63. Al-Munafiqun (Orang-Orang Munafik) – المنافقون

Surat Al-Munafiqun dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Munafiqun ( المنافقون ) merupakan surat ke 63 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 11 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Madinah. Dengan demikian, Surah Al-Munafiqun tergolong Surat Madaniyah.

Bagian utama surah ini—yang sebagian besar diwahyukan tidak lama setelah Perang Uhud (lihat Surah Alu ‘Imran [3], catatan no. 90), yaitu menjelang akhir tahun ke-3 atau awal tahun ke-4 Hijriah—berbicara tentang persoalan kemunafikan yang dihadapi oleh Nabi Muhammad Saw. dan para pengikutnya selama tahun-tahun awal hijrah Nabi dari Makkah ke Madinah. Meskipun demikian, penanganan Al-Quran terhadap masalah ini mengandung pelajaran yang dapat diterapkan pada segala zaman dan keadaan.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Munafiqun Ayat 1

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

iżā jā`akal munāfiqụna qālụ nasy-hadu innaka larasụlullāh, wallāhu ya’lamu innaka larasụluh, wallāhu yasy-hadu innal-munāfiqīna lakāżibụn

1. TATKALA ORANG-ORANG MUNAFIK datang kepadamu, mereka berkata, “Kami bersaksi bahwa engkau memang Rasul Allah!” Namun, Allah mengetahui bahwa engkau adalah benar-benar Rasul-Nya; dan Dia bersaksi bahwa orang-orang munafik itu sesungguhnya palsu [dalam pernyataan iman mereka].


Surah Al-Munafiqun Ayat 2

اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

ittakhażū aimānahum junnatan fa ṣaddụ ‘an sabīlillāh, innahum sā`a mā kānụ ya’malụn

2. Mereka telah menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai [bagi kebohongan mereka] dan, dengan demikian, mereka memalingkan orang lain dari jalan Allah.1 Sungguh buruklah semua yang biasa mereka lakukan:


1 Lihat catatan no. 26 dalam Surah Al-Mujadalah [58]: 16 mengenai kalimat yang serupa.


Surah Al-Munafiqun Ayat 3

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ

żālika bi`annahum āmanụ ṡumma kafarụ fa ṭubi’a ‘alā qulụbihim fa hum lā yafqahụn

3. hal ini disebabkan [mereka mengaku bahwa] mereka telah meraih iman, sedangkan2 [di dalam batinnya] mereka mengingkari kebenaran—maka, sebuah penutup telah dipatrikan pada hati mereka, sehingga mereka tidak dapat lagi mengerti [apa yang benar dan apa yang salah].3


2 Partikel tsumma (“dan kemudian”) sering kali memiliki fungsi sama dengan kata sambung wa (“dan”), yang dalam kasus ini agaknya lebih tepat diterjemahkan menjadi “sedangkan”.

3 Lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 7.


Surah Al-Munafiqun Ayat 4

وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ ۖ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ ۖ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ ۖ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ ۚ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۖ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

wa iżā ra`aitahum tu’jibuka ajsāmuhum, wa iy yaqụlụ tasma’ liqaulihim, ka`annahum khusyubum musannadah, yaḥsabụna kulla ṣaiḥatin ‘alaihim, humul-‘aduwwu faḥżar-hum, qātalahumullāhu annā yu`fakụn

4. Adapun apabila engkau melihat mereka, penampilan lahir mereka dapat menyenangkanmu; dan apabila mereka berbicara, engkau akan cenderung mendengarkan apa yang mereka katakan.4 [Namun, kendati mereka mungkin tampak yakin terhadap diri mereka sendiri] seakan-akan mereka adalah kayu yang terpancang [dengan kukuh], mereka mengira bahwa setiap teriakan [ditujukan] melawan mereka.

Mereka itulah musuh [yang sebenarnya bagi seluruh agama], maka waspadalah terhadap mereka. [Mereka layak dikutuk:] “Semoga Allah membinasakan mereka!”5

Betapa menyimpangnya pikiran mereka!6


4 Lit., “engkau mendengarkan perkataan mereka”: yakni, kemunafikan selalu tampak masuk akal dari tampak-luarnya karena memang dimaksudkan untuk menipu.

5 Berkenaan dengan frasa “Mereka layak dikutuk” yang saya sisipkan, lihat catatan no. 45 mengenai kalimat yang serupa pada bagian akhir Surah At-Taubah [9]: 30.

6 Lihat Surah Al-Ma’idah [5], catatan no. 90.


Surah Al-Munafiqun Ayat 5

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا يَسْتَغْفِرْ لَكُمْ رَسُولُ اللَّهِ لَوَّوْا رُءُوسَهُمْ وَرَأَيْتَهُمْ يَصُدُّونَ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ

wa iżā qīla lahum ta’ālau yastagfir lakum rasụlullāhi lawwau ru`ụsahum wa ra`aitahum yaṣuddụna wa hum mustakbirụn

5. sebab, ketika dikatakan kepada mereka, “Kemarilah, Rasul Allah akan berdoa [kepada Allah] agar kalian diampuni”, mereka membuang muka mereka, dan engkau dapat melihat bagaimana mereka berpaling dalam kesombongan mereka yang semu.


Surah Al-Munafiqun Ayat 6

سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَسْتَغْفَرْتَ لَهُمْ أَمْ لَمْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ لَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

sawā`un ‘alaihim astagfarta lahum am lam tastagfir lahum, lay yagfirallāhu lahum, innallāha lā yahdil-qaumal-fāsiqīn

6. Adapun mereka, sama saja apakah engkau berdoa agar mereka diampuni atau engkau tidak berdoa bagi mereka: Allah tidak akan mengampuni mereka—sebab, perhatikanlah, Allah tidak menganugerahkan petunjuk-Nya kepada kaum yang fasik seperti itu.7


7 Bdk. Surah At-Taubah [9]: 80 dan catatan no. 111 yang terkait.


Surah Al-Munafiqun Ayat 7

هُمُ الَّذِينَ يَقُولُونَ لَا تُنْفِقُوا عَلَىٰ مَنْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ حَتَّىٰ يَنْفَضُّوا ۗ وَلِلَّهِ خَزَائِنُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَفْقَهُونَ

humullażīna yaqụlụna lā tunfiqụ ‘alā man ‘inda rasụlillāhi ḥattā yanfaḍḍụ, wa lillāhi khazā`inus-samāwāti wal-arḍi wa lākinnal-munāfiqīna lā yafqahụn

7. Mereka itulah yang berkata [kepada kawan-kawan mereka8], “Janganlah kalian membelanjakan apa pun untuk orang-orang yang bersama Rasul Allah, supaya mereka [terpaksa] pergi.”9

Sungguhpun begitu, kepunyaan Allah-lah perbendaharaan lelangit dan bumi: tetapi, orang-orang munafik itu tidak dapat memahami kebenaran ini.


8 Yakni, kepada penduduk Madinah umumnya, dan kepada kaum Anshar khususnya (lihat catatan selanjutnya).

9 Pemimpin kelompok munafik di Madinah, ‘Abd Allah ibn Ubayy, tidak pernah memaafkan Nabi karena beliau telah mengungguli dirinya, padahal dia sebelumnya benar-benar diakui oleh penduduk Madinah sebagai pemimpin mereka yang terkemuka. Karena kekuatan politik Nabi terutama bergantung pada kaum Muslim Makkah yang ikut berhijrah bersama Nabi ke Madinah, Ibn Ubayy mencoba membujuk penduduk sekotanya—yang banyak membantu para pendatang baru (Muhajirun) itu dengan memberikan segala macam sarana yang mereka miliki untuk keperluan kaum Muhajirun—guna menghentikan dukungan materiel tersebut dan, dengan demikian, memaksa kaum Muhajirun, yang kebanyakan dari mereka sangat miskin, untuk meninggalkan Madinah: suatu siasat yang, apabila berhasil, akan sangat memperlemah posisi Nabi. Ajakan dari pemimpin kaum munafik itu tentu saja ditolak oleh kaum Anshar.


Surah Al-Munafiqun Ayat 8

يَقُولُونَ لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ ۚ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

yaqụlụna la`ir raja’nā ilal-madīnati layukhrijannal-a’azzu min-hal-ażall, wa lillāhil-‘izzatu wa lirasụlihī wa lil-mu`minīna wa lākinnal-munāfiqīna lā ya’lamụn

8. [Dan] mereka berkata, “Sungguh, apabila kita kembali ke kota,10 [kita,] orang-orang yang paling terhormat, pasti akan mengusir orang-orang yang paling hina itu dari sana.”

Namun, seluruh kehormatan adalah milik Allah, dan [dengan demikian] milik Rasul-Nya dan orang-orang yang percaya [kepada Allah]: tetapi, orang-orang munafik itu tidak mengetahui hal ini.11


10 Yakni, Madinah, “Kota Nabi” (Madinah Al-Nabi}, demikianlah kota yang tadinya disebut Yatsrib itu mulai dikenal setelah peristiwa Hijrah. Karena—sebagaimana disebutkan dalam sejumlah hadis—perkataan berikutnya itu diucapkan oleh ‘Abd Allah ibn Ubayy pada masa pertempuran melawan suku Banu Mushthaliq pada 5 H, jelaslah bahwa ayat 7 dan 8 diwahyukan pada waktu yang sama atau sedikit lebih terkemudian.

11 Di dalam dua pernyataan Al-Quran inilah—yaitu: “kepunyaan Allah-lah perbendaharaan lelangit dan bumi …” dan “seluruh kehormatan adalah milik Allah …”, dst.—maksud yang sebenarnya dan abadi dari alusi historis di atas dapat ditemukan.


Surah Al-Munafiqun Ayat 9

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā tul-hikum amwālukum wa lā aulādukum ‘an żikrillāh, wa may yaf’al żālika fa ulā`ika humul-khāsirụn

9. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Janganlah harta duniawi kalian atau anak-anak kalian menyebabkan kalian lalai dari mengingat Allah: sebab, siapa saja yang berlaku demikian—mereka, mereka itulah orang-orang yang merugi!


Surah Al-Munafiqun Ayat 10

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

wa anfiqụ mimmā razaqnākum ming qabli ay ya`tiya aḥadakumul-mautu fa yaqụla rabbi lau lā akhkhartanī ilā ajaling qarībin fa aṣṣaddaqa wa akum minaṣ-ṣāliḥīn

10. Dan, belanjakanlah untuk orang lain sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebagai rezeki,12 sebelum tiba saat ketika kematian mendatangi salah seorang di antara kalian, dan kemudian dia berkata, “Wahai, Pemeliharaku! Sekiranya Engkau berkenan memberi penangguhan sebentar saja,13 supaya aku dapat bersedekah dan termasuk ke dalam golongan orang yang saleh!”


12 Lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 4.

13 Lit., “sampai (ila) batas-waktu yang dekat”.


Surah Al-Munafiqun Ayat 11

وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

wa lay yu`akhkhirallāhu nafsan iżā jā`a ajaluhā, wallāhu khabīrum bimā ta’malụn

11. Namun, Allah tidak pernah memberi penangguhan kepada seorang manusia ketika saatnya telah tiba; dan Allah sepenuhnya mengetahui semua yang kalian perbuat.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top