5. Al-Ma’idah (Hidangan) – المائدة

Surat Al-Ma’idah dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Ma’idah ( المائدة ) merupakan surah ke 5 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 120 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Madinah. Dengan demikian, Surah Al-Ma’idah tergolong Surat Madaniyah.

Menurut selurh bukti yang ada, surah ini merupakan salah satu bagian dari Al-Qur’an yang terakhir diwahyukan kepada Nabi. Pendapat ijmak menggolongkannya ke dalam periode Haji Wada’ (Haji Perpisahan) yang dilaksanakan Nabi pada 10 H. Nama surah ini diambil dari permintaan para pengikut Nabi Isa a.s. untuk mendapatkan “hidangan dari langit” (ayat 112) dan doa yang dipanjatkan Nabi Isa a.s. berkenaan dengan permintaan ini (ayat 114).

Surah ini dimulai dengan seruan kepada orang-orang beriman untuk memenuhi tanggung jawab spiritual dan sosial mereka, dan diakhiri dengan sebuah peringatan tentang kebergantungan mutlak manusia kepada Allah, yang memiliki, “kekuasaan terhadap lelangit dan bumi serta seluruh isinya”. Sebagai salah satu wahyu terakhir yang diturunkan kepada Nabi, surah ini memuat berbagai ketentuan yang berkaitan dengan sejumlah ritual keagamaan dan berbagai kewajiban sosial; tetapi, pada saat yang sama, ia mengingatkan para pengikut Al-Qur’an agar tidak memperluas lingkup peraturan Ilahi ini melalui pengambilan kesimpulan subjektif (ayat 101), karena hal ini dapat mempersulit mereka dalam menjalankan Hukum-Hukum Allah dan, pada akhirnya, menyebabkan mereka mengingkari kebenaran wahyu itu sendiri (ayat 102). Mereka juga diperingatkan agar tidak menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai “sekutu-sekutu” mereka, yaitu dalam pengertian moral kata ini, yakni: tidak meniru cara hidup dan konsep sosial mereka dengan mengorbankan prinsip-prinsip Islam (ayat 51 dan seterusnya). Munculnya peringatan yang disebutkan terakhir ini dituntut oleh fakta, yang ditegaskan berulang-ulang dalam surah ini, bahwa baik kaum Yahudi maupun Nasrani telah mengabaikan dan menyelewengkan kebenaran yang disampaikan oleh para nabi kepada mereka dan, karena itu, tidak lagi mengikuti pesan asli dan murni dari Alkitab (ayat 68). Secara lebih khusus, kaum Yahudi dicela karena “buta dan tuli [hatinya]” (ayat 70-71, dan juga dalam berbagai surah lainnya), sedangkan umat Nasrani dicela karena menuhankan Nabi Isa a.s. yang jelas bertentangan dengan ajaran-ajaran Ilahi yang diilhamkan kepadanya (ayat 72-77 dan 116-118).

Mengenai keanekaragaman komunitas agama, ayat 48 surah ini menyatakan bahwa: “Kepada masing-masing di antara kalian, telah Kami berikan aturan dan jalan hidup [yang berbeda-beda]. … Maka, berlomba-lombalah dalam berbuat kebajikan!” Dan, sekali lagi, semua orang-orang beriman sejati—dari golongan kepercayaan mana pun—diberi jaminan bahwa “semua yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta beramal saleh, tidak perlu takut dan tidak pula akan bersedih hati” (ayat 69).

Puncak pernyataan dari seluruh surah ini ditemukan dalam ayat 3, yang diwahyukan kepada Nabi menjelang beliau wafat, yakni: “Pada hari ini, telah Kusempurnakan bagi kalian hukum agama kalian, dan telah Kulimpahkan kepada kalian nikmat-Ku sepenuhnya, dan telah Kutetapkan bahwa penyerahan diri pada-Ku (al-islam) menjadi agama kalian.”

Daftar Isi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Ma’idah Ayat 1

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ ۚ أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۗ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ

yā ayyuhallażīna āmanū aufụ bil-‘uqụd, uḥillat lakum bahīmatul-an’āmi illā mā yutlā ‘alaikum gaira muḥilliṣ-ṣaidi wa antum ḥurum, innallāha yaḥkumu mā yurīd

1. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Tepatilah akad-akad kalian!1

Dihalalkan bagi kalian [daging setiap] hewan pemakan tumbuhan, kecuali yang dibacakan kepada kalian [dalam ayat berikut2]: tetapi kalian tidak boleh berburu ketika sedang mengerjakan haji. Perhatikanlah, Allah menetapkan menurut kehendak-Nya.3


1 Istilah ‘aqd (akad, kontrak) menunjukkan sebuah perjanjian yang sungguh-sungguh atau perikatan yang melibatkan lebih dari satu pihak. Menurut Raghib, perjanjian yang dimaksud dalam ayat ini “ada tiga macam, yakni: (1) perjanjian antara Allah dan manusia (kewajiban manusia terhadap Allah); (2) perjanjian antara manusia dan diri (jiwa)nya sendiri; dan (3) perjanjian antara sesama manusia”—dengan demikian, mencakup seluruh ruang Iingkup tanggung jawab moral dan sosial manusia.

2 Yakni, pada ayat 3. Secara harfiah, ungkapan bahimat al-an’am dapat diterjemahkan menjadi “binatang hewan ternak”; akan tetapi, karena terjemahan itu jelas akan menimbulkan tautologi (pengulangan) yang tidak perlu, banyak mufasir cenderung berpendapat bahwa yang dimaksud di sini adalah “hewan apa pun yang menyerupai hewan ternak [yang dijinakkan] asalkan ia pemakan tumbuh-tumbuhan dan bukan hewan pemangsa yang buas” (Al-Razi; juga Lisan Al-‘Arab, entri na’ma). Saya memilih penafsiran yang meyakinkan ini dalam menerjemahkan frasa di atas.

3 Lit., “apa pun yang Dia kehendaki” atau “anggap pantas”: yakni, sesuai dengan rencana yang hanya diketahui sepenuhnya oleh Dia. Mengenai larangan berburu ketika melaksanakan ibadah haji, lihat ayat 94-96 surah ini.


Surah Al-Ma’idah Ayat 2

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنْ رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā tuḥillụ sya’ā`irallāhi wa lasy-syahral-ḥarāma wa lal-hadya wa lal-qalā`ida wa lā āmmīnal-baital-ḥarāma yabtagụna faḍlam mir rabbihim wa riḍwānā, wa iżā ḥalaltum faṣṭādụ, wa lā yajrimannakum syana`ānu qaumin an ṣaddụkum ‘anil-masjidil-ḥarāmi an ta’tadụ, wa ta’āwanụ ‘alal-birri wat-taqwā wa lā ta’āwanụ ‘alal-iṡmi wal-‘udwāni wattaqullāh, innallāha syadīdul-‘iqāb

2. Wahai, kalian yang telah meraih iman! Janganlah melanggar perlambang-perlambang yang telah ditetapkan Allah, bulan suci [haji], kurban yang dikalungi,4 atau orang-orang yang datang berduyun-duyun ke Masjid Al-Haram untuk mencari karunia Pemelihara mereka dan penerimaan yang baik (ridha) dari Allah; dan [hanya] setelah ibadah haji kalian selesai,5 kalian bebas berburu.

Dan, jangan pernah biarkan kebencian kalian kepada kaum yang telah menghalangi kalian dari Masjid Al-Haram menjerumuskan kalian ke dalam dosa agresi:6 alih-alih, tolong-menolonglah dalam menyuburkan kebajikan dan kesadaran akan Allah, dan janganlah tolong-menolong dalam menyuburkan kejahatan dan permusuhan; dan tetaplah sadar akan Allah: sebab, perhatikanlah, Allah amat keras dalam menghukum!


4 Lit., “jangan pula (melanggar) kurban-kurban, jangan pula kalung-kalung”—merujuk pada hewan-hewan yang dibawa ke Makkah pada musim haji untuk dikorbankan di sana atas nama Allah, yang dagingnya dibagikan kepada orang-orang miskin. Untuk membedakan hewan persembahan itu, dan untuk mencegah terjadinya kecerobohan karena memanfaatkan hewan-hewan itu untuk kepentingan duniawi (misalkan untuk diperdagangkan), biasanya leher hewan tersebut dipasangi kalung. Lihat juga Surah Al-Baqarah [2]: 196.

Istilah sya’a’ira Allah (lit., “perlambang-perlambang Allah”), yang terdapat pada kalimat ini, menunjukkan tempat-tempat yang dikhususkan bagi ritus-ritus keagamaan (misalnya Ka’bah) serta ritus-ritus keagamaan itu sendiri. (Bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 158 yang menggambarkan Al-Shafa dan Al-Marwah sebagai “perlambang-perlambang yang ditetapkan Allah”.) Konteks ayat tersebut khususnya mengacu pada ritual haji.

5 Lit., “ketika kalian telah terbebas dari kewajiban-kewajiban yang mengikat selama berada dalam keadaan berhaji (idza halaltum)”.

6 Karena surah ini, tidak diragukan lagi, turun pada 10 H (Al-Thabari, Ibn Katsir), sulit untuk menerima pandangan beberapa mufasir yang menyatakan bahwa ayat di atas adalah berkenaan dengan sejumlah peristiwa yang berpuncak pada perjanjian gencatan senjata Hudaibiyyah pada 6 H, ketika kaum musyrik Quraisy berhasil mencegah Nabi dan para pengikutnya memasuki Makkah untuk menunaikan haji. Pada saat ini diturunkan, Makkah sudah berada dalam kekuasaan umat Muslim sehingga persoalan penghadangan kaum Quraisy terhadap mereka untuk memasuki Makkah sudah tidak ada lagi, bahkan pada saat itu kaum Quraisy hampir semuanya sudah masuk Islam. Karena itu, kita harus menyimpulkan bahwa perintah tersebut tidak terbatas pada peristiwa sejarah tertentu, tetapi memiliki makna yang abadi dan bersifat umum: dengan kata lain, perintah tersebut berlaku untuk setiap orang yang berusaha menghalang-halangi orang beriman—secara fisik atau kiasan—yang hendak menjalankan perintah-perintah agama mereka (yang disimbolkan dengan “Masjid Al-Haram*“) dan, karena itu, menyesatkan mereka dari iman. Selain itu, jika ayat berikutnya diperhatikan, inilah satu-satunya penafsiran yang masuk akal.

* {Dalam teks asalnya, Masjid Al-Haram diterjemahkan Asad menjadi Inviolable House of Worship, yang secara harfiah berarti Rumah Ibadah yang Bebas Gangguan.—peny.}


Surah Al-Ma’idah Ayat 3

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ ۚ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌ ۗ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

ḥurrimat ‘alaikumul-maitatu wad-damu wa laḥmul-khinzīri wa mā uhilla ligairillāhi bihī wal-munkhaniqatu wal-mauqụżatu wal-mutaraddiyatu wan-naṭīḥatu wa mā akalas-sabu’u illā mā żakkaitum, wa mā żubiḥa ‘alan-nuṣubi wa an tastaqsimụ bil-azlām, żālikum fisq, al-yauma ya`isallażīna kafarụ min dīnikum fa lā takhsyauhum wakhsyaụn, al-yauma akmaltu lakum dīnakum wa atmamtu ‘alaikum ni’matī wa raḍītu lakumul-islāma dīnā, fa maniḍṭurra fī makhmaṣatin gaira mutajānifil li`iṡmin fa innallāha gafụrur raḥīm

3. DIHARAMKAN bagi kalian bangkai, darah, daging babi, (hewan) yang disembelih atas nama selain Allah,7 hewan yang tercekik, atau yang dipukul hingga mati, atau yang mati karena jatuh, atau yang ditanduk sampai mati, atau yang diterkam hewan buas, kecuali yang sempat kalian sembelih [sendiri] ketika ia masih (dalam keadaan) hidup; dan [diharamkan bagi kalian] semua yang disembelih di atas altar pemujaan berhala.8

Dan [kalian diharamkan] mencari-cari tahu, melalui ramalan-ramalan, mengenai apa yang mungkin akan menanti kalian di masa depan:9 ini adalah kefasikan.

Pada hari ini, orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran telah kehilangan seluruh harapan akan [berpalingnya kalian meninggalkan] agama kalian: maka, janganlah merasa gentar kepada mereka, tetapi merasa gentarlah kepada-Ku!

Pada hari ini, telah Kusempurnakan bagi kalian hukum agama kalian, dan telah Kulimpahkan kepada kalian nikmat-Ku sepenuhnya, dan telah Kutetapkan bahwa penyerahan diri pada-Ku (al-islam) menjadi agama kalian.10

Namun, barang siapa yang terpaksa [melakukan yang diharamkan] karena keadaan yang benar-benar darurat11 dan bukan karena kecenderungan berbuat dosa—perhatikanlah, Allah Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.


7 Lihat Surah Al-Baqarah [2]: 173.

8 Nushub (bentuk tunggalnya: nashibah) adalah batu-altar yang pada zaman pra-Islam diletakkan di sekeliling Ka’bah. Oleh kaum musyrik Quraisy, batu-altar ini digunakan sebagai tempat mempersembahkan hewan kurban kepada patung berhala mereka. Namun, menurut riwayat Zaid ibn ‘Amr ibn Nufail (Al-Bukhari), tampaknya yang disembelih di batu-altar tersebut bukan hewan kurban saja, melainkan sering pula hewan yang dimaksudkan untuk konsumsi bersama dengan maksud memperoleh apa yang dianggap sebagai “berkah” (lihat Fathul Bari VII, h. 113). Di lain pihak, sebagian filolog berpendapat bahwa kata nushub merupakan bentuk tunggal, dengan anshab sebagai bentuk jamaknya (bdk. ayat 90 surah ini). Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, istilah itu menunjukkan asosiasi dengan segala macam praktik yang bersifat “keberhalaan”, dan hendaknya dipahami tidak dalam pengertian harfiah saja. Bdk. hal ini dengan ayat 90 surah ini dan catatannya (no. 105).

9 Lit., “berusaha meramal [masa depan] dengan menggunakan anak panah”. Ini merujuk pada panah ramalan yang tidak memiliki mata-panah dan bulu, yang digunakan oleh orang-orang Arab pra-Islam untuk mengetahui nasib mereka pada masa yang akan datang. (Penjelasan yang komprehensif tentang praktik ini dapat dilihat pada Lane III, h. 1247.) Sebagaimana halnya dengan sejumlah paparan sejarah lainnya dalam Al-Quran, paparan ini juga digunakan secara metonimia: yakni, dimaksudkan sebagai larangan terhadap segala macam upaya untuk meramal masa depan.

10 Menurut semua hadis yang ada, yang berdasarkan kesaksian orang-orang yang sezaman dengan Nabi, ayat tersebut—yang menjadi penutup, demikianlah kira-kira, pesan-pesan Al-Quran—diwahyukan di Padang ‘Arafah pada Jumat sore, 9 Dzulhijjah 10 H, sekitar 81 atau 82 hari sebelum Nabi wafat. Tidak ada aturan hukum apa pun yang diwahyukan setelah ayat ini: dan ini menjelaskan pernyataan dalam ayat tersebut, bahwa Allah telah menyempurnakan agama dan melimpahkan sepenuh nikmat-Nya kepada orang-orang yang beriman. Penyerahan diri manusia kepada Allah (islam) ditetapkan sebagai dasar, atau aturan dasar, bagi seluruh agama (din) yang benar. Penyerahan diri ini diungkapkan tidak saja melalui keimanan kepada Allah, tetapi juga melalui ketaatan terhadap perintah-Nya: dan inilah alasan mengapa maklumat mengenai telah-disempurnakannya pesan-pesan Al-Quran diletakkan dalam konteks ayat yang berisi aturan hukum terakhir yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw.

11 Lit., “dalam [kondisi] kekosongan” (fi makhmashah). Ungkapan ini secara umum berarti “dalam kelaparan yang hebat”, tapi, walaupun makna utama ungkapan ini memang “kekosongan yang disebabkan oleh kelaparan”, adanya paparan mengenai ramalan dalam ayat tersebut menunjuk pula pada penggunaan metonimia dari istilah makhmashah tersebut: jadi, dalam ayat ini, kata tersebut mencakup tidak hanya kasus-kasus kelaparan hebat (sehingga dalam keadaan itu, jenis-jenis daging tertentu yang tadinya haram dimakan menjadi halal, sebagaimana dinyatakan dengan jelas dalam Surah Al-Baqarah [2]: 173), tetapi juga mencakup situasi lainnya ketika kekuatan-kekuatan eksternal yang luar biasa, yang berada di luar kendali seseorang, memaksa dia—bertentangan dengan keinginannya—untuk melakukan sesuatu yang dalam keadaan wajar dilarang oleh Hukum Islam. Contohnya, memakai obat-obatan yang memabukkan manakala penyakit memang mengharuskannya sehingga penggunaannya tidak dapat dihindari.


Surah Al-Ma’idah Ayat 4

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ ۖ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۙ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ ۖ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

yas`alụnaka māżā uḥilla lahum, qul uḥilla lakumuṭ-ṭayyibātu wa mā ‘allamtum minal-jawāriḥi mukallibīna tu’allimụnahunna mimmā ‘allamakumullāhu fa kulụ mimmā amsakna ‘alaikum ważkurusmallāhi ‘alaihi wattaqullāh, innallāha sarī’ul-ḥisāb

4. Mereka akan bertanya kepadamu tentang apa yang dihalalkan bagi mereka. Katakanlah: “Dihalalkan bagi kalian segala sesuatu yang baik-baik dalam hidup ini.”12

Adapun hewan pemburu13 yang kalian latih dengan mengajari mereka suatu dari pengetahuan yang telah Allah ajarkan kepada kalian—makanlah dari apa yang mereka tangkap untuk kalian, tetapi bacakanlah nama Allah terhadapnya, dan tetaplah sadar akan Allah: sungguh, Allah amat cepat dalam membuat perhitungan.


12 Implikasinya adalah bahwa (1) hal-hal yang diharamkan tidak termasuk dalam kategori “segala sesuatu yang baik-baik dalam hidup ini” (al-thayyibat), dan (2) segala sesuatu yang tidak secara jelas dilarang adalah halal. Hendaknya diperhatikan bahwa Al-Quran hanya melarang hal-hal atau perbuatan yang dapat membahayakan manusia, baik secara fisik, moral, maupun sosial.

13 Lit., “di antara hewan pemburu yang terlatih” (min al-jawarih mukallibin). Istilah mukallib menunjukkan “yang terlatih seperti anjing [pemburu]” dan diterapkan pada segala hewan yang digunakan untuk berburu, seperti anjing pemburu, burung elang, cheetah {sejenis macan di Afrika—peny.}, dan sebagainya.


Surah Al-Ma’idah Ayat 5

الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۖ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ ۖ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

al-yauma uḥilla lakumuṭ-ṭayyibāt, wa ṭa’āmullażīna ụtul-kitāba ḥillul lakum wa ṭa’āmukum ḥillul lahum wal-muḥṣanātu minal-mu`mināti wal-muḥṣanātu minallażīna ụtul-kitāba ming qablikum iżā ātaitumụhunna ujụrahunna muḥṣinīna gaira musāfiḥīna wa lā muttakhiżī akhdān, wa may yakfur bil-īmāni fa qad ḥabiṭa ‘amaluhụ wa huwa fil-ākhirati minal-khāsirīn

5. Pada hari ini, segala sesuatu yang baik-baik dalam hidup ini dihalalkan bagi kalian. Dan, makanan orang-orang yang telah diberi wahyu terdahulu itu halal bagi kalian,14 dan makanan kalian halal bagi mereka. Dan, [dihalalkan bagi kalian,] dalam ikatan pernikahan, perempuan-perempuan dari kalangan orang-orang yang beriman [pada kitab Ilahi ini], dan, dalam ikatan pernikahan, perempuan-perempuan dari kalangan orang-orang yang telah diberi wahyu sebelum zaman kalian—dengan syarat kalian memberi mereka maharnya, mengambil mereka dalam ikatan pernikahan yang tulus, bukan dalam perzinaan, bukan pula sebagai kekasih-kekasih gelap.15

Namun, adapun orang yang menolak iman [pada Allah] akan sia-sialah seluruh perbuatannya: sebab, di akhirat nanti dia termasuk orang-orang yang merugi.16


14 Penghalalan untuk ikut memakan makanan para penganut agama-agama wahyu lainnya (ahl al-kitab) tentu saja tidak mencakup jenis-jenis daging yang diharamkan, seperti yang telah diperinci dalam ayat 3. Kenyataannya, Hukum Nabi Musa a.s. pun secara eksplisit melarang hal tersebut; dan tidak ada pernyataan apa pun dalam Injil yang menyatakan bahwa larangan ini telah dihapus oleh Nabi Isa a.s.: sebaliknya, diriwayatkan bahwa Nabi Isa a.s. telah berkata, “Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan Hukum Taurat …: Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Bibel, Matius 5: 17). Jadi, kebebasan yang dinikmati para pengikut Nabi Isa a.s. pasca-Paulus dalam hal makanan tidak sejalan dengan apa yang dipraktikkan dan diperintahkan oleh Nabi Isa a.s. sendiri.

15 Sementara lelaki Muslim diperbolehkan menikahi perempuan dari kalangan ahl al-kitab (penganut agama-agama wahyu lainnya), perempuan Muslim tidak dibolehkan menikahi lelaki non-Muslim. Alasannya adalah karena islam memerintahkan penghormatan kepada semua nabi, sedangkan kalangan penganut agama lainnya menolak sebagian dari nabi-nabi itu—contohnya, Nabi Muhammad Saw., atau, dalam kaitannya dengan orang Yahudi, baik Nabi Muhammad Saw. maupun Nabi Isa a.s. Jadi, seorang perempuan non-Muslim yang menikah dengan seorang Muslim dapat sepenuhnya yakin bahwa para nabi dalam kepercayaannya itu—terlepas dari segala perbedaan doktrinal yang ada—akan disebut-sebut dengan penuh hormat di lingkungan Muslim; namun, seorang perempuan Muslim yang menikahi non-Muslim akan selalu rentan mengalami tindak perendahan terhadap Nabi Muhammad Saw. (yang dia yakini sebagai utusan Allah) oleh suaminya.

16 Pasase di atas menjadi pamungkas, begitulah kira-kira, dari kalimat pembuka surah ini, “Wahai, kalian yang telah meraih iman! Tepatilah akad-akad kalian”—di mana beriman kepada Allah dan menerima seluruh perintah-Nya merupakan akad yang terpenting. Pasase ini segera diikuti dengan ayat tentang shalat: sebab, dalam shalatlah kebergantungan manusia terhadap Tuhan diekspresikan dengan cara yang paling sadar, sengaja, dan dengan sepenuh pertimbangan.


Surah Al-Ma’idah Ayat 6

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

yā ayyuhallażīna āmanū iżā qumtum ilaṣ-ṣalāti fagsilụ wujụhakum wa aidiyakum ilal-marāfiqi wamsaḥụ biru`ụsikum wa arjulakum ilal-ka’baīn, wa ing kuntum junuban faṭṭahharụ, wa ing kuntum marḍā au ‘alā safarin au jā`a aḥadum mingkum minal-gā`iṭi au lāmastumun-nisā`a fa lam tajidụ mā`an fa tayammamụ ṣa’īdan ṭayyiban famsaḥụ biwujụhikum wa aidīkum min-h, mā yurīdullāhu liyaj’ala ‘alaikum min ḥarajiw wa lākiy yurīdu liyuṭahhirakum wa liyutimma ni’matahụ ‘alaikum la’allakum tasykurụn

6. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Apabila kalian hendak mengerjakan shalat, basuhlah muka kalian, tangan dan lengan kalian sampai siku, dan sapulah kepala kalian dengan tangan kalian [yang basah], dan [basuhlah] kaki kalian sampai pergelangannya. Dan, jika kalian dalam keadaan yang menuntut penyucian menyeluruh, bersihkanlah diri kalian.17 Namun, jika kalian sakit, atau dalam perjalanan, atau baru saja membuang hajat, atau telah bersanggama dengan perempuan, dan tidak dapat memperoleh air—bertayamumlah dengan debu yang bersih, dengan mengusapkannya secara lembut pada muka dan tangan kalian. Allah tidak hendak membebankan kesukaran apa pun pada kalian, tetapi hendak membuat kalian bersih, dan (hendak) menganugerahkan sepenuh nikmat-Nya kepada kalian, supaya kalian bersyukur.


17 Untuk penjelasan terhadap penggalan ayat ini dan penggalan berikutnya, lihat Surah An-Nisa’ [4]: 43 dan catatan-catatannya. Di sini, disebutkannya shalat berkaitan dengan kalimat terakhir dari ayat sebelumnya yang berbicara tentang keimanan kepada Allah.


Surah Al-Ma’idah Ayat 7

وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمِيثَاقَهُ الَّذِي وَاثَقَكُمْ بِهِ إِذْ قُلْتُمْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

ważkurụ ni’matallāhi ‘alaikum wa mīṡāqahullażī wāṡaqakum bihī iż qultum sami’nā wa aṭa’nā wattaqullāh, innallāha ‘alīmum biżātiṣ-ṣudụr

7. Dan, ingatlah [selalu] nikmat-nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kalian, dan sumpah setia yang dengannya Dia ikat kalian pada-Nya18 saat kalian berkata, “Kami dengar dan kami taat.” Karena itu, tetaplah sadar akan Allah: sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam hati [manusia].


18 Lit., “sumpah setia-Nya, yang dengannya Dia mengikat kalian”. Karena sumpah ini diucapkan oleh orang-orang beriman kepada Allah dan bukan oleh Allah kepada orang-orang beriman, kata ganti hu dalam “sumpah-Nya” (mitsaqahu) hanya memiliki satu arti, yaitu: tindakan Allah mengikat kaum Mukmin melalui sumpah itu kepada diri-Nya sendiri.


Surah Al-Ma’idah Ayat 8

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

yā ayyuhallażīna āmanụ kụnụ qawwāmīna lillāhi syuhadā`a bil-qisṭi wa lā yajrimannakum syana`ānu qaumin ‘alā allā ta’dilụ, i’dilụ, huwa aqrabu lit-taqwā wattaqullāh, innallāha khabīrum bimā ta’malụn

8. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Hendaklah kalian senantiasa teguh dalam pengabdian kepada Allah, menjadi saksi terhadap kebenaran dengan seadil-adilnya; dan jangan pernah biarkan kebencian terhadap siapa pun19 mendorong kalian ke dalam dosa penyimpangan dari keadilan. Berlaku adillah: ini yang paling mendekati kesadaran akan Allah. Dan, tetaplah sadar akan Allah: sungguh, Allah Maha Mengetahui segala yang kalian kerjakan.


19 Lit., “terhadap orang-orang/suatu kaum” (qaumin).


Surah Al-Ma’idah Ayat 9

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ۙ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ

wa’adallāhullażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti lahum magfiratuw wa ajrun ‘aẓīm

9. Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang telah meraih iman dan melakukan perbuatan-perbuatan baik [bahwa] mereka akan mendapat ampunan, dan pahala yang besar;


Surah Al-Ma’idah Ayat 10

وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

wallażīna kafarụ wa każżabụ bi`āyātinā ulā`ika aṣ-ḥābul-jaḥīm

10. adapun orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran dan mendustakan pesan-pesan Kami—mereka itu ditetapkan di neraka yang berkobar.


Surah Al-Ma’idah Ayat 11

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ هَمَّ قَوْمٌ أَنْ يَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ فَكَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

yā ayyuhallażīna āmanużkurụ ni’matallāhi ‘alaikum iż hamma qaumun ay yabsuṭū ilaikum aidiyahum fa kaffa aidiyahum ‘angkum, wattaqullāh, wa ‘alallāhi falyatawakkalil-mu`minụn

11. Wahai, kalian yang telah meraih iman! Ingatlah nikmat-nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kalian tatkala orang-orang [yang memusuhi kalian] hendak menggerakkan tangan mereka ke atas kalian,20 dan Dia menahan tangan mereka dari (menyentuh) kalian. Maka, tetaplah sadar akan Allah: dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang beriman itu bersandar penuh percaya.*


20 Lit., “mengulurkan tangan mereka terhadap kalian”: mengingatkan pada kelemahan orang-orang beriman pada masa-masa awal pewahyuan Al-Quran dan, secara tersirat, pada lemahnya setiap gerakan keagamaan pada masa-masa awal kelahirannya.

* {Yakni, bertawakal: in God let the bellevers place their trust.—peny.}


Surah Al-Ma’idah Ayat 12

وَلَقَدْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيبًا ۖ وَقَالَ اللَّهُ إِنِّي مَعَكُمْ ۖ لَئِنْ أَقَمْتُمُ الصَّلَاةَ وَآتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَآمَنْتُمْ بِرُسُلِي وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَلَأُدْخِلَنَّكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۚ فَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ

wa laqad akhażallāhu mīṡāqa banī isrā`īl, wa ba’aṡnā min-humuṡnai ‘asyara naqībā, wa qālallāhu innī ma’akum, la`in aqamtumuṣ-ṣalāta wa ātaitumuz-zakāta wa āmantum birusulī wa ‘azzartumụhum wa aqraḍtumullāha qarḍan ḥasanal la`ukaffiranna ‘angkum sayyi`ātikum wa la`udkhilannakum jannātin tajrī min taḥtihal-an-hār, fa mang kafara ba’da żālika mingkum fa qad ḍalla sawā`as-sabīl

12. DAN,SUNGGUH, Allah telah menerima sumpah setia [yang serupa]21 dari Bani Israil ketika Kami jadikan dua belas pemimpin mereka diutus [ke Kanaan sebagai mata-mata].22 Dan, Allah berfirman, “Perhatikanlah, Aku akan beserta kalian! Jika kalian teguh mendirikan shalat, memberikan derma, beriman pada rasul-rasul-Ku dan membantu mereka, serta mempersembahkan kepada Allah pinjaman yang baik,23 tentu akan Kuhapus perbuatan-perbuatan buruk kalian dan Aku masukkan kalian ke dalam taman-taman yang dilalui aliran sungai-sungai. Namun, siapa saja di antara kalian yang, sesudah ini, mengingkari kebenaran, akan benar-benar tersesat dari jalan yang lurus!”


21 Frasa sisipan “yang serupa” dijustifikasi oleh rujukan yang nyata-nyata mengacu pada ayat surah ini. Sumpah itu serupa karena ia mengacu pada ketaatan akan perintah-perintah Allah.

22 Lit., “ketika Kami mengutus dua belas pemimpin di antara mereka”. Hal ini merujuk kepada kisah Bibel (dalam Kitab Bilangan 13), yang menyatakan bahwa Tuhan memerintahkan Musa untuk mengutus seorang pemimpin dari masing-masing dua belas suku “untuk mengintai tanah Kanaan” sebelum Bani Israil menyerbunya. (Kata naqib, yang di sini diterjemahkan menjadi “pemimpin”, juga berarti “penyelidik” atau “pengintai”, sebab ia diambil dari kata naqaba, yang—antara lain—berarti “dia meneliti” atau “menyelidiki”.) Tindakan Bani Israil berikutnya, yang nyaris merupakan pemberontakan—karena ketakutan mereka terhadap suku-suku kuat yang tinggal di Kanaan (bdk. Bibel, Kitab Bilangan 14)—secara singkat disebutkan dalam kalimat pertama ayat 13 dan dijelaskan lebih lengkap dalam ayat 20-26 surah ini.

23 Yakni, dengan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik.


Surah Al-Ma’idah Ayat 13

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً ۖ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ ۙ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ ۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَىٰ خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

fa bimā naqḍihim mīṡāqahum la’annāhum wa ja’alnā qulụbahum qāsiyah, yuḥarrifụnal-kalima ‘am mawāḍi’ihī wa nasụ ḥaẓẓam mimmā żukkirụ bih, wa lā tazālu taṭṭali’u ‘alā khā`inatim min-hum illā qalīlam min-hum fa’fu ‘an-hum waṣfaḥ, innallāha yuḥibbul-muḥsinīn

13. Lalu, karena telah melanggar sumpah setia mereka,24 Kami tolak mereka dan Kami jadikan hati mereka mengeras!—[sehingga kini] mereka mengubah makna kata-kata [yang diwahyukan], dengan mengeluarkannya dari konteksnya;25 dan mereka telah melupakan banyak hal yang telah diperintahkan kepada mereka untuk dicamkan; dan engkau senantiasa akan mengalami pengkhianatan dari mereka semua, kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat). Akan tetapi, maafkanlah mereka dan tahanlah (dirimu): sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.


24 Sebuah paparan tentang ketidakpercayaan mereka pada Allah dan terus-menerusnya mereka berbuat dosa.

25 Lihat Surah An-Nisa’ [4]: 46, yang di dalamnya tuduhan yang sama dilontarkan kepada Bani Israil.


Surah Al-Ma’idah Ayat 14

وَمِنَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَىٰ أَخَذْنَا مِيثَاقَهُمْ فَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۚ وَسَوْفَ يُنَبِّئُهُمُ اللَّهُ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

wa minallażīna qālū innā naṣārā akhażnā mīṡāqahum fa nasụ haẓẓam mimmā żukkirụ bihī fa agrainā bainahumul-‘adāwata wal-bagḍā`a ilā yaumil-qiyāmah, wa saufa yunabbi`uhumullāhu bimā kānụ yaṣna’ụn

14. Dan, [demikian pula] dari orang-orang yang berkata, “Perhatikanlah, kami adalah orang-orang Nasrani,”26 Kami telah menerima sumpah setia: dan mereka, juga, telah melupakan banyak hal yang telah diperintahkan kepada mereka untuk dicamkan—karena itu, Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian, [yang berlangsung] hingga Hari Kebangkitan:27 dan kelak, Allah akan menjadikan mereka memahami apa yang telah mereka perbuat.


26 Jadi, Al-Quran dengan gaya bahasa eliptis* menolak klaim mereka sebagai para pengikut sejati Nabi Isa: sebab, dengan mengangkat Nabi Isa secara keliru sampai pada status ketuhanan, mereka telah mengingkari hakikat dasar ajaran Nabi Isa itu sendiri.

* {Dalam ilmu Bayan, hal ini dapat disejajarkan dengan gaya bahasa isti’arah makniyyah, yakni peniadaan kata atau satuan lain yang wujud asalnya dapat diketahui dari konteks bahasa atau dari konteks luar bahasa.—peny.}

27 Yakni, kesesatan mereka dari ajaran murni Nabi lsa a.s.—dan sekaligus dari keimanan yang benar pada Allah—adalah sebab yang paling pokok dari permusuhan dan kebencian yang menyebabkan bangsa-bangsa, yang dikenal sebagai Nasrani itu, sering saling bertikai dan terjerumus dalam Perang yang tak berkesudahan dan tindakan saling menganiay.


Surah Al-Ma’idah Ayat 15

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ ۚ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ

yā ahlal-kitābi qad jā`akum rasụlunā yubayyinu lakum kaṡīram mimmā kuntum tukhfụna minal-kitābi wa ya’fụ ‘ang kaṡīr, qad jā`akum minallāhi nụruw wa kitābum mubīn

15. Wahai, pengikut-pengikut Alkitab! Kini, telah datang kepada kalian Rasul Kami, untuk menjelaskan kepada kalian banyak hal dari Alkitab yang telah kalian sembunyikan [dari diri kalian sendiri],28 dan untuk memaafkan banyak (hal). Kini, telah datang kepada kalian cahaya dari Allah, dan kitab Ilahi yang jelas,


28 Karena ayat 15-19 ditujukan kepada orang Yahudi dan Nasrani, istilah al-kitab di sini dapat dengan tepat diterjemahkan menjadi “Alkitab” (Bible). Perlu dicermati bahwa makna dasar kata khafiya adalah “menjadi tidak terlihat” atau “tidak tampak” atau “tidak jelas”, dan makna yang sama juga terkandung pada bentuk transitif kata tersebut, akhfa. Tentu saja, tidak diragukan bahwa bentuk transitif verba itu juga berarti “dia menyembunyikan [sesuatu]”, yakni dari orang Iain: namun, sejalan dengan frasa sebelumnya, yakni “telah datang kepada kalian Rasul Kami untuk menjelaskan kepada kalian“, jelaslah bahwa yang disinggung dalam konteks ini adalah penyembunyian sesuatu oleh orang itu sendiri: dengan kata lain, ia merujuk kepada tindakan para pengikut Alkitab yang secara hertahap mengaburkan kebenarannya yang murni, yang enggan mereka akui, bahkan terhadap diri mereka sendiri.


Surah Al-Ma’idah Ayat 16

يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

yahdī bihillāhu manittaba’a riḍwānahụ subulas-salāmi wa yukhrijuhum minaẓ-ẓulumāti ilan-nụri bi`iżnihī wa yahdīhim ilā ṣirāṭim mustaqīm

16. yang dengannya Allah menunjukkan jalan-jalan menuju keselamatan29 kepada semua orang yang mencari ridha (penerimaan yang baik dari)-Nya dan, dengan rahmat-Nya, (Dia) mengeluarkan mereka dari pekatnya kegelapan kepada cahaya dan membimbing mereka ke jalan yang lurus.


29 Kata salam yang di sini diterjemahkan menjadi “salvation” (keselamatan), tidak mempunyai padanan yang memadai dalam bahasa Inggris. Kata ini menunjukkan kedamaian batin, kesehatan, dan keamanan dari kejahatan dalam bentuk apa pun, baik secara fisik maupun spiritual. Salam juga menunjukkan pencapaian apa yang, dalam terminologi Kristen, sering digambarkan sebagai “salvation (keselamatan)”: namun, bedanya adalah bahwa konsep Kristen tentang keselamatan mengasumsikan suatu keadaan yang secara apriori penuh dosa, yang dalam agama Kristen dijustifikasi oleh konsep “dosa asal”; suatu konsep yang tidak dijustifikasi oleh Islam, yang tidak menganut doktrin ini. Karena itu, istilah “salvation“—yang saya gunakan di sini karena tidak ada padanan yang lebih baik—tidak menyampaikan secara memadai makna sempurna dari kata salam. Kata dalam bahasa-bahasa Barat yang mungkin paling mendekati salam adalah kata bahasa Jerman, Heil, atau kata bahasa Prancis, salut, yang keduanya mengungkapkan gagasan tentang kedamaian dan kepuasan ruhani tanpa perlu (yakni secara linguistik) dihubungkan dengan doktrin Kristen tentang salvation. {Dalam bahasa Indonesia, kata salam dan salvation sama-sama diterjemahkan menjadi “keselamatan” sehingga perbedaan makna keduanya tidak terlihat jelas.—peny.}


Surah Al-Ma’idah Ayat 17

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۚ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ۗ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

laqad kafarallażīna qālū innallāha huwal-masīḥubnu maryam, qul fa may yamliku minallāhi syai`an in arāda ay yuhlikal-masīḥabna maryama wa ummahụ wa man fil-arḍi jamī’ā, wa lillāhi mulkus-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumā, yakhluqu mā yasyā`, wallāhu ‘alā kulli syai`ing qadīr

17. Sungguh, mengingkari kebenaranlah mereka yang berkata, “Perhatikanlah, Allah adalah Al-Masih, putra Maryam.” Katakanlah: “Dan, siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, dengan jalan apa pun, andai Dia hendak membinasakan Al-Masih, putra Maryam, beserta ibunya dan setiap orang yang berada di bumi—seluruhnya? Karena, milik Allah-lah kekuasaan atas seluruh lelangit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya; Dia menciptakan yang Dia kehendaki: dan Allah berkuasa menetapkan segala sesuatu!”


Surah Al-Ma’idah Ayat 18

وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَىٰ نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ ۚ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ ۖ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ ۚ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

wa qālatil-yahụdu wan-naṣārā naḥnu abnā`ullāhi wa aḥibbā`uh, qul fa lima yu’ażżibukum biżunụbikum, bal antum basyarum mim man khalaq, yagfiru limay yasyā`u wa yu’ażżibu may yasyā`, wa lillāhi mulkus-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumā wa ilaihil-maṣīr

18. Dan, orang Yahudi dan Nasrani [keduanya] berkata, “Kami adalah anak-anak Allah,30 dan kekasih-kekasih-Nya.” Katakanlah: “Maka, mengapa Allah menjadikan kalian menderita karena dosa-dosa kalian? Bukan begitu, kalian tiada lain hanyalah manusia yang Dia ciptakan. Dia mengampuni siapa saja yang Dia kehendaki, dan Dia jadikan menderita siapa saja yang Dia kehendaki: sebab, milik Allah-lah kekuasaan atas seluruh lelangit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya, dan pada-Nya-lah seluruh perjalanan berakhir.”


30 Bdk. Bibel, Kitab Keluaran 4: 22-23 (“Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung”), Yeremia 31: 9 (“Aku telah menjadi bapa Israel”), dan ungkapan senada yang banyak terdapat dalam Injil.


Surah Al-Ma’idah Ayat 19

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلَىٰ فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ أَنْ تَقُولُوا مَا جَاءَنَا مِنْ بَشِيرٍ وَلَا نَذِيرٍ ۖ فَقَدْ جَاءَكُمْ بَشِيرٌ وَنَذِيرٌ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

yā ahlal-kitābi qad jā`akum rasụlunā yubayyinu lakum ‘alā fatratim minar-rusuli an taqụlụ mā jā`anā mim basyīriw wa lā nażīr, fa qad jā`akum basyīruw wa nażīr, wallāhu ‘alā kulli syai`ing qadīr

19. Wahai, pengikut-pengikut Alkitab! Kini, setelah sekian lama tidak ada rasul yang muncul*, telah datang kepada kalian Rasul Kami [ini] untuk menjadikan [kebenaran] jelas bagi kalian, agar kalian tidak berkata, “Tiada seorang pun pembawa kabar-kabar gembira maupun pemberi peringatan yang datang kepada kami”: sebab, kini telah datang kepada kalian pembawa kabar-kabar gembira dan pemberi peringatan—sebab, Allah berkuasa menetapkan segala sesuatu.


* {Frasa “setelah sekian lama tidak ada rasul yang muncul” merupakan terjemahan yang diberikan Muhammad Asad untuk frasa fatratin minarrusul. Dalam Al-Quran Depag RI, frasa itu diterjemahkan menjadi: “ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul”.—AM}


Surah Al-Ma’idah Ayat 20

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِيَاءَ وَجَعَلَكُمْ مُلُوكًا وَآتَاكُمْ مَا لَمْ يُؤْتِ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ

wa iż qāla mụsā liqaumihī yā qaumiżkurụ ni’matallāhi ‘alaikum iż ja’ala fīkum ambiyā`a wa ja’alakum mulụkaw wa ātākum mā lam yu`ti aḥadam minal-‘ālamīn

20. DAN, LIHAT, Musa berkata kepada kaumnya,31 “Wahai, kaumku! Ingatlah nikmat-nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kalian ketika Dia mengangkat nabi-nabi di tengah-tengah kalian, dan menjadikan kalian penguasa atas diri kalian sendiri,32 dan menganugerahkan kepada kalian [karunia-karunia] yang belum pernah Dia anugerahkan kepada siapa pun di dunia.


31 Dengan kata-kata ini, Al-Quran kembali kepada kisah Bani Israil yang disebutkan dalam ayat 12-13—yakni, kepada sebuah ilustrasi tentang tindakan mereka “melanggar sumpah setia mereka” dan berpalingnya mereka dari iman pada Allah. Selain itu, kisah berikutnya secara langsung berkaitan dengan ayat sebelumnya karena Musa menyeru kepada Bani Israil sebagai “seorang pembawa kabar-kabar gembira dan pemberi peringatan”.

32 Lit., “menjadikan kalian raja”. Menurut mayoritas mufasir (seperti Al-Thabari, Al-Zamakhsyari, dan Al-Razi), “kerajaan” Israil adalah sebuah kiasan tentang kebebasan dan kemerdekaan mereka setelah diperbudak bangsa Mesir. Istiiah “raja” di sini sepadan dengan “manusia merdeka yang menguasai urusannya sendiri” (Al-Manar VI, hh. 323 dst.) dan, karena itu, dapat menganut jalan-hidup apa pun yang dia pilih.


Surah Al-Ma’idah Ayat 21

يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ

yā qaumidkhulul-arḍal-muqaddasatallatī kataballāhu lakum wa lā tartaddụ ‘alā adbārikum fa tangqalibụ khāsirīn

21. Wahai, kaumku! Masukilah tanah suci yang telah Allah janjikan kepada kalian, tetapi janganlah berpaling ke belakang [dari keyakinan kalian], karena jika begitu, kalian akan merugi!”


Surah Al-Ma’idah Ayat 22

قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِنَّ فِيهَا قَوْمًا جَبَّارِينَ وَإِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا حَتَّىٰ يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنَّا دَاخِلُونَ

qālụ yā mụsā inna fīhā qauman jabbārīna wa innā lan nadkhulahā ḥattā yakhrujụ min-hā, fa iy yakhrujụ min-hā fa innā dākhilụn

22. Mereka menjawab, “Wahai, Musa! Perhatikanlah, orang-orang yang ganas tinggal di negeri itu,33 dan kami betul-betul tidak akan memasukinya, kecuali mereka keluar dari sana; tetapi, jika mereka keluar dari sana, perhatikanlah, pasti kami akan memasukinya.”


33 Lit., “di dalamnya” (fiha). Lihat Bibel, Kitab Bilangan 13: 32-33 dan juga seluruh pasal 14 yang berbicara tentang teror yang menimpa orang-orang Israil ketika mendengar laporan dua belas pengintai yang disebutkan dalam ayat 12 surah ini, dan tentang hukuman atas kepengecutan dan ketiadaan-iman mereka.


Surah Al-Ma’idah Ayat 23

قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

qāla rajulāni minallażīna yakhāfụna an’amallāhu ‘alaihimadkhulụ ‘alaihimul-bāb, fa iżā dakhaltumụhu fa innakum gālibụna wa ‘alallāhi fa tawakkalū ing kuntum mu`minīn

23. [Maka,] dua orang di antara orang-orang yang takut [kepada Allah, dan] yang telah Allah beri nikmat, berkata, “Masukilah (serbulah) mereka melalui pintu gerbangnya34—sebab, segera setelah kalian memasukinya, perhatikanlah, kalian akan berjaya! Dan, kepada Allah-lah hendaknya kalian bersandar penuh percaya, jika kalian [benar-benar] orang-orang yang beriman!”


34 Yakni, dengan serangan frontal. Menurut Bibel (Kitab Bilangan 14: 6-9, 24, 30, 38), dua orang yang takut akan Allah itu adalah Yosua dan Kaleb, yang berada di antara dua belas pengintai yang dikirim untuk menyelidiki daerah Kanaan, yang kini mencoba untuk meyakinkan Bani Israil yang terpukul teror itu untuk bertawakal (menyandarkan diri penuh percaya) kepada Allah. Sebagaimana sering disinggung Al-Quran, kisah Bani Israil ini dimaksudkan untuk menggambarkan perbedaan antara iman sejati dan tanpa pamrih, dengan cinta-diri duniawi.


Surah Al-Ma’idah Ayat 24

قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا أَبَدًا مَا دَامُوا فِيهَا ۖ فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ

qālụ yā mụsā innā lan nadkhulahā abadam mā dāmụ fīhā faż-hab anta wa rabbuka fa qātilā innā hāhunā qā’idụn

24. [Namun,] mereka berkata, “Wahai, Musa! Perhatikanlah, kami tidak akan pernah memasuki [negeri] itu selama mereka ada di dalamnya. Maka, pergilah engkau bersama Pemeliharamu, dan berperanglah, kalian berdua! Perhatikanlah, kami akan tetap di sini!”


Surah Al-Ma’idah Ayat 25

قَالَ رَبِّ إِنِّي لَا أَمْلِكُ إِلَّا نَفْسِي وَأَخِي ۖ فَافْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ

qāla rabbi innī lā amliku illā nafsī wa akhī fafruq bainanā wa bainal-qaumil-fāsiqīn

25. Berdoalah [Musa], “Wahai, Pemeliharaku! Tidak berkuasa aku, kecuali terhadap diriku sendiri dan saudaraku [Harun]: maka, buatkanlah garis pemisah antara kami dan orang-orang fasik ini!”


Surah Al-Ma’idah Ayat 26

قَالَ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ ۛ أَرْبَعِينَ سَنَةً ۛ يَتِيهُونَ فِي الْأَرْضِ ۚ فَلَا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ

qāla fa innahā muḥarramatun ‘alaihim arba’īna sanah, yatīhụna fil-arḍ, fa lā ta`sa ‘alal-qaumil-fāsiqīn

26. Dia (Allah) menjawab, “Maka, sungguh, [negeri] ini akan diharamkan bagi mereka selama empat puluh tahun, sementara mereka mengembara di bumi, ke sana kemari dalam kebingungan; dan janganlah engkau berdukacita atas orang-orang fasik ini.”


Surah Al-Ma’idah Ayat 27

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

watlu ‘alaihim naba`abnai ādama bil-ḥaqq, iż qarrabā qurbānan fa tuqubbila min aḥadihimā wa lam yutaqabbal minal-ākhar, qāla la`aqtulannak, qāla innamā yataqabbalullāhu minal-muttaqīn

27. DAN, SAMPAIKANLAH kepada mereka, dengan menyatakan kebenaran, kisah dua anak Adam35—bagaimana keduanya mempersembahkan kurban, dan kurban salah seorang dari mereka diterima, sedangkan kurban dari seorang yang lain tidak ditertma.

[Dan Qabil] berkata, “Aku pasti akan membunuhmu!”

[Habil) menjawab, “Perhatikanlah, Allah hanya menerima dari orang-orang yang sadar akan Dia.


35 Yakni, kisah tentang Kain (Qabil) dan Habel (Habil) yang disebutkan dalam Bibel Kitab Kejadian 4: 1-16. Kata ganti him dalam “sampaikanlah kepada mereka” (watlu alaihim) mengacu pada para pengikut Alkitab {Taurat dan Injil—peny.} dan jelas berhubungan dengan ayat 15 surah ini, “Kini, telah datang kepada kalian Rasul Kami, untuk menjelaskan kepada kalian banyak hal dari Alkitab yang telah kalian sembunyikan [dari diri kalian sendiri]”, yang maknanya telah dijelaskan dalam catatan no. 28 sebelum ini. Pesan moral kisah Bibel ini—yang oleh para pengikut Alkitab telah mereka “sembunyikan dari diri mereka sendiri”—diringkas dalam ayat 32.


Surah Al-Ma’idah Ayat 28

لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ ۖ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ

la`im basatta ilayya yadaka litaqtulanī mā ana bibāsiṭiy yadiya ilaika li`aqtulak, innī akhāfullāha rabbal-‘ālamīn

28. Sekalipun engkau menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu: perhatikanlah, aku takut pada Allah, Pemelihara seluruh alam.


Surah Al-Ma’idah Ayat 29

إِنِّي أُرِيدُ أَنْ تَبُوءَ بِإِثْمِي وَإِثْمِكَ فَتَكُونَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ

innī urīdu an tabū`a bi`iṡmī wa iṡmika fa takụna min aṣ-ḥābin-nār, wa żālika jazā`uẓ-ẓālimīn

29. Sungguh, aku ingin agar engkau memikul [beban] seluruh dosa yang pernah kuperbuat serta dosa yang pernah kau perbuat:36 [tetapi] kemudian engkau akan ditetapkan sebagai penghuni neraka, sebab itulah balasan bagi orang-orang zalim!”


36 Lit., “baik dosaku maupun dosamu”. Dari beberapa hadis sahih, dijelaskan bahwa jika seseorang meninggal karena tindak kekerasan yang bukan disebabkan, baik secara langsung maupun tidak langsung, oleh perbuatan dosanya sendiri, dosanya yang lalu akan diampuni (alasannya, jelas: karena dia tidak punya waktu untuk bertobat, sebagaimana yang mungkin dilakukannya andai dia tetap hidup). Dalam kasus pembunuhan yang tidak disengaja, si pembunuh terbebani—selain dengan dosa membunuh—dengan dosa yang dilakukan si korban pada masa Ialu, yang kini telah diampuni: penafsiran yang meyakinkan ini terhadap ayat tersebut dikemukakan oleh Mujahid (sebagaimana dikutip oleh Al-Thabari).


Surah Al-Ma’idah Ayat 30

فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ قَتْلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُ فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ

fa ṭawwa’at lahụ nafsuhụ qatla akhīhi fa qatalahụ fa aṣbaḥa minal-khāsirīn

30. Namun, hawa nafsu37nya (Qabil) mendorong dia untuk membunuh saudaranya; dan dia pun membunuhnya: maka, dia menjadi salah seorang di antara orang-orang yang merugi.


37 Di antara sekian banyak makna yang dinisbahkan pada nomina nafs (terutama, “jiwa”, “pikiran”, atau “diri”), ada juga yang bermakna “hasrat” (desire) atau “tekad sepenuh hati” (passionate determination; Al-Qamus; lihat juga Al-Zamakhsyari dalam Al-Asas); dalam konteks ini, tampaknya, terjemahan yang terbaik adalah “hawa nafsu” (passion).


Surah Al-Ma’idah Ayat 31

فَبَعَثَ اللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِي الْأَرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْءَةَ أَخِيهِ ۚ قَالَ يَا وَيْلَتَا أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَٰذَا الْغُرَابِ فَأُوَارِيَ سَوْءَةَ أَخِي ۖ فَأَصْبَحَ مِنَ النَّادِمِينَ

fa ba’aṡallāhu gurābay yab-ḥaṡu fil-arḍi liyuriyahụ kaifa yuwārī sau`ata akhīh, qāla yā wailatā a ‘ajaztu an akụna miṡla hāżal-gurābi fa uwāriya sau`ata akhī, fa aṣbaḥa minan-nādimīn

31. Kemudian, Allah mengirimkan seekor burung gagak yang menggaruk-garuk tanah, untuk memperlihatkan kepadanya bagaimana dia seharusnya menutupi aurat dari jasad saudaranya. [Dan Qabil] berteriak, “Oh, celaka aku! Terlalu lemahkah aku untuk melakukan apa yang dilakukan burung gagak ini,38 dan menutupi aurat dari jasad saudaraku ini?”—lalu setelah itu, dia merasa terpukul oleh penyesalan yang dalam.39


38 Lit., “untuk menjadi seperti burung gagak ini”.

39 Lit., “menjadi salah satu dari mereka yang teramat menyesal”. Pikiran Qabil untuk mengubur jenazah saudaranya, yang terilhami oleh burung gagak yang menggaruk-garuk tanah, menjadikan dia sadar betapa besar kejahatannya.


Surah Al-Ma’idah Ayat 32

مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا ۚ وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ بَعْدَ ذَٰلِكَ فِي الْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ

min ajli żālika katabnā ‘alā banī isrā`īla annahụ mang qatala nafsam bigairi nafsin au fasādin fil-arḍi fa ka`annamā qatalan-nāsa jamī’ā, wa man aḥyāhā fa ka`annamā aḥyan-nāsa jamī’ā, wa laqad jā`at-hum rusulunā bil-bayyināti ṡumma inna kaṡīram min-hum ba’da żālika fil-arḍi lamusrifụn

32. Karena itu, Kami tetapkan bagi Bani Israil bahwa siapa saja yang membunuh seorang manusia—kecuali yang dilakukan [sebagai hukuman] atas pembunuhan atau atas penebaran kerusakan di muka bumi—seolah-olah dia telah membunuh manusia seluruhnya; sedangkan, siapa saja yang menyelamatkan kehidupan (seorang manusia), seolah-olah dia telah menyelamatkan kehidupan manusia seluruhnya.40

Dan, sungguh, telah datang kepada mereka41 rasul-rasul Kami dengan (membawa) seluruh bukti-bukti kebenaran: tetapi, perhatikanlah, terlepas dari ini semua, banyak di antara mereka terus saja melakukan berbagai tindakan yang melampaui batas di muka bumi.42


40 Kebenaran moral inilah yang di antaranya disinggung oleh kalimat pertama ayat 15 surah ini, dan perumusannya yang ringkas menjelaskan dengan baik mengapa kisah Qabil dan Habil disebutkan dalam konteks ini. Ungkapan “Kami tetapkan bagi Bani Israil” tentu saja tidak mengurangi keabsahan universal dari pesan moral ini: hal itu hanya merujuk pada penetapannya untuk pertama kali {dalam sejarah—peny.}.

41 Yakni, pengikut Alkitab, baik Yahudi maupun Nasrani.

42 Verba bentuk kini (fi’l mudhari’) la-musrifun menunjukkan tindakan mereka yang “terus-menerus melampaui batas” (yakni, melakukan kejahatan), sehingga paling tepat diterjemahkan menjadi “mereka terus-menerus melakukan”-nya. Mengingat ayat-ayat sebelumnya, “tindakan-tindakan yang melampaui batas” ini jelas merujuk pada kejahatan berupa kekerasan dan, secara khusus, pada pembunuhan manusia dengan keji.


Surah Al-Ma’idah Ayat 33

إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ۚ ذَٰلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا ۖ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

innamā jazā`ullażīna yuḥāribụnallāha wa rasụlahụ wa yas’auna fil-arḍi fasādan ay yuqattalū au yuṣallabū au tuqaṭṭa’a aidīhim wa arjuluhum min khilāfin au yunfau minal-arḍ, żālika lahum khizyun fid-dun-yā wa lahum fil-ākhirati ‘ażābun ‘aẓīm

33. Adalah suatu balasan yang adil belaka bagi orang-orang yang memerangi Allah dan rasul-Nya,43 dan yang berusaha keras menyebarkan kerusakan di muka bumi, bahwa mereka dibunuh secara besar-besaran*, atau disalib secara besar-besaran, atau—sebagai akibat pembangkangan mereka—dipotong tangan dan kaki mereka secara besar-besaran,44 atau dibuang [sama sekali] dari [muka] bumi: demikian itulah penistaan terhadap mereka di dunia ini.45 Akan tetapi, di akhirat, penderitaan yang [bahkan lebih] mengerikan menanti mereka—


43 Dalam konteks ini, istilah “rasul” jelas mempunyai pengertian umum. Ungkapan “memerangi Allah dan rasul-Nya” artinya adalah sikap bermusuhan, dan pengabaian yang disengaja, terhadap ajaran-ajaran etis yang telah ditetapkan Allah dan dijelaskan oleh semua rasul-Nya, yang juga diiringi dengan usaha sadar untuk menghancurkan atau meruntuhkan iman orang-orang lain pada Allah.

* {Untuk penjelasan mengenai keterangan “secara besar-besaran” ini, lihat catatan no. 45 (b).—AM}

44 Dalam idiom bahasa Arab klasik, ungkapan “memotong tangan dan kaki seseorang” sering disinonimkan dengan “menghancurkan kekuatan seseorang”, dan sangat mungkin bahwa ungkapan tersebut digunakan dalam pengertian ini. Atau, ungkapan itu bisa pula berarti “dipotong”, baik secara fisik maupun kiasan—mirip dengan penggunaan (metonimia) dari ungkapan “disalib” dalam pengertian “disiksa”. Frasa min khilaf—yang biasanya diterjemahkan menjadi “secara bersilang”—berasal dari kata khalafahu, yakni “dia tidak setuju dengannya”, “menentangnya”, atau “berbuat secara berlawanan dengannya”. Jadi, makna dasar min khilaf adalah “akibat dari perlawanan” atau “pembangkangan”.

45 Mayoritas mufasir klasik menganggap ayat ini sebagai perintah legal dan, karena itu, menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut: “Balasan bagi mereka yang memerangi Allah dan rasul-Nya dan menyebarkan kerusakan di bumi adalah mereka dibunuh, atau disalib, atau tangan dan kaki mereka dipotong secara bersilang, atau mereka dibuang dari bumi: demikian itulah penghinaan terhadap mereka di dunia ini”. Bagaimanapun, kebenaran penafsiran ini tidak dijamin oleh teks ayat karena alasan-alasan berikut:

(a) Keempat verba pasif yang terdapat dalam kalimat ini—dibunuh, disalib, dipotong, dan dibuang—adalah verba bentuk kini (fi’l mudhari’) dan tidak, dengan sendirinya, menunjuk pada masa depan atau bentuk kalimat perintah.

(b) Bentuk yuqattalu tidak hanya berarti “mereka sedang dibunuh”, atau (sebagaimana ditafsirkan oleh para mufasir) “mereka harus dibunuh”, tetapi juga berarti—sesuai dengan aturan pokok tata bahasa Arab—”mereka dibunuh secara besar-besaran”; dan hal yang sama juga berlaku pada bentuk verbal yushallabu (“mereka disalib secara besar-besaran”) dan tuqaththa’a (“dipotong secara besar-besaran”). Sekarang, jika kita percaya bahwa ini merupakan “hukuman yang diperintahkan”, hal itu berarti bahwa sejumlah besar—tetapi tidak berarti semuanya—dari “mereka yang memerangi Allah dan rasul-Nya” harus dengan cara ini: tak pelak lagi, hal demikian adalah anggapan yang tidak dapat diterima karena menganggap Sang Pemberi Hukum Ilahi bersikap arbitrer. Selain itu, jika pihak yang “memerangi Allah dan rasui-Nya” itu hanya terdiri dari satu orang, atau sedikit orang, bagaimana bisa sebuah perintah yang mengacu pada “orang-orang secara besar-besaran” dapat diterapkan kepada mereka atau kepada seorang saja?

(c) Selanjutnya, jika ayat tersebut dianggap sebagai perintah legal, apa kiranya arti frasa “mereka harus dibuang dari bumi”? Sungguh, pertanyaan ini sangat membingungkan para mufasir. Beberapa di antara mereka menganggap bahwa para pendosa harus “dibuang dari negeri [Islam]”: tetapi, dalam Al-Quran tidak ada contoh penggunaan istilah “bumi” (ardh) yang terbatas seperti itu. Mufasir lainnya memahami redaksi “membuang mereka dari [muka] bumi” dengan tafsiran bahwa seseorang yang bersalah harus dipenjara di ruang penjara bawah tanah!

(d) Akhirnya—dan ini merupakan sanggahan terpenting untuk membantah tafsiran ayat tersebut sebagai “perintah legal”—Al-Quran justru memakai ungkapan yang sama yang merujuk pada penyaliban dan pemotongan anggota tubuh secara massal (tetapi kali ini dengan niat yang pasti, yang merujuk ke masa depan) untuk menggambarkan ucapan Fir’aun ketika mengancam kaum Mukmin (lihat Surah Al-A’raf [7]: 124, Surah TaHa [20]: 71, dan Surah Asy-Syu’ara’ [26]: 49). Karena dalam Al-Quran Fir’aun selalu digambarkan sebagai lambang kejahatan dan kekafiran terhadap Allah, mustahil Al-Quran yang sama akan mengajarkan suatu hukum Ilahi dengan menggunakan istilah-istilah yang persis sama dengan yang digunakannya pada ayat lain ketika menunjuk pada figur yang digambarkan sebagai “musuh Allah”.

Singkatnya, usaha para mufasir untuk menafsirkan ayat rsebut sebagai sebuah “perintah legal” harus ditolak sama sekali, betapapun masyhurnya nama para mufasir yang mengemukakan tafsiran itu. Pada sisi lain, sebuah penafsiran yang meyakinkan akan menjadi jelas dengan sendirinya pada kita, segera setelah kita membaca ayat tersebut—sebagaimana seharusnya—dalam bentuk kini (fi’l mudhari’, present tense): sebab, dengan cara baca seperti ini, ayat tersebut Iangsung menyatakan diri sebagai sebuah pernyataan atas fakta, yakni: suatu pernyataan tentang balasan hukuman yang tak terelakkan bagi “orang-orang yang memerangi Allah”, balasan yang timbul akibat tindakan mereka sendiri. Penentangan mereka terhadap perintah-perintah etis menyebabkan mereka buta terhadap semua nilai moral; dan, perselisihan antara mereka (yang merupakan akibat logis dari penentangan itu), serta “perlawanan” tersebut pada akhirnya menimbulkan percekcokan tiada akhir di antara mereka sendiri untuk memperoleh keuntungan duniawi dan kekuasaan: mereka saling membunuh, menyiksa, dan merusak satu sama lainnya secara besar-besaran sehingga seluruh komunitas tersapu bersih atau, seperti dikatakan Al-Quran, “dibuang dari [muka] bumi”. Inilah satu-satunya penafsiran yang memberikan perhatian sepenuhnya terhadap seluruh ungkapan yang terdapat dalam ayat ini—frasa “secara besar-besaran” dalam hubungannya dengan berbagai tindakan kekerasan yang ekstrem, “pembuangan dari bumi”, dan terakhir, kenyataan bahwa kengerian ini diungkapkan melalui istilah yang digunakan oleh Fir’aun, sang “musuh Allah”.


Surah Al-Ma’idah Ayat 34

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ قَبْلِ أَنْ تَقْدِرُوا عَلَيْهِمْ ۖ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

illallażīna tābụ ming qabli an taqdirụ ‘alaihim, fa’lamū annallāha gafụrur raḥīm

34. kecuali orang-orang [di antara mereka] yang bertobat sebelum kalian [wahai orang-orang yang beriman] menjadi lebih kuat daripada mereka:46 karena hendaknya kalian mengetahui bahwa Allah Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.


46 Yakni, sebelum keimanan pada Allah dan pada prinsip- prinsip etis yang diputuskan-Nya menjadi suatu kelaziman: sebab, jika keadaan itu sudah tercapai, tobat “mereka yang memerangi Allah dan rasul-Nya” tidak lebih hanya merupakan suatu perbuatan menyesuaikan diri terhadap tren yang dominan dan, karena itu, tidak memiliki nilai moral apa pun. Perlu dicatat bahwa pembebasan dari penderitaan tersebut merujuk pada penderitaan di akhirat.


Surah Al-Ma’idah Ayat 35

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha wabtagū ilaihil-wasīlata wa jāhidụ fī sabīlihī la’allakum tufliḥụn

35. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Tetaplah sadar akan Allah, dan berupayalah untuk lebih dekat kepada-Nya, dan gigihlah berjuang di jalan-Nya, agar kalian meraih kebahagiaan.


Surah Al-Ma’idah Ayat 36

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ أَنَّ لَهُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَمِثْلَهُ مَعَهُ لِيَفْتَدُوا بِهِ مِنْ عَذَابِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَا تُقُبِّلَ مِنْهُمْ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

innallażīna kafarụ lau anna lahum mā fil-arḍi jamī’aw wa miṡlahụ ma’ahụ liyaftadụ bihī min ‘ażābi yaumil-qiyāmati mā tuqubbila min-hum, wa lahum ‘ażābun alīm

36. Sungguh jika orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran itu memiliki segala sesuatu yang ada di bumi ini, dan dua kali lipat dari itu,47 untuk ditawarkan sebagai tebusan untuk menghindari penderitaan pada Hari Kebangkitan, niscaya tidak akan diterima dari mereka: sebab, penderitaan yang pedih menanti mereka.


47 Lit., “dan yang serupa dengannya” (wa mitslahu).


Surah Al-Ma’idah Ayat 37

يُرِيدُونَ أَنْ يَخْرُجُوا مِنَ النَّارِ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنْهَا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيمٌ

yurīdụna ay yakhrujụ minan-nāri wa mā hum bikhārijīna min-hā wa lahum ‘ażābum muqīm

37. Mereka akan sangat ingin keluar dari neraka, tetapi mereka tidak akan dapat keluar dari sana; dan penderitaan yang berkepanjangan menanti mereka.


Surah Al-Ma’idah Ayat 38

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

was-sāriqu was-sāriqatu faqṭa’ū aidiyahumā jazā`am bimā kasabā nakālam minallāh, wallāhu ‘azīzun ḥakīm

38. ADAPUN LAKl-LAKI yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya sebagai balasan atas apa yang telah mereka perbuat, sebagai pencegah* yang ditentukan Allah:48 sebab, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.


* {deterrent; ini adalah terjemahan Muhammad Asad untuk nakalan. Dalam Al-Quran Depag RI, kata tersebut diterjemahkan menjadi “siksaan”. Dalam kamus, verba nakal diartikan dengan, antara lain, berkecut hati atau mundur (recoil) sehingga bentuk mashdar-nya (nakala) berarti “pencegahan”. Namun, bentuk mashdar ini juga bisa berarti “siksaan” seperti yang terdapat dalam Surah An-Nazi’at [79]: 25.—AM}

48 Luar biasa kerasnya hukuman yang ditetapkan Al-Quran ini hanya dapat dimengerti jika kita mengingat prinsip dasar Hukum Islam bahwa tidak pernah ada pembebanan kewajiban (taklif) atas seseorang tanpa pemberian hak (haqq) yang seimbang; dalam konteks ini, istilah “kewajiban” juga mencakup tanggung jawab menjalani hukuman. Selanjutnya, di antara hak mutlak setiap anggota masyarakat Islam—baik Muslim maupun non-Muslim—adalah hak untuk mendapatkan perlindungan (dalam segenap makna yang dikandung kata ini) dari masyarakat sebagai keseluruhan. Sebagaimana yang jelas terlihat dari sekian banyak aturan Al-Quran maupun perintah Nabi yang tercantum dalam hadis sahih, setiap penduduk berhak mendapat bagian dari sumber daya ekonomi masyarakat dan, karena itu, berhak mendapatkan jaminan sosial: dengan kata lain, setiap penduduk, baik laki-laki maupun perempuan, harus mendapatkan jaminan standar kehidupan yang layak seimbang dengan sumber-sumber yang dimiliki masyarakat. Karena, meskipun Al-Quran menjelaskan bahwa kehidupan manusia bukan terdiri dari eksistensi fisik belaka—mengingat nilai tertinggi kehidupan pada hakikatnya bersifat spiritual—orang-orang beriman tidak boleh menganggap kebenaran dan nilai-nilai spiritual sebagai sesuatu yang dapat dipisahkan dari faktor-faktor fisik dan sosial dari eksistensi manusia. Singkatnya, Islam membayangkan dan menghendaki suatu masyarakat yang memenuhi tidak hanya kebutuhan-kebutuhan spiritual manusia, tetapi juga kebutuhan jasmani dan intelektualnya. Karena itu—agar dapat benar-benar menjadi islami—suatu masyarakat (atau negara) harus disusun sedemikian rupa sehingga setiap individu, laki-Iaki dan perempuan, dapat menikmati standar minimal kesejahteraan dan jaminan materiel; yang tanpa hal ini, mustahil akan ada martabat manusia, kebebasan sejati, dan—yang terakhir—kemajuan spiritual: sebab, kebahagiaan dan kekuatan sejati tidak akan terwujud dalam masyarakat yang membiarkan beberapa anggotanya tidak terpenuhi kebutuhannya, sedangkan anggota yang lain mendapatkan lebih daripada yang mereka butuhkan. Jika seluruh masyarakat menderita kekurangan karena peristiwa yang berada di luar jangkauan kendali mereka (contohnya, seperti yang dialami komunitas Muslim pada masa awal Islam), kekurangan yang merata semacam ini dapat menjadi sumber kekuatan spiritual dan, karena itu, menjadi sumber kejayaan pada masa datang. Namun, jika sumber daya suatu masyarakat tidak didistribusikan secara merata sehingga kelompok tertentu hidup makmur, sementara mayoritas masyarakat dipaksa untuk menghabiskan seluruh energi untuk mencari makanan sehari-hari, kemiskinan akan menjadi musuh yang paling berbahaya bagi kemajuan spiritual dan, kadang-kadang, menjadikan seluruh masyarakat berpaling dari kesadaran akan Allah (ketakwaan) serta menjerumuskan mereka ke dalam impitan materialisme yang menghancurkan jiwa. Tak diragukan lagi, inilah yang dipikirkan Nabi ketika menyampaikan peringatan (sebagaimana dikutip AI-Suyuthi dalam Al-Jami’ Al-Shaghir), “Kemiskinan dapat mendorong pengingkaran terhadap kebenaran (kufr).” Karena itu, undang-undang sosial Islam bertujuan mewujudkan keadaan yang di dalamnya setiap laki-laki, perempuan, dan anak-anak mendapatkan (a) cukup pangan dan sandang, (b) tempat tinggal yang memadai, (c) peluang dan fasilitas yang sama untuk mendapatkan pendidikan, dan (d) perawatan medis gratis ketika sehat maupun sakit. Konsekuensi logis dari hak-hak ini adalah hak untuk bekerja secara produktif dan menguntungkan bagi semua yang berada pada usia kerja dan dalam kesehatan prima. Di samping itu, dalam hal seseorang tidak mampu karena sakit, menjadi janda, terpaksa menganggur, berusia tua, atau masih di bawah umur, warga berhak memperoleh penyediaan makanan, tempat berlindung, dan sebagainya secara memadai (dari masyarakat atau negara). Sebagaimana telah disebutkan, kewajiban masyarakat untuk menciptakan skema jaminan sosial yang komprehensif seperti ini telah ditetapkan dalam banyak ayat Al-Quran, dan telah diperkuat serta dijelaskan oleh banyak perintah Rasulullah Saw. Khalifah kedualah, ‘Umar ibn Al-Khathtb, yang mulai menerjemahkan ketetapan-ketetapan ini ke dalam skema administrasi yang nyata (lihat Ibn Sa’d, Thabaqat III/I, hh. 213-217); tetapi, setelah beliau wafat pada usia yang terlalu dini, penggantinya tidak mempunyai visi maupun sikap negarawan untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.

Dengan latar belakang skema jaminan sosial yang didambakan oleh Islam inilah, Al-Quran menetapkan hukuman keras berupa pemotongan tangan sebagai hukuman pencegah bagi terjadinya perampokan. Sebab, dalam keadaan yang telah diuraikan sebelum ini, “godaan” tidak bisa diterima sebagai alasan yang sah dan karena, pada akhirnya, keseluruhan sistem sosial-ekonomi Islam didasari oleh keimanan para penganutnya, keseimbangannya amat rentan dan perlu dilindungi secara amat ketat dan konstan. Dalam suatu komunitas yang setiap penduduknya mendapat jaminan keamanan penuh serta keadilan sosial, usaha apa pun dari seorang individu untuk mencapai tujuan secara mudah dan ilegal dengan mengorbankan anggota masyarakat yang lainnya harus dianggap sebagai suatu serangan terhadap sistem sebagai keseluruhan dan harus dihukum sedemikian rupa: dan, karena itulah, peraturan tersebut menetapkan bahwa tangan pencuri harus dipotong. Bagaimanapun, kita harus selalu mengingat prinsip yang disebutkan di awal catatan ini: yakni, kesalingbergantungan absolut antara hak seseorang seimbang dengan kewajibannya (termasuk tanggung jawab menjalani hukuman). Dalam suatu komunitas atau negara yang mengabaikan atau tidak mampu menyediakan jaminan sosial secara penuh bagi seluruh penduduknya, godaan untuk memperkaya diri sendiri dengan menggunakan cara-cara ilegal sering tak dapat dihindari—dan, karena itu, pencurian tidak dapat dan tidak boleh dihukum seberat hukuman dalam negara yang sistern jaminan sosialnya sudah terwujud dalam kenyataan (dengan seluruh makna yang dikandung dalam kata ini). Jika masyarakat tidak mampu memenuhi kewajibannya kepada setiap penduduk, ia tidak memiliki hak menetapkan sanksi penuh hukum kriminal (hadd) terhadap pelaku pelanggaran tersebut, tetapi harus membatasi diri dengan memberikan bentuk sanksi administratif yang lebih ringan. (Keputusan Khalifah `Umar untuk tidak memberlakukan hadd potong tangan ketika kelaparan mendera bangsa Arab selama masa pemerintahannya menunjukkan apresiasi yang tepat atas prinsip ini.) Ringkasnya, dengan aman kita dapat menyimpulkan bahwa hukuman potong tangan karena mencuri hanya dapat diterapkan dalam konteks ketika skema jaminan sosial telah ada dan berfungsi secara menyeluruh, dan tidak dapat diterapkan dalam keadaan selain ini.


Surah Al-Ma’idah Ayat 39

فَمَنْ تَابَ مِنْ بَعْدِ ظُلْمِهِ وَأَصْلَحَ فَإِنَّ اللَّهَ يَتُوبُ عَلَيْهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

fa man tāba mim ba’di ẓulmihī wa aṣlaḥa fa innallāha yatụbu ‘alaīh, innallāha gafụrur raḥīm

39. Akan tetapi, siapa saja yang bertobat sesudah melakukan kejahatan, dan melakukan perbaikan,49 perhatikanlah, Allah akan menerima tobatnya: sungguh, Allah Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.


49 Yakni, dengan mengembalikan barang yang dicuri sebelum dia ditahan oleh pihak berwajib (Al-Manar VI, h. 382).


Surah Al-Ma’idah Ayat 40

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

a lam ta’lam annallāha lahụ mulkus-samāwāti wal-arḍ, yu’ażżibu may yasyā`u wa yagfiru limay yasyā`, wallāhu ‘alā kulli syai`ing qadīr

40. Tidakkah engkau mengetahui bahwa milik Allah-lah kekuasaan atas seluruh lelangit dan bumi? Dia menghukum siapa saja yang Dia kehendaki, dan mengampuni siapa saja yang Dia kehendaki: sebab, Allah berkuasa menetapkan segala sesuatu.


Surah Al-Ma’idah Ayat 41

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ لَا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ مِنَ الَّذِينَ قَالُوا آمَنَّا بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِنْ قُلُوبُهُمْ ۛ وَمِنَ الَّذِينَ هَادُوا ۛ سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ سَمَّاعُونَ لِقَوْمٍ آخَرِينَ لَمْ يَأْتُوكَ ۖ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ مِنْ بَعْدِ مَوَاضِعِهِ ۖ يَقُولُونَ إِنْ أُوتِيتُمْ هَٰذَا فَخُذُوهُ وَإِنْ لَمْ تُؤْتَوْهُ فَاحْذَرُوا ۚ وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ ۚ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ ۖ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

yā ayyuhar-rasụlu lā yaḥzungkallażīna yusāri’ụna fil-kufri minallażīna qālū āmannā bi`afwāhihim wa lam tu`ming qulụbuhum, wa minallażīna hādụ sammā’ụna lil-każibi sammā’ụna liqaumin ākharīna lam ya`tụk, yuḥarrifụnal-kalima mim ba’di mawāḍi’ihī, yaqụlụna in ụtītum hāżā fa khużụhu wa il lam tu`tauhu faḥżarụ, wa may yuridillāhu fitnatahụ fa lan tamlika lahụ minallāhi syai`ā, ulā`ikallażīna lam yuridillāhu ay yuṭahhira qulụbahum, lahum fid-dun-yā khizyuw wa lahum fil-ākhirati ‘ażābun ‘aẓīm

41. WAHAI, RASUL! Janganlah engkau disedihkan oleh orang-orang yang saling berlomba mengingkari kebenaran: seperti mereka50 yang berkata dengan mulut mereka, “Kami beriman,” padahal hati mereka tidak beriman; dan seperti orang-orang beragama Yahudi yang amat berhasrat mendengar berbagai kebohongan, dan amat berhasrat mendengar perkataan-perkataan kaum lain tanpa datang kepadamu [untuk mendapatkan pencerahan].51 Mereka mengubah makna kata-kata [yang diwahyukan], dengan mengeluarkannya dari konteksnya, seraya berkata [kepada diri mereka sendiri], “Jika disampaikan [ajaran] yang seperti ini kepada kalian, terimalah; tetapi jika (ajaran) itu tidak disampaikan kepada kalian, waspadalah!”52

[Janganlah engkau disedihkan oleh mereka—] sebab, jika Allah menghendaki siapa pun untuk tergoda kepada kejahatan, engkau sedikit pun tidak akan mampu membujuk Allah demi (membela) kepentingannya.53

Mereka itulah orang-orang yang hatinya tidak hendak Allah sucikan. Bagi mereka, kenistaan di dunia ini, dan derita yang dahsyat di akhirat—


50 Lit., “dari antara mereka”.

51 Meskipun ayat ini, pertama-tama, ditujukan kepada Nabi, ia mencakup manusia yang mengimani Al-Quran dan, karena itu, berlaku sepanjang masa. Teguran yang sarna diberlakukan kepada mereka yang dibicarakan oleh ayat ini: meskipun ayat ini hanya menyebut orang-orang munafik dan Yahudi, secara tersirat ia merujuk pada semua manusia yang berprasangka buruk terhadap lslam dan yang sudi mendengarkan berbagai pernyataan batil mengenai ajaran-ajarannya, dengan memilih mendengarkan “para ahli” non-Muslim yang tidak bersahabat daripada membaca Al-Quran itu sendiri untuk mendapatkan penjelasan—inilah makna dari frasa “tanpa datang kepadamu [wahai Muhammad]”.

52 Yakni, mereka siap-sedia menerima ajaran Al-Quran yang cocok dengan praanggapan mereka, tetapi tidak siap-sedia menerima apa pun yang bertentangan dengan kecenderungan diri mereka sendiri.

53 Ini berkaitan dengan permulaan ayat di atas; demikianlah alasan yang mendasari frasa sisipan yang saya tambahkan. Untuk istilah fitnah, lihat catatan no. 25 dalam Surah Al-Anfal [8].


Surah Al-Ma’idah Ayat 42

سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ ۚ فَإِنْ جَاءُوكَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ أَوْ أَعْرِضْ عَنْهُمْ ۖ وَإِنْ تُعْرِضْ عَنْهُمْ فَلَنْ يَضُرُّوكَ شَيْئًا ۖ وَإِنْ حَكَمْتَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

sammā’ụna lil-każibi akkālụna lis-suḥt, fa in jā`ụka faḥkum bainahum au a’riḍ ‘an-hum, wa in tu’riḍ ‘an-hum fa lay yaḍurrụka syai`ā, wa in ḥakamta faḥkum bainahum bil-qisṭ, innallāha yuḥibbul-muqsiṭīn

42. mereka yang amat berhasrat mendengar kebohongan apa pun, menelan dengan rakus segala sesuatu yang buruk!54

Karena itu, jika mereka datang kepadamu [untuk meminta keputusan],55 engkau dapat memberi keputusan di antara mereka, atau membiarkan mereka: sebab, jika engkau biarkan mereka, mereka sama sekali tidak dapat membahayakanmu. Namun, jika engkau memutuskan, putuskanlah dengan adil di antara mereka:56 sungguh, Allah menyukai orang-orang yang bertindak adil.


54 Nomina suht diderivasi dari verba sahata yang berarti “dia menghancurkan [sesuatu] sehancur-hancurnya”, dan terutama menunjukkan “perbuatan apa pun yang menimbulkan kerusakan”, sebab hal itu buruk sekali dan, karena itu, dilarang (Lisan Al-‘Arab), Jadi, ia berarti sesuatu yang buruk pada dirinya sendiri. Dalam konteks tersebut, ungkapan intensif {yang bernada melebihkan—peny.} akkalun li al-suht dapat berarti “mereka yang secara rakus melahap segala sesuatu yang dilarang” (yakni perolehan yang haram), atau lebih mungkin berarti “mereka yang secara rakus menelan segala sesuatu yang buruk”—yakni, setiap pernyataan batil tentang Al-Quran yang dilontarkan oleh para musuhnya dengan tujuan menghancurkan pengaruh Al-Quran.

55 Yakni, mengenai apa yang benar dan apa yang salah menurut Allah. Mayoritas mufasir berasumsi bahwa ayat ini mengacu pada sebuah kasus—atau sejumlah kasus—hukum tertentu yang diajukan kaum Yahudi Madinah kepada Nabi untuk dimintakan keputusannya; tetapi, mengingat prinsip inheren Al-Quran bahwa setiap paparan sejarah yang dikandungnya juga memiliki makna umum, saya cenderung berpendapat bahwa “keputusan” yang disinggung dalam ayat ini berhubungan dengan keputusan mengenai apakah keyakinan-keyakinan mereka itu—selain yang secara jelas didukung atau ditolak Al-Quran—benar atau salah.

56 Yakni, berdasar hukum etis yang diwahyukan Allah, bukan mengikuti selera mereka yang bersifat personal dan arbitrer.


Surah Al-Ma’idah Ayat 43

وَكَيْفَ يُحَكِّمُونَكَ وَعِنْدَهُمُ التَّوْرَاةُ فِيهَا حُكْمُ اللَّهِ ثُمَّ يَتَوَلَّوْنَ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ ۚ وَمَا أُولَٰئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ

wa kaifa yuḥakkimụnaka wa ‘indahumut-taurātu fīhā ḥukmullāhi ṡumma yatawallauna mim ba’di żālik, wa mā ulā`ika bil-mu`minīn

43. Akan tetapi, bagaimana mungkin mereka memintamu untuk memberi keputusan—mengingat mereka memiliki taurat, yang berisi perintah-perintah Allah—kemudian berpaling [dari keputusanmu]? Maka, yang seperti ini bukanlah orang-orang yang [sungguh] beriman.57


57 Ayat ini menggambarkan keanehan mentalitas kaum Yahudi itu, yang—terlepas dari fakta bahwa mereka memercayai Taurat sebagai kitab yang mencakup seluruh Hukum Ilahi—secara diam-diam berpaling kepada suatu sistem keagamaan yang tidak mereka percayai, dengan harapan bahwa jawaban-nya atas pertanyaan-pertanyaan etis tertentu dapat menguatkan sejumlah kepercayaan khayali mereka sendiri yang nyata-nyata bertentangan dengan Taurat. Dengan kata lain, mereka tidak benar-benar siap menerima keputusan Taurat—meskipun mereka menyatakan beriman padanya—dan tidak pula siap menerima putusan-putusan Al-Quran, yang menegaskan beberapa hukum Taurat dan membatalkan yang lainnya: sebab, segera setelah mereka menyadari bahwa AI-Quran tidak sesuai dengan prakonsepsi mereka (gagasan yang telah terbentuk sebelumnya), mereka berpaling darinya.


Surah Al-Ma’idah Ayat 44

إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ ۚ فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا ۚ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

innā anzalnat-taurāta fīhā hudaw wa nụr, yaḥkumu bihan-nabiyyụnallażīna aslamụ lillażīna hādụ war-rabbāniyyụna wal-aḥbāru bimastuḥfiẓụ ming kitābillāhi wa kānụ ‘alaihi syuhadā`, fa lā takhsyawun-nāsa wakhsyauni wa lā tasytarụ bi`āyātī ṡamanang qalīlā, wa mal lam yaḥkum bimā anzalallāhu fa ulā`ika humul-kāfirụn

44. Sungguh, Kami-lah yang telah menurunkan Taurat, yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Berdasarkan Taurat itulah, nabi-nabi, yang telah menyerahkan diri mereka kepada Allah, memberi keputusan bagi orang-orang yang menganut iman Yahudi;58 demikian juga yang dilakukan oleh orang-orang rabbani [terdahulu] dan para rabi, sebab sebagian dari kitab Allah telah dipercayakan pemeliharaannya kepada mereka,59 dan mereka [semua] menjadi saksi atas kebenarannya (kitab itu).

Karena itu, [wahai Bani Israil,] janganlah merasa gentar pada manusia, tetapi merasa gentarlah pada-Ku; dan janganlah menukar ayat-ayat-Ku dengan keuntungan yang sepele:60 sebab, siapa pun yang tidak memutuskan menurut apa yang Allah turunkan, sungguh, merupakan pengingkar-pengingkar kebenaran!


58 Ini menunjukkan bahwa Hukum Musa (Taurat) hanya ditujukan untuk Bani Israil dan tidak pernah dimaksudkan agar berlaku secara universal.

59 Ungkapan “sebagian dari kitab Allah (kitab)” menunjukkan bahwa Taurat tidak mencakup keseluruhan wahyu Allah dan bahwa masih banyak yang akan dlwahyukan. Untuk penjelasan tentang istilah “orang-orang rabbani“, lihat Surah Alu ‘Imran [3], catatan no. 62.

60 Yakni, dengan perasaan superioritas semu yang didasarkan pada kepercayaan batil bahwa Bani Israil adalah “umat pilihan Tuhan” dan, karena itu, merupakan satu-satunya penerima rahmat dan wahyu Tuhan. “Pesan-pesan” yang disebutkan dalam kalimat ini mengacu pada AI-Quran dan juga sejumlah ramalan Injil mengenai kedatangan Nabi Muhammad Saw.


Surah Al-Ma’idah Ayat 45

وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنْفَ بِالْأَنْفِ وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ ۚ فَمَنْ تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ ۚ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

wa katabnā ‘alaihim fīhā annan-nafsa bin-nafsi wal-‘aina bil-‘aini wal-anfa bil-anfi wal-użuna bil-użuni was-sinna bis-sinni wal-jurụḥa qiṣāṣ, fa man taṣaddaqa bihī fa huwa kaffāratul lah, wa mal lam yaḥkum bimā anzalallāhu fa ulā`ika humuẓ-ẓālimụn

45. Dan, telah Kami tetapkan bagi mereka di dalam [Taurat] itu: nyawa dengan nyawa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan balasan [yang serupa] terhadap luka-luka;61 tetapi, siapa saja yang melepaskan (hak membalas)-nya karena kemurahan hati, dengan cara demikian itu akan menebus sebagian dosa-dosanya yang lalu.62 Dan, mereka yang tidak memutuskan menurut apa yang telah Allah wahyukan—mereka, mereka itulah orang-orang yang zalim!


61 Lihat Bibel, Kitab Keluaran 21, pasal 23 dan seterusnya, yang menjelaskan secara terperinci mengenai amat kerasnya hukuman yang ditetapkan Hukum Musa.

62 Lit., “maka hal itu akan menjadi penebus kesalahannya”. Pentateuch {lima kitab pertama dalam Perjanjian Lama—peny.} tidak mencantumkan seruan untuk memberi maaf ini, yang dengan sangat jelas ditunjukkan tidak saja dalam Al-Quran, tetapi juga dalam ajaran Nabi Isa a.s., khususnya dalam Khutbah di Atas Bukit {lihat Bibel, Matius 5—peny.}: dan hal ini, jika dibaca dalam hubungannya dengan ayat-ayat berikutnya, akan tampak sebagai paparan tentang sifat Hukum Musa yang penerapannya dibatasi oleh zaman. Atau, peringatan tersebut mungkin merupakan bagian dari ajaran asli Taurat yang kemudian diselewengkan atau diabaikan dengan sengaja oleh para pengikutnya, yang oleh Al-Quran dituduh telah “mengubah makna kata-kata [yang diwahyukan]” (lihat ayat 41 surah ini).


Surah Al-Ma’idah Ayat 46

وَقَفَّيْنَا عَلَىٰ آثَارِهِمْ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ ۖ وَآتَيْنَاهُ الْإِنْجِيلَ فِيهِ هُدًى وَنُورٌ وَمُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ

wa qaffainā ‘alā āṡārihim bi’īsabni maryama muṣaddiqal limā baina yadaihi minat-taurāti wa ātaināhul-injīla fīhi hudaw wa nụruw wa muṣaddiqal limā baina yadaihi minat-taurāti wa hudaw wa mau’iẓatal lil-muttaqīn

46. Dan, Kami jadikan Isa, putra Maryam, mengikuti langkah-langkah mereka [nabi-nabi terdahulu] itu, untuk menegaskan kebenaran apa pun yang masih ada63 di dalam Taurat; dan Kami berikan kepadanya Injil, yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, untuk menegaskan kebenaran apa pun yang masih ada di dalam Taurat, dan sebagai petunjuk serta pengajaran bagi orang-orang yang sadar akan Allah.


63 Mengenai makna ma baina yadaihi (lit., “yang ada di antara dua tangannya” {“nya” dapat mengacu pada “seseorang” atau “sesuatu”—peny.}) yang muncul dua kali dalam ayat ini, dan juga dalam ayat 48, lihat Surah Alu ‘Imran [3], catatan no. 3.


Surah Al-Ma’idah Ayat 47

وَلْيَحْكُمْ أَهْلُ الْإِنْجِيلِ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فِيهِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

walyaḥkum ahlul-injīli bimā anzalallāhu fīh, wa mal lam yaḥkum bimā anzalallāhu fa ulā`ika humul-fāsiqụn

47. Maka, biarkanlah para pengikut Injil memutuskan menurut apa yang Allah wahyukan di dalamnya: sebab, mereka yang tidak memutuskan menurut apa yang telah Allah turunkan—mereka, mereka itulah orang-orang yang benar-benar fasik!


Surah Al-Ma’idah Ayat 48

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

wa anzalnā ilaikal-kitāba bil-ḥaqqi muṣaddiqal limā baina yadaihi minal-kitābi wa muhaiminan ‘alaihi faḥkum bainahum bimā anzalallāhu wa lā tattabi’ ahwā`ahum ‘ammā jā`aka minal-ḥaqq, likullin ja’alnā mingkum syir’ataw wa min-hājā, walau syā`allāhu laja’alakum ummataw wāḥidataw wa lākil liyabluwakum fī mā ātākum fastabiqul-khairāt, ilallāhi marji’ukum jamī’an fa yunabbi`ukum bimā kuntum fīhi takhtalifụn

48. Dan, kepadamu, [wahai Nabi,] telah Kami berikan kitab Ilahi ini, dengan menyatakan kebenaran, untuk menegaskan kebenaran apa pun yang masih ada dari wahyu-wahyu terdahulu dan menentukan mana yang benar di dalamnya.64 Maka, putuskanlah di antara para penganut wahyu-wahyu terdahulu itu menurut apa yang telah Allah turunkan,65 dan janganlah mengikuti pandangan-pandangan sesat mereka, dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.

Kepada masing-masing di antara kalian, telah Kami berikan aturan dan jalan hidup66 [yang berbeda-beda]. Dan, andaikan Allah menghendaki, tentu Dia bisa saja menjadikan kalian semua sebagai satu umat tunggal: tetapi [Dia menghendaki sebaliknya] untuk menguji kalian melalui apa yang telah Dia berikan kepada kalian.67 Maka, berlomba-lombalah dalam berbuat kebajikan! Kepada Allah-lah kalian semua pasti kembali; lalu Dia akan menjadikan kalian benar-benar memahami segala yang biasa kalian perselisihkan itu.68


64 Partisip (bentuk verba lampau) muhaimin berasal dari verba yang tersusun dari empat huruf (ruba’i) haimana, yang berarti “dia menjaga [sesuatu]” atau “mengendalikan[nya]”. Di sini, kata ini digunakan untuk menggambarkan Al-Quran sebagai faktor penentu untuk memberi keputusan mengenai mana yang asli dan mana yang batil dalam kitab suci terdahulu (lihat Al-Manar VI, hh. 410 dan seterusnya).

65 Lit., “maka, putuskanlah di antara mereka …” dst. Hal ini tampaknya berlaku tidak hanya pada kasus-kasus hukum, tetapi juga mengenai pendapat mana yang benar dan salah dalam pengertian etis (lihat catatan no. 55 sebelumnya). Sebagaimana terlihat jelas dari sebutan tentang “para pengikut Injil” di ayat sebelumnya, dan tentang “Taurat” pada ayat-ayat awal, yang dibicarakan di sini adalah umat Yahudi maupun Nasrani.

66 Ungkapan “masing-masing di antara kalian” menunjukkan beragam komunitas yang membentuk umat manusia. Istilah syir’ah (atau syari’ah) secara harfiah berarti “jalan menuju tempat air” (tempat manusia dan hewan mengambil unsur penting itu, yang sangat diperlukan bagi kehidupan mereka), dan digunakan dalam Al-Quran untuk menjelaskan sebuah sistem hukum yang diperlukan bagi kesejahteraan sosial dan spiritual sebuah masyarakat. Pada sisi Iain, istilah minhaj berarti “jalan yang terbuka”, biasanya dalam pengertian abstrak: yakni, “jalan hidup” (way of life). Makna istilah syir’ah dan minhaj lebih terbatas daripada istilah din, yang mencakup tidak hanya hukum-hukum yang berhubungan dengan suatu agama tertentu, tetapi juga kebenaran spiritual yang mendasar dan tetap yang, menurut Al-Quran, telah disampaikan oleh setiap rasul Allah. Di lain pihak, batang-tubuh yang spesifik dari hukum-hukum tersebut (syir’ah atau syari’ah) yang telah diajarkan melalui rasul-rasul itu, dan cara hidup (minhaj) yang dianjurkan oleh mereka, bervariasi sesuai tuntutan zaman dan perkembangan kebudayaan setiap masyarakat. “Kesatuan dalam keragaman” ini sering ditekankan dalam Al-Quran (seperti di awal ayat Surah Al-Baqarah [2]: 148, dalam Surah Al-Anbiya’ [21]: 92-93, atau dalam Surah Al-Mu’minun [23]: 52 dan seterusnya). Karena ajarannya dapat diterapkan secara universal dan bentuk tekstualnya tidak bisa diselewengkan—juga fakta bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah “penutup semua nabi”, yakni nabi terakhir (lihat Surah Al-Ahzab [33]: 40)—Al-Quran merupakan titik puncak semua wahyu dan memberikan jalan yang sempurna dan final untuk memenuhi kebutuhan spiritual manusia. Namun, uniknya, risalah Al-Quran ini tidak menghalangi semua penganut agama yang terdahulu untuk meraih rahmat Allah: sebab—sebagaimana yang sering Al-Quran tunjukkan—siapa saja di antara mereka yang dengan teguh beriman kepada Allah Yang Maha Esa dan kepada Hari Pengadilan (yakni, mengimani pertanggungjawaban moral individu) dan hidup secara saleh, “tidak perlu takut dan tidak pula akan bersedih hati”.

67 Yakni, “untuk menguji, melalui berbagai hukum keagamaan yang dibebankan kepada kalian, kesediaan kalian menyerahkan diri kepada Allah dan menaati-Nya” (Al-Zamakhsyari, Al-Razi), “dan dengan demikian, menjadikan kalian tumbuh, baik secara spiritual maupun sosial, menurut hukum perkembangan yang ditetapkan Allah” (Al-Manar VI, hh. 418 dan seterusnya).

68 Lit., “memberitahukan kepada kalian apa-apa yang kalian biasa berselisih padanya” (bdk. Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 94). Jadi, Al-Quran mengingatkan semua yang beriman kepada Allah—baik Muslim maupun non-Muslim—bahwa perbedaan dalam praktik-praktik keagamaan mereka seharusnya membuat mereka “berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan”, alih-alih hancur karena saling bermusuhan.


Surah Al-Ma’idah Ayat 49

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ

wa aniḥkum bainahum bimā anzalallāhu wa lā tattabi’ ahwā`ahum waḥżar-hum ay yaftinụka ‘am ba’ḍi mā anzalallāhu ilaīk, fa in tawallau fa’lam annamā yurīdullāhu ay yuṣībahum biba’ḍi żunụbihim, wa inna kaṡīram minan-nāsi lafāsiqụn

49. Karena itu, putuskanlah di antara para penganut wahyu-wahyu terdahulu itu69 menurut apa yang telah Allah turunkan, dan janganlah mengikuti pandangan-pandangan sesat mereka; dan berhati-hatilah terhadap mereka, agar mereka tidak memalingkanmu dari apa pun yang telah Allah turunkan kepadamu. Dan, jika mereka berpaling [dari perintah-perintah-Nya], ketahuilah bahwa sudah menjadi ketetapan Allah-lah [untuk] menimpakan musibah pada mereka disebabkan sebagian dosa mereka:70 sebab, perhatikanlah, banyak orang yang benar-benar fasik.


69 Lit., “di antara mereka”: lihat catatan no. 55 dan 65 sebelum ini.

70 Implikasinya: sengaja mengabaikan perintah-perintah Allah akan menciptakan hukumannya sendiri: rusaknya nilai-nilai moral masyarakat secara bertahap dan, karenanya, bertambahnya kekacauan sosial dan konflik internal.


Surah Al-Ma’idah Ayat 50

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

a fa ḥukmal-jāhiliyyati yabgụn, wa man aḥsanu minallāhi ḥukmal liqaumiy yụqinụn

50. Apakah mereka, mungkin, ingin [diatur oleh] hukum jahiliah?71 Namun, bagi orang-orang yang memiliki keteguhan batin, siapakah yang dapat menjadi penetap hukum yang lebih baik daripada Allah?


71 “Jahiliah” (jahiliyyah; pagan ignorance) di sini maksudnya mengacu bukan hanya pada masa sebelum kedatangan Nabi Muhammad Saw., melainkan juga, secara umum, pada suatu keadaan yang dicirikan dengan tiadanya persepsi moral dan tunduknya segala urusan personal maupun komunal hanya pada kriteria “keuntungan jangka pendek” (expediency): yakni, hanya mempertimbangkan apakah suatu tujuan atau tindakan tertentu menguntungkan atau merugikan (dalam pengertian praktis dan jangka pendek dari kata ini) kepentingan orang yang bersangkutan atau kepentingan masyarakat tempat orang itu hidup. Karena “asas keuntungan jangka pendek” ini secara mendasar berlawanan dengan konsep moral yang diajarkan setiap “agama yang lebih tinggi”, ia digambarkan oleh Al-Quran sebagai “hukum (hukm) jahiliah”.


Surah Al-Ma’idah Ayat 51

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā tattakhiżul-yahụda wan-naṣārā auliyā`, ba’ḍuhum auliyā`u ba’ḍ, wa may yatawallahum mingkum fa innahụ min-hum, innallāha lā yahdil-qaumaẓ-ẓālimīn

51. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Janganlah menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani itu sebagai sekutu-sekutu kalian: mereka tidak lain saling bersekutu72—dan siapa pun di antara kalian yang menyekutukan diri dengan mereka, sungguh, termasuk golongan mereka; perhatikanlah, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim seperti ini.73


72 Menurut mayoritas mufasir (seperti Al-Thabari), hal ini berarti bahwa masing-masing dari kedua komunitas ini mengulurkan persahabatan sejati hanya kepada para anggotanya—yakni, Yahudi kepada Yahudi dan Nasrani kepada Nasrani—dan, karena itu, tidak bisa diharapkan menjadi benar-benar bersahabat dengan para pengikut Al-Quran. Lihat juga Surah Al-Anfal [8]: 73 dan catatannya.

73 Lit., “kaum yang zalim itu”, yaitu: mereka yang dalam hal ini sengaja berbuat dosa. Adapun mengenai arti “sekutu” di sini, lihat Surah AIu ‘Imran [3]: 28, dan lebih khusus lagi pada Surah An-Nisa’ [4]: 139 dan catatan no.154, yang menjelaskan hilangnya identitas moral orang Mukmin jika dia meniru-niru jalan hidup, atau—dalam istilah Al-Quran—”menyekutukan dirinya” dengan, non-Muslim. Namun, sebagaimana dijelaskan dengan gamblang dalam Surah Al-Mumtahanah [60]: 7-9 (dan tersirat dalam ayat 57 surah ini), larangan menjalin “persekutuan moral” dengan orang-orang non-Muslim tidak mencakup larangan untuk menjalin hubungan normal dan persahabatan dengan mereka yang simpatik dan bersahabat dengan orang Muslim. Harus diperhatikan bahwa istilah cakupan makna yang beragam: yakni, “sekutu”, “kawan dekat”*, “penolong”, “pelindung”, dan lain-lain. Pillhan terhadap istilah tertentu—dan kadang-kadang gabungan dari dua istilah—selalu bergantung pada konteksnya.

* {Pada ayat tertentu, wali (jamak: auliya’) diterjemahkan Asad menjadi “friend”, yang maknanya bukan sekadar “teman biasa”, melainkan “kawan dekat”.—peny.}


Surah Al-Ma’idah Ayat 52

فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَىٰ أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ ۚ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ

fa tarallażīna fī qulụbihim maraḍuy yusāri’ụna fīhim yaqụlụna nakhsyā an tuṣībanā dā`irah, fa ‘asallāhu ay ya`tiya bil-fat-ḥi au amrim min ‘indihī fa yuṣbiḥụ ‘alā mā asarrụ fī anfusihim nādimīn

52. Dan, sekalipun demikian, engkau dapat melihat betapa orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya saling berlomba untuk mengambil hati mereka,74 dengan berkata [pada diri mereka sendiri], “Kami takut kalau-kalau bencana menimpa kami.” Namun, boleh jadi, Allah akan mendatangkan keberuntungan [kepada orang-orang beriman] atau suatu peristiwa [lainnya] yang Dia rancang sendiri,75 lalu mereka [yang ragu-ragu itu] akan ditimpa penyesalan yang dalam akibat pikiran-pikiran yang telah mereka tanamkan dengan sembunyi-sembunyi dalam diri mereka—


74 Lit., “saling berlomba mengenai mereka”—kata ganti him (mereka) merujuk pada orang-orang Yahudi dan Kristen yang memusuhi umat Muslim yang, untuk mengambil hati mereka, orang-orang munafik dalam masyarakat Muslim saling berlomba dengan mencoba meniru jalan hidup mereka.

75 Lit., “dari sisi-Nya”. Sebagian mufasir berasumsi bahwa kata fath (lit., “kemenangan” atau “kejayaan”) yang terdapat dalam kalimat ini merupakan suatu nubuat (ramalan) atas penaklukan Makkah oleh orang-orang Muslim. Namun, asumsi ini tidak bisa dibenarkan karena Makkah telah berada di pangkuan orang-orang Muslim pada saat surah ini turun. Karena itu, istilah fath di sini jelas digunakan dalam makna utama, “pembukaan”—yakni terbukanya keberuntungan. (Bdk. ungkapan idiomatik futiha ‘ala fulan, “si fulan menjadi beruntung” atau “memiliki keberuntungan”, yang disebutkan dalam Al-Asas-nya Al-Zamakhsyari dan dalam Taj Al-‘Arus.) “Peristiwa [lainnya] yang Dia rancang sendiri” mungkin merujuk pada hukuman Ilahi kepada orang-orang munafik, berkebalikan dengan keberuntungan yang tersedia bagi orang-orang yang benar-benar beriman. 


Surah Al-Ma’idah Ayat 53

وَيَقُولُ الَّذِينَ آمَنُوا أَهَٰؤُلَاءِ الَّذِينَ أَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ ۙ إِنَّهُمْ لَمَعَكُمْ ۚ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَأَصْبَحُوا خَاسِرِينَ

wa yaqụlullażīna āmanū a hā`ulā`illażīna aqsamụ billāhi jahda aimānihim innahum lama’akum, ḥabiṭat a’māluhum fa aṣbaḥụ khāsirīn

53. sedangkan, orang-orang yang telah meraih iman akan berkata [kepada satu sama lain], “Inikah orang-orang yang sama yang telah bersumpah sungguh-sungguh dengan nama Allah bahwa mereka benar-benar beserta kalian? Sia-sialah segala perbuatan mereka, sebab kini mereka merugi!”


Surah Al-Ma’idah Ayat 54

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

yā ayyuhallażīna āmanụ may yartadda mingkum ‘an dīnihī fa saufa ya`tillāhu biqaumiy yuḥibbuhum wa yuḥibbụnahū ażillatin ‘alal-mu`minīna a’izzatin ‘alal-kāfirīna yujāhidụna fī sabīlillāhi wa lā yakhāfụna laumata lā`im, żālika faḍlullāhi yu`tīhi may yasyā`, wallāhu wāsi’un ‘alīm

54. Wahai, kalian yang telah meraih iman! Jika kalian sampai meninggalkan keyakinan kalian,76 kelak Allah akan mendatangkan [sebagai pengganti kalian] suatu kaum yang Dia cintai dan yang mencintai-Nya—(yang) rendah hati di hadapan orang-orang yang beriman dan bangga di hadapan semua orang yang mengingkari kebenaran: [yakni kaum] yang berjuang sungguh-sungguh di jalan Allah, dan yang tidak takut dicela oleh siapa pun yang mungkin mencela mereka: itulah karunia Allah, yang Dia berikan kepada siapa pun yang Dia kehendaki. Dan, Allah Maha Tak Terhingga, Maha Mengetahui.


76 Lit., “siapa pun di antara kalian yang meninggalkan imannya”—yakni sebagai akibat dari sikapnya yang mengandalkan diri pada non-Muslim yang memusuhi Islam, dan menjadikan mereka sebagai “sekutu” serta pembimbing spiritualnya.


Surah Al-Ma’idah Ayat 55

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

innamā waliyyukumullāhu wa rasụluhụ wallażīna āmanullażīna yuqīmụnaṣ-ṣalāta wa yu`tụnaz-zakāta wa hum rāki’ụn

55. Perhatikanlah, penolong kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang telah meraih iman—yang teguh mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tunduk rukuk [di hadapan Allah]:


Surah Al-Ma’idah Ayat 56

وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ

wa may yatawallallāha wa rasụlahụ wallażīna āmanụ fa inna ḥizballāhi humul-gālibụn

56. sebab, siapa pun yang bersekutu dengan Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang telah meraih iman—perhatikanlah, mereka, (yakni) pengikut Allah itulah, yang akan berjaya!


Surah Al-Ma’idah Ayat 57

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā tattakhiżullażīnattakhażụ dīnakum huzuwaw wa la’ibam minallażīna ụtul-kitāba ming qablikum wal-kuffāra auliyā`, wattaqullāha ing kuntum mu`minīn

57. Wahai, kalian yang telah meraih iman! Janganlah menjadikan sebagai kawan-kawan dekat kalian orang-orang yang mengejek agama kalian dan mempermainkannya—baik mereka itu dari kalangan orang-orang yang telah diberi wahyu sebelum masa kalian, ataupun [dari kalangan] orang-orang yang mengingkari kebenaran [wahyu itu sendiri]—namun, tetap sadarlah akan Allah, jika kalian [benar-benar] orang-orang beriman:


Surah Al-Ma’idah Ayat 58

وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ اتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ

wa iżā nādaitum ilaṣ-ṣalātittakhażụhā huzuwaw wa la’ibā, żālika bi`annahum qaumul lā ya’qilụn

58. sebab, jika kalian menyeru untuk shalat, mereka mengejeknya dan mempermainkannya—semata-mata karena mereka itu adalah kaum yang tidak mempergunakan akal mereka.


Surah Al-Ma’idah Ayat 59

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ هَلْ تَنْقِمُونَ مِنَّا إِلَّا أَنْ آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلُ وَأَنَّ أَكْثَرَكُمْ فَاسِقُونَ

qul yā ahlal-kitābi hal tangqimụna minnā illā an āmannā billāhi wa mā unzila ilainā wa mā unzila ming qablu wa anna akṡarakum fāsiqụn

59. Katakanlah: “Wahai, para penganut wahyu-wahyu terdahulu! Apakah kalian memandang kami salah semata-mata karena kami beriman pada Allah [saja], dan pada apa yang telah Dia turunkan kepada kami serta yang telah Dia turunkan sebelumnya?—atau apakah [hanya] karena sebagian besar dari kalian adalah orang-ornang yang fasik?”


Surah Al-Ma’idah Ayat 60

قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَٰلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ ۚ مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ ۚ أُولَٰئِكَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

qul hal unabbi`ukum bisyarrim min żālika maṡụbatan ‘indallāh, mal la’anahullāhu wa gaḍiba ‘alaihi wa ja’ala min-humul-qiradata wal-khanāzīra wa ‘abadaṭ-ṭāgụt, ulā`ika syarrum makānaw wa aḍallu ‘an sawā`is-sabīl

60. Katakanlah: “Maukah kuceritakan pada kalian orang yang, dalam pandangan Allah, layak menerima balasan yang bahkan lebih buruk daripada ini? Mereka yang telah Allah tolak dan yang telah Dia kutuk, serta yang telah Dia ubah menjadi kera dan babi karena mereka menyembah kuasa-kuasa jahat:77 mereka inilah yang lebih buruk tingkatannya, dan tersesat lebih jauh dari jalan yang lurus [daripada orang-orang yang mengejek].”78


77 Berlawanan dengan banyak mufasir yang memahami istilah “kera dan babi” ini secara harfiah, Mujahid, seorang tabi’i masyhur, menjelaskan bahwa hal itu merupakan suatu gambaran metaforis (matsal) dari kemerosotan moral yang diderita para pendosa: mereka menjadi liar dan tidak berpendirian-tetap bagai kera dan terjerumus dalam pemuasan nafsu seperti babi (Al-Manar VI, h. 448). Penafsiran ini juga dikutip Al-Thabari dalam tafsirnya atas Surah Al-Baqarah [2]: 65.

Adapun mengenai ungkapan “kuasa-kuasa jahat” (al-thaghut), lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 250.

78 Sebagaimana terlihat jelas dari ayat-ayat berikutnya, para pendosa yang bahkan lebih buruk daripada para penghina adalah orang-orang munafik, khususnya orang-orang di antara mereka yang mengklaim sebagai pengikut Alkitab: alasannya sangat jelas, yaitu karena telah tercerahkan oleh wahyu, mereka tidak memiliki dalih untuk menjustifikasi perilaku mereka. Meskipun pada ayat 64 orang-orang Yahudilah yang disebut secara khusus, disebutkannya Injil dalam ayat 66 menjelaskan bahwa orang-orang Kristen, juga, tidak bisa terbebas dari celaan ini.


Surah Al-Ma’idah Ayat 61

وَإِذَا جَاءُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَقَدْ دَخَلُوا بِالْكُفْرِ وَهُمْ قَدْ خَرَجُوا بِهِ ۚ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا يَكْتُمُونَ

wa iżā jā`ụkum qālū āmannā wa qad dakhalụ bil-kufri wa hum qad kharajụ bih, wallāhu a’lamu bimā kānụ yaktumụn

61. Karena, apabila mereka datang kepada kalian, mereka berkata, “Kami sungguh beriman”: padahal, kenyataannya, mereka datang dengan tekad untuk mengingkari kebenaran, dan pergi dalam keadaan yang sama.79 Namun, Allah Maha Mengetahui segala yang mereka sembunyikan.


79 Lit., “mereka masuk dengan pengingkaran terhadap kebenaran dan keluar dengannya”.


Surah Al-Ma’idah Ayat 62

وَتَرَىٰ كَثِيرًا مِنْهُمْ يُسَارِعُونَ فِي الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

wa tarā kaṡīram min-hum yusāri’ụna fil-iṡmi wal-‘udwāni wa aklihimus-suḥt, labi`sa mā kānụ ya’malụn

62. Dan, engkau dapat melihat banyak di antara mereka yang berlomba-lomba berbuat dosa dan berlaku tiranik serta menelan segala sesuatu yang buruk. Alangkah buruknya apa yang mereka perbuat!


Surah Al-Ma’idah Ayat 63

لَوْلَا يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الْإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

lau lā yan-hāhumur-rabbāniyyụna wal-aḥbāru ‘ang qaulihimul-iṡma wa aklihimus-suḥt, labi`sa mā kānụ yaṣna’ụn

63. Mengapa orang-orang rabbani di antara mereka dan para rabi mereka80 tidak melarang mereka mengucapkan pernyataan-pernyataan penuh dosa dan menelan segala sesuatu yang buruk? Sungguh buruk apa yang telah mereka usahakan!


80 Menurut Al-Baghawi, kata rabbaniyyun (“men of God“—lihat Surah Alu ‘Imran [3], catatan no. 62) dalam konteks ini ditujukan kepada para pemimpin spiritual Nasrani, sedangkan kata ahbar ditujukan kepada sarjana-sarjana Yahudi (“para rabi”, pendeta). Tentang “menelan segala sesuatu yang buruk”, lihat catatan no. 54 sebelum ini.


Surah Al-Ma’idah Ayat 64

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ ۚ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا ۘ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ ۚ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا ۚ وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۚ كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ ۚ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا ۚ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

wa qālatil-yahụdu yadullāhi maglụlah, gullat aidīhim wa lu’inụ bimā qālụ, bal yadāhu mabsụṭatāni yunfiqu kaifa yasyā`, wa layazīdanna kaṡīram min-hum mā unzila ilaika mir rabbika ṭugyānaw wa kufrā, wa alqainā bainahumul-‘adāwata wal-bagḍā`a ilā yaumil-qiyāmah, kullamā auqadụ nāral lil-ḥarbi aṭfa`ahallāhu wa yas’auna fil-arḍi fasādā, wallāhu lā yuḥibbul-mufsidīn

64. Dan, orang-orang Yahudi berkata, “Tangan Allah terbelenggu!” Tangan-tangan mereka sendirilah yang terbelenggu; dan mereka ditolak [oleh Allah] karena apa yang mereka katakan ini.81 Tidak demikian, tetapi tangan-Nya terbuka lebar-lebar: Dia menganugerahkan [karunia] sebagaimana yang Dia kehendaki. Namun, segala sesuatu yang diturunkan Pemeliharamu kepada engkau [wahai Nabi] pasti akan menjadikan kebanyakan di antara mereka semakin keras kepala dalam kesombongan mereka yang keterlaluan dan dalam pengingkaran mereka terhadap kebenaran.

Demikianlah, telah Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara pengikut-pengikut Alkitab,82 [yang berlangsung] hingga Hari Kebangkitan; setiap kali mereka menyulut api peperangan, Allah memadamkannya;83 dan mereka berusaha keras menyebarkan kerusakan di muka bumi: padahal Allah tidak menyukai orang-orang yang menyebarkan kerusakan.


81 Frasa “tangan seseorang terbelenggu” adalah sebuah ungkapan metafora yang menunjukkan kekikiran, sebagaimana lawan katanya—”tangannya terbentang luas”—menunjukkan kedermawanan (Al-Zamakhsyari). Namun, kedua frasa ini juga memiliki makna yang lebih luas, yaitu masing-masing berarti “tiadanya kekuasaan” dan “kekuasaan tak terbatas” (Al-Razi). Tampaknya, kaum Yahudi Madinah, karena melihat kemiskinan umat Muslim, mencemooh umat Muslim yang yakin bahwa mereka berjuang di jalan Allah dan bahwa Al-Quran telah diwahyukan. Jadi, “ucapan” kaum Yahudi yang disebutkan dalam ayat ini, “tangan Allah terbelenggu” sebagaimana terdapat dalam Surah ‘Alu ‘Imran [3]: 181, “Allah miskin, sedangkan kami kaya”, adalah sebuah gaya bahasa eliptis yang menggambarkan sikap mereka terhadap Islam dan umat Muslim—suatu sikap ingkar dan sarkastik yang dapat dibahasakan-ulang demikian: “Andai memang benar bahwa kalian umat Muslim mengerjakan kehendak Allah, niscaya Dia akan melimpahkan kepada kalian kekuasaan dan kekayaan; tetapi kemiskinan dan kelemahan kalian sangat bertentangan dengan klaim kalian—atau kalaupun tidak demikian, klaim-klaim kalian sama saja artinya dengan mengatakan bahwa Allah tidak mampu menolong kalian.” Namun, contoh mengagumkan dari gaya bahasa eliptis (ijaz) ini, yang sering digunakan dalam Al-Quran, memiliki makna yang jauh melampaui peristiwa sejarah yang diacunya: ia menggambarkan sikap mental yang keliru, yang mengaitkan kekayaan atau kekuasaan duniawi seseorang dengan beradanya yang bersangkutan, secara spiritual, “di atas jalan yang benar”. Dalam kalimat berikutnya, Al-Quran membantah sikap ini dan menyatakan, dalam gaya bahasa eliptis yang setara, bahwa siapa pun yang menganggap kesuksesan materiel sebagai bukti ridha Allah, sungguh buta terhadap kebenaran spiritual dan, karena itu, lemah secara moral dan benar-benar terkutuk dalam pandangan Allah.

82 Lit., “di antara mereka” (bainahum). Kata ganti personal hum tersebut merujuk pada orang-orang munafik dari para pengikut Alkitab—baik Yahudi maupun Nasrani—yang dibicarakan dalam ayat 57-63 (Al-Thabari); bdk. ayat 14 surah ini, yang mengungkapkan pernyataan serupa mengenai segolongan orang Nasrani yang “telah melupakan banyak hal yang telah diperintahkan kepada mereka untuk dicamkan”.

83 Yakni, Dia tidak mengizinkan mana pun dari pihak-pihak yang berperang itu untuk mencari jalan keluar dari konflik mereka melalui suatu kemenangan final, sehingga mereka tetap hidup dalam “permusuhan dan kebencian”.


Surah Al-Ma’idah Ayat 65

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَكَفَّرْنَا عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأَدْخَلْنَاهُمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ

walau anna ahlal-kitābi āmanụ wattaqau lakaffarnā ‘an-hum sayyi`ātihim wa la`adkhalnāhum jannātin-na’īm

65. Andai saja pengikut Alkitab meraih keimanan [yang sejati] dan kesadaran akan Allah, pasti akan Kami hapus perbuatan-perbuatan buruk mereka [yang lalu], dan pasti Kami masukkan mereka ke dalam taman-taman kebahagiaan;


Surah Al-Ma’idah Ayat 66

وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لَأَكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ ۚ مِنْهُمْ أُمَّةٌ مُقْتَصِدَةٌ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ سَاءَ مَا يَعْمَلُونَ

walau annahum aqāmut-taurāta wal-injīla wa mā unzila ilaihim mir rabbihim la`akalụ min fauqihim wa min taḥti arjulihim, min-hum ummatum muqtaṣidah, wa kaṡīrum min-hum sā`a mā ya’malụn

66. dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan Taurat, Injil, dan seluruh [wahyu] yang diturunkan kepada mereka oleh Pemelihara mereka, mereka sungguh akan menikmati seluruh berkah langit dan bumi. Sebagian dari mereka memang mengikuti jalan yang benar; tetapi kebanyakan dari mereka—alangkah buruknya apa yang mereka perbuat!84


84 Ungkapan “menikmati seluruh berkah langit dan bumi” (lit., “makan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka”) adalah suatu kiasan untuk berkah yang menyertai perwujudan kebenaran spiritual, serta kiasan untuk kebahagiaan sosial yang pasti datang menyusul sikap taat terhadap prinsip-prinsip moral yang terkandung dalam ajaran-ajaran murni Alkitab. Hendaknya diingat bahwa frasa “sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (lau annahum aqamu) Taurat dan Injil” dst., menunjukkan suatu ketaatan terhadap kitab-kitab suci itu dalam semangat asli kitab-kitab itu, yang bebas dari penyelewengan arbitrer yang disebabkan oleh “pemikiran khayal” yang sering Al-Quran tuduhkan terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani—seperti konsep Yahudi tentang “umat pilihan” atau doktrin Kristen mengenai ketuhanan Yesus Kristus dan doktrin “ditebusnya dosa-dosa” para pengikutnya oleh Yesus.


Surah Al-Ma’idah Ayat 67

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ۚ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

yā ayyuhar-rasụlu ballig mā unzila ilaika mir rabbik, wa il lam taf’al fa mā ballagta risālatah, wallāhu ya’ṣimuka minan-nās, innallāha lā yahdil-qaumal-kāfirīn

67. WAHAI, RASUL! Sampaikanlah semua yang telah diturunkan kepada engkau oleh Pemeliharamu: sebab, jika engkau tidak melakukan hal ini sepenuhnya, berarti engkau tidak menyampaikan pesan-Nya [sama sekali]. Dan, Allah akan melindungimu dari manusia [yang tidak beriman]: perhatikanlah, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang menolak mengakui kebenaran.


Surah Al-Ma’idah Ayat 68

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَسْتُمْ عَلَىٰ شَيْءٍ حَتَّىٰ تُقِيمُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ ۗ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا ۖ فَلَا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

qul yā ahlal-kitābi lastum ‘alā syai`in ḥattā tuqīmut-taurāta wal-injīla wa mā unzila ilaikum mir rabbikum, wa layazīdanna kaṡīram min-hum mā unzila ilaika mir rabbika ṭugyānaw wa kufrā, fa lā ta`sa ‘alal-qaumil-kāfirīn

68. Katakanlah: “Wahai, pengikut Alkitab! Kalian tidak memiliki dasar keimanan yang benar, kecuali kalian [benar-benar] mematuhi Taurat, Injil, dan semua yang telah diturunkan Pemelihara kalian kepada kalian!”85

Sekalipun demikian, segala sesuatu yang diturunkan Pemeliharamu kepada engkau [wahai Nabi] pasti akan menjadikan kebanyakan di antara mereka semakin keras kepala dalam kesombongan mereka yang keterlaluan dan dalam pengingkaran mereka terhadap kebenaran. Namun, janganlah bersedih hati terhadap orang-orang yang mengingkari kebenaran itu:


85 Yakni, semua kitab lainnya dari Perjanjian Lama yang berisi ilham-Ilahi yang menekankan keesaan Tuhan dan penuh dengan ramalan tentang datangnya Nabi Muhammad Saw. (Al-Razi). Hal ini harus dipahami dalam kaitannya dengan pernyataan yang sering diulang dalam Al-Quran bahwa Alkitab, seperti yang ada sekarang ini, telah mengalami banyak perubahan dan perusakan tekstual.


Surah Al-Ma’idah Ayat 69

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَىٰ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

innallażīna āmanụ wallażīna hādụ waṣ-ṣābi`ụna wan-naṣārā man āmana billāhi wal-yaumil-ākhiri wa ‘amila ṣāliḥan fa lā khaufun ‘alaihim wa lā hum yaḥzanụn

69. sebab, sungguh, orang-orang yang telah meraih iman [pada kitab Ilahi ini], serta orang-orang yang menganut iman Yahudi, orang-orang Sabian,86 dan orang-orang Nasrani—semua yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta beramal saleh—tidak perlu takut dan tidak pula akan bersedih hati.


86 Lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 49.


Surah Al-Ma’idah Ayat 70

لَقَدْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَأَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ رُسُلًا ۖ كُلَّمَا جَاءَهُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَىٰ أَنْفُسُهُمْ فَرِيقًا كَذَّبُوا وَفَرِيقًا يَقْتُلُونَ

laqad akhażnā mīṡāqa banī isrā`īla wa arsalnā ilaihim rusulā, kullamā jā`ahum rasụlum bimā lā tahwā anfusuhum farīqang każżabụ wa farīqay yaqtulụn

70. SUNGGUH, Kami telah menerima sumpah setia dari Bani Israil dan Kami utus rasul-rasul kepada mereka; [tetapi,] setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak mereka sukai, [mereka menentang:] sebagian rasul itu mereka dustakan, sedangkan sebagian lainnya mereka bunuh,87


87 Lit., “dan beberapa mereka bunuh”. Mengenai signifikansi perubahan dari kata bentuk lampau menjadi bentuk kini (yaqtulun), lihat Surah AI-Baqarah [2], catatan no. 72.


Surah Al-Ma’idah Ayat 71

وَحَسِبُوا أَلَّا تَكُونَ فِتْنَةٌ فَعَمُوا وَصَمُّوا ثُمَّ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ثُمَّ عَمُوا وَصَمُّوا كَثِيرٌ مِنْهُمْ ۚ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ

wa ḥasibū allā takụna fitnatun fa ‘amụ wa ṣammụ ṡumma tāballāhu ‘alaihim ṡumma ‘amụ wa ṣammụ kaṡīrum min-hum, wallāhu baṣīrum bimā ya’malụn

71. (mereka) mengira bahwa tiada suatu bencana pun yang akan menimpa mereka; maka, mereka menjadi buta dan tuli [hatinya]. Kemudian, Allah menerima tobat mereka: dan, lagi-lagi, kebanyakan dari mereka kembali jadi buta dan tuli. Akan tetapi, Allah Maha Melihat segala yang mereka kerjakan.


Surah Al-Ma’idah Ayat 72

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

laqad kafarallażīna qālū innallāha huwal-masīḥubnu maryam, wa qālal-masīḥu yā banī isrā`īla’budullāha rabbī wa rabbakum, innahụ may yusyrik billāhi fa qad ḥarramallāhu ‘alaihil-jannata wa ma`wāhun-nār, wa mā liẓ-ẓālimīna min anṣār

72. Sungguh, mengingkari kebenaranlah mereka, yang berkata, “Perhatikanlah, Allah adalah Al-Masih, putra Maryam—padahal Al-Masih [sendiri] berkata, “Wahai, Bani Israil, sembahlah Allah [saja], Pemeliharaku dan Pemelihara kalian.”88 Perhatikanlah, siapa saja yang menisbahkan ketuhanan kepada wujud apa pun selain Allah, Allah mengharamkan surga baginya dan tempat tujuannya adalah neraka, dan tiada seorang pun yang akan menolong orang-orang zalim itu!


88 Bdk. Matius 4: 10 (“Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”), Lukas 4: 8, dan Yohanes 20: 17.


Surah Al-Ma’idah Ayat 73

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

laqad kafarallażīna qālū innallāha ṡāliṡu ṡalāṡah, wa mā min ilāhin illā ilāhuw wāḥid, wa il lam yantahụ ‘ammā yaqụlụna layamassannallażīna kafarụ min-hum ‘ażābun alīm

73. Sungguh, mengingkari kebenaranlah mereka yang berkata, “Perhatikanlah, Allah adalah yang ketiga dari tritunggal”—padahal sekali-kali tiada tuhan apa pun kecuali Tuhan Yang Maha Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, penderitaan yang pedih pasti akan menimpa orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran itu.


Surah Al-Ma’idah Ayat 74

أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

a fa lā yatụbụna ilallāhi wa yastagfirụnah, wallāhu gafụrur raḥīm

74. Maka, tidakkah mereka hendak kembali kepada Allah dalam tobat dan memohon ampunan-Nya? Karena, Allah Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.


Surah Al-Ma’idah Ayat 75

مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ ۖ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ ۗ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

mal-masīḥubnu maryama illā rasụl, qad khalat ming qablihir-rusul, wa ummuhụ ṣiddīqah, kānā ya`kulāniṭ-ṭa’ām, unẓur kaifa nubayyinu lahumul-āyāti ṡummanẓur annā yu`fakụn

75. Al-Masih, putra Maryam, hanyalah seorang rasul: seluruh rasul [lain] telah berlalu sebelum dia; dan ibunya adalah seorang yang tidak pernah menyeleweng dari kebenaran; dan keduanya memakan makanan [sebagaimana manusia lainnya].89

Perhatikanlah, betapa jelasnya pesan-pesan ini Kami sampaikan kepada mereka: kemudian, perhatikanlah, betapa menyimpangnya pikiran mereka!90


89 Maksud ayat ini, bahwa Nabi Isa a.s. adalah manusia biasa seperti seluruh rasul lainnya yang hidup sebelumnya, dan Maryam tidak pernah mengklaim bahwa dirinya adalah “Ibunda Tuhan”.

90 Lit., “betapa terpalingnya mereka [dari kebenaran]”. Verba afaka terutama berarti “dia memalingkan [seseorang atau sesuatu]; dalam pengertian abstrak, kata ini sering berarti “dia berkata dusta” (karena menyiratkan keberpalingan dari kebenaran). Bentuk pasif ufika sering bermakna “dia dipalingkan dari pendapatnya” (atau “dari keputusannya”) dan, dengan demikian, “akalnya menjadi menyimpang” atau “tertipu”. (Bdk. Al-Qamus dan Taj Al-‘Arus; juga Lane I, h. 69.)


Surah Al-Ma’idah Ayat 76

قُلْ أَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا ۚ وَاللَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

qul a ta’budụna min dụnillāhi mā lā yamliku lakum ḍarraw wa lā naf’ā, wallāhu huwas-samī’ul-‘alīm

76. Katakanlah: “Akankah kalian menyembah, di samping Allah, sesuatu yang tidak memiliki kekuatan untuk menimpakan bahaya atau memberi manfaat kepada kalian—padahal hanya Allah-lah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui?”


Surah Al-Ma’idah Ayat 77

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

qul yā ahlal-kitābi lā taglụ fī dīnikum gairal-ḥaqqi wa lā tattabi’ū ahwā`a qauming qad ḍallụ ming qablu wa aḍallụ kaṡīraw wa ḍallụ ‘an sawā`is-sabīl

77. Katakanlah: “Wahai, para pengikut Injil! Janganlah melampaui batas-batas [kebenaran] dalam keyakinan keagamaan kalian;91 dan janganlah mengikuti pandangan sesat (yang dianut) orang-orang yang telah tersesat pada masa lampau, yang telah menyesatkan banyak [manusia lainnya], dan masih tersesat dari jalan yang benar.”92


91 Bdk. Surah An-Nisa’ [4]: 171. Ayat ini, seperti ayat-ayat sebeiumnya, jelas ditujukan kepada orang-orang Nasrani yang kecintaan mereka kepada Nabi Isa a.s. menyebabkan mereka “melampaui batas-batas kebenaran” dengan mengangkatnya ke tingkat ketuhanan; karena itu, saya menerjemahkan “ahl al-kitab” dalam konteks ini menjadi “para pengikut Injil”,

92 Lit., “telah tersesat dari jalan yang benar”: yakni, berkukuh dalam keadaan ini hingga sekarang (Al-Razi): suatu paparan mengenai sekian banyak masyarakat yang, seiring dengan berjalannya masa, menyandangkan sifat-sifat ketuhanan kepada para pemimpin spiritual mereka—sebuah fenomena yang sering dijumpai dalam sejarah agama-agama.


Surah Al-Ma’idah Ayat 78

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ

lu’inallażīna kafarụ mim banī isrā`īla ‘alā lisāni dāwụda wa ‘īsabni maryam, żālika bimā ‘aṣaw wa kānụ ya’tadụn

78. ORANG-ORANG dari kalangan Bani lsrail yang berkukuh mengingkari kebenaran [telah] dilaknat dengan lisan Daud dan Isa, putra Maryam:93 ini, disebabkan mereka durhaka [terhadap Allah] dan terus-menerus melanggar batas-batas apa yang benar.


93 Bdk. Bibel, Mazmur 78: 21-22, 31-33 dan dalam berbagai tempat lainnya; juga Matius 12: 34 dan 23: 33-35.


Surah Al-Ma’idah Ayat 79

كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

kānụ lā yatanāhauna ‘am mungkarin fa’alụh, labi`sa mā kānụ yaf’alụn

79. Mereka tidak mencegah satu sama lain dari tindakan penuh kebencian yang mereka perbuat: alangkah buruknya hal-hal yang biasa mereka kerjakan itu!


Surah Al-Ma’idah Ayat 80

تَرَىٰ كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ

tarā kaṡīram min-hum yatawallaunallażīna kafarụ, labi`sa mā qaddamat lahum anfusuhum an sakhiṭallāhu ‘alaihim wa fil-‘ażābi hum khālidụn

80. [Dan kini,] engkau dapat melihat banyak di antara mereka bersekutu dengan orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran! [Maka,] betapa buruknya hal-hal yang diperintahkan oleh hawa nafsu mereka94 sehingga Allah mengutuk mereka; dan mereka akan berkediaman dalam penderitaan.


94 Lit., “apa-apa yang ditawarkan hawa nafsu mereka (anfusuhum) kepada mereka”. (Mengenai terjemahan nafs menjadi passion, “hawa nafsu”, lihat catatan no. 37 atas ayat 30 surah ini.) Yang dimaksudkan di sini adalah kekeraskepalaan kepercayaan mereka bahwa mereka adalah “umat pilihan Tuhan” dan, karena itu, penolakan mereka terhadap wahyu apa pun yang mungkin diberikan kepada kaum lainnya.


Surah Al-Ma’idah Ayat 81

وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ وَلَٰكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

walau kānụ yu`minụna billāhi wan-nabiyyi wa mā unzila ilaihi mattakhażụhum auliyā`a wa lākinna kaṡīram min-hum fāsiqụn

81. Sebab, jika mereka [benar-benar] beriman pada Allah dan Nabi mereka,95 dan pada segala sesuatu yang diturunkan kepadanya, niscaya mereka tidak akan menjadikan orang-orang [yang ingkar kepada kebenaran itu] sebagai sekutu-sekutu mereka: namun, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.


95 Lit., “Nabi itu”. Menurut Al-Zamakhsyari dan Al-Razi, nabi yang dimaksud adalah Musa a.s., yang orang-orang Yahudi mengklaim mengikutinya—suatu klaim yang ditolak Al-Quran secara tersirat.


Surah Al-Ma’idah Ayat 82

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا ۖ وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

latajidanna asyaddan-nāsi ‘adāwatal lillażīna āmanul-yahụda wallażīna asyrakụ, wa latajidanna aqrabahum mawaddatal lillażīna āmanullażīna qālū innā naṣārā, żālika bi`anna min-hum qissīsīna wa ruhbānaw wa annahum lā yastakbirụn

82. Sungguh, akan kau dapati, dari seluruh kaum, yang paling keras permusuhannya terhadap oraang-orang yang beriman [pada kitab Ilahi ini] adalah orang-orang Yahudi serta orang-orang yang berkukuh menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah; dan sungguh, akan kau dapati, dari seluruh kaum,96 yang paling dekat rasa cintanya kepada orang-orang yang beriman [pada kitab Ilahi ini] adalah orang-orang yang berkata, “Perhatikanlah, kami orang-orang Nasrani”: yang demikian ini disebabkan di antara mereka terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, dan karena mereka tidak menyombongkan diri.97


96 Lit., “dari mereka” (hum).

97 Yakni, mereka tidak percaya—berbeda dengan orang-orang Yahudi—bahwa wahyu adalah anugerah Allah yang khusus diberikan kepada Bani Israil saja; dan “pendeta serta rahib mereka” mengajarkan kepada mereka bahwa kerendahan hati adalah esensi dari semua agama yang sejati.

Patut diperhatikan bahwa Al-Quran dalam konteks ini tidak menggolongkan orang-orang Nasrani ke dalam kelompok “orang-orang yang berkukuh menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah” (alladzina asyraku—adanya unsur niat diungkapkan dengan penggunaan verba bentuk lampau, sama dengan alladzina kafaru, alladzina zhalamu, dan seterusnya): sebab, meskipun dengan menuhankan Nabi Isa mereka bersalah karena dosa syirik (“menisbahkan ketuhanan kepada seseorang atau sesuatu selain Allah”), umat Nasrani tidak secara sadar menyembah tuhan yang banyak karena, secara teoretis, teologi mereka menetapkan keimanan pada Tuhan Yang Maha Esa, yang dipahami sebagai mewujudkan diri-Nya sendiri ke dalam suatu trinitas dari sejumlah aspek atau “sejumlah oknum”, dengan anggapan bahwa Nabi Isa a.s. merupakan salah satu di antaranya. Walaupun doktrin ini sama sekali tidak dapat diterima oleh ajaran Al-Quran, perbuatan syirik mereka bukan berdasarkan niat yang sadar, tetapi lahir karena tindakan mereka yang “melampaui batas-batas kebenaran” dalam mengagungkan Nabi Isa a.s. (lihat Surah An-Nisa’ [4]: 171 dan Surah Al-Ma’idah [5]: 77). Bdk., dalam konteks ini, dengan pendapat yang terdapat pada catatan no. 16 Surah Al-An’am [6]: 23.


Surah Al-Ma’idah Ayat 83

وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَىٰ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ ۖ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ

wa iżā sami’ụ mā unzila ilar-rasụli tarā a’yunahum tafīḍu minad-dam’i mimmā ‘arafụ minal-ḥaqq, yaqụlụna rabbanā āmannā faktubnā ma’asy-syāhidīn

83. Sebab, ketika mereka menjadi paham akan apa yang diturunkan kepada Rasul ini, engkau dapat lihat mata mereka meluapkan air mata, karena mereka mengenali sesuatu dari kebenarannya;98 [dan] mereka berkata, “Wahai, Pemelihara kami! Kami sungguh beriman; maka, satukanlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi atas kebenaran.


98 Mengenai terjemahan frasa mima ‘arafu min al-haqq, lihat Al-Zamakhsyari dan Al-Razi; juga Al-Manar VII, h. 12. Adapun mengenai terjemahan saya atas ungkapan idza sami’u menjadi “ketika mereka menjadi paham”, perlu dicatat bahwa di samping makna utamanya “dia mendengar”, kata sami’a sering berarti “dia memahami” atau “menjadi paham” (bdk. Lane IV, h. 1427).


Surah Al-Ma’idah Ayat 84

وَمَا لَنَا لَا نُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا جَاءَنَا مِنَ الْحَقِّ وَنَطْمَعُ أَنْ يُدْخِلَنَا رَبُّنَا مَعَ الْقَوْمِ الصَّالِحِينَ

wa mā lanā lā nu`minu billāhi wa mā jā`anā minal-ḥaqqi wa naṭma’u ay yudkhilanā rabbunā ma’al-qaumiṣ-ṣāliḥīn

84. Dan, bagaimana kami tidak beriman pada Allah dan pada kebenaran apa pun yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Pemelihara kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh?”


Surah Al-Ma’idah Ayat 85

فَأَثَابَهُمُ اللَّهُ بِمَا قَالُوا جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ

fa aṡābahumullāhu bimā qālụ jannātin tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā, wa żālika jazā`ul-muḥsinīn

85. Dan, karena kepercayaan mereka ini,99 Allah akan memberi mereka imbalan berupa taman-taman yang dilalui aliran sungai-sungai, mereka berkediaman di dalamnya: sebab, itulah balasan bagi orang-orang yang berbuat baik;


99 Lit., “karena apa yang telah mereka katakan”—yakni, yang terungkap dalam kepercayaan mereka (Al-Zamakhsyari).


Surah Al-Ma’idah Ayat 86

وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

wallażīna kafarụ wa każżabụ bi`āyātinā ulā`ika aṣ-ḥābul-jaḥīm

86. sedangkan, orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran dan mendustakan pesan-pesan Kami—mereka ditetapkan di neraka yang berkobar.


Surah Al-Ma’idah Ayat 87

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā tuḥarrimụ ṭayyibāti mā aḥallallāhu lakum wa lā ta’tadụ, innallāha lā yuḥibbul-mu’tadīn

87. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Janganlah mencabut hak kalian sendiri dari (menikmati) yang baik-baik dalam kehidupan, yang telah Allah halalkan bagi kalian,100 tetapi janganlah melanggar batas-batas apa yang benar: sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melanggar batas-batas apa yang benar.


100 Mayoritas mufasir—termasuk Al-Thabari, Al-Zamakhsyari, dan Al-Razi—menjelaskan ungkapan la tuharrimu (Iit., “jangan mengharamkan” atau “jangan menyatakan haram”) dalam pengertian yang telah saya kemukakan, dan mereka memahami hal tersebut sebagai mengacu pada praktik menghukum-diri-sendiri yang dilakukan, khususnya, oleh para pendeta dan rahib Kristen. Istilah al-thayyibat mencakup segala yang baik dan bermanfaat dalam hidup—”hal-hal menyenangkan yang diinginkan manusia dan yang dicenderungi hatinya” (Al-Thabari): oleh sebab itu, saya menerjemahkannya menjadi “yang baik-baik dalam kehidupan” (the good things of life).


Surah Al-Ma’idah Ayat 88

وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ

wa kulụ mimmā razaqakumullāhu ḥalālan ṭayyibaw wattaqullāhallażī antum bihī mu`minụn

88. Maka, nikmatilah hal-hal yang halal dan baik yang telah Allah berikan kepada kalian sebagai rezeki, dan sadarlah akan Allah, yang kepada-Nya kalian beriman.


Surah Al-Ma’idah Ayat 89

لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَٰكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ ۖ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ ۖ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ۚ ذَٰلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ ۚ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

lā yu`ākhiżukumullāhu bil-lagwi fī aimānikum wa lākiy yu`ākhiżukum bimā ‘aqqattumul-aimān, fa kaffāratuhū iṭ’āmu ‘asyarati masākīna min ausaṭi mā tuṭ’imụna ahlīkum au kiswatuhum au taḥrīru raqabah, fa mal lam yajid fa ṣiyāmu ṡalāṡati ayyām, żālika kaffāratu aimānikum iżā ḥalaftum, waḥfaẓū aimānakum, każālika yubayyinullāhu lakum āyātihī la’allakum tasykurụn

89. ALLAH tidak akan menghukum kalian karena sumpah-sumpah yang kalian ucapkan tanpa sadar,101 tetapi Dia akan menghukum kalian karena sumpah-sumpah yang kalian ikrarkan dengan sungguh-sungguh. Maka, pelanggaran sumpah itu haruslah di tebus dengan102 memberi makan sepuluh orang miskin dengan makanan yang kurang-lebih sama dengan yang biasa kalian berikan kepada keluarga kalian sendiri,103 atau dengan memberi mereka pakaian, atau dengan memerdekakan seorang dari perbudakan; dan siapa pun yang tidak sanggup, harus berpuasa selama tiga hari [sebagai gantinya]. Inilah tebusan sumpah-sumpah kalian apabila kalian bersumpah [dan melanggarnya]. Namun, jagalah sumpah-sumpah kalian!104

Demikianlah Allah menjelaskan kepada kalian pesan-pesan-Nya supaya kalian bersyukur.


101 Lit., “karena kata yang sembrono (a thoughtless word; laghwu) dalam sumpah kalian”. Hal ini terutama merujuk pada sumpah yang ditujukan untuk berpantang terhadap sesuatu yang dalam Hukum Islam tidak dilarang (yakni, “yang baik-baik dalam kehidupan”); dan, secara umum, pada semua sumpah yang diucapkan tanpa perenungan terlebih dahulu, misalnya dalam keadaan marah (bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 224-225; juga Surah Shad [38]: 44 dan catatan no. 41).

102 Lit., “tebusannya adalah”—kata ganti hu mengacu pada dosa (yang tersirat) karena melanggar perjanjian. Jelaslah dari konteksnya bahwa kemungkinan untuk membayar tebusan hanyalah untuk “sumpah yang diucapkan tanpa sadar” dan bukan untuk perbuatan sengaja yang berdampak pada orang lain, yang—sebagaimana secara eksplisit telah dinyatakan di awal kalimat surah ini—harus dipenuhi oleh orang yang beriman dengan tulus sesuai kemampuan terbaiknya. Mengenai pengecualian dari aturan umum ini, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 212.

103 Lit., “dengan rata-rata apa yang kalian beri makan kepada keluarga kalian”.

104 Yakni, “jangan menganggapnya enteng atau sering-sering melakukannya” (Al-Razi).


Surah Al-Ma’idah Ayat 90

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

yā ayyuhallażīna āmanū innamal-khamru wal-maisiru wal-anṣābu wal-azlāmu rijsum min ‘amalisy-syaiṭāni fajtanibụhu la’allakum tufliḥụn

90. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Minuman keras, judi, praktik-praktik kemusyrikan, dan ramalan masa depan adalah keburukan yang menjijikkan di antara perbuatan-perbuatan setan:105 maka, jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian meraih kebahagiaan!


105 Menurut para ahli penyusun kamus, kata khamr (yang berasal dari verba khamara, “dia menyembunyikan” atau “mengaburkan”) menunjukkan setiap zat yang penggunaannya dapat mengaburkan pikiran, yakni zat-zat yang memabukkan. Karena itu, larangan zat-zat memabukkan yang disebutkan dalam ayat ini tidak hanya mencakup minuman beralkohol, tetapi juga obat-obatan yang mempunyai efek serupa. Pengecualian satu-satunya dari larangan total ini hanya muncul dalam kasus-kasus “kebutuhan darurat” (dalam pengertiannya yang paling ketat), sebagaimana ditetapkan dalam kalimat terakhir ayat 3 surah ini, yaitu: dalam kasus ketika penyakit atau kecelakaan badan menuntut penggunaan zat-zat yang memabukkan atau beralkohol ini karena situasinya sangat penting dan tidak terelakkan.

Adapun mengenai ungkapan “praktik-praktik kemusyrikan” (anshab, yang secara harfiah berarti “altar untuk pemujaan berhala”), lihat catatan no. 8 surah ini. Menurut saya, di sini, istilah ini digunakan secara metaforis dan meliputi seluruh praktik kemusyrikan—seperti menyembah orang-orang suci {santo dan wali—peny.}, meyakini adanya kekuatan “magis” pada benda-benda mati, percaya dan patuh pada takhayul dalam berbagai bentuknya, dan seterusnya.

Untuk penjelasan ungkapan yang saya terjemahkan menjadi “ramalan masa depan” (al-azlam, secara harfiah berarti “anak panah untuk meramal”), lihat catatan no. 9 pada paragraf kedua ayat 3 surah ini.


Surah Al-Ma’idah Ayat 91

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

innamā yurīdusy-syaiṭānu ay yụqi’a bainakumul-‘adāwata wal-bagḍā`a fil-khamri wal-maisiri wa yaṣuddakum ‘an żikrillāhi wa ‘aniṣ-ṣalāti fa hal antum muntahụn

91. Dengan minuman keras dan judi, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian, serta memalingkan kalian dari mengingat Allah dan shalat. Maka, tidakkah kalian ingin berhenti?106


106 Lit., “Maka, maukah kalian berhenti?” suatu pertanyaan retoris yang menunjukkan pentingnya menghentikan konsumsi zat-zat tersebut, yang hanya bisa diungkapkan dalam bahasa Inggris dengan menggunakan bentuk negatif (“Will you not, then, desist?”).


Surah Al-Ma’idah Ayat 92

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَاحْذَرُوا ۚ فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا عَلَىٰ رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

wa aṭī’ullāha wa aṭī’ur-rasụla waḥżarụ, fa in tawallaitum fa’lamū annamā ‘alā rasụlinal-balāgul-mubīn

92. Karena itu, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan teruslah waspada [terhadap kejahatan]; dan jika kalian berpaling, ketahuilah bahwa kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan pesan dengan terang [yang dipercayakan kepadanya].107


107 Hal ini menunjukkan bahwa dia tidak bisa memaksa manusia untuk beriman dan, karena itu, tidak bertanggung jawab apabila mereka tidak beriman.


Surah Al-Ma’idah Ayat 93

لَيْسَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جُنَاحٌ فِيمَا طَعِمُوا إِذَا مَا اتَّقَوْا وَآمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ثُمَّ اتَّقَوْا وَآمَنُوا ثُمَّ اتَّقَوْا وَأَحْسَنُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

laisa ‘alallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti junāḥun fīmā ṭa’imū iżā mattaqaw wa āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti ṡummattaqaw wa āmanụ ṡummattaqaw wa aḥsanụ, wallāhu yuḥibbul-muḥsinīn

93. Tidak ada dosa bagi orang-orang yang telah meraih iman dan mengerjakan amal saleh untuk menikmati apa pun yang dihalalkan,108 selama mereka sadar akan Allah dan [benar-benar] beriman, mengerjakan amal saleh, terus sadar akan Allah dan beriman, dan semakin bertambah109 sadar akan Allah dan tekun berbuat kebajikan: sebab, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.


108 Lit., “dalam apa pun yang mereka makan” atau “rasakan” (fima tha’imu). Verba tha’ima, yang utamanya berarti “dia telah makan”, dapat digunakan untuk menunjuk “makan dan minum” serta—secara metaforis—”menikmati” apa pun yang diinginkan. Mayoritas mufasir berasumsi bahwa ayat ini berkenaan dengan orang-orang beriman yang wafat sebelum pemberlakuan larangan-larangan yang disebutkan dalam ayat 90 surah ini. Namun, menurut saya, tampaknya ayat ini memiliki makna yang jauh lebih luas dan berkenaan dengan menikmati “segala sesuatu yang baik-baik dalam kehidupan”—yakni, yang tidak dilarang oleh Allah dan yang, karenanya, orang-orang beriman tidak perlu berpantang terhadapnya (bdk. ayat 87 sebelumnya).

109 Lit., “dan kemudian (tsumma) sadar …”: sebuah alur yang mengungkapkan pertambahan dan intensifikasi (Al-Razi). Karena itu, partikel tsumma—yang muncul dua kali dalam kalimat ini—saya terjemahkan, dalam kasus pertama, menjadi “[mereka] terus” dan, dalam kasus kedua, menjadi “[mereka] semakin bertambah [sadar akan Allah]”.


Surah Al-Ma’idah Ayat 94

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَيَبْلُوَنَّكُمُ اللَّهُ بِشَيْءٍ مِنَ الصَّيْدِ تَنَالُهُ أَيْدِيكُمْ وَرِمَاحُكُمْ لِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَخَافُهُ بِالْغَيْبِ ۚ فَمَنِ اعْتَدَىٰ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ

yā ayyuhallażīna āmanụ layabluwannakumullāhu bisyai`im minaṣ-ṣaidi tanāluhū aidīkum wa rimāḥukum liya’lamallāhu may yakhāfuhụ bil-gaīb, fa mani’tadā ba’da żālika fa lahụ ‘ażābun alīm

94. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Allah sungguh akan menguji kalian dengan hewan buruan, yang mudah dijangkau oleh tangan dan senjata kalian110 [ketika kalian sedang berhaji], supaya Allah dapat membedakan orang yang takut kepada-Nya, meskipun Dia berada di luar jangkauan persepsi manusia.111 Adapun orang yang, setelah ini, melanggar batas-batas apa yang benar—penderitaan yang pedih menantinya!


110 Lit., “dengan sesuatu dari hewan buruan itu yang bisa dijangkau oleh tangan-tangan dan tombak-tombak kalian”.

111 Dengan ayat ini, Al-Quran menegaskan kembali larangan berburu saat musim haji, sebagaimana telah dijelaskan pada ayat 1 surah ini. “Ujian”-nya muncul karena fakta bahwa berburu, meskipun pada hakikatnya halal (dan, karena itu, menurut ayat sebelumnya, termasuk di antara hal-hal yang boleh dilakukan oleh orang-orang yang beriman), dalam keadaan berhaji dilarang.

Adapun mengenai ungkapan bi al-ghaib yang saya terjemahkan menjadi “meskipun Dia berada di luar jangkauan persepsi manusia”, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 3.


Surah Al-Ma’idah Ayat 95

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۚ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَٰلِكَ صِيَامًا لِيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ ۗ عَفَا اللَّهُ عَمَّا سَلَفَ ۚ وَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā taqtuluṣ-ṣaida wa antum ḥurum, wa mang qatalahụ mingkum muta’ammidan fa jazā`um miṡlu mā qatala minan-na’ami yaḥkumu bihī żawā ‘adlim mingkum hadyam bāligal-ka’bati au kaffāratun ṭa’āmu masākīna au ‘adlu żālika ṣiyāmal liyażụqa wa bāla amrih, ‘afallāhu ‘ammā salaf, wa man ‘āda fa yantaqimullāhu min-h, wallāhu ‘azīzun żuntiqām

95. Wahai, kalian yang telah meraih iman! Janganlah membunuh hewan buruan ketika kalian sedang berhaji. Siapa pun di antara kalian yang membunuhnya dengan sengaja,112 [harus] membayar denda berupa hewan ternak yang seimbang dengan hewan yang dibunuhnya—menurut putusan dua orang yang adil di antara kalian—sebagai pengorbanan yang dibawa ke Ka’bah,113 atau dia dapat menebus dosanya dengan memberi makan orang miskin, atau dengan berpuasa yang setara dengannya:114 [hal ini] agar dia benar-benar merasakan betapa seriusnya perbuatan (pelanggaran yang) dia (lakukan), [sementara] Allah dapat menghapuskan yang telah lalu. Namun, siapa pun yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menimpakan balasan-Nya terhadapnya: sebab, Allah Mahaperkasa, Pembalas Kejahatan.


112 Dari kalimat terakhir ayat ini, tampak bahwa pembunuhan “disengaja” yang disebutkan di sini maksudnya hanya merujuk pada suatu insiden tertentu (atau pelanggaran pertama), dan bukan “pelanggaran terhadap batas-batas apa yang benar” yang dilakukan dengan terus-menerus dan disengaja—suatu hal yang dilarang keras oleh ayat sebelumnya. Hendaknya diingat bahwa istilah “hewan buruan” (shaid) dalam konteks ini hanya mencakup hewan yang bisa dimakan: sebab, menurut beberapa hadis sahih, membunuh hewan berbahaya atau yang sangat merugikan—seperti ular, kala-jengking, anjing gila, dan lain-lain—diperbolehkan walaupun dalam keadaan berhaji.

113 Yakni, untuk dibagikan kepada orang-orang miskin. Dalam konteks ini, Ka’bah mencakup, secara metonimia, daerah-daerah suci di sekitar Makkah, dan bukan hanya bangunan Ka`bah dan Masjid Al-Haram (Al-Razi). “Dua orang yang adil” hendaknya menentukan kisaran nilai-daging dari hewan liar yang telah dibunuh itu dan, atas dasar ini, harus memutuskan hewan ternak mana yang harus dikorbankan sebagai pengganti.

114 Lit., “atau [hendaknya ada] tebusan berupa pemberian makan kepada orang-orang miskin atau yang setara berupa berpuasa”. Dua alternatif ini terbuka bagi peserta haji. Alternatif pertama—membayar tebusan—diberikan kepada peserta haji yang terlalu miskin untuk menyediakan seekor atau beberapa ekor hewan ternak yang setara nilainya dengan hewan buruan yang mereka bunuh. Sedangkan, alternatif kedua—berpuasa—diberikan kepada peserta haji yang bahkan terlalu miskin untuk memberi makan orang miskin lainnya. Karena Al-Quran maupun hadis sahih tidak menjelaskan secara terperinci jumlah orang miskin yang harus diberi makan dan jumlah hari berpuasanya, perincian tersebut jelas dikembalikan kepada kesadaran orang yang bersangkutan.


Surah Al-Ma’idah Ayat 96

أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ ۖ وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

uḥilla lakum ṣaidul-baḥri wa ṭa’āmuhụ matā’al lakum wa lis-sayyārah, wa ḥurrima ‘alaikum ṣaidul-barri mā dumtum ḥurumā, wattaqullāhallażī ilaihi tuḥsyarụn

96. Dihalalkan bagi kalian semua hewan yang hidup di air dan yang dihantarkan oleh laut,115 sebagai rezeki bagi kalian [yang bermukim] serta bagi orang-orang yang dalam perjalanan, meskipun kalian diharamkan berburu di daratan selama kalian sedang berhaji.116 Dan, sadarlah akan Allah; yang kepada-Nya kalian akan dikumpulkan.


115 Lit., “hewan buruan Iaut dan makanannya”. Karena istilah bahr berarti sembarang himpunan air yang besar, para mufasir klasik dan ahli fiqih setuju bahwa aturan tersebut mencakup seluruh hewan buruan yang hidup di air, baik berasal dari laut, sungai, danau, ataupun kolam (Al-Thabari). Kata ganti hu pada kata tha’amuhu (lit., “makanannya”) mengacu pada kata bahr, dan karena itu menunjuk pada ikan atau binatang laut lainnya yang mungkin oleh gelombang terdampar sampai ke pantai (Al-Thabari, Al-Razi). Namun, Al-Zamakhsyari berpendapat bahwa kata ganti tersebut mengacu pada hewan buruan itu sendiri (shaid) dan, karena itu, memahami frasa tersebut menjadi “memakan hewan buruan itu”. Mana pun dari kedua cara-baca ini sama-sama cocok dengan teks tersebut karena ayat tersebut menetapkan bahwa semua jenis hewan tangkapan yang hidup di air halal bagi orang-orang yang beriman—meskipun sedang berhaji—sedangkan memburu hewan darat (shaid al-barr) dilarang bagi peserta haji.

116 Menurut Hasan Al-Bashri (sebagaimana dikutip Al-Thabari), “orang-orang yang dalam perjalanan”, dalam konteks ini, bersinonim dengan “jamaah haji”: dengan kata lain, hewan tangkapan yang hidup di air dengan berbagai jenisnya halal bagi orang-orang beriman, terlepas dari apakah mereka sedang berhaji atau tidak.


Surah Al-Ma’idah Ayat 97

جَعَلَ اللَّهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيَامًا لِلنَّاسِ وَالشَّهْرَ الْحَرَامَ وَالْهَدْيَ وَالْقَلَائِدَ ۚ ذَٰلِكَ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

ja’alallāhul-ka’batal-baital-ḥarāma qiyāmal lin-nāsi wasy-syahral-ḥarāma wal-hadya wal-qalā`id, żālika lita’lamū annallāha ya’lamu mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍi wa annallāha bikulli syai`in ‘alīm

97. Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu, sebagai perlambang bagi seluruh manusia;117 dan [demikian juga] bulan suci [haji] dan kurban yang dikalungi [adalah perlambang] yang dimaksudkan untuk membuat kalian sadar118 bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di lelangit dan segala sesuatu yang ada di bumi, dan bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.


117 Seluruh perburuan yang dilakukan, baik oleh peserta haji maupun bukan, dilarang dilakukan di daerah sekitar Ka’bah—yakni, di dalam Kota Makkah dan daerah sekitarnya—karena Ka’bah merupakan tempat perlindungan (amn, lihat Surah Al-Baqarah [2]: 125) bagi semua makhluk hidup. Mengenai hubungan Ka’bah dengan Nabi Ibrahim a.s., lihat Surah Al-Baqarah [2]: 125 dan seterusnya, beserta catatannya yang terkait. Kata Ka’bah berarti “bangunan apa saja yang berbentuk kubus”, dan memang melalui kata ka’bah inilah, karena bentuknya yang berupa kubus, tempat berlindung ini dikenal orang. Tampaknya, orang yang pertama kali membangun Ka’bah (karena, sejak masa Nabi Ibrahim a.s., Ka’bah telah berkali-kali dibangun-ulang, dan selalu dalam bentuk yang sama) dengan sadar memilih bentuk bangunan tiga dimensi yang paling sederhana yang mungkin dibayangkan—yakni bentuk kubus—sebagai lambang kerendahan diri manusia dan rasa takut-takjubnya terhadap gagasan tentang Allah, yang keagungan-Nya melampaui apa pun yang dapat dijangkau manusia melalui keindahan arsitektur. Simbolisme ini jelas diungkapkan dalam istilah qiyam (Iit., “tiang” atau “soko-guru”) yang—dalam pengertian abstraknya—menunjukkan “suatu standar yang dengannya segala urusan [manusia] dikuatkan atau diperbaiki” (Al-Razi): karena itu, saya menerjemahkan qiyam li al-nas menjadi “sebagai perlambang bagi seluruh manusia”.

118 Lit., “demikianlah, agar kalian dapat mengetahui”. Kata “kurban yang dikalungi” (lit., “kurban-kurban dan kalung-kalung”) merujuk pada hewan kurban (lihat catatan no. 4 surah ini). Jadi, ibadah haji dan ritual yang terkait dengannya dinyatakan sebagai simbol penyerahan diri manusia kepada Allah.


Surah Al-Ma’idah Ayat 98

اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

i’lamū annallāha syadīdul-‘iqābi wa annallāha gafụrur raḥīm

98. Ketahuilah bahwa Allah amat keras dalam menghukum—dan bahwa Allah Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.


Surah Al-Ma’idah Ayat 99

مَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ

mā ‘alar-rasụli illal-balāg, wallāhu ya’lamu mā tubdụna wa mā taktumụn

99. Kewajiban Rasul hanyalah menyampaikan pesan [yang diamanatkan kepadanya]: dan Allah mengetahui apa yang kalian nyatakan dan apa yang kalian sembunyikan.


Surah Al-Ma’idah Ayat 100

قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ ۚ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

qul lā yastawil-khabīṡu waṭ-ṭayyibu walau a’jabaka kaṡratul khabīṡ, fattaqullāha yā ulil-albābi la’allakum tufliḥụn

100. Katakanlah: “Tiada bandingannya antara yang buruk dan yang baik,119 meskipun teramat banyak hal-hal buruk itu yang, boleh jadi, sangat menyenangkanmu. Maka, sadarlah akan Allah, wahai orang-orang yang dianugerahi pengetahuan yang mendalam, agar kalian meraih kebahagiaan!”


119 Lit., “tidaklah sama antara yang buruk dan yang baik”.


Surah Al-Ma’idah Ayat 101

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā tas`alụ ‘an asy-yā`a in tubda lakum tasu`kum, wa in tas`alụ ‘an-hā ḥīna yunazzalul-qur`ānu tubda lakum, ‘afallāhu ‘an-hā, wallāhu gafụrun ḥalīm

101. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Janganlah menanyakan hal-hal yang jika diwujudkan bagi kalian [dalam bentuk hukum] menyebabkan kesulitan bagi kalian;120 karena, andai kalian menanyakan hal itu ketika Al-Quran sedang diwahyukan, niscaya akan [sungguh-sungguh] diwujudkan bagi kalian [sebagai hukum].121 Allah telah membebaskan [kalian dari kewajiban apa pun] dalam hal ini: sebab, Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun.122


120 Ayat ini berkaitan langsung dengan ayat 99: “Kewajiban Rasul hanyalah menyampaikan pesan”. Jika dibaca dalam kaitannya dengan kalimat, “Pada hari ini, telah Kusempurnakan bagi kalian hukum agama kalian” (ayat 3 surah ini), pernyataan tersebut menunjukkan bahwa orang-orang beriman tidak boleh mencoba-coba mendeduksi hukum-hukum “tambahan” dari perintah-perintah yang telah ditetapkan dengan jelas oleh Al-Quran atau hadis Nabi, karena hal ini “menyebabkan kesulitan bagi kalian”—yakni, dapat (sebagaimana memang terjadi seiring perjalanan abad demi abad) membebani orang-orang beriman melebihi dan di luar yang telah ditentukan Al-Quran dan hadis sahih Nabi. Berdasarkan ayat ini, beberapa ulama besar telah menyimpulkan bahwa seluruh Hukum Islam hanya menetapkan perintah-perintah yang tegas dan jelas yang berasal dari kata-kata yang nyata (zhahir) dalam Al-Quran dan perintah Nabi, dan bahwa, karena itu, tidak boleh memperluas cakupan perintah-perintah yang nyata itu melalui metode deduktif yang subjektif. (Diskusi yang paling mencerahkan tentang masalah ini terdapat dalam Pendahuluan Kitab Muhalla karya Ibn Hazm, vol. I, hh. 56 dan seterusnya.) Tentu saja, hal ini tidak membatasi masyarakat Muslim untuk mengembangkan, kapan pun dibutuhkan, sejumlah peraturan temporal tambahan yang sesuai dengan semangat Al-Quran dan ajaran Nabi: tetapi, harus benar-benar dipahami bahwa penambahan legislasi yang demikian itu tidak dapat dianggap sebagai bagian Hukum Islam (syari’ah) itu sendiri.

121 Yakni, kemungkinan dengan konsekuensi yang merugikan. Ilustrasi tentang masalah ini tercantum dalam hadis sahih, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim berdasarkan riwayat Abu Hurairah berikut ini. Dalam suatu khutbahnya, Nabi bersabda, “Wahai, kaumku, Allah telah mewajibkan haji kepada kalian; karena itu, kerjakanlah.” Lalu, ada yang bertanya, “Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah?” Nabi terdiam; dan orang itu mengulangi pertanyaannya dua kali. Kemudian, Nabi menjawab, “Andai aku jawab ‘ya’, tentu akan menjadi kewajiban bagi kalian [untuk melaksanakan haji setiap tahun]: dan, tentu saja, hal tersebut di luar kemampuan kalian. Jangan bertanya kepadaku tentang sesuatu yang aku diamkan: karena, perhatikanlah, dahulu ada suatu kaum sebelum kalian yang tertimpa malapetaka disebabkan mereka terlalu banyak bertanya kepada nabi mereka, kemudian mereka memperselisihkan ajaran-ajaran mereka itu. Karena itu, jika aku perintahkan sesuatu kepada kalian, kerjakanlah semampu kalian; dan jika aku melarang sesuatu, jauhilah.” Ketika membahas hadis ini, Ibn Hazm berpendapat, “Hal ini mencakup seluruh prinsip hukum agama (ahkam al-din) dari awal hingga akhir, yakni: apa pun yang didiamkan Nabi—tidak dilarang ataupun diperintahkan—adalah boleh yakni bukan haram dan bukan pula wajib; apa pun yang dia perintahkan adalah wajib (fardh), dan apa pun yang dia larang adalah haram; dan apa pun yang dia perintahkan kepada kita mengikat kita sejauh kemampuan kita saja”. (Muhalla I, h. 64). Perlu diingat bahwa istilah “Nabi” dalam konteks ini juga mencakup Al-Quran, sebab melalui Nabi-lah pesan-pesan AI-Quran disampaikan kepada manusia.

122 Yakni, dengan mendiamkan hal-hal tertentu, Allah memberikan keleluasaan kepada manusia sehingga memungkinkan dia berbuat sesuai dengan hati nurani dan untuk sebesar-besar kepentingan masyarakat.


Surah Al-Ma’idah Ayat 102

قَدْ سَأَلَهَا قَوْمٌ مِنْ قَبْلِكُمْ ثُمَّ أَصْبَحُوا بِهَا كَافِرِينَ

qad sa`alahā qaumum ming qablikum ṡumma aṣbaḥụ bihā kāfirīn

102. Orang-orang sebelum kalian sungguh telah menanyakan hal-hal serupa itu—akibatnya, mereka mengingkari kebenaran.123


123 Seraya mengikuti prinsip-prinsip hukum Ibn Hazm, Rasyid Ridha menjelaskan ayat tersebut sbb.: “Banyak ahli fiqih (fuqaha’) kita, dengan kesimpulan subjektif mereka, terlalu memperluas cakupan kewajiban agama (takalif) seseorang sehingga menimbulkan kesulitan dan kerumitan besar yang (sebenarnya) telah diputuskan dengan susunan kata yang jelas [oleh Al-Quran] dan hal ini mendorong ditinggalkannya Hukum Islam secara keseluruhan, baik oleh banyak individu Muslim maupun oleh pemerintah mereka” (Al-Manar VII, h. 138).


Surah Al-Ma’idah Ayat 103

مَا جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلَا سَائِبَةٍ وَلَا وَصِيلَةٍ وَلَا حَامٍ ۙ وَلَٰكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۖ وَأَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

mā ja’alallāhu mim baḥīratiw wa lā sā`ibatiw wa lā waṣīlatiw wa lā hāmiw wa lākinnallażīna kafarụ yaftarụna ‘alallāhil-każib, wa akṡaruhum lā ya’qilụn

103. BUKANLAH termasuk perintah Allah bahwa jenis-jenis hewan ternak tertentu harus diberi tanda berdasarkan takhayul dan disisihkan agar tidak dimanfaatkan manusia;124 tetapi, orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran menisbahkan rekaan dusta mereka itu sendiri kepada Allah. Dan, kebanyakan mereka tidak pernah menggunakan akal mereka:


124 Lit., “Allah tidak menetapkan apa pun [yang berupa] bahirah, sa’ibah, washilah, maupun ham“. Ungkapan ini menunjukkan jenis-jenis tertentu dari hewan ternak yang digunakan masyarakat Arab pra-Islam untuk dipersembahkan kepada berbagai tuhan mereka dengan membiarkan hewan-hewan tersebut bebas berkeliaran di padang rumput dan melarang untuk dimanfaatkan atau disembelih. Hewan-hewan tersebut dipilih utamanya berdasarkan jumlah, jenis kelamin, dan urutan keturunan. Akan tetapi, para ahli kamus dan mufasir benar-benar berselisih ketika berupaya mendefinisikannya. Karena alasan inilah—dan juga karena kerumitan yang terkandung di dalamnya—keempat istilah tersebut tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa lain; karena itu, saya menerjemahkan kata-kata tersebut dengan ” jenis-jenis hewan ternak tertentu harus diberi tanda berdasarkan takhayul dan disisihkan agar tidak dimanfaatkan manusia”: inilah, berdasarkan kesepakatan seluruh mufasir, ciri-ciri keempat kategori itu. Jelaslah bahwa penyebutan hewan-hewan itu pada tempat ini (serta, secara tersirat, dalam Surah Al-An’am [6]: 138-139 dan 143-144) menyajikan suatu gambaran atas perintah dan larangan tertentu yang dibuat secara arbitrer yang diduga bersifat “keagamaan”—suatu hal yang telah disinggung dalam dua ayat terdahulu dan dijelaskan dalam catatan-catatannya.


Surah Al-Ma’idah Ayat 104

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

wa iżā qīla lahum ta’ālau ilā mā anzalallāhu wa ilar-rasụli qālụ ḥasbunā mā wajadnā ‘alaihi ābā`anā, a walau kāna ābā`uhum lā ya’lamụna syai`aw wa lā yahtadụn

104. sebab, apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”—mereka menjawab, “Cukuplah bagi kami hal-hal yang dipercayai dan yang dilakukan moyang kami.” Mengapa (begitu), meskipun moyang mereka itu tidak tahu apa-apa dan tidak mendapat petunjuk apa pun?


Surah Al-Ma’idah Ayat 105

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

yā ayyuhallażīna āmanụ ‘alaikum anfusakum, lā yaḍurrukum man ḍalla iżahtadaitum, ilallāhi marji’ukum jamī’an fa yunabbi`ukum bimā kuntum ta’malụn

105. Wahai, kalian yang telah meraih iman! [Hanya] terhadap diri kalian sendirilah, kalian bertanggung jawab: orang-orang yang tersesat itu tidak akan dapat membahayakan diri kalian jika kalian [sendiri] berada pada jalan yang benar. Hanya kepada Allah, kalian pasti kembali: lalu Dia akan menjadikan kalian [benar-benar] mengerti tentang apa yang telah kalian kerjakan [di dunia].


Surah Al-Ma’idah Ayat 106

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا شَهَادَةُ بَيْنِكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ حِينَ الْوَصِيَّةِ اثْنَانِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ أَوْ آخَرَانِ مِنْ غَيْرِكُمْ إِنْ أَنْتُمْ ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَأَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةُ الْمَوْتِ ۚ تَحْبِسُونَهُمَا مِنْ بَعْدِ الصَّلَاةِ فَيُقْسِمَانِ بِاللَّهِ إِنِ ارْتَبْتُمْ لَا نَشْتَرِي بِهِ ثَمَنًا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ ۙ وَلَا نَكْتُمُ شَهَادَةَ اللَّهِ إِنَّا إِذًا لَمِنَ الْآثِمِينَ

yā ayyuhallażīna āmanụ syahādatu bainikum iżā ḥaḍara aḥadakumul-mautu ḥīnal-waṣiyyatiṡnāni żawā ‘adlim mingkum au ākharāni min gairikum in antum ḍarabtum fil-arḍi fa aṣābatkum muṣībatul-maụt, taḥbisụnahumā mim ba’diṣ-ṣalāti fa yuqsimāni billāhi inirtabtum lā nasytarī bihī ṡamanaw walau kāna żā qurbā wa lā naktumu syahādatallāhi innā iżal laminal-āṡimīn

106. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Hendaklah ada saksi-saksi terhadap apa yang kalian lakukan ketika maut mendatangi kalian dan (ketika) kalian hendak berwasiat:125 (yakni) dua orang yang adil dari kalangan kalian sendiri atau—jika sakratulmaut mendatangi kalian ketika kalian sedang dalam perjalanan jauh dari kampung halaman126—dua orang lain dari [kalangan] selain kalian sendiri. Berpeganglah pada kedua saksi itu sesudah kalian shalat; dan jika kalian ragu-ragu, mintalah keduanya bersumpah dengan nama Allah, “Kami tidak akan menjual [kata-kata kami] ini dengan harga apa pun, walaupun [demi kepentingan] karib kerabat; dan tidak pula kami menyembunyikan apa pun yang telah kami saksikan di hadapan Allah127—kalau tidak, biarlah kami benar-benar digolongkan sebagai orang-orang yang penuh dosa.”


125 Lit., “[hendaklah ada] kesaksian di antara kalian”—yakni, antara kalian dan ahli waris kalian—”ketika maut mendekati siapa pun di antara kalian, pada saat [pembuatan] wasiat”.

126 Lit., “melakukan perjalanan di bumi”. Menurut mayoritas mufasir (bdk. Al-Razi), ungkapan minkum (lit., “di antara kalian”) di sini berarti “di antara kalangan kalian sendiri” yakni, dari kalangan masyarakat Muslim.

127 Lit., “kami tidak akan menyembunyikan kesaksian Allah”.


Surah Al-Ma’idah Ayat 107

فَإِنْ عُثِرَ عَلَىٰ أَنَّهُمَا اسْتَحَقَّا إِثْمًا فَآخَرَانِ يَقُومَانِ مَقَامَهُمَا مِنَ الَّذِينَ اسْتَحَقَّ عَلَيْهِمُ الْأَوْلَيَانِ فَيُقْسِمَانِ بِاللَّهِ لَشَهَادَتُنَا أَحَقُّ مِنْ شَهَادَتِهِمَا وَمَا اعْتَدَيْنَا إِنَّا إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ

fa in ‘uṡira ‘alā annahumastaḥaqqā iṡman fa ākharāni yaqụmāni maqāmahumā minallażīnastaḥaqqa ‘alaihimul-aulayāni fa yuqsimāni billāhi lasyahādatunā aḥaqqu min syahādatihimā wa ma’tadainā innā iżal laminaẓ-ẓālimīn

107. Namun, jika kemudian diketahui bahwa kedua orang [saksi] itu bersalah karena dosa [besar ini], dua orang yang lain—dari kalangan yang telah dirampas haknya oleh kedua orang ini128—hendaknya menggantikan mereka dan bersumpah dengan nama Allah, “Sungguh, kesaksian kami lebih benar daripada kesaksian kedua saksi ini, dan kami tidak melanggar batas-batas apa yang benar—kalau tidak, biarlah kami benar-benar digolongkan sebagai orang-orang yang zalim!”


128 Yakni, dari kalangan ahli waris yang berhak dari si orang yang wafat itu.


Surah Al-Ma’idah Ayat 108

ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يَأْتُوا بِالشَّهَادَةِ عَلَىٰ وَجْهِهَا أَوْ يَخَافُوا أَنْ تُرَدَّ أَيْمَانٌ بَعْدَ أَيْمَانِهِمْ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاسْمَعُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

żālika adnā ay ya`tụ bisy-syahādati ‘alā waj-hihā au yakhāfū an turadda aimānum ba’da aimānihim, wattaqullāha wasma’ụ, wallāhu lā yahdil-qaumal-fāsiqīn

108. Sehingga, ada kemungkinan yang lebih besar bahwa orang-orang akan mengemukakan kesaksiannya sesuai dengan kebenaran—kalau tidak, mereka akan [memiliki alasan untuk] merasa takut bahwa sumpah mereka akan ditolak oleh sumpah orang lain.129

Maka, sadarlah akan Allah dan dengarkanlah [Dia]: sebab, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.


129 Lit., “agar sumpah [yang bertentangan] tidak diajukan setelah sumpah mereka”.


Surah Al-Ma’idah Ayat 109

يَوْمَ يَجْمَعُ اللَّهُ الرُّسُلَ فَيَقُولُ مَاذَا أُجِبْتُمْ ۖ قَالُوا لَا عِلْمَ لَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ

yauma yajma’ullāhur-rusula fa yaqụlu māżā ujibtum, qālụ lā ‘ilma lanā, innaka anta ‘allāmul-guyụb

109. PADA HARI ketika Allah mengumpulkan semua rasul, lalu bertanya, “Apa tanggapan yang kalian terima?”—mereka akan menjawab, “Kami tidak memiliki pengetahuan; sungguh, Engkau sajalah yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang berada di luar jangkauan persepsi makhluk.”130


130 Bdk. ayat 99 surah ini: “Kewajiban Rasul hanyalah menyampaikan pesan” sebab, dia tidak bisa memaksa manusia untuk mengikuti jalan yang benar dan tidak pula dapat mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lihat juga Surah An-Nisa’ [4]: 41-42.)


Surah Al-Ma’idah Ayat 110

إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ وَعَلَىٰ وَالِدَتِكَ إِذْ أَيَّدْتُكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا ۖ وَإِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ ۖ وَإِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي فَتَنْفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِي ۖ وَتُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ بِإِذْنِي ۖ وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِي ۖ وَإِذْ كَفَفْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَنْكَ إِذْ جِئْتَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ

iż qālallāhu yā ‘īsabna maryamażkur ni’matī ‘alaika wa ‘alā wālidatik, iż ayyattuka birụḥil-qudus, tukallimun-nāsa fil-mahdi wa kahlā, wa iż ‘allamtukal-kitāba wal-ḥikmata wat-taurāta wal-injīl, wa iż takhluqu minaṭ-ṭīni kahai`atiṭ-ṭairi bi`iżnī fa tanfukhu fīhā fa takụnu ṭairam bi`iżnī wa tubri`ul-akmaha wal-abraṣa bi`iżnī, wa iż tukhrijul-mautā bi`iżnī, wa iż kafaftu banī isrā`īla ‘angka iż ji`tahum bil-bayyināti fa qālallażīna kafarụ min-hum in hāżā illā siḥrum mubīn

110. Lihatlah!131 Allah akan berkata, “Wahai, Isa, putra Maryam! Ingatlah nikmat-nikmat yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan kepada ibumu—bagaimana Aku menguatkan engkau dengan ilham suci132 sehingga engkau dapat berbicara dengan manusia saat masih dalam buaianmu dan sesudah dewasa; dan bagaimana Aku ajarkan kepadamu wahyu dan hikmah, termasuk Taurat dan Injil;133 dan bagaimana dengan izin-Ku engkau telah menciptakan dari tanah, demikianlah kira-kira, bentuk nasib [pengikut-pengikutmu], kemudian engkau meniup ke dalamnya sehingga dengan seizin-Ku ia menjadi nasib [mereka];134 dan bagaimana engkau menyembuhkan orang buta dan orang yang berpenyakit kusta dengan seizin-Ku,135 dan bagaimana engkau membangkitkan orang mati dengan seizin-Ku; dan bagaimana Aku menghalangi Bani Israil dari menyakitimu tatkala engkau datang kepada mereka dengan mengemukakan seluruh bukti kebenaran, dan [ketika] orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran berkata, ‘Jelaslah bahwa ini hanyalah tipu muslihat!’”


131 Mengenai kata idz (di awal kalimat) yang terkadang saya terjemahkan menjadi “lihatlah” {lo}, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 21. Dalam konteks di atas, kata seru ini berkaitan dengan ayat sebelumnya yang menyatakan, secara tersirat, bahwa nabi-nabi tidak bertanggung jawab atas reaksi orang-orang yang telah mendapatkan pesan-pesan Ilahi dari mereka: suatu keterkaitan yang diungkap tuntas dalam ayat 116-117.

132 Lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 71.

133 Lit., “dan Taurat dan Injil”. Kata hubung “dan” di awal klausa ini dimaksudkan untuk menegaskan fakta bahwa, baik Taurat maupun Injil, keduanya termasuk dalam wahyu (al-kitab) yang diberikan kepada Nabi Isa a.s. Meskipun Taurat merupakan wahyu yang lebih dahulu, ia digambarkan sebagai “diberikan kepada Nabi Isa a.s.” karena misi kenabiannya didasarkan pada Hukum Musa, yang hanya dikuatkan, dan bukan dibatalkan, oleh Injil (bdk. Bibel, Matius 5: 17-19). Adapun mengenai ungkapan “dalam buaianmu”, lihat Surah Alu ‘Imran [3], catatan no. 33 (kalimat pertama).

134 Lihat Surah Alu ‘Imran [3]: 49 dan catatannya (no. 37).

135 Lihat Surah Alu ‘Imran [3], catatan no. 38.


Surah Al-Ma’idah Ayat 111

وَإِذْ أَوْحَيْتُ إِلَى الْحَوَارِيِّينَ أَنْ آمِنُوا بِي وَبِرَسُولِي قَالُوا آمَنَّا وَاشْهَدْ بِأَنَّنَا مُسْلِمُونَ

wa iż auḥaitu ilal-ḥawāriyyīna an āminụ bī wa birasụlī, qālū āmannā wasy-had bi`annanā muslimụn

111. DAN, [ingatlah saat] ketika Aku ilhamkan kepada orang-orang yang berjubah putih:136 “Berimanlah kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku!”

Mereka menjawab, “Kami beriman dan saksikanlah bahwa kami telah menyerahkan diri [kepada-Mu].”


136 Yakni, murid-murid Nabi Isa a.s. (lihat Surah Alu ‘Imran [3], catatan no. 42).


Surah Al-Ma’idah Ayat 112

إِذْ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ هَلْ يَسْتَطِيعُ رَبُّكَ أَنْ يُنَزِّلَ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ ۖ قَالَ اتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

iż qālal-ḥawāriyyụna yā ‘īsabna maryama hal yastaṭī’u rabbuka ay yunazzila ‘alainā mā`idatam minas-samā`, qālattaqullāha ing kuntum mu`minīn

112. [Dan,] lihatlah, orang-orang yang berjubah putih berkata, “Wahai, Isa, putra Maryam! Bisakah Pemeliharamu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?”137

[Isa] menjawab, “Sadarlah akan Allah jika kalian [benar-benar] orang yang beriman!”


137 Kata-kata yang relevan, dalam cara-baca (qira’at) Al-Quran yang diterima umum, adalah hal yastathi rabbuka, yang berarti “dapatkah Pemeliharamu”, atau “bisakah Pemeliharamu”, atau “apakah Pemeliharamu sanggup”. Karena, sepintas lalu, cara-baca ini menyiratkan keraguan yang mendasar terhadap kekuasaan Allah untuk berbuat apa pun yang Dia kehendaki (suatu tuduhan yang bertentangan dengan gambaran Al-Quran tentang murid-murid Nabi Isa a.s. sebagai orang-orang yang teguh beriman), mayoritas mufasir menganggap pertanyaan murid-murid Nabi Isa a.s. itu serupa dengan pertanyaan, “Bisakah kau pergi bersamaku?”—yaitu, bukan meragukan kemampuan lawan bicaranya untuk pergi, melainkan lebih sebagai suatu ketidakpastian menyangkut kemauannya untuk mengerjakan hal itu (mengenai hal ini, bdk. Al-Thabari, Al-Baghawi, Al-Razi, Raghib; juga Al-Manar VII, hh. 250 dan seterusnya). Namun, kami mempunyai bukti-bukti yang mendukung fakta bahwa beberapa Sahabat terkemuka Nabi—’Ali, Ibn ‘Abbas, ‘Aisyah, dan Mu’adz ibn Jabal—membaca kata-kata ini dengan ejaan hal tastathi’ rabbaka, yang dapat diterjemahkan menjadi “Bisakah engkau membujuk Pemeliharamu?” (Al-Thabari, Al-Zamakhsyari, Al-Baghawi, Al-Razi, dan Ibn Katsir): cara-baca yang menyiratkan ketidakpastian murid-muridnya akan kemampuan (dalam pengertian spiritual kata ini) Nabi Isa untuk memohonkan permintaan itu kepada Allah. Demikianlah, dalam rangka menolak cara-baca yang umum “hal yastathi’ rabbuka” (“dapatkah” atau “bisakah Pemeliharamu”) ini, ‘Aisyah diriwayatkan berkata, “Murid-murid Nabi Isa a.s. cukup mengetahui sehingga tidak perlu bertanya apakah Allah mampu melakukan sesuatu: mereka hanya meminta [kepada Nabi Isa a.s.], ‘Apakah engkau mampu meminta kepada Pemeliharamu?'” (Al-Razi). Tambahan pula, menurut sebuah hadis sahih yang dikutip dalam Mustadrak, Mu’adz ibn Jabal jelas-jelas menyatakan bahwa Nabi sendiri telah mengajarinya cara-baca hal tastathi’ rabbaka (“Bisakah engkau membujuk Pemeliharamu?”). Menurut hemat saya, bukti-bukti lebih mendukung alternatif kedua ini; tetapi, karena mempertimbangkan cara-baca (qira’at) yang lebih umum, saya menerjemahkan frasa itu seperti yang tercantum pada ayat 112.

Adapun mengenai permintaan murid-murid Nabi Isa a.s.—yang disusul dengan doa Nabi Isa a.s. setelah itu—untuk mendapatkan “hidangan” dari langit (ma’idah, kata yang dijadikan nama surah ini), boleh jadi merupakan pengulangan dari permintaan akan makanan sehari-hari yang terdapat dalam “Doa Bapa Kami”* (bdk. Bibel, Matius 6: 11) karena, dalam istilah keagamaan, setiap manfaat yang diperoleh manusia, pada hakikatnya “dikirim dari langit”—yakni oleh Allah—walaupun jika ia terwujud karena usaha manusia sendiri. Namun, pada sisi lain, cara murid-murid Nabi Isa a.s. dalam menyampaikan permintaan “hidangan” ini—dan khususnya penjelasan mereka yang tercantum pada ayat berikutnya—agaknya menunjukkan permohonan untuk mendapatkan suatu keajaiban yang dapat meyakinkan mereka bahwa Allah menerima keimanan mereka. (Lihat juga catatan selanjutnya.)

* {“Doa Bapa Kami” adalah doa penting yang paling sering diucapkan dalam agama Kristen. Kutipannya: “Bapa kami yang di surga, Dikuduskanlah nama-Mu, … Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami ….“—peny.}


Surah Al-Ma’idah Ayat 113

قَالُوا نُرِيدُ أَنْ نَأْكُلَ مِنْهَا وَتَطْمَئِنَّ قُلُوبُنَا وَنَعْلَمَ أَنْ قَدْ صَدَقْتَنَا وَنَكُونَ عَلَيْهَا مِنَ الشَّاهِدِينَ

qālụ nurīdu an na`kula min-hā wa taṭma`inna qulụbunā wa na’lama ang qad ṣadaqtanā wa nakụna ‘alaihā minasy-syāhidīn

113. Berkata mereka, “Kami ingin menikmatinya agar hati kami menjadi tenteram sepenuhnya, agar kami mengetahui bahwa engkau telah berkata benar kepada kami, dan agar kami dapat menjadi orang-orang yang menyaksikannya!”


Surah Al-Ma’idah Ayat 114

قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِنْكَ ۖ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

qāla ‘īsabnu maryamallāhumma rabbanā anzil ‘alainā mā`idatam minas-samā`i takụnu lanā ‘īdal li`awwalinā wa ākhirinā wa āyatam mingka warzuqnā wa anta khairur-rāziqīn

114. Isa, putra Maryam, berkata, “Wahai, Allah, Pemelihara kami! Turunkanlah kepada kami suatu hidangan dari langit: ia akan menjadi hari raya yang terus berulang-ulang bagi kami—bagi semua orang di antara kami—dan menjadi suatu tanda dari Engkau. Dan, anugerahkanlah rezeki kami karena Engkau-lah Pemberi Rezeki Yang Terbaik!”


Surah Al-Ma’idah Ayat 115

قَالَ اللَّهُ إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيْكُمْ ۖ فَمَنْ يَكْفُرْ بَعْدُ مِنْكُمْ فَإِنِّي أُعَذِّبُهُ عَذَابًا لَا أُعَذِّبُهُ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ

qālallāhu innī munazziluhā ‘alaikum, fa may yakfur ba’du mingkum fa innī u’ażżibuhụ ‘ażābal lā u’ażżibuhū aḥadam minal-‘ālamīn

115. Allah menjawab, “Sungguh, Aku [selalu] menurunkannya kepada kalian:138 maka, jika siapa pun di antara kalian sesudah itu mengingkari kebenaran [ini], perhatikanlah, kepadanya akan Kutimpakan penderitaan yang tidak pernah Aku timpakan [sebelumnya] kepada seorang pun di dunia!”


138 Bentuk gramatikal munazzil dalam frasa inni munazziluha (lit., “Aku menurunkannya”) menyiratkan suatu anugerah yang datang berulang-ulang secara berkelanjutan—suatu kesinambungan yang saya ungkapkan dengan menyisipkan kata “selalu” antara dua kurung siku. Penekanan tentang berkesinambungannya pemberian rezeki oleh Allah, baik fisik maupun spiritual, menjelaskan betapa berat hukuman-Nya bagi siapa saja yang—dengan dugaan arogan mereka bahwa manusia serbacukup dan tidak bergantung pada apa pun—mengingkari kebenaran yang nyata ini; tambahan pula, hal tersebut menyiratkan celaan terhadap tindakan meminta keajalban sebagai “bukti” keberadaan Allah.


Surah Al-Ma’idah Ayat 116

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ ۚ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ ۚ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ

wa iż qālallāhu yā ‘īsabna maryama a anta qulta lin-nāsittakhiżụnī wa ummiya ilāhaini min dụnillāh, qāla sub-ḥānaka mā yakụnu lī an aqụla mā laisa lī biḥaqq, ing kuntu qultuhụ fa qad ‘alimtah, ta’lamu mā fī nafsī wa lā a’lamu mā fī nafsik, innaka anta ‘allāmul-guyụb

116. DAN, LIHATLAH! Allah berfirman,139 “Wahai, lsa, putra Maryam! Apakah engkau berkata kepada manusia, ‘Sembahlah aku dun ibuku sebagai tuhan di samping Allah’?”

[Isa] menjawab, “Maha Tak Terhingga Engkau dalam kemuliaan-Mu! Mustahil aku mengatakan apa yang bukan hakku [untuk mengatakannya]! Jika aku pernah mengatakannya, tentulah Engkau mengetahuinya! Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri Engkau. Sungguh, Engkau saja yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang berada di luar jangkauan persepsi makhluk.


139 Yakni, “setelah Isa wafat”: hal ini tampak jelas dari kata-kata Nabi Isa a.s. selanjutnya—dalam kalimat bentuk lampau—tentang kematiannya sendiri (“sejak Engkau mewafatkanku”) dalam ayat 117. Di lain pihak, kata qala (lit., “Dia telah berfirman”) bisa juaa bermakna “Dia akan berfirman” (lihat catatan no. 141 setelah ini).


Surah Al-Ma’idah Ayat 117

مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۚ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنْتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

mā qultu lahum illā mā amartanī bihī ani’budullāha rabbī wa rabbakum, wa kuntu ‘alaihim syahīdam mā dumtu fīhim, fa lammā tawaffaitanī kunta antar-raqība ‘alaihim, wa anta ‘alā kulli syai`in syahīd

117. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku [untuk mengatakannya]: ‘Sembahlah Allah, [yang merupakan] Pemeliharaku dan Pemeliharamu.’ Dan, aku menjadi saksi terhadap apa yang mereka kerjakan selama aku berada di antara mereka. Namun, sejak Engkau mewafatkanku, Engkau sendirilah yang menjaga mereka:140 sebab, Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu.


140 Artikel definitif (lam ta’rif) dalam kalimat anta al-raqib mengungkapkan kekhususan AIIah dalam fungsi-Nya sebagai raqib (“penjaga”), dan hanya dapat diterjemahkan dengan menyisipkan kata “sendiri” (yang tersirat secara eliptis). Ungkapan serupa yang mengacu pada Allah amat sering dijumpai dalam Al-Quran—misalnya pada akhir ayat berikutnya.


Surah Al-Ma’idah Ayat 118

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

in tu’ażżib-hum fa innahum ‘ibāduk, wa in tagfir lahum fa innaka antal-‘azīzul-ḥakīm

118. Jika Engkau jadikan mereka terazab dengan derita—sungguh, mereka adalah hamba-hamba-Mu; dan jika Engkau mengampuni mereka—sungguh, Engkau-lah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana!”


Surah Al-Ma’idah Ayat 119

قَالَ اللَّهُ هَٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ ۚ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

qālallāhu hāżā yaumu yanfa’uṣ-ṣādiqīna ṣidquhum, lahum jannātun tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā abadā, raḍiyallāhu ‘an-hum wa raḍụ ‘an-h, żālikal-fauzul-‘aẓīm

119. [DAN, pada Hari Pengadilan,] Allah akan berfirman,141 “Hari ini, kejujuran mereka akan bermanfaat bagi semua orang yang benar perkataannya: bagi mereka, taman-taman yang dilalui aliran sungai-sungai, berkediaman di dalamnya melampaui perhitungan waktu; Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun ridha terhadap-Nya: itulah kemenangan yang tertinggi.”


141 Lit., “telah berfirman”—tetapi, mayoritas mufasir klasik memahami kata qala di sini sebagai menunjuk pada masa yang akan datang (“Dia akan berfirman”), dengan kata lain, “pada Hari Pengadilan”.


Surah Al-Ma’idah Ayat 120

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا فِيهِنَّ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

lillāhi mulkus-samāwāti wal-arḍi wa mā fīhinn, wa huwa ‘alā kulli syai`ing qadīr

120. Milik Allah-lah kekuasaan terhadap lelangit dan bumi serta seluruh isinya; dan Allah berkuasa menetapkan segala sesuatu.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top