58. Al-Mujadalah (Gugatan) – المجادلة

Surat Al-Mujadalah dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Mujadalah ( المجادلة ) merupakan surat ke 58 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 22 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Madinah. Dengan demikian, Surah Al-Mujadilah tergolong Surat Madaniyah.

Surah ini diawali dengan merujuk pada perlakuan-perlakuan zalim terhadap perempuan pada masa-masa sebelum Islam, khususnya metode perceraian masyarakat musyrik yang dikenal sebagai zhihar (lihat catatan no. 1, serta penjelasan lebih lengkap dalam catatan no. 3 dalam Surah Al-Ahzab [33]: 4). Kemudian, dalam ayat-ayat pertama surah ini, Allah melakukan reductio ad absurdum terhadap praktik zhihar {yaitu memperlihatkan bahwa praktik ini dilandasi oleh cara berpikir yang absurd atau bertentangan dengan akal sehat—peny} dan, karena itu, Allah menetapkan larangan atas praktik tersebut. Selanjutnya, surah ini beralih kepada pembahasan mengenai masalah-masalah keimanan dan ketakberimanan serta pengaruhnya terhadap kehidupan sosial manusia, lalu membicarakan masalah kemunafikan, dan diakhiri dengan pembahasan mengenai sikap yang seharusnya diambil oleh orang-orang beriman terhadap orang-orang yang tidak beriman.

Masa pewahyuan surah ini mungkin terjadi pada permulaan tahun 5 H atau, kemungkinan, menjelang akhir tahun 4 H. Judul surah ini didasarkan pada ungkapan “perempuan yang mengajukan gugatan” yang disebut dalam ayat pertamanya.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Mujadalah Ayat 1

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

qad sami’allāhu qaulallatī tujādiluka fī zaujihā wa tasytakī ilallāhi wallāhu yasma’u taḥāwurakumā, innallāha samī’um baṣīr

1. SUNGGUH, Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengajukan gugatan di hadapanmu terhadap suaminya, serta menyampaikan pengaduan kepada Allah.1

Dan, Allah benar-benar mendengar apa yang kalian berdua harus katakan:2 sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.


1 Menurut para mufasir klasik, ayat ini merujuk pada kasus Khaulah (atau Khuwailah) binti Tsa’labah, yang diceraikan oleh suaminya, Aus ibn Al-Shamit, dengan mengucapkan sumpah jahiliah yang sewenang-wenang yang dikenal sebagai zhihar (yang dijelaskan dalam catatan no. 3, Surah Al-Ahzab [33): 4). Ketika Khaulah mengajukan gugatan di hadapan Nabi berkenaan dengan perceraian yang dijatuhkan suaminya—yang menyebabkan Khaulah kehilangan seluruh hak perkawinannya dan, pada saat yang sama, menjadikan dia tidak mungkin menikah kembali—kebiasaan zhihar yang zalim itu dihapus dengan diwahyukannya ayat 2-4 surah ini.

Dengan mempertimbangkan rangkaian ayat ini, dan juga beberapa hadis yang berbicara mengenai masalah yang sama, tidak diragukan bahwa ayat di atas pertama-tama berbicara secara tidak langsung mengenai larangan Allah atas zhihar. Namun, ungkapan “perempuan yang mengajukan gugatan terhadap suaminya” yang sengaja dibiarkan tidak spesifik itu tampaknya mengacu pada semua kasus manakala seorang istri mempunyai alasan untuk mengajukan gugatan melawan suaminya: jadi, tidak hanya mengacu pada gugatan melawan perceraian yang tidak beralasan atau sewenang-wenang, tetapi juga pada tuntutan seorang istri untuk melepaskan diri dari pernikahan yang sudah tidak dapat ditanggungkan lagi. Pemutusan ikatan perkawinan berdasarkan tuntutan pihak istri semacam itu—yang disebut dengan istilah khul’—sepenuhnya didukung oleh syariat berdasarkan Surah Al-Baqarah [2]: 229 dan sejumlah hadis yang sangat sahih. (Mengenai pembahasan yang lebih lengkap mengenai persoalan ini, lihat catatan no. 218 pada alinea kedua Surah Al-Baqarah [2]: 229.)

2 Lit., “(dan Allah] sungguh mendengar perbantahan di antara kalian berdua (tahawurakuma)”, yaitu baik suami maupun istri; karena dengan kebijaksanaan dan keadilan-Nya yang tidak terbatas, Allah mengetahui motivasi-motivasi terdalam dari keduanya. Alternatif penafsiran lainnya—yaitu jika ayat di atas dipahami sebagai ayat yang mengacu secara spesifik kepada kasus Khaulah—adalah: orang kedua yang ditunjukkan oleh akhiran kuma (“kalian berdua”) boleh jadi mengacu kepada Nabi yang, sebelum diwahyukannya surah ini, beranggapan bahwa perceraian melalui zhihar adalah sah dan, karena itu, Nabi berulang-ulang mengatakan kepada Khaulah, “Sekarang engkau memang tidak halal baginya” (Al-Thabari). Pendapat ini kemudian—nyaris seketika itu pula—dibatalkan dengan pelarangan Allah atas zhihar, sebagaimana diungkapkan dalam ayat 2 dan seterusnya.


Surah Al-Mujadalah Ayat 2

الَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْكُمْ مِنْ نِسَائِهِمْ مَا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْ ۖ إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلَّا اللَّائِي وَلَدْنَهُمْ ۚ وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنْكَرًا مِنَ الْقَوْلِ وَزُورًا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ

allażīna yuẓāhirụna mingkum min nisā`ihim mā hunna ummahātihim, in ummahātuhum illal-lā`ī waladnahum, wa innahum layaqụlụna mungkaram minal-qauli wazụrā, wa innallāha la’afuwwun gafụr

2. Adapun orang-orang di antara kalian yang [sejak saat ini] memisahkan diri mereka dari istri mereka dengan mengatakan, “Engkau haram bagiku seperti halnya ibuku,”3 [hendaknya mereka ingat bahwa] istri mereka tidak pernah dapat menjadi [seperti] ibu mereka: tidak seorang pun adalah ibu mereka, kecuali orang-orang yang telah melahirkan mereka: dan dengan demikian, perhatikanlah, mereka tidak lain mengungkapkan perkataan yang bertentangan dengan akal,4 dan [karena itu] keliru.

Namun, perhatikanlah, Allah sungguh Sang Maha Pemaaf atas dosa-dosa, Maha Pengampun:


3 Mengenai penerjemahan eksplanatoris atas verba yuzhahirun dalam bentuk kalimat langsung ini, lihat Surah Al-Ahzab [33], catatan no. 3. Penyisipan kata “sejak saat ini” yang saya lakukan adalah niscaya dengan memperhatikan fakta bahwa tradisi zhihar—dalam pengertiannya sebagai tindak perceraian yang definitif—telah dihapus oleh ayat 2-4 surah ini.

4 Mengenai terjemahan khusus atas istilah munkar ini, lihat Surah An-Nahl [16], catatan no. 109.


Surah Al-Mujadalah Ayat 3

وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ۚ ذَٰلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

wallażīna yuẓāhirụna min nisā`ihim ṡumma ya’ụdụna limā qālụ fa taḥrīru raqabatim ming qabli ay yatamāssā, żālikum tụ’aẓụna bih, wallāhu bimā ta’malụna khabīr

3. karena itu, bagi orang-orang yang memisahkan diri mereka dari istri mereka dengan mengatakan, “Engkau haram bagiku seperti halnya ibuku,” dan setelah itu mereka hendak menarik kembali apa yang telah mereka katakan, hendaknya [mereka bertobat dengan cara] membebaskan seorang manusia dari perbudakan5 sebelum pasangan itu boleh saling menyentuh kembali: [demikian] itulah yang diperintahkan untuk kalian lakukan—sebab, Allah sepenuhnya mengetahui semua yang kalian kerjakan.6


5 Yakni, membebaskan atau membeli kebebasan seorang budak atau tawanan. Pada zaman modern, ketika perbudakan lebih kurang sudah tidak ada lagi, menurut saya konsep tahrir raqabah dapat diperluas secara absah hingga mencakup upaya pembebasan seorang manusia dari belenggu utang atau dari keadaan yang sangat miskin.

6 Bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 225—”Allah tidak akan menghukum kalian karena sumpah-sumpah yang kalian ucapkan tanpa sadar, tetapi [hanya] akan menghukum kalian atas apa yang diniatkan oleh hati kalian [dengan sungguh-sungguh]”.


Surah Al-Mujadalah Ayat 4

فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ۖ فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا ۚ ذَٰلِكَ لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ ۗ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

fa mal lam yajid fa ṣiyāmu syahraini mutatābi’aini ming qabli ay yatamāssā, fa mal lam yastaṭi’ fa iṭ’āmu sittīna miskīnā, żālika litu`minụ billāhi wa rasụlih, wa tilka ḥudụdullāh, wa lil-kāfirīna ‘ażābun alīm

4. Akan tetapi, siapa yang tidak mendapati apa yang dibutuhkan, maka [sebagai gantinya] hendaknya dia berpuasa selama dua bulan berturut-turut7 sebelum pasangan itu boleh saling menyentuh kembali; dan siapa yang tidak mampu melakukan itu, maka hendaknya dia memberi makan enam puluh orang miskin:8 demikianlah, supaya kalian dapat membuktikan keimanan kalian kepada Allah dan Rasul-Nya.9

Dan, inilah batasan-batasan yang ditetapkan oleh Allah; dan derita yang pedih [di dalam kehidupan akhirat] menanti semua orang yang mengingkari kebenaran.


7 Yaitu, dengan cara seperti yang ditetapkan untuk berpuasa pada bulan Ramadhan (lihat Surah Al-Baqarah [2]: 183-187). Berkaitan dengan frasa “siapa yang tidak mendapati apa yang dibutuhkan” {lam yajid; lit., “siapa yang tidak mendapati atau menemukan”—peny.}, maksudnya bisa jadi menunjukkan ketidakmampuan finansial {yaitu orang bersangkutan tidak memiliki cukup uang untuk dapat membebaskan seorang budak—peny.} atau suatu keadaan di mana mustahil untuk menemukan orang yang dapat dibebaskan dari belenggu dalam pengertian yang sesungguhnya maupun yang bersifat kiasan (lihat catatan no. 5 di atas). Menurut banyak ulama Islam masa kini (misalnya, Rasyid Ridha, ketika menafsirkan Surah An-Nisa’ [4]: 92), ungkapan tersebut pertama-tama berkaitan dengan kondisi di mana “perbudakan seharusnya sudah dihapus, sesuai dengan tujuan Islam” (Al-Manar V, h. 337).

8 Atau, alternatifnya, [memberi makan] satu orang fakir miskin selama enam puluh hari. Ketidakmampuan melaksanakan puasa selama dua bulan berturut-turut mungkin disebabkan oleh kesehatan yang buruk atau karena situasi-situasi eksternal yang benar-benar memaksa (misalnya, kebutuhan untuk melakukan kerja yang menuntut kekuatan serta kesiapan fisik dan/atau mental yang sangat besar).

9 Secara tersirat, “dengan menunjukkan bahwa kalian telah meninggalkan praktik-praktik Zaman Jahiliah” (Al-Razi). Jadi, pernyataan zhihar tidak dapat dianggap sebagai talak, seperti yang terjadi pada masa sebelum Islam, melainkan hanya dipandang sebagai perbuatan tercela yang harus ditebus dengan pengorbanan tertentu.


Surah Al-Mujadalah Ayat 5

إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ كُبِتُوا كَمَا كُبِتَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ وَقَدْ أَنْزَلْنَا آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ ۚ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُهِينٌ

innallażīna yuḥāddụnallāha wa rasụlahụ kubitụ kamā kubitallażīna ming qablihim wa qad anzalnā āyātim bayyināt, wa lil-kāfirīna ‘ażābum muhīn

5. Sungguh, orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya pasti akan direndahkan, sebagaimana [orang-orang zalim] yang hidup sebelum mereka telah direndahkan setelah Kami turunkan [kepada mereka] pesan-pesan yang jelas.10

Dan [demikianlah], bagi orang-orang yang mengingkari kebenaran, tersedia penderitaan yang hina


10 Yakni, secara tersirat, “[pesan-pesan] yang mereka sengaja abaikan”. Dengan demikian, setelah dimulai dari hal yang khusus menuju hal yang umum, pasase ini kemudian mengaitkan pembahasannya dengan rujukan terhadap “semua orang yang mengingkari kebenaran”, yaitu [mengingkari] wahyu Ilahi, yang disebut di akhir ayat 4.


Surah Al-Mujadalah Ayat 6

يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا ۚ أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

yauma yab’aṡuhumullāhu jamī’an fa yunabbi`uhum bimā ‘amilụ, aḥṣāhullāhu wa nasụh, wallāhu ‘alā kulli syai`in syahīd

6. pada Hari ketika Allah akan membangkitkan mereka semua dari kematian dan akan membuat mereka benar-benar memahami apa yang telah mereka lakukan [di dalam kehidupan ini]: Allah akan memperhitungkan [seluruh] perbuatan itu, meskipun mereka [sendiri] mungkin telah melupakannya—sebab, Allah adalah saksi atas segala sesuatu.


Surah Al-Mujadalah Ayat 7

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ۖ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

a lam tara annallāha ya’lamu mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, mā yakụnu min najwā ṡalāṡatin illā huwa rābi’uhum wa lā khamsatin illā huwa sādisuhum wa lā adnā min żālika wa lā akṡara illā huwa ma’ahum aina mā kānụ, ṡumma yunabbi`uhum bimā ‘amilụ yaumal-qiyāmah, innallāha bikulli syai`in ‘alīm

7. TIDAKKAH ENGKAU perhatikan bahwa Allah mengetahui segala yang ada di lelangit dan segala yang ada di bumi?

Tidak akan pernah ada pembicaraan rahasia di antara tiga orang kecuali Dia menjadi yang keempat di antara mereka, dan tidak pula di antara lima orang kecuali Dia menjadi yang keenam di antara mereka, dan tidak pula di antara (jumlah) yang kurang atau lebih banyak dari itu, kecuali Dia bersama mereka di mana pun mereka berada. Namun akhirnya, pada Hari Kebangkitan, Dia akan membuat mereka benar-benar memahami apa yang telah mereka lakukan: sebab, sungguh, Allah memiliki pengetahuan yang sempurna atas segala sesuatu.


Surah Al-Mujadalah Ayat 8

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نُهُوا عَنِ النَّجْوَىٰ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَيَتَنَاجَوْنَ بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَتِ الرَّسُولِ وَإِذَا جَاءُوكَ حَيَّوْكَ بِمَا لَمْ يُحَيِّكَ بِهِ اللَّهُ وَيَقُولُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ لَوْلَا يُعَذِّبُنَا اللَّهُ بِمَا نَقُولُ ۚ حَسْبُهُمْ جَهَنَّمُ يَصْلَوْنَهَا ۖ فَبِئْسَ الْمَصِيرُ

a lam tara ilallażīna nuhụ ‘anin-najwā ṡumma ya’ụdụna limā nuhụ ‘an-hu wa yatanājauna bil-iṡmi wal-‘udwāni wa ma’ṣiyatir-rasụli wa iżā jā`ụka ḥayyauka bimā lam yuḥayyika bihillāhu wa yaqụlụna fī anfusihim lau lā yu’ażżibunallāhu bimā naqụl, ḥasbuhum jahannam, yaṣlaunahā, fa bi`sal-maṣīr

8. Tidakkah engkau perhatikan orang-orang yang telah dilarang [merencanakan tipu muslihat melalui] pembicaraan rahasia,11 tetapi mereka [selalu] kembali mengerjakan apa yang dilarang itu, dan bersekongkol satu sama lain dengan tujuan untuk melakukan perbuatan-perbuatan dosa, sikap bermusuhan, dan pembangkangan terhadap Rasul Allah?12

Kini, setiap kali [orang-orang] semacam ini mendekatimu [wahai Muhammad],13 mereka memberi salam kepadamu dengan ucapan yang tidak pernah Allah perkenankan;14 dan mereka berkata kepada diri mereka sendiri, “Mengapa Allah tidak menyiksa kami karena apa yang kami katakan?”15

Neraka akan menjadi balasan bagi mereka: mereka [benar-benar] akan memasukinya—dan betapa buruknya akhir perjalanan itu!


11 Larangan yang disebut di sini berasal dari pernyataan Al-Quran, “Biasanya, tiada kebaikan pada pembicaraan-pembicaraan rahasia—kecuali yang dilakukan untuk menyuruh memberi sedekah, melakukan hal-hal yang makruf, atau mengadakan perbaikan di antara manusia” (lihat Surah An-Nisa’ [4]: 114 dan catatan terkait no. 138). Meskipun tidak dapat dibantah, sebagaimana ditunjukkan oleh para mufasir klasik, bahwa “pembicaraan-pembicaraan rahasia” yang dibicarakan di dalam ayat ini berhubungan dengan tipu-muslihat sebagian orang yang tidak beriman yang ditujukan untuk melawan Nabi dan para pengikut beliau, tidak diragukan pula bahwa ayat ini mengandung pengertian yang bersifat umum dan, karena itu, berlaku sepanjang zaman.

12 Dalam pengertian yang lebih luas, yakni pembangkangan terhadap ajaran-ajaran moral Rasul Allah.

13 Ungkapan “mendekati” Nabi di sini memiliki dua makna: secara harfiah, mengacu kepada tindakan orang-orang tidak beriman yang hidup sezaman dengan Nabi ketika mereka menghampiri beliau; dan secara kiasan mengacu kepada “pendekatan” intelektual terhadap pribadi beliau dan ajaran-ajarannya oleh para kritikus yang memiliki sikap bermusuhan pada masa-masa kemudian. Komentar yang sama juga dapat dibenarkan menyangkut anak kalimat berikutnya.

14 Lit., “yang dengannya Allah tidak pernah memberi hormat padamu.” Secara historis, hal ini mengacu secara tidak langsung kepada sikap bermusuhan yang ditunjukkan oleh kaum Yahudi di Madinah terhadap Nabi. Diriwayatkan bahwa alih-alih melafalkan salam yang lazim diucapkan ketika bertemu dengan beliau, yaitu dengan ungkapan “Semoga kedamaian terlimpah atas dirimu”, sebagian dari mereka biasanya menggumamkan pengucapan kata salam (“kedamaian”) dengan cara sedemikian rupa sehingga membuat kata itu tidak dapat dibedakan dari kata sam (“kematian”); dan mereka juga menggunakan permainan kata-kata yang sama tidak senonohnya terhadap para Sahabat Nabi. (Hadis-hadis yang relevan dikutip secara lengkap, dengan menunjukkan sumber-sumbernya, oleh Al-Thabari dan Ibn Katsir dalam penafsiran mereka terhadap ayat di atas.) Namun, lihat juga catatan sebelumnya.

15 Secara tersirat, “jika Muhammad benar-benar seorang nabi”.


Surah Al-Mujadalah Ayat 9

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَنَاجَيْتُمْ فَلَا تَتَنَاجَوْا بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَتِ الرَّسُولِ وَتَنَاجَوْا بِالْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

yā ayyuhallażīna āmanū iżā tanājaitum fa lā tatanājau bil-iṡmi wal-‘udwāni wa ma’ṣiyatir-rasụli wa tanājau bil-birri wat-taqwā, wattaqullāhallażī ilaihi tuḥsyarụn

9. [Oleh karenanya,] wahai orang-orang yang telah meraih iman, apabila kalian memang mengadakan pembicaraan-pembicaraan rahasia, janganlah kalian bersekongkol satu sama lain dengan tujuan untuk melakukan perbuatan-perbuatan dosa, sikap bermusuhan, serta pembangkangan terhadap Rasul,16 tetapi [lebih baik] berembuklah demi kebaikan dan demi kesadaran akan Allah: dan tetaplah [selalu] sadar akan Allah, yang kepada-Nya kalian semua akan dikumpulkan.


16 Lihat catatan no. 12.


Surah Al-Mujadalah Ayat 10

إِنَّمَا النَّجْوَىٰ مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيْسَ بِضَارِّهِمْ شَيْئًا إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

innaman-najwā minasy-syaiṭāni liyaḥzunallażīna āmanụ wa laisa biḍārrihim syai`an illā bi`iżnillāh, wa ‘alallāhi falyatawakkalil-mu`minụn

10. [Semua jenis] pembicaraan-pembicaraan rahasia [lainnya] tidak lain adalah dari perbuatan setan, supaya dia dapat menyebabkan kesedihan bagi orang-orang yang telah meraih iman; tetapi setan tidak dapat mendatangkan bahaya sedikit pun bagi mereka, kecuali dengan izin Allah:17 maka, kepada Allah-lah hendaknya orang-orang beriman itu bersandar penuh percaya!


17 Yakni, kekuatan jahat yang dilambangkan dengan konsep “setan” itu, pada dan oleh dirinya semata, tidak memiliki kekuasaan apa pun: bdk. Surah Ibrahim [14]: 22—”aku sama sekali tidak mempunyai kekuasaan terhadap kalian: aku hanya menyeru kalian—dan kalian menanggapiku. Karena itu, janganlah kalian menyalahkan aku, tetapi salahkanlah diri kalian sendiri”. (Lihat juga pandangan Al-Razi yang dikutip dalam catatan no. 31 berkenaan dengan ayat yang disebutkan di atas.) Mengenai persoalan tindakan Allah dalam “membiarkan” atau “mengizinkan” seseorang tersesat (yang tersirat dalam frasa “kecuali dengan izin Allah”), lihat catatan no. 4 pada Surah Ibrahim [14]: 4.


Surah Al-Mujadalah Ayat 11

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

yā ayyuhallażīna āmanū iżā qīla lakum tafassaḥụ fil-majālisi fafsaḥụ yafsaḥillāhu lakum, wa iżā qīlansyuzụ fansyuzụ yarfa’illāhullażīna āmanụ mingkum wallażīna ụtul-‘ilma darajāt, wallāhu bimā ta’malụna khabīr

11. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Apabila dikatakan kepada kalian, “Hendaklah kalian saling melapangkan dalam kehidupan bersama kalian,”18 hendaklah kalian saling melapangkan: [dan sebagai balasannya,] niscaya Allah akan melapangkan kalian [dengan Rahmat-Nya].19

Dan, apabila dikatakan kepada kalian, “Bangkitlah [untuk melakukan kebaikan],” maka bangkitlah;20 [dan] Allah akan meninggikan [dengan sekian banyak] derajat orang-orang yang telah meraih iman di antara kalian dan, [terutama sekali,] orang-orang yang telah diberikan pengetahuan [sejati]:21 sebab, Allah sepenuhnya mengetahui semua yang kalian lakukan.


18 Lit., “di dalam pertemuan-pertemuan (al-majalis)”. Meskipun sering kali diasumsikan bahwa ayat ini merujuk pada pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan oleh Nabi ketika para pengikut Nabi berkerumun mengelilingi beliau karena ingin dapat mendengarkan dengan lebih baik apa yang beliau katakan, atau—secara lebih umum—di dalam pertemuan di masjid-masjid dan sebagainya pada masa-masa kemudian, saya (sejalan dengan Al-Razi) berpendapat bahwa nomina jamak majalis digunakan di sini dalam pengertian kiasan atau metaforis, yang berarti totalitas kehidupan sosial manusia. Jika dipahami dalam pengertian ini, “saling melapangkan” mengandung makna upaya saling memberi kesempatan demi tercapainya kehidupan yang layak bagi seluruh anggota masyarakat, terutama bagi orang miskin atau cacat. Lihat juga catatan berikutnya.

19 Ketika menafsirkan ayat ini, Al-Razi mengatakan, “Ayat ini menunjukkan bahwa jika seseorang melapangkan sarana-sarana (abwab) kebahagiaan dan kesejahteraan bagi hamba-hamba Allah (‘ibad), Allah akan melapangkan baginya seluruh kebaikan di dalam kehidupan ini dan di dalam kehidupan yang akan datang. Karena itu, tidak akan ada orang berakal (al-‘aqil) yang dapat membatasi [maksud] ayat ini sekadar [berarti] saling melapangkan satu sama lain dalam suatu pertemuan [dalam makna harfiah kata tersebut].”

20 Penafsiran yang tersirat di dalam ungkapan “untuk melakukan kebaikan” yang saya sisipkan di atas sejalan dengan penafsiran yang diberikan oleh sebagian besar mufasir klasik, dan yang paling tegas oleh Al-Thabari; dalam ungkapan Qatadah (ibid.), “Apabila kalian diseru untuk melakukan perbuatan baik, penuhilah seruan itu.”

21 Bdk. sabda Nabi: “Keunggulan orang terpelajar (‘alim) di atas orang yang [sekadar] beribadah (‘abid) adalah seperti keunggulan bulan pada waktu malam purnama atas seluruh bintang” (Ibn Hanbal, Abu Dawud, Al-Tirmidzi, Ibn Majah, dan Al-Darimi).


Surah Al-Mujadalah Ayat 12

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نَاجَيْتُمُ الرَّسُولَ فَقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيْ نَجْوَاكُمْ صَدَقَةً ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ لَكُمْ وَأَطْهَرُ ۚ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

yā ayyuhallażīna āmanū iżā nājaitumur-rasụla fa qaddimụ baina yadai najwākum ṣadaqah, żālika khairul lakum wa aṭ-har, fa il lam tajidụ fa innallāha gafụrur raḥīm

12. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Apabila kalian [bermaksud untuk] konsultasi dengan Rasul, hendaklah kalian memberikan sesuatu sebagai sedekah pada saat kalian melakukan konsultasi:22 ini adalah demi kebaikan kalian sendiri, dan lebih mendukung bagi kesucian [batin] kalian. Namun, jika kalian tidak mampu melakukannya,23 [ketahuilah bahwa,] sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Pemberi Rahmat.


22 Seruan untuk mengeluarkan sedekah pada setiap kali (baina yadai) seseorang melakukan “konsultasi” dengan Rasul Allah telah banyak disalahpahami, yakni dianggap hanya perlu diterapkan pada konsultasi-konsultasi tatap muka dengan beliau secara faktual, yaitu pada masa hidup Nabi, yang tampaknya dimaksudkan untuk mengurangi tindakan-tindakan yang melampaui batas oleh sebagian pengikut beliau yang terlalu bersemangat sehingga banyak memakan waktu Nabi. Kesalahpahaman ini, beserta dispensasi terbatas {rukhshah—peny.} dari perintah di atas yang diungkapkan di dalam ayat berikutnya, telah menimbulkan perselisihan yang tidak berdasar di kalangan sebagian mufasir, yakni bahwa perintah itu telah “dibatalkan” (mansukh). Namun, terlepas dari fakta bahwa teori “pembatalan” (nasakh) itu sendiri sama sekali tidak dapat dipertahankan (Iihat Surah Al-Baqarah [2]: 106 dan catatan no. 87 yang terkait), ayat di atas akan menyingkapkan maknanya yang sebenarnya segera setelah kita menyadari bahwa istilah “Utusan” atau “Rasul” (Al-RasuI) digunakan dalam Al-Quran bukan hanya untuk mengacu kepada pribadi Nabi Muhammad Saw. yang unik, melainkan juga merujuk kepada keseluruhan ajaran yang disampaikan oleh beliau kepada dunia. Hal ini terlihat jelas dari banyak peringatan Al-Quran, “Taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya” dan, secara lebih spesifik (dalam Surah An-Nisa’ [4]: 59), “jika kalian berlainan pendapat tentang hal apa pun, kembalikanlah ia kepada Allah [yakni, Al-Quran] dan Rasul [yakni, Sunnah beliau]”, yang mana Sunnah itu tidak lain dimaksudkan sebagai penjelasan atas Al-Quran. Jika dipahami dalam pengertian ini, penyebutan “konsultasi dengan Rasul” di atas jelas tidak hanya berlaku pada pribadi Nabi dan orang-orang yang sezaman dengannya, tetapi juga pada ajaran-ajaran beliau secara umum dan pada orang-orang beriman sepanjang zaman dan keadaan. Dengan kata lain, setiap orang beriman diperintahkan untuk “memberikan sesuatu sebagai sedekah”—baik berbentuk sedekah materiel kepada orang miskin, atau menyampaikan pengetahuan kepada orang yang mungkin membutuhkan pencerahan, atau bahkan sekadar berupa perkataan yang baik kepada manusia yang lemah—apabila dia berkehendak “menenggelamkan” dirinya untuk mengkaji ajaran-ajaran Rasul atau, sebagaimana ungkapan Al-Quran, untuk “berkonsultasi” dengan Nabi yang menyampaikan ketentuan atau wahyu Ilahi kepada kita.

23 Lit., “jika kalian tidak menemukan”, yaitu [menemukan] seseorang untuk diberi sedekah pada saat khusus itu, atau—karena alasan apa pun—tidak memiliki kesempatan untuk melakukannya.


Surah Al-Mujadalah Ayat 13

أَأَشْفَقْتُمْ أَنْ تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيْ نَجْوَاكُمْ صَدَقَاتٍ ۚ فَإِذْ لَمْ تَفْعَلُوا وَتَابَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

a asyfaqtum an tuqaddimụ baina yadai najwākum ṣadaqāt, fa iż lam taf’alụ wa tāballāhu ‘alaikum fa aqīmuṣ-ṣalāta wa ātuz-zakāta wa aṭī’ullāha wa rasụlah, wallāhu khabīrum bimā ta’malụn

13. Apakah kalian, mungkin, merasa takut kalau-kalau [kalian akan berdosa jika] tidak dapat memberikan apa pun sebagai sedekah pada saat kalian berkonsultasi [dengan Rasul]? Namun, jika kalian tidak dapat melakukannya [karena tiadanya kesempatan], dan Allah berpaling kepada kalian dalam belas kasih-Nya, berteguhlah mendirikan shalat dan tunaikanlah zakat [saja],24 dan [kemudian] taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya: sebab, Allah sepenuhnya mengetahui segala yang kalian lakukan.


24 Yaitu, pajak yang bersifat wajib {zakah; dalam teks asalnya: the purifying dues, iuran yang menyucikan—peny.}, yang dimaksudkan untuk membersihkan harta benda dan penghasilan seorang Mukmin dari noda-noda sikap mementingkan diri sendiri: menyiratkan bahwa ketidakmampuan seseorang untuk berbuat lebih banyak dengan melakukan sedekah bukanlah merupakan dosa.


Surah Al-Mujadalah Ayat 14

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ تَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مَا هُمْ مِنْكُمْ وَلَا مِنْهُمْ وَيَحْلِفُونَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

a lam tara ilallażīna tawallau qauman gaḍiballāhu ‘alaihim, mā hum mingkum wa lā min-hum wa yaḥlifụna ‘alal-każibi wa hum ya’lamụn

14. TIDAKKAH ENGKAU perhatikan orang-orang yang hendak berkawan dekat dengan kaum yang telah Allah murkai?25 Mereka bukanlah dari (golongan) kalian [wahai orang-orang beriman], juga bukan dari (golongan) mereka [yang jelas-jelas menolak kebenaran]: dan demikianlah mereka bersumpah untuk suatu kebohongan, padahal mereka mengetahui [bahwa hal itu adalah bohong].


25 Mengenai makna “murka Allah”, Iihat catatan no. 4 pada ayat terakhir Surah Al-Fatihah [1]. Dalam konteks khusus ini, orang-orang “yang hendak berkawan dekat dengan kaum yang telah Allah murkai” adaiah orang-orang yang bersikap setengah-hati, yang di satu sisi dapat menerima, secara tidak tegas, kebenaran tentang eksistensi Allah dan bahwa Allah mengungkapkan Diri-Nya {melalui wahyu}, tetapi di sisi lain tidak bersedia menundukkan diri mereka sendiri kepada kebenaran ini karena takut bahwa hal itu akan menjadikan mereka terasing dari lingkungan mereka yang mengingkari Allah dan, dengan demikian, mereka akan kehilangan apa yang mereka anggap sebagai keuntungan-keuntungan materiel dari kehidupan yang tidak memiliki ikatan ruhani: kepalsuan moral inilah yang dirujuk oleh kalimat terakhir ayat ini. (Lihat juga ayat terakhir Surah Al-Mumtahanah [60].)


Surah Al-Mujadalah Ayat 15

أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا ۖ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

a’addallāhu lahum ‘ażāban syadīdā, innahum sā`a mā kānụ ya’malụn

15. Allah telah menyiapkan bagi mereka penderitaan yang sangat pedih [dalam kehidupan akhirat]. Perhatikanlah, sungguh buruk apa yang biasa mereka lakukan:


Surah Al-Mujadalah Ayat 16

اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ فَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

ittakhażū aimānahum junnatan fa ṣaddụ ‘an sabīlillāhi fa lahum ‘ażābum muhīn

16. mereka telah menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai [bagi kebohongan mereka] dan, dengan demikian, mereka memalingkan orang lain dari jalan Allah:26 karena itu, penderitaan yang hina menanti mereka.


26 Yakni, dengan menebarkan keraguan ke dalam hati orang lain.


Surah Al-Mujadalah Ayat 17

لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ۚ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

lan tugniya ‘an-hum amwāluhum wa lā aulāduhum minallāhi syai`ā, ulā`ika aṣ-ḥābun-nār, hum fīhā khālidụn

17. Baik harta benda maupun keturunan mereka, sedikit pun tidak akan berguna bagi mereka dalam menghadapi Allah: mereka itulah orang-orang yang ditetapkan di neraka, berkediaman di dalamnya!


Surah Al-Mujadalah Ayat 18

يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعًا فَيَحْلِفُونَ لَهُ كَمَا يَحْلِفُونَ لَكُمْ ۖ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ عَلَىٰ شَيْءٍ ۚ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْكَاذِبُونَ

yauma yab’aṡuhumullāhu jamī’an fa yaḥlifụna lahụ kamā yaḥlifụna lakum wa yaḥsabụna annahum ‘alā syaī`, alā innahum humul-kāżibụn

18. Pada Hari ketika Allah akan membangkitkan mereka semua dari kematian, mereka akan bersumpah di hadapan Dia, seperti mereka [kini] bersumpah di hadapan kalian, (karena) mengira bahwa mereka berada di atas landasan [asumsi-asumsi mereka] yang kukuh.27

Oh, sungguh mereka, mereka itulah para pembohong [terbesar]!28


27 Yakni, bahwa pilihan mereka terhadap keuntungan-keuntungan duniawi ketimbang komitmen spiritual adalah “masuk akal” dan, karena itu, dapat “dibenarkan” secara moral. Tindak penipuan diri yang sangat mencolok inilah yang dirujuk oleh kalimat berikutnya.

28 Kata sandang definitif al yang mengawali nomina pelaku kadzibun menunjukkan bahwa orang-orang yang dicirikan seperti itu telah mencapai tingkat penipuan diri yang tertinggi; karena itu, saya menggunakan sisipan kata sifat “terbesar”, sesuai dengan penafsiran Al-Zamakhsyati terhadap frasa di atas.


Surah Al-Mujadalah Ayat 19

اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ

istaḥważa ‘alaihimusy-syaiṭānu fa ansāhum żikrallāh, ulā`ika ḥizbusy-syaiṭān, alā inna ḥizbasy-syaiṭāni humul-khāsirụn

19. Setan telah menguasai mereka dan telah menyebabkan mereka tetap lupa untuk mengingat Allah.

Orang-orang semacam itu adalah para pengikut setan: Oh, sungguh merekalah, para pengikut setan itu, yang benar-benar akan menjadi orang-orang yang merugi!


Surah Al-Mujadalah Ayat 20

إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَٰئِكَ فِي الْأَذَلِّينَ

innallażīna yuḥāddụnallāha wa rasụlahū ulā`ika fil-ażallīn

20. Sungguh, orang-orang yang melawan Allah dan Rasul-Nya—mereka itulah yang [pada Hari Pengadilan] akan mendapati diri mereka di antara orang-orang yang paling hina.


Surah Al-Mujadalah Ayat 21

كَتَبَ اللَّهُ لَأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي ۚ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

kataballāhu la`aglibanna ana wa rusulī, innallāha qawiyyun ‘azīz

21. [Karena] Allah telah menetapkan [demikian]: “Aku pasti akan menang, Aku dan para Rasul-Ku!”

Sungguh, Allah Mahadigdaya, Mahaperkasa!


Surah Al-Mujadalah Ayat 22

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ أُولَٰئِكَ حِزْبُ اللَّهِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

lā tajidu qaumay yu`minụna billāhi wal-yaumil-ākhiri yuwāddụna man ḥāddallāha wa rasụlahụ walau kānū ābā`ahum au abnā`ahum au ikhwānahum au ‘asyīratahum, ulā`ika kataba fī qulụbihimul-īmāna wa ayyadahum birụḥim min-h, wa yudkhiluhum jannātin tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā, raḍiyallāhu ‘an-hum wa raḍụ ‘an-h, ulā`ika ḥizbullāh, alā inna ḥizballāhi humul-mufliḥụn

22. Engkau tidak bisa mendapati kaum yang [benar-benar] beriman kepada Allah dan kepada Hari Akhir dan [pada saat yang sama] mencintai siapa pun yang melawan Allah dan Rasul-Nya—sekalipun itu adalah bapak-bapak mereka, atau putra-putra mereka, atau saudara-saudara mereka, atau keluarga mereka [yang lain].29

[Adapun orang-orang beriman yang sejati,] merekalah yang di dalam hatinya telah Allah tanamkan keimanan, dan yang telah Allah perkuat dengan ilham dari Diri-Nya sendiri,30 dan yang [pada waktunya] akan Dia izinkan untuk memasuki taman-taman yang dilalui aliran sungai-sungai, berkediaman di dalamnya. Allah merasa amat senang dengan mereka dan mereka pun merasa amat senang dengan-Nya. Mereka itulah para pengikut Allah: Oh, sungguh, mereka itulah, para pengikut Allah itu, yang akan meraih kebahagiaan.


29 Frasa operatif dari ayat ini terkandung dalam kata-kata, “siapa pun yang melawan (man hadda) Allah dan Rasul-Nya”: yakni, siapa pun yang terlibat dalam permusuhan aktif melawan risalah Allah dan pribadi atau ajaran-ajaran Rasul-Nya. Perihal hubungan dengan orang-orang tidak beriman yang tidak secara aktif memusuhi Islam, Al-Quran secara tegas mengizinkan dan secara tersirat memerintahkan di banyak tempat (misalnya, dalam Surah Al-Mumtahanah [60]: 8-9) agar kaum Muslim berbuat baik dan bersikap bersahabat dengan mereka.

30 Mengenai terjemahan saya atas kata ruh menjadi “ilham” (inspiration) atau, kadang-kadang, menjadi “ilham Ilahi” (divine inspiration), lihat catatan no. 2 pada Surah An-Nahl [16]: 2. Sebagaimana ditunjukkan oleh Al-Zamakhsyari, akhiran kata ganti hu pada kata minhu bisa mengacu kepada Allah—seperti dalam terjemahan saya—atau mengacu kepada keyakinan orang-orang beriman, yang dalam kasus belakangan ini frasa tersebut dapat diterjemahkan menjadi: “diperkuat dengan ilham [yang b·erasal] darinya {yakni dari keyakinan orang beriman—peny.}”.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top