84. Al-Insyiqaq (Terpecah Belah) – الإنشقاق

Surat Al-Insyiqaq dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Insyiqaq ( الإنشقاق ) merupakan surah ke 84 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 25 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Al-Insyiqaq tergolong Surat Makkiyah.

Penamaan konvensional dari surah ini berasal dari kata yang muncul pada ayat pertama, yaitu insyaqqat, yang menyampaikan gambaran simbolik tentang Saat Terakhir.

Secara kronologis, Surat Al-Insyiqaq diwahyukan segera setelah Surah Al-Infithar [82] dan, karena itu, mungkin merupakan salah satu surah yang diturunkan pada periode Makkah akhir.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Insyiqaq Ayat 1

إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ

iżas-samā`unsyaqqat

1. TATKALA LANGIT terpecah belah,1


1 Yakni, ketika datangnya Saat Terakhir dan dimulainya suatu realitas yang baru, baik dalam kenyataannya maupun dalam persepsi manusia.


Surah Al-Insyiqaq Ayat 2

وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ

wa ażinat lirabbihā wa ḥuqqat

2. mematuhi Pemeliharanya, karena sudah semestinya ia patuh;


Surah Al-Insyiqaq Ayat 3

وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ

wa iżal-arḍu muddat

3. dan tatkala bumi diratakan,2


2 Lihat Surah Ta’Ha’ [20]: 105-107.


Surah Al-Insyiqaq Ayat 4

وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ

wa alqat mā fīhā wa takhallat

4. dan memuntahkan segala yang ada di dalamnya, dan menjadi kosong sama sekali,3


3 Yakni, kehilangan realitasnya sama sekali.


Surah Al-Insyiqaq Ayat 5

وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ

wa ażinat lirabbihā wa ḥuqqat

5. mematuhi Pemeliharanya, karena sudah semestinya ia patuh:—


Surah Al-Insyiqaq Ayat 6

يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ

yā ayyuhal-insānu innaka kādiḥun ilā rabbika kad-ḥan fa mulāqīh

6. [maka,] wahai manusia—engkau [yang], sungguh, telah berupaya dengan susah payah menuju Pemeliharamu4—maka pasti engkau akan menemui-Nya!


4 Ini berbicara secara tidak langsung tentang kenyataan bahwa dalam kehidupan manusia di dunia—terlepas dari apakah dia mengetahuinya secara sadar atau tidak—penderitaan, kesengsaraan, kerja keras yang membosankan, dan kekhawatiran, jauh lebih banyak dibanding momen-momen kebahagiaan dan kepuasan sejati yang jarang dialami. Maka, kondisi manusia digambarkan sebagai “berupaya dengan susah payah menuju Sang Pemelihara”—yakni, menuju suatu saat ketika dia bertemu dengan-Nya pada Hari Kebangkitan.


Surah Al-Insyiqaq Ayat 7

فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ

fa ammā man ụtiya kitābahụ biyamīnih

7. Adapun orang yang catatannya akan diletakkan di tangan kanannya,5


5 Yakni, yang perilakunya dalam kehidupan di dunia menunjukkan ciri-ciri orang “saleh”: lihat catatan no. 17 dalam Surah Al-Haqqah [69]: 19.


Surah Al-Insyiqaq Ayat 8

فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا

fa saufa yuḥāsabu ḥisābay yasīrā

8. pada saatnya dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah,


Surah Al-Insyiqaq Ayat 9

وَيَنْقَلِبُ إِلَىٰ أَهْلِهِ مَسْرُورًا

wa yangqalibu ilā ahlihī masrụrā

9. dan dia akan [dapat] kembali dengan gembira kepada orang-orang yang segolongan dengannya.6


6 Lit., “kaumnya”—yakni, orang-orang yang, seperti dirinya, bersikap saleh selama hidup.


Surah Al-Insyiqaq Ayat 10

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ

wa ammā man ụtiya kitābahụ warā`a ẓahrih

10. Akan tetapi, adapun orang yang catatannya akan diberikan kepadanya dari belakang punggungnya,7


7 Sekilas, hal ini tampaknya bertentangan dengan Surah Al-Haqqah [69]: 25, yang di dalamnya dikatakan bahwa catatan orang yang jahat ”akan diletakkan di tangan kirinya”. Namun, pada kenyataannya, rumusan ayat yang ini berbicara secara tidak langsung mengenai rasa takut si pendosa berkenaan dengan catatannya, dan mengenai keinginannya agar catatan tersebut tidak pernah diperlihatkan kepadanya (Surah Al-Haqqah [69]: 25-26): dengan kata lain, keengganannya untuk melihat catatan itu disimbolkan dengan munculnya catatan itu “dari belakang punggungnya”.


Surah Al-Insyiqaq Ayat 11

فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُورًا

fa saufa yad’ụ ṡubụrā

11. pada saatnya dia akan berharap untuk dihancurkan sehancur-hancurnya:


Surah Al-Insyiqaq Ayat 12

وَيَصْلَىٰ سَعِيرًا

wa yaṣlā sa’īrā

12. namun, dia akan masuk ke dalam nyala api yang berkobar-kobar.


Surah Al-Insyiqaq Ayat 13

إِنَّهُ كَانَ فِي أَهْلِهِ مَسْرُورًا

innahụ kāna fī ahlihī masrụrā

13. Perhatikanlah, [dalam kehidupan duniawinya,] dia hidup riang gembira di antara orang-orang yang segolongan dengannya8


8 Lit., “kaumnya”—yakni, orang-orang yang memiliki kecenderungan yang sama untuk berbuat dosa. (Bdk. catatan no. 14 dalam Surah Al-Qiyamah [75]: 33.)


Surah Al-Insyiqaq Ayat 14

إِنَّهُ ظَنَّ أَنْ لَنْ يَحُورَ

innahụ ẓanna al lay yaḥụr

14. sebab, perhatikanlah, dia tidak pernah mengira bahwa dia harus kembali [kepada Allah].


Surah Al-Insyiqaq Ayat 15

بَلَىٰ إِنَّ رَبَّهُ كَانَ بِهِ بَصِيرًا

balā inna rabbahụ kāna bihī baṣīrā

15. Ya, memang! Pemeliharanya benar-benar melihat semua yang terdapat dalam dirinya!


Surah Al-Insyiqaq Ayat 16

فَلَا أُقْسِمُ بِالشَّفَقِ

fa lā uqsimu bisy-syafaq

16. NAMUN, TIDAK! Aku bersaksi demi cahaya merah [yang berlalu dengan cepat] pada waktu senja,


Surah Al-Insyiqaq Ayat 17

وَاللَّيْلِ وَمَا وَسَقَ

wal-laili wa mā wasaq

17. dan malam, serta apa yang [setahap demi setahap] ia singkapkan,


Surah Al-Insyiqaq Ayat 18

وَالْقَمَرِ إِذَا اتَّسَقَ

wal-qamari iżattasaq

18. dan bulan, tatkala ia menjadi purnama:9


9 Dengan demikian, Allah “bersaksi” atas kenyataan bahwa tidak ada satu pun dalam ciptaan-Nya berada dalam keadaan diam, karena segala sesuatu terus bergerak tanpa henti dari satu keadaan ke keadaan yang lain, dan setiap saat mengubah aspek dan kondisinya: suatu fenomena yang secara tepat digambarkan oleh filosof Yunani, Herakleitos, dengan ungkapan panta rhei (“segala sesuatu mengalir”).


Surah Al-Insyiqaq Ayat 19

لَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَنْ طَبَقٍ

latarkabunna ṭabaqan ‘an ṭabaq

19. [begitu pulalah kalian, wahai manusia,] niscaya kalian akan berkembang setahap demi setahap.10


10 Atau, “dari satu keadaan ke keadaan lain” (Al-Zamakhsyari): yakni, dalam suatu perkembangan yang tiada henti—pembuahan, kelahiran, pertumbuhan, kemunduran, kematian, dan, akhirnya, kebangkitan.


Surah Al-Insyiqaq Ayat 20

فَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

fa mā lahum lā yu`minụn

20. Lalu, ada apa gerangan dengan mereka sehingga mereka tidak mau percaya [akan adanya kehidupan akhirat]?11


11 Karena perubahan yang tak dapat dihentikan ini, yang meliputi segata sesuatu dari satu tahapan ke tahapan lainnya atau dari satu kondisi ke kondisi lainnya, bersesuaian dengan suatu hukum dasar yang jelas terdapat dalam seluruh ciptaan, tidak masuk akal untuk berasumsi bahwa manusia sendiri harus dikecualikan, dan bahwa gerak maju-nya pasti berhenti pada saat kematian ragawinya, yakni tidak diikuti dengan perubahan selanjutnya menuju keadaan wujud yang lain.


Surah Al-Insyiqaq Ayat 21

وَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ لَا يَسْجُدُونَ

wa iżā quri`a ‘alaihimul-qur`ānu lā yasjudụn

21. dan [sehingga] ketika Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, kemudian mereka tidak bersujud?12


12 Yakni, setelah melihat betapa konsistennya Al-Quran menekankan hukum Ilahi tentang perubahan dan perkembangan yang tiada henti dalam segala sesuatu yang ada.


Surah Al-Insyiqaq Ayat 22

بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُكَذِّبُونَ

balillażīna kafarụ yukażżibụn

22. Tidak, tetapi mereka yang berkukuh mengingkari kebenaran malah mendustakan [kitab Ilahi ini]!13


13 Yaitu, keengganan mereka untuk mengakui tanggung jawab mereka kepada Wujud Yang Mahatinggi.


Surah Al-Insyiqaq Ayat 23

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُوعُونَ

wallāhu a’lamu bimā yụ’ụn

23. Padahal Allah mengetahui sepenuhnya apa yang mereka sembunyikan [di dalam hati mereka].


Surah Al-Insyiqaq Ayat 24

فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

fa basysyir-hum bi’ażābin alīm

24. Karena itu, berilah mereka kabar tentang penderitaan yang amat pedih [di dalam kehidupan akhirat]—


Surah Al-Insyiqaq Ayat 25

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

illallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti lahum ajrun gairu mamnụn

25. kecuali orang-orang [di antara mereka] yang [bertobat serta] meraih iman dan mengerjakan perbuatan saleh: sebab, bagi mereka, niscaya ada pahala yang tiada putus-putusnya.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top