3. Alu ‘Imran (Keluarga ‘Imran) – آل عمران

Surat Al-'Imran dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Alu ‘Imran ( آل عمران ) merupakan surah ke 3 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 200 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Madinah. Dengan demikian, Surat Ali ‘Imran tergolong Surat Madaniyah.

Surah ini adalah surah Madaniyah kedua (atau, menurut beberapa ahli, surah ketiga) dan tampaknya diwahyukan pada 3 Hijriah. Namun, beberapa ayat surah ini turun pada periode yang jauh terkemudian, yakni pada tahun sebelum wafatnya Nabi (10 H). Nama “Keluarga ‘Imran” diambil dari kata ‘Imran yang tercantum pada ayat 33 dan 35, yang menunjukkan kesamaan asal-usul garis keturunan para nabi.

Seperti surah sebelumnya (Al-Baqarah), surah ini dimulai dengan pembicaraan tentang wahyu Allah dan tanggapan manusia terhadapnya. Dalam Surah Al-Baqarah, penekanan utama diberikan pada pertentangan antara orang-orang yang menerima kebenaran yang Allah wahyukan dan mereka yang menolak kebenaran tersebut; di lain pihak, ayat-ayat pembuka Surah Al-‘Imran merujuk pada kecenderungan banyak kaum Mukmin yang tersesat menafsirkan secara arbitrer ayat-ayat alegoris (mutasyabihat) dalam Al-Qur’an—dan, secara tersirat, juga dalam kitab-kitab suci yang diwahyukan sebelumnya—dan karena itu melahirkan dalil-dalil esoteris yang bertentangan dengan hakikat dan tujuan pesan Ilahi yang sebenarnya. Karena penuhanan Nabi Isa a.s. oleh para pengikutnya pada masa-masa terkemudian merupakan salah satu contoh paling menonjol dari jenis penafsiran yang arbitrer atas pesan asli seorang nabi, surah ini menceritakan kisah Maryam dan Nabi Isa a.s., serta Nabi Zakariya a.s. yang merupakan ayah Nabi Yahya a.s. (Yohanes sang Pembaptis), yang semuanya termasuk keluarga ‘Imran. Dalam surah ini, Al-Qur’an mengetengahkan bahasan mengenai doktrin Kristen tentang ketuhanan Nabi Isa a.s., yakni: bahwa Nabi Isa a.s. sendiri diceritakan berseru kepada pengikutnya agar menyembah Allah semata; bahwa Nabi Isa a.s. hanyalah manusia biasa yang akan mati juga terus-menerus ditekankan; dan dinyatakan bahwa “tidak mungkin seorang manusia yang telah diberi wahyu, hikmah, dan kenabian oleh Allah, kemudian berkata kepada manusia, ‘Sembahlah aku disamping Allah’” (ayat 79).

Prinsip keesaan dan keunikan Allah serta kebergantungan mutlak manusia kepada-Nya dijelaskan dari berbagai sisi. Dan, prinsip ini pun secara logis mengantarkan pada masalah iman manusia dan pada masalah godaan—yang timbul akibat kerapuhan manusia—yang terus-menerus menerpa iman tersebut: dan hal ini mengantarkan pembicaraan kepada topik Perang Uhud—yang terjadi pada 3 Hijriah, yang hampir merupakan bencana bagi umat Muslim yang masih kecil, dan memberikan pelajaran yang, betapapun pahitnya, bermanfaat bagi seluruh perkembangan umat Muslim pada masa depan. Lebih dari sepertiga kandungan Surah Alu ‘Imran membahas pengalaman ini dan beragam-sisi hikmah yang harus diambil darinya.

Daftar Isi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-‘Imran Ayat 1

الم

alif lām mīm

1. Alif. Lam. Mim.1


1 Lihat artikel Al-Muqatta’at (Huruf-Huruf Terpisah) dalam Al-Qur’an.


Surah Al-‘Imran Ayat 2

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

allāhu lā ilāha illā huwal-ḥayyul-qayyụm

2. ALLAH—tiada tuhan kecuali Dia, Yang Hidup Kekal, Sumber Swamandiri dari Segala Wujud!


Surah Al-‘Imran Ayat 3

نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ

nazzala ‘alaikal-kitāba bil-ḥaqqi muṣaddiqal limā baina yadaihi wa anzalat-taurāta wal-injīl

3. Dia telah menurunkan kepadamu kitab Ilahi ini secara bertahap,2 menyatakan kebenaran yang mempertegas apa pun yang masih ada [dari wahyu-wahyu terdahulu]:3 sebab, Dia-lah yang telah menurunkan Taurat dan Injil


2 Bertahapnya pewahyuan Al-Quran di sini ditekankan melalui bentuk gramatikal nazzala.

3 Mayoritas mufasir berpendapat bahwa ma baina yadaihi—yang secara harfiah berarti “yang ada di antara dua tangannya”—di sini berarti “wahyu yang datang sebelumnya”, yakni sebelum Al-Quran. Namun, penafsiran ini tidak sepenuhnya meyakinkan. Meskipun tidak ada sedikit pun keraguan bahwa dalam konteks ini pronomina ma mengacu pada wahyu terdahulu, khususnya Bibel (sebagaimana terlihat dari digunakannya ungkapan di atas secara paralel dalam ayat Al-Quran lainnya), ungkapan idiomatik ma baina yadaihi itu sendiri makna asalnya bukanlah “yang datang sebelumnya”—yakni dalam pengertian waktu—melainkan “yang terbentang di hadapannya” (sebagaimana yang saya tunjukkan dalam Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 247). Namun, karena kata ganti hi (“nya”) di sini berhubungan dengan Al-Quran, ungkapan metaforis “di antara dua tangannya” atau “di hadapannya” tidak mungkin mengacu pada “pengetahuan” (sebagaimana pada kasus Surah Al-Baqarah [2]: 255). Alih-alih, ungkapan itu jelas merujuk pada suatu realitas objektif yang “dihadapi” oleh Al-Quran, yakni: sesuatu yang juga ada pada saat Al-Quran turun. Nah, jika hal ini dikaitkan dengan (a) fakta—yang sering ditekankan dalam Al-Quran dan kemudian dikukuhkan oleh metode keilmuan objektif—bahwa dengan berlalunya masa selama ribuan tahun, Bibel telah mengalami perubahan yang banyak dan sering kali arbitrer; dan (b) fakta bahwa banyak hukum yang dipaparkan dalam Al-Quran berbeda dengan hukum-hukum Bibel, maka hal ini mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa “penegasan” {mushaddiqan} Al-Quran terhadap wahyu-wahyu sebelumnya hanya merujuk pada kebenaran-kebenaran dasar yang masih ada dalam Bibel, bukan pada legislasinya yang terikat-waktu atau pada teksnya sebagaimana yang ada sekarang—dengan kata lain, suatu penegasan terhadap ajaran-ajaran dasar yang masih ada pada saat Al-Quran diwahyukan: dan inilah yang dimaksud oleh ungkapan ma baina yadaihi dalam konteks ini, juga dalam Surah Al-Ma’idah [5]: 46 dan 48, atau dalam Surah As-Shaff [61]: 6 (yang di dalamnya kata tersebut merujuk pada Isa Al-Masih yang mempertegas kebenaran “apa pun yang masih ada [yaitu, pada masa hidupnya] dari Kitab Taurat”).


Surah Al-‘Imran Ayat 4

مِنْ قَبْلُ هُدًى لِلنَّاسِ وَأَنْزَلَ الْفُرْقَانَ ۗ إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ

ming qablu hudal lin-nāsi wa anzalal-furqān, innallażīna kafarụ bi`āyātillāhi lahum ‘ażābun syadīd, wallāhu ‘azīzun żuntiqām

4. sebelumnya, sebagai petunjuk bagi manusia, dan Dia-lah yang menurunkan [kepada manusia] ukuran untuk membedakan yang benar dari yang salah.4

Perhatikanlah, adapun orang-orang yang berkukuh mengingkari ayat-ayat Allah—derita yang pedih menanti mereka: sebab, Allah Mahaperkasa, Sang Pembalas Kejahatan.


4 Harus diingat bahwa Injil yang sering disebutkan dalam Al-Quran tidaklah identik dengan apa yang saat ini dikenal dengan Injil Empat (Al-Anajil Al-Arba’ah, yakni empat kitab pertama dalam Bibel Perjanjian Baru: Matius, Markus, Lukas, Yohanes—peny.), tetapi mengacu pada wahyu asli, yang kemudian hilang, yang diturunkan kepada Isa Al-Masih dan dikenal oleh orang-orang yang hidup pada masanya dalam bahasa Yunaninya dengan nama Evangelion (“Berita Gembira”), yang menjadi acuan bagi serapan bahasa Arabnya, Injil. Kemungkinan, ia menjadi sumber bahan dan ajaran Injil Sinoptik yang dinisbahkan kepada Al-Masih. Fakta tentang hilang dan terlupakannya Injil tersebut disinggung oleh Al-Quran dalam Surah Al-Ma’idah [5]: 14.

Mengenai terjemahan saya atas kata al-furqan menjadi “ukuran untuk membedakan yang benar dari yang salah”, lihat juga catatan no. 38 atas ungkapan serupa yang terdapat dalam Surah Al-Baqarah [2]: 53.


Surah Al-‘Imran Ayat 5

إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَىٰ عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ

innallāha lā yakhfā ‘alaihi syai`un fil-arḍi wa lā fis-samā`

5. Sungguh, tiada sesuatu pun di bumi atau di langit yang tersembunyi dari Allah.


Surah Al-‘Imran Ayat 6

هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الْأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

huwallażī yuṣawwirukum fil-ar-ḥāmi kaifa yasyā`, lā ilāha illā huwal-‘azīzul-ḥakīm

6. Dia-lah yang membentukmu dalam rahim, sebagaimana yang Dia kehendaki. Tak ada tuhan kecuali Dia, Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.


Surah Al-‘Imran Ayat 7

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

huwallażī anzala ‘alaikal-kitāba min-hu āyātum muḥkamātun hunna ummul-kitābi wa ukharu mutasyābihāt, fa ammallażīna fī qulụbihim zaigun fayattabi’ụna mā tasyābaha min-hubtigā`al-fitnati wabtigā`a ta`wīlih, wa mā ya’lamu ta`wīlahū illallāh, war-rāsikhụna fil-‘ilmi yaqụlụna āmannā bihī kullum min ‘indi rabbinā, wa mā yażżakkaru illā ulul-albāb

7. Dia-lah yang telah menurunkan kitab Ilahi ini kepadamu, yang berisi pesan-pesan yang jelas pada dan oleh dirinya sendiri (muhkamat)—dan inilah intisari kitab Ilahi—di samping ayat-ayat lain yang bersifat majasi (mutasyabihat).5 Adapun orang-orang yang hatinya cenderung menyimpang dari kebenaran mengikuti bagian kitab Ilahi6 yang diungkapkan secara majasi, dengan mencari-cari [hal-hal yang pasti menimbulkan] kebingungan,7 dan berusaha [menyimpulkan] makna pamungkasnya [secara sewenang-wenang]; tetapi tiada seorang pun selain Allah yang mengetahui makna pamungkasnya.*8 Karena itu, mereka yang benar-benar mengakar ilmunya berkata,

“Kami beriman kepadanya; [kitab Ilahi ini] seluruhnya berasal dari Pemelihara kami—meskipun tiada seorang pun merenungkannya, kecuali orang-orang yang dianugerahi pengetahuan yang mendalam.”


5 Ayat di atas dapat dipandang sebagai suatu kunci untuk memahami Al-Quran. Al-Thabari mengidentikkan ayat muhkamat (“pesan-pesan yang jelas pada dan oleh dirinya sendiri”) dengan apa yang digambarkan oleh para filolog dan fuqaha sebagai nashsh—yakni, peraturan atau pernyataan yang jelas dengan sendirinya (zhahir) karena bunyi kata-katanya (bdk. Lisan Al-‘Arab, artikel nashsh). Karena itu, Al-Thabari memandang ayat muhkamat itu hanya mencakup pernyataan atau peraturan Al-Quran yang tidak memberi peluang bagi lebih dari satu penafsiran (yang tentu tidak menghalangi perbedaan pendapat mengenai implikasi dari suatu ayat muhkamat tertentu). Namun, menurut pendapat saya, terlalu dogmatis jika kita memandang suatu ayat Al-Quran yang tidak sesuai dengan definisi di atas sebagai mutaysabih (“bersifat majasi, alegoris”): sebab, terdapat banyak pernyataan dalam Al-Quran yang memiliki lebih dari satu penafsiran, tetapi tidak bersifat alegoris—sebagaimana banyak ungkapan dan ayat yang, terlepas dari rumusan alegorisnya, bagi akal yang tajam justru hanya menunjukkan satu makna. Karena alasan ini, ayat mutasyabihat dapat didefinisikan sebagai ayat-ayat Al-Quran yang diungkapkan secara figuratif, yang maknanya disiratkan secara metaforis, tetapi dinyatakan secara tidak langsung dengan tidak terlalu banyak kata. Sedangkan, ayat muhkamat digambarkan sebagai “intisari kitab Ilahi” (umm al-kitab) karena ayat-ayat itu mengandung prinsip-prinsip fundamental yang mendasari pesan-pesan kitab itu dan, khususnya, ajaran-ajaran etis dan sosialnya: dan hanya dengan berdasarkan prinsip-prinsip yang diungkapkan dengan jelas itulah, ayat-ayat alegoris itu dapat ditafsirkan dengan tepat. (Untuk pembahasan lebih terperinci tentang simbolisme dan alegori dalam Al-Quran, lihat artikel berikut.)

6 Lit., “darinya”.

7 “Kebingungan” yang disebutkan di sini merupakan akibat dari tindakan menafsirkan ayat-ayat alegoris “secara sewenang-wenang” (Al-Zamakhsyari).

* {“Makna pamungkas” (final meaning) adalah terjemahan penyusun untuk kata ta’wil. Ta’wil adalah makna yang ada di balik ungkapan metafora atau alegoris, yang dalam konteks ini hanya Allah yang mengetahuinya dan, atas dasar itu, diterjemahkan oleh penyusun dengan “makna pamungkas”. Dalam terjemahan Al-Quran Depag RI, ta’wil diadopsi menjadi “takwil”, dengan pengertian “makna yang ada di balik lafal lahiriahnya”.—AM}

8 Menurut mayoritas mufasir awal, hal ini mengacu pada penafsiran ayat-ayat alegoris yang membicarakan persoalan-persoalan metafisis—seperti, sifat-sifat Allah, makna hakiki waktu dan keabadian, kebangkitan orang mati, Hari Pengadilan, surga dan neraka, hakikat wujud atau kekuatan-kekuatan yang digambarkan sebagai malaikat, dan sebagainya—yang semua itu termasuk ke dalam kategori al-ghaib, yakni bagian realitas yang berada di luar jangkauan persepsi dan imajinasi manusia dan, karenanya, tidak dapat dikomunikasikan kepada manusia selain melalui cara-cara alegoris. Namun, pandangan para mufasir klasik ini terlihat tidak memperhitungkan banyaknya ayat Al-Quran yang tidak membicarakan persoalan-persoalan metafisis, tetapi maksud dan ungkapannya jelas bersifat alegoris. Menurut saya, kita tidak akan memperoleh pemahaman yang benar mengenai ayat tersebut tanpa memperhatikan hakikat dan fungsi kiasan seperti itu. Suatu kiasan sejati—berlawanan dengan parafrasa atas sesuatu yang sama-sama dapat dinyatakan dengan menggunakan istilah-istilah langsung—selalu dimaksudkan untuk mengungkapkan secara figuratif sesuatu yang, karena kompleksitasnya, tidak dapat diungkapkan dengan tepat jika menggunakan istilah-istilah atau proposisi-proposisi langsung dan, justru karena kompleksitasnya ini, hanya dapat ditangkap secara intuitif sebagai suatu imaji mental yang bersifat umum, dan bukan sebagai serangkaian “pernyataan” yang terperinci: dan tampaknya inilah makna ungkapan, “tiada seorang pun selain Allah yang mengetahui makna pamungkasnya”.


Surah Al-‘Imran Ayat 8

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

rabbanā lā tuzig qulụbanā ba’da iż hadaitanā wa hab lanā mil ladungka raḥmah, innaka antal-wahhāb

8. “Wahai, Pemelihara kami! Jangan biarkan hati kami menyimpang dari kebenaran setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami; dan anugerahkanlah kepada kami karunia rahmat-Mu: sungguh, Engkau-lah Maha Pemberi Karunia [yang sejati].”


Surah Al-‘Imran Ayat 9

رَبَّنَا إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ

rabbanā innaka jāmi’un-nāsi liyaumil lā raiba fīh, innallāha lā yukhliful-mī’ād

9. “Wahai, Pemelihara kami! Sungguh, Engkau akan mengumpulkan manusia untuk menyaksikan Hari yang [kedatangannya] tak diragukan lagi: sungguh, Allah tidak pernah melanggar janji-Nya.”


Surah Al-‘Imran Ayat 10

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ وَقُودُ النَّارِ

innallażīna kafarụ lan tugniya ‘an-hum amwāluhum wa lā aulāduhum minallāhi syai`ā, wa ulā`ika hum waqụdun-nār

10. PERHATIKANLAH, adapun orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran—harta benda maupun keturunan mereka sedikit pun tidak akan berguna bagi mereka dalam menghadapi Allah; dan mereka, mereka itulah yang akan menjadi bahan bakar api neraka!


Surah Al-‘Imran Ayat 11

كَدَأْبِ آلِ فِرْعَوْنَ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ ۗ وَاللَّهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ

kada`bi āli fir’auna wallażīna ming qablihim, każżabụ bi`āyātinā, fa akhażahumullāhu biżunụbihim, wallāhu syadīdul-‘iqāb

11. [Terhadap mereka akan menimpa] hal serupa yang telah menimpa kaum Fir’aun dan orang-orang yang hidup sebelumnya: mereka mendustakan pesan-pesan Kami—lalu Allah pun menghukum mereka disebabkan dosa-dosanya: sebab, Allah amat keras dalam menghukum.


Surah Al-‘Imran Ayat 12

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا سَتُغْلَبُونَ وَتُحْشَرُونَ إِلَىٰ جَهَنَّمَ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

qul lillażīna kafarụ satuglabụna wa tuḥsyarụna ilā jahannam, wa bi`sal-mihād

12. Katakanlah kepada orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran: “Kalian pasti akan ditaklukkan dan digiring ke neraka—suatu tempat istirahat yang alangkah buruknya!”


Surah Al-‘Imran Ayat 13

قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا ۖ فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأُخْرَىٰ كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ ۚ وَاللَّهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَنْ يَشَاءُ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ

qad kāna lakum āyatun fī fi`atainiltaqatā, fi`atun tuqātilu fī sabīlillāhi wa ukhrā kāfiratuy yaraunahum miṡlaihim ra`yal-‘aīn, wallāhu yu`ayyidu binaṣrihī may yasyā`, inna fī żālika la’ibratal li`ulil-abṣār

13. Kalian telah melihat suatu tanda dalam dua golongan yang bertemu dalam pertempuran, satu golongan berperang di jalan Allah dan golongan lainnya mengingkari-Nya; dengan mata mereka sendiri, [golongan pertama itu] melihat golongan lainnya berjumlah dua kali lipat daripada jumlah mereka: tetapi, Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa pun yang Dia kehendaki. Perhatikanlah, pada yang demikian itu, sungguh, terdapat suatu pelajaran bagi semua orang yang menggunakan penglihatannya.9


9 Secara umum diasumsikan bahwa ayat ini mengingatkan pada Perang Badar, yang terjadi pada pekan ketiga Ramadhan 2 H. Saat itu, tiga ratus Muslim yang tidak dilengkapi dengan senjata memadai, di bawah pimpinan Nabi, menghancurleburkan pasukan Makkah yang terdiri atas hampir 1.000 orang dengan 700 unta dan 100 kuda yang dipersenjatai dengan baik; ini merupakan perang terbuka pertama antara kaum musyrik Quraisy dan masyarakat Muslim Madinah yang masih muda. Namun, menurut sejumlah mufasir (contohnya dalam Al-Manar III, h. 234), ayat Al-Quran tersebut (ayat 13) memiliki suatu makna yang umum, dan mengingatkan pada suatu peristiwa yang sering terjadi dalam sejarah—yakni, bahwa kaum yang sedikit jumlahnya dan tidak memadai perlengkapannya, tetapi penuh dengan keyakinan membara terhadap kebenaran jalan mereka, dapat mengalahkan musuh-musuh yang lebih unggul secara materiel dan lebih banyak jumlahnya tetapi tidak memiliki keyakinan serupa. Fakta bahwa dalam ayat Al-Quran ini kaum Mukmin dikatakan sedang dihadang musuh yang “berjumlah dua kali lipat daripada jumlah mereka” (padahal dalam Perang Badar jumlah kaum musyrik Quraisy lebih dari tiga kali lipat jumlah kaum Muslim), membuat penjelasan ini masuk akal—apalagi jika dilihat dalam kaitannya dengan ayat berikutnya yang berbicara tentang kekayaan materiel dan kekuasaan duniawi.


Surah Al-‘Imran Ayat 14

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

zuyyina lin-nāsi ḥubbusy-syahawāti minan-nisā`i wal-banīna wal-qanaṭīril-muqanṭarati minaż-żahabi wal-fiḍḍati wal-khailil-musawwamati wal-an’āmi wal-ḥarṡ, żālika matā’ul-ḥayātid-dun-yā, wallāhu ‘indahụ ḥusnul-ma`āb

14. AMAT MEMIKAT bagi manusia kesenangan terhadap hasrat-hasrat duniawi berupa perempuan, anak-anak, harta kekayaan yang melimpah berupa emas dan perak, kuda-kuda bernilai tinggi, binatang ternak, dan tanah ladang. Semua ini dapat dinikmati dalam kehidupan di dunia ini—akan tetapi, yang terindah di antara semua tujuan ada di sisi Allah.


Surah Al-‘Imran Ayat 15

قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَٰلِكُمْ ۚ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

qul a unabbi`ukum bikhairim min żālikum, lillażīnattaqau ‘inda rabbihim jannātun tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā wa azwājum muṭahharatuw wa riḍwānum minallāh, wallāhu baṣīrum bil-‘ibād

15. Katakanlah: “Maukah aku kabarkan kepada kalian hal-hal yang lebih baik daripada [kesenangan duniawi] itu? Untuk orang-orang yang sadar akan Allah, di sisi Pemelihara mereka ada taman-taman yang dilalui aliran sungai, (mereka) berkediaman di dalamnya, dan pasangan-pasangan yang suci, serta penerimaan yang baik (ridha) dari Allah*.”

Dan, Allah melihat segala yang ada [dalam hati] hamba-hamba-Nya—


* {“God’s goodly acceptance“, “ridha Allah”—peny.}


Surah Al-‘Imran Ayat 16

الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

allażīna yaqụlụna rabbanā innanā āmannā fagfir lanā żunụbanā wa qinā ‘ażāban-nār

16. mereka yang berdoa, “Wahai, Pemelihara kami! Perhatikanlah, kami beriman [kepada-Mu]; maka, ampunilah dosa-dosa kami dan selamatkanlah kami dari derita neraka,”—


Surah Al-‘Imran Ayat 17

الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ

aṣ-ṣābirīna waṣ-ṣādiqīna wal-qānitīna wal-munfiqīna wal-mustagfirīna bil-as-ḥār

17. mereka yang sabar dalam menghadapi kesusahan, benar ucapannya, benar-benar taat, berinfak [di jalan Allah], dan memohon ampun dari lubuk hatinya.10


10 Ungkapan bi al-ashar biasanya diartikan “pada saat sebelum fajar” atau “sebelum fajar” saja. Ini sesuai dengan anjuran Nabi kepada para pengikutnya (berdasarkan sejumlah hadis sahih) agar mencurahkan bagian terakhir malam, khususnya saat-saat menjelang fajar, untuk bershalat dengan khusyuk. Namun, meskipun kata sahar (yang juga dieja dengan sahr dan suhr), yang bentuk jamaknya adalah ashar, tak pelak lagi berarti “waktu sebelum fajar”, ia juga—dengan ejaan sahar dan suhr—berarti “lubuk hati”, “bagian hati yang paling dalam”, atau “hati” saja (bdk. Lisan Al-‘Arab, dan juga Lane IV, h. 1316). Tampak bagi saya bahwa dalam konteks ayat Al-Quran tersebut—sebagaimana juga dalam Surah Al-Dzariyat [51]: 18—pengertian yang terakhir ini lebih tepat daripada pengertian konvensionalnya: sebab, meskipun nilai shalat sebelum fajar sangat ditekankan oleh Nabi, sangat tidak masuk akal jika Al-Quran membatasi doa memohon ampunan hanya pada suatu waktu tertentu. {Al-ashar dalam Al-Quran terjemahan Depag RI diterjemahkan menjadi “waktu sahur”, mengikuti lafal lahiriahnya.—AM}


Surah Al-‘Imran Ayat 18

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

syahidallāhu annahụ lā ilāha illā huwa wal-malā`ikatu wa ulul-‘ilmi qā`imam bil-qisṭ, lā ilāha illā huwal-‘azīzul-ḥakīm

18. ALLAH [sendiri] mengajukan bukti11—dan [demikian pula] para malaikat dan orang-orang yang dianugerahi pengetahuan bahwa tiada tuhan kecuali Dia, Penegak Keadilan: tiada tuhan kecuali Dia, Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.


11 Lit., “memberi kesaksian”—yakni, melalui alam ciptaan-Nya, yang jelas menunjukkan bahwa alam ini diciptakan oleh suatu Daya yang melakukan perencanaan dengan sadar.


Surah Al-‘Imran Ayat 19

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

innad-dīna ‘indallāhil-islām, wa makhtalafallażīna ụtul-kitāba illā mim ba’di mā jā`ahumul-‘ilmu bagyam bainahum, wa may yakfur bi`āyātillāhi fa innallāha sarī’ul-ḥisāb

19. Perhatikanlah, satu-satunya agama [yang benar] dalam pandangan Allah adalah penyerahan-diri [manusia] kepada-Nya*; dan orang-orang yang dahulu telah diberi wahyu,12 karena saling dengki, mulai berselisih [mengenai hal ini] hanya sesudah pengetahuan [tentangnya] datang kepada mereka.13 Akan tetapi, orang yang mengingkari kebenaran ayat-ayat Allah—perhatikanlah, Allah amat cepat dalam membuat perhitungan!


* {Di sini, penyusun menerjemahkan kata al-islam menjadi “penyerahan-diri [manusia] kepada-Nya” sehingga mencakup pengertian yang lebih inklusif. Sedangkan, dalam Al-Quran terjemahan Depag RI, kata yang sama diterjemahkan menjadi “Islam”, yakni agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.—AM. Lihat juga catatan no.13 surah ini dan catatan no. 10 Surah Al-Ma’idah [5].}

12 Mayoritas mufasir klasik berpendapat bahwa orang-orang yang dimaksud adalah para penganut Bibel, atau sebagian dari penganutnya—yakni, kaum Yahudi dan Nasrani. Namun, sangat mungkin bahwa ayat ini mengandung maksud yang lebih luas dan berkaitan doman sernua umat yang mendasarkan pandangannya pada kitab suci yang diwahyukan, yang sebagian masih ada dalam bentuknya yang telah diselewengkan dan sebagian lagi benar-benar telah hilang.

13 Yakni, semua umat ini pada mulanya tunduk pada doktrin keesaan Allah dan meyakini bahwa penyerahan-diri kepada-Nya (islam dalam pengertian asalnya) merupakan esensi seluruh agama yang benar. Perbedaan-perbedaan yang terjadi kemudian merupakan akibat dari kebanggaan sektarian dan sikap eksklusif satu sama lain.


Surah Al-‘Imran Ayat 20

فَإِنْ حَاجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ ۗ وَقُلْ لِلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْأُمِّيِّينَ أَأَسْلَمْتُمْ ۚ فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوْا ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

fa in ḥājjụka fa qul aslamtu waj-hiya lillāhi wa manittaba’an, wa qul lillażīna ụtul-kitāba wal-ummiyyīna a aslamtum, fa in aslamụ fa qadihtadau, wa in tawallau fa innamā ‘alaikal-balāg, wallāhu baṣīrum bil-‘ibād

20. Karena itu, [wahai Nabi,] jika mereka mendebatmu, katakanlah: “Aku telah menyerahkan diriku seutuhnya kepada Allah dan [demikian pula] semua orang yang mengikutiku!” dan tanyakanlah kepada orang-orang yang dahulu telah diberi wahyu, juga kepada kaum yang buta aksara:14 “Apakah kalian [juga] telah berserah diri kepada-Nya?”

Dan, jika mereka berserah diri kepada-Nya, mereka berada di jalan yang benar; tetapi jika mereka berpaling—perhatikanlah, tugasmu hanyalah menyampaikan pesan: sebab, Allah melihat segala yang ada di dalam [hati] hamba-hamba-Nya.


14 Menurut Al-Razi, istilah ini (al-ummlyyin; kaum yang buta aksara) merujuk pada orang-orang yang tidak mempunyai kitab suci samawi sendiri.


Surah Al-‘Imran Ayat 21

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَيَقْتُلُونَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

innallażīna yakfurụna bi`āyātillāhi wa yaqtulụnan-nabiyyīna bigairi ḥaqqiw wa yaqtulụnallażīna ya`murụna bil-qisṭi minan-nāsi fa basysyir-hum bi’ażābin alīm

21. Sungguh, orang-orang yang mengingkari kebenaran pesan-pesan Allah, dan membunuh para nabi dengan melanggar segala (nilai) kebenaran dan membunuh orang-orang yang memerintahkan keadilan15—kabarkanlah kepada mereka hukuman yang pedih.


15 Lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 48.


Surah Al-‘Imran Ayat 22

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

ulā`ikallażīna ḥabiṭat a’māluhum fid-dun-yā wal-ākhirati wa mā lahum min nāṣirīn

22. Mereka itulah orang-orang yang akan sirna amal-amalnya di dunia ini dan di akhirat; dan mereka tiada mempunyai seorang penolong pun.


Surah Al-‘Imran Ayat 23

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُدْعَوْنَ إِلَىٰ كِتَابِ اللَّهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ يَتَوَلَّىٰ فَرِيقٌ مِنْهُمْ وَهُمْ مُعْرِضُونَ

a lam tara ilallażīna ụtụ naṣībam minal-kitābi yud’auna ilā kitābillāhi liyaḥkuma bainahum ṡumma yatawallā farīqum min-hum wa hum mu’riḍụn

23. Tidakkah engkau perhatikan orang-orang yang telah mendapatkan bagiannya dari wahyu [dahulu]? Mereka yelah diseru agar menjadikan kitab Allah sebagai hukum mereka16—tetapi, sebagian mereka berpaling [darinya] dengan keras kepala,


16 Lit., “memberi keputusan [terhadap semua perselisihan] di antara mereka”; merujuk ke Taurat.


Surah Al-‘Imran Ayat 24

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۖ وَغَرَّهُمْ فِي دِينِهِمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ

żālika bi`annahum qālụ lan tamassanan-nāru illā ayyāmam ma’dụdātiw wa garrahum fī dīnihim mā kānụ yaftarụn

24. hanya karena mereka menyatakan, “Api neraka itu pasti tidak akan menyentuh kami, kecuali selama beberapa hari tertentu saja”:17 demikianlah, kepercayaan batil yang mereka ada-adakan [pada akhirnya] menyebabkan mereka mengkhianati iman mereka.18


17 Bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 80 dan catatannya.

18 Lit., “mereka telah diperdaya dalam keyakinan mereka oleh apa-apa yang biasa mereka ada-adakan”.


Surah Al-‘Imran Ayat 25

فَكَيْفَ إِذَا جَمَعْنَاهُمْ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

fa kaifa iżā jama’nāhum liyaumil lā raiba fīh, wa wuffiyat kullu nafsim mā kasabat wa hum lā yuẓlamụn

25. Lalu, bagaimana [mereka akan lolos] apabila Kami kumpulkan mereka semua untuk menyaksikan Hari yang [kedatangannya] tidak diragukan lagi, dan setiap manusia akan diberi balasan penuh atas apa yang telah dia kerjakan, dan tak seorang pun akan dizalimi?


Surah Al-‘Imran Ayat 26

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

qulillāhumma mālikal-mulki tu`til-mulka man tasyā`u wa tanzi’ul-mulka mim man tasyā`u wa tu’izzu man tasyā`u wa tużillu man tasyā`, biyadikal-khaīr, innaka ‘alā kulli syai`ing qadīr

26. KATAKANLAH: “Wahai, Allah, Pemilik seluruh kekuasaan! Engkau anugerahkan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan mencabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki; Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu-lah segala kebajikan. Sungguh, Engkau berkuasa menetapkan segala sesuatu.”


Surah Al-‘Imran Ayat 27

تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ ۖ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ ۖ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

tụlijul-laila fin-nahāri wa tụlijun-nahāra fil-laili wa tukhrijul-ḥayya minal-mayyiti wa tukhrijul-mayyita minal-ḥayyi wa tarzuqu man tasyā`u bigairi ḥisāb

27. “Engkau jadikan malam bertambah panjang dengan memendekkan siang, dan Engkau jadikan siang bertambah panjang dengan memendekkan malam.* Dan, Engkau keluarkan yang hidup dari sesuatu yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari sesuatu yang hidup. Dan, Engkau anugerahkan rezeki kepada siapa saja yang Engkau kehendaki, melampaui segala perhitungan.”


* {Dalam AI-Quran terjemahan Depag RI: “Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam”. Makna yang terkandung dalam kalimat ini adalah silih bergantinya malam dan siang. Muhammad Asad tidak memberi catatan khusus ketika menerjemahkan frasa itu menjadi “memperpanjang malam dengan memendekkan siang dan memperpanjang siang dengan memendekkan malam”. Arti harfiah yuliju adalah “memasukkan”. Dengan demikian, tulij al-lail fi al-nahar berarti “Engkau memasukkan malam ke dalam siang”. Maknanya, sebagian dari malam dimasukkan ke dalam siang, sehingga waktu malam menjadi berkurang (memendek), dan siang menjadi bertambah panjang. Begitu pula sebaliknya. Terjemahan Muhammad Asad ini jelas sangat mudah dipahami oleh masyarakat yang tinggal di negeri-negeri yang mengenal empat musim. Pada musim dingin, waktu malam menjadi lebih panjang dibanding waktu siangnya, padahal jumlah jamnya tetap, yakni 24 jam; sedangkan pada musim panas, waktu siangnya menjadi lebih panjang dibanding waktu malamnya. Fenomena seperti ini tidak akrab di negeri-negeri tropis, misalnya Indonesi, sehingga makna dari “memasukkan malam ke dalam siang, dan memasukkan siang ke dalam malam” lebih dipahami sebagai “pergantian malam dan siang”.—AM}


Surah Al-‘Imran Ayat 28

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ ۗ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

lā yattakhiżil-mu`minụnal-kāfirīna auliyā`a min dụnil-mu`minīn, wa may yaf’al żālika fa laisa minallāhi fī syai`in illā an tattaqụ min-hum tuqāh, wa yuḥażżirukumullāhu nafsah, wa ilallāhil-maṣīr

28. JANGANLAH orang-orang beriman menjadikan orang-orang yang mengingkari kebenaran sebagai sekutu dengan meninggalkan kaum beriman19—sebab, orang yang berbuat demikian berarti memutuskan diri dari Allah dalam segala hal—kecuali jika cara itu untuk melindungi diri kalian dari mereka.20 Namun, Allah memperingatkan kalian agar selalu waspada terhadap-Nya: sebab, pada Allah-lah akhir seluruh perjalanan.


19 Yakni, dalam kasus-kasus ketika kepentingan orang-orang “yang mengingkari kebenaran” (kafir) berbenturan dengan kepentingan kaum beriman (Mukmin; Al-Manar III, h. 278). Mengenai implikasi lebih jauh dari istilah “sekutu” (auliya’), lihat Surah An-Nisa’ [4]: 139 dan catatannya.

20 Lit., “kecuali kalian takut terhadap sesuatu yang ditakuti dari mereka”. Al-Zamakhsyari mengartikan ungkapan ini dengan “kecuali kalian mempunyai alasan untuk takut bahwa mereka mungkin melakukan sesuatu yang harus diwaspadai”—hal ini jelas mengacu pada situasi ketika “orang-orang yang mengingkari kebenaran” lebih kuat daripada kaum Muslim dan, karenanya, berada dalam posisi akan menghancurkan kaum Muslim kecuali mereka menjadi “sekutu” dalam pengertian politik atau moral.


Surah Al-‘Imran Ayat 29

قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

qul in tukhfụ mā fī ṣudụrikum au tubdụhu ya’lam-hullāh, wa ya’lamu mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, wallāhu ‘alā kulli syai`ing qadīr

29. Katakanlah: “Baik kalian sembunyikan apa yang ada dalam hati21 kalian maupun kalian ungkapkan, Allah mengetahuinya: sebab, Dia mengetahui segala yang ada di lelangit dan segala yang ada di bumi; Allah berkuasa menetapkan segala sesuatu.”


21 Lit., “dada-dada” (shudur: bentuk jamak. Bentuk tunggal: shadr [dada]). Ini mengacu pada motif-motif sebnarnya yang mendasari keputusan suatu kelompok atau kekuatan Musiim tertentu untuk beraliansi dengan “orang-orang yang mengingkari kebenaran” dengan meninggalkan, atau merugikan kepentingan yang absah dari, orang-orang beriman lainnya.


Surah Al-‘Imran Ayat 30

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

yauma tajidu kullu nafsim mā ‘amilat min khairim muḥḍaraw wa mā ‘amilat min sū`, tawaddu lau anna bainahā wa bainahū amadam ba’īdā, wa yuḥażżirukumullāhu nafsah, wallāhu ra`ụfum bil-‘ibād

30. Pada Hari tatkala setiap manusia akan melihat dirinya berhadapan dengan segala kebajikan yang telah dia lakukan, dan dengan segala kejahatan yang telah dia kerjakan, [banyak di antara mereka yang] berharap agar ada rentang masa yang panjang antara dirinya dan [Hari] itu. Karena itu, Allah memperingatkan kalian agar selalu waspada terhadap diri-Nya; tetapi Allah Maha Melimpahkan Kasih kepada makhluk-Nya.


Surah Al-‘Imran Ayat 31

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

qul ing kuntum tuḥibbụnallāha fattabi’ụnī yuḥbibkumullāhu wa yagfir lakum żunụbakum, wallāhu gafụrur raḥīm

31. Katakanlah [wahai Nabi]: “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, [dan] Allah akan mencintai kalian serta mengampuni dosa-dosa kalian; karena Allah Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.”


Surah Al-‘Imran Ayat 32

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ ۖ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ

qul aṭī’ullāha war-rasụl, fa in tawallau fa innallāha lā yuḥibbul-kāfirīn

32. Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul.” Dan, jika mereka berpaling—perhatikanlah, Allah tidak menyukai orang-orang yang mengingkari kebenaran.


Surah Al-‘Imran Ayat 33

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ

innallāhaṣṭafā ādama wa nụḥaw wa āla ibrāhīma wa āla ‘imrāna ‘alal-‘ālamīn

33. PERHATIKANLAH, Allah telah mengangkat Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga ‘Imran di atas seluruh umat manusia,


Surah Al-‘Imran Ayat 34

ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

żurriyyatam ba’ḍuhā mim ba’ḍ, wallāhu samī’un ‘alīm

34. dalam satu garis keturunan.22

Dan, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui23


22 Lit., “keturunan yang sebagiannya adalah (keturunan) dari yang lain”—suatu paparan yang mengacu tidak hanya pada garis keturunan biologis para nabi, tetapi juga pada fakta bahwa mereka semua terkait secara spiritual dan sama-sama percaya pada kebenaran fundamental yang tunggal dan sama (Al-Thabari). Jadi, ayat di atas merupakan rangkaian logis dari ayat 31-32, yang menjadikan ketaatan terhadap para rasul pilihan Allah sebagai syarat untuk mendapatkan ridha-Nya. Nama-nama yang disebutkan dalam ayat ini, sebagai implikasinya, mencakup semua nabi yang disebutkan dalam Al-Quran, sebab mayoritas nabi-nabi lainnya adalah keturunan dari dua atau lebih Bapak-Bapak Nabi ini. Keluarga ‘Imran meliputi (1) Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s., yang ayah mereka bernama ‘Imran (Amram dalam Bibel), dan (2) keturunan Nabi Harun a.s., yang merupakan golongan rahib/pendeta di kalangan Bani Israil—jadi, mencakup Nabi Yahya a.s. (Yohanes sang Pembastis) dan Nabi Isa a.s., yang kedua orang-tua mereka berasal dari keturunan yang sama (Kitab Lukas 1: 5 menyebut Elisabet, ibunda Yohanes, sebagai salah satu anak perempuan Harun”, sedangkan Al-Quran Surah Maryam [19]: 28 menyebut Maryam, ibunda Nabi Isa a.s.—yang berkerabat dengan Yohanes—sebagai “saudara perempuan Harun”: dua kasus tersebut mencerminkan adat-istiadat kuno bangsa Semit, yakni menisbahkan nama seseorang atau kelompok dengan nama nenek moyangnya yang termasyhur). Disebutkannya keluarga ‘Imran merupakan pengantar bagi pemaparan kisah Nabi Zakariya a.s., Nabi Yahya a.s., Maryam, dan Nabi Isa a.s.

23 Tindakan saya menggabungkan frasa ini dengan ayat berikutnya sejalan dengan penafsiran yang dikemukakan oleh Muhammad ‘Abduh dan Rasyid Ridha. (Al-Manar III, h. 289).


Surah Al-‘Imran Ayat 35

إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

iż qālatimra`atu ‘imrāna rabbi innī nażartu laka mā fī baṭnī muḥarraran fa taqabbal minnī, innaka antas-samī’ul-‘alīm

35. tatkala seorang perempuan dari [keluarga] ‘Imran* berdoa: “Wahai, Pemeliharaku! Perhatikanlah, pada-Mu kunazarkan [anak] yang ada dalam kandunganku, agar mengabdi melayani-Mu. Karena itu, terimalah ia dariku: sungguh, hanya Engkau-lah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui!”


* {“Seorang perempuan dari [keluarga] ‘Imran” adalah terjemahan yang diberikan penyusun untuk kalimat imra’at ‘Imran. Dalam terjemahan Al-Quran Depag RI, kalimat tersebut diterjemahkan menjadi “istri ‘Imran”. Terjemahan Asad lebih sesuai dengan redaksi Al-Quran.—AM}


Surah Al-‘Imran Ayat 36

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَىٰ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَىٰ ۖ وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

fa lammā waḍa’at-hā qālat rabbi innī waḍa’tuhā unṡā, wallāhu a’lamu bimā waḍa’at, wa laisaż-żakaru kal-unṡā, wa innī sammaituhā maryama wa innī u’īżuhā bika wa żurriyyatahā minasy-syaiṭānir-rajīm

36. Maka, ketika dia telah melahirkan anaknya,24 dia berkata, “Wahai, Pemeliharaku! Perhatikanlah, aku telah melahirkan seorang anak perempuan”—padahal Allah telah mengetahui sepenuhnya (siapa) yang akan dilahirkannya dan [mengetahui sepenuhnya] bahwa tiada anak laki-laki [yang mungkin diharapkannya] yang bisa menjadi seperti anak perempuan ini25—“dan aku menamainya Maryam. Dan, sungguh, aku mohon perlindungan-Mu baginya dan keturunannya dari setan, yang terkutuk.”


24 Lit., “melahirkannya” (wadha’at ha). “Nya” (ha) di sini menunjukkan bahwa yang dilahirkan adalah anak perempuan.

25 Lit., “dan laki-laki tidaklah (atau ‘tidak dapat menjadi’) seperti perempuan”. Al-Zamakhsyari memahami kata-kata tersebut sebagai membentuk sebagian dari kalimat sisipan itu—yang mengacu pada pengetahuan Allah—dan menjelaskannya sebagai berikut: “[Anak] laki-laki yang dia mohonkan tidak akan dapat menandingi (anak) perempuan yang telah dianugerahkan kepadanya”—ini menunjukkan bahwa keutamaan Maryam jauh melampaui segala harapan ibunya.


Surah Al-‘Imran Ayat 37

فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا ۖ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا ۖ قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَا ۖ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

fa taqabbalahā rabbuhā biqabụlin ḥasaniw wa ambatahā nabātan ḥasanaw wa kaffalahā zakariyyā, kullamā dakhala ‘alaihā zakariyyal-miḥrāba wajada ‘indahā rizqā, qāla yā maryamu annā laki hāżā, qālat huwa min ‘indillāh, innallāha yarzuqu may yasyā`u bigairi ḥisāb

37. Dan kemudian, Pemeliharanya menerima anak perempuan itu dengan penerimaan yang baik, menjadikannya tumbuh dengan baik, dan menempatkannya dalam pemeliharaan Zakariya.26

Setiap kali Zakariya mengunjunginya di mihrab, dia mendapati Maryam dengan makanan di sisinya. Zakariya bertanya, “Wahai, Maryam, dari mana datangnya ini kepadamu?”

Maryam menjawab, “Ini dari Allah: perhatikanlah, Allah menganugerahkan rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki, melampaui segala perhitungan.”27


26 Sebagaimana terlihat jelas dari ayat 44 surah ini, pemeliharaan Maryam dipercayakan kepada Nabi Zakariya a.s.—yang bukan saja merupakan sanak keluarganya, melainkan juga pendeta yang mengabdikan diri di rumah ibadah—setelah sekian banyak orang diminta untuk memutuskan siapa di antara pendeta-pendeta itu yang harus bertanggung jawab atas gadis tersebut yang, sebagai konsekuensi dari nazar ibunya, harus mengabdikan dirinya dalam rumah ibadah (Al-Thabari).

27 Terlepas dari seluruh riwayat yang dikutip oleh mayoritas mufasir sehubungan dengan ayat ini, tidak ada indikasi apa pun, baik dalam Al-Quran maupun hadis-hadis sahih, yang menunjukkan bahwa makanan ini terhidang secara ajaib. Di sisi lain, Al-Thabari mengutip suatu kisah yang menyatakan bahwa ketika Nabi Zakariya a.s.—di usia tuanya—tidak mampu lagi membiayai hidup Maryam dari hartanya sendiri, masyarakat memutuskan untuk mengemban tanggung jawab ini dengan menunjuk keluarga lain, yang kemudian menyediakan makanan sehari-hari untuk Maryam. Terlepas dari kesahihan kisah ini, jawaban Maryam kepada Nabi Zakariya a.s. benar-benar mencerminkan kesadarannya yang mendalam akan Allah sebagai pemberi rezeki yang hakiki.


Surah Al-‘Imran Ayat 38

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

hunālika da’ā zakariyyā rabbah, qāla rabbi hab lī mil ladungka żurriyyatan ṭayyibah, innaka samī’ud-du’ā`

38. Di tempat yang sama itulah Zakariya berdoa kepada Pemeliharanya seraya berkata, “Wahai, Pemeliharaku! Berikanlah kepadaku [juga], dari karunia-Mu, keturunan yang baik; sebab, Engkau benar-benar Maha Mendengar segala doa.”


Surah Al-‘Imran Ayat 39

فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَىٰ مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ

fa nādat-hul-malā`ikatu wa huwa qā`imuy yuṣallī fil-miḥrābi annallāha yubasysyiruka biyaḥyā muṣaddiqam bikalimatim minallāhi wa sayyidaw wa ḥaṣụraw wa nabiyyam minaṣ-ṣāliḥīn

39. Kemudian, ketika dia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab, malaikat memanggilnya, “Allah mengirimkan berita gembira kepadamu tentang [kelahiran] Yahya, yang akan mempertegas kebenaran suatu perkataan dari Allah,28 dan [akan menjadi] terkenal di antara manusia, suci-murni, dan (menjadi) seorang nabi dari kalangan orang-orang saleh.”


28 Karena ungkapan kalimah sering digunakan dalam AI-Quran untuk menunjukkan suatu pemberitahuan dari Allah, pernyataan tentang kehendak-Nya, atau janji-Nya, (seperti dalam Surah An-Nisa’ [4]: 171; Al-An’am [6]: 34, 115, Yunus [10]: 64; Al-Kahfi [18]: 27; dsb.), kita harus menyimpulkan bahwa dalam ayat di atas pun, “suatu perkataan dari Allah” (kalimatin min-allah; word from God)—yang akan dipertegas dengan kelahiran Nabi Yahya (yang dalam Bibel disebut sebagai Yohanes sang Pembaptis)—mengacu pada suatu janji Ilahi yang diberikan melalui wahyu: dan inilah penafsiran yang dianut filolog terkenal Abu ‘Ubaidah Ma`mar ibn Al-Mutsanna, yang hidup pada abad ke-2 H dan mencurahkan sebagian besar usahanya untuk mempelajari ungkapan-ungkapan langka yang digunakan dalam bahasa Arab; upayanya mengidentikkan kalimah, dalam konteks ini, dengan kitab (“wahyu” atau “kitab Ilahi”) dikutip Al-Razi dalam tafsirnya atas ayat ini dan, lebih dari itu, sejalan dengan pemberitahuan serupa yang disampaikan kepada Maryam sehubungan dengan kelahiran Nabi Isa a.s. (lihat ayat 45 surah ini).


Surah Al-‘Imran Ayat 40

قَالَ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَقَدْ بَلَغَنِيَ الْكِبَرُ وَامْرَأَتِي عَاقِرٌ ۖ قَالَ كَذَٰلِكَ اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ

qāla rabbi annā yakụnu lī gulāmuw wa qad balaganiyal-kibaru wamra`atī ‘āqir, qāla każālikallāhu yaf’alu mā yasyā`

40. [Zakariya] berseru, “Wahai, Pemeliharaku! Bagaimana aku bisa mempunyai seorang putra, sedangkan usia tua telah menghampiriku, dan istriku mandul?”

Menjawablah [malaikat itu], “Demikianlah: Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.”


Surah Al-‘Imran Ayat 41

قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِي آيَةً ۖ قَالَ آيَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ إِلَّا رَمْزًا ۗ وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ

qāla rabbij’al lī āyah, qāla āyatuka allā tukalliman-nāsa ṡalāṡata ayyāmin illā ramzā, ważkur rabbaka kaṡīraw wa sabbiḥ bil-‘asyiyyi wal-ibkār

41. [Zakariya] berdoa, “Wahai, Pemeliharaku! Berikanlah suatu tanda untukku!”

Berkatalah [malaikat], “Tandanya bagimu adalah bahwa selama tiga hari engkau tidak akan bercakap-cakap dengan manusia, kecuali dengan isyarat.29 Dan, ingatlah Pemeliharamu dengan tiada henti, dan bertasbihlah (memuji) kemuliaan-Nya yang tak terhingga, siang dan malam.”


29 Menurut Abu Muslim (yang dikutip dan disetujui Al-Razi), Nabi Zakariya a.s. hanya diperintahkan agar tidak berbicara kepada siapa pun selama tiga hari, bukannya tiba-tiba menjadi bisu seperti yang diceritakan dalam Bibel Perjanjian Baru (Lukas 1: 20-22). Jadi, “tanda” tersebut sepenuhnya bersifat spiritual dan berupa tindakan Nabi Zakariya a.s. yang menenggelamkan-diri sepenuhnya dalam doa dan kontemplasi.


Surah Al-‘Imran Ayat 42

وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَىٰ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ

wa iż qālatil-malā`ikatu yā maryamu innallāhaṣṭafāki wa ṭahharaki waṣṭafāki ‘alā nisā`il-‘ālamīn

42. DAN, LIHATLAH! Malaikat-malaikat itu berkata, “Wahai, Maryam! Perhatikanlah, Allah telah memilih, menyucikan, dan mengangkatmu mengatasi seluruh perempuan di dunia.


Surah Al-‘Imran Ayat 43

يَا مَرْيَمُ اقْنُتِي لِرَبِّكِ وَاسْجُدِي وَارْكَعِي مَعَ الرَّاكِعِينَ

yā maryamuqnutī lirabbiki wasjudī warka’ī ma’ar-rāki’īn

43. Wahai, Maryam! Taatilah selalu Pemeliharamu dengan sungguh-sungguh, sujudlah dalam ibadah, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk [di hadapan-Nya].”


Surah Al-‘Imran Ayat 44

ذَٰلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ ۚ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يُلْقُونَ أَقْلَامَهُمْ أَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يَخْتَصِمُونَ

żālika min ambā`il-gaibi nụḥīhi ilaīk, wa mā kunta ladaihim iż yulqụna aqlāmahum ayyuhum yakfulu maryama wa mā kunta ladaihim iż yakhtaṣimụn

44. Berita ini, tentang sesuatu yang berada di luar jangkauan pemahamanmu, [kini] Kami wahyukan kepadamu:30 sebab, engkau tidak bersama mereka ketika mereka mengundi nasib tentang siapa di antara mereka yang seharusnya menjadi pemelihara Maryam,31 dan engkau juga tidak bersama mereka ketika mereka saling berselisih pendapat [tentang hal itu].


30 Ayat sisipan ini, yang ditujukan kepada Nabi, dimaksudkan untuk menekankan fakta bahwa kisah Maryam, sebagaimana diceritakan dalam Al-Quran, merupakan hasil langsung dari wahyu dan, karena itu, secara inheren benar—terlepas dari segala perbedaan antara penjelasan ini dan penjelasan yang disajikan dalam kitab-kitab suci yang dianggap sahih oleh umat Nasrani (Muhammad ‘Abduh dalam Al-Manar III, hh. 301 dan seterusnya).

31 Lihat catatan no. 26 sebelum ini. Frasa di atas, yang diterjemahkan menjadi “mereka mengundi nasib”, secara harfiah berarti “mereka melemparkan anak-anak panah”—ini jelas mengacu pada adat-istiadat kuno bangsa Semit, yang mungkin serupa dengan ramalan dengan anak panah yang dipraktikkan bangsa Arab jahiliah, yang dijelaskan secara komprehensif dalam Lane III, h. 1247. Kata ganti (dhamir) “mereka” (hum) mengacu pada pendeta-pendeta, yang salah seorang di antaranya adalah Nabi Zakariya a.s.


Surah Al-‘Imran Ayat 45

إِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ

iż qālatil-malā`ikatu yā maryamu innallāha yubasysyiruki bikalimatim min-husmuhul-masīḥu ‘īsabnu maryama wajīhan fid-dun-yā wal-ākhirati wa minal-muqarrabīn

45. Lihatlah! Malaikat berkata, “Wahai, Maryam! Perhatikanlah, Allah mengirim berita gembira kepadamu, melalui sebuah kata dari-Nya, [tentang seorang putra] yang akan dikenal sebagai Al-Masih32 Isa, putra Maryam, yang sangat mulia di dunia dan di akhirat, dan [akan menjadi] di antara orang-orang yang didekatkan kepada Allah.


32 Lit., “yang namanya adalah ‘yang diminyaki’ (al-masih)”. Sebutan al-masih adalah arabisasi dari kata meshiha dalam bahasa Aram, yang diambil dari bahasa Ibrani mahsiah, “yang diminyaki”—suatu istilah yang sering digunakan dalam Bibel untuk raja-raja Yahudi, yang penobatannya sebagai penguasa disucikan dengan percikan minyak suci yang diambil dari kuil. Upacara peminyakan suci ini tampaknya merupakan ritual yang begitu penting di kalangan orang-orang Yahudi sehingga istilah al-masih ini, seiring dengan perjalanan waktu, kurang lebih menjadi sama artinya dengan “raja”. Penisbahan al-masih pada Nabi Isa a.s., bisa jadi, disebabkan oleh keyakinan yang dianut secara luas di kalangan orang-orang sezamannya (yang informasinya dapat ditemukan di sejumlah bagian dalam Injil Sinoptik) bahwa beliau merupakan keturunan langsung—dan tentunya absah—dari keluarga Raja Daud. (Perlu dicatat bahwa ini tidak bisa dikaitkan dengan garis keturunan dari pihak ibu, sebab Maryam berasal dari golongan biarawan keturunan Nabi Harun a.s., dan termasuk suku Lewi, sedangkan Daud berasal dari suku Yehuda.) Apa pun situasi historisnya, jelaslah bahwa gelar kehormatan al-masih dianugerahkan kepada Nabi Isa a.s. semasa hidupnya. Dalam Injil versi Yunani—yang tidak diragukan lagi didasarkan pada Injil asli berbahasa Aram yang kini telah raib—gelar ini diterjemahkan dengan tepat menjadi Christos (nomina yang berasal dari verba Yunani chriein, “meminyaki”): dan karena dalam bentuk kata “the Christ” inilah istilah al-masih lebih dikenal dalam semua bahasa Barat, saya menggunakan istilah the Christ tersebut di keseluruhan terjemahan saya. {Karena umat Muslim Indonesia sudah akrab dengan kata al-masih, istilah inilah yang dipakai dalam terjemahan ini, sesuai dengan redaksi Al-Quran. Perhatikan, “Al-Masih” sama artinya dengan “Kristus”.—peny.}


Surah Al-‘Imran Ayat 46

وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَمِنَ الصَّالِحِينَ

wa yukallimun-nāsa fil-mahdi wa kahlaw wa minaṣ-ṣāliḥīn

46. Dan, dia akan berbicara kepada manusia dalam buaiannya33 dan ketika dewasa, dan dia termasuk orang-orang yang saleh.”


33 Suatu metafora yang mengacu pada hikmah kenabian yang mengilhami Nabi Isa a.s. semenjak usia mudanya. Mengenai ungkapan min al-muqarrabin (“di antara orang-orang yang didekatkan”, yakni kepada Allah), lihat Surah Al-Waqi’ah [56]: 11 yang menggambarkan orang-orang yang paling mulia di antara para penghuni surga.


Surah Al-‘Imran Ayat 47

قَالَتْ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ ۖ قَالَ كَذَٰلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ إِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

qālat rabbi annā yakụnu lī waladuw wa lam yamsasnī basyar, qāla każālikillāhu yakhluqu mā yasyā`, iżā qaḍā amran fa innamā yaqụlu lahụ kun fa yakụn

47. Berkatalah Maryam, “Wahai, Pemeliharaku! Bagaimana mungkin aku mempunyai seorang anak, padahal tak seorang laki-laki pun pernah menyentuhku?”

[Malaikat] menjawab, “Demikianlah: Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki:34 manakala Dia menetapkan untuk menjadikan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, ‘Jadilah’—maka, terjadilah ia!


34 Lihat Surah Maryam [19]: 16-22 dan catatannya. Dalam konteks kisah Maryam dalam Surah Alu ‘Imran, berita gembira yang disampaikan kepada Maryam dan Nabi Zakariya a.s. (dalam ayat 39-40) dimaksudkan untuk menegaskan ketidakterbatasan kekuasaan Allah dalam mencipta—khususnya, dalam kasus Maryam dan Nabi Zakariya a.s. ini, kekuasaan-Nya untuk menciptakan keadaan sehingga kehendak-Nya terwujud—sehingga mampu menciptakan peristiwa apa saja, betapapun peristiwa itu begitu mengagetkan atau bahkan tampak mustahil pada saat ia diberitakan.


Surah Al-‘Imran Ayat 48

وَيُعَلِّمُهُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ

wa yu’allimuhul-kitāba wal-ḥikmata wat-taurāta wal-injīl

48. Dan, Dia akan mengajarkan kepada putramu35 wahyu, hikmah, Taurat, dan Injil,


35 Lit., “kepadanya” {yakni kepada Nabi Isa a.s.—peny.}.


Surah Al-‘Imran Ayat 49

وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ ۖ وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِ اللَّهِ ۖ وَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

wa rasụlan ilā banī isrā`īla annī qad ji`tukum bi`āyatim mir rabbikum annī akhluqu lakum minaṭ-ṭīni kahai`atiṭ-ṭairi fa anfukhu fīhi fa yakụnu ṭairam bi`iżnillāh, wa ubri`ul-akmaha wal-abraṣa wa uḥyil-mautā bi`iżnillāh, wa unabbi`ukum bimā ta`kulụna wa mā taddakhirụna fī buyụtikum, inna fī żālika la`āyatal lakum ing kuntum mu`minīn

49. serta [akan menjadikannya] seorang rasul kepada Bani Israil.”36

“AKU TELAH DATANG kepada kalian dengan sebuah pesan dari Pemelihara kalian. Aku akan menciptakan bagi kalian dari tanah—demikianlah—bentuk nasib [kalian], kemudian aku akan meniup ke dalamnya, sehingga ia dapat menjadi nasib [kalian] dengan seizin Allah;37 dan aku akan menyembuhkan orang buta dan orang yang berpenyakit kusta; dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah:38 dan aku akan memberitahukan kepada kalian apa yang kalian makan dan apa yang kalian simpan di rumah kalian.39 Perhatikanlah, dalam semua ini benar-benar terdapat suatu pesan bagi kalian, jika kalian [benar-benar] orang-orang beriman.


36 Ayat-ayat selanjutnya—hingga akhir ayat 51—dapat dipahami dengan dua cara: pertama, sebagai bagian dari pemberitahuan kepada Maryam (yang menunjukkan bahwa Isa akan berbicara di masa depan) atau, kedua, sebagai pernyataan dari apa yang, di kemudian hari, benar-benar telah dikatakan oleh Nabi Isa a.s. kepada Bani Israil. Sejalan dengan bentuk narasi yang digunakan dalam ayat 52 dan seterusnya, alternatif kedualah yang lebih cocok.

37 Lit., “[sesuatu] seperti bentuk seekor burung (thair); dan kemudian aku akan meniup ke dalamnya sehingga ia [atau ‘kemudian ia akan’] menjadi seekor burung …”. Nomina thair adalah bentuk jamak dari tha’ir (“makhluk yang terbang” atau “burung”), atau merupakan nomina infinitif (“terbang”) yang berasal dari verba thara (“dia telah terbang”). Dalam penggunaannya sebelum Islam, juga dalam AI-Quran, kata tha’ir dan thair sering bermakna “keberuntungan” atau “nasib”, yang baik maupun yang buruk (sebagaimana terdapat, misalnya, pada Surah Al-A’raf [7]: 131, An-Naml [27]: 47, atau YaSin [36]: 19, dan lebih jelas lagi dalam Surah Al-Isra’ [17]: 13). Semua kamus bahasa Arab yang otoritatif mencantumkan banyak contoh penggunaan idiomatik tha’ir dan thair ini; lihat juga Lane V, hh. 1904 dan seterusnya. Jadi, dengan menggunakan perumpamaan majasi yang sangat disukainya, Nabi Isa a.s. menunjukkan kepada Bani Israil bahwa: (1) dari kehidupan mereka yang rendah-sederhana bagaikan tanah liat, dia ingin membuatkan bagi mereka suatu visi nasib kehidupan yang tinggi-Iuhur, dan (2) bahwa visi ini, yang dihidupkan oleh ilham-Ilahinya, akan benar-benar menjadi nasib kehidupan mereka, berkat izin Allah dan berkat kekuatan iman mereka (sebagaimana ditunjukkan pada akhir ayat ini).

38 Boleh jadi bahwa tindakan Nabi Isa a.s. “menghidupkan orang mati” merupakan gambaran metaforis tentang tindakannya memberikan kehidupan baru kepada orang-orang yang telah mati secara spiritual; bdk. Surah Al-An’am [6]: 122—”Lalu, apakah orang yang telah mati [semangatnya] dan yang Kami beri kehidupan setelah itu, dan yang Kami berikan kepadanya cahaya, yang dengan cahaya itu dia dapat melihat jalannya di antara manusia—[lalu apakah dia] serupa dengan [orang] yang [tersesat] di dalam pekatnya kegelapan, yang darinya dia tidak dapat keluar?” Jika penafsiran ini benar—sebagaimana yang saya yakini—”menyembuhkan orang buta dan yang berpenyakit kusta” mempunyai makna yang sama, yakni: peremajaan (regenerasi) batin orang-orang yang sakit secara spiritual dan buta terhadap kebenaran.

39 Yakni, “apa saja yang baik yang dapat kalian nikmati dalam kehidupan di dunia ini dan perbuatan baik apa saja yang harus kalian lakukan sebagai harta simpanan di akhirat”.


Surah Al-‘Imran Ayat 50

وَمُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَلِأُحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي حُرِّمَ عَلَيْكُمْ ۚ وَجِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ

wa muṣaddiqal limā baina yadayya minat-taurāti wa li`uḥilla lakum ba’ḍallażī ḥurrima ‘alaikum wa ji`tukum bi`āyatim mir rabbikum, fattaqullāha wa aṭī’ụn

50. “Dan, [aku datang] untuk mempertegas kebenaran apa pun yang masih ada40 dari Taurat, dan untuk menghalalkan beberapa hal yang [dahulu] diharamkan bagi kalian. Dan, aku datang kepada kalian dengan suatu pesan dari Pemelihara kalian; maka, sadarlah akan Allah senantiasa, dan taatlah kepadaku.


40 Lit., “apa pun yang ada di antara kedua tanganku”: untuk penjelasannya, lihat catatan no. 3 pada ayat 3 surah ini.


Surah Al-‘Imran Ayat 51

إِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۗ هَٰذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ

innallāha rabbī wa rabbukum fa’budụh, hāżā ṣirāṭum mustaqīm

51. “Sungguh, Allah adalah Pemeliharaku dan Pemelihara kalian; karena itu, sembahlah Dia [saja]: inilah jalan yang lurus.”


Surah Al-‘Imran Ayat 52

فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ ۖ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

fa lammā aḥassa ‘īsā min-humul-kufra qāla man anṣārī ilallāh, qālal-ḥawāriyyụna naḥnu anṣārullāh, āmannā billāh, wasy-had bi`annā muslimụn

52. Dan, tatkala Isa menyadari penolakan mereka untuk mengakui kebenaran,41 dia bertanya, “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku di jalan Allah?”

Orang-orang yang berjubah putih42 menjawab, “Kamilah yang akan menjadi penolong-penolong[mu di jalan] Allah! Kami beriman kepada Allah: dan saksikanlah bahwa kami telah berserah diri kepada-Nya!


41 Ini mengacu pada masa berikutnya, ketika Nabi Isa a.s. ditentang oleh mayoritas umatnya, khususnya kaum Farisi.

42 Al-Hawariyyun (bentuk tunggalnya, hawari) adalah sebutan yang digunakan Al-Quran bagi murid-murid Nabi Isa a.s. Berbagai penafsiran atas istilah ini (yang berasal dari hawar, “warna putih”) diberikan oleh para mufasir, mulai dari “seseorang yang memutihkan pakaian dengan mencucinya” (karena hal ini diduga merupakan pekerjaan beberapa murid Nabi Isa a.s.) hingga “orang yang mengenakan jubah putih” atau “orang yang memiliki hati yang bersih”, yakni suci (bdk., Al-Thabari, dan Ibn Katsir). Namun, kemungkinan besar—dan bukti yang diberikan oleh Gulungan Naskah Laut Mati (Dead Sea Scrolls) yang ditemukan baru-baru ini mendukung dengan kuat pandangan ini—istilah hawari ini umum digunakan untuk menyebut anggota Persaudaraan Eseni (the Essene Brotherhood), suatu kelompok keagamaan Yahudi yang ada di Palestina pada masa Nabi Isa a.s., yang kemungkinan dia sendiri termasuk di dalamnya. Persaudaraan Eseni dicirikan dengan keteguhan mereka terhadap kesucian akhlak dan perilaku yang tidak mementingkan diri, dan selalu mengenakan pakaian putih sebagai ciri lahiriah dari keyakinan mereka; dan hal ini secara memuaskan menjelaskan nama yang diberikan kepada mereka. Fakta bahwa Nabi pernah bersabda, “Setiap nabi memiliki hawari-nya” (Bukhari dan Muslim) tidak bertentangan dengan pandangan di atas karena Nabi jelas menggunakan istilah ini secara kiasan, sehingga mengingatkan kita akan “para penolong Nabi Isa di jalan Allah”.


Surah Al-‘Imran Ayat 53

رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ

rabbanā āmannā bimā anzalta wattaba’nar-rasụla faktubnā ma’asy-syāhidīn

53. Wahai, Pemelihara kami! Kami beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan, dan kami mengikuti rasul ini; maka, satukanlah kami43 bersama seluruh orang yang menyaksikan [kebenaran]!”


43 Lit., “catatlah kami” atau “tuliskanlah kami”. Namun, harus diingat bahwa verba kataba juga berarti “dia menyatukan” atau “mengumpulkan”: yang dari sini muncul nomina katibah, yang berarti “sekumpulan manusia”.


Surah Al-‘Imran Ayat 54

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

wa makarụ wa makarallāh, wallāhu khairul-mākirīn

54. Dan, orang-orang yang tidak beriman itu melancarkan makar [terhadap Isa];44 namun Allah menjadikan makar mereka sia-sia: sebab, Allah mengungguli semua pembuat makar.


44 Lit., “mereka berbuat makar”—di sini merujuk pada orang-orang dari kalangan Yahudi yang menolak mengakui Isa sebagai seorang nabi, sebaliknya mereka ingin melenyapkannya.


Surah Al-‘Imran Ayat 55

إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَىٰ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۖ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

iż qālallāhu yā ‘īsā innī mutawaffīka wa rāfi’uka ilayya wa muṭahhiruka minallażīna kafarụ wa jā’ilullażīnattaba’ụka fauqallażīna kafarū ilā yaumil-qiyāmah, ṡumma ilayya marji’ukum fa aḥkumu bainakum fīmā kuntum fīhi takhtalifụn

55. Lihatlah! Allah berfirman, “Wahai, Isa! Sungguh, Aku akan membuatmu wafat, dan akan memuliakanmu ke haribaan-Ku, serta menyucikanmu dari [keberadaan] orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran; dan akan Kutempatkan orang-orang yang mengikutimu [jauh] di atas orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran, hingga Hari Kebangkitan. Akhirnya, kepada-Ku-lah kalian semua pasti kembali, dan Aku akan memberi keputusan di antara kalian tentang segala hal yang biasa kalian perselisihkan.45


45 Ini mengacu kepada semua orang yang menjunjung tinggi Nabi Isa a.s. (yakni, orang-orang Nasrani, yang meyakininya sebagai “anak Tuhan”, dan umat Muslim, yang memandangnya sebagai seorang nabi), dan juga kepada orang-orang yang mengingkarinya sama sekali. Tentang janji Allah kepada Nabi Isa a.s., “Aku akan memuliakanmu ke haribaan-Ku”, lihat Surah An-Nisa’ [4], catatan no. 172.


Surah Al-‘Imran Ayat 56

فَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَأُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

fa ammallażīna kafarụ fa u’ażżibuhum ‘ażāban syadīdan fid-dun-yā wal-ākhirati wa mā lahum min nāṣirīn

56. “Adapun orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran, Aku akan membuat mereka menanggung derita yang sangat keras di dunia ini dan di akhirat, dan mereka tiada mempunyai seorang penolong pun;


Surah Al-‘Imran Ayat 57

وَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

wa ammallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti fa yuwaffīhim ujụrahum, wallāhu lā yuḥibbuẓ-ẓālimīn

57. sedangkan, kepada orang-orang yang telah meraih iman dan berbuat kebajikan, Dia akan menganugerahkan balasan (untuk) mereka dengan sempurna: sebab, Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.”


Surah Al-‘Imran Ayat 58

ذَٰلِكَ نَتْلُوهُ عَلَيْكَ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ

żālika natlụhu ‘alaika minal-āyāti waż-żikril-ḥakīm

58. KAMI SAMPAIKAN kepadamu pesan ini, dan kabar yang penuh hikmah:46


46 Lit., “Ini Kami sampaikan kepadamu {sebagian} dari pesan-pesan dan dari kabar yang bijak”. Ungkapan “Ini dari pesan-pesan” (dzalika min al-ayati), dalam pandangan saya, memiliki konotasi suatu pesan khusus—yakni, pesan yang disampaikan pada ayat berikutnya setelah kalimat ini.


Surah Al-‘Imran Ayat 59

إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

inna maṡala ‘īsā ‘indallāhi kamaṡali ādam, khalaqahụ min turābin ṡumma qāla lahụ kun fa yakụn

59. Sungguh, dalam pandangan Allah, hakikat Isa adalah sebagaimana hakikat Adam, yang Dia ciptakan dari tanah dan lalu berkata kepadanya, “Jadilah”—maka, terjadilah dia.47


47 Lit, “Perumpamaan Nabi Isa adalah seperti perumpamaan Adam …”, dan seterusnya. Ungkapan matsal (yang di atas diterjemahkan menjadi “hakikat” [nature]) secara metaforis sering digunakan untuk menunjukkan keadaan atau kondisi (seseorang atau sesuatu), dan dalam pengertian ini—sebagaimana ditunjukkan oleli para mufasir—sinonim dengan shifah (“kualitas” atau “hakikat” sesuatu). Sebagaimana tampak jelas dari rangkaian ayat-ayat sebelumnya, ayat tersebut merupakan sebagian dari argumen yang menentang doktrin Kristen mengenai ketuhanan Yesus. Di sini, Al-Quran menekankan fakta—sebagaimana juga dalam banyak bagian lainnya—bahwa Yesus, sebagaimana Adam (yang dalam konteks ini mengacu pada seluruh manusia), hanyalah makhluk biasa “yang diciptakan dari tanah”, yakni dari substansi—baik organik maupun anorganik—yang ditemukan dalam bentuk-bentuk elementer di atas dan di dalam bumi ini. Bdk. Surah Al-Kahf [18]: 37, Al-Hajj [22]: 5, Ar-Rum [30]: 20, Fathir [35]: 11, Ghafir [40]: 67, yang di dalamnya Al-Quran menyebut seluruh manusia “diciptakan dari tanah”. Bahwa “Adam” di sini berarti seluruh manusia ditunjukkan dengan jelas oleh penggunaan verba kala kini (mudhari’) dalam kata terakhir dari kalimat ini.


Surah Al-‘Imran Ayat 60

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُنْ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

al-ḥaqqu mir rabbika fa lā takum minal-mumtarīn

60. [Inilah] kebenaran dari Pemeliharamu; maka, janganlah termasuk di antara orang-orang yang ragu!


Surah Al-‘Imran Ayat 61

فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ

fa man ḥājjaka fīhi mim ba’di mā jā`aka minal-‘ilmi fa qul ta’ālau nad’u abnā`anā wa abnā`akum wa nisā`anā wa nisā`akum wa anfusanā wa anfusakum, ṡumma nabtahil fa naj’al la’natallāhi ‘alal-kāżibīn

61. Dan, jika siapa saja membantahmu tentang [kebenaran] ini setelah seluruh pengetahuan datang kepadamu, katakanlah: “Ayo! Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kalian, perempuan-perempuan kami dan perempuan-perempuan kalian, diri kami dan diri kalian; kemudian, marilah kita [sama-sama] berdoa dengan merendahkan diri dan sungguh-sungguh, dan marilah kita memohon agar kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang [di antara kita] yang berdusta.”48


48 Yakni, mengenai hakikat Nabi Isa yang sesungguhnya. Menurut semua ahli yang tepercaya, ayat 59-63 surah ini diwahyukan pada 10 H saat terjadi perselisihan antara Nabi dan utusan Nasrani dari Najran yang, seperti semua orang Nasrani lain, menyatakan bahwa Nabi Isa a.s. adalah “anak Allah” dan, karenanya, sebagai penjelmaan Tuhan. Meskipun mereka menolak “pengadilan melalui doa” (mubahalah) yang diajukan Nabi kepada mereka, Nabi menjanjikan jaminan hak-hak sipil dan kebebasan menjalankan agama kepada mereka.


Surah Al-‘Imran Ayat 62

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّ ۚ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

inna hāżā lahuwal-qaṣaṣul-ḥaqq, wa mā min ilāhin illallāh, wa innallāha lahuwal-‘azīzul-ḥakīm

62. Perhatikanlah, inilah sesungguhnya hakikat permasalahannya, dan tiada tuhan apa pun kecuali Allah; dan sungguh Allah—hanya Dia—Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.


Surah Al-‘Imran Ayat 63

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِالْمُفْسِدِينَ

fa in tawallau fa innallāha ‘alīmum bil-mufsidīn

63. Dan, jika mereka berpaling [dari kebenaran ini]—perhatikanlah, Allah Maha Mengetahui orang-orang yang menyebarkan kerusakan.


Surah Al-‘Imran Ayat 64

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

qul yā ahlal-kitābi ta’ālau ilā kalimatin sawā`im bainanā wa bainakum allā na’buda illallāha wa lā nusyrika bihī syai`aw wa lā yattakhiża ba’ḍunā ba’ḍan arbābam min dụnillāh, fa in tawallau fa qụlusy-hadụ bi`annā muslimụn

64. Katakanlah: “Wahai, para penganut wahyu terdahulu! Marilah menuju ajaran yang sama-sama kita yakini:49 bahwa kita tidak akan menyembah siapa pun kecuali Allah, dan bahwa kita tidak akan menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah*, dan bahwa kita tidak akan menjadikan manusia sebagai tuhan-tuhan di samping Allah.”50

Dan, jika mereka berpaling, katakanlah: “Saksikanlah bahwa kamilah orang-orang yang berserah diri kepada-Nya.”


49 Lit., “suatu kata [yang] sama antara kalian dan kami”. Istilah kalimah, yang pada dasarnya berarti “kata” atau ” ucapan”, sering digunakan dalam pengertian filosofis sebagai “proposisi” atau “ajaran”.

* {“Kita tidak akan menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah” adalah terjemahan yang diberikan penyusun untuk frasa la nusyrika bihi syai’an, yang dalam Al-Quran Depag RI diterjemahkan menjadi “tidak kita persekutukan”. Dengan demikian, syirk diartikan Muhammad Asad menjadi “menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah”, dan musyrikun (kaum musyrik) diterjemahkan menjadi “orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah”.—AM}

50 Lit., “bahwa hendaknya sebagian kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan (arbaban, lords) di samping Allah”. Karena kata ganti “kami/kita” (na) jelas-jelas digunakan untuk manusia, ungkapan “sebagian kita sebagian yang lain” (ba’dhuna ba’dhan) harus mengandung konotasi yang sama. Dalam implikasinya yang lebih luas, seruan di atas dialamatkan tidak saja kepada orang-orang Nasrani yang menisbahkan ketuhanan kepada Nabi Isa a.s. dan aspek ilahiah tertentu kepada para santo mereka, tetapi juga kepada orang-orang Yahudi, yang menisbahkan kuasa semi-Ilahi kepada Ezra dan bahkan kepada beberapa ulama Talmud mereka yang terkemuka (bdk. Surah At-Taubah [9]: 30-31).


Surah Al-‘Imran Ayat 65

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تُحَاجُّونَ فِي إِبْرَاهِيمَ وَمَا أُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ إِلَّا مِنْ بَعْدِهِ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

yā ahlal-kitābi lima tuḥājjụna fī ibrāhīma wa mā unzilatit-taurātu wal-injīlu illā mim ba’dih, a fa lā ta’qilụn

65. WAHAI, para penganut wahyu terdahulu! Mengapa kalian saling berdebat tentang Ibrahim,51 padahal Taurat dan Injil baru diturunkan [pada masa yang jauh] setelah dia? Maka, tidakkah kalian menggunakan akal?


51 Yakni, apakah prinsip-prinsip yang dianut Ibrahim adalah prinsip-prinsip agama Yahudi, yang menetapkan Taurat sebagai syariat terakhir dari Tuhan, ataukah prinsip-prinsip agama Nasrani, yang dalam banyak hal bertentangan dengan agama Yahudi.


Surah Al-‘Imran Ayat 66

هَا أَنْتُمْ هَٰؤُلَاءِ حَاجَجْتُمْ فِيمَا لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَاجُّونَ فِيمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

hā`antum hā`ulā`i ḥājajtum fīmā lakum bihī ‘ilmun fa lima tuḥājjụna fīmā laisa lakum bihī ‘ilm, wallāhu ya’lamu wa antum lā ta’lamụn

66. Lihat! Kalianlah orang-orang yang memperdebatkan sesuatu yang kalian ketahui; tetapi, mengapa kalian memperdebatkan sesuatu yang tidak kalian ketahui?52

Namun, Allah mengetahui[nya], sedangkan kalian tidak mengetahui:


52 Yakni, tentang kepercayaan Nabi Ibrahim yang sebenarnya, “Sesuatu yang kalian ketahui” mengacu pada pengetahuan mereka tentang fakta yang jelas, bahwa banyak ajaran yang didasarkan pada versi-versi Taurat dan Injil yang masih ada itu bertentangan dengan ajaran Al-Quran (Al-Razi).


Surah Al-‘Imran Ayat 67

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

mā kāna ibrāhīmu yahụdiyyaw wa lā naṣrāniyyaw wa lāking kāna ḥanīfam muslimā, wa mā kāna minal-musyrikīn

67. Ibrahim bukanlah seorang “Yahudi”, bukan pula “Nasrani”, melainkan seorang yang telah berpaling dari semua yang batil, dan menyerahkan dirinya kepada Allah; dan dia bukan termasuk di antara mereka yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain-Nya.


Surah Al-‘Imran Ayat 68

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَٰذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا ۗ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ

inna aulan-nāsi bi`ibrāhīma lallażīnattaba’ụhu wa hāżan-nabiyyu wallażīna āmanụ, wallāhu waliyyul-mu`minīn

68. Perhatikanlah, orang yang memiliki klaim terbaik atas Ibrahim tentunya adalah mereka yang mengikutinya—sebagaimana Nabi ini dan semua orang yang beriman [kepadanya]—dan Allah dekat dengan orang-orang yang beriman.


Surah Al-‘Imran Ayat 69

وَدَّتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يُضِلُّونَكُمْ وَمَا يُضِلُّونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

waddaṭ ṭā`ifatum min ahlil-kitābi lau yuḍillụnakum, wa mā yuḍillụna illā anfusahum wa mā yasy’urụn

69. Sebagian penganut wahyu terdahulu ingin sekali menyesatkan kalian: namun, tiada seorang pun yang mereka sesatkan, kecuali diri mereka sendiri, dan mereka tidak menyadarinya.


Surah Al-‘Imran Ayat 70

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ

yā ahlal-kitābi lima takfurụna bi`āyātillāhi wa antum tasy-hadụn

70. Wahai, para penganut wahyu terdahulu! Mengapa kalian mengingkari kebenaran pesan-pesan Allah yang kalian saksikan sendiri?53


53 Lit., “ketika kalian [sendiri] menyaksikan”: merujuk pada ramalan Bibel mengenai kedatangan Nabi Muhammad Saw.


Surah Al-‘Imran Ayat 71

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

yā ahlal-kitābi lima talbisụnal-ḥaqqa bil-bāṭili wa taktumụnal-ḥaqqa wa antum ta’lamụn

71. Wahai, para penganut wahyu terdahulu! Mengapa kalian menyelubungi kebenaran dengan kebatilan dan menyembunyikan kebenaran yang kalian ketahui [dengan pasti]?


Surah Al-‘Imran Ayat 72

وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمِنُوا بِالَّذِي أُنْزِلَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوا آخِرَهُ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

wa qālaṭ ṭā`ifatum min ahlil-kitābi āminụ billażī unzila ‘alallażīna āmanụ waj-han-nahāri wakfurū ākhirahụ la’allahum yarji’ụn

72. Dan, sebagian penganut wahyu terdahulu itu [saling] berkata, “Tunjukkanlah keimanan kalian terhadap apa yang telah diwahyukan kepada orang-orang yang beriman [kepada Muhammad] pada permulaan hari, dan ingkarilah kebenaran yang datang kemudian,54 supaya mereka mungkin kembali [pada keyakinan mereka];


54 Mayoritas mufasir, dengan bersandar pada beberapa pandangan yang ada di kalangan tabi’un (yakni generasi sesudah para Sahabat Nabi), memahami ayat ini demikian: “Pada pagi hari, tunjukkanlah keimanan kalian pada apa yang telah diwahyukan kepada orang-orang yang memercayai Muhammad dan ingkarilah [sebagian dari] kebenaran itu pada sore harinya.” Terjemahan ini menunjukkan bahwa upaya orang-orang Yahudi-Kristen mengacaukan kaum Muslim, yang disebutkan oleh ayat tersebut, dilakukan dengan cara mengubah-ubah pengakuan keimanan dan kekafiran mereka atas pesan-pesan Al-Quran. Di sisi lain, terjemahan yang saya pilih (dan didukung oleh Al-Asham, yang penafsirannya dikutip oleh Al-Razi dalam tafsirnya atas ayat ini) menunjukkan bahwa sebagian orang Yahudi dan Nasrani telah dan terus berharap untuk meraih tujuan ini dengan mengakui, betapapun enggannya, bahwa mungkin saja terdapat “sejumlah kebenaran” dalam pewahyuan awal Al-Quran (“yang telah diwahyukan pada permulaan hari”), meskipun mereka sama sekali menolak bagian-bagian Al-Quran yang diwahyukan berikutnya karena jelas-jelas berlawanan dengan ajaran tertentu Bibel.


Surah Al-‘Imran Ayat 73

وَلَا تُؤْمِنُوا إِلَّا لِمَنْ تَبِعَ دِينَكُمْ قُلْ إِنَّ الْهُدَىٰ هُدَى اللَّهِ أَنْ يُؤْتَىٰ أَحَدٌ مِثْلَ مَا أُوتِيتُمْ أَوْ يُحَاجُّوكُمْ عِنْدَ رَبِّكُمْ ۗ قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

wa lā tu`minū illā liman tabi’a dīnakum, qul innal-hudā hudallāhi ay yu`tā aḥadum miṡla mā ụtītum au yuḥājjụkum ‘inda rabbikum, qul innal-faḍla biyadillāh, yu`tīhi may yasyā`, wallāhu wāsi’un ‘alīm

73. tetapi janganlah [benar-benar] beriman kepada siapa saja yang tidak mengikuti agama kalian.”

Katakanlah: “Perhatikan, seluruh petunjuk [yang benar] adalah petunjuk Allah, yakni (dalam bentuk) seseorang dianugerahi [wahyu] sebagaimana kalian dianugerahi (wahyu pula).”55 Ataukah mereka akan mendebatmu di hadapan Pemeliharamu?

Katakanlah: “Perhatikan, seluruh karunia itu ada di tangan Allah; Dia menganugerahkannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki:56 sebab, Allah Maha Tak Terhingga, Maha Mengetahui,


55 Ini merujuk pada umat Yahudi dan Nasrani, yang tidak siap menerima pesan-pesan Al-Quran karena bertentangan dengan bagian-bagian tertentu dalam Kitab Suci mereka sendiri.

56 Dalam konteks ini, istilah fadhl (“karunia”) sama artinya dengan pemberian wahyu Ilahi.


Surah Al-‘Imran Ayat 74

يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

yakhtaṣṣu biraḥmatihī may yasyā`, wallāhu żul-faḍlil-‘aẓīm

74. (Dia) mengkhususkan rahmat-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan, Allah tiada terhingga dalam karunia-Nya yang besar.”


Surah Al-‘Imran Ayat 75

وَمِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِقِنْطَارٍ يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِدِينَارٍ لَا يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ إِلَّا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَائِمًا ۗ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَيْسَ عَلَيْنَا فِي الْأُمِّيِّينَ سَبِيلٌ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

wa min ahlil-kitābi man in ta`man-hu biqinṭāriy yu`addihī ilaīk, wa min-hum man in ta`man-hu bidīnāril lā yu`addihī ilaika illā mā dumta ‘alaihi qā`imā, żālika bi`annahum qālụ laisa ‘alainā fil-ummiyyīna sabīl, wa yaqụlụna ‘alallāhil-każiba wa hum ya’lamụn

75. DAN, DI ANTARA para penganut wahyu terdahulu itu ada banyak orang yang, jika engkau percayakan kepadanya perbendaharaan harta, akan mengembalikannya kepadamu [dengan penuh amanat]; dan di antara mereka ada banyak orang yang, jika engkau percayakan kepadanya sekeping kecil uang emas, tidak akan mengembalikannya kepadamu, kecuali jika engkau selalu mendesaknya—sebagai akibat dari pernyataan mereka,57 “Tiada dakwaan kesalahan yang dapat menimpa kami [karena apa pun yang mungkin kami lakukan] sehubungan dengan kaum buta aksara ini”: dan [demikianlah] mereka berdusta tentang Allah, padahal mereka sungguh tahu [bahwa hal itu adalah dusta].58


57 Lit., “demikian itu karena mereka berkata”. Dalam bahasa Arab, verba qala (“dia berkata”) sering berarti “dia menegaskan” atau “mengemukakan suatu pendapat”. Sebagaimana terlihat dari sejumlah hadis, yang dirujuk di sini adalah orang-orang Yahudi.

58 Yakni, mereka secara keliru menyatakan bahwa Allah sendirilah yang membebaskan mereka dari segala tanggung jawab moral terhadap orang-orang non-Yahudi (yang secara menghina digambarkan sebagai “kaum buta aksara”), padahal mereka mengetahui bahwa kitab suci mereka tidak memberikan dasar apa pun bagi klaim seperti ini.


Surah Al-‘Imran Ayat 76

بَلَىٰ مَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ وَاتَّقَىٰ فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

balā man aufā bi’ahdihī wattaqā fa innallāha yuḥibbul-muttaqīn

76. Tidak, tetapi [Allah mengetahui] orang-orang yang memelihara ikatan mereka dengan-Nya,59 dan sadar akan Dia: dan sungguh, Allah mencintai orang-orang yang sadar akan Dia.


59 Menurut beberapa mufasir, kata ganti personal dalam ‘ahdihi mengacu pada seseorang atau beberapa orang yang diajak bicara dan, karenanya, mengartikan ‘ahd menjadi “janji”—jadi: [adapun] orang yang memenuhi janjinya …” dan seterusnya. Namun, jelaslah dari ayat berikutnya bahwa kata ganti dalam ‘ahdihi mengacu pada Allah; karena itu, frasa tersebut harus diterjemahkan menjadi “orang-orang yang memenuhi kewajiban mereka terhadap-Nya” atau “orang-orang yang memelihara ikatan mereka dengan-Nya”—menurut saya, terjemahan yang terakhir inilah yang lebih tepat. (Tentang makna “ikatan manusia dengan Allah”, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 19.)


Surah Al-‘Imran Ayat 77

إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَٰئِكَ لَا خَلَاقَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

innallażīna yasytarụna bi’ahdillāhi wa aimānihim ṡamanang qalīlan ulā`ika lā khalāqa lahum fil-ākhirati wa lā yukallimuhumullāhu wa lā yanẓuru ilaihim yaumal-qiyāmati wa lā yuzakkīhim wa lahum ‘ażābun alīm

77. Perhatikanlah, orang-orang yang menukarkan ikatannya dengan Allah dan sumpah mereka sendiri demi keuntungan yang sepele—mereka tidak akan mendapat bagian dari berkah kehidupan akhirat; dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka, tidak pula memandang mereka pada Hari Kebangkitan, dan tidak pula akan menyucikan mereka dari dosa-dosa mereka; dan penderitaan yang pedih menanti mereka.


Surah Al-‘Imran Ayat 78

وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

wa inna min-hum lafarīqay yalwụna alsinatahum bil-kitābi litaḥsabụhu minal-kitābi wa mā huwa minal-kitāb, wa yaqụlụna huwa min ‘indillāhi wa mā huwa min ‘indillāh, wa yaqụlụna ‘alallāhil-każiba wa hum ya’lamụn

78. Dan, perhatikanlah, sebagian di antara mereka ada yang benar-benar menyelewengkan Alkitab dengan lidahnya, agar kalian menyangka bahwa [yang mereka katakan] itu berasal dari Alkitab, padahal ia bukan dari Alkitab; dan yang berkata, “Ini dari Allah,” padahal ia bukan dari Allah: demikianlah mereka berkata dusta tentang Allah, padahal mereka sungguh tahu [bahwa hal itu adalah dusta].60


60 Mayoritas mufasir berpendapat bahwa hal ini mengacu khususnya pada orang-orang Yahudi, yang oleh Al-Quran sering didakwa sengaja telah menyelewengkan Perjanjian Lama. Akan tetapi, karena dua ayat berikutnya jelas-jelas berkaitan dengan Nabi Isa a.s. dan keyakinan batil yang dianut oleh orang-orang Nasrani tentang hakikat Isa {yakni meyakininya sebagai Tuhan—peny.} dan misinya, kita harus menyimpulkan bahwa orang Yahudi dan Nasranilah yang dibicarakan dalam ayat ini. Karena alasan inilah, istilah yang diulang tiga kali dalam kalimat ini, diterjemahkan di sini menjadi “the Bible“, yakni “Alkitab”.

Menurut Muhammad ‘Abduh (Al-Manar III, h. 345), penyelewengan Alkitab yang disebutkan di atas tidak harus mengandaikan suatu pengrusakan atas teks itu sendiri: ia juga dapat terjadi “dengan memberikan makna yang lain terhadap suatu ungkapan, selain makna yang dimaksudkan semula”. Sebagai contoh, ‘Abduh mengutip penggunaan majasi, dalam Injil, dari istilah “Bapaku” yang mengacu pada Tuhan; istilah yang, sebagaimana terlihat dalam “Doa Bapa Kami”*, sebenarnya dimaksudkan untuk “Bapa”—yakni, Pencipta dan Pelindung—seluruh manusia. Namun selanjutnya, beberapa orang yang mengklaim sebagai pengikut Nabi Isa a.s. mencabut ungkapan ini dari ranah metafora dan “mengalihkannya ke ranah realitas positif dan merujukkannya pada Nabi Isa a.s. saja”: dan, dengan demikian, mereka menyebarluaskan gagasan bahwa Nabi Isa a.s. adalah “anak Tuhan” secara harfiah, yakni penjelmaan Tuhan.

* {“Doa Bapa Kami” [Lord’s Prayer atau Our Father] adalah doa yang paling penting dalam agama Nasrani (lihat Bibel Matius 6: 9-13).—peny.}


Surah Al-‘Imran Ayat 79

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ

mā kāna libasyarin ay yu`tiyahullāhul-kitāba wal-ḥukma wan-nubuwwata ṡumma yaqụla lin-nāsi kụnụ ‘ibādal lī min dụnillāhi wa lāking kụnụ rabbāniyyīna bimā kuntum tu’allimụnal-kitāba wa bimā kuntum tadrusụn

79. Tidaklah mungkin seorang manusia yang telah Allah anugerahi wahyu, hikmah dan kenabian kepadanya, kemudian akan berkata kepada manusia,61 “Sembahlah aku di samping Allah”; tetapi sebaliknya [dia menyeru mereka], “Jadilah orang-orang rabbani62 dengan menyebarkan ilmu tentang kitab Ilahi, dan dengan kajianmu sendiri yang mendalam [tentangnya].”


61 Ayat yang jelas merujuk pada Nabi isa a.s. ini, secara harfiah, berbunyi: “Tidaklah [mungkini bagi seorang manusia bahwa Allah akan menganugerahkan kepadanya … lalu dia berkata …”. Al-Zamakhsyari menganggap bahwa istilah hukm (“penilaian” atau “penilaian yang sehat”) yang terdapat dalam kalimat tersebut, dalam konteks ini, bersinonim dengan hikmah (“kebijaksanaan, hikmah”).

62 Menurut Sibawaih (seperti dikutip Al-Razi), rabbani adalah “orang yang mencurahkan dirinya semata-mata pada upaya mengenal Sang Pemelihara (al-rabb) dan menaati-Nya”: suatu makna yang amat dekat dengan ungkapan bahasa Inggris “a man of God“.


Surah Al-‘Imran Ayat 80

وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا ۗ أَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

wa lā ya`murakum an tattakhiżul-malā`ikata wan-nabiyyīna arbābā, a ya`murukum bil-kufri ba’da iż antum muslimụn

80. Dan, dia tidak pula memerintahkan kalian menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan kalian:63 [sebab,] akankah dia memerintahkan kalian mengingkari kebenaran setelah kalian berserah diri kepada Allah?


63 Yakni, menisbahkan kekuatan Ilahi atau semi-Ilahi kepada mereka: suatu penolakan mutlak terhadap pemujaan orang-orang suci dan malaikat.


Surah Al-‘Imran Ayat 81

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ ۚ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَىٰ ذَٰلِكُمْ إِصْرِي ۖ قَالُوا أَقْرَرْنَا ۚ قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ

wa iż akhażallāhu mīṡāqan-nabiyyīna lamā ātaitukum ming kitābiw wa ḥikmatin ṡumma jā`akum rasụlum muṣaddiqul limā ma’akum latu`minunna bihī wa latanṣurunnah, qāla a aqrartum wa akhażtum ‘alā żālikum iṣrī, qālū aqrarnā, qāla fasy-hadụ wa ana ma’akum minasy-syāhidīn

81. DAN, LIHATLAH! Allah menerima, melalui para nabi, sumpah setia ini [dari para penganut wahyu terdahulu]:64 “Jika, setelah semua wahyu dan hikmah yang Aku sampaikan kepada kalian, datang kepada kalian seorang rasul yang mempertegas kebenaran yang sudah kalian miliki, kalian harus beriman kepadanya dan menolongnya. Apakah kalian”—tegas-Nya” mengakui dan menerima ikatan-Ku dengan syarat ini?”

Mereka menjawab, “Kami mengakuinya.”

Berfirmanlah Dia, “Maka, bersaksilah [terhadapnya], dan Aku akan menjadi saksi kalian.65


64 Lit., “surnpah setia para nabi”. Al-Zamakhsyari berpendapat bahwa yang dimaksudkan di sini adalah sumpah yang diambil dari umat secara keseluruhan: bentuk sumpahnya adalah penerimaan mereka terhadap pesan-pesan yang disampaikan melalui para nabi.

65 Lit., “dan Aku bersama kalian di antara para saksi”.


Surah Al-‘Imran Ayat 82

فَمَنْ تَوَلَّىٰ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

fa man tawallā ba’da żālika fa ulā`ika humul-fāsiqụn

82. Maka, semua yang berpaling [dari sumpah ini]—mereka, mereka itulah yang benar-benar fasik!”


Surah Al-‘Imran Ayat 83

أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

a fa gaira dīnillāhi yabgụna wa lahū aslama man fis-samāwāti wal-arḍi ṭau’aw wa kar-haw wa ilaihi yurja’ụn

83. Apakah mereka, mungkin, mencari keyakinan selain kepada Allah66 meskipun kepada-Nya-lah segala yang ada di lelangit dan di bumi berserah diri, baik dengan sukarela maupun terpaksa, karena hanya kepada-Nya-lah semuanya akan kembali?67


66 Lit., “[apa pun] selain dari agama Allah”.

67 Lit., “akan dikembalikan”. Untuk penjelasan tentang kalimat ini, lihat Surah Ar-Ra’d [13]: 15 dan catatannya.


Surah Al-‘Imran Ayat 84

قُلْ آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَالنَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

qul āmannā billāhi wa mā unzila ‘alainā wa mā unzila ‘alā ibrāhīma wa ismā’īla wa is-ḥāqa wa ya’qụba wal-asbāṭi wa mā ụtiya mụsā wa ‘īsā wan-nabiyyụna mir rabbihim lā nufarriqu baina aḥadim min-hum wa naḥnu lahụ muslimụn

84. Katakanlah: “Kami beriman pada Allah dan pada apa yang telah diturunkan kepada kami, serta (pada) apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan keturunan mereka, dan (pada) apa yang telah disampaikan Pemelihara mereka kepada Musa, Isa, dan semua nabi [lainnya]: kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka.68 Dan, kepada-Nya-lah kami berserah diri.”


68 Lihat Surah Al-Baqarah [2]: 136 dan catatan no. 112.


Surah Al-‘Imran Ayat 85

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

wa may yabtagi gairal-islāmi dīnan fa lay yuqbala min-h, wa huwa fil-ākhirati minal-khāsirīn

85. Sebab, jika seseorang mencari agama selain penyerahan diri kepada Allah, (agama) itu tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.


Surah Al-‘Imran Ayat 86

كَيْفَ يَهْدِي اللَّهُ قَوْمًا كَفَرُوا بَعْدَ إِيمَانِهِمْ وَشَهِدُوا أَنَّ الرَّسُولَ حَقٌّ وَجَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

kaifa yahdillāhu qaumang kafarụ ba’da īmānihim wa syahidū annar-rasụla ḥaqquw wa jā`ahumul-bayyināt, wallāhu lā yahdil-qaumaẓ-ẓālimīn

86. Bagaimana Allah akan memberikan petunjuk-Nya kepada orang-orang yang memutuskan untuk mengingkari kebenaran setelah meraih iman, dan telah bersaksi bahwa Rasul ini benar, dan [setelah] semua bukti kebenaran datang kepada mereka?69 Karena, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim semacam itu.


69 Yang dimaksud adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. Penerimaan mereka terhadap Bibel, yang memprediksi kedatangan Nabi Muhammad Saw., telah menjadikan mereka sebagai “saksi” atas kebenaran kenabiannya. Lihat juga ayat 70 dan 81 sebelum ini.


Surah Al-‘Imran Ayat 87

أُولَٰئِكَ جَزَاؤُهُمْ أَنَّ عَلَيْهِمْ لَعْنَةَ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

ulā`ika jazā`uhum anna ‘alaihim la’natallāhi wal-malā`ikati wan-nāsi ajma’īn

87. Balasan untuk mereka adalah penolakan oleh Allah, para malaikat, dan seluruh orang [saleh].


Surah Al-‘Imran Ayat 88

خَالِدِينَ فِيهَا لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْظَرُونَ

khālidīna fīhā, lā yukhaffafu ‘an-humul-‘ażābu wa lā hum yunẓarụn

88. Dalam keadaan inilah, mereka akan hidup; [dan] derita mereka tidak akan diringankan, dan tidak pula ditangguhkan.


Surah Al-‘Imran Ayat 89

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

illallażīna tābụ mim ba’di żālika wa aṣlaḥụ, fa innallāha gafụrur raḥīm

89. Kecuali orang-orang yang, setelah itu, bertobat dan memperbaiki diri: sebab, perhatikanlah, Allah Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.


Surah Al-‘Imran Ayat 90

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بَعْدَ إِيمَانِهِمْ ثُمَّ ازْدَادُوا كُفْرًا لَنْ تُقْبَلَ تَوْبَتُهُمْ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الضَّالُّونَ

innallażīna kafarụ ba’da īmānihim ṡummazdādụ kufral lan tuqbala taubatuhum, wa ulā`ika humuḍ-ḍāllụn

90. Sungguh, orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran sesudah meraih iman, kemudian bertambah [bahkan lebih keras kepala] dalam penolakan mereka terhadap kebenaran, tobat mereka [dari dosa-dosa yang lain] tidak akan diterima:70 sebab, mereka itulah orang-orang yang benar-benar telah tersesat.


70 Sisipan “dari dosa-dosa yang lain” yang saya letakkan dalam kurung siku didasarkan pada penjelasan yang meyakinkan dari Al-Thabari terhadap ayat ini.


Surah Al-‘Imran Ayat 91

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَىٰ بِهِ ۗ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

innallażīna kafarụ wa mātụ wa hum kuffārun fa lay yuqbala min aḥadihim mil`ul-arḍi żahabaw wa lawiftadā bih, ulā`ika lahum ‘ażābun alīmuw wa mā lahum min nāṣirīn

91. Sungguh, orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran dan mati sebagai pengingkar kebenaran—seluruh emas di muka bumi sekalipun tidak akan dapat menjadi tebusan mereka.71 Bagi mereka itulah tersedia penderitaan yang pedih; dan mereka tidak akan memperoleh seorang pun penolong.


71 Lit., “tidak akan diterima dari siapa pun di antara mereka bumi yang penuh dengan emas, andai dia menawarkannya sebagai tebusan”. Makna kalimat ini jelas metaforis; tetapi, mengingat disebutkannya “tebusan” pada ayat itu, beberapa mufasir berpendapat bahwa yang dimaksud di sini adalah amal baik lainnya di dunia ini (khususnya, usaha dan harta yang dikontribusikan untuk membantu orang lain), yang oleh “para pengingkar kebenaran” yang keras kepala itu dijadikan sebagai dasar untuk memohon ampunan Allah pada Hari Pengadilan—suatu permohonan yang akan ditolak karena mereka sengaja mengingkari kebenaran-kebenaran yang mendasar.


Surah Al-‘Imran Ayat 92

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

lan tanālul-birra ḥattā tunfiqụ mimmā tuḥibbụn, wa mā tunfiqụ min syai`in fa innallāha bihī ‘alīm

92. [Adapun kalian, wahai orang-orang beriman,] tidak akan pernah kalian meraih kesalehan sejati, kecuali kalian menafkahkan sebagian dari apa yang kalian sendiri cintai untuk orang lain; dan apa pun yang kalian nafkahkan—sungguh, Allah Maha Mengetahuinya.72


72 Setelah menyatakan kepada orang-orang yang sengaja mengingkari kebenaran bahwa bahkan kontribusi usaha dan harta mereka selama hidup di dunia sedikit pun tidak akan berguna bagi mereka pada Hari Pengadilan, di sisi lain Al-Quran mengingatkan orang-orang beriman bahwa iman mereka tidak dapat dipandang sempurna, kecuali jika iman itu membuat mereka sadar akan kebutuhan-kebutuhan materiel sesama manusia (bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 177).


Surah Al-‘Imran Ayat 93

كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلًّا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ إِلَّا مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيلُ عَلَىٰ نَفْسِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ تُنَزَّلَ التَّوْرَاةُ ۗ قُلْ فَأْتُوا بِالتَّوْرَاةِ فَاتْلُوهَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

kulluṭ-ṭa’āmi kāna ḥillal libanī isrā`īla illā mā ḥarrama isrā`īlu ‘alā nafsihī ming qabli an tunazzalat-taurāh, qul fa`tụ bit-taurāti fatlụhā ing kuntum ṣādiqīn

93. PADA MULANYA, semua makanan dihalalkan bagi Bani Israil, kecuali yang Israil haramkan baginya sendiri [karena dosa yang dilakukannya]* sebelum Taurat diturunkan.73 Katakanlah: “Maka, datanglah dengan membawa Taurat, lalu bacalah ia, jika apa yang kalian katakan itu benar!”


* {save what Israel had made unlawful unto itself [by its sinning]. Walaupun “Israil” adalah nama lain dari Nabi Ya’qub a.s., Asad memahami “Israil” pada ayat di atas bukan sebagai nama nabi, melainkan sebagai umat Israil: Asad menggunakan kata ganti itself dan its, bukan himself dan his.—peny.}

73 Sampai titik ini, sebagian besar isi surah ini membahas asal-muasal ilahiah Al-Quran dan bermaksud menegakkan hakikat dakwah sejati yang diamanatkan kepada Nabi—yakni, ajakannya untuk mengakui keesaan dan keunikan Allah. Kini, ayat 93-97 dicurahkan untuk menyangkal dua keberatan pihak Yahudi, yakni sesuatu yang mereka sebut sebagai pelanggaran Al-Quran terhadap hukum-hukum Bibel, terlepas dari klaim yang sering diulang oleh Al-Quran bahwa ia mempertegas kebenaran yang ada dalam ajaran-ajaran para nabi sebelumnya. Dua keberatan tersebut meliputi: pertama, pembatalan Al-Quran terhadap penghalalan dan pengharaman makanan yang telah ditetapkan dalam Taurat, dan kedua, tuduhan “pengalihan” kiblat (qiblah) dari Yerusalem ke Makkah—lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 116. Untuk menjawab keberatan yang terkait dengan hukum makanan Yahudi, Al-Quran mengingatkan bahwa pada mulanya semua makanan halal bagi Bani Israil, dan bahwa pembatasan ketat yang akhirnya diterapkan terhadap mereka dalam Taurat hanyalah merupakan suatu hukuman bagi dosa-dosa mereka (bdk. Surah Al-An’am [6]: 146) dan, karena itu, tidak pernah dimaksudkan bagi kaum yang benar-benar berserah diri kepada Allah. Mengenai jawaban atas keberatan kedua, lihat ayat 96.


Surah Al-‘Imran Ayat 94

فَمَنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

fa maniftarā ‘alallāhil-każiba mim ba’di żālika fa ulā`ika humuẓ-ẓālimụn

94. Dan, siapa pun yang sesudah itu membuat-buat dusta tentang Allah—mereka, mereka itulah orang-orang yang zalim!74


74 Ini merujuk pada kepercayaan tak berdasar dalam agama Yahudi bahwa pembatasan makanan tertentu dalam Hukum Musa adalah hukum abadi yang ditetapkan Allah. Berlawanan dengan klaim ini, Al-Quran menegaskan bahwa tidak ada pembatasan makanan sebelum masa Musa dan bahwa pembatasan yang muncul dari Hukum Musa itu hanya berlaku untuk Bani Israil. Mengklaim bahwa hukum-hukum itu merupakan hukum Ilahi yang berlaku abadi digambarkan di sini sebagai “membuat-buat dusta tentang Allah”.


Surah Al-‘Imran Ayat 95

قُلْ صَدَقَ اللَّهُ ۗ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

qul ṣadaqallāh, fattabi’ụ millata ibrāhīma ḥanīfā, wa mā kāna minal-musyrikīn

95. Katakanlah: “Allah telah mengatakan kebenaran: maka, ikutilah keyakinan Ibrahim, yang telah berpaling dari segala yang batil, dan bukan termasuk orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah.”


Surah Al-‘Imran Ayat 96

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

inna awwala baitiw wuḍi’a lin-nāsi lallażī bibakkata mubārakaw wa hudal lil-‘ālamīn

96. Perhatikanlah, bangunan suci pertama yang didirikan bagi manusia sesungguhnya adalah yang terletak di Bakkah:75 penuh berkah dan menjadi [sumber] petunjuk bagi seluruh alam,


75 Semua ahli sepakat bahwa nama Bakkah ini sinonim dengan Mekah (yang, jika ditransliterasi dengan benar, berbunyi Makkah). Berbagai teori etimologi mengenai kata yang sangat kuno ini telah dikemukakan; tetapi, penjelasan yang paling masuk akal diberikan Al-Zamakhsyari (dan didukung Al-Razi): dalam beberapa dialek Arab klasik, konsonan labial b dan m, yang secara fonetik saling berdekatan, terkadang dapat saling dipertukarkan. Disebutkannya rumah ibadah di Makkah (yaitu Ka’bah), dalam konteks ini, muncul dari kenyataan bahwa ia merupakan kiblat shalat, sebagaimana ditetapkan dalam Al-Quran. Karena prototipe Ka’bah dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il a.s. (lihat Surah Al-Baqarah [2]: 125 dst.)—dan, karenanya, lebih tua daripada Bait Allah Sulaiman di Yerusalem—penetapannya sebagai kiblat bagi para penganut Al-Quran bukan hanya tidak menunjukkan pemutusan hubungan apa pun dengan tradisi Nabi Ibrahim a.s. (yang pada dasarnya menjadi sandaran bagi keseluruhan Bibel), alih-alih, justru membangun kembali hubungan langsung dengan Bapak para Nabi itu: dan di sinilah letak jawaban terhadap keberatan-kedua orang Yahudi yang disebutkan dalam catatan no. 73 sebelum ini.


Surah Al-‘Imran Ayat 97

فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ ۖ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

fīhi āyātum bayyinātum maqāmu ibrāhīm, wa man dakhalahụ kāna āminā, wa lillāhi ‘alan-nāsi ḥijjul-baiti manistaṭā’a ilaihi sabīlā, wa mang kafara fa innallāha ganiyyun ‘anil-‘ālamīn

97. penuh pesan yang jelas.76 [Itulah] tempat Ibrahim pernah berdiri; dan siapa pun yang memasukinya akan menemukan kedamaian batin.77 Maka, ziarah (haji) ke bangunan suci itu adalah kewajiban terhadap Allah bagi orang-orang yang sanggup melaksanakannya. Adapun orang-orang yang mengingkari kebenaran—sungguh, Allah tidak membutuhkan apa pun dari semesta alam.


76 Lit., “di dalamnya [terdapat] pesan-pesan yang jelas”—seperti pesan-pesan mengenai keesaan dan keunikan Allah (yang disimbolkan dengan Ka’bah), kesinambungan pengalaman keagamaan manusia (“bangunan suci pertama yang didirikan bagi manusia”), dan, akhirnya, persaudaraan seluruh orang beriman (yang, di mana pun mereka berada, menghadapkan wajahnya, dalam shalat, ke titik pusat ini).

77 Atau: “akan (merasa) aman”—yakni, menurut pengertian asal kata amn, yang berarti “ketenangan pikiran dan kebebasan dari rasa takut” (bdk. Lane I, hh. 100 dst.).


Surah Al-‘Imran Ayat 98

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ شَهِيدٌ عَلَىٰ مَا تَعْمَلُونَ

qul yā ahlal-kitābi lima takfurụna bi`āyātillāhi wallāhu syahīdun ‘alā mā ta’malụn

98. KATAKANLAH: “Wahai, para penganut wahyu terdahulu! Mengapa kalian menolak mengakui kebenaran pesan-pesan Allah, padahal Allah menyaksikan segala yang kalian kerjakan?”


Surah Al-‘Imran Ayat 99

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ آمَنَ تَبْغُونَهَا عِوَجًا وَأَنْتُمْ شُهَدَاءُ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

qul yā ahlal-kitābi lima taṣuddụna ‘an sabīlillāhi man āmana tabgụnahā ‘iwajaw wa antum syuhadā`, wa mallāhu bigāfilin ‘ammā ta’malụn

99. Katakanlah: “Wahai, para penganut wahyu terdahulu! Mengapa kalian [berusaha] menghalangi orang-orang yang telah beriman [kepada kitab Ilahi ini] dari jalan Allah dengan mencoba menjadikannya tampak bengkok, padahal kalian sendiri menyaksikan78 [kelurusannya]? Sebab, Allah tidak lengah terhadap apa yang kalian perbuat.”


78 Yakni, “melalui kitab-kitab kalian sendiri” (lihat catatan no. 69 sebelum ini, juga catatan no. 33 Surah Al-Baqarah [2]: 42). Ini merupakan suatu paparan tentang upaya-upaya kaum Yahudi dan Nasrani untuk “membuktikan” bahwa Nabi Muhammad Saw. telah “meminjam” gagasan utama Al-Quran dari Bibel dan memutarbalikkannya di luar konteks agar sesuai dengan “ambisi-ambisi” pribadinya sendiri.


Surah Al-‘Imran Ayat 100

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ

yā ayyuhallażīna āmanū in tuṭī’ụ farīqam minallażīna ụtul-kitāba yaruddụkum ba’da īmānikum kāfirīn

100. Wahai, kalian yang telah meraih iman! Jika kalian menaati sebagian orang yang telah diberi wahyu sebelumnya, mereka mungkin akan menyebabkan kalian meninggalkan kebenaran setelah kalian beriman [kepadanya].


Surah Al-‘Imran Ayat 101

وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ ۗ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

wa kaifa takfurụna wa antum tutlā ‘alaikum āyātullāhi wa fīkum rasụluh, wa may ya’taṣim billāhi fa qad hudiya ilā ṣirāṭim mustaqīm

101. Dan, bagaimana mungkin kalian mengingkari kebenaran, padahal kepada kalianlah pesan-pesan Allah disampaikan, dan di tengah-tengah kalianlah Rasul-Nya berada? Akan tetapi, orang yang berpegang teguh kepada Allah telah diberi petunjuk ke jalan yang lurus.


Surah Al-‘Imran Ayat 102

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha ḥaqqa tuqātihī wa lā tamụtunna illā wa antum muslimụn

102. Wahai, kalian yang telah meraih iman! Sadarlah akan Allah dengan segenap kesadaran yang menjadi hak-Nya, dan jangan biarkan kematian merenggut kalian sebelum kalian telah berserah diri kepada Dia.


Surah Al-‘Imran Ayat 103

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

wa’taṣimụ biḥablillāhi jamī’aw wa lā tafarraqụ ważkurụ ni’matallāhi ‘alaikum iż kuntum a’dā`an fa allafa baina qulụbikum fa aṣbaḥtum bini’matihī ikhwānā, wa kuntum ‘alā syafā ḥufratim minan-nāri fa angqażakum min-hā, każālika yubayyinullāhu lakum āyātihī la’allakum tahtadụn

103. Dan, berpegang teguhlah kalian semua, bersama-sama, kepada ikatan dengan Allah, dan janganlah saling memisahkan diri. Dan, ingatlah nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kalian: bagaimana Dia, ketika dahulu kalian bermusuhan, menyatukan hati kalian, sehingga dengan nikmat-Nya, kalian menjadi bersaudara; dan [bagaimana, tatkala] kalian telah berada di tepi jurang berapi nan dalam,79 Dia menyelamatkan kalian darinya.

Demikianlah Allah menjelaskan pesan-pesan-Nya kepada kalian, agar kalian memperoleh petunjuk,


79 Lit., “lubang api neraka”—sebuah kiasan bagi penderitaan yang merupakan akibat tak terelakkan dari kelalaian spiritual. Pengingatan terhadap rasa saling bermusuhan yang pernah melanda mereka adalah tamsil bagi nasib seturuh manusia yang ada di muka bumi ini (bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 36 dan Al-A’raf [7]: 24), yang hanya bimbingan Allah-lah yang dapat menyelamatkan manusia darinya (lihat Surah Al-Baqarah [2]: 37-38).


Surah Al-‘Imran Ayat 104

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

waltakum mingkum ummatuy yad’ụna ilal-khairi wa ya`murụna bil-ma’rụfi wa yan-hauna ‘anil-mungkar, wa ulā`ika humul-mufliḥụn

104. dan agar muncul di antara kalian suatu umat [manusia] yang menyeru kepada sega!a yang baik, menyuruh berbuat benar dan melarang berbuat salah: dan mereka, mereka itulah yang akan meraih kebahagiaan!


Surah Al-‘Imran Ayat 105

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

wa lā takụnụ kallażīna tafarraqụ wakhtalafụ mim ba’di mā jā`ahumul-bayyināt, wa ulā`ika lahum ‘ażābun ‘aẓīm

105. Dan, janganlah menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan suka berselisih paham setelah semua bukti kebenaran datang kepada mereka:80 sebab, bagi mereka inilah tersedia penderitaan yang dahsyat


80 Yakni, seperti para penganut Bibel, yang menjadi “Yahudi” atau “Nasrani” terlepas dari fakta bahwa kepercayaan mereka bersumber dari sumber yang sama dan didasarkan pada kebenaran spiritual yang sama (lihat juga Surah Al-An’am [6]: 159 dan catatannya).


Surah Al-‘Imran Ayat 106

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

yauma tabyaḍḍu wujụhuw wa taswaddu wujụh, fa ammallażīnaswaddat wujụhuhum, a kafartum ba’da īmānikum fa żụqul-‘ażāba bimā kuntum takfurụn

106. pada Hari [Pengadilan] ketika sebagian wajah akan bersinar [dengan kebahagiaan] dan sebagian wajah akan menjadi gelap [karena dukacita]. Adapun orang-orang yang menjadi gelap wajahnya, [akan dikatakan kepada mereka:] “Apakah kalian mengingkari kebenaran setelah meraih iman? Maka, rasakanlah penderitaan ini karena pengingkaran [kalian] kepada kebenaran itu!”


Surah Al-‘Imran Ayat 107

وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَةِ اللَّهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

wa ammallażīnabyaḍḍat wujụhuhum fa fī raḥmatillāh, hum fīhā khālidụn

107. Akan tetapi, orang-orang yang bersinar wajahnya, mereka akan berada dalam rahmat Allah, berkediaman di dalamnya.


Surah Al-‘Imran Ayat 108

تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ ۗ وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِلْعَالَمِينَ

tilka āyātullāhi natlụhā ‘alaika bil-ḥaqq, wa mallāhu yurīdu ẓulmal lil-‘ālamīn

108. Inilah pesan-pesan Allah: Kami sampaikan pesan-pesan itu kepadamu, dengan menyacakan kebenaran, karena Allah tidak menghendaki kezaliman bagi ciptaan-Nya.81


81 Lit., “bagi alam-alam”. Untuk penjelasan tentang kalimat ini, lihat Surah Al-An’am [6]: 131-132 dan catatan no. 117.


Surah Al-‘Imran Ayat 109

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ

wa lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, wa ilallāhi turja’ul-umụr

109. Dan, kepunyaan Allah-lah segala yang ada di lelangit dan di bumi; dan segala sesuatu akan kembali kepada Allah [sebagai sumbernya].


Surah Al-‘Imran Ayat 110

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

kuntum khaira ummatin ukhrijat lin-nāsi ta`murụna bil-ma’rụfi wa tan-hauna ‘anil-mungkari wa tu`minụna billāh, walau āmana ahlul-kitābi lakāna khairal lahum, min-humul-mu`minụna wa akṡaruhumul-fāsiqụn

110. KALIAN BENAR-BENAR umat terbaik yang pernah dilahirkan bagi [kebaikan] manusia: kalian menyuruh berbuat benar dan melarang berbuat salah, dan kalian beriman kepada Allah.

Adapun, sekiranya para penganut wahyu terdahulu telah meraih iman [seperti ini], itu adalah untuk kebaikan mereka sendiri; [tetapi hanya sedikit] di antara mereka yang beriman, sedangkan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik:


Surah Al-‘Imran Ayat 111

لَنْ يَضُرُّوكُمْ إِلَّا أَذًى ۖ وَإِنْ يُقَاتِلُوكُمْ يُوَلُّوكُمُ الْأَدْبَارَ ثُمَّ لَا يُنْصَرُونَ

lay yaḍurrụkum illā ażā, wa iy yuqātilụkum yuwallụkumul-adbār, ṡumma lā yunṣarụn

111. [tetapi,] mereka ini tidak akan pernah bisa menimpakan kemudaratan kepada kalian, kecuali kemudaratan sepintas lalu; dan jika mereka berperang melawan kalian, mereka akan berpaling membelakangi kalian [dalam peperangan], dan tidak akan ditolong.82


82 Sebagaimana terlihat jelas dari kalimat pembuka ayat 110, janji kepada para penganut Al-Quran ini bergantung pada kondisi mereka: apakah mereka dapat menjadi, atau tetap bertahan sebagai, umat manusia yang “menyuruh berbuat benar dan melarang berbuat salah, dan [benar-benar] beriman kepada Allah”; dan—sebagaimana ditunjukkan oleh sejarah—janji ini dipastikan tidak berlaku jika kaum Muslim tidak menjalani hidup sesuai dengan ajaran agama mereka.


Surah Al-‘Imran Ayat 112

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ

ḍuribat ‘alaihimuż-żillatu aina mā ṡuqifū illā biḥablim minallāhi wa ḥablim minan-nāsi wa bā`ụ bigaḍabim minallāhi wa ḍuribat ‘alaihimul-maskanah, żālika bi`annahum kānụ yakfurụna bi`āyātillāhi wa yaqtulụnal-ambiyā`a bigairi ḥaqq, żālika bimā ‘aṣaw wa kānụ ya’tadụn

112. Mereka diliputi kenistaan di mana pun mereka berada, kecuali [jika mereka mengikatkan diri kembali] dalam ikatan dengan Allah dan ikatan dengan manusia;83 karena mereka telah mendapat beban murka Allah dan diliputi kehinaan: semua ini [menimpa mereka] karena mereka berkukuh mengingkari kebenaran pesan-pesan Allah dan membunuh para nabi dengan melanggar segala (nilai) kebenaran: semua ini, karena mereka membangkang [melawan Allah], dan berkukuh melanggar batas-batas apa yang benar.84


83 Yakni, jika mereka kembali kepada konsep Allah sebagai Penguasa dan Pemelihara seluruh manusia, dan menghentikan gagasan tentang “umat pilihan Tuhan” yang menciptakan rintangan antara mereka dan semua manusia lainnya yang beriman kepada Tuhan Yang Esa.

84 Ayat di atas—sebagaimana juga terdapat dalam Surah Al-Baqarah [2]: 61 yang mirip sekali dengannya—khususnya mengacu pada Bani Israil, meskipun bagian ini secara keseluruhan (ayat 110-115) jelas mengacu pada penganut Bibel secara umum, yaitu Yahudi dan Nasrani.


Surah Al-‘Imran Ayat 113

لَيْسُوا سَوَاءً ۗ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ

laisụ sawā`ā, min ahlil-kitābi ummatung qā`imatuy yatlụna āyātillāhi ānā`al-laili wa hum yasjudụn

113. [Akan tetapi,] mereka tidaklah sama semuanya: di antara para penganut wahyu terdahulu ada orang-orang yang lurus,85 yang membaca pesan-pesan Allah sepanjang malam, dan bersujud [di hadapan-Nya].


85 Lit., “suatu umat yang lurus”: suatu sebutan bagi para penganut Bibel yang benar-benar beriman (bandingkan dengan kalimat terakhir ayat 110) dan memelihara “ikatan dengan Allah dan manusia” (ayat 112).


Surah Al-‘Imran Ayat 114

يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَأُولَٰئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ

yu`minụna billāhi wal-yaumil-ākhiri wa ya`murụna bil-ma’rụfi wa yan-hauna ‘anil-mungkari wa yusāri’ụna fil-khairāt, wa ulā`ika minaṣ-ṣāliḥīn

114. Mereka beriman kepada Allah dan Hari Akhir, menyuruh berbuat benar dan melarang berbuat salah, serta saling berlomba dalam melakukan perbuatan-perbuatan baik: mereka ini termasuk orang-orang yang saleh.


Surah Al-‘Imran Ayat 115

وَمَا يَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ يُكْفَرُوهُ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالْمُتَّقِينَ

wa mā yaf’alụ min khairin fa lay yukfarụh, wallāhu ‘alīmum bil-muttaqīn

115. Dan, kebaikan apa pun yang mereka lakukan, mereka tidak akan pernah dihalangi untuk menerima pahalanya: sebab, Allah Maha Mengetahui orang-orang yang sadar akan Dia.


Surah Al-‘Imran Ayat 116

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ۖ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۚ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

innallażīna kafarụ lan tugniya ‘an-hum amwāluhum wa lā aulāduhum minallāhi syai`ā, wa ulā`ika aṣ-ḥābun-nār, hum fīhā khālidụn

116. [Akan tetapi,] perhatikanlah, adapun orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran—harta benda maupun anak-anak mereka sedikit pun tidak akan berguna bagi mereka dalam menghadapi Allah: dan mereka itulah orang-orang yang ditetapkan di neraka, berkediaman di dalamnya.


Surah Al-‘Imran Ayat 117

مَثَلُ مَا يُنْفِقُونَ فِي هَٰذِهِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رِيحٍ فِيهَا صِرٌّ أَصَابَتْ حَرْثَ قَوْمٍ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَأَهْلَكَتْهُ ۚ وَمَا ظَلَمَهُمُ اللَّهُ وَلَٰكِنْ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

maṡalu mā yunfiqụna fī hāżihil-ḥayātid-dun-yā kamaṡali rīḥin fīhā ṣirrun aṣābat ḥarṡa qaumin ẓalamū anfusahum fa ahlakat-h, wa mā ẓalamahumullāhu wa lākin anfusahum yaẓlimụn

117. Perumpamaan bagi apa yang mereka nafkahkan dalam kehidupan dunia ini adalah seperti angin yang sangat dingin yang menghantam ladang orang-orang yang telah menganiaya diri sendiri, dan membinasakannya: sebab, bukanlah Allah yang menganiaya mereka, melainkan mereka itulah yang menganiaya diri sendiri.86


86 Dalam catatan pinggir yang berkaitan dengan tafsirnya atas ayat ini, Al-Zamakhsyari menjelaskan perumpamaan ini sebagai berikut: “Jika ‘ladang’ [yaitu ‘pencapaian yang berhasil-guna’] dari orang-orang yang mengingkari kebenaran itu hilang, ia hilang secara keseluruhan, tanpa sisa apa pun bagl mereka di dunia ini dan di akhirat; sedangkan, di sisi lain, ‘ladang’ seorang Mukmin tidak akan pernah hilang seluruhnya: sebab, walaupun kelihatannya hilang, masih ada baginya harapan akan pahala di akhirat karena kesabarannya dalam menghadapi kesusahan.” Dengan kata lain, ungkapan Al-Quran di atas dimaksudkan untuk menekankan hilang-sirnanya segala upaya orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran.


Surah Al-‘Imran Ayat 118

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā tattakhiżụ biṭānatam min dụnikum lā ya`lụnakum khabālā, waddụ mā ‘anittum, qad badatil-bagḍā`u min afwāhihim wa mā tukhfī ṣudụruhum akbar, qad bayyannā lakumul-āyāti ing kuntum ta’qilụn

118. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Janganlah menjadikan orang-orang yang bukan dari kalangan kalian sebagai kawan dekat.87 Mereka berupaya tiada henti untuk menimbulkan kerusakan pada kalian; mereka senang melihat kalian dalam kesusahan.88 Kebencian yang membara telah tampak jelas dari mulut mereka, tetapi yang mereka sembunyikan dalam hati bahkan lebih buruk. Kami benar-benar telah menjelaskan bagi kalian tanda-tanda[nya], jika saja kalian mau menggunakan akal.


87 Lit., “orang lain selain diri kalian sendiri”. Sejumlah mufasir cenderung memandang bahwa ungkapan ini mencakup semua non-Muslim: tetapi pandangan ini jelas bertentangan dengan Surah Al-Mumtahanah [60]: 8-9, yang jelas-jelas menyebutkan bahwa orang-orang beriman dibolehkan menjalin persahabatan dengan orang-orang yang tidak beriman yang tidak memusuhi mereka dan agama mereka. Lebih jauh, bagian berikutnya menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “orang-orang yang bukan dari kalangan kalian” hanyalah orang-orang yang tingkah laku dan ucapannya jelas-jelas menunjukkan kebencian terhadap Islam dan para penganutnya (Al-Thabari). Terjemahan yang saya gunakan, “orang-orang yang bukan dari kalangan kalian”, mengisyaratkan bahwa pandangan mereka tentang kehidupan, pada dasarnya, berseberangan dengan pandangan kaum Muslim sehingga persahabatan sejati benar-benar mustahil dijalin.

88 Lit., “mereka menyukai apa-apa yang menyusahkan kalian”.


Surah Al-‘Imran Ayat 119

هَا أَنْتُمْ أُولَاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلَا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ ۚ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

hā`antum ulā`i tuḥibbụnahum wa lā yuḥibbụnakum wa tu`minụna bil-kitābi kullih, wa iżā laqụkum qālū āmannā wa iżā khalau ‘aḍḍụ ‘alaikumul-anāmila minal-gaīẓ, qul mụtụ bigaiẓikum, innallāha ‘alīmum biżātiṣ-ṣudụr

119. Lihatlah! Kalianlah yang [siap sedia] mencintai mereka, padahal mereka tidak akan mencintai kalian, meskipun kalian beriman pada seluruh wahyu.89 Dan, jika mereka menjumpai kalian, mereka menegaskan, “Kami beriman [sebagaimana kalian beriman]”; akan tetapi, ketika mereka telah sendiri, mereka menggigiti jari-jemari mereka karena amat gusar kepada kalian.

Katakanlah: “Binasalah dalam kegusaran kalian! Perhatikanlah, Allah Maha Mengetahui isi hati [manusia]!”


89 Yakni, termasuk wahyu Alkitab (Bibel).


Surah Al-‘Imran Ayat 120

إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا ۖ وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

in tamsaskum ḥasanatun tasu`hum wa in tuṣibkum sayyi`atuy yafraḥụ bihā, wa in taṣbirụ wa tattaqụ lā yaḍurrukum kaiduhum syai`ā, innallāha bimā ya’malụna muḥīṭ

120. Jika nasib baik datang kepada kalian, itu menyedihkan mereka; dan jika bencana menimpa kalian, mereka bergembira karenanya. Akan tetapi, jika kalian sabar dalam menghadapi kesusahan dan sadar akan Allah, tipu daya mereka tidak akan merugikan kalian sama sekali: sebab, sungguh, Allah [dengan kekuasaan-Nya] meliputi segala yang mereka kerjakan.


Surah Al-‘Imran Ayat 121

وَإِذْ غَدَوْتَ مِنْ أَهْلِكَ تُبَوِّئُ الْمُؤْمِنِينَ مَقَاعِدَ لِلْقِتَالِ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

wa iż gadauta min ahlika tubawwi`ul-mu`minīna maqā’ida lil-qitāl, wallāhu samī’un ‘alīm

121. DAN [ingatlah, wahai Nabi, hari] ketika engkau berangkat dari rumahmu pada awal pagi untuk menempatkan orang-orang beriman dalam satuan tempur.90 Dan, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui


90 Paparan tentang Perang Uhud ini, yang tercantum dalam banyak ayat surah ini, terkait dengan peringatan yang tersirat dalam ayat sebelumnya, “jika kalian sabar dalam menghadapi kesusahan dan sadar akan Allah, tipu daya mereka tidak akan merugikan kalian sama sekali”. Karena paparan dalam ayat ini, dan dalam ayat-ayat berikutnya, tidak dapat sepenuhnya dipahami tanpa mengetahui latar belakang sejarahnya, penjelasan singkat tentang perang itu perlu dikemukakan.

Untuk membalas kekalahan besar mereka dalam Perang Badar pada tahun kedua Hijriah, kaum musyrik Makkah—yang didukung oleh sejumlah suku yang membenci kaum Muslim—pada tahun berikutnya mengerahkan pasukan yang terdiri dari sepuluh ribu orang di bawah komando Abu Sufyan dan bergerak menuju Madinah. Ketika mendengar kedatangan mereka, pada bulan Syawwal tahun 3 H, Nabi membentuk dewan perang untuk membahas taktik perang yang harus diambil. Mengingat sangat besarnya angkatan perang pihak musuh, Nabi sendiri berpendapat bahwa kaum Muslim harus berperang di dalam kubu pertahanan Madinah dan, jika perlu, berperang di jalan-jalan dan gang-gang sempit; dan rencana Nabi ini didukung oleh sebagian Sahabat terkemuka. Namun, mayoritas pemimpin Muslim yang berpartisipasi dalam musyawarah tersebut berkukuh untuk maju dan menghadapi musuh di medan terbuka. Untuk mematuhi prinsip-prinsip Al-Quran bahwa urusan publik harus dilaksanakan berdasarkan keputusan yang disetujui bersama (lihat ayat 159 surah ini, juga Surah Asy-Syura [42]: 38), dengan sangat sedih Nabi membuka jalan bagi kehendak mayoritas, dan bersama para pengikutnya bergerak menuju dataran di bawah Gunung Uhud, sekitar 5 kilometer lebih dari Madinah. Jumlah pasukan Nabi kurang dari seribu orang; tetapi, di tengah jalan menuju Gunung Uhud, angka ini semakin berkurang karena pembelotan sekitar tiga ratus orang yang dipimpin si munafik ‘Abd Allah ibn Ubayy yang berpura-pura yakin bahwa kaum Muslim sebenarnya tidak ingin berperang. Tak lama sebelum pertempuran, dua kelompok dari pasukan Nabi, yaitu Banu Salamah (dari suku Al-Aus) dan BanuHaritsah (dari suku Khazraj) hampir patah semangat dan berencana bergabung dengan pembelot (Surah Alu ‘Imran [3]: 122) dengan dalih bahwa karena sedikitnya jumlah mereka, kaum Muslim seharusnya kini menghindari berperang; namun, pada akhirnya, mereka memutuskan mengikuti Nabi. Dengan jumlah tentara yang kurang dari tujuh ratus, Nabi menempatkan sebagian besar pasukannya membelakangi gunung dan menempatkan seluruh pemanahnya—yang berjumlah lima puluh orang—di suatu bukit yang dekat guna membendung setiap manuver kepungan tentara musuh; para pemanah tersebut diperintahkan agar tidak meninggalkan tempatnya dalam keadaan apa pun. Selanjutnya, dengan serangan mematikan terhadap tentara unggulan kaum musyrik Makkah yang superior, kaum Muslim mendapat suatu keuntungan yang menentukan atas mereka dan nyaris mengalahkan mereka. Namun, pada saat itu, sebagian besar pemanah—yang yakin bahwa kemenangan telah diraih dan khawatir kalau-kalau mereka kehilangan bagian harta rampasan perang—meninggalkan posisi pertahanan mereka dan ikut menyerbu daerah sekitar perkemahan orang Quraisy. Melihat kesempatan ini, sebagian besar kavaleri Makkah di bawah komando Khalid ibn Al-Walid (yang tak lama setelah pertempuran ini memeluk agama Islam dan kemudian menjadi salah seorang jenderal Muslim terbesar sepanjang masa) berbelok arah dan menyerang kekuatan kaum Muslim dari arah belakang. Dengan hilangnya perlindungan dari para pemanah, dan terperangkap di antara dua kekuatan, kaum Muslim mundur kocar-kacir dengan kehilangan banyak nyawa. Nabi sendiri dan sedikit Sahabat pendukung setianya mempertahankan diri mati-matian; dan Nabi mengalami luka serius dan terjatuh ke tanah. Teriakan pun segera bermunculan, “Rasulullah telah terbunuh!” Banyak kaum Muslim mulai melarikan diri; beberapa di antara mereka bahkan sudah bersiap-siap untuk menyerahkan diri pada belas kasih musuh. Namun, sebagian kecil Sahabat—di antaranya ‘Umar ibn Al-Khaththab dan Thalhah—berseru, “Apa arti hidup kalian tanpanya, wahai kaum Mukmin? Mari kita mati seperti dia telah mati”—dan, karena putus asa, nekat melawan orang-orang Makkah. Tindakan mereka itu segera memperoleh sambutan di kalangan kaum Muslim lainnya, yang pada saat itu telah mendengar bahwa Nabi masih hidup: mereka bersatu kembali dan menyerang balik musuh sehingga terhindar dari kekalahan telak. Akan tetapi, kaum Muslim kali ini sudah terlalu lelah untuk memanfaatkan peluang mereka untuk meraih kemenangan. Pertempuran pun berakhir dengan seri, dengan musuh mundur ke arah Makkah. Pada hari berikutnya, Nabi memimpin 70 Sahabatnya untuk mengejar mereka. Namun, ketika kaum Muslim sampai ke suatu tempat yang bernama Hamra Al-Asad, sekitar 13 kilometer di sebelah selatan Madinah, jelaslah bahwa orang-orang Makkah itu tidak ingin mengambil risiko terjadi pertempuran lainnya dan segera kembali pulang; lalu, pasukan kecil Muslim itu kembali ke Madinah.


Surah Al-‘Imran Ayat 122

إِذْ هَمَّتْ طَائِفَتَانِ مِنْكُمْ أَنْ تَفْشَلَا وَاللَّهُ وَلِيُّهُمَا ۗ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

iż hammaṭ ṭā`ifatāni mingkum an tafsyalā wallāhu waliyyuhumā, wa ‘alallāhi falyatawakkalil-mu`minụn

122. tatkala dua kelompok dari pihak kalian sudah hampir berputus asa,91 walaupun Allah sangat dekat kepada mereka dan kepada Allah-lah orang-orang beriman harus bersandar penuh percaya*:


91 Yakni, suku Banu Salamah dan Banu Haritsah yang nyaris bergabung dengan para pembelot pimpinan ‘Abd Allah ibn Ubayy (lihat catatan sebelum ini).

* {place their trust, yakni bertawakal—peny.}


Surah Al-‘Imran Ayat 123

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

wa laqad naṣarakumullāhu bibadriw wa antum ażillah, fattaqullāha la’allakum tasykurụn

123. sebab, sungguh, Allah telah menolong kalian di (Perang) Badar, ketika kalian benar-benar lemah.92 Maka, tetap sadarlah akan Allah, supaya kalian bersyukur.


92 Mengacu pada Perang Badar, pada 2 H, yang diceritakan panjang lebar dalam Surah Al-Anal [8].


Surah Al-‘Imran Ayat 124

إِذْ تَقُولُ لِلْمُؤْمِنِينَ أَلَنْ يَكْفِيَكُمْ أَنْ يُمِدَّكُمْ رَبُّكُمْ بِثَلَاثَةِ آلَافٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُنْزَلِينَ

iż taqụlu lil-mu`minīna a lay yakfiyakum ay yumiddakum rabbukum biṡalāṡati ālāfim minal-malā`ikati munzalīn

124. [Dan ingatlah] ketika engkau berkata kepada orang-orang beriman, “Tidak cukupkah bagi kalian [mengetahui] bahwa Pemelihara kalian akan menolong kalian dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan [dari langit]?


Surah Al-‘Imran Ayat 125

بَلَىٰ ۚ إِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا وَيَأْتُوكُمْ مِنْ فَوْرِهِمْ هَٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ آلَافٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُسَوِّمِينَ

balā in taṣbirụ wa tattaqụ wa ya`tụkum min faurihim hāżā yumdidkum rabbukum bikhamsati ālāfim minal-malā`ikati musawwimīn

125. Tidak, tetapi jika kalian sabar dalam menghadapi kesusahan dan sadar akan Dia, dan andai musuh tiba-tiba menyerang kalian, Pemelihara kalian akan menolong kalian dengan lima ribu malaikat yang menyambar ke bawah!”93


93 Sebagaimana terlihat jelas pada ayat berikutnya, tamsil yang disampaikan Nabi tentang pertolongan Allah bagi kaum Mukmin dengan beribu-ribu malaikat, secara metaforis menunjukkan keteguhan hati kaum Mukmin yang muncul melalui kekuatan spiritual yang datang dari Allah (Al-Manar IV, hh. 112 dst.; dan IX, hh. 612 dst.). Pernyataan serupa—yang terkait dengan Perang Badar—terdapat pada Surah Al-Anfal [8]: 9-10, yang di dalamnya “seribu” malaikat disebutkan. Angka yang bervariasi ini (seribu, tiga ribu, dan lima ribu) tampaknya menunjukkan hakikat pertolongan Allah yang tak terbatas bagi orang-orang yang “sabar dalam menghadapi kesusahan dan sadar akan Dia”. Masuk akal jika kita berpendapat bahwa Nabi, karena itu, mengobarkan semangat pengikutnya beberapa saat sebelum Perang Uhud, yaitu setelah tiga ratus orang di bawah pimpinan ‘Abd Allah ibn Ubayy meninggalkannya dan sebagian lainnya “hampir putus asa” menghadapi kekuatan musuh yang sangat unggul.


Surah Al-‘Imran Ayat 126

وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَىٰ لَكُمْ وَلِتَطْمَئِنَّ قُلُوبُكُمْ بِهِ ۗ وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

wa mā ja’alahullāhu illā busyrā lakum wa litaṭma`inna qulụbukum bih, wa man-naṣru illā min ‘indillāhil-‘azīzil-ḥakīm

126. Dan, Allah memerintahkan ini [agar dikatakan oleh Rasul-Nya94] semata-mata sebagai berita gembira bagi kalian, dan agar hati kalian menjadi tenteram karenanya—sebab, tiada pertolongan yang bisa datang selain dari Allah, Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana—


94 Menurut banyak mufasir (lihat Al-Manar IV, h. 112), sisipan ini dijustifikasi oleh dua ayat sebelumnya, yang menunjukkan bahwa Nabi-lah yang, melalui ilham Ilahi, membuat janji ini bagi para pengikutnya. Lihat juga Surah Al-Anfal [8]: 9, yang di dalamnya janji yang serupa diucapkan pada saat Perang Badar.


Surah Al-‘Imran Ayat 127

لِيَقْطَعَ طَرَفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَوْ يَكْبِتَهُمْ فَيَنْقَلِبُوا خَائِبِينَ

liyaqṭa’a ṭarafam minallażīna kafarū au yakbitahum fa yangqalibụ khā`ibīn

127. [dan] agar [melalui kalian] Dia dapat menghancurkan sebagian orang yang berkukuh mengingkari kebenaran itu dan, dengan demikian, menghinakan yang lainnya95 sehingga mereka mundur dalam keadaan benar-benar putus asa.


95 Lit., “agar Dia dapat menghancurkan sebagian … atau [dengan dernikian] menghinakan mereka”. Jelaslah bahwa partikel au (“atau”), dalam konteks ini, tidak menunjukkan suatu alternatif, tetapi, sebaliknya, suatu perincian (tanwi’)—seperti dalam frasa “sepuluh orang terbunuh atau luka-luka”: yang berarti bahwa sebagian mereka terbunuh dan sebagian lainnya terluka.


Surah Al-‘Imran Ayat 128

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

laisa laka minal-amri syai`un au yatụba ‘alaihim au yu’ażżibahum fa innahum ẓālimụn

128. [Dan,] tidaklah bijak bagimu [wahai Nabi] menetapkan apakah Allah akan menerima tobat mereka atau mengazab mereka—sebab, perhatikanlah, mereka itu tidak lain hanyalah orang-orang zalim,


Surah Al-‘Imran Ayat 129

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

wa lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, yagfiru limay yasyā`u wa yu’ażżibu may yasyā`, wallāhu gafụrur raḥīm

129. sedangkan milik Allah-lah segala yang ada di lelangit dan di bumi: Dia mengampuni siapa saja yang Dia kehendaki, dan Dia mengazab siapa saja yang Dia kehendaki; dan Allah Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.96


96 Sebagaimana tercatat dalam sejumlah hadis sahih, Nabi memohon, selama Perang Uhud, agar kutukan Allah ditimpakan kepada para pemimpin musyrik Quraisy (dalam: Al-Bukhari, Al-Tirmidzi, Al-Nasa’i, dan Ibn Hanbal); dan ketika Nabi terbaring di tanah karena luka parah, dia berseru, “Bagaimana orang-orang itu bisa berhasil setelah melakukan hal ini kepada nabi mereka, yang hanya mengajak mereka kepada [mengimani] Pemelihara mereka?”—Ialu, dua ayat di atas diturunkan (Muslim dan Ibn Hanbal).


Surah Al-‘Imran Ayat 130

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā ta`kulur-ribā aḍ’āfam muḍā’afataw wattaqullāha la’allakum tufliḥụn

130. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Janganlah memenuhi perut kalian dengan riba, menggandakan, dan melipatgandakannya97—tetapi tetaplah sadar akan Allah, agar kalian meraih kebahagiaan;


97 Tentang definisi riba (“riba”), lihat catatan no. 35 pada Surah Ar-Rum [30]: 39, yang merupakan ayat Al-Quran pertama yang menyebut istilah ini. Tentang kaitan antara ayat di atas dan masalah pokok yang dibahas dalam ayat-ayat sebelumnya, penjelasan terbaik, menurut saya, adalah yang dikemukakan oleh Qiffal (sebagaimana dikutip Al-Razi), sebagai berikut: Karena terutama melalui keuntungan ribawi-lah kaum musyrik Makkah memperoleh kekayaan yang memungkinkan mereka mempersenjatai pasukan yang kuat dan nyaris mengalahkan pasukan Muslim yang bersenjata seadanya di Uhud, umat Muslim mungkin tergoda untuk meniru musuh-musuh mereka dalam hal ini; dan untuk menjauhkan mereka maupun generasi Mukmin berikutnya dari godaan riba inilah, larangan terhadap riba ini sekali lagi ditekankan dengan turunnya wahyu ini.


Surah Al-‘Imran Ayat 131

وَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

wattaqun-nārallatī u’iddat lil-kāfirīn

131. dan waspadalah akan neraka yang menanti orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran!


Surah Al-‘Imran Ayat 132

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

wa aṭī’ullāha war-rasụla la’allakum tur-ḥamụn

132. Dan, taatilah Allah dan Rasul, agar kalian dapat dirahmati dengan belas kasih.


Surah Al-‘Imran Ayat 133

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

wa sāri’ū ilā magfiratim mir rabbikum wa jannatin ‘arḍuhas-samāwātu wal-arḍu u’iddat lil-muttaqīn

133. Dan, berlomba-lombalah untuk meraih ampunan Pemelihara kalian dan (meraih) surga yang seluas lelangit dan bumi, yang telah disiapkan bagi orang-orang yang sadar akan Allah


Surah Al-‘Imran Ayat 134

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

allażīna yunfiqụna fis-sarrā`i waḍ-ḍarrā`i wal-kāẓimīnal-gaiẓa wal-‘āfīna ‘anin-nās, wallāhu yuḥibbul-muḥsinīn

134. yang menafkahkan (rezekinya) [di jalan Allah], baik pada saat berkelimpahan maupun pada saat-saat sulit, dan mengendalikan amarahnya, dan memaafkan sesama manusia; sebab, Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan;


Surah Al-‘Imran Ayat 135

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

wallażīna iżā fa’alụ fāḥisyatan au ẓalamū anfusahum żakarullāha fastagfarụ liżunụbihim, wa may yagfiruż-żunụba illallāh, wa lam yuṣirrụ ‘alā mā fa’alụ wa hum ya’lamụn

135. dan yang, ketika melakukan perbuatan yang memalukan atau[pun] telah menganiaya diri sendiri, mengingat Allah, lalu berdoa agar dosa-dosa mereka diampuni—sebab, siapakah selain Allah yang bisa mengampuni dosa?—dan yang tidak meneruskan dengan sengaja perbuatan [zalim] apa pun yang mungkin telah mereka lakukan.


Surah Al-‘Imran Ayat 136

أُولَٰئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

ulā`ika jazā`uhum magfiratum mir rabbihim wa jannātun tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā, wa ni’ma ajrul-‘āmilīn

136. Mereka itulah yang akan memperoleh balasan ampunan dari Pemelihara mereka, dan taman-taman yang dilalui aliran sungai-sungai, mereka berkediaman di dalamnya: dan betapa amat bagusnya balasan bagi orang-orang yang berbuat!


Surah Al-‘Imran Ayat 137

قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

qad khalat ming qablikum sunanun fa sīrụ fil-arḍi fanẓurụ kaifa kāna ‘āqibatul-mukażżibīn

137. [BANYAK] JALAN-HIDUP telah berlalu sebelum zaman kalian.98 Maka, berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah apa yang akhirnya terjadi pada orang-orang yang mendustakan kebenaran:


98 Kata sunnah (jamak: sunan) berarti suatu “jalan hidup, way of life” atau “perilaku” (karena itu, dalam terminologi Islam, istilah ini diterapkan untuk menunjuk pada jalan hidup Nabi sebagai teladan bagi pengikutnya). Dalam ayat tersebut, istilah sunan mengacu pada “kondisi (ahwal) tertentu dari abad-abad lampau (Al-Razi) yang, terlepas dari perubahan yang terus-menerus, menunjukkan suatu pola yang selalu berulang: sebutan khas Al-Quran bagi kemungkinan, dan keharusan, untuk belajar dari pengalaman masa silam manusia.


Surah Al-‘Imran Ayat 138

هَٰذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ

hāżā bayānul lin-nāsi wa hudaw wa mau’iẓatul lil-muttaqīn

138. ini [hendaknya menjadi] suatu pelajaran yang jelas bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta peringatan bagi orang-orang yang sadar akan Allah.


Surah Al-‘Imran Ayat 139

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

wa lā tahinụ wa lā taḥzanụ wa antumul-a’launa ing kuntum mu`minīn

139. Maka, janganlah gentar, dan jangan bersedih:99 sebab, kalian pasti akan bangkit berjaya jika kalian [benar-benar] orang-orang yang beriman.


99 Mengacu pada peristiwa Perang Uhud yang hampir merupakan bencana bagi umat Muslim dan pada banyaknya korban nyawa yang diderita pihak Muslim (yakni sekitar 70 orang).


Surah Al-‘Imran Ayat 140

إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ ۚ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

iy yamsaskum qar-ḥun fa qad massal-qauma qar-ḥum miṡluh, wa tilkal-ayyāmu nudāwiluhā bainan-nās, wa liya’lamallāhullażīna āmanụ wa yattakhiża mingkum syuhadā`, wallāhu lā yuḥibbuẓ-ẓālimīn

140. Jika kemalangan100 menyentuh kalian, [ketahuilah bahwa] kemalangan serupa telah menyentuh orang-orang [lain] pula; sebab, Kami membagi-bagikan kepada manusia hari-hari [keberuntungan dan kemalangan] seperti itu secara bergiliran: dan [ini] agar Allah dapat membedakan orang-orang yang telah meraih iman, dan memilih di antara kalian yang [dengan kehidupan mereka] menjadi saksi terhadap kebenaran101—sebab, Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim—


100 Lit., “suatu luka” (qarh) atau, menurut filolog, “rasa sakit akibat luka”.

101 Yakni, “Keputusan-Nya membiarkan beberapa di antara kalian mati sebagai syahid di jalan-Nya itu bukan karena kecintaan-Nya terhadap musuh-musuh zalim yang menentangmu, tetapi karena cinta-Nya kepada kalian”. Istilah syuhada’ (jamak dari syahid) berarti “saksi” atau “martir (orang yang mati syahid)”. Terjemahan yang saya gunakan (“[with their lives] bear witness to the truth“) meliputi konsep “menyaksikan kebenaran” dan “kesyahidan” di jalan Allah. {Kata life/lives berarti “kehidupan” sekaligus “jiwa”.—peny.}


Surah Al-‘Imran Ayat 141

وَلِيُمَحِّصَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَمْحَقَ الْكَافِرِينَ

wa liyumaḥḥiṣallāhullażīna āmanụ wa yam-ḥaqal-kāfirīn

141. dan agar Allah menyucikan orang-orang yang telah meraih iman, dan membinasakan orang-orang yang mengingkari kebenaran.


Surah Al-‘Imran Ayat 142

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

am ḥasibtum an tadkhulul-jannata wa lammā ya’lamillāhullażīna jāhadụ mingkum wa ya’lamaṣ-ṣābirīn

142. Adakah kalian mengira dapat masuk surga sebelum Allah mengetahui bahwa kalian sungguh-sungguh telah berjuang keras [di jalan-Nya], dan (sebelum) mengetahui bahwa kalian telah sabar dalam menghadapi kesusahan?102


102 Lit., “sedangkan Allah belum mengetahui orang-orang yang telah berjuang dengan sungguh-sungguh di antara kalian … dan orang-orang yang sabar dalam menghadapi kesusahan”. Karena Allah Maha Mengetahui, “ketidaktahuan-Nya”, tentu saja, menunjukkan bahwa sesuatu atau kejadian yang disebutkan itu belum terjadi atau tidak ada (Al-Zamakhsyari).


Surah Al-‘Imran Ayat 143

وَلَقَدْ كُنْتُمْ تَمَنَّوْنَ الْمَوْتَ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَلْقَوْهُ فَقَدْ رَأَيْتُمُوهُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ

wa laqad kuntum tamannaunal-mauta ming qabli an talqauhu fa qad ra`aitumụhu wa antum tanẓurụn

143. Sebab, sungguh, kalian memang merindukan kematian [di jalan Allah] sebelum kalian menghadapinya; dan kini kalian telah menyaksikannya dengan mata kepala kalian sendiri!103


103 Dalam pandangan Al-Zamakhsyari, hal ini merupakan celaan ganda yang ditujukan kepada mayoritas Sahabat yang ikut serta dalam Perang Uhud: pertama, karena tuntutan mereka, yang berlawanan dengan nasihat Nabi, untuk memerangi musuh di medan terbuka dan, dengan begitu, mengambil risiko kematian yang tidak perlu; dan kedua, karena kegagalan mereka mengamalkan keimanan mereka pada awal-awal peperangan sebelumnya (lihat catatan no. 90 sebelum ini). Ayat ini mungkin pula memiliki implikasi lain yang lebih positif: yakni, agar kaum Muslim mengambil pelajaran dari kekalahan yang nyaris mereka alami dan agar mereka ingat pada kenyataan bahwa masa depan mereka bergantung pada keteguhan iman mereka kepada Allah (bdk. ayat 139) dan bukan pada keinginan yang tergesa-gesa untuk mengorbankan diri.


Surah Al-‘Imran Ayat 144

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

wa mā muḥammadun illā rasụl, qad khalat ming qablihir-rusul, a fa im māta au qutilangqalabtum ‘alā a’qābikum, wa may yangqalib ‘alā ‘aqibaihi fa lay yaḍurrallāha syai`ā, wa sayajzillāhusy-syākirīn

144. DAN, MUHAMMAD itu hanyalah seorang rasul; seluruh rasul [lainnya] telah berlalu sebelum dia: maka, jika dia wafat atau terbunuh, akankah kalian berbalik ke belakang (murtad)?104 Akan tetapi, siapa saja yang berpaling tidak dapat merugikan Allah sedikit pun—sedangkan Allah akan membalas semua orang yang bersyukur [kepada-Nya].


104 Penekanan pada sifat manusiawi Nabi yang bisa mati ini—dan juga semua nabi lainnya yang telah mendahuluinya—pertama-tama berkaitan dengan Perang Uhud dan rumor tentang kematian Nabi, yang menyebabkan banyak kaum Muslim meninggalkan pertempuran dan bahkan membuat sebagian mereka nyaris murtad (Al-Thabari, lihat juga catatan no. 90 sebelumnya). Namun, dalam implikasinya yang lebih luas, ayat tersebut menegaskan kembali doktrin Islam yang paling mendasar: bahwa ibadah itu dipersembahkan kepada Allah semata, dan bahwa tidak ada satu pun manusia—bahkan tidak pula seorang nabi sekalipun—memiliki hak untuk diibadahi. Ayat Al-Quran inilah yang dibaca Abu Bakr, khalifah pertama, segera setelah wafatnya Nabi, ketika banyak orang Muslim yang lemah hatinya menganggap bahwa Islam itu sendiri telah berakhir; tetapi, segera setelah Abu Bakr melanjutkan, “Perhatikanlah, siapa saja yang menyembah Muhammad, ketahuilah bahwa Muhammad tetah mati; tetapi siapa saja yang menyembah Allah, ketahuilah bahwa Allah Mahahidup, dan tidak pernah mati” (Al-Bukhri), semua kekacauan terselesaikan.

Ungkapan “berpaling” bisa berarti—bergantung keadaannya—kemurtadan yang sesungguhnya, atau sengaja mundur dari jihad di jalan Allah.


Surah Al-‘Imran Ayat 145

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلًا ۗ وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الْآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا ۚ وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ

wa mā kāna linafsin an tamụta illā bi`iżnillāhi kitābam mu`ajjalā, wa may yurid ṡawābad-dun-yā nu`tihī min-hā, wa may yurid ṡawābal-ākhirati nu`tihī min-hā, wa sanajzisy-syākirīn

145. Dan, tiada seorang manusia pun dapat mati, kecuali dengan izin Allah, pada saat yang telah ditentukan sebelumnya.

Dan, jika seseorang menghendaki imbalan dunia ini, akan Kami berikan kepadanya imbalan dunia; dan jika seseorang menghendaki imbalan kehidupan akhirat, akan Kami berikan kepadanya imbalan akhirat; dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur [kepada Kami].


Surah Al-‘Imran Ayat 146

وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

wa ka`ayyim min nabiyying qātala ma’ahụ ribbiyyụna kaṡīr, fa mā wahanụ limā aṣābahum fī sabīlillāhi wa mā ḍa’ufụ wa mastakānụ, wallāhu yuḥibbuṣ-ṣābirīn

146. Dan, betapa banyak nabi yang harus berperang [di jalan-Nya], diikuti sejumlah besar orang yang berbakti kepada Allah: dan mereka tidak menjadi gentar karena semua derita yang terpaksa mereka rasakan di jalan Allah, dan mereka juga tidak menjadi lemah, atau menghinakan diri [di hadapan musuh], sebab Allah mencintai orang-orang yang sabar dalam menghadapi kesusahan;


Surah Al-‘Imran Ayat 147

وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

wa mā kāna qaulahum illā ang qālụ rabbanagfir lanā żunụbanā wa isrāfanā fī amrinā wa ṡabbit aqdāmanā wanṣurnā ‘alal-qaumil-kāfirīn

147. dan yang mereka katakan tidak lain hanyalah ini: “Wahai, Pemelihara kami! Ampunilah dosa-dosa kami dan berlebih-lebihannya perbuatan kami! Dan, teguhkanlah langkah kami, dan tolonglah kami melawan orang-orang yang mengingkari kebenaran!”—


Surah Al-‘Imran Ayat 148

فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآخِرَةِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

fa ātāhumullāhu ṡawābad-dun-yā wa ḥusna ṡawābil-ākhirah, wallāhu yuḥibbul-muḥsinīn

148. lalu, Allah anugerahkan kepada mereka imbalan dunia ini, dan juga imbalan terbaik dari kehidupan akhirat: sebab, Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.


Surah Al-‘Imran Ayat 149

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ

yā ayyuhallażīna āmanū in tuṭī’ullażīna kafarụ yaruddụkum ‘alā a’qābikum fa tangqalibụ khāsirīn

149. WAHAI, ORANG-ORANG yang telah meraih iman! Jika kalian menaati orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran, mereka mengembalikan kalian ke belakang (kepada kekafiran), dan kalian akan menjadi orang-orang yang merugi.


Surah Al-‘Imran Ayat 150

بَلِ اللَّهُ مَوْلَاكُمْ ۖ وَهُوَ خَيْرُ النَّاصِرِينَ

balillāhu maulākum, wa huwa khairun nāṣirīn

150. Tidak, tetapi Allah sajalah Penguasa kalian Yang Mahatinggi, dan Dia-lah sebaik-baiknya Penolong.105


105 Lit., “Dia-lah yang terbaik di antara para pemberi pertolongan”.


Surah Al-‘Imran Ayat 151

سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا ۖ وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ ۚ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ

sanulqī fī qulụbillażīna kafarur-ru’ba bimā asyrakụ billāhi mā lam yunazzil bihī sulṭānā, wa ma`wāhumun-nār, wa bi`sa maṡwaẓ-ẓālimīn

151. Ke dalam hati orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran akan Kami lontarkan rasa takut sebagai balasan karena mereka menisbahkan ketuhanan kepada wujud-wujud lain selain Allah—[sesuatu] yang tentangnya Dia sendiri tidak pernah menurunkan perintah apa pun;106 dan tujuan mereka adalah neraka—dan betapa buruk kediaman orang-orang zalim itu!


106 Yakni, sesuatu yang tidak pernah Dia izinkan. Penggunaan adverbia “tidak pernah” dalam terjemahan saya didasarkan pada bentuk gramatikal lam yunazzil (yang secara harfiah berarti, “Dia belum mengirimkan” atau “menurunkan”), yang menyiratkan kesinambungan waktu.


Surah Al-‘Imran Ayat 152

وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ ۚ مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ ۚ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ ۖ وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

wa laqad ṣadaqakumullāhu wa’dahū iż taḥussụnahum bi`iżnih, ḥattā iżā fasyiltum wa tanāza’tum fil-amri wa ‘aṣaitum mim ba’di mā arākum mā tuḥibbụn, mingkum may yurīdud-dun-yā wa mingkum may yurīdul-ākhirah, ṡumma ṣarafakum ‘an-hum liyabtaliyakum, wa laqad ‘afā ‘angkum, wallāhu żụ faḍlin ‘alal-mu`minīn

152. DAN, SUNGGUH, Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kalian ketika, dengan seizin-Nya, kalian nyaris menghancurkan musuh-musuh kalian107—hingga tiba saatnya tatkala kalian putus asa dan bertindak berlawanan dengan perintah [Nabi],108 dan tidak patuh setelah Dia memperlihatkan kepada kalian [kemenangan] yang kalian rindukan. Di antara kalian ada yang menaruh perhatian pada dunia ini [saja], sebagaimana ada di antara kalian yang menaruh perhatian pada kehidupan akhirat:109 kemudian, agar Dia dapat menguji kalian, Dia mencegah kalian mengalahkan musuh-musuh kalian.110 Namun, sekarang Dia telah menghapuskan dosa-dosa kalian: sebab, Allah tak terhingga dalam karunia-Nya kepada orang-orang yang beriman.


107 Lit., “ketika kalian menghancurkan mereka”: mengacu pada tahap pendahuluan dalam Perang Uhud. Tentang janji yang disinggung tersebut, lihat ayat 124-125 surah ini.

108 Lit., “kalian berselisih satu sama lain mengenai perintah [Nabi]”—ini mengingatkan pada peristiwa ketika sebagian besar pemanah itu meninggalkan bukit yang ditetapkan sebagai posisi mereka ketika kemenangan tampaknya sudah diraih (lihat catatan no. 90 sebelum ini).

109 Di antara 50 pemanah Muslim, kurang dari 10 yang tetap tinggal di tempat mereka dan dibunuh oleh pasukan kavaleri Khalid. Kepada merekalah, juga kepada sebagian kecil Sahabat yarig terus berperang setelah sebagian besar kaum Muslim melarikan diri, bagian dari kalimat tersebut ditujukan.

110 Lit., “Dia memalingkan kalian dari mereka”.


Surah Al-‘Imran Ayat 153

إِذْ تُصْعِدُونَ وَلَا تَلْوُونَ عَلَىٰ أَحَدٍ وَالرَّسُولُ يَدْعُوكُمْ فِي أُخْرَاكُمْ فَأَثَابَكُمْ غَمًّا بِغَمٍّ لِكَيْلَا تَحْزَنُوا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا مَا أَصَابَكُمْ ۗ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

iż tuṣ’idụna wa lā talwụna ‘alā aḥadiw war-rasụlu yad’ụkum fī ukhrākum fa aṡābakum gammam bigammil likai lā taḥzanụ ‘alā mā fātakum wa lā mā aṣābakum, wallāhu khabīrum bimā ta’malụn

153. [Ingatlah hari] ketika kalian lari, tanpa memedulikan siapa pun, padahal dari belakang kalian Rasul menyeru kalian—karena itu, Allah menghukum kalian dengan kesengsaraan, sebagai balasan atas kesengsaraan [Rasul], supaya kalian tidak bersedih hati [hanya] karena sesuatu yang luput dari kalian, ataupun karena sesuatu yang menimpa kalian: sebab, Allah Maha Mengetahui segala yang kalian kerjakan.111


111 Yakni, kesadaran tentang betapa memalukannya perilaku mereka di Uhud (lihat catatan no. 90 sebelum ini), pada akhirnya, akan menjadi lebih menyakitkan bagi mereka daripada kehilangan kemenangan dan kematian begitu banyak sahabat mereka: dan inilah makna “ujian” yang disebutkan dalam ayat sebelumnya.


Surah Al-‘Imran Ayat 154

ثُمَّ أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِ الْغَمِّ أَمَنَةً نُعَاسًا يَغْشَىٰ طَائِفَةً مِنْكُمْ ۖ وَطَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنْفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ ۖ يَقُولُونَ هَلْ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ مِنْ شَيْءٍ ۗ قُلْ إِنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ ۗ يُخْفُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ مَا لَا يُبْدُونَ لَكَ ۖ يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ مَا قُتِلْنَا هَاهُنَا ۗ قُلْ لَوْ كُنْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَىٰ مَضَاجِعِهِمْ ۖ وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

ṡumma anzala ‘alaikum mim ba’dil-gammi amanatan nu’āsay yagsyā ṭā`ifatam mingkum wa ṭā`ifatung qad ahammat-hum anfusuhum yaẓunnụna billāhi gairal-ḥaqqi ẓannal-jāhiliyyah, yaqụlụna hal lanā minal-amri min syaī`, qul innal-amra kullahụ lillāh, yukhfụna fī anfusihim mā lā yubdụna lak, yaqụlụna lau kāna lanā minal-amri syai`um mā qutilnā hāhunā, qul lau kuntum fī buyụtikum labarazallażīna kutiba ‘alaihimul-qatlu ilā maḍāji’ihim, wa liyabtaliyallāhu mā fī ṣudụrikum wa liyumaḥḥiṣa mā fī qulụbikum, wallāhu ‘alīmum biżātiṣ-ṣudụr

154. Lalu, setelah kesengsaraan ini, Dia menurunkan kepada kalian rasa aman, suatu ketenangan batin yang melingkupi sebagian dari antara kalian;112 sedangkan yang lainnya, yang hanya memperhatikan diri mereka sendiri, mempunyai pikiran yang tidak benar tentang Allah—pikiran jahiliah—dengan berkata, “Jadi, apakah kita memiliki kekuasaan untuk memberi keputusan [dalam masalah ini]?”113

Katakanlah: “Sungguh, seluruh kekuasaan untuk memberi keputusan itu ada pada Allah”114—[namun mereka,] mereka berupaya menyembunyikan dalam hati mereka [kelemahan iman] yang tidak akan mereka nyatakan kepadamu [wahai Nabi,] dengan berkata, “Andai kami memiliki kekuasaan untuk memberi keputusan, kami tidak akan membiarkan begitu banyak orang mati.”115

Katakanlah [kepada mereka]: “Kalaupun kalian berada di rumah kalian, orang-orang [di antara kalian] yang kematiannya telah ditetapkan akan tetap keluar menuju tempat-tempat dimana mereka ditakdirkan terkapar.”

Dan [semua ini menimpa kalian] agar Allah dapat menguji segala yang kalian pendam dalam dada kalian, dan menyucikan lubuk hati kalian116 dari segala kotoran: sebab, Allah Maha Mengetahui segala yang ada dalam kalbu [manusia].


112 Yakni, orang-orang yang tetap tabah sepanjang peperangan. Menurut beberapa mufasir—khususnya Raghib—istilah nu’as (yang secara harfiah berarti, “rasa kantuk sebelum tidur”) di sini digunakan secara metaforis dan menunjukkan “ketenangan batin”.

113 Yakni, dalam hal kemenangan atau kekalahan. “Pikiran jahiliah” jelas merupakan gambaran terhadap sikap orang-orang pengecut itu yang, pada mulanya, enggan mengakui tanggung jawab moral mereka terhadap apa yang telah terjadi dan berdalih bahwa kegagalan mereka mengamalkan iman telah “ditakdirkan” demikian. Lihat juga Surah Al-Ma’idah [5], catatan no. 71.

114 Yakni, sementara Allah saja yang berhak memberikan kemenangan atau kegagalan kepada siapa pun yang Dia kehendaki, “tidaklah diperhitungkan terhadap manusia kecuali apa yang dia usahakan [atau ‘yang dulu dia usahakan’]” (Surah An-Najm [53]: 39).

115 Lit., “kami tidak akan terbunuh di sini”.

116 Lit., “segala yang ada dalam hati kalian”.


Surah Al-‘Imran Ayat 155

إِنَّ الَّذِينَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوا ۖ وَلَقَدْ عَفَا اللَّهُ عَنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

innallażīna tawallau mingkum yaumaltaqal-jam’āni innamastazallahumusy-syaiṭānu biba’ḍi mā kasabụ, wa laqad ‘afallāhu ‘an-hum, innallāha gafụrun ḥalīm

155. Perhatikanlah, adapun sebagian di antara kalian yang berpaling [dari kewajiban mereka] pada hari ketika dua pasukan bertemu dalam peperangan—setan membuat mereka tergelincir tidak lain hanya melalui sesuatu yang mereka [scndiri] telah perbuat.117 Namun, kini Allah telah mengampuni dosa mereka ini: sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun.


117 Ini merupakan suatu ilustrasi tentang doktrin AI-Quran yang sangat penting, yang dapat diringkas sebagai berikut: “Pengaruh setan” pada manusia bukanlah sebab utama dosa, melainkan akibat pertamanya: artinya, suatu akibat dari sikap mental seseorang yang, ketika krisis moral terjadi, membujuknya untuk mengambil pilihan yang lebih mudah, dan yang tampak lebih menyenangkan, di antara berbagai pilihan yang ada baginya sehingga ia berdosa, baik karena melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Karena itu, tindakan Allah yang “menyebabkan” seseorang melakukan suatu dosa bergantung pada adanya sikap mental, dalam individu yang bersangkutan, yang membuatnya cenderung melakukan dosa seperti itu: yang, pada gilirannya, mensyaratkan kehendak bebas manusia—yaitu: kemampuan memilih, dalam batas-batas tertentu, secara sadar antara dua atau lebih kemungkinan tindakan yang dapat diambil.


Surah Al-‘Imran Ayat 156

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ كَفَرُوا وَقَالُوا لِإِخْوَانِهِمْ إِذَا ضَرَبُوا فِي الْأَرْضِ أَوْ كَانُوا غُزًّى لَوْ كَانُوا عِنْدَنَا مَا مَاتُوا وَمَا قُتِلُوا لِيَجْعَلَ اللَّهُ ذَٰلِكَ حَسْرَةً فِي قُلُوبِهِمْ ۗ وَاللَّهُ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā takụnụ kallażīna kafarụ wa qālụ li`ikhwānihim iżā ḍarabụ fil-arḍi au kānụ guzzal lau kānụ ‘indanā mā mātụ wa mā qutilụ, liyaj’alallāhu żālika ḥasratan fī qulụbihim, wallāhu yuḥyī wa yumīt, wallāhu bimā ta’malụna baṣīr

156. Wahai, kalian yang telah meraih iman! Janganlah menjadi seperti orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran dan berkata tentang saudara-saudaranya [yang mati] setelah mereka mengadakan perjalanan ke tempat-tempat yang jauh118 atau pergi berperang, “Seandainya saja mereka tetap bersama-sama kita, mereka tentu tidak akan mati,” atau, “mereka tentu tidak akan terbunuh”—dan Allah akan menyebabkan pemikiran seperti itu menjadi119 sumber penyesalan yang pahit dalam hati mereka, sebab Allah-lah yang menganugerahkan hidup dan menimpakan kematian. Dan, Allah melihat segala yang kalian kerjakan.


118 Lit., “ketika mereka melakukan perjalanan di muka bumi”.

119 Lit., “sehingga Allah menyebabkan ini menjadi”: namun, karena partikel li pada li-yaj’al jelas adalah lam al-‘aqibah (yakni, lam yang menunjukkan rangkaian sebab-akibat), frasa itu dalam konteks ini paling baik diterjemahkan dengan kata sambung “dan”, yang digabung dengan verba akan datang (“and God will cause …”; “dan Allah akan menyebabkan …”).


Surah Al-‘Imran Ayat 157

وَلَئِنْ قُتِلْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ مُتُّمْ لَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرَحْمَةٌ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

wa la`ing qutiltum fī sabīlillāhi au muttum lamagfiratum minallāhi wa raḥmatun khairum mimmā yajma’ụn

157. Dan, jika kalian benar-benar terbunuh atau mati di jalan Allah, tentu ampunan dari Allah dan rahmat-Nya lebih balk daripada segala yang dapat dikumpulkan seseorang120 [di dunia ini]:


120 Lit., “mereka”.


Surah Al-‘Imran Ayat 158

وَلَئِنْ مُتُّمْ أَوْ قُتِلْتُمْ لَإِلَى اللَّهِ تُحْشَرُونَ

wa la`im muttum au qutiltum la`ilallāhi tuḥsyarụn

158. sebab, sungguh, jika kalian mati atau terbunuh, pasti kepada Allah-lah kalian akan dikumpulkan.


Surah Al-‘Imran Ayat 159

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

fa bimā raḥmatim minallāhi linta lahum, walau kunta faẓẓan galīẓal-qalbi lanfaḍḍụ min ḥaulika fa’fu ‘an-hum wastagfir lahum wa syāwir-hum fil-amr, fa iżā ‘azamta fa tawakkal ‘alallāh, innallāha yuḥibbul-mutawakkilīn

159. Dan, berkat rahmat Allah-lah, engkau [wahai Nabi] bersikap lemah-lembut terhadap para pengikutmu:121 sebab, andaikan engkau bersikap keras dan berhati kasar, mereka tentu akan menjauhkan diri darimu. Maka, maafkanlah mereka dan berdoalah agar mereka diampuni.

Dan, bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan yang menyangkut kepentingan masyarakat umum; kemudian, jika engkau telah menetapkan langkah tindakan, bersandarlah penuh percaya kepada Allah: sebab, sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bersandar penuh percaya kepada-Nya.122


121 Lit., “bersama mereka”—yakni, bersama para pengikutnya yang gagal menunaikan tugas mereka sebelum dan selama malapetaka di Uhud. Menurut semua keterangan yang ada, Nabi bahkan tidak mencela seorang pun di antara mereka atas perbuatan mereka.

122 Perintah ini, yang mengisyaratkan pemerintahan melalui mufakat dan dewan, harus dipandang sebagai salah satu klausul fundamental dari seluruh hukum Al-Quran tentang kenegaraan. Kata ganti milik “mereka” (hum) mengacu pada kaum Mukmin, yakni seluruh umat; sedangkan kata al-amr yang terdapat dalam konteks ini—sebagaimana dengan frasa yang diwahyukan jauh sebelumnya, amruhum syura bainahum dalam Surah Asy-Syura [42]: 38—menunjuk pada segala urusan publik, termasuk administrasi negara. Semua ahli sepakat bahwa perintah di atas, walaupun pertama-tama ditujukan kepada Nabi, mengikat seluruh Muslim sepanjang masa. (Tentang implikasinya yang lebih luas, lihat State and Government in Islam, hh. 44 dst.) Beberapa sarjana muslim menyimpulkan dari bunyi perintah tersebut bahwa pemimpin umat, meskipun wajib bermusyawarah, bagaimanapun, bebas menerima atau menolaknya; namun, kekeliruan kesimpulan yang arbitrer ini menjadi jelas jika kita ingat bahwa Nabi pun menganggap dirinya terikat dengan keputusan musyawarah (lihat catatan no. 90 sebelum ini). Lebih jauh, saat Nabi diminta—menurut hadis yang bersanad dari ‘Ali ibn Abi Thalib—menjelaskan implikasi kata ‘azm (“menetapkan langkah tindakan”) yang terdapat dalam ayat itu, Nabi menjawab, “[Kata itu berarti] bermusyawarah dengan orang-orang yang berpengetahuan luas (ahl al-ra’y), lalu mengikuti mereka [dalam hal itu]” (lihat penafsiran Ibn Katsir atas ayat ini). {bersandar penuh percaya: place one’s trust, bertawakal—peny.}


Surah Al-‘Imran Ayat 160

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ ۖ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ ۗ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

iy yanṣurkumullāhu fa lā gāliba lakum, wa iy yakhżulkum fa man żallażī yanṣurukum mim ba’dih, wa ‘alallāhi falyatawakkalil-mu`minụn

160. Jika Allah menolong kalian, tiada seorang pun dapat mengalahkan kalian; tetapi, andai Allah mengabaikan kalian, siapa yang dapat menolong kalian sesudah itu? Karena itu, kepada Allah-lah hendaknya orang-orang beriman bersandar penuh percaya!


Surah Al-‘Imran Ayat 161

وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ ۚ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

wa mā kāna linabiyyin ay yagull, wa may yaglul ya`ti bimā galla yaumal-qiyāmah, ṡumma tuwaffā kullu nafsim mā kasabat wa hum lā yuẓlamụn

161. DAN, TIDAK MUNGKIN seorang nabi menipu123—karena orang yang menipu akan dihadapkan dengan tipuannya pada Hari Kebangkitan, tatkala setiap manusia akan diberi balasan sepenuhnya atas apa pun yang telah dia perbuat, dan tidak ada seorang pun yang akan dizalimi.


123 Yakni, dengan menisbahkan pendapatnya sendiri kepada Allah, dan kemudian menyeru orang-orang beriman agar bersandar penuh percaya (bertawakal) hanya kepada-Nya. Betapapun penipuan semacam itu sangat tidak masuk akal, sudah menjadi pandangan umum di kalangan orang-orang kafir bahwa Nabi sendirilah yang “menyusun” Al-Quran, kemudian dengan batil menyebutnya sebagai wahyu Ilahi.


Surah Al-‘Imran Ayat 162

أَفَمَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَ اللَّهِ كَمَنْ بَاءَ بِسَخَطٍ مِنَ اللَّهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

a fa manittaba’a riḍwānallāhi kamam bā`a bisakhaṭim minallāhi wa ma`wāhu jahannam, wa bi`sal-maṣīr

162. Lalu, apakah orang124 yang berjuang mengejar ridha (penerimaan yang baik dari) Allah125 serupa dengan orang yang telah memperoleh beban murka dari Allah dan yang tujuannya adalah neraka?—dan suatu akhir perjalanan yang amat buruk!


124 Dalam kasus ini, mengacu pada Nabi Muhammad Saw. dan para nabi umumnya.

125 Yakni, dengan penuh kebatilan menisbahkan pandangannya sendiri kepada Allah atau menyelewengkan pesan-pesan-Nya dengan sisipan semaunya dan secara sengaja mengubah bunyi wahyu—suatu tuduhan yang sering dilontarkan Al-Quran (misalnya dalam Surah Al-Baqarah [2]: 79 dan Surah Alu ‘Imran [3]: 78) terhadap para penganut wahyu terdahulu.


Surah Al-‘Imran Ayat 163

هُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ

hum darajātun ‘indallāh, wallāhu baṣīrum bimā ya’malụn

163. Mereka itu [sepenuhnya] berbeda-beda derajatnya dalam pandangan Allah; sebab, Allah Maha Melihat segala yang mereka kerjakan.


Surah Al-‘Imran Ayat 164

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

laqad mannallāhu ‘alal-mu`minīna iż ba’aṡa fīhim rasụlam min anfusihim yatlụ ‘alaihim āyātihī wa yuzakkīhim wa yu’allimuhumul-kitāba wal-ḥikmah, wa ing kānụ ming qablu lafī ḍalālim mubīn

164. Sungguh, Allah telah mencurahkan pertolongan kepada orang-orang yang beriman tatkala Dia mengangkat, di tengah-tengah mereka, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, untuk menyampaikan pesan-pesan-Nya kepada mereka, dan untuk menyebabkan mereka tumbuh dalam kesucian, dan untuk mengajarkan kepada mereka kitab Ilahi serta hikmah—padahal sebelumnya, mereka sungguh, nyata-nyata, tenggelam dalam kesesatan.


Surah Al-‘Imran Ayat 165

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّىٰ هَٰذَا ۖ قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

a wa lammā aṣābatkum muṣībatung qad aṣabtum miṡlaihā qultum annā hāżā, qul huwa min ‘indi anfusikum, innallāha ‘alā kulli syai`ing qadīr

165. DAN, APAKAH KALIAN—ketika musibah menimpa kalian, padahal sebelumnya kalian menimpakan (musibah) yang dua kali lipat besarnya [kepada musuh-musuh kalian]126—bertanya kepada diri sendiri, “Bagaimana ini bisa terjadi?” Katakanlah: “Itu berasal dari diri kalian sendiri.”127

Sungguh, Allah berkuasa menetapkan segala sesuatu:


126 Yakni, dalam Perang Badar, pada 2 H.

127 Banyak pengikut Nabi yang yakin bahwa, apa pun keadaannya, Allah akan memberikan kemenangan kepada mereka semata-mata karena mereka beriman. Pengalaman pahit di Uhud mengguncang mereka; dan, karenanya, Al-Quran mengingatkan mereka bahwa bencana ini adalah akibat dari perbuatan mereka sendiri.


Surah Al-‘Imran Ayat 166

وَمَا أَصَابَكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ فَبِإِذْنِ اللَّهِ وَلِيَعْلَمَ الْمُؤْمِنِينَ

wa mā aṣābakum yaumaltaqal-jam’āni fa bi`iżnillāhi wa liya’lamal-mu`minīn

166. dan semua yang menimpa kalian pada hari ketika dua pasukan itu bertemu dalam peperangan, terjadi dengan izin Allah, agar Dia dapat membedakan orang-orang yang [benar-benar] beriman,


Surah Al-‘Imran Ayat 167

وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ نَافَقُوا ۚ وَقِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا قَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوِ ادْفَعُوا ۖ قَالُوا لَوْ نَعْلَمُ قِتَالًا لَاتَّبَعْنَاكُمْ ۗ هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَانِ ۚ يَقُولُونَ بِأَفْوَاهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ ۗ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ

wa liya’lamallażīna nāfaqụ wa qīla lahum ta’ālau qātilụ fī sabīlillāhi awidfa’ụ, qālụ lau na’lamu qitālal lattaba’nākum, hum lil-kufri yauma`iżin aqrabu min-hum lil-īmān, yaqụlụna bi`afwāhihim mā laisa fī qulụbihim, wallāhu a’lamu bimā yaktumụn

167. dan membedakan orang-orang yang tercemari dengan kemunafikan dan, ketika mereka diperintahkan, “Marilah berperang di jalan Allah”—atau, “Pertahankanlah diri kalian sendiri”128—menjawab, “Andai kami tahu [benar-benar akan terjadi] peperangan, tentu kami mengikuti kalian.”

Pada hari itu, mereka lebih dekat kepada kemurtadan daripada keimanan, dengan mengatakan melalui mulut mereka sesuatu yang tidak ada dalam hati mereka,129 padahal Allah mengetahui sepenuhnya apa yang coba mereka sembunyikan:


128 Hanya perang untuk mempertahankan dirilah—dalam pengertiannya yang paling luas—yang dapat dipandang sebagai suatu “perang di jalan Allah” (lihat Surah Al-Baqarah [2]: 190-194 dan catatannya); dan, karenanya, partikel “atau” (au) antara dua frasa tersebut hampir sinonim dengan ungkapan “dengan kata lain”.

129 Ini mengacu pada 300 orang yang, dalam perjalanan dari Madinah menuju Gunung Uhud, meninggalkan Nabi dengan dalih yang seolah-olah bagus, yakni bahwa Nabi sebenarnya tidak ingin berperang (lihat catatan no. 90 sebelum ini). Akan tetapi, karena dalam hati mereka mengetahui bahwa perang akan terjadi, berpalingnya mereka dari jalan Allah hampir mengakibatkan pengingkaran terhadap-Nya (kufr, di sini diterjemahkan menjadi apostasy, “kemurtadan”).


Surah Al-‘Imran Ayat 168

الَّذِينَ قَالُوا لِإِخْوَانِهِمْ وَقَعَدُوا لَوْ أَطَاعُونَا مَا قُتِلُوا ۗ قُلْ فَادْرَءُوا عَنْ أَنْفُسِكُمُ الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

allażīna qālụ li`ikhwānihim wa qa’adụ lau aṭā’ụnā mā qutilụ, qul fadra`ụ ‘an anfusikumul-mauta ing kuntum ṣādiqīn

168. mereka, yang menahan diri dari [berperang, di kemudian hari] berkata mengenai saudara-saudaranya [yang terbunuh], “Andai mereka mengikuti kita, tentu mereka tidak akan terbunuh.”

Katakanlah: “Maka, hindarilah kematian dari diri kalian sendiri, jika yang kalian katakan itu benar!”


Surah Al-‘Imran Ayat 169

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

wa lā taḥsabannallażīna qutilụ fī sabīlillāhi amwātā, bal aḥyā`un ‘inda rabbihim yurzaqụn

169. Namun, janganlah mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati. Tidak, mereka itu hidup! Di sisi Pemeliharanya, mereka memperoleh rezeki,


Surah Al-‘Imran Ayat 170

فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

fariḥīna bimā ātāhumullāhu min faḍlihī wa yastabsyirụna billażīna lam yal-ḥaqụ bihim min khalfihim allā khaufun ‘alaihim wa lā hum yaḥzanụn

170. amat bergembira atas [kesyahidan] yang telah Allah anugerahkan kepada mereka berkat karunia-Nya. Dan, mereka bersukacita dengan berita gembira yang dikabarkan kepada [saudara-saudara mereka] yang di tinggalkan di belakang dan belum bergabung dengan mereka, bahwa mereka tidak perlu takut, dan tidak pula akan bersedih hati:


Surah Al-‘Imran Ayat 171

يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ

yastabsyirụna bini’matim minallāhi wa faḍl, wa annallāha lā yuḍī’u ajral-mu`minīn

171. mereka bersukacita dengan berita gembira tentang nikmat dan karunia dari Allah, dan [dengan janji] bahwa Allah tidak akan lalai memberi balasan kepada orang-orang yang beriman


Surah Al-‘Imran Ayat 172

الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِنْ بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا أَجْرٌ عَظِيمٌ

allażīnastajābụ lillāhi war-rasụli mim ba’di mā aṣābahumul-qar-ḥu lillażīna aḥsanụ min-hum wattaqau ajrun ‘aẓīm

172. yang menjawab seruan Allah dan Rasul setelah kemalangan menimpa mereka.130

Balasan yang amat besar menanti orang-orang yang tekun berbuat baik dan senantiasa sadar akan Allah:


130 Lit., “setelah luka-luka menimpa mereka”. Mayoritas mufasir berpendapat bahwa ini mengacu pada kekalahan yang ditanggung kaum Muslim pada Perang Uhud. Namun, implikasinya mungkin lebih luas, terlebih karena ayat ini berkaitan langsung dengan ayat-ayat sebelumnya yang membicarakan, secara umum, para syuhada yang mati di jalan Allah. Ada suatu kecenderungan yang menonjol di kalangan mayoritas mufasir klasik untuk menggali makna-makna yang lebih dalam dari kisah-kisah historis yang tercantum dalam banyak ayat Al-Quran, yang mengungkapkan gagasan tentang maksud-maksud yang jauh lebih luas yang berlaku terhadap kondisi manusia itu sendiri. Ayat 172-175 merupakan sebuah contoh. Sebagian mufasir berpendapat bahwa ayat-ayat tersebut mengacu pada ekspedisi ke Hamra al-Asad yang gagal beberapa hari setelah Perang Uhud, sementara sebagian lainnya melihat ayat-ayat tersebut mengacu pada ekspedisi Nabi pada tahun berikutnya, yang dikenal dalam sejarah sebagai “Badar Kecil” (Badr Al-Sughra); sebagian lainnya lagi berpendapat bahwa ayat 172 mengacu pada ekspedisi pertama, dan ayat 173-174 pada ekspedisi kedua. Mengingat tidak adanya kesepakatan ini—karena tiadanya dukungan yang benar-benar otoritatif, baik dalam Al-Quran maupun hadis-hadis sahih, bagi asumsi-asumsi spekulatif ini—tiada salahnya apabila kita menyimpulkan bahwa seluruh ayat yang dibahas tersebut mengungkapkan suatu kesimpulan umum yang berkisar seputar kisah Perang Uhud dan pelajaran yang harus dipetik dari perang tersebut.


Surah Al-‘Imran Ayat 173

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

allażīna qāla lahumun-nāsu innan-nāsa qad jama’ụ lakum fakhsyauhum fa zādahum īmānaw wa qālụ ḥasbunallāhu wa ni’mal-wakīl

173. (yakni) mereka yang telah diperingatkan oleh orang lain,131 “Perhatikanlah, sekelompok manusia telah berkumpul melawan kalian; maka, waspadalah terhadap mereka!”—kemudian, hal ini hanyalah meningkatkan iman mereka, sehingga mereka menjawab, “Cukuplah Allah bagi kami; dan betapa sempurnanya Dia sebagai pelindung!”


131 Lit., “orang-orang yang kepada mereka manusia berkata”.


Surah Al-‘Imran Ayat 174

فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ

fangqalabụ bini’matim minallāhi wa faḍlil lam yamsas-hum sū`uw wattaba’ụ riḍwānallāh, wallāhu żụ faḍlin ‘aẓīm

174. —dan kembali [dari peperangan] dengan nikmat dan karunia dari Allah, tanpa tersentuh kejahatan:132 sebab, mereka telah berjuang mencari ridha (penerimaan yang baik dari) Allah—dan Allah tiada terhingga dalam karunia-Nya yang berlimpah.


132 Yakni, kejahatan moral yang timbul akibat lemahnya iman dan hilangnya keberanian: mengingatkan pada kejadian yang menimpa banyak Muslim di Uhud.


Surah Al-‘Imran Ayat 175

إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

innamā żālikumusy-syaiṭānu yukhawwifu auliyā`ahụ fa lā takhāfụhum wa khāfụni ing kuntum mu`minīn

175. Setanlah yang memasukkan [ke dalam diri kalian] rasa takut terhadap para sekutunya:133 maka, janganlah takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kalian [benar-benar] orang-orang yang beriman!


133 Yakni, orang-orang yang “bersekutu dengan setan” dengan sengaja berbuat zalim.


Surah Al-‘Imran Ayat 176

وَلَا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ ۚ إِنَّهُمْ لَنْ يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا ۗ يُرِيدُ اللَّهُ أَلَّا يَجْعَلَ لَهُمْ حَظًّا فِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

wa lā yaḥzungkallażīna yusāri’ụna fil-kufr, innahum lay yaḍurrullāha syai`ā, yurīdullāhu allā yaj’ala lahum ḥaẓẓan fil-ākhirati wa lahum ‘ażābun ‘aẓīm

176. Dan, janganlah (engkau) disedihkan oleh orang-orang yang saling berlomba dalam mengingkari kebenaran: sungguh, mereka sama sekali tidak mampu merugikan Allah. Merupakan kehendak Allah-lah bahwa mereka tidak akan memperoleh bagian134 dalam [karunia] kehidupan akhirat; dan penderitaan yang dahsyat menanti mereka.


134 Lit., “bahwa Dia tidak akan menetapkan bagi mereka suatu bagian”.


Surah Al-‘Imran Ayat 177

إِنَّ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الْكُفْرَ بِالْإِيمَانِ لَنْ يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

innallażīnasytarawul-kufra bil-īmāni lay yaḍurrullāha syai`ā, wa lahum ‘ażābun alīm

177. Sungguh, orang-orang yang telah membeli keingkaran akan kebenaran dengan harga keimanan sama sekali tidak akan bisa merugikan Allah, sementara penderitaan yang pedih menanti mereka.


Surah Al-‘Imran Ayat 178

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِأَنْفُسِهِمْ ۚ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا ۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

wa lā yaḥsabannallażīna kafarū annamā numlī lahum khairul li`anfusihim, innamā numlī lahum liyazdādū iṡmā, wa lahum ‘ażābum muhīn

178. Dan, janganlah mereka menyangka—orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran itu—bahwa tindakan Kami memberi keleluasaan kepada mereka itu baik bagi mereka: Kami memberi keleluasaan kepada mereka hanyalah untuk membiarkan mereka bertambah dalam dosa; dan penderitaan yang menghinakan menanti mereka.135


135 Ini merupakan suatu paparan tentang doktrin hukum alam (natural law; dalam terminologi Al-Quran: sunnah Allah, “ketetapan Allah”) yang mengatur segala kecenderungan dan tindakan manusia—serta semua peristiwa lain di alam semesta. Ayat di atas kira-kira berkata demikian, “Karena orang-orang ini berkukuh mengingkari kebenaran, kendali yang Kami berikan kepada mereka [yaitu kebebasan memilih dan waktu untuk menimbang-nimbang sikap mereka] tidak akan berguna bagi mereka, tetapi, sebaliknya, akan menambah kepercayaan diri mereka yang batil dan, dengan demikian, menambah dosa mereka.” Sebagaimana dalam banyak ayat serupa dalam Al-Quran, Allah di sini menisbahkan “bertambahnya mereka dalam dosa” kepada kehendak-Nya sendiri karena Dia-lah yang menetapkan pada semua makhluk-Nya hukum alam yang mengatur sebab dan akibat. (Lihat juga catatan no. 4 pada Surah Ibrahim [14]: 4.)


Surah Al-‘Imran Ayat 179

مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَىٰ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىٰ يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۚ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ

mā kānallāhu liyażaral-mu`minīna ‘alā mā antum ‘alaihi ḥattā yamīzal-khabīṡa minaṭ-ṭayyib, wa mā kānallāhu liyuṭli’akum ‘alal-gaibi wa lākinnallāha yajtabī mir rusulihī may yasyā`u fa āminụ billāhi wa rusulih, wa in tu`minụ wa tattaqụ fa lakum ajrun ‘aẓīm

179. [Wahai, orang-orang yang mengingkari kebenaran,] bukanlah kehendak Allah membiarkan orang-orang beriman dalam jalan hidup kalian:136 [dan] untuk itu, Dia akan menyisihkan yang buruk dari yang baik. Dan, bukanlah kehendak Allah memberi kalian pengetahuan tentang hal yang berada di luar jangkauan persepsi manusia: namun [untuk itu,] Allah memilih siapa saja yang Dia kehendaki di antara rasul-rasul-Nya.137 Maka, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; sebab, jika kalian beriman dan sadar akan Dia, balasan yang amat besar menanti kalian.


136 Beberapa mufasir (seperti Al-Razi) berpendapat bahwa ungkapan ma antum ‘alaihi (lit., “pada sesuatu di mana kalian berada”) di sini berarti “keadaan di mana kalian berada” yakni keadaan lemah dan bingung yang melanda kaum Muslim setelah Perang Uhud—dan, karena itu, ayat ini dialamatkan kepada kaum Mukmin. Namun, penafsiran ini tidak masuk akal. Terlepas dari fakta bahwa kaum Mukmin disebut dalam bentuk kata ganti orang ketiga, sedangkan ma antum ‘alaihi memakai bentuk kata ganti orang kedua jamak, ungkapan yang terakhir ini hampir selalu berarti, baik dalam Al-Quran maupun hadis, adat-istiadat dan keyakinan masyarakat. Lebih jauh, kita mempunyai riwayat yang dapat dipercaya bahwa Ibn ‘Abbas, Qatadah, Al-Dhahhak, Muqatil, dan Al-Kalbi dengan tegas menyatakan bahwa orang-orang yang dimaksud di sini adalah “mereka yang mengingkari kebenaran” yang disebutkan oleh ayat sebelumnya (lihat penafsiran Al-Thabari dan Al-Baghawi atas ayat ini). Jika dibaca dalam pengertian ini, ayat di atas menunjukkan bahwa orang-orang Mukmin, pada saatnya, akan berbeda dengan orang-orang kafir tidak hanya dalam keyakinan, tetapi juga dalam tujuan sosial dan cara hidup.

137 Yakni, melalui para rasul inilah, Allah menyampaikan kepada manusia sebagian kilasan mengenai realitas yang hanya diketahui dengan sempurna oleh Allah.


Surah Al-‘Imran Ayat 180

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

wa lā yaḥsabannallażīna yabkhalụna bimā ātāhumullāhu min faḍlihī huwa khairal lahum, bal huwa syarrul lahum, sayuṭawwaqụna mā bakhilụ bihī yaumal-qiyāmah, wa lillāhi mīrāṡus-samāwāti wal-arḍ, wallāhu bimā ta’malụna khabīr

180. DAN, JANGANLAH mereka menduga—mereka yang melekatkan diri dengan kikirnya pada segala yang telah Allah anugerahkan kepada mereka dari karunia-Nya—bahwa itu baik bagi mereka: tidak, itu buruk bagi mereka.138 Pada Hari Kebangkitan, segala yang padanya mereka melekatkan diri dengan (sedemikian} kikirnya itu akan dikalungkan di leher-leher mereka: sebab, kepunyaan Allah [sajalah] segala warisan lelangit dan bumi; dan Allah mengetahui segala yang kalian kerjakan.


138 Ini merupakan suatu paparan mengenai jalan hidup orang-orang yang tidak beriman yang disebutkan dalam ayat 179: suatu jalan hidup yang dicirikan dengan cinta yang ekstrem terhadap kekayaan materiel di dunia ini—suatu materialisme yang didasarkan pada ketiadaan iman kepada sesuatu yang melampaui persoalan-persoalan kehidupan praktis.


Surah Al-‘Imran Ayat 181

لَقَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاءُ ۘ سَنَكْتُبُ مَا قَالُوا وَقَتْلَهُمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَنَقُولُ ذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ

laqad sami’allāhu qaulallażīna qālū innallāha faqīruw wa naḥnu agniyā`, sanaktubu mā qālụ wa qatlahumul-ambiyā`a bigairi ḥaqqiw wa naqụlu żụqụ ‘ażābal-ḥarīq

181. Allah benar-benar mendengar ucapan orang-orang yang berkata, “Perhatikanlah, Allah miskin, sedangkan kami kaya!”139 Kami akan mencatat apa yang telah mereka ucapkan, serta tindakan mereka membunuh nabi-nabi dengan melanggar segala (nilai) kebenaran,140 dan Kami akan berkata [kepada mereka pada Hari Pengadilan], “Rasakanlah derita neraka


139 Menurut sejumlah hadis sahih, kaum Yahudi Madinah biasa membuat satire terhadap bunyi ayat Al-Quran, khususnya pada Surah Al-Baqarah [2]: 245: “Siapakah yang mau mempersembahkan kepada Allah pinjaman yang baik, yang akan dilunasi-Nya dengan berlipat ganda?”

140 Tentang tuduhan yang dilontarkan terhadap orang-orang Yahudi, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 48.


Surah Al-‘Imran Ayat 182

ذَٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

żālika bimā qaddamat aidīkum wa annallāha laisa biẓallāmil lil-‘abīd

182. sebagai balasan atas apa yang telah diperbuat oleh tangan kalian sendiri—sebab, sedikit pun tidak pernah Allah menganiaya makhluk-Nya!”


Surah Al-‘Imran Ayat 183

الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ عَهِدَ إِلَيْنَا أَلَّا نُؤْمِنَ لِرَسُولٍ حَتَّىٰ يَأْتِيَنَا بِقُرْبَانٍ تَأْكُلُهُ النَّارُ ۗ قُلْ قَدْ جَاءَكُمْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِي بِالْبَيِّنَاتِ وَبِالَّذِي قُلْتُمْ فَلِمَ قَتَلْتُمُوهُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

allażīna qālū innallāha ‘ahida ilainā allā nu`mina lirasụlin ḥattā ya`tiyanā biqurbānin ta`kuluhun-nār, qul qad jā`akum rusulum ming qablī bil-bayyināti wa billażī qultum fa lima qataltumụhum ing kuntum ṣādiqīn

183. Adapun terhadap mereka yang berkata, “Perhatikanlah, Allah telah memerintahkan kami untuk tidak mengimani sembarang rasul, kecuali dia datang kepada kami dengan (membawa) persembahan bakaran”141—katakanlah [kepada mereka, wahai Nabi]: “Bahkan, sebelum aku, telah datang kepada kalian rasul-rasul dengan segala bukti kebenaran, dan dengan (membawa) hal-hal yang kalian bicarakan itu: lalu, mengapa kalian membunuh mereka, jika apa yang kalian katakan itu benar?”142


141 Lit., “dengan suatu persembahan yang dimakan api”—dengan kata lain, kecuali jika dia menyesuaikan diri dengan Hukum Musa, yang menetapkan persembahan bakaran sebagai bagian esensial dari ibadah. Meskipun ritual yang merupakan bagian Hukum Musa ini telah ditinggalkan semenjak hancurnya Bait Allah Kedua di Yerusalem, orang Yahudi setelah masa Talmud yakin bahwa Mesias (Al-Masih) yang dijanjikan kepada mereka akan menghidupkan kembali keseluruhan ritual Musa; dan, karenanya, siapa saja yang tidak menaati Hukum Taurat secara terperinci tidak mereka akui sebagai nabi.

142 Pada masa ketika Yohanes sang Pembaptis (Nabi Yahya a.s.) dan Nabi Zakariya a.s. wafat sebagai martir; saat Yesus menyeru, “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi” (Bibel, Matius 23: 37); dan saat Paulus dari Tarsus menyatakan orang-orang Yahudi sebagai kaum “yang telah membunuh para nabi” (Bibel, 1 Tesalonika 2: 15), Bait Allah Kedua masih ada, dan persembahan bakaran merupakan praktik sehari-hari: jadi, alasan orang Yahudi menolak para nabi sebagaimana disebutkan di atas, yang berpuncak pada pembunuhan nabi-nabi, sesungguhnya bukan karena nabi-nabi itu tidak menjalankan Hukum Musa.


Surah Al-‘Imran Ayat 184

فَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقَدْ كُذِّبَ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ جَاءُوا بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَالْكِتَابِ الْمُنِيرِ

fa ing każżabụka fa qad kużżiba rusulum ming qablika jā`ụ bil-bayyināti waz-zuburi wal-kitābil-munīr

184. Dan, jika mereka mendustakanmu—bahkan sebelum zamanmu pun, rasul-rasul [yang lain] telah didustakan tatkala mereka datang dengan segala bukti kebenaran, dan dengan kitab-kitab hikmah Ilahi, dan dengan wahyu yang memberi cahaya.


Surah Al-‘Imran Ayat 185

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

kullu nafsin żā`iqatul maụt, wa innamā tuwaffauna ujụrakum yaumal-qiyāmah, fa man zuḥziḥa ‘anin-nāri wa udkhilal-jannata fa qad fāz, wa mal-ḥayātud-dun-yā illā matā’ul-gurụr

185. Setiap manusia pasti merasakan mati: tetapi baru pada Hari Kebangkitan-lah kalian akan mendapat balasan sepenuhnya [atas apa saja yang telah kalian lakukan]—kemudian, orang yang akan dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga benar-benar memperoleh kemenangan: sebab, kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya-diri.


Surah Al-‘Imran Ayat 186

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا ۚ وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

latublawunna fī amwālikum wa anfusikum, wa latasma’unna minallażīna ụtul-kitāba ming qablikum wa minallażīna asyrakū ażang kaṡīrā, wa in taṣbirụ wa tattaqụ fa inna żālika min ‘azmil-umụr

186. Kalian pasti akan diuji terhadap harta kalian dan diri kalian; dan kalian benar-benar akan mendengar banyak hal yang menyakitkan dari orang-orang yang telah dianugerahi wahyu sebelum zaman kalian, serta dari orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada wujud-wujud lain selain Allah. Akan tetapi, jika kalian tetap sabar dalam menghadapi kesusahan dan sadar akan Dia—perhatikanlah, inilah sesuatu yang hendaknya ditekadkan.


Surah Al-‘Imran Ayat 187

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ

wa iż akhażallāhu mīṡāqallażīna ụtul-kitāba latubayyinunnahụ lin-nāsi wa lā taktumụnahụ fa nabażụhu warā`a ẓuhụrihim wasytarau bihī ṡamanang qalīlā, fa bi`sa mā yasytarụn

187. DAN, LIHATLAH! Allah menerima sumpah setia dari orang-orang yang telah dianugerahi wahyu terdahulu [tatkala Dia meminta kepada mereka]: “Jadikanlah (wahyu) itu diketahui manusia, dan jangan menyembunyikannya!”143

Namun, mereka melempar [sumpah] ini ke belakang punggung mereka, dan mempertukarkannya dengan keuntungan nan sepele: dan betapa jahatnya tukaran yang mereka terima itu!144


143 Ini berkaitan dengan ayat 183-184, yang menyatakan bahwa orang-orang Yahudi menolak menerima pesan-pesan AI-Quran. Implikasi dari ayat 187 tersebut adalah bahwa kedatangan Nabi Muhammad Saw. telah diramalkan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan bahwa para penganut Bibel telah diseru agar menyebarkan ramalan ini dan tidak—sebagaimana telah mereka lakukan—menyembunyikannya.

144 Lit., “apa yang mereka beli”—mengacu pada kepercayaan kaum Yahudi bahwa mereka adalah umat pilihan Tuhan”, dan keyakinan kaum Nasrani bahwa kepercayaan mereka kepada Yesus “sebagai penebus dosa”, secara otomatis, menjamin keselamatan mereka: dalam kedua kasus tersebut, “tukaran” itu maksudnya adalah kekebalan-hukum yang akan mereka nikmati di akhirat.


Surah Al-‘Imran Ayat 188

لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

lā taḥsabannallażīna yafraḥụna bimā ataw wa yuḥibbụna ay yuḥmadụ bimā lam yaf’alụ fa lā taḥsabannahum bimafāzatim minal-‘ażāb, wa lahum ‘ażābun alīm

188. Janganlah menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka upayakan, dan yang suka dipuji atas sesuatu yang belum mereka kerjakan145—janganlah menyangka bahwa mereka akan lolos dari penderitaan: sebab, penderitaan yang pedih menanti mereka [dalam kehidupan akhirat].


145 Yakni, teriepas dari semua klaim mereka, mereka tidak memelihara keutuhan Bibel dan agama Ibrahim (Al-Razi).


Surah Al-‘Imran Ayat 189

وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

wa lillāhi mulkus-samāwāti wal-arḍ, wallāhu ‘alā kulli syai`ing qadīr

189. DAN, KEPUNYAAN ALLAH-LAH kekuasaan atas lelangit dan bumi: dan Allah berkuasa menetapkan segala sesuatu.


Surah Al-‘Imran Ayat 190

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

inna fī khalqis-samāwāti wal-arḍi wakhtilāfil-laili wan-nahāri la`āyātil li`ulil-albāb

190. Sungguh, dalam penciptaan lelangit dan bumi, serta silih bergantinya malam dan siang, benar-benar terdapat pesan-pesan bagi semua orang yang dianugerahi pengetahuan yang mendalam,


Surah Al-‘Imran Ayat 191

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

allażīna yażkurụnallāha qiyāmaw wa qu’ụdaw wa ‘alā junụbihim wa yatafakkarụna fī khalqis-samāwāti wal-arḍ, rabbanā mā khalaqta hāżā bāṭilā, sub-ḥānaka fa qinā ‘ażāban-nār

191. [dan] yang mengingat Allah saat mereka berdiri, saat mereka duduk, dan saat mereka berbaring,146 dan [lalu] merenungkan penciptaan lelangit dan bumi:

“Wahai, Pemelihara kami! Tidaklah Engkau ciptakan [semua] ini tanpa makna dan tujuan.147 Maha Tak Terhingga Engkau dalam Kemuliaan-Mu! Maka, hindarkanlah kami dari derita neraka!


146 Lit., “dan [berbaring] pada sisi mereka”.

147 Lit., “sia-sia” (bathilan): lihat catatan no. 11 pada Surah Yunus [10]: 5.


Surah Al-‘Imran Ayat 192

رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

rabbanā innaka man tudkhilin-nāra fa qad akhzaitah, wa mā liẓ-ẓālimīna min anṣār

192. “Wahai, Pemelihara kami! Siapa pun yang akan Engkau masukkan ke dalam neraka, sungguh, Engkau akan hinakan dia [di dunia ini];148 dan orang-orang zalim semacam itu tidak memiliki siapa pun yang akan menolong mereka.


148 Yakni, penderitaan yang akan dialami oleh seorang pendosa di akhirat merupakan akibat dari noda spiritual yang dia timpakan sendiri pada dirinya karena perbuatannya di dunia ini.


Surah Al-‘Imran Ayat 193

رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا ۚ رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ

rabbanā innanā sami’nā munādiyay yunādī lil-īmāni an āminụ birabbikum fa āmannā rabbanā fagfir lanā żunụbanā wa kaffir ‘annā sayyi`ātinā wa tawaffanā ma’al-abrār

193. “Wahai, Pemelihara kami! Perhatikanlah, kami mendengar suara149 menyeru [kami] kepada iman, ‘Berimanlah kepada Pemelihara kalian!’—maka kami pun akhirnya beriman. Wahai, Pemelihara kami! Maka, ampunilah dosa-dosa kami, dan hapuskanlah perbuatan-perbuatan buruk kami; dan biarkanlah kami mati seperti matinya orang-orang yang sungguh berbudi luhur!


149 Lit., “penyeru”.


Surah Al-‘Imran Ayat 194

رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَىٰ رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ

rabbanā wa ātinā mā wa’attanā ‘alā rusulika wa lā tukhzinā yaumal-qiyāmah, innaka lā tukhliful-mī’ād

194. “Wahai, Pemelihara kami! Anugerahilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui rasul-rasul-Mu, dan jangan hinakan kami pada Hari Kebangkitan! Sungguh, Engkau tidak pernah lalai memenuhi janji-Mu!”


Surah Al-‘Imran Ayat 195

فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ ۖ بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ ۖ فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ثَوَابًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ

fastajāba lahum rabbuhum annī lā uḍī’u ‘amala ‘āmilim mingkum min żakarin au unṡā, ba’ḍukum mim ba’ḍ, fallażīna hājarụ wa ukhrijụ min diyārihim wa ụżụ fī sabīlī wa qātalụ wa qutilụ la`ukaffiranna ‘an-hum sayyi`ātihim wa la`udkhilannahum jannātin tajrī min taḥtihal-an-hār, ṡawābam min ‘indillāh, wallāhu ‘indahụ ḥusnuṡ-ṡawāb

195. Maka, Pemelihara mereka pun menjawab doa mereka:

“Aku tidak akan mengabaikan perbuatan siapa pun di antara kalian yang berbuat [di jalan-Ku], baik laki-laki ataupun perempuan: masing-masing kalian adalah keturunan dari sebagian yang lain.150 Karena itu, adapun orang-orang yang hijrah meninggalkan ranah kejahatan,151 dan terusir dari tanah air mereka, serta disakiti di jalan-Ku, dan berperang [untuknya], dan terbunuh—pasti akan Kuhapus perbuatan-perbuatan buruk mereka, dan pasti akan Kumasukkan mereka ke dalam taman-taman yang dilalui aliran sungai-sungai, sebagai balasan dari Allah: sebab, di sisi Allah-lah imbalan yang paling baik.”


150 Yakni, “kalian semua adalah anggota ras manusia yang satu dan sama, dan karenanya, sederajat satu sama lain”.

151 Lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 203 dan Surah An-Nisa’ [4], catatan no. 124.


Surah Al-‘Imran Ayat 196

لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ

lā yagurrannaka taqallubullażīna kafarụ fil-bilād

196. JANGANLAH hal itu memperdayamu, (yakni) bahwa orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran itu tampaknya bisa melakukan apa pun sesuka, mereka di muka bumi:


Surah Al-‘Imran Ayat 197

مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

matā’ung qalīl, ṡumma ma`wāhum jahannam, wa bi`sal-mihād

197. itu [hanyalah] kesenangan sesaat, kemudian tujuan mereka ialah neraka—dan betapa buruknya tempat peristirahatan itu!—


Surah Al-‘Imran Ayat 198

لَٰكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نُزُلًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۗ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِلْأَبْرَارِ

lākinillażīnattaqau rabbahum lahum jannātun tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā nuzulam min ‘indillāh, wa mā ‘indallāhi khairul lil-abrār

198. sedangkan orang-orang yang tetap sadar akan Pemeliharanya akan memperoleh taman-taman yang dilalui aliran sungai-sungai, berkediaman di dalamnya: suatu sambutan yang disediakan dari sisi Allah. Dan, apa yang ada di sisi Allah adalah yang terbaik bagi orang-orang yang sungguh berbudi luhur.


Surah Al-‘Imran Ayat 199

وَإِنَّ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ خَاشِعِينَ لِلَّهِ لَا يَشْتَرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۗ أُولَٰئِكَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

wa inna min ahlil-kitābi lamay yu`minu billāhi wa mā unzila ilaikum wa mā unzila ilaihim khāsyi’īna lillāhi lā yasytarụna bi`āyātillāhi ṡamanang qalīlā, ulā`ika lahum ajruhum ‘inda rabbihim, innallāha sarī’ul-ḥisāb

199. Dan, perhatikanlah, di antara penganut wahyu terdahulu benar-benar ada orang-orang yang [sungguh] beriman kepada Allah, dan kepada segala yang telah diturunkan kepada kalian, serta kepada segala yang diturunkan kepada mereka. Merasa gentar-terpukau kepada Allah, mereka tidak mempertukarkan pesan-pesan Allah dengan keuntungan sepele. Mereka akan memperoleh pahala di sisi Pemelihara mereka—sebab, perhatikanlah, Allah amat cepat dalam membuat perhitungan!


Surah Al-‘Imran Ayat 200

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

yā ayyuhallażīna āmanuṣbirụ wa ṣābirụ wa rābiṭụ, wattaqullāha la’allakum tufliḥụn

200. Wahai, kalian yang telah meraih iman! Bersabarlah dalam menghadapi kesusahan, dan berlomba-lombalah dalam kesabaran, dan bersiaplah selalu [untuk melakukan hal yang benar], dan tetaplah sadar akan Allah, agar kalian meraih kebahagiaan!


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top