Surat Al-Masad atau Al-Lahab dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

111. Al-Masad (Tali Temali yang Dipilin) – المسد

Surat Al-Masad ( المسد ) atau Al-Lahab ( اللهب ) merupakan surah ke 111 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 5 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Al-Masad tergolong Surat Makkiyah.

Nama surah ini diambil dari kata yang muncul pada ayat terakhirnya, yaitu masad (“Tali Temali yang Dipilin”). Surat Al-Masad biasa juga dinamai dengan Surat Al-Lahab yang diambil dari kata al-lahab (api yang hebat menyala) yang terdapat pada ayat ketiga. Surat Al-Lahab tergolong sebagai salah satu surah paling awal, yakni surah keenam dalam urutan pewahyuan.

Surah ini berkenaan dengan permusuhan sengit yang selalu ditunjukkan paman Nabi, Abu Lahab, terhadap risalah yang dibawa Nabi Muhammad Saw: suatu permusuhan yang berakar dari wataknya yang sombong, kebanggaan atas kekayaannya yang berlimpah, serta ketidaksukaannya terhadap gagasan yang dibawa Nabi Muhammad Saw, yakni bahwa semua manusia mempunyai kedudukan yang sama di hadapan Tuhan dan akan diadili oleh-Nya semata-mata karena baik-buruk perilakunya sendiri (Ibn Zaid, sebagaimana dikutip Al-Thabari ketika menafsirkan ayat pertama surah ini).

Seperti dikisahkan oleh beberapa ahli yang tak terbantahkan—di antaranya Al-Bukhari dan Muslim—pada suatu hari, Nabi Muhammad Saw mendaki Bukit Al-Shafa di Makkah dan menyeru semua orang dari antara sukunya, Quraisy, yang bisa mendengarnya. Ketika mereka telah berkumpul, Nabi menanyai mereka, “Wahai, Bani ‘Abdul Muththalib! Wahai Bani Fihr! Seandainya aku beritakan kepada kalian bahwa ada pasukan musuh yang akan menyerang kalian dari balik bukit itu, akankah kalian mempercayaiku?” Mereka menjawab, “Ya, kami percaya.” Kemudian beliau berkata, “Kalau begitu, perhatikanlah. Kini aku berada di sini untuk memperingatkan kalian akan kedatangan Saat Terakhir!” Serta-merta Abu Lahab berseru, “Untuk tujuan inikah engkau memanggil kami? Binasalah engkau!” Sesaat kemudian, diwahyukan lah surah ini.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surat Al-Lahab Ayat 1

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ

tabbat yadā abī lahabiw wa tabb

1. BINASALAH kedua tangan dia, yang wajahnya merah menyala,1 dan binasalah dia!


1 Nama asli paman Nabi ini adalah ‘Abd Al-‘Uzza. Secara populer, dia dijuluki dengan nama Abu Lahab (lit.; “Bapak Api”) karena ketampanannya, yang tampak amat menonjol dari raut wajahnya yang merah menyala (Al-Baghawi, berdasarkan riwayat Muqatil; Al-Zamakhsyari dan Al-Razi, dalam berbagai tempat dalam tafsir mereka terhadap ayat di atas; Fath Al-Bari VIII, h. 599). Karena julukan—atau kun-yah—ini tampaknya telah diberikan kepadanya bahkan sebelum datangnya Islam, tidak ada alasan untuk menganggap bahwa julukan tersebut memiliki makna peyoratif (merendahkan).

Sesuai dengan penggunaannya dalam bahasa Arab klasik, ungkapan “tangan” dalam kalimat di atas merupakan metonimia bagi “kekuasaan”, yang mengacu pada kuatnya pengaruh yang dimiliki Abu Lahab.


Surat Al-Lahab Ayat 2

مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ

mā agnā ‘an-hu māluhụ wa mā kasab

2. Apalah faedah harta bendanya baginya, dan segala yang telah dia usahakan?


Surat Al-Lahab Ayat 3

سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ

sayaṣlā nāran żāta lahab

3. [Di akhirat,] dia akan merasakan api yang hebat menyala,2


2 Ungkapan nar dzat lahab merupakan permainan makna yang halus dari julukan Abu Lahab.


Surat Al-Lahab Ayat 4

وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ

wamra`atuh, ḥammālatal-ḥaṭab

4. bersama istrinya, pembawa cerita-cerita jahat,3


3 Lit., “pembawa kayu bakar”—sebuah ungkapan idiomatik yang masyhur yang menunjukkan orang yang secara sembunyi-sembunyi membawa cerita-cerita jahat dan fitnah dari satu orang ke orang lainnya “sedemikian rupa sehingga mengobarkan api kebencian di antara mereka” (Al-Zamakhsyari; Iihat juga ‘Ikrimah, Mujahid, dan Qatadah, sebagaimana dikutip oleh Al-Thabari). Nama perempuan itu adalah Arwa umm Jamil binti Harb ibn Umayyah: dia adalah saudara perempuan Abu Sufyan dan, dengan demikian, adalah bibi Mu’awiyah dari pihak ayah, pendiri Dinasti Umayyah. Kebenciannya terhadap Nabi Muhammad Saw; dan pengikut-pengikutnya sedemikian kuat sehingga dia sering kali, di tengah gelapnya malam, menaburkan duri di depan rumah Nabi untuk menyakitinya; dan dia memanfaatkan kepandaiannya dalam berbicara untuk terus-menerus memfitnah Nabi dan risalahnya.


Surat Al-Lahab Ayat 5

فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ

fī jīdihā ḥablum mim masad

5. [yang memakai] di lehernya untaian tali-temali yang dipilin!4


4 Istilah masad berarti apa saja yang terbuat dari tali yang dipilin, terlepas dari bahan pembuatnya (Qamus, Mughni, Lisan Al-‘Arab). Dalam pengertian abstraknya—yang tampaknya dipergunakan di sini—frasa di atas tampaknya memiliki dua pengertian: pertama, secara tidak langsung mengacu pada sifat perempuan di atas yang bengkok dan menyimpang* serta, kedua, mengacu pada kebenaran spiritual bahwa “nasib setiap manusia telah Kami ikatkan di lehernya” (lihat Surah Al -lsra’ [17]: 13 dan, khususnya, catatan no. 17 yang terkait)—yang, bersama dengan ayat 2, mengungkapkan makna umum dan abadi dari surah ini.

* {Frasa masad diterjemahkan Asad menjadi twisted strands. Twist memiliki berbagai arti, di antaranya memilin, memutar, memutarbalikkan [keterangan, cerita], bengkok, menyimpang, tidak waras, dsb. Dengan demikian, twist dapat diterapkan pada tali [yang dipilin] dan pada karakter manusia [yang bengkok]—peny.}


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Similar Posts