18. Al-Kahfi (Gua) – الكهف

Surat Al-Kahfi dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Kahfi ( الكهف ) merupakan surah ke 18 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 110 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Al-Kahfi tergolong Surat Makkiyah.

Surah ini—yang diwahyukan tidak lama sebelum Surah An-Nahl, yakni pada tahun terakhir periode Makkah—hampir seluruh bagiannya berisi serangkaian tamsil atau alegori yang berbicara seputar tema tentang keimanan kepada Allah versus keterikatan yang tidak semestinya pada kehidupan dunia ini; dan frasa kunci keseluruhan surah ini adalah pernyataan dalam ayat ketujuh, “Kami telah berkehendak bahwa segala keindahan di muka bumi menjadi sarana bagi Kami untuk menguji manusia”—suatu gagasan yang dirumuskan paling jelas melalui tamsil tentang si kaya dan si miskin (pada ayat 32-44).

Kisah tentang “Para Penghuni Gua”—yang dari kisah itulah judul surah ini berasal—menggambarkan suatu prinsip “meninggalkan kehidupan duniawi demi iman” (dalam ayat 13-20), yang kemudian diperdalam ke dalam suatu alegori tentang kematian, kebangkitan sesudah mati, dan kebangkitan atau pencerahan spiritual.

Dalam kisah Nabi Musa a.s. dan seorang bijak yang tidak disebut namanya (ayat 60-82), tema tentang kebangkitan atau pencerahan spiritual itu mengalami perubahan yang signifikan: tema itu beralih kepada perjalanan kehidupan intelektual manusia dan pencariannya untuk menemukan kebenaran-kebenaran tertinggi. Tampilan (appearance) dan kenyataan (reality) diperlihatkan berbeda secara intrinsik – sedemikian berbeda sehingga hanya pemahaman mistislah yang dapat menyingkapkan kepada kita apa yang tampak (apparent) dan apa yang nyata (real).

Dan, terakhir, alegori tentang Dzu Al-Qarnain, “Manusia Bertanduk Dua”, mengisahkan kepada kita bahwa penolakan terhadap hal-hal yang bersifat duniawi itu sendiri bukanlah pelengkap yang niscaya bagi iman seseorang kepada Allah: dengan kata lain, kehidupan dan kekuasaan duniawi tidak perlu bertentangan dengan kesalehan ruhani selama kita tetap menyadari bahwa seluruh upaya manusia bersifat sementara dan bahwa pada akhirnya kita bertanggung jawab kepada Allah yang berada di luar keterbatasan waktu dan tampilan.

Lalu, surah ini diakhiri dengan kata-kata: “Karena itu, siapa pun yang menanti [dengan rasa harap dan cemas] untuk berjumpa dengan Pemeliharanya, hendaklah dia mengerjakan perbuatan saleh dan hendaklah dia tidak mempersekutukan dengan sesuatu apa pun atau dengan siapa pun dalam beribadah kepada Pemeliharanya”.

Daftar Isi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Kahfi Ayat 1

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا

al-ḥamdu lillāhillażī anzala ‘alā ‘abdihil-kitāba wa lam yaj’al lahụ ‘iwajā

1. SEGALA PUJI sepantasnya dipanjatkan kepada Allah, yang telah menurunkan kitab Ilahi ini kepada hamba-Nya dan tidak membiarkan sedikit pun kebengkokan mengaburkan maknanya:1


1 Lit., “dan tidak menjadikan adanya kebengkokan apa pun padanya”. Istilah ‘iwaj bermakna “keadaan bengkok”, “berkelok”, atau “melenceng” (misalnya, dari jalan), serta “menyimpang” atau “berliku” dalam pengertian abstrak kata-kata itu. Frasa di atas dimaksudkan untuk menegaskan karakter Al-Quran yang bersifat langsung dan tidak mendua atau samar-samar, serta untuk menekankan bahwa Al-Quran terbebas dari segala ketidakjelasan dan pertentangan di dalam dirinya: bdk. Surah An-Nisa’ [4]: 82—”Maka, apakah mereka tidak berusaha memahami Al-Quran ini? Andai ia diturunkan bukan dari Allah, tentulah mereka mendapati banyak pertentangan di dalamnya!”


Surah Al-Kahfi Ayat 2

قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا

qayyimal liyunżira ba`san syadīdam mil ladun-hu wa yubasysyiral-mu`minīnallażīna ya’malụnaṣ-ṣāliḥāti anna lahum ajran ḥasanā

2. [suatu kitab Ilahi] yang lurus, tak pernah menyimpang, yang dimaksudkan untuk memperingatkan [mereka yang tidak beriman] akan siksaan yang pedih dari-Nya, dan untuk menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang beriman yang mengerjakan perbuatan-perbuatan kebajikan bahwa mereka akan mendapatkan imbalan yang baik—


Surah Al-Kahfi Ayat 3

مَاكِثِينَ فِيهِ أَبَدًا

mākiṡīna fīhi abadā

3. [suatu keadaan bahagia] yang di dalamnya mereka akan berkediaman, melampaui perhitungan waktu.


Surah Al-Kahfi Ayat 4

وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا

wa yunżirallażīna qāluttakhażallāhu waladā

4. Selanjutnya, [kitab Ilahi ini dimaksudkan] untuk memperingatkan siapa pun yang berkata: “Allah telah mengambil untuk diri-Nya seorang putra.”


Surah Al-Kahfi Ayat 5

مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلَا لِآبَائِهِمْ ۚ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ ۚ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا

mā lahum bihī min ‘ilmiw wa lā li`ābā`ihim, kaburat kalimatan takhruju min afwāhihim, iy yaqụlụna illā każibā

5. Tidaklah mereka memiliki pengetahuan apa pun tentang Dia,2 tidak pula nenek moyang mereka: alangkah buruk perkataan yang keluar dari mulut mereka itu, [dan] yang mereka utarakan itu tiada lain hanyalah dusta!


2 Kebanyakan mufasir klasik (dan, sepanjang pengetahuan saya, semua penerjemah Al-Quran pada masa-masa awal) mengaitkan kata ganti dalam ungkapan bihi dengan penegasan bahwa “Allah telah mengambil untuk diri-Nya seorang putra” dan, karena itu, mereka berpendapat bahwa frasa tersebut berarti, “Mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang itu”, yakni tidak mempunyai pengetahuan tentang kejadian itu. Namun, penafsiran ini lemah karena tidak adanya pengetahuan tentang sesuatu tidak rnesti selalu menunjukkan penyangkalan objektif terhadap fakta adanya sesuatu itu. Karena itu, jelaslah bahwa bihi tidak dapat diartikan “tentang itu“, tetapi “tentang Dia“, dan rnerujuk kepada Allah. Maka frasa itu harus diterjemahkan seperti di atas—yang berarti bahwa mereka yang membuat pernyataan yang tidak masuk akal seperti itu tidak memiliki pengetahuan yang sesungguhnya tentang Dia, sebab mereka menyifatkan kepada Wujud Yang Mahatinggi sesuatu yang hanya dapat disifatkan kepada makhluk atau ciptaan yang tidak sempurna. Penafsiran ini didukung secara tegas oleh Al-Thabari, dan dijadikan sebagai penafsiran alternatif oleh Baidhawi.


Surah Al-Kahfi Ayat 6

فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ عَلَىٰ آثَارِهِمْ إِنْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهَٰذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا

fa la’allaka bākhi’un nafsaka ‘alā āṡārihim il lam yu`minụ bihāżal-ḥadīṡi asafā

6. Namun, akankah engkau, barangkali,3 menyiksa dirimu sendiri hingga mati karena menangisi mereka, jika mereka tidak mau memercayai risalah ini?4


3 Lit., “mungkin saja engkau akan …”, dst. Namun, partikel la’alla dalam konteks ini bukan menunjukkan kemungkinan, alih-alih ia lebih merupakan suatu pertanyaan retoris yang mengandung kecaman terhadap sikap yang dimaksud (Al-Maraghi XIII, h. 116).

4 Pertanyaan retoris ini ditujukan pertama-tama kepada Nabi Muhammad Saw., yang sedang bersusah hati akibat permusuhan yang ditimbulkan oleh risalahnya di kalangan kaum penyembah berhala di Makkah, dan sangat merasa prihatin dengan nasib jiwa mereka. Namun, pertanyaan ini juga ditujukan kepada siapa saja yang, setelah menjadi yakin terhadap kebenaran suatu proposisi etis, merasa cemas dengan ketidakpedulian masyarakat sekitarnya terhadap kebenaran itu.


Surah Al-Kahfi Ayat 7

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

innā ja’alnā mā ‘alal-arḍi zīnatal lahā linabluwahum ayyuhum aḥsanu ‘amalā

7. Sungguh, Kami telah berkehendak bahwa segala keindahan di muka bumi menjadi sarana bagi Kami untuk menguji5 manusia, [guna memperlihatkan] siapa di antara mereka yang paling baik perbuatannya;


5 Lit., “Kami telah menjadikan segala yang ada di muka bumi sebagai hiasan agar Kami dapat menguji mereka [yakni, seluruh umat manusia]”: yang berarti bahwa Allah membiarkan manusia menyingkap karakter mereka masing-masing yang sebenarnya—baik yang bermoral maupun yang tidak bermoral—terhadap benda-benda dan keuntungan-keuntungan materi yang ditawarkan dunia kepada mereka. Lebih lanjut, bagian ayat ini menyiratkan bahwa motif sesungguhnya yang mendasari penolakan manusia untuk memercayai risalah ruhani dari Allah (lihat ayat sebelumnya) hampir selalu adalah keterikatan buta mereka yang berlebihan terhadap berbagai kenikmatan dunia ini, ditambah dengan kebanggaan batil menyangkut apa yang mereka pandang sebagai prestasi atau hasil jerih payah mereka sendiri (bdk. Surah An-Nahl [16]: 22 dan catatan terkait, no. 15).


Surah Al-Kahfi Ayat 8

وَإِنَّا لَجَاعِلُونَ مَا عَلَيْهَا صَعِيدًا جُرُزًا

wa innā lajā’ilụna mā ‘alaihā ṣa’īdan juruzā

8. dan, sungguh, [pada waktunya] Kami akan musnahkan segala yang ada di atasnya menjadi tanah yang tandus!


Surah Al-Kahfi Ayat 9

أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا

am ḥasibta anna aṣ-ḥābal-kahfi war-raqīmi kānụ min āyātinā ‘ajabā

9. [DAN, KARENA kehidupan di dunia tidak lain adalah suatu ujian,]6 apakah engkau [sungguh] mengira bahwa [tamsil tentang] Para Penghuni Gua dan [kesetiaan mereka terhadap] kitab-kitab suci dapat dipandang lebih menakjubkan dibandingkan dengan setiap pesan-pesan Kami [yang lain]?7


6 Sisipan ini menegaskan kaitan yang tersirat secara elipsis antara pasase panjang berikutnya {yakni ayat 9-20—peny.} dan dua ayat sebelumnya {yakni ayat 7 dan 8—peny.}.

7 Lit., “bahwa Para Penghuni Gua … lebih menakjubkan …”, dan seterusnya—hal ini menyiratkan bahwa alegori atau tamsil yang didasarkan pada kisah ini sepenuhnya sejalan dengan doktrin moral yang dikemukakan dalam Al-Quran sebagai suatu keseluruhan dan, karena itu, tidak “lebih menakjubkan” dibandingkan dengan pernyataan-pernyataan Al-Quran lainnya. Berkenaan dengan kisah Para Penghuni Gua itu sendiri, kebanyakan mufasir cenderung berpandangan bahwa kisah ini berkaitan dengan suatu fase dalam sejarah Kristen awal—yakni, penindasan terhadap komunitas Kristen oleh Kaisar Dikyanus (Decius) pada abad ketiga. Legenda mengatakan bahwa beberapa pemuda Nasrani dari Ephesus, dengan ditemani oleh anjing mereka, memilih untuk mengasingkan diri di dalam sebuah gua terpencil agar dapat hidup sesuai dengan keyakinan mereka, dan mereka secara ajaib tertidur di gua itu dalam rentang waktu yang sangat lama (menurut beberapa penjelasan, yang dirujuk di dalam ayat 25 surah ini, yaitu sekitar tiga abad lamanya). Ketika akhirnya mereka terbangun—tanpa menyadari berapa lama mereka telah tertidur—mereka mengutus salah seorang di antara mereka untuk membeli makanan di kota. Sementara itu, keadaan telah berubah drastis: agama Kristen tidak lagi ditindas, bahkan agama mereka telah menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi. Uang logam kuno (yang tertanggal dari zaman Kaisar Dikyanus)
yang hendak digunakan oleh pemuda itu untuk membayar belanjaannya segera membangkitkan rasa ingin tahu orang-orang di sekitarnya: mereka mulai bertanya kepada orang asing itu dan akhirnya muncul kisah tentang Para Penghuni Gua dan tidur panjang mereka yang ajaib itu.

Sebagaimana telah disebutkan, mayoritas mufasir klasik bersandar pada legenda Kristen ini dalam penafsiran mereka terhadap kisah Para Penghuni Gua yang disebut di dalam Al-Quran (dalam ayat 9-26) ini. Namun, tampaknya rumusan Kristen untuk kisah ini merupakan perkembangan lebih belakangan dari tradisi lisan yang lebih tua—tradisi yang pada kenyataannya berasal dari sumber-sumber sebelum Kristen, yaitu sumber-sumber Yahudi. Hal itu dibuktikan melalui beberapa hadis sahih (yang disebut oleh seluruh mufasir klasik) yang menyebutkan bahwa para rabi (ahbar) Yahudi di Madinah-lah yang membujuk lawan-lawan Nabi Muhammad Saw.
di Makkah untuk meminta kepada Nabi penjelasan, antara lain, mengenai kisah Para Penghuni Gua tersebut dalam rangka “menguji kejujuran Muhammad Saw.”. Dengan mengacu pada hadis-hadis tersebut, Ibn Katsir mengatakan dalam komentarnya terhadap ayat 13 surah ini, “Telah dikatakan bahwa mereka adalah para pengikut Nabi Isa a.s., putra Maryam, tetapi Allah lebih mengetahui mengenai hal itu: jelas bahwa mereka telah hidup jauh sebelum zaman Kristen—sebab, seandainya mereka adalah orang-orang Kristen, mengapa para rabi Yahudi berusaha untuk memelihara cerita itu, mengingat bahwa kaum Yahudi telah memutuskan seluruh hubungan yang bersahabat dengan mereka [yakni kaum Kristen]?” Karena itu, kita dapat dengan aman berpendapat bahwa legenda Para Penghuni Gua—terlepas dari kemasan Kristen dari kisah itu dan latar belakang Kristen yang membayanginya—pada dasarnya berasal dari sumber Yahudi. Apabila kita membuang tambahan-tambahan sinkretis yang ditambahkan di kemudian hari dan membatasi kisah itu hanya pada bagian-bagian pokoknya—yakni, tindakan pengasingan diri secara sukarela dari kehidupan dunia, “tertidur” dalam jangka waktu panjang di dalam sebuah gua terpencil, dan “terbangun” secara ajaib setelah rentang waktu yang tidak dapat ditentukan—di hadapan kita tersodor suatu alegori yang berhubungan dengan suatu gerakan yang memainkan peranan penting dalam sejarah agama Yahudi selama beberapa abad tidak lama sebelum dan sesudah kedatangan Nabi Isa a.s.: yaitu, kelompok asketis Persaudaraan Eseni (yang Nabi Isa a.s. sendiri, seperti telah saya tunjukkan dalam catatan no. 42 pada Surah Alu ‘Imran [3]: 52, mungkin termasuk di dalamnya}, dan khususnya ialah salah satu cabang dari kelompok persaudaraan itu yang sengaja tinggal mengasingkan diri di sekitar wilayah Laut Mati dan yang baru-baru ini, setelah ditemukan apa yang disebut sebagai Gulungan Naskah Laut Mati (Dead Sea Scrolls), dikenal sebagai “komunitas Qumran”. Ungkapan al-raqim yang muncul dalam ayat Al-Quran di atas (dan yang saya terjemahkan sebagai scriptures, “kitab-kitab suci”) memberi dukungan kuat bagi teori tersebut. Sebagaimana dicatat oleh Al-Thabari, beberapa mufasir paling awal—khususnya Ibn ‘Abbas—menganggap ungkapan tersebut memiliki makna yang sama dengan marqum (“sesuatu yang ditulis”) dan karena itu juga dengan kata kitab (“tulisan” atau “kitab”); dan Al-Razi menambahkan bahwa “seluruh ahli retorika dan filolog Arab menegaskan bahwa al-raqim artinya [sama dengan] al-kitab“. Karena secara historis telah terbukti bahwa para anggota komunitas Qumran-kelompok yang paling ketat di kalangan Persaudaraan Eseni—mencurahkan diri mereka sepenuhnya untuk mengkaji, menyalin, dan memelihara naskah-naskah suci, dan karena mereka hidup terasing sama sekali dari dunia di luar mereka dan mereka sangat dihormati Iantaran kesalehan dan kesucian moral mereka, sangatlah mungkin cara hidup mereka itu memberikan kesan yang begitu kuat terhadap imajinasi teman-teman seagama mereka yang lebih berorientasi duniawi sehingga cara hidup mereka itu lambat laun dialegorikan dalam kisah tentang Para Penghuni Gua yang “tertidur”—yaitu, terasing dari dunia luar—untuk masa yang tak terhitung lamanya, dan kemudian ditakdirkan untuk “terbangun” setelah tugas spiritual mereka selesai.

Namun, apa pun sumber legenda ini, dan terlepas apakah ia berasal dari sumber Yahudi atau Kristen, kenyataannya ialah bahwa kisah itu digunakan dalam Al-Quran dalam pengertian yang murni bersifat perumpamaan, yaitu sebagai penggambaran mengenai kekuasaan Allah untuk mematikan (atau “menidurkan”) dan menghidupkan kembali (atau “membangunkan”); dan, kedua, sebagai sebuah alegori tentang kesalehan yang mendorong manusia untuk meninggalkan dunia yang jahat atau tak berguna untuk menjaga agar iman mereka tetap tidak tercemar, serta alegori tentang pengakuan Allah atas keimanan tersebut dengan menganugerahi mereka dengan kebangkitan atau pencerahan spiritual yang melampaui waktu dan kematian.


Surah Al-Kahfi Ayat 10

إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

iż awal-fityatu ilal-kahfi fa qālụ rabbanā ātinā mil ladungka raḥmataw wa hayyi` lanā min amrinā rasyadā

10. Tatkala para pemuda itu berlindung di dalam gua, mereka berdoa, “Wahai, Pemelihara kami! Anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu dan berikanlah kepada kami, apa pun keadaan [lahiriah] kami, kesadaran tentang apa yang benar!”8


8 Lit., “dan berikanlah kepada kami, dari keadaan kami (min amrina), kesadaran mengenai apa yang benar”—yang mana frasa yang terakhir itu memberi makna bagi istilah rusyd dalam konteks ini. Bagian ayat ini adalah semacam pendahuluan untuk alegori Para Penghuni Gua, yang memberikan garis besar mengenai apa yang diuraikan secara lebih terperinci dalam ayat 13 dst.


Surah Al-Kahfi Ayat 11

فَضَرَبْنَا عَلَىٰ آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا

fa ḍarabnā ‘alā āżānihim fil-kahfi sinīna ‘adadā

11. Dan selanjutnya, Kami tutupi telinga mereka di dalam gua9 selama beberapa tahun,


9 Allah membuat mereka tetap terpisah—secara harfiah maupun metaforis—dari kebisingan dan hiruk-pikuk dunia luar. Para mufasir klasik berpendapat bahwa frasa di atas bermakna bahwa Allah “menjadikan telinga mereka tertutup dengan tidur”.


Surah Al-Kahfi Ayat 12

ثُمَّ بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَىٰ لِمَا لَبِثُوا أَمَدًا

ṡumma ba’aṡnāhum lina’lama ayyul-ḥizbaini aḥṣā limā labiṡū amadā

12. lalu Kami bangunkan mereka:10 [dan Kami lakukan semua itu] supaya Kami dapat menunjukkan [kepada seluruh makhluk]11 yang mana dari kedua sudut pandang itu yang memperlihatkan pemahaman yang lebih baik mengenai rentang waktu yang mereka jalani dalam keadaan tersebut.12


10 Atau: “mengutus mereka”—yang mungkin menunjukkan kembalinya mereka aktif dalam kehidupan dunia ini.

11 Lit., “agar Kami dapat mengetahui tentang”: namun, karena pengetahuan Allah meliputi seluruh masa lalu, masa kini, dan masa depan, Allah “mengetahui” suatu peristiwa berarti Allah menyebabkan peristiwa itu terwujud dan, dengan demikian, memungkinkan peristiwa itu diketahui oleh makhluk-makhluk-Nya: karena itu, Dia “menunjukkan hal itu” kepada seluruh makhluk.

12 Lit., “yang mana dari kedua golongan itu”—yang secara kiasan mengacu secara tidak langsung kepada dua sudut pandang yang disebut dalam ayat 19—”yang lebih baik dalam menghitung rentang waktunya …”, dst.: namun, perlu diingat bahwa verba ahsha tidak semata-mata berarti “dia menghitung” atau “membilang”, tetapi juga “dia mengerti” atau “memahami” (Taj Al-‘Arus). Karena “tindakan menghitung” waktu yang dilakukan oleh para pencari kebenaran di gua itu tidak memiliki pengaruh khusus terhadap implikasi-implikasi etis dari tamsil ini, kata ahsha di sini jelas berarti “memahami dengan lebih baik” atau “menunjukkan pemahaman yang lebih baik”—yaitu, mengenai makna spiritual dari rentang waktu antara saat mereka “tertidur” dan saat mereka “terbangun” (Iihat catatan no. 25).


Surah Al-Kahfi Ayat 13

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

naḥnu naquṣṣu ‘alaika naba`ahum bil-ḥaqq, innahum fityatun āmanụ birabbihim wa zidnāhum hudā

13. [Dan kini,] Kami akan benar-benar menceritakan kepadamu kisah mereka itu:13

Perhatikan, mereka adalah para pemuda yang telah meraih iman kepada Pemelihara mereka: dan [karena itu] Kami perdalam kesadaran mereka akan jalan yang benar14


13 Yakni, tanpa banyak embel-embel yang bersifat legenda, yang pada masa lampau telah mengaburkan tujuan sebenarnya dari kisah atau tamsil ini.

14 Lit., “Kami meningkatkan [atau ‘menambahkan’] petunjuk bagi mereka”.


Surah Al-Kahfi Ayat 14

وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَٰهًا ۖ لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا

wa rabaṭnā ‘alā qulụbihim iż qāmụ fa qālụ rabbunā rabbus-samāwāti wal-arḍi lan nad’uwa min dụnihī ilāhal laqad qulnā iżan syaṭaṭā

14. dan [Kami] anugerahi hati mereka dengan kekuatan supaya mereka berdiri15 seraya berkata [kepada satu sama lain], “Pemelihara kami adalah Pemelihara lelangit dan bumi. Kami tidak akan memohon kepada sesembahan apa pun selain Dia: [jika kami melakukannya,] sungguh, kami telah mengucapkan sesuatu yang amat keji!


15 Lit., “ketika mereka berdiri”—yakni, berdiri melawan orang-orang yang tersesat atau melawan para penguasa yang menganiaya orang-orang beriman (lihat catatan no. 7).


Surah Al-Kahfi Ayat 15

هَٰؤُلَاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً ۖ لَوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ ۖ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا

hā`ulā`i qaumunattakhażụ min dụnihī ālihah, lau lā ya`tụna ‘alaihim bisulṭānim bayyin, fa man aẓlamu mim maniftarā ‘alallāhi każibā

15. Kaum kami telah menjadikan tuhan-tuhan [lain] selain Dia sebagai sembahan, tanpa mereka mampu16 mengemukakan bukti yang masuk akal untuk mendukung keyakinan mereka;17 dan siapakah yang lebih keji daripada orang yang telah mengada-adakan kebohongan tentang Allah?18


16 Lit., “Mengapa mereka tidak …”, dan seterusnya, dalam bentuk pernyataan retoris yang mengantarkan sebuah kalimat baru.

17 Lit., “bukti yang terang [atau ‘kewenangan’] yang mendukung mereka”. Kata sifat bayyin (“terang”, “jelas”, “nyata”) menyiratkan suatu bukti yang dapat diterima oleh akal.

18 Yakni, mengadakan tuhan-tuhan batil dan, dengan demikian, mendustakan kebenaran tentang keesaan dan keunikan-Nya, dan bahkan menyangkal sama sekali keberadaan-Nya.


Surah Al-Kahfi Ayat 16

وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقًا

wa iżi’tazaltumụhum wa mā ya’budụna illallāha fa`wū ilal-kahfi yansyur lakum rabbukum mir raḥmatihī wa yuhayyi` lakum min amrikum mirfaqā

16. Maka, kalian yang kini telah berlepas diri dari mereka dan dari segala yang mereka sembah selain Allah, berlindunglah di dalam gua itu: Allah akan melimpahkan rahmat-Nya kepada kalian dan akan menganugerahi kalian—apa pun keadaan [lahiriah] kalian—segala sesuatu yang dibutuhkan oleh jiwa kalian!”19


19 Istilah mirfaq berarti “segala sesuatu yang bermanfaat bagi seseorang”, baik konkret maupun abstrak; dalam konteks ini, istilah itu jelas memiliki konotasi spiritual yang berarti bahwa para pemuda itu meninggalkan kehidupan duniawi dan melakukan pengasingan diri mereka sepenuhnya.


Surah Al-Kahfi Ayat 17

وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ۗ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا

wa tarasy-syamsa iżā ṭala’at tazāwaru ‘ang kahfihim żātal-yamīni wa iżā garabat taqriḍuhum żātasy-syimāli wa hum fī fajwatim min-h, żālika min āyātillāh, may yahdillāhu fa huwal-muhtadi wa may yuḍlil fa lan tajida lahụ waliyyam mursyidā

17. Dan, [selama bertahun-tahun] engkau mungkin telah melihat matahari, ketika terbit, condong menjauh dari gua mereka di sebelah kanan, dan ketika terbenam, menjauh dari mereka di sebelah kiri, sedangkan mereka berada di dalam ruang yang luas,20 [sebagai saksi atas] pesan-pesan Allah ini: siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, dia sendiri telah menemukan jalan yang benar; tetapi siapa yang dibiarkan tersesat oleh-Nya, engkau tidak akan menemukan pelindung yang akan menunjukkan jalan yang benar.


20 Lit., “sedangkan mereka berada di dalam celah yang luas di sana”. Gua itu jelas menghadap ke arah utara sehingga teriknya sinar matahari tidak pernah mengganggu mereka: dan saya percaya bahwa ini merupakan pengulangan dari banyak alusi di dalam Al-Quran tentang kebahagiaan orang-orang yang saleh di dalam surga, yang disimbolkan dengan “naungan yang abadi” (lihat khususnya Surah An-Nisa’ [4], catatan no. 74, tentang penggunaan metaforis kata zhill dalam arti “kebahagiaan”).


Surah Al-Kahfi Ayat 18

وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ ۚ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ ۖ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ ۚ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا

wa taḥsabuhum aiqāẓaw wa hum ruqụduw wa nuqallibuhum żātal-yamīni wa żātasy-syimāli wa kalbuhum bāsiṭun żirā’aihi bil-waṣīd, lawiṭṭala’ta ‘alaihim lawallaita min-hum firāraw wa lamuli`ta min-hum ru’bā

18. Dan, engkau mungkin menyangka bahwa mereka dalam keadaan terjaga, padahal mereka dalam keadaan berbaring tidur. Dan, Kami menyebabkan mereka membalikkan tubuh berulang-ulang, terkadang ke kanan, terkadang ke kiri; dan anjing mereka [berbaring] di ambang gua, dengan kedua kaki depannya terentang. Seandainya engkau berjumpa dengan mereka [tanpa sengaja], niscaya engkau akan lari dari mereka dan engkau pasti akan diliputi oleh rasa takut terhadap mereka.21


21 Yakni, seorang yang tidak sengaja melihat Para Penghuni Gua itu akan segera merasakan aura mistis di sekeliling mereka yang membangkitkan rasa takut, dan dia akan menyadari bahwa dia berdiri di hadapan orang-orang yang telah dipilih oleh Allah (Al-Thabari, Al-Razi, Ibn Katsir, dan Al-Baidhawi)


Surah Al-Kahfi Ayat 19

وَكَذَٰلِكَ بَعَثْنَاهُمْ لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْ ۚ قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ ۖ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۚ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَٰذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَىٰ طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا

wa każālika ba’aṡnāhum liyatasā`alụ bainahum, qāla qā`ilum min-hum kam labiṡtum, qālụ labiṡnā yauman au ba’ḍa yaụm, qālụ rabbukum a’lamu bimā labiṡtum, fab’aṡū aḥadakum biwariqikum hāżihī ilal-madīnati falyanẓur ayyuhā azkā ṭa’āman falya`tikum birizqim min-hu walyatalaṭṭaf wa lā yusy’iranna bikum aḥadā

19. Demikianlah, [seiring dengan berjalannya waktu,] Kami bangunkan mereka;22 dan mereka mulai saling bertanya [tentang apa yang telah terjadi pada mereka].23

Salah seorang dari mereka bertanya, “Berapa lama kalian telah tinggal dalam keadaan seperti ini?”

[Yang lain] menjawab, “Kita telah berada dalam keadaan seperti ini selama sehari atau setengah hari.”24

Berkata mereka [yang dianugerahi dengan pemahaman yang lebih dalam], “Pemelihara kalian paling tahu berapa lama kalian telah berada dalam keadaan seperti ini.25 Maka, hendaklah salah seorang dari kalian pergi dengan membawa uang perak ini ke kota, dan hendaklah dia mencari tahu makanan yang paling bersih di sana dan membawakan untuk kalian [beberapa] makanan dari sana. Akan tetapi, hendaklah dia bertindak dengan sangat hati-hati dan jangan sampai membuat seorang pun mengetahui tentang kalian:


22 Lihat catatan no. 10.

23 Menurut saya, tampaknya prefiks Ii dalam kalimat li yatasa’alu (yang oleh kebanyakan mufasir dipandang berarti “sehingga mereka dapat bertanya satu sama lain”) bukanlah partikel yang mengandung arti maksud atau tujuan (“agar”), tetapi, alih-alih, merupakan suatu lam al-‘aqibah—yaitu, partikel yang menunjukkan tidak lebih dari sekadar rangkaian sebab-akibat—yang dalam konteks ini dapat diperjelas dengan frasa “dan mereka mulai …”, dan seterusnya.

24 Bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 259, yang di dalamnya pertanyaan yang persis sama diajukan dan jawaban yang anehnya persis sama juga diberikan dalam tamsil tentang seseorang yang dimatikan oleh Allah selama seratus tahun dan kemudian dihidupkan kembali. Kesamaan verbal yang mencolok dari pertanyaan dan jawaban dalam dua ayat tersebut jelas bukanlah kebetulan: hal ini menunjukkan, dengan cara yang sengaja bersifat mencerahkan, kesamaan gagasan yang mendasari kedua alegori ini: yakni, kekuasaan Allah untuk “mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup” (Surah Alu ‘lmran [3]: 27, Al-An’am [6]: 95, Yunus [10]: 31, dan Ar-Rum [30]: 19), yakni, untuk menciptakan kehidupan, menyebabkan kehidupan itu menghilang, dan kemudian membangkitkan kehidupan itu kembali. Lebih dari itu, ayat di atas berbicara secara tidak langsung mengenai konsep manusia tentang “waktu” yang bersifat menipu dan terikat pada bumi.

25 Yakni, mereka mengerti—berbeda dengan kawan-kawan mereka yang hanya peduli pada apa yang “sebenarnya” telah terjadi pada diri mereka—bahwa rentang waktu antara saat “mereka tertidur” dan saat mereka “terbangun” tidak memiliki makna maupun realitasnya sendiri, sebagaimana rentang waktu itu tidak mempunyai makna atau realitas dalam hubungannya dengan kematian seorang manusia dan kebangkitannya setelah itu (bdk. Surah Al-Isra’ [17]: 52 dan catatan terkait no. 59): dan hal ini menjelaskan penyebutan tentang “dua sudut pandang” (lit., “dua golongan”) dalam ayat 12.


Surah Al-Kahfi Ayat 20

إِنَّهُمْ إِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ وَلَنْ تُفْلِحُوا إِذًا أَبَدًا

innahum iy yaẓ-harụ ‘alaikum yarjumụkum au yu’īdụkum fī millatihim wa lan tufliḥū iżan abadā

20. sebab, sungguh, jika mereka sampai mengetahui tentang kalian, mungkin mereka akan melempari kalian dengan batu hingga mati atau memaksa kalian kembali kepada kepercayaan mereka—yang jika hal itu terjadi, kalian tidak akan pernah mendapat kebaikan apa pun!”26


26 Selama mereka “tertidur”, waktu berhenti berjalan bagi Para Penghuni Gua sehingga mereka mengira bahwa dunia luar tetap tidak berubah dan, seperti sebelumnya, berbahaya bagi mereka.

Pada titik ini, kisah itu berakhir begitu saja (karena, sebagaimana kita ketahui, Al-Quran tidak pernah menggunakan cerita demi kepentingan cerita itu sendiri) dan dalam bagian berikutnya kisah itu diungkapkan sebagai suatu alegori tentang kematian dan kebangkitan, dan tentang relativitas “waktu” sebagaimana yang terwujud dalam kesadaran manusia.


Surah Al-Kahfi Ayat 21

وَكَذَٰلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ ۖ فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِمْ بُنْيَانًا ۖ رَبُّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ ۚ قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَىٰ أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَسْجِدًا

wa każālika a’ṡarnā ‘alaihim liya’lamū anna wa’dallāhi ḥaqquw wa annas-sā’ata lā raiba fīhā, iż yatanāza’ụna bainahum amrahum fa qālubnụ ‘alaihim bun-yānā, rabbuhum a’lamu bihim, qālallażīna galabụ ‘alā amrihim lanattakhiżanna ‘alaihim masjidā

21. DAN, DENGAN CARA INILAH27 Kami menarik perhatian [orang] kepada kisah mereka28 agar mereka dapat mengetahui—ketika mereka saling berdebat di antara mereka sendiri mengenai apa yang terjadi pada mereka [Para Penghuni Gua]29—bahwa janji Allah [tentang kebangkitan] adalah benar, dan tidak ada keraguan mengenai [kedatangan] Saat Terakhir.

Dan kemudian, sebagian [orang] berkata, “Dirikanlah sebuah bangunan guna mengenang mereka;30 Allah paling mengetahui tentang apa yang terjadi pada mereka.” Mereka yang pendapatnya akhirnya paling unggul berkata, “Benar, kita memang harus membangun sebuah rumah ibadah guna mengenang mereka!”


27 Yakni, dengan menggunakan hikayat yang telah berkembang di seputar kisah Para Penghuni Gua dan, lebih khusus lagi, dengan menggunakan hikayat ini sebagai alegori atau perumpamaan.

28 Lit., “memberi pengetahuan tentang mereka [kepada yang lainnya]”.

29 Lit., “memperdebatkan masalah mereka (amrahum) di antara mereka sendiri”: suatu indikasi mengenai kenyataan bahwa hikayat Para Penghuni Gua ini telah menghinggapi pikiran manusia sejak lama; dan telah melahirkan banyak pembahasan dan penafsiran yang saling bertentangan. Kalimat selanjutnya menjelaskan mengapa Allah telah “menarik perhatian [orang]” kepada cerita ini dalam konteks Al-Quran.

30 Inilah, menurut saya, makna dari ungkapan ‘alaihim (lit., “atas mereka”) yang muncul di sini dan di dalam kalimat berikutnya tentang pembangunan sebuah rumah ibadah atas saran orang-orang “yang pendapatnya akhirnya paling unggull” (alladzina ghalabu ‘ala amrihim).


Surah Al-Kahfi Ayat 22

سَيَقُولُونَ ثَلَاثَةٌ رَابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًا بِالْغَيْبِ ۖ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ ۚ قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِمْ مَا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا قَلِيلٌ ۗ فَلَا تُمَارِ فِيهِمْ إِلَّا مِرَاءً ظَاهِرًا وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِمْ مِنْهُمْ أَحَدًا

sayaqụlụna ṡalāṡatur rābi’uhum kalbuhum, wa yaqụlụna khamsatun sādisuhum kalbuhum rajmam bil-gaīb, wa yaqụlụna sab’atuw wa ṡāminuhum kalbuhum, qur rabbī a’lamu bi’iddatihim mā ya’lamuhum illā qalīl, fa lā tumāri fīhim illā mirā`an ẓāhiraw wa lā tastafti fīhim min-hum aḥadā

22. [Dan, pada masa yang lebih belakangan,] sebagian orang akan berkata,31 “[Mereka itu] bertiga, yang keempatnya adalah anjing mereka,” sedangkan yang lain akan berkata, “Lima, dengan anjing mereka sebagai yang keenam”—mereka menduga-duga tanpa dasar sesuatu yang mereka tidak dapat memiliki sama sekali pengetahuan tentangnya—dan [begitu seterusnya, sampai] ada pula yang berkata, “[Mereka itu] bertujuh, yang kedelapannya adalah anjing mereka.”

Katakanlah: “Pemeliharaku paling mengetahui berapa banyak jumlah mereka. Tidak ada kecuali sedikit orang yang memiliki pengetahuan [sebenarnya] tentang mereka. Maka, janganlah berdebat tentang mereka kecuali dengan menggunakan argumen yang jelas,32 dan janganlah meminta kepada mereka [para pendongeng itu] untuk menerangkan kepadamu tentang mereka.”


31 Bentuk waktu mendatang (future tense) dalam kata sayaqulun, sekali lagi, menunjukkan karakter legenda dari kisah semacam ini, dan hal itu menyiratkan bahwa semua spekulasi menyangkut perincian kisah itu tidak relevan dengan tujuan etis dari kisah yang dimaksudkan sebagai tamsil tersebut.

32 Yakni, demi pelajaran moral yang nyata, yang dapat diambil dari kisah mereka itu: mengacu secara tidak langsung pada alinea pertama dari ayat 21.


Surah Al-Kahfi Ayat 23

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا

wa lā taqụlanna lisyai`in innī fā’ilun żālika gadā

23. DAN, JANGANLAH PERNAH berkata tentang apa pun, “Sungguh, aku akan melakukan hal itu besok,”


Surah Al-Kahfi Ayat 24

إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَىٰ أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَٰذَا رَشَدًا

illā ay yasyā`allāhu ważkur rabbaka iżā nasīta wa qul ‘asā ay yahdiyani rabbī li`aqraba min hāżā rasyadā

24. kecuali [dengan menambahkan], “jika Allah menghendakinya.”33 Dan, jika engkau lupa [akan dirimu sesaat, dan menyadarinya kemudian], ingatlah Pemeliharamu dan katakanlah: “Aku berdoa agar Pemeliharaku memberi petunjuk kepadaku, bahkan lebih dekat dari ini, kepada suatu kesadaran tentang apa yang benar!”


33 Menurut hampir seluruh mufasir, bagian ayat yang merupakan sisipan ini (ayat 23-24) terutama ditujukan kepada Nabi. Diceritakan bahwa ketika beliau ditanya oleh beberapa orang penyembah berhala dari suku Quraisy mengenai apa yang “sebenarnya” terjadi terhadap Para Penghuni Gua, beliau menjawab, “Aku akan memberikan jawabanku besok”—kemudian untuk beberapa lama wahyu tidak diturunkan kepada beliau sebagai tanda bahwa Allah tidak menyetujui tindakan Nabi tersebut; lebih lanjut, peringatan itu mengandung suatu prinsip umum yang ditujukan kepada seluruh orang yang beriman.


Surah Al-Kahfi Ayat 25

وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا

wa labiṡụ fī kahfihim ṡalāṡa mi`atin sinīna wazdādụ tis’ā

25. DAN, [sebagian orang menegaskan,] “Mereka tinggal di dalam gua mereka selama tiga ratus tahun”; dan sebagian ada yang menambahkan sembilan [kepada angka itu].34


34 Ini jelas berkaitan dengan “dugaan-dugaan tidak berdasar” yang disebut dalam alinea pertama ayat 22 di atas—dugaan-dugaan yang ditolak oleh pernyataan-pernyataan berikut, “Pemeliharaku paling mengetahui berapa banyak jumlah mereka” dalam ayat 22, dan “Allah paling mengetahui berapa lama mereka tinggal [di sana]” dalam ayat 26. Hal ini khususnya merupakan pandangan ‘Abd Allah ibn Mas’ud, serta pandangan Qatadah dan Mathar Al-Warraq (Al-Thabari, Al-Zarnakhsyari, dan Ibn Katsir). Diriwayatkan bahwa salinan Al-Quran yang dimiliki Ibn Mas’ud memuat kata-kata berikut, “Dan mereka [yakni, sebagian orang] berkata, ‘Mereka tinggal …'”, dan seterusnya (yang kemungkinan merupakan catatan pinggir atau catatan penjelas yang ditambahkan oleh Ibn Mas’ud). Penyisipan yang saya lakukan di awal ayat dengan kata-kata “sebagian orang menegaskan” adalah didasarkan pada kata qalu (“mereka berkata”) yang digunakan oleh Ibn Mas’ud dalam catatan pinggirnya.


Surah Al-Kahfi Ayat 26

قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا ۖ لَهُ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ ۚ مَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

qulillāhu a’lamu bimā labiṡụ, lahụ gaibus-samāwāti wal-arḍ, abṣir bihī wa asmi’, mā lahum min dụnihī miw waliyy, wa lā yusyriku fī ḥukmihī aḥadā

26. Katakanlah: “Allah paling mengetahui berapa lama mereka tinggal [di sana]. Milik-Nya [sajalah] pengetahuan tentang kenyataan tersembunyi lelangit dan bumi: betapa jelas Dia melihat dan mendengar! Tiada pelindung yang mereka miliki selain Dia karena Dia tidak memberi bagian kepada siapa pun dalam kekuasaan-Nya!”


Surah Al-Kahfi Ayat 27

وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ ۖ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَلَنْ تَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا

watlu mā ụḥiya ilaika ming kitābi rabbik, lā mubaddila likalimātih, wa lan tajida min dụnihī multaḥadā

27. DAN, SAMPAIKANLAH [kepada seluruh manusia] apa pun dari ketentuan Pemeliharamu yang telah diwahyukan kepadamu. Tidak ada yang dapat mengubah kata-kata-Nya;35 dan engkau tidak akan menemukan tempat berlindung selain bersama-Nya.


35 Menurut Al-Razi, antara lain berdasarkan ayat inilah mufasir terkemuka Abu Muslim Al-Ishfahani mendasarkan penolakannya terhadap apa yang disebut “doktrin penghapusan” (nasakh) yang dibahas dalam catatan saya no. 87 pada Surah Al-Baqarah [2]: 106.


Surah Al-Kahfi Ayat 28

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

waṣbir nafsaka ma’allażīna yad’ụna rabbahum bil-gadāti wal-‘asyiyyi yurīdụna waj-hahụ wa lā ta’du ‘aināka ‘an-hum, turīdu zīnatal-ḥayātid-dun-yā, wa lā tuṭi’ man agfalnā qalbahụ ‘an żikrinā wattaba’a hawāhu wa kāna amruhụ furuṭā

28. Dan, tahanlah dirimu dalam kesabaran bersama orang-orang yang pada saat pagi dan petang menyeru Pemeliharanya dalam rangka mencari perkenan-Nya, dan janganlah matamu berpaling dari mereka karena mencari keindahan kehidupan dunia:36 dan janganlah menaati orang yang hatinya telah Kami sebabkan lalai sepenuhnya dari mengingat Kami37 karena dia senantiasa [hanya] mengikuti hasratnya sendiri, mengabaikan semua yang baik dan benar.38


36 Untuk penjelasan mengenai ayat ini, lihat Surah Al-An’am [6]: 52 dan catatan terkait no. 41.

37 Lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 7. Al-Zamakhsyari dan Al-Razi menjelaskan bahwa verba aghfalna—sejalan dengan ajaran Al-Quran—berarti “mereka yang telah Kami dapati [bersikap] lalai”. (Lihat juga catatan saya no. 4 pada bagian kedua Surah Ibrahim [14]: 4.)

38 Lit., “dan yang masalahnya (amr) adalah mengabaikan [atau ‘melanggar’] semua batas [apa yang benar]”.


Surah Al-Kahfi Ayat 29

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ ۚ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا

wa qulil-ḥaqqu mir rabbikum, fa man syā`a falyu`miw wa man syā`a falyakfur, innā a’tadnā liẓ-ẓālimīna nāran aḥāṭa bihim surādiquhā, wa iy yastagīṡụ yugāṡụ bimā`ing kal-muhli yasywil-wujụh, bi`sasy-syarāb, wa sā`at murtafaqā

29. Dan, katakanlah: “Kebenaran [kini telah datang] dari Pemeliharamu: maka, siapa saja yang mau, hendaklah dia memercayainya, dan siapa saja yang mau, biarlah dia menolaknya.”

Sungguh, bagi siapa saja yang menganiaya diri mereka sendiri [dengan menolak kebenaran Kami],39 Kami telah sediakan api yang kobarannya bergulung-gulung akan mengepung mereka dari segala penjuru;40 dan jika mereka meminta air, mereka akan diberi air [panas] seperti timah meleleh, yang akan membuat wajah mereka melepuh: betapa mengerikan minuman itu, dan betapa buruk tempat itu untuk beristirahat!


39 Demikianlah Al-Razi menjelaskan kata al-zhalimun (lit., “orang-orang yang berbuat aniaya”) dalam konteks di atas.

40 Ungkapan suradiq—yang saya terjemahkan menjadi “kobaran yang bergulung-gulung”—secara harfiah berarti awning atau lapisan terluar tenda, dan di sini ungkapan itu mengacu secara tidak langsung pada “dinding-dinding asap” yang bergulung-gulung yang akan mengepung para pendosa (Al-Zamakhsyari): suatu simbolisme yang dimaksudkan untuk menekankan bahwa penderitaan mereka di akhirat tidak dapat dihindari (Al-Razi).


Surah Al-Kahfi Ayat 30

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا

innallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti innā lā nuḍī’u ajra man aḥsana ‘amalā

30. [Akan tetapi,] perhatikanlah, mereka yang telah meraih iman dan mengerjakan perbuatan-perbuatan kebajikan—sungguh, Kami tidak akan lupa untuk membalas orang yang terus-menerus berbuat baik:


Surah Al-Kahfi Ayat 31

أُولَٰئِكَ لَهُمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَيَلْبَسُونَ ثِيَابًا خُضْرًا مِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ ۚ نِعْمَ الثَّوَابُ وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقًا

ulā`ika lahum jannātu ‘adnin tajrī min taḥtihimul-an-hāru yuḥallauna fīhā min asāwira min żahabiw wa yalbasụna ṡiyāban khuḍram min sundusiw wa istabraqim muttaki`īna fīhā ‘alal-arā`ik, ni’maṡ-ṡawāb, wa ḥasunat murtafaqā

31. bagi mereka, taman-taman kebahagiaan abadi—[taman-taman] yang dilalui oleh aliran sungai-sungai—di dalam taman-taman itu mereka akan dihiasi dengan gelang-gelang emas dan mereka akan mengenakan pakaian-pakaian hijau yang terbuat dari sutra dan brokat, [dan] di dalam taman-taman itu mereka akan berbaring di atas dipan-dipan:41 betapa istimewa balasan itu dan betapa indah tempat istirahat itu!


41 Seperti seluruh penggambaran lainnya di dalam Al-Quran tentang peristiwa Hari Kiamat, penyebutan tentang “perhiasan” orang-orang beriman di atas, berupa emas, permata, dan sutra (bdk. frasa serupa dalam Surah Al-Hajj [22]: 23, Fathir [35]: 33, dan Al-Insan [76]: 21), dan “berbaringnya mereka di atas dipan-dipan” (ara’ik) jelas merupakan suatu alegori dalam hal ini, alegori tentang kehidupan yang mewah dan segar selamanya (yang disimbolkan dengan “pakaian hijau“), serta kepuasan yang memberi rasa tenang dan damai yang menanti mereka sebagai hasil dari banyak tindakan penolakan diri yang ditetapkan oleh keyakinan mereka selama kehidupan mereka di dunia.

Ketika merujuk pada simbolisme kesenangan-kesenangan di surga itu, Al-Razi menarik perhatian kita pada perbedaan susunan antara dua bagian dari anak kalimat ini: bagian pertama adalah bentuk pasif (“mereka akan dihiasi …”), dan bagian kedua adalah bentuk aktif (“mereka akan mengenakan …”). Menurut pendapatnya, bentuk aktif mengacu secara tidak langsung pada apa yang akan diperoleh orang saleh sebagai buah dari perbuatan mereka, sedangkan bentuk pasif berarti semua yang akan dianugerahkan oleh Allah kepada mereka jauh melebihi balasan yang pantas mereka terima.


Surah Al-Kahfi Ayat 32

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا رَجُلَيْنِ جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا

waḍrib lahum maṡalar rajulaini ja’alnā li`aḥadihimā jannataini min a’nābiw wa ḥafafnāhumā binakhliw wa ja’alnā bainahumā zar’ā

32. DAN, KEMUKAKANLAH kepada mereka kisah mengenai dua orang pria, yang salah satunya telah Kami anugerahi dengan dua kebun anggur, dan [Kami] kelilingi kedua kebun anggur itu dengan pohon-pohon kurma, dan [Kami] tempatkan suatu ladang benih di antara kedua kebun anggur itu.42


42 Tamsil ini berhubungan dengan ayat 7-8 surah ini, dan berperan sebagai ilustrasi atas pernyataan bahwa “segala keindahan di muka bumi adalah sarana bagi Allah untuk menguji manusia”.


Surah Al-Kahfi Ayat 33

كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا وَلَمْ تَظْلِمْ مِنْهُ شَيْئًا ۚ وَفَجَّرْنَا خِلَالَهُمَا نَهَرًا

kiltal-jannataini ātat ukulahā wa lam taẓlim min-hu syai`aw wa fajjarnā khilālahumā naharā

33. Masing-masing kebun itu menghasilkan panennya dan tidak pernah gagal sekali pun karena Kami telah sebabkan aliran air memancar di tengah masing-masing kebun itu.


Surah Al-Kahfi Ayat 34

وَكَانَ لَهُ ثَمَرٌ فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا

wa kāna lahụ ṡamar, fa qāla liṣāḥibihī wa huwa yuḥāwiruhū ana akṡaru mingka mālaw wa a’azzu nafarā

34. Maka, [pria itu] menghasilkan panen yang berlimpah-ruah.

Dan, [suatu hari] dia berkata kepada sahabatnya ketika dia bertengkar dengannya, “Kekayaanku lebih banyak daripada kamu dan aku lebih besar dalam hal [jumlah dan kekuatan] pengikutku!”


Surah Al-Kahfi Ayat 35

وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا

wa dakhala jannatahụ wa huwa ẓālimul linafsih, qāla mā aẓunnu an tabīda hāżihī abadā

35. Dan, setelah [dengan cara itu] berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri, pria itu memasuki kebunnya, seraya berkata, “Aku kira kebun ini tidak akan pernah hancur!


Surah Al-Kahfi Ayat 36

وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَىٰ رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا

wa mā aẓunnus-sā’ata qā`imataw wa la`ir rudittu ilā rabbī la`ajidanna khairam min-hā mungqalabā

36. Dan, aku kira Saat Terakhir itu juga tidak akan pernah datang. Meskipun demikian, seandainya [Saat Akhir itu tiba dan] aku dibawa ke hadapan Pemeliharaku,43 aku pasti akan mendapatkan sesuatu yang bahkan lebih baik daripada ini sebagai tempat istirahat [terakhirku]!”


43 Lit., “dibawa kembali [atau ‘dipulangkan’] kepada Pemeliharaku”—yakni, untuk diadili.


Surah Al-Kahfi Ayat 37

قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا

qāla lahụ ṣāḥibuhụ wa huwa yuḥāwiruhū a kafarta billażī khalaqaka min turābin ṡumma min nuṭfatin ṡumma sawwāka rajulā

37. Dan, di tengah perdebatan mereka, sahabatnya menjawab, “Akankah engkau menghujat Dia yang telah menciptakanmu dari tanah,44 lalu dari setetes air mani, dan pada akhirnya [Dia] membentukmu menjadi seorang manusia [sempuma]?


44 Lihat paruh kedua catatan no. 47 pada Surah Alu ‘Imran [3]: 59, dan catatan no. 4 pada Surah Al-Mu’minun [23]: 12.


Surah Al-Kahfi Ayat 38

لَٰكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا

lākinna huwallāhu rabbī wa lā usyriku birabbī aḥadā

38. Sedangkan aku, [aku tahu bahwa] Dia-lah Allah, Pemeliharaku; dan aku tidak dapat menisbahkan kuasa-kuasa ilahiah kepada siapa pun selain kepada Pemeliharaku.”45


45 Lit., “Aku tidak akan [atau ‘tidak’] memperserikatkan siapa pun [atau ‘sesuatu pun’] dengan Pemeliharaku”—yakni, “di dalam pikiranku, aku tidak dapat menghubung-hubungkan sebab kekayaan atau kemiskinan dengan kekuasaan atau penyebab kreatif apa pun selain dengan Dia saja” (Qiffal, seperti dikutip oleh Al-Razi).


Surah Al-Kahfi Ayat 39

وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا

walau lā iż dakhalta jannataka qulta mā syā`allāhu lā quwwata illā billāh, in tarani ana aqalla mingka mālaw wa waladā

39. Dan, [dia melanjutkan,] “Duhai, celaka,46 seandainya ketika memasuki kebunmu, engkau berkata, ‘Apa pun yang dikehendaki Allah [pasti akan terjadi karena] tiada kekuatan melainkan dengan izin Allah!’ Meskipun, seperti yang engkau lihat, aku mempunyai kekayaan dan keturunan yang lebih sedikit daripada kamu,


46 Untuk penjelasan mengenai terjemahan saya atas ungkapan lau Ia sebagai “aduh, celaka”, lihat catatan no. 119 datam Surah Yunus [10]: 98.


Surah Al-Kahfi Ayat 40

فَعَسَىٰ رَبِّي أَنْ يُؤْتِيَنِ خَيْرًا مِنْ جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِنَ السَّمَاءِ فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا

fa asā rabbī ay yu`tiyani khairam min jannatika wa yursila ‘alaihā ḥusbānam minas-samā`i fa tuṣbiḥa ṣa’īdan zalaqā

40. mudah-mudahan Pemeliharaku akan memberiku sesuatu yang lebih baik daripada kebunmu—sebagaimana Dia dapat menurunkan bencana dari langit atas [kebunmu] ini sehingga [kebun ini] rnenjadi gundukan tanah yang tandus


Surah Al-Kahfi Ayat 41

أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا فَلَنْ تَسْتَطِيعَ لَهُ طَلَبًا

au yuṣbiḥa mā`uhā gauran fa lan tastaṭī’a lahụ ṭalabā

41. atau airnya menyusut ke dalam tanah sehingga engkau tidak pernah dapat menemukan airnya lagi!”


Surah Al-Kahfi Ayat 42

وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَىٰ مَا أَنْفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا

wa uḥīṭa biṡamarihī fa aṣbaḥa yuqallibu kaffaihi ‘alā mā anfaqa fīhā wa hiya khāwiyatun ‘alā ‘urụsyihā wa yaqụlu yā laitanī lam usyrik birabbī aḥadā

42. Dan, [demikianlah yang terjadi:] kebun-kebunnya yang berbuah lebat itu diliputi [oleh kehancuran], dan di sanalah dia, sambil meremas-rernas kedua tangannya, menyaksikan semua yang telah diusahakan olehnya, kini porak-poranda, sedangkan para-para pohon anggur turut ambruk pula; dan dia hanya bisa berkata, “Ah, seandainya dahulu aku tidak menisbahkan kekuasaan ilahiah kepada siapa pun selain Pemeliharaku!”


Surah Al-Kahfi Ayat 43

وَلَمْ تَكُنْ لَهُ فِئَةٌ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مُنْتَصِرًا

wa lam takul lahụ fi`atuy yanṣurụnahụ min dụnillāhi wa mā kāna muntaṣirā

43. —sebab, kini dia tidak memiliki sesuatu pun47 untuk menolong dirinya selain Allah, tidak pula dia dapat menolong dirinya sendiri.


47 Lit., “dia tidak mempunyai seorang penolong pun”.


Surah Al-Kahfi Ayat 44

هُنَالِكَ الْوَلَايَةُ لِلَّهِ الْحَقِّ ۚ هُوَ خَيْرٌ ثَوَابًا وَخَيْرٌ عُقْبًا

hunālikal-walāyatu lillāhil-ḥaqq, huwa khairun ṡawābaw wa khairun ‘uqbā

44. Karena, demikianlah adanya: segala kekuatan pelindung hanya dimiliki Allah semata, Yang Mahabenar. Dia-lah yang terbaik dalam memberikan pahala dan yang terbaik dalam menentukan apa yang semestinya.48


48 Lit., “yang terbaik dalam hal akibatnya”.


Surah Al-Kahfi Ayat 45

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا

waḍrib lahum maṡalal-ḥayātid-dun-yā kamā`in anzalnāhu minas-samā`i fakhtalaṭa bihī nabātul-arḍi fa aṣbaḥa hasyīman tażrụhur-riyāḥ, wa kānallāhu ‘alā kulli syai`im muqtadirā

45. DAN, KEMUKAKANLAH kepada mereka tamsil tentang kehidupan dunia ini: [ia] seperti air yang Kami turunkan dari langit dan yang diserap oleh tumbuh-tumbuhan di bumi: namun, [pada saatnya,] mereka berubah menjadi jerami kering yang beterbangan ditiup angin.

Dan, [hanya] Allah-lah yang menentukan segala sesuatu.


Surah Al-Kahfi Ayat 46

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

al-mālu wal-banụna zīnatul-ḥayātid-dun-yā, wal-bāqiyātuṣ-ṣāliḥātu khairun ‘inda rabbika ṡawābaw wa khairun amalā

46. Kekayaan dan keturunan adalah hiasan kehidupan duniawi ini: tetapi perbuatan-perbuatan baik, yang buahnya kekal itu, jauh lebih besar nilainya dalam pandangan Pemeliharamu dan merupakan sumber harapan yang jauh lebih baik.49


49 Lit., “lebih baik dalam pandangan Pemeliharamu dalam hal balasan, dan lebih baik dalam hal harapan”. Ungkapan al-baqiyat al-shalihat (“perbuatan-perbuatan baik, yang buahnya kekal itu”) muncul di dalam Al-Quran sebanyak dua kali: dalam ayat di atas dan dalam Surah Maryam [19]: 76.


Surah Al-Kahfi Ayat 47

وَيَوْمَ نُسَيِّرُ الْجِبَالَ وَتَرَى الْأَرْضَ بَارِزَةً وَحَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا

wa yauma nusayyirul-jibāla wa taral-arḍa bārizataw wa ḥasyarnāhum fa lam nugādir min-hum aḥadā

47. Karena itu, [ingatlah] Hari ketika akan Kami jadikan gunung-gunung menghilang dan engkau akan menyaksikan bumi yang telah kosong dan tandus: sebab, [pada Hari itu] Kami akan [membangkitkan kembali semua yang sudah mati dan] mengumpulkan mereka semua, sedangkan tidak satu pun dari mereka yang akan tertinggal.


Surah Al-Kahfi Ayat 48

وَعُرِضُوا عَلَىٰ رَبِّكَ صَفًّا لَقَدْ جِئْتُمُونَا كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ ۚ بَلْ زَعَمْتُمْ أَلَّنْ نَجْعَلَ لَكُمْ مَوْعِدًا

wa ‘uriḍụ ‘alā rabbika ṣaffā, laqad ji`tumụnā kamā khalaqnākum awwala marratim bal za’amtum allan naj’ala lakum mau’idā

48. Dan, mereka akan dibariskan di hadapan Pemeliharamu, [dan Dia akan berkata,50] “Sekarang, sungguh, kalian telah datang kepada Kami [dalam keadaan sendiri] sama seperti Kami telah menciptakan kalian pertama kali51—meskipun kalian biasa menegaskan bahwa Kami tidak akan pernah menetapkan bagi kalian suatu pertemuan [dengan Kami]!”


50 Yakni, kepada mereka yang selama hidupnya mengingkari kebenaran tentang adanya kebangkitan kembali.

51 Bdk. Surah Al-An’am [6]: 94.


Surah Al-Kahfi Ayat 49

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

wa wuḍi’al kitābu fa taral-mujrimīna musyfiqīna mimmā fīhi wa yaqụlụna yā wailatanā māli hāżal-kitābi lā yugādiru ṣagīrataw wa lā kabīratan illā aḥṣāhā, wa wajadụ mā ‘amilụ ḥāḍirā, wa lā yaẓlimu rabbuka aḥadā

49. Dan, catatan [perbuatan setiap manusia] akan dibentangkan; dan kalian akan menyaksikan para pendosa dipenuhi oleh rasa takut terhadap apa yang [mereka lihat] ada di dalam catatan itu; dan mereka akan berseru, “Ah, celakalah kami! Catatan apa ini! Tidak ada satu pun yang tertinggal, baik kecil maupun besar, melainkan semuanya diperhitungkan!”

Sebab, mereka akan mendapati bahwa semua yang pernah mereka perbuat [kini] ada di hadapan mereka, dan [mereka akan tahu bahwa] Pemeliharamu tidaklah berbuat aniaya kepada siapa pun.


Surah Al-Kahfi Ayat 50

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ ۗ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ ۚ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا

wa iż qulnā lil-malā`ikatisjudụ li`ādama fa sajadū illā iblīs, kāna minal-jinni fa fasaqa ‘an amri rabbih, a fa tattakhiżụnahụ wa żurriyyatahū auliyā`a min dụnī wa hum lakum ‘aduww, bi`sa liẓ-ẓālimīna badalā

50. DAN, [ingatlah bahwa] ketika Kami mengatakan kepada para malaikat, “Bersujudlah kalian di hadapan Adam,”52 mereka semua bersujud, kecuali iblis: dia [juga] adalah salah satu dari wujud-wujud yang tidak terlihat,53 tetapi kemudian dia berpaling dari perintah Pemeliharanya. Maka, apakah kalian mau menjadikan dia dan kelompoknya54 sebagai tuan-tuan penguasa [kalian] selain Aku, padahal mereka adalah musuh-musuh kalian? Betapa buruk pertukaran ini di pihak orang-orang yang berbuat aniaya itu!55


52 Penyebutan secara singkat tentang alegori yang sering diulang ini, yakni tentang perintah Allah kepada malaikat untuk “bersujud di hadapan Adam”, dalam konteks di atas dimaksudkan untuk menekankan kemampuan alami manusia untuk berpikir secara konseptual (lihat Surah Al-Baqarah [2]: 31-34 dan catatan-catatan terkait) dan, dengan demikian, untuk menekankan kemampuan dan kewajibannya untuk membedakan antara yang benar dan yang batil. Karena pilihan-bebas manusia untuk melakukan suatu perbuatan yang salah secara moral—yang dibicarakan dalam ayat-ayat sebelumnya—nyaris selalu disebabkan oleh keterikatannya yang berlebihan pada pesona kehidupan duniawi, di sini perhatian diarahkan kepada kenyataan bahwa keterikatan tersebut adalah sarana setan (atau iblis) dalam menggoda manusia agar mengabaikan seluruh pertimbangan moral dan, dengan demikian, menyebabkan keruntuhan spiritualnya.

53 Kata jinn {yang diterjemahkan oleh Muhammad Asad sebagai “wujud-wujud yang tak terlihat”—peny.} dalam konteks ini berarti para malaikat (lihat artikel Istilah dan Konsep Jin dalam Islam).

54 Lit., “keturunannya”—suatu metonimia atau kiasan untuk semua yang mengikutinya.

55 Lit., “bagi orang-orang yang berbuat aniaya”. Berkenaan dengan “pemberontakan” simbolik setan melawan Allah, lihat catatan no. 26 dalam Surah Al-Baqarah [2]: 34 dan catatan no. 31 dalam Surah Al-Hijr [15]: 41.


Surah Al-Kahfi Ayat 51

مَا أَشْهَدْتُهُمْ خَلْقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَا خَلْقَ أَنْفُسِهِمْ وَمَا كُنْتُ مُتَّخِذَ الْمُضِلِّينَ عَضُدًا

mā asy-hattuhum khalqas-samāwāti wal-arḍi wa lā khalqa anfusihim wa mā kuntu muttakhiżal-muḍillīna ‘aḍudā

51. Aku tidak menjadikan mereka sebagai saksi atas penciptaan lelangit dan bumi, tidak pula sebagai saksi atas penciptaan diri mereka sendiri;56 dan tidak pula [perlu] Aku menjadikan [makhluk-makhluk] yang menuntun [manusia] kepada kesesatan itu sebagai para penolong-Ku.57


56 Yakni, “karena mereka hanyalah makhluk-makhluk atau wujud-wujud ciptaan, dan mereka tidak memiliki eksistensi yang setara dengan-Ku, bagaimana kalian bisa jadikan mereka sebagai tuan-tuan penguasa kalian?”—ini merujuk pada wujud-wujud, baik yang bersifat nyata atau khayali, yang dinisbahi oleh manusia dengan sifat-sifat ketuhanan, baik secara sadar atau secara bawah sadar (seperti dalam kasus kepatuhan seseorang terhadap “bisikan-bisikan setan”).

57 Karena Allah Mahakuasa, Maha Mengetahui, dan Mahacukup, kepercayaan bahwa ada wujud atau kekuatan yang dapat memiliki andil “menolong” dalam ketuhanan-Nya, atau dapat “menjadi perantara” antara Dia dan manusia, menyebabkan manusia benar-benar tersesat.


Surah Al-Kahfi Ayat 52

وَيَوْمَ يَقُولُ نَادُوا شُرَكَائِيَ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ فَدَعَوْهُمْ فَلَمْ يَسْتَجِيبُوا لَهُمْ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ مَوْبِقًا

wa yauma yaqụlu nādụ syurakā`iyallażīna za’amtum fa da’auhum fa lam yastajībụ lahum wa ja’alnā bainahum maubiqā

52. Karena itu, [ingatlah] Hari ketika Dia akan berkata, “Serulah [sekarang] makhluk-makhluk itu, yang kalian bayangkan bersekutu dalam ketuhanan-Ku!”58—kemudian mereka memanggil makhluk-makhluk itu, tetapi [makhluk-makhluk] itu tidak akan menjawab panggilan mereka: sebab, Kami akan letakkan di antara mereka suatu jurang yang tak dapat dilalui.59


58 Lit., “para sekutu-Ku yang kalian anggap [ada]”: lihat catatan no. 15 dalam Surah Al-An’am [6]: 22.

59 Atau: “suatu jurang [atau ‘penghalang’] kehancuran total”: merujuk pada jurang lebar khayalan (unreality) yang memisahkan para pendosa itu dari khayalan mereka yang bersifat menghujat atau, lebih mungkin, merujuk pada jurang yang memisahkan mereka dari para santo/wali (orang suci) yang biasa mereka sembah, meskipun kenyataannya para santo/wali itu tidak pernah menyatakan diri mereka memiliki status ketuhanan (Al-Zamakhsyari dan Al-Razi dalam salah satu dari alternatif penafsiran mereka, yang secara khusus menyebut Yesus dan Maryam).


Surah Al-Kahfi Ayat 53

وَرَأَى الْمُجْرِمُونَ النَّارَ فَظَنُّوا أَنَّهُمْ مُوَاقِعُوهَا وَلَمْ يَجِدُوا عَنْهَا مَصْرِفًا

wa ra`al-mujrimụnan-nāra fa ẓannū annahum muwāqi’ụhā wa lam yajidụ ‘an-hā maṣrifā

53. Dan, mereka yang tersesat dalam dosa akan menyaksikan api, dan akan tahu bahwa mereka pasti akan terjatuh ke dalamnya, dan mereka tidak akan menemukan jalan untuk meloloskan diri dari api itu.


Surah Al-Kahfi Ayat 54

وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ لِلنَّاسِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ ۚ وَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا

wa laqad ṣarrafnā fī hāżal-qur`āni lin-nāsi ming kulli maṡal, wa kānal-insānu akṡara syai`in jadalā

54. DEMIKIANLAH, SUNGGUH, telah Kami jadikan segala macam pelajaran di dalam Al-Quran ini memiliki banyak sisi, [yang dirancang] untuk [memberi manfaat bagi] umat manusia.60

Namun, manusia, di atas segalanya, selalu cenderung membantah:


60 Bdk. catatan no. 104 dalam Surah Al-Isra’ [17]: 89, yang menjelaskan penafsiran saya atas kata matsal, dalam konteks ini, sebagai “pelajaran”.


Surah Al-Kahfi Ayat 55

وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَىٰ وَيَسْتَغْفِرُوا رَبَّهُمْ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمْ سُنَّةُ الْأَوَّلِينَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ قُبُلًا

wa mā mana’an-nāsa ay yu`minū iż jā`ahumul-hudā wa yastagfirụ rabbahum illā an ta`tiyahum sunnatul-awwalīna au ya`tiyahumul-‘ażābu qubulā

55. sebab, kini tatkala petunjuk telah datang kepada mereka, apakah gerangan yang mencegah manusia dari meraih iman, dan dari memohon kepada Pemelihara mereka agar mengampuni dosa-dosa mereka—kecuali [mereka ingin] bahwa nasib orang-orang [yang berdosa] pada masa lampau menimpa mereka [pula], atau bahwa penderitaan [terakhir] akan menimpa mereka di akhirat?61


61 Lit., “bertatap muka” atau “di masa depan” (Al-Zamakhsyari)—kedua makna kata qubulan ini terkandung dalam konsep “Hari Akhir” atau “kehidupan mendatang”.


Surah Al-Kahfi Ayat 56

وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ ۚ وَيُجَادِلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ ۖ وَاتَّخَذُوا آيَاتِي وَمَا أُنْذِرُوا هُزُوًا

wa mā nursilul-mursalīna illā mubasysyirīna wa munżirīn, wa yujādilullażīna kafarụ bil-bāṭili liyud-ḥiḍụ bihil-ḥaqqa wattakhażū āyātī wa mā unżirụ huzuwā

56. Namun, Kami mengutus para pembawa pesan [Kami] hanya sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan—sedangkan mereka yang berkukuh mengingkari kebenaran membantah [mereka] dengan dalil-dalil yang batil, supaya dengan cara itu kebenaran menjadi lenyap, dan menjadikan pesan-pesan dan peringatan-peringatan-Ku sebagai sasaran olok-olok mereka.


Surah Al-Kahfi Ayat 57

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ فَأَعْرَضَ عَنْهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ ۚ إِنَّا جَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا ۖ وَإِنْ تَدْعُهُمْ إِلَى الْهُدَىٰ فَلَنْ يَهْتَدُوا إِذًا أَبَدًا

wa man aẓlamu mim man żukkira bi`āyāti rabbihī fa a’raḍa ‘an-hā wa nasiya mā qaddamat yadāh, innā ja’alnā ‘alā qulụbihim akinnatan ay yafqahụhu wa fī āżānihim waqrā, wa in tad’uhum ilal-hudā fa lay yahtadū iżan abadā

57. Dan, siapakah yang lebih jahat daripada orang yang kepadanya disampaikan pesan-pesan Pemeliharanya, lalu dia berpaling dari pesan-pesan itu sambil melupakan semua [kejahatan] yang mungkin telah diperbuat oleh tangannya?62

Perhatikan, di atas hati mereka, akan Kami bentangkan tabir yang mencegah mereka untuk dapat memahami kebenaran, dan juga ketulian di telinga mereka; dan meskipun engkau menyeru mereka ke jalan yang benar,63 mereka tidak akan pernah membiarkan diri mereka sendiri untuk diberi petunjuk.*


62 Yakni, tetap kukuh bertahan dalam perilakunya yang buruk (Al-Razi).

63 Lit., “kepada petunjuk”.

* {“tidak akan pernah membiarkan diri mereka sendiri untuk diberi petunjuk” adalah terjemahan Asad untuk Ian yahtadu idzan abada“. Harfiah: tidak mau mencari petunjuk selama-lamanya.—AM}


Surah Al-Kahfi Ayat 58

وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ ۖ لَوْ يُؤَاخِذُهُمْ بِمَا كَسَبُوا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَ ۚ بَلْ لَهُمْ مَوْعِدٌ لَنْ يَجِدُوا مِنْ دُونِهِ مَوْئِلًا

wa rabbukal-gafụru żur-raḥmah, lau yu`ākhiżuhum bimā kasabụ la’ajjala lahumul-‘ażāb, bal lahum mau’idul lay yajidụ min dụnihī mau`ilā

58. Namun, [di sisi lain,] Pemeliharamu itu adalah sungguh Maha Pengampun, yang tiada terbatas daIam rahmat-Nya. Andaikan Dia menghendaki mereka [langsung] mempertanggungjawabkan [kesalahan] apa pun yang telah mereka lakukan, niscaya Dia akan memberi hukuman yang cepat kepada mereka [di tempat itu dan pada saat itu pula]:64 tetapi tidak, mereka memiliki batas waktu yang, jika mereka telah melampaui batas waktu itu, mereka tidak akan dapat meminta pengampunan65


64 Lit., “Dia benar-benar akan menyegerakan hukuman bagi mereka”—implikasinya ialah Dia selalu menyediakan mereka waktu untuk bertobat dan memperbaiki perbuatan mereka.

65 Bdk. bagian-bagian ayat yang agak serupa dalam Surah An-Nahl [16]: 61 dan Surah Fathir [35]: 45. Dalam konteks ini, “batas waktu” (maw’id) berarti akhir kehidupan para pendosa di muka bumi atau—seperti dalam ayat berikutnya—”point of no return” {yakni, suatu titik di mana seseorang tidak dapat kembali lagi—peny.} yang tidak diperbolehkan oleh Allah untuk mereka lampaui, tanpa mereka mendapat hukuman.


Surah Al-Kahfi Ayat 59

وَتِلْكَ الْقُرَىٰ أَهْلَكْنَاهُمْ لَمَّا ظَلَمُوا وَجَعَلْنَا لِمَهْلِكِهِمْ مَوْعِدًا

wa tilkal-qurā ahlaknāhum lammā ẓalamụ wa ja’alnā limahlikihim mau’idā

59. sebagaimana [kasus yang terjadi pada seluruh] penduduk yang Kami hancurkan ketika mereka terus-menerus bertindak zalim:66 sebab, Kami telah menentukan batas waktu bagi kehancuran mereka.


66 Lit., “ketika [atau ‘setelah’] mereka berbuat dosa”—yakni, terus-menerus dan untuk waktu yang panjang.


Surah Al-Kahfi Ayat 60

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا

wa iż qāla mụsā lifatāhu lā abraḥu ḥattā abluga majma’al-baḥraini au amḍiya ḥuqubā

60. DAN, LIHATLAH!67 [Di tengah-tengah pengembaraannya,] Musa berkata kepada pelayannya,68 ”Aku tidak akan menyerah hingga aku mencapai pertemuan antara dua laut, kendatipun aku [harus] menghabiskan waktu bertahun-tahun yang tak terhitung lamanya [dalam pencarianku]!”


67 Partikel idz (yang biasanya bermakna “ketika”, tetapi di sini, menurut saya, lebih tepat diterjemahkan sebagai “lihatlah!” di dalam Al-Quran sering kali berfungsi untuk menarik perhatian kepada peralihan topik pembicaraan yang tiba-tiba, namun tanpa mengakibatkan putusnya kesinambungan pemikiran. Dalam kasus ayat ini, partikel itu jelas menandai suatu kaitan dengan ayat 54 (“telah Kami jadikan segala macam pelajaran di dalam Al-Quran ini memiliki banyak sisi, [yang dirancang] untuk [memberi manfaat bagi] umat manusia”); dan, juga menjadi pengantar bagi sebuah alegori yang dimaksudkan untuk menggambarkan kenyataan bahwa pengetahuan, dan khususnya pengetahuan ruhani, tidak akan pernah habis, sehingga tidak ada seorang pun—bahkan tidak pula seorang nabi—dapat pernah mengklaim bahwa dirinya mempunyai jawaban untuk segala pertanyaan yang membingungkan manusia sepanjang hidupnya. (Gagasan ini dijabarkan sepenuhnya dalam dua ayat terakhir surah ini.)

Tamsil berikutnya tentang Nabi Musa a.s. dan pencariannya akan pengetahuan (ayat 60-82) dalam perjalanan waktu telah menjadi inti dari legenda-legenda yang tak terhitung banyaknya yang bukan merupakan fokus perhatian kami di sini. Namun, kita mempunyai sebuah hadis yang bersumber dari Ubayy ibn Ka’b (yang dicatat dalam beberapa versi oleh Al-Bukhari, Muslim, dan Al-Tirmidzi), yang menceritakan bahwa Musa a.s. ditegur oleh Allah karena pernah menyatakan bahwa dia adalah manusia yang paling bijaksana, dan kemudian dikatakan kepadanya melalui wahyu bahwa seorang “hamba Allah” yang tinggal di “pertemuan dua laut” adalah seorang yang jauh lebih bijaksana dibandingkan dirinya. Ketika Musa a.s. mengungkapkan rasa ingin tahunya untuk menemukan orang itu, Allah memerintahkan Musa untuk “membawa seekor ikan di dalam keranjang” dan untuk terus melakukan perjalanan sampai ikan itu menghilang: dan hilangnya ikan itu akan menjadi pertanda bahwa tujuannya telah tercapai.

Tidak ada keraguan bahwa hadis ini adalah semacam pengantar alegoris untuk tamsil Al-Quran tersebut. “lkan” yang disebut di dalam Al-Quran maupun hadis di atas adalah suatu simbol keagamaan dari zaman kuno, yang barangkali berarti pengetahuan Ilahi atau kehidupan abadi. Sedangkan, mengenai “pertemuan dua laut”, yang oleh banyak mufasir awal berusaha untuk “diidentifikasi” dari sudut geografis (berkisar dari pertemuan antara Laut Merah dan Samudra Hindia di Bab Al-Mandab, hingga pertemuan Laut Tengah dan Samudra Atlantik di Semenanjung Gibraltar), Al-Baidhawi dalam penafsirannya terhadap ayat 60 menawarkan suatu penjelasan yang murni bersifat alegoris: “dua laut” mewakili dua sumber atau arus pengetahuan—yang satu dapat diraih melalui kerja sama antara observasi (pengamatan) dan pikiran terhadap fenomena luar (‘ilm al-zhahir), dan yang satunya lagi melalui pemahaman intuitif dan mistis (‘ilm al-bathin)—yang pertemuan antara keduanya ini merupakan tujuan sebenarnya dari pencarian Nabi Musa a.s.

68 Lit., “pemuda” {fata)—suatu istilah yang dalam bahasa Arab klasik digunakan dalam pengertian “pelayan seseorang” (tanpa memandang usianya). Menurut tradisi yang berkembang, pelayan itu adalah Joshua, yang kemudian menjadi pemimpin Keturunan Israil setelah wafatnya Nabi Musa a.s.


Surah Al-Kahfi Ayat 61

فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا

fa lammā balagā majma’a bainihimā nasiyā ḥụtahumā fattakhaża sabīlahụ fil-baḥri sarabā

61. Namun, tatkala mereka telah sampai di pertemuan antara dua [laut] itu, mereka lupa sama sekali akan ikan mereka, dan ikan itu telah menempuh jalannya ke dalam laut dan menghilang dari pandangan.69


69 Lit., “dengan menggali [ke dalamnya]”. Lupanya Nabi Musa a.s. dan pelayannya terhadap “ikan” simbolis itu (lihat sepertiga akhir catatan no. 67) mungkin merupakan suatu alusi tentang kerap lupanya manusia bahwa Allah adalah sumber utama seluruh pengetahuan dan kehidupan.


Surah Al-Kahfi Ayat 62

فَلَمَّا جَاوَزَا قَالَ لِفَتَاهُ آتِنَا غَدَاءَنَا لَقَدْ لَقِينَا مِنْ سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبًا

fa lammā jāwazā qāla lifatāhu ātinā gadā`anā laqad laqīnā min safarinā hāżā naṣabā

62. setelah keduanya berjalan hingga beberapa jauh, [Musa] berkata kepada pelayannya, “Bawakan kami makan siang kami; kami benar-benar mengalami kelelahan dalam perjalanan kami [hari] ini!”


Surah Al-Kahfi Ayat 63

قَالَ أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ ۚ وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًا

qāla a ra`aita iż awainā ilaṣ-ṣakhrati fa innī nasītul-ḥụta wa mā ansānīhu illasy-syaiṭānu an ażkurah, wattakhaża sabīlahụ fil-baḥri ‘ajabā

63. [Sang pelayan] berkata, “Percayakah engkau?70 Ketika kita sedang menuju ke arah batu itu untuk beristirahat, sungguh, saya lupa akan ikannya—dan tidak ada selain setan yang telah membuat saya lupa akan hal itu!71—dan ikan itu telah menempuh jalannya ke dalam laut! Betapa ganjilnya!”


70 Lit., “Apakah engkau melihat?” Meskipun dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, frasa yang merupakan idiom ini—sebagaimana padanan modernnya, “Percayakah engkau?”—sering kali hanyalah mengekspresikan suatu keadaan ingat secara tiba-tiba, atau keterkejutan, tentang sesuatu yang terjadi secara aneh atau tidak wajar.

71 Lit., “membuatku lupa agar aku tidak mengingatnya”.


Surah Al-Kahfi Ayat 64

قَالَ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ ۚ فَارْتَدَّا عَلَىٰ آثَارِهِمَا قَصَصًا

qāla żālika mā kunnā nabgi fartaddā ‘alā āṡārihimā qaṣaṣā

64. [Musa] berseru, “Itulah [tempat] yang sedang kita cari!”72

Dan, keduanya kembali menelusuri jejak mereka,


72 Yakni, menghilangnya ikan itu mengindikasikan titik di mana pencarian mereka akan berakhir (lihat catatan no. 67).


Surah Al-Kahfi Ayat 65

فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا

fa wajadā ‘abdam min ‘ibādinā ātaināhu raḥmatam min ‘indinā wa ‘allamnāhu mil ladunnā ‘ilmā

65. dan [keduanya] menemukan salah satu dari hamba-hamba-Ku, yang kepadanya telah Kami anugerahi rahmat dari Kami sendiri dan yang telah Kami berikan pengetahuan [yang berasal] dari Kami sendiri.73


73 Dalam hadis yang bersumber dari Ubayy ibn Ka’b (yang disebut dalam catatan no. 67), orang bijak yang misterius ini disebut-sebut sebagai Al-Khadhir atau Al-Khidhr, yang berarti “Si Hijau”. Tampaknya, ini lebih merupakan suatu julukan daripada sebuah nama, yang (menurut legenda rakyat) mengandung arti bahwa kebijaksanaannya akan tetap segar selamanya (“hijau”) dan tidak akan pernah musnah: suatu gagasan yang memperjelas asumsi bahwa di sini kita memiliki suatu tokoh alegoris yang menyimbolkan pemahaman mistis terdalam yang dapat diraih oleh manusia.


Surah Al-Kahfi Ayat 66

قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

qāla lahụ mụsā hal attabi’uka ‘alā an tu’allimani mimmā ‘ullimta rusydā

66. Berkatalah Musa kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu dengan syarat bahwa engkau akan mengajari aku sebagian dari kesadaran mengenai apa yang benar yang telah diajarkan kepadamu?”


Surah Al-Kahfi Ayat 67

قَالَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا

qāla innaka lan tastaṭī’a ma’iya ṣabrā

67. [Yang ditanya] menjawab, “Sungguh, engkau tidak akan pernah mampu memiliki kesabaran untuk bersamaku—


Surah Al-Kahfi Ayat 68

وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَىٰ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا

wa kaifa taṣbiru ‘alā mā lam tuḥiṭ bihī khubrā

68. karena bagaimana engkau dapat bersabar tentang sesuatu yang tidak dapat engkau pahami dalam jangkauan pengalaman[mu]?”74


74 Lit., “yang tidak terjangkau oleh pengalaman [kamu] (khubran)”: menurut Al-Razi, ini adalah suatu alusi tentang kenyataan bahwa bahkan seorang nabi seperti Musa a.s. pun tidak sepenuhnya memahami kenyataan hakiki dari segala hal (haqa’iq al-asy-ya’ kama hiya); dan, lebih umum lagi, suatu alusi tentang kurangnya kesabaran manusia ketika dihadapkan kepada sesuatu yang belum pernah dia alami atau yang tidak dapat segera dipahami olehnya. Pada akhirnya, ayat di atas—sebagaimana sepenuhnya disajikan dalam pengalaman-pengalaman Musa berikutnya—menyiratkan bahwa penampakan dan kenyataan yang sesungguhnya tidak selalu bertepatan; lebih lanjut, dengan cara yang halus, ayat itu menyinggung tentang kebenaran yang mendalam bahwa manusia tidak dapat benar-benar mengerti atau bahkan memvisualisasikan segala sesuatu yang tidak memiliki padanan—setidaknya dalam unsur-unsur dasarnya—dalam pengalaman intelektualnya sendiri: dan inilah alasan Al-Quran menggunakan metafora dan alegori sebagai pengandaian akan “segala sesuatu yang berada di luar jangkauan persepsi makhluk” (al-ghaib).


Surah Al-Kahfi Ayat 69

قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا

qāla satajidunī in syā`allāhu ṣābiraw wa lā a’ṣī laka amrā

69. [Musa] menyahut, “Engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar jika Allah berkehendak demikian; dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun!”


Surah Al-Kahfi Ayat 70

قَالَ فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّىٰ أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا

qāla fa inittaba’tanī fa lā tas`alnī ‘an syai`in ḥattā uḥdiṡa laka min-hu żikrā

70. [Orang bijak itu] berkata, “Baiklah kalau begitu. Jika engkau hendak mengikutiku, janganlah bertanya kepadaku tentang apa pun [yang mungkin akan kulakukan] hingga aku sendiri memberikan kepadamu penjelasan mengenai hal tersebut.”


Surah Al-Kahfi Ayat 71

فَانْطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا رَكِبَا فِي السَّفِينَةِ خَرَقَهَا ۖ قَالَ أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا

fanṭalaqā, ḥattā iżā rakibā fis-safīnati kharaqahā, qāla a kharaqtahā litugriqa ahlahā, laqad ji`ta syai`an imrā

71. Maka, keduanya berjalan sampai [mereka mencapai tepi laut; dan] ketika mereka keluar dari perahu [yang telah membawa mereka menyeberang], orang bijak itu75 membuat lubang pada perahu itu—[lalu Musa] berseru, “Apakah engkau membuat lubang pada perahu itu untuk menenggelamkan orang-orang yang mungkin akan [bepergian dengan] menumpang perahu itu? Sungguh, engkau telah melakukan suatu perbuatan yang membahayakan!”


75 Lit., “dia”.


Surah Al-Kahfi Ayat 72

قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا

qāla a lam aqul innaka lan tastaṭī’a ma’iya ṣabrā

72. Dia menjawab, “Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu bahwa engkau tidak akan pernah mampu memiliki kesabaran untuk bersamaku?”


Surah Al-Kahfi Ayat 73

قَالَ لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرْهِقْنِي مِنْ أَمْرِي عُسْرًا

qāla lā tu`ākhiżnī bimā nasītu wa lā tur-hiqnī min amrī ‘usrā

73. [Musa] berkata, “Jangan salahkan aku karena sesuatu yang aku lupa [tentangnya], dan janganlah bersikap keras kepadaku karena sesuatu yang telah kulakukan!”


Surah Al-Kahfi Ayat 74

فَانْطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا لَقِيَا غُلَامًا فَقَتَلَهُ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا

fanṭalaqā, ḥattā iżā laqiyā gulāman fa qatalahụ qāla a qatalta nafsan zakiyyatam bigairi nafs, laqad ji`ta syai`an nukrā

74. Maka, keduanya berjalan lagi sampai, ketika mereka bertemu dengan seorang anak muda, [orang bijak itu] membunuhnya—[lalu Musa] berseru, “Bukankah engkau telah membunuh seorang manusia tak berdosa tanpa [ dia pernah mengambil] nyawa orang lain? Sungguh, engkau telah melakukan perbuatan yang mengerikan!”


Surah Al-Kahfi Ayat 75

قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا

qāla a lam aqul laka innaka lan tastaṭī’a ma’iya ṣabrā

75. Dia menjawab, “Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu bahwa engkau tidak akan pernah mampu memiliki kesabaran untuk bersamaku?”


Surah Al-Kahfi Ayat 76

قَالَ إِنْ سَأَلْتُكَ عَنْ شَيْءٍ بَعْدَهَا فَلَا تُصَاحِبْنِي ۖ قَدْ بَلَغْتَ مِنْ لَدُنِّي عُذْرًا

qāla in sa`altuka ‘an syai`im ba’dahā fa lā tuṣāḥibnī, qad balagta mil ladunnī ‘użrā

76. [Musa] berkata, “Apabila, sesudah ini, aku bertanya lagi kepadamu, janganlah engkau menemaniku lagi: [karena hingga] kini engkau telah mendengar cukup banyak permintaan maaf dariku.”


Surah Al-Kahfi Ayat 77

فَانْطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا أَتَيَا أَهْلَ قَرْيَةٍ اسْتَطْعَمَا أَهْلَهَا فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَنْ يَنْقَضَّ فَأَقَامَهُ ۖ قَالَ لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا

fanṭalaqā, ḥattā iżā atayā ahla qaryatinistaṭ’amā ahlahā fa abau ay yuḍayyifụhumā fa wajadā fīhā jidāray yurīdu ay yangqaḍḍa fa aqāmah, qāla lau syi`ta lattakhażta ‘alaihi ajrā

77. Maka, keduanya melanjutkan perjalanan sampai, ketika mereka bertemu dengan beberapa penduduk desa, keduanya meminta kepada mereka76 makanan; tetapi mereka [orang-orang] itu menolak menjamu keduanya. Dan, keduanya melihat [di desa] itu sebuah dinding yang hampir roboh, dan [orang bijak itu] membangun kembali dinding itu—[lalu Musa] berkata, “Sekiranya engkau menghendaki, tentu [setidaknya] engkau dapat memperoleh upah untuk itu?”


76 Lit., “bertanya kepada penduduknya”.


Surah Al-Kahfi Ayat 78

قَالَ هَٰذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ ۚ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا

qāla hāżā firāqu bainī wa bainik, sa`unabbi`uka bita`wīli mā lam tastaṭi’ ‘alaihi ṣabrā

78. [Orang bijak itu] menjawab, “Ini adalah saatnya perpisahan antara aku dan engkau. [Dan sekarang,] aku akan memberi tahumu makna sesungguhnya dari semua [peristiwa] itu yang engkau tidak dapat sabar menghadapinya:


Surah Al-Kahfi Ayat 79

أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا

ammas-safīnatu fa kānat limasākīna ya’malụna fil-baḥri fa arattu an a’ībahā, wa kāna warā`ahum malikuy ya`khużu kulla safīnatin gaṣbā

79. “Adapun mengenai perahu, itu adalah milik beberapa orang miskin yang bekerja di laut—dan aku hendak merusak perahu itu77 karena [aku tahu bahwa] di belakang mereka ada seorang raja yang selalu menyita setiap perahu dengan semena-mena.


77 Lit., “menyebabkannya rusak”—yakni, membuat perahu itu tidak dapat digunakan untuk sementara waktu.


Surah Al-Kahfi Ayat 80

وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا

wa ammal-gulāmu fa kāna abawāhu mu`minaini fa khasyīnā ay yur-hiqahumā ṭugyānaw wa kufrā

80. “Dan, adapun mengenai anak muda itu, kedua orangtuanya adalah orang-orang beriman [yang sejati]—sedangkan kami memiliki alasan kuat untuk merasa khawatir78 bahwa dia akan menyebabkan kedua orangtuanya lebih menderita karena kejahatan[nya] yang keterlaluan dan pengingkaran[nya] terhadap seluruh kebenaran:*


78 Lit., “kami khawatir”—tetapi perlu diingat bahwa, selain makna dasar itu, verba khashiya terkadang berarti “dia mempunyai alasan untuk khawatir” dan, karena itu, “dia tahu”, yakni bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi (Taj Al-‘Arus, dengan mengacu secara khusus kepada ayat di atas): dengan demikian, kita dapat berasumsi bahwa ungkapan “khawatir” orang bijak itu sama artinya dengan “pengetahuan” positif yang diperoleh melalui bukti lahiriah atau melalui wawasan mistik (yang terakhir ini lebih mungkin, sebagaimana ditunjukkan oleh pernyataannya dalam alinea kedua ayat berikut, “Aku tidak melakukan [tiap-tiap perbuatan] itu berdasarkan kehendakku sendiri”).

* {Di sini Asad memahami bahwa jika anak itu dibiarkan tetap hidup, kejahatannya akan membuat kedua orangtuanya lebih menderita. Sementara itu, Al-Quran Departemen Agama RI menerjemahkan frasa ini dengan “kami khawatir dia akan mendorong kedua orangtuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran”. Di sini, “kesesatan dan kekafiran” dinisbahkan kepada kedua orangtua anak tersebut, sedangkan Asad menisbahkannya sebagai sifat si anak.—peny.}


Surah Al-Kahfi Ayat 81

فَأَرَدْنَا أَنْ يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا

fa aradnā ay yubdilahumā rabbuhumā khairam min-hu zakātaw wa aqraba ruḥmā

81. maka, kami menginginkan agar Pemelihara mereka menganugerahi mereka [seorang anak] sebagai pengganti, yang lebih suci daripadanya dan lebih dekat [kepada kedua orangtuanya] dalam sikap lembut yang penuh kasih sayang.


Surah Al-Kahfi Ayat 82

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ ۚ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ۚ ذَٰلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا

wa ammal-jidāru fa kāna ligulāmaini yatīmaini fil-madīnati wa kāna taḥtahụ kanzul lahumā wa kāna abụhumā ṣāliḥā, fa arāda rabbuka ay yablugā asyuddahumā wa yastakhrijā kanzahumā raḥmatam mir rabbik, wa mā fa’altuhụ ‘an amrī, żālika ta`wīlu mā lam tasṭi’ ‘alaihi ṣabrā

82. “Dan, adapun mengenai tembok, itu adalah milik dua anak laki-laki yatim [yang tinggal] di kota, dan di bawah tembok itu [terkubur] suatu harta peninggalan milik mereka [berdasarkan hak].79 Adapun ayah mereka adalah seorang yang saleh, maka Pemeliharamu menghendaki bahwa ketika anak-anak itu telah dewasa, mereka akan mengeluarkan harta peninggalan itu dengan rahmat Pemeliharamu.

“Dan, aku tidak melakukan [tiap-tiap perbuatan] itu berdasarkan kehendakku sendiri:80 inilah makna sesungguhnya dari semua [peristiwa itu] yang engkau tidak dapat sabar menghadapinya.”


79 Yakni. ditinggalkan sebagai warisan untuk mereka. Diperkirakan harta itu akan terlihat apabila tembok itu dibiarkan roboh, dan akan dicuri oleh sekelompok penduduk desa yang rakus, yang telah memperlihatkan karakter mereka sendiri yang sebenarnya melalui penolakan mereka untuk menjamu kedua pengembara yang kelelahan itu.

80 Hal ini menyiratkan bahwa apa pun yang telah dilakukan oleh orang bijak itu adalah berdasarkan dorongan suatu kebenaran yang lebih tinggi—persepsi batin yang menyingkapkan kepadanya realitas di balik penampakan luar segala sesuatu dan menjadikan dirinya suatu bagian yang sadar di dalam rencana Allah yang tak terperikan: dan hal ini menjelaskan digunakannya kata jamak “kami” di dalam ayat 80-81, serta dinisbahkannya tindakan konkret manusia secara langsung kepada kehendak Allah, dalam alinea pertama ayat 82 (Al-Razi).


Surah Al-Kahfi Ayat 83

وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ ذِي الْقَرْنَيْنِ ۖ قُلْ سَأَتْلُو عَلَيْكُمْ مِنْهُ ذِكْرًا

wa yas`alụnaka ‘an żil-qarnaīn, qul sa`atlụ ‘alaikum min-hu żikrā

83. DAN, MEREKA akan bertanya kepadamu tentang “Manusia Bertanduk Dua”. Katakanlah: “Aku akan menyampaikan kepada kalian sesuatu yang perlu untuk mengingat orang itu.”81


81 Lit., “Aku akan mengingatkan kalian [atau ‘menyebutkan’] tentang dia”—yakni, sesuatu yang memang berharga untuk diingat dan disebut: yang, saya percaya, mengacu secara tidak langsung pada sifat majasi dari kisah selanjutnya dan pada kenyataan bahwa, seperti tamsil sebelumnya tentang Musa dan orang bijak yang misterius, tamsil tentang, Dzu Al-Qarnain ini terbatas pada beberapa kebenaran spiritual yang fundamental.

Nama julukan Dzu Al-Qarnain berarti “Manusia Bertanduk Dua” atau “Manusia dari Dua Zaman” karena nomina qarn dapat berarti “tanduk” maupun “generasi”, “zaman”, “masa”, atau “abad”. Para mufasir klasik cenderung kepada makna yang pertama (“Bertanduk Dua”); dan dalam hal ini mereka agaknya telah dipengaruhi oleh tamsil Timur Tengah kuno tentang “tanduk” sebagai simbol kekuasaan dan kehebatan, meskipun Al-Quran sendiri tidak memberikan pembenaran atas penafsiran itu. Pada kenyataannya, selain dalam bentuk Dzu Al-Qarnain yang terdapat dalam ayat 83, 86 dan 94 surah ini, kata qarn (bentuk jamaknya qurun) muncul di dalam Al-Quran sebanyak dua puluh kali: dan setiap kali muncul, ia mengandung makna “generasi” dalam pengertian “masyarakat dari suatu zaman atau peradaban tertentu”. Meskipun demikian, karena alegori tentang Dzu Al-Qarnain ini dimaksudkan untuk memberi gambaran mengenai kualitas-kualitas seorang penguasa yang adil dan berkuasa, bisa saja kita beranggapan bahwa penamaan ini adalah pantulan dari simbolisme kuno yang telah disebut di atas, yang—karena sudah terdengar akrab di kalangan masyarakat Arab sejak dahulu—telah masuk sebagai idiom ke dalam bahasa mereka jauh sebelum kedatangan Islam. Dalam konteks alegori Al-Quran, “dua tanduk” mungkin dapat dipahami mengandung arti dua sumber kekuatan yang dikatakan telah dianugerahkan kepada Dzu Al-Qarnain: yakni, kekuasaan dan prestise duniawi berupa kerajaan serta kekuatan spiritual yang lahir dari keimanannya kepada Allah. Hal yang terakhir ini teramat sangat penting—karena persis penekanan Al-Quran pada keimanannya kepada Allah itulah yang membuat mustahil untuk menyamakan Dzu Al-Qarnain, sebagaimana dilakukan oleh kebanyakan mufasir, dengan Alexander the Great atau Iskandar Yang Agung (yang digambarkan dalam beberapa koinnya dengan dua tanduk di kepala) atau dengan salah seorang dari raja-raja Himyar dari Yaman pada masa sebelum Islam. Semua tokoh prasejarah itu adalah penganut berhala, dan mereka biasa menyembah banyak dewa, sedangkan Dzu Al-Qarnain digambarkan sebagai orang yang beriman dengan teguh kepada Allah Yang Maha Esa: bahkan, justru aspek kepribadiannya yang inilah yang memberi alasan paling mendasar bagi dikemukakannya alegori Al-Quran tersebut. Karena itu, kita harus menyimpulkan bahwa alegori tentang Dzu Al-Qarnain tidak ada kaitannya dengan sejarah atau bahkan legenda, dan bahwa maksud dari alegori itu semata-mata adalah sebagai suatu wacana yang bersifat perumpamaan tentang iman dan moral, dengan secara khusus mengacu kepada masalah kekuasaan duniawi (lihat bagian penutup pada catatan pengantar surah ini).


Surah Al-Kahfi Ayat 84

إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الْأَرْضِ وَآتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا

innā makkannā lahụ fil-arḍi wa ātaināhu ming kulli syai`in sababā

84. Perhatikan, Kami telah mengukuhkan dia di muka bumi, dan telah menganugerahinya dengan [pengetahuan tentang] cara yang benar untuk mencapai apa pun82 [yang mungkin dia rencanakan untuk diraih];


82 Menurut Ibn ‘Abbas, Mujahid, Sa’id ibn Jubair, ‘Ikrimah, Qatadah, dan Al-Dhahhak (seluruhnya dikutip oleh Ibn Katsir), kata sabab—lit., “cara untuk mencapai [segala sesuatu]”—dalam konteks ini berarti pengetahuan mengenai cara yang benar untuk mencapai tujuan tertentu.


Surah Al-Kahfi Ayat 85

فَأَتْبَعَ سَبَبًا

fa atba’a sababā

85. maka, dia memilih cara yang benar [dalam apa pun yang dia lakukan].83


83 Lit., “dia menempuh cara [yang benar]”: yakni, dia tidak pernah menggunakan cara yang salah untuk meraih tujuan yang baik.


Surah Al-Kahfi Ayat 86

حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِي عَيْنٍ حَمِئَةٍ وَوَجَدَ عِنْدَهَا قَوْمًا ۗ قُلْنَا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِمَّا أَنْ تُعَذِّبَ وَإِمَّا أَنْ تَتَّخِذَ فِيهِمْ حُسْنًا

ḥattā iżā balaga magribasy-syamsi wajadahā tagrubu fī ‘ainin ḥami`atiw wa wajada ‘indahā qaumā, qulnā yā żal-qarnaini immā an tu’ażżiba wa immā an tattakhiża fīhim ḥusnā

86. [Dan, dia bergerak ke arah barat] sampai, ketika dia tiba di tempat terbenamnya matahari,84 tampak baginya bahwa ia terbenam di lautan yang gelap dan berlumpur;85 dan, di dekatnya, dia menemukan suatu kaum [yang cenderung untuk melakukan segala macam perbuatan dosa].

Kami berkata, “Wahai, Engkau ‘Manusia Bertanduk Dua’! Engkau boleh membuat [mereka] menderita atau memperlakukan mereka dengan baik!”86


84 Yakni, bagian paling barat dari perjalanannya (Al-Razi).

85 Atau: “air yang melimpah”—yang, menurut banyak pakar filologi (lihat Taj Al-‘Arus), adalah salah satu makna dari ‘ain (yang terutama berarti “mata air”). Sedangkan mengenai frasa “dia mendapatinya (wajadaha) terbenam …”, dan seterusnya, yang saya terjemahkan menjadi “tampak baginya bahwa ia {matahari itu} terbenam …”, lihat Al-Razi dan Ibn Katsir, yang keduanya menunjukkan bahwa yang kita dapati di sini ialah suatu metafora yang didasarkan pada ilusi penglihatan mengenai “menghilangnya matahari ke dalam laut”; dan Al-Razi menjelaskan hal itu, dengan tepat, berdasarkan fakta bahwa bumi itu bulat. (Menarik untuk dicatat bahwa menurut Al-Razi, penjelasan tersebut telah dikemukakan dalam tafsir Al-Quran Abu ‘Ali Al-Jubba’i yang kini telah hilang. Al-Jubba’i adalah seorang ulama Mu’tazilah terkenal yang wafat pada 303 H, yang berarti sekitar 915 atau 916 Masehi.)

86 Diperbolehkannya manusia oleh Allah untuk memilih di antara dua tindakan yang mungkin dilakukan bukan hanya merupakan suatu pernyataan kiasan tentang kebebasan kehendak yang diperkenankan Allah atas manusia, melainkan juga menetapkan suatu prinsip hukum yang penting, yaitu istihsan (preferensi sosial atau moral) yang terbuka bagi penguasa atau pemerintah untuk memutuskan apa yang mungkin dapat mendukung hal yang terbaik (mashlahah) bagi masyarakat secara keseluruhan: dan ini adalah “pelajaran” pertama dari tamsil tentang Dzu Al-Qarnain.


Surah Al-Kahfi Ayat 87

قَالَ أَمَّا مَنْ ظَلَمَ فَسَوْفَ نُعَذِّبُهُ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَىٰ رَبِّهِ فَيُعَذِّبُهُ عَذَابًا نُكْرًا

qāla ammā man ẓalama fa saufa nu’ażżibuhụ ṡumma yuraddu ilā rabbihī fa yu’ażżibuhụ ‘ażāban nukrā

87. Dia menjawab, “Adapun orang yang telah berbuat aniaya [kepada orang lain87]—pada saatnya kami akan membuatnya menderita; dan, sesudah itu, dia akan dikembalikan kepada Pemeliharanya, dan Dia-lah yang akan menyebabkannya menderita dengan penderitaan yang tiada terkira.88


87 Bdk. Surah Hud [11]: 117 dan catatan terkait no. 149.

88 Yakni, di akhirat—yang menyiratkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang berhubungan dengan kehidupan mendatang dapat dibayangkan atau didefinisikan dari sudut pengalaman manusia.


Surah Al-Kahfi Ayat 88

وَأَمَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَىٰ ۖ وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا

wa ammā man āmana wa ‘amila ṣāliḥan fa lahụ jazā`anil-ḥusnā, wa sanaqụlu lahụ min amrinā yusrā

88. Namun, adapun orang yang beriman dan mengerjakan perbuatan-perbuatan kebaikan—dia akan memperoleh kebaikan tertinggi [dalam kehidupan mendatang] sebagai balasan untuknya; dan [berkenaan dengan kami,] kami [hanya] akan memerintahkan kepadanya hal yang mudah untuk dilaksanakan.”89


89 Karena perilaku yang saleh adalah suatu norma yang diharapkan dari manusia, hukum-hukum yang berkaitan dengan itu seharusnya tidaklah terlalu memberatkan—yang merupakan pelajaran lainnya yang dapat ditarik dari tamsil tentang Dzu Al-Qarnain ini.


Surah Al-Kahfi Ayat 89

ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا

ṡumma atba’a sababā

89. Dan, sekali lagi,90 dia memilih cara yang benar [untuk mencapai tujuan yang benar].


90 Tentang terjemahan partikel tsumma ini, lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 31.


Surah Al-Kahfi Ayat 90

حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ مَطْلِعَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَطْلُعُ عَلَىٰ قَوْمٍ لَمْ نَجْعَلْ لَهُمْ مِنْ دُونِهَا سِتْرًا

ḥattā iżā balaga maṭli’asy-syamsi wajadahā taṭlu’u ‘alā qaumil lam naj’al lahum min dụnihā sitrā

90. [Dan, dia terus berjalan ke arah timur] sampai, ketika dia tiba di tempat terbitnya matahari,91 dia mendapati bahwa matahari terbit di atas sekumpulan orang yang tidak Kami sediakan bagi mereka pelindung terhadap (sinar matahari) itu:


91 Yakni, bagian paling timur dari perjalanannya (serupa dengan ungkapan “terbenamnya matahari” dalam ayat 86).


Surah Al-Kahfi Ayat 91

كَذَٰلِكَ وَقَدْ أَحَطْنَا بِمَا لَدَيْهِ خُبْرًا

każālik, wa qad aḥaṭnā bimā ladaihi khubrā

91. demikianlah [Kami telah menjadikan mereka, dan demikianlah dia meninggalkan mereka92]; dan pengetahuan Kami meliputi semua yang ada di dalam pikirannya.93


92 Ini adalah penafsiran Al-Razi tentang ungkapan kadzalika (“demikianlah” atau “demikian itulah”) yang muncul secara tersendiri di sini. Hal itu jelas berhubungan dengan keadaan alamiah dan primitif dari orang-orang itu yang tidak membutuhkan pakaian untuk melindungi mereka dari sinar matahari dan berhubungan dengan fakta (tersirat) bahwa Dzu Al-Qarnain meninggalkan mereka sebagaimana dia telah menemukan mereka, seraya berhati-hati untuk tidak menyinggung cara hidup mereka dan menyebabkan mereka bersedih.

93 Lit., “semua yang terdapat padanya”—yakni, keteguhannya untuk tidak “merusak [atau ‘mengubah’) ciptaan Allah” (bdk. paruh kedua catatan no. 141 dalam Surah An-Nisa’ [4]: 119)—yang, menurut saya, merupakan pelajaran moral lebih jauh yang dapat diambil dari tamsil ini.


Surah Al-Kahfi Ayat 92

ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا

ṡumma atba’a sababā

92. Dan, sekali lagi, dia memilih cara yang benar [untuk mencapai tujuan yang benar].


Surah Al-Kahfi Ayat 93

حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ وَجَدَ مِنْ دُونِهِمَا قَوْمًا لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلًا

ṡumma atba’a sababā

93. [Dan, dia meneruskan perjalanan] sampai, ketika dia tiba [di suatu tempat] di antara dua penghalang pegunungan,94 di bawahnya dia mendapati suatu kaum yang hampir tidak dapat memahami sepatah kata pun [dari bahasanya].


94 Menurut anggapan umum yang berkembang, tempat itu adalah Kaukasus. Namun, karena baik Al-Quran maupun hadis sahih tidak mengatakan apa pun tentang lokasi “dua penghalang pegunungan” tersebut atau penduduk yang tinggal di sana, kita dapat dengan aman mengabaikan semua spekulasi yang dikemukakan oleh para mufasir menyangkut hal itu sebagai hal yang tidak relevan, apalagi karena kisah Dzu Al-Qarnain hanyalah bertujuan untuk memberi penggambaran mengenai prinsip-prinsip moral tertentu melalui tamsil atau perumpamaan.


Surah Al-Kahfi Ayat 94

قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَىٰ أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا

qālụ yā żal-qarnaini inna ya`jụja wa ma`jụja mufsidụna fil-arḍi fa hal naj’alu laka kharjan ‘alā an taj’ala bainanā wa bainahum saddā

94. Mereka berkata, “Wahai, Engkau ‘Manusia Bertanduk Dua’! Sungguh, Ya’juj dan Ma’juj95 membuat kerusakan di negeri ini. Maka, dapatkah kami memberimu upah sebagai imbalan dengan syarat bahwa engkau mau membangun suatu penghalang antara kami dan mereka?”


95 {Ya’juj dan Ma’juj ini dalam bahasa Eropa disebut Gog and Magog.} Gog and Magog ini adalah bentuk dari nama-nama tersebut yang telah masuk ke dalam seluruh bahasa Eropa, berdasarkan beberapa rujukan yang tidak begitu jelas tentang mereka di dalam Bibel (Kejadian 10: 2; I Tawarikh 1: 5; Yehezkiel 38: 2 dan 39: 6; Wahyu 20: 8). Kebanyakan mufasir sesudah masa klasik mengidentikkan suku-suku ini dengan suku Mongol dan Tartar (lihat catatan no. 100 di bawah).


Surah Al-Kahfi Ayat 95

قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا

qāla mā makkannī fīhi rabbī khairun fa a’īnụnī biquwwatin aj’al bainakum wa bainahum radmā

95. Dia menjawab, “Yang telah dikukuhkan oleh Pemeliharaku kepadaku adalah lebih baik [daripada apa pun yang dapat kalian berikan kepadaku];96 karena itu, bantulah aku dengan kekuatan [tenaga kerja kalian], [dan] aku akan membangun benteng antara kalian dan mereka!


96 Frasa “Apa yang telah dikukuhkan oleh Pemeliharaku kepadaku (makkanni)” umumnya dianggap mengacu pada kekuasaan dan kekayaan yang dianugerahkan kepada Dzu Al-Qarnain; namun, jauh lebih mungkin—dan tentunya lebih konsisten dengan makna moral dari keseluruhan tamsil tentang Dzu Al-Qarnain—apabila frasa itu dipahami mengacu pada petunjuk Allah daripada merujuk pada kepemilikan duniawi {yakni kekuasaan atau kekayaan—peny.}.


Surah Al-Kahfi Ayat 96

آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا سَاوَىٰ بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انْفُخُوا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَعَلَهُ نَارًا قَالَ آتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا

ātụnī zubaral-ḥadīd, ḥattā iżā sāwā bainaṣ-ṣadafaini qālanfukhụ, ḥattā iżā ja’alahụ nārang qāla ātụnī ufrig ‘alaihi qiṭrā

96. Bawakan aku potongan-potongan besi!”

Lalu, setelah dia [menumpukkan potongan-potongan besi itu dan] mengisi celah antara dua sisi gunung itu, dia berkata, “[Nyalakan api dan] tiuplah keras-keras!”97

Akhirnya, ketika dia telah menjadikannya [menyala seperti] api, dia memerintahkan, “Bawakan aku tembaga cair yang akan kutuangkan ke atasnya.”


97 Lit., “Tiuplah!”


Surah Al-Kahfi Ayat 97

فَمَا اسْطَاعُوا أَنْ يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا

fa masṭā’ū ay yaẓ-harụhu wa mastaṭā’ụ lahụ naqbā

97. Demikianlah [benteng itu dibangun, dan] musuh-musuh mereka98 tidak mampu untuk memanjatnya dan tidak pula mereka mampu untuk menembusnya.


98 Lit., “mereka”.


Surah Al-Kahfi Ayat 98

قَالَ هَٰذَا رَحْمَةٌ مِنْ رَبِّي ۖ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاءَ ۖ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا

qāla hāżā raḥmatum mir rabbī, fa iżā jā`a wa’du rabbī ja’alahụ dakkā`, wa kāna wa’du rabbī ḥaqqā

98. Kata [Raja itu], “Ini adalah belas kasih dari Pemeliharaku! Namun, apabila waktu yang ditentukan oleh Pemeliharaku telah tiba,99 Dia akan menjadikan [benteng] ini rata dengan tanah: dan janji dari Pemeliharaku selalu terlaksana!”100


99 Lit., “janji Pemeliharaku”.

100 Beberapa mufasir klasik (misalnya, Al-Thabari) menganggap hal itu sebagai ramalan tentang suatu peristiwa bersejarah yang nyata: yakni, munculnya suku-suku liar Ya’juj dan Ma’juj, yang diperkirakan identik dengan bangsa Mongol dan Tartar (lihat catatan no. 95). “Pengidentikan” ini terutama didasarkan pada sebuah hadis sahih—yang dicatat oleh Ibn Hanbal, Al-Bukhari, dan Muslim—yang meriwayatkan bahwa Rasul Allah itu mendapat suatu ramalan melalui mimpinya, yang kemudian pada saat terbangun, dia berseru penuh gundah mengenai mimpi itu: “Tiada tuhan kecuali Allah! Celaka-lah bangsa Arab akibat kemalangan yang tengah mendekat: sebuah celah kecil telah terbuka pada benteng Ya’juj dan Ma’juj hari ini!” Sudah sejak akhir Zaman Pertengahan, kaum Muslim cenderung menganggap mimpi ini sebagai ramalan invasi bangsa Mongol yang luar biasa pada abad ketiga belas, yang menghancurkan Kekhalifahan ‘Abbasiyyah dan, dengan demikian, berarti menghancurkan kekuasaan politik bangsa Arab. Namun, penyebutan “Hari” dalam ayat 99-101 surah ini—yakni Hari Pengadilan—dalam hubungannya dengan “Ya’juj dan Ma’juj” menunjukkan bahwa “waktu yang ditentukan oleh Pemeliharaku” berhubungan dengan datangnya Saat Terakhir ketika seluruh karya manusia akan dihancurkan. Namun, karena tidak satu pun penyebutan Al-Quran tentang “kedatangan” atau “telah dekatnya” Saat Terakhir memiliki kaitan dengan konsep manusia tentang waktu, mungkin saja untuk menerima kedua penafsiran di atas sebagai penafsiran yang sama-sama sahih dalam pengertian bahwa “kedatangan Saat Terakhir” mencakup suatu rentang waktu yang tidak terbatas—yang dalam ukuran manusia mungkin merupakan suatu rentang waktu yang amat sangat panjang—dan bahwa munculnya kekuatan tak bertuhan “Ya’juj dan Ma’juj” merupakan salah satu tanda datangnya Saat Akhir tersebut. Dan, pada akhirnya, yang paling logis (khususnya berdasarkan Surah Al-Anbiya’ [21]: 96-97) adalah berpandangan bahwa istilah “Ya’juj dan Ma’juj” semata-mata bersifat alegoris, yang tidak berkaitan dengan suku bangsa atau makhluk hidup tertentu, tetapi berhubungan dengan serangkaian malapetaka sosial yang akan menyebabkan kehancuran total peradaban manusia sebelum datangnya Saat Terakhir.


Surah Al-Kahfi Ayat 99

وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ يَمُوجُ فِي بَعْضٍ ۖ وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَجَمَعْنَاهُمْ جَمْعًا

wa taraknā ba’ḍahum yauma`iżiy yamụju fī ba’ḍiw wa nufikha fiṣ-ṣụri fa jama’nāhum jam’ā

99. DAN, PADA Hari itu,101 Kami akan [memanggil seluruh manusia dan] membiarkan mereka bergulung-gulung bagai ombak [yang saling menghantam] satu sama lain; dan sangkakala [pengadilan] akan ditiup, dan Kami akan mengumpulkan mereka semua.


101 Yakni, pada Hari Pengadilan yang disebut secara tidak langsung dalam ayat sebelumnya.


Surah Al-Kahfi Ayat 100

وَعَرَضْنَا جَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لِلْكَافِرِينَ عَرْضًا

wa ‘araḍnā jahannama yauma`iżil lil-kāfirīna ‘arḍā

100. Dan, pada Hari itu, Kami akan membentangkan neraka agar dapat dilihat oleh semua, di hadapan orang-orang yang mengingkari kebenaran—


Surah Al-Kahfi Ayat 101

الَّذِينَ كَانَتْ أَعْيُنُهُمْ فِي غِطَاءٍ عَنْ ذِكْرِي وَكَانُوا لَا يَسْتَطِيعُونَ سَمْعًا

allażīna kānat a’yunuhum fī giṭā`in ‘an żikrī wa kānụ lā yastaṭī’ụna sam’ā

101. mereka yang matanya telah ditutup untuk dapat rnengingat Aku karena mereka tidak tahan untuk mendengar [suara kebenaran]!


Surah Al-Kahfi Ayat 102

أَفَحَسِبَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ يَتَّخِذُوا عِبَادِي مِنْ دُونِي أَوْلِيَاءَ ۚ إِنَّا أَعْتَدْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ نُزُلًا

a fa ḥasiballażīna kafarū ay yattakhiżụ ‘ibādī min dụnī auliyā`, innā a’tadnā jahannama lil-kāfirīna nuzulā

102. Apakah mereka yang berkukuh mengingkari kebenaran itu, barangkali, mengira bahwa mereka dapat menjadikan [salah satu dari] makhluk-makhluk-Ku sebagai para pelindung melawan Aku?102 Sungguh, Kami telah menyiapkan neraka untuk menyambut semua orang yang [dengan berbuat demikian itu telah] mengingkari kebenaran!103


102 Ini tidak hanya menunjuk pada praktik pemujaan terhadap makhluk atau kekuatan-kekuatan alam, tetapi juga menunjuk pada kepercayaan populer bahwa para santo/wali (“orang-orang suci”), baik yang hidup maupun yang sudah mati, dapat “memberi syafaat” {yaitu menjadi perantara keselamatan—peny.} kepada Allah atas nama orang yang telah ditolak oleh Allah.

103 Yakni, [kebenaran] tentang keesaan dan keunikan Allah, dan karena itu pula [kebenaran tentang] kenyataan bahwa tidak satu pun makhluk atau wujud ciptaan yang dapat “memengaruhi” keputusan Allah.


Surah Al-Kahfi Ayat 103

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا

qul hal nunabbi`ukum bil-akhsarīna a’mālā

103. Katakanlah: “Maukah kami beri tahukan kepada kalian siapa yang paling merugi dalam segala perbuatannya?


Surah Al-Kahfi Ayat 104

الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

allażīna ḍalla sa’yuhum fil-ḥayātid-dun-yā wa hum yaḥsabụna annahum yuḥsinụna ṣun’ā

104. “Mereka [itulah] yang upayanya tersesat [hanya untuk mengejar] kehidupan dunia ini, sedangkan mereka mengira bahwa mereka melakukan perbuatan-perbuatan kebaikan:


Surah Al-Kahfi Ayat 105

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا

ulā`ikallażīna kafarụ bi`āyāti rabbihim wa liqā`ihī fa ḥabiṭat a’māluhum fa lā nuqīmu lahum yaumal-qiyāmati waznā

105. mereka itu lah yang telah memilih untuk mengingkari pesan-pesan Pemelihara mereka dan [mengingkari] kebenaran bahwa mereka telah ditetapkan untuk berjumpa dengan-Nya.”

Karena itu, semua perbuatan [baik] mereka itu menjadi sia-sia, dan tidak akan Kami timbang amalan mereka itu pada Hari Kebangkitan.104


104 Walaupun tiap-tiap perbuatan baik mereka akan diperhitungkan pada Hari Pengadilan, sejalan dengan pernyataan Al-Quran bahwa “siapa yang mengerjakan kebaikan seberat atom pun, niscaya dia akan melihatnya” (Surah Al-Zalzalah [99]: 7), ayat di atas menyiratkan bahwa kebaikan apa pun yang mungkin dilakukan para pendosa itu adalah jauh lebih ringan bobotnya dibandingkan dengan sikap tidak beriman mereka kepada Allah (Al-Qadhi ‘Iyadh, sebagaimana dikutip oleh Al-Razi).


Surah Al-Kahfi Ayat 106

ذَٰلِكَ جَزَاؤُهُمْ جَهَنَّمُ بِمَا كَفَرُوا وَاتَّخَذُوا آيَاتِي وَرُسُلِي هُزُوًا

żālika jazā`uhum jahannamu bimā kafarụ wattakhażū āyātī wa rusulī huzuwā

106. Itu akan menjadi ganjaran untuk mereka—neraka [bagi mereka]—karena mereka telah mengingkari kebenaran, serta menjadikan pesan-pesan-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai sasaran olok-olok mereka.


Surah Al-Kahfi Ayat 107

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا

innallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti kānat lahum jannātul-firdausi nuzulā

107. [Namun,] sungguh, adapun orang-orang yang telah meraih iman dan melakukan perbuatan-perbuatan kebajikan—taman-taman surga akan ada di sana untuk menyambut mereka;


Surah Al-Kahfi Ayat 108

خَالِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا

khālidīna fīhā lā yabgụna ‘an-hā ḥiwalā

108. di dalamnya mereka akan berkediaman, [dan] mereka tidak akan pernah ingin berpindah dari sana.


Surah Al-Kahfi Ayat 109

قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا

qul lau kānal-baḥru midādal likalimāti rabbī lanafidal-baḥru qabla an tanfada kalimātu rabbī walau ji`nā bimiṡlihī madadā

109. KATAKANLAH: “Seandainya seluruh lautan adalah tinta untuk kata-kata Pemeliharaku, niscaya akan habislah lautan itu sebelum habis kata-kata Pemeliharaku! Dan, [hal itu akan tetap demikian] meskipun Kami menambahkan kepadanya laut demi laut.”105


105 Lit., “seandainya Kami membuat hal yang serupa dengan itu (yakni laut] sebagai tambahan” {atau, “seandainya Kami menambahkan hal yang serupa dengan itu”—peny.}. Sebagaimana ditunjukkan Al-Zamakhsyari, perlu dicatat bahwa istilah al-bahr (“laut”) digunakan di sini dalam pengertian generik, yang mencakup semua laut yang ada: karenanya, ungkapan “yang serupa dengan itu” saya terjemahkan sebagai “laut demi laut”. (Lihat pula Surah Luqman [31]: 27.)


Surah Al-Kahfi Ayat 110

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

qul innamā ana basyarum miṡlukum yụḥā ilayya annamā ilāhukum ilāhuw wāḥid, fa mang kāna yarjụ liqā`a rabbihī falya’mal ‘amalan ṣāliḥaw wa lā yusyrik bi’ibādati rabbihī aḥadā

110. Katakanlah [wahai Nabi]: “Aku adalah sekadar manusia biasa seperti kalian semua. Telah diwahyukan kepadaku bahwa tuhan kalian adalah Tuhan Yang Esa. Karena itu, siapa yang menanti [dengan harap-harap cemas] untuk berjumpa dengan Pemeliharanya [pada Hari Pengadilan], hendaklah dia mengerjakan perbuatan kebajikan dan hendaklah dia tidak mempersekutukan dengan sesuatu apa pun atau dengan siapa pun dalam beribadah kepada Pemeliharanya!”


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top