


Surah Al-Muthaffifin Ayat 31

وَإِذَا انْقَلَبُوا إِلَىٰ أَهْلِهِمُ انْقَلَبُوا فَكِهِينَ

wa iżangqalabū ilā ahlihimungqalabụ fakihīn

31. dan tatkala mereka kembali kepada kaum yang semacam dengan mereka,12 mereka kembali dengan penuh kegembiraan;


12 Lit., “kepada kaum mereka [sendiri]”.


Surah Al-Muthaffifin Ayat 32

وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَٰؤُلَاءِ لَضَالُّونَ

wa iżā ra`auhum qālū inna hā`ulā`i laḍāllụn

32. dan tatkala mereka melihat orang-orang [yang beriman] itu, mereka berkata, “Perhatikanlah, [orang-orang] itu benar-benar sesat!”


Surah Al-Muthaffifin Ayat 33

وَمَا أُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ

wa mā ursilụ ‘alaihim ḥāfiẓīn

33. Padahal, mereka tidak disuruh untuk mengawasi [keimanan] orang lain …13


13 Lit., “mereka tidak dikirim sebagai pengawas bagi mereka”—yang menyiratkan bahwa tak satu pun orang yang tidak beriman berhak mengkritik keimanan manusia lainnya.


Surah Al-Muthaffifin Ayat 34

فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ

fal-yaumallażīna āmanụ minal-kuffāri yaḍ-ḥakụn

34. Namun, pada Hari [pengadilan] itu, orang-orang yang telah meraih iman tersebut akan [dapat] menertawakan orang-orang [yang dahulunya adalah] para pengingkar kebenaran:14


14 Ketika berbicara tentang orang-orang saleh, Al-Quran berulang-ulang menekankan bahwa pada Hari Pengadilan, Allah “akan menghilangkan segala pikiran atau perasaan yang tidak berguna (ghill) yang mungkin masih ada [melekat] dalam dada mereka” (Surah Al-A’raf [7]: 43 dan Surah Al-Hijr [15]: 47). Mengingat bahwa kegembiraan yang bersifat balas dendam yang dirasakan oleh orang-orang yang diberkahi itu—sehubungan dengan bencana di akhirat yang akan menimpa orang yang dahulu berbuat dosa—tentu saja termasuk “perasaan yang tidak pantas”, maka “tawa” mereka hanya mungkin memiliki makna yang bersifat metaforis, yakni tidak lain hanya menunjukkan bahwa mereka tersadar akan nasib baik mereka sendiri.


Surah Al-Muthaffifin Ayat 35

عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ

‘alal-arā`iki yanẓurụn

35. [karena, seraya beristirahat di dalam surga] di atas dipan, mereka akan memandang [dan berkata kepada diri mereka sendiri]:


Surah Al-Muthaffifin Ayat 36

هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

hal ṡuwwibal-kuffāru mā kānụ yaf’alụn

36. “Apakah para pengingkar kebenaran itu [dengan demikian] sedang diberi ganjaran [semata-mata] atas apa yang dahulu biasa mereka kerjakan?”


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top