59. Al-Hasyr (Penghimpunan) – الحشر

Surat Al-Hasyr dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Hasyr ( الحشر ) merupakan surat ke 59 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 24 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Madinah. Dengan demikian, Surah Al-Hasyr tergolong Surat Madaniyah.

Sebagian besar ayat dalam surah ini (yakni ayat 2-17) merujuk, secara langsung atau tidak langsung, kepada konflik antara masyarakat Muslim dan suku Yahudi Banu Al-Nadhir yang tinggal di Madinah, serta pengusiran mereka oleh umat Muslim. Tidak lama setelah Rasulullah dan para pengikutnya berhijrah dari Makkah ke Madinah, Rasulullah mengadakan perjanjian dengan Banu Al-Nadhir. Dalam perjanjian ini, mereka menyatakan diri sebagai pihak yang netral sehubungan dengan permusuhan antara umat Muslim dan kaum pagan Quraisy. Setelah kemenangan umat Muslim dalm Perang Badar pada 2 H, para pemimpin Yahudi itu secara spontan menyatakan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah benar-benar nabi yang kedatangannya telah diramalkan dalam Kitab Taurat. Namun, satu tahun kemudian, setelah kekalahan yang hampir diderita kaum Muslim pada Perang Uhud, Banu Al-Nadhir menghianati perjanjian dengan Nabi Muhammad tersebut dan memutuskan untuk bersekutu dengan kaum Quraisy Makkah untuk menghancurkan komunitas Muslim sampai ke akar-akarnya. Oleh sebab itu, Nabi memberi mereka dua pilihan: perang atau meninggalkan Madinah dengan seluruh harta benda mereka. jika pilihan mereka jatuh pada yang terakhir ini, mereka akan diizinkan kembali datang setiap tahun untuk memanen kebun kurma mereka, sehingga dengan demikian, ladang tersebut akan tetap menjadi hak milik mereka. Dengan berpura-pura menyetujui pilihan kedua ini, Banu Al-Nadhir meminta kelonggaran waktu selama 10 hari—dan permintaan ini dikabulkan. Dalam pada itu, secara rahasia mereka bekerja sama dengan kaum munafik Arab di Madinah yang dipimpin oleh ‘Abd Allah ibn Ubayy yang menjanjikan bantuan sebanyak 2.000 prajurit jika mereka memutuskan untuk tinggal di perkampungan mereka yang telah dibentengi itu, yang terletak di pinggiran kota. Dia berpesan, “Karena itu, jangan tinggalkan rumah kalian. Jika kaum Muslim menyerang kalian, kami akan bersama-sama bertempur dengan kalian (melawan mereka). Jika mereka berhasil memaksa kalian pergi, kami akan meninggalkan Madinah bersama-sama dengan kalian.” Banu Al-Nadhir mengikuti nasehat tersebut, menentang Nabi dan mengangkat senjata. Akibatnya, benteng pertahanan mereka dikepung oleh kaum Muslim—meskipun tanpa betul-betul terjadi pertempuran—selama 21 hari. Namun, karena bantuan yang dijanjikan oleh pengikut ‘Abd Allah ibn Ubayy tidak terwujud, Banu Al-Nadhir akhirnya menyerah pada bulan Rabi’ Al-Awwal 4 H dan memohon perdamaian. Permohonan ini dikabulkan dengan syarat mereka harus meninggalkan Madinah; mereka diperbolehkan membawa seluruh harta-benda bergerak mereka, tetapi harus meninggalkan senjata mereka. Sebagian besar mereka beremigrasi ke Suriah dalam suatu kafilah yang terdiri atas sekitar 600 unta; hanya dua keluarga yang memilih menetap di oasis Khaybar, dan sejumlah kecil orang pergi hingga ke Al-Hirah di dataran rendah Mesopotamia. Sebagaimana digambarkan pada ayat 7-8 surah ini, tanah dan kebun mereka disita; sebagian besarnya dibagikan kepada kaum Muslim yang miskin, sementara sisanya disimpan untuk kepentingan umat Islam secara keseluruhan.

Sebagaimana yang selalu terdapat dalam Al-Qur’an, rujukan-rujukan sejarah ini ditampilkan untuk menggambarkan suatu kebenaran spritual: dalam kasus ini, hikmahnya adalah bahwa kaum beriman—walaupun jumlah, kekayaan, dan harta bendanya sedikit—pasti akan berhasil mengalahkan musuh-musuh mereka selama mereka tetap benar-benar sadar akan Allah (bertakwa): sebab, sebagaimana dinyatakan dalam ayat pembuka dan penutup surah ini, “Dia-lah Yang Mahaperkasa, Maha Bijaksana”.

Wahyu ini turun pada 4 H. Nama konvensional surah ini diambil dari sebutan “penghimpunan [untuk perang]” {al-hasyr} yang terdapat pada ayat ke-2, meskipun beberapa Sahabat Nabi (misalnya Ibn ‘Abbas) biasa menyebut surah ini sebagai Surah Bani Al-Nadhir (Al-Thabari).

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Hasyr Ayat 1

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

sabbaḥa lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, wa huwal-‘azīzul-ḥakīm

1. SEGALA YANG ADA di lelangit dan yang ada di bumi bertasbih memuji kemuliaan-Nya yang tak terhingga: sebab, Dia sajalah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.


Surah Al-Hasyr Ayat 2

هُوَ الَّذِي أَخْرَجَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ دِيَارِهِمْ لِأَوَّلِ الْحَشْرِ ۚ مَا ظَنَنْتُمْ أَنْ يَخْرُجُوا ۖ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ مَانِعَتُهُمْ حُصُونُهُمْ مِنَ اللَّهِ فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا ۖ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ ۚ يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُمْ بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِي الْمُؤْمِنِينَ فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ

huwallażī akhrajallażīna kafarụ min ahlil-kitābi min diyārihim li`awwalil-ḥasyr, mā ẓanantum ay yakhrujụ wa ẓannū annahum māni’atuhum ḥuṣụnuhum minallāhi fa atāhumullāhu min ḥaiṡu lam yaḥtasibụ wa qażafa fī qulụbihimur-ru’ba yukhribụna buyụtahum bi`aidīhim wa aidil-mu`minīna fa’tabirụ yā ulil-abṣār

2. Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran di antara para penganut wahyu terdahulu dari rumah-rumah mereka pada saat penghimpunan [mereka] yang pertama [untuk perang],1

[Wahai, orang-orang beriman,] kalian tidak menyangka bahwa mereka akan keluar [tanpa perlawanan]—sebagaimana mereka menyangka bahwa benteng-benteng mereka akan dapat melindungi mereka dari Allah: namun, Allah mendatangi mereka dengan cara yang tidak mereka sangka-sangka,2 dan Allah memasukkan ketakutan ke dalam hati mereka; [maka] mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri serta dengan tangan orang-orang beriman3.

Maka, ambillah pelajaran, wahai kalian yang dianugerahi pengetahuan mendalam!


1 Untuk keterangan mengenai kisah ini dan kisah-kisah selanjutnya, lihat catatan pendahuluan surah ini. Suku Banu Al-Nadhir—yang, sebagai orang Yahudi, biasanya dijuluki ahl al-kitab (“penganut wahyu terdahulu”)—disifati sebagai “yang berkukuh mengingkari kebenaran” (alladzina kafaru, lihat Surah Al-Baqarah [2]: 6 dan catatan no. 6 yang terkait) karena mereka berkhianat dan berbalik melawan Nabi, walaupun sebelumnya mereka mengakui bahwa beliau benar-benar adalah pengemban risalah Tuhan seperti yang diberitakan dalam kitab suci mereka (Bibel, Kitab Ulangan [18], Pasal 15 dan 18) .

2 Lit., “dari arah yang tidak mereka duga [bahwa hal itu mungkin terjadi]”: mengacu kepada gagalnya ‘Abd Allah ibn Ubayy memenuhi janjinya untuk menolong Banu Al-Nadhir—suatu hal yang terjadi pada menit-menit terakhir dan tidak mereka duga.

3 Sebagaimana disebutkan dalam catatan pendahuluan, Banu Al-Nadhir pada awalnya menyepakati perjanjian dengan kaum Muslim untuk tidak saling melakukan intervensi dan tinggal menetap sebagai tetangga yang baik di Madinah; bahkan kemudian, ketika permusuhan mereka terhadap umat Muslim sudah tampak jelas dan mereka diminta untuk angkat kaki, mereka masih tetap diizinkan untuk mempertahankan hak milik atas perkebunan-perkebunan mereka. Namun, akibat pengkhianatan yang mereka lakukan, pada akhirnya mereka harus kehilangan kewarganegaraan dan hak kepemilikan tanah mereka sekaligus; dan dengan demikian, mereka “memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri”.


Surah Al-Hasyr Ayat 3

وَلَوْلَا أَنْ كَتَبَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْجَلَاءَ لَعَذَّبَهُمْ فِي الدُّنْيَا ۖ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابُ النَّارِ

walau lā ang kataballāhu ‘alaihimul-jalā`a la’ażżabahum fid-dun-yā, wa lahum fil-ākhirati ‘ażābun-nār

3. Dan, seandainya bukan karena Allah telah menetapkan pengusiran bagi mereka, Dia benar-benar akan menimpakan penderitaan [yang lebih berat lagi] bagi mereka di dunia ini: dan, derita api neraka tetap menanti mereka di kehidupan akhirat:


Surah Al-Hasyr Ayat 4

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ شَاقُّوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۖ وَمَنْ يُشَاقِّ اللَّهَ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

żālika bi`annahum syāqqullāha wa rasụlahụ wa may yusyāqqillāha fa innallāha syadīdul-‘iqāb

4. yang demikian itu adalah karena mereka memutus diri mereka sendiri dari Allah dan Rasul-Nya:4 dan, siapa pun yang memutus dirinya dari Allah dan Rasul-Nya—sungguh, Allah amat keras dalam menghukum.


4 Mengenai hukuman bagi Banu Al-Nadhir ini, lihat catatan no. 1. Adapun mengenai penerjemahan saya terhadap kata syaqqu menjadi “mereka memutus diri mereka sendiri”, lihat catatan no. 16 pada Surah Al-Anfal [8]: 13.


Surah Al-Hasyr Ayat 5

مَا قَطَعْتُمْ مِنْ لِينَةٍ أَوْ تَرَكْتُمُوهَا قَائِمَةً عَلَىٰ أُصُولِهَا فَبِإِذْنِ اللَّهِ وَلِيُخْزِيَ الْفَاسِقِينَ

mā qaṭa’tum mil līnatin au taraktumụhā qā`imatan ‘alā uṣụlihā fa bi`iżnillāhi wa liyukhziyal-fāsiqīn

5. Apa saja yang telah kalian [wahai orang-orang beriman] tebang dari pohon kurma [milik mereka] atau yang kalian biarkan berdiri di atas pokoknya, maka [itu dilakukan] dengan izin Allah5, dan agar Dia dapat menimpakan kehinaan kepada orang-orang yang fasik.


5 Yakni, untuk memudahkan dilakukannya operasi militer terhadap benteng-benteng Banu Al-Nadhir (‘Abd Allah ibn Mas’ud, sebagaimana dikutip Al-Zamakhsyari, et al.). Namun, hendaknya diperhatikan bahwa terlepas dari keadaan darurat militer yang amat keras tersebut, segala perusakan terhadap hak milik pihak musuh—dan khususnya, perusakan pepohonan dan hasil panen—telah dan terus dilarang oleh Nabi (Al-Thabari, Al-Baghawi, Al-Zamakhsyari, Al-Razi, dan Ibn Katsir), dan dengan demikian, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Hukum Islam.


Surah Al-Hasyr Ayat 6

وَمَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْهُمْ فَمَا أَوْجَفْتُمْ عَلَيْهِ مِنْ خَيْلٍ وَلَا رِكَابٍ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

wa mā afā`allāhu ‘alā rasụlihī min-hum fa mā aujaftum ‘alaihi min khailiw wa lā rikābiw wa lākinnallāha yusalliṭu rusulahụ ‘alā may yasyā`, wallāhu ‘alā kulli syai`ing qadīr

6. Namun [ingatlah:] apa pun [harta rampasan yang diambil] dari musuh6 telah Allah berikan kepada Rasul-Nya; kalian tidak perlu memacu kuda atau menaiki unta untuk mendapatkannya:7 tetapi Allah memberikan kepada Rasul-Nya kekuasaan terhadap siapa pun yang Dia kehendaki—sebab, Allah berkuasa menetapkan segala sesuatu.


6 Lit., “dari mereka”: yakni, dari Banu Al-Nadhir.

7 Yakni, “kalian tidak perlu berjuang untuk mendapatkannya, karena pihak musuh sudah menyerah tanpa memberikan perlawanan”. Kata fai’ (nomina yang diderivasi dari verba fa’a, yang artinya “dia mengembalikan [sesuatu]” atau “menyerahkan [sesuatu]”), digunakan secara khusus di dalam Al-Quran dan Sunnah untuk menunjuk pada pampasan perang—baik yang berupa tanah, upeti, maupun ganti rugi-yang diperoleh, sebagai syarat perdamaian, dari pihak musuh yang meletakkan senjata sebelum terjadi pertempuran yang sebenarnya (Taj Al-‘Arus).


Surah Al-Hasyr Ayat 7

مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ ۚ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

mā afā`allāhu ‘alā rasụlihī min ahlil-qurā fa lillāhi wa lir-rasụli wa liżil-qurbā wal-yatāmā wal-masākīni wabnis-sabīli kai lā yakụna dụlatam bainal-agniyā`i mingkum, wa mā ātākumur-rasụlu fa khużụhu wa mā nahākum ‘an-hu fantahụ, wattaqullāh, innallāha syadīdul-‘iqāb

7. [Harta rampasan] apa pun [yang diambil] dari penduduk kampung-kampung itu telah Allah berikan kepada rasul-Nya—[semua itu] adalah milik Allah, rasul,8 kerabat [dari orang beriman yang wafat], anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan musafir,9 supaya [manfaat] harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang [yang sudah] kaya saja di antara kalian. Karena itu, terimalah [dengan rela] apa pun yang Rasul10 berikan kepada kalian [dari harta itu,] dan cegahlah diri dari [menuntut] apa pun yang dia tahan dari kalian, dan tetaplah sadar akan Allah: sebab, sungguh, Allah amat keras dalam menghukum.


8 Secara tersirat, yakni tidak diperuntukkan bagi para pejuang Muslim secara perorangan. Sebagaimana yang sering terdapat di dalam Al-Quran, ungkapan “Allah dan Rasul” di sini merupakan sebuah metonimia bagi perkara-perkara di jalan Islam, yakni bagi pemerintahan yang berjalan menurut hukum-hukum Al-Quran dan ajaran-ajaran Nabi.

9 Bdk. Surah Al-Anfal [8]: 41, yang berbicara tentang harta pampasan yang diperoleh dalam peperangan yang benar-benar terjadi, yang mana dalam hal ini, hanya seperlima bagian dari harta rampasan itu yang harus disisihkan untuk dibagikan kepada lima kelompok yang disebutkan di atas (lihat catatan no. 41 pada Surah Al-Anfal [8]: 41). Berbeda dengan semua harta rampasan seperti itu, hasil yang diperoleh melalui fai’ ini harus dimanfaatkan seluruhnya bagi kepentingan kelima kelompok tersebut. Mengenai istilah ibn al-sabil (musafir), Iihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 145.

10 Selanjutnya, pada masa-masa berikutnya, kepala sebuah negara Islam-lah yang harus menentukan—sesuai dengan tuntutan keadaan yang dihadapi—bagaimana bagian “Allah dan Rasul-Nya” ini hendaknya digunakan demi kesejahteraan bersama.


Surah Al-Hasyr Ayat 8

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

lil-fuqarā`il-muhājirīnallażīna ukhrijụ min diyārihim wa amwālihim yabtagụna faḍlam minallāhi wa riḍwānaw wa yanṣurụnallāha wa rasụlah, ulā`ika humuṣ-ṣādiqụn

8. [Dengan demikian, sebagian dari rampasan perang semacam itu hendaknya diberikan] kepada orang-orang fakir di antara mereka yang hijrah meninggalkan ranah kejahatan:11 (yaitu) mereka yang diusir dari kampung-kampung halaman dan dari harta benda mereka, untuk mencari karunia Allah dan keridhaan[-Nya], dan orang-orang yang menolong [di jalan] Allah dan Rasul-Nya: mereka, mereka itulah orang-orang yang menepati perkataan mereka!


11 Mengenai penerjemahan kata muhajirun (“orang-orang yang berhijrah”) ini, lihat Surah Al-Baqarah [2] dan catatan no. 203.


Surah Al-Hasyr Ayat 9

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

wallażīna tabawwa`ud-dāra wal-īmāna ming qablihim yuḥibbụna man hājara ilaihim wa lā yajidụna fī ṣudụrihim ḥājatam mimmā ụtụ wa yu`ṡirụna ‘alā anfusihim walau kāna bihim khaṣāṣah, wa may yụqa syuḥḥa nafsihī fa ulā`ika humul-mufliḥụn

9. Dan, [harta rampasan perang itu hendaknya diberikan pula kepada orang miskin di antara] orang-orang yang, sebelum mereka,12 kediamannya adalah di dalam wilayah ini dan dalam iman—[mereka] yang mencintai semua orang yang datang guna mencari perlindungan kepada mereka, dan yang tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa pun yang telah diberikan kepada orang lain, alih-alih mereka mengutamakan orang lain itu di atas diri mereka sendiri sekalipun kemiskinan telah menjadi nasib mereka:13 sebab, siap saja yang diselamtakan dari kekikiran dirinya sendiri—mereka, mereka itulah orang-orang yang akan meraih kebahagiaan!14


12 Yakni, sebelum mereka didatangi oleh “orang-orang yang hijrah meninggalkan ranah kejahatan” (lihat catatan berikutnya).

13 Pertama-tama, hal ini mengacu kepada kaum anshar (“para penolong”) yang ada di Madinah, yang telah memeluk Islam sebelum Nabi dan para pengikutnya dari Makkah mendatangi mereka; mereka menerima pengungsi Makkah tersebut dengan penuh kemurahan hati dan berbagi tempat tinggal dan seluruh harta mereka layaknya saudara. Dalam pengertian yang lebih luas, ayat di atas juga mengacu kepada semua orang beriman sejati, pada segala zaman, yang hidup dalam keadaan merdeka dan aman dalam wilayah Islam dan siap sedia menerima dengan tangan terbuka siapa saja yang terpaksa meninggalkan tanah airnya agar dapat hidup menurut tuntutan keyakinannya.

14 Jadi, sifat tamak, kikir, dan iri hati di sini ditunjukkan seb agai hambatan utama bagi upaya manusia untuk meraih kebahagiaan di dunia ini maupun di akhirat (bdk. Surah At-Takatsur [102]).


Surah Al-Hasyr Ayat 10

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

wallażīna jā`ụ mim ba’dihim yaqụlụna rabbanagfir lanā wa li`ikhwāninallażīna sabaqụnā bil-īmāni wa lā taj’al fī qulụbinā gillal lillażīna āmanụ rabbanā innaka ra`ụfur raḥīm

10. Dan demikianlah, orang-orang yang datang sesudah mereka15 berdoa: “Wahai, Pemelihara Kami! Ampunilah dosa-dosa kami dan dosa-dosa saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan jangan biarkan hati-hati kami mempunyai pikiran atau perasaan yang tidak layak terhadap [siapa pun di antara] orang-orang yang telah meraih iman. Wahai, Pemelihara kami! Sungguh, Engkau Sang Maha-Welas Asih, Sang Pemberi Rahmat!”


15 Yakni, semua orang yang meraih iman kepada Al-Quran dan Rasulnya (Al-Razi).


Surah Al-Hasyr Ayat 11

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نَافَقُوا يَقُولُونَ لِإِخْوَانِهِمُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَئِنْ أُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمْ أَحَدًا أَبَدًا وَإِنْ قُوتِلْتُمْ لَنَنْصُرَنَّكُمْ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

a lam tara ilallażīna nāfaqụ yaqụlụna li`ikhwānihimullażīna kafarụ min ahlil-kitābi la`in ukhrijtum lanakhrujanna ma’akum wa lā nuṭī’u fīkum aḥadan abadaw wa ing qụtiltum lananṣurannakum, wallāhu yasy-hadu innahum lakāżibụn

11. TIDAKKAH ENGKAU perhatikan bagaimana orang-orang yang selalu menyembunyikan [perasaan mereka yang sebenarnya]16 berkata kepada saudara-saudara mereka yang mengingkari kebenaran di antara para penganut wahyu terdahulu,17 “Jika kalian diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kalian, dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun untuk menentang kalian; dan jika kalian diperangi, pasti kami akan datang menolong kalian.”

Namun, Allah menyaksikan bahwa mereka adalah pendusta yang teramat nyata:


16 Yakni, orang-orang munafik Madinah (lihat catatan pendahuluan dan catatan berikut ini).

17 Yaitu: Banu Al-Nadhir. Dari susunan kalimat pada ayat setanjutnya, terlihat bahwa keseluruhan pasase ini (ayat 11-14) diturunkan sebelum pasukan Muslim bergerak maju menuju benteng-benteng Banu Al-Nadhir: ayat 12-14 mungkin merupakan suatu nubuat yang meramalkan apa yang akan terjadi (Al-Zamakhsyari). Atau, alternatifnya, pasase ini dapat dipahami dalam pengertian yang lebih luas dan berlaku untuk segala zaman, yakni mengacu pada kebatilan dan kesia-siaan yang terdap at dalam segala “persekutuan” antara, di satu sisi, orang-orang yang secara terbuka mengingkari kebenaran dan, di sisi lain, orang-orang peragu dan setengah-hati, yang tidak memiliki keinginan untuk mengikatkan diri pada ajaran spiritual maupun memiliki keberanian moral untuk menyatakan secara terbuka tiadanya iman mereka.


Surah Al-Hasyr Ayat 12

لَئِنْ أُخْرِجُوا لَا يَخْرُجُونَ مَعَهُمْ وَلَئِنْ قُوتِلُوا لَا يَنْصُرُونَهُمْ وَلَئِنْ نَصَرُوهُمْ لَيُوَلُّنَّ الْأَدْبَارَ ثُمَّ لَا يُنْصَرُونَ

la`in ukhrijụ lā yakhrujụna ma’ahum, wa la`ing qụtilụ lā yanṣurụnahum, wa la`in naṣarụhum layuwallunnal-adbāra ṡumma lā yunṣarụn

12. [sebab,] jika mereka [yang telah diberi janji] itu benar-benar diusir, orang-orang munafik itu tidak akan keluar bersama mereka; dan jika mereka diperangi, orang-orang munafik itu tidak akan datang menolong mereka; dan bahkan seandainya orang-orang munafik itu [berusaha] menolong mereka, niscaya mereka akan berpaling [lari] ke belakang, dan pada akhirnya mereka [sendiri pun] tidak akan mendapati pertolongan.


Surah Al-Hasyr Ayat 13

لَأَنْتُمْ أَشَدُّ رَهْبَةً فِي صُدُورِهِمْ مِنَ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ

la`antum asyaddu rahbatan fī ṣudụrihim minallāh, żālika bi`annahum qaumul lā yafqahụn

13. Tidak, [wahai orang-orang beriman,] kalian membangkitkan rasa takut yang lebih besar dalam dada mereka daripada [ketakutan mereka terhadap] Allah: yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang gagal memahami kebenaran.18


18 Karena mereka tidak—atau paling jauh, hanya setengah-hati—beriman kepada Allah, bahaya-bahaya yang bersifat kasatmata dan materiel yang akan mereka hadapi di dunia ini menimbulkan rasa takut yang jauh lebih besar dalam diri mereka ketimbang rasa takut mereka akan peradilan terakhir-Nya.


Surah Al-Hasyr Ayat 14

لَا يُقَاتِلُونَكُمْ جَمِيعًا إِلَّا فِي قُرًى مُحَصَّنَةٍ أَوْ مِنْ وَرَاءِ جُدُرٍ ۚ بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ ۚ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ

lā yuqātilụnakum jamī’an illā fī quram muḥaṣṣanatin au miw warā`i judur, ba`suhum bainahum syadīd, taḥsabuhum jamī’aw wa qulụbuhum syattā, żālika bi`annahum qaumul lā ya’qilụn

14. Tidak akan pernah mereka memerangi kalian, [sekalipun] dalam keadaan bersatu padu, kecuali dari dalam kubu-kubu yang berbenteng kokoh atau dari balik tembok.19 Permusuhan antara sesama mereka amatlah hebat: engkau kira mereka itu bersatu, padahal [sebenarnya] hati mereka terpecah belah [satu dengan yang lainnya]: yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak mau menggunakan akalnya.20


19 Maknanya ialah: “Sekalipun mereka mampu—tetapi sejatinya mereka tidak mampu—untuk mengerahkan barisan yang benar-benar bersatu untuk melawanmu, mereka akan selalu memerangi kalian hanya dari apa yang mereka anggap sebagai ‘posisi-posisi kekuatan’ yang mapan”.

20 Secara tersirat, yakni “dengan maksud untuk memperoleh apa yang baik bagi diri mereka sendiri”: hal ini menunjukkan bahwa manusia yang tidak memiliki keimanan sejati dan pendirian moral yang jelas tidak akan pernah berhasil meraih persatuan yang hakiki di antara sesama mereka sendiri, alih-alih akan selalu terdorong untuk melakukan tindak saling agresi.


Surah Al-Hasyr Ayat 15

كَمَثَلِ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ قَرِيبًا ۖ ذَاقُوا وَبَالَ أَمْرِهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

kamaṡalillażīna ming qablihim qarīban żāqụ wa bāla amrihim, wa lahum ‘ażābun alīm

15. [Terhadap kedua macam musuhmu itu, wahai orang-orang beriman, pasti akan menimpa] seperti [apa yang telah menimpa21] orang-orang yang, beberapa saat sebelum mereka, harus merasakan akibat buruk dari perbuatan mereka sendiri,22 dan penderitaan yang [bahkan lebih] pedih sedang menanti mereka [di kehidupan akhirat]:


21 Penyisipan ini—yang merujuk baik kepada orang yang terang-terangan mengingkari kebenaran maupun kepada orang-orang munafik—dibenarkan berdasarkan penggunaan kata ganti bentuk ganda dalam ayat 17 {‘aqibatahuma annahuma—peny.}.

22 Pertama-tama, tampaknya ayat ini berbicara secara tidak langsung mengenai nasib kaum pagan Quraisy dalam Perang Badar (Al-Zamakhsyari) atau, menurut sejumlah mufasir (yang dikutip Al-Thabari), mengenai pengkhianatan dan—selanjutnya—pengusiran terhadap suku Yahudi Banu Qainuqa’ dari Madinah pada bulan Syawwal 2 H. Namun, dalam perspektif yang lebih luas—yang diisyaratkan dengan sangat jelas oleh dua ayat berikutnya—makna ayat ini bersifat umum dan tidak terbatas pada waktu atau peristiwa sejarah tertentu.


Surah Al-Hasyr Ayat 16

كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلْإِنْسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ

kamaṡalisy-syaiṭāni iż qāla lil-insānikfur, fa lammā kafara qāla innī barī`um mingka innī akhāfullāha rabbal-‘ālamīn

16. seperti [apa yang terjadi] ketika setan berkata kepada manusia, “Ingkarilah kebenaran!”—akan tetapi, segera setelah [manusia] mengingkari kebenaran, [setan] berkata, “Perhatikanlah, aku tidak bertanggung jawab terhadapmu: perhatikanlah, aku takut kepada Allah, Pemelihara seluruh alam!”23


23 Bdk. Surah Al-Anfal [8]: 48; juga Surah Ibrahim [14]: 22 dan catatan-catatannya.


Surah Al-Hasyr Ayat 17

فَكَانَ عَاقِبَتَهُمَا أَنَّهُمَا فِي النَّارِ خَالِدَيْنِ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ

fa kāna ‘āqibatahumā annahumā fin-nāri khālidaini fīhā, wa żālika jazā`uẓ-ẓālimīn

17. Maka, pada akhirnya, keduanya [para pengingkar kebenaran dan orang-orang munafik itu]24 akan mendapati diri mereka sendiri di dalam neraka, di dalamnya mereka berkediaman: sebab, demikianlah balasan bagi orang-orang yang berbuat zalim.


24 Lit., “kesudahan (‘aqibah) keduanya adalah bahwa kedua nya akan …” dan seterusnya.


Surah Al-Hasyr Ayat 18

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha waltanẓur nafsum mā qaddamat ligad, wattaqullāh, innallāha khabīrum bimā ta’malụn

18. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Tetaplah sadar akan Allah; dan hendaklah setiap manusia memperhatikan (karya perbuatan) apa yang telah dia siapkan untuk hari esok!

Dan [sekali lagi]: tetaplah sadar akan Allah, sebab Allah Maha Mengetahui segala yang kalian lakukan;


Surah Al-Hasyr Ayat 19

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

wa lā takụnụ kallażīna nasullāha fa ansāhum anfusahum, ulā`ika humul-fāsiqụn

19. dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga karena itu Allah menjadikan mereka lupa mengenai [apa yang baik bagi] diri mereka sendiri: [sebab,] mereka, mereka itulah orang-orang yang sungguh telah rusak akhlaknya.25


25 {depraved; fasiqun}. Yakni, karena sengaja menyalahgunakan kemampuan akal yang telah Allah anugerahkan kepada manusia, dan—karena tetap melalaikan Tuhan, berarti—menyia-nyiakan potensi ruhani mereka sendiri.


Surah Al-Hasyr Ayat 20

لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۚ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ

lā yastawī aṣ-ḥābun-nāri wa aṣ-ḥābul-jannah, aṣ-ḥābul-jannati humul-fā`izụn

20. Tidaklah sama antara mereka yang ditetapkan sebagai penghuni neraka dan mereka yang ditetapkan sebagai penghuni surga: orang-orang yang ditetapkan sebagai penghuni surga—mereka, mereka [sajalah] yang akan memperoleh kemenangan [Pada Hari Pengadilan]!


Surah Al-Hasyr Ayat 21

لَوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

lau anzalnā hāżal-qur`āna ‘alā jabalil lara`aitahụ khāsyi’am mutaṣaddi’am min khasy-yatillāh, wa tilkal-amṡālu naḍribuhā lin-nāsi la’allahum yatafakkarụn

21. ANDAIKAN KAMI menurunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, engkau pasti akan melihatnya menundukkan diri, terpecah berkeping-keping karena gentar terhadap Allah ….26

Dan, [semua] perumpamaan itu Kami kemukakan kepada manusia agar mereka dapat [belajar] berpikir.


26 Yakni, berkebalikan dengan mereka yang—karena tetap melalaikan Allah dan segala perintah-perintah moral—secara spiritual lebih mati daripada gunung yang tak dapat bergerak.


Surah Al-Hasyr Ayat 22

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ

huwallāhullażī lā ilāha illā huw, ‘ālimul-gaibi wasy-syahādah, huwar-raḥmānur-raḥīm

22. DIA-LAH ALLAH yang tiada tuhan kecuali Dia: Yang Mengetahui segala yang berada di luar jangkauan persepsi makhluk, serta segala yang dapat disaksikan oleh indra-indra atau pikiran makhluk:27 Dia, Yang Maha Pengasih, Sang Pemberi Rahmat


27 Lihat catatan no. 65 pada paragraf kedua Surah Al-An’am [6]: 73.


Surah Al-Hasyr Ayat 23

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

huwallāhullażī lā ilāha illā huw, al-malikul-quddụsus-salāmul-mu`minul-muhaiminul-‘azīzul-jabbārul-mutakabbir, sub-ḥānallāhi ‘ammā yusyrikụn

23. Dia-lah Allah yang tiada tuhan kecuali Dia: Sang Maha Berdaulat, Sang Maha Kudus, Sang Sumber Keselamatan,28 Yang Mengaruniakan Keimanan, Sang Maha Penentu yang Benar dan yang Salah,29 Sang Mahaperkasa, Sang Maha Penunduk atas yang Salah dan Pemulih yang Benar,30 Sang Pemilik Seluruh Keagungan!

Teramat jauhlah Allah, dalam kemuliaan-Nya yang tidak terhingga, dari apa pun yang mungkin manusia persekutukan dengan-Nya!


28 Lit., “keselamatan” (al-salam): lihat catatan no. 29 pada Surah Al-Ma’idah [5].

29 Untuk penerjemahan istilah muhaimin ini, lihat Surah Al-Ma’idah [5]: 48—yang di dalamnya istilah ini merujuk kepada Al-Quran—dan catatan no. 64 yang terkait.

30 Karena verba jabara—yang darinya nomina jabbar diderivasikan—mencakup konsep “membetulkan” atau “memulihkan” (misalnya, dari suatu keadaan yang hancur, sakit, atau malang) dan sekaligus mencakup konsep “memaksa” atau “menundukkan [seseorang atau sesuatu] menurut kehendak si pelaku”, menurut saya istilah al-jabbar, jika diterapkan pada Tuhan, paling tepat diterjemahkan seperti di atas {the Almighty, the One who subdues wrong and restores right}.


Surah Al-Hasyr Ayat 24

هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

huwallāhul-khāliqul-bāri`ul-muṣawwiru lahul-asmā`ul-ḥusnā, yusabbiḥu lahụ mā fis-samāwāti wal-arḍ, wa huwal-‘azīzul-ḥakīm

24. Dia-lah Allah, Sang Maha Pencipta, Sang Maha Pembuat yang membentuk seluruh rupa dan tampilan.31

[Hanya] milik Allah-lah sifat-sifat kesempurnaan.32 Segala sesuatu yang ada di lelangit dan di atas bumi bertasbih memuji kemuliaan-Nya yang tiada terhingga: sebab, Dia sajalah Yang Maha Perkasa, Mahabijaksana!


31 Demikianlah menurut Al-Baidhawi. Istilah al-bari’ (“Sang Maha Pembuat”) dan al-mushawwir (“Sang Maha Pembentuk”, yakni pembentuk seluruh rupa dan tampilan) di sini jelas-jelas merupakan satu kesatuan.

32 Untuk penerjemahan atas al-asma’ al-husna ini lihat catatan no. 145 pada Surah Al-A’raf [7].


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top