45. Al-Jatsiyah (Berlutut) – الجاثية

Surat Al-Jatsiyah dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Jatsiyah ( الجاثية ) merupakan surat ke 45 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 37 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Al-Jatsiyah tergolong Surat Makkiyah.

Nama surah ini—yang diwahyukan segera setelah Surah Ad-Dukhan—didasarkan pada kata yang terdapat dalam ayat 28 dan merujuk kepada sikap tunduk yang akan diperlihatkan oleh semua manusia saat menghadapi, pada Hari Kebangkitan, pengadilan akhir mereka.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Jatsiyah Ayat 1

حم

ḥā mīm

1. Ha. Mim.1


1 Lihat artikel Al-Muqatta’at (Huruf-Huruf Terpisah) dalam Al-Qur’an.


Surah Al-Jatsiyah Ayat 2

تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

tanzīlul-kitābi minallāhil-‘azīzil-ḥakīm

2. TURUNNYA kitab Ilahi ini berasal dari Allah, Yang Mahaperkasa, Yang Mahabijaksana.


Surah Al-Jatsiyah Ayat 3

إِنَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِلْمُؤْمِنِينَ

inna fis-samāwāti wal-arḍi la`āyātil lil-mu`minīn

3. Perhatikanlah, di lelangit serta di muka bumi benar-benar terdapat pesan-pesan bagi semua orang yang [mau] beriman.2


2 Bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 164, yang di dalamnya istilah ayat saya terjemahkan seperti di atas, karena tanda-tanda kasatmata yang menunjuk pada adanya Kekuatan kreatif yang sadar mengandung suatu pesan spiritual bagi manusia.


Surah Al-Jatsiyah Ayat 4

وَفِي خَلْقِكُمْ وَمَا يَبُثُّ مِنْ دَابَّةٍ آيَاتٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

wa fī khalqikum wa mā yabuṡṡu min dābbatin āyātul liqaumiy yụqinụn

4. Dan dalam wujud diri kalian sendiri, dan dalam [wujud] segala binatang yang Dia sebarkan [di muka bumi] terdapat pesan-pesan bagi orang-orang yang dianugerahi keteguhan batin.3


3 Bdk. Surah Al-A’raf [7]: 185 dan catatan no. 151 yang terkait.

Struktur rumit tubuh manusia dan hewan, serta naluri untuk mempertahankan-hidup yang dianugerahkan kepada semua makhluk hidup, menunjukkan betapa mustahilnya untuk berasumsi bahwa semua ini berkembang “secara kebetulan”; dan jika kita berasumsi, sebagaimana sudah seharusnya, bahwa ada maksud kreatif yang mendasari perkembangan ini, kita mesti berkesimpulan juga bahwa hal itu memang dikehendaki oleh suatu Kekuatan yang sadar yang menciptakan semua fenomena alam “sesuai dengan suatu kebenaran hakiki” (lihat catatan no. 11 pada Surah Yunus [10]: 5).


Surah Al-Jatsiyah Ayat 5

وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ رِزْقٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ آيَاتٌ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

wakhtilāfil-laili wan-nahāri wa mā anzalallāhu minas-samā`i mir rizqin fa aḥyā bihil-arḍa ba’da mautihā wa taṣrīfir-riyāḥi āyātul liqaumiy ya’qilụn

5. Dan dalam peralihan malam dan siang, dan dalam jalan-jalan rezeki4 yang Allah turunkan dari langit, yang dengan demikian memeberi kehidupan kepada bumi sesudah dahulunya ia mati, dan dalam perubahan angin: [dalam semua (peristiwa) ini] terdapat pesan-pesan bagi orang-orang yang menggunakan akalnya.


4 Yakni, hujan, yang dalam Al-Quran sering kali dikaitkan dengan konotasi simbolik berupa rahmat fisik dan spiritual.


Surah Al-Jatsiyah Ayat 6

تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ ۖ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآيَاتِهِ يُؤْمِنُونَ

tilka āyātullāhi natlụhā ‘alaika bil-ḥaqq, fa bi`ayyi ḥadīṡim ba’dallāhi wa āyātihī yu`minụn

6. Pesan-pesan Allah ini Kami sampaikan kepadamu, (pesan-pesan) yang menyatakan kebenaran. Lalu, kepada berita apa lagi, jika bukan kepada pesan-pesan Allah,5 mereka akan beriman?


5 Lit., “kepada berita apa setelah Allah dan pesan-pesanNya”.


Surah Al-Jatsiyah Ayat 7

وَيْلٌ لِكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ

wailul likulli affākin aṡīm

7. Celakalah setiap penipu-diri yang dipenuhi dosa,6


6 Istilah affak, yang secara harfiah berarti “pendusta”—dan khususnya, orang “yang terbiasa berdusta”—di sini memiliki pengertian “seseorang yang mendustai dirinya sendiri” karena dia ma’fuk, yakni, “akal dan penilaiannya menyimpang” (Jauhari).


Surah Al-Jatsiyah Ayat 8

يَسْمَعُ آيَاتِ اللَّهِ تُتْلَىٰ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصِرُّ مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا ۖ فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

yasma’u āyātillāhi tutlā ‘alaihi ṡumma yuṣirru mustakbirang ka`al lam yasma’hā, fa basysyir-hu bi’ażābin alīm

8. yang mendengar pesan-pesan Allah ketika disampaikan kepadanya, namun berkukuh dalam sikapnya yang meremehkan lagi angkuh, seolah-olah dia belum pernah mendengar pesan-pesan itu!

Maka, beritahukanlah kepadanya penderitaan yang pedih—


Surah Al-Jatsiyah Ayat 9

وَإِذَا عَلِمَ مِنْ آيَاتِنَا شَيْئًا اتَّخَذَهَا هُزُوًا ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

wa iżā ‘alima min āyātinā syai`anittakhażahā huzuwā, ulā`ika lahum ‘ażābum muhīn

9. karena tatkala dia kemudian mengetahui pesan-pesan Kami yang man pun, dia menjadikannya sasaran ejekannya!

Bagi orang-orang seperti itu, tersedia derita yang hina.


Surah Al-Jatsiyah Ayat 10

مِنْ وَرَائِهِمْ جَهَنَّمُ ۖ وَلَا يُغْنِي عَنْهُمْ مَا كَسَبُوا شَيْئًا وَلَا مَا اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

miw warā`ihim jahannam, wa lā yugnī ‘an-hum mā kasabụ syai`aw wa lā mattakhażụ min dụnillāhi auliyā`, wa lahum ‘ażābun ‘aẓīm

10. Neraka ada di hadapan mereka; dan segala yang mungkin telah mereka peroleh [di dunia ini] sama sekali tidak akan berguna bagi mereka, dan tidak pula (berguna) apa pun yang kemudian mereka anggap sebagai pelindung mereka7 selain Allah: sebab, penderitaan yang dahsyat menanti mereka.


7 Yakni, apa pun yang mungkin mereka anggap memiliki pengaruh semi-Ilahi terhadap kehidupan mereka, baik dalam bentuk tuhan-tuhan maupun nilai-nilai batil, misalnya kekayaan, kekuasaan, status sosial, dan lain-lain.


Surah Al-Jatsiyah Ayat 11

هَٰذَا هُدًى ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَهُمْ عَذَابٌ مِنْ رِجْزٍ أَلِيمٌ

hāżā hudā, wallażīna kafarụ bi`āyāti rabbihim lahum ‘ażābum mir rijzin alīm

11. Inilah [makna] petunjuk [yaitu, untuk memperhatikan tanda-tanda dan pesan-pesan Allah]; di sisi lain,8 bagi mereka yang berkukuh mengingkari kebenaran pesan-pesan Pemelihara mereka, tersedia penderitaan yang pedih sebagai akibat dari kekejian [mereka].9


8 Lit., “dan” atau “tetapi”.

9 Untuk penjelasan mengenai penerjemahan min rijzin ini, lihat catatan no. 4 pada Surah Saba’ [34]: 5.


Surah Al-Jatsiyah Ayat 12

اللَّهُ الَّذِي سَخَّرَ لَكُمُ الْبَحْرَ لِتَجْرِيَ الْفُلْكُ فِيهِ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

allāhullażī sakhkhara lakumul-baḥra litajriyal-fulku fīhi bi`amrihī wa litabtagụ min faḍlihī wa la’allakum tasykurụn

12. ALLAH-LAH yang telah menjadikan lautan tunduk [kepada hukum-hukum-Nya, sehingga membawa manfaat] bagi kalian10—sehingga kapal-kapal dapat berlayar melalui lautan itu atas perintah-Nya, dan agar kalian dapat mencari [apa yang kalian butuhkan] dari karunia-Nya, dan agar kalian bersyukur.


10 Mengenai alasan bagi sisipan di atas, lihat Surah Ibrahim [14], catatan no. 46.


Surah Al-Jatsiyah Ayat 13

وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

wa sakhkhara lakum mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍi jamī’am min-h, inna fī żālika la`āyātil liqaumiy yatafakkarụn

13. Dan, Dia menundukkan bagi kalian, [sebagai pemberian] dari-Nya, segala yang ada di lelangit dan di muka bumi:11 perhatikanlah, dalam yang demikian ini sungguh terdapat pesan-pesan bagi orang-orang yang berpikir!


11 Yakni, dengan menganugerahkan kepada manusia, dan hanya kepada manusia, pikiran kreatif dan, dengan demikian, kemampuan untuk secara sadar memanfaatkan alam yang ada di sekelilingnya dan dalam dirinya.


Surah Al-Jatsiyah Ayat 14

قُلْ لِلَّذِينَ آمَنُوا يَغْفِرُوا لِلَّذِينَ لَا يَرْجُونَ أَيَّامَ اللَّهِ لِيَجْزِيَ قَوْمًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

qul lillażīna āmanụ yagfirụ lillażīna lā yarjụna ayyāmallāhi liyajziya qaumam bimā kānụ yaksibụn

14. Katakanlah kepada orang-orang yang telah meraih iman agar mereka memaafkan orang-orang yang tidak percaya akan datangnya Hari-Hari Allah,12 [karena] bagi-Nya [sajalah] (hak) untuk memberikan balasan kepada suatu kaum atas apa pun yang telah mereka usahakan.


12 Lit., “orang yang tidak mengharapkan [yakni, menduga] Hari-Hari Allah”; ini mengisyaratkan bahwa mereka tidak memercayainya. Tentang makna “Hari-Hari Allah” lihat Surah Ibraim [14], catatan no. 5.


Surah Al-Jatsiyah Ayat 15

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۖ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ

man ‘amila ṣāliḥan fa linafsih, wa man asā`a fa ‘alaihā ṡumma ilā rabbikum turja’ụn

15. Siapa saja yang mengerjakan hal-hal yang pantas dan benar, maka dia melakukannya demi kebaikannya sendiri; dan siapa saja yang berbuat jahat, maka dia menimpakan derita pada dirinya sendiri: dan pada akhirnya, kepada Pemelihara kalianlah, kalian akan dikembalikan.


Surah Al-Jatsiyah Ayat 16

وَلَقَدْ آتَيْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

wa laqad ātainā banī isrā`īlal-kitāba wal-ḥukma wan-nubuwwata wa razaqnāhum minaṭ-ṭayyibāti wa faḍḍalnāhum ‘alal-‘ālamīn

16. DAN, SESUNGGUHNYA, [bahkan] kepada Bani Israil [telah] Kami berikan wahyu, hikmah, dan kenabian;13 dan telah Kami berikan kepada mereka rezeki dari hal yang baik-baik dalam kehidupan, dan telah Kami utamakan mereka di atas bangsa-bangsa lain [pada masanya].14


13 Yakni, secara tersirat, “dengan cara dan tujuan yang sama sebagaimana Kami sekarang menurunkan wahyu Al-Quran ini”—dengan demikian, menekankan fakta kesinambungan semua wahyu Ilahi.

14 Yakni, karena pada waktu itu hanya merekalah umat yang benar-benar monoteistik (bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 47).


Surah Al-Jatsiyah Ayat 17

وَآتَيْنَاهُمْ بَيِّنَاتٍ مِنَ الْأَمْرِ ۖ فَمَا اخْتَلَفُوا إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ رَبَّكَ يَقْضِي بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

wa ātaināhum bayyinātim minal-amr, fa makhtalafū illā mim ba’di mā jā`ahumul-‘ilmu bagyam bainahum, inna rabbaka yaqḍī bainahum yaumal-qiyāmati fīmā kānụ fīhi yakhtalifụn

17. Dan, telah Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas tentang tujuan [iman];15 dan baru setelah semua pengetahuan ini diberikan kepada merekalah, mereka, karena perasaan saling iri hati, mulai berselisih pandangan:16 [akan tetapi,] sungguh, Pemeliharamu akan memutuskan di antara mereka pada Hari Kebangkitan tentang segala hal yang dahulu biasa mereka perselisihkan.


15 Menurut saya, inilah makna frasa min al-amri dalam konteks di atas, meskipun kebanyakan mufasir klasik berpendapat bahwa amr di sini berarti “agama” (din, religion) dan, akhirnya, menafsirkan keseluruhan frasa itu menjadi “apa pun yang berkenaan dengan agama”. Namun, karena semua makna yang mungkin terkandung dalam istilah amr—misalnya, “perintah”, “keputusan”, “peraturan”, “masalah”, “peristiwa”, “tindakan”, dst.—dicirikan oleh satu hal yang sama, yakni adanya unsur maksud/tujuan (baik secara implisit maupun eksplisit), cukup beralasan bagi kita untuk mengasumsikan bahwa inilah makna dari istilah tersebut dalam frasa eliptis di atas, yang nyata-nyata menyinggung tujuan yang mendasari semua wahyu Ilahi dan, dengan demikian, keimanan manusia kepada wahyu itu. Nah, dari keseluruhan ajaran Al-Quran, menjadi jelaslah bahwa tujuan yang paling mendasar dari semua keimanan yang sejati adalah: pertama, kesadaran mengenai keberadaan Tuhan dan mengenai tanggung jawab setiap manusia kepada-Nya; kedua, keberhasilan manusia meraih kesadaran akan martabatnya sendiri sebagai unsur positif—unsur yang niscaya secara logis—dalam rencana penciptaan yang ditetapkan Tuhan dan, dengan demikian, menjadi terbebas dari segala bentuk takhayul dan ketakutan yang irasional; dan, terakhir, membuat manusia sadar bahwa kebaikan atau kejahatan apa pun yang dia lakukan pada dasarnya hanyalah menguntungkan atau merugikan dirinya sendiri (sebagaimana yang diungkapkan dalam ayat 15 sebelumnya).

16 Lihat Surah Al-Mu’minun [23]: 53 dan catatan no. 30 yang terkait.


Surah Al-Jatsiyah Ayat 18

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

ṡumma ja’alnāka ‘alā syarī’atim minal-amri fattabi’hā wa lā tattabi’ ahwā`allażīna lā ya’lamụn

18. Dan, pada akhirnya,17 [wahai Muhammad,] telah Kami tetapkan engkau berada pada suatu jalan yang melaluinya tujuan [iman] dapat terpenuhi:18 maka ikutilah [jalan] ini, dan janganlah engkau mengikuti selera orang-orang yang tidak mengetahui [kebenaran].19


17 Lit., “kemudian” atau “akhirnya” (tsumma)—yakni, setelah umat-umat terdahulu gagal menyadari tujuan ideal dari iman dalam cara hidup mereka yang sebenarnya.

18 Lit., “pada sebuah jalan dari tujuan [iman]”: lihat catatan no. 15 sebelumnya. Hendaknya diingat bahwa makna harfiah dari istilah syari’ah adalah “jalan menuju sumber air”, dan karena air tidak bisa dipisahkan dari semua kehidupan organik, istilah ini pada akhirnya berarti sebuah “sistem hukum”, baik hukum moral maupun praktis, yang menunjukkan kepada manusia jalan menuju kebahagiaan spiritual dan kesejahteraan sosial: jadi, “hukum religius” dalam pengertiannya yang terluas. (Sehubungan dengan ini, lihat catatan no. 66 yang mengomentari bagian kedua dari ayat 48 Surah Al-Ma’idah [5].)

19 Yakni, orang-orang yang tidak didorong oleh—atau yang dorongan utamanya bukan—kesadaran akan Tuhan dan, karenanya, dapat diguncangkan hanya oleh apa yang mereka pandang sebagai “benar” menurut ukuran keadaan duniawi yang selalu berubah.


Surah Al-Jatsiyah Ayat 19

إِنَّهُمْ لَنْ يُغْنُوا عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ۚ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۖ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ

innahum lay yugnụ ‘angka minallāhi syai`ā, wa innaẓ-ẓālimīna ba’ḍuhum auliyā`u ba’ḍ, wallāhu waliyyul-muttaqīn

19. Perhatikanlah, mereka tidak akan pernah mampu memberikan manfaat sedikit pun kepadamu jika engkau menentang kehendak Allah20—sebab, sungguh, orang-orang zalim semacam itu hanyalah menjadi kawan-kawan dan pelindung satu sama lain, sedangkan Allah adalah pelindung bagi semua orang yang sadar terhadap-Nya.


20 Lit., “melawan [yakni, ‘menentang’] Allah”.


Surah Al-Jatsiyah Ayat 20

هَٰذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

hāżā baṣā`iru lin-nāsi wa hudaw wa raḥmatul liqaumiy yụqinụn

20. [Maka, wahyu] ini21 adalah sarana pemahaman untuk manusia, sebuah petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang dianugerahi keteguhan batin.


21 Yakni, Al-Quran, yang mengungkapkan kepada manusia tujuan semua agama.


Surah Al-Jatsiyah Ayat 21

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ ۚ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

am ḥasiballażīnajtaraḥus-sayyi`āti an naj’alahum kallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti sawā`am maḥyāhum wa mamātuhum, sā`a mā yaḥkumụn

21. Adapun orang-orang yang hanyut dalam perbuatan penuh dosa—apakah mereka menyangka bahwa Kami akan menempatkan mereka, baik selama hidup maupun sesudah mereka mati, pada tempat yang sama dengan orang-orang yang telah meraih iman dan mengerjakan kebajikan?22

Sungguh buruk keputusan mereka:


22 Ini mengandung dua makna: “bahwa Kami menganggap mereka sama dengan orang-orang yang …”, dan seterusnya, dan “bahwa Kami akan memperlakukan mereka dengan cara yang sama sebagaimana Kami memperlakukan orang-orang yang …”, dan seterusnya. Penyebutan perbedaan intrinsik antara dua kategori manusia ini dalam “kehidupan dan kematian mereka” menunjuk bukan saja pada kualitas moral dari eksistensi duniawi mereka, melainkan juga, di satu sisi, menunjuk pada kedamaian dan ketenteraman batin yang dinikmati seorang Mukmin sejati dalam menghadapi cobaan hidup dan sakratulmaut dan, di sisi lain, menunjuk pada kegelisahan terus-menerus yang begitu sering menyertai nihilisme spiritual, dan “ketakutan terhadap hal yang tidak diketahui” saat sekarat.


Surah Al-Jatsiyah Ayat 22

وَخَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ وَلِتُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

wa khalaqallāhus-samāwāti wal-arḍa bil-ḥaqqi wa litujzā kullu nafsim bimā kasabat wa hum lā yuẓlamụn

22. sebab, Allah telah menciptakan lelangit dan bumi sesuai dengan kebenaran [hakiki],23 dan [karenanya Dia mengehndaki] agar setiap manusia diberi balasan terhadap apa yang telah dia usahakan dan tidak seorang pun akan dizalimi.


23 Lihat catatan no. 11 dalam Surah Yunus [10]: 5. Implikasinya adalah bahwa tanpa pembedaan antara yang benar dan yang salah—yang sejati dan yang batil—tidak akan ada “kebenaran hakiki” dalam konsep penciptaan yang direncanakan Allah.


Surah Al-Jatsiyah Ayat 23

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

a fa ra`aita manittakhaża ilāhahụ hawāhu wa aḍallahullāhu ‘alā ‘ilmiw wa khatama ‘alā sam’ihī wa qalbihī wa ja’ala ‘alā baṣarihī gisyāwah, fa may yahdīhi mim ba’dillāh, a fa lā tażakkarụn

23. PERNAHKAH ENGKAU perhatikan [macam orang] yang menjadikan hawa nafsunya sendiri sebagai tuhannya, dan yang [kemudian] Allah biarkan tersesat, karena mengetahui [bahwa pikirannya telah tertutup bagi segala petunjuk],24 dan yang pendengaran dan hatinya telah Dia tutup, dan yang di atas pandangannya telah Dia letakkan tabir?25 Lalu, siapa yang dapat memberinya petunjuk sesudah Allah [meninggalkannya]? Maka, tidakkah kalian merenungkannya?


24 Demikianlah penafsiran Al-Razi, yang tampaknya mencerminkan pandangan Al-Zamakhsyari, yang telah dikutip secara panjang lebar dalam catatan no. 4 dalam Surah Ibrahim [14]: 4.

25 Lihat catatan no. 7 dalam Surah Al-Baqarah [2]: 7.


Surah Al-Jatsiyah Ayat 24

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ ۚ وَمَا لَهُمْ بِذَٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

wa qālụ mā hiya illā ḥayātunad-dun-yā namụtu wa naḥyā wa mā yuhlikunā illad-dahr, wa mā lahum biżālika min ‘ilm, in hum illā yaẓunnụn

24. Namun, mereka berkata, “Tidak ada apa pun di luar kehidupan kami di dunia ini. Kami mati sebagaimana kami hidup,26 dan tidak ada yang membinasakan kami selain waktu.”

Padahal, mereka sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal ini: mereka hanyalah menduga-duga.


26 Yakni, secara kebetulan, atau sebagai akibat dari kekuatan alam belaka.


Surah Al-Jatsiyah Ayat 25

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ مَا كَانَ حُجَّتَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا ائْتُوا بِآبَائِنَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

wa iżā tutlā ‘alaihim āyātunā bayyinātim mā kāna ḥujjatahum illā ang qālu`tụ bi`ābā`inā ing kuntum ṣādiqīn

25. Dan [demikianlah,] setiap pesan-pesan Kami disampaikan kepada mereka dengan segala kejelasannya, satu-satunya alasan mereka hanyalah ini:27 “Datangkanlah nenek moyang kami [sebagai saksi,] jika apa yang kalian katakan itu benar!”28


27 Lit., “alasan mereka tiada lain selain mereka berkata”.

28 Bdk. Surah Ad-Dukhan [44]: 36 dan catatan no. 19 yang terkait.


Surah Al-Jatsiyah Ayat 26

قُلِ اللَّهُ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يَجْمَعُكُمْ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

qulillāhu yuḥyīkum ṡumma yumītukum ṡumma yajma’ukum ilā yaumil-qiyāmati lā raiba fīhi wa lākinna akṡaran-nāsi lā ya’lamụn

26. Katakanlah: “Allah-lah yang memberikan kehidupan kepada kalian kemudian menyebabkan kalian mati; dan pada akhirnya Dia akan mengumpulkan kalian pada Hari Kebangkitan, yang [kedatangannya] tidak diragukan sama sekali—akan tetapi, kebanyakan manusia tidak memahaminya.”


Surah Al-Jatsiyah Ayat 27

وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يَوْمَئِذٍ يَخْسَرُ الْمُبْطِلُونَ

wa lillāhi mulkus-samāwāti wal-arḍ, wa yauma taqụmus-sā’atu yauma`iżiy yakhsarul-mubṭilụn

27. Sebab, milik Allah-lah kekuasaan atas lelangit dan bumi; dan pada Hari ketika Saat Terakhir menyingsing—pada Hari itu akan merugilah semua orang yang [sepanjang hidupnya] mencoba menganggap tidak berarti [apa pun yang mereka tidak pahami].29


29 Yakni, apa pun yang tidak dapat mereka “buktikan” melalui pengamatan atau kalkulasi langsung. Mengenai penerjemahan istilah al-mubthilun di atas, lihat Surah Al-‘Ankabut l29], catatan no. 47.


Surah Al-Jatsiyah Ayat 28

وَتَرَىٰ كُلَّ أُمَّةٍ جَاثِيَةً ۚ كُلُّ أُمَّةٍ تُدْعَىٰ إِلَىٰ كِتَابِهَا الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

wa tarā kulla ummatin jāṡiyah, kullu ummatin tud’ā ilā kitābihā, al-yauma tujzauna mā kuntum ta’malụn

28. Dan [pada Hari itu], engkau akan melihat semua manusia berlutut [dengan penuh ketundukan]: semua manusia akan dipanggil untuk [menghadapi] catatannya, “Hari ini kalian akan diberi balasan terhadap segala yang pernah kalian kerjakan!


Surah Al-Jatsiyah Ayat 29

هَٰذَا كِتَابُنَا يَنْطِقُ عَلَيْكُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّا كُنَّا نَسْتَنْسِخُ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

hāżā kitābunā yanṭiqu ‘alaikum bil-ḥaqq, innā kunnā nastansikhu mā kuntum ta’malụn

29. Catatan Kami ini berbicara tentang kalian dengan sepenuh kebenaran: sebab, sungguh, Kami telah menyebabkan segala yang pernah kalian kerjakan dicatat!”


Surah Al-Jatsiyah Ayat 30

فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَيُدْخِلُهُمْ رَبُّهُمْ فِي رَحْمَتِهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْمُبِينُ

fa ammallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti fa yudkhiluhum rabbuhum fī raḥmatih, żālika huwal-fauzul-mubīn

30. Adapun orang-orang yang telah meraih iman dan berbuat kebajikan, Pemelihara mereka akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya: itu, itulah yang akan menjadi kemenangan [mereka] yang nyata!


Surah Al-Jatsiyah Ayat 31

وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا أَفَلَمْ تَكُنْ آيَاتِي تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فَاسْتَكْبَرْتُمْ وَكُنْتُمْ قَوْمًا مُجْرِمِينَ

wa ammallażīna kafarụ, a fa lam takun āyātī tutlā ‘alaikum fastakbartum wa kuntum qaumam mujrimīn

31. Adapun orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran, [akan dikatakan kepada mereka:] “Bukankah pesan-pesan-Ku telah disampaikan kepada kalian? Namun, kalian menyombongkan diri, lalu kalian menjadi orang-orang yang tenggelam dalam dosa:


Surah Al-Jatsiyah Ayat 32

وَإِذَا قِيلَ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ لَا رَيْبَ فِيهَا قُلْتُمْ مَا نَدْرِي مَا السَّاعَةُ إِنْ نَظُنُّ إِلَّا ظَنًّا وَمَا نَحْنُ بِمُسْتَيْقِنِينَ

wa iżā qīla inna wa’dallāhi ḥaqquw was-sā’atu lā raiba fīhā qultum mā nadrī mas-sā’atu in naẓunnu illā ẓannaw wa mā naḥnu bimustaiqinīn

32. sebab, ketika dikatakan, ‘Perhatikanlah, janji Allah itu pasti terlaksana, dan tidak mungkin ada keraguan tentang [datangnya] Saat Terakhir’—kalian akan menjawab, ‘Kami tidak tahu apakah Saat Terakhir itu: kami menganggapnya tidak lebih daripada dugaan kosong, dan [karenanya] kami sama sekali tidak yakin!’”


Surah Al-Jatsiyah Ayat 33

وَبَدَا لَهُمْ سَيِّئَاتُ مَا عَمِلُوا وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

wa badā lahum sayyi`ātu mā ‘amilụ wa ḥāqa bihim mā kānụ bihī yastahzi`ụn

33. Dan [pada Hari itu], kejahatan perbuatan mereka akan tampak jelas bagi mereka, dan mereka [pada akhirnya] justru ditimpa oleh hal-hal yang biasa mereka cemoohkan itu.30


30 Lit., “dan yang biasa mereka cemoohkan itu akan mengepung mereka”.


Surah Al-Jatsiyah Ayat 34

وَقِيلَ الْيَوْمَ نَنْسَاكُمْ كَمَا نَسِيتُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

wa qīlal-yauma nansākum kamā nasītum liqā`a yaumikum hāżā wa ma`wākumun-nāru wa mā lakum min nāṣirīn

34. Dan [kata-kata itu] akan diucapkan: “Hari ini Kami akan melupakan kalian sebagaimana kalian telah melupakan datangnya Hari [Pengadilan] kalian ini; maka tempat terakhir kalian adalah api (neraka), dan kalian tidak akan mempunyai seorang penolong pun:


Surah Al-Jatsiyah Ayat 35

ذَٰلِكُمْ بِأَنَّكُمُ اتَّخَذْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ هُزُوًا وَغَرَّتْكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۚ فَالْيَوْمَ لَا يُخْرَجُونَ مِنْهَا وَلَا هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ

żālikum bi`annakumuttakhażtum āyātillāhi huzuwaw wa garratkumul-ḥayātud-dun-yā, fal-yauma lā yukhrajụna min-hā wa lā hum yusta’tabụn

35. yang demikian itu, karena kalian menjadikan pesan-pesan Allah sebagai sasaran ejekan kalian, dengan membiarkan kehidupan dunia ini memperdaya kalian!”31

Karenanya, pada Hari itu mereka tidak dikeluarkan dari api (neraka),32 dan tidak pula mereka diizinkan membayar ganti rugi.


31 Lit., “karena kehidupan dunia ini telah memperdayakan kalian”: menunjukkan bahwa penelantaran-diri yang mereka lakukan dengan menenggelamkan diri dalam memburu tujuan-tujuan duniawi inilah yang menyebabkan mereka meremehkan pesan-pesan Tuhan dengan sikap menghina.

32 Lit., “darinya”. Mengenai penekanan terhadap frasa “Pada Hari itu”, lihat catatan no. 114 yang mengomentari paragraf terakhir Surah Al-An’am [6]: 128, catatan no. 10 dalam Surah Ghafir [40]: 12, dan catatan no. 53 dalam Surah Az-Zukhruf [43]: 74.


Surah Al-Jatsiyah Ayat 36

فَلِلَّهِ الْحَمْدُ رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَرَبِّ الْأَرْضِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

fa lillāhil-ḥamdu rabbis-samāwāti wa rabbil-arḍi rabbil-‘ālamīn

36. MAKA, segala puji bagi Allah, Pemelihara lelangit dan Pemelihara bumi: Pemelihara segenap alam semesta!


Surah Al-Jatsiyah Ayat 37

وَلَهُ الْكِبْرِيَاءُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

wa lahul-kibriyā`u fis-samāwāti wal-arḍ, wa huwal-‘azīzul-ḥakīm

37. Dan, milik-Nya sajalah segala keagungan di lelangit dan di muka bumi; dan hanya Dia-lah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana!


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top