60. Al-Mumtahanah (Yang Diuji) – الممتحنة

Surat Al-Mumtahanah dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Mumtahanah ( الممتحنة ) merupakan surat ke 60 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 13 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Madinah. Dengan demikian, Surah Al-Mumtahanah tergolong Surat Madaniyah.

Kata kunci yang digunakan untuk menunjuk surat ini, yang telah masyhur diketahui sejak masa-masa awalnya, didasarkan pada perintah “ujilah mereka” yang terdapat dalam ayat 10. Al-Mumtahanah diwahyukan beberapa bulan setelah disepakatinya Perjanjian Hudaibiyyah (lihat catatan pendahuluan Surah Al-Fath [48]), yaitu tidak lebih awal dari tahun 7 H dan kemungkinan selambat-lambatnya pada permulaan tahun 8 H.

Surah ini secara keseluruhan membahas masalah hubungan antara kaum beriman dan orang-orang kafir. Meskipun, sebagaimana lazimnya, kebanyakan Sahabat Nabi menggambarkan masalah-masalah tersebut menurut aspek peristiwa historis yang melibatkan mereka sendiri sebagai saksi-saksi sejarah, makna umum dari perintah-perintah yang digariskan dalam surah ini tidak dapat dibatasi pada situasi sejarah yang khusus tersebut, melainkan, sebagaimana umunya dalam Al-Qur’an, memiliki kandungan yang pasti mengenai bagaimana seharusnya orang beriman pada segala zaman berperilaku.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Mumtahanah Ayat 1

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ ۙ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي ۚ تُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنْتُمْ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā tattakhiżụ ‘aduwwī wa ‘aduwwakum auliyā`a tulqụna ilaihim bil-mawaddati wa qad kafarụ bimā jā`akum minal-ḥaqq, yukhrijụnar-rasụla wa iyyākum an tu`minụ billāhi rabbikum, ing kuntum kharajtum jihādan fī sabīlī wabtigā`a marḍātī tusirrụna ilaihim bil-mawaddati wa ana a’lamu bimā akhfaitum wa mā a’lantum, wa may yaf’al-hu mingkum fa qad ḍalla sawā`as-sabīl

1. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Janganlah kalian mengambil musuh-musuh-Ku—yang adalah musuh-musuh kalian juga1—sebagai kawan-kawan dekat kalian, dengan memperlihatkan kasih sayang kepada mereka, padahal mereka bersikeras mengingkari kebenaran apa pun yang telah datang kepada kalian, [dan padahal] mereka telah mengusir Rasul dan kalian sendiri [hanya] karena kalian beriman kepada Allah, Pemelihara kalian.2

Jika [benar bahwa] kalian telah keluar [dari rumah-rumah kalian] untuk berjuang di jalan-Ku, dan karena mengharapkan keridhaan-Ku, [janganlah kalian mengambil mereka sebagai kawan dekat kalian,] cenderung kepada mereka dalam kasih sayang secara diam-diam: sebab, Aku mengetahui sepenuhnya segala yang mungkin kalian sembunyikan serta segala apa yang kalian perbuat dengan terang-terangan. Dan, siapa pun di antara kalian yang berbuat demikian telah menyimpang dari jalan yang benar.3


1 Lit., “dan musuh-musuh kalian”—yang menyiratkan bahwa orang-orang yang sengaja menolak pesan-pesan Allah, dengan sendirinya berarti juga berlawanan dengan orang-orang yang memercayai pesan-pesan Allah tersebut.

2 Secara historis, hal ini merujuk pada hijrah yang terpaksa dilakukan Nabi dan kaum Muslim dari Makkah ke Madinah. Namun, dalam pengertian yang lebih umum, ayat ini secara tidak langsung berbicara tentang potensi penganiayaan terhadap kaum Muslim pada segala zaman oleh “orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran”, yaitu orang-orang yang menentang keyakinan-keyakinan agama itu sendiri.

3 Sebagaimana ditunjukkan dalam ayat 7-9, larangan untuk menjadikan orang-orang tidak beriman sebagai kawan-kawan dekat hanya berlaku apabila mereka aktif memusuhi orang-orang beriman (bdk. Surah Al-Mujadalah [58]: 22 dan catatan no. 29 yang terkait).


Surah Al-Mumtahanah Ayat 2

إِنْ يَثْقَفُوكُمْ يَكُونُوا لَكُمْ أَعْدَاءً وَيَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ وَأَلْسِنَتَهُمْ بِالسُّوءِ وَوَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ

iy yaṡqafụkum yakụnụ lakum a’dā`aw wa yabsuṭū ilaikum aidiyahum wa alsinatahum bis-sū`i wa waddụ lau takfurụn

2. Andaikan mereka berhasil menguasai kalian, niscaya mereka [masih] tetap menjadi musuh-musuh kalian, dan mereka akan mengerahkan sepenuhnya tangan dan lidah mereka melawan kalian dengan niat jahat: sebab, mereka ingin agar kalian [pun] hendaknya mengingkari kebenaran.


Surah Al-Mumtahanah Ayat 3

لَنْ تَنْفَعَكُمْ أَرْحَامُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ ۚ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَفْصِلُ بَيْنَكُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

lan tanfa’akum ar-ḥāmukum wa lā aulādukum, yaumal-qiyāmati yafṣilu bainakum, wallāhu bimā ta’malụna baṣīr

3. Akan tetapi, [ingatlah bahwa] kerabat kalian dan [bahkan] anak-anak kalian sendiri sama sekali tidak akan bermanfaat bagi kalian pada Hari Kebangkitan, [karena pada saat itu] Dia akan memutuskan di antara kalian [semata-mata berdasarkan amal baik kalian sendiri]: dan Allah melihat semua yang kalian kerjakan.


Surah Al-Mumtahanah Ayat 4

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ۖ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

qad kānat lakum uswatun ḥasanatun fī ibrāhīma wallażīna ma’ah, iż qālụ liqaumihim innā bura`ā`u mingkum wa mimmā ta’budụna min dụnillāhi kafarnā bikum wa badā bainanā wa bainakumul-‘adāwatu wal-bagḍā`u abadan ḥattā tu`minụ billāhi waḥdahū illā qaula ibrāhīma li`abīhi la`astagfiranna laka wa mā amliku laka minallāhi min syaī`, rabbanā ‘alaika tawakkalnā wa ilaika anabnā wa ilaikal-maṣīr

4. Sungguh, kalian telah mempunyai teladan yang baik pada Ibrahim dan orang-orang yang mengikutinya, ketika mereka berkata kepada kaum mereka [yang menyembah berhala]: “Sungguh, kami berlepas diri dari kalian dan dari segala yang kalian sembah selain Allah: kami mengingkari kebenaran apa pun yang kalian percayai; dan di antara kami dan kalian telah timbul permusuhan dan kebencian, yang akan bertahan hingga suatu saat4 ketika kalian menjadi beriman kepada Allah Yang Maha Esa!”

Satu-satunya pengecualian adalah5 perkataan Ibrahim kepada ayahnya, “Sungguh, aku akan memohonkan ampunan [Allah] bagi engkau,6 meskipun aku tidak memiliki kekuasaan untuk mendapatkan apa pun dari Allah untuk kepentinganmu.”

[Dan, Ibrahim beserta para pengikutnya berdoa:] “Wahai, Pemelihara kami! Kepada Engkau-lah kami telah bersandar penuh percaya,* dan kepada Engkau-lah kami kembali: sebab, kepada Engkau-lah akhir seluruh perjalanan.


4 Karena kata keterangan abadan langsung diikuti oleh partikel hatta (“hingga suatu saat ketika …”), jelas keliru jika kita mengartikan ungkapan tersebut sebagai “selamanya”, seperti yang hingga saat ini tercantum dalam seluruh terjemahan Al-Quran bahasa Barat. Dengan mempertimbangkan konotasi awal dari nomina abad sebagai “waktu” atau “waktu yang panjang”, yaitu waktu yang durasinya tidak terbatas (Al-Jauhari, Al-Zamakhsyari dalam Al-Asas-nya, Al-Mughni, dan sebagainya), kata abadan dalam konteks ini paling tepat diartikan sebagai “akan bertahan [hingga] …”, dan seterusnya.

5 Lit., “Kecuali”: yakni, suatu pengecualian dari pernyataan Ibrahim, “di antara kami dan kalian telah timbul permusuhan dan kebencian, yang akan bertahan …” dan seterusnya. Dengan kata lain, cinta sang anak kepada sang ayah telah mencegah Ibrahim untuk memasukkan ayahnya dalam deklarasi “permusuhan dan kebencian” yang dinyatakannya, meskipun kemudian—sesudah ayahnya meninggal sebagai seorang penyembah berhala—Ibrahim tidak dapat lain kecuali berlepas diri dari ayahnya (bdk. Surah At-Taubah [9]: 114).

6 Bdk. Surah Maryam [19]: 47-48.

* {Yakni, bertawakal; in Thee have we placed our trust.}


Surah Al-Mumtahanah Ayat 5

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

rabbanā lā taj’alnā fitnatal lillażīna kafarụ wagfir lanā rabbanā, innaka antal-‘azīzul-ḥakīm

5. Wahai, Pemelihara kami! Janganlah Engkau jadikan kami sebagai barang-mainan7 bagi orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran! Dan, ampunilah dosa-dosa kami, wahai Pemelihara kami: sebab, Engkaulah satu-satunya Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana!”


7 Lit., “godaan untuk (melakukan) kejahatan” (fitnah): bdk. Surah Yunus [10]: 85, yang di dalamnya kata fitnah mempunyai makna yang sama seperti di dalam ayat ini


Surah Al-Mumtahanah Ayat 6

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيهِمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

laqad kāna lakum fīhim uswatun ḥasanatul limang kāna yarjullāha wal-yaumal-ākhir, wa may yatawalla fa innallāha huwal-ganiyyul-ḥamīd

6. Pada mereka itu, sungguh, kalian mendapati suatu suri teladan yang baik bagi siapa pun yang [dengan penuh harap dan gentar8] mengharapkan Allah dan Hari Akhir. Dan, jika ada yang berpaling, [biarlah dia mengetahui bahwa] Allah benar-benar Mahacukup, Yang kepada-Nya-lah segala pujian hendaknya ditujukan.


8 Seperti dalam frasa serupa pada Surah Al-Ahzab [33]: 21, konotasi ganda ini tersirat dalam verba rajawa dan dalam seluruh bentuk nomina yang berasal darinya.


Surah Al-Mumtahanah Ayat 7

عَسَى اللَّهُ أَنْ يَجْعَلَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الَّذِينَ عَادَيْتُمْ مِنْهُمْ مَوَدَّةً ۚ وَاللَّهُ قَدِيرٌ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

‘asallāhu ay yaj’ala bainakum wa bainallażīna ‘ādaitum min-hum mawaddah, wallāhu qadīrun, wallāhu gafụrur raḥīm

7. [Akan tetapi,] boleh jadi Allah akan menimbulkan rasa [saling] kasih sayang di antara kalian [wahai orang-orang beriman] dan sebagian dari orang-orang yang [kini] kalian hadapi sebagai musuh: sebab, Allah Mahakuasa—dan Allah Maha Pengampun, Pemberi Rahmat.


Surah Al-Mumtahanah Ayat 8

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

lā yan-hākumullāhu ‘anillażīna lam yuqātilụkum fid-dīni wa lam yukhrijụkum min diyārikum an tabarrụhum wa tuqsiṭū ilaihim, innallāha yuḥibbul-muqsiṭīn

8. Adapun orang-orang yang [tak beriman] yang tidak memerangi kalian karena alasan agama [kalian], dan tidak pula mengusir kalian keluar dari negeri kalian, Allah tidak melarang kalian untuk memperlihatkan kebaikan kepada mereka dan memperlakukan mereka dengan seadil-adilnya:9 sebab, sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.


9 Ungkapan “Allah tidak melarang kalian” dalam konteks ini mengandung suatu anjuran yang positif (Al-Zamakhsyari). Lihat juga catatan no. 29 pada Surah Al-Mujadalah [58]: 22.


Surah Al-Mumtahanah Ayat 9

إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَىٰ إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

innamā yan-hākumullāhu ‘anillażīna qātalụkum fid-dīni wa akhrajụkum min diyārikum wa ẓāharụ ‘alā ikhrājikum an tawallauhum, wa may yatawallahum fa ulā`ika humuẓ-ẓālimụn

9. Allah hanya melarang kalian menjalin pertemanan dengan orang-orang yang memerangi kalian karena agama [kalian], dan mengusir kalian dari negeri kalian, atau membantu [pihak lain] untuk mengusir kalian: dan adapun orang-orang [di antara kalian] yang menjalin pertemanan dengan mereka, itulah mereka, mereka yang benar-benar zalim.


Surah Al-Mumtahanah Ayat 10

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ ۖ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ ۖ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ ۖ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ ۖ وَآتُوهُمْ مَا أَنْفَقُوا ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ ۚ وَلَا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ وَاسْأَلُوا مَا أَنْفَقْتُمْ وَلْيَسْأَلُوا مَا أَنْفَقُوا ۚ ذَٰلِكُمْ حُكْمُ اللَّهِ ۖ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

yā ayyuhallażīna āmanū iżā jā`akumul-mu`minātu muhājirātin famtaḥinụhunn, allāhu a’lamu bi`īmānihinna fa in ‘alimtumụhunna mu`minātin fa lā tarji’ụhunna ilal-kuffār, lā hunna ḥillul lahum wa lā hum yaḥillụna lahunn, wa ātụhum mā anfaqụ, wa lā junāḥa ‘alaikum an tangkiḥụhunna iżā ātaitumụhunna ujụrahunn, wa lā tumsikụ bi’iṣamil-kawāfiri was`alụ mā anfaqtum walyas`alụ mā anfaqụ, żālikum ḥukmullāh, yaḥkumu bainakum, wallāhu ‘alīmun ḥakīm

10. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Manakala perempuan-perempuan yang beriman datang kepada kalian, hijrah meninggalkan ranah kejahatan,10 ujilah mereka, [kendati hanya] Allah yang mengetahui sepenuhnya keyakinan mereka;11 dan jika kemudian kalian telah memastikan bahwa mereka adalah orang-orang yang beriman, janganlah kalian kembalikan mereka kepada para pengingkar kebenaran itu, [karena] mereka tidak [lagi] halal bagi suami-suami mereka yang dahulu,12 dan suami-suami itu pun tidak [lagi] halal bagi mereka. Meskipun demikian, kalian hendaknya mengembalikan kepada mereka segala yang telah mereka belanjakan [sebagai mahar untuk istri-istri mereka];13 dan [kemudian, wahai orang-orang beriman,] kalian tidak akan berdosa jika kalian menikahi mereka setelah memberi mereka mahar mereka.

Di sisi lain, janganlah kalian pertahankan tali perkawinan dengan perempuan-perempuan yang [tetap] mengingkari kebenaran,14 dan mintalah tidak lebih dari [pengembalian] apa pun yang telah kalian belanjakan [sebagai mahar]—seperti halnya mereka [yang istri-istrinya telah berpindah ke pihak kalian] memiliki hak untuk menuntut15 [pengembalian] apa pun yang telah mereka belanjakan.

Demikianlah putusan Allah: Dia memberi putusan di antara kalian [dengan adil]—sebab, Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.


10 Lit., “sebagai orang yang berhijrah” (muhajirat). Untuk penjelasan lebih jauh mengenai terjemahan saya atas istilah di atas, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 203.

11 Berdasarkan Perjanjian Hudaibiyyah, yang disepakati pada 6 H antara kaum Muslim dan kaum pagan Quraisy dari Makkah, setiap orang yang belum dewasa atau orang yang berada dalam perlindungan, yang menyeberang kepada kubu kaum Muslim tanpa izin dari pelindungnya, harus dikembalikan kepada pihak Quraisy (lihat catatan pendahuluan Surah Al-Fath [48]). Dalam pemahaman pihak  Quraisy, ketentuan ini juga mencakup wanita-wanita yang telah menikah, yang mereka anggap berada dalam “perlindungan” suami mereka. Maka, ketika sejumlah perempuan Makkah memeluk Islam tanpa persetujuan suami mereka dan melarikan diri ke Madinah, kaum Quraisy menuntut agar perempuan-perempuan itu dikembalikan secara paksa ke Makkah. Tuntutan ini ditolak Nabi berdasarkan alasan bahwa wanita yang telah menikah tidak termasuk dalam kategori “orang yang berada dalam perlindungan”. Namun, karena selalu terdapat kemungkinan bahwa sebagian dari wanita-wanita itu menyeberang ke kubu kaum Muslim bukan karena alasan keimanan, melainkan semata-mata karena pertimbangan-pertimbangan yang murni bersifat duniawi, kaum beriman diperintahkan untuk memastikan ketulusan mereka; maka, Nabi meminta kepada masing-masing perempuan itu: “Bersumpahlah di hadapan Allah bahwa engkau pergi bukan karena rasa benci terhadap suamimu, atau karena ingin pergi ke negeri lain, atau karena berharap memperoleh keuntungan-keuntungan duniawi: bersumpahlah di hadapan Allah bahwa engkau pergi bukan karena alasan apa pun kecuali atas dasar cinta kepada Allah dan Rasul-Nya” (Al-Thabari). Karena hanya Allah-lah yang mengetahui apa yang sesungguhnya terdapat dalam hati setiap manusia, jawaban positif dari wanita bersangkutan harus dianggap sebagai satu-satunya bukti yang dapat diperoleh manusia—dan, karena itu, secara legal dipandang sebagai bukti yang cukup—mengenai ketulusannya. Fakta bahwa hanya Allah-lah yang benar-benar mengetahui apa yang ada dalam hati manusia dimasukkan ke dalam prinsip syariat bahwa setiap pernyataan beriman dari orang dewasa, tanpa ada bukti yang menunjukkan kebalikannya, mengharuskan umat Muslim untuk menerima orang tersebut—apakah laki-laki ataupun perempuan—sebagai seorang Muslim berdasarkan pernyataan tersebut semata.

12 Lit., “bagi mereka”. Jadi, jika seorang istri memeluk Islam sementara suaminya tetap berada di luar Islam, tali perkawinan mereka, dari sudut pandang Islam, secara otomatis berakhir atau batal.

13 Pembatalan semacam itu harus tunduk pada syarat-syarat yang sama seperti pada khul’ (Yakni, pemutusan tali perkawinan, oleh pihak istri, dari suaminya yang Muslim—lihat catatan no. 218 pada alinea kedua Surah Al-Baqarah [2]: 229): yaitu, karena mantan suami yang non-Muslim itu dipandang tidak menyalahi kewajiban-kewajiban perkawinannya itu sendiri, sang istri dianggap sebagai pihak yang memutuskan ikatan perkawinan dan, karena itu, harus mengembalikan maskawin (mahar) yang dia terima dari suaminya pada waktu akad nikah. Dalam hal sang istri tidak mampu berbuat demikian, umat Muslim wajib mengganti mahar itu kepada sang mantan suami atas nama sang istri: itulah sebabnya, kalimat perintah itu berbentuk jamak: “kalian hendaknya mengembalikan” (lit., “memberikan”).

14 Yakni, istri dari orang-orang yang telah menjadi Muslim yang menolak untuk meninggalkan kepercayaan pagan mereka dan lingkungan non-Muslim mereka; dalam kasus semacam itu, suami yang telah menjadi Muslim itu harus memandang perkawinan mereka tidak sah. Adapun mengenai istri Muslim yang meninggalkan suami mereka dan menyeberang ke kubu orang-orang yang tidak beriman dan menanggalkan keyakinan mereka, lihat ayat 11.

15 Lit., “dan biarkan mereka menuntut …” dan seterusnya.


Surah Al-Mumtahanah Ayat 11

وَإِنْ فَاتَكُمْ شَيْءٌ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ إِلَى الْكُفَّارِ فَعَاقَبْتُمْ فَآتُوا الَّذِينَ ذَهَبَتْ أَزْوَاجُهُمْ مِثْلَ مَا أَنْفَقُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ

wa in fātakum syai`um min azwājikum ilal-kuffāri fa āqabtum fa ātullażīna żahabat azwājuhum miṡla mā anfaqụ, wattaqullāhallażī antum bihī mu`minụn

11. Dan, andaikan ada di antara istri-istri kalian beralih kepada para pengingkar kebenaran itu, dan dengan demikian pada gilirannya kalian juga menderita,16 berikanlah kepada orang-orang yang istrinya telah pergi itu sebanyak yang telah mereka belanjakan [untuk memberi mahar kepada istri mereka],17 dan tetaplah sadar akan Allah, yang kepada-Nya kalian beriman!


16 Lit., “dan dengan demikian kalian mendapat giliran kalian”, yaitu seperti orang-orang kafir yang istri-istri mereka lari menyeberang ke kubu kaum Muslim dan meninggalkan kepercayaan lama mereka.

17 Karena, lazimnya, orang-orang tak beriman tidak dapat benar-benar diharapkan mau memberi ganti rugi untuk suami Muslim yang ditinggalkan istrinya yang kembali ke keyakinan pagan, umat Muslim secara keseluruhan berkewajiban untuk mengambil alih kewajiban ini. Pada kenyataannya, kasus-kasus kemurtadan semacam itu hanya terjadi sebanyak 6 kali pada masa hidup Nabi (seluruhnya terjadi sebelum penaklukan Makkah pada 8 H); dan pada masing-masing kasus, berdasarkan perintah Nabi, suami Muslim mendapatkan ganti rugi yang diambil dari perbendaharaan umat Muslim dengan jumlah yang sepadan dengan mahar yang dulu dia berikan kepada istrinya yang kemudian murtad atau kembali ke keyakinan syirik/pagan (Al-Baghawi dan Al-Zamakhsyari).


Surah Al-Mumtahanah Ayat 12

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَىٰ أَنْ لَا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِينَ وَلَا يَقْتُلْنَ أَوْلَادَهُنَّ وَلَا يَأْتِينَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِينَهُ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ ۙ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

yā ayyuhan-nabiyyu iżā jā`akal-mu`minātu yubāyi’naka ‘alā al lā yusyrikna billāhi syai`aw wa lā yasriqna wa lā yaznīna wa lā yaqtulna aulādahunna wa lā ya`tīna bibuhtāniy yaftarīnahụ baina aidīhinna wa arjulihinna wa lā ya’ṣīnaka fī ma’rụfin fa bāyi’hunna wastagfir lahunnallāh, innallāha gafụrur raḥīm

12. Wahai, Nabi! Manakala perempuan-perempuan yang beriman datang kepadamu untuk mengucapkan sumpah setia kepadamu,18 [bersumpah] bahwa [sejak saat ini] mereka tidak lagi akan menisbahkan ketuhanan, dengan cara apa pun, kepada segala sesuatu selain Allah, tidak akan mencuri,19 tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anak mereka,20 tidak akan memperturutkan diri dalam kabar bohong yang mereka ada-adakan,21 dan tidak akan mendurhakaimu dalam segala sesuatu yang [engkau nyatakan sebagai hal yang] baik—terimalah sumpah setia mereka dan berdoalah kepada Allah agar mengampuni dosa-dosa mereka [yang lalu]: sebab, perhatikanlah, Allah Maha Pengampun, Maha Pemberi Rahmat.


18 Hal ini berhubungan dengan ayat 10, dan khususnya dengan kata-kata “ujilah mereka … dan jika kemudian kalian telah memastikan bahwa mereka adalah orang-orang yang beriman …”, dan seterusnya (Iihat catatan no. 11). Jadi, sesudah “memastikan” keimanan mereka sejauh dimungkinkan dalam batas-batas kemampuan manusia, Nabi—atau, pada masa yang kemudian, pemimpin negara Islam atau umat Muslim—berhak untuk menerima sumpah kesetiaan mereka (bai’ah), yang menandai selesainya, demikianlah kira-kira, “ujian” tersebut. Hendaknya diperhatikan bahwa sumpah kesetiaan ini pada dasarnya tidak berbeda dengan sumpah yang sama yang diucapkan oleh seorang mualaf laki~laki.

19 Dalam konteks ini, menurut Al-Razi, istilah “mencuri” juga mencakup semua perolehan keuntungan melalui penipuan atau cara-cara lain yang tidak halal.

20 Yakni, secara tersirat, “seperti yang sering dilakukan oleh kaum pagan Arab, dengan mengubur hidup-hidup anak-anak perempuan mereka yang tidak dikehendaki” (lihat juga catatan no. 147 pada Surah Al-An’arn [6]: 151).

21 Lit., “di antara tangan-tangan mereka dan kaki-kaki mereka”: yakni, dengan usaha mereka sendiri; “tangan” dan “kaki” menyimbolkan seluruh kegiatan manusia.


Surah Al-Mumtahanah Ayat 13

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ قَدْ يَئِسُوا مِنَ الْآخِرَةِ كَمَا يَئِسَ الْكُفَّارُ مِنْ أَصْحَابِ الْقُبُورِ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā tatawallau qauman gaḍiballāhu ‘alaihim qad ya`isụ minal-ākhirati kamā ya`isal-kuffāru min aṣ-ḥābil-qubụr

13. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Janganlah berkawan dekat dengan orang-orang yang telah Allah murkai!22 Orang-orang [yang hendak berkawan dekat dengan mereka] itu benar-benar telah kehilangan seluruh harapan terhadap kehidupan akhirat23—sama seperti para pengingkar kebenaran itu yang telah kehilangan seluruh harapan [untuk dapat melihat kembali] orang-orang yang [kini] berada di dalam kubur.24


22 Bdk. Surah Al-Mujadalah [58]: 14 dan catatan no. 25 yang terkait, yang menjelaskan penyebutan tentang orang-orang “yang hendak berkawan dekat dengan kaum yang telah Allah murkai”.

23 Yakni, hanya orang-orang yang tidak memiliki keyakinan yang sungguh-sungguh mengenai adanya kehidupan akhiratlah yang dapat tetap bersikap “netral” terhadap kebenaran dan kesalahan.

24 Yakni, karena mereka terang-terangan mengingkari gagasan kebangkitan.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top