49. Al-Hujurat (Kamar-Kamar) – الحجرات

Surat Al-Hujurat dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Hujurat ( الحجرات ) merupakan surat ke 49 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 18 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Madinah. Dengan demikian, Surah Al-Hujurat tergolong Surat Madaniyah.

Surah yang, berdasarkan kesepakatan mayoritas ulama, diwahyukan pada 9 H ini utamanya berisi uraian tentang etika sosial. Diawali dengan perintah untuk bersikap hormat kepada Rasul dan—secara tersirat—kepada para pemimpin yang saleh setelah beliau, wacana ini mencapai puncaknya dengan menguraikan prinsip-prinsip persaudaraan seluruh orang beriman (ayat 10) dan, dalam pengertiannya yang terluas, persaudaraan seluruh manusia (ayat 13). Pasase terakhir (ayat 14 dan seterusnya) menunjukkan perbedaan antara keimanan sejati dan sekedar ketaatan lahiriah untuk memenuhi formalitas keagamaan.

Nama surah ini diambil dari kata al-hujurat yang tercantum dalam ayat 4.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Hujurat Ayat 1

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā tuqaddimụ baina yadayillāhi wa rasụlihī wattaqullāh, innallāha samī’un ‘alīm

1. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Janganlah mendahulukan diri kalian sendiri1 di hadapan [apa yang mungkin telah diperintahkan] Allah dan Rasul-Nya, namun tetaplah sadar akan Allah: sebab, sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui!


1 Yakni, “jangan biarkan hawa nafsu kalian mendahului”.


Surah Al-Hujurat Ayat 2

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā tarfa’ū aṣwātakum fauqa ṣautin-nabiyyi wa lā taj-harụ lahụ bil-qauli kajahri ba’ḍikum liba’ḍin an taḥbaṭa a’mālukum wa antum lā tasy’urụn

2. Wahai, kalian yang telah meraih iman! Janganlah meninggikan suaramu lebih daripada suara Nabi,2 dan janganlah berbicara kepadanya dengan suara lantang sebagaimana lantangnya kalian berbicara satu sama lain,3 supaya tidak sirna segala perbuatan [baik] kalian tanpa kalian menyadarinya.


2 Kalimat ini memiliki makna literal dan figuratif sekaligus: secara literal, ia ditujukan kepada para Sahabat Nabi, sedangkan secara figuratif ditujukan kepada mereka serta kepada orang-orang beriman pada masa-masa selanjutnya—hal ini menunjukkan bahwa pendapat dan keinginan pribadi seseorang tidak boleh dibiarkan menggeser aturan-aturan legal yang jelas dan/atau ketentuan-ketentuan moral yang telah ditetapkan Nabi (bdk. Surah An-Nisa’ [4]: 65 dan catatan no. 84 yang terkait).

3 Yakni, menyapanya, atau berbicara dengannya dengan cara yang tidak pantas.


Surah Al-Hujurat Ayat 3

إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَىٰ ۚ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ

innallażīna yaguḍḍụna aṣwātahum ‘inda rasụlillāhi ulā`ikallażīnamtaḥanallāhu qulụbahum lit-taqwā, lahum magfiratuw wa ajrun ‘aẓīm

3. Perhatikanlah, orang-orang yang merendahkan suaranya di hadapan Rasul Allah—mereka itulah orang-orang yang hatinya telah Allah uji [dan buka] untuk sadar akan Dia; [dan] bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.


Surah Al-Hujurat Ayat 4

إِنَّ الَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِنْ وَرَاءِ الْحُجُرَاتِ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

innallażīna yunādụnaka miw warā`il-ḥujurāti akṡaruhum lā ya’qilụn

4. Sungguh, [wahai Nabi,] adapun orang-orang yang memanggilmu dari luar kamarmu4—kebanyakan mereka tidak menggunakan akalnya:


4 Meskipun kalimat ini pertama-tama mengacu pada Nabi, ia dapat juga dipahami sebagai berlaku bagi sembarang pemimpin tertinggi umat (amir al-mu’minin) yang bertindak sebagai pengganti Nabi (khalifah) dan memimpin atas namanya, yakni, di bawah naungan Hukum Islam. (Adapun berkenaan dengan Nabi sendiri, peringatan untuk bersikap penuh hormat tersebut, dalam pandangan banyak pemikir Islam terkemuka, juga menunjukkan larangan untuk “berseru memanggil namanya” ketika mengunjungi pusaranya.)


Surah Al-Hujurat Ayat 5

وَلَوْ أَنَّهُمْ صَبَرُوا حَتَّىٰ تَخْرُجَ إِلَيْهِمْ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

walau annahum ṣabarụ ḥattā takhruja ilaihim lakāna khairal lahum, wallāhu gafụrur raḥīm

5. sebab, jika mereka bersabar [menunggu] hingga engkau keluar menemui mereka [karena keinginanmu sendiri], itu adalah demi kebaikan mereka sendiri. Betapapun jua, Allah adalah Sang Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.


Surah Al-Hujurat Ayat 6

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

yā ayyuhallażīna āmanū in jā`akum fāsiqum binaba`in fa tabayyanū an tuṣībụ qaumam bijahālatin fa tuṣbiḥụ ‘alā mā fa’altum nādimīn

6. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Jika ada orang fasik datang kepada kalian dengan membawa berita [fitnah], gunakanlah penilaian kalian,5 agar kalian tidak menyakiti suatu kaum tanpa sengaja dan kemudian dipenuhi penyesalan akibat apa yang telah kalian lakukan.6


5 Yakni, telitilah terlebih dahulu kebenaran suatu berita atau rumor sebelum memercayainya. Pembawa-berita itu disifati sebagai “fasik” karena tindakan menyebarkan berita yang belum terbukti kebenarannya, sehingga dapat memengaruhi reputasi seseorang,  merupakan suatu pelanggaran spiritual.

6 Jadi, setelah menegaskan dalam ayat sebelumnya tentang penghormatan yang hendaknya diberikan kepada Nabi—dan, secara tersirat, juga kepada setiap pemimpin yang saleh—wacana beralih kepada perintah moral untuk menjaga kehormatan dan reputasi setiap anggota masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan. Prinsip ini dibahas dengan lebih eksplisit dalam ayat 12.


Surah Al-Hujurat Ayat 7

وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ ۚ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

wa’lamū anna fīkum rasụlallāh, lau yuṭī’ukum fī kaṡīrim minal-amri la’anittum wa lākinnallāha ḥabbaba ilaikumul-īmāna wa zayyanahụ fī qulụbikum wa karraha ilaikumul-kufra wal-fusụqa wal-‘iṣyān, ulā`ika humur-rāsyidụn

7. Dan ketahuilah bahwa Rasul Allah ada di antara kalian:7 andaikan dia menuruti kecenderungan kalian dalam setiap urusan,8 kalian pasti akan menjumpai kesusahan [sebagai masyarakat]. Namun demikianlah, Allah telah menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kalian benci kepada segala pengingkaran terhadap kebenaran, kefasikan, dan kedurhakaan [terhadap apa-apa yang baik].

Demikian itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang benar,


7 Yakni, secara tersirat, “dan dia hendaknya menjadi contoh bagi kalian berkenaan dengan perilaku kalian terhadap satu sama lain”: yakni, Nabi tidak akan menerima dengan gegabah desas-desus yang dapat merusak kehormatan seseorang, sebaliknya, beliau akan menolak mendengarkannya sama sekali atau, jika klarifikasi atas desas-desus itu menjadi sesuatu yang perlu demi kepentingan masyarakat, Nabi akan mendesak untuk memastikan kebenarannya secara objektif.

8 Lit., “dalam banyak urusan (amr)”: implikasinya adalah, manusia lebih sering berkecenderungan untuk memercayai rumor jahat yang tidak didukung bukti nyata.


Surah Al-Hujurat Ayat 8

فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

faḍlam minallāhi wa ni’mah, wallāhu ‘alīmun ḥakīm

8. karena karunia dan nikmat dari Allah; dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.


Surah Al-Hujurat Ayat 9

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

wa in ṭā`ifatāni minal-mu`minīnaqtatalụ fa aṣliḥụ bainahumā, fa im bagat iḥdāhumā ‘alal-ukhrā fa qātilullatī tabgī ḥattā tafī`a ilā amrillāh, fa in fā`at fa aṣliḥụ bainahumā bil-‘adli wa aqsiṭụ, innallāha yuḥibbul-muqsiṭīn

9. Karena itu, jika ada dua golongan orang mukmin yang berperang,9 damaikanlah antara keduanya; tetapi, jika salah satu dari kedua [golongan] itu tetap berbuat zalim terhadap yang lain, perangilah golongan yang berbuat zalim itu hingga golongan itu kembali kepada perintah Allah;10 dan jika golongan itu telah kembali, damaikanlah keduanya dengan adil, dan berlaku adillah [kepada mereka]: sebab, sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil!


9 Ungkapan “berperang” dalam konteks ini meliputi segala bentuk perselisihan dan pertikaian, baik dalam kata-kata maupun perbuatan, yang jelas-jelas merupakan akibat dari berita-berita fitnah yang dibicarakan dalam ayat 6.

10 Yakni, bahwa orang-orang beriman harus bertindak sebagai saudara (lihat ayat berikutnya).


Surah Al-Hujurat Ayat 10

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

innamal-mu`minụna ikhwatun fa aṣliḥụ baina akhawaikum wattaqullāha la’allakum tur-ḥamụn

10. Seluruh orang beriman adalah bersaudara.11 Karena itu, [kapan pun mereka berselisih,] damaikanlah antara kedua saudara kalian, dan tetaplah sadar akan Allah agar kalian dirahmati dengan belas kasih-Nya.


11 Bentuk jamak ikhwah (“saudara-saudara lelaki” atau “persaudaraan”) di sini, tentunya, mengandung konotasi ideologis murni, mencakup laki-laki maupun perempuan; hal yang sama juga berlaku bagi ungkapan “dua saudara kalian” (akhawaikum) berikutnya.


Surah Al-Hujurat Ayat 11

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā yaskhar qaumum ming qaumin ‘asā ay yakụnụ khairam min-hum wa lā nisā`um min nisā`in ‘asā ay yakunna khairam min-hunn, wa lā talmizū anfusakum wa lā tanābazụ bil-alqāb, bi`sa lismul-fusụqu ba’dal-īmān, wa mal lam yatub fa ulā`ika humuẓ-ẓālimụn

11. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Janganlah manusia memperolok-olok manusia [lainnya]: boleh jadi orang-orang [yang diperolok-olok] itu lebih baik daripada mereka sendiri;12 dan jangan pula perempuan [memperolok-olok] perempuan [lain]; boleh jadi mereka [yang diperolok-olok] itu lebih baik daripada mereka sendiri. Dan janganlah kalian saling mencela ataupun menghina satu sama lain dengan julukan-julukan [yang nista]: amat buruklah segala tuduhan fasik setelah [seseorang meraih] iman;13 dan mereka yang [bersalah karenanya dan] tidak bertobat—mereka, mereka itulah orang-orang yang zalim!*


12 Mengimplikasikan bahwa orang-orang beriman, baik laki laki maupun perempuan, tidak boleh saling memperolok (Al-Zamakhsyari, Al-Baidhawi).

13 Ini sama-sama berlaku baik terhadap iman orang yang menghina maupun iman orang yang dihina (Al-Razi): bdk. Surah Al-An’am [6]: 82—”[mereka] yang tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman”.

* {al-zhalimun: evildoers: pelaku kejahatan—peny.}


Surah Al-Hujurat Ayat 12

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

yā ayyuhallażīna āmanujtanibụ kaṡīram minaẓ-ẓanni inna ba’ḍaẓ-ẓanni iṡmuw wa lā tajassasụ wa lā yagtab ba’ḍukum ba’ḍā, a yuḥibbu aḥadukum ay ya`kula laḥma akhīhi maitan fa karihtumụh, wattaqullāh, innallāha tawwābur raḥīm

12. Wahai, kalian yang telah meraih iman! Hindarilah sebagian besar prasangka [terhadap satu sama lain]14—sebab, perhatikanlah, sebagian dari prasangka [semacam itu dengan sendirinya] adalah dosa; dan jangnlah saling mencari-cari kesalahan, dan jangn biarkan pula diri kalian saling bergunjing. Adakah di antara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tidak, kalian tentu merasa jijik terhadapnya!

Dan, sadarlah akan Allah. Sungguh, Allah Maha Penerima Tobat, Sang Pemberi Rahmat.


14 Yakni, prasangka yang dapat mengakibatkan kecurigaan tak berdasar terhadap maksud-maksud orang lain: lihat catatan no. 22 pada Surah An-Nur [24]: 19.


Surah Al-Hujurat Ayat 13

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

yā ayyuhan-nāsu innā khalaqnākum min żakariw wa unṡā wa ja’alnākum syu’ụbaw wa qabā`ila lita’ārafụ, inna akramakum ‘indallāhi atqākum, innallāha ‘alīmun khabīr

13. Wahai, manusia! Perhatikanlah, Kami telah menciptakan kalian semua dari seorang laki-laki dan seorang perempuan,15 dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kalian saling mengenal.16 Sungguh, yang paling mulia di antara kalian dalam pandangan Allah ialah yang paling mendalam kesadarannya akan Dia. Perhatikanlah, Allah Maha Mengetahui, Mahaawas.


15 Yakni, “Kami telah menciptakan masing-masing kalian dari seorang ayah dan seorang ibu” (Al-Zamakhsyari, Al-Razi, Al-Baidhawi)—hal ini menunjukkan bahwa kesamaan asal-usul biologis merefleksikan kesamaan martabat manusia seluruhnya.

16 Yakni, mengetahui bahwa semua bangsa termasuk dalam keluarga besar manusia; tidak ada suatu bangsa yang secara inheren lebih unggul daripada bangsa lain (Al-Zamakhsyari). Ini berhubungan dengan peringatan dalam dua ayat sebelumnya agar saling menghargai dan menjaga martabat manusia. Dengan kata lain, evolusi manusia sehingga menjadi “berbangsa-bangsa dan bersuku-suku” dimaksudkan untuk menumbuhsuburkan—alih-alih mengurangi—hasrat untuk saling memahami dan menghargai kesatuan esensial manusia yang melatari perbedaan-perbedaan lahiriah mereka; dan, sejalan dengan itu, semua prasangka rasial, kebangsaan, atau kesukuan (‘ashabiyyah) dikutuk—secara implisit dalam Al-Quran, dan lebih eksplisit oleh Nabi (lihat paruh kedua catatan no. 15 pada Surah Al-Qasas [28]: 15). Selain dari itu, ketika membicarakan kebanggaan seseorang terhadap bangsa atau sukunya pada masa silam, Nabi bersabda, “Perhatikanlah, Allah telah menghilangkan dari kalian kesombongan jahiliah dan kebanggaan terhadap kebesaran leluhur. Manusia tidak lain hanyalah orang-orang Mukmin yang sadar akan Allah atau para pendosa yang malang. Seluruh manusia adalah anak Adam dan Adam diciptakan dari tanah.” (Ini adalah penggalan hadis yang dikutip dari Tirmidzi dan Abu Dawud, bersumber dari Abu Hurairah.)


Surah Al-Hujurat Ayat 14

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

qālatil-a’rābu āmannā, qul lam tu`minụ wa lāking qụlū aslamnā wa lammā yadkhulil-īmānu fī qulụbikum, wa in tuṭī’ullāha wa rasụlahụ lā yalitkum min a’mālikum syai`ā, innallāha gafụrur raḥīm

14. ORANG-ORANG ARAB BADUI berkata, “Kami telah meraih iman.”

Katakanlah [kepada mereka, wahai Muhammad]: “Kalian belum meraih iman; [alih-alih] hendaknya kalian berkata, ‘Kami telah berserah diri [secara lahiriah]’—sebab, iman [yang sejati] belum masuk ke dalam hati kalian.17 Namun, jika kalian [benar-benar] taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan membiarkan perbuatan-perbuatan kalian yang sekecil apa pun18 menjadi sia-sia: sebab, perhatikanlah, Allah adalah Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.”


17 Karena pernyataan ini jelas-jelas mengacu secara tidak langsung pada rasa kesukuan orang Badui yang begitu kuat dan “kebanggaan mereka terhadap leluhurnya” (Al-Razi), ayat di atas berkaitan dengan ayat sebelumnya yang berisi kutukan terhadap segala bentuk pengutamaan ras dan prasangka kesukuan, serta seruan untuk meninggalkannya sebagai prasyarat untuk mencapai keimanan sejati. Hal ini terutama berkaitan dengan bangsa Badui pada masa Nabi, tapi kandungannya bersifat umum dan abadi.

18 Yakni, “perbuatan kalian sendiri, bukan ‘perbuatan mulia’ nenek moyangmu, yang tidak bernilai dalam pandangan-Nya”.


Surah Al-Hujurat Ayat 15

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

innamal-mu`minụnallażīna āmanụ billāhi wa rasụlihī ṡumma lam yartābụ wa jāhadụ bi`amwālihim wa anfusihim fī sabīlillāh, ulā`ika humuṣ-ṣādiqụn

15. [Ketahuilah bahwa] orang-orang beriman [yang sejati] hanyalah mereka yang telah meraih iman kepada Allah dan Rasul-Nya serta meninggalkan semua keragu-raguan,19 dan yang berjuang sungguh-sungguh di jalan Allah dengan harta dan jiwanya: mereka, mereka itulah yang menepati perkataannya!


19 Lit., “dan kemudian tidak ragu-ragu”.


Surah Al-Hujurat Ayat 16

قُلْ أَتُعَلِّمُونَ اللَّهَ بِدِينِكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

qul a tu’allimụnallāha bidīnikum, wallāhu ya’lamu mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, wallāhu bikulli syai`in ‘alīm

16. Katakanlah: “Apakah kalian, mungkin, [ingin] memberi tahu Allah mengenai [sifat] keimananmu20—padahal Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di lelangit dan segala sesuatu yang ada di bumi? Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu!”


20 Seperti pasase sebelumnya, pasase ini pun pertama-tama ditujukan kepada orang-orang tertentu yang hidup pada masa Nabi, tetapi maknanya menjangkau semua orang pada segala zaman, yang menyangka bahwa pernyataan keimanan semata dan ketaatan lahiriah terhadap formalitas keagamaan sudah cukup menjadikan mereka sebagai “orang yang beriman”.


Surah Al-Hujurat Ayat 17

يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا ۖ قُلْ لَا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُمْ ۖ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

yamunnụna ‘alaika an aslamụ, qul lā tamunnụ ‘alayya islāmakum, balillāhu yamunnu ‘alaikum an hadākum lil-īmāni ing kuntum ṣādiqīn

17. Banyak orang21 merasa bahwa mereka telah berbuat baik kepadamu [wahai Nabi] dengan berserah diri [kepadamu].22 Katakanlah: “Janganlah menganggap penyerahan diri kalian sebagai kebaikan untukku: tidak, tetapi Allah-lah yang melimpahkan kebaikan kepada kalian dengan menunjuki kalian jalan menuju iman—jika kalian adalah orang-orang yang menepati perkataan kalian!”


21 Lit., “Mereka” (lihat catatan sebelumnya).

22 Yakni, “dengan menyatakan diri sebagai pengikut-pengikutmu”.


Surah Al-Hujurat Ayat 18

إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

innallāha ya’lamu gaibas-samāwāti wal-arḍ, wallāhu baṣīrum bimā ta’malụn

18. Sungguh, Allah mengetahui kenyataan tersembunyi lelangit dan bumi; dan Allah melihat segala yang kalian lakukan.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top