112. Al-Ikhlas (Pernyataan Kesempurnaan Allah) – الإخلاص

Surat Al-Ikhlas dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Ikhlas ( الإخلاص ) merupakan surah ke 112 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 4 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Al-Ikhlas tergolong Surat Makkiyah.

Surah ini dinamakan Al-Ikhlas, karena dalam surat tersebut Allah khusus menceritakan tentang diri-Nya. Sehingga di dalam surah ini, tidak ada keterangan apapun selain keterangan tentang Allah Saw dan sifat-sifat-Nya. Kemudian, surah ini mengajarkan tentang prinsip ikhlas bagi orang yang membacanya, sehingga dia menjauhi kesyirikan. Apabila dia baca dengan meyakini kandungannya yang mencakup tiga macam tauhid, yaitu tauhid Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma’ wa Shifat. [Fatawa Nur ’ala ad-Darb, volume 5, no. 2].

Tidak jauh beda dengan keterangan beliau, adalah keterangan Fakhrur Rozi dalam tafsirnya, ketika beliau menyebutkan alasan penamaaan surat al-Ikhlas,

ولأن من اعتقده كان مخلصا في دين الله، ولأن من مات عليه كان خلاصه من النار

“Karena orang yang meyakininya akan menjadi ikhlas dalam menjalankan agama Allah, dan karena orang yang mati dengan ikhlas, dia akan bersih (dijauhkan) dari neraka.” (Tafsir Al-Razi, 17/293).

Kandungan dan isi Surat Al-Ikhlas mencakup tiga macam tauhid, yaitu tauhid Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma’ wa Shifat.

Sebagaimana diriwayatkan dalam banyak hadis sahih, Nabi biasa menggambarkan Surat Al-Ikhlas sebagai “setara dengan sepertiga Al-Qur’an” (Al-Bukhari, Muslim, Ibn Hanbal, Abu Dawud, Al-Nasa’i, Al-Tirmidzi, dan Ibn Majah). Tampaknya, surah ini diwahyukan pada periode Makkah Awal.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Ikhlas Ayat 1

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

qul huwallāhu aḥad

1. KATAKANLAH: “Dia-lah Tuhan yang Esa:


Surah Al-Ikhlas Ayat 2

اللَّهُ الصَّمَدُ

allāhuṣ-ṣamad

2. “Tuhan Yang Abadi, Penyebab Tak Bersebab dari Segala Keberadaan.1


1 Terjemahan ini hanyalah memberikan perkiraan makna dari istilah al-shamad, yang muncul hanya sekali dalam Al-Quran, dan digunakan hanya untuk Allah. Istilah ini mencakup konsep Sebab Pertama (Causa Prima) serta Zat yang abadi dan independen, yang dikombinasikan dengan ide bahwa segala sesuatu yang ada atau yang dapat dipikirkan, akan kembali kepada-Nya sebagai sumber asalnya dan, karenanya, bergantung kepada-Nya, baik pada permulaannya maupun untuk keberlangsungan eksistensinya.


Surah Al-Ikhlas Ayat 3

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

lam yalid wa lam yụlad

3. “Dia tidak beranak dan tiada pula Dia diperanakkan;


Surah Al-Ikhlas Ayat 4

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

wa lam yakul lahụ kufuwan aḥad

4. “dan tidak ada apa pun yang dapat dibandingkan dengan-Nya.”2


2 Bdk. catatan no. 2 dalam Surah Al-Fajr [89]: 3, dan catatan no. 77 dalam Surah Maryam [19]. Fakta bahwa Allah itu esa dan unik secara mutlak, tanpa awal dan tanpa akhir, memiliki korelasi logis dengan pernyataan bahwa “tidak ada apa pun yang dapat dibandingkan dengan-Nya”—dengan demikian, mencegah segala kemungkinan untuk menggambarkan atau mendefinisikan-Nya (lihat catatan no. 88 terhadap kalimat terakhir pada ayat 100 Surah Al-An’am [6]). Karena itu, kualitas Wujud-Nya melampaui jangkauan pemahaman atau imajinasi manusia: ini juga menjelaskan mengapa usaha-usaha “melukiskan” Allah melalui representasi figuratif {yakni, dengan gambar-gambar atau patung-patung—peny.} atau bahkan melalui simbol-simbol abstrak harus digolongkan sebagai pengingkaran yang nista terhadap kebenaran.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top