77. Al-Mursalat (Yang Dikirimkan) – المرسلات

Surat Al-Mursalat dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Mursalat ( المرسلات ) merupakan surah ke 77 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 50 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Al-Mursalat tergolong Surat Makkiyah.

Surah ini—yang namanya diambil dari kata al-mursalat yang muncul pada ayat pertama (dan yang jelas merujuk pada pewahyuan Al-Quran secara bertahap)—mungkin secara kronologis dapat ditempatkan di antara Surah Al-Humazah [104] dan Surah Qaf [50], yaitu hampir pasti pada tahun keempat misi kenabian.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Mursalat Ayat 1

وَالْمُرْسَلَاتِ عُرْفًا

wal-mursalāti ‘urfā

1. PERHATIKANLAH [pesan-pesan] ini yang dikirimkan secara bergelombang1


1 Yakni, satu demi satu: hal ini berbicara secara tidak langsung tentang pewahyuan Al-Quran secara berangsur-angsur, setahap demi setahap. Sebaliknya, anak kalimat berikutnya (ayat 2) jelas berkaitan dengan dampak dari kitab Ilahi sebagai suatu keseluruhan. Mengenai terjemahan saya atas kata sumpah wa menjadi “Perhatikanlah”, lihat Surah Al-Mudatsir [74], paruh pertama catatan no. 23.


Surah Al-Mursalat Ayat 2

فَالْعَاصِفَاتِ عَصْفًا

fal-‘āṣifāti ‘aṣfā

2. dan kemudian mengguncang dengan guncangan yang amat dahsyat!


Surah Al-Mursalat Ayat 3

وَالنَّاشِرَاتِ نَشْرًا

wan-nāsyirāti nasyrā

3. Perhatikanlah [pesan-pesan] ini yang menyebarkan [ke­benaran] dengan seluas-luasnya,


Surah Al-Mursalat Ayat 4

فَالْفَارِقَاتِ فَرْقًا

fal-fāriqāti farqā

4. sehingga memisahkan [antara yang benar dan yang salah] dengan sejelas-jelasnya,2


2 Lit., “dengan [segenap] pemisahan” (farqan). Bdk. Surah Al-Anfal [8]: 29 dan catatan terkait; juga catatan no. 38 dalam Surah Al-Baqarah [2]: 53.


Surah Al-Mursalat Ayat 5

فَالْمُلْقِيَاتِ ذِكْرًا

fal-mulqiyāti żikrā

5. kemudian menyampaikan suatu peringatan,


Surah Al-Mursalat Ayat 6

عُذْرًا أَوْ نُذْرًا

‘użran au nużrā

6. [menjanjikan] keterbebasan dari keadaan dipersalahkan atau [memberikan] suatu peringatan!3


3 Yakni, menunjukkan apa yang mengantarkan kepada keterbebasan dari keadaan dipersalahkan—dengan kata lain, prinsip-prinsip perilaku yang benar—dan apa yang dari segi etika patut dicela dan, karena itu, harus dihindari.


Surah Al-Mursalat Ayat 7

إِنَّمَا تُوعَدُونَ لَوَاقِعٌ

innamā tụ’adụna lawāqi’

7. PERHATIKANLAH, semua yang dijanjikan kepada kalian4 pasti akan terwujud.


4 Lit., “yang kalian dijanjikan dengannya”, yakni kebangkitan.


Surah Al-Mursalat Ayat 8

فَإِذَا النُّجُومُ طُمِسَتْ

fa iżan-nujụmu ṭumisat

8. Demikianlah, [hal itu akan terwujud] ketika bintang-bintang telah dihapuskan,


Surah Al-Mursalat Ayat 9

وَإِذَا السَّمَاءُ فُرِجَتْ

wa iżas-samā`u furijat

9. dan ketika langit telah terbelah berkeping-keping,


Surah Al-Mursalat Ayat 10

وَإِذَا الْجِبَالُ نُسِفَتْ

wa iżal-jibālu nusifat

10. dan ketika gunung-gunung ditebarkan seperti debu,


Surah Al-Mursalat Ayat 11

وَإِذَا الرُّسُلُ أُقِّتَتْ

wa iżar-rusulu uqqitat

11. dan ketika semua rasul dikumpulkan bersama pada suatu waktu yang telah ditentukan …5


5 Secara tersirat, yakni untuk memberi kesaksian yang mendukung ataupun, melawan orang-orang yang kepadanya mereka sampaikan pesan-pesan Allah (bdk. Surah An-Nisa’ [4]: 41-42, Surah Al-Ma’idah [5]: 109, Surah Al-A’raf [7]: 6, atau Surah Az-Zumar [39]: 69).


Surah Al-Mursalat Ayat 12

لِأَيِّ يَوْمٍ أُجِّلَتْ

li`ayyi yaumin ujjilat

12. Untuk hari apa batas-waktu [semua ini] ditentukan?


Surah Al-Mursalat Ayat 13

لِيَوْمِ الْفَصْلِ

liyaumil-faṣl

13. Untuk Hari Pembeda [antara yang benar dan yang salah]!6


6 Secara kronologis, ini merupakan kemunculan paling awal dari ungkapan yaum al-fashl yang jelas berkaitan dengan Hari Kebangkitan (bdk. Surah As-Saffat [37]: 21, Surah Ad-Dukhan [44]: 40, Surah An-Naba’ [78]: 11, serta ayat 38 surah ini): ungkapan tersebut mengacu secara tidak langsung kepada pernyataan Al-Quran yang sering diulang-ulang bahwa pada Hari Kebangkitan, manusia akan memperoleh pemahaman yang sempurna, yang tidak mungkin keliru, tentang dirinya sendiri dan tentang motivasl paling dalam dari sikap dan perbuatannya pada masa lalu (bdk. Surah Al-Haqqah [69]: 1 dan catatan no. 1 yang terkait).


Surah Al-Mursalat Ayat 14

وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الْفَصْلِ

wa mā adrāka mā yaumul-faṣl

14. Dan, apa yang dapat membuat engkau bisa membayang­kan akan seperti apakah Hari Pembeda itu?


Surah Al-Mursalat Ayat 15

وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ

wailuy yauma`iżil lil-mukażżibīn

15. Celakalah pada Hari itu orang-orang yang mendustakan kebenaran!


Surah Al-Mursalat Ayat 16

أَلَمْ نُهْلِكِ الْأَوَّلِينَ

a lam nuhlikil-awwalīn

16. Bukankah telah Kami binasakan [begitu banyak] orang [pendosa] dari masa-masa silam?


Surah Al-Mursalat Ayat 17

ثُمَّ نُتْبِعُهُمُ الْآخِرِينَ

ṡumma nutbi’uhumul-ākhirīn

17. Dan, akan Kami biarkan mereka diikuti oleh orang-orang dari masa-masa kemudian:7


7 Penggunaan kata sambung tsumma—yang dalam kasus ini diterjemahkan menjadi “Dan”—menyiratkan bahwa penderitaan di akhirat pasti akan menimpa para pendosa “dari masa-masa kemudian” (al-akhirun), sekalipun jika Allah, dengan kebijaksanaan-Nya yang terlalu dalam untuk dipahami, berkehendak untuk menyelamatkan mereka di dunia ini.


Surah Al-Mursalat Ayat 18

كَذَٰلِكَ نَفْعَلُ بِالْمُجْرِمِينَ

każālika naf’alu bil-mujrimīn

18. [sebab,] demikianlah Kami perlakukan orang-orang yang tengge­lam dalam dosa.


Surah Al-Mursalat Ayat 19

وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ

wailuy yauma`iżil lil-mukażżibīn

19. Celakalah pada Hari itu orang-orang yang mendustakan kebenaran!


Surah Al-Mursalat Ayat 20

أَلَمْ نَخْلُقْكُمْ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ

a lam nakhlukkum mim mā`im mahīn

20. Bukankah telah Kami ciptakan kalian dari cairan yang rendah,


Surah Al-Mursalat Ayat 21

فَجَعَلْنَاهُ فِي قَرَارٍ مَكِينٍ

fa ja’alnāhu fī qarārim makīn

21. yang kemudian Kami biarkan tetap di dalam lin­dungan [rahim] yang kokoh


Surah Al-Mursalat Ayat 22

إِلَىٰ قَدَرٍ مَعْلُومٍ

ilā qadarim ma’lụm

22. hingga batas-waktu yang telah ditentukan?


Surah Al-Mursalat Ayat 23

فَقَدَرْنَا فَنِعْمَ الْقَادِرُونَ

fa qadarnā fa ni’mal-qādirụn

23. Demikianlah, telah Kami tentukan [sifat dasar pen­ciptaan manusia]: dan sungguh hebat kekuasaan Kami untuk menentukan [bagaimana ia jadinya]!8


8 Proses mewujudnya manusia (yang diilustrasikan, misalnya, dalam, Surah Al-Mu’minun [23]: 12-14) jelas menunjukkan aktivitas penciptaan yang dilakukan Allah dan, karena itu, menunjukkan keberadaan-Nya. Karena itu, tiadanya sikap bersyukur pada diri manusia sama halnya dengan apa yang digambarkan Al-Quran sebagai “sikap mendustakan kebenaran”.


Surah Al-Mursalat Ayat 24

وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ

wailuy yauma`iżil lil-mukażżibīn

24. Celakalah pada Hari itu orang-orang yang mendustakan kebenaran!


Surah Al-Mursalat Ayat 25

أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ كِفَاتًا

a lam naj’alil-arḍa kifātā

25. Bukankah telah Kami jadikan bumi sebagai tempat untuk mengumpulkan


Surah Al-Mursalat Ayat 26

أَحْيَاءً وَأَمْوَاتًا

aḥyā`aw wa amwātā

26. yang hidup dan yang mati?9


9 Ini bukan semata-mata berbicara tentang kenyataan bahwa bumi adalah sebuah tempat tinggal bagi manusia dan hewan, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati, melainkan secara tidak langsung juga berbicara tentang siklus kehidupan yang terus berulang sebagaimana dikehendaki Allah, yaitu kelahiran, pertumbuhan, kerapuhan, dan kematian yang dialami seluruh makhluk hidup—dan, dengan demikian, merupakan suatu bukti tentang keberadaan Sang Pencipta yang “mengeluarkan yang hidup dari sesuatu yang mati dan mengeluarkan yang mati dari sesuatu yang hidup” (Surah Al-‘Imran [3]: 27, Surah Al-An’am [6]: 95, Surah Yunus [10]: 31, dan Surah Ar-Rum [30]: 19).


Surah Al-Mursalat Ayat 27

وَجَعَلْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ شَامِخَاتٍ وَأَسْقَيْنَاكُمْ مَاءً فُرَاتًا

wa ja’alnā fīhā rawāsiya syāmikhātiw wa asqainākum mā`an furātā

27. dan bukankah telah Kami jadikan di atasnya gunung-gunung yang berdiri kokoh lagi megah, dan telah Kami beri kalian air yang manis untuk minum?10


10 Sejalan dengan ayat sebelumnya, ayat ini berbicara tentang penciptaan benda mati atau tak bernyawa oleh Allah dan, dengan demikian,  menggenapkan pernyataan bahwa Dia adalah Pencipta alam semesta dalam segala perwujudannya, baik makhluk hidup maupun benda-benda mati.


Surah Al-Mursalat Ayat 28

وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ

wailuy yauma`iżil lil-mukażżibīn

28. Celakalah pada Hari itu orang-orang yang mendustakan kebenaran!


Surah Al-Mursalat Ayat 29

انْطَلِقُوا إِلَىٰ مَا كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ

inṭaliqū ilā mā kuntum bihī tukażżibụn

29. PERGILAH menuju [kebangkitan] itu yang dahulu kalian biasa dustakan!


Surah Al-Mursalat Ayat 30

انْطَلِقُوا إِلَىٰ ظِلٍّ ذِي ثَلَاثِ شُعَبٍ

inṭaliqū ilā ẓillin żī ṡalāṡi syu’ab

30. Pergilah menuju bayangan bercabang tiga11


11 Yakni, [bayangan] kematian, kebangkitan, dan pengadilan Allah, yang ketiga-tiganya seolah-olah menjadi bayangan hitam yang menutupi hati para pendosa.


Surah Al-Mursalat Ayat 31

لَا ظَلِيلٍ وَلَا يُغْنِي مِنَ اللَّهَبِ

lā ẓalīliw wa lā yugnī minal-lahab

31. yang tidak akan memberikan naungan [yang meneduhkan] dan tidak pula berguna untuk menahan api


Surah Al-Mursalat Ayat 32

إِنَّهَا تَرْمِي بِشَرَرٍ كَالْقَصْرِ

innahā tarmī bisyararing kal-qaṣr

32. yang—perhatikanlah!—akan melontarkan bunga api seperti batangan-batangan kayu [yang terbakar],


Surah Al-Mursalat Ayat 33

كَأَنَّهُ جِمَالَتٌ صُفْرٌ

ka`annahụ jimālatun ṣufr

33. seperti tali-tali amat besar yang menyala-nyala!12


12 Lit., “seperti tali-tali berpilin berwarna kuning”; dan kuning adalah “warna api” (Al-Baghawi). Terjemahan konvensional kata jimalat (juga dieja jimalat dan jimalah) menjadi “unta”, yang dianut oleh para mufasir dan, hingga saat ini, oleh seluruh penerjemah Al-Quran, harus ditolak karena merupakan terjemahan yang sangat ganjil; lihat dalam kaitan ini catatan no. 32 pada bagian kedua Surah Al-A’raf [7]: 40—“mereka tidak akan masuk surga sebagaimana mustahilnya tali yang tersimpul dapat masuk melalui lubang jarum”. Di dalam ayat di atas pun, nomina majemuk jimalah (atau jimalat) berarti “tali-tali yang tersimpul” atau “tali-tali yang sangat besar”—suatu konotasi yang sangat ditekankan oleh Ibn ‘Abbas, Mujahid, Sa’id ibn Jubair, dan lainnya (bdk. Al-Thabari, Al-Baghawi, Al-Rail, Ibn Katsir; juga Al-Bukhari, Kitab Al-Tafsir). Lebih lanjut, observasi kita terhadap lintasan bintang jatuh (meteor) sepenuhnya membenarkan terjemahan “tali-tali amat besar yang menyala-nyala”. Serupa pula, terjemahan saya terhadap kata qashr dalam konteks ini menjadi “batangan-batangan kayu [yang terbakar]”—sebagai ganti dari terjemahan konvensional (yang sama sekali tidak berarti), yakni “kastel”, “istana”, dan sebagainya—mengacu pada pandangan para mufasir yang telah disebut sebelumnya.


Surah Al-Mursalat Ayat 34

وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ

wailuy yauma`iżil lil-mukażżibīn

34. Celakalah pada Hari itu orang-orang yang mendustakan kebenaran—


Surah Al-Mursalat Ayat 35

هَٰذَا يَوْمُ لَا يَنْطِقُونَ

hāżā yaumu lā yanṭiqụn

35. Hari itu ketika mereka tidak akan [mampu] mengucapkan sepatah kata,


Surah Al-Mursalat Ayat 36

وَلَا يُؤْذَنُ لَهُمْ فَيَعْتَذِرُونَ

wa lā yu`żanu lahum fa ya’tażirụn

36. dan tidak pula diperbolehkan untuk mengajukan alasan-alasan!


Surah Al-Mursalat Ayat 37

وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ

wailuy yauma`iżil lil-mukażżibīn

37. Celakalah pada Hari itu orang-orang yang mendustakan kebenaran—


Surah Al-Mursalat Ayat 38

هَٰذَا يَوْمُ الْفَصْلِ ۖ جَمَعْنَاكُمْ وَالْأَوَّلِينَ

hāżā yaumul-faṣli jama’nākum wal-awwalīn

38. Hari Pembeda [antara yang benar dan yang salah, ketika kepada mereka akan dikatakan]: “Kami telah me­ngumpulkan kalian bersama orang-orang [pendosa] dari masa­ masa silam;


Surah Al-Mursalat Ayat 39

فَإِنْ كَانَ لَكُمْ كَيْدٌ فَكِيدُونِ

fa ing kāna lakum kaidun fa kīdụn

39. dan jika kalian [berpikir bahwa kalian] masih memiliki tipu muslihat, cobalah perdayakan Aku!”


Surah Al-Mursalat Ayat 40

وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ

wailuy yauma`iżil lil-mukażżibīn

40. Celakalah pada Hari itu orang-orang yang mendustakan kebenaran!


Surah Al-Mursalat Ayat 41

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي ظِلَالٍ وَعُيُونٍ

innal-muttaqīna fī ẓilāliw wa ‘uyụn

41. [BERLAWANAN dengan hal ini,] perhatikanlah, orang­-orang yang sadar akan Allah akan tinggal di tengah-tengah naung­an [yang meneduhkan] dan mata air-mata air,


Surah Al-Mursalat Ayat 42

وَفَوَاكِهَ مِمَّا يَشْتَهُونَ

wa fawākiha mimmā yasytahụn

42. dan [menik­mati] buah-buahan apa pun yang mereka inginkan;


Surah Al-Mursalat Ayat 43

كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

kulụ wasyrabụ hanī`am bimā kuntum ta’malụn

43. [dan akan dikatakan kepada mereka:] “Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan atas apa yang telah kalian lakukan [di dunia]!”13


13 Mengenai simbolisme kenikmatan-kenikmatan surgawi ini, lihat artikel Simbolisme dan Alegori dalam Al-Qur’an.


Surah Al-Mursalat Ayat 44

إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

innā każālika najzil-muḥsinīn

44. Perhatikan, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik;


Surah Al-Mursalat Ayat 45

وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ

wailuy yauma`iżil lil-mukażżibīn

45. [tetapi] celakalah pada Hari itu orang-orang yang mendustakan kebenaran!


Surah Al-Mursalat Ayat 46

كُلُوا وَتَمَتَّعُوا قَلِيلًا إِنَّكُمْ مُجْرِمُونَ

kulụ wa tamatta’ụ qalīlan innakum mujrimụn

46. MAKANLAH [sepuasnya] dan nikmatilah hidup kalian untuk sejenak, wahai kalian yang tenggelam dalam dosa!14


14 Lit., “perhatikanlah, kalian tenggelam dalam dosa (mujrimun)”.


Surah Al-Mursalat Ayat 47

وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ

wailuy yauma`iżil lil-mukażżibīn

47. [Tetapi,] celakalah pada Hari itu orang-orang yang mendustakan kebenaran,


Surah Al-Mursalat Ayat 48

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ارْكَعُوا لَا يَرْكَعُونَ

wa iżā qīla lahumurka’ụ lā yarka’ụn

48. dan tatkala dikatakan kepada mereka, “Membungkuklah [di hadapan Allah],” mereka tidak membungkuk:


Surah Al-Mursalat Ayat 49

وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ

wailuy yauma`iżil lil-mukażżibīn

49. celakalah pada Hari itu orang-orang yang mendustakan kebenaran!


Surah Al-Mursalat Ayat 50

فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ

fa bi`ayyi ḥadīṡim ba’dahụ yu`minụn

50. Maka, kepada kabar lain apa lagi sesudah ini mereka akan percaya?


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top