108. Al-Kautsar (Kebaikan yang Berlimpah) – الكوثر

Surat Al-Kautsar dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Kautsar ( الكوثر ) merupakan surat ke 108 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 3 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Al-Kautsar tergolong Surat Makkiyah.

Sementara sebagian besar mufasir menganggap Surat Al-Kautsar diwahyukan pada periode Makkah awal, Ibn Katsir berpendapat bahwa kemungkinan besar surah ini diwahyukan di Madinah. Alasan bagi asumsi ini (yang juga dikemukakan oleh banyak ulama lain) dapat ditemukan dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Anas Ibn Malik, yang menceritakan—dengan perincian peristiwa yang amat banyak—bagaimana surah ini diturunkan, yakni “ketika Rasulullah masih berada di antara kita di masjid ini” (Hadis Riwayat Muslim, Ibn Hanbal, Abu Dawud, Al-Nasa’i). “Masjid” yang diceritakan Anas ini hanya mungkin merujuk pada masjid Madinah: sebab, pada satu sisi, Anas—penduduk asli kota Madinah—tidak pernah bertemu Nabi Muhammad Saw sebelum beliau berhijrah ke Madinah (yang ketika itu Anas baru berumur sepuluh tahun); dan pada sisi lain, sebelum Makkah ditaklukkan umat Muslim pada 8 H, kota ini belum memiliki masjid—yakni, tempat ibadah berjamaah—yang dapat dipakai umat Muslim.

Tiga ayat dalam surah ini ditujukan pertama-tama kepada Nabi, dan melalui beliau, kepada setiap orang beriman, laki-laki maupun perempuan.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Kautsar Ayat 1

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

innā a’ṭainākal-kauṡar

1. PERHATIKANLAH, Kami telah menganugerahkan kepadamu kebaikan yang berlimpah:1


1 Istilah kautsar merupakan bentuk intensif dari nomina katsrah (Al-Zamakhsyari), yang berarti “keberlimpahan”, “keadaan banyak, atau “keberlebihan”; kata ini pun tergolong sebagai kata sifat dengan konotasi yang sama (Qamus, Lisan Al-‘Arab, dsb.) Dalam konteks di atas, al-kautsar—yang hanya muncul sekali dalam Al-Quran, yakni pada surah ini—jelas berkaitan dengan melimpahnya anugerah yang diterima Nabi berupa segala hal yang baik dalam pengertian abstrak dan spiritual, seperti wahyu, pengetahuan, hikmah, perbuatan-perbuatan baik (amal saleh), dan martabat di dunia dan di akhirat (Al-Razi); dalam kaitannya dengan orang beriman secara umum, kata ini dengan jelas menunjukkan kemampuan untuk meraih pengetahuan, berbuat baik, bersikap baik terhadap semua makhluk hidup dan, dengan demikian, untuk mencapai martabat dan ketenangan batin.


Surah Al-Kautsar Ayat 2

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

fa ṣalli lirabbika wan-ḥar

2. maka, berdoalah kepada Pemeliharamu [saja], dan berkorbanlah [hanya kepada-Nya].


Surah Al-Kautsar Ayat 3

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

inna syāni`aka huwal-abtar

3. Sungguh, dia yang membencimu benar-benar telah terputus [dari segala yang baik]!2


2 Lit., “dialah orang yang terputus (abtar)”. Tambahan frasa “dari segala yang baik” (yang diletakkan di antara kurung siku) didasarkan pada penjelasan yang terdapat dalam Qamus.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top