67. Al-Mulk (Kekuasaan) – الملك

Surat Al-Mulk dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Mulk ( الملك ) merupakan surat ke 67 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 30 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Al-Mulk tergolong Surat Makkiyah.

Gagasan dasar yang terdapat dalam keseluruhan surah ini adalah ketidakmampuan manusia untuk mengetahui sepenuhnya misteri-misteri alam semesta dengan pengetahuannya yang terbatas pada bumi dan, karena itu, dia sangat bergantung pada petunjuk melalui wahyu Ilahi.

Dikenal terutama dengan kata kunci al-mulk (“kekuasaan”) yang diambil dari ayat pertama, surah ini terkadang dinamakan oleh para Sahabat Nabi sebagai “Yang Memelihara” (Al-Waqiyah) atau “Yang Menyelamatkan” (Al-Munjiyah) karena surah ini dapat menyelamatkan dan memelihara orang yang menghayati pelajaran yang terkandung di dalamnya dari penderitaan di dalam kehidupan akhirat (Al-Zamakhsyari).

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Mulk Ayat 1

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

tabārakallażī biyadihil-mulku wa huwa ‘alā kulli syai`ing qadīr

1. MAHASUCI Dia yang segala kekuasaan berada dalam tangan-Nya, karena Dia berkuasa untuk menghendaki segala sesuatu:


Surah Al-Mulk Ayat 2

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

allażī khalaqal-mauta wal-ḥayāta liyabluwakum ayyukum aḥsanu ‘amalā, wa huwal-‘azīzul-gafụr

2. Dia yang telah menciptakan kematian maupun kehidupan1 agar Dia dapat menguji kalian [dan dengan demikian memperlihatkan] siapa di antara kalian yang paling baik perbuatannya, dan [membuat kalian sadar bahwa] hanya Dia-lah Yang Mahaperkasa, Maha Pengampun.


1 Karena apa yang di istilahkan sebagai “kematian” di sini dinyatakan sebagai sesuatu yang diciptakan, ia tidak dapat diidentikkan dengan “nirwujud” (non-existence), tetapi jelas-jelas pasti memiliki realitas positifnya sendiri. Menurut saya, kata “kematian” di sini mempunyai konotasi, pertama, kondisi keberadaan benda-benda mati yang mendahului kemunculan kehidupan tumbuh-tumbuhan dan makhluk-makhluk hidup; dan, kedua, keadaan transisi dari kehidupan sebagaimana yang kita kenal di dunia ini kepada kondisi keberadaan—yang hingga kini belum terbayangkan bagi kita—yang disebut dalam Al-Quran sebagai “akhirat” atau “kehidupan mendatang” (al-akhirah).


Surah Al-Mulk Ayat 3

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا ۖ مَا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِنْ تَفَاوُتٍ ۖ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِنْ فُطُورٍ

allażī khalaqa sab’a samāwātin ṭibāqā, mā tarā fī khalqir-raḥmāni min tafāwut, farji’il-baṣara hal tarā min fuṭụr

3. [Mahasuci] Dia yang telah menciptakan tujuh langit yang benar-benar serasi satu sama lain:2 engkau tidak akan melihat kekeliruan dalam ciptaan Sang Maha Pengasih. Dan, arahkanlah pandanganmu [kepada ciptaan-Nya] sekali lagi: dapatkah kau lihat adanya cacat?


2 Atau: “sesuai [satu sama lain]”, yang merupakan makna dasar dari kata thibaq (tunggal: thabaq). Mengenai makna tujuh langit, lihat Surah Al-Baqarah [2] catatan no 20.


Surah Al-Mulk Ayat 4

ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ

ṡummarji’il-baṣara karrataini yangqalib ilaikal-baṣaru khāsi`aw wa huwa ḥasīr

4. Ya, arahkanlah pandanganmu [kepada ciptaan-Nya] berkali-kali: [dan setiap kali,] pandanganmu akan kembali kepadamu dalam keadaan terpesona dan benar-benar takluk ….3


3 Secara tersirat, dalam upayanya untuk menyingkap misteri-misteri alam semesta.


Surah Al-Mulk Ayat 5

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ ۖ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ

wa laqad zayyannas-samā`ad-dun-yā bimaṣābīḥa wa ja’alnāhā rujụmal lisy-syayāṭīni wa a’tadnā lahum ‘ażābas-sa’īr

5. Dan, sesungguhnya, telah Kami hiasi langit yang terdekat ke bumi dengan cahaya,4 dan telah Kami jadikan mereka sebagai bahan terkaan yang sia-sia bagi mereka-mereka yang yang jahat [dari kalangan manusia]:5 dan bagi mereka, telah Kami siapkan penderitaan melalui nyala api yang berkobar—


4 Lit., “lampu-lampu”—yakni, bintang-bintang: bdk. Surah Al-Shaffat [37]: 6, “Perhatikanlah, Kami telah menghiasi lelangit yang terdekat dari bumi dengan indahnya bintang-gemintang”.

5 Mengenai makna yang lebih luas dari istilah syayathin—suatu istilah yang dalam konteks ini mengacu secara khusus kepada “setan-setan dari kalangan manusia, yaitu para peramal bintang” (Al-Baidhawi)—lihat Surah Al-Hijr [15], catatan no. 16. Berkenaan dengan istilah rajm (jamak: rujum)—yang secara harfiah berarti “melemparkan (sesuatu] seperti batu”, yakni secara acak—istilah ini sering digunakan sebagai metafora dalam pengertian “berbicara dengan menerka-nerka” atau “menjadikan [sesuatu] sebagai objek duga-duga” (Al-Jauhari, Raghib—yang belakangan ini mengaitkan metafora ini secara eksplisit dengan ayat di atas—Lisan Al-‘Arab, Qamus, Taj Al-‘Arus, dan sebagainya). Bdk. pula Surah Al-Shaffat [37]: 6-10.


Surah Al-Mulk Ayat 6

وَلِلَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

wa lillażīna kafarụ birabbihim ‘ażābu jahannam, wa bi`sal-maṣīr

6. sebab, penderitaan di neraka telah menanti semua orang yang [dengan bersikap demikian telah] berkukuh menghujat Pemelihara mereka:6 dan betapa buruknya akhir perjalanan itu!


6 Yakni, dengan mengira seolah-olah mengetahui apa yang akan terjadi pada masa depan—suatu pengetahuan yang hanya terdapat di sisi Allah semata. Ini berkaitan dengan pernyataan di dalam ayat 4 bahwa manusia tidak pernah dapat benar-benar menyingkap misteri-misteri ruang kosmis (“lelangit”), yang pada gilirannya mengimplikasikan bahwa dia hendaknya tidak mengira dapat meramalkan peristiwa-peristiwa di bumi berdasarkan posisi bintang dan aspek-aspek perbintangan. Karena hanya Allah yang mengetahui “apa yang berada di luar jangkauan persepsi makhluk” (al-ghaib), setiap upaya semacam itu merupakan suatu tindakan penghujatan (kufr).


Surah Al-Mulk Ayat 7

إِذَا أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقًا وَهِيَ تَفُورُ

iżā ulqụ fīhā sami’ụ lahā syahīqaw wa hiya tafụr

7. Tatkala mereka dilemparkan ke dalam [neraka] itu, mereka akan mendengar suara neraka ketika ia mendidih,


Surah Al-Mulk Ayat 8

تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ ۖ كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ

takādu tamayyazu minal-gaīẓ, kullamā ulqiya fīhā faujun sa`alahum khazanatuhā a lam ya`tikum nażīr

8. yang hampir-hampir meledak menumpahkan kemurkaan; [dan] setiap kali sekelompok [orang yang berdosa seperti itu] dilemparkan ke dalamnya, para penjaga neraka akan bertanya kepada mereka, “Tiada pernahkah seorang pemberi peringatan datang kepada kalian?”


Surah Al-Mulk Ayat 9

قَالُوا بَلَىٰ قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ كَبِيرٍ

qālụ balā qad jā`anā nażīrun fa każżabnā wa qulnā mā nazzalallāhu min syai`in in antum illā fī ḍalāling kabīr

9. Mereka akan menjawab, “Ya, seorang pemberi peringatan memang telah datang kepada kami, tetapi kami mendustakannya dan berkata, ‘Tidak pernah Allah menurunkan suatu apa pun [melalui wahyu]! Engkau [yang mengaku sebagai pemberi peringatan] tidak lain hanyalah tenggelam dalam khayalan yang amat besar!’”7


7 Lit., “Kalian tidak lain berada dalam kesalahan yang besar (dhalal)”—dengan demikian, mereka telah mengingkari realitas wahyu Ilahi itu sendiri.


Surah Al-Mulk Ayat 10

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

wa qālụ lau kunnā nasma’u au na’qilu mā kunnā fī aṣ-ḥābis-sa’īr

10. Dan, mereka akan berkata lagi, “Seandainya kami mendengarkan [peringatan-peringatan itu], atau [paling tidak] menggunakan nalar kami, [kini] kami tidak akan termasuk di antara orang-orang yang ditetapkan di neraka yang berkobar-kobar!”8


8 Akal atau nalar, jika digunakan secara tepat, pasti akan menuntun manusia kepada pengakuan tentang keberadaan Allah serta tentang kenyataan bahwa seluruh ciptaan-Nya dilandasi oleh suatu rencana yang jelas. Hal logis yang muncul sekaligus dari pengakuan ini adalah keinsyafan bahwa aspek-aspek tertentu rencana Ilahi yang berhubungan dengan kehidupan manusia—khususnya, pembedaan antara yang benar dan yang salah—terus-menerus disingkapkan kepada manusia melalui sarana wahyu yang Allah berikan kepada para pembawa risalah yang dipilih oleh-Nya, yaitu para nabi. “Ikatandengan Allah” yang bersifat bawaan ini (yang disebut dalam Surah Al-Baqarah [2]: 27 dan dijelaskan dalam catatan no. 19 yang terkait) bisa saja diputuskan, tetapi dengan mengorbankan masa depan ruhani manusia, yakni mengalamipenderitaan di dalam kehidupan akhirat sebagai alternatif yang tak terelakkan.


Surah Al-Mulk Ayat 11

فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ فَسُحْقًا لِأَصْحَابِ السَّعِيرِ

fa’tarafụ biżambihim, fa suḥqal li`aṣ-ḥābis-sa’īr

11. Maka, mereka akan menyadari dosa-dosa mereka: namun, [pada saat itu,] segala kebaikan akan menjadi jauh dari orang-orang yang ditetapkan di neraka yang berkobar-kobar.


Surah Al-Mulk Ayat 12

إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

innallażīna yakhsyauna rabbahum bil-gaibi lahum magfiratuw wa ajrung kabīr

12. [Sebaliknya,] perhatikanlah, bagi mereka yang merasa gentar-terpukau pada Allah meskipun Dia berada di luar jangkauan persepsi mereka,9 tersedia ampunan dan balasan yang besar.


9 Mengenai terjemahan atas ungkapan bi al-ghaib, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 3.


Surah Al-Mulk Ayat 13

وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ ۖ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

wa asirrụ qaulakum awij-harụ bih, innahụ ‘alīmum biżātiṣ-ṣudụr

13. DAN, [ketahuilah, wahai manusia, bahwa] entah kalian merahasiakan atau menyatakan keyakinan kalian10, Dia mengetahui sepenuhnya segala apa yang ada di dalam hati [kalian].11


10 Walaupun makna dasar dari nomina qaul {jamak: aqwal—peny.} adalah “perkataan” atau “ucapan”, kata itu sering digunakan secara kiasan dalam pengertian “pernyataan”, yakni [pernyataan] keyakinan, pendapat, ajaran, doktrin, dan sebagainya. Dalam konteks ayat ini, kata itu jelas berkaitan dengan keyakinan manusia secara umum, baik keyakinan itu bersifat penegasan maupun penyangkalan: karena itu, ungkapan qaulakum saya terjemahkan dalam bentuk jamak menjadi “your beliefs” {yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “keyakinan kalian”—peny.}.

11 Yakni, Dia mengetahui mengapa orang yang satu beriman kepada-Nya dan orang yang lain menolak keyakinan ini; karena itu, Dia memperhitungkan sepenuhnya seluruh motivasi terdalam, kemampuan, serta ketidakmampuan manusia.


Surah Al-Mulk Ayat 14

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

alā ya’lamu man khalaq, wa huwal-laṭīful-khabīr

14. Bagaimana mungkin, Dia yang telah menciptakan [segala sesuatu], tidak mengetahui [semuanya]?12

Ya, Dia sajalah Yang Maha Tak Terduga [dalam hal kebijaksanaan-Nya], Maha Mengetahui!13


12 Lit., “Tidakkah Dia mengetahui, [Dia] yang telah menciptakan?”

13 Lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 89.


Surah Al-Mulk Ayat 15

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

huwallażī ja’ala lakumul-arḍa żalụlan famsyụ fī manākibihā wa kulụ mir rizqih, wa ilaihin-nusyụr

15. Dia-lah yang telah menjadikan bumi mudah untuk didiami:14 maka, bepergianlah ke seluruh penjurunya dan nikmatilah di antara rezeki yang Dia sediakan: namun, [ingatlah selalu bahwa] kepada-Nya-lah kalian akan dibangkitkan kembali.


14 Lit., “[Dia-lah] yang telah menjadikan bumi tunduk (dzalulan) kepada kalian”: yakni, tunduk pada kecerdasan yang telah diberikan Allah kepada manusia.


Surah Al-Mulk Ayat 16

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

a amintum man fis-samā`i ay yakhsifa bikumul-arḍa fa iżā hiya tamụr

16. Dapatkah kalian selamanya merasa aman bahwa Dia, yang berada di langit,15 tidak akan menyebabkan bumi menelan kalian tatkala, lihatlah dan perhatikan, bumi itu mulai berguncang?


15 Ungkapan ini tentu saja bersifat metaforis murni karena sesungguhnya Allah tidak terbatas dalam ruang maupun waktu. Penggunaan ungkapan itu di sini tampaknya untuk menekankan kualitas yang tak terukur dari wujud dan kekuasaan-Nya, yang menembus dan menyingkapkan dirinya sendiri dalam setiap aspek ciptaan kosmis-Nya, yang disimbolkan dengan kata “Iangit”.


Surah Al-Mulk Ayat 17

أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا ۖ فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ

am amintum man fis-samā`i ay yursila ‘alaikum ḥāṣibā, fa sata’lamụna kaifa nażīr

17. Atau, dapatkah kalian selamanya merasa aman bahwa Dia, yang berada di langit, tidak akan membiarkan kalian ditimpa dengan badai yang mematikan,16 kemudian kalian akhirnya akan mengetahui betapa [benarnya] peringatan-Ku dahulu?


16 Lit., “badai yang menerbangkan batu-batu”.


Surah Al-Mulk Ayat 18

وَلَقَدْ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ

wa laqad każżaballażīna ming qablihim fa kaifa kāna nakīr

18. Dan, memang, [banyak di antara] orang-orang yang hidup pada masa lalu17 mendustakan [peringatan-peringatan-ku]: dan betapa mengerikan penolakan-Ku [terhadap mereka]!


17 Lit., “sebelum mereka” (min qablihim). Kata ganti “mereka” ini—sebagamana keseluruhan pasase yang dimulai dengan ayat 13—berbicara tentang orang-orang dari segala zaman, yang di sini dipenngatkan dengan apa yang telah menimpa para pengingkar kebenaran pada masa silam; karena itu, ungkapan min qablihim saya terjemahkan menjadi “masa lalu”.


Surah Al-Mulk Ayat 19

أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَافَّاتٍ وَيَقْبِضْنَ ۚ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا الرَّحْمَٰنُ ۚ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ بَصِيرٌ

a wa lam yarau ilaṭ-ṭairi fauqahum ṣāffātiw wa yaqbiḍn, mā yumsikuhunna illar-raḥmān, innahụ bikulli syai`im baṣīr

19. Maka, tidak pernahkah mereka memperhatikan burung-burung di atas mereka, yang membentangkan dan menarik sayapnya? Tidak ada selain Sang Maha Pengasih yang menopang mereka: sebab, sungguh, Dia Maha Melihat segala sesuatu.


Surah Al-Mulk Ayat 20

أَمَّنْ هَٰذَا الَّذِي هُوَ جُنْدٌ لَكُمْ يَنْصُرُكُمْ مِنْ دُونِ الرَّحْمَٰنِ ۚ إِنِ الْكَافِرُونَ إِلَّا فِي غُرُورٍ

am man hāżallażī huwa jundul lakum yanṣurukum min dụnir-raḥmān, inil-kāfirụna illā fī gurụr

20. [Dan] adakah, selain Sang Maha Pengasih, yang dapat menjadi perisai18 bagi kalian, dan dapat melindungi kalian [dari bahaya]?

Mereka yang mengingkari kebenaran ini tidak lain telah menipu diri mereka sendiri!


18 Lit., “tentara”.


Surah Al-Mulk Ayat 21

أَمَّنْ هَٰذَا الَّذِي يَرْزُقُكُمْ إِنْ أَمْسَكَ رِزْقَهُ ۚ بَلْ لَجُّوا فِي عُتُوٍّ وَنُفُورٍ

am man hāżallażī yarzuqukum in amsaka rizqah, bal lajjụ fī ‘utuwwiw wa nufụr

21. Atau, adakah yang dapat memberi kalian rezeki andaikan Dia menahan rezeki-Nya [dari kalian]?

Tidak, tetapi mereka [yang bersikeras mengingkari kebenaran] berkukuh meremehkan [pesan-pesan Allah] dan melarikan diri secara gegabah [dari-Nya]!


Surah Al-Mulk Ayat 22

أَفَمَنْ يَمْشِي مُكِبًّا عَلَىٰ وَجْهِهِ أَهْدَىٰ أَمَّنْ يَمْشِي سَوِيًّا عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

a fa may yamsyī mukibban ‘alā waj-hihī ahdā am may yamsyī sawiyyan ‘alā ṣirāṭim mustaqīm

22. Namun, apakah orang yang berjalan dengan wajahnya yang hampir menyentuh tanah19 telah memperoleh petunjuk yang lebih baik daripada orang yang berjalan dengan tegak di jalan yang lurus?


19 Lit., “bertelungkup di atas mukanya”—yakni, hanya melihat apa yang langsung berada di bawah kakinya dan benar-benar tidak mengetahui ke mana jalan yang dia tempuh akan membawanya: ini merupakan suatu metafora tentang ketumpulan spiritual (spiritual obtuseness) yang mencegah seseorang memperhatikan segala sesuatu yang melampaui perhatian duniawinya yang bersifat langsung/jangka pendek. Hal itu membuatnya mirip seperti cacing tanah yang “berjalan dengan bertelungkup di atas mukanya”.


Surah Al-Mulk Ayat 23

قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۖ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

qul huwallażī ansya`akum wa ja’ala lakumus-sam’a wal-abṣāra wal-af`idah, qalīlam mā tasykurụn

23. KATAKAN: “[Allah adalah] Dia yang menjadikan kalian [semua] ada, dan telah menganugerahi kalian pendengaran, penglihatan, dan hati:20 [namun,] jarang sekali kalian bersyukur!”


20 Yakni, dengan kemampuan perasaan serta pemikiran rasional.


Surah Al-Mulk Ayat 24

قُلْ هُوَ الَّذِي ذَرَأَكُمْ فِي الْأَرْضِ وَإِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

qul huwallażī żara`akum fil-arḍi wa ilaihi tuḥsyarụn

24. Katakan: “Dia-lah yang telah membuat kalian berkembang biak di muka bumi; dan kepada-Nya-lah kalian akan dikumpulkan [pada Hari Kebangkitan].”


Surah Al-Mulk Ayat 25

وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَٰذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

wa yaqụlụna matā hāżal-wa’du ing kuntum ṣādiqīn

25. Tetapi, mereka [malah hanya] bertanya, “Kapankah janji ini akan dipenuhi? [Jawablah pertanyaan ini, wahai kalian yang percaya dengan janji ini,] jika kalian adalah orang-orang yang benar!”


Surah Al-Mulk Ayat 26

قُلْ إِنَّمَا الْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ وَإِنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُبِينٌ

qul innamal-‘ilmu ‘indallāhi wa innamā ana nażīrum mubīn

26. Katakanlah olehmu [wahai Nabi]: “Pengetahuan mengenai hal itu hanya terdapat di sisi Allah; dan aku hanyalah seorang pemberi peringatan.”


Surah Al-Mulk Ayat 27

فَلَمَّا رَأَوْهُ زُلْفَةً سِيئَتْ وُجُوهُ الَّذِينَ كَفَرُوا وَقِيلَ هَٰذَا الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تَدَّعُونَ

fa lammā ra`auhu zulfatan sī`at wujụhullażīna kafarụ wa qīla hāżallażī kuntum bihī tadda’ụn

27. Namun, pada akhirnya, tatkala mereka melihat [pemenuhan janji] itu hampir tiba, wajah orang-orang yang bersikeras mengingkari kebenaran itu akan ditimpa dengan kesedihan; dan kepada mereka akan dikatakan, “Inilah yang [dengan sikap mengejek] telah kalian minta!”


Surah Al-Mulk Ayat 28

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَهْلَكَنِيَ اللَّهُ وَمَنْ مَعِيَ أَوْ رَحِمَنَا فَمَنْ يُجِيرُ الْكَافِرِينَ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

qul ara`aitum in ahlakaniyallāhu wa mam ma’iya au raḥimanā fa may yujīrul-kāfirīna min ‘ażābin alīm

28. KATAKANLAH [wahai Nabi]: “Bagaimana menurut kalian? Sekiranya Allah menghancurkan aku dan orang-orang yang mengikutiku, atau merahmati kami dengan belas kasih-Nya21—adakah yang dapat melindungi [kalian] para pengingkar kebenaran dari penderitaan yang pedih [di dalam kehidupan akhirat]?”


21 Yakni, “{Terlepas dari} kami berhasil menyebarkan risalah Allah atau tidak, apakah yang akan kalian peroleh, wahai orang-orang yang tak beriman?”


Surah Al-Mulk Ayat 29

قُلْ هُوَ الرَّحْمَٰنُ آمَنَّا بِهِ وَعَلَيْهِ تَوَكَّلْنَا ۖ فَسَتَعْلَمُونَ مَنْ هُوَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

qul huwar-raḥmānu āmannā bihī wa ‘alaihi tawakkalnā, fa sata’lamụna man huwa fī ḍalālim mubīn

29. Katakanlah: “Dia-lah Yang Maha Pengasih: kami telah beriman kepada-Nya, dan kepada-Nya kami telah bersandar penuh percaya*; dan pada waktunya, kalian akan mengetahui siapa di antara kita yang tersesat dalam kesalahan yang nyata.”


* {bertawakal; in Him have we placed our trust}


Surah Al-Mulk Ayat 30

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَاؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَأْتِيكُمْ بِمَاءٍ مَعِينٍ

qul ara`aitum in aṣbaḥa mā`ukum gauran fa may ya`tīkum bimā`im ma’īn

30. Katakanlah [kepada orang-orang yang mengingkari kebenaran]: “Bagaimana menurut kalian? Seandainya secara tiba-tiba seluruh air kalian sirna terserap ke dalam tanah, siapakah [kecuali Allah] yang dapat menyediakan bagi kalian sumber-sumber air [baru] yang tidak tercemar?”22


22 Terlepas dari peringatan lebih jauh tentang kekuasaan Allah dalam menyediakan rezeki atau sarana penghidupan (dan dengan demikian melanjutkan argumen yang telah disinggung dalam ayat 19-21), ayat di atas juga memiliki makna majasi. Seperti halnya air merupakan unsur yang tak tergantikan bagi seluruh kehidupan makhluk hidup, demikian pulalah aliran kesadaran moral yang terus-menerus merupakan prasyarat yang tak tergantikan bagi seluruh kehidupan dan stabilitas ruhani: dan siapakah selain Allah yang dapat memungkinkan manusia untuk memperoleh kembali kesadaran itu setelah seluruh dorongan dari nilai-nilai etika yang lebih tua telah mengering dan “sirna terserap ke dalam tanah”?


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top