72. Al-Jin (Makhluk-Makhluk yang Tidak Tampak) – الجن

Surat Al-Jin dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Jin ( الجن ) merupakan surat ke 72 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 28 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Al-Jin tergolong Surat Makkiyah.

Surah ini diwahyukan selama dua tahun terakhir sebelum Nabi hijrah dari Makkah. Namanya diambil dari nomina jamak al-jinn yang terdapat pada ayat pertama.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Jin Ayat 1

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا

qul ụḥiya ilayya annahustama’a nafarum minal-jinni fa qālū innā sami’nā qur`ānan ‘ajabā

1. KATAKANLAH: “Telah diwahyukan kepadaku bahwa sebagian dari makhluk yang tidak tampak telah mendengarkan [kitab Ilahi ini],1 dan kemudian berkata [kepada sesama mereka], “Sungguh, kami telah mendengar suatu bacaan yang menakjubkan,


1 Yakni, telah mendengar dan menerima-nya: dalam konteks di atas, itulah makna dari bentuk verbal istama’a.

Tentang berbagai makna yang dapat disandangkan kepada nomina jamak jinn (yang di sini saya terjemahkan menjadi “makhluk-makhluk tidak tampak”), lihat artikel Istilah dan Konsep Jin dalam Islam. Seperti dijelaskan di sana, kata jinn disebutkan Al-Quran dalam banyak pengertian. Pada beberapa contoh—misalnya, dalam ayat ini dan dalam Surah Al-Ahqaf [46]: 29-32—ungkapan ini mungkin berarti “makhluk-makhluk yang belum pernah terlihat hingga saat itu“, yakni, makhluk-makhluk asing yang tidak pernah dilihat sebelumnya oleh manusia yang kepada mereka Al-Quran diwahyukan pada waktu itu. Dari Surah Al-Ahqaf [46]: 30 (yang jelas-jelas berkaitan dengan peristiwa yang sama dengan yang di rujuk oleh surah ini), terungkaplah bahwa jinn yang sedang dibicarakan ini adalah para pengikut agama Nabi Musa, karena menyebut Al-Quran sebagai “sebuah Wahyu yang diturunkan setelah [wahyu] Musa”, jadi jelas-jelas tidak menyebutkan nabi lain yang menyelanya, yakni Nabi Isa a.s., dan (dalam ayat 3 surah ini) juga nyata-nyata menekankan penolakan mereka terhadap konsep trinitas dalam agama Kristen. Semua ini mendorong kita berasumsi bahwa mereka mungkin adalah orang-orang Yahudi yang berasal dari wilayah-wilayah yang jauh dari apa yang sekarang mencakup dunia Arab, mungkin dari Suriah atau bahkan Mesopotamia. (Di beberapa tempat, Al-Thabari menyebutkan bahwa jinn yang disebutkan dalam surah ini serta dalam Surah Al-Ahqaf [46]: 29 dst. berasal dari Nashibin, sebuah kota di dataran tinggi Efrat.) Namun, saya ingin menekankan bahwa penjelasan saya mengenai ayat ini sepenuhnya bersifat tentatif.


Surah Al-Jin Ayat 2

يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ ۖ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا

yahdī ilar-rusydi fa āmannā bih, wa lan nusyrika birabbinā aḥadā

2. yang memberi petunjuk menuju kesadaran terhadap apa yang benar; maka, akhirnya kami beriman kepadanya. Dan, kami tidak akan pernah menisbahkan ketuhanan kepada siapa pun di samping Pemelihara kami,


Surah Al-Jin Ayat 3

وَأَنَّهُ تَعَالَىٰ جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا

wa annahụ ta’ālā jaddu rabbinā mattakhaża ṣāḥibataw wa lā waladā

3. karena [kami mengetahui] bahwasanya kemuliaan Pemelihara kami Mahatinggi: tidak pernah Dia mengambil pasangan bagi Diri-Nya, tidak pula seorang putra!


Surah Al-Jin Ayat 4

وَأَنَّهُ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى اللَّهِ شَطَطًا

wa annahụ kāna yaqụlu safīhunā ‘alallāhi syaṭaṭā

4. “‘Dan [kini, kami mengetahui] bahwa yang bodoh di antara kami biasa mengatakan hal-hal yang sangat menghina tentang Allah,2


2 Jika kita menerima anggapan bahwa makhluk-makhluk yang dibicarakan di sini adalah orang-orang asing Yahudi, “hal-hal yang sangat menghina” (syathath) yang mereka sebutkan tampaknya mengacu pada keyakinan mendalam orang-orang Yahudi bahwa mereka adalah “umat pilihan Tuhan”—suatu kepercayaan yang terus-menerus ditolak Al-Quran dan yang sekarang, setelah memeluk Islam, telah mereka tanggalkan.


Surah Al-Jin Ayat 5

وَأَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَنْ تَقُولَ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا

wa annā ẓanannā al lan taqụlal-insu wal-jinnu ‘alallāhi każibā

5. dan bahwa [kami keliru ketika] kami menyangka bahwa baik manusia maupun kekuatan-kekuatan gaib [mana pun] sama sekali tidak akan berdusta tentang Allah.3


3 Dalam ayat ini dan ayat berikutnya, kata jinn (yang di sini diterjemahkan menjadi “kekuatan-kekuatan gaib”) jelas menunjuk pada apa yang digambarkan sebagai “kekuatan-kekuatan klenik” atau, bahkan, pada keasyikan seseorang dengan kekuatan-kekuatan tersebut (Ii hat artikel Istilah dan Konsep Jin dalam Islam). Terlepas apakah “kekuatan-kekuatan” ini bersifat nyata atau semata-mata merupakan ciptaan imajinasi manusia, mereka “berdusta tentang Allah” karena mereka mendorong para pengikutnya untuk membuat-buat berbagai macam gagasan khayal dan arbitrer mengenai “hakikat” Wujud-Nya dan hubungan-hubungan-Nya dengan alam semesta yang semuanya merupakan dugaan semata: gagasan-gagasan ini misalnya terdapat dalam semua agama-misteri, dalam berbagai sistem gnostik dan teosofi, dalam gerakan keagamaan-mistik Yahudi (qabbalah), dan dalam berbagai turunan dari masing-masing aliran itu yang bermunculan pada Abad Pertengahan.


Surah Al-Jin Ayat 6

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

wa annahụ kāna rijālum minal-insi ya’ụżụna birijālim minal-jinni fa zādụhum rahaqā

6. Namun, [selalu saja terjadi] bahwa segolongan manusia tertentu akan mencari perlindungan kepada jenis-jenis kekuatan gaib tertentu [semacam itu]:4 tetapi ini hanyalah menambah kebingungan mereka—


4 Lit., “laki-laki (rijal) dari kalangan manusia itu biasanya (kana) mencari perlindungan kepada laki-laki dari kalangan jinn“. Karena penyebutan “manusia” (al-ins) berlaku bagi laki-laki dan perempuan, ungkapan rijal di sini jelas-jetas digunakan—sebagaimana sering kali digunakan Al-Quran—dalam pengertian “beberapa orang” atau orang-orang “tertentu”. “Mencari perlindungan” adalah sinonim dari mencari pertolongan, penjagaan, atau pemenuhan kebutuhan-kebutuhan fisik atau spiritual; dalam konteks ayat di atas, hal ini jelas-jelas mengacu pada harapan “manusia-manusia tertentu” agar kekuatan-kekuatan klenik yang menjadi tempat mereka berpaling akan berhasil membimbing mereka melalui kehidupan ini dan, dengan demikian, mereka tidak perlu menanti kedatangan seorang nabi baru.


Surah Al-Jin Ayat 7

وَأَنَّهُمْ ظَنُّوا كَمَا ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَبْعَثَ اللَّهُ أَحَدًا

wa annahum ẓannụ kamā ẓanantum al lay yab’aṡallāhu aḥadā

7. sedemikian bingungnya sehingga mereka akhirnya menyangka, sebagaimana kalian [pernah] menyangka, bahwa Allah tidak akan pernah mengutus [lagi] seorang pun [sebagai rasul-Nya].5


5 Demikianlah Al-Thabari (berdasarkan riwayat dari Al-Kalbi) dan Ibn Katsir. Mayoritas orang Yahudi yakin bahwa tidak ada lagi nabi yang akan diutus setelah nabi-nabi yang disebutkan secara eksplisit dalam Perjanjian Lama: inilah alasan mengapa mereka menolak Nabi Isa a.s. dan, tentu saja, Nabi Muhammad Saw., dan mengapa mereka “menjangkau langit” (lihat ayat berikutnya) dalam rangka memperoleh pengetahuan langsung mengenai rencana penciptaan yang dilakukan Tuhan.


Surah Al-Jin Ayat 8

وَأَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاءَ فَوَجَدْنَاهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيدًا وَشُهُبًا

wa annā lamasnas-samā`a fa wajadnāhā muli`at ḥarasan syadīdaw wa syuhubā

8. “‘Dan [lalu terjadilah] bahwa kami menjangkau langit:6 tetapi kami mendapatinya dipenuhi dengan penjagaan yang kuat dan nyala api,7


6 Ini dapat dipahami sebagai mengacu bukan hanya, secara metafora, pada keyakinan arogan orang-orang Yahudi sebagai “umat pilihan Tuhan”, melainkan juga, lebih faktual lagi, pada kecenderungan—dan praktik—lama mereka untuk menekuni astrologi sebagai sarana untuk meramalkan masa depan. Terlepas dari hal ini—dan dalam pengertian yang lebih umum—”menjangkau langit” mungkin merupakan suatu gambaran metaforis mengenai keadaan pikiran yang menyebabkan manusia menganggap dirinya “serbacukup” dan menipu dirinya sendiri dengan berpikir bahwa dia pasti mampu menguasai takdirnya sendiri.

7 Lihat catatan no. 16 dan 17 pada Surah Al-Hijr [15]: 17-18.


Surah Al-Jin Ayat 9

وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ ۖ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الْآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَصَدًا

wa annā kunnā naq’udu min-hā maqā’ida lis-sam’, fa may yastami’il-āna yajid lahụ syihābar raṣadā

9. padahal kami telah menduduki tempat-tempat [yang kami kira sangat tepat] untuk mendengarkan [rahasia apa pun yang mungkin ada di dalam]-nya:8 dan siapa saja yang kini [atau kapan pun] mencoba mendengarkan akan mendapati [pula] nyala api yang menunggunya!9


8 Yakni, “kami gagal, terlepas dari status kami sebagai keturunan Ibrahim, dan terlepas dari segala kemampuan dan ilmu kami”.

9 Sebagaimana diperlihatkan oleh rangkaian ayat ini (dan sebagaimana telah ditunjukkan pada catatan no. 17 dalam Surah Al-Hijr [15]: 18), hal ini berkaitan dengan segala upaya untuk meramalkan masa depan melalui sarana astrologi atau kalkulasi esoteris, atau untuk memengaruhi jalannya peristiwa-peristiwa pada masa yang akan datang dengan bantuan “ilmu-ilmu klenik”.


Surah Al-Jin Ayat 10

وَأَنَّا لَا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا

wa annā lā nadrī asyarrun urīda biman fil-arḍi am arāda bihim rabbuhum rasyadā

10. “‘Dan [kini, kami akhirnya menyadari] bahwa kami [para makhluk] tidak dapat mengetahui apakah nasib buruk yang dikehendaki bagi [siapa pun di antara] mereka yang hidup di muka bumi, atau apakah Pemelihara mereka berkehendak untuk menganugerahi mereka dengan kesadaran terhadap apa yang benar:10


10 Jadi, sebagaimana disebutkan dalam ayat 2 dan 21 surah ini, “kesadaran terhadap apa yang benar” (rasyad atau rusyd) disamakan dengan lawan dari nasib buruk, yakni kebahagiaan.


Surah Al-Jin Ayat 11

وَأَنَّا مِنَّا الصَّالِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَٰلِكَ ۖ كُنَّا طَرَائِقَ قِدَدًا

wa annā minnaṣ-ṣāliḥụna wa minnā dụna żālik, kunnā ṭarā`iqa qidadā

11. sebagaimana halnya [kami tidak mengetahui bagaimana bisa terjadi bahwa] sebagian dari antara kami adalah saleh, sedangkan sebagian dari kami [jauh] di bawah itu: kami selalu menempuh jalan-jalan yang amat berbeda.


Surah Al-Jin Ayat 12

وَأَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَنْ نُعْجِزَ اللَّهَ فِي الْأَرْضِ وَلَنْ نُعْجِزَهُ هَرَبًا

wa annā ẓanannā al lan nu’jizallāha fil-arḍi wa lan nu’jizahụ harabā

12. “‘Dan, meskipun begitu, kami akhirnya mengetahui bahwa kami tidak pernah akan dapat mengelak dari Allah [selama kami hidup] di muka bumi, dan bahwa kami tidak dapat mengelak dari-Nya dengan melarikan diri [dari kehidupan].


Surah Al-Jin Ayat 13

وَأَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدَىٰ آمَنَّا بِهِ ۖ فَمَنْ يُؤْمِنْ بِرَبِّهِ فَلَا يَخَافُ بَخْسًا وَلَا رَهَقًا

wa annā lammā sami’nal-hudā āmannā bih, fa may yu`mim birabbihī fa lā yakhāfu bakhsaw wa lā rahaqā

13. Karena itu, segera setelah mendengar [seruan kepada] petunjuk-Nya ini, kami pun beriman kepada-Nya: dan orang yang beriman kepada Pemeliharanya, sekali-kali tidak perlu takut akan kerugian atau ketidakadilan.


Surah Al-Jin Ayat 14

وَأَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُونَ وَمِنَّا الْقَاسِطُونَ ۖ فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُولَٰئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا

wa annā minnal-muslimụna wa minnal-qāsiṭụn, fa man aslama fa ulā`ika taḥarrau rasyadā

14. “‘Namun, [memang benar] bahwa di antara kami ada yang telah berserah diri kepada Allah—sebagaimana ada di antara kami yang telah menelantarkan dirinya sendiri ke dalam kezaliman. Adapun orang-orang yang berserah diri kepada-Nya—mereka itulah orang-orang yang telah meraih kesadaran terhadap apa yang benar;


Surah Al-Jin Ayat 15

وَأَمَّا الْقَاسِطُونَ فَكَانُوا لِجَهَنَّمَ حَطَبًا

wa ammal-qāsiṭụna fa kānụ lijahannama ḥaṭabā

15. tetapi, orang-orang yang menelantarkan dirinya sendiri ke dalam kezaliman—mereka benar-benar hanya menjadi bahan bakar bagi [api] neraka!’”11


11 Menurut semua mufasir klasik, dengan pernyataan ini, berakhirlah “pengakuan iman” oleh makhluk-makhluk yang pada bagian awal surah ini digambarkan sebaga jinn. Apa pun makna sebenarnya dari istilah ini dalam ayat di atas—apakah ia berarti “makhluk-makhluk tak tampak” yang hakikatnya tidak diketahui manusia, atau kemungkinan ia merujuk pada sekelompok manusia dari negeri-negeri yang jauh—tidaklah terlalu berarti, karena konteks pasase ini menjelaskan dengan amat terang bahwa “ucapan” makhluk-makhluk tersebut tidak lain merupakan perumpamaan mengenai petunjuk yang ditawarkan Al-Quran kepada pikiran yang hendak meraih “kesadaran terhadap apa yang benar.”


Surah Al-Jin Ayat 16

وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا

wa al lawistaqāmụ ‘alaṭ-ṭarīqati la`asqaināhum mā`an gadaqā

16. MAKA, [KETAHUILAH] bahwa jika mereka [yang telah mendengar seruan Kami] tetap teguh pada jalan [yang lurus], Kami pasti akan mencurahkan kepada Mereka karunia yang berlimpah,12


12 Lit., “air yang berlimpah”: ini merupakan kiasan bagi kebahagiaan, yang menggemakan kembali ungkapan alegoris—yang sering terdapat dalam Al-Quran—”aliran sungai-sungai” surgawi (Abu Muslim, dikutip oleh Al-Razi).


Surah Al-Jin Ayat 17

لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَمَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا

linaftinahum fīh, wa may yu’riḍ ‘an żikri rabbihī yasluk-hu ‘ażāban ṣa’adā

17. guna menguji mereka melalui cara ini: sebab, orang yang berpaling dari mengingat Pemeliharanya, orang itu akan Dia jadikan menjalani penderitaan yang sangat pedih.13


13 Yakni, limpahan rahmat Tuhan tidak hanya merupakan “imbalan” bagi kebajikan, namun, sebaliknya, merupakan ujian bagi manusia, apakah ia tetap sadar akan Allah dan karena itu bersyukur kepada-Nya.


Surah Al-Jin Ayat 18

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

wa annal-masājida lillāhi fa lā tad’ụ ma’allāhi aḥadā

18. Dan [ketahuilah] bahwa semua ibadah itu14 adalah hak Allah [saja]: karena itu, janganlah kalian menyeru siapa pun di samping Allah!


14 Lit., “tempat-tempat ibadah” (al-masajid): yakni, ibadah itu sendiri.


Surah Al-Jin Ayat 19

وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا

wa annahụ lammā qāma ‘abdullāhi yad’ụhu kādụ yakụnụna ‘alaihi libadā

19. Namun [demikianlah,] bahwasanya setiap kali seorang hamba Allah berdiri berdoa kepada-Nya, mereka [yang berkukuh mengingkari kebenaran] akan senang mengelilinginya dengan kerumunan mereka.15


15 Lit., “nyaris ada di atasnya dalam kerumunan (libad; tunggal: libdah)”—yaitu, dengan maksud “menghilangkan cahaya [petunjuk] Allah” (Al-Thabari, yang tampaknya secara tidak langsung mengacu pada Surah At-Taubah [9]: 32). Kebanyakan mufasir berpendapat bahwa ayat di atas merujuk pada Nabi Muhammad Saw. dan pada permusuhan yang ditunjukkan kepadanya oleh kaumnya yang musyrik. Meskipun pertama-tama memang boleh jadi demikianlah halnya, jelaslah bahwa pasase tersebut memiliki makna yang umum pula, yakni secara tidak langsung berbicara mengenai permusuhan yang ditunjukkan oleh mayoritas manusia, sepanjang masa dan dalam semua masyarakat, terhadap kelornpok minoritas atau terhadap seorang individu yang gigih mempertahankan tegaknya kebenaran moral yang teramat jelas, tetapi tidak populer. (Agar dapat dipahami sepenuhnya, ayat di atas hendaknya dibaca bersamaan dengan Surah Maryam [19]: 73-74 dan catatan-catatannya yang terkait.


Surah Al-Jin Ayat 20

قُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا

qul innamā ad’ụ rabbī wa lā usyriku bihī aḥadā

20. Katakanlah: “Aku hanya berdoa menyeru Pemeliharaku, karena aku tidak menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Dia.”


Surah Al-Jin Ayat 21

قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا

qul innī lā amliku lakum ḍarraw wa lā rasyadā

21. Katakanlah: “Sungguh, aku tidak kuasa menimbulkan kemudaratan bagimu atau memberikan kepadamu kesadaran terhadap apa yang benar.”


Surah Al-Jin Ayat 22

قُلْ إِنِّي لَنْ يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا

qul innī lay yujīranī minallāhi aḥaduw wa lan ajida min dụnihī multaḥadā

22. Katakanlah: “Sungguh, tidak seorang pun dapat melindungiku dari Allah, tidak pula aku dapat menemukan tempat untuk bersembunyi dari-Nya


Surah Al-Jin Ayat 23

إِلَّا بَلَاغًا مِنَ اللَّهِ وَرِسَالَاتِهِ ۚ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا

illā balāgam minallāhi wa risālātih, wa may ya’ṣillāha wa rasụlahụ fa inna lahụ nāra jahannama khālidīna fīhā abadā

23. jika aku gagal menyampaikan16 [kepada dunia, pencerahan apa saja yang datang kepadaku] dari Allah dan pesan-pesan-Nya.”

Adapun orang-orang yang menentang Allah dan rasul-Nya—sungguh, api neraka menantinya, berkediaman di dalamnya melampaui hitungan waktu.17


16 Lit., “kecuali melalui sebuah pemberitahuan” (illa balaghan). Namun, dalam ayat ini, partikel illa jelas merupakan penyingkatan dari in la (“jika tidak”): dengan demikian, frasa di atas berarti “jika aku tidak [atau ‘seandainya aku gagal’] menyampaikan …” dan seterusnya (Al-Thabari, Al-Zamakhsyari, Al-Razi).

17 Ini jelas-jelas berkaitan dengan “orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran”—yakni, yang melakukannya secara sadar—dan dengan demikian merusak identitas spiritual mereka sendiri. Orang-orang yang disinggung dalam ayat ini adalah mereka yang “akan senang mengelilinginya dengan kerumunan mereka” (ayat 19).


Surah Al-Jin Ayat 24

حَتَّىٰ إِذَا رَأَوْا مَا يُوعَدُونَ فَسَيَعْلَمُونَ مَنْ أَضْعَفُ نَاصِرًا وَأَقَلُّ عَدَدًا

ḥattā iżā ra`au mā yụ’adụna fa saya’lamụna man aḍ’afu nāṣiraw wa aqallu ‘adadā

24. [Maka, biarlah mereka menunggu] hingga tiba saatnya mereka menyaksikan [malapetaka] yang diancamkan kepada mereka:18 sebab, pada saat itulah mereka akan memahami [golongan manusia] yang mana yang lebih tidak berdaya dan lebih tidak berharga!19


18 Yakni, pada Hari Pengadilan. Bdk. paragraf kedua pada Surah Maryam [19]: 75, yang diungkapkan dengan cara yang sama.

19 Lit., “lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit jumlahnya”—maksudnya, kurang berarti meskipun jumlahnya lebih besar.


Surah Al-Jin Ayat 25

قُلْ إِنْ أَدْرِي أَقَرِيبٌ مَا تُوعَدُونَ أَمْ يَجْعَلُ لَهُ رَبِّي أَمَدًا

qul in adrī a qarībum mā tụ’adụna am yaj’alu lahụ rabbī amadā

25. Katakanlah: “Aku tidak tahu apakah [malapetaka] yang telah diperingatkan kepada kalian itu dekat, ataukah Pemeliharaku menetapkan baginya masa yang masih lama.”


Surah Al-Jin Ayat 26

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا

‘ālimul-gaibi fa lā yuẓ-hiru ‘alā gaibihī aḥadā

26. [Hanya] Dia yang mengetahui apa yang berada di luar jangkauan pemahaman makhluk, dan Dia tidak mengungkapkan kepada siapa pun misteri pengetahuan-Nya yang tidak terduga,20


20 Kata ganti milik “Nya” dalam frasa ‘ala ghaibihi jelas menunjukkan pengetahuan khusus Allah mengenai “apa-apa yang melampaui pemahaman makhluk mana pun” (al-ghaib): demikianlah penerjemahan secara agak bebas dari frasa yang benar-benar tidak dapat diterjemahkan itu.


Surah Al-Jin Ayat 27

إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

illā manirtaḍā mir rasụlin fa innahụ yasluku mim baini yadaihi wa min khalfihī raṣadā

27. kecuali kepada seorang rasul yang Dia pilih dengan ridha [untuk itu]:21 dan kemudian, Dia mengutus [kekuatan-kekuatan samawi] untuk mengawasinya dalam hal apa saja yang terbentang di hadapannya dan dalam apa saja yang berada di luar pengetahuannya22


21 Bdk. Surah Alu ‘lmran [3]: 179—”Dan, bukanlah kehendak Allah memberi kalian pengetahuan tentang hal yang berada di luar jangkauan persepsi manusia: namun [untuk itu,] Allah memilih siapa saja yang Dia kehendaki di antara rasul-rasul-Nya”.

22 Untuk penjelasan mengenai penerjemahan frasa min baini yadaihi wa min khalfihi (lit., “dari antara kedua tangannya dan dari belakangnya”), lihat catatan no. 247 pada Surah Al-Baqarah [2]: 255. Dalam konteks ini, maksud frasa tersebut adalah demikian: kenyataan bahwa seorang rasul dianugerahi wahyu Ilahi itu sendiri sudah menunjukkan bahwa dia mendapatkan perlindungan—secara spiritual—dalam seluruh urusan hidupnya, terlepas dari apakah urusan-urusan ini tampak jelas baginya atau berada di luar pengetahuannya.


Surah Al-Jin Ayat 28

لِيَعْلَمَ أَنْ قَدْ أَبْلَغُوا رِسَالَاتِ رَبِّهِمْ وَأَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ وَأَحْصَىٰ كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا

liya’lama ang qad ablagụ risālāti rabbihim wa aḥāṭa bimā ladaihim wa aḥṣā kulla syai`in ‘adadā

28. agar menjadi nyata bahwa sesungguhnya [tidak lain hanya] pesan-pesan pemelihara merekalah yang disampaikan oleh [rasul-rasul] itu: sebab, Dia-lah yang meliputi [dengan ilmu-Nya] segala sesuatu yang harus [mereka katakan],23 sebagaimana Dia memperhitungkan, satu per satu, segala sesuatu [yang ada].


23 Lit., “segala yang ada pada mereka”, yakni, pengetahuan dan hikmah.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top