17. Al-Isra’ (Perjalanan Malam) – الإسراء

Surat Al-Isra’ dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Isra’ ( الإسراء ) merupakan surah ke 17 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 111 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Al-Isra’ tergolong Surat Makkiyah.

Kisah perjalanan mistik Nabi Muhammad Saw pada waktu malam (Isra’) yang disebutkan pada ayat pertama menunjukkan bahwa surah ini diwahyukan pada tahun terakhir sebelum hijrah. Jadi, tidak mungkin surah ini diwahyukan sebelum masa itu. Secara kronologis, Suyuthi meletakkan surah ini di antara Surah Al-Qasas [28] dan kelompok Surah YunusYusuf [10-12]. Beberapa mufasir berpendapat bahwa ayat-ayat tertentu dalam surah ini diwahyukan pada masa-masa yang lebih akhir, yakni pada periode Madinah. Namun, pendapat ini merupakan dugaan saja dan karena itu bisa diabaikan.

Karena Bani Israil disebutkan dalam ayat 2-8 dan ayat 101-104, beberapa Sahabat Nabi memberi nama surah ini Surah Banu Israil (“Anak-Cucu Israil”). Namun, mayoritas mufasir klasik lebih menyukai nama Al-Isra’.

Menurut ‘Aisyah, Nabi biasa membaca surah ini setiap malam dalam shalatnya (Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibn Hanbal).

Daftar Isi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Isra’ Ayat 1

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

sub-ḥānallażī asrā bi’abdihī lailam minal-masjidil-ḥarāmi ilal-masjidil-aqṣallażī bāraknā ḥaulahụ linuriyahụ min āyātinā, innahụ huwas-samī’ul-baṣīr

1. MAHA TAK TERHINGGA Kemuliaan-Nya, yang memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjid Al-Haram [di Makkah] ke Masjid Al-Aqsha [di Yerusalem]—yang daerah sekitarnya telah Kami berkahi1—agar Kami perlihatkan kepadanya beberapa perlambang Kami: sebab, sungguh, Dia saja yang Maha Mendengar, Maha Melihat.2


1 Kisah perjalanan mistik Nabi Muhammad Saw. pada waktu malam (al-isra’) ke Yerusalem dan “Kenaikan” (mi’raj)-nya ke langit, yang disinggung pada ayat di atas, dibahas tuntas dalam artikel Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw.

“Masjid yang Suci” (al-masjid al-haram) merupakan salah satu sebutan yang digunakan Al-Quran terhadap Bangunan Suci Ka’bah, yang prototipenya dibangun oleh Nabi Ibrahim (lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 102), yang juga merupakan “bangunan suci pertama yang didirikan untuk umat manusia” (Surah Al-‘Imran [3]: 96), yakni, bangunan pertama yang dibangun untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Di lain pihak, “Masjid Al-Aqsha” [lit., “yang paling jauh”] menunjuk pada Kuil Kuna Sulaiman—atau, alih-alih, menunjuk pada daerahnya—yang di sini melambangkan deretan panjang nabi-nabi Ibrani yang mendahului kedatangan Nabi Muhammad Saw. dan disinggung oleh frasa “yang daerah sekitarnya telah Kami berkahi”. Disebutkannya dua bangunan suci ini secara berdampingan dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa Al-Quran tidak mendirikan suatu agama “baru”, tetapi merepresentasikan suatu kontinuitas dan perkembangan mutakhir dari pesan ketuhanan yang sama, yang diajarkan oleh nabi-nabi terdahulu.

2 Meskipun istilah ayah lebih sering digunakan di dalam Al-Quran dengan pengertian “pesan [ketuhanan]” , kita harus ingat bahwa utamanya istilah ini menunjuk pada “suatu isyarat [atau ‘tanda’] yang dengannya suatu hal dikenali” (Al-Qamus). Sebagaimana didefinisikan oleh Raghib, ayah berarti fenomena apa pun yang dapat dipersepsi (baik oleh indra maupun hanya oleh akal) yang terkait dengan sesuatu yang tidak dapat, pada dirinya sendiri, dipersepsi dengan cara yang sama: singkatnya, “perlambang”. Karena itu, ungkapan min ayatina lebih tepat diterjemahkan menjadi “beberapa perlambang Kami”, yakni, pengetahuan mendalam, yang diperoleh melalui lambang-lambang, mengenai sejumlah kebenaran sejati.


Surah Al-Isra’ Ayat 2

وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلَّا تَتَّخِذُوا مِنْ دُونِي وَكِيلًا

wa ātainā mụsal-kitāba wa ja’alnāhu hudal libanī isrā`īla allā tattakhiżụ min dụnī wakīlā

2. Dan [demikian pula,] Kami telah memberikan wahyu kepada Musa,3 dan menjadikannya suatu [sumber] petunjuk bagi Bani Israil, [memerintahkan mereka:] “Janganlah menisbahkan kepada siapa pun selain Aku kekuasaan untuk menentukan nasib kalian,4


3 Kata penghubung “wa” (dan) yang mengawali ayat ini dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa perjalanan Isra, (dan dengan sendirinya perjalanan Mi’raj pula) merupakan pengalaman anugerah Ilahi yang sama derajatnya dengan wahyu yang diberikan kepada Musa. Al-Quran menyebutkan dalam Surah An-Nisa’ [4]: 164 bahwa “Allah menuturkan firman-Nya kepada Musa”, yakni, secara langsung (takliman); lihat juga Surah Al-A’raf [7]: 143-144, khususnya ayat 144 yang menyebutkan bahwa Allah berkata kepada Musa, “Aku telah memuliakanmu di atas semua manusia … berkat firman-Ku [padamu]”. Pengalaman “langsung” yang serupa disebutkan pula di surah ini pada ayat awalnya, “Maha Tak Terhingga Kemuliaan Dia, yang memperjalankan hamba-Nya pada malam hari … agar Kami perlihatkan kepadanya beberapa perlambang Kami” (lihat catatan no. 2 sebelum ini; juga artikel Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw). Terlepas dari hal ini, penyebutan sejarah agama orang-orang Ibrani dalam surah ini, dan dalam banyak tempat lain dalam Al-Quran, disebabkan oleh fakta bahwa wahyu yang diturunkan kepada nabi-nabi mereka merepresentasikan formulasi monoteisme paling awal, yang secara ideologis penting bagi perkembangannya di kemudian hari.

4 Istilah wakil berarti “seseorang yang dipercaya untuk mengatur urusan-urusan [orang lain]” atau “yang bertanggung jawab atas perilaku [orang lain]”. Jika diterapkan pada Allah, kadang-kadang, istilah ini digunakan dalam pengertian “pelindung” (misalnya, dalam Surah Al-‘Imran [3]: 173), atau “pembela” (misalnya, dalam Surah An-Nisa’ [4]: 109); atau, jika istilah wakil ini digabung dengan frasa ‘ala kulli syay’in (seperti dalam Surah Al-An’am [6]: 102 atau dalam Surah Hud [11]: 12), arti istilah di atas menjadi “Yang Maha Memelihara segala sesuatu”. Dalam ayat ini (demikian juga dalam Surah Az-Zumar [39]: 62), istilah ini jelas mengacu pada kekuatan eksklusif yang dimiliki Allah untuk menentukan takdir segala makhluk atau benda ciptaan-Nya.


Surah Al-Isra’ Ayat 3

ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا

żurriyyata man ḥamalnā ma’a nụḥ, innahụ kāna ‘abdan syakụrā

3. wahai keturunan orang-orang yang Kami jadikan terangkut [dalam bahtera] bersama Nuh! Perhatikanlah, dia adalah hamba [Kami] yang paling banyak bersyukur!”


Surah Al-Isra’ Ayat 4

وَقَضَيْنَا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا

wa qaḍainā ilā banī isrā`īla fil-kitābi latufsidunna fil-arḍi marrataini wa lata’lunna ‘uluwwang kabīrā

4. Dan, Kami menjadikan [hal ini] diketahui Bani Israil melalui wahyu:5 “Sungguh, kalian akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan kalian pasti akan sangat menyombongkan diri!”6


5 Lit., “dalam wahyu”—di sini jelaslah bahwa kata ini digunakan dalam pengertian umum, dan mungkin berhubungan dengan ramalan yang terdapat dalam Taurat {Bibel Perjanjian Lama—peny.} (Kitab Imamat 26: 14-39 dan Kitab Ulangan 28: 15-68) sebagaimana juga dalam nubuwat Yesaya, Yeremia, Yohanes, dan Yesus.

6 Karena baik Bibel maupun Al-Quran sama-sama menyebutkan bahwa Bani Israil menentang hukum Allah dalam banyak kesempatan, cukup beralasan untuk berpendapat bahwa ungkapan “dua kali” (marratain) tidak mengacu pada dua kejadian saja, tetapi alih-alih, mengacu pada dua periode yang berbeda dari sejarah mereka yang panjang.


Surah Al-Isra’ Ayat 5

فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ أُولَاهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَنَا أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا خِلَالَ الدِّيَارِ ۚ وَكَانَ وَعْدًا مَفْعُولًا

fa iżā jā`a wa’du ụlāhumā ba’aṡnā ‘alaikum ‘ibādal lanā ulī ba`sin syadīdin fa jāsụ khilālad-diyār, wa kāna wa’dam maf’ụlā

5. Karena itu, ketika ramalan yang pertama dari dua [periode ketidak adilan] itu menjadi kenyataan, Kami mengutus kepada kalian sebagian dari hamba-hamba Kami yang gagah berani dalam peperangan, lalu mereka mendatangkan malapetaka di seluruh negeri: dan demikianlah ramalan itu digenapkan.7


7 Istilah ‘ibad, yang saya terjemahkan menjadi “hamba-hamba”, berarti semua jenis “makhluk” (dalam hal ini, jelas manusia) karena semuanya mengabdi pada kehendak Allah dengan sukarela maupun terpaksa (bdk. Surah Ar-Ra’d [13]: 15 dan catatannya [no. 33]).

Boleh jadi, bahwa frasa “sebagian dari hamba-hamba Kami yang gagah berani dalam peperangan” berhubungan dengan orang-orang Asiria atau Babilonia, atau keduanya sekaligus. Orang-orang Asiria membanjiri Palestina pada abad ke-7 SM dan menyebabkan musnahnya sebagian besar bangsa Ibrani (sepuluh “suku yang hilang”). Sedangkan, orang-orang Babilonia, yang datang sekitar satu abad kemudian, menghancurkan Bait Allah yang dibangun Sulaiman dan menjadikan orang-orang Bani Israil yang tersisa sebagai tawanan. Apabila frasa itu mengacu pada orang-orang Asiria dan Babilonia sekaligus, seluruh kejadian ini dianggap terjadi dalam satu “periode” (lihat catatan sebelum ini).

Dalam ayat ini, sebagaimana juga dalam ayat-ayat lainnya, “dikirimkannya” azab Allah kepada pendosa yang terkutuk tersebut merupakan suatu metonimia terhadap hukum alam dengan prinsip sebab akibat, yang dalam jangka panjang mengatur kehidupan manusia—dan terutama kehidupan seluruh bangsa dan masyarakat.


Surah Al-Isra’ Ayat 6

ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ وَأَمْدَدْنَاكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيرًا

ṡumma radadnā lakumul-karrata ‘alaihim wa amdadnākum bi`amwāliw wa banīna wa ja’alnākum akṡara nafīrā

6. Dan, setelah beberapa saat, Kami biarkan kalian mengungguli mereka sekali lagi,8 dan menolong kalian dengan kekayaan dan keturunan, serta melipatgandakan jumlah kalian [lebih banyak daripada sebelumnya].


8 Lit., “Kami kembalikan kepada kalian giliran untuk melawan mereka”—tampaknya, hal ini mengacu pada: pertama, bebasnya orang-orang Yahudi dari penawanan orang Babilonia pada perempat akhir abad ke-6 SM; kedua, pendirian-ulang sebagian negara mereka; dan terakhir, pembangunan Bait Allah baru di tempat yang sama untuk menggantikan Bait Allah yang hancur.


Surah Al-Isra’ Ayat 7

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا

in aḥsantum aḥsantum li`anfusikum, wa in asa`tum fa lahā, fa iżā jā`a wa’dul-ākhirati liyasū`ụ wujụhakum wa liyadkhulul-masjida kamā dakhalụhu awwala marratiw wa liyutabbirụ mā ‘alau tatbīrā

7. [Dan Kami berfirman,] “Jika kamu tekun melakukan kebaikan, kamu melakukan kebaikan untuk dirimu sendiri; dan jika kamu melakukan kejahatan, itu [dilakukan] untuk dirimu sendiri.”

Maka, ketika ramalan kedua [tentang periode ketidakadilan kalian] menjadi kenyataan, [Kami datangkan musuh-musuh baru yang menentang kalian dan membiarkan mereka] mempermalukan kalian habis-habisan,9 dan memasuki rumah ibadah, sebagaimana [para pendahulu mereka] telah memasuki sebelumnya, dan menghancurkan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.


9 Lit., “membawa keburukan ke hadapan wajahmu”. Karena wajah merupakan bagian tubuh manusia yang paling menonjol dan ekspresif, kata wajah sering digunakan sebagai sebutan bagi seseorang secara keseluruhan. Oleh karena itu, “keburukan yang dilakukan pada wajah seseorang” sama artinya dengan “tindakan mempermalukan secara habis-habisan”. Kemungkinan besar, ayat ini berhubungan dengan dihancurkannya Bait Allah Kedua dan diruntuhkannya pemerintahan Yahudi oleh Titus pada 70M.


Surah Al-Isra’ Ayat 8

عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يَرْحَمَكُمْ ۚ وَإِنْ عُدْتُمْ عُدْنَا ۘ وَجَعَلْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ حَصِيرًا

‘asā rabbukum ay yar-ḥamakum, wa in ‘uttum ‘udnā, wa ja’alnā jahannama lil-kāfirīna ḥaṣīrā

8. Boleh jadi, Pemelihara kalian menunjukkan belas kasih kepada kalian; tetapi jika kalian kembali [berbuat dosa], Kami akan kembali [menimpakan derita kepada kalian]. Dan, [ingatlah ini:] Kami telah menetapkan bahwa [pada Hari Kiamat] neraka akan meliputi orang-orang yang mengingkari kebenaran.


Surah Al-Isra’ Ayat 9

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

inna hāżal-qur`āna yahdī lillatī hiya aqwamu wa yubasysyirul-mu`minīnallażīna ya’malụnaṣ-ṣāliḥāti anna lahum ajrang kabīrā

9. SUNGGUH, Al-Quran ini memberikan jalan kepada sesuatu yang paling lurus10 dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang beriman yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar;


10 Yakni, sesuai dengan perilaku etis yang baik dan bermanfaat bagi kehidupan individual dan sosial manusia. Jadi, setelah menunjukkan bahwa berbuat dosa sama artinya dengan mengingkari kebenaran, diskursus kembali membahas tema fundamental Al-Quran yang telah disinggung dalam ayat 2 surah ini: yakni, pernyataan bahwa Allah selalu menawarkan petunjuk bagi manusia melalui wahyu yang Dia anugerahkan kepada para nabi-Nya.


Surah Al-Isra’ Ayat 10

وَأَنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

wa annallażīna lā yu`minụna bil-ākhirati a’tadnā lahum ‘ażāban alīmā

10. dan [Al-Quran memberitakan pula] bahwa Kami menyediakan derita yang pedih bagi orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat.


Surah Al-Isra’ Ayat 11

وَيَدْعُ الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ ۖ وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا

wa yad’ul-insānu bisy-syarri du’ā`ahụ bil-khaīr, wa kānal-insānu ‘ajụlā

11. Namun demikian,11 manusia [sering] berdoa untuk mengharapkan sesuatu yang buruk, sebagaimana dia berdoa untuk mengharapkan sesuatu yang baik:12 sebab, manusia cenderung tergesa-gesa [dalam membuat keputusan].


11 Menurut saya, inilah arti kata penghubung wa dalam konteks di atas.

12 Bdk. Surah Al-baqarah [2]: 216—”boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal ia baik bagi kalian, dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu padahal ia buruk bagi kalian: dan Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui”: dengan kata lain, hanya petunjuk Ilahi-lah satu-satunya kriteria objektif untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk.


Surah Al-Isra’ Ayat 12

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آيَتَيْنِ ۖ فَمَحَوْنَا آيَةَ اللَّيْلِ وَجَعَلْنَا آيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِتَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا

wa ja’alnal-laila wan-nahāra āyataini fa maḥaunā āyatal-laili wa ja’alnā āyatan-nahāri mubṣiratal litabtagụ faḍlam mir rabbikum wa lita’lamụ ‘adadas-sinīna wal-ḥisāb, wa kulla syai`in faṣṣalnāhu tafṣīlā

12. Dan, Kami jadikan malam dan siang sebagai dua perlambang;13 kemudian, Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan [di tempatnya] tanda siang yang menyinari14 agar kalian dapat berusaha memperoleh karunia dari Pemeliharamu supaya kalian menyadari tahun-tahun yang telah berlalu15 dan perhitungan [yang pasti akan datang] karena segala sesuatunya telah Kami terangkan dengan amat jelas!16


13 Mengenai makna pokok istilah ayah, lihat catatan no. 2 sebelum ini. Dalam konteks ini, ungkapan ayatain (“dua perlambang”) mengacu—sebagaimana diperlihatkan klausa berikutnya—pada simbol kegelapan dan cahaya spiritual.

14 Yakni, pesan Al-Quran yang dimaksudkan untuk mengeluarkan manusia dari kebodohan dan kekeliruan spiritual ke cahaya keimanan dan akal.

15 Lit., “perhitungan (‘adad) tahun”. Karena—sebagaimana ditunjukkan Qamus—frasa ini juga menunjuk pada “tahun-tahun kehidupan [seseorang] yang dia hitung”, di sini frasa di atas jelas menyiratkan suatu seruan untuk melakukan introspeksi spiritual mengingat singkatnya kehidupan manusia di dunia ini.

16 Yakni, segala sesuatu yang mungkin dibutuhkan manusia dalam bidang etika dan agama.


Surah Al-Isra’ Ayat 13

وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ ۖ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا

wa kulla insānin alzamnāhu ṭā`irahụ fī ‘unuqih, wa nukhriju lahụ yaumal-qiyāmati kitābay yalqāhu mansyụrā

13. Dan, nasib setiap manusia telah Kami ikatkan di lehernya;17 pada Hari Kebangkitan akan Kami keluarkan baginya sebuah catatan yang dijumpainya terbuka lebar;


17 Kata tha’ir secara harfiah berarti “burung”, atau lebih tepatnya “makhluk terbang”. Karena bangsa Arab pra-Islam sering berupaya menentukan pertanda baik dan pertanda buruk, dan pada umumnya berusaha meramalkan masa depan dengan melihat cara dan arah terbangnya burung, istilah tha’ir akhirnya secara figuratif digunakan dalam pengertian “peruntungan” (yang baik maupun yang buruk) atau “nasib”. (Dalam kaitannya dengan hal ini, lihat Surah Al-‘Imran [3], catatan no. 37, dan Surah Al-A’raf [7], catatan no. 95.) Namun, kita mesti ingat bahwa konsep Al-Quran tentang “nasib” tidak banyak sangkut-pautnya dengan keadaan eksternal dan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup manusia; alih-alih, ia berkaitan dengan arah kehidupan yang terjadi sebagai akibat dari hasil pilihan moral seseorang: dengan kata lain, ia berhubungan dengan takdir spiritual manusia; dan hal ini pada gilirannya bergantung pada—sebagaimana sering dijelaskan Al-Quran—kecenderungan, sikap, dan tindakan sadar seseorang (termasuk menahan diri dari berbuat jahat ataupun dengan sengaja tidak mau berbuat baik). Oleh karena itu, takdir spiritual manusia bergantung pada dirinya sendiri, dan berkaitan erat dengan keseluruhan karakter pribadinya; dan, karena Allah-lah yang menjadikan manusia bertanggung jawab atas tingkah lakunya di dunia, Dia menyebut diri-Nya sendiri sebagai telah “mengikatkan nasib setiap manusia pada lehernya”.


Surah Al-Isra’ Ayat 14

اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا

iqra` kitābak, kafā binafsikal-yauma ‘alaika ḥasībā

14. [dan akan dikatakan kepadanya:] “Bacalah catatanmu ini! Pada hari ini, cukuplah dirimu sendiri yang melakukan perhitungan atasmu!”18


18 “Catatan” dan “perhitungan” menggambarkan pemahaman menyeluruh manusia pada Hari Pengadilan mengenai seluruh kehidupannya yang telah lalu (Al-Razi). Dalam Al-Quran, alegori ini muncul dalam berbagai formulasi, misalnya dalam Surah As-Saffat [37]: 19 atau Surah Az-Zumar [39]: 68, dan mungkin dalam bentuk yang paling tajam dalam Surah Qaf [50]: 22—”kini telah Kami singkapkan darimu selubungmu dan tajamlah penglihatanmu pada hari ini!”


Surah Al-Isra’ Ayat 15

مَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

manihtadā fa innamā yahtadī linafsih, wa man ḍalla fa innamā yaḍillu ‘alaihā, wa lā taziru wāziratuw wizra ukhrā, wa mā kunnā mu’ażżibīna ḥattā nab’aṡa rasụlā

15. Siapa pun yang memilih mengikuti jalan yang lurus, dia melakukannya tidak lain untuk kebaikan dirinya sendiri; dan siapa pun yang tersesat, kesesatannya itu tidak lain hanyalah merugikan dirinya sendiri; dan tiada seorang pun penanggung beban akan dijadikan menanggung beban orang lain.19

Lagi pula, Kami tidak pernah menimpakan hukuman [kepada suatu masyarakat atas kesalahan yang mereka lakukan] sebelum Kami mengutus seorang rasul [kepada mereka].20


19 Lihat Surah Al-An’am [6]: 164, Fathir [35]: 18, dan Az-Zumar [39]: 7, serta catatannya masing-masing; lihat juga Surah An-Najm [53]: 38, yang menggambarkan pernyataan Al-Quran yang paling awal mengenai prinsip etika yang fundamental ini.

20 Yakni, secara tersirat, “sehingga mereka benar-benar memahami pengertian tentang benar dan salah”: bdk. Surah Al-An’am [6]: 131-132 dan catatannya (no. 117), dan juga Al-Qasas [28]: 59 (yang, secara kronologis, diwahyukan persis sebelum surah ini).


Surah Al-Isra’ Ayat 16

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

wa iżā aradnā an nuhlika qaryatan amarnā mutrafīhā fa fasaqụ fīhā fa ḥaqqa ‘alaihal-qaulu fa dammarnāhā tadmīrā

16. Namun, jika [ini telah dilakukan dan] Kami berkehendak membinasakan suatu masyarakat, Kami sampaikan peringatan terakhir Kami21 kepada orang-orang yang tenggelam dalam memburu kesenangan;22 dan [jika] mereka [terus] melakukan kedurhakaan, hukuman [berupa malapetaka] menimpa masyarakat itu dan Kami menghancurkannya dengan sehancur-hancurnya.


21 Lit., “perintah Kami”, yakni, untuk memperbaiki jalan mereka. Istilah qaryah (lit., “kota”) biasanya—walaupun tidak selalu—berarti “masyarakat” atau “orang-orang dari suatu masyarakat”.

22 Yakni, dengan mengabaikan segala pertimbangan moral. (Untuk terjemahan ungkapan mutraf di atas, lihat Surah Hud [11], catatan no. 147.) Orang-orang yang disebutkan di sini adalah mereka yang, berkat kekayaan dan status sosial mereka, merepresentasikan kepemimpinan yang riil terhadap masyarakat mereka dan, karena itu, secara moral bertanggung jawab atas perilaku para pengikutnya.


Surah Al-Isra’ Ayat 17

وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنَ الْقُرُونِ مِنْ بَعْدِ نُوحٍ ۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا

wa kam ahlaknā minal-qurụni mim ba’di nụḥ, wa kafā birabbika biżunụbi ‘ibādihī khabīram baṣīrā

17. [Karena itu,] betapa banyak generasi yang sudah Kami binasakan setelah [masa] Nuh!

Sebab, tiada satu pun yang menyerupai Pemeliharamu dalam pengetahuan dan penglihatan-Nya atas dosa-dosa makhluk-Nya.


Surah Al-Isra’ Ayat 18

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا

mang kāna yurīdul-‘ājilata ‘ajjalnā lahụ fīhā mā nasyā`u liman nurīdu ṡumma ja’alnā lahụ jahannam, yaṣlāhā mażmụmam mad-ḥụrā

18. Kepada siapa pun yang [hanya] menginginkan [kenikmatan] kehidupan yang singkat ini, maka dengan mudah Kami berikan sebanyak yang Kami suka, [Kami berikan] kepada orang mana pun yang Kami kehendaki [untuk diberikan]; tetapi, akhirnya, Kami campakkan dia ke dalam [derita] neraka,23 yang harus dia pikul dalam keadaan tercela dan terusir!


23 Lit., “Kami tetapkan [atau ‘akan tetapkan’] baginya neraka”.


Surah Al-Isra’ Ayat 19

وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا

wa man arādal-ākhirata wa sa’ā lahā sa’yahā wa huwa mu`minun fa ulā`ika kāna sa’yuhum masykụrā

19. Namun, bagi mereka yang menginginkan [kebaikan] kehidupan akhirat dan berjuang memperolehnya dengan usaha yang sungguh-sungguh, dan dalam pada itu mereka [benar-benar] orang-orang yang beriman24—mereka itulah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik [oleh Allah]!


24 Karena menginginkan dan berjuang sungguh-sungguh untuk kebaikan kehidupan akhirat mensyaratkan keimanan pada Allah dan tanggung jawab manusia di hadapan-Nya, jelaslah bahwa istilah “orang beriman” dalam konteks ini mengacu pada kesadaran tentang keesaan dan keunikan Tuhan yang absolut, dan juga mengacu pada kesediaan menerima bimbingan yang ditawarkan kepada manusia melalui wahyu kenabian.

Dalam teks asal, keseluruhan kalimat ini sebelumnya berbentuk tunggal (“dia yang menginginkan … dan berjuang … dan dia orang yang beriman”); namun, mengingat kalimat berikutnya, yang diungkapkan dalam bentuk jamak, lebih baik menerjemahkan kata-kata ganti di atas—sesuai dengan pemakaian kata-kata dalam bahasa Arab—dengan seluruhnya berbentuk jamak.


Surah Al-Isra’ Ayat 20

كُلًّا نُمِدُّ هَٰؤُلَاءِ وَهَٰؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ ۚ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا

kullan numiddu hā`ulā`i wa hā`ulā`i min ‘aṭā`i rabbik, wa mā kāna ‘aṭā`u rabbika maḥẓụrā

20. Semua [dari antara mereka]—yakni, orang-orang yang ini maupun yang itu—Kami anugerahkan pemberian dari Pemeliharamu dengan cuma-cuma, karena pemberian Pemeliharamu itu tidak pernah dibatasi [pada golongan tertentu saja].


Surah Al-Isra’ Ayat 21

انْظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ وَلَلْآخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَاتٍ وَأَكْبَرُ تَفْضِيلًا

unẓur kaifa faḍḍalnā ba’ḍahum ‘alā ba’ḍ, wa lal-ākhiratu akbaru darajātiw wa akbaru tafḍīlā

21. Perhatikanlah bagaimana Kami melebihkan pemberian [di dunia] bagi sebagian dari mereka atas sebagian yang lain: tetapi, [ingatlah bahwa] kehidupan akhirat akan jauh lebih tinggi derajatnya dan jauh lebih besar balasan dan karunianya.25


25 Lit., “lebih tinggi derajatnya dan lebih besar limpahan pemberiannya (tafdhilan)”—tetapi, karena dalam ayat itu istilah “tafdhilan” jelas mengandung pula konsep “balasan”, tafdhilan itu lebih tepat diterjemahkan sebagai gabungan kata “balasan” dan “pemberian”.


Surah Al-Isra’ Ayat 22

لَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَخْذُولًا

lā taj’al ma’allāhi ilāhan ākhara fa taq’uda mażmụmam makhżụlā

22. JANGANLAH kamu mengadakan tuhan yang lain di samping Allah agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan:


Surah Al-Isra’ Ayat 23

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

wa qaḍā rabbuka allā ta’budū illā iyyāhu wa bil-wālidaini iḥsānā, immā yabluganna ‘indakal-kibara aḥaduhumā au kilāhumā fa lā taqul lahumā uffiw wa lā tan-har-humā wa qul lahumā qaulang karīmā

23. sebab, Pemeliharamu telah memerintahkan supaya kalian tidak menyembah apa pun kecuali Dia.

Dan, berbuat baiklah kepada ibu-bapak[mu].26 Jika salah seorang di antaranya atau keduanya berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, janganlah pernah mengatakan “cis”27 kepada mereka atau membentak mereka, tapi [senantiasalah] berbicara dengan mereka menggunakan perkataan yang santun,


26 Sementara Allah merupakan “penyebab tertinggi dan hakiki” (real-ultimate cause) dari keberadaan manusia, orangtua merupakan “penyebab langsung yang bersifat lahiriah” (outward-immediate cause). Demikianlah, seruan untuk tidak mempersekutukan Allah pada ayat sebelumnya kemudian diikuti dengan perintah menghormati dan mencintai orangtua.

Selanjutnya, keseluruhan rangkaian ayat dalam pasase ini (mulai ayat 23 sampai dengan ayat 39) dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa kebaikan dan pergaulan yang layak antar-sesama manusia merupakan bagian yang integral dari konsep “berjuang memperoleh kebaikan di kehidupan akhirat”.

27 Dalam bahasa Arab, uff—suatu kata atau suara yang menunjukkan perasaan jijik, tidak suka, atau muak.


Surah Al-Isra’ Ayat 24

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

wakhfiḍ lahumā janāḥaż-żulli minar-raḥmati wa qur rabbir-ḥam-humā kamā rabbayānī ṣagīrā

24. dan bentangkanlah sayap-sayap kelembutanmu kepada mereka dengan penuh kerendah-hatian,28 dan katakanlah: “Wahai, Pemeliharaku! Anugerahkanlah kepada mereka berdua kasih sayang-Mu, sebagaimana mereka berdua mengasihiku dan membesarkanku ketika aku kecil!”


28 Lit., “rendahkanlah untuk mereka sayap kerendahhatian yang berasal dari kelembutan hati (rahmah)”—suatu ungkapan metonimia yang mengingatkan pada seekor burung yang dengan penuh cinta mengembangkan sayapnya untuk melindungi anak-anaknya di dalam sarang.


Surah Al-Isra’ Ayat 25

رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا فِي نُفُوسِكُمْ ۚ إِنْ تَكُونُوا صَالِحِينَ فَإِنَّهُ كَانَ لِلْأَوَّابِينَ غَفُورًا

rabbukum a’lamu bimā fī nufụsikum, in takụnụ ṣāliḥīna fa innahụ kāna lil-awwābīna gafụrā

25. Pemeliharamu Maha Mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Jika kamu orang-orang yang baik, [Dia akan mengampuni dosa-dosamu]:29 sebab, perhatikanlah, Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang selalu kembali (bertobat) pada-Nya.


29 Kalimat sisipan ini memperjelas makna kalimat eliptis di atas (Al-Thabari, Al-Baghawi, Al-Zamakhsyari, dan Al-Razi).


Surah Al-Isra’ Ayat 26

وَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا

wa āti żal-qurbā ḥaqqahụ wal-miskīna wabnas-sabīli wa lā tubażżir tabżīrā

26. Dan, kepada keluarga yang dekat, berikanlah haknya,30 juga kepada orang miskin dan musafir,31 tetapi janganlah kamu memboroskan [hartamu] dengan sia-sia.32


30 Dalam hal ini, “haknya” jelas mengacu pada pertimbangan kasih sayang terhadap sanak-saudara (Al-Zamakhsyari dan Al-Razi); kalimat selanjutnya, yakni “kepada orang yang membutuhkan” (al-miskin), mencakup pula sanak-saudara yang berkekurangan.

31 Mengenai ungkapan ini, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 145.

32 Lit., “dengan [seboros-]boros[nya]” (tabdziran), yakni sia-sia dan bukan untuk tujuan yang baik. Harus diingat bahwa istilah tabdzir tidak mengacu pada kuantitas yang dihabiskan, tetapi pada tujuan seseorang menghabiskannya. Jadi, Ibn ‘Abbas dan Ibn Mas’ud (keduanya dikutip oleh Al-Thabari) mendefinisikan tabdzir sebagai “membelanjakan sesuatu tanpa tujuan yang dibenarkan” atau “karena suatu sebab yang tidak layak” (bathil): lalu, Mujahid diberitakan (ibid.) telah berkata bahwa, “Jika seseorang membelanjakan seluruh miliknya karena suatu sebab yang baik, hal ini tidak disebut pemborosan; tetapi jika dia membelanjakan sesuatu karena sebab yang tidak karuan, meskipun dalam jumlah yang kecil saja, hal ini adalah pemborosan.”


Surah Al-Isra’ Ayat 27

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

innal-mubażżirīna kānū ikhwānasy-syayāṭīn, wa kānasy-syaiṭānu lirabbihī kafụrā

27. Perhatikanlah, pemboros-pemboros itu, benar-benar, serupa dengan setan—karena setan benar-benar telah terbukti sangat tidak tahu berterima kasih kepada Pemeliharanya.33


33 Karena pemborosan—dalam makna yang dijelaskan pada catatan terdahulu—menyiratkan tiadanya rasa terima kasih sama sekali terhadap rezeki yang dianugerahkan Allah kepada manusia, orang-orang yang boros digambarkan sebagai “serupa dengan setan” (secara harfiah, “saudara setan”]. Mengenai makna yang lebih dalam dari istilah “setan” atau “setani (yang bersifat setan)”, lihat Surah Al-Hijr [15], catatan no. 16.


Surah Al-Isra’ Ayat 28

وَإِمَّا تُعْرِضَنَّ عَنْهُمُ ابْتِغَاءَ رَحْمَةٍ مِنْ رَبِّكَ تَرْجُوهَا فَقُلْ لَهُمْ قَوْلًا مَيْسُورًا

wa immā tu’riḍanna ‘an-humubtigā`a raḥmatim mir rabbika tarjụhā fa qul lahum qaulam maisụrā

28. Dan, jika kamu [harus] berpaling dari mereka [yang membutuhkan karena kamu sendiri juga membutuhkan] untuk mencari dan mengharapkan rahmat dari Pemeliharamu,34 setidaknya berbicaralah dengan mereka menggunakan ucapan yang lemah lembut.


34 Yakni, “karena kamu sendiri juga membutuhkan dan karena itu tidak mampu membantu orang lain”.


Surah Al-Isra’ Ayat 29

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا

wa lā taj’al yadaka maglụlatan ilā ‘unuqika wa lā tabsuṭ-hā kullal-basṭi fa taq’uda malụmam maḥsụrā

29. Dan, janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu,35 dan jangan pula kamu terlalu mengulurkannya sampai habis [kemampuanmu] agar tidak dicela [oleh orang yang menjadi tanggunganmu] atau bahkan menjadi melarat.


35 Satu metafora yang berarti kekikiran dan khususnya keengganan membantu orang lain (bdk. ungkapan yang sama dalam Surah Al-Ma’idah [5]: 64).


Surah Al-Isra’ Ayat 30

إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا

inna rabbaka yabsuṭur-rizqa limay yasyā`u wa yaqdir, innahụ kāna bi’ibādihī khabīram baṣīrā

30. Perhatikanlah, Pemeliharamu melapangkan rezeki atau menyempitkannya kepada siapa pun yang Dia kehendaki: sungguh, Dia Maha Mengetahui [kebutuhan] hamba-hamba-Nya, dan melihat mereka semua.


Surah Al-Isra’ Ayat 31

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا

wa lā taqtulū aulādakum khasy-yata imlāq, naḥnu narzuquhum wa iyyākum, inna qatlahum kāna khiṭ`ang kabīrā

31. Karena itu, janganlah membunuh anak-anakmu karena takut miskin:36 Kami-lah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sungguh, membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.


36 Secara historis, hal ini mungkin mengacu pada kebiasaan orang Arab pra-Islam yang mengubur hidup-hidup anak perempuan yang tidak diinginkan (lihat catatan no. 4 pada Surah At-Takwir [81]: 8-9), dan juga pada tindakan mengorbankan anak laki-laki kepada sejumlah dewa mereka—meskipun yang terakhir ini dilakukan hanya sesekali dan lebih jarang (lihat pendapat Al-Zamakhsyari ketika menafsirkan Surah Al-An’am [6]: 137). Namun, terlepas dari semua ini, larangan di atas senantiasa berlaku sepanjang masa karena juga berhubungan dengan aborsi yang dilakukan “karena ketakutan terhadap kemiskinan”, yakni semata karena alasan ekonomi.


Surah Al-Isra’ Ayat 32

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

wa lā taqrabuz-zinā innahụ kāna fāḥisyah, wa sā`a sabīlā

32. Dan, janganlah berzina37—sebab, perhatikanlah, zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.


37 Lit., “jangan mendekati zina”, jadi, memperkuat intensitas larangannya. Harus dicatat bahwa istilah zina berarti seluruh hubungan seksual antara perempuan dan laki-laki yang bukan suami-istri, tanpa memandang apakah salah satunya telah menikah dengan orang lain atau tidak; {Kosakata bahasa Inggris membedakan antara adultery dengan fornication. Adultery berarti hubungan seksual di luar nikah antara laki-laki yang beristri dan perempuan lain yang bukan istrinya, atau antara perempuan yang bersuami dan laki-laki lain. Sedangkan, fornication berarti hubungan seksual di luar nikah antara laki-laki dan perempuan yang keduanya tidak terikat pernikahan. Lihat catatan no. 2 Surah An-Nur [24]: 2.—peny.}.


Surah Al-Isra’ Ayat 33

وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۗ وَمَنْ قُتِلَ مَظْلُومًا فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهِ سُلْطَانًا فَلَا يُسْرِفْ فِي الْقَتْلِ ۖ إِنَّهُ كَانَ مَنْصُورًا

wa lā taqtulun-nafsallatī ḥarramallāhu illā bil-ḥaqq, wa mang qutila maẓlụman fa qad ja’alnā liwaliyyihī sulṭānan fa lā yusrif fil-qatl, innahụ kāna manṣụrā

33. Dan, janganlah mengambil nyawa manusia—[nyawa] yang dikehendaki Allah untuk disucikan—kecuali untuk [mencari] keadilan.38 Karena itu, siapa pun yang dibunuh secara zalim, Kami telah memberi kuasa kepada pembela haknya [untuk menuntut hukuman yang setimpal];39 tetapi meskipun begitu, janganlah dia melampaui batas keadilan dalam [hukuman] pembunuhan.40 [Sedangkan, mengenai dia yang dibunuh secara zalim—] perhatikanlah, dia pasti ditolong [Allah]!41


38 Yakni, dalam pelaksanaan hukuman legal atau dalam peperangan yang dibenarkan (lihat Surah Al-Baqarah [2]: 190 dan catatannya [no. 167]), atau untuk pembelaan diri yang sah.

39 Ini mengacu pada hukuman legal untuk pembunuhan yang disebut qishash (“hukuman setimpal”) dan dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah [2]: 178 dan catatannya. Dalam konteks ini, istilah wali (“pelindung” atau “pembela hak-hak [seseorang]”) biasanya diartikan dengan ahli waris atau keluarga dekat korban; namun, Al-Zamakhsyari berpendapat bahwa wali dapat juga berarti pemerintah (al-sulthan): sebuah tafsiran yang jelas sekali didasarkan pada konsep pemerintah sebagai “pelindung” atau “pembela hak-hak” seluruh warga negaranya. Mengenai ungkapan qutila mazhluman (“dibunuh secara zalim”), jelas bahwa ini mengacu hanya pada pembunuhan yang disengaja karena konsep zhulm dalam Al-Quran hanya digunakan untuk mengacu pada kesalahan yang disengaja, tidak pernah pada kesalahan yang tidak disengaja.

40 Jadi, pembela hak-hak korban (dalam kasus ini, pengadilan) bukan hanya tidak berhak untuk menjatuhkan hukuman mati kepada siapa pun selain pada pembunuh atau para pembunuh sebenarnya, melainkan dapat juga—jika kasus tersebut membenarkannya—memberikan kelonggaran dan sekaligus menghindari pemberian hukuman mati itu sendiri.

41 Yakni, dia dibela di dunia ini melalui hukuman yang dikenakan terhadap pembunuhnya, sedangkan di akhirat akan diberkati dengan rahmat khusus yang dilimpahkan Allah kepada semua orang yang terbunuh secara tidak sah atau tanpa justifikasi moral (Al-Razi).  Namun, sejumlah mufasir berpendapat bahwa kata ganti “hu” (dia) mengacu pada pembela hak-hak korban, yakni ahli waris atau keluarga korban yang terdekat, sehingga kalimat di atas berarti “dia ditolong dengan memadai melalui hukuman yang setimpal (qishash) dan, karena itu, tidak boleh menuntut hukuman yang lebih daripada yang sepantasnya”.


Surah Al-Isra’ Ayat 34

وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُ ۚ وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ ۖ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا

wa lā taqrabụ mālal-yatīmi illā billatī hiya aḥsanu ḥattā yabluga asyuddahụ wa aufụ bil-‘ahdi innal-‘ahda kāna mas`ụlā

34. Dan, janganlah menyentuh harta anak yatim, kecuali untuk mengembangkan harta itu, sebelum dia cukup umur.42

Dan, penuhilah setiap janji—sebab, sungguh, [pada Hari Pengadilan,] kamu akan mempertanggungjawabkan setiap janji yang kamu buat!43


42 Lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 149.

43 Lit., “setiap janji akan ditanyai” atau “diselidiki”.


Surah Al-Isra’ Ayat 35

وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

wa auful-kaila iżā kiltum wazinụ bil-qisṭāsil-mustaqīm, żālika khairuw wa aḥsanu ta`wīlā

35. Dan, sempurnakanlah takaran apabila kalian menakar dan timbanglah dengan timbangan yang benar:44 ini akan menjadi kebaikan [bagi diri kalian sendiri] dan paling baik akibatnya.


44 Lit., “lurus” (mustaqim)—suatu istilah yang penggunaannya dalam Al-Quran selalu memiliki konotasi spiritual atau moral. Karena itu, seperti dalam frasa yang serupa pada Surah Al-An’am [6]: 152, perintah tersebut tidak hanya berlaku untuk transaksi-transaksi komersial semata, tetapi juga untuk segala urusan antar-sesama manusia.


Surah Al-Isra’ Ayat 36

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

wa lā taqfu mā laisa laka bihī ‘ilm, innas-sam’a wal-baṣara wal-fu`āda kullu ulā`ika kāna ‘an-hu mas`ụlā

36. Dan, janganlah menyibukkan dirimu dengan apa pun yang tidak kau ketahui:45 sungguh, pendengaran[mu], penglihatan[mu], dan hati[mu]—semuanya itu—akan dimintai pertanggungjawabannya [pada Hari Pengadilan]!


45 Atau: “jangan mengikuti [atau ‘mengejar’] apa pun …,” dan seterusnya. Tampaknya, hal ini mengacu pada pernyataan yang tak berdasar mengenai peristiwa atau orang (jadi, fitnah atau kesaksian palsu), pernyataan berdasarkan dugaan yang tidak didukung bukti atau pelibatan diri dalam suatu situasi sosial yang tidak dapat dievaluasi dengan benar.


Surah Al-Isra’ Ayat 37

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا

wa lā tamsyi fil-arḍi maraḥā, innaka lan takhriqal-arḍa wa lan tablugal-jibāla ṭụlā

37. Dan, janganlah berjalan di muka bumi dengan menyombongkan diri: sebab, sungguh, kamu tidak akan pernah mampu meluluhlantakkan bumi dan tidak pula mampu menjadi setinggi gunung!


Surah Al-Isra’ Ayat 38

كُلُّ ذَٰلِكَ كَانَ سَيِّئُهُ عِنْدَ رَبِّكَ مَكْرُوهًا

kullu żālika kāna sayyi`uhụ ‘inda rabbika makrụhā

38. Semua kejahatan ini amat dibenci dalam pandangan Pemeliharamu:46


46 Menurut sejumlah mufasir, celaan ini mengacu pada apa yang disebutkan dalam dua ayat terdahulu. Namun, kemungkinan besar celaan ini mencakup pula semua hal yang dilarang—baik yang tersurat maupun yang tersirat—dalam ayat 22 hingga 37.


Surah Al-Isra’ Ayat 39

ذَٰلِكَ مِمَّا أَوْحَىٰ إِلَيْكَ رَبُّكَ مِنَ الْحِكْمَةِ ۗ وَلَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ فَتُلْقَىٰ فِي جَهَنَّمَ مَلُومًا مَدْحُورًا

żālika mimmā auḥā ilaika rabbuka minal-ḥikmah, wa lā taj’al ma’allāhi ilāhan ākhara fa tulqā fī jahannama malụmam mad-ḥụrā

39. ini adalah sebagian dari pengetahuan tentang yang benar dan yang salah, yang diilhamkan Pemeliharamu kepadamu.47

Karena itu, janganlah engkau mengadakan tuhan yang lain di samping Allah48 agar engkau tidak dilemparkan ke dalam neraka, (dalam keadaan) dicela [oleh dirimu sendiri] dan ditolak [oleh-Nya]!


47 Atau: “yang Pemeliharamu telah wahyukan kepadamu”. Harus dicatat bahwa nomina hikmah, yang biasanya berarti “kebijaksanaan”, berasal dari verba hakama (“dia mencegah” atau “mengekang[nya]”, yakni, dari melakukan suatu tindakan yang tidak diinginkan). Karena itu, makna pokok hikmah adalah “apa yang mencegah seseorang dari perliaku jahat atau bodoh (bdk. Lane II, h. 617); dalam pengertian positif, kata ini berarti “pengetahuan [sadar] mengenai hal-hal yang paling utama” (Lisan Al-‘Arab, Taj Al-‘Arus). Karena dalam ayat ini hikmah secara khusus mengacu pada apa yang “amat dibenci dalam pandangan Tuhan”, hikmah menyiratkan batasan moral (atau “pengetahuan tentang baik dan buruk”) bagi manusia; dan, pada gilirannya, hal ini mensyaratkan adanya standar mutlak mengenai nilai-nilai moral yang berdasarkan kehendak Allah.

48 Karena tidak ada dasar untuk menerima nilai moral yang absolut—yakni, nilai yang tidak bergantung pada waktu dan keadaan sosial—tanpa suatu keimanan pada Allah dan pengadilan-Nya yang paling agung, rangkaian ayat ini {yakni ayat 22-39} diakhiri, sebagaimana diawali, dengan seruan untuk menyadari keesaan dan keunikan Allah.


Surah Al-Isra’ Ayat 40

أَفَأَصْفَاكُمْ رَبُّكُمْ بِالْبَنِينَ وَاتَّخَذَ مِنَ الْمَلَائِكَةِ إِنَاثًا ۚ إِنَّكُمْ لَتَقُولُونَ قَوْلًا عَظِيمًا

a fa aṣfākum rabbukum bil-banīna wattakhaża minal-malā`ikati ināṡā, innakum lataqụlụna qaulan ‘aẓīmā

40. MAKA, APAKAH Pemeliharamu mengistimewakan kamu dengan [memberikan] anak laki-laki [kepadamu], dan mengambil untuk diri-Nya sendiri anak-anak perempuan dengan kedok malaikat?49 Sungguh, kamu mengucapkan perkataan yang amat buruk!


49 Lit., “dan mengambil untuk diri-Nya sendiri perempuan-perempuan dari kalangan malaikat”: mengacu pada kepercayaan bangsa Arab pra-Islam bahwa malaikat-malaikat—yang dibayangkan sebagai sejenis tuhan-tuhan perempuan tingkat rendah (sub-deities)—adalah “anak-anak perempuan” Tuhan, meskipun bangsa Arab yang pagan itu sendiri memandang hina terhadap anak perempuan (bdk. Surah An-Nahl [16]: 57-59 dan catatannya). Dalam implikasinya yang lebih luas, pertanyaan retoris ini dimaksudkan untuk menjelaskan kemustahilan anggapan bahwa ketuhanan Allah dapat diproyeksikan pada, atau berserikat dengan, wujud lain (bdk. Surah Al-An’am [6]: 100-101).


Surah Al-Isra’ Ayat 41

وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ لِيَذَّكَّرُوا وَمَا يَزِيدُهُمْ إِلَّا نُفُورًا

wa laqad ṣarrafnā fī hāżal-qur`āni liyażżakkarụ, wa mā yazīduhum illā nufụrā

41. Dan sungguh, telah Kami berikan banyak sisi [terhadap pesan-pesan Kami] dalam Al-Quran ini, agar mereka [yang mengingkari kebenaran] dapat merenungkannya dalam-dalam: tetapi, semua ini hanyalah menambah kebencian mereka.


Surah Al-Isra’ Ayat 42

قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَىٰ ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا

qul lau kāna ma’ahū ālihatung kamā yaqụlụna iżal labtagau ilā żil-‘arsyi sabīlā

42. Katakanlah: “Jika ada—seperti yang dinyatakan orang-orang—tuhan-tuhan [yang lain] di samping-Nya, pastilah tuhan-tuhan itu [sendiri pun] harus berjuang mencari jalan kepada Dia yang bertakhta dalam kemahakuasaan-Nya.”50


50 Istilah ‘arsy (lit., “takhta” atau lebih tepatnya “kursi kekuasaan”) digunakan dalam Al-Quran untuk menunjuk pada kekuasaan absolut Tuhan terhadap segala sesuatu yang ada; karena itu, ungkapan dzu al-‘arsy lebih tepat diterjemahkan sebagai “Dia yang bertakhta dalam kemahakuasaan-Nya”. Lebih jauh dari ini, para mufasir tidak memiliki pendapat yang seragam mengenai maksud kalimat di atas. Beberapa di antara mereka mengartikannya demikian: “Andaikan ada tuhan yang lain selain Allah, tentu mereka berupaya keras untuk merebut sebagian atau seluruh kekuatan-Nya sehingga terjadi kekacaubalauan di jagat raya”. Mufasir lainnya—terutama Al-Thabari dan Ibn Katsir—memberikan penjelasan yang jauh lebih baik, walaupun agak lebih rumit. Mereka mengawali penjelasannya dengan mengemukakan asumsi yang masuk akal, yakni bahwa orang-orang yang memercayai eksistensi tuhan atau kekuatan ketuhanan yang lain selain Allah itu menganggap bahwa tuhan-tuhan atau kekuatan-kekuatan ini tidak lebih dari sekadar perantara antara manusia dan Dia. Selanjutnya, argumentasi mereka adalah demikian: Andaikan “perantara-perantara” yang dipercayai sebagai bersifat Ilahi atau semi-Tuhan ini benar-benar ada, jelaslah bahwa, karena mereka hanyalah “perantara”, bahkan mereka ini pun harus mengakui Allah sebagai Wujud Yang Paling Agung. Hal ini akan bermuara pada pengakuan selanjutnya bahwa mereka tidak mempunyai kekuatan sendiri, tetapi pada akhirnya bergantung dan tunduk sepenuhnya kepada-Nya: dan kesimpulan yang tidak dapat disangkal ini justru membantah bahwa “perantara” khayalan ini memiliki aspek ketuhanan tertentu. Maka, jika demikian halnya, apakah tidak lebih masuk akal apabila manusia menghadap secara langsung kepada Allah Yang Maha Berkuasa, Maha Melihat, dan Maha Mendengar, sehingga dia tidak membutuhkan perantara apa pun?


Surah Al-Isra’ Ayat 43

سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يَقُولُونَ عُلُوًّا كَبِيرًا

sub-ḥānahụ wa ta’ālā ‘ammā yaqụlụna ‘uluwwang kabīrā

43. Maha Tak Terhingga Kemuliaan-Nya, dan tiada tara Keagungan-Nya melampaui apa pun yang dapat manusia katakan [tentang-Nya]!51


51 Lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 88.


Surah Al-Isra’ Ayat 44

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

tusabbiḥu lahus-samāwātus-sab’u wal-arḍu wa man fīhinn, wa im min syai`in illā yusabbiḥu biḥamdihī wa lākil lā tafqahụna tasbīḥahum, innahụ kāna ḥalīman gafụrā

44. Langit yang tujuh,52 bumi, serta semua yang ada di dalamnya bertasbih (memuji) kemuliaan-Nya yang tak terhingga; dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih memuji kemuliaannya-Nya itu: tetapi kamu [wahai manusia] tidak memahami cara mereka memuliakan-Nya!53

Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun!


52 Untuk penjelasan ungkapan ini, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 20.

53 Yakni, walau semua dalam alam ciptaan ini memberi kesaksian terhadap adanya suatu Kehendak Kreatif yang sadar, manusia sering menjadi terlalu buta dan tuli terhadap bukti-bukti yang begitu berlimpah yang menunjukkan kemahakuasaan Tuhan yang senantiasa ada ini.


Surah Al-Isra’ Ayat 45

وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُورًا

wa iżā qara`tal-qur`āna ja’alnā bainaka wa bainallażīna lā yu`minụna bil-ākhirati ḥijābam mastụrā

45. Tetapi, [demikianlah:]54 apabila engkau membaca Al-Quran, Kami letakkan dinding yang tidak terlihat antara engkau dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat:


54 Wacana ini berkaitan dengan ayat 41.


Surah Al-Isra’ Ayat 46

وَجَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا ۚ وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْآنِ وَحْدَهُ وَلَّوْا عَلَىٰ أَدْبَارِهِمْ نُفُورًا

wa ja’alnā ‘alā qulụbihim akinnatan ay yafqahụhu wa fī āżānihim waqrā, wa iżā żakarta rabbaka fil-qur`āni waḥdahụ wallau ‘alā adbārihim nufụrā

46. karena, Kami telah letakkan selubung di atas hati mereka yang mencegah mereka memahami maksudnya dan ketulian ke dalam telinga mereka.55 Demikianlah, manakala engkau menyebut Pemeliharamu, ketika membaca Al-Quran, sebagai satu-satunya wujud Ilahi,56 mereka memalingkan punggung [membelakangimu] dengan rasa tidak suka.


55 Bdk. Surah Al-An’am [6]: 25. Lihat juga Surah Al-Baqarah [2]: 7 dan catatannya.

56 Lit., “manakala engkau menyebut dalam Al-Quran Pemeliharamu saja”.


Surah Al-Isra’ Ayat 47

نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَسْتَمِعُونَ بِهِ إِذْ يَسْتَمِعُونَ إِلَيْكَ وَإِذْ هُمْ نَجْوَىٰ إِذْ يَقُولُ الظَّالِمُونَ إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلًا مَسْحُورًا

naḥnu a’lamu bimā yastami’ụna bihī iż yastami’ụna ilaika wa iż hum najwā iż yaqụluẓ-ẓālimụna in tattabi’ụna illā rajulam mas-ḥụrā

47. Kami Maha Mengetahui tentang apa yang mereka dengarkan sewaktu mereka mendengarkan engkau:57 sebab, jika mereka berkumpul di antara mereka sendiri, lihatlah! orang-orang zalim ini berkata [satu sama lain], “Jika kamu mengikuti [Muhammad, kamu akan mengikuti] tidak lain kecuali seorang laki-laki yang kena sihir!”


57 Yakni, untuk mencari kesalahan dalam pesan Al-Quran.


Surah Al-Isra’ Ayat 48

انْظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا لَكَ الْأَمْثَالَ فَضَلُّوا فَلَا يَسْتَطِيعُونَ سَبِيلًا

unẓur kaifa ḍarabụ lakal-amṡāla fa ḍallụ fa lā yastaṭī’ụna sabīlā

48. Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan terhadapmu, [wahai Nabi, hanya] karena mereka sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan [menuju kebenaran]!


Surah Al-Isra’ Ayat 49

وَقَالُوا أَإِذَا كُنَّا عِظَامًا وَرُفَاتًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ خَلْقًا جَدِيدًا

wa qālū a iżā kunnā ‘iẓāmaw wa rufātan a innā lamab’ụṡụna khalqan jadīdā

49. Dan, [demikian pula] mereka berkata, “Setelah kami menjadi tulang belulang dan debu, akankah kami benar-benar dibangkitkan kembali sebagai makhluk baru?”


Surah Al-Isra’ Ayat 50

قُلْ كُونُوا حِجَارَةً أَوْ حَدِيدًا

qul kụnụ ḥijāratan au ḥadīdā

50. Katakanlah: “[Kamu akan dibangkitkan dari kematian meskipun] kamu sekalian batu atau besi


Surah Al-Isra’ Ayat 51

أَوْ خَلْقًا مِمَّا يَكْبُرُ فِي صُدُورِكُمْ ۚ فَسَيَقُولُونَ مَنْ يُعِيدُنَا ۖ قُلِ الَّذِي فَطَرَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ ۚ فَسَيُنْغِضُونَ إِلَيْكَ رُءُوسَهُمْ وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هُوَ ۖ قُلْ عَسَىٰ أَنْ يَكُونَ قَرِيبًا

au khalqam mimmā yakburu fī ṣudụrikum, fa sayaqụlụna may yu’īdunā, qulillażī faṭarakum awwala marrah, fa sayun-giḍụna ilaika ru`ụsahum wa yaqụlụna matā huw, qul ‘asā ay yakụna qarībā

51. atau substansi apa pun yang dalam pikiranmu bahkan tampak lebih jauh [dari kehidupan]!”58

Dan, [jika] kemudian mereka bertanya, “Siapakah yang akan menjadikan kami [hidup] kembali?”—katakanlah: “Dia yang menciptakan kamu pada kali yang pertama.”

Dan, [jika] mereka menggelengkan kepala mereka kepadamu [karena tidak percaya] dan bertanya, “Kapan itu akan terjadi?”—katakanlah: “Boleh jadi dalam waktu dekat,


58 Lit., “atau materi ciptaan apa pun yang, di dalam hatimu, bahkan tampak lebih sulit”—yakni, untuk hidup atau menerima kehidupan.


Surah Al-Isra’ Ayat 52

يَوْمَ يَدْعُوكُمْ فَتَسْتَجِيبُونَ بِحَمْدِهِ وَتَظُنُّونَ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا

yauma yad’ụkum fa tastajībụna biḥamdihī wa taẓunnụna il labiṡtum illā qalīlā

52. di Hari ketika Dia memanggil kalian, dan kalian akan menjawab dengan memuji-Nya, seraya menyangka bahwa kalian hidup [di dunia] sebentar saja.”59


59 Bagi manusia, kehidupannya di dunia ini akan tampak “sebentar saja” dibandingkan jangka waktu kehidupan di akhirat yang tidak terbatas (Al-Thabari, Al-Zamakhsyari). Implikasi selanjutnya adalah bahwa konsep manusia tentang “waktu” sangat terikat pada bumi dan, karena itu, tidak mempunyai arti dalam konteks realitas yang tertinggi. Kisah sebelumnya tentang orang-orang yang dahulu mengingkari kemungkinan kebangkitan—yang dikatakan sebagai “menjawab panggilan Allah dengan memuji-Nya”—menyiratkan bahwa, segera setelah dibangkitkan, mereka akan sepenuhnya menyadari eksistensi dan kekuasaan-Nya.


Surah Al-Isra’ Ayat 53

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا

wa qul li’ibādī yaqụlullatī hiya aḥsan, innasy-syaiṭāna yanzagu bainahum, innasy-syaiṭāna kāna lil-insāni ‘aduwwam mubīnā

53. DAN, KATAKANLAH kepada hamba-hamba-Ku agar hendaknya mereka berbicara dengan cara yang sebaik-baiknya [kepada mereka yang berbeda kepercayaan]:60 sungguh, setan itu senantiasa siap sedia menimbulkan perselisihan di antara manusia61—sebab, sungguh, setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia!


60 Bdk. Surah An-Nahl [16]: 125 dan catatannya (no. 149) dan juga Surah Al-‘Ankabut [29]: 46.

61 Lit., “setan menimbulkan perselisihan di antara mereka”.


Surah Al-Isra’ Ayat 54

رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِكُمْ ۖ إِنْ يَشَأْ يَرْحَمْكُمْ أَوْ إِنْ يَشَأْ يُعَذِّبْكُمْ ۚ وَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ وَكِيلًا

rabbukum a’lamu bikum iy yasya` yar-ḥamkum au iy yasya` yu’ażżibkum, wa mā arsalnāka ‘alaihim wakīlā

54. Pemeliharamu Maha Mengetahui tentang dirimu [dan apa yang layak bagimu]: jika Dia menghendaki, Dia akan mencurahkan rahmat[-Nya] kepadamu; dan jika Dia menghendaki, Dia akan mengazabmu.

Karena itu, Kami tidak mengutusmu [kepada manusia, wahai Nabi,] dengan kekuasaan untuk menentukan nasib mereka62


62 Mengenai terjemahan saya terhadap istilah wakil dalam ayat ini sebagai “seseorang yang mempunyai kekuatan untuk menentukan nasib [orang lain]”, lihat catatan no. 4 pada ayat 2 surah ini. Frasa tersebut dapat pula diterjemahkan menjadi, “Kami tidak mengutusmu untuk bertanggung jawab terhadap tingkah laku mereka”.


Surah Al-Isra’ Ayat 55

وَرَبُّكَ أَعْلَمُ بِمَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ عَلَىٰ بَعْضٍ ۖ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا

wa rabbuka a’lamu biman fis-samāwāti wal-arḍ, wa laqad faḍḍalnā ba’ḍan-nabiyyīna ‘alā ba’ḍiw wa ātainā dāwụda zabụrā

55. karena Pemeliharamu Maha Mengetahui [apa yang ada dalam pikiran] semua makhluk yang ada di lelangit dan di bumi. Namun, sungguh, Kami utamakan sebagian nabi atas sebagian yang lain63—sebagaimana Kami berikan kitab yang berisi hikmah Ilahi kepada Daud [sebagai tanda rahmat Kami].64


63 Tampaknya, ini mengacu pada peran Nabi Muhammad Saw. sebagai Nabi Terakhir (Al-Zamakhsyari, Baidhawi): terlepas dari ketidakmampuannya sebagai pribadi untuk “menentukan nasib” umat yang kepadanya dia diutus untuk menyampaikan pesan Allah, pesannya itu sendiri ditakdirkan untuk tetap abadi.

64 Yakni, sebagaimana “kitab hikmat Ilahi” (Kitab Mazmur) yang dianugerahkan kepada Nabi Daud hidup lebih lama daripada kemegahan kerajaannya di dunia, risalah Nabi Muhammad Saw.—Al-Quran—juga akan tetap hidup, walaupun nasib umat Muhammad senantiasa berubah.


Surah Al-Isra’ Ayat 56

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا

qulid’ullażīna za’amtum min dụnihī fa lā yamlikụna kasyfaḍ-ḍurri ‘angkum wa lā taḥwīlā

56. KATAKANLAH:65 “Serulah [makhluk-makhluk] yang kalian bayangkan [dianugerahi dengan kekuasaan Ilahi] di samping Dia66—dan [kalian akan menemukan bahwa] mereka tidak mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan penderitaan apa pun dari kalian, atau mengalihkannya [ke mana pun].”67


65 Secara tersirat, “terhadap mereka yang memercayai adanya kekuatan Ilahi apa pun selain Allah”.

66 Sebagaimana diperlihatkan rangkaian ayat di atas, hal ini mengacu pada penyembahan orang suci atau para malaikat.

67 Yakni, untuk mengalihkannya kepada diri mereka sendiri: ini jelas mengacu pada doktrin Kristen mengenai “penebusan dosa”.


Surah Al-Isra’ Ayat 57

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

ulā`ikallażīna yad’ụna yabtagụna ilā rabbihimul-wasīlata ayyuhum aqrabu wa yarjụna raḥmatahụ wa yakhāfụna ‘ażābah, inna ‘ażāba rabbika kāna maḥżụrā

57. [Makhluk suci] yang mereka seru itu sendiri berjuang mendapatkan pertolongan Pemelihara mereka—[bahkan] juga mereka yang paling dekat [kepada Allah]68—mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan hukuman-Nya: sebab, sungguh, hukuman Pemeliharamu adalah suatu yang harus diwaspadai!


68 Yakni, nabi-nabi yang paling mulia dan juga para malaikat.


Surah Al-Isra’ Ayat 58

وَإِنْ مِنْ قَرْيَةٍ إِلَّا نَحْنُ مُهْلِكُوهَا قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ أَوْ مُعَذِّبُوهَا عَذَابًا شَدِيدًا ۚ كَانَ ذَٰلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا

wa im ming qaryatin illā naḥnu muhlikụhā qabla yaumil-qiyāmati au mu’ażżibụhā ‘ażāban syadīdā, kāna żālika fil-kitābi masṭụrā

58. Dan, [ingatlah:] tiada suatu masyarakat pun yang tidak akan Kami binasakan sebelum Hari Kebangkitan69 atau Kami azab [bahkan lebih awal, jika terbukti berdosa] dengan derita yang sangat dahsyat: semua itu telah tercantum di dalam ketetapan Kami.70


69 Yakni, karena segala sesuatu di dunia ini bersifat sementara saja dan pasti akan binasa, manusia seharusnya sadar akan kehidupan di akhirat yang akan datang.

70 Lit., “dalam ketetapan”—yakni, sesuai dengan hukum-hukum abadi yang digariskan Allah terhadap ciptaan-Nya.


Surah Al-Isra’ Ayat 59

وَمَا مَنَعَنَا أَنْ نُرْسِلَ بِالْآيَاتِ إِلَّا أَنْ كَذَّبَ بِهَا الْأَوَّلُونَ ۚ وَآتَيْنَا ثَمُودَ النَّاقَةَ مُبْصِرَةً فَظَلَمُوا بِهَا ۚ وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا

wa mā mana’anā an nursila bil-āyāti illā ang każżaba bihal-awwalụn, wa ātainā ṡamụdan-nāqata mubṣiratan fa ẓalamụ bihā, wa mā nursilu bil-āyāti illā takhwīfā

59. Dan, tiada yang menghalangi Kami untuk menyampaikan [pesan-pesan ini, seperti pesan-pesan yang terdahulu] dengan tanda-tanda yang ajaib [yang mengiringinya], melainkan [karena pengetahuan Kami] bahwa orang-orang terdahulu [terlalu sering] mendustakannya:71 demikianlah, Kami berikan kepada [kaum] Tsamud unta betina itu sebagai isyarat yang menerangi, lalu mereka menganiayanya.72 Dan, Kami tidak pernah memberikan tanda-tanda itu selain untuk memperingatkan.


71 Kalimat yang sangat eliptis ini mempunyai hubungan yang fundamental dengan tujuan Al-Quran secara keseluruhan. Dalam berbagai ayat, Al-Quran menekankan fakta bahwa meskipun Nabi Muhammad Saw. merupakan Nabi Allah yang terakhir dan terbesar, berbeda dengan nabi-nabi terdahulu, dia tidak diberi kemampuan untuk menampilkan mukjizat-mukjizat yang memperkuat pesan-pesan verbal yang diasampaikan. Satu-satunya mukjizat Nabi Muhammad Saw. adalah Al-Quran itu sendiri—suatu risalah dengan artikulasi yang sempurna dan kandungan ajaran etis yang komprehensif, yang diperuntukkan bagi setiap zaman dan tingkat perkembangan manusia. Selain itu, ditujukan bukan untuk perasaan semata, melainkan juga untuk pikiran manusia dan terbuka bagi siapa saja, apa pun ras atau lingkungan sosialnya, serta dijamin tidak berubah untuk selamanya. Karena semua nabi terdahulu hanya menyeru kaumnya pada suatu masa tertentu, ajaran mereka pastilah dibatasi oleh kondisi sosial dan intetektual orang-orang dan masanya itu; dan karena orang yang diseru oleh para nabi itu belum mencapai tingkat pemikiran yang independen, nabi-nabi tersebut membutuhkan isyarat isyarat simbolik atau mukjizat (lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 94) agar umat mereka menyadari inti kebenaran misi mereka. Di sisi lain, pesan Al-Quran ini diwahyukan ketika manusia (khususnya mereka yang hidup di daerah yang dipengaruhi perkembangan agama Yahudi-Nasrani terdahulu) telah mencapai suatu tingkat kematangan tertentu sehingga mampu memahami suatu ideologi sedemikian rupa tanpa bantuan isyarat-isyarat persuasif dan pertunjukan mukjizat, yang pada masa lalu—seperti yang ditunjukkan ayat di atas—sering hanya menimbulkan kesalahpahaman.

72 Lihat Surah Al-A’raf [7]: 73 (paragraf kedua) dan catatannya (no. 57). Meskipun tidak ada indikasi apa pun di dalam Al-Quran bahwa unta betina yang diceritakan itu merupakan suatu mukjizat, peristiwa itu dimaksudkan sebagai ujian bagi bangsa Tsamud (bdk. Surah Al-Qamar [54]: 27) dan dengan demikian merupakan suatu “isyarat yang menerangi” (mubshirah).


Surah Al-Isra’ Ayat 60

وَإِذْ قُلْنَا لَكَ إِنَّ رَبَّكَ أَحَاطَ بِالنَّاسِ ۚ وَمَا جَعَلْنَا الرُّؤْيَا الَّتِي أَرَيْنَاكَ إِلَّا فِتْنَةً لِلنَّاسِ وَالشَّجَرَةَ الْمَلْعُونَةَ فِي الْقُرْآنِ ۚ وَنُخَوِّفُهُمْ فَمَا يَزِيدُهُمْ إِلَّا طُغْيَانًا كَبِيرًا

wa iż qulnā laka inna rabbaka aḥāṭa bin-nās, wa mā ja’alnar-ru`yallatī araināka illā fitnatal lin-nāsi wasy-syajaratal-mal’ụnata fil-qur`ān, wa nukhawwifuhum fa mā yazīduhum illā ṭugyānang kabīrā

60. Dan, lihatlah! Kami wahyukan kepadamu, [wahai Nabi:] “Perhatikanlah, Pemeliharamu meliputi segala manusia [dalam pengetahuan-Nya dan kekuasaan-Nya]: dan demikianlah Kami tetapkan bahwa penglihatan yang telah Kami tunjukkan kepadamu73—sebagaimana juga pohon [neraka] yang terkutuk dalam Al-Quran ini—akan menjadi ujian semata bagi manusia.74 Kini, [dengan bercerita tentang neraka,] Kami sampaikan peringatan kepada mereka: tetapi, [jika mereka berkukuh mengingkari kebenaran,] maka [peringatan] ini hanya menambah besar kesombongan mereka yang keterlaluan.”


73 Penglihatan (ru’ya) yang disebutkan di sini adalah Peristiwa Kenaikan Nabi (Mi’raj), yang didahului dengan Perjalanan Malam Hari (Isra’, Iihat artikel Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw). Karena peristiwa ini, dari dahulu hingga kini, dapat ditafsirkan dengan berbagai cara yang saling bertentangan sehingga dapat menimbulkan keraguan mengenai realitas objektifnya, ia menjadi—seperti dinyatakan pada akhir kalimat ayat di atas—”suatu ujian bagi manusia”: bagi orang yang memiliki iman yang lemah dan dangkal, akan guncanglah kepercayaannya pada kejujuran Nabi Muhammad Saw. dan, karena itu, pada kenabiannya; sedangkan, bagi orang yang memiliki keimanan yang kukuh kepada Allah, mereka justru melihat peristiwa itu sebagai suatu bukti karunia spiritual luar biasa yang dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya yang terpilih sehingga hal ini semakin memperkuat keyakinan mereka pada pesan Al-Quran.

74 Mengenai “pohon yang dikutuk dalam Al-Quran”, tidak diragukan lagi bahwa maksudnya adalah “pohon dengan buah yang mematikan” (syajarat al-zaqqum) yang disebutkan dalam Surah As-Shaffat [37]: 62 dan seterusnya serta Surah Ad-Dukhan [44]: 43 dan seterusnya, yang merupakan salah satu perwujudan neraka (lihat Surah As-Shaffat [37]: 62-63 dan catatan no. 22 dan no. 23. Catatan no. 23 menjelaskan mengapa “pohon” ini menjadi “suatu ujian bagi manusia”). Dalam ayat tersebut, pohon itu digambarkan sebagai “yang dikutuk” karena pohon itu jelas melambangkan neraka itu sendiri. Alasan mengapa hanya “neraka”—dan bukan manifestasi akhirat lainnya—yang secara khusus disinggung dalam ayat ini diterangkan pada ayat selanjutnya, yakni dimaksudkan untuk menyampaikan peringatan.


Surah Al-Isra’ Ayat 61

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ قَالَ أَأَسْجُدُ لِمَنْ خَلَقْتَ طِينًا

wa iż qulnā lil-malā`ikatisjudụ li`ādama fa sajadū illā iblīs, qāla a asjudu liman khalaqta ṭīnā

61. DAN, LIHATLAH! Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu semua kepada Adam”—kemudian mereka semuanya bersujud, kecuali iblis.75

Berkata dia, “Akankah aku bersujud kepada seseorang yang Engkau ciptakan dari tanah liat?”


75 Untuk penjelasan mengenai alegori Adam dan para malaikat, lihat Surah Al-Baqarah [2]: 30-34, Al-A’raf [7]: 11-18, dan Al-Hijr [15]: 26-41, dan catatan-catatannya. Dalam ayat ini, sebagaimana dalam Surah Al-A’raf [7] dan Al-Hijr [15], yang ditekankan adalah godaan iblis terhadap Adam (yang jelas merupakan metonimia bagi seluruh manusia): karena itu, bagian ini tampaknya berhubungan dengan akhir ayat 53—”sungguh, setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia!” Penekanan pada martabat manusia—yang diungkapkan dalam perintah Allah kepada malaikat untuk “bersujud di hadapan Adam”—menghubungkan alegori ini dengan ayat 70-72.


Surah Al-Isra’ Ayat 62

قَالَ أَرَأَيْتَكَ هَٰذَا الَّذِي كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَأَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُ إِلَّا قَلِيلًا

qāla a ra`aitaka hāżallażī karramta ‘alayya la`in akhkhartani ilā yaumil-qiyāmati la`aḥtanikanna żurriyyatahū illā qalīlā

62. [Dan] dia menambahkan, “Katakanlah kepadaku, apakah [makhluk bodoh] ini yang Engkau muliakan melebihi diriku? Sungguh, jika Engkau berkehendak, berilah tangguh kepadaku sampai Hari Kebangkitan, aku benar-benar akan menjadikan keturunannya—semuanya, kecuali sedikit—menaatiku dengan membuta!”76


76 Bdk. Surah Al-A’raf [7]: 16-17. Verba hanaka secara harfiah berarti “dia mengikatkan tali di rahang bawah (hanak) [kuda]”, yakni, untuk mengendalikannya; karena itu, bentuk ihtanaka berarti “dia menjadikan [makhluk lain] tunduk mengikutinya” atau “menaatinya dengan membuta”.


Surah Al-Isra’ Ayat 63

قَالَ اذْهَبْ فَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ فَإِنَّ جَهَنَّمَ جَزَاؤُكُمْ جَزَاءً مَوْفُورًا

qālaż-hab fa man tabi’aka min-hum fa inna jahannama jazā`ukum jazā`am maufụrā

63. [Allah] menjawab, “Pergilah [mengikuti jalan yang kamu pilih]! Tetapi, bagi mereka yang akan mengikutimu—perhatikanlah, neraka akan menjadi balasanmu [semua], suatu pembalasan yang sangat cukup!


Surah Al-Isra’ Ayat 64

وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ وَعِدْهُمْ ۚ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا

wastafziz manistaṭa’ta min-hum biṣautika wa ajlib ‘alaihim bikhailika wa rajilika wa syārik-hum fil-amwāli wal-aulādi wa ‘id-hum, wa mā ya’iduhumusy-syaiṭānu illā gurụrā

64. Maka, godalah dengan suaramu mereka yang dapat kamu perdayakan dan kerahkanlah terhadap mereka seluruh kuda dan orang-orangmu,77 berserikatlah dengan mereka dalam [setiap dosa yang berkenaan dengan] kekayaan dunia dan anak~anak,78 dan berilah [segala macam) janji kepada mereka: dan [mereka tidak akan mengetahui bahwa] apa pun yang dijanjikan setan dimaksudkan hanya untuk memperdaya pikiran.79


77 Ini merupakan suatu metafora idiomatik yang lazim, yang berarti “dengan seluruh kekuatanmu”.

78 Suatu sindiran terhadap harta yang diperoleh dan dibelanjakan dengan cara tidak benar, dan juga terhadap anak yang dilahirkan melalui perbuatan zina. (Namun, harus ditekankan bahwa dalam etika dan peraturan Hukum Islam, tidak ada stigma moral dan cacat hukum apa pun yang melekat pada anak itu.)

79 Bdk. Surah An-Nisa’ [4]: 120 dan catatannya (no. 142).


Surah Al-Isra’ Ayat 65

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ ۚ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ وَكِيلًا

inna ‘ibādī laisa laka ‘alaihim sulṭān, wa kafā birabbika wakīlā

65. “[Namun,] perhatikanlah, kamu tidak akan mempunyai kekuasaan terhadap hamba-hamba-Ku [yang bersandar penuh percaya, bertawakal kepada-Ku]:80 sebab, tiada yang layak dipercaya sebagaimana Pemeliharamu.”


80 Yakni, “kamu tidak akan memiliki kekuatan yang nyata terhadap mereka”, seperti dijelaskan dalam Surah Ibrahim [14]: 22 dan Al-Hijr [15]: 42.


Surah Al-Isra’ Ayat 66

رَبُّكُمُ الَّذِي يُزْجِي لَكُمُ الْفُلْكَ فِي الْبَحْرِ لِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

rabbukumullażī yuzjī lakumul-fulka fil-baḥri litabtagụ min faḍlih, innahụ kāna bikum raḥīmā

66. PEMELIHARAMU-LAH yang menjadikan kapal-kapal berlayar di lautan untukmu agar kamu dapat pergi mencari sebagian dari karunia-Nya: sungguh, Dia Sang Pemberi Rahmat terhadapmu.


Surah Al-Isra’ Ayat 67

وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ ۖ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ ۚ وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا

wa iżā massakumuḍ-ḍurru fil-baḥri ḍalla man tad’ụna illā iyyāh, fa lammā najjākum ilal-barri a’raḍtum, wa kānal-insānu kafụrā

67. Dan, apabila bahaya menimpa kamu di lautan, semua [kekuatan] yang biasa kamu seru meninggalkan kamu, [dan tiada yang tinggal bagimu] kecuali Dia: tetapi, tatkala Dia menyelamatkanmu ke daratan, kamu berpaling [dan melupakan-Nya] sebab, sungguh, manusia tidak tahu berterima kasih!


Surah Al-Isra’ Ayat 68

أَفَأَمِنْتُمْ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمْ جَانِبَ الْبَرِّ أَوْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا ثُمَّ لَا تَجِدُوا لَكُمْ وَكِيلًا

a fa amintum ay yakhsifa bikum jānibal-barri au yursila ‘alaikum ḥāṣiban ṡumma lā tajidụ lakum wakīlā

68. Maka, dapatkah kamu merasa aman bahwa Dia tidak akan menyebabkan sebidang tanah yang kering menelanmu sampai lumat atau membiarkan angin badai yang mematikan menyerangmu,81 kemudian kamu tidak mendapatkan seorang pun yang menjadi pelindungmu?


81 Lit., “angin badai yang menerbangkan bebatuan” (Taj Al-‘Arus, entri hashaba).


Surah Al-Isra’ Ayat 69

أَمْ أَمِنْتُمْ أَنْ يُعِيدَكُمْ فِيهِ تَارَةً أُخْرَىٰ فَيُرْسِلَ عَلَيْكُمْ قَاصِفًا مِنَ الرِّيحِ فَيُغْرِقَكُمْ بِمَا كَفَرْتُمْ ۙ ثُمَّ لَا تَجِدُوا لَكُمْ عَلَيْنَا بِهِ تَبِيعًا

am amintum ay yu’īdakum fīhi tāratan ukhrā fa yursila ‘alaikum qāṣifam minar-rīḥi fa yugriqakum bimā kafartum ṡumma lā tajidụ lakum ‘alainā bihī tabī’ā

69. Atau, dapatkah kamu sekali-kali merasa aman bahwa Dia tidak akan mengembalikanmu ke laut82 lagi, kemudian Dia membiarkan amukan topan menyerangmu dan menjadikanmu tenggelam sebagai balasan atas tiadanya rasa terima kasihmu—kemudian, kamu tidak mendapatkan seorang pun yang membelamu terhadap Kami?


82 lit., “ke dalamnya”.


Surah Al-Isra’ Ayat 70

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

wa laqad karramnā banī ādama wa ḥamalnāhum fil-barri wal-baḥri wa razaqnāhum minaṭ-ṭayyibāti wa faḍḍalnāhum ‘alā kaṡīrim mim man khalaqnā tafḍīlā

70. KINI, SUNGGUH, Kami telah muliakan anak-anak Adam,83 Kami angkut mereka di daratan dan lautan, dan Kami berikan kepada mereka rezeki dari yang baik-baik dalam kehidupan, dan Kami lebihkan mereka jauh di atas kebanyakan makhluk Kami:


83 Yakni, dengan menganugerahkan kepada mereka kemampuan berpikir konseptual (bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 31 dan catatannya [no. 23]), yang membuat mereka lebih unggul daripada semua makhluk hidup yang lain, dan bahkan daripada malaikat. Dengan menekankan ciri khas manusia yang unik tersebut, bagian ini berhubungan dengan, dan melanjutkan, tema ayat 61 sebelumnya.


Surah Al-Isra’ Ayat 71

يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ ۖ فَمَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَأُولَٰئِكَ يَقْرَءُونَ كِتَابَهُمْ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا

yauma nad’ụ kulla unāsim bi`imāmihim, fa man ụtiya kitābahụ biyamīnihī fa ulā`ika yaqra`ụna kitābahum wa lā yuẓlamụna fatīlā

71. [tetapi] suatu Hari akan Kami panggil setiap manusia [dan mengadili mereka] berdasarkan watak sadar] yang mengarahkan perbuatan mereka [dalam hidupnya]:84 kemudian, mereka yang catatannya diletakkan pada tangan kanan85—merekalah yang akan membaca catatannya [dengan bahagia]. Dan, tiada yang akan dianiaya walaupun selebar rambut:86


84 {according to the conscious disposition which governed their deeds:} Demikianlah, Al-Razi menafsirkan frasa nad’u kulla unasin bi-imamihim (lit., “Kami akan memanggil seluruh manusia dengan [menyebutkan] pemimpin mereka” atau “pemb imbing mereka”). Menurutnya, ungkapan imam (lit., “pemimpin” atau “pembimbing”) dalam konteks ini berkonotasi abstrak, yang berarti watak/kecenderungan sadar—baik atau buruk—yang mengatur perilaku seseorang dan memotivasi perbuatannya. Penafsiran inilah yang paling meyakinkan, apalagi karena ada hadis penting yang menyatakan bahwa “Amal perbuatan akan [dinilai] hanya berdasarkan niat sadar [yang menyebabkannya terjadi]; dan setiap orang hanya akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang diniatkannya secara sadar”. (Bdk. Surah An-Najm [53]: 39 dan catatan no. 32.)

85 Suatu gambaran simbolis yang sering digunakan Al-Quran untuk menunjukkan kebajikan dalam arti spiritual, sebagaimana “tangan kiri” mengindikasikan kebalikannya (bdk. Surah Al-Haqqah [69]: 19, 25 , dan juga Al-Insyiqaq [84]: 7).

86 Klausa terakhir ini jelas berlaku untuk kedua golongan, pelaku kebajikan maupun kejahatan. (Untuk terjemahan saya terhadap kata fatil, lihat Surah An-Nisa’ [4], catatan no. 67.)


Surah Al-Isra’ Ayat 72

وَمَنْ كَانَ فِي هَٰذِهِ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًا

wa mang kāna fī hāżihī a’mā fa huwa fil-ākhirati a’mā wa aḍallu sabīlā

72. sebab, siapa pun yang buta [hatinya] di [dunia] ini akan menjadi buta [pula] di akhirat, dan lebih tersesat dari jalan [kebenaran].87


87 Bdk. Surah TaHa [20]: 124-125. Bagian ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia di akhirat bukan saja merupakan akibat dari kehidupannya di dunia, melainkan juga merupakan kelanjutan organisnya, yang dimanifestasikan dalam perkembangan yang wajar dan merupakan intensifikasi kecenderungan-kecenderungan yang telah ada sebelumnya.


Surah Al-Isra’ Ayat 73

وَإِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ ۖ وَإِذًا لَاتَّخَذُوكَ خَلِيلًا

wa ing kādụ layaftinụnaka ‘anillażī auḥainā ilaika litaftariya ‘alainā gairahụ wa iżal lattakhażụka khalīlā

73. DAN, perhatikanlah, mereka [yang tersesat itu] berusaha untuk menggodamu agar berpaling dari segala [kebenaran] yang Kami ilhamkan kepadamu (wahai Nabi) agar kamu membuat-buat sesuatu yang lain atas nama Kami—jika demikian halnya, pasti mereka akan menjadikanmu sahabat sejati mereka!88


88 Ayat ini berkenaan dengan “kompromi” yang ditawarkan oleh kaum musyrik Quraisy: mereka menuntut agar Nabi Muhammad Saw. memberikan semacam pengakuan terhadap berhala-berhala suku mereka dan menyatakan bahwa pengakuan ini dilakukan atas nama Allah; sebagai imbalannya, mereka berjanji mengakuinya sebagai nabi dan menjadikannya sebagai pemimpin mereka. Tentu saja, Nabi menolak tawaran ini.


Surah Al-Isra’ Ayat 74

وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا

walau lā an ṡabbatnāka laqad kitta tarkanu ilaihim syai`ang qalīlā

74. Dan, andai Kami tidak memperkuat [keimanan]mu, boleh jadi, kamu akan condong sedikit kepada mereka89


89 Implikasinya, karena keyakinan Nabi begitu kukuh, tidak mungkin beliau mempertimbangkan untuk melakukan hal-hal semacam ini.


Surah Al-Isra’ Ayat 75

إِذًا لَأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرًا

iżal la`ażaqnāka ḍi’fal-ḥayāti wa ḍi’fal-mamāti ṡumma lā tajidu laka ‘alainā naṣīrā

75. jika demikian halnya, Kami pasti akan merasakan kepadamu [derita] yang berlipat ganda di dunia dan [derita] yang berlipat ganda sesudah mati,90 dan kamu tidak akan mendapatkan seorang penolong pun terhadap Kami!


90 Yakni, “karena kamu tersesat meskipun telah ada wahyu yang diturunkan Allah kepadamu dan karena telah menyesatkan pengikutmu pula melalui contoh tindakanmu itu”. Namun, ayat di atas memiliki jangkauan yang lebih luas daripada sekadar mengacu pada peristiwa sejarah itu saja (atau kejadian-kejadian yang berhubungan dengannya): ia mengungkapkan gagasan bahwa pengingkaran apa pun terhadap kebenaran fundamental yang dilakukan secara sadar merupakan dosa yang tidak diampuni.


Surah Al-Isra’ Ayat 76

وَإِنْ كَادُوا لَيَسْتَفِزُّونَكَ مِنَ الْأَرْضِ لِيُخْرِجُوكَ مِنْهَا ۖ وَإِذًا لَا يَلْبَثُونَ خِلَافَكَ إِلَّا قَلِيلًا

wa ing kādụ layastafizzụnaka minal-arḍi liyukhrijụka min-hā wa iżal lā yalbaṡụna khilāfaka illā qalīlā

76. Dan [karena mereka melihat bahwa mereka tidak dapat membujukmu], mereka berusaha untuk mengasingkanmu dari tanah [kelahiranmu]91 dengan tujuan untuk mengusirmu darinya—tetapi kemudian, setelah kamu meninggalkannya,92 mereka sendiri tidak akan tinggal [di sana] melainkan sebentar saja:93


91 Harus diingat bahwa surah ini merupakan surah Makkiyyah, yang diwahyukan ketika penganiayaan fisik maupun moral yang dilakukan musyrik Quraisy terhadap Nabi dan para pengikutnya mencapai puncak kehebatannya.

92 Lit., “setetah engkau”.

93 Ramalan ini terwujud setelah dua tahun lebih sedikit, pada bulan Ramadhan 2 H ketika para pemimpin Quraisy itu terbunuh dalam Perang Badar.


Surah Al-Isra’ Ayat 77

سُنَّةَ مَنْ قَدْ أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنْ رُسُلِنَا ۖ وَلَا تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحْوِيلًا

sunnata mang qad arsalnā qablaka mir rusulinā wa lā tajidu lisunnatinā taḥwīlā

77. [yang demikian itu adalah] ketetapan [Kami] terhadap semua rasul Kami yang Kami utus sebelum masamu;94 dan kamu tidak akan mendapatkan perubahan dalam ketetapan Kami.


94 Yakni, orang yang mengusir mereka selalu dihukum dengan kebinasaan.


Surah Al-Isra’ Ayat 78

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

aqimiṣ-ṣalāta lidulụkisy-syamsi ilā gasaqil-laili wa qur`ānal-fajr, inna qur`ānal-fajri kāna masy-hụdā

78. BERTEGUHLAH mendirikan shalat[mu], sejak tergelincirnya matahari dari titik puncaknya sampai gelapnya malam, dan [tetaplah memperhatikan] bacaan[nya] pada waktu fajar:95 sebab, perhatikanlah, bacaan [shalat] pada waktu fajar itu benar-benar disaksikan [oleh semua yang suci].96


95 Sebagaimana ditunjukkan oleh praktik (Sunnah) Nabi, ayat ini menentukan waktu-waktu pelaksanaan shalat lima kali sehari semalam, yang diwajibkan Islam terhadap laki-laki dan perempuan dewasa: yakni, ketika shubuh (fajr), sesaat setelah matahari melewati puncaknya (zhuhr), permulaan sore (‘ashr), segera setelah tenggelamnya matahari (maghrib), dan setelah malam tiba dan gelap sepenuhnya (‘isya’). Meskipun ayat-ayat Al-Quran dibaca dalam setiap shalat, shalat Shubuh secara metonimia dikhususkan penyebutannya sebagai “bacaan (qur’an) di waktu shubuh” karena Nabi—melalui wahyu Ilahi—biasa memanjangkan bacaannya ketika bershalat pada waktu tersebut. Dengan demikian, menekankan pentingnya arti shalat Shubuh ini. Lihat catatan berikutnya.)

96 Mayoritas mufasir klasik mengartikannya sebagai “disaksikan oleh para malaikat malam maupun malaikat siang”, karena shubuh adalah waktu antara malam dan siang. Namun, Al-Razi berpendapat bahwa “saksi” yang disebutkan Al-Quran di sini adalah pancaran cahaya yang diberikan Allah ke dalam jiwa manusia—peningkatan penglihatan batin ketika kegelapan dan keheningan malam mulai digantikan dengan cahaya siang yang memberi kehidupan, sehingga shalat menjadi sarana untuk mencapai pengetahuan yang lebih mendalam dalam bidang kebenaran spiritual dan, dengan demikian, meraih keakraban dengan segala yang kudus.


Surah Al-Isra’ Ayat 79

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

wa minal-laili fa taḥajjad bihī nāfilatal laka ‘asā ay yab’aṡaka rabbuka maqāmam maḥmụdā

79. Dan, bangkitlah dari tidurmu dan bershalatlah pada sebagian malam [pula], sebagai persembahan sukarela darimu,97 dan mudah-mudahan Pemeliharamu mengangkatmu ke tempat yang terpuji [di akhirat].


97 Lit., “sebagai amal perbuatan yang melampaui apa-apa yang diwajibkan terhadapmu” (nafilatan laka)—yakni, sebagai tambahan terhadap shalat wajib yang lima. Karena itu, ayat di atas bukan merupakan suatu perintah, melainkan suatu anjuran, meskipun Nabi sendiri selalu menghabiskan sebagian besar malamnya untuk shalat.


Surah Al-Isra’ Ayat 80

وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا

wa qur rabbi adkhilnī mudkhala ṣidqiw wa akhrijnī mukhraja ṣidqiw waj’al lī mil ladungka sulṭānan naṣīrā

80. Dan, ucapkanlah [dalam shalatmu]: “Wahai, Pemeliharaku! Masukkanlah aku [dalam apa pun yang aku lakukan] dengan cara yang benar dan tulus, keluarkanlah aku [darinya] dengan cara yang benar dan tulus, dan berikanlah kepadaku dari rahmat-Mu kekuatan yang mendukung!”


Surah Al-Isra’ Ayat 81

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

wa qul jā`al-ḥaqqu wa zahaqal-bāṭilu innal-bāṭila kāna zahụqā

81. Dan katakanlah: “Kebenaran kini telah datang [bersinar] dan kebatilan telah lenyap: sebab, perhatikanlah, semua kebatilan pasti akan lenyap!”


Surah Al-Isra’ Ayat 82

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

wa nunazzilu minal-qur`āni mā huwa syifā`uw wa raḥmatul lil-mu`minīna wa lā yazīduẓ-ẓālimīna illā khasārā

82. JADI, secara bertahap Kami turunkan melalui Al-Quran ini segala yang menyehatkan [jiwa] dan merupakan rahmat bagi orang-orang yang beriman [kepada Kami], sedangkan ia hanya menambah kehancuran bagi orang-orang zalim:98


98 Yang dimaksudkan dengan “orang-orang zalim” adalah orang yang, baik karena kesombongan diri maupun karena “cinta dunia yang berlebihan”, menolak mentah-mentah gagasan apa pun, mengenai petunjuk Ilahi—dan bersamaan dengan itu, menolak kepercayaan apa pun terhadap adanya nilai moral yang absolut—dan pada akhirnya terjerembap pada nihilisme spiritual, seperti yang ditunjukkan pada uraian selanjutnya.


Surah Al-Isra’ Ayat 83

وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَىٰ بِجَانِبِهِ ۖ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَئُوسًا

wa iżā an’amnā ‘alal-insāni a’raḍa wa na`ā bijānibih, wa iżā massahusy-syarru kāna ya`ụsā

83. sebab, [sering terjadi bahwa] apabila Kami berikan nikmat Kami kepada manusia, dia berpaling dengan sombong [dari mengingat Kami]; dan apabila nasib buruk menimpanya, niscaya dia berputus asa.99


99 Bdk. Surah Hud [11]: 9-10 dan catatannya.


Surah Al-Isra’ Ayat 84

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا

qul kulluy ya’malu ‘alā syākilatih, fa rabbukum a’lamu biman huwa ahdā sabīlā

84. Katakanlah: “Setiap orang bertindak menurut caranya masing-masing—dan Pemeliharamu Maha Mengetahui siapa orang yang telah memilih jalan yang terbaik.”100


100 Lit., “siapa yang ditunjuki dengan paling baik ke suatu jalan”.


Surah Al-Isra’ Ayat 85

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

wa yas`alụnaka ‘anir-rụḥ, qulir-rụḥu min amri rabbī wa mā ụtītum minal-‘ilmi illā qalīlā

85. DAN, MEREKA akan bertanya kepadamu tentang [hakikat] ilham Ilahi.101 Katakanlah: “Ilham ini [datang] karena perintah Pemeliharaku dan [kamu tidak dapat memahami hakikatnya, wahai manusia, karena] kamu diberi pengetahuan [sejati] yang amat sedikit.”


101 Untuk penafsiran istilah ruh ini, lihat Surah An-Nahl [16], catatan no. 2. Beberapa mufasir berpendapat bahwa pada ayat di atas, istilah ini secara khusus mengacu pada pewahyuan Al-Quran; mufasir lainnya memahaminya sebagai “nyawa”, khususnya nyawa manusia. Namun, penafsiran yang terakhir ini tidak meyakinkan karena ayat-ayat sebelumnya maupun sesudahnya secara eksplisit mengacu pada Al-Quran dan, karena itu, berkenaan dengan fenomena wahyu Ilahi.


Surah Al-Isra’ Ayat 86

وَلَئِنْ شِئْنَا لَنَذْهَبَنَّ بِالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ بِهِ عَلَيْنَا وَكِيلًا

wa la`in syi`nā lanaż-habanna billażī auḥainā ilaika ṡumma lā tajidu laka bihī ‘alainā wakīlā

86. Dan, jika Kami menghendaki, sungguh Kami dapat saja melenyapkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan dalam [keadaan yang membutuhkan itu], kamu tidak akan mendapatkan seorang pun untuk membela kepentinganmu di hadapan Kami.102


102 Lit., “menjadi pelindungmu terhadap [atau ‘di hadapan’] Kami”—yakni, “agar memberimu sarana petunjuk yang lain”: suatu peringatan terhadap fakta bahwa petunjuk Ilahi merupakan satu-satunya sumber etika dalam pengertian mutlak kata ini. “Pelenyapan” wahyu berarti pencabutannya dari hati dan ingatan manusia, dan juga lenyapnya wahyu itu dalam bentuk tertulis.


Surah Al-Isra’ Ayat 87

إِلَّا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ ۚ إِنَّ فَضْلَهُ كَانَ عَلَيْكَ كَبِيرًا

illā raḥmatam mir rabbik, inna faḍlahụ kāna ‘alaika kabīrā

87. [Kamu diselamatkan] dengan rahmat Pemeliharamu semata: perhatikanlah, karunia-Nya atasmu sungguh besar!


Surah Al-Isra’ Ayat 88

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

qul la`inijtama’atil-insu wal-jinnu ‘alā ay ya`tụ bimiṡli hāżal-qur`āni lā ya`tụna bimiṡlihī walau kāna ba’ḍuhum liba’ḍin ẓahīrā

88. Katakanlah: “Jika seluruh manusia dan makhluk yang tak terlihat103 berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Quran ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa, meskipun mereka mengerahkan segenap kekuatan mereka untuk membantu satu sama lain!”


103 Lihat artikel Istilah dan Konsep Jin dalam Islam.


Surah Al-Isra’ Ayat 89

وَلَقَدْ صَرَّفْنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ فَأَبَىٰ أَكْثَرُ النَّاسِ إِلَّا كُفُورًا

wa laqad ṣarrafnā lin-nāsi fī hāżal-qur`āni ming kulli maṡalin fa abā akṡarun-nāsi illā kufụrā

89. Sebab, sungguh, telah Kami jadikan segala macam pelajaran di dalam Al-Quran ini memiliki banyak sisi, [yang dirancang] untuk [memberi manfaat bagi] umat manusia!104

Namun, kebanyakan manusia enggan menerima apa pun kecuali keingkaran105


104 Menurut Raghib, nomina matsal (lit., “persamaan”, “perumpamaan”, atau “contoh”) pada ayat ini kira-kira sama artinya dengan washf (“deskripsi melalui suatu perbandingan”, yakni, “definisi”). Dalam pengertiannya yang paling luas, istilah ini berarti “pelajaran”.

105 Yakni, mereka enggan menerima gagasan apa pun yang bertentangan dengan kecenderungan sikap ingkar mereka.


Surah Al-Isra’ Ayat 90

وَقَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الْأَرْضِ يَنْبُوعًا

wa qālụ lan nu`mina laka ḥattā tafjura lanā minal-arḍi yambụ’ā

90. dan demikianlah mereka berkata, “[Wahai, Muhammad] kami tidak akan memercayaimu hingga engkau memancarkan mata air dari bumi untuk kami,106


106 Yakni, seperti Nabi Musa (bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 60).


Surah Al-Isra’ Ayat 91

أَوْ تَكُونَ لَكَ جَنَّةٌ مِنْ نَخِيلٍ وَعِنَبٍ فَتُفَجِّرَ الْأَنْهَارَ خِلَالَهَا تَفْجِيرًا

au takụna laka jannatum min nakhīliw wa ‘inabin fa tufajjiral-an-hāra khilālahā tafjīrā

91. atau engkau mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu engkau mengalirkan sungai-sungai di celah-celahnya dengan tiba-tiba,107


107 Tampaknya, ini merupakan suatu ejekan terhadap alegori surga yang sering diceritakan di dalam Al-Quran.


Surah Al-Isra’ Ayat 92

أَوْ تُسْقِطَ السَّمَاءَ كَمَا زَعَمْتَ عَلَيْنَا كِسَفًا أَوْ تَأْتِيَ بِاللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ قَبِيلًا

au tusqiṭas-samā`a kamā za’amta ‘alainā kisafan au ta`tiya billāhi wal-malā`ikati qabīlā

92. atau engkau menjadikan lelangit jatuh menimpa kami dengan berkeping-keping, sebagaimana yang kau ancamkan,108 atau [sampai] engkau mendatangkan Allah dan para malaikat berhadapan muka dengan kami,


108 Lit., “kau nyatakan”: boleh jadi mengacu pada peringatan yang diungkapkan pada Surah Saba’ [34]: 9, yang diwahyukan sedikit lebih awal daripada surah ini.


Surah Al-Isra’ Ayat 93

أَوْ يَكُونَ لَكَ بَيْتٌ مِنْ زُخْرُفٍ أَوْ تَرْقَىٰ فِي السَّمَاءِ وَلَنْ نُؤْمِنَ لِرُقِيِّكَ حَتَّىٰ تُنَزِّلَ عَلَيْنَا كِتَابًا نَقْرَؤُهُ ۗ قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنْتُ إِلَّا بَشَرًا رَسُولًا

au yakụna laka baitum min zukhrufin au tarqā fis-samā`, wa lan nu`mina liruqiyyika ḥattā tunazzila ‘alainā kitāban naqra`uh, qul sub-ḥāna rabbī hal kuntu illā basyarar rasụlā

93. atau engkau mempunyai sebuah rumah [terbuat] dari emas, atau engkau naik ke langit—tetapi tidak, kami [bahkan] tidak akan memercayai kenaikanmu itu, kecuali engkau turunkan untuk kami sebuah tulisan [dari langit] yang dapat kami baca [sendiri]!”109

Katakanlah [wahai Nabi]: “Maha Tak Terhingga Kemuliaan Pemeliharaku!110 bukankah aku ini hanya seorang manusia, seorang rasul?”


109 Jawaban terhadap tuntutan orang-orang yang tidak beriman ini ditemukan dalam ayat 7 Surah Al-An’am [6], yang—menurut Suyuthi—diwahyukan segera setelah surah ini. Namun, tuntutan ini dan “syarat-syarat” yang disebutkan sebelumnya tidak bersifat historis semata: hal itu menggambarkan suatu sikap berpikir yang dianut banyak orang, serta kontradiktif secara psikologis—suatu campuran yang aneh antara skeptisisme prima-facie dan kepercayaan primitif yang naif yang menjadikan kepercayaan pada pesan kenabian bergantung pada “pertunjukan mukjizat” oleh nabi (bdk. Surah Al-An’am [6]: 37 dan 109, serta Surah Al-A’raf [7]: 203). Karena satu-satunya mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. adalah Al-Quran itu sendiri (lihat bagian pertama ayat 59 surah ini, dan juga catatan no. 71 sebelumnya), pada ayat selanjutnya, Nabi diminta untuk menyatakan bahwa tuntutan tersebut tidak relevan dan—karena itu—tidak pada tempatnya.

110 Yakni, “mukjizat merupakan kekuasaan Allah saja” (bdk. Surah Al-An’am [6]: 109 dan catatannya [no. 94]).


Surah Al-Isra’ Ayat 94

وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَىٰ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولًا

wa mā mana’an-nāsa ay yu`minū iż jā`ahumul-hudā illā ang qālū a ba’aṡallāhu basyarar rasụlā

94. Namun, setiap kali petunjuk [Allah] datang kepada mereka [melalui seorang nabi], tiada yang menghalangi manusia untuk beriman [kepadanya] kecuali keberatan mereka ini:111 “Akankah Allah mengutus seorang manusia [biasa saja] sebagai rasul-Nya?”


111 Lit., “kecuali bahwa mereka berkata”. Verba qala (seperti juga nomina qaul) secara figuratif sering digunakan dalam pengertian memegang atau menyatakan suatu opini atau kepercayaan; dalam ayat ini, jelas menunjukkan suatu keberatan secara konseptual.


Surah Al-Isra’ Ayat 95

قُلْ لَوْ كَانَ فِي الْأَرْضِ مَلَائِكَةٌ يَمْشُونَ مُطْمَئِنِّينَ لَنَزَّلْنَا عَلَيْهِمْ مِنَ السَّمَاءِ مَلَكًا رَسُولًا

qul lau kāna fil-arḍi malā`ikatuy yamsyụna muṭma`innīna lanazzalnā ‘alaihim minas-samā`i malakar rasụlā

95. Katakanlah: “Andaikan ada malaikat yang berjalan-jalan seperti penghuni di bumi, pasti Kami turunkan kepada mereka seorang malaikat dari langit sebagai rasul Kami.”


Surah Al-Isra’ Ayat 96

قُلْ كَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا

qul kafā billāhi syahīdam bainī wa bainakum, innahụ kāna bi’ibādihī khabīram baṣīrā

96. Katakanlah: “Tiada yang dapat bersaksi antara aku dan kalian, sebagaimana yang dilakukan Allah: sungguh, Dia Maha Mengetahui makhluk-Nya dan Maha Melihat semua [yang ada di dalam hati mereka].”


Surah Al-Isra’ Ayat 97

وَمَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِهِ ۖ وَنَحْشُرُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمْ عُمْيًا وَبُكْمًا وَصُمًّا ۖ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ كُلَّمَا خَبَتْ زِدْنَاهُمْ سَعِيرًا

wa may yahdillāhu fa huwal-muhtad, wa may yuḍlil fa lan tajida lahum auliyā`a min dụnih, wa naḥsyuruhum yaumal-qiyāmati ‘alā wujụhihim ‘umyaw wa bukmaw wa ṣummā, ma`wāhum jahannam, kullamā khabat zidnāhum sa’īrā

97. Dan, siapa pun yang ditunjuki Allah, dia sajalah yang menemukan jalan yang benar; sedangkan, orang-orang yang dibiarkan-Nya sesat, kamu tidak akan pernah mendapatkan siapa pun untuk melindungi mereka dari-Nya: dan [demikianlah, ketika] Kami mengumpulkan mereka pada Hari Kebangkitan, [mereka akan berbaring] telungkup dengan muka mereka, dalam keadaan buta, bisu, dan tuli dengan neraka sebagai tujuannya; [dan] setiap kali [nyala api itu] mereda, Kami akan tambahkan bagi mereka kobaran nyala[nya].112


112 Menurut saya, frasa “hum” (bagi mereka) dimaksudkan untuk menekankan karakter individual dari penderitaan itu, yang diumpamakan oleh Al-Quran sebagai “nyala api yang berkobar” (sa’ir). Untuk pembahasan lebih lanjut mengenai terminologi ini dan implikasi filosofisnya, lihat artikel Al-Mutasyabihat (Simbolisme dan Alegori) dalam Al-Qur’an.


Surah Al-Isra’ Ayat 98

ذَٰلِكَ جَزَاؤُهُمْ بِأَنَّهُمْ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا وَقَالُوا أَإِذَا كُنَّا عِظَامًا وَرُفَاتًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ خَلْقًا جَدِيدًا

żālika jazā`uhum bi`annahum kafarụ bi`āyātinā wa qālū a iżā kunnā ‘iẓāmaw wa rufātan a innā lamab’ụṡụna khalqan jadīdā

98. ltulah balasan bagi mereka karena menolak ayat-ayat Kami dan karena berkata, “Setelah kami menjadi tulang belulang dan debu, akankah kami benar-benar dibangkitkan kembali sebagai makhluk baru?”113


113 Secara tidak langsung menyatakan bahwa mengingkari kekuasaan Allah untuk membangkitkan orang yang telah mati ini (yang disebutkan dalam bentuk kalimat yang persis sama dalam ayat 49 surah ini) sama artinya dengan mengingkari kemahakuasaan-Nya dan, karena itu, mengingkari keberadaan-Nya pula—semua ini digambarkan dengan kata “buta, bisu, serta tuli” pada ayat sebelumnya.


Surah Al-Isra’ Ayat 99

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ قَادِرٌ عَلَىٰ أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ وَجَعَلَ لَهُمْ أَجَلًا لَا رَيْبَ فِيهِ فَأَبَى الظَّالِمُونَ إِلَّا كُفُورًا

a wa lam yarau annallāhallażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa qādirun ‘alā ay yakhluqa miṡlahum wa ja’ala lahum ajalal lā raiba fīh, fa abaẓ-ẓālimụna illā kufụrā

99. Dan, apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Allah, yang telah menciptakan lelangit dan bumi, berkuasa menciptakan mereka kembali dengan bentuk yang serupa114 dan, tidak diragukan lagi, telah menciptakan waktu bagi kebangkitan mereka?115

Namun, semua orang zalim [itu] enggan menerima apa pun kecuali keingkaran!116


114 Lit., “menciptakan yang serupa dengan mereka”—yakni, membangkitkan mereka secara individual dengan identitas yang sama (atau “keserupaan” yang sama) dengan yang mereka miliki ketika masih hidup di dunia.

115 Lit., “suatu batas waktu (ajal) bagi mereka”. Karena kata ajal utamanya berarti “suatu waktu yang spesifik” [saat sesuatu jatuh tempo], jelaslah bahwa di sini kata itu mengacu pada fakta mengenai kebangkitan yang tidak dapat dielakkan.

116 Lihat catatan no. 98 dan no. 105 sebelum ini.


Surah Al-Isra’ Ayat 100

قُلْ لَوْ أَنْتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي إِذًا لَأَمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الْإِنْفَاقِ ۚ وَكَانَ الْإِنْسَانُ قَتُورًا

qul lau antum tamlikụna khazā`ina raḥmati rabbī iżal la`amsaktum khasy-yatal-infāq, wa kānal-insānu qatụrā

100. Katakanlah: “Seandainya kamu menguasai seluruh gudang perbendaharaan karunia Pemeliharaku,117 lihatlah! niscaya kamu tetap akan menahan [perbendaharaan itu] erat-erat karena takut membelanjakannya [terlalu banyak]: sebab, manusia itu selalu sangat kikir [sedangkan Allah memiliki karunia yang tidak terbatas].”118


117 Lit., “kasih sayang” (rahmah).

118 Yakni, karena manusia, sesuai dengan sifat dasarnya, bergantung pada kepemilikan materi, secara naluriah dia mencoba mempertahankannya. Di sisi lain, Allah serba cukup dan karena itu sama sekali tidak perlu membatasi limpahan karunia-Nya (demikianlah kesimpulan yang saya sisipkan). Rujukan yang tersirat terhadap kasih sayang (rahmat) dan karunia Allah ini ditunjukkan dengan penekanan terhadap fakta—yang disampaikan pada ayat-ayat sebelumnya maupun sesudahnya—bahwa Dia tidak pernah berhenti membimbing manusia melalui nabi-nabi-Nya ke arah kehidupan yang baik.


Surah Al-Isra’ Ayat 101

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَىٰ تِسْعَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ ۖ فَاسْأَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ إِذْ جَاءَهُمْ فَقَالَ لَهُ فِرْعَوْنُ إِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا مُوسَىٰ مَسْحُورًا

wa laqad ātainā mụsā tis’a āyātim bayyinātin fas`al banī isrā`īla iż jā`ahum fa qāla lahụ fir’aunu innī la`aẓunnuka yā mụsā mas-ḥụrā

101. DAN, SUNGGUH, Kami telah memberikan kepada Musa sembilan ayat yang nyata.119

Maka, tanyakanlah kepada Bani Israil120 [untuk mengatakan kepadamu apa yang terjadi] ketika dia datang kepada mereka [dan menyeru kepada Fir’aun121] dan Fir’aun berkata kepadanya, “Sungguh, wahai Musa, menurutku engkau penuh dengan sihir!”122


119 Beberapa mufasir berpendapat bahwa hal ini mengacu pada mukjizat Nabi Musa, sedangkan mufasir lainnya (berdasarkan suatu hadis yang tercantum dalam kumpulan hadis Nasa’i, Ibn Hanbal, Baihaqi, Ibn Majah, dan Thabrani) melihatnya sebagai suatu acuan terhadap sembilan perintah yang spesifik atau prinsip-prinsip etika, yang isi terpentingnya adalah penekanan terhadap keesaan dan keunikan Allah. Namun, menurut saya, angka “sembilan” boleh jadi hanyalah suatu metonimia untuk “beberapa”, seperti halnya angka “tujuh” dan “tujuh puluh” yang sering digunakan dalam bahasa Arab klasik untuk menunjukkan “beberapa” atau “banyak”.

120 Yakni, yang hidup pada masa sekarang ini. Keseluruhan frasa di atas mengandung arti ini: “Tanyakanlah kepada mereka tentang apa yang diceritakan Al-Quran kepada kami tentang hal ini dan mereka pasti akan membenarkannya berdasarkan kitab suci yang mereka miliki”. Tampaknya, “konfirmasi” ini berhubungan dengan keterangan yang disebutkan dalam ayat 104, yang menjelaskan mengapa kisah Musa dan Fir’aun disebutkan dalam konteks ini. (Kisah tersebut dipaparkan dengan lebih terperinci dalam Surah Al-A’raf [7]: 103-137 dan Surah TaHa [20]: 49-79.)

121 Bdk. Surah Al-A’raf [7]: 105—”biarkanlah Bani Israil pergi bersamaku”.

122 Atau: “engkau terkena sihir”. Namun, terjemahan saya didasarkan pada penafsiran Al-Thabari terhadap partisip pasif mashur, yang menurut saya lebih tepat mengingat acuan berikutnya terhadap tanda-tanda mukjizati yang diberikan Allah kepada Nabi Musa.


Surah Al-Isra’ Ayat 102

قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنْزَلَ هَٰؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا

qāla laqad ‘alimta mā anzala hā`ulā`i illā rabbus-samāwāti wal-arḍi baṣā`ir, wa innī la`aẓunnuka yā fir’aunu maṡbụrā

102. [Musa] menjawab, “Sungguh, engkau telah mengetahui bahwa tiada seorang pun selain Sang Pemelihara lelangit dan bumi yang menurunkan [tanda-tanda mukjizat] itu sebagai sarana pengetahuan [bagimu];123 dan sungguh, wahai Fir’aun, [karena engkau telah memilih untuk menolak tanda-tanda itu,] menurutku engkau benar-benar telah sesat!”


123 Lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 94.


Surah Al-Isra’ Ayat 103

فَأَرَادَ أَنْ يَسْتَفِزَّهُمْ مِنَ الْأَرْضِ فَأَغْرَقْنَاهُ وَمَنْ مَعَهُ جَمِيعًا

fa arāda ay yastafizzahum minal-arḍi fa agraqnāhu wa mam ma’ahụ jamī’ā

103. Lalu, Fir’aun memutuskan untuk memusnahkan mereka [dari muka] bumi—namun kemudian, Kami tenggelamkan dia bersama semua orang yang menyertainya [ke dalam laut].124


124 Lihat Surah Al-A’raf [7], catatan no. 100.


Surah Al-Isra’ Ayat 104

وَقُلْنَا مِنْ بَعْدِهِ لِبَنِي إِسْرَائِيلَ اسْكُنُوا الْأَرْضَ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ جِئْنَا بِكُمْ لَفِيفًا

wa qulnā mim ba’dihī libanī isrā`īlaskunul-arḍa fa iżā jā`a wa’dul-ākhirati ji`nā bikum lafīfā

104. Dan setelah itu, Kami berfirman kepada Bani Israil, “Kini hiduplah dengan aman di bumi—tetapi [ingatlah bahwa] apabila janji Hari Akhir telah datang, Kami akan datangkan kamu sebagai [bagian dari] kelompok yang campur baur!”125


125 Menurut Al-Razi, ungkapan lafif berarti suatu kerumunan manusia yang terdiri dari unsur-unsur yang sangat heterogen, baik dan buruk, kuat dan lemah, beruntung dan malang: singkatnya, menggambarkan umat manusia dalam seluruh aspek. Dalam ayat di atas, istilah ini jelas digunakan untuk menolak, sekali lagi, gagasan bahwa Bani Israil adalah “manusia pilihan” karena mereka adalah keturunan Ibrahim dan, karena itu, selalu dan secara apriori pasti mendapatkan rahmat Allah. Al-Quran menolak klaim ini dengan menegaskan bahwa, pada Hari Kebangkitan, semua umat manusia akan dinilai dan tidak ada yang memiliki posisi istimewa.


Surah Al-Isra’ Ayat 105

وَبِالْحَقِّ أَنْزَلْنَاهُ وَبِالْحَقِّ نَزَلَ ۗ وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

wa bil-ḥaqqi anzalnāhu wa bil-ḥaqqi nazal, wa mā arsalnāka illā mubasysyiraw wa nażīrā

105. DAN, Kami turunkan [wahyu] ini sebagai petunjuk kepada kebenaran126; dengan kebenaran [sejati] inilah ia diturunkan [kepadamu, wahai Nabi]:127 sebab, Kami mengutusmu sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan,


126 Lit., “dengan kebenaran” atau “dalam kebenaran”.

127 Yakni, telah turun kepada manusia melalui Nabi, tanpa suatu perubahan, pengurangan, atau penambahan.


Surah Al-Isra’ Ayat 106

وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا

wa qur`ānan faraqnāhu litaqra`ahụ ‘alan-nāsi ‘alā mukṡiw wa nazzalnāhu tanzīlā

106. [dengan membawa] bacaan yang Kami bentangkan dengan berangsur-angsur128 agar kamu membacakannya kepada manusia sedikit demi sedikit karena Kami menurunkannya secara bertahap sebagai [satu] wahyu.129


128 Lit., “yang telah Kami bagi ke dalam beberapa bagian [yang berurutan]” atau menurut beberapa mufasir (yang dikutip oleh Al-Razi) “diungkapkan dengan jelas”. Terjemahan saya itu mencakup kedua makna tersebut.

129 Ayat di atas menegaskan dua fakta sejarah: pertama, bahwa proses pewahyuan Al-Quran terjadi secara berangsur-angsur selama lebih dari 23 tahun masa kenabian Nabi Muhammad Saw., dan kedua, bahwa Al-Quran merupakan satu kesatuan yang integral, dan karena itu hanya dapat dipahami dengan tepat jika dilihat dalam keseluruhannya—yakni, jika setiap ayat dibaca dalam kaitannya dengan ayat-ayat lainnya. (Lihat juga Surah TaHa [20]: 114 dan catatan no. 101.)


Surah Al-Isra’ Ayat 107

قُلْ آمِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا ۚ إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا

qul āminụ bihī au lā tu`minụ, innallażīna ụtul-‘ilma ming qablihī iżā yutlā ‘alaihim yakhirrụna lil-ażqāni sujjadā

107. Katakanlah: “Berimanlah kepadanya atau tidak usah beriman.”

Perhatikanlah, orang-orang yang telah130 dianugerahi pengetahuan [bawaan] menyungkurkan muka mereka sambil bersujud begitu [kitab Ilahi] ini dibacakan kepada mereka,


130 Lit., “sebelumnya”—yakni, sebelum Al-Quran yang sedemikian ini sampai ke dalam pemahaman mereka.


Surah Al-Isra’ Ayat 108

وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا

wa yaqụlụna sub-ḥāna rabbinā ing kāna wa’du rabbinā lamaf’ụlā

108. dan berkata, “Maha Tak Terbatas Kemuliaan Pemelihara kami! Sungguh, janji Pemelihara kami telah dipenuhi!”131


131 Ini mungkin mengacu pada sejumlah prediksi Bibel tentang kedatangan Nabi Muhammad Saw., khususnya dalam Kitab Ulangan pasal 18, ayat 15 dan 18 (bdk. Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 33). Namun, dalam pengertian yang lebih luas, “pemenuhan janji Allah” berhubungan dengan karunia-Nya menurunkan suatu wahyu yang final, yakni Al-Quran, yang selanjutnya ditetapkan untuk membimbing manusia pada seluruh tingkatan perkembangan spiritual, kultural, dan sosialnya.


Surah Al-Isra’ Ayat 109

وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا

wa yakhirrụna lil-ażqāni yabkụna wa yazīduhum khusyụ’ā

109. Demikianlah, mereka menyungkurkan muka sambil menangis dan [kesadaran mereka terhadap rahmat Allah] menambah kerendah-hatian mereka.


Surah Al-Isra’ Ayat 110

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا

qulid’ullāha awid’ur-raḥmān, ayyam mā tad’ụ fa lahul-asmā`ul-ḥusnā, wa lā taj-har biṣalātika wa lā tukhāfit bihā wabtagi baina żālika sabīlā

110. Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Yang Maha Penyayang; dengan nama mana pun engkau menyeru-Nya, [Dia tetap saja Yang Maha Esa—sebab,] milik-Nya-lah segala sifat-sifat kesempurnaan.”132

Dan, [berdoalah kepada-Nya; namun,] janganlah engkau terlalu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula terlalu merendahkannya, tetapi carilah jalan pertengahannya;


132 Untuk penjelasan ungkapan al-asma’ al-husna (lit., “nama-nama yang paling sempurna [atau ‘yang paling baik’]”, lihat Surah Al-A’raf [7], catatan no. 145. Nama al-rahman—yang selalu saya terjemahkan menjadi “Yang Maha Pengasih” {The Most Gracious}—mempunyai makna yang padat, yang menunjuk pada kualitas dan tindakan kasih sayang dan kemurahan hati tanpa syarat dan meliputi semua makhluk, dan hanya digunakan secara eksklusif untuk Allah, “yang telah menetapkan atas diri-Nya sendiri hukum rahmat dan belas kasih” (Surah Al-An’am [6]: 12 dan 54).


Surah Al-Isra’ Ayat 111

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ ۖ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا

wa qulil-ḥamdu lillāhillażī lam yattakhiż waladaw wa lam yakul lahụ syarīkun fil-mulki wa lam yakul lahụ waliyyum minaż-żulli wa kabbir-hu takbīrā

111. dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah, yang tidak mempunyai keturunan133 dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya, dan tidak memiliki kelemahan sehingga tidak memerlukan bantuan apa pun”134—dan [karena itu] agungkanlah Kebesaran-Nya yang Tak Terhingga.


133 lit., “yang tidak mengambil untuk diri-Nya sendiri [atau ‘tidak memperanakkan’] seorang anak”—yakni, Allah bebas dari ketidaksempurnaan yang melekat dalam konsep “memiliki anak sebagai kelanjutan eksistensinya”. Karena pernyataan ini tidak hanya menolak doktrin Kristen tentang Yesus sebagai “anak Allah” tetapi, lebih daripada itu, menekankan bahwa pengaitan konsep seperti itu dengan Allah merupakan suatu kemustahilan logis (logical impossibility), klausa tersebut lebih tepat diterjemahkan dalam “kalimat bentuk kini”, dan nomina walad diterjemahkan dalam pengertian utamanya yakni “keturunan”, yang berlaku baik untuk anak laki-laki maupun anak perempuan.

134 Lit., “dan tidak memiliki pelindung [untuk membantu-Nya] sehubungan dengan [dugaan] adanya kelemahan apa pun [yang terdapat pada-Nya]”.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top