74. Al-Mudatsir (Yang Berselimut) – المدثر

Surat Al-Mudatsir dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Mudatsir ( المدثر ) merupakan surat ke 74 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 56 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Al-Muddassir tergolong Surat Makkiyah.

Setelah turunnya wahyu yang paling awal—yang terdiri atas lima ayat pertama Surah Al-‘Alaq [96]—datanglah suatu periode tanpa ada wahyu sama sekali yang diterima oleh Nabi. Lamanya jeda pewahyuan (fatrah al-wahy) ini tidak dapat ditetapkan dengan pasti, bisa jadi sedikitnya enam bulan atau paling lama tiga tahun. Periode ini merupakan masa-masa paling sulit bagi Nabi: tiadanya wahyu tersebut nyaris mendorongnya berkeyakinan bahwa pengalaman terdahulunya di gua Gunung Hira’ adalah sebuah ilusi; dan hanya karena dukungan moral istrinyalah, (yakni Khadijah), serta karena keyakinannya yang tidak tergoyahkan akan misi kenabian suaminya, maka Nabi tidak kehilangan keteguhan dan harapannya sama sekali. Di akhir masa jeda ini, Nabi melihat Malaikat Jibril “sedang duduk di antara langit dan bumi”. Nyaris segera setelah kejadian itu, surah ini diwahyukan; dan sejak saat itu, dalam ungkapan Nabi Muhammad Saw sendiri, “pewahyuan menjadi intens dan terus berlanjut” (Bukhari, Bad’ Al-Wahy dan Kitab Al-Tafsir; juga Muslim).

Meskipun sebagian ayat dari surah ini mungkin diwahyukan sedikit lebih terkemudian, tidak ada keraguan sama sekali bahwa ia seluruhnya tergolong ke dalam bagian paling awal periode Makkah, yakni, masa-masa paling awal dakwah Nabi. Akan tetapi, terlepas dari fakta bahwa Surat Al-Mudatsir termasuk yang paling awal dan singkat, ia mencantumkan hampir semua konsep dasar yang menjadi curahan perhatian Al-Qur’an secara keseluruhan, yakni:

  • keesaan dan keunikan Tuhan,
  • kebangkitan dan pengadilan terakhir;
  • hidup sesudah mati dan sifat alegoris dari semua gambaran yang terkait dengannya;
  • kelemahan manusia dan kebergantungan mutlaknya kepada Allah,
  • kecenderungannya pada kebanggaan semu,
  • ketamakan dan egoisme; tanggung jawab setiap manusia atas perilaku dan perbuatannya sendiri;
  • “surga” dan “neraka” sebagai konsekuensi-konsekuensi alamiah dari bagaimana seseorang menjalani kehidupan duniawinya, bukan sebagai imbalan atau hukuman yang sewenang-wenang;
  • prinsip kelangsungan historis semua pengalaman keagamaan sejati; dan berbagai gagasan dan konsep lainnya yang selanjutnya akan dikembangkan lebih utuh dalam wahyu-wahyu berikutnya.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم


Surah Al-Mudatsir Ayat 1

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ

yā ayyuhal-muddaṡṡir

1. WAHAI, engkau yang berselimut [dalam kesendirianmu]!1


1 Ungkapan muddatstsir (sebuah bentuk singkatan dari mutadatstsir) berarti “orang yang tertutup [dengan sesuatu]” atau “yang berselimut [dalam sesuatu]”; dan semua filolog menunjukkan bahwa verba datsara, yang darinya nomina partisip di atas terbentuk, dapat memiliki makna konkret maupun abstrak sekaligus. Kebanyakan mufasir memahami ungkapan “Wahai, engkau yang berselimut” menurut pengertian harfiah dan konkretnya, dan berasumsi bahwa ia merujuk pada kebiasaan Nabi menutupi dirinya dengan jubah atau selimut ketika beliau merasa bahwa wahyu akan datang. Namun, Al-Razi melihat bahwa julukan abstrak ini boleh jadi digunakan secara metafora, yakni secara tidak langsung berbicara mengenai keinginan kuat Nabi Muhammad Saw. untuk menyendiri sebelum misi kenabiannya dimulai (bdk. catatan pendahuluan Surah Al-‘Alaq [96]): dan ini, menurut Al-Razi, dapat menjelaskan mengapa beliau disapa demikian dalam kaitannya dengan seruan berikutnya, “Bangun dan berilah peringatan”—maksudnya, “Berhentilah menyendiri, dan bangkitlah di hadapan seluruh dunia sebagai seorang penyeru dan pemberi peringatan”.


Surah Al-Mudatsir Ayat 2

قُمْ فَأَنْذِرْ

qum fa anżir

2. Bangun dan berilah peringatan!


Surah Al-Mudatsir Ayat 3

وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ

wa rabbaka fa kabbir

3. Dan kebesaran Pemeliharamu agungkanlah!


Surah Al-Mudatsir Ayat 4

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

wa ṡiyābaka fa ṭahhir

4. Dan lubuk hatimu sucikanlah!2


2 Lit., “pakaianmu (tsiyab) sucikanlah”: akan tetapi, kebanyakan mufasir klasik menunjukkan bahwa nomina tsaub dan bentuk jamaknya tsiyab sering diterapkan secara metonimia pada apa yang ditutupi pakaian, yakni “badan” seseorang atau, dalam pengertiannya yang lebih luas, “diri” atau “hati”-nya, atau bahkan “kondisi spiritual” atau “perilaku”-nya (Taj Al-‘Arus). Karena itu, ketika menafsirkan ayat di atas, Al-Zamakhsyari menarik perhatian pembaca pada ungkapan idiomatik yang terkenal thahir al-tstyab (lit., “orang yang bersih pakaiannya”) dan danis al-tsiyab (“orang yang amat kotor pakaiannya”), dan menekankan makna kiasannya, yakni “bebas dari kesalahan dan keburukan perilaku” dan “jahat dan durhaka”. Al-Razi menyatakan bahwa “menurut kebanyakan mufasir [terdahulu], maknanya [ayat ini] adalah ‘sucikanlah hatimu dari segala hal yang tercela’ “, dan dia menyetujui penafsiran ini.


Surah Al-Mudatsir Ayat 5

وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ

war-rujza fahjur

5. Dan semua hal yang kotor hindarilah!


Surah Al-Mudatsir Ayat 6

وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ

wa lā tamnun tastakṡir

6. Dan janganlah memberi untuk mencari keuntungan bagi dirimu sendiri,3


3 Lit., “dan janganlah memberikan pertolongan untuk mendapatkan tambahan”.


Surah Al-Mudatsir Ayat 7

وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ

wa lirabbika faṣbir

7. tetapi kepada Pemeliharamu berpalinglah dengan sabar.


Surah Al-Mudatsir Ayat 8

فَإِذَا نُقِرَ فِي النَّاقُورِ

fa iżā nuqira fin-nāqụr

8. Dan [peringatkanlah semua manusia bahwa] tatkala panggilan sangkakala [kebangkitan] dibunyikan,


Surah Al-Mudatsir Ayat 9

فَذَٰلِكَ يَوْمَئِذٍ يَوْمٌ عَسِيرٌ

fa żālika yauma`iżiy yaumun ‘asīr

9. Hari itu akan menjadi hari duka lara,


Surah Al-Mudatsir Ayat 10

عَلَى الْكَافِرِينَ غَيْرُ يَسِيرٍ

‘alal-kāfirīna gairu yasīr

10. tidak mudah bagi orang-orang yang [kini] mengingkari kebenaran!4


4 Karena ini merupakan kemunculan paling awal dari ungkapan kafir dalam Al-Quran (surah ini didahului hanya oleh 5 ayat pertama Surah Al-‘Alaq [96]), penggunaannya di sini—dan secara tersirat, dalam keseluruhan Al-Quran—jelas dibatasi oleh makna yang dikandungnya dalam percakapan orang-orang Arab sebelum kedatangan Nabi Muhammad Saw.: dengan kata lain, istilah kafir tidak dapat disamakan begitu saja—eperti yang telah dilakukan oleh banyak ulama Muslim era pascaklasik dan oleh hampir semua penerjemah Al-Quran berkebangsaan Barat—dengan “orang yang tidak beriman” (unbeliever) atau “orang kafir” (infidel) dalam pengertian khusus dan terbatasnya, yakni orang yang menolak sistem doktrin dan hukum yang diajarkan Al-Quran dan dijelaskan oleh ajaran-ajaran Nabi. Alih-alih, istilah ini pasti memiliki makna yang lebih luas dan lebih umum. Makna ini mudah ditangkap jika kita ingat bahwa verba-akar dari nomina partisip kafir (dan dari nomina infinitif kufr) adalah kafara, “dia [atau ‘itu’] menutupi [sesuatu]”: karena itu, dalam Surah Al-Hadid [57]: 20, petani penggarap tanah disebut (tanpa implikasi peyoratif/merendahkan) sebagai kafir, “orang yang menutupi”, yakni menutupi taburan benih dengan tanah, seperti halnya malam disebutkan telah “menutupi” (kafara) bumi dengan kegelapan. Dalam pengertian abstraknya, baik verba maupun nomina yang berasal dari kata tersebut memiliki makna “menyembunyikan” sesuatu yang ada, atau “mengingkari” sesuatu yang benar. Karenanya, dalam penggunaan Al-Quran—kecuali pada satu ayat (dalam Surah Al-Hadid [57]: 20), yang di dalamnya nomina partisip ini berarti seorang “petani penggarap tanah”—seorang kafir berarti “orang yang mengingkari [atau ‘menolak untuk mengakui’] kebenaran” dalam pengertian yang terluas dan spiritual dari kata yang disebut terakhir ini: yakni, terlepas apakah ia berkaitan dengan suatu pemahaman akan kebenaran tertinggi—yakni, keberadaan Tuhan—ataukah berkaitan dengan sebuah doktrin atau ketentuan yang ditetapkan dalam kitab Ilahi, ataukah dengan
proposisi moral yang terbukti dengan sendirinya, ataukah dengan pengakuan akan, dan karena itu rasa syukur atas, karunia yang diterima. (Tentang ungkapan alladzina kafaru, yang menunjukkan niat yang penuh kesadaran, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 6.)


Surah Al-Mudatsir Ayat 11

ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا

żarnī wa man khalaqtu waḥīdā

11. BIARKAN Aku sendiri [yang menangani] orang yang telah Kuciptakan dalam keadaan sendiri,5


5 Atau: “… yang Aku sendiri telah ciptakan”. Kalimat di atas dapat dipahami dalam kedua pengertian ini, bergantung pada apakah kita mengaitkan ungkapan “sendiri” (wahid) dengan Allah—sehingga menekankan keunikan-Nya sebagai Pencipta—ataukah dengan objek ciptaan-Nya yang khusus ini, yakni manusia, yang mengawali dan mengakhiri hidupnya dalam keadaan benar-benar sendirian (bdk. Surah Al-An’am [6]: 94 dan Maryam [19]: 80 dan 95). Mana pun dari kedua pengertian ini yang diambil, perhatian kita digiring pada kenyataan akan kebergantungan mutlak manusia kepada Allah. Di samping itu, ungkapan yang sedang dibicarakan ini mengandung arti yang lebih jauh, yakni, “Serahkan saja pada-Ku sendiri untuk memutuskan apa yang harus Kulakukan terhadap orang yang lupa bahwa Aku adalah Pencipta dan Pemeliharanya”—jadi, melarang hukuman apa pun untuk dijatuhkan oleh manusia kepada “mereka yang mengingkari kebenaran”.


Surah Al-Mudatsir Ayat 12

وَجَعَلْتُ لَهُ مَالًا مَمْدُودًا

wa ja’altu lahụ mālam mamdụdā

12. dan yang kepadanya telah Kuberikan sumber-sumber kekayaan yang luas,


Surah Al-Mudatsir Ayat 13

وَبَنِينَ شُهُودًا

wa banīna syuhụdā

13. dan anak-anak sebagai saksi [cinta],


Surah Al-Mudatsir Ayat 14

وَمَهَّدْتُ لَهُ تَمْهِيدًا

wa mahhattu lahụ tamhīdā

14. dan yang kesempatan dalam hidupnya telah Kuluaskan sedemikian rupa:6


6 Lit., “yang kepadanya telah Aku bentangkan [segalanya] dengan bentangan [yang luas}”—yakni, “yang telah Aku anugerahkan dengan potensi-potensi yang jauh melampaui potensi-potensi yang tersedia bagi makhluk hidup lainnya”.


Surah Al-Mudatsir Ayat 15

ثُمَّ يَطْمَعُ أَنْ أَزِيدَ

ṡumma yaṭma’u an azīd

15. sungguhpun begitu, dengan tamak dia menginginkan agar Aku memberinya bahkan lebih banyak lagi!


Surah Al-Mudatsir Ayat 16

كَلَّا ۖ إِنَّهُ كَانَ لِآيَاتِنَا عَنِيدًا

kallā, innahụ kāna li`āyātinā ‘anīdā

16. Sekali-kali tidak, sungguh, terhadap pesan-pesan Kami-lah dengan sengaja dan keras kepala dia berketetapan hati untuk melawan7


7 Lit., “dia biasa (kana) menetapkan dirinya”. Nomina ‘anid, yang berasal dari verba ‘anada, berarti “orang yang menentang atau menolak sesuatu yang benar, meskipun mengetahui hal itu benar” (Lisan Al-‘Arab). Adanya unsur kekeraskepalaan dan pembangkangan manusia tersebut ditunjukkan oleh penggunaan verba bantu kana, yang di sini menunjukkan fenomena yang terus-menerus berulang walau kalimatnya dirumuskan dalam bentuk lampau. Karena itu, saya berpendapat bahwa ayat 18-25, meskipun jelas-jelas dirumuskan dalam kalimat kala lampau, harus pula diterjemahkan dalam bentuk kalimat kala kini (present tense).


Surah Al-Mudatsir Ayat 17

سَأُرْهِقُهُ صَعُودًا

sa`ur-hiquhụ ṣa’ụdā

17. [maka] Aku akan memaksanya menjalani pendakian berat yang amat menyakitkan!8


8 Jika digabungkan dengan verba urhiquhu (“Aku akan memaksanya menjalani”), kata sha’ud (lit., “mendaki” atau “menanjak”) memiliki makna kiasan sesuatu yang sangat sulit, menyakitkan, atau menyedihkan. Dalam konteks di atas, istilah ini secara tidak langsung mengacu pada hilangnya kemurnian naluriah—dan, karenanya, juga pada penderitaan individu dan sosial—yang pasti akan terjadi sebagai akibat tindakan manusia yang sengaja melalaikan kebenaran moral dan spiritual (“pesan-pesan Tuhan”) di dunia ini, dan menghalangi perkembangan spiritualnya datam kehidupan yang akan datang.


Surah Al-Mudatsir Ayat 18

إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ

innahụ fakkara wa qaddar

18. Perhatikanlah, [ketika pesan-pesan Kami disampaikan kepada orang yang berkukuh mengingkari kebenaran,] dia merenung dan memikirkan rencana [bagaimana cara membantahnya]—


Surah Al-Mudatsir Ayat 19

فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ

fa qutila kaifa qaddar

19. dan demikianlah dia membinasakan dirinya sendiri,9 bagaimana dia memikirkan rencana:


9 Ungkapan qutila secara harfiah berarti “dia telah dibunuh” atau, sebagai kalimat kutukan, “semoga dia dibunuh”. Karena penerjemahan ungkapan ini secara harfiah—baik dipahami sebagai suatu pernyataan faktual maupun sebagai kutukan—dalam hal ini tidak akan bermakna apa pun, banyak mufasir (di antaranya Al-Thabari) memahaminya dalam pengertian “dia tertolak dari rahmat Allah” (lu’ina), yakni, “dibunuh” secara spiritual oleh tindakan atau sikapnya sendiri; karenanya, saya menerjemahkannya menjadi, “dia membinasakan dirinya sendiri”.


Surah Al-Mudatsir Ayat 20

ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ

ṡumma qutila kaifa qaddar

20. ya, dia membinasakan dirinya sendiri, bagaimana dia memikirkan rencana!—


Surah Al-Mudatsir Ayat 21

ثُمَّ نَظَرَ

ṡumma naẓar

21. kemudian dia mencari-cari [alasan baru],


Surah Al-Mudatsir Ayat 22

ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ

ṡumma ‘abasa wa basar

22. lalu dia bermuka masam dan terbelalak,10


10 Yakni, dia menjadi terlibat secara emosional karena di dalam hati dia curiga bahwa argumen-argumennya memang lemah (Al-Razi).


Surah Al-Mudatsir Ayat 23

ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ

ṡumma adbara wastakbar

23. dan pada akhirnya dia memalingkan punggungnya [terhadap pesan Kami], dan menyombongkan diri,11


11 Lihat Surah Al-‘Alaq [96]: 6-7.


Surah Al-Mudatsir Ayat 24

فَقَالَ إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ

fa qāla in hāżā illā siḥruy yu`ṡar

24. dan berkata, “Semua ini hanyalah kepiawaian berbicara yang memikat yang diturunkan [dari zaman dahulu]!12


12 lstilah sihr, yang biasanya berarti “ilmu sihir” atau “permainan magis”, pada dasarnya berarti “pengubahan sesuatu dari keadaannya yang wajar [atau ‘alami’-nya] menjadi keadaan yang lain”; karena itu, ia sering digunakan untuk menunjuk pada daya tarik atau keterpesonaan luar biasa yang ditimbulkan oleh kepiawaian berbicara yang “memikat” (Taj Al-‘Arus). Dalam pengertian peyoratifnya—seperti yang digunakan oleh para pengingkar kebenaran untuk menjuluki suatu pesan Ilahi—istilah ini juga berarti “tipu daya yang disengaja” atau “khayalan”.


Surah Al-Mudatsir Ayat 25

إِنْ هَٰذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ

in hāżā illā qaulul-basyar

25. Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia biasa!”


Surah Al-Mudatsir Ayat 26

سَأُصْلِيهِ سَقَرَ

sa`uṣlīhi saqar

26. [karena itu,] Aku akan menyebabkannya merasakan api-neraka [dalam kehidupan akhirat]!13


13 Tidak diragukan lagi, ini adatah ayat paling awal yang menyebutkan istilah saqar (“api-neraka”), salah satu di antara tujuh nama metaforis yang disebutkan dalam AI=Quran untuk menunjuk pada konsep azab (penderitaan) di akhirat yang ditimpakan oleh manusia kepada dirinya sendiri karena berbuat dosa dan secara sengaja tetap berada dalam keadaan buta dan tuli, di dunia ini, terhadap kebenaran-kebenaran ruhani (bdk. Surah Al-Hijr [15], catatan no. 33). Sifat alegoris tentang kondisi dan nasib manusia di akhirat pada ayat ini dan pada semua gambaran lainnya dalam Al-Quran jelas-jelas disinggung dalam ayat berikutnya, serta dalam ayat 28 dan seterusnya.


Surah Al-Mudatsir Ayat 27

وَمَا أَدْرَاكَ مَا سَقَرُ

wa mā adrāka mā saqar

27. Dan, apa yang dapat membuat engkau bisa membayangkan apakah api-neraka itu?


Surah Al-Mudatsir Ayat 28

لَا تُبْقِي وَلَا تَذَرُ

lā tubqī wa lā tażar

28. Ia tidak membiarkan hidup, dan tidak pula meninggalkan [mati],


Surah Al-Mudatsir Ayat 29

لَوَّاحَةٌ لِلْبَشَرِ

lawwāḥatul lil-basyar

29. menjadikan [seluruh kebenaran] terlihat jelas oleh manusia.14


14 Kebanyakan mufasir menafsirkan frasa eliptis di atas dalam pengertian “mengubah tampilan manusia” atau “menghanguskan kulit manusia”. Pada sisi lain, terjemahan yang saya gunakan didasarkan pada makna utama verba laha—”ia tampak”, “ia muncul”, atau “menjadi terlihat”. Karena itu, makna utama dari nomina partisip intensif lawwah adalah “yang membuat [sesuatu] tampak”. Dalam konteks di atas, istilah itu berkaitan dengan pemahaman si pendosa yang sudah terlambat tentang kebenaran, serta berkaitan dengan pengetahuan yang menyakitkan mengenai sifat dirinya sendiri, terhadap kegagalannya di masa lalu dan kesalahan-kesalahannya yang disengaja, dan kesadaran bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas penderitaan yang kini menantinya: yakni, suatu keadaan yang “hidup bukan, mati pun tidak” (bdk. Surah Al-A’la [87]: 12-13).


Surah Al-Mudatsir Ayat 30

عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ

‘alaihā tis’ata ‘asyar

30. Di atasnya ada sembilan belas [kekuatan].15


15 Sementara kebanyakan mufasir klasik berpendapat bahwa “sembilan belas” adalah para malaikat yang bertindak sebagai penjaga atau pengawal neraka, Al-Razi mengemukakan pandangan bahwa boleh jadi di sini kita mendapati suatu acuan terhadap kekuatan-kekuatan fisik, intelektual, dan emosional dalam diri manusia sendiri: yakni, kekuatan-kekuatan yang secara potensial mengangkat manusia jauh melampaui makhluk lain, tetapi yang—jika digunakan secara salah—akan menimbulkan keruntuhan seluruh kepribadiannya dan, karenanya, mengakibatkan penderitaan mendalam di akhirat. Menurut Al-Razi, para filosof (arbab al-hikmah) mengidentifikasi kekuatan-kekuatan atau daya-daya ini dengan, pertama, tujuh fungsi organik tubuh hewan—dan juga manusia—(yakni, gravitasi, kohesi, penolakan terhadap materi asing yang berbahaya, penyerapan materi eksternal yang berguna, asimilasi zat gizi, pertumbuhan, dan reproduksi); kedua, lima indra “eksternal” atau fisik (yakni, penglihatan, pendengaran, rabaan, penciuman, dan pengecapan); ketiga, lima indra “internal” atau intelektual, yang oleh lbn Sina—yang kepadanya Al-Razi tampaknya menyandarkan pendapatnya—didefinisikan sebagai berikut: (1) persepsi tentang citra-citra indriawi yang terpisah, (2) apersepsi sadar terhadap sejumlah gagasan, (3) ingatan terhadap citra-citra indriawi, (4) ingatan terhadap apersepsi sadar, (5) kemampuan untuk menghubungkan citra-citra indriawi dengan apersepsi yang lebih tinggi; dan terakhir, emosi-emosi keinginan atau keengganan (yakni, ketakutan atau kemarahan), yang berakar pada kategori-kategori-indriawi eksternal maupun internal—jadi, keseluruhan daya dan kemampuan yang mengendalikan nasib spiritual manusa itu berjumlah sembilan belas. Secara keseluruhan, kekuatan-kekuatan itulah yang memberi manusia kemampuan berpikir secara konseptual, dan menempatkan dirinya, dalam hal ini, bahkan di atas para malaikat (bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 30 dst., serta catatan-catatannya yang terkait; lihat juga catatan berikut ini).


Surah Al-Mudatsir Ayat 31

وَمَا جَعَلْنَا أَصْحَابَ النَّارِ إِلَّا مَلَائِكَةً ۙ وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلَّا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا ۙ وَلَا يَرْتَابَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْمُؤْمِنُونَ ۙ وَلِيَقُولَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْكَافِرُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۚ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ ۚ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكْرَىٰ لِلْبَشَرِ

wa mā ja’alnā aṣ-ḥāban-nāri illā malā`ikataw wa mā ja’alnā ‘iddatahum illā fitnatal lillażīna kafarụ liyastaiqinallażīna ụtul-kitāba wa yazdādallażīna āmanū īmānaw wa lā yartāballażīna ụtul-kitāba wal-mu`minụna wa liyaqụlallażīna fī qulụbihim maraḍuw wal-kāfirụna māżā arādallāhu bihāżā maṡalā, każālika yuḍillullāhu may yasyā`u wa yahdī may yasyā`, wa mā ya’lamu junụda rabbika illā huw, wa mā hiya illā żikrā lil-basyar

31. Karena Kami tidak menjadikan siapa pun kecuali kekuatan-kekuatan malaikat untuk berkuasa atas api [neraka itu];16 dan Kami menjadikan bilangan mereka itu tidak lain hanyalah sebagai ujian bagi mereka yang berkukuh mengingkari kebenaran17—agar orang-orang yang telah dikaruniai wahyu sebelumnya dapat diyakinkan [mengenai kebenaran kitab Ilahi ini];18 dan agar orang-orang yang telah meraih iman [kepadanya] semakin bertambah teguh imannya; dan agar [baik] mereka yang telah dikaruniai wahyu sebelumnya maupun mereka yang beriman [kepada wahyu Al-Quran ini] dapat dibebaskan dari segala keraguan; dan agar mereka yang di dalam hatinya ada penyakit19 dan mereka yang sama sekali mengingkari kebenaran dapat bertanya, “Apakah maksud Allah[-mu] dengan perumpamaan ini?”20

Demikianlah Allah membiarkan tersesat orang yang ingin [tersesat], dan memberi petunjuk ke jalan yang benar orang yang ingin [diberi petunjuk].21

Dan, tidak ada yang mampu memahami pasukan-pasukan Pemeliharamu, kecuali Dia sendiri: dan semua ini22 tidak lain hanyalah peringatan bagi manusia.


16 Karena—berkat daya persepsi-sadar serta kemampuan berpikir konseptualnya—manusia dapat sampai pada pengetahuan untuk membedakan antara kebaikan dan keburukan dan, dengan begitu, naik menuju puncak-puncak spiritual yang agung, kekuatan-kekuatan ini digambarkan di sini sebagai “bersifat kemalaikatan” (lit., “para malaikat”—ini merupakan penyebutan istilah malak yang paling awal dalam sejarah pewahyuan Al-Quran). Di sisi lain, karena kelalaian atau penyalahgunaan yang disengaja terhadap kekuatan-kekuatan malaikati ini merupakan akar segala perbuatan dosa manusia dan, karenanya, juga akar penderitaannya di akhirat, kekuatan-kekuatan ini disebut sebagai “para penguasa (ashhab) api [neraka]”, yang melengkapi ungkapan “di atasnya” dalam ayat 30 sebelumnya.

17 Tampaknya, hal ini secara tidak langsung berbicara tentang sifat alegoris pasase ini, yang isi nya sendiri ditolak oleh “mereka yang berkukuh mengingkari kebenaran” sehingga maknanya gagaI ditangkap oleh mereka. Karena mereka berspekulasi mengenai alasan-alasan yang, menurut dugaan mereka, mendorong Nabi Muhammad Saw. memberikan penekanan pada suatu jumlah tertentu (la ntaran mereka memandang Nabi sebagai “pengarang” Al-Quran), mereka cenderung memahami alegori ini secara harfiah sehingga akhirnya sama sekali tidak dapat menangkap maksud ayat ini.

18 Yakni, dengan dijadikan mampu—melalui pemahaman terhadap alegori di atas—mengapresiasi pendekatan rasional Al-Quran berkenaan dengan semua persoalan agama. Sebutan “orang-orang yang telah dikaruniai wahyu sebelumnya” merupakan pernyataan paling awal yang menggambarkan prinsip kesinambungan pengalaman keagamaan umat manusia.

19 Yakni—dalam ayat ini—orang-orang setengah hati yang, meskipun mampu membedakan antara yang benar dan yang salah, cenderung pada kekafiran.

20 Bdk. frasa yang sama dalam Surah Al-Baqarah [2]: 26, serta catatan no. 18 yang terkait. Penyisipan kata “mu” di antara dua kurung siku pada pasase ini {yakni, Allah[-mu]} diperlukan karena fakta bahwa orang-orang yang tidak berimanlah yang menanyakan masalah ini.

21 Atau: “Allah membiarkan tersesat siapa saja yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk ke jalan yang benar siapa saja yang Dia kehendaki” (lihat Surah Ibrahim [14], catatan no. 4). Penekanan pada sifat alegoris ayat di atas, yang disebut sebagai “perumpamaan” (matsal), di sini memiliki tujuan yang sama dengan yang ada dalam Surah Al-Baqarah [2]: 26—yaitu, mencegah agar para pengikut Al-Quran tidak melekatkan makna harfiah pada gambaran-gambaran eskatologisnya—suatu tujuan yang diungkapkan dengan tepat pada kalimat penutup ayat ini: “Semua ini tidak lain hanyalah peringatan bagi manusia”. (Lihat juga catatan berikutnya.)

22 Lit., “ia” atau “hal-hal ini”—bergantung pada apakah kata ganti hiya dipahami sebagai bentuk tunggal—yang dalam hal ini merujuk pada nomina feminin (mu’annats) saqar, yakni “api-neraka” (Al-Thabari, Al-Zamakhsyari, Al-Baghawi, lbn Katsir)—ataukah sebagai bentuk jamak, sehingga merujuk pada apa yang, disebut Al-Razi sebagai “ayat-ayat [Al-Quran] yang membahas perumpamaan-perumpamaan ini (hadzihi al-mutasyabihat)”: demikianlah alasan untuk terjemahan gabungan saya atas frasa tersebut menjadi “semua ini”.


Surah Al-Mudatsir Ayat 32

كَلَّا وَالْقَمَرِ

kallā wal-qamar

32. TIDAK, tetapi perhatikanlah bulan!23


23 lni merupakan ayat Al-Quran paling awal yang menyebutkan partikel sumpah (qasam) “wa” yang digunakan dalam pengertian pernyataan sungguh-sungguh, yang menyerupai sumpah—yakni, seruan untuk bersaksi, demikianlah kirakira—yang dimaksudkan untuk memberi penekanan pada kebenaran atau bukti kebenaran yang akan dinyatakan selanjutnya (seperti dalam ungkapan “demi Allah!”): karena itu, di sini dan di tempat lain, saya menerjemahkannya menjadi “perhatikanlah” (consider). Dalam kasus ayat ini, kebenaran yang ditekankan adalah pernyataan tersirat bahwa persis sebagaimana halnya fase buIan yang berubah-ubah dan pergantian malam dan siang merupakan akibat dari hukum alam yang ditetapkan Allah, demikian pula penderitaan yang dirasakan
oleh seorang pendosa di akhirat tidak lain hanyalah merupakan akibat wajar dari kezalimannya yang dilakukan dengan sengaja di dunia ini. (Lihat juga catatan no. 7 pada Surah Al-Baqarah [2]: 7.)


Surah Al-Mudatsir Ayat 33

وَاللَّيْلِ إِذْ أَدْبَرَ

wal-laili iż adbar

33. Perhatikanlah malam ketika ia pergi berlalu,


Surah Al-Mudatsir Ayat 34

وَالصُّبْحِ إِذَا أَسْفَرَ

waṣ-ṣub-ḥi iżā asfar

34. dan fajar ketika ia menyingsing!


Surah Al-Mudatsir Ayat 35

إِنَّهَا لَإِحْدَى الْكُبَرِ

innahā la`iḥdal-kubar

35. Sungguh, [api-neraka] itu benar-benar merupakan salah satu [peringatan] yang amat besar—


Surah Al-Mudatsir Ayat 36

نَذِيرًا لِلْبَشَرِ

nażīral lil-basyar

36. peringatan bagi manusia—


Surah Al-Mudatsir Ayat 37

لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ

liman syā`a mingkum ay yataqaddama au yata`akhkhar

37. bagi setiap orang di antara kalian, baik yang ingin maju ke depan ataupun yang menarik diri!24


24 Lit., “siapa pun di antara kalian yang memilih …” dst.—yakni, terlepas apakah seseorang memilih mengikuti atau mengabaikan seruan Ilahi: hal ini mengisyaratkan bahwa orang-orang beriman sekalipun dapat tersandung melakukan dosa dan, karenanya, perlu diberi peringatan.


Surah Al-Mudatsir Ayat 38

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

kullu nafsim bimā kasabat rahīnah

38. [Pada Hari Pengadilan,] setiap manusia akan terikat mempertanggungjawabkan [kejahatan] apa pun yang telah dia perbuat—


Surah Al-Mudatsir Ayat 39

إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ

illā aṣ-ḥābal-yamīn

39. kecuali mereka yang telah meraih kesalehan:25


25 Lit., “mereka [atau ‘orang-orang’] pada tangan kanan” (ashhab al-yamin)—sebuah ungkapan yang didasarkan pada makna kiasan yamin, yakni “bajik (saleh)”, “kebajikan (kesalehan)”, dan, karenanya, “keadaan diberkati”. Ungkapan di atas mungkin merupakan ungkapan yang muncul paling awal dalam Al-Quran, yang jelas meliputi semua orang yang perilaku hidupnya menjadikan mereka memperoleh ampunan Allah atas dosa apa pun yang mungkin telah mereka perbuat.

{Terjemahan literal dari ashhab al-yamin dalam bahasa lnggris adalah those on the right hand. Namun, Asad memilih menerjemahkannya menjadi those who have attained to righteousness. Right bisa berarti “benar” ataupun “kanan”. Sedangkan righteousness berarti “kebajikan/kesalehan”. Perhatikan bahwa kedua terjemahan Asad itu—terjemahan literal maupun kiasan—sama-sama mengandung kata right, suatu kesejajaran penerjemahan yang tidak dapat diterapkan dalam terjemahan bahasa lndonesia.—peny.}


Surah Al-Mudatsir Ayat 40

فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ

fī jannātiy yatasā`alụn

40. [yang berkediaman] di taman-taman [surga], mereka akan bertanya-tanya


Surah Al-Mudatsir Ayat 41

عَنِ الْمُجْرِمِينَ

‘anil-mujrimīn

41. tentang orang-orang yang tenggelam dalam dosa,


Surah Al-Mudatsir Ayat 42

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ

mā salakakum fī saqar

42. “Apa yang menyebabkan kalian masuk ke dalam api-neraka!”


Surah Al-Mudatsir Ayat 43

قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ

qālụ lam naku minal-muṣallīn

43. Mereka akan menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang berdosa,26


26 Mengingat fakta bahwa pada masa pewahyuan surah yang sangat awal ini ibadah formal shalat (shalah) belum diwajibkan terhadap kaum Muslim, masuk akal untuk mengasumsikan bahwa dalam konteks di atas, istilah ini digunakan dalam pengertiannya yang terluas, yakni kepercayaan kepada Allah dengan sepenuh kesadaran.


Surah Al-Mudatsir Ayat 44

وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ

wa lam naku nuṭ’imul-miskīn

44. dan tidak pula kami memberi makan orang miskin;


Surah Al-Mudatsir Ayat 45

وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ

wa kunnā nakhụḍu ma’al-khā`iḍīn

45. dan kami biasa memperturutkan diri dalam perbuatan dosa bersama-sama dengan semua [orang lain] yang juga memperturutkan diri di dalamnya;


Surah Al-Mudatsir Ayat 46

وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ

wa kunnā nukażżibu biyaumid-dīn

46. dan Hari Pengadilan, biasa kami dustakan—


Surah Al-Mudatsir Ayat 47

حَتَّىٰ أَتَانَا الْيَقِينُ

ḥattā atānal-yaqīn

47. hingga kepastian datang kepada kami [saat mati].”


Surah Al-Mudatsir Ayat 48

فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ

fa mā tanfa’uhum syafā’atusy-syāfi’īn

48. Maka, tidak ada gunanya bagi mereka syafaat dari siapa pun yang ingin memberi syafaat kepada mereka.27


27 Lit., “syafaat para pemberi syafaat”—menunjukkan bahwa tidak akan ada seorang pun yang akan memperantarai mereka dengan Allah. Berkenaan dengan konsep Islam tentang “syafaat” yang banyak disalahpahami, lihat Surah Yunus [10]: 3—”tiada seorang pun dapat memberi syafaat, kecuali kalau Dia mengizinkannya”—dan catatan no. 7 yang terkait.


Surah Al-Mudatsir Ayat 49

فَمَا لَهُمْ عَنِ التَّذْكِرَةِ مُعْرِضِينَ

fa mā lahum ‘anit-tażkirati mu’riḍīn

49. LALU, ada apa gerangan dengan mereka28 sehingga mereka berpaling dari semua peringatan


28 Yakni, dengan begitu banyaknya orang yang menolak mengikuti kebenaran.


Surah Al-Mudatsir Ayat 50

كَأَنَّهُمْ حُمُرٌ مُسْتَنْفِرَةٌ

ka`annahum ḥumurum mustanfirah

50. seakan-akan mereka itu keledai-keledai yang ketakutan


Surah Al-Mudatsir Ayat 51

فَرَّتْ مِنْ قَسْوَرَةٍ

farrat ming qaswarah

51. yang lari dari seekor singa?


Surah Al-Mudatsir Ayat 52

بَلْ يُرِيدُ كُلُّ امْرِئٍ مِنْهُمْ أَنْ يُؤْتَىٰ صُحُفًا مُنَشَّرَةً

bal yurīdu kullumri`im min-hum ay yu`tā ṣuḥufam munasysyarah

52. Ya, setiap orang di antara mereka menuntut agar dia [sendirilah] yang seharusnya diberi wahyu-wahyu yang terbentang!29


29 Lit., “setiap orang di antara mereka ingin diberi kitab suci yang terbuka lebar”, atau “kitab suci yang terbentang” (yakni, terbuka bagi pemahaman setiap orang): bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 118—”Mengapa Allah tidak berbicara kepada kami dan tidak pula suatu pesan disampaikan kepada kami”—yakni, secara langsung, tanpa perantaraan seorang nabi. Ayat di atas merupakan ilustrasi paling awal tentang “kesombongan” atau “kebanggaan batil” yang begitu sering disinggung Al-Quran.


Surah Al-Mudatsir Ayat 53

كَلَّا ۖ بَلْ لَا يَخَافُونَ الْآخِرَةَ

kallā, bal lā yakhāfụnal-ākhirah

53. Tidak, tetapi mereka tidak [beriman kepadanya dan, karena itu, tidak] takut kepada kehidupan akhirat.


Surah Al-Mudatsir Ayat 54

كَلَّا إِنَّهُ تَذْكِرَةٌ

kallā innahụ tażkirah

54. Tidak, sungguh, ini adalah suatu peringatan—


Surah Al-Mudatsir Ayat 55

فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ

fa man syā`a żakarah

55. dan siapa pun yang mengehndaki dapat mencamkannya dalam hati.


Surah Al-Mudatsir Ayat 56

وَمَا يَذْكُرُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ هُوَ أَهْلُ التَّقْوَىٰ وَأَهْلُ الْمَغْفِرَةِ

wa mā yażkurụna illā ay yasyā`allāh, huwa ahlut-taqwā wa ahlul-magfirah

56. Namun, mereka [yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat] tidak akan mencamkannya dalam hati, kecuali jika Allah memang menghendakinya:30 [sebab,] Dia-lah Sumber bagi segala kesadaran akan Tuhan dan Sumber segala ampunan.


30 Yakni, kecuali Dia memberikan rahmat-Nya kepada mereka dengan membuat hati dan pikiran mereka mau menerima kebenaran, sehingga mereka terdorong—dari dalam diri mereka sendiri, demikianlah kira-kira—untuk membuat pilihan yang benar. (Lihat juga catatan no. 11 pada Surah At-Takwir [81]: 28-29, serta catatan no. 4 pada Surah Ibrahim [14]: 4.)


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top